Anda di halaman 1dari 8

PERTEMUAN KE 13 PENYELESAIAN SENGKETA BISNIS I

TUJUAN PEMBALAJARAN
Mahasiswa mampu memahami prinsip dan konsepsi persengketaan bisnis
Mahasiswa mampu mengidentifikasi karasteristik sengketa bisnis
Mahasiswa mampu memahami latar belakang terjadinya sengketa bisnis
Mahasiswa mampu memahami cara peyelesaian sengketa bisnis
Mahasiswa mampu memahami jalur pengadilan dalam penyelesaian sengketa bisnis.

URAIAN MATERI

1.1 PENGERTIAN DASAR SENGKETA

Dalam menjalankan bisnis terkadang akan menghadapi kerikil - kerikil tajam yang harus dilewati demi
tercapai suatu tujuan bisnis, artinya bisnis tidak selalu berjalan mulus atau lancer, hal mendasar yang
sering terjadi adalah ketidak cocokan dan ketidaksepakatan yangmana kerap timbul sehingga pada
akhirnya akan timbul persengketaan/konflik.
Meskipun transaksi bisnis berdasarkan azas kepercayaan, hal ini tidak serta merta menghilangkan
perselesiahan yang sering muncul seiring berjalannya bisnis, jika hal ini terjadi maka harus cepat
diselesaikan karena dalam bisnis waktu adalah uang, dan bila hal ini berlarut – larut maka kegiatan bisnis
tentunya akan terganggu.
Pengertian sengketa adalah pertentangan atau konflik yang terjadi antara individu – individu atau
kelompok – kelompok yang mempunyai hubungan atau kepentingan yang sama atas suatu objek
kepemilikan, yang menimbulkan akibat hukum antara satu dngan yang lain.
Menurut Ali Achmad, “sengketa adalah pertentangan antara dua pihak atau lebih yang berawal dari
persepsi yang berbeda tentang suatu kepemilikan atau hak milik yang dapat menimbulkan akibat hukum
antara keduanya”.
Pertumbuhan ekonomi yang pesat dan kompleks melahirkan berbagai macam bentuk kerjasama bisnis
mengingat kegiatan bisnis semakin meningkat dari waktu ke waktu, maka tidak mungkin dihindari
terjadinya konflik/sengketa (dispute) diantara pihak yang terlibat. Sengketa yang timbul diantara pihak –
pihak yang terlibat dalam kegiatan bisnis/perdagangan disebut dengan sengketa bisnis.
Sengketa pada hakekatnya merupakan bentuk aktualisasi dari suatu perbedaan dan pertentangan
antara dua pihak atau lebih. Sebgaimana dalam sengketa perdata dalam sengketa bisnis pihak – pihak
diberi kebebasan untuk menentukan mekanisme cara penyelesain sengketa yang dekehndaki
Dari pendapat diatas dapat di simpulkan bahwa Sengketa adalah perilaku pertentangan antara kedua
orang atau lembaga atau lebih yang menimbulkan suatu akibat hukum dan karenanya dapat diberikan
sanksi hukum bagi salah satu diantara keduanya.

KARASTERISTIK SENGKETA BISNIS

Dalam setiap persengketaan bisnis akan mempunya ciri khas tersendiri yang membedakan sengketa
yang satu dengan sengketa lainnya. Berikut beberapa karasteristik sengketa bisnis yang dinyatakan
dalam parameter, antara lain:
Parameter subyek – pihak – pihak yang terlibat dalam sengketa bisnis baik secara langsung maupun
tidak langsung baik perorangan maupun badan hukum.
Parameter objek – hal – hal yang berkaiitan dengan pelanggaran dan penyimpangan aktivitas bisnis
besarta akibat hukumnya. Akibat dari pelanggaran dan penyimpangan tersebut mengakibatkan
kepentingan salah satu pihak dirugikan oleh pihak lain.
Parameter hukum yang berlaku – aturan hukum manakah yang mengatur aktivitas bisnis, bisnis harus
tunduk kepada aturan hukum yang berlaku baik tertulis maupun tidak tertulis/kebisasaan, kovensi dan
perjanjian – perjanjian internasional.

LATAR BELAKANG TERJADINYA SENGKETA BISNIS

Seperti yang sempat disinggung diawal bahwa sengketa bisnis timbul dari pihak – pihak yang terlibat
dalam kegitan bisnis dan perdagangan termasuk unsur – unsur yang lebih luas seperti pekerjaan,
penghasilan, mata pencaharian, dan keuntungan. Adapun pada umumnya dibalik terjadi persengketaan
bisnis, adalah antara lain:
Wanprestasi – salah satu pihak tidak dapat atau gagal menjalankan isi kontrak yang sudah diepakati
bersama.
Kerugian salah satu pihak - akibat dari tindakan lain suatu hal dari salah satu pihak, maka mengakibat
kerugia pihak lain
Perbuatan melawan hukum – salah satu pihak dan atau kedua pihak melanggar ketentuan hukum yang
ada sehinnga berpotensi berujung pada konflik.

Adapun secara rinci sengketa bisnis dapat berupa sengketa – sengketa sebagai berikut:
Sengketa perniagaan
Sengketa perbankan
sengketa keuangan
sengketa investasi
sengketa perindustrian
sengketa HAKI
sengketa konsumen
sengketa kontrak
sengketa perburuhan
sengketa perusahaan
sengketa perdagangan publik

CARA PENYELESAIAN SENGKETA BISNIS

Mekanisme penyelesaian sengketa bisnis dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:


Jalur litigasi (Ordinary Court) – yaitu penyelesain perkara melalui jalur pengadilan dengan menggunakan
pendekatan hukum, melalui apparat atau lembaga penegag hukum yang berwenang sesuai undang –
undanhg yang berlaku. Pendekatan ini merupakan the last resort (sebagai upaya terakhir) manakala
jalur perdamaian mengalami “deadlock”/ tidak ada titik temu.
Jalur Non litigasi – yaitu penyelesaian diluar pengadilan dengan mengunakan mekanisme yang hidup di
masyarakat eperti musyawarah, kekuluargaan, dan perdamaian, jalur ini merupakan upaya awal
sebelum ke upaya litigasi. Salah satu cara yang paling banyak diminati oleh para pelaku bisnis adalah
ADR (Alternative Dispute Resolution).

1.4.1. LEMBAGA PERADILAN

Lembaga peradilan merupakan bagian dari jalur litigasi dalam menyingkapi solusi penyelesaian sengketa
bisnsis. Suatu masalah hukum atau persengketaan bisnis dapat diselesaikan di peradilan (Ordinary
Court) baik itu di peradilan umum atau khusus. Peradilan umum mencakup perdata atau pidana
tergantung unsur permasalahannya, untuk pidana harus ada laporan aduan dulu melalui kepolisian
untuk dilakukan penyelidikan dan penyidikan, selanjutnya
diterus ke kejaksaan dalam rangka penuntututan dan setelah itu dilimpahkan ke pengadilan untuk
disidangkan dan diputuskan. Sedangkan untuk yang khusus seperti peradilan niaga, peradilan militer,
PTUN, dan peradilan tipikor. Dalam hal kasus seperti persengketaan bisnis, maka biasanya akan
diselesaikan pada “peradlian niaga”.
Pengadilan niaga pertama kali dibentuk pada pengadilan negeri Jakarta pusat berdasarkan pasal 28 ayat
1 UU No. 4 tahun 1998 pembentukan pengadilan naga sebagaimana ayat 1, dilakukan secara bertahap
dengan keputusan presiden, dengan memperhatikan kebutuhan dan kesiapan SDM yang diperlukan.
Pada awalnya pengadilan niiaga menangani, memeriksa, dan memutuskan perkara – perkara kepailitan
dan penundaan pembayaran utang, namum seiring dengan perkembangan situasi dan kondisi yang ada,
pengadilan niaga juga menangani ksus – kasus bisnis yang lain termasuk sengketa bisnis.
Dalam hal menyangkut perkara diluar bidang perniagaan, ketua MA dapat menetapkan jenis dan nilai
perkara pada tingkat pertama diperiksa dan diputuskan oleh hakim tunggal. Dalam menjelankan
tugasnya hakim akan dibantu oleh panitera atau penitera pengganti yang disebut juru sita.
Pengadilan niaga mengacu pada hukum acara perdata yang berlaku kecuali ditentukan lain oleh undang
– undang. Keputusan pengadilan niaga yang telah memperoleh hukum tetap dapat dilakukan
peninjauan kembali sepanjang memeliki alasan, yaitu:
Terdapat bukti tertulis baru yang penting, yang apabila diketahui pada tahap persidangan sebelumnya
akan menghasilkan keputusan berbeda.
Pengailan niaga yang bersangkutan telah melakukan kesalahn berat dalam penerapan.
Hakim pada pengadila niaga diangkat atas dasar keputusan presiden (KEPRES) atas usulan ketua MA,
pada pengadilan niaga di tingkat pertama dapat diangkat seorang ahli hakim ad hoc (sementara) dengan
beberapa persyaratan sesuai dengan UU yang berlaku, yaitu antara lain:

Telah berpengalaman sebagai hakim pada pengadilan umum


Mempunyai dedikasi yang baik dan memiliki pengetahuan tehadap masalah dan kewenangan
pengadilan niaga.
Beribawa, jujur, adil, dan berkalauan tidak tercela
Telah berhasil menyelesaikan program pelatihan khusus sebagai hakim pada pengadilan niaga.

LATIHAN SOAL/ TUGAS

Persengketaan kerap sering terjadi ketika melakukan kerjasama bisnis, yang mengakibatkan salah satu
atau beberapa pihak ada yang dirugikan, maka dibutuhkannya suatu penyelesaian yang kongkrit.
Mengapa penyelesaian sengketa bisnis memainkan peranan penting dalam dunia bisnis dan
perdagangan serta bagaimana dampaknya bagi bisnis dan perdagangan, Jelaskan, mengapa?

Jelaskan perbedaan peradilan umum dan peradilan niaga, dan jealskan suatu kasus persengketaan bisnis
khususnya sengketa perbankan, investasi, dan perburuhan, dengan memberikan contoh!

DAFTAR PUSTAKA

Faisal Santiago, 2012 , Pengantar Hukum Bisnis. Jakarta: Mitra Wancana Media.
Bambang Sutiyoso, 2006, Penyelesaian Sengketa Bisnis, Yogyakarta, Citra Media
BAGIAN AKHIR

DAFTAR PUSTAKA

Bambang Sutiyoso, 2006, Penyelesaian Sengketa Bisnis, Yogyakarta, Citra Media


David Kairupan, Aspek Hukum Penanaman Modal Asing di Indonesia, Kencana Prenada Media Group,
2013. hal 16-17.
Huala Adolf, Perjanjian Penanaman Modal dalam Hukum Perdagangan Internasional (WTO), Raja
Grafindo Persada, Jakarta, 2004.
Mubyarto, Prospek Otonomi Daerah dan Perekonomian Indonesia Pasca Krisis Ekonomi, BPFE,
Yogyakarta, 2001, hlm. 13.
Dirdjosisworo, Soedjono 2010, Pengantar Ilmu Hukum , Cetakan 14, Raja Grafindo Persada - JAKARTA
Catarya, Indra, 2008 Asuransi II, Universitas Terbuka- JAKARTA
Kansil, C, S, T.1986 Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Balai Pustaka- JAKARTA
Vollmar, H F A 2000, Pengantar Studi Hukum Perdata. Rajawali Pres: JAKARTA
Undang-undang RI Nomor 19 tahun 2002 tentang HAK CIPTA.

Steinford.1979. Dalam Solihin Ismail .2006. Pengntar Bisnis. Pranada Media: JAKARTA
Busro, Achmad. 1985. Hukum Perikatan. Oetama. SEMARANG
Daliyo, JB,.2001, Pengantar Ilmu Hukum. Panduan Untuk Mahasiswa. Prenhalindo: JAKARATA
Faisal Santiago, 2012 , Pengantar Hukum Bisnis. Jakarta: Mitra wacana Media.

Anda mungkin juga menyukai