Anda di halaman 1dari 18

PROPOSAL PENELITIAN

MANAJEMEN KAPAL PATROLI DALAM MENGAWASI LINGKUNGAN KERJA


PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI

Oleh

MUHAMMAD FAHDIL
No. BP : 131000811045

JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS EKASAKTI
PADANG
2019
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahirobbi’alamin, puji syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah

memberikan limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis diberikan kesehatan untuk

dapat menyelesaikan Skripsi Penelitian ini. Selain itu shalawat beriring salam juga dikirimkan

kepada junjungan alam Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari alam

jahiliyah ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.

Pada kesempatan ini penulis membuat Proposal Penelitian dengan judul “Manajemen

Kapal Patroli Dalam Mengawasi Lingkungan Kerja Pemerintahan Daerah Kabupaten

Kepulauan Mentawai”. Adapun skripsi penelitian ini merupakan salah satu syarat yang

penulis harus selesaikan dalam mendapatkan gelar kesarjanaannya dalam program studi

Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Ekasakti Padang.

Penulis juga mengucapkan terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu

penulis dalam menyelesaikan usulan penelitian ini. Penulis sadar bahwa skripsi penelitian ini

masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan baik dari segi isi maupun cara penulisannya.

Penulis tidak menutup diri untuk mendapat kritik dan saran yang tentunya akan membantu

penulis untuk menyelesaikan skripsi penelitian ini lebih baik lagi.

Dalam penulisan skripsi penelitian ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-

besarnya kepada:

1. Bapak Dr. OTONG ROSADI, S.H, M.Hu, selaku Rektor Universitas Ekasakti Padang

yang telah memberikan kesempatan kepda penulis dalam menimba ilmu di Fakultas

Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.


2. Bapak SUMARTONO, S.sos, M.Si, selaku Dekan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik Universitas Ekasakti Padang.

3. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang telah mendidik dan

memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan

perkuliahan ini, mudah-mudahan ilmu yang bapak dan ibu berikan bermanfaat bagi

semua orang termasuk diri penulis.

4. Orang tua saya yang telah memberikan doa dan restunya sehingga melancarkan proses

pembuatan penelitian ini.

5. Rekan-rekan seperjuangan penulis di Program Studi Ilmu Administrasi Negara

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Ekasakti Padang yang tidak dapat

penulis sebutkan satu persatu.

Harapan penulis semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang

membacanya terutama bagi penulis semdiri sehingga mendapatkan tambahan ilmu dalam

bidang Administrasi Negara dikemudian hari serta semoga Allah SWT senantiasa

memberikan limpahan kasih sayang kepada mereka yang telah membantu penulis dalam

penyusunan penelitian ini.

Padang,.....................2019

Penulis

Ttd.

Muhammad Fahdil
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..........................................................................................................

DAFTAR ISI .........................................................................................................................

Bab I Pendahuluan ..................................................................................................................

1.1 Latar Belakang ......................................................................................................

1.2 Perumusan Masalah ..............................................................................................

1.3 Tujuan Penelitian....................................................................................................

1.4 Manfaat Penelitian.................................................................................................

Bab II Tinjauan Pustaka............................................................................................................

Bab III Metodologi Penelitian ..................................................................................................

3.1 Metode yang Digunakan ........................................................................................

3.2 Populasi dan Sampel ..............................................................................................

3.3 Teknik Pengumpulan Data ....................................................................................

3.4 Sumber Data .........................................................................................................

3.5 Analisa Data .........................................................................................................

3.6 Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................


BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Angkutan transportasi laut merupakan moda transportasi yang sarat akan regulasi (aturan).

Sejak kapal dipesan untuk dibangun hingga kapal beroperasi, selalu ada peraturan yang harus

dipatuhi dan di dalam proses pelaksanaannya pun selalu dilakukan pengawasan. Hal tersebut

dilakukan sebagai upaya mewujudkan keadaan terpenuhinya persyaratan keselamatan dan

keamanan yang menyangkut angkutan di perairan.

Namun transportasi laut di Indonesia saat ini bisa dikatakan sedang mengalami masalah.

Kecelakaan laut yang menelan banyak korban jiwa dan harta benda terjadi bergantian. Akar

penyebab kecelakaan laut belum ditangani secara serius sehingga bahaya selalu mengintai

pengguna jasa angkutan laut setiap saat.

Menurut Capt. Bambang pada data statistik IMO (International Maritime Organization)

menunjukkan bahwa 80% dari semua kecelakaan laut disebabkan oleh kesalahan manusia

(human error), dimana 60% merupakan kesalahan manajemen seperti kesalahan dalam

mengoperasikan kapal atau secara sadar memuat muatan dalam kapal secara berlebihan dan

40% karena kurangnya kemampuan awak kapal dalam menjalankan serta mengatasi berbagai

permasalahan yang timbul saat bekerja di atas kapal yang terjadi karena tidak diaplikasikannya

konvensi STCW 1978/95 (Standard of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers)

yang berisi tentang persyaratan pendidikan atau pelatihan yang harus dipenuhi oleh awak kapal

untuk bekerja sebagai pelaut.

Seperti yang kita ketahui, untuk menjadi seorang awak kapal, ada beberapa sertifikat yang

harus dimiliki melalui serangkaian pelatihan yang wajib diikuti (mandatori). Seiring dengan

tuntutan zaman, perusahaan pelayaran dihimbau untuk terus meningkatkan kemampuan awak

kapalnya dengan melaksanakan serangkaian in house training yang bersifat non-mandatori


dimana pelatihan ini berguna untuk mengasah kemampuan awak kapalnya dan memberikan

mereka up date informasi terbaru seputar dunia maritim

Sebagian besar awak kapal masih memandang serangkaian in house training ini sebelah

mata. Mereka cenderung malas mengikutinya karena pelatihan ini dianggap bukan persyaratan

wajib untuk bekerja di atas kapal. Padahal kalau kita telaah lebih lanjut, pelatihan ini sangat

berguna untuk menyegarkan kembali wacana para awak kapal tentang materi-materi yang

dahulu pernah mereka dapat di lembaga pendidikan pemerintah.

Selain itu laut juga memiliki kekayaan negara berupa biotik dan abiotik yang harus dijaga

dari perbuatan pencurian. Dari berbagai bidang kepentingan di laut maka penegakan hukum di

laut dilakukan oleh berbagai instansi sesuai dengan bidang pengawasannya. Pengawasan oleh

berbagai instansi ini selama ini berjalan dengan baik dan dikoordinasikan oleh Badan

Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla).

Pemerintah Provinsi Sumatra Barat menyatakan kebutuhan kapal patroli baru untuk

pengawasan di Perairan Kepulauan Mentawai sudah mendesak. Kapal patroli di Mentawai

dibutuhkan untuk tiga hal, yakni pengawasan illegal fishing, pengawasan turis asing, dan

fasilitas SAR bila ada kecelakaan.

Selama ini, mobilitas manusia antara Sumbar bagian daratan dan Kepulauan Mentawai

masih terbatas oleh moda transportasi. Normalnya, Kota Padang dan Kepulauan Mentawai

biasa ditempuh dalam waktu 8-12 jam dengan kapal motor biasa. Dengan adanya, kapal patroli

berkecapatan di atas 20 knot, jarak Padang-Mentawai bisa ditempuh dalam waktu 3 jam saja,

khususnya bila ada situasi darurat.

Perairan di Kepulauan Mentawai memang dikenal menjadi salah satu lokasi favorit praktik

penangkapan ikan secara ilegal, baik oleh kapal asing atau kapal lokal yang menangkap ikan

dengan cara-cara yang tak ramah lingkungan.


Selain untuk illegal fishing, pengawasan di Perairan Kepulauan Mentawai juga perlu

dilakukan untuk mengantisipasi adanya masuknya turis asing tanpa izin. Apalagi Mentawai

sudah dikenal memiliki ombak besar dan surga bagi para peselancar dunia.

Kapal ini berpatroli di perairan Kepulaun Mentawai dalam rangka patroli rutin menjaga

kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kehadiran kapal ini guna mengawasi

aktivitas illegal fishing dan lalu lintas illegal loging serta pelanggaran laut lainnya.

1.2 Rumusan Masalah

Masalah-masalah yang biasa timbul berkaitan dengan manajemen kapal antara lain wilayah

perairan, kebijakan pemerintah keamanan dan keselamatan, sarana dan prasarana, sumber daya

manusia, kemajuan teknologi, pemeliharaan kapal, navigasi dan lain-lain. Berdasarkan

pengamatan dan kajian sementara terhadap permasalahan yang ada, penulis mencoba

melakukan identifikasi dengan memfokuskan pada masalah manajemen kapal patroli di

kepulauan mentawai. Maka rumusan masalah yang penulis rumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana tingkat efisiensi dan efektivitas kinerja sumber daya manusia dalam

melaksanakan tugas nya?

2. Bagaimana sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan patroli?

3. Bagaimana aspek anggaran dalam kegiatan kapal patroli untuk mengawasi lingkungan

kerja di kepulauan mentawai?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang dikemukakan, maka tujuan

penelitian adalah sebagai berikut untuk mengetahui :

1. Mengetahui tingkat efisiensi dan efektifitas kinerja sumber daya manusia dalam

menjalankan tugas nya dalam mengawasi lingkungan kerja di kepulauan mentawai.


2. Mengetahui sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan kapal patroli dalam

mengawasi lingkungan kerja di kepulauan mentawai.

3. Mengetahui anggaran yang ada dalam kegiatan kapal patroli untuk mengawasi

lingkungan kerja di kepulauan mentawai.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Diharapkan hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan masukan dan pertimbangan

bagi para pimpinan di lingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut dalam menyusun atau

membuat berbagai kebijakan tentang keselamatan lingkungan pelayaran di Indonesia, selain

tentunya juga masalah SDM khususnya tentang Pelayanan yang diterapkan.

2. Memberikan informasi dan gambaran kepada pihak yang membutuhkan jasa angkutan

laut/pelayaran serta bagi pembaca dalam melakukan penelitian lanjutan mengenai faktor yang

mempengaruhi keselamatan lingkungan pelayaran.


BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kebijakan Pemerintah

Sesuai dengan sistem administrasi Negara Republik Indonesia kebijakan dapat terbagi 2

(dua) yaitu :

1. Kebijakan internal (manajerial), yaitu kebijakan yang mempunyai kekuatan mengikat

aparatur dalam organisasi pemerintah sendiri.

2. Kebijakan eksternal (publik), suatu kebijakan yang mengikat masyarakat umum.

Sehingga dengan kebijakan demikian kebijakan harus tertulis.

Pengertian kebijakan pemerintah sama dengan kebijaksanaan berbagai bentuk seperti

misalnya jika dilakukan oleh Pemerintah Pusat berupa Peraturan Pemerintah (PP), Keputusan

Menteri (Kepmen) dan lain-lain. Sedangkan jika kebijakan pemerintah tersebut dibuat oleh

Pemerintah Daerah akan melahirkan Surat Keputusan (SK), Peraturan Daerah (Perda) dan lain-

lain. Dalam penyusunan kebijaksanaan/kebijakan mengacu pada hal-hal berikut :

1. Berpedoman pada kebijaksanaan yang lebih tinggi.

2. Konsistensi dengan kebijaksanaan yang lain yang berlaku.

3. Berorientasi ke masa depan.

4. Berpedoman kepada kepentingan umum.

5. Jelas dan tepat serta transparan.

6. Dirumuskan secara tertulis.

2.2 Organisasi

Organisasi sebagai suatu aktivitas atau sebagai suatu proses yang menentukan hubungan antara

orang, pekerjaan dan sumber-sumber. Pimpinan bertanggung-jawab mempersiapkan semua

komponen tersebut untuk mencapai hasil yang diharapkan secara efisien. Istilah organisasi
sering juga dipakai di bidang bisnis dan pemerintah misalnya teori organisasi dan bagan atau

struktur organisasi. Tujuan organisasi, pada dasarnya adalah memberikan tugas yang terpisah

dan berbeda kepada masing-masing orang dan menjamin tugas-tugas tersebut terkoordinir

menurut suatu cara yang dapat mencapai tujuan organisasi. Organisasi itu sendiri bukanlah

suatu tujuan tetapi merupakan alat untuk mencapai tujuan.

Gibson, (1994) mendefinisikan organisasi sebagai: “Kesatuan yang memungkinkan

masyarakat mencapai suatu tujuan yang tidak dapat dicapai individu secara perorangan”.

Kemudian pendapat Harold (1989) tentang organisasi adalah sebagai berikut : Organisasi

adalah pengelompokan kegiatan-kegiatan yang perlu untuk mencapai tujuan, penugasan

masing-masing kelompok kepada seorang manajer dengan wewenang yang perlu untuk

mengawasinya, dan pengadaan koordinasi horizontal dan vertikal dalam struktur perusahaan.

Dari pengertian yang diberikan oleh Harold di atas, pengorganisasian adalah merupakan

pembinaan dari pada hubungan wewenang untuk mencapai adanya “koordinasi” yang

terstruktur, baik secara vertikal maupun secara horizontal, di antara posisi-posisi yang diserahi

tugas-tugas tertentu untuk pencapaian tujuan organisasi.

2.3 Pelayanan

Tujuan akhir dari seluruh penyelenggaraan pelayanan yang dilakukan oleh perusahaan

atau instansi pemerintah adalah untuk memberikan pelayanan yang dibutuhkan oleh

masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari adanya kontrak sosial atas pembentukan sebuah

negara/pemerintahan, bahwa negara dibentuk karena adanya kehendak masyarakat agar

pemerintah dapat menyelenggarakan memenuhi kebutuhan masyarakat (pelayanan) yang tidak

dapat dipenuhinya sendiri.

Menurut Moenir (2002), pengertian pelayanan adalah: “Kegiatan yang dilakukan

seseorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor material melalui sistem, prosedur
dan metode tertentu dalam rangka usaha memenuhi kepentingan orang lain sesuai dengan

haknya. Pelayanan adalah proses pemenuhan kebutuhan melalui aktivitas orang lain yang

langsung, inilah yang dinamakan pelayanan”. Sejalan dengan pendapat di atas, Lovelock

(Hutagalung, 2007) menyebutkan bahwa: ‘Pelayanan adalah suatu usaha yang dilakukan oleh

manusia untuk manusia dalam rangka memberi kebutuhan-kebutuhan serta tujuan-tujuan

sehingga membuat jadi puas’.

Selanjutnya, Trilestari (2006) menyatakan bahwa: “Pelayanan adalah aktivitas/manfaat

yang ditawarkan oleh organisasi atau perorangan kepada konsumen atau dalam bisnis sering

disebut customer (yang dilayani) yang bersifat tidak terwujud dan tidak dapat dimiliki”.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa pelayanan merupakan upaya

pemenuhan kebutuhan oleh seseorang atau organisasi kepada orang atau organisasi lain

sehingga pihak yang dilayani memperoleh kepuasan atas pelayanan yang diterima baik secara

fisik maupun non fisik.

2.4 Keselamatan Lingkungan Pelayaran

Keselamatan pelayaran adalah segala hal yang ada dan dapat dikembangkan dalam

kaitannya dengan tindakan pencegahan kecelakaan pada saat melaksanakan kerja di bidang

pelayaran.

Dalam UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, Pasal 1 butir 32 menyatakan bahwa

keselamatan dan keamanan pelayaran adalah suatu keadaan terpenuhinya persyaratan

keselamatan dan keamanan yang menyangkut angkutan di perairan, kepelabuhan, dan

lingkungan maritim. Pasal 1 butir 33 menyatakan bahwa kelaiklautan kapal adalah keadaan

kapal yang memenuhi persyaratan keselamatan kapal, pencegahan pencemaran perairan dari

kapal, pengawakan, garis muat, permuatan, kesejahteraan awak kapal dan kesehatan
penumpang, status hokum kapal, manajemen keselamatan dan pencegahan pencemaran dari

kapal, dan manajemen keamanan kapal untuk berlayar di perairan tertentu.

Keselamatan pelayaran telah diatur oleh lembaga internasional yang mengurus atau

menangani hal-hal yang terkait dengan keselamatan jiwa, harta laut, serta kelestarian

lingkungan. Lembaga tersebut dinamakan International Maritime Organization (IMO) yang

bernaung dibawah PBB. Salah satu faktor penting dalam mewujudkan keselamatan serta

kelestarian lingkungan laut adalah keterampilan, keahlian dari manusia yang terkait dengan

pengoperasian dari alat transportasi (kapal) di laut, karena bagaimanapun kokohnya konstruksi

suatu kapal dan betapapun canggihnya teknologi baik sarana bantu maupun peralatan yang

ditempatkan di atas kapal tersebut kalau dioperasikan manusia yang tidak mempunyai

keterampilan/keahlian sesuai dengan tugas dan fungsinya maka semua akan sia-sia. Dalam

kenyataannya 80% dari kecelakaan di laut adalah akibat kesalahan manusia (human error).

Untuk menjamin keselamatan pelayaran sebagai penunjang kelancaran lalu lintas kapal di

laut, diperlukan adanya awak kapal yang berkeahlian, berkemampuan dan terampil, dengan

demikian setiap kapal yang akan berlayar harus diawaki dengan awak kapal yang cukup dan

sesuai untuk melakukan tugasnya di atas kapal berdasarkan jabatannya dengan

mempertimbangkan besaran kapal, tata susunan kapal dan daerah pelayaran. UU No. 17 Tahun

2008 tentang Pelayaran, Pasal 1 butir 40 awak kapal adalah orang yang bekerja atau diperlukan

di atas kapal oleh pemilik atau operator kapal untuk melakukan tugas di atas kapal sesuai

dengan jabatannya.

2.5 Manajemen Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia merupakan kunci bagi kelangsungan aktivitas organisasi, karena

pada hakekatnya organisasi adalah kumpulan dari sekelompok orang yang bekerja sama untuk

mencapai tujuan tertentu. Menurut Soedjadi (1993), kata kunci sumber daya manusia terletak
pada kata “daya” atau “energi”, yaitu kekuatan yang melekat pada manusia yang mempunyai

kompetensi untuk membangun. Kualitas Sumber daya manusia umumnya diukur dari tingkat

pendidikan, kompentensi, serta skill yang dimiliki. Unsur-unsur manajemen ada enam, yaitu

man, money, method, machines, materials, market atau dikenal dengan “the six M”. Dari

keenam unsur tersebut, unsur man (manusia) menjadi sangat penting sehingga dipelajari secara

tersendiri dalam satu bidang ilmu yaitu dalam ilmu Manajemen Sumber Daya Manusia.

Pentingnya unsur man ini disebabkan karena man-lah yang akan mengatur unsur-unsur lainnya

dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Oleh karena unsur manusia dipandang sangat

bernilai bagi sebuah organisasi, maka berkembang menjadi suatu bidang ilmu manajemen yang

disebut manajemen sumber daya manusia atau disingkat MSDM yang merupakan terjemahan

dari man power management (Hasibuan, 2007).

2.6 Kerangka Pemikiran

Sebagaimana telah diuraikan pada latar belakang sekaligus beberapa teori yang

mendasari pengaruh antara variable bebas kebijakan pemerintah dan pelayanan pelayaran

dengan variable terikat berupa keselamatan pelayaran, maka dapat digambarkan kerangka

pemikiran berikut ini.

Sumber Daya
Manusia

(X1)

Kegiatan
Sarana dan
Pengawasan
Prasarana
(Y)
(X2)

Anggaran

(X2)
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode yang Digunakan

Metode yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu menggunakan pendekatan kualitatif.

Menurut Sugiyono (2011), metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang

berlandaskan pada filsafat post positivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang

alamiah, (sebagai lawannya eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci,

pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik

pengumpulan dengan tri-anggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif atau kualitatif,

dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.

3.2 Populasi dan Sampel

Dalam penetapan informan, penulis menggunakan purposive sampling (pengambilan

informan berdasarkan tujuan), artinya orang yang dijadikan sebagai informan ditunjuk secara

sengaja oleh peneliti berdasarkan atas pertimbangan sesuai dengan maksud dan tujuan

penelitian. Adapun yang menjadi informan sebagai sumber data untuk mendapatkan informasi

adalah sebagai berikut:

1. KABAG UMUM : 1 orang

2. KASUBAG PERLENGKAPAN : 1 orang

3. BAGIAN OPERASIONAL KAPAL : 1 orang

4. NAHKODA : 1 orang

5. KEPALA KAMAR MESIN : 1 orang

6. ANAK BUAH KAPAL : 7 orang

Jumlah : 12 orang
Penentuan informan berdasarkan maksud dan tujuan penulis. Informan yang dipilih karena para

informan ini lebih mengetahui permasalahan yang akan di teliti. Sebagian informan yang ada

merupakan bagian dari yang memberikan pelayanan terhadap penumpang.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan atau mengumpulkan

data (informasi), yang dapat menjelaskan dan menjawab permasalahan penelitian secara

objektif. Adapun data tersebut diperoleh dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang

biasa digunakan penelitian. Dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data

sebagai berikut:

1. Observasi (Pengamatan)

Pengamatan adalah “Alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati

dan mencatat segala hal yang ingin diteliti” (Kholid Narboko, 1996: h.70). Pengamatan yang

dilakukan langsung terhadap objek yang diteliti untuk mendapatkan gambaran yang tepat

mengenai objek penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti mengadakan pengamatan secara

langsung di kapal patroli kepulauan mentawai.

2. Wawancara

Wawancara adalah “Percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan

oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang di wawancarai yang

memberikan jawaban atas pertanyaan itu” (Moleong, 2002: h.135).

Teknik pengumpulan data wawancara ini, dengan mengajukan pertanyaan langsung

melalui cara tanya jawab langsung kepada narasumber yang menjadi informan dalam penelitian

ini. Dengan wawancara mendalam ini, diharapkan dapat mengungkapkan lebih rinci dan

mendalam tentang permasalahan yang diteliti.


3.4 Sumber Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini bersumber dari dua jenis data yaitu:

1. Data Primer

Merupakan sumber data yang di dapat di lapangan. Data primer dalam penelitian ini,

dikumpulkan melalui penelitian langsung dengan turun ke lokasi penelitian, untuk mencari

fakta dan data-data yang berkaitan dengan masalah yang diteliti seperti wawancara, observasi

dan dokumentasi. Wawancara dilakukan kepada informan yang lebih mengetahui tentang

permasalahan ini.

2. Data Sekunder

Menurut Hasan (2002: h.82) data sekunder adalah “Data yang diperoleh orang yang

melakukan penelitian dari sumber-sumber yang telah ada”. Data sekunder merupakan data

yang di dapat dari studi kepustakaan, dokumen, koran, internet dan lainnya, yang berkaitan

dengan kajian penelitian yang di teliti oleh penulis.

3.5 Analisa Data

Menurut Lexy J. Moleong (2002: h.103), analisis data adalah “Proses

mengorganisasikan dari mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar,

sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan

oleh data”.

Dalam penelitian ini, teknik analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan

jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang

dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang

penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.
3.6 Lokasi dan Waktu Penelitian
DAFTAR PUSTAKA

Iqbal, Hasan. 2002. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya.. PT. Ghalia

Indonesia. Jakarta.

Kurniawan, Agung. 2005. Pelayanan publik, jakarta : CV. Rajawali

Lijan Poltak Sinambela, 2008. reformasi pelayanan publik, bumi aksara. Jakarta.

Mardalis. 2008. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, Pt Bumi Aksara, Jakarta.

Moenir, H.A.S, 2002, Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia, Jakarta, Bumi Aksara.

Moleong, J. Lexy. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Remaja Rosdakarya. Bandung.

Suranto,Manajemen Operasional Angkutan Laut dan Kepelabuhan serta Prosedur Impor

Barang, PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004.