Anda di halaman 1dari 2

Nama: Dea Vitasari

Kelas: reguler A 2019

Pertanyaan:

1. Review tentang Konsil keperawatan

2. Tanggapan dari kalian tentang RUU KUHP pasal 276 ayat 2

3. Dari ke 4 proker kastrad. Ada tidak yang perlu diubah konsepannya atau ditambah prokernya . Kalau
ada tuliskan.

Jawaban:

1. Konsil Keperawatan adalah suatu badan otonom, mandiri, dan independen akan menjamin kredensial
perawat indonesia menjadi more capable, acceptable, and credible. Profesi perawat, sejatinya adalah
sebuah kekuatan untuk menggerakkan sektor kesehatan di tanah air. Sementara disisi lain, profesi
perawat masih sangat rentan menghadapi tuntutan hukum dan tindakan amoral dari pasien dan lainnya.
Belum lagi persoalan upah bagi tenaga perawat khususnya tenaga kerja sukarela (TKS) yang juga menjadi
persoalan tersendiri bagi perawat. Pemerintah harus memberikan otonomi kepada profesi perawat
dalam menentukan arah perkembangan profesinya layaknya perlakuan pemerintah terhadap konsil
kedokteran. Salah satunya dalam sistem kredensial perawat.

Indonesia adalah negara besar dan jumlah penduduknya terbesar ke-4 di dunia, tapi dunia
keperawatannya tertinggal beberapa step dari beberapa negara Asia, beberapa dekade dari negara-
negara Eropa & Amerika. Pemerintah harusnya banyak melihat dan mengacu pada perkembangan
keperawatan di dunia.

Karena belum keluarnya Perpres (Peraturan Presiden) yang mengatur tentang pembentukan Konsil
Keperawatan ini. Masih menurut UU No.38 Tahun 2014 , pada pasal 52 ayat 3, berbunyi, "Ketentuan
lebih lanjut mengenai susunan organisasi, pengangkatan, pemberhentian, dan keanggotaan Konsil
Keperawatan diatur dengan Peraturan Presiden."

Konsil Keperawatan adalah amanat Undang-Undang yang tidak boleh diabaikan oleh penyelenggara
negara, demi terciptanya Praktik Keperawatan yang bermutu, dan perlindungan serta kepastian hukum
kepada Perawat dan masyarakat.

Jika hal itu terjadi artinya keperawatan Indonesia sudah diakui dan diperhitungkan kiprahnya dalam
upaya kesehatan di tanah air. Tidak seperti kondisi sekarang peran perawat kurang diakui dan tidak
diperhitungkan, perawat dikerdilkan, dibangun opini yang buruk terhadap profesi perawat, digaji kecil,
bahkan dikriminalisasi. Akibatnya perawat yang merupakan profesi yang begitu mulia kerap
mendapatkan stigma buruk di mata masyarakat. Sungguh tragis.
Dengan adanya konsil keperawatan kita sudah berada pada on the right track untuk mengakselerasi
speed mengejar ketertinggalan. Walaupun masih ada catatan-catatan yang mesti digarisbawahi
pentingnya.

2. Pasal 276 ayat (2) bisa menyeret profesi tukang gigi ke penjara. Poin dalam draft perubahan peraturan
pidana bermasalah itu berbunyi:

“Setiap orang yang menjalankan pekerjaan menyerupai dokter atau dokter gigi sebagai mata
pencaharian baik khusus maupun sambilan dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun
atau pidana denda paling banyak Kategori V."

Aturan ini secara tidak langsung menghapus atau melarang profesi tukang gigi. Dan Seharusnya,
berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan antara dokter gigi dan
tukang gigi saling bersinergi dan mendukung satu sama lain dalam upaya meningkatkan kesehatan
khususnya kesehatan gigi masyarakat bukan malah di larang profesinya dan menghukum pelanggarnya.
Saat tragis melihat RUU KUHP yang seperti ini. Lantas apa yang bisa dilakukan tukang gigi jika profesinya
sudah dibabat habis seperti ini?. Sungguh kecewa dengan kenyataan yang terjadi pada Indonesia saat ini.

3. Menurut saya, keempat proker sudah bagus dan sesuai dengan tema kastrad itu sendiri. Hanya saja
perlu untuk selalu memaksimalkan usaha di setiap pekerjaan agar hasilnya lebih baik dan lebih baik lagi.