Anda di halaman 1dari 63

MAKALAH OSTEOPOROSIS

Disusun Oleh:

Feni Wulandari 21117053


Fuji Lestari 21117054
Hani Nur Azizah 21117058
Ilhami Nadion 21117067
Jeihan Archya 21117070
Meireza 21117081
Nasri Morsalin 21117087
Nur Azizah 21117089

PSIK 3B

Dosen Pembimbing : Yulius Tiranda, Ph.d

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PALEMBANG

TAHUN 2019/2020
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat dan
karunia yang telah diberikan kepada kami sehingga bisa menyelesaikan Tugas
Keperawatan Medikal Bedah III “Osteoporosis”.

Dalam penyusunan Tugas ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi. Namun
kami menyadari bahwa dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan
dan bimbingan dari beberapa orang, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi teratasi.

Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada
teknis penulisan maupun materi. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat
penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini dan bila untuk makalah
selanjutnya.Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi
pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat
tercapai, Aamiiin

Palembang, Oktober 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................................................Ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................................................Iii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................................1
A. Latar Belakang...............................................................................................................1
B. Rumusan Masalah..........................................................................................................2
C. Tujuan.............................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................................................................3
A. Definisi Osteoporosis.....................................................................................................3
B. Etiologi...........................................................................................................................3
C. Tipe-Tipe Osteoporosis..................................................................................................6
D. Anatomi Dan Fisiologi...................................................................................................8
E. Patofisiologi..................................................................................................................12
F. Manifestasi Klinis.........................................................................................................14
G. Pemeriksaan Diagnostik...............................................................................................15
H. Penatalaksaan...............................................................................................................16
I. Komplikasi...................................................................................................................18
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN.......................................................................................................................19
MASALAH KEPERAWATAN..............................................................................................26
INTERVENSI KEPERAWATAN..........................................................................................26
BAB IV ANALISA JURNAL

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan.....................................................................................................................

B. Saran................................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................41

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit tulang dan patah tulang merupakan salah satu dari sindrom geriatrik,
dalam arti insiden dan akibatnya pada usia lanjut yang cukup signifikan. Dengan
bertambahnya usia terdapat peningkatan hilang tulang secara linear. Hilang tulang ini
lebih nyata pada wanita dibanding pria. Tingkat hilang tulang ini sekitar 0,5 – 1% per
tahun dari berat tulang pada wanita pasca menopause dan pada pria > 80 tahun.
Hilang tulang ini lebih mengenai bagian trabekula dibanding bagian korteks, dan pada
pemeriksaan histologik wanita dengan osteoporosis spinal pasca menopause tinggal
mempunyai tulang trabekula < 14% (nilai normal pada lansia 14 – 24% ) . Sepanjang
hidup tulang mengalami perusakan (dilaksanakan oleh sel osteoklas) dan
pembentukan (dilakukan oleh sel osteoblas) yang berjalan bersama-sama, sehingga
tulang dapat membentuk modelnya sesuai dengan pertumbuhan badan (proses
remodelling). Oleh karena itu dapat dimengerti bahwa proses remodelling ini akan
sangat cepat pada usia remaja.
Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan dan pengrusakan
oleh kedua jenis sel tersebut. Apabila hasil akhir perusakan (resorbsi/destruksi) lebih
besar dari pembentukan (formasi) maka akan timbul osteoporosis. Kondisi ini tentu
saja sangat mencemaskan siapapun yang peduli, hal ini terjadi karena ketidaktahuan
pasien terhadap osteoporosis dan akibatnya. Beberapa hambatan dalam
penanggulangan dan pencegahan osteoporosis antara lain karena kurang pengetahuan,
kurangnya fasilitas pengobatan, faktor nutrisi yang disediakan, serta hambatan-
hambatan keuangan. Sehingga diperluan kerja sama yang baik antara lembaga-
lembaga kesehatan, dokter dan pasien. Pengertian yang salah tentang perawatan
osteoporosis sering terjadi karena kurangnya pengetahuan.Peran dari petugas
kesehatan dalam hal ini adalah dokter dan perawat sangatlah mutlak untuk
dilaksanakan. Karena dengan perannya akan membantu dalam mengatasi peningkatan
angka prevalensi dari osteoporosis.
Perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan berperan dalam upaya
pendidikan dengan memberikan penyuluhan tentang pengertian osteoporosis,
penyebab dan gejala osteoporosis serta pengelolaan osteoporosis.Berperan juga dalam
meningkatkan mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan serta peningkatan

4
pengetahuan, sikap dan praktik pasien serta keluarganya dalam melaksanakan
pengobatan osteoporosis. Peran yang terakhir adalah peningkatan kerja sama dan
system rujukan antar berbagai tingkat fasilitas pelayanan kesehatan, hal ini akan
memberi nilai posistif dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah definisi dari osteoporosis ?
2. Apakah etiologi osteoporosis ?
3. Bagaimana manifestasi klinis osteoporosis ?
4. Bagaimana patofisiologi dari osteoporosis ?
5. Bagaimanakah pathway osteoporosis ?
6. Bagaimana pemeriksaan diagnostik osteoporosis ?
7. Bagaimana penatalaksanaan osteoporosis ?
8. Bagaimana konsep dasar asuhan keperawatan osteoporosis ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui gambaran secara nyata dan lebih mendalam tentang pemberian
asuhan keperawatan pada pasien dengan osteoporosis .
2. Mahasiswa mampu memahami pengertian osteoporosis .
3. Mahasiswa mampu memahami etiologi osteoporosis .
4. Mahasiswa mampu memahami manifestasi osteoporosis .
5. Mahasiswa mampu memahami patofisiologi osteoporosis .
6. Mahasiswa mampu memahami pathway osteoporosis .
7. Mahasiswa mampu memahami pemeriksaan diagnostik osteoporosis .
8. Mahasiswa mampu mengetahui cara penatalaksanaan osteoporosis .
9. Mahasiswa mampu memahami konsep dasar asuhan keperawatan osteoporosis

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Osteoporosis
Osteoporosis berasal dari kata osteo dan porous, osteo artinya tulang, dan
porous berarti berlubang-lubang atau keropos. Jadi, osteoporosis adalah tulang yang

5
keropos, yaitu penyakit yang mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya rendah
atau berkurang, disertai gangguan mikro-arsitektur tulang dan penurunan kualitas
jaringan tulang yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang (Tandra, 2009).

Menurut WHO pada International Consensus Development Conference, di


Roma, Itali, 1992 Osteoporosis adalah penyakit dengan sifat-sifat khas berupa massa
tulang yang rendah, disertai perubahan mikroarsitektur tulang, dan penurunan kualitas
jaringan tulang, yang pada akhirnya menimbulkan akibat meningkatnya kerapuhan
tulang dengan resiko terjadinya patah tulang (Suryati, 2006).

Menurut National Institute of Health (NIH), 2001 Osteoporosis adalah


kelainan kerangka, ditandai dengan kekuatan tulang mengkhawatirkan dan
dipengaruhi oleh meningkatnya risiko patah tulang. Sedangkan kekuatan tulang
merefleksikan gabungan dari dua faktor, yaitu densitas tulang dan kualitas tulang
(Junaidi, 2007).

Osteoporosis adalah penyakit tulamg sisitemik yang ditandai oleh penurunan


mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Pada tahun
2001, National Institute of Health (NIH) mengajukan definisi baru osteoporosis
sebagai penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh compromised bonestrength
sehingga tulang mudah patah ( Sudoyo, 2009 ).

B. Etiologi
Osteoporosis postmenopouse terjadi karena kekurangan estrogen (hormon
utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam
tulang pada wanita. Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia diantara 51-75
tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat. Tidak semua wanita
memiliki resiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopouse, pada wanita
kulit putih dan daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit
hitam (Lukman, Nurma Ningsih : 2009).
Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kasium
yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan diantara kecepatan hancurnya
tulang dan pembentukan tulang yang baru. Senilis yaitu keadaan penurunan masa
tulang yang hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia
diatas 70 tahun dan dua kali lebih sering menyerang wanita. Wanita sering kali
menderita osteoporosis senilis dan postmenopouse (Lukman, Nurma Ningsih : 2009).

6
Kurang dari lima persen penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis
sekunder, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obet-obatan.
Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama
tiroid, paratiroid, dan adrenal) dan obat- obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat,
anti-kejang, hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan
kebiasaan merokok bisa memperburuk keadaan ini (Lukman, Nurma Ningsih : 2009).
Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang
penyebabnya tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa yang normal
dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang (Lukman, Nurma
Ningsih : 2009).
Faktor genetik juga berpengaruh terhadap timbulnya osteoporosis. Pada
seseorang dengan tulang yang kecil akan lebih mudah mendapat risiko fraktur
daripada seseorang dengan tulang yang besar. Sampai saat ini tidak ada ukuran
universal yang dapat dipakai sebagai ukuran tulang normal. Setiap individu memiliki
ketentuan normal sesuai dengan sifat genetiknya beban mekanis dan besar badannya.
Apabila individu dengan tulang besar, kemudian terjadi proses penurunan massa
tulang (osteoporosis) sehubungan dengan lanjutnya usia, maka individu tersebut
relatif masih mempunyai tulang lebih banyak daripada individu yang mempunyai
tulang kecil pada usia yang sama (Lukman, Nurma Ningsih : 2009).

1. Determinan Massa Tulang


Massa tulang maksimal pada usia dewasa ditentukan oleh berbagai faktor antara
lain :
a. Faktor genetik
Perbedaan genetik mempunyai pengaruh terhadap kepadatan tulang .
b. Faktor mekanik
Beban mekanik berpengaruh terhadap massa tulang, bertambahnya beban akan
menambah massa tulang dan berkurangnya massa tulang. Ada hubungan
langsung dan nyata antara massa otot dan massa tulang. Kedua hal tersebut
menunjukkan respon terhadap kerja mekanik. Beban mekanik yang berat akan
mengakibatkan massa otot besar dan juga massa tulang yang besar.
c. Faktor makanan dan hormon
Pada seseorang dengan pertumbuhan hormon dengan nutrisi yang cukup
(protein dan mineral), pertumbuhan tulang akan mencapai maksimal sesuai
dengan pengaruh genetic yang bersangkutan
2. Determinan pengurangan massa tulang

7
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penurunan massa tulang pada usia lanjut
yang dapat mengakibatkan fraktur osteoporosis pada dasarnya sama seperti pada
faktor-faktor yang mempengaruhi massa tulang.

a. Faktor genetic
Faktor genetik berpengaruh terhadap resiko terjadinya fraktur. Pada seseorang
dengan tulang yang kecil akan lebih mudah mendapat resiko fraktur dari
seseorang denfan tulang yang besar.
b. Faktor mekanis
Pada umumnya aktifitas fisik akan menurun dengan bertambahnya usia dan
karena massa tulang merupakan fungsi beban mekanik, massa tulang tersebut
pasti akan menurun dengan bertambahnya usia.
c. Faktor lain
- Kalsium
Kalsium merupakan nutrisi yang penting, dengan masukan kalsium yang
rendah dan absorbsinya tidak baik akan mengakibatkan keseimbangan
kalsium yang negatif begitu sebaliknya.
- Protein
Protein yang berlebihan akan mengakibatkan kecenderungan keseimbangan
kalsium yang negative
- Estrogen
Berkurangnya/hilangnya estrogen dari dalam tubuh akan mengakibatkan
terjadinya gangguan keseimbangan kalsium, karena menurunnya efisiensi
absorbsi kalsium dari makanan dan juga menurunnya konservasi kalsium
diginjal.

- Rokok dan kopi


Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak cenderung akan
mengakibatkan penurunan massa tulang, lebih-lebih bila disertai masukan
kalsium yang rendah. Mekanisme pengaruh rokok terhadap penurunan massa
tulang tidak diketahui, akan tetapi kafein dapat memperbanyak ekskresi
kalsium melalui urin maupun tinja.
- Alkohol

8
Individu dengan alkoholisme mempunyai kecenderungan masukan kalsium
yang rendah, disertai dengan ekskresi lewat urin yang meningkat.Mekanisme
yang pasti belum diketahui.

C. Tipe-tipe Osteoporosis
a. Osteoporosis Primer
Osteoporosis primer berhubungan dengan kelainan pada tulang, yang
menyebabkan peningkatan proses resorpsi di tulang trabekula sehingga
meningkatkan resiko fraktur vertebra dan Colles. Pada usia decade awal pasca
menopause, wanita lebih sering terkena dari pada pria dengan perbandingan 68:1
pada usia rata-rata 53-57 tahun.Osteoporosis primer adalah kehilangan massa tulang
yang terjadi sesuai dengan proses penuaan, sedangkan osteoporisis sekunder
didefinisikan sebagai kehilangan massa tulang akibat hal hal tertentu. Sampai saat
ini osteoporosis primer masih menduduki tempat utama karena lebih banyak
ditemukan dibanding dengan osteoporosis sekunder. Proses ketuaan pada wanita
menopause dan usia lanjut merupakan contoh dari osteoporosis primer.
Sekitar 65-80% wanita dan 45-60% pria dengan osteoporosis menderita
osteoporosis primer. Pada wanita dengan fraktur kompresi karena osteoporosis
primer didapat masa tulang kortikal dan trabekular yang kurang. Jumlah trabekula
yang kurang dan pertanda biokimiawi serta histologik merupakanbukti terjadinya
resorpsi tulang yang meningkat dibandingkan kontrol pada umur yang sama.
Hormonestron danandrostendion berkurang secara bermakna pada wanita dengan
osteoporosis, dan hal ini merupakan sebagian sebab didapatkannya resorpsi tulang
yang bertambah banyak dan pengurangan masa tulang. Absorbsi kalsiumpadawanita
dengan kondisi inimenjadi lebihrendah.

Osteoporosis primer dibagi lagi menjadi :


Osteoporosis tipe 1, disebut juga postemenoposal osteoporosis. Osteoporosis
tipe ini bisa terjadi pada dewasa muda dan usia tua, baik laki-laki maupun
perempuan. Pada perempuan usia antara 51-75 tahun beresiko 6 kali lebih banyak
daripada laki-laki dengan kelompok umur yang sama. Tipe osteoporosis ini
berkaitan dengan perubahan hormon setelah menopause dan banyak dikaitkan
dengan patah tulang pada ujung tulang pengumpil lengan bawah. Pada osteoporosis

9
jenis ini terjadi penipisan bagian keras tulang yang paling luar (kortek) dan
perluasan rongga tulang.

Osteoporosis tipe 2, disebut juga senile osteoporosis (involutional


osteoporosis). Tipe 2 ini banyak ditemuipadausiadi atas 70 tahun dan dua kali lebih
banyak pada wanita dibanding laki-laki pada umur yang sama. Kelainan pertulangan
terjadi pada bagian kortek maupun di bagian trabikula. Tipe ini sering dikaitkan
dengan patah tulang kering dekat sendi lutut, tulang lengan atas dekat sendi bahu,
dan patah tulang paha dekat sendi panggul. Osteoporosis jenis ini, terjadi karena
gangguan pemanfaatan vitamin D oleh tubuh, misalnya karena keadaan kebal
terhadap vitaminD(vitDresisten) atau kekurangan dalam pembentukan vitamin D (vit
D synthesa) dan bisa juga disebabkan karena kurangnya sel-sel perangsang
pembentukanvitaminD(vitDreseptor). Osteoporosis Sekunder 2 Osteoporosis
sekunder lebih jarang ditemukan, hanya 5% dari seluruh osteoporosis. Osteoporosis
sekunder terdapat pada 20-35% wanita dan 40-55% pria, dengan gejalanya berupa
fraktur pada vertebra dua atau lebih. Diantara kelainan ini yang paling sering terjadi
adalah pada pengobatan dengan steroid, mieloma, metastasis ke tulang, operasi pada
lambung, terapi antikonvulsan, dan hipogonadisme pada pria. Osteoporosis sekunder
ini disebabkan oleh faktor di luar tulang diantaranya: Karena gangguan hormon
seperti hormon gondok, tiroid, dan paratiroid, insulin pada penderita diabetes
melitus dan glucocorticoid, Karena zat kimia dan obat-obatan seperti nikotin,rokok,
obat tidur, kortikosteroid,alkohol, Penyebab lain seperti istirahat total dalam waktu
lama,pcnyakit gagal ginjal, penyakit hati, gangguan penyerapan usus,penyakit
kanker dan keganasan lain, sarcoidosis, penyakit sumbatan saluran paruyang
menahun,berkurangnya daya tarik bumi dalam waktu lama seeperti pada awak
pesawat ruang angkasa yang berada di luar angkasa sampai berbulan bulan.

Penyebab osteroporosis adalah adanya gangguan pada metabolisme tulang.


Pada keadaan normal, sel-sel tulang yaitu, sel pembangun (osteoblas) dan sel
pembongkar (osteoklas) bekerja silih berganti, saling mengisi, seimbang, sehingga
tulang menjadi utuh. Apabila kerja osteoklas melebihi kerja osteoblas, maka
kepadaatan tulang menjadi kurang dan akhirnya keropos. Metabolisme tulang dapat
terganggu oleh berbagai kondisi, yaitu berkurangnya hormon estrogen,
berkurangnya asupan kalsium dan vitamin D, berkurangnya stimulasi mekanik

10
(inaktif) pada tulang, efek samping beberapa jenis obat, minum alkohol, merokok,
dan sebagainya.

b. Osteoporosis Sekunder
Osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit atau sebab lain diluar tulang.
Osteoporisis sekunder mungkin berhubungan dengan kelainan patologis tertentu
termasuk kelainan endokrin, epek samping obat obatan, immobilisasi, Pada
osteoporosis sekunder, terjadi penurunan densitas tulang yang cukup berat untuk
menimbulkan fraktur traumatik akibat faktor ekstrinsik seperti kelebihan steroid,
artritis reumatoid, kelainan hati/ginjal kronis, sindrom malabsorbsi, mastositosis
sistemik, hiperparatiroidisme, hipertiroidisme, varian status hipogonade, dan lain-
lain.

Penyebab osteroporosis adalah adanya gangguan pada metabolisme tulang.


Pada keadaan normal, sel-sel tulang yaitu, sel pembangun (osteoblas) dan sel
pembongkar (osteoklas) bekerja silih berganti, saling mengisi, seimbang, sehingga
tulang menjadi utuh. Apabila kerja osteoklas melebihi kerja osteoblas, maka
kepadaatan tulang menjadi kurang dan akhirnya keropos. Metabolisme tulang dapat
terganggu oleh berbagai kondisi, yaitu berkurangnya hormon estrogen,
berkurangnya asupan kalsium dan vitamin D, berkurangnya stimulasi mekanik
(inaktif) pada tulang, efek samping beberapa jenis obat, minum alkohol, merokok,
dan sebagainya.

(jurnal ilmu kedokteran dan kesehatan, vol 05, no 1, januari 2018)

D. Anatomi dan Fisiologi

11
Tulang dalam garis besarnya dibagi menjadi :

1. Tulang Panjang
Yang termasuk tulang panjang misalnya seperti femur, tibia, fibula, ulna dan
humerus. Dimana daerah batasnya disebut diafisis dan daerah yang berdekatan
dengan garis epifisis disebut metafisis. Derah ini merupakan suatu daerah yang
sangat sering ditemukan adanya kelainan atau penyakit, oleh karena daerah ini
merupakan daerah metabolik yang aktif dan banyak mengandung pembuluh darah.
Kerusakan atau kelainan perkembangan daerah lempeng epifisis akan menyebabkan
kelainan pertumbuhan tulang.
2. Tulang pendek
Contoh dari tulang pendek adalah antara lain tulang vertebra dan tulang-tulang
karpal
3. Tulang pipih
Yang termasuk tulang pipih antara lain tulang iga, tulang scapula, dan tulang pelvis.

Pada tulang yang aktif tumbuh, terdapat empat jenis sel:

1) Osteoprogenitor
Seperti jaringan ikat lain, tulang semula berkembang dari mesenkim embrional
yang memiliki potensi perkembangan sangat luas, menghasilkan fibroblast, sel
lemak, otot, dan sebagainya. Sel osteoprogenitor ini tetap ada semasa kehidupan
pasca lahir dan ditemukan pada atau dekat semua permukaan bebas tulang: dalam

12
osteum, lapis dalam periosteum, dan pada trabekel tulang rawan mengapur pada
metafisis tulang tumbuh.
Sel ini paling aktif selama pertumbuhan tulang namun diaktifkan kembali
semasa kehidupan dewasa pada pemulihan fraktur tulang dan bentuk cedara
lainnya.
2) Osteoblast
Osteoblast berhubungan dengan pembentukan tulang, kaya alkaline
phosphatase dan dapat merespon produksi maupun mineralisasi matriks. Pada
akhir siklus remodelling, osteoblast tetap berada di permukaan tulang baru, atau
masuk ke dalam matriks sebagai osteocyte.
3) Osteocyte
Osteocyte berada di lakunare, fungsinya belum jelas. Diduga di bawah
pengaruh hormone paratiroid (PTH) berperan pada resorbsi tulang (osteocytic
osteolysis) dan transportasi ion kalsium. Osteocyte sensitif terhadap stimulus
mekanik dan meneruskan rangsang (tekanan dan regangan) ini kepada osteoblast.
4) Osteoclast
Osteoclast adalah mediator utama resorbsi tulang, dibentuk oleh prekursor
monosit di sumsum tulang dan bergerak ke permukaan tulang oleh stimulus
kemotaksis. Dengan meresorbsi matriks akan meninggalkan cekungan di
permukaan tulang yang disebut Lakuna Howship.

Tulang secara periodik dan konstan memperbaharui diri melalui suatu proses
yang disebut remodeling. Remodeling tulang merupakan suatu proses aktif dan
dinamik yang mengandalkan pada keseimbangan yang benar antara penyerapan
tulang oleh osteoklas, yang dirangsang oleh hormon paratiroid, dan deposisi tulang
oleh osteoblas. Tulang dibentuk oleh sel yang bersifat osteogenik yaitu osteoblas,
yang merupakan sel pembentuk tulang, dan berfungsi mensintesis jaringan kolagen

13
dan komponen organik matriks. Osteoblas dirangsang oleh hormon pertumbuhan, dan
pada perkembangan selanjutnya menjadi osteosit, yang merupakan sel tulang dewasa.

Sel tulang terdiri atas osteoblas, osteosit dan osteoklas yang dalam
aktifitasnya mengatur homeostasis kalsium yang tidak berdiri sendiri melainkan
saling berinteraksi. Homeostasis kalsium pada tingkat seluler didahului penyerapan
tulang oleh osteoklas yang memerlukan waktu 40 hari disusul fase istirahat dan
kemudian disusul fase pembentukan tulang kembali oleh osteoblas yang
memerlukan waktu 120 hari

14
Proses pembentukan tulang disebut dengan osifikasi. Proses osifikasi terjadi
pada masa perkembangan fetus (prenatal) dan setelah individu lahir (postnatal).
Perkembangan tulang panjang terjadi sampai individu mencapai dewasa. Jaringan
tulang bersifat dinamis karena secara konstan mengalami pembaharuan yang dikenal
dengan proses romedeling. Romedeling tulang merupakan suatu proses yang
kompleks dengan melibatkan resorpsi tulang serta diikuti dengan pembentukan
tulang baru. Romedeling tulang ditunjukkan untuk pengaturan homeostatis kalsium,
memperbaiki jaringan yang rusak akibat pergerakan fisik, kerusakan minor karena
faktor stress dan pembentukan kerangka pada masa pertumbuhan (Hill yang disitasi
oleh fernandez dkk, 2006).

Pada manusia normal puncak kepadatan tulang dicapai pada usia tiga puluhan.
Terjadi penurunan gradual kepadatan tulang tanpa atau disertai dengan kerusakan
tulang. Akibatnya kekuatan tulang menurun dan kerapuhan tulang meluas seiring
pertambahan usia, suatu kondisi yang dikenal sebagai osteoporosis. Kondisi ini
lazim dijumpai pada manusia lanjut usia, terutama wanita (Ott,1990).

Pada saat tulang yang mengalami osteoporosis mencapai puncaknya, maka


tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Hal ini merupakan konsekuensi dari
berkurangnya jumlah kalsium dalam massa tulang yang merupakan faktor risiko
untuk terjadinya osteopenia dan osteoporosis (Rachman yang disita oleh Ott, 2002).
Kondisi demikian akan sangat berbahaya karena apabila berlanjut dalam jangka
waktu yang cukup lama, tulang sebagai kerangka tubuh tidak dapat lagi menyangga
bobot tubuh sehingga apabila terjadi patah tulang, maka akan sulit untuk sembuh

15
seperti sediakala. Studi epidemiologi menunjukkan bagian yang banyak mengalami
cedera pada penderita osteoporosis adalah pada ossa vertebrae, ossa coxae, dan
collum femoris. Tulang-tulang ini lebih banyak mengandung trabekula dibandingkan
tulang kompakta (Favus,1993).

Beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan kepadatan tulang diantaranya


adalah umur, ras, berat badan serta kurangnya paparan sinar matahari dan asupan
kalsium. Faktor lainnya adalah gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok,
mengkonsumsi alkohol, dan kurangnya latihan fisik serta penggunaan obat
kortikosteroid jangka panjang (Rachman, 2006).

Osteoporosis merupakan penyakit metabolik tulang yang banyak diderita oleh


wanita pasca monopause. Dalam kehidupan wanita secara fisiologi terjadi penurunan
fungsi ovarium dengan hilangnya estrogen karena monopause, wanita akan
kehilangan mineral tulang sanat cepat (3% per tahun) selama 5 tahun pertama dan
1% sampai 2% per tahun. Kejadian ini menyebabkan kehilangan massa tulang dan
peningkatan penyerapan tulang sehingga terjadinya osteoporosis
(DawsonHughes,1996).

16
(Dikutip dari jurnal medika veterinaria I-SSN : 0853-1943; Feb 2017 11 (1) : 39-44 )

Jenis-Jenis Tulang

Tulang Belakang dan Gelang Panggul\

Kolumna vertebralis atau rangkaian tulang belakang adalah struktur lentur


sejumlah tulang yang disebut vertebrata atau ruas tulang belakang.Diantara tiap dua
ruas tulang pada tulang belakang terdapat bantalan tulang rawan.Panjang rangkaian
tulang belakang pada orang dewasa dapat mencapai 57 sampai 67
sentimmeter.Seluruhnya terdapat 33 ruas tulang, 24 buah diantaranya adalah tulang-
tulang tepisah dan 9 ruas sisanya bergabung membentuk 2 tulang.

Vertebrata dikelompokkan dan dinamai sesuai dengan daerah yang ditempatinya:

Tujuh vertebra servikal atau ruas tulang leher membentuk daerah tengkuk.

Dua belas vertebra torakalis atau ruas tulang punggung membentuk bagian belakang
toraks atau dada.

Lima vertebra lumbalis atau ruas tulang pinggang membentuk daerah lumbal atau
pinggang.

Lima vertebra sakralis atau ruas tulang kelangkang membentuk sacrum atau tulang
kelangkang.

Empat vertebra koksigeus atau ruas tulang tungging membentuk tulang koksigeus
atau tulang tungging.

Vertebrata servikalis atau ruas tulang leher adalah yang paling kecil. Kecuali
yang pertama dan kedua, yang terbentuk istimewa, ruas tulang leher pada umumnya
mempunyai ciri sebagai berikut : Badannya kecil dan persegi panjang, lebih panjang
dari samping ke samping daripada dari depan ke belakang, lengkungnya besar.

17
Gambar 50 – Vertebrata servikalis khas

Gambar 51 – Aksis atau vertebrata servikalis kedua, atau epistroleus,


memperlihatka laju tegak atau apeks dentis, sumbu putar
atlas sewaktu memutarkan kepala (lihat Gambar 52).

Gambar 52 – Atlas adalah sebuah cincin lengkap dengan faset-faset


dipermukaan atas untuk bersendi dengan tulang oksipital dan sebuah
permukaan persendian apeks dentis dari aksis (lihat Gambar 51)

Vertebrata torakalis atau ruas tulang panggung lebih besar daripada yang
servikal, dan di sebelah bawah menjadi lebih besar. Ciri khas vertebrata torakalis

18
adalah sebagai berikut : Badannya berbentuk lebar-lonjong (bentuk jantung dengan
faset atau lekukan kecil di setiap sisi untuk menyambung iga, lengkungnya agak kecil,
prosesus spinosus panjang dan mengarah kebawah, sedangkan prosesus transversus---
yang membantu mendukung iga---tebal dan kuat serta memuat faset persendian untuk
iga.

Gambar 53 – Vertebrata torakalis yang khas


dari atlas

Gambar 54 – Vertebrata torakalis yang khas


dari lateral (samping). Faset untuk persendian
dengan tuberkel iga dapat dilihat di atas
prosesus transversus dari keduan pandangan
tersebut

19
Vertebrata lumbalis atau ruas tulang pinggang adalah yang
terbesar.Badannya sangat besar dibandingkan dengan badan vertebrata lainnya dan
berbentuk seperti ginjal.Prosesus spinosusnya lebar dan berbentuk seperti kapak
kecil.Prosesus transversusnya panjang dan langsing.Ruas kelima berbentuk sendi
dengan sacrum pada sendi lumbo-sakral.

Gambar 55 – Vertebrata lumbal yang khas

Koksigeus atau tulang tungging terdiri atas empat atau lima vertebrata yang
rudimeter yang bergabung menjadi satu. Di atasnya koksigeus bersendi dengan
sacrum.

Lengkung kolumna vertebralis.Kalau di lihat dari samping, kolumna


vertebralis empat kurva atau lengkung antero-posterior : lengkung vertical pada
daerah leher melengkung kedepan, daerah torakal melengkung kebelakang, daerah
lumbal melengkung ke depan dan daerah pelvis melengkung kebelakang.

Kedua lengkung yang menghadap ke anterior sekunder---lengkung servikal


berkembang ketika kanak-kanakmengangkat kepalanya untuk melihat sekelilingnya
sambil menyelidiki, dan lengkung tumbal dibentuk ketika ia merangkak, berdiri,
berjalan, dan mempertahankan tegak. (lihat Gambar 56).
Sendi kolumna vertebralis.Sendi ini dibentuk oleh bantalan tulang rawan
yang diletakkan diantara setiap dua vertebra, dikuatkan ligamentum yang berjalan di
depan dan di belakang badan-badan vertebra sepanjang kolumna vertebralis.

Fungsi kolumna vertebralis.Kolumna vertebralis bekerja sebagai pendukung


badan yang kokoh dan sekaligus juga bekerja sebagai penyangga dengan perantaraan
tulang rawan cakram intervertebralis yang lengkungannya memberi fleksibilitas dan
memungkinkan membongkok tanpa patah.Cakramnya juga berguna untuk menyerap
goncangan yang terjadi bila menggerakkan berat badan seperti waktu berlari dan
meloncat, dan dengan demikian otak dan sumsum tulang belakang terlindung
terhadap goncangan (lihat Gambar 57, 58).

Gambar 56 – lengkung-lengkung tulang belakang


Gambar 57 – Pandangan lateral sendi-sendi intervertebral daerah torako-lumbal

Gelang Panggul atau Tulang-Tulang Pelvis

Gelang panggul adalah penghubung antara badan dan anggota


bawah.Sebagian kerangka aksial, yaitu tulang sakrum dan tulangkoksigeus, yang
letaknya terjepit antara dua tolang koksa, turut membentuk gelang ini.Dua tulang
koksa itu bersendi satu dengan lainnya di tempat simfisis pubis.

Gambar 58 – Sumsum tulang belakang dalam hubungan dengan kolumna


vertebralis. Penebalan servikal sumsum tulang belakang terjadi pada vertebra
servikalis sampai torakal kedua.Penebalan lumbai mulai pada kira-kira ketinggian
kesembilan.Di bawah ketinggian vertebra torakalis kedua belas, lumbal mengecil
membentuk kanus medularis dan berakhir pada tepi bawah vertebra lumbaris pertama
atau pada tepi atas yang kedua.Kalau dilakukan fungsi lumbal, jarum masuk ke dalam
celah sub-araknoid melalui vertebra lumbal ketiga dan keempat atau keempat dan
kelima.Dengan demikian menghindarkan kemungkinan pelukan sumsum tulang
belakang.
Gambar 59 – Gelang panggul pria.Pelvis pria lebih panjang dan lebih sempit.Tulangnya lebih kuat.Tempat
kaitan otot lebih tegas, gawang-masuknya lebih kecil dan berbentuk jantung.

Gambar 60 – Pelvis wanita.Pelvis wanita disesuaikan untuk melahirkan anak,


lebar dan pendek, bergawang-masuk besar dan bundar.Arkus pubis lebih besar, jarak
teburositas iski lebih jauh daripada pria dan tulang koksigis dapat bergerak sedikit.

Sendi-sendi pelvis. Sendi sakro-ilaka adalah sendi antara permukaan sendi


ilium---yang disebut aurikuler sebab mirip dengan aurikel (daun telinga)---dan kedua
sisi sacrum. Gerakan ditempat ini sangat sedikit karena ligamen-ligamen yang sangat
kuat menyatukan permukaan-permukaan sendi sehingga membatasi gerakan ke segala
jurusan.Simfisis pubis adalah sendi yang kartilaginus antara tulang-tulang duduk,
yang dipisahkan bantalan tulang rawan.

Kerangka Anggota Atas

Kerangka anggota atas dikaitkan pada kerangka badan dengan perantaraan


gelang bahu, yang terdiri atas klavikula dan scapula. Dibawahnya terdapat tulang-
tulang yang membentuk kerangka lengan, lengan bawah, dan telapak tangan yang
seluruhnya berjumlah 30 buah tulang :

Humerus – tulang lengan atas

Ulna dan radius – tulang hasta dan tulang pengumpil

8 tulang karpal – tulang pangkal tangan

5 tulang metacarpal – tulang tapak tangan

14 falang – ruas jari tangan

Gambar 61 – Permukaan atas klavikula kiri

Klavikula atau tulang selangka adalah tulang melengkung yang membentuk


bagian anterior gelang bahu.

Fungsi : klavikula memberi kaitan pada beberapa otot leher, bahu dan lengan
yang bekerja sebagai penompang lengan.

Skapula
Skapula atau tulang belikat membentuk bagian belakang gelang bahu dan
terletak disebelah belakang toraks yang lebih dekat ke permukaan daripada iga.

Gambar 62 – pandangan anterior skapula kiri

Permukaan skapula.Permukaan anterior atau kostal disebut fosa


subskapularis dan terletak paling dekat dengan iga.Permukaan posterior atau dorsal
terbagi oleh sebuah belebas yang disebut spina dan skapula dan yang berjalan
menyeberangi permukaan itu sampai ujungnya dan berakhir menjadi prosesus
acromion. Prosesus acromion itu menutupi sendi bahu\

Humerus

Humerus atau tulang lengan atas adalah tulang terpanjang anggota atas,
memperlihatkan sebuah batang dan dua ujung.
Gambar 63 – pandangan posterior skapula kiri memperlihatkan kedudukan spina skapula, tepi, sudut, dan
rongga glenaidnya

Ujung atas humerus.Spertiga atas humerus terdiri atas sebuah kepala, yang
membuat sendi dengan rongga glenoid skapula dan merupakan bagian bangunan sendi
bahu.Segera dibawah leher ada bagian yang sedikit lebih ramping yang disebut leher
anatomik. Di sebelah luar ujung atas di bawah leher anatomik terdapat sebuah
benjolan, yaitu tuberositas mayor dan di sebelah depan ada benjolan lebih kecil, yaitu
tuberositas minor.

Batang humerus.Sebelah atau bundar, tetapi semakin kebawah menjadi lebih


pipih.Sebuah tuberkel di sebelah lateral batang, tepat di atas pertengahan, disebut
tuberositas deltodius.Tuberositas ini menerima insersi atau kaitan otot deltoid.

Ujung bawah humerus.Lebar dan agak pipih.Pada bagian paling bawah


terdapat permukaan sendi yang dibentuk bersama tulang bawah.Troklea yang terletak
di sisi sebelah dalam berbentuk gelendong benang tempat persendian dengan ulna,
dan di sebelah luar terdapat kapitulumyang bersendi dengan radius.
Gambar 64 – pandangan anterior dan posterior humerus kiri memperlihatkan
titik-titik yang menjulang. Yang di sebut di dalam teks.

Ulna

Ulna atau tulang hasta adalah sebuah tulang pipa yang mempunyai sebuah
batang dan dua ujung.Tulang itu adalah tulang sebelah medial lengan bawah dan lebih
panjang daripada radius atau tulang pengumpil.

Ujung atas ulna kuat dan tebal, dan masuk dalam formasi sendi
siku.Prosesius olekranon menonjol ke atas di sebelah belakang dan tepat masuk di
dalam fosa olecranon dari humerus.
Gambar 65 – ulna kiri memperlihatkan pandangan anterior dan
lateral dengan sisi-sisi yang menjulang.

Batang ulna makin mendekati ujung bawah makin mengecil, memberi kaitan
pada otot yang mengendalikan gerakan pergelangan tangan dan jari.

Radius

Radius adalah tulang di sisi lateral lengan bawah, merupakan tulang pipa
dengan sebuah batang dan dua ujung dan lebih pendek daripada ulna.
Gambar 66 – radius kiri memperlihatkan pandangan anterior dan posterior,
dan memperlihatkan ujung-ujung menonjol.

Ujung atas radius kecil memperlihatkan kepala berbentuk kancing yang


memiliki permukaan dangkal bersendi dengan kapitulum humerus.

Batang radius.Batangnya lebih sempit dan lebih bundar di sebelah atas


daripada bawah dan semakin melebar mendekati ujung bawah.

Ujung bawah agak berbentuk segiempat dan masuk dalam formasi dua buah
sendi.

Tulang Pergelangan Tangan dan Tangan

Tulang tangan disusun dalam beberapa kelompok.Karpus (tulang pangkal


tangan) atau tulang yang masuk formasi pergelangan adalah tulang
pendek.Metacarpal membentuk kerangka tapak tangan dan berbentuk tulang
pipa.Falang adalah tulang jari dan berbentuk tulang pipa.

Karpus terdiri atas delapan tulang tersusun dalam dua baris, empat tulang
dalam setiap baris.

Gambar 67 – pandangan anterior tulang pergelangan dan tangan kanan,


beserta nama hubungan kedudukan terhadap satu-satu tulang.

Supaya memudahkan menghafal :


Kapal di cahaya bulannan terang berputar segitiga hingga pulau kacang pulau
besar segi banyak, pulau kecil segi banyak di kepala seharusnya kaitnya letak.

Proksimal :

Tulang bentuk kapal – os navikular


Tulang bulan – os lunatum
Tulang segitiga – os trikuetrum
Tulang kacang – os pisiformis

Distal :

Tulang besar segi banyak –os multangulum mayus


Tulang kecil segi banyak – os multangulum minus
Tulang berkepala – os kapitalum
Tulang berkait – os hamatum

Metakarpus. Terdapat lima tulang metacarpal. Setiap tulang mempunyai


batang dan dua ujung.Ujung yang bersendi dengan tulang kapal disebut ujung karpal
dan sendi yang dibentuknya adalah sendi karpo-metakarpal.

Falang, juga tulang panjang, mempunyai batang dan dua ujung.Batangnya


mengecil di arah ujung distal.Tiga pada setiap jari dan dua pada ibu jari.

E. Patofisiologi
Genetik, nutrisi, gaya hidup (misal merokok, konsumsi kafein, dan alkohol),
dan aktivitas mempengaruhi puncak massa tulang. Kehilangan masa tulang mulai
terjadi setelah tercaipainya puncak massa tulang. Pada pria massa tulang lebih besar
dan tidak mengalami perubahan hormonal mendadak. Sedangkan pada perempuan,
hilangnya estrogen pada saat menopouse dan pada ooforektomi mengakibatkan
percepatan resorpsi tulang dan berlangsung terus selama tahun-tahun pasca
menopouse (Lukman, Nurma Ningsih : 2009).
Diet kalsium dan vitamin D yang sesuai harus mencukupi untuk
mempertahankan remodelling tulang selama bertahun-tahun mengakibatkan
pengurangan massa tulang dan fungsi tubuh. Asupan kasium dan vitamin D yang tidak
mencukupi selama bertahun-tahun mengakibatkan pengurangan massa tulang dan
pertumbuhan osteoporosis. Asupan harian kalsium yang dianjurkan (RDA :
recommended daily allowance) meningkat pada usia 11 – 24 tahun (adolsen dan
dewasa muda) hingga 1200 mg per hari, untuk memaksimalakan puncak massa
tulang. RDA untuk orang dewasa tetap 800 mg, tetapi pada perempuan pasca
menoupose 1000-1500 mg per hari. Sedangkan pada lansia dianjurkan mengkonsumsi
kalsium dalam jumlah tidak terbatas. Karena penyerapan kalsium kurang efisisien dan
cepat diekskresikan melalui ginjal (Smeltzer, 2002).
Demikian pula, bahan katabolik endogen (diproduksi oleh tubuh) dan eksogen
dapat menyebabkan osteoporosis. Penggunaan kortikosteroid yang lama, sindron
Cushing, hipertiriodisme dan hiperparatiriodisme menyebabkan kehilangan massa
tulang. Obat- obatan seperti isoniazid, heparin tetrasiklin, antasida yang mengandung
alumunium, furosemid, antikonvulsan, kortikosteroid dan suplemen tiroid
mempengaruhi penggunaan tubuh dan metabolisme kalsium. Imobilitas juga
mempengaruhi terjadinya osteoporosis. Ketika diimobilisasi dengan gips, paralisis
atau inaktivitas umum, tulang akan diresorpsi lebih cepat dari pembentukannya
sehingga terjadi osteoporosis.

Setelah menopause, kadar hormon estrogen semakin menipis dan kemudian


tidak diproduksi lagi. Akibatnya, osteoblas pun makin sedikit diproduksi.Terjadilah
ketidakseimbangan antara pembentukan tulang dan kerusakan tulang.Osteoklas
menjadi lebih dominan, kerusakan tulang tidak lagi bisa diimbangi dengan
pembentukan tulang.Untuk diketahui, osteoklas merusak tulang selama 3 minggu,
sedangkan pembentukan tulang membutuhkan waktu 3 bulan. Dengan demikian,
seiring bertambahnya usia, tulang-tulang semakin keropos (dimulai saat memasuki
menopause) dan mudah diserang penyakit osteoporosis.

Secara garis besar patofisiologi osteoporosis berawal dari adanya massa


puncak tulang yangrendah disertai adanya penurunan massa tulang. Massa puncak
tulang yang rendah ini didiga berkaitan dengan faktor genetik, sedngkan faktor yang
menyebabkan penurunan massa tulang adalah proses ketuaan, menopouse, atau faktor
lain seperti obat-obatan atau aktivitas fisik yang kurang serta faktor genetik. Akibat
disertai adanya penurunan massa tulang menyebabkan densitas ulang menurun yang
merupakan faktor resiko terjadinya fraktur. Derjat remodelling sangat dipengaruhi
oleh faktorsistemik, seperti hormon estrogen, testosteron, PTH, tiroksin, kalsitonin.
Reseptor estrogen terdapat pada osteoblas, tetapi tidak pada osteoklas. Dengan
demikian menurunnya produksi estrogen produksi estrogen akan mengurangi kegiatan
osteoblas, sehingga pembentukan tulang baru juga menurun, maka terjadi keadaan
yang disebut incoupling yaitu gangguan keseimbangan antara penyerapan dan
pembentukan tulang baru.

Estrogen juga merangsang growth factor yang menyebabkan pembentukan


tulang. Oleh karena itu pada masa pertumbuhan, pembentukan tulang lebih banyak
dari kerusakan dan mencapai puncaknya pada usia dekade ketiga. Setelah usia 30
tahun aktivitas osteoklas tidak dapat diimbangi lagi oleh osteoblas. Oleh karena itu
terjadi penurunan kadar estrogen osteoblas. Oleh karena itu terjadi penurunan kadar
estrogen akibat proses degenerasi, maka rangsangan pada osteoblas juga berkurang.
Sehingga terjadilah keadaan yang disebut osteopenia. Kalsium yang merupakan
mineral dasar pembentukan tulang, apabila jumlahnya dalam makanan berkurang atau
karena ada gangguan penyerapan di usus, dan bila pengaruh vitamin D juga berkurang
maka keadaan ini akan mempengaruhi pembentukan massa tulang.
Semakin tua umur seseorang, risiko terkena osteoporosis semakin besar.
Osteoporosis merupakan kejadian alami yang terjadi pada tulang manusia sejalan
dengan meningkatnya usia. Proses densitas (kepadatan) tulang hanya berlangsung
sampai seseorang berusia 25 tahun. Selanjutnya, kondisi tulang akan tetap (konstan)
hingga usia 40 tahun. Setelah umur 40 tahun, densitas tulang mulai berkurang secara
perlahan. Oleh karenanya, massa tulang akan berkurang seiring dengan proses
penuaan. Dengan demikian osteoporosis pada usia lanjut terjadi akibat berkurangnya
massa tulang. Pada lansia, kemampuan tulang dalam menghindari keretakan akan
semakin menurun. Kondisi ini juga diperparah dengan kecenderungan rendahnya
konsumsi kalsium dan kemampuan penyerapannya.
Wanita mempunyai risiko terkena osteoporosis lebih besar daripada pria.
Sekitar 80% di antara penderita osteoporosis adalah wanita. Secara umum, wanita
menderita osteoporosis empat kali lebih banyak daripada pria. Satu dari tiga wanita
memiliki kecenderungan untuk menderita osteoporosis. Adapun kejadian osteoporosis
pada pria lebih kecil yaitu satu dari tujuh pria. Hal ini terjadi antara lain karena massa
tulang wanita empat kali lebih kecil dibandingkan dengan pria. Nilai masa tulang
wanita umumnya hanya sekitar 800 gram lebih kecil dibandingkan dengan pria yaitu
sekitar 1.200 gram. Karena nilai massa tulang yang rendah itulah maka kehilangan
massa tulang yang diikuti dengan kerapuhan tulang sangat mungkin terjadi.
Estrogen tidak hanya dihasilkan oleh ovarium, namun juga bisa dihasilkan
oleh kelenjar adrenal dan dari jaringan lemak. Jaringan lemak atau adiposa dapat
mengubah hormon androgen menjadi estrogen. Semakin banyak jaringan lemak yang
dimiliki oleh wanita, semakin banyak hormon estrogen yang dapat diproduksi.
Penurunan massa tulang pada wanita yang kelebihan berat badan dan memiliki kadar
lemak yang tinggi, pada umumnya akan lebih kecil. Adanya penumpukan jaringan
lunak dapat melindungi rangka tubuh dari trauma dan patah tulang.
Berat badan yang ringan, indeks massa tubuh yang rendah, dan kekuatan
tulang yang menurun memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap berkurangnya massa
tulang pada semua bagian tubuh wanita. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa
efek berat badan terhadap massa tulang lebih besar pada bagian tubuh yang menopang
berat badan, misalnya pada tulang kering dan tulang paha (Wardhana, 2012).Semakin
rendah aktivitas fisik, semakin besar risiko osteoporosis. Hal ini terjadi karena
aktivitas fisik (olahraga) dapat membangun tulang dan otot menjadi lebih kuat, juga
meningkatkan keseimbangan metabolisme tubuh.
Nutrisi yang salah bisa menyebabkan osteoporosis, terutama bila kekurangan
kalsium dalam makanan. Makanan yang lebih manis dan berlemak tidak sehat bagi
tulang karena banyak mengandung gula, kafein, garam, bahkan alkohol. Selain
kalsium, baik juga untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin D, serta
perbanyak konsumsi sayur dan buah karena banyak mengandung vitamin dan mineral
yang dibutuhkan oleh tulang. Selain itu, kurangi makanan instan yang diolah dengan
penambahan bahan-bahan kimia yang dapat mengganggu kesehatan, termasuk
kesehatan tulang. Beberapa makanan yang dapat menyebabkan hilangnya kalsium
tubuh antara lain makanan tinggi protein hewani, makanan kaya garam, makanan
yang terlalu manis, serta minuman bersoda.
Kortikosteroid banyak digunakan untuk mengatasi berbagai penyakit, terutama
penyakit autoimun, namun kortikosteroid yang digunakan dalam jangka panjang dapat
menyebabkan terjadinya osteoporosis sekunder dan fraktur osteoporotik.
Kortikosteroid dapat menginduksi terjadinya osteoporosis bila dikonsumsi lebih dari
7,5 mg per hari selama lebih dari 3 bulan.Kortikosteroid akan menyebabkan gangguan
absorbsi kalsium di usus, dan peningkatan ekskresi kalsium pada ginjal, sehingga
akan terjadi hipokalsemia.Selain berdampak pada absorbsi kalsium dan ekskresi
kalsium, kortikosteroid juga akan menyebabkan penekanan terhadap hormon
gonadotropin, sehingga produksi estrogen akan menurun dan akhirnya akan terjadi
peningkatan kerja osteoklas. Kortikosteroid juga akan menghambat kerja osteoblas,
sehingga penurunan formasi tulang akan terjadi. Dengan terjadinya peningkatan kerja
osteoklas dan penurunan kerja dari osteoblas, maka akan terjadi osteoporosis yang
progresif.
Perokok mempunyai risiko terkena osteoporosis lebih besar. Pada wanita
perokok ada kecenderungan kadar estrogen dalam tubuhnya lebih rendah dan
kemungkinan memasuki masa menopause 5 tahun lebih awal dibandingkan dengan
yang tidak merokok. Kecepatan kehilangan massa tulang juga terjadi lebih cepat pada
wanita perokok. Asap rokok dapat menghambat kerja ovarium dalam memproduksi
hormon estrogen. Di samping itu, nikotin juga mempengaruhi kemampuan tubuh
untuk menyerap dan menggunakan kalsium.
Konsumsi alkohol dalam jumlah sedikit mungkin baik bagi tubuh, tetapi bila
jumlahnya sudah terlalu banyak (lebih dari 2 gelas sehari) dapat merugikan kesehatan
karena akan mengganggu proses metabolisme kalsium dalam tubuh. Alkohol dapat
menyebabkan luka-luka kecil pada dinding lambung yang terjadi beberapa saat
setelah minum alkohol. Banyaknya luka kecil karena minum alkohol akan
menyebabkan perdarahan. Hal ini dapat menyebabkan tubuh kehilangan kalsium
karena kalsium banyak terdapat dalam darah.

Asupan Kalsium
Tabel 5 Distribusi Frekuensi Asupan Frekuensi Persentase (%)
Kalsium Responden Asupan Kalsium
Baik 82 64,1
Kurang 46 35,9
Total 128 100

Tabel diatas menunjukan distribusi frekuensi asupan kalsium pada wanita


premenopause di Puskesmas Cinangka Banten. Dari 128 responden diperoleh
persentase wanita yang asupan kalsiumnya baik adalah sebanyak 82 reponden
(64,1%) dan wanita yang memiliki asupan kalsiumnya rendah atau kurang yaitu
sebanyak 46 respoden (35,9%).
Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Osteoporosis Dengan Asupan Kalsium

Asupan Kalsium
Tingkat Kurang Baik >1000 Total p-value OR
pengetahuan < 1000 mg/hari
osteoporosis mg/hari
N % N % N % %

Kurang 36 67,9 17 32,1 53 100 . 000 13,765

Baik 10 13,3 65 86,7 75 100

Jumlah 46 35,9 82 64,1 128 100

(dikutip dari jurnal ilmu kedokteran dan kesehatan, vol 05, no 1, januari 2018)

. Distribusi frekuensi karakteristik pasien fraktur leher femur akibat low energy trauma di
RSUP Dr. M. Djamil Padang dan RST Dr. Reksodiwiryo Padang berdasarkan usia dan jenis kelamin

No Karakteristik f %
1 Usia
31-40 tahun 0 0
41-50 tahun 1 4,5
51-60 tahun 5 22,7
61-70 tahun 6 27,3
> 70 tahun 10 45,5
Total 22 100 %
2 Jenis Kelamin
Laki-laki 6 27,3
Perempuan 16 72,7
Total 22 100 %

Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa sampel terbanyak berusia lebih dari 70
tahun yaitu sebanyak 10 orang (45,5%), sebagian kecil berusia 61-70 tahun (27,3%),
beberapa berusia 51-60 tahun (22,7%), lainnya berusia 41-50 tahun (4,5%), dan tidak
ada usia 31-40 tahun. Sampel terdiri dari sebagian besar perempuan (72,7%) dan beberapa
laki-laki (27,3%).
Gambar 2. Distribusi frekuensi tingkat osteoporosis pasien fraktur leher femur akibat
low energy trauma berdasarkan Indeks Singh

Penelitian ini memperoleh data bahwa hampir sebagian dari sampel (40,9%)
dikelompokkan dalam grade A (Indeks Singh tingkat 4-5), sebagian kecil dari sampel
(36,4%) dikelompokkan dalam grade C (indeks Singh tingkat 1-2), dan beberapa dari
sampel (22,7%) dikelompokkan dalam grade B (Indeks Singh tingkat 3).

Gambar 3. Distribusi frekuensi pasien fraktur leher femur akibat low energy trauma
berdasarkan klasifikasi Garden

Penelitian ini memperoleh data bahwa sebagian besar responden (77,3%)


dikelompokkan dalam klasifikasi Garden tipe 4, sebagian kecil dari responden (13,6%)
dikelompokkan dalam klasifikasi Garden tipe 2, dan beberapa responden (4,5%) masing-
masing dikelompokkan dalam klasifikasi Garden tipe 1 dan 3.

Tabel 2. Hubungan tingkat osteoporosis dengan fraktur leher femur akibat low energy
trauma
Tingkat Osteo- Fraktur Leher
Porosis Femur
P
Tipe 1Tipe 2Tipe 3Tipe 4
%% % %
Grade A 4,9,1 0,0 27,3

Grade B 0,4,5 0,0 18,2 0.483

Grade C 0,0,0 4,5 31,8

Total 4,13,6 4,5 77,3

*Kruskal wallis test

Data dalam tabel diatas pada awalnya dianalisis dengan uji Chi-square, namun
karena tidak memenuhi syarat uji maka digunakan uji alternatif Kruskal wallis. Hasil
menunjukkan sebagian besar responden mengalami osteoporosis grade C (indeks Singh
tingkat 1-2) dengan fraktur leher femur tipe 4 klasifikasi Garden dengan nilai p= 0,483
(p>0,05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan secara statistik bahwa tidak
terdapat hubungan yang bermakna (signifikan) antara tingkat osteoporosis berdasarkan
indeks Singh dengan fraktur leher femur akibat low energy trauma di beberapa rumah
sakit di Padang tahun 2016-2018.

F. Manifestasi Klinis
Osteoporosis merupakan silent disease. Penderita osteoporosis umumnya tidak
mempunyai keluhan sama sekali sampai orang tersebut mengalami fraktur.
Osteoporosis mengenai tulang seluruh tubuh, tetapi paling sering menimbulkan gejala
pada daerah-daerah yang menyanggah berat badan atau pada daerah yang mendapat
tekanan (tulang vertebra dan kolumna femoris). Korpus vertebra menunjukan adanya
perubahan bentuk, pemendekan dan fraktur kompresi. Hal ini mengakibatkan berat
badan pasien menurun dan terdapat lengkung vertebra abnormal (kiposis).
Osteoporosis pada kolumna femoris sering merupakan predisposisi terjadinya fraktur
patologik (yaitu fraktur akibat trauma ringan), yang sering terjadi pada pasien usia
lanjut.

Masa total tulang yang terkena mengalami penurunaan dan menunjukan


penipisan korteks serta trabekula. Pada kasus ringan, diagnosis sulit ditegakkan
karena adanya variasi ketebalan trabekular pada individu ”normal” yang berbeda.

Diagnosis mungkin dapat ditegakkan dengan radiologis maupun histologist


jika osteoporosis dalam keadaan berat. Struktur tulang, seperti yang ditentukan secara
analisis kimia dari abu tulang tidak menunjukan adanya kelainan. Pasien osteoporosis
mempunyai kalsium,fosfat, dan alkali fosfatase yang normal dalam serum.

Manifestasi osteoporosis :
1. Nyeri dengan atau tanpa fraktur yang nyata
2. Rasa sakit oleh karena adanya fraktur pada anggota gerak
3. Nyeri timbul mendadak
4. Sakit hebat dan terlokalisasi pada vertebra yg terserang. Bagian-bagian tubuh
yang sering fraktur adalah pergelangan tangan, panggul dan vertebra
5. Nyeri berkurang pada saat istirahat di tempat tidur
6. Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan akan bertambah jika melakukan
aktivitas atau karena suatu pergerakan yang salah
7. Deformitas vertebra thorakalis menyebabkan penurunan tinggi badan, Hal ini
terjadi oleh karena adanya kompresi fraktur yang asimtomatis pada vertebra.

Tulang lainnya bisa patah, yang sering kali disebabkan oleh tekanan yang
ringan atau karena jatuh. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah
tulang panggul. Selain itu, yang juga sering terjadi karena adalah patah tulang lengan
di daerah persambungannya dengan pergelangan tangan, yang disebut fraktur Colles,
Pada penderita osteoporosis, patah tulang cenderung mengalami secara perlahan.

Kepadatan tulang berkurang secara perlahan, sehingga pada awalnya


osteoporosis tidak menimbulkan gejala pada beberapa penderita. Jika kepadatan
tulang sangat berkurang yang menyebabkan tulang menjadi kolaps atau hancur, maka
akan timbul nyeri tulang dan kelainan bentuk. Tulang-tulang yang terutama
terpengaruh pada osteoporosis adalah radius distal, korpus vertebra terutama
mengenai T8-L4, dan kollum femoris (Lukman, Nurma Ningsih : 2009).
Kolaps tulang belakang menyebabkan nyeri punggung menahun. Tulang
belakang yang rapuh bisa mengalami kolaps secara spontan atau karena cedera ringan.
Biasanya nyeri timbul secara tiba-tiba dan dirasakan di daerah tertentu dari pungung
yang akan bertambah nyeri jika penderita berdiri atau berjalan. Jika disentuh, daerah
tersebut akan terasa sakit, tetapi biasanya rasa sakit ini akan menghilang secara
bertahap setelah beberapa minggu atau beberapa bulan. Jika beberapa tulang belakang
hancur, maka akan terbentuk kelengkungan yang abnormal dari tulang belakang
(punuk), yang menyebabkan terjadinya ketegangan otot dan rasa sakit (Lukman,
Nurma Ningsih : 2009).
Tulang lainnya bisa patah, yang sering kali disebabkan oleh tekanan yang
ringan atau karena jatuh. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah
tulang panggul. Selain itu , yang juga sering terjadi adalah patah tulang lengan
(radius) di daerah persambungannya dengan pergelangan tangan, yang disebut fraktur
Colles. Pada penderita osteoporosis, patah tulang cenderung mengalami penyembuhan
secara perlahan (Lukman, Nurma Ningsih : 2009).

G. Pemeriksaan Diagnostik
Sebenarnya langkah terbaik dalam penanganan osteoporosis adalah
pencegahan karena bila sudah terkena susah, bahkan tidak dapat dipulihkan.
Seyogyanya, sedini mungkin dilakukan diagnosis untuk mendeteksi keadaan massa
tulang sebelum terjadi akibat yang lebih fatal seperti terjadinya patah tulang .
penilaian langsung tulang untuk mengetahui ada tidaknya osteoporosis dapat
dilakukan dengan berbagai cara , yaitu sebagai berikut :

 Pemeriksaan radiologic
 Pemeriksaan radioisotope
 Pemeriksaan Quantitative
 Magnetic resonance imaging (MRI)
 Quantitative Ultra Sound (QUS)
 Densitometer (X-ray absorptiometry)
 Tes darah dan urine
Osteoporosis teridentifikasi pada pemeriksaan sinar-x rutin bila sudah terjadi
demineralisasi 25% sampai 40%.Tampak radiolusensi tulang.Ketika vertebra kolaps,
vertebra torakalis menjadi berbentuk baji dan vertebra lumbalis menjadi bikonkaf.
Pemeriksaan laboratorium (misalnya kalsium serum, fosfat, serum, fosfatase alkalu,
ekskresi kalsium urine, ekskresi hidroksi prolin urine, hematokrit, laju endap darah),
dan sinar-x dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis medis lain
(misalnya ; osteomalasia, hiperparatiroidisme, dll) yang juga menyumbang terjadinya
kehilangan tulang. Absorbsiometri foton-tunggal dapat digunakan untuk memantau
massa tulang pada tulang kortikal pada sendi pergelangan tangan. Absorpsiometri
dual-foton, dual energy x-ray absorpsiometry (DEXA) , dan CT mampu memberikan
informasi mengenai massa tulang pada tulang belakang dan panggul. Sangat berguna
untuk mengidentifikasi tulang osteoporosis dan mengkaji respon terhadap terapi.

H. Penatalaksaan
Penatalaksanaan penderita osteoporosis terdiri atas:
a. Penyuluhan Penderita
Pada penderita osteoporosis, faktor resiko di luar tulang harus diperhatikan
program latihan kebugaran tubuh (fitness), melompat, dan lari tidak boleh
dilakukan karena resiko besar patah tulang.Berdirilah tegak kalau jalan, bekerja,
menyetrika, menyapu (gunakan sapu dengan tangkai panjang) dan
masak.Duduklah tegak kalau bekerja, masak, sikat gigi dan mencuci.Tidak boleh
mengepel lantai dengan berlutut dan membungkuk karena resiko patah tulang
pinggang cukup besar.Untuk memperkuat dan mempertahankan kekuatan
neuromuskuler memerlukan latihan tiap hari atau paling sedikit 3 hari
sekali.Berdansa santai dan jalan kaki cepat 20 — 30 menit sehari adalah sehat dan
aman untuk penderita osteoporosis.
Penderita perlu menyadari besarnya resiko jatuh.Setelah makan atau tidur,
duduk sebentar dulu sebelum berdiri dan pada permulaan berdiri berpegangan
dahulu pada tepi meja makan.Mereka yang sering kehilangan keseimbangan bahan
perlu memakai tongkat/walker.

b. Farmakologi
 Terapi siklik dengan penggantian pada esterogen, dianjurkan pemberiannya
pada masa peri-menopause.
 Pemberian kalsitonin kepada penderita osteoporosis yang sudah terdiagnosis.
 Penggunaan kalsium suplemental lebih pada pasien yang tidak memiliki batu
ginjal.
 Penambahan asupan vitamin D pada pasien yang mengalami defisiensi.
 Pemberian biphosphonate

c. Rehabilitasi
 Terapi dan rehabilitasi. Rasa nyeri yang dialami oleh pasien osteoporosis dapat
diatasi, selain dengan obat-obatan juga dengan terapi modalitas fisik (terapi
panas, terapi dingin, juga terapi relaksasi yang memosisikan tubuh secara tepat
dan benar). Pada nyeri kronis, perlu diterapkan modifikasi sehari-hari dan
penggunaan alat bantu.
 Pemakaian ortosis spinal. Alat ini, ortosis spinal di-gunakan untuk imobilitasi
tulang punggung. Ortose artinya tegak dan spinal artinya tulang belakang/tulang
punggung. Bentuknya seperti jaket dengan bahan kerangka besi. Bisa juga
menggunakan ortoplast yang dipasang pada tubuh dan bermanfaat memosisikan
tubuh pada posisi yang benar. Alat ini mengurangi posisi membungkuk,
mencegah terjadinya patah tulang, dan membantu menegakkan tubuh pada otot-
otot tulang punggung yang lemah.
 Uji gangguan kestabilan. Pada usia lanjut, orang cenderung sering terjatuh. Ini
disebabkan ketidakstabilan ketika berjalan karena proses penuaan mengubah
pola jalan seseorang. Ketidakstabilan pada lansia disebabkan menurunnya input
proprioseptif (penerimaan rangsangan dari dalam tubuh sendiri), refleks yang
melambat, menurunnya kekuatan otot, dan lain-lain. Tindakan dalam hal
mencegah terjatuh, seyogianya memerhatikan faktor-faktor tersebut.
d. Edukasi
 Menghindari mengangkat sesuatu/ barang yang berat
 Menghindari jatuh dengan menghindari lantai licin, alas kaki licin, tangga yang
curam, dan penerangan ruangan yang redup. Bila ada gangguan penglihatan
harus dikoreksi (misalnya dengan kacamata), penggunaan tongkat saat berjalan,
penggunaan pegangan tangan di kamar mandi, penggunaan kloset duduk.
 Postur: menghindari postur yang bungkuk, harus tegak, dapat dibantu dengan
korset.
 Olahraga: awalnya tanpa beban kemudian bertahap diberikan beban sesuai
toleransi.
- Latihan pembebanan harus dalam pengawasan dokter SpKFR (Spesialis
Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi) atau SpKO (Kedokteran Olahraga).
- Latihan keseimbangan.
- Latihan kelenturan

I. Komplikasi
Komplikasi yang sering di temui adalah kasus patah tulang. Retaknya tulang
sering muncul pada tulang belakang atau pinggul dan pergelangan tangan. Fraktur
tulang menyebabkan penurunan kualitas hidup seperti kecacatan, isolasi sosial
bahkan kematian. (dikutip dari jurnal jmu, vol 5 no.2 nov 2017 )
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN
Tanggal pengkajian : 26 september 2019
Tanggal MRS : 26 September 2019
Jam : 14.00
A. Pengumpulan Data
1. Identitas Pasien
Nama : Ny. M
Umur : 59 Tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Suku Bangsa : Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : S1
Pekerjaan : IRT

Alamat : Jl. Gotong royong RT. 17 RW. 03 Kel. Sungai buah.


B. Riwayat Keperawatan
1. Keluhan Utama : Nyeri
P : Terasa nyeri saat beraktivitas dan nyeri berkurang saat istirahat

Q : Seperti tertekan benda berat

R : Pada punggung

S : 7 (1-10)

T : Pada saat beraktivitas

2. Keluhan saat masuk RS : pada punggung terasa nyeri saat beraktivitas, ini
menyebabkan klien sulit berjalan secara normal.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Ny. M umur 59 tahun datang ke Poli Orthopedi RSM Palembang dengan
keluhan sakit pada punggung yang sering dirasakan sejak 3 bulan yang lalu,
rasa sakit itu sudah dirasakan sejak beberapa tahun yang lalu, namun Ny. M
tidak memperdulikannya.

C. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum
a. Kesadaran : Compos Mentis
b. Tekanan Darah : 130/90 mmHg
c. Nadi : 110x/mnt
d. RR : 20x/mnt
e. Suhu : 36,9 0C
2. Sistem Persyarafan
a. GCS (Glassgow Coma Scale) : Eye/Verbal/Motorik = 4/5/6
b. Tidak ada pusing
c. Pupil isokor
d. Sclera/Konjunctiva anemis
e. Tidak ada gangguan pandangan
f. Tidak ada gangguan pendengaran
g. Tidak ada gangguan penciuman
h. Orientasi waktunya baik
i. Orientasi tempatnya baik
j. Orientasi orang baik
3. Sistem Muskuloskeletal
a. Pergerakan terbatas
b. Cara berjalan tidak tegap
c. Kekuatan otot
d. Tidak ada kelainan ektremitas
e. Terdapat kelainan tulang belakang (kifosis)
f. Tidak ada fraktur
g. Tidak terpasang traksi,spalk, ataupun gips
4. Riwayat Psikososial
- Klien tidak berani melakukan aktivitas yang berat karena rasa sakit di
punggungnya
- Klien tidak mengetahui penyebab dan cara pengobatan sakit dipunggungnya.
5. Hasil pemeriksaan laboratorium
BMD T-score -3
Hasil lab Elektrolit tanggal 26 september 2019 (ca: 9,98 mg/dL, na: 142
mmol/L, K: 47 mmol/L, Cl: 108 mmol/L )
Hasil Lab Darah lengkap tanggal 26 september 2019
Hb : 13,5 gr/dl
Leuko : 6.000 /ul
Trombosit : 250.000 /ul
Hematokrit : 42%
SGOT/SGPT : 7/6,6 u/l
Albumin : 4 mg%

I. MASALAH KEPERAWATAN
A. Diagnosa Keperawatan :
1. Nyeri kronis berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal kronis
2. Hambatan Mobilitas Fisik berhubungan dengan kerusakan integritas struktur tulang
3. Intoleran aktivitas berhubungan dengan gaya hidup kurang gerak
4. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait penyakit
5. Risiko cedera berhubungan dengan kurang sumber nutrisi
B. Prioritas diagnosis keperawatan :

1. Hambatan Mobilitas Fisik berhubungan dengan kerusakan integritas struktur tulang


2. Intoleran aktivitas berhubungan dengan gaya hidup kurang gerak
3. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait penyakit
4. Nyeri kronis berhubungan dengan muskuloskeletal kronis
5. Risiko cedera berhubungan dengan kurang sumber nutrisi

II. INTERVENSI KEPERAWATAN

NO. DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI

1. Hambatan mobilitas NOC: NIC:


fisik berhubungan Label : 1. Pergerakan Label: 1. Peningkatan
dengan kerusakan 2. Cara berjalan mekanika
3. Ambulasi tubuh
integritas struktur
Setelah dilakukan tindakan 2.Terapi
tulang
keperawatan 2 x 24 diharapkan latihan :
keterbatasan pergerakan pada fisik ambulasi
tubuh berkurang dengan
kriteria hasil: 3. kaji komitmen
pasien untuk
belajar dan
No. Krteria hasil Tujuan
menggunakan
1. Cara berjalan 5 postur tubuh yang
benar
2 Gerakan otot 5
4. kolaborasikan
3 Bergerak dengan 5 dengan
mudah fisioterapis dalam
4 Postur tubuh saat 5 mengembangkan
berjalan peningkatan
mekanika tubuh,
5 Postur tubuh 5 sesuai indikasi
yang terlalu
maju dan 5. kaji pemahaman
membungkuk pasien mengenai
mekanika tubuh
dan latihan
Ket :
1. Sangat terganggu 6. informasikan pada
2. Banyak terganggu pasien tentang
3. Cukup terganggu struktur dan
4. Sedikit terganggu fungsi tulang
5. Tidak terganggu belakang dan
postur yang
optimal untuk
bergerak dan
menggunakan
tubuh

7. edukasi pasien
tentang
pentingnya postur
tubuh yang benar
untuk mencegah
kelelahan,
ketegangan, atau
injuri

8. edukasi pasien
menegnai
bagaimana
menggunakan
postur tubuh dan
mekanika tubuh
untuk mencegah
injuri pada saat
melakukan
aktivitas

9. instruksikan untuk
menghindari tidur
dengan posisi
telungkup

10. bantu untuk


menghindari
duduk dalam
posisi yang sama
dalam jangka
waktu yang lama

11. instruksikan
pasien untuk
menggerakkan
kaki terlebih
dahulu kemudian
badan ketika
memulai berjalan
dari posisi berdiri

12. bantu untuk


memilih aktivitas
pemanasan
sebelum memulai
latihan atau
memulai
pekerjaan yang
tidak dilakukan
secara rutin
sebelumnya

13. bantu pasien


untuk melalukan
latihan fleksi
untuk
memfasilitasi
mobilisasi
punggung sesuai
indikasi

14. monitor perbaikan


postur tubuh /
mekanika tubuh
pasien

15. bantu pasien


untuk
menggunakan
alas kaki yang
memfasilitasi
pasien untuk
berjalan dan
mencegah cedera
16. konsultasikan
pada ahli terapi
fisik mengenai
rencana ambulasi,
sesuai kebutuhan

17. monitor
penggunaan kruk
pasien atau alat
bantu berjalan
lainnya

2. Intoleran aktivitas NOC: NIC:


berhubungan dengan Label : 1. Daya tahan Label: 1. Manajemen
gaya hidup kurang 2. Toleransi terhadap aktivitas energi
3. Energi psikomotor
gerak
Setelah dilakukan tindakan 2.Terapi
keperawatan 2 x 24 diharapkan klien aktivitas
mampu beraktivitas seperti biasa
dengan
kriteria hasil:
3. kaji status
fisiologis
No. Krteria hasil Tujuan pasien yang
menyebabka
1. Melakukan 5 n kelelahan
aktivitas rutin sesuai
dengan
2 Aktivitas fisik 5
konteks usia
3 Daya tahan otot 5 dan
perkembang
4 Kekuatan tubuh 5 an
bagian atas 4. tentukan jenis
5 Kekuatan tubuh 5 dan
bagian bawah banyaknya
aktivitas
6. Menunjukkan 5 yang
kemampuan dibutuhkan
untuk untuk
menyelesaikan menjaga
tugas sehari-hari kesehatan

5. monitor
intake/asupa
nnutrisi
Ket : untuk
1. Sangat terganggu menegtahui
2. Banyak terganggu
sumber
3. Cukup terganggu
4. Sedikit terganggu energy yang
5. Tidak terganggu adekuat

6. konsulkan
dengan ahli
gizi
mengenai
cara
meningkatka
n asupan
energy dari
makanan

7. bantu pasien
identifikasi
pilihan
aktivitas-
aktivitas
yang akan
dilakukan

8. anjurkan
pasien untuk
memilih
aktivitas-
aktivitas
yang
membangun
ketahanan

9. anjurkan
aktivitas
fisik
misalnya
ambulasi,
ADL sesuai
dengan
kemampuan
energi pasien

10. evaluasi
secara
bertahap
kenaikan
level
aktivitas
pasien

11. berkolaborasi
dengan ahli
terapis fisik,
okupasi dan
terapis
rekreasional
dalam
perencanaan
dan
pemantauan
program
aktivitas,
jika memang
diperlukan

12. dorong
aktivitas
kreatif yang
tepat

13. bantu dengan


aktivitas
fisik secara
teratur
misalnya
ambulasi,
berpindah,
berputar, dan
kebersihan
diri sesuai
kebutuhan

14. sediakan
aktivitas
motorik
kasar untuk
klien yang
hiperaktif

15. berikan
kesempatan
keluarga
untuk
terlibat
dalam
aktivitas
dengan cara
yang tepat

16. monitor
respon
emosi, fisik,
sosial dan
spiritual
terhadap
aktivitas

3. Gangguan rasa NOC: NIC :


nyaman berhubungan Label : 1. Status kenyamanan Label : 1. Manajemen
dengan gejala terkait 2. Status kenyamanan : fisik lingkunga
3.Status kenyamanan : n
penyakit
psikospiritual
Setelah dilakukan tindakan 2.peningkatan
keperawatan 2 x 24 diharapkan keamanan
perasaan tidak nyaman dapat teratasi
dengan
kriteria hasil:
3. ciptakan
lingkungan yang
No. Krteria hasil tujuan aman bagi pasien

1. Kontrol 5 4. damping pasien


terhadap gejala selama tidak ada
kegiatan bangsal
2 Posisi yang 5
dengan tepat
nyaman
5. sediakan
3 Keyakinan 5
keluarga /orang
4. Konsep diri 5 terdekat dengan
informasi
mengenai
Ket :
1. Sangat terganggu membuat
2. Banyak terganggu lingkungan rumah
yang aman bagi
3. Cukup terganggu pasien
4. Sedikit terganggu
5. Tidak terganggu 6. bantu pasien /
keluarga
mengidentifikasi
faktor apa yang
meningkatkan rasa
keamanan

4. Nyeri kronis NOC: NIC :


berhubungan dengan Label : 1.Nyeri : efek yang Label: 1. Manajemen
muskuloskeletal mengganggu Nyeri
kronis 2.Nyeri:respon psikologis 2.Manajemen
tambahan pengobatan
3. Kontrol nyeri
4. Tingkat nyeri 3. lakukan pengkajian
nyeri komprehensif
Setelah dilakukan tindakan yang meliputi
keperawatan 2 x 24 diharapkan klien lokasi,
dapat berkurang dengan karakterstik,
kriteria hasil: onset/durasi,
frekuensi, kualitas,
intensitas atau
No. Krteria hasil tujuan
beratnya nyeri dan
1. Ketidaknyama 5 faktor pencetus
nan
4. evaluasi
2. Gangguan 5 pengalaman nyeri
dalam rutinitas di masa lalu yang
meliputi riwayat
3. Gangguan 5
nyeri kronik
pergerakan
individu atau
fisik
keluarga atau nyeri
4. Gangguan 5 yang menyebabkan
pada aktivitas disability atau
sehari hari ketidakmampuan
dengan tepat
5. Kekhawatiran 5
terkait 5. evaluasi bersama
toleransi pasien dan tim
terhadap nyeri kesehatan lainnya
6. Kekhawatiran 5 mengenai
terkait dengan efektifitas tindakan
membebani pengontrolan nyeri
orang lain yang pernah
digunakan
7. Nyeri yang 5
sebelumnya
dilaporkan

8. Ekspresi nyeri 5 6. Berikan


wajah informasi
mengenai
9. Mengenali 5 nyeri, seperti
kapan nyeri penyebab
terjadi nyeri, berapa
lama nyeri
10. Menggunakan 5
akan
tindakan
dirasakan, dan
pengurangan
antisipasi dari
nyeri tanpa
ketidaknyama
analgesik
nan akibat
prosedur
Ket : 7. Ajarkan
1. Berat / tidak pernah prinsip prinsip
menunjukkan manajemen
2. Cukup berat / jarang nyeri
menunjukkan 8. Ajarkan
3. Sedang / kadang-kadang penggunaan
menunjukkan teknik
4. Ringan / sering
nonfarmakolo
menunjukkan
gi
5. Tidak ada / secara
9. Kolaborasi
konsisten menunjukkan
dengan pasien,
orang terdekat
dan tim
kesehatan
lainnya untuk
memilih dan
mengimpleme
ntasikan
tindakan
penurun nyeri
nonfarmakolo
gi sesuai
kebutuhan
10. Berikan
individu penurun
nyeri yang
optimal dengan
resepan analgesic
11. Evaluasi
keefektifan
dari tindakan
pengontrol
nyeri yang
dipakai selama
pengkajian
nyeri
dilakukan
12.
Informasikan
tim kesehatan
lainnya /
anggota
keluarga
mengenai
strategi
nonfarmakolo
gi yang sedang
digunakan
untuk
mendorong
pendekatan
preventif
terkait
manajemen
nyeri
13. Monitor
kepuasan
pasien
terhadap
manajemen
nyeri dalam
interval yang
spesifik
14. Tentukan
obat apa yang
diperlukan dan
kelola
menurut resep
dan atau
protocol
15. Monitor
efektifitas cara
pemberian
obat yang
sesuai
16. Monitor
efek samping
obat
17. Kaji ulang
pasien
ataukeluarga
secara berkala
mengenai
jenis dan
jumlah obat
yang
dikonsumsi
18. Monitor
respon
terhadap
perubahan
pengobatan
dengan cara
yang tepat
19. Konsultasi
dengan
professional
perawatan
kesehatan
lainnya untuk
meminimalkan
jumlah dan
frekuensi obat
yang
dibutuhkan
agar
didapatkan
efek terapeutik
20. Ajarkan
pasien atau
anggota
keluarga
mengenai
metode
pemberian
obat yang
sesuai
21. Anjurkan
pasien
mengenai
kapan harus
mencari
bantuan medis
22. Kaji ulang
strategi
bersama
pasien dalam
mengelola
obat-obatan

5. Risiko cedera NOC: NIC:


berhubungan dengan Label : keparahan cedera fisik Label : 1. identifikasi
kurang sumber nutrisi risiko
Setelah dilakukan tindakan 2. Manajemen
dan hambatan fisik
keperawatan 2 x 24 diharapkan lingkungan :
resiko terjadinya cedera dapat teratasi keselamatan
dengan
1. identifikasi
kriteria hasil:
kebutuhan
keamanan pasien
No. Krteria hasil tujuan berdasarkan fungsi
fisik dan kognitif
1. Fraktur tulang 5
serta riwayat
punggung
perilaku di masa
2. Fraktur tulang 5 lalu
tengkorak
2. identifikasi hal-hal
yang
Ket : membahayakan di
1. Berat lingkungan
2. Cukup berat misalnya bahaya
3. Sedang
fisik, biologi, dan
4. Ringan
5. Tidak ada kiwiawi

3. monitor lingkungan
terhadap terjadinya
perubahan status
keelamatan

4. edukasi individu
dan kelompok
yang beresiko
tinggi terhadap
bahan berbahaya
yang ada
dilingkungan

5. kolaborasikan
dengan lembaga
lain untuk
meningkatkan
keselamatan
lingkungan.

6. kaji ulang riwayat


kesehatan masa
lalu dan
dokumentasikan
bukti yang
menunjukkan
adanya penyakit
medis, diagnose
keperawatan serta
perawatannya

7. kaji ulang data


yang didapatkan
dari pengkajian
risiko secara rutin

8. identifikasi adanya
sumber-sumber
agensi untuk
membantu
menurunkan faktor
risiko

9.diskusikan dan
rencanakan
aktivitas-aktivitas
pengurangan risiko
berkolaborasi
dengan individu
atau kelompok

10. implementasikan
aktivitas-aktivitas
pengurangan risiko

11. rencanakan
monitor risiko
kesehatan dalam
jangka panjang

12.rencanakan tindak
lanjut strategi dan
aktivitas
pengurangan risiko
jangka panjang
BAB IV

ANALISIS JURNAL

Dari hasil analisis terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan tentang


osteoporosis dengan asupan kalsium pada wanita premenopause, hal ini disebabkan
karena jika tingkat pengetahuan osteoporosis kurang maka pada wanita
premenopause tidak mengetahui kebutuhan asupan kalsium sehingga dapat
menyebabkan osteoporosis karena beberapa faktor yaitu tingkat pendidikan yang
rendah dan pekerjaan yang dilakukan oleh wanita premenopause tersebut.

Tujuan Penelitian Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang


osteoporosis dengan asupan kalsium pada wanita premenopause di Puskesmas
Cinangka, BantenTahun 2017. Dan memiliki hasil Terdapat hubungan tingkat
pengetahuan tentang osteoporosis dengan asupan kalsium (p 0,000) OR=13,765.
(jurnal ilmu kedokteran dan kesehatan, vol 05, no 1, januari 2018)

Osteoporosis merupakan penurunan kepadatan tulang dan kerusakan mikro-


arsitektur tulang yang menyebabkan tulang menjadi rapuh sehingga seringkali baru
disadari apabila telah terjadi perubahan bentuk tulang ataupun fraktur, terutama
fraktur leher femur dan panggul karena trauma.Indeks Singh adalah suatu metode
untuk menilai osteoporosis menggunakan pola trabekula tulang di femur proksimal.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan tingkat osteoporosis berdasarkan
Indeks Singh dan fraktur leher femur akibat low energy trauma di beberapa Rumah
Sakit di Padang tahun 2016-2018. Penelitian ini merupakan analitik dengan desain
cross sectional. Sampel berupa 22 foto polos pelvis (x-ray) pasien dari bagian
rekam medis Poliklinik RSUP Dr. M. Djamil Padang dan RST Dr. Reksodiwiryo
Padang dari Januari 2016 sampai April 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
fraktur leher femur karena low energy trauma didominasi oleh perempuan (72,7%)
dan usia diatas 70 tahun (45,5%). Tingkat osteoporosis berdasarkan indeks Singh
terbanyak pada grade A (40,9%) dan mayoritas fraktur leher femur pada klasifikasi
Garden tipe 4 (77,3%). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat
osteoporosis berdasarkan indeks Singh dengan fraktur leher femur akibat low
energy trauma (p = 0,483).
( jurnal kesehatan Andalas : 2018 7(2) )
Sampel kontrol adalah wanita bukan penderita osteoporosis berdomisili di
Surabaya serta melakukan pemeriksaan osteoporosis di RSUD Dr. Soewandhie
Surabaya tahun 2013–2014. Responden terdiri dari 45 kasus dan 45 kontrol
diperoleh menggunakan metode simple random sampling. Data diperoleh melalui
data primer dan sekunder. Variabel bebas adalah indeks massa tubuh, paritas, dan
konsumsi kafein. Analisis dilakukan menggunakan perhitungan OR pada Epi info
dengan tingkat kemaknaan 95% CI. Besar risiko tiap variabel adalah IMT (OR =
2,99; 95% CI = 1,16 < OR < 7,74), paritas (OR = 2,72; 95% CI = 1,07 < OR <
7,01), dan konsumsi kafein (OR = 2,41; 95% CI = 0,91 < OR < 6,42).
Kesimpulan adalah wanita yang memiliki IMT < 18,5 berisiko terkena
osteoporosis 2,99 kali lebih besar dibandingkan wanita yang memiliki IMT ≥
18,5. Wanita yang memiliki paritas ≥ 3 kali berisiko terkena osteoporosis 2,72
kali lebih besar dibandingkan wanita memiliki paritas < 3 kali. Wanita yang
mengonsumsi kafein ≥ 2 gelas/hari berisiko terkena osteoporosis 2,41 kali lebih
besar dibandingkan wanita mengonsumsi kafein < 2 gelas/hari tetapi tidak
signifikan. Peneliti menyarankan agar wanita memiliki IMT normal dan membatasi
jumlah kelahiran untuk mencegah terjadinya osteoporosis.

( jurnal berkala epidemiologi, Vol 3, Nomor 2 mei 2015 194-204 )

Sel yang bertanggung jawab untuk pembentukan tulang disebut osteoblas


(osteoblast), sedangkan osteoklas (osteoclast) bertanggung jawab untuk
penyerapan tulang. Pada osteoporosis akan terjadi abnormalitas bone turnover,
yaitu terjadinya proses penyerapan tulang (bone resorption) lebih banyak dari
pada proses pembentukan tulang (bone formation). Jadi yang berperan dalam
terjadinya osteoporosis secara langsung adalah jumlah dan aktivitas dari sel
osteoklas untuk menyerap tulang, yang dipengaruhi oleh mediator- mediator,
yang mana timbulnya mediator-mediator ini dipengaruhi oleh kadar estrogen.
Terjadinya osteopor- osis secara seluler disebabkan oleh karena jumlah dan
aktivitas sel osteoklas melebihi dari jumlah dan aktivi- tas sel osteoblas (sel
pembentuk tulang). Keadaan ini mengakibatkan penurunan massa tulang.

( Jurnal penyakit dalam, vol 10 nomor 2, mei 2009 )

Hasil yang diperoleh dari gambaran pemeriksaan mikroskopis tulang vertebrae


lumbalis dianalisa secara deskriptif. Pengamatan gambaran histologi tulang vertebrae
lumbal tikus putih ovariektomi yang diberi dan tanpa diberi ekstrak Cissus
quadrangula Salisb dengan pewarnaaan HE menunjukkan perbedaan terhadap
keberadaan sel-sel osteoklas dan proliferasi sel-sel osteoblas. Kelompok 1
menunjukkan kerusakan yang jelas ditandai dengan banyaknya sel osteoklas yang
ditemukan di bagian perifer trabekula yang akan bersiap-siap mengikis dan merubah
bentuk (remodelling) matrik tulang yang terbentuk yang juga dipengaruhi oleh
penurunan kadar hormon estrogen dalam tubuh sehingga faktor aktivasi dari
osteoklas akan terus muncul.
(Jurnal Medika Veterinaria, putri, dkk )

Osteoporosis terjadi ketika proses pengikisan tulang dan pembentukan tulang


menjadi tidak seimbang. Sel-sel yang menyebabkan pengikisan tulang (osteoklas)
mulai membuat kanal dan lubang dalam tulang lebih cepat daripada kerja sel-sel
pemicu pembentukan tulang (osteoblas) yang membuat tulang baru untuk mengisi
lubang tersebut, sehingga tulang mengalami penurunan densitas massa tulang dan
perburukan mikroarsitektur tulang, Osteoporosis pasca menopause disebabkan
karena adanya defisiensi estrogen. Estrogen memegang peran yang sangat penting
dalam metabolisme tulang, mempengaruhi aktivitas sel osteoblas maupun osteoklas,
termasuk menjaga keseimbangan kerja dari kedua sel tersebut. Karena osteoporosis
merupakan suatu penyakit yang biasanya tidak diawali dengan gejala, maka langkah
yang paling penting dalam mencegah dan mengobati osteoporosis adalah
pemeriksaan secara dini untuk deteksi awal sehingga dari pemeriksaan ini akan
diketahu langkah selanjutnya.
( JMJ, Volume 5, Nomor 2, November 2017, Hal: 164 – 177 Humaryanto . Deteksi
dini..)

Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa osteoporosis merupakan penyakit


wanita dibanding pria karena dipengaruhi oleh hormon estrogen. Jumlah wanita
yang terancam osteoporosis di Indonesia semakin meningkat yang disebabkan
karena kurangnya asupan kalsium dan perubahan gaya hidup seperti merokok,
konsumsi alkohol, dan penggunaan steroid jangka panjang. Dengan demikian,
pengetahuan dan informasi tentang osteoporosis sangat penting sebagai upaya
pencegahan bagi wanita usia dini. Rajin mengkonsumsi makanan berkalsium
tinggi seperti susu dan produk olahan susu lainnya, perbanyak aktivitas, sering
berjemur di pagi hari, hindari rokok, serta hindari konsumsi minuman beralkohol.

(Jurnal e-CliniC (eCl), Volume 2, Nomor 2, Juli 2014)

Faktor-faktor resiko teijadinya osteoporosis adalah faktor yang bisa dirubah


(alcohol, merokok,BMIkurang, kuranggizi, kurang olahraga,jatuh berulang) dan
factor yang tidak bisa diubah (umur,jenis kelamin, riwayat keluarga, menopause,
penggunaan kortikosteroid, rematoid arthritis). Karena puncak kepadatan tulang
dicapai pada sekitar usia 25 tahun, maka sangatlah penting untuk membangun tulang
yang kuat di sepanjang usia, sehingga tulang-tulang akan tetap kuat di kemudian hari.
Asupan kalsium yang memadai merupakan bagian penting untuk membangun tulang
yang kuat.

(Jurnal Kesehatan Masyarakat, Maret 2010-Scptember 2010, Vol. 4, No. 2)


BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Osteoporosis adalah suatu keadaan pengurangan jaringan tulang per unit volume,
sehingga tidak mampu melindungi atau mencegah terjadinya fraktur terhadap
trauma minimal. Secara histopatologis osteoporosis ditandai oleh berkurangnya
ketebalan korteks disertai dengan berkurangnya jumlah maupun ukuran trabekula
tulang .
B. SARAN
Sebagai perawat dalam melakukan tindakan asuhan keperawatan berperan dalam
upaya pendidikan dengan memberikan penyuluhan tentang pengertian
osteoporosis, penyebab dan gejala osteoporosis serta pengelolaan
osteoporosis.Berperan juga dalam meningkatkan mutu dan pemerataan pelayanan
kesehatan serta peningkatan pengetahuan, sikap dan praktik pasien serta
keluarganya dalam melaksanakan pengobatan osteoporosis. Peran yang terakhir
adalah peningkatan kerja sama dan system rujukan antar berbagai tingkat fasilitas
pelayanan kesehatan, hal ini akan memberi nilai posistif dalam upaya
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

jurnal medika veterinaria I-SSN : 0853-1943; Feb 2017 11 (1) : 39-44

jurnal ilmu kedokteran dan kesehatan, vol 05, no 1, januari 2018

jurnal jmu, vol 5 no.2 nov 2017

jurnal kesehatan Andalas : 2018 7(2)

jurnal berkala epidemiologi, Vol 3, Nomor 2 mei 2015 194-204

Jurnal penyakit dalam, vol 10 nomor 2, mei 2009

JMJ, Volume 5, Nomor 2, November 2017, Hal: 164 – 177 Humaryanto . Deteksi
dini..

Jurnal Medika Veterinaria, putri, dkk

Jurnal e-CliniC (eCl), Volume 2, Nomor 2, Juli 2014

Jurnal Kesehatan Masyarakat, Maret 2010-Scptember 2010, Vol. 4, No. 2