Anda di halaman 1dari 20

PRINSIP ORIENTASI DAN NAVIGASI HEWAN

OLEH :
KELOMPOK 3

NIKMAT SARI BR HUTAGALUNG (160703044)


FITRI DAINI (160703005)
SINDI VERONIKA (160703037)
INA SHAFIRA (160703074)
AZMI WANTONI (160703042)

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY BANDA ACEH
OKTOBER, 2019

1
Semua organisme memiliki perilaku. Perilaku merupakan bentuk respons terhadap kondisi
internal dan eksternalnya. Suatu respons dikatakan perilaku bila respons tersebut telah berpola,
yakni memberikan respons tertentu yang sama terhadap stimulus tertentu. Perilaku juga dapat
diartikan sebagai aktivitas suatu organisme akibat adanya suatu stimulus. Dalam mengamati
perilaku, kita cenderung untuk menempatkan diri pada organisme yang kita amati, yakni dengan
menganggap bahwa organisme tadi melihat dan merasakan seperti kita. Ini adalah
antropomorfisme (Y: anthropos = manusia), yaitu interpretasi perilaku organisme lain seperti
perilaku manusia. Semakin kita merasa mengenal suatu organisme, semakin kita menafsirkan
perilaku tersebut secara antropomorfik. Seringkali suatu perilaku hewan terjadi karena pengaruh
genetis (perilaku bawaan lahir atau innate behavior), dan karena akibat proses belajar atau
pengalaman yang dapat disebabkan oleh lingkungan. Pada perkembangan ekologi perilaku
terjadi perdebatan antara pendapat yang menyatakan bahwa perilaku yang terdapat pada suatu
organisme merupakan pengaruh alami atau karena akibat hasil asuhan atau pemeliharaan, hal ini
merupakan perdebatan yang terus berlangsung. Dari berbagai hasil kajian, diketahui bahwa
terjadinya suatu perilaku disebabkan oleh keduanya, yaitu genetis dan lingkungan (proses
belajar), sehingga terjadi suatu perkembangan sifat.
Perilaku hewan merupakan bentuk strategi adaptasi bagi keberlangsungan hidup hewan
yang meliputi semua gerakan motorik dan semua sensasi yang dialami oleh hewan sebagai
respon atas perubahan internal milieu dan lingkungan eksternal (fisik, biotis, sosial). Terdapat
beragam jenis perilaku pada hewan. Salah satu perilaku yang menarik untuk di pelajari sistem
navigasi alami yang dimiliki oleh hewan.
Ketika sistem navigasi otomatis di mobil dan kendaraan lainnya adalah inovasi terbaru dan
masih sangat mahal harganya, tanpa kita sadari ternyata ada beberapa makhluk hidup di bumi
yang memiliki sistem navigasi alamiah yang unik dan sangat luar biasa sekali dalam lingkaran
kehidupan makhluk-makhluk itu. Ternyata di balik mahal dan gemerlapnya pengembangan
sistem navigasi untuk manusia, Tuhan telah menganugerahkan sistem navigasi tersendiri untuk
beberapa hewan di bumi.
Sudah menjadi naluri hewani bahwa ada beberapa hewan yang melakukan migrasi. Migrasi
adalah perpindahan tempat dari satu tempat ke tempat lainnya. Contonya terdapat pada dunia
burung, serangga, ikan dan beberapa mamalia. Fenomena migrasi ini menghasilkan jalur-jalur
perpindahan yang dilewati oleh hewan-hewan tersebut. Sebut saja burung, pada burung jalur

2
migrasi ada dua, yaitu jalur pergi dan jalur pulang, dan bahkan jalur-jalur ini akan berubah-ubah
setiap kali musim migrasi berganti.

1.1 Perilaku Hewan


Perilaku atau behavior adalah suatu respon atau tanggap terhadap sinyal yang berasal dari
lingkungan atau sinyal yang berasal dari organisme lainnya. Umumnya prilaku yang muncul oleh
suatu organisme memiliki tujuan yaitu :
1. Untuk mencari makanan dan minum
2. Mendapat dan menjaga daerah teroterial
3. Untuk melindungi diri
4. Untuk bereproduksi demi kelangsungan hidup mereka
Dari tujuan tersebut maka umumnya tingkah laku atau behavior merupakan suatu kegiatan
yang melibatkan semua system dalam tubuh tapi hanya dipengaruhi oleh system syaraf dan
endokrin sebagai pusat koordinasi. Adakalanya perilaku hewan berkaitan dengan adaptasi.
Namun adaptasi ini merupakan suatu bentuk usaha untuk menyeimbangkan berbagai proses
metabolisme dan perilaku dengan perubahan secara siklik yang terjadi di sekelilingnya atau
lingkungannya.
Bagaimana prilaku atau tingkah laku hewan ini terbentuk tergantung dengan keadaan serta
perubahan lingkungan. Dimana sensori input dalam tubuh kemudian terjadi penyaringan sensori
yang membuka informasi genetic dan pengalaman lau, kemudian pembentukan pola dalam tubuh
dan akan di keluarkan motorik menjadi behavior. Dalam tubuh organisme segala bentuk
masukan (sensori) input akan mengalami proses penyaringan dalam system syaraf. Dan hasilnya
kemudian disampaikan sebagai informasi yang dapat ditunjukkan kepada penerimanya.
Seringkali suatu perilaku hewan terjadi karena pengaruh genetis (perilaku bawaan lahir
atau innate behavior), dan karena akibat proses belajar atau pengalaman yang dapat disebabkan
oleh lingkungan. Pada perkembangan ekologi perilaku terjadi perdebatan antara pendapat yang
menyatakan bahwa perilaku yang terdapat pada suatu organisme merupakan pengaruh alami atau
karena akibat hasil asuhan atau pemeliharaan, hal ini merupakan perdebatan yang terus
berlangsung. Dari berbagai hasil kajian, diketahui bahwa terjadinya suatu perilaku disebabkan
oleh keduanya, yaitu genetis dan lingkungan (proses belajar), sehingga terjadi suatu
perkembangan sifat.

3
Dua macam respon tingkah laku adalah innate (serentak) dan learned (dipelajari), innate
respon muncul seketika spontan dan konsisten terhadap suatu rangsang. Sedangkan learned
respon adalah respon yang muncul tetapi berubah denga adanya pengalaman dari organisme
tertsebut sehingga respon yang muncul akan lebih tepat dan sesuai dengan rangsangan yang
sama diberikan berkali-kali.

a. Innate

Merupakan perilaku atau suatu potensi terjadinya perilaku yang telah ada di dalam suatu
individu. Perilaku yang timbul karena bawaan lahir berkembang secara tetap/pasti. Perilaku ini
tidak memerlukan adanya pengalaman atau memerlukan proses belajar, seringkali terjadi pada
saat baru lahir, dan perilaku ini bersifat genetis (diturunkan).

4
b. Insting

Adalah perilaku innate klasis yang sulit dijelaskan, walaupun demikian terdapat beberapa
perilaku insting yang merupakan hasil pengalaman, belajar dan adapula yang merupakan factor
keturunan. Semua maklhuk hidup memiliki beberapa insting dasar.

1.2 Prinsip Orientasi Dan Pola Orientasi


Orientasi adalah prilaku hewan dimana hewan tersebut akan memutar tubuhnya menjauhi
atau mendekati diri / kerarah sumber rangsangan. Dalam orientasi,seekor hewan dapat
menentukan arah kompas dan berjalan dalam lintasan yang lurus untuk menempuh jarak tertentu
atau hingga sampai di tempat tujuan.Perilaku ini sangat mendasar pada setiap hewan untuk
mencari makan, minum, sinar matahari lawan jenis, interaksi, interaksi dengan anggota
kelomponya.
Secara umum jenis-jenis perilaku dapat dibagi menjadi :
1. Perilaku tanpa mencakup susunan saraf
a. Kinesis merupakan salah satu tingkah laku orientasi yang sederhana dimana
organisme-organisme akan merespon secara tidak langsung terhadap rangsangan.
b. Taksis juga merupakan tingkah laku orientasi untuk hewan-hewan yang dapat
menentukan jarak dengan sumber rangsang. Respon yang banyak dilakukan antara lain
fototaksis yaitu pengaruh rangsang cahaya terhadap suatu organisme, termotaksis yaitu
pengaruh suhu terhadap organisme, geotaksis biasanya diamati dengan menjauhi atau
mendekati bumi dan kemotaksis pengaruh zat kimia terhadap organisme.
c. Tropisme yaitu orientasi dalam suatu arah yang ditentukan oleh arah datangnya
rangsangan yang mengenai organisme, pada umumnya terjadi pada tumbuhan.
Meskipunn tropisme menunjukkan suatu perilaku yang agak tetap, tetapi tidak mutlak.
Tetapi tanggapan yang terjadi dapat berbeda terhadap intensitas rangsang yang tidak
sama. Misalnya : pada cahaya lemah terjadi fototropisme (+), tetapi pada cahaya kuat
yang terjadi fototropisme (-).

5
Perbedaan antara tropisme dengan taksis adalah pada taksis seluruh organisme bergerak
menuju atau menjauhi suatu sumber rangsang, tetapi pada tropisme hanya bagian organisme
yang bergerak

2. Perilaku yang mencakup susunan saraf


a. Perilaku bawaan atau naluri atau insting (instinct)

Perilaku terhadap suatu stimulus (rangsangan) tertentu pada suatu spesies, biarpun
perilaku tersebut tidak didasari pengalaman lebih dahulu, dan perilaku ini bersifat menurun. Hal
ini dapat diuji dengan menetaskan hewan ditempat terpencil, sehingga apapun yang dilakukan
hewan-hewan tersebut berlangsung tanpa mengikuti contoh dari hewan-hewan yang lain. Tetapi
hal tersebut tidak dapat terjadi pada hewan-hewan menyusui, karena pada hewan-hewan
menyusui selalu ada kesempatan pada anaknya untuk belajar dari induknya. Contoh:

 Pada pembuatan sarang laba-laba diperlukan serangkaian aksi yang kompleks, tetapi
bentuk akhir sarangnya seluruhnya bergantung pada nalurinya. Dan bentuk sarang ini
adalah khas untuk setiap spesies, walaupun sebelumnya tidak pernah dihadapkan pada
pola khusus tersebut.

Gambar : Sarang Laba-laba

6
 Pada pembuatan sarang burung, misalnya sarang burung manyar (Ploceus manyar).
Meskipun burung tersebut belum pernah melihat model sarangnya, burung manyar secara
naluriah akan membuat sarang yang sama.

Gambar : sarang burung manyar

Untuk melakukan perilaku bawaan kadang-kadang diperlukan suatu isyarat tertentu,


isyarat tersebut disebut release atau pelepas. Release (pelepas) ini dapat berupa warna, zat kimia
dan lain-lain.

 Release berupa warna, misalnya pada ikan berduri punggung tiga. Selama musim berbiak
biasanya ikan betina akan mengikuti ikan jantan yang perutnya berwarna merah ke sarang
yang telah disiapkannya. Tetapi ternyata ikan betina akan mengikuti setiap benda yang
berwarna merah yang diberikan kepadanya. Dan benda apapun yang menyentuh dasar
ekornya, akan menyebabkan ikan betina tersebut bertelur.
 Release berupa zat kimia misalnya feromon. Feromon berfungsi sebagai release pada
berbagai serangga sosial seperti semut, lebah dan rayap. Hewan-hewan tersebut
mempunyai berbagai feromon untuk setiap tingkah laku, misalnya untuk perilaku kawin,
perilaku mencari makan, perilaku adanya bahaya dll.
 Release berupa bintang, Sauer seorang ornitolog dari Jerman mencoba sejenis burung di
Eropa (burung siul). Burung tersebut yang masih muda pada musim gugur akan

7
bermigrasi ke Afrika terpisah dari induknya. Migrasi tersebut dilakukan pada malam hari
dengan bantuan navigasi bintang-bintang. Sauer memelihara burung siul yang masih
muda, pemeliharaannya tidak mudah karena burung tersebut hanya memakan serangga
yang masih hidup dalam jumlah banyak. Bila musim gugur tiba, burung-burung tersebut
menjadi tidak tenang. Bila burung tersebut dibawa ke dalam planetarium, melihat
bintang-bintang maka burung tersebut akan terbang ke arah tenggara, sepertinya bila di
alam benas burung tersebut menuju ke Afrika.

Dorongan berpindah pada musim gugur merupakan contoh perilaku bawaan pada burung
burung yang berulang-ulang pada interval tertentu. Perilaku demikian disebut ritme atau periode,
dan dapat berlangsung setiap 2 jam, 24 jam atau bahkan satu tahun. Banyak hewan yang
mempunyai ritme harian, seperti hewan nocturnal yang aktif setiap 12 jam sekali. Ritme tersebut
tidak akan persis sama, dapat bergeser satu jam kedepan atau satu jam mundur. ritme yang
demikian disebut circadian. Perilaku yang dapat membedakan panjang relatif siang dan malam
diatur oleh perubahan dalam fotoperiode. Kemampuan bereaksi terhadap fotoperiode
menunjukkan bahwa hewan mempunyai mekanisme mengukur jumlah jam siang dan jumlah jam
malam atau salah satu diantaranya. Atau dengan perkataan lain hewan tersebut mempunyai jam
biologis.

3. Perilaku Yang Diperoleh Dengan Belajar (Animal reasoning and learning)

Perilaku yang diperoleh dengan belajar adalah perilaku yang diperoleh atau sudah
dimodifikasi karena pengalaman hewan yang bersangkutan yang mengakibatkan suatu
perubahan yang tahan lama dan dapat juga bersifat permanen.

 Kebiasaan (habituation) adalah hampir semua hewan mampu belajar untuk tidak bereaksi
terhadap stimulus berulang yang yang telah dibuktikan tidak merugikan. Mis: membuat
suara aneh dekat anjing, pertama-tama hewan tersebut akan terkejut dan mungkin juga
takut, tetapi setelah lama dan merasa bahwa suara tersebut tidak berbahaya, maka bila
ada suara tersebut hewan tersebut tidak akan berreaksi lagi.

 Perekaman (imprinting) : Lorenz (1930) menemukan semacam cara belajar pada burung
yang bergantung pada satu pengalaman saja. Hanya pengalaman ini harus berlangsung

8
tepat setelah telur burung tersebut menetas. Misalnya : Angsa akan mengikuti benda
bergerak pertama yang dilihatnya dan benda tersebut dianggap sebagai induknya. Karena
yang pertama dilihat adalah Lorenz, maka dia dianggap sebagai induknya.

 Reflex bersyarat : Pavlov (seorang ahli fisiologi) mempelajari sistem syaraf hewan
menyusui. Yaitu mempelajari reflex yang menyebabkan anjing memproduksi air liur, dan
menemukan bahwa melihat atau mencium bau daging saja sudah menyebabkan anjing
mengeluarkan air liur. Pavlov mencoba rangsangan lain yang dapat menghasilkan
tanggapan mengeluarkan air liur, yaitu dengan bunyi bel. Pavlov menemukan bahwa
rangsangan pengganti harus datang sebelum rangsangan asli, supaya tanggapannya
berhasil dipindahkan. Juga semakin pendek jangka waktu antara kedua rangsangan,
semakin cepat reaksi itu melekat pada rangsangan pengganti. Hal tersebut dapat juga
terjadi pada ayam atau merpati dengan tanda bunyi kentongan (kul-kul).

4. Metode coba-coba (trial & error learning)

Misalnya yang dilakukan Skinner dengan membuat sekat dalam kotak yang akan
mengeluarkan makanan bila ditekan. Tikus yang lapar dimasukan ke dalam kotak. Dalam waktu
singkat tikus dapat mengetahui cara mendapatkan makanan tersebut. Dalam suatu kotak ada dua
titik cahaya, yang satu lebih terang dari yang lain. Bila yang terang dipatuk pada bagian
bawahnya akan keluar makanan. Merpati dengan cepat akan mematuk cahaya yang lebih terang.

5. Perilaku dengan menggunakan akal

Pada umumnya dianggap bahwa suatu ciri yang membedakan hewan dengan manusia
adalah dari bahasanya. Banyak hewan yang memiliki mekanisme pemberian isyarat yang
mendekati ciri bahasa, misalnya pada lebah dengan tariannya. Sedangkan Ann dan David
meneliti simpanse betina bernama Sarah dengan menggunakan simbol-simbol dari plastik
sebagai bahasa. Setelah 6 tahun, Sarah mempunyai perbendaharaan kata sekitar 130 buah.
Penggunaan simbol-simbol yang dapat dimanipulasi sebagai pengganti bahasa lisan itu,
merupakan bukti kecakapan simpanse tetapi tidak mampu mengeluarkannya. Sedangkan Garner
menyelidiki kemampuan simpanse betina bernama Washoe dengan menggunakan bahasa isyarat
orang tuli di Amerika Utara. Setelah 22 bulan, Washoe sudah memahami lebih dari 30 bahasa

9
isyarat tersebut. Walaupun kemampuan Sarah dan Washoe belum sempurna, tetapi
kemampuannya sama baiknya dengan kemampuan seorang anak berumur 2 tahun.

6. Perilaku Sosial

Perilaku yang dilakukan oleh satu individu atau lebih yang menyebabkan terjadinya
interaksi antar individu dan antar kelompok. Perilaku Sosial bisa dibagi menjadi :

a. Perilaku Affiliative; adalah perilaku yang dilakukan bertujuan untuk mempererat ikatan
social, koordinasi antar individu dan kebersamaan antar atau di dalam kelompok
b. Perilaku Agonistic
 Perilaku aggressive: Perilaku yang bersifat mengancam atau menyerang.
 Perilaku submissive: Perilaku yang menunjukkan ketakutan atau kalah.
c. Vokalisasi; Adalah suara yang dikeluarkan oleh satu atau lebih individu untuk
berkomunikasi dan koordinasi diantara anggota kelompoknya
d. Perilaku maternal / mothering; Perilaku induk yang bertujuan melindungi dan
memelihara anaknya.

MENGHINDARI PREDATOR

Ada sekelompok kecil hewan yang termasuk super predator yang tidak takut pada
predator yang lain, tetapi pada akhirnya musuhnya adalah manusia. Pada umumnya cara utama
hewan menghindari musuh adalah dengan berlari atau terbang. Pada hewan tingkat tinggi,
melarikan diri dari predator adalah merupakan perilaku belajar, mis : kucing dengan anjing.
Tetapi pada lalat rumah merupakan perilaku bawaan, mis : bila lalat akan dipukul dapat
menghindar, karena adanya perubahan udara di sekitarnya.

Tanda adanya bahaya itu diterima berbeda antara satu spesies dengan spesies yang lain.
Pada sejenis burung gelatik mempunyai naluri takut terhadap burung hantu tetapi tidak takut
terhadap ular, tetapi pada spesies burung yang lain sejak lahir sudah takut terhadap ular, tetapi
tidak takut terhadap predator yang lain. Juga respon terhadap predator bervariasi, karena
meskipun predatornya sama akan memberikan tanda yang berbeda pada waktu yang tidak sama.

10
Misalnya antelop tidak akan melarikan diri bila melihat singa yang berjalan ke arahnya, tetapi
antelop baru bereaksi kalau singa mengendap-endap pada semak-semak.

CARA MENGHINDARI PREDATOR

1. Perilaku Altruistik

Perilaku ini lebih mementingkan keselamatan kelompok daripada dirinya sendiri.

 Rusa (Muskoxen) di daerah tundra di Antartika, bila tidak bisa melarikan diri dari
predator (serigala) akan mengirimkan bau dari jari kakinya yang disebut karre.
 Kera (Baboon) di Afrika bila ada bahaya misalnya dengan datangnya singa atau leopard,
maka akan membentuk formasi kera yang yang tua, betina dan anak-anak ditengah
dikelilingi oleh kera-kera muda jantan. Sedangkan kera jantan yang menjadi raja akan
berusaha mengusir atau menyerang predator tersebut.
 Induk ayam akan bersuara ribut sebagai tanda bahaya bila dilihat ada burung elang yang
datang, anaknya dipanggil untuk disembunyikan.
 Semut yang sarangnya terganggu akan mengeluarkan feromon (asam formiat) dari
taringnya, untuk memberi tanda kepada semut-semut yang lain, bila keadaan sudah reda
asam formiat tidak dikeluarkan lagi dan kembali lagi ke sarang.

2. Kamuflase (penyamaran)

Yaitu menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

 Burung Ptarmigan pada musim dingin berbulu putih, dan pada musim panas bulunya
berbintik membuat tidak menarik perhatian karena warnanya sangat sesuai dengan
lingkungan.

11
Gambar : Ptarmigan ; atas : pada saat musim panas ; Bawah : pada saat musim

Dingin

 Kupu-kupu daun mati (Kallima) dari Amerika Selatan sayapnya sangat mirip dengan
daun yang dihinggapi sehingga dapat terhindar dari burung pemangsanya, tetapi karena
sangat mirip dengan daun maka kadang-kadang ada insekta lain yang bertelur di atas
sayapnya.

3. Mimikri

Yaitu menyerupai hewan yang lain, dapat dibagi menjadi mimikri Miller, mimikri Bates dan
mimikri agresif.

 Mimikri Miller adalah hewan yang dapat dimakan sangat mirip dengan hewan yang tidak
dapat dimakan. Misalnya kupu-kupu pangeran tidak mengandung racun dalam tubuhnya
dan enak dimakan seperti roti bakar, sangat mirip dengan kupu-kupu raja yang
mempunyai racun dalam tubuhnya.

12
 Mimikri Bates adalah hewan yang tidak berbahaya menyerupai hewan lain yang
berbahaya. Misalnya sejumlah ular di AS yang tidak berbahaya memiliki warna seperti
ular tanah yang sangat berbisa.
 Mimikri agresif adalah mengembangkan alat untuk mengelabui mangsanya. Ikan
anglerfish (Antennarius) dari Filipina mempunyai satu pemikat yang mirip ikan kecil
untuk memikat mangsanya, pemikat tersebut adalah perkembangan dari duri pada sirip
punggung pertama. Kunang-kunang jantan dan betina saling tertarik dengan cahaya
kelap-kelipnya, pola kelap-kelip ini berbeda untuk setiap spesies. Tetapi ada suatu spesies
kunang-kunang betina yang dapat meniru kelap-kelip spesies yang lain, bila jantan
spesies yang lain itu datang akan dimakan.

Banyak hewan yang mempunyai adaptasi melindungi dirinya terhadap serangan


pemangsa, misalnya :

 Duri pada landak


 Bau pada celurut
 Spirobolus (kaki seribu) mensekresi asam hidrosianat yang beracun jika diganggu.

Bila hewan telah mempunyai senjata tetapi tidak ada pemangsa yang tahu, maka hewan
tersebut berevolusi sehingga mempunyai warna yang mencolok tanpa penyamaran sedikitpun,
disebut aposematik. Misalnya pada larva kupu-kupu raja berwarna mencolok tanpa penyamaran
sedikitpun, dan di dalam badannya terdapat zat kimia yang beracun untuk predator yang
memangsanya. Zat beracun tersebut berasal dari tumbuhan (milkweed) yang biasa dimakan.
Racun tersebut tetap disimpan sampai larva mengalami metamorfosis. Maka burung yang
memakan kupu-kupu raja akan memuntahkannya dan tidak akan makan lagi.

Wilayah Jelajah (Home Range)

Adalah wilayah yang dikunjungi satwaliar secara tetap karena dapat mensuplai makanan,
minum, serta mempunyai fungsi sebagai tempat berlindung atau bersembunyi, tempat tidur dan
tempat kawin. Tempat-tempat minum dan tempat-tempat mencari makanan pada umumnya lebih
longgar dipertahankan dalam pemanfaatannya, sehingga satu tempat minum dan tempat makan
seringkali dimanfaatkan secara bergantian ataupun bersama-sama.

13
Teritori

Beberapa spesies mempunyai tempat yang khas dan selalu dipertahankan dengan aktif,
misalnya tempat tidur (primata), tempat istirahat (binatang pengerat), tempat bersarang (burung),
tempat bercumbu (courtship territories).

Batas-batas teritori ini dikenali dengan jelas oleh pemiliknya, biasanya ditandai dengan
urine, feses dan sekresi lainnya. Pertahanan teritori ini dilakukan dengan perilaku yang agresif,
misalnya dengan mengeluarkan suara ataupun dengan perlakuan fisik. Pada umumnya lokasi
teritori lebih sempit daripada wilayah jelajah.

Batas wilayah jelajah dan teritori kadang-kadang tidak jelas, misalnya terjadi pada
beberapa primata, seperti Trachypithecus, Gorilla, Pan dan berbagai jenis karnivora seperti
anjing (Canis lupus). Pada burung batas wilayah jelajah tidak jelas, Elliot Howard menemukan
pada burung pipit hanya dipertahankan beberapa jam. Tetapi ada juga yang jelas batas-batasnya,
terutama bagi satwa liar yang mempunyai wilayah jelajah yang tidak tumpang tindih di antara
individu atau kelompok individu, seperti dijumpai pada wau-wau (Hylobates), teritori kawin
beberapa kelompok Artiodaktila dan pada anjing liar. Kesimpulannya adalah jika individu tidak
mempunyai teritori, maka wilayah jelajahnya dapat tumpang tindih. Misalnya terjadi pada
kelompok famili rusa merah (Cervus elaphus), Gajah Afrika (Loxodonta), dan kera barbari
(Macaca sylvanus).

Untuk mempertahankan teritorinya satwa liar menunjukan perilaku conflict behaviour.


Aktivitasnya dengan menunjukkan aggressive display dan triumph ceremony (pada angsa).
Luas wilayah jelajah semakin luas sesuai dengan ukuran tubuh satwa liar baik dari golongan
herbivora maupun karnivora. Wilayah jelajah juga bervariasi sesuai dengan keadaan sumber
daya lingkungannya, semakin baik kondisi lingkungannya semakin sempit ukuran wilayah
jelajahnya. Selain itu wilayah jelajah juga dapat ditentukan oleh aktivitas hubungan kelamin,
biasanya wilayah jelajah semakin luas pada musim reproduksi.

Untuk mengetahui luas wilayah jelajah satwaliar diperlukan penelitian yang berulang-
ulang dalam waktu yang cukup lama. Berdasarkan hasil penelitian Douglas-Hamilton di TN
Lake Manyara (Afrika), yang dilakukan lebih dari 15.000 ulangan untuk 48 unit keluarga gajah

14
dan 80 ekor jantan soliter, mendapatkan luas wilayah jelajah yang bervariasi antara 14-52 km2.
Luas ini mungkin terlalu kecil jika dibandingkan dengan ukuran tubuh gajah yang besar.
Penelitian Leuthold dan Sale di TN Tsavo, Kenya mendapatkan angka wilayah jelajah rata-rata
dari 4 ekor gajah sekitar 350 km2. Olivier di Malaysia wilayah jelajahnya antara 32,4-166,9
km2.

Wilayah jelajah unit-unit keluarga gajah di hutan-hutan primer mempunyai ukuran luas
dua kali dari wilayah jelajah di hutan-hutan sekunder. Perbedaan ini tentunya disebabkan karena
adanya perbedaan produktivitas makanan pada kedua kondisi hutan yang berbeda.
Ukuran wilayah jelajah bagi jenis primata ditentukan oleh 2 faktor utama, yaitu jarak perjalanan
yang ditempuh setiap hari oleh setiap anggota kelompok, dan pemencaran dari kelompoknya.
Ukuran wilayah jelajah dari siamang, wau-wau lar dan wau-wau agile berbeda, lihat table di
bawah.

Whitten menunjukkan bahwa faktor persaingan dan aktivitas manusia dapat berpengaruh
terhadap luas wilayah jelajah bilou (Hylobates klossii). Menurut Van Schaik penggunaan
wilayah jelajah kera ekor panjang di Ketambe (TN. G. Leuser), ada beberapa faktor ekologis
yang potensial mempengaruhi penggunaan wilayah jelajah, baik ditinjau dari pengaruh jangka
panjang maupun jangka pendek. Pola penggunaan jangka panjang pada umumnya disesuaikan
dengan pemanfaatan buah, sedang pencarian serangga disesuaikan dengan keadaannya yang
menguntungkan. Penyimpangan dari pola ini dapat saja terjadi karena berbagai faktor, seperti
adanya lereng-lereng terjal, dan wilayah yang tumpang tindih dengan kelompok lainnya. Kera
ekor panjang menghindari lereng-lereng terjal, terutama untuk menghindari resiko adanya
pemangsa dan untuk menghemat tenaga. Wilayah yang tumpang tindih dengan kelompok
tetangga juga dihindari, sehingga tidak terjadi pertemuan dengan kelompok lainnya. Pergerakan
adalah usaha individu ataupun populasi untuk mendapatkan sumberdaya yang diperlukan agar
dapat bertahan hidup dan menurunkan keturunan sesuai dengan tetuanya. Ada berbagai cara
pergerakan, pada umumnya dapat dibedakan kedalam: invasi, pemencaran , nomaden dan
migrasi. Pergerakan ini dilakukan di wilayah jelajahnya, yang luasnya bervariasi, tergantung
pada jenis satwaliar, serta kualitas dan kuantitas habitatnya. Di dalam wilayah jelajahnya, ada
suatu tempat yang dipertahankan secara intensif, disebut teritori, seperti tempat bersarang atapun

15
tempat makan. Pada kondisi habitat yang kaya akan sumberdaya yang diperlukan satwaliar,
ukuran teritori mereka lebih sempit (kecil) jika dibandingkan dengan habitat yang miskin.

1.3 Sistem Navigasi Hewan


Sistem navigasi adalah suatu sistem yang dapat mempermudah untuk mengetahui suatu
tempat dengan kata lain Navigasi atau pandu arah adalah penentuan kedudukan (position) dan
arah perjalanan baik di medan sebenarnya dan oleh sebab itulah pengetahuan tentang pedoman
arah (compass) dan peta serta teknik penggunaannya haruslah dimiliki dan dipahami.Wikelski
mengungkapkan, sejumlah hewan memiliki apa yang dinamakan built-in magnetic
system layaknya kompas pada umumnya. Namun demikian, banyak hal yang masih belum
diketahui mengenai bagaimana cara hewan tersebut melakukan proses navigasi.
Setiap hewan yang kembali ke tempat yang tepat setelah melakukan perjalanan yang
panjang atau kembali ke tempat semula lagi dan lagi, merupakan suatu kemampuan navigasi
yang dimiliki oleh hewan.
Navigasi hewan adalah kemampuan banyak hewan untuk menemukan jalannya secara
akurat tanpa peta atau instrumen. Burung-burung seperti Kutub Utara , serangga seperti kupu -
kupu raja dan ikan seperti salmon secara teratur bermigrasi ribuan mil ke dan dari tempat
berkembang biaknya, dan banyak spesies lainnya bernavigasi secara efektif dalam jarak yang
lebih pendek.

Perhitungan mati , menavigasi dari posisi yang diketahui hanya menggunakan informasi
tentang kecepatan dan arah seseorang sendiri, disarankan oleh Charles Darwin pada tahun 1873
sebagai mekanisme yang mungkin. Pada abad ke-20, Karl von Frisch menunjukkan bahwa lebah
madu dapat menavigasi oleh matahari, oleh pola polarisasi langit biru, dan oleh medan magnet
bumi; dari ini, mereka bergantung pada matahari jika memungkinkan. William Tinsley Keeton
menunjukkan bahwa merpati pos dapat juga memanfaatkan serangkaian isyarat navigasi,
termasuk matahari, medan magnet bumi , penciuman dan penglihatan. Ronald Lockley
menunjukkan bahwa burung laut kecil, burung penciduk Manx , dapat mengorientasikan diri dan
terbang pulang dengan kecepatan penuh, ketika dilepaskan jauh dari rumah, asalkan matahari
atau bintang-bintang terlihat.

16
Beberapa spesies hewan dapat mengintegrasikan isyarat dari jenis yang berbeda untuk
mengarahkan diri mereka sendiri dan menavigasi secara efektif. Serangga dan burung dapat
menggabungkan landmark yang dipelajari dengan arah indra (dari medan magnet bumi atau dari
langit) untuk mengidentifikasi di mana mereka berada dan untuk menavigasi. 'Peta' internal
sering kali dibentuk menggunakan penglihatan, tetapi indera lain termasuk penciuman dan
ekolokasi juga dapat digunakan.

Kemampuan hewan liar untuk bernavigasi dapat dipengaruhi oleh produk aktivitas
manusia. Misalnya, ada bukti bahwa pestisida dapat mengganggu navigasi lebah, dan lampu-
lampu dapat merusak navigasi kura-kura. penelitian awal Karl von Frisch (1953) menemukan
bahwa pekerja lebah madu dapat bernavigasi, dan menunjukkan jangkauan dan arah makanan
kepada pekerja lain dengan tarian bergoyang, Pada tahun 1873, Charles Darwin menulis surat
kepada majalah Nature , dengan alasan bahwa binatang termasuk manusia memiliki kemampuan
untuk bernavigasi dengan perhitungan mati, bahkan jika indera 'kompas' magnetik dan
kemampuan untuk bernavigasi oleh bintang-bintang hadir.
Beberapa hewan, terutama serangga seperti lebah madu , sensitif terhadap polarisasi
cahaya. Lebah madu dapat menggunakan cahaya terpolarisasi pada hari-hari mendung untuk
memperkirakan posisi matahari di langit, relatif terhadap arah kompas yang ingin mereka tuju.
Karya Karl von Frisch menetapkan bahwa lebah dapat secara akurat mengidentifikasi arah dan
rentang dari sarang ke sumber makanan (biasanya sepetak bunga yang mengandung nektar).
Lebah pekerja kembali ke sarangnya dan memberi isyarat kepada pekerja lain kisaran dan arah
relatif terhadap matahari dari sumber makanan melalui tarian bergoyang . Lebah yang
mengamati kemudian dapat menemukan makanan dengan menerbangkan jarak yang tersirat
dalam arah yang diberikan, meskipun ahli biologi lainnya mempertanyakan apakah mereka harus
melakukannya, atau hanya dirangsang untuk pergi dan mencari makanan. Namun, lebah tentu
dapat mengingat lokasi makanan, dan menavigasi kembali ke tempat itu dengan akurat, apakah
cuacanya cerah (dalam hal ini navigasi mungkin oleh matahari atau teringat landmark visual)
atau sebagian besar mendung (ketika dipolarisasi) cahaya dapat digunakan).

1.4 Macam- Macam Navigasi Hewan


Setiap hewan memiliki sistem navigasi yang berbeda-beda. Kemampuan navigasi hewan
dengan memanfaatkan bau, cahaya matahari, gelombang ultrasonik, galaksi bima sakti seperti

17
rasi bintang. Ada beberapa contoh hewan yang memiliki kemampuan navigasi diantaranya yaitu
sebagai berikut
 Belut atau ikan zidat. Hewan pemilik tubuh panjang, termasuk dalam kelompok ikan
bertulang, membentuk lintasan yang hebat di seluruh lautan. Belut Eropa sebagai
contohnya, lahir di sungai-sungai Eropa kemudian melakukan perjalanan melintasi Laut
Sargasso dengan jarak ribuan mil untuk bertelur.
 Bar-tailed godwit. Sejenis burung pantai yang mampu terbang dalam satu kali perjalanan
dari peternakan asal mereka di Alaska melintasi dunia sampai ke Selandaia Baru. Pada
tahun 2007, bar-tailed godwit betina melakukan migrasi terpanjang yang pernah
dilakukan secara non-stop. Jika diukur dari Alaska hingga Selandia Baru, burung
ini kurang lebih menmpuh jarak 11.500 kilometer.
 Blackpoll warbler. Burung penghuni hutan di Amerika Tengah telah menemukan jalan
keluar untuk mendapatkan perlindungan saat musim dingin tiba di Venezuela. Burung ini
menggemukkan tubuh mereka sebelum naik di atas angin dan terbang berlayar dari utara
Amerika Serikat menuju Amerika Selatan dalam waktu seratus jam, melintasi angin di
atas laut terbuka.
 Kelelawar mexican free-tailed. Kelelawar merupakan mamalia terbang yang sangat
umum dijumpai di Texas, di mana mereka membentuk koloni hingga jutaan. Dalam
sebuah studi, peneliti menemukan bahwa mereka dapat terbang sejauh 70 kilometer dari
sebuah gua yang menjadi rumah mereka, hanya untuk mencari ngengat atau nyamuk.
 Semut gurun sahara. Semut gurun Sahara ini merupakan serangga yang mampu
melakukan perjalanan yang lumayan hingga mencapai 0,5 kilometer dari sarang mereka
untuk mencari makan. Meskipun semut-semut ini berlari berantakan dengan berbagai,
mereka mampu mengingat seberapa jauh mereka pergi dengan menghitung langkah.
Serta menavigasi dengan menggunakan pola cahaya yang terpolarisasi dari matahari.
 Kumbang. Binatang ini terlihat sangat kecil, tetapi kumbang kotoran memiliki pandangan
yang sangat tegas terhadap bintang. Kumbang adalah serangga pertama yang terbukti
menggunakan bintang dari galaksi Bima Sakti untuk membantu mengarahkan jalan.
Meskipun mata mereka terlalu lemah untuk membedakan rasi bintang tetapi para
ilmuwan meyakini bahwa serangga ini menggunakan cahaya Bima Sakti untuk menavigasi arah
jalan mereka agar lurus. Dan juga untuk memastikan agar mereka tidak berputar kembali ke

18
tumpukan bola kotoran si pesaing. "Bahkan pada malam tak berbulan, kumbang kotoran masih
berhasil menunjukkan arah di sepanjang jalan lurus," kata Dr Marie Dacke dari Universitas
Lund, Swedia. Menurutnya, ini mendorong mereka untuk membuktikan bahwa kumbang
tersebut mengeksploitasi langit berbintang sebagai arah orientasi.

19
DAFTAR PUSTAKA

20