Anda di halaman 1dari 23

Nama : Siska Islami Nadhio

NIM : 186200045

Mata Kuliah : Teori Pengantar Makroekonomi

1. Soal

a. Terangkan faktor-faktor yang menentukan konsumsi rumah tangga dalam

perekonomian, yang manakah yang dianggap faktor yang paling penting ?

Jawaban :

Faktor Internal :

1) Motivasi

Motivasi ini muncul dari kesadaran diri kita sendiri, atau merupakan

dorongan untuk mengatur atau mengelola pembelanjaan rumah tangga agar

dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Motivasi ini bersifat alamiah

yang bahkan kadang tidak direncanakan. Contohnya : jika kita mendapati

teman kita mempunyai tabungan yang cukup besar, padahal gaji yang kita

dapatkan sama, nah dari hal itu kita menjadi termotivasi untuk hidup lebih

hemat agar mempunyai tabungan yang cukup untuk masa depan.

2) Kepribadian

Kepribadian sebenarnya merupakan sifat dasar manusia yang

biasanya dipengaruhi oleh lingkungan terdekat yang secara langsung atau

tidak langsung ikut bertanggung jawab atas pola konsumsi masyarakat,

Contohnya seperti sikap hemat atau boros.


3) Sikap Hidup / Gaya Hidup

Sikap hidup merupakan kebiasaan atau perilaku yang berkembang di

lingkungan keluarga yang merupakan hasil didikan sejak dini. Contohnya

seperti kebiasaan memasak atau membeli makanan siap saji.

4) Selera

Keinginan seseorang untuk mengkonsumsi barang dan jasa tertentu

sangat ditentukan oleh selera. Konsumen akan senang hati membeli suatu

barang jika meskipun harganya relatif mahal. Sebaliknya, apabila dia tidak

menyukai suatu barang, mustahil konsumen akan bersedia mengeluarkan

uang untuk membeli barang tersebut.

5) Pendapatan

Konsumsi memerlukan pengorbanan berupa uang yang diperoleh

dari penghasilan atau pendapatan. Besarnya pendapatan berpengaruh

terhadap besarnya nilai konsumsi yang dilakukan. Secara umum, semakin

tinggi pendapatan, maka semakin banyak pula barang dan jasa yang dapat

dikonsumsi. Sebaliknya, konsumen dengan pendapatan rendah atau daya

belinya rendah biasanya tidak bisa melakukan banyak kegiatan konsumsi.

Karena, dengan pendapatan yang besar otomatis gaya hidup juga berubah.

Faktor Eksternal

1) Tingkat Harga

Jika harga barang dan jasa kebutuhan hidup meningkat, maka konsumen

harus mengeluarkan uang lebih banyak. Sebagian konsumen dapat secara cermat

mengantisipasinya dengan mengurangi jumlah pembelian. Hal ini dilakukan jika

kenaikan harga tersebut tidak diikuti oleh kenaikan pendapatan. Dengan kata lain,
kenaikan harga barang cenderung menurunkan tingkat konsumsi masyarakat. Dan

apabila harga barang menurun, maka tingkat konsumsi masayarakat akan naik.

2) Ketersediaan Barang dan Jasa

Masyarakat sebagai konsumen tidak selalu dapat mengkonsumsi barang dan

jasa yang diinginkan. Hal ini disebabkan barang dan jasa tidak selalu tersedia di

pasar. Jadi, meskipun konsumen memiliki banyak uang untuk membeli, konsumen

tidak dapat mengkonsumsi barang yang diinginkan. Misalnya, ketika pasokan gas

elpiji terhambat, jumlah gas elpiji yang tersedia di pasaran berkurang sehingga

banyak konsumen yang tidak dapat mengkonsumsinya.

3) Prakiraan Harga di Masa Datang

Prakiraan harga barang di masa datang akan memengaruhi keputusan untuk

pengeluaran konsumsi saat ini atau tidak. Jika konsumen memprakirakan bahwa

harga barang akan naik di masa yang akan datang, maka konsumen akan

cenderung membeli saat ini sebelum harganya benar-benar naik.

Misalnya, ketika pemerintah mengumumkan rencana kenaikan harga BBM,

maka masyarakat akan membeli bahkan menimbun BBM sebelum harganya

benar-benar naik. Sebaliknya, apabila konsumen memprakirakan harga akan turun,

ia akan menunda konsumsi sampai harga benar-benar turun.

4) Lingkungan sosial budaya

Lingkungan sosial budaya di masing-masing daerah berbeda-beda. Hal ini

mendorong pola perilaku masyarakat yang berbeda-beda pula dari suatu daerah

dengan daerah lainnya. Peristiwa ini mendorong muncul berbagai macam

kebutuhan.

Kebiasaan masyarakat yang bersangkutan dengan kondisi lingkungan sosial

budaya meliputi, agama, adat istiadat, kebiasaan, keyakinan ataupun aturan norma
di masyarakat. Contohnya pada masyarakat jawa. Peristiwa kehidupan seperti

perkawinan, kelahiran dan kematian harus disertai dengan rangkaian upacara

selamatan.

5) Kemajuan IPTEK

Saat ini, hampir semua orang mempunyai smartphone, dan dengan

smartphonetersebut seseorang dapat mengakses segala yang diinginkan dengan

menggunakan jaringan internet. Dengan adanya kemajuan teknologi yang

memudahkan segalanya ini, membuat orang-orang menjadi konsumtif dengan

adanya aplikasi aplikasi toko online atau pun aplikasi jasa antar makanan dll.

Menurut pendapat saya, faktor yang paling mempengaruhi tingkat

konsumsi pada saat ini adalah kemajuan dari IPTEK. Karena saat ini hampir

semua orang memiliki smartphone yang pasti terhubung dengan jaringan internet.

Dimana dengan menggunakan jaringan internet tersebut kita dapat memperoleh

dan mengakses segala yang diinginkan dengan mudah, namun tanpa sadar justru

meningkatkan konsumsi yang berlebihan atau konsumtif. Contohnya saat ini

banyak orang yang senang berbagi foto dimedia sosial seperti instagram, facebook,

twitter dll lalu kita melihat foto seseorang yang menggunakan pakaian, tas, sepatu,

atau aksesoris yang sangat menarik, lalu kita tertarik untuk mengikuti gaya

berpakaian orang tersebut dan akhirnya kita tergiur untuk membeli barang-barang

yang sebenarnya belum tentu cocok untuk kita dan belum tentu juga dibutuhkan

oleh kita. Hal itu lah yang membuat tingkat konsumsi meningkat. Belum lagi

ketika konsumsi itu meningkat tetapi tidak sebanding dengan tingkat pendapatan

yang diperoleh, dan pada akhirnya kita menggunakan kartu kredit, meminjam uang

dll, untuk memenuhi segala yang kita inginkan melibihi apa yang kita butuhkan.
Jadi jika dahulu tingkat konsumsi lebih dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, tetapi

menurut saya saat ini konsumsi lebih dipengaruhi oleh kemajuan teknologi.

b. Faktor-faktor apakah yang menentukan investasi perusahaan ? yang

manakah dianggap sebagai yang paling penting ?

Jawab :

Faktor-Faktor Yang Menentukan Tingkat Investasi :

1) Pendapatan Nasional

Pendapatan nasional adalah faktor yang sangat menentukan tinggi

rendahnya investasi di suatu negara. Di negara-negara yang pendapatan

nasionalnya tinggi, tingkat investasinya juga tinggi. Hal ini dibuktikan dengan

banyaknya pilihan investasi, seperti perbankan, real estate, saham, reksadana,

obligasi, lain sebagainya. Bahkan suatu negara tertentu melakukan investasi di

negara-negara lain karena melihat peluang investasi cukup besar di negara-

negara tersebut, sedangkan di negaranya sendiri tingkat investasi sudah

mencapai tingkat jenuh.

2) Tingkat Keuntungan

Setiap investor tentu mengharapkan keuntungan dari penanaman modal

yang dilakukannya. Tinggi rendahnya keuntungan yang diharapkan akan

mempengaruhi besar-kecilnya investasi. Keyakinan bahwa laba yang akan

diperoleh cukup besar akan mendorong pengusaha melaksanakan investasi.

Pengusaha akan meneliti, memilih, dan menentukan jenis investasi apa yang

dapat dilaksanakan dan memberi harapan keuntungan yang tinggi.


3) Suku Bunga Pinjaman

Pengusaha akan menanamkan modalnya di sektor-sektor usaha yang

akan mendatangkan keuntungan bersih lebih tinggi dari atau sama dengan

tingkat bunga bank.

4) Perkiraan Situasi Perekonomian

Investasi di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, industri,

transportasi, dan jalan raya merupakan investasi yang pengambilan modalnya

memakan waktu bertahun-tahun. Kalau keadaan perekonomian masa depan

diperkirakan stabil dan meningkat, banyak investor domestik dan manca negara

tertarik untuk menanamkan modalnya. Keadaan perekonomian tersebut dapat

terlihat dari meningkatnya pertumbuhan ekonomi, pendapatan masyarakat, dan

produksi barang serta jasa.

Sebaliknya, bila perkiraan perekonomian masa depan suram, pendapatan

masyarakat turun, tingkat inflasi dan pengangguran tinggi, utang luar negeri,

baik pemerintah maupun dunia usaha terus bertambah dan sebagian sudah jatuh

tempo cenderung mengurangi investasi.

Para investor dalam menanamkan modalnya membutuhkan waktu cukup

lama untuk meraih keuntungan. Untuk itulah kondisi perekonomian yang stabil

dan mendukung perlu diciptakan.

5) Stabilitas Keamanan

Keamanan, ketertiban, dan ketenangan sangat diperlukan dalam

kehidupan perekonomian dan pelaksanaan penanaman modal. Para penanam

modal tentu menginginkan usahanya bermanfaat bagi pengusaha itu sendiri

dalam arti mendatangkan laba. Kecuali itu, perusahaannya bermanfaat bagi

masyarakat dalam arti membuka dan memperluas lapangan pekerjaan. Bagi


pemerintah, penanaman modal dapat meningkatkan pendapatan negara dan

kegiatan ekonomi. Untuk itu, stabilitas keamanan sangat diperlukan sebab sulit

menanamkan modal dan meningkatkan kehidupan perekonomian dalam situasi

tidak aman.Terjadi kerusuhan sosial, pemberontakan, bentrokan senjata,

pembakaran, dan pembunuhan akan merusak sarana dan prasaran ekonomi.

Akibatnya investor ragu dalam melaksanakan penanaman modalnya.

6) Kemajuan dan Perkembangan Teknologi

Faktor yang menentukan besarnya investasi yang akan dilakukan oleh

para pengusaha adalah kegiatan untuk menggunakan penemuan-penemuan

teknologi baru dalam proses produksi. Kegiatan para pengusaha untuk

menggunakan teknologi yang baru dikembangkan dalam kegiatan produksi

atau manajemen dikenal dengan istilah pembaruan atau inovasi. Semakin

banyak perkembangan teknologi yang dibuat, semakin banyak pula kegiatan

pembaruan yang akan dilakukan oleh para pengusaha.

Untuk melaksanakan pembaruan-pembaruan, para pengusaha harus

membeli barang-barang modal baru dan adakalanya juga harus mendirikan

bangunan-bangunan pabrik industri yang baru. Sehingga dengan semakin

banyak pembaruan yang dilakukan, semakin tinggi tingkat investasi yang akan

tercapai.

Menurut saya, faktor yang paling berpengaruh dalam menentukan

tingkat investasi adalah tingkat keuntungan, karena pada dasarnya seseorang

menginvestasikan sebagian harta nya pasti karena memiliki harapan atau

keinginan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dibanding jika

uang atau harta nya tersebut disimpan di bank.


2. Definisikan fungsi konsumsi rumah tangga ! Apakah ciri-ciri utama fungsi

konsumsi ? Dengan contoh angka, tunjukkan konsumsi dan tabungan rumah

tangga pada berbagai tingkat pendapatan nasional ! Berdasarkan contoh angka

tersebut, lukiskan fungsi konsumsi dan fungsi tabungannya!

Jawab :

Fungsi konsumsi adalah suatu fungsi yang menggambarkan hubungan antara tingkat

konsumsi rumah tangga dengan penndapatan nasional dalam suatu perekonomian.

Ciri-Ciri Utama Fungsi Konsumsi :

1) Terdapat tingkat impas (break even level) dari pendapatan, yaitu tingkat di

mana seluruh disponsible income rumah tangga digunakan untuk kegiatan

konsumsi.

2) Di bawah tingkat impas, konsumsi rumah tangga lebih besar dari pada

disponsible income, sehingga rumah tangga melakukan pinjaman atau

menggunkan tabungan sebelumnya. Kegiatan ini disebut dissaving.

3) Diatas titik impas, sebagian dari disponsible income digunakan untuk

kegiatan konsumsi dan sisanya ditabung.

4) Setiap peningkatan disponsible income akan menyebabkan kegiatan

konsumsi meningkat. Tetapi, besarnya peningkatan konsumsi lebih rendah

dari pada peningkatan disponsible income.


Konsumsi dan Tabungan Rumah Tangga pada Berbagai Tingkat Pendapatan

Nasional !

Berikut adalah satu contoh angka mengenai pendapatan nasional, konsumsi

agregat dan tabungan agregat yang memisalkan:

i. MPC adalah tetap, yaitu MPC = 0,75.

ii. Pada saat Y=0, rumah tangga dalam perekonomian melakukan konsumsi

sebanyak 90 triliun.

Dalam Tabel ditunjukkan satu contoh yang menggambarkan tingkat pendapatan

nasional, tingkat konsumsi dan tingkat tabungan yang menggunakan pemisahan seperti

yang dinyatakan di atas.

Dapat dilihat bahwa pada pendapatan nasional = 0, konsumsi rumah tangga

dalam perekonomian adalah Rp 90 triliun, dan dengan demikian rumah tangga

"mengorek tabungan" sebanyak Rp 90 triliun juga. Contoh tersebut menggambarkan

pula bahwa pendapatan nasional selalu mengalami perubahan sebanyak Rp 120 triliun,

dan karena dimisalkan MPC = 0,75 (dan sebagai akibatnya MPS = 0,25) maka

konsumsi dan tabungan masing-masing akan bertambah sebanyak 0,75 (Rp 120

triliun) = Rp 90 triliun dan 0,25 (Rp 120 triliun) = Rp 30 triliun.


Berdasarkan kepada data tersebut, dalam Tabel konsumsi agregat selalu

mengalami pertambahan sebanyak Rp 90 triliun dan tabungan agregat selalu

mengalami pertambahan sebanyak Rp 30 triliun.

Melukiskan Fungsi Konsumsi dan Fungsi Tabungan :

Berdasarkan angka-angka dalam Tabel sekarang dapat dibuat dua kurva yang

sangat penting peranannya dalam penentuan keseimbangan pendapatan nasional, yaitu

fungsi konsumsi dan fungsi tabungan.

(Kurva Fungsi Konsumsi dan Fungsi Tabungan digabung) Gambar 2

Fungsi Konsumsi

Fungsi Tabungan

Berdasarkan kepada data yang terdapat dalam Tabel, dalam Gambar 2

ditunjukkan fungsi konsumsi di grafik (a) dan fungsi tabungan di grafik (b). Dalam

grafik (a) sumbu tegak menggambarkan tingkat konsumsi dan sumbu datar

menggambarkan pendapatan nasional.

Sedangkan dalam grafik (b), sumbu tegak mennggambarkan tingkat tabungan

dan sumbuh datar menggambarkan pendapatan nasional. Sesuai dengan data yang

terdapat dalam Tabel, ciri-ciri fungsi konsumsi dan tabungan yang digambarkan dalam

gambar 2 adalah sebagai berikut :


i. Pada Tabel menunjukkan bahwa pendapatan nasional = 0, konsumsi rumah

tangga betjumlah Rp 90 triliun, dan tabungan ialah Rp 90 triliun. Berdasarkan

kepada data ini fungsi konsumsi dalam grafik (a) akan bermula pada nilai Rp

90 triliun di sumbu tegak (yang menggambarkan tingkat konsumsi) dan fungsi

tabungan dalam grafik (b) akan bermula pada nilai Rp 90 triliun di sumbuh

tegak.

ii. Tabel 5 telah menunjukkan bahwa MPC = 0,75 dan MPS = 0,25, yaitu setiap

pertambahan pendapatan nasional sebanyak Rp 120 triliun akan menambah

konsumsi sebanyak Rp 90 triliun (MPC x pertambahan pendapatan nasional)

dan tabungan sebanyak Rp 30 triliun (MPS x pertambahan pendapatan

nasional).

3. Terangkanlah arti konsep-konsep berikut :

a. Sirkulasi aliran pendapatan untuk ekonomi dua sektor

Perekonomian dua sektor merupakan perekonomian yang terdiri dua pelaku, yaitu

sektor Rumah Tanggga Konsumen (masyarakat) dan sektor Rumah Tangga

Produsen (perusahaan) tanpa campur tangan sektor lain atau pemerintah. Dengan

demikian, sirkulasi aliran pendapatan biasanya hanyalah menunjukkan bentuk

aliran faktor produksi, pendapatan, barang, serta jasa dan pengeluaran, antara

rumah tangga dan sektor perusahaan. Dalam perekonomian ini tidak ada kegiatan

pemerintah atau transaksi dengan luar negeri.


Secara sederhana aliran-aliran pendapatan dari kedua sektor di atas adalah sebagai

berikut:

1) Sektor perusahaan menggunakan faktor-faktor produksi yang dimiliki

rumah tangga (berupa gaji, upah, sewa, bunga dan untung).

2) Sebagian besar pendapatan yang diterima rumah tangga akan digunakan

untuk konsumsi, yaitu membeli barang-barang dan jasa-jasa yang

dihasilkan oleh sektor perusahaan.

3) Sisa pendapatan rumah tangga yang tidak digunakan untuk konsumsi akan

ditabung dalam institusi-institusi keuangan.

4) Pengusaha yang ingin melakukan investasi akan meminjam tabungan

rumah tangga yang dukumpulkan oleh institusi-institusi keuangan.

b. Kecondongan mengkonsumsi dan kecondongan menabung

✓ Kecondongan mengkonsumsi, adalah suatu gambaran mengenai sikap

konsumen, yang menunjukkan sejauh mana rumah tangga akan berbelanja

apabila memperoleh pendapatan. Konsep ini dibedakan kepada dua

perngertian : (i) kecondongan konsumsi marjinal (MPC)- yaitu rasio di

antara pertambahan konsumsi dengan pertambahan pendapatan, (ii)

kecondongan menabung rata-rata (APC), yaitu rasio di antara konsumsi

dan pendapatan.
✓ Kecondongan menabung, adalah suatu gambaran mengenai sikap

konsumen, yang menunjukkan sejauh mana rumah tangga akan menabung

apabila memperoleh pendapatan. Konsep ini dibedakan kepada dua

pengertian : (1) kecondonngan menabung marjinnal (MPS)- yaitu rasio

antara pertambahan tabungan dan pertambahan pendapatan, dan (2)

kecondongan menabung rata-rata (APS)- yaitu rasio di antara tabungan dan

pendapatan.

c. Efisiensi modal marjinal

Adalah suatu garis atau kurva yang menunjukkan hubungan antara suku bunga

dengan jumlah investasi yang akan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan.

d. Pardoks berhemat

Adalah suatu keadaan perekonomian dimana pengeluara agregat adalah penentu

utama keseimbangan pendapatan nasional, kenaikan dalam tabungan yang

seterusnya mewujudkan pengurangan dalam konsumsi dan pengeluaran atau

pembelanjaan agregat, akan merendahkan tingkat pendapatan nasional yang

dicapai.
4. Soal :

a. Dengan menggunakan contoh angka, terangkan bagaimana suatu

perekonomian yang terdiri dari dua sektor akan mencapai keseimbangan

pendapatan nasional ?

Jawab :

Contoh Angka Keseimbangan Pendapatan Nasional

Kolom (1) dari Tabel menggambarkan berbagai tingkat pendapatan

nasional dari suatu perekonomian. Dalam perekonomian dua sektor tidak terdapat

pajak, oleh karenanya pendapatan nasional adalah sama dengan pendapatan

disposebel.

Pada tiap-tiap pendapatan nasional seperti yang ditunjukkan dalam kolom

(1), pengeluaran konsumsi dan tabungan dari seluruh rumah tangga dalam

perekonomian itu berturut-turut ditunjukkan dalam kolom (2) dan (3). Dalam

membuat Tabel dimisalkan kecondongan mengkonsumsi marjinal adalah 0,75.

Dengan dernikian, apabila pendapatan nasional bertambah sebanyak Rp 120

triliun, sebanyak Rp 90 triliun digunakan untuk menambah pengeluaran konsumsi

dan Rp 30 triliun lainnya untuk menambah tabungan.


Sebagai contoh perhatikan kenaikan pendapatan nasional dari Rp 600

triliun menjadi Rp 720 triliun. Kenaikan pendapatan nasional itu menyebabkan

konsumsi rumah tangga bertambah dari Rp 540 triliun menjadi Rp 630 triliun, dan

tabungan dari Rp 60 triliun menjadi Rp 90 triliun. Dalam contoh tersebut

dimisalkan pada setiap tingkat pendapatan nasional, investasi perusahaan

berjumlah Rp 120 triliun, yaitu seperti yang ditunjukkan dalam kolom (4).

Dengan diketahuinya nilai konsumsi dan investasi pada berbagai tingkat

pendapatan nasional tersebut, sekarang dapatlah ditentukan besarnya pengeluaran

agregat pada berbagai tingkat pendapatan nasional dan hal itu ditunjukkan dalam

kolom (5). Sektor perusahaan memproduksikan barang-barang dengan tujuan

untuk memperoleh untung dari penjualannya. Oleh sebab itu para pengusaha akan

selalu berusaha untuk menghasilkan barang-barang yang sama besarnya dengan

pengeluaran agregat yang akan wujud dalam perekonomian. Dalam Tabel dapat

dilihat bahwa pada waktu pendapatan nasional lebih rendah dari Rp 840 triliun,

pengeluaran agregat adalah lebih besar daripada pendapatan nasional. Keadaan ini

dapat dilihat dengan membandingkan angka di kolom (1) dan (5). Keadaan ini

akan mendorong para pengusaha untuk menambah produksi mereka. Kelebihan

permintaan agregat menyebabkan kegiatan ekonomi mengalami ekspansi

(meningkat). Sebaliknya, pada waktu pendapatan nasional lebih besar dari Rp 840

triliun, pengeluaran agregat telah menjadi lebih kecil dari pada pendapatan

nasional. Ini berarti banyak di antara barang-barang yang diproduksikan

perusahaan-perusahaan tidak terjual. Keadaan ini akan mendorong perusahaan-

perusahaan untuk mengurangi kegiatan mereka dan sebagai akibatnya tingkat

kegiatan ekonomi menurun.


Keadaan yang berbeda dengan yang baru saja dijelaskan akan berlaku

apabila pendapatan nasional adalah Rp 840 triliun. Pada tingkat pendapatan

nasional ini pengeluaran agregat juga bejumlah Rp 840 triliun. Dalam keadaan

seperti itu para produsen tidak akan terdorong untuk menambah atau mengurangi

tingkat produksinya. Maka tingkat keseimbangan perekonomian negara telah

tercapai. Dengan demikian dalam contoh tersebut nilai pendapatan nasional

adalah Rp 840 triliun. Patut dicatat bahwa pada tingkat keseimbangan tersebut

tingkat tabungan adalah sama dengan pengeluaran investasi, yaitu bemilai Rp 120

triliun. Ini dapat dilihat kolom (3) dan (4) dari Tabel.

Kesimpulan:

Dalam perekonomian dua sektor keseimbangan perekonomian negara tercapai

apabila:

(i) Y = C + I, yaitu pendapatan nasional sama dengan konsumsi tambah

investasi. Pada kesamaan ini pengeluaran agregat (C + I) sama dengan

penawaran agregat (Y), dan

(ii) I = S, yaitu investasi sama dengan tabungan.

b. Apakah multiplier ? dengan menggunakan contoh angka terangkan bahwa

suatu kenaikan dalam investasi perusahaan akan menimbulkan pertambahan

pendapatan nasional sebanyak beberapa kali lipat dari kenaikan tersebut.

Jawab :

Multiplier adalah satu angka yang menunjukkan sejauh mana pendapatan nasional

akan berubah efek dari perubahan dalam pengeluaran agregat.

Apabila ΔAE = Rp 1.000 dan menyebabkan ΔY = Rp 4.000 maka multiplier = 4.

Multiplier dapat pula didefinisikan sebagai rasio diantara pertambahan pendapatan

nasional dengan pertambahan pengeluaran agregat.


Contoh angka :

Pengaruh kenaikan investasi yang bernilai Rp 20 triliun ke atas

keseimbangan pendapatan nasional yang telah ditunjukkan dalam Gambar Pada

mulanya fungsi konsumsi adalah C = 90 + 0,75 Y dan I = 120. Telah ditunjukkan

bahwa pengeluaran agregat tersebut mewuiudkan pendapatan nasional sebanyak

Rp 840 uiliun. Kenaikan investasi sebanyak Rp 20 triliun menyebabkan tingkat

investasi yang baru adalah 11 = 120 + 20 = 140. Maka pada tingkat keseimbangan

yang baru pendapatan nasional adalah Rp 920 triliun, yaitu seperti yang dibuktikan

oleh penghitungan yang berikut:

Y=C+I

Y = 90 + 0,75 Y1 + 140

0,25 Y1 = 230

Y1 = 920

Cara lain untuk menentukan pendapatan nasional pada keseimbangan yang

baru adalah dengan. cara menambahkan pertambahan pendapatan nasional

(sebagai akibat pertambahan

investasi) kepada pendapatan nasional yang asal. Pertambahan pendapatan

nasional adalah :

Dengan demikian pendapatan nasional yang baru adalah:

Y 1 = Y + = Rp 840 triliun + Rp 80 triliun = Rp 920 triliun.


5. “Analisis keseimbangan pendapatan nasional dapat diterangkan dengan

menggunakan tabel berangka, secara aljabar dan secara grafik”. Uraikan.

Jawab :

Analisis keseimbangan pendapatan nasional dapat dilakukan dengan menggunakan

tiga cara, yaitu cara tabular (tabel berangka), cara grafik, dan cara algebra.

✓ Cara tabular adalah contoh angka yang menunjukkan data berikut : pendapatan

nasional, konsumsi, tabungan, investasi, dan pengeluaran agregat.

Keseimbangan pendapatan nasional ditentukan dengan menggunakan syarat

keseimbangan dalam perekonomian dua sektor.

✓ Secara grafik keseimbangan dicapai pada keadaan di mana garis AE = C+I

memotong garis 45 derajat dan dari perpotongan fungsi investasi (I) dan fungsi

tabungan (S).

✓ Secara algebra keseimbangan dapat ditentukan dengan menyelesaikan

persamaan Y = C+I atau S = I

Tabel Berangka
Kesimpulan:

Dalam perekonomian dua sektor keseimbangan perekonomian negara tercapai

apabila:

(i) Y = C + I, yaitu pendapatan nasional sama dengan konsumsi tambah

investasi. Pada kesamaan ini pengeluaran agregat (C + I) sama dengan

penawaran agregat (Y), dan

(ii) I = S, yaitu investasi sama dengan tabungan.

Aljabar

Penentuan tingkat keseimbangan pendapatan nasional dengan menggunakan

pendekatan aljabar juga dapat dilakukan dengan dua cara:

i. dengan menggunakan persamaan: Y= C + I, dan

ii. dengan menggunakan persamaan S = I.

Fungsi konsumsi rumah tangga adalah C = 90 + 0,75Y, sedangkan fungsi

investasi adalah I = 120. Maka tingkat pendapatan nasional pada keseimbangan

adalah:

Dengan menggunakan Persamaan yang kedua, yaitu S = I, tingkat penclapatan

nasional pada keseimbangan aclalah:


Kedua penghitungan yang dilakukan secara aljabar tersebut menunjukkan

pendapatan nasional pada keseimbangan adalah 840 triliun rupiah, yaitu sama

dengan yang diperoleh/ ditentukan dalam contoh angka dan secara grafik.

Grafik

Grafik A Grafik B

Grafik Keseimbangan Perekonomian Negara

Berdasarkan kepada angka-angka yang terdapat dalam Tabel, dalam

Gambar secara grafik dilukiskan penentuan tingkat keseimbangan

perekonomian negara. Fungsi C + I dalam grafik (a) menggambarkan

pengeluaran agregat, dan fungsi tersebut diperoleh dengan menambahkan

nilai investasi (I) sebesar Rp 120 triliun ke atas fungsi konsumsi (C).

Sedangkan fungsi C dilukis berdasarkan angka-angka pengeluaran konsumsi

yang terdapat dalam Tabel. Fungsi pengeluaran agregat tersebut

menggambarkan tingkat pengeluaran yang akan dilakukan dalam

perekonomian dua sektor pada berbagai tingkat pendapatan

nasional. Besamya pengeluaran agregat ditunjukkan pada sumbu tegak, dan

nilai pendapatan nasional ditunjukkan pada sumbu datar.


✓ Pendekatan Penawaran Agregat - Pengeluaran Agregat

Garis Y = AE adalah garis yang membentuk sudut 45° dengan

sumbu datar, Setiap titik dalam garis ini menunjukkan keadaan di mana

pendapatan nasional sama dengan pengeluaran agregat. Berarti garis itu

merupakan tempat kedudukan di mana tingkat keseimbangan perekonomian

negara akan tercapai. Oleh karena itu garis tersebut sangat penting sekali

artinya di dalam menentukan pada tingkat mana keseimbangan

perekonomian negara akan berlaku. Dalam bagian (a) dari Gambar 4.8,

fungsi C + I memotong garis Y = AE di titik E. Dengan demikian titik E

menunjukkan kedudukan di mana tingkat keseimbangan perekonomian

negara tercapai, dan pendapatan nasional adalah Rp 840 triliun.

Bahwa titik E menunjukkan keadaan di rnana tingkat keseimbangan

perekonomian negara tercapai dapat dibuktikan dengan memisalkan bahwa

tingkat kegiatan ekonomi berbeda dengan yang ditunjukkan oleh titik E.

Misalkan pendapatan nasional adalah Rp 600 triliun. Pada tingkat pendapatan

nasional ini fungsi C + I berada di atas garis Y = AE. Ini berarti pengeluaran

agregat adalah lebih besar daripada pendapatan nasional. Kelebihan

permintaan tersebut akan menggalakkan para pengusaha menambah produksi

mereka, dan pendapatan nasional menjadi bertambah tinggi. Keadaan seperti

itu akan terus berlangsung sehingga pendapatan nasional bernilai Rp 840

triliun.

Pada waktu pendapatan nasional melebihi nilai ini, fungsi C + I

berada di bawah garis Y= AE, dan keadaan itu berarti bahwa pengeluaran

agregat lebih kecil dari pendapatan nasional. Produksi barang-barang yang

melebihi permintaan tersebut akan mendorong Perusahaan- perusahaan untuk


menurunkan kegiatan mereka, dan penurunan dalam kegiatan memproduksi

ini akan menurunkan tingkat pendapatan

nasional .

✓ Pendekatan Suntikan-Bocoran

Grafik (b) dalam Gambar menunjukkan fungsi tabungan rumah

tangga dan fungsi investasi para pengusaha. Nilai-nilai investasi dan

tabungan ditunjukkan pada sumbu tegak, dan pendapatan nasional

ditunjukkan pada sumbu datar. Dengan menggunakan fungsi tabungan dan

fungsi investasi juga dapat ditentukan tempat kedudukan dari keseimbang an

perekonomian negara.Ia ditentukan oleh titik perpotongan fungsi S dan

fungsi I, yaitu pada titik E. Hal itu dapat dibuktikan dengan mudah. Telah

diketahui bahwa (i) pengeluaran agregat sama dengan konsumsi tambah

investasi atau AE = C + I dan (ii) pendapatan nasional sama dengan

konsumsi tambah tabungan, dan (iii) dalam keseimbangan pendapatan

nasional Y = AE atau C + S = C + I, atau S = I.

Di sebelah kiri titik E investasi adalah lebih besar dari pada

tabungan. Oleh karenanya di sebelah kiri titik E pengeluaran agregat lebih

besar daripada pendapatan nasional. Keadaan ini akan menggalakkan kepada

pertambahann tingkat kegiatan ekonomi dan pendapatan nasional akan

menjadi bertambah besar. Di sebelah kanan E keadaan yang sebaliknya

berlaku, yaitu tabungan lebih besar dari investasi. Ini menyebabkan

pengeluaran agregat lebih kecil dari pendapatan nasional. pertambahan stok

barang-barang yang berlaku akan mendorong para pengusaha menurunkan

kegiatannya. Pada titik E tabungan sama dengan investasi, maka pengeluaran

agregat sama dengan pendapatan nasional. Kesamaan ini, seperti telah


dijelaskan sebelumnya, menyebabkan pengusaha, tidak akan menambah atau

mengurangi tingkat kegiatan mereka. Dengan demikian tingkat

keseimbangan perekonomian negara akan tercapai pada titik E, yaitu pada

keadaan di mana investasi sama dengan tabungan.