Anda di halaman 1dari 100

SKRIPSI

HUBUNGAN LINGKUNGAN BELAJAR KLINIK TERHADAP TINGKAT


KECEMASAN MAHASISWAPROGRAM PROFESI NERS DI RSUD
PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO

Oleh :
Aldi Maswihardo C
NIM. G1D008086

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
PURWOKERTO
2013
HALAMAN PENGESAHAN

HUBUNGAN LINGKUNGAN BELAJAR KLINIK TERHADAP TINGKAT


KECEMASAN MAHASISWA PROGRAM PROFESI NERS DI RSUD
PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO

Oleh:

Aldi Maswihardo Chrismansyah


G1D008086

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Menyelesaikan Pendidikan Sarjana


Keperawatan pada Jurusan Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu
Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

SKRIPSI

Telah dipertahankan di hadapan Panitia Penguji


Pada tanggal, 22 November 2013

Penguji I,
Wastu Adi M, S.Kep., M.Kep. (…………………………)
NIP. 197304232006041002

Pembimbing I,
Made Sumarwati, S.Kp., MN. (…………………………)
NIP. 196812021993032001

Pembimbing II,
Sulistiani, S.Kep., Ns. (…………………………)
NIP. 19690121198903200

ii
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama : Aldi Maswihardo C
NIM : G1D008086

Menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis yang berjudul:


HUBUNGAN LINGKUNGAN BELAJAR KLINIK TERHADAP TINGKAT
KECEMASAN MAHASISWA PROGRAM PROFESI NERS DI RSUD DR.
MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO
Adalah benar-benar hasil karya ilmiah saya, dan tidak sedang atau pernah ditulis
oleh orang lain. Semua data yang saya sajikan adalah diperoleh dari penelitian
yang saya lakukan, kecuali data-data yang bersumber dari kepustakaan yang saya
sebutkan di dalam skripsi ini.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Purwokerto, November 2013

Aldi Maswihardo C
G1D008086

iii
PERSEMBAHAN

Karya ini kupersembahkan kepada :


Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat hidayah serta anugrah yang tak
terhingga semoga Dia meridhoi hasil karya ini, Amin
Kedua orang tuaku
(Bapak R. Adjar Priambodo dan Ibu Endah Chrismawati)
Yang telah memberikan doa, semangat, dan kasih sayangnya yang begitu besar
tanpa henti-hentinya
Teruntuk adik ku Ayu Claudita Putri
Terima kasih atas doa dan dukunganya.

Ibu Made (pembimbing 1), Ibu Sulistiani (pembimbing 2), dan Pak Wastu
(penguji) yang senantiasa ikhlas dan baik hati mencurahkan tenaga perhatian dan
kasih sayang serta pengarahan dalam penyusunan skripsi saya semoga
mendapatkat berkah, rahmat, kesehatan, dan selalu dalam lindungan-Nya.

Seluruh dosen, staf dan karyawan keperawatan unsoed

Keluarga besar (Bapak R. Adjar Priambodo dan Ibu Endah Chrismawati)


yang tidak dapat disebutkan satu-persatu terima kasih atas doanya

Untuk semua pihak yang telah mendukung penulis dalam menyelesaikan karya
yang indah ini, teruntuk sahabat-sahabat tercinta yang senantiasa medampingi,
memotivasi dan mendukung disetiap langkah dan hari-hariku
Sahabat angkatan 2008 jurusan Keperawatan khususnya A2
(Adit, Agus, Anggun, Hasan, Estho, Lika, Nisa, Arif, Hanung, Tera, Mia, Putri,
Dwi, Shella, Umi, Eva , Ayu, Teddy, Fajar, Teten, Sule, Ori, Oktri, Tisna, Tiska,
Liya, Dessy, Ipha, Tanti, Sunu, Guido, Titis, Furyanto, Oncho, Anda, Fitri, Septri,
Indri, Titi, Taufik, Ikhsan, Tiwi, Yulia, Dea, Hervi, Widi, Neny, Tio, Nana, Opi). I
love you no coment (long live my family).

Spesial buat :
Terra, Esto, Fajar, Dodo (S.Kep yg sedang mengejar Ns)
Teten, Dwi, Putri, (yang sedang mengejar S.kep, Ns)
Ikhsan dan tofik (yang sedang menyelesaikan akademik)

Untuk teman-teman SD, SMP, SMA


Teman-teman main

iv
MOTTO
Kesehatan memang bukan segalanya, tapi segalanya tidak akan berarti
tanpa kesehatan

Bukan seberapa hebat atau seberapa besar yang kamu raih, tapi
seberapa yang sudah kamu beri

Belajar tidaklah selalu untuk mengejar atau membuktikan sesuatu,


namun belajar itu sendiri adalah perayaan dan penghargaan pada diri
sendiri (Andrea Hirata)

Ilmu demikian luas untuk disombongkan

SETIAP PENGALAMAN YANG KITA LALUI MERUPAKAN SUATU


POTONGAN MOZAIK KEHIDUPAN, MAKA BERKELANALAH DI ATAS
MUKA BUMI UNTUK MENEMUKAN MOZAIKMU

Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil, tapi berusahalah untuk
menjadi manusia yang berguna (Einstein)

v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Aldi Maswihardo Chrismansyah

Alamat : Jln. Martadireja III no 47 Purwokerto

Tempat, tanggal lahir : Surabaya, 14 September 1989

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

No. Telp/Hp : 081393788767

Riwayat Pendidikan :

1. TK Saraswati Surabaya
2. 1996-2002 SD N Barata Jaya II no 203 Surabaya
3. 2002-2005 SMP GIKI III Surabaya
4. 2005-2006 SMA GIKI II Surabaya
5. 2006-2008 SMA Sultan Agung I Semarang
6. 2008-sekarang Jurusan Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu
Kesehatan Universitas jenderal Soedirman

vi
PRAKATA

Alhamdulillah, puji syukur panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala

rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan hasil penelitian

yang berjudul “Hubungan Lingkungan Belajar Klinik terhadap Tingkat

Kecemasan Mahasiswa Profesi Ners di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo

Purwokerto” yang penulisan ajukan pada Komisi Skrips Jurusan Keperawatan

Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas jenderal Soedirman.

Terima kasih penulis sampaikan kepada:

1. Dr. Warsinah, M.Si, Apt, selaku dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu

Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman.

2. Saryono,S.Kp.,M.Kes, selaku kepala jurusan Fakultas Keperawatan Universitas

Jenderal Soedirman.

3. Made Sumarwati, S.Kp., MN, selakudosen pembimbing I yang selalu memberi

arahan, pencerahan, meluangkan waktu dan bimbingan dalam penyusunan

usulan penelitian ini.

4. Sulistiani, S.Kep., Ns, selaku pembimbing II yang dengan sabar memeriksa

setiap kata demi kata, kalimat demi kalimat agar dapat meminimalisir

kesalahan dalam penulisan dalam usulan penelitian ini.

5. Wastu Adi M., S.Kp., M.Kep., selaku dosen penguji untuk memberikan

pengarahan demi kesempurnaan usulan penelitian ini.

6. Kedua orang tua dan adik tercinta, atas dorongan dan doa dalam penyusunan

penelitian skripsi ini.

vii
7. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, atas bantuan

moral maupun material dalam penulisan usulan penelitan ini.

8. Almamaterku, Universitas Jenderal Soedirman.

Penulis menyadari masih banyak ketidaksempurnaan dalam penyusunan

usulan penelitian ilmiah ini, oleh karena itu diharapkan kritik dan saran yang

bersifat membangun demi hasil yang lebih baik, semoga penelitian ini mendapat

ridho dari Allah SWT dan bermanfaat bagi semua. Amin.

Purwokerto, November 2013

Penulis

viii
Jurusan Keperawatan

Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan

Universitas Jenderal Soedirman

2013

Aldi Maswihardo Chrismansyah1), Made Sumarwati2), Sulistiani 3)

HUBUNGAN LINGKUNGAN BELAJAR KLINIK TERHADAP TINGKAT

KECEMASAN MAHASISWAPROGRAM PROFESI NERS DI RSUD PROF.

DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO

ABSTRAK

Latar Belakang: Pendidikan klinik adalah bagian dasar dari pendidikan


keperawatan dan termasuk sebagian dari kurikulum keperawatan. Dalam
pendidikan klinik, kesempatan diberikan kepada mahasiswa untuk
mempersiapkan diri mereka dalam menghadapi masa depan mereka dalam bekerja
di rumah sakit maupun instansi kesehatan lainnya.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan lingkungan belajar klinik terhadap tingkat
kecemasan pada pembelajaran klinik mahasiswa program Ners di RSUD Prof. dr.
Margono Soekarjo Purwokerto.
Metode: Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
secara observasi analitik dengan menggunakan desain cross sectional yang
merupakan suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi dengan cara
pengumpulan data sekaligus pada suatu saat. Sampel penelitian ini berjumlah 65
responden dengan metode cross sectional, Analisis untuk sebelum dan sesudah
perlakuan digunakan uji Chi Square dan di gunakan uji Fisher Exact Test.
Hasil Penelitian: Pengolahan data hasil penelitian dimulai dengan menyusun
dalam skala-skala. Data berbentuk kuantitatif, yaitu data yang berupa angka-angka
atau bilangan-bilangan. Selanjutnya data yang bersifat kuantitatif, yang berwujud
angka-angka hasil perhitungan dari jawaban mahasiswa di deskripsikan dalam

ix
bentuk persentase. Usia responden 20-45 dengan Retara/mean usia 25 tahun,
standart deviasi 5,063 dan varians 20,09%, responden yang berjenis kelamin laki-
laki sebanyak 30 responden (46,2%), sedangkan responden berjenis kelamin
perempuan sebanyak 35 responden (53,8%), hasil uji Fisher’s Exact bahwa nilai p
value = 0,361 (p value < 0,05) yang artinya tidak ada hubungan yang bermakna
antara ilmu pengetahuan dasar dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa
program profesi ners, hasil uji Fisher’s Exact menunjukkan bahwa nilai p value =
0,023 (p value < 0,05). Hal ini menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara
atmosfer sosial dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa program profesi ners,
hasil uji Fisher’s Exact menunjukkan bahwa nilai p value = 0,020 (p value > 0,05)
yang artinya ada hubungan yang bermakna antara program pelatihan dan
workshop dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa program profesi ners, hasil
uji Fisher’s Exact menunjukkan bahwa nilai p value = 1,000 (p value > 0,05)
yang artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara supervisi dengan tingkat
kecemasan pada mahasiswa program profesi ners, hasil uji Fisher’s Exact
menunjukkan bahwa nilai p value = 0,761 (p value > 0,05) yang artinya tidak ada
hubungan yang bermakna antara beban kerja dengan tingkat kecemasan pada
mahasiswa program profesi ners.
Kesimpulan: Gambaran lingkungan belajar klinik di RSUD. Prof. dr. Margono
Soekarjo Purwokerto dapat disimpulkan sebagai brikut : meliputi kondisi
lingkungan belajar mahasiswa, atmosfer sosial, program pelatihan dan workshop,
supervisi dan beban kerja. Kondisi lingkungan belajar di RSUD. Prof. dr.
Margono Soekarjo Purwokerto dalam kondisi yang baik, atmosfer sosial di RSUD
Prof. dr. margono soekarjo dalam kondisi yang baik, program pelatihan dan
workshop dalam kondisi dalam mayoritas baik, supervisi yang di terima oleh
mahasiswa mayoritas baik, beban kerja yang praktik dalam kondisi yang baik.
Sebagian mahasiswa mengalami kecemasan yang ringan atau tidak mengalami
kecemasan.
Kata Kunci: kecemasan, lingkungan belajar klinik.
Referensi: 40 (1959-2011)

x
Nursing Departement

Faculty of Medicine and Health Sciences

Jenderal Soedirman University

2013

Aldi Maswihardo Chrismansyah1), Made Sumarwati2), Sulistiani 3)

LEARNING ENVIRONMENT RELATIONSHIP TO CLINICAL ANXIETY

LEVEL STUDENT PROGRAMS IN PROF. DR. MARGONO SOEKARJO

PURWOKERTO HOSPITAL

ABSTRACT

Background: Educational clinics are part of basic nursing education and includes
a portion of the nursing curriculum. In a clinical study, the opportunity given to
the students to prepare themselves for their future work in hospitals and other
health institutions.
Objective: To determine the relationship of clinical learning environment to the
level of anxiety in the clinical learning student nurses in Prof. dr. Margono
Soekarjo Purwokerto hospitals.
Methods: This type of research used in this study is observational analytic studies
using cross-sectional design, which is a research to study the dynamics of
correlation with the data collected at the same time at some point. Sample size
was 65 respondents with a cross sectional analysis before and after treatment to be
used in the chi-square test and Fisher's Exact Test using test.
Results: Data processing begins by compiling the results of research in the scales
. Form of quantitative data , ie data in the form of numbers or numbers .
Furthermore, the data that are quantitative , tangible figures on the calculation of
the student response is described in terms of percentage . Respondents aged 20-45
with Retara / mean age 25 years , standard deviation and variance 5.063 20.09 % ,

xi
of the respondents that the male sex as much as 30 respondents ( 46.2 % ) , while
female respondents were 35 respondents ( 53 , 8 % ) , Fisher's Exact test results
that the p value = 0.361 ( p value < 0.05 ) , which means there is no significant
relationship between basic science to the level of anxiety in student professional
nurses , Fisher's Exact test results show that the value of p value = 0.023 ( p value
< 0.05 ) . This shows there is a significant association between social atmosphere
with the level of anxiety in student professional nurses , Fisher's Exact test results
showed that the p value = 0.020 ( p value > 0.05 ), which means there is a
significant relationship between training programs and workshops with levels of
anxiety in student professional nurses , Fisher's Exact test results showed that p
value = 1.000 ( p value > 0.05 ) , which means there is no significant relationship
between the level of anxiety in supervision with student nurses profession ,
Fisher's Exact test results show that the p value = 0.761 ( p value > 0.05 ) , which
means there is no significant relationship between workload with the level of
anxiety in student professional nurses.
Conclusion: Overview of clinical learning environments in Prof. dr. Margono
Soekarjo hospitals, brikut Navan can be summarized as: student learning include
environmental conditions, social atmosphere, training programs and workshops,
supervision and workload. The condition of learning environment in Prof. dr.
Margono Soekarjo hospitals. Navan in good shape, the social atmosphere in Prof.
dr. Margono Soekarjo hospitals in good shape, training programs and workshops
in good condition in the majority, supervision received by the majority of good
students, practice workload in good shape. Most students experiencing mild
anxiety or anxiety.
Keywords: anxiety, clinical learning environment.
Reference: 40 (1959-2011)

xii
DAFTAR ISI
Halaman

HALAMAN JUDUL …………………………………………………….. i


HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………... ii
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN ..…………………………… iii
HALAMAN PERSEMBAHAN …………………………………………. iv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ………………………………………….. vi
PRAKATA ……..………………………………………………………... vii
ABSTRAK ……………………………………………………………….. ix
DAFTAR ISI …………………………………………………………….. xiii
DAFTAR TABLE ……………………………………………………….. xv
DAFTAR GAMBAR …………………………………………………….. xvi
DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………….. xvii
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………. 1
A. Latar Belakang ……………………………………….. 1
B. Perumusan Masalah ………………………………….. 6
C. Tujuan Penelitian …………………………………….. 6
D. Manfaat Penelitian …………………………………… 7
E. Keaslian Penelitian …………………………………... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ………………………………... 11
A. Landasan Teori ………………………………………. 11
B. Kerangka Teori ………………………………………. 20
C. Kerangka Konsep …………………………………….. 21
D. Hipotesis ……………………………………………... 22
BAB III METODE PENELITIAN ……………………………… 23
A. Desain Penelitian …………………………………….. 23
B. Populasi dan Sampel …………………………………. 23
C. Variabel Penelitian …………………………………… 26
D. Definisi Operasional Variabel ……………………….. 27
E. Instrumen Penelitian …………………………………. 28
F. Validitas dan Realibilitas Instrumen ……………….... 30
G. Teknik Pengumpulan Data …………………………… 33
H. Jalannya Penelitian …………………………………... 35
I. Pengolahan dan Analisis Data ……………………….. 36
J. Etika Penelitian ………………………………………. 39
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ……………………….... 42
A. Hasil Penelitian ……………………………………… 42
B. Pembahasan …………………………………………. 51
C. Keterbatasan Penelitian …………………………….. 58

xiii
BAB V PENUTUP ……………………………………………… 59
A. Kesimpulan ………………………………………….. 59
B. Saran ………………………………………………… 60

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xiv
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel ………………………... 27


Tabel 3.2 Kisi-kisi kuesioner lingkungan belajar klinik ……….. 31

xv
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Kerangka Teori ……………………………………….. 20


Gambar 2.2 Kerangka Konsep ……………………………………. 21

xvi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Persetujuan Sebagai Responden

Lampiran 2 Lembar Kuesioner

Lampiran 3 Lembar SPSS

Lampiran 4 Surat Penelitian

xvii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan klinik adalah bagian dasar dari pendidikan keperawatan dan

termasuk sebagian dari kurikulum keperawatan. Dalam pendidikan klinik,

kesempatan diberikan kepada mahasiswa untuk mempersiapkan diri mereka

dalam menghadapi masa depan mereka dalam bekerja di rumah sakit maupun

instansi kesehatan lainnya (Rahmani, et al, 2011).

Menurut Reilly dan Oermann (2002) pendidikan keperawatan terbagi

menjadi dua disiplin yaitu disiplin akademik dan disiplin profesional.

Program pendidikan profesi adakalanya disebut juga sebagai proses

pembelajaran klinik. Istilah ini muncul terkait dengan pelaksanaan pendidikan

profesi yang sepenuhnya dilaksanakan di lahan praktik seperti rumah sakit,

puskesmas, klinik bersalin, panti wherda, dan keluarga serta masyarakat atau

komunitas. Menurut Nursalam (2008) pada program pendidikan Ners, peserta

didik dimungkinkan untuk memperoleh kesempatan praktik klinik sebanyak

mungkin dan mengenal area klinik diawal pembelajaran. Program profesi

Ners pada dasarnya merupakan penerapan pengetahuan-pengetahuan

keperawatan dalam praktik langsung dengan mahasiswa. Program Ners

merupakan pengalaman klinik, yang merupakan aspek paling penting dalam

kurikulum pendidikan Ners.

1
Rumah sakit merupakan fasilitas yang mutlak yang harus ada karena

menjadi tempat mengembangkan pengalaman belajar klinik. Lingkungan

belajar klinik di rumah sakit merupakan konteks sosial yang unik dengan

kondisi khusus untuk pembelajaran kegiatan dan sumber belajar kesempatan

untuk praktik dan aplikasi pengetahuan dan evaluasi (Emilia, 2008). Hal

serupa diungkapkan oleh Reilly dan Oermann (2002) pada lingkungan klinik,

peserta didik belajar untuk menerapkan teori tindakan ke dalam masalah

klinis yang nyata, mempelajari cara belajar, mengembangkan keterampilan

dalam mengatasi ambiguitas, dan bersosialisasi ke dalam profesi. Lingkungan

belajar sangatlah penting karena mempengaruhi pendekatan belajar yang

diambil oleh mahasiswa dan akhirnya akan mempengaruhi pencapaian

kompetensi mahasiswa (Emilia, 2008).

Lingkungan belajar yang baik adalah lingkungan yang menstimulasi rasa

ingin tahu dan kebutuhan untuk mengerti, bukan menstimulasi kegelisahan

dan kompetisi (Emilia, 2008). Menurut Reilly dan Oermann (2002)

lingkungan klinik kaya akan pengalaman belajar, tetapi lingkungan yang

kurang mendukung akan mematahkan semangat belajar peserta didik untuk

mencari pengalaman dan akibatnya banyak kesempatan untuk maju hilang.

Persepsi mahasiswa terhadap lingkungan belajar dianggap mempunyai

pengaruh yang penting pada kualitas hasil belajar mahasiswa. Selain itu,

persepsi mahasiswa terhadap lingkungan belajar berubah setiap mereka

berpindah ke bagian lain.

2
Menurut Locken dan Norberg (2007) mahasiswa jurusan keperawatan

sering dihadapkan dengan kondisi yang dinamis, cemas, situasi stress, selama

dalam pendidikan klinik. Salah satunya mencakup penggunaan keterampilan

yang baru didapat dari pendidikan klinik, mengelola pasien secara holistik,

berurusan dengan staf/perawat senior yang mungkin tidak akomodatif dalam

menerima kehadiran mahasiswa di ruang lingkup kerja mereka. Semua situasi

ini, ditambah dengan yang lainnya lagi, menyebabkan rasa cemas tinggi di

kalangan mahasiswa keperawatan saat memasuki lahan praktik. Menurut

Lazarus (1991), kecemasan merupakan reaksi individu terhadap hal yang

akan dihadapi berupa suatu perasaan yang menyakitkan, seperti kegelisahan,

kebingungan, dan sebagainya, yang berhubungan dengan aspek subyektif

emosi. Kecemasan merupakan gejala yang biasa, karena itu sepanjang

perjalanan hidup manusia, mulai lahir sampai menjelang kematian.

Menurut Sharif dan Masoumi (2005) lingkungan klinik rumah sakit

merupakan satu-satunya sumber kecemasan terbesar bagi kalangan

mahasiswa keperawatan. Mahasiswa akan mengalami kesulitan-kesulitan

diawal praktik. Hampir semua siswa mengalami cemas saat diawal praktik.

Penyebab lain kecemasan mahasiswa di klinik adalah kekhawatiran

mahasiswa tentang kemungkinan membahayakan pasien karena kurangnya

pengetahuan mereka. Hal ini disebabkan konteks pembelajaran praktik lebih

tidak terstruktur dibanding perkuliahan (Emilia, 2008). Oleh karenanya,

mahasiswa mungkin lebih banyak menghadapi cemas, stress dan tekanan.

3
Komponen lingkungan belajar klinik yang bisa menyebabkan kecemasan

meliputi ilmu pengetahuan dasar, atmosfer sosial, program pelatihan dan

workshop, supervisi dan juga beban kerja. Ilmu pengetahuan dasar dapat

diartikan sebagai pengetahuan bawaan dari seorang perawat sebelum perawat

tersebut menjalankan praktek keperawatan. Atmosfer sosial diartikan sebagai

bentuk dari interaksi antara sesama pekerja di rumah sakit maupun dengan

pasien, atmosfer sosial tidak selalu berjalan dengan positif dan sesuai dengan

harapan. Beban kerja setiap perawat di tiap ruang perawatan sangat berbeda.

Ketika berada dalam beban puncak, maka tingkat stres perawat dapat menjadi

tinggi (Knox, 1985; Papp et al., 2003; Tang, Chou, & Chiang, 2005).

Penelitian Muldowney dan McKee (2011) menyatakan bahwa faktor-

faktor yang bisa menyebabkan meningkatnya kecemasan di lingkungan

belajar klinik adalah pembelajaran yang diberikan oleh staf kepada

mahasiswa, komitmen manager keperawatan yang kurang mendukung, serta

hubungan interpersonal antara staf perawat yang kurang baik. Diperkuat

dengan pernyataan Williams, C (2010), yang menyatakan bahwa belajar

ditempat yang dianggap baru (lingkungan klinik yang baru), harus

memerlukan pendidik yang bisa mengulang pembahasan atau pelajaran yang

telah didapat sebelumnya, dan pendidik ini harus bisa mengubah pemikiran

mereka bahwa apa yang didapatkan di teori bisa jadi sangat berbeda dengan

yang akan dilakukan di klinik. Hal ini bisa menyebabkan kecemasan

meningkat, sedangkan Grealish dan Ranse (2009) menemukan bahwa

mahasiswa yang melihat setiap pengalaman, baik pengalaman yang baik

4
maupun yang buruk sebagai kesempatan untuk belajar, baik tugas yang

menakutkan maupun yang tidak, seharusnya mahasiswa memerlukan

imajinasi dan kreatifitas sehingga timbul potensi kesempatan belajar yang

baik di lingkungan klinik, sehingga kecemasan pada mahasiswa akan sedikit

menurun.

Mahasiswa yang memiliki kemampuan beradaptasi dengan baik, maka ia

akan mampu mengatasi rasa cemasnya. Bagi yang penyesuaiannya kurang

baik, maka cemas merupakan bagian terbesar dalam kehidupannya, sehingga

kecemasan dapat menghambat kegiatan sehari-harinya. Bagi seseorang yang

mengalami cemas belum tentu cemas bagi yang lain. Biasanya orang yang

sedang mengalami kecemasan akan susah berkonsentrasi dan bersosialisasi

sehingga menjadi kendala dalam menjalankan fungsi sosial, pekerjaan, dan

perannya (Moscariloto, 2009).

Berdasarkan studi awal yang dilakukan peneliti terhadap 10 mahasiswa

program profesi Ners FKIK Universitas Jenderal Soedirman, sebanyak 6

diantaranya mengatakan bahwa mereka merasa cemas jika mereka harus

menghadapi lingkungan baru (misalnya ketika pindah stase), merasa cemas

jika mereka salah dalam melakukan tindakan keperawatan, serta tekanan-

tekanan yang datang dari perawat (seperti ditegur dengan keras jika

melakukan kesalahan). Berdasarkan latar belakang tersebut maka peneliti

tertarik untuk melakukan penelitian “Hubungan Lingkungan Belajar Klinik

Terhadap Tingkat Kecemasan Mahasiswa Program Profesi Ners di RSUD

Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto”.

5
B. Perumusan Masalah

Pendidikan klinik termasuk pendidikan dasar dari pendidkan

keperawatan. Pembelajaran atau pendidikan klinik sangatlah penting untuk

meningkatkan kompetensi bagi mahasiswa keperawatan. Oleh karena itu

mahasiswa perlu memperoleh pembelajaran klinik yang optimal. Namun

sayangnya tidak semua mahasiswa mendapatkan pembelajaran klinik yang

optimal, justru mahasiswa mendapat tekanan sehingga mahasiswa tersebut

merasa cemas. Kecemasan yang dialami oleh mahasiswa keperawatan di

lingkungan klinik dapat disebabkan oleh banyak faktor diantaranya adalah

faktor ilmu pengetahuan dasar, atmosfer sosial, program pelatihan dan

workshop, supervisi dan juga beban kerja.

Berdasarkan studi awal yang dilakukan peneliti kepada 10 mahasiswa

program profesi Ners FKIK Universitas Jenderal Soedirman, sebanyak 6

diantaranya mengatakan bahwa mereka merasa cemas jika mereka harus

menghadapi lingkungan baru, merasa cemas jika mereka salah dalam

melakukan tindakan keperawatan.

Berdasarkan rumusan masalah di atas, masalah penelitian ini dapat

dirumuskan sebagai berikut: Apakah ada hubungan lingkungan belajar klinik

terhadap tingkat kecemasan pada pembelajaran klinik mahasiswa program

Ners di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto.

6
C. Tujuan Penelitian

1. TujuanUmum

Untuk mengetahui hubungan lingkungan belajar klinik terhadap

tingkat kecemasan pada pembelajaran klinik mahasiswa program Ners di

RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto.

2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah untuk:

a. Mengidentifikasi gambaran kondisi lingkungan belajar klinik di RSUD

Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto.

b. Mengidentifikasi tingkat kecemasan pada mahasiswa program Ners di

RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto.

c. Menganalisis hubungan ilmu pengetahuan dasar terhadap tingkat

kecemasan pada pembelajaran klinik mahasiswa program Ners di

RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto.

d. Menganalisis hubungan atmosfer sosial terhadap tingkat kecemasan

pada pembelajaran klinik mahasiswa program Ners di RSUD Prof. dr.

Margono Soekarjo Purwokerto.

e. Menganalisis hubungan program pelatihan dan workshop terhadap

tingkat kecemasan pada pembelajaran klinik mahasiswa program Ners

di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto.

f. Menganalisis hubungan supervisi terhadap tingkat kecemasan pada

pembelajaran klinik mahasiswa program Ners di RSUD Prof. dr.

Margono Soekarjo Purwokerto.

7
g. Menganalisis hubungan beban kerja terhadap tingkat kecemasan pada

pembelajaran klinik mahasiswa program Ners di RSUD Prof. dr.

Margono Soekarjo Purwokerto.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa manfaat yaitu:

1. Bagi Institusi Pendidikan Keperawatan

Hasil penelitian yang berjudul “Hubungan Lingkungan Belajar Klinik

terhadap Tingkat Kecemasan Mahasiswa Program Profesi di RSUD Prof.

dr. Margono Soekarjo Purwokerto” ini diharapkan memberikan manfaat

bagi Pendidikan Keperawatan yaitu dapat dijadikan bahan masukan dan

strategi dalam pembelajaran klinik sehingga mahasiswa lulusan akademik

bersangkutan dapat menghasilkan perawat professional yang terampil

dalam praktik klinik, serta dapat memberikan suatu gambaran lingkungan

belajar klinik dan hubungannya terhadap kecemasan dalam menjalankan

program profesi Ners di Rumah Sakit.

2. Bagi Ilmu Keperawatan

Hasil penelitian yang berjudul “Hubungan Lingkungan Belajar Klinik

terhadap Tingkat Kecemasan Mahasiswa Program Profesi Ners di RSUD

Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto” ini diharapkan memberikan

manfaat bagi Ilmu Keperawatan yaitu dapat dijadikan bahan masukan dan

informasi dalam peningkatan mutu pendidikan dalam ilmu keperawatan.

8
3. Bagi Lahan Praktik

Hasil penelitian yang berjudul “Hubungan Lingkungan Belajar Klinik

terhadap Tingkat Kecemasan Mahasiswa Program Profesi Ners di RSUD

Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto” ini diharapkan dapat

memeberikan manfaat yaitu dapat dijadikan informasi dalam

pengembangan kualitas dari tempat praktik klinik mahasiswa khususnya

dalam hal lingkungan belajar kinik pada program tahap profesi, dan

peningkatan kualitas proses pendidikan akan bertambah baik sehingga

dapat memberikan kenyamanan tersendiri bagi mahasiswa yang sedang

melakukan praktik kerja.

4. Bagi Penelitian Selanjutnya

Hasil penelitian yang berjudul “Hubungan Lingkungan Belajar Klinik

terhadap Tingkat Kecemasan Mahasiswa Program Profesi Ners di RSUD

Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto” ini diharapkan dapat memberikan

manfaat yaitu sebagai dasar dan bahan rujukan untuk penelitian lebih

lanjut, sehingga dapat menambah wawasan keilmuan khususnya bidang

keperawatan.

E. Keaslian Penelitian

Penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian mengenai

pembimbing klinik sekarang ini sesuai dengan hasil penelusuran penulis

antara lain yang dilakukan oleh:

9
1. Resnayati, Y, 2007 dengan judul Faktor determinan pengalaman belajar

klinik Keperawatan Medikal Bedah. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa ketersediaan pasien di rumah sakit sebagian tidak tersedia sesuai

dengan kebutuhan belajar mahasiswa, dan sebagian besar mahasiswa

beranggapan bahwa banyak ketidaksesuaian antara teori atau

laboratorium dengan kenyataannya di klinik. Mahasiswa juga

mengharapkan persepsi antara pembimbing dan mahasiswa mempunyai

persepsi yang sama.

2. Moscaritolo, L, M, 2009, dengan judul Interventional Strategies to

Decrease Nursing Student Anxiety in the Clinical Learning Environment.

Dari hasil studi literature yang dilakukannya ditemukan bahwa

kecemasan yang terjadi akibat lingkungan belajar klinik biasanya

disebabkan oleh beberapa hal antara lain: pengalaman pertama

mahasiswa yang masuk klinik, mahasiswa takut melakukan kesalahan,

terbatasnya keahlian klinik mahasiswa, penilaian dari fakultas, kurangnya

dukungan dari staf perawat, dan ketidaksesuaian antara teori yang

dipelajari di kelas dengan penerapan di klinik.

10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Lingkungan Belajar Kinik

Lingkungan belajar klinis didefinisikan sebagai suatu jaringan

interaktif dari suatu kesatuan diantara tatanan klinik yang mempengaruhi

hasil belajar dari mahasiswa (Dunn & Burnett, 1995). Menurut Chan, D

(2002), mengatakan bahwa lingkungan belajar klinik terjadi karena

banyaknya perbedaan tatanan dan format, hal yang paling utama yang

biasanya terdapat pada lingkungan belajar klinik adalah disiplin ilmu itu

sendiri, ceramah kuliah, tutorial, workshop, seminar dan laboratorium.

Semua hal tersebut adalah bagian yang sudah umum yang terdapat pada

lingkungan kelas mahasiswa keperawatan. Penempatan bidang klinis

adalah salah satu bagian penting dari kurikulum keperawatan. Praktek

klinik adalah masa peralihan, maka dari itu sangatlah penting untuk

mahasiswa mengembangkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan praktek

selama berada di lingkungan kerja dan pada suatu keadaan pekerjaan

tertentu.

Terdapat 5 faktor yang mempengaruhi lingkungan belajar klinik

yaitu ilmu pengetahuan dasar, atmosfer sosial, program pelatihan dan

workshop, supervisi, dan beban kerja (Knox, 1985; Papp et al., 2003;

Tang, Chou, & Chiang, 2005).

11
a. Ilmu pengetahuan dasar

Berdasarkan studi mengenai faktor-faktor yang berpengaruh

terhadap lingkungan belajar klinik yang dikembangkan oleh Rotem et

al (1996), pengetahuan dasar kerja diartikan sebagai pengetahuan

bawaan dari seorang perawat sebelum ia menjalankan suatu praktek

keperawatan. Suatu pengetahuan dasar mengandung nilai-nilai

pembelajaran yang memberikan kontribusi terhadap perkembangan

profesional.

Pengetahuan dasar kerja di masing masing rumah sakit memiliki

standar berbeda-beda. Hal ini sangat berdampak pada pembentukan

iklim pada lingkungan belajar klinik karena dengan pengetahuan yang

tinggi perawat mempunyai pandangan lebih obyektif terhadap iklim

organisasi yang ada di dalamnya begitu juga sebaliknya dengan

perawat yang memiliki pengetahuan kerja yang minimal cenderung

subyektif dalam menilai sesuatu yang ada di lingkungannya.

b. Atmosfer sosial

Rotem et al (1996) menyatakan bahwa atmosfer sosial meliputi

perasaan merasa diterima, diakui, serta dinilai sebagai anggota tim

oleh rekan dan staf rumah sakit lain. Atmosfer sosial meliputi

hubungan antar perawat dan iklim organisasi yang ada di rumah sakit.

Atmosfer sosial di rumah sakit terbentuk dari interaksi antara sesama

pekerja di rumah sakit maupun dengan pasien. Atmosfer sosial tidak

selalu berjalan dengan positif dan sesuai dengan harapan karena tidak

12
dipungkiri bahwa didalam dunia kerja selalu ada persaingan dari

pelakunya.

c. Program pelatihan dan workshop

Penelitian mengenai instrumen lingkungan belajar klinik yang

dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Jogjakarta tahun 2008 juga menjabarkan mengenai program pelatihan

dan workshop. Sebagai suatu institusi yang memiliki visi

meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, rumah sakit

tentunya selalu mengembangkan kompetensi perawatnya, antara lain

yaitu dengan mengadakan pelatihan-pelatihan dan workshop.

d. Supervisi

Supervisi merupakan salah satu instrumen lingkungan belajar

klinik (Rotem et al, 1996). Supervisi keperawatan merupakan suatu

proses pemberian sumber-sumber yang dibutuhkan untuk

menyelesaikan tugas dalam rangka mencapai tujuan. Supervisi

memerlukan pengetahuan dasar manajemen, ketrampilan hubungan

antar manusia, dan kemampuan menerapkan prinsip manajemen dan

kepemimpinan. Sebuah kegiatan supervisi didalamnya terdapat proses

kerja sama yang demokratis antara supervisor dan perawat pelaksana.

Peran dan fungsi supervisor dalam supervisi adalah mempertahankan

keseimbangan pelayanan keperawatan dan manajemen sumber daya

yang tersedia.

13
e. Beban kerja

Rotem (1996) menjabarkan bahwa beban kerja merupakan

tuntutan pekerjaan pada suatu unit yang memaksa keseimbangan

antara pelayanan dan pengembangan profesi. Beban kerja setiap

perawat ditiap ruang perawatan sangat berbeda. Ketika berada dalam

beban puncak, maka tingkat stress perawat dapat menjadi tinggi.

Diharapkan, pendidikan klinik menerapkan pendidikan orang dewasa

(androgogy), yang berbeda dengan pendidikan anak-anak (paedagogy).

Pendidikan anak-anak lebih banyak berlangsung dalam bentuk asimilasi,

identifikasi, dan peniruan. Sementara, pendidikan orang dewasa lebih

menitikberatkan kepada pemberian keterampilan dan kemampuan untuk

memecahkan masalah (Pannen dan Sadjati, 2001). Oleh sebab itu, model

pendidikan klinik yang menerapkan model magang secara murni

(apprenticeship model) telah bergeser kepada model yang menekankan

pengetahuan ilmiah dan keterampilan yang sesuai dengan bukti (evidence

based) dan konteks (competencies), yang disebut dengan professional

clinical-technical competence model (Emilia, 2008).

Lingkungan pembelajaran, menurut Hutchinson (2003), ditentukan

oleh dua faktor utama, yaitu kurikulum dan staf pengajar. Peran

pembimbing di sini adalah memberikan “ruang” kepada mahasiswa dalam

merawat pasien. Sementara itu, pemberian pengawasan dan umpan balik

merupakan fungsi penting lainnya dari dosen pembimbing klinik. Menurut

Kilminster et al (2007), supervisi yang baik seharusnya menghargai

14
pengalaman dan perasaan mahasiswa profesi, dengan tujuan akhir

pengelolaan pasien yang lebih baik. Sehingga, supervisi yang efektif

meliputi beberapa aspek, yang meliputi: sesuai konteks, pengamatan

langsung, pemberian umpan balik, multi aspek, serta hubungan

interpersonal yang baik. Pemberian umpan balik sepatutnya dilakukan

untuk poin-poin yang cukup penting serta dilakukan dalam frekuensi yang

cukup sering. Pemberian umpan balik yang efektif akan mendorong

tercapainya kemandirian mahasiswa, sehingga poin supervisi dan otonomi

dalam lingkungan belajar klinik adalah saling berhubungan.

Terdapat beberapa sistem penyelenggara pendidikan universitas di

Indonesia antara lain adalah satuan kredit semester (SKS) dan kurikulum

berbasis kompetensi (blok), SKS adalah satuan yang digunakan untuk

menyatakan besarnya beban studi mahasiswa, besarnya pengakuan atas

keberhasilan usaha mahasiswa, besarnya pengakuan atas keberhasilan

usaha kumulatif bagi suatu program tertentu, serta besarnya usaha untuk

menyelenggarakan pendidikan bagi perguruan tinggi dan khususnya bagi

tenaga pengajar.

Sistem kurikulum berbasis kompetensi dirancang dengan

menggunakan sistem backward yaitu dimulai dengan perumusan

kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang perawat dalam pekerjaannya

dan lalu berdasarkan kompetensi tersebut dirancang pengalaman belajar

yang dapat mencapai kompetensi tersebut. Kedua sistem ini sudah

diterapkan kepada mahasiswa keperawatan, dan terlihat perbedaan atara

15
mahasiswa keperawatan yang menggunakan sistem SKS dan blok,

mahasiswa dengan sistem blok lebih cenderung lebih menguasai praktik

klinik dibandingkan mahasiswa yang menggunakan sistem SKS.

Mahasiswa yang sudah mempunyai pengalaman dasar di klinik akan lebih

terbiasa dan rasa kecemasan bisa ditekan dengan adanya pengalaman

belajar di klinik yang lebih.

2. Kecemasan

Kecemasan merupakan reaksi normal terhadap situasi yang menekan.

Namun dalam beberapa kasus, menjadi berlebihan dan dapat menyebabkan

seseorang ketakutan yang tidak rasional terhadap sesuatu hal. Kecemasan

berbeda dengan phobia (fobia), karena tidak spesifik untuk situasi tertentu.

Kecemasan dapat menyerang siapa saja, setiap saat, dengan atau tanpa

alasan apapun.

Banyak pengertian/definisi yang dirumuskan oleh para ahli dalam

merumuskan pengertian tentang kecemasan. Beberapa ahli yang mencoba

untuk mengemukakan definisi kecemasan, antara lain :

Maramis (1995) menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu

ketegangan, rasa tidak aman, kekhawatiran, yang timbul karena dirasakan

akan mengalami kejadian yang tidak menyenangkan.

Lazarus (1991) menyatakan bahwa kecemasan adalah reaksi individu

terhadap hal yang akan dihadapi. Kecemasan merupakan suatu perasaan

yang menyakitkan, seperti kegelisahan, kebingungan, dan sebagainya, yang

berhubungan dengan aspek subyektif emosi. Kecemasan merupakan gejala

16
yang biasa pada saat ini, karena itu disepanjang perjalanan hidup manusia,

mulai lahir sampai menjelang kematian, rasa cemas sering kali ada.

Kecemasan merupakan reaksi terhadap suatu pengalaman yang bagi

individu dirasakan sebagai ancaman. Rasa cemas adalah perasaan tidak

menentu, panik, takut, tanpa mengetahui apa yang ditakutkan dan tidak

dapat menghilangkan perasaan gelisah dan rasa cemas tersebut.

Tjakrawerdaya (1987) mengemukakan bahwa kecemasan adalah efek

atau perasaan yang tidak menyenangkan berupa ketegangan, rasa tidak

aman dan ketakutan yang timbul karena dirasakan akan terjadi sesuatu yang

mengecewakan tetapi sumbernya sebagian besar tidak disadari oleh yang

bersangkutan. Apabila kecemasan timbul, maka akan mendorong orang

untuk melakukan suatu usaha untuk mengurangi kecemasan itu atau

mencegah impuls-impuls yang berbahaya.

Penyebab terjadinya disebabkan oleh adanya sifat subyekif dari

kecemasan, yaitu: Bahwa kejadian yang sama belum tentu dirasakan sama

pula oleh setiap orang. Dengan kata lain suatu rangsangan atau kejadian

dengan kualitas dan kuantitas yang sama dapat diinterprestasikan secara

berbeda antara individu yang satu dengan yang lainnya.

Teori kognitif menyatakan bahwa reaksi kecemasan timbul karena

kesalahan mental. Kesalahan mental ini karena kesalahan

menginterpetasikan suatu situasi yang bagi individu merupakan sesuatu

yang mengancam. Melalui teori belajar sosial kognitif, takut dan

kecemasan di hasilkan dari harapan diri yang negatif karena mereka

17
percaya bahwa mereka tidak dapat mengatasi dari situasi yang secara

potensial mengancam bagi mereka.

Sedangkan berdasarkan sumber timbulnya kecemasan menurut Freud

membedakan kecemasan menjadi 3 macam, yaitu : a. Kecemasan Neurotik

(Neurotic Anxiety), yaitu kecemasan yang berhubungan erat dengan

mekanisme pembelaan diri, dan juga disebabkan oleh perasaan bersalah

atau berdosa, konflik-konflik emosional yang serius, frustasi, serta

ketegangan-ketegangan batin; Kecemasan Moral (Anxiety of moral

conscience/super ego), yaitu rasa takut akan suara hati, di masa lampau

pribadi pernah melanggar norma moral dan bisa di hukum lagi, misalnya

takut untuk melakukan perbuatan yang melanggar ajaran agama;

Kecemasan Realistik (Realistic Anxiety), yaitu rasa takut akan bahaya-

bahaya nyata di dunia luar, misalnya takut pada ular berbisa (Calvin, 1993).

Menurut Maramis (1985), kecemasan akan timbul jika individu tidak

mampu menghadapi suatu keadaan stress, dimana stress dapat mengancam

perasaan, kemampuan hidupnya. Sumber-sumber kecemasan adalah

frustasi, konflik, tekanan, dan krisis. Frustasi akan timbul bila adanya

hambatan atau halangan antara individu dengan tujuan dan maksudnya.

Konfliknya terjadi bilamana individu tidak dapat memilih antara dua atau

lebih kebutuhan atau tujuannya. Tekanan walaupun kecil tetapi bila

bertumpuk-tumpuk dapat menjadi stress. Dan krisis adalah suatu keadaan

yang mendadak yang menimpa individu dan dapat menimbulkan

kecemasan yang hebat.

18
Secara sederhana kecemasan dapat disebabkan karena individu

mempunyai rasa takut yang tidak realistis, karena mereka keliru dalam

menilai suatu bahaya yang dihubungkan dengan situasi tertentu, atau

cenderung menaksir secara berlebihan suatu peristiwa yang

membahayakan. Kecemasan juga dapat di sebabkan karena penilaian diri

yang salah, dimana individu merasa bahwa dirinya tidak mampu mengatasi

apa yang terjadi atau apa yang dapat dilakukan untuk menolong diri sendiri.

Secara umum kecemasan merupakan suatu keadaan yang normal pada

setiap individu, namun jika tidak dihadapi secara tepat maka akan

menimbulkan gangguan psikologis yang lebih jauh.

19
B. Kerangka Teori

Berdasarkan landasan teori diatas, maka dibentuk kerangka teori penelitian

yang dapat dijelaskan melalui gambar sebagai berikut:

Lingkungan Belajar
Klinik (Clinical
Learning
Environment)

1. Ilmu pengetahuan
dasar
2. Atmosfer social Kecemasan (Anxiety)
3. Program pelatihan
dan workshop
4. Supervisi
5. Beban kerja

Gambar 2.1. Kerangka teori penelitian hubungan lingkungan belajar klinik

terhadap tingkat kecemasan aplikasi teori lingkungan belajar klinik (Knox,

1985; Papp et al., 2003; Tang, Chou, & Chiang, 2005).

20
C. Kerangka Konsep

Berdasarkan landasan teori diatas maka dibentuk kerangka konsep

penelitian yang dapat dijelaskan melalui gambar sebagai berikut:

Variabel Independen

Lingkungan Belajar Klinik

Ilmu Pengetahuan Dasar

Atmosfer Sosial Variabel Dependen

Program Pelatihan dan Tingkat Kecemasan


Workshop Mahasiswa

Supervisi

Beban Kerja
Variabel Pengganggu

Faktor yang
mempengaruhi:
1. Mekanisme Koping
2. Kemandirian
3. Kejelasan Peran

Gambar 2.2. Kerangka Konsep

Keterangan

: Diteliti

: Tidak diteliti

: Hubungan yang diteliti

: Hubungan yang tidak diteliti

21
D. Hipotesis

Hipotesis penelitian adalah jawaban sementara dari rumusan masalah atau

pertanyaan penelitian (Nursalam, 2002). Hipotesis sebagai kesimpulan

penelitian yang belum sempurna, sehingga perlu di sempurnakan dengan

membuktikan kebenaran hipotesis melalui penelitian (Bungin, 2006).

Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Ada hubungan antara ilmu pengetahuan dasar terhadap tingkat kecemasan

pada pembelajaran klinik mahasiswa program Ners di RSUD Prof. dr.

Margono Soekarjo Purwokerto.

2. Ada hubungan antara atmosfer sosial terhadap tingkat kecemasan pada

pembelajaran klinik mahasiswa program Ners di RSUD Prof. dr. Margono

Soekarjo Purwokerto.

3. Ada hubungan antara program pelatihan dan workshop terhadap tingkat

kecemasan pada pembelajaran klinik mahasiswa program Ners di RSUD

Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto.

4. Ada hubungan antara supervisi terhadap tingkat kecemasan pada

pembelajaran klinik mahasiswa program Ners di RSUD Prof. dr. Margono

Soekarjo Purwokerto.

5. Ada hubungan antara beban kerja terhadap tingkat kecemasan pada

pembelajaran klinik mahasiswa program Ners di RSUD Prof. dr. Margono

Soekarjo Purwokerto.

22
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

secara observasi analitik dengan menggunakan desain cross sectional yang

merupakan suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi dengan cara

pengumpulan data sekaligus pada suatu saat.

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa profesi Ners

yang sedang menjalani praktik klinik di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo

Purwokerto. Menurut observasi awal yang dilakukan peneliti, sebanyak

140 mahasiswa yang sedang menjalani program profesi Ners dari berbagai

Universitas dan terdiri dari 7 stase.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang di teliti

(Arikunto, 2006).

a. Jumlah sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah adalah mahasiswa yang sedang

mengikuti program profesi Ners di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo

Purwokerto yang berjumlah sesuai dengan perhiutngan sampel. Besar

23
sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan rumus Slovin (Riduwan,

2009):

=
1+

Keterangan:

n : ukuran sampel

N : populasi

d : tingkat kesalahan 10% (0,1)

Dari rumus pengambilan sampel di atas, maka sampel minimal

penelitian ini adalah:

140
=
1 + 140.0,1

= 58,3 atau dibulatkan menjadi 59 responden.

Dalam penelitian ini, sampel minimal yang diambil adalah 59

responden, akan tetapi peneliti khawatir sampel yang dibutuhkan tidak

memenuhi jumlah yang ditetapkan atau akan terjadi keluarnya

responden dari sampel (gugur), maka dari itu peneliti menambahkan

jumlah sampel sebesar 10% dari jumlah sampel awal, sehingga sampel

minimal yang peneliti ambil sebanyak 65 responden.

b. Teknik sampling

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah

random sampling dengan teknik cluster sampling (gugus atau

kelompok sampling). Pengambilan sampel secara kelompok/gugus,

dimaksudkan agar persebaran sampel setiap kelompok merata. Dalam

24
penelitian ini terdiri dari 7 kelompok (stase), maka setiap kelompok

diambil 9 mahasiswa sebagai responden penelitian sehingga jumlah

sampel yang diharapkan akan terpenuhi. Pengambilan dilakukan dengan

cara acak sederhana, yakni dengan cara mengundi anggota dari setiap

kelompok.

Agar karakteristik sampel tidak menyimpang dari populasinya, maka

sebelum pengambilan sampel perlu ditentukan kriteria inklusi, maupun

kriteria eksklusi. Dalam penelitian ini dipilih sampel yang memiliki

kriteria sebagai berikut:

a. Kriteria inklusi

Kriteria inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi

oleh setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel

(Notoatmodjo, 2010). Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1) Mahasiswa yang sedang mengikuti program profesi Ners di RSUD

Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto.

2) Mahasiswa yang bersedia menjadi responden penelitian

b. Kriteria Eksklusi

Kriteria eksklusi adalah keadaan yang menyebabkan subyek yang

memenuhi kriteria inklusi tidak dapat diikutsertakan dalam penelitian

(Nursalam, 2008). Kriteria eksklusi dalam penelitian ini yaitu :

1) Mahasiswa yang sedang menjalani praktik klinik peminatan.

2) Mahasiswa yang tidak bersedia menjadi responden

25
C. Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat,

dan ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang

sesuatu konsep pengertian tertentu (Notoatmodjo, 2005). Variabel dalam

penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat

1. Variabel bebas (Independent Variable) adalah variabel yang menjadi sebab

timbulnya atau berubahnya dependent variable atau yang mempengaruhi

stimulus, input (Sugiyono, 2005). Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu

ilmu pengetahuan dasar, atmosfer sosial, program pelatihan dan workshop,

supervisi, dan beban kerja.

2. Variabel terikat (Dependent Variable) adalah variabel yang dipengaruhi

atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas, dan variabel ini

sering disebut variabel respon, output (Sugiyono, 2005). Variabel terikat

dalam penelitian ini adalah tingkat kecemasan pada mahasiswa program

profesi NERS di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto.

3. Variabel pengganggu (Confounding Variable) adalah variabel yang

mengganggu terhadap hubungan antara variabel bebas dengan variabel

terikat. Variabel pengganggu ini ada apabila terdapat faktor atau variabel

ketiga pengganggu yang berkaitan dengan faktor resiko dan faktor akibat

(Notoatmodjo, 2005). Variabel pengganggu dalam penelitian ini adalah

mekanisme koping, kemandirian, kejelasan peran.

26
D. Definisi Operasional Variabel

Tabel 3.1. Definisi Operasional Variabel


Nama Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Variabel
Variabel Independent
Ilmu Merupakan pengetahuan Kuesioner dengan 1. Kurang jika skor Ordinal
Pengetahuan dasar dari seorang item pertanyaan 4-9
Dasar mahasiswa keperawatan sebanyak 5 2. Baik jika skor 10-
sebelum ia menjalankan pertanyaan, 15
suatu praktek keperawatan. menggunakan 3. Sangat Baik jika
skala Likert yaitu skor > 15
“SS” untuk
Sangat setuju, “S”
untuk setuju,
“TS” untuk tidak
setuju, “STS”
untuk sangat tidak
setuju.
Atmosfer Merupakan perasaan merasa Kuesioner dengan 1. Kurang jika skor Ordinal
Sosial diterima, diakui, serta dinilai item pertanyaan 4-9
sebagai anggota tim oleh sebanyak 5 2. Baik jika skor 10-
rekan mahasiswa dan pertanyaan, 15
perawat rumah sakit. menggunakan 3. Sangat Baik jika
skala Likert yaitu skor > 15
“SS” untuk
Sangat setuju, “S”
untuk setuju,
“TS” untuk tidak
setuju, “STS”
untuk sangat tidak
setuju.
Program Merupakan pendidikan tidak Kuesioner dengan 1. Kurang jika skor Ordinal
pelatihan dan formal yang menekankan item pertanyaan 4-9
workshop pada peningkatan sebanyak 5 2. Baik jika skor 10-
kemampuan secara teknis pertanyaan,
15
berdasarkan teori. menggunakan
skala Likert yaitu 3. Sangat Baik jika
“SS” untuk skor > 15
Sangat setuju, “S”
untuk setuju,
“TS” untuk tidak
setuju, “STS”
untuk sangat tidak
setuju.
Supervisi Proses pemberian sumber- Kuesioner dengan 1. Kurang jika skor Ordinal
sumber yang dibutuhkan item pertanyaan 4-9
untuk menyelesaikan tugas sebanyak 5 2. Baik jika skor 10-
dalam rangka mencapai pertanyaan, 15
tujuan. menggunakan 3. Sangat Baik jika
skala Likert yaitu skor > 15
“SS” untuk
Sangat setuju, “S”
untuk setuju,
“TS” untuk tidak

27
setuju, “STS”
untuk sangat tidak
setuju.
Beban kerja Tuntutan pekerjaan pada Kuesioner dengan 1. Kurang jika skor Ordinal
suatu unit yang memaksa item pertanyaan 4-9
keseimbangan antara sebanyak 5 2. Baik jika skor 10-
pelayanan dan pertanyaan, 15
pengembangan profesi. menggunakan 3. Sangat Baik jika
skala Likert yaitu skor > 15
“SS” untuk
Sangat setuju, “S”
untuk setuju,
“TS” untuk tidak
setuju, “STS”
untuk sangat tidak
setuju.
Variabel Dependent
Kecemasan Suatu ketegangan, rasa tidak Menggunakan 1. Skor < 17 : Ordinal
aman, kekhawatiran, yang skala HARS yang Tidak ada
timbul karena dirasakan terdiri dari 14 kecemasan
akan mengalami kejadian item pernyataan. 2. Skor 18-24:
yang tidak menyenangkan kecemasan ringan
yang terjadi karena pengaruh 3. Skor 25-30:
lingkungan sekitarnya yang kecemasan
mungkin dapat sedang
menyebabkan perasaan yang 4. Skor > 30:
tidak nyaman. kecemasan berat

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa lembar

kuesioner yang terdiri dari tiga macam kuesioner yakni: kuesioner data

pribadi, kuesioner lingkungan belajar klinik, dan kuesioner kecemasan.

1. Kuesioner data pribadi

Kuesioner data pribadi ini dibuat sendiri oleh peneliti, kuesioner ini

berisi pertanyaan tentang data pribadi responden seperti nama/inisial,

jenis kelamin, umur, ruangan atau stase yang sedang dilakukan praktek

oleh mahasiswa, dan tanggal masuk ruangan atau stase tersebut.

28
2. Kuisoner lingkungan belajar klinik

Kuesioner lingkungan belajar klinik menggunakan kuesioner yang

sudah ada sebelumnya, kuesioner ini dibuat oleh Mulyono (2011) dengan

modifikasi yang dilakukan oleh peneliti sendiri, kuisoner ini berisi

pernyataan tentang lingkungan belajar klinik yakni ilmu pengetahuan

dasar, atmosfer sosial, program pelatihan dan workshop, supervisi dan

beban kerja yang masing-masing terdiri dari 5 pernyataan, sehingga

jumlah total pernyataan menjadi 25 pernyataan kuesioner lingkungan

belajar klinik.

Jawaban kuesioner ini menggunakan skala Likert yakni SS: Sangat

Setuju, S: Setuju, TS: Tidak Setuju, dan STS: Sangat Tidak Setuju.

Kelebihan kuesioner ini yakni pernyataan yang mewakili dari faktor-

faktor lingkungan belajar klinik, sedangkan kekurangan kuesioner ini

yakni terletak pada cara pengisian yang mungkin membuat mahasiswa

atau responden ragu untuk mengisi, maka dari itu pengisian kuesioner ini

harus didampingi oleh peneliti yang bisa menjelaskan isi kuesioner untuk

menghindari keragu-raguan dalam mengisi kuesioner ini.

3. Kuesioner kecemasan

Kuesioner kecemasan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

dengan menggunakan skala Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS),

kuesioner ini berisi 14 pernyataan yang meliputi perasaan cemas,

ketegangan, ketakutan, ganggugan tidur, gangguan kecerdasan, perasaan

depresi, gejala somatic, gejala sensorik, gejala kardiovaskuler, gejala

29
pernafasan, gejala gastrointestinal, gejala urogenital, gejala vegetatif, dan

perilaku sewaktu wawancara. Kuesioner dibuat oleh Hamilton, M (1959).

Hasil dari jawaban kuesioner ini berupa skor, skor maksimum adalah 56,

skor yang didapat nantinya akan di kategorikan dalam kategori yang

sudah ditentukan yakni skor <17 artinya tidak mengalami kecemasan,

skor 18-24 artinya kecemasan ringan, skor 25-30 artinya kecemasan

sedang, dan skor >30 merupakan kecemasan berat. Kelebihan dari

kuesioner ini adalah kuesioner ini dapat digunakan untuk mengetahui

gejala dini dari kecemasan, sedangkan kelemahan dalam kuesioner ini

yakni kemampuan kuesioner yang kurang bisa membedakan antara gejala

kecemasan dengan akibat dari kecemasan, serta kecemasan somatik

dengan efek samping somatik.

F. Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Validitas merupakan suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-

benar mengukur apa yang diukur (Saryono, 2008). Uji validitas bertujuan

untuk mengetahui sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur

dalam melakukan tugas pengukurannya. Analisis yang digunakan adalah uji

statistik korelasi product moment. Analisis korelasi product moment

merupakan analisis untuk menguji validitas instrumen yang dicapai apabila

data yang dihasilkan dari instrumen tersebut sesuai dengan data penelitian

yang dimaksud (Saryono, 2008).

30
(∑ ) − (∑ ) (∑ )
=
[ ∑ − (∑ ) ][ ∑ − (∑ ) ]

Keterangan :

r : koefisien korelasi

ΣX : jumlah skor pertanyaan

ΣY : jumlah skor total

N : jumlah responden

Kriteria pengujian:

Jika r > r tabel, berarti item pernyataan adalah valid

Jika r < r tabel, berarti item pernyataan adalah tidak valid

Uji validitas dalam penelitian ini akan dilakukan pada 20 orang mahasiswa.

Kuesioner dikatakan valid jika r hitung lebih besar dari r tabel, r tabel

disini diperoleh dari nilai df yakni df = n-2, maka df = 20-2 = 18, jika df 18,

maka nilai r tabel adalah 0,444. Kuesioner valid jika r hitung > 0,444.

Berdasarkan hasil uji validitas yang dilakukan di tempat penelitian yakni

RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo dengan responden sebanyak 20 responden

yang dilakukan pada tanggal 25-27 Juli 2013 diperoleh hasil bahwa semua

pernyataan variabel baik variabel ilmu pengetahuan dasar, atmosfer sosial,

program pelatihan dan workshop, supervisi dan beban kerja dinyatakan valid.

Tabel 3.2. Validitas Instrumen


Jumlah Item Rentang
No Variabel Item valid
Awal Validitas
1 Ilmu pengetahuan dasar 5 0,584-0,874 5
2 Atmosfer sosial 5 0,496-0,765 5
3 Program pelatihan dan workshop 5 0,550-0,861 5
4 Supervisi 5 0,657-0,935 5
5 Beban kerja 5 0,534-0,831 5

31
Berdasarkan tabel 3.2 di atas dapat dilihat bahwa semua pernyataan

kuesioner dari setiap variabel dinyatakan valid karena r hitung lebih dari

besar r tabel.

Reliabilitas merupakan indeks yang menunjukan sejauh mana suatu alat

pengukur dapat dipercaya dan dapat diandalkan (Saryono, 2008). Bila suatu

alat pengukur digunakan dua kali untuk mengukur gejala yang sama dan hasil

pengukuran relatif konsisten, maka alat pengukur tersebut reliable. Rumus

koefisien reliabilitas Alpha-Cronbach (Arikunto, 2006):


= 1−
−1

Keterangan :

r11 = Reliabilitas instrumen

k = Banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal

a2b = Jumlah varians butir

a2t = Varians total

Kriteria pengujian:

Jika r xx’ > r tabel, berarti kuesioner reliabel

Jika r xx’ r tabel, berarti kuesioner tidak reliable

Uji validitas dan reliabilitas pada penelitian ini dilakukan hanya untuk

kuesioner lingkungan belajar klinik. Setelah diuji validitas dan reliabilitas

maka kuesioner lingkungan belajar klinik akan layak digunakan dalam

penelitian, sedangkan kuesioner data pribadi dan kuesioner kecemasan tidak

diuji validitas dan reliabilitas karena kuesioner data pribadi hanya berisi

pertanyaan seputar data pribadi responden seperti nama, jenis kelamin, umur

32
dan lain-lain, sedangkan kuesioner kecemasan (HARS) tidak diuji validitas

dan reliabilitasnya karena kuesioner ini telah diuji validitas dan reliabilitas

oleh peneliti-peneliti sebelumnya dan sudah banyak peneliti yang

menggunakan kuesioner ini. Nilai validitas dan reliabilitas dari skala HARS

sendiri adalah masing-masing 0,93 dan 0,97. Kondisi ini menunjukkan bahwa

pengukuran kecemasan dengan menggunakan skala HARS akan memperoleh

hasil yang valid dan reliable.

Uji validitas dan reliabilitas akan dilakukan kepada mahasiswa profesi

Ners yang sedang melakukan praktek kerja di lingkungan RSUD Prof. dr.

Margono Soekarjo Purwokerto.

Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa kuesioner dari semua variabel

dinyatakan reliabel, yakni sebagai berikut:

Tabel 3.3. Hasil Uji Reliabilitas


No Variabel Nilai reliabilitas
1 Ilmu pengetahuan dasar 0,874
2 Atmosfer sosial 0,814
3 Program pelatihan dan workshop 0,853
4 Supervisi 0,923
5 Beban kerja 0,833

Berdasarkan hasil uji reliabilitas di atas, dapat dilihat bahwa semua

variabel dinyatakan reliabel dengan nilai r hitung lebih dari r tabel (0,444).

G. Teknik Pengumpulan Data

Data diperoleh dengan memberikan kuesioner kepada responden.

Kuesioner berisi tentang faktor-faktor lingkungan belajar klinik dan kuesioner

kecemasan dengan menggunakan kuesioner HARS. Pembagian kuesioner

33
dilakukan oleh peneliti kepada mahasiswa program profesi Ners. Sebelum

pelaksanaan, peneliti menjelaskan maksud dan tujuan penelitian kepada

responden serta menyampaikan tentang kerahasiaan atas jawaban yang

diberikan dalam kuesioner dan penelitian tidak berdampak negatif bagi

responden. Peneliti meminta persetujuan untuk menjadi responden dengan

memberikan lembaran informed consent sebagai bukti kesediaan sebagi

responden dalam penelitian ini. Jika mahasiswa bersedia, maka responden

menandatangani lembar informed consent.

Setelah itu peneliti memberikan penjelasan mengenai cara-cara pengisian

kuesioner, kemudian kuesioner diberikan kepada responden. Responden

diberikan waktu dan diminta untuk mengisi data sesuai yang tercantum dalam

kuesioner penelitian. Apabila ada pernyataan yang tidak jelas dapat

ditanyakan kepada peneliti.

Jenis Data

1. Data Primer

Data primer diperoleh langsung dari responden melalui kuesioner

yang sudah diisi dan sebelumnya telah diberikan informasi tentang

gambaran isi kuesioner. Jika ada pernyataan yang tidak jelas bagi

responden, maka peneliti memberikan informasi atau penjelasan. Data

primer mencakup identitas diri responden, jawaban kuesioner lingkungan

belajar klinik dan jawaban kuesioner skala HARS.

34
2. Data Sekunder

Data sekunder digunakan untuk melengkapi dan mendukung data

primer. Data responden diperoleh dari data RSUD Prof. dr. Margono

Soekarjo Purwokerto, dan apabila lembar kuesioner tentang identitas

responden belum diisi dengan lengkap, maka peneliti bisa menanyakan

kepada pihak Rumah Sakit.

H. Jalannya Penelitian

Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap yaitu:

1. Tahap persiapan yaitu tahap menyiapkan proposal penelitian, survey

pendahuluan untuk memperoleh data yang diperlukan, membuat kuesioner

untuk diuji validitas dan reliabilitas terlebih dahulu, dan studi dokumentasi

serta literatur yang berhubungan dengan masalah penelitian.

2. Pelaksanaan penelitian yang dimulai dengan uji validitas dan reliabilitas

kuesioner. Responden mahasiswa profesi Ners akan diberikan kuesioner

setelah mendapat pengarahan dari peneliti mengenai tujuan penelitian dan

tata cara pengisisn kuesioner kemudian diberi waktu untuk mengisi

kuesioner.

3. Tahap pengumpulan dan penelitian, meliputi kegiatan menemui sumber

data atau responden untuk memperoleh data dengan menggunakan

kuesioner. Sebelumnya telah dilakukan permohonan perijinan sesuai

aturan yang berlaku di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto.

Penelitian ini dilakukan oleh peneliti sendiri.

35
4. Tahap penyusunan laporan dan penyajian hasil penelitian. Setelah kegiatan

pelaksanaan penelitian selesai dilakukan, kemudian disusun laporan

penelitian yang harus dipertanggungjawabkan melalui pemaparan hasil

penelitian dalam sebuah sidang atau dalam sebuah ujian hasil penelitian.

I. Pengolahan dan Analisis Data

Setelah kuesioner yang dibagikan kepada mahasiswa dikumpulkan

kembali oleh peneliti, maka langkah selanjutnya adalah melakukan

pengolahan dan analisa data. Sebelum data dianalisis, data diolah terlebih

dahulu, kegiatan dalam mengolah data menurut Bungin (2006) meliputi :

1. Editing

Editing adalah memeriksa pernyataan yang telah diserahkan oleh para

pengumpul data. Tujuan dari editing adalah untuk mengurangi kesalahan

dan kekurangan yang ada dalam lembar pertanyaan yang sudah

diselesaikan sampai sejauh mungkin, jika ada kesalahan maka

pengambilan data akan diulang. Dalam penelitian ini peneliti akan

memeriksa data tentang hasil dari kuesioner lingkungan belajar klinik dan

kecemasan pada mahasiswa.

2. Coding

Coding adalah mengklasifikasikan jawaban dari responden ke dalam

kategori-kategori. Klasifikasi dilakukan dengan cara memberi skor pada

masing-masing jawaban berupa angka kemudian di masukkan ke dalam

36
lembar jawaban agar mempermudah membacanya dan memungkinkan

untuk diolah dengan komputer.

3. Tabulasi data

Peneliti memasukkan semua jawaban (lingkungan belajar klinik dan

kecemasan) yang sudah diberi skor ke dalam tabel (skoring).

4. Analisa data

Setelah data diperoleh, selanjutnya dilakukan pengolahan data secara

komputerisasi. Adapun analisis yang digunakan adalah:

a. Analisis univariat

Analisa yang digunakan untuk melakukan analisis distribusi dan

presentasi karakteristik. Analisis data dilakukan dengan analisis

deskriptif dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, untuk mengetahui

proporsi masing-masing variabel yang diteliti pada subjek penelitian

menggunakan teknik deskriptif kuantitatif yang dinyatakan dalam

bilangan prosentase, dengan menggunakan rumus:

= 100%

Keterangan:

P : Jumlah prosentase yang dicari

F : Jumlah frekuensi untuk setiap kategori

N : Jumlah populasi

Dalam analisis univariat penelitian ini, peneliti akan

mendeskripsikan variabel bebas dan terikat dalam prosentase diataranya

37
adalah jenis kelamin, umur, lingkungan belajar klinik dan tingkat

kecemasan pada mahasiswa.

b. Analisis bivariat

Analisa bivariat adalah analisis yang menggunakan dua variabel

yaitu variabel bebas dan variabel terikat (Arikunto, 2006). Teknik

analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel

bebas yaitu lingkungan belajar klinik dan variabel terikat yaitu

kecemasan. Analisa bivariat juga terdapat signifikansi atau kemaknaan

antara variabel-variabel yang diteliti, dalam penelitian ini peneliti

mencoba uji signifikansi atau kemaknaan guna mengetahui angka

kemaknaan dari variabel-variabel yang diteliti, uji ini menggunakan

rumus Chi Square yakni sebagai berikut:

∑( − )
=

Keterangan:

∑ : Penjumlahan

X2 : Chi Square

O : Frekuensi observasi pada tabel

E : Frekuensi ekspektasi pada sel tabel.

Derajat kesalahan yang digunakan dalam penelitian ini dalah 5%

(taraf kepercayaan). Untuk melihat hasil kemaknaan statistik digunakan

degree of freedom (df) atau derajat kebebasan yakni jika p value < 0,05

maka hasilnya bermakna yang artinya Ha diterima, dan jika p value >

38
0,05 maka hasilnya tidak bermakna yang artinya Ha ditolak atau Ho

diterima.

Jika nilai <5 lebih dari 20% maka menggunakan uji alternatif

Fisher Exact Test dengan merubah table 2x2 terlebih dahulu.

J. Etika Penelitian

Dalam melakukan penelitian, peneliti memandang perlu adanya

rekomendasi dari pihak institusi dengan mengajukan permohonan izin kepada

instansi tempat penelitian dalam hal ini diajukan kepada Kepala Rumah Sakit

atupun Kepala Ruangan yang bersangkutan. Setelah mendapat persetujuan

barulah dilakukannya penelitian.

Suatu penelitian harus berpedoman pada norma dan etika. Menurut

Nursalam (2003) dalam penelitian yang subjeknya manusia, maka ada tiga

prinsip penelitian yang harus diperhatikan, yaitu:

1. Prinsip Manfaat

a. Bebas dari penderitaan

Penelitian harus dilaksanakan tanpa mengakibatkan penderitaan

kepada subjek, khususnya jika menggunakan tindakan khusus. Teknik

pengumpulan data yang digunakan adalah menggunakan kuisioner

sehingga tidak mengakibatkan penderitaan bagi responden.

b. Bebas dari eksploitasi

Partisipasi subjek dalam penelitian, harus dihindarkan dari

keadaan yang tidak menguntungkan. Mahasiswa diyakinkan bahwa

39
partisipasinya dalam penelitian ini tidak akan disalahgunakan demi

kepentingan pribadi serta menjelaskan manfaat dari penelitian ini bagi

subjek, peneliti dan masyarakat. Hal ini dapat dibuktikan dengan tidak

mencantumkan nama subjek penelitian dalam kuesioner.

c. Resiko

Peneliti harus mempertimbangkan resiko dan keuntungan yang

akan berakibat kepada subjek penelitian pada setiap tindakan. Dalam

penelitian ini, resiko dapat diminimalisir karena penelitian yang

dilakukan bukan bersifat eksperimen dan hanya menggunakan

instrumen penelitian berupa kuesioner.

2. Prinsip Menghormati Manusia

Peneliti memberikan informed consent dan informasi secara lengkap

tentang tujuan penelitian ini. Setelah subjek bersedia menjadi responden,

maka subjek menandatangani lembar persetujuan. Pada informed consent

dicantumkan bahwa data yang diperoleh hanya akan digunakan untuk

pengembangan ilmu. Peneliti menjelaskan informasi mengenai tujuan

penelitian pada mahasiswa serta memberikan informed consent. Jika

subjek penelitian yaitu mahasiswa bersedia menjadi responden, maka

subjek menandatangani lembar persetujuan. Namun jika tidak bersedia,

tidak ada pemberian sanksi apapun.

3. Prinsip Keadilan

Peneliti memperlakukan subjek secara adil baik sebelum, selama, dan

sesudah keikutsertaannya dalam penelitian ini tanpa adanya diskriminasi

40
apabila ternyata mereka tidak bersedia atau Dropped out sebagai

responden. Peneliti merahasiakan informasi (confidentially) yang

diberikan oleh subjek dan untuk menjaga kerahasiaan identitas subjek,

peneliti menyediakan kuesioner tanpa mencantumkan identitas nama

responden (anonymity). Lembar tersebut hanya diberi nomor kode tertentu.

Jika subjek penelitian tidak bersedia menjadi responden maka peneliti

tidak memperlakukan secara tidak adil.

41
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Pengolahan data hasil penelitian dimulai dengan menyusun dalam skala-

skala. Data berbentuk kuantitatif, yaitu data yang berupa angka-angka atau

bilangan-bilangan. Selanjutnya data yang bersifat kuantitatif, yang berwujud

angka-angka hasil perhitungan dari jawaban mahasiswa di deskripsikan dalam

bentuk persentase.

Persentase dilakukan dengan membandingkan hasil penjumlahan data

yang valid dan dibandingkan dengan jumlah skor total kali 100 %. Hasil

perhitungan ditafsirkan dengan kalimat yang bersifat deskriptif. Hal ini

dimaksudkan untuk mempermudah dalam memahami hasil akhir dalam

mengkualifikasikan hasil penelitian tersebut.Berikut ini disajikan data secara

keseluruhan dari hasil penelitian yang telah dilakukan.

1. Hasil analisis univariat

a. Karakteristik responden

1) Karakteristik responden berdasarkan umur

Dilihat dari rentan usia responden ini 20-45 dengan Retara/mean

usia 25 tahun, standart deviasi 5,063 dan varians 20,09%

42
2) Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat

pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1. Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin (n=65)


No Jenis Kelamin Frequency Percent(%)
1. Laki-laki 30 46,2
2. Perempuan 35 53,8
Total 65 100
Sumber: Data primer terolah

Berdasarkan Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa responden yang

berjenis kelamin laki-laki sebanyak 30 responden (46,2%), sedangkan

responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 35 responden

(53,8%).

3) Variabel Ilmu Pengetahuan Dasar, Atmosfer Sosial, Program

Pelatihan dan Workshop, Supervisi, Beban Kerja, dan Tingkat

Kecemasan

Distribusi frekuensi Ilmu Pengetahuan Dasar, Atmosfer Sosial,

Program Pelatihan dan Workshop, Supervisi, dan Beban Kerja

mahasiswa program profesi ners di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo

dapat dilihat pada tabel-tabel berikut:

a) Distribusi frekuensi Ilmu Pengetahuan Dasar mahasiswa program

profesi ners di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo

Tabel 4.2. Distribusi frekuensi Ilmu Pengetahuan Dasar


mahasiswa program profesi ners di RSUD Prof. dr.
Margono Soekarjo (n=65)
Variabel Frequency Percent (%)
Ilmu Pengetahuan Dasar
Kurang 17 26,2
Baik 35 53,8
Sangat Baik 13 20,0
Total 65 100

43
Sumber: Data primer terolah

Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa dari 65

responden yang sedang menjalani program profesi ners di RSUD

Prof. dr. Margono Soekarjo sebagian besar responden mempunyai

ilmu pengetahuan dasar yang baik sejumlah 35 responden (23,8%).

b) Distribusi frekuensi Atmosfer Sosial mahasiswa program profesi

ners di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo

Tabel 4.3. Distribusi frekuensi Atmosfer Sosial mahasiswa


program profesi ners di RSUD Prof. dr. Margono
Soekarjo (n=65)
Variabel Frequency Percent (%)
Atmosfer Sosial
Kurang 14 21,5
Baik 35 53,8
Sangat Baik 16 24,6
Total 65 100
Sumber: Data primer terolah

Berdasarkan tabel 4.3 di atas dapat diketahui bahwa dari 65

responden, sebagian besar responden merasakan atmosfer sosial

yang baik yakni sebanyak 35 responden (53,8%).

c) Distribusi frekuensi Program Pelatihan dan Workshop mahasiswa

program profesi ners di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo

Tabel 4.4. Distribusi frekuensi Program Pelatihan dan Workshop


mahasiswa program profesi ners di RSUD Prof. dr.
Margono Soekarjo (n=65)
Variabel Frequency Percent (%)
Program Pelatihan dan Workshop
Kurang 21 32,3
Baik 33 50,8
Sangat Baik 11 16,9
Total 65 100
Sumber: Data primer terolah

Berdasarkan tabel 4.4 di atas dapat diketahui bahwa dari 65

responden, sebagian besar responden mempunyai program

44
pelatihan dan workshop yang baik yakni sebanyak 33 responden

(50,8%).

d) Distribusi frekuensi Supervisi mahasiswa program profesi ners di

RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo

Tabel 4.5. Distribusi frekuensi Supervisi mahasiswa program


profesi ners di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo
(n=65)
Variabel Frequency Percent (%)
Supervisi
Kurang 9 13,8
Baik 39 60,0
Sangat Baik 17 26,2
Total 65 100
Sumber: Data primer terolah

Berdasarkan table 4.5 di atas, dapat diketahui bahwa sebagian

dari 65 responden, sebagian besar responden mempunyai supervisi

yang baik yakni sebanyak 39 responden (60%).

e) Distribusi frekuensi Beban Kerja mahasiswa program profesi ners

di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo

Tabel 4.6. Distribusi frekuensi Beban Kerja mahasiswa program


profesi ners di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo
(n=65)
Variabel Frequency Percent (%)
Beban Kerja
Kurang 15 23,1
Baik 36 55,4
Sangat Baik 14 21,5
Total 65 100
Sumber: Data primer terolah

Berdasarkan tabel 4.6 di atas, dapat diketahui bahwa dari 65

responden, sebagian besar responden mempunyai beban kerja yang

baik yakni sebanyak 36 responden (55,4%).

45
f) Distribusi frekuensi Tingkat Kecemasan mahasiswa program

profesi ners di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo

Tabel 4.7. Distribusi frekuensi Tingkat Kecemasan mahasiswa


program profesi ners di RSUD Prof. dr. Margono
Soekarjo (n=65)
Variabel Frequency Percent (%)
Tingkat Kecemasan
Tidak ada kecemasan 21 32,3
Kecemasan ringan 26 40,0
Kecemasan sedang 18 27,7
Kecemasan berat 0 0
Total 65 100
Sumber: Data primer terolah

Berdasarkan tabel 4.7 di atas, dapat diketahui bahwa dari 65

responden, sebagian besar responden mempunyai tingkat

kecemasan ringan yakni sebanyak 26 responden (40%).

2. Hasil analisis bivariat

Uji awal menggunakan rumus Chi square dan ditemukan banyak nilai

<5 sebanyak 20% maka di lakukan uji ke dua menggunakan rumus Fisher

Exact Test. Hasil analisis bivariat dalam penelitian ini disajikan dalam

bentuk tabulasi silang. Tabulasi silang dimaksudkan untuk mengamati dan

mengetahui hubungan antara dua variabel. Dalam penelitian ini, tidak ada

responden yang mengalami kecemasan tingkat berat, maka dari itu peneliti

menggunakan teknik penggabungan sel untuk kecemasan tingkat berat

digabungkan dengan kecemasan tingkat sedang.

46
a. Hubungan antara Ilmu Pengetahuan Dasar dengan Tingkat Kecemasan

Hasil uji Fisher’s Exact antara ilmu pengetahuan dasar dengan

tingkat kecemasan pada mahasiswa program profesi ners di RSUD Prof.

dr. Margono Soekarjo dapat dilihat pada Tabel 4.8.

Tabel 4.8. Hasil uji Fisher’s Exact antara ilmu pengetahuan dasar
dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa program
profesi ners di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo
Ilmu Tingkat Kecemasan p value
No Pengetahuan Ringan Berat Total
Dasar n % n % n %
1. Kurang 10 58,8 7 42,2 17 100
2. Baik 35 72,9 13 27,1 48 100 0,361
Total 45 69,2 20 30,8 65 100

Tabel 4.8 menunjukkan mahasiswa yang memiliki atau

berpengetahuan dasar baik lebih banyak mengalami kecemasan ringan

meskipun demikian mahasiswa yang berpengetahuan dasar kurang juga

lebih banyak yang mengalami kecemasan ringan. Hasil uji Fisher’s Exact

bahwa nilai p value = 0,361 (p value < 0,05) yang artinya tidak ada

hubungan yang bermakna antara ilmu pengetahuan dasar dengan tingkat

kecemasan pada mahasiswa program profesi ners di RSUD Prof. dr.

Margono Soekarjo.

b. Hubungan antara Atmosfer Sosial dengan Tingkat Kecemasan

Hasil uji Fisher’s Exact antara atmosfer sosial dengan tingkat

kecemasan pada mahasiswa program profesi ners di RSUD Prof. dr.

Margono Soekarjo dapat dilihat pada Tabel 4.9.

47
Tabel 4.9. Hasil uji Fisher’s Exact antara atmosfer sosial dengan
tingkat kecemasan pada mahasiswa program profesi ners
di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo
Tingkat Kecemasan p value
Atmosfer
No Ringan Berat Total
Sosial
n % N % n %
1. Kurang 6 42,9 8 57,1 14 100
2. Baik 39 76,5 12 23,5 51 100 0.023
Total 45 69,2 20 30,8 65 100

Tabel 4.9 menunjukkan mahasiswa yang merasakan atmosfer yang

baik lebih banyak mengalami kecemasan ringan. Sebaliknya mahasiswa

merasakan atsmosfer kurang lebih banyak mengalami kecemasan berat.

Hasil uji Fisher’s Exact menunjukkan bahwa nilai p value = 0,023 (p

value < 0,05). Hal ini menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara

atmosfer sosial dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa program

profesi ners di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo. Table 4.9

c. Hubungan antara Program Pelatihan dan Workshop dengan Tingkat

Kecemasan

Hasil uji Fisher’s Exact antara program pelatihan dan workshop

dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa program profesi ners di

RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo dapat dilihat pada Tabel 4.10.

Tabel 4.10. Hasil uji Fisher’s Exact antara program pelatihan dan
workshop dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa
program profesi ners di RSUD Prof. dr. Margono
Soekarjo
Program Tingkat Kecemasan p value
No Pelatihan dan Ringan Berat Total
Workshop N % n % n %
1. Kurang 10 47,6 11 52.4 21 100
0.020
2. Baik 35 79.5 9 20.5 44 100
Total 45 100 20 100 65 100

48
Tabel 4.10 menunjukkan mahasiswa yang merasakan adanya program

pelatihan dan workshop yang baik cenderung mengalami kecemasan

yang ringan saja sebaliknya mahasiswa yang merasakan kurang

mendapatkan pelatihan dan workshop cenderung merasakan kecemasan

yang berat hasil Fisher’s Exact. Hasil uji Fisher’s Exact menunjukkan

bahwa nilai p value = 0,020 (p value > 0,05) yang artinya ada hubungan

yang bermakna antara program pelatihan dan workshop dengan tingkat

kecemasan pada mahasiswa program profesi ners di RSUD Prof. dr.

Margono Soekarjo.

d. Hubungan antara Supervisi dengan Tingkat Kecemasan

Hasil uji Fisher’s Exact antara supervisi dengan tingkat kecemasan

pada mahasiswa program profesi ners di RSUD Prof. dr. Margono

Soekarjo dapat dilihat pada Tabel 4.11.

Tabel 4.11. Hasil uji Fisher’s Exact antara supervisi dengan tingkat
kecemasan pada mahasiswa program profesi ners di
RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo
Tingkat Kecemasan p value
No Supervisi Ringan Berat Total
n % N % n %
1. Kurang 6 66.7 3 33.3 9 100
1.000
2. Baik 39 69.9 17 30.4 56 100
Total 45 100 20 100 65 100

Tabel 4.11 menunjukkan mahasiswa yang mendapatkan supervisi

baik maupun mahasiswa yang kurang mendapatkan supervisi sama-sama

lebih banyak mengalami tingkat kecemasan ringan. Hasil uji Fisher’s

Exact menunjukkan bahwa nilai p value = 1,000 (p value > 0,05) yang

49
artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara supervisi dengan

tingkat kecemasan pada mahasiswa program profesi ners di RSUD Prof.

dr. Margono Soekarjo.

e. Hubungan antara Beban Kerja dengan Tingkat Kecemasan

Hasil uji Fisher’s Exact antara beban kerja dengan tingkat

kecemasan pada mahasiswa program profesi ners di RSUD Prof. dr.

Margono Soekarjo dapat dilihat pada Tabel 4.12.

Tabel 4.12. Hasil uji Fisher’s Exact antara beban kerja dengan tingkat
kecemasan pada mahasiswa program profesi ners di
RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo
Tingkat Kecemasan p value
No Beban Kerja Ringan Berat Total
n % n % n %
1. Kurang 11 73.3 4 26.7 15 100
0.761
2. Baik 34 68.0 16 32.0 50 100
Total 45 100 20 100 65 100

Tabel 4.12 menunjukkan mahasiswa yang merespon beban

kerjanya selama praktek itu baik maupun yang kurang baik, lebih banyak

mengalami kecemasan yang ringan saja. Hasil uji Fisher’s Exact

menunjukkan bahwa nilai p value = 0,761 (p value > 0,05) yang artinya

tidak ada hubungan yang bermakna antara beban kerja dengan tingkat

kecemasan pada mahasiswa program profesi ners di RSUD Prof. dr.

Margono Soekarjo.

50
B. Pembahasan

1. Karakteristik Responden

a. Karakteristik Responden berdasarkan Umur

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa

responden dengan umur terbanyak adalah 23 tahun sebanyak 24

responden (36,9%). Umur yang termuda adalah 20 tahun sebanyak 1

responden (1,5%), dan umur yang tertua adalah 42 tahun sebanyak 1

responden (1,5%).

Responden dengan umur yang jauh lebih tua, akan cenderung

memiliki pengalaman yang lebih dalam menghadapi masalah kecemasan.

Umumnya umur yang lebih tua akan lebih baik dalam menangani

masalah kecemasan, mekanisme koping yang baik akan mempermudah

mengatasi masalah kecemasan.

b. Karakteristik Responden berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan hasil penelitian, dapat dilihat bahwa jenis kelamin

yang terbanyak adalah responden dengan jenis kelamin perempuan

sebanyak 35 responden (60%), sedangkan responden dengan jenis

kelamin laki-laki sebanyak 30 responden (46,2%).

Dunia keperawatan sangat didominasi oleh kaum wanita, karena

dari peminatnya juga kebanyakan kaum wanita dibanding dengan laki-

laki, selain itu profesi keperawatan dianggap identik dengan rasa keibuan

seorang wanita. Perawat perempuan pada umumnya mempunyai

kelebihan dibandingkan dengan perawat laki-laki yang terletak pada

51
kesabaran, ketelitian, tanggap, kelembutan, naluri mendidik, merawat,

mengasuh, melayani dan membimbing yang bisa meminimalisasikan

kesalahan-kesalahan yang dibuat yang bisa menyebabkan kecemasan

tersendiri.

2. Hubungan antara Ilmu Pengetahuan Dasar dengan Tingkat Kecemasan

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa tidak ada hubungan

antara faktor ilmu pengetahuan dasar dengan tingkat kecemasan pada

mahasiswa program profesi ners di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo

dengan p value = 0,361. Tidak berhubung karena kemungkinan secara

umum responden mempunyai pengetahuan yang relative sama.

Teori pendidikan mempengaruhi konteks pembelajaran di dalamnya.

Lingkungan belajar meliputi semua kekuatan yang mempengaruhi

pembelajaran dan perkembangan individu melampaui batasan ruang kelas.

Dunn & Hansford (1997) menyatakan bahwa lingkungan pembelajaran

klinik memberikan kesempatan untuk membuat hubungan antara teori dan

praktek dan menyesuaikan antara keterampilan dan pengetahuan

mereka.Teori tersebut menyatakan bahwa lingkungan mereka memberikan

mereka kesempatan untuk mengaplikasikan hasil dari pembelajaran selama

perkuliahan yang mereka peroleh sebagai seorang perawat.

Ilmu pengetahuan dasar sangatlah penting sebagai bekal bagi seorang

perawat dalam melakukan tindakan klinik di Rumah Sakit. RSUD Prof. dr.

Margono Soekarjo merupakan rumah sakit dengan standar pengetahuan

kerja yang tinggi, hal ini menuntut perawat untuk memiliki pengetahuan

52
kerja yang tinggi. Rumah sakit dengan pengetahuan kerja yang tinggi akan

sangat berdampak pada pembentukan iklim pada lingkungan belajar klinik

karena dengan pengetahuan yang tinggi perawat mempunyai pandangan

lebih obyektif terhadap iklim organisasi yang ada di dalam rumah sakit,

begitu juga sebaliknya, perawat yang memiliki pengetahuan kerja yang

minimal, cenderung subjektif dalam menilai sesuatu yang ada di

lingkungannya.

3. Hubungan antara Atmosfer Sosial dengan Tingkat Kecemasan

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa ada hubungan antara

faktor atmosfer sosial dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa program

profesi ners di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo dengan p value = 0,023.

Menurut Foley et al (2002), penelitiannya yang berfokus pada

pengaruh persepsi sebagai role model dan bagaimana efek dari kegiatan

sosialisasi dari mahasiswa ke dalam kegiatan profesi keperawatan.

Menyatakan bahwa mahasiswa harus mempunyai hubungan sosial yang

baik kepada CI, perawat klinik, staf maupun kepada pasien yang sedang

menjalai rawat inap. Pendapat yang hampir sama juga dikemukakan oleh

Siu et al (2005) yang menemukan bahwa struktur lingkungan belajar yang

kuat dan didukung oleh atmosfer sosial yang baik, akan meningkatkan

motivasi, kepercayaan dan meningkatkan arah pembelajaran diri mahasiswa

profesi ke arah yang lebih baik.

Teori diatas mendukung hasil penelitian ini, dari penelitian yang

dilakukan oleh peneliti, didapatkan hasil bahwa responden yang terbanyak

53
adalah responden dengan atmosfer sosial yang baik dan tidak mengalami

kecemasan yakni sebanyak 13 responden (61,9%). Hal ini sejalan dengan

pernyataan responden yang menyetujui bahwa CI, perawat maupun pasien

bisa bekerja sama dengan mahasiswa profesi keperawatan. Jika ada

hubungan kerja sama dan hubungan sosial yang baik, maka tingkat

kecemasan pada mahasiswa program profesi akan berkurang.

4. Hubungan antara Program Pelatihan dan Workshop dengan Tingkat

Kecemasan

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa ada hubungan antara

faktor program pelatihan dan workshop dengan tingkat kecemasan pada

mahasiswa program profesi ners di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo

dengan p value = 0,020.

Menurut Lee (1997), menyatakan bahwa mahasiswa keperawatan

dalam menjalani profesi keperawatan lebih dipengaruhi oleh pengalaman

yang didapat dari program-program pelatihan, dan bukan dari pengalaman

educational yang didapatnya selama perkuliahan di kelas. Dalam

mempersiapkan tenaga keperawatan yang professional, program pelatihan

keperawatan seharusnya digolongkan ke dalam model pembelajaran.

Kesuksesan pelatihan dalam program pelatihan pendidikan

keperawatan dipengaruhi oleh seberapa jauh tingkat keberhasilan dari

kurikulum pelatihan tersebut dalam mengubah mahasiswa keperawatan

menjadi ahli yang professional, berpengetahuan dan berkemampuan baik

tanpa memandang apakah mahasiswa tersebut mempunyai pendekatan yang

54
terintegrasi baik secara praktek maupun teori. Tujuan dari program pelatihan

seharusnya dikemukakan secara terbuka, sehingga mahasiswa keperawatan

dapat mempelajari secara keseluruhan isi dan tujuan dari program pelatihan

tersebut selama pelatihan berlangsung (French, 1994).

Teori diatas mendukung hasil penelitian ini yang menyatakan bahwa

responden yang terbanyak adalah responden dengan program pelatihan dan

workshop yang baik dan tidak terjadi kecemasan yakni sebanyak 15

responden (71,4%). Hal ini bisa disebabkan karena dengan adanya program

pelatihan yang diterapkan pada mahasiswa, mahasiswa akan mendapatkan

pengalaman yang lebih jika dibandingkan dengan hanya belajar dari teori di

kelas, sehingga dengan adanya pengalaman itulah bisa meminimalisir

kesalahan-kesalahan dalam praktik klinik di lapangan yang bisa

menyebabkan kecemasan.

5. Hubungan antara Supervisi dengan Tingkat Kecemasan

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa tidak ada hubungan

antara faktor supervisi dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa program

profesi ners di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo dengan p value = 0,568

dan 1,000.

Menurut Kilminster et al (2007),supervisi yang baik seharusnya

menghargai pengalaman dan perasaan mahasiswa profesi, dengan tujuan

akhir pengelolaan pasien yang lebih baik. Sehingga, supervisi yang efektif

meliputi beberapa aspek, yang meliputi: sesuai konteks, pengamatan

langsung, pemberian umpan balik, multi aspek, serta hubungan

55
interpersonal yang baik. Pemberian umpan balik sepatutnya dilakukan untuk

poin-poin yang cukup penting serta dilakukan dalam frekuensi yang cukup

sering. Pemberian umpan balik yang efektif akan mendorong tercapainya

kemandirian mahasiswa, sehingga supervisi dengan lingkungan belajar

klinik adalah saling berhubungan.

Teori di atas memperkuat hasil penelitian yang menyatakan bahwa

sebagian besar responden adalah responden dengan supervisi yang baik dan

tingkat kecemasan rendah yakni sebanyak 17 responden (65,4%). Hal ini

membuktikan bahwa hubungan antara mahasiswa profesi dengan CI

sangatlah baik, sehingga pemberian umpan balik antara mahasiswa dengan

CI maupun perawat lainnya berjalan dengan baik, dan tingkat kecemasan

pun akan menurun.

6. Hubungan antara Beban Kerja dengan Tingkat Kecemasan

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa tidak ada hubungan

antara faktor beban kerja dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa

program profesi ners di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo dengan p value =

0,761.

Keterlibatan mahasiswa dengan beban kerja klinik yang mencukupi

dan sesuai dengan kapasitas sebagai mahasiswa, akan menambah

kepercayaan mahasiswa dan mengurangi kecemasan akibat beban kerja

yang berlebihan (Chesser-Smhyth, 2005). Menurut Eraut (2005), terdapat

empat elemen penting dalam menurunkan tingkat kecemasan mahasiswa

akibat beban kerja, yang pertama adalah dengan melibatkan mahasiswa

56
secara langsung dalam kerja pkaktik klinik, melibatkan mahasiswa lainnya

sehingga mahasiswa tersebut merasa ada yang menemani dalam melakukan

tindakan klinik, segera menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dengan

baik dan benar, sehingga tugas tidak menumpuk, dan yang terakhir adalah

dengan cara melibatkan klien/pasien, mengajak bekerja sama dengan klien.

Teori di atas mendukung hasil penelitian ini, yang menyatakan bahwa

responden dengan beban kerja yang baik dan tidak mengalami kecemasan

sebanyak 13 responden (86,7%). Beban kerja yang memadai dan masih bisa

dilaksanakan oleh mahasiswa profesi dengan baik, akan menurunkan tingkat

kecemasan mahasiswa, disamping itu, pengalaman mahasiswa juga akan

semakin terasah dengan adanya beban kerja yang cukup, dan mahasiswa

tidak merasa terbebani dengan kerja klinik.

57
C. Keterbatasan Penelitian

1. Sampel yang diambil dalam penelitian ini terlalu sedikit, sehingga hasil

penelitian ini tidak bisa digeneralisasikan. Harapannya, penelitian

selanjutnya menggunakan jumlah sampel yang lebih besar.

2. Instrument penelitian dalam penelitian ini masih kurang spesifik, terlalu

sedikit untuk setiap variable dan harus dilengkapi dengan observasi,

sehingga data yang di peroleh masih jauh dari akurat.

58
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa:

Gambaran lingkungan belajar klinik di RSUD. Prof. dr. Margono

Soekarjo Purwokerto dapat disimpulkan sebagai brikut : meliputi kondisi

lingkungan belajar mahasiswa, atmosfer sosial, program pelatihan dan

workshop, supervisi dan beban kerja. Kondisi lingkungan belajar di RSUD.

Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto dalam kondisi yang baik, atmosfer

sosial di RSUD Prof. dr. margono soekarjo dalam kondisi yang baik,

program pelatihan dan workshop dalam kondisi dalam mayoritas baik,

supervisi yang di terima oleh mahasiswa mayoritas baik, beban kerja yang

praktik dalam kondisi yang baik. Sebagian mahasiswa mengalami

kecemasan yang ringan atau tidak mengalami kecemasan.

Atmosfer sosial dan program pelatihan dan workshop meliki

hubungan yang bermakna dengan program. Variable Ilmu pngetahuan dasar

dan beban kerja mahasiswa tidak memiliki hubungan yang bermakna.

59
B. Saran

1. Bagi Institusi Pendidikan

Mahasiswa harus dibekali dengan kemampuan untuk menciptakan

atmosfer yang positif melalui menumbuhkan rasa percaya diri dan

mempersiapkan pelajaran dengan baik. Kemudian mahasiswa juga perlu

dilibatkan pelatihan dan workshop yang berkaitan dengan praktik-praktik

klinik yang diselenggarakan oleh rumah sakit.

2. Bagi Lahan Praktik

Para CI di anjurkan dilatih dengan pelatihan pendidikan agar dapat

memahami beban psikologis mahasiswa selama praktik,

mengkomunikasikan beban kerja dengan mahasiswa praktik atau berbagi

tugas mahasiswa praktik dalam memberikan asuhan keperawatan dan

menyelenggarakn pelatihan-pelatihan dan workshop yang terjangkau oleh

mahasiswa, ciptakan lingkungan social yang baik kegiatan bersama CI dan

mahasiswa.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Penelitian selanjutnya direkomendasikan memperluas area penelitian

pada pendidikan ners di perguruan tinggi baik negeri maupun swasta,

dengan memasukkan variabel perancu dalam analisis. Serta peneliti

selanjutnya menambahkan jumlah responden atau mahasiswa yang sedang

melakukan profesi ners dan kuisioner penelitian.

60
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto.(2006). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek edisi revisi


keenam.Jakarta: PT RinekaCita.

Bungin, M. B. (2006). Metodologi penelitian kuantitatif.Jakarta: Kencana.

Calvin S. Hall. (1999). A primer of freudian psychology. Plume Publisher

Chan, D. (2002). Development of the clinical learning environment inventory:


Using the theoretical framework of learning environment studies to assess
nursing students' perceptions of the hospital as a learning environment. .
Journal of Nursing Education. 41(2), 69-75

Chesser-Smyth, P. (2005). The lived experiencesof general student nurses on their


fi rst clinicalplacement: A phemonenological study. NurseEducation in
Practice, 5(6), 320–327.

Dunn, S, V., & Burnett, P. (1995) The development of a clinical learning


environment scale. Journal of Advanced Nursing,22,1166-1173.

Dunn, S. V., & Hansford, B. (1997). Undergraduate nursing students' perceptions


of their clinical learning environment.Journal of Advanced Nursing, 25(6).

Emilia, O. (2008). Kompetensi dokter dan lingkungan belajar klinik di rumah


sakit. Gadjah Mada Univeersity Press. Yogyakarta

Eraut, M. (2004). Informal learning in the workplace.Studies in Continuing


Education, 26(2),247–273.

Foley, B. J., Minick, M. P., &Kee, C. C. (2002). How nurses learn advocacy.
Journal of Nursing Scholarship, 34, 181-186.

French P. (1994). The creative management of practicum. In Nurse Education: An


International Perspective (Brink H.I. &Mashaba T.G. eds), Juta Publishers,
Cape Town, pp. 125–147.

Grealish, L., & Ranse, K. (2009). An exploratory study of first year nursing
students’ learning in the clinical workplace.Contemporary Nurse. 33(1), 80-
92.

Hamilton, M. (1959). The assessment of anxiety state by rating.Br J Med Psychol.


32. 50-55

Hidayat, A, A. (2007). Riset keperawatan dan teknik penulisan ilmiah. Salemba


Medika: Jakarta
Hutchinson, L. (2003). ABC of learning and teaching: Educational environment.
BMJ, 326, 810-812

Kilminster, S.M., Cotterall, D., Grant, J. & Jolly, B.C. (2007) AMEE Guide No.
27: Effective educational and clinical supervision. Medical Teacher, 29, 2–
19.

Knox, J.E., &Mogan, J. (1985). Important clinical teaching behaviors as perceived


by university nursing faculty, students, and graduates. Journal of Advanced
Nursing, 10,25-30.

Lazarus, Richard S. (1991). Progress on a cognitive-motivational-relational theory


of Emotion.American Psychologist SaransondanSpielberger.

Lee, C, H. (1997). Education in the practicum: a study of the ward learning


climate in Hong Kong. Journal of Advance Nursing.26, 455-462.

Locken, T., &Norberg, H. (2005).Reduced anxiety improves learning ability of


nursing students through utilization of mentoring triads. College of
Nursing.Brigham Young University. Utah. 1-5.

Maramis, W.F. (1995). CatatanIlmuKedokteranJiwa. Surabaya: Airlangga


University Press

Moscariloto, L, M. (2009). Interventional strategies to decrease nursing student


anxiety in the clinical learning environment.Journal of Nursing Education,
48(1), 17-23

Muldowney, Y., & McKee, G. (2011).Nurses new to intensive care: perceptions


of their clinical learning environment.Nursing in Critical Care. 16(4), 201-
209.

Mulyono.A, W. (2011). Survey: Lingkungan belajar klinik menurut mahasiswa


praktikan.

Notoatmodjo, S. (2003). Pendidikan dan perilaku kesehatan.RinekaCipta. Jakarta

Notoatmodjo, S. (2005). Metode penelitian kesehatan.RinekaCipta. Jakarta

Nursalam. (2002). Manajemen Keperawatan: \ Aplikasi dalam Praktik


Keperawatan Profesional, SalembaMedika: Jakarta

Pannen, P., Sadjati, I, M. (2001).Pembelajaran orang dewasa. PAU-PPAI


Universitas Terbuka: Jakarta
Papp, I., Markkanen, M. & von Bonsdorff, M., (2003). Clinical environment as
learning environment: student nurses’ perceptions concerning clinical
learning experiences. Nurse Education Today, 2, p. 262-268.

Rahmani, A., Zamanzadeh, V., Abdullah-zadeh, F., Lotfi, M., Bani, S.,
&Hassanpour, S. (2011). Clinical learning environment in viewpoints of
nursing students in Tabriz University of Medical Sciences.IJNMR, 14(3),
253-256

Reilly,&Oerman. (2002). Nursing: Human science and human care. National


Language for Nursing. New York

Resnayati, Y. (2007). Faktor determinan pengalaman belajar klinik keperawata


nmedikal bedah.31-39.

Rotem, A., L. Bloomfield, et al. (1996). The clinical learning environment.Israel


Journal Of Medical Sciences, 32(9), 705-710

Saryono, (2008), Metodologi Penelitian Kesehatan, Jogjakarta: Mitra Cendikia


Press

Sharif, F., &Masoumi, S. (2005). A qualitative study of nursing student


experiences of clinical practice. BMC Nursing, 4(6).

Siu, H. M., Laschinger, H. K. S., &Vingilis, E. (2005).The effect of problem


based learning on nursing students' perceptions of empowerment.Journalof
Nursing Education, 44, 459.

Sugiyono.(2006). Statistik untuk penelitian. Alfabeta: Bandung

Tang, F., Chou, S., & Chiang, H. (2005). Students' perceptions of effective and
ineffective clinical instructors.Journal of Nursing Education, 44, 187-192

Tjakrawerdaya, D. 1987. Rasa bersalah sebagai motif mekanisme difensi pada


gangguan cemas secara menyeluruh. Majalah Psikiatri Jiwa. Jakarta:
Yayasan Kesehatan Jiwa Dharmawangsa Suryabrata

Williams, C. (2010). Understanding the essential elements of work-based learning


andits relevance to everyday clinical practice.Journal of Nursing
Management. 18, 624-632.
SURAT PERSETUJUAN SEBAGAI RESPONDEN

Yang bertandatangan di bawahini:

Nama :

Umur :

JenisKelamin :

PendidikanTerakhir :

Pekerjaan :

Alamat :

Dengan ini menyatakan setuju untuk menjadi responden dalam penelitian

yang berjudul “HUBUNGAN LINGKUNGAN BELAJAR

KLINIKTERHADAP TINGKAT KECEMASAN MAHASISWA

PROGRAM PROFESI NERSDI RSUD PROF. DR. MARGONO

SOEKARDJO PURWOKERTO”

Demikian surat persetujuan ini saya buat untuk dipergunakan sebagaimana

mestinya.

Purwokerto, …….. 2013

Peneliti Responden

AldiMaswihardo C ………………………
Kode:

KUESIONER PENELITIAN
HUBUNGAN LINGKUNGAN BELAJAR KLINIK
TERHADAP TINGKAT KECEMASAN MAHASISWA
PROGRAM PROFESI NERS
FKIK UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN DI
RSUD DR. MARGONO SOEKARDJO
PURWOKERTO

A. Data Pribadi

JenisKelamin : L/P*

Usia :

Ruang :

Stase :

B. Kuesioner Lingkungan Belajar Klinik


Berikan tanda chek (√) pada kolom bagian yang sudah disediakan yang sesuai
dengan anda.
SS : SangatSetuju
S : Setuju
TS : TidakSetuju
STS : SangatTidakSetuju

1. IlmuPengetahuanDasar
Jawaban
No Pertanyaan
SS S TS STS
1 Saya tidak begitu mengerti dan tahu tentang
tindakan keperawatan yang akan saya
lakukan kepada pasien
2 Saya dapat bertanya sebanyak apapun yang
kami ingin tahu di tempat praktik
3 Pertanyaan kami dapat terjawab dengan
memuaskan di ruang praktik ini
4 Buku atau literature tersedia untuk
mahasiswa di ruang tempat praktik
5 Pengalaman praktik di tempat ini
memberikan saya contoh terbaik bagaimana
saya nanti bekerja secara profesional
2. AtmosferSosial
Jawaban
No Pertanyaan
SS S TS STS
1 Ruang tempat saya praktik sekarang adalah
tempat yang menyenangkan baik untuk
perawat maupun untuk pasien
2 CI menunjukkan perhatian besar terhadap
kebutuhan belajar saya di tempat praktik
3 Saya sering mendengar pasien/keluarga
mengeluhkan pelayanan perawat di ruang ini
4 Saya lebih banyak belajar dari mahasiswa
praktik keperawatan lainnya dari pada dari
staf perawat
5 Staf perawat lebih banyak menyuruh
bertanya pada CI dari pada menjelaskan
pertanyaan saya

3. Program Pelatihandan Workshop


Jawaban
No Pertanyaan
SS S TS STS
1 CI rutin mengadakan pelatihan-pelatihan di
luar praktek keperawatan yang saya lakukan
di bangsal ini
2 CI memiliki kegiatan pembelajaran klinik
yang terencana dengan baik
3 CI berusaha mencarikan solusi agar saya
dapat mencapai kompetensi praktik yang
ditargetkan
4 Bangsal/ruang praktik ini merupakan ruang
belajar terbaik dalam praktik klinik saya
5 Saya sangat senang dengan pengalaman
yang saya miliki di bangsal ini

4. Supervisi
Jawaban
No Pertanyaan
SS S TS STS
1 Saya diperlakukan seolah mahasiswa yang
belum tahu apapun, bukan dianggap sebagai
seorang individu yang utuh secara fisik
maupun emosi
2 Instruktur Klinik (CI) merelakan sebagian
waktunya untuk membimbing mahasiswa
3 CI disibukkan hal-hal penting sehingga
kurang meluangkan waktu bagi saya sebagai
mahasiswa
4 CI sering menggerutu/mengeluh pada
mahasiswa berkaitan dengan institusi
pendidikan
5 CI tidak terbiasa memberikan penjelasan
sebagaimana layaknya perawat professional
terbaik

5. BebanKerja
Jawaban
No Pertanyaan
SS S TS STS
1 Mahasiswa diberikan kelonggaran dalam
perencanaan shift jaga/dinas (missal dobel
shift, masuk di waktu libur, dll.) agar
memperoleh kesempatan ekslorasi
pengalaman lebih luas
2 Ruang tempat saya praktik lebih cenderung
menerapkan system penugasan lokasi pasien
dari pada membagi tugas berdasar
fungsional
3 Pekerjaan yang saya lakukan di bangsal ini
adalah yang paling menarik
4 Terlalu banyak ritual/rutinitas yang saya
rasakan di ruang ini
5 CI menganggap mahasiswa sebagai pekerja
dari pada seorang yang sedang belajar

C. KuesionerKecemasan
Berikantandachek (√) padakolombagian yang sudahdisediakan yang
sesuaidengananda.
0 : Tidakadagejalasamasekali
1 : Satudarigejala yang ada
2 : Separuhdarigejala yang ada
3 : Lebihdariseparuhgejala yang ada
4 : Semuagejalaada

Jawaban
No Pernyataan
0 1 2 3 4
1. Perasaancemas:
a. Kecemasan
b. Firasat buruk,
c. Takut akan pikiran sendiri,
d. Mudah tensinggung.
2. Ketegangan:
a. Merasa tegang,
b. Lesu,
c. Tidak dapat istirahat tenang,
d. Mudah terkejut,
e. Gemetar.
3. Ketakutan :
a. Ketakutan pada gelap,
b. Ketakutan ditinggal sendiri,
c. Ketakutan pada orang asing,
d. Ketakutan pada binatang besar,
e. Ketakutan pada keramaian lalu lintas.
4. Gangguan tidur:
a. Suka runtuk tidur,
b. Terbangun malam hari,
c. Tidur tidak nyenyak,
d. Bangun dengan lesu,
e. Mimpi buruk.
5. Gangguan kecerdasan:
a. Sukar konsentrasi,
b. Daya ingat buruk,
c. Daya ingat menurun.
6. Perasaan depresi:
a. Kehilangan minat,
b. Sedih,
c. Bangun dini hari,
d. Kurangnya kesenangan pada hoby,
e. Perasaan berubah sepanjang hari.
7. Gejalasomatik:
a. Nyeri pad aotot,
b. Kaku,
c. Kedutan otot,
d. Gigi gemeretak,
e. Suara tidak stabil.
8. Gejala sensorik:
a. Perasaan di tusuk-tusuk,
b. Penglihatan kabur,
c. Muka merah
d. Pucat
e. Merasa lemah.
9. Gejala kardiovaskuler:
a. Takikardi,
b. Nyeri di dada,
c. Denyut nadi mengeras
d. Detak jantung hilang sekejap.
10. Gejala pernapasan:
a. Rasa tertekan di dada,
b. Perasaan tercekik,
c. Sering menarik napas panjang
d. Merasa napas pendek.
11. Gejala gastrointestinal:
a. Sulit menelan,
b. Mual,
c. Perut melilit,
d. Gangguan pencernaan,
e. Nyeri lambung sebelum dan sesudah
makan.
12. Gejala urogenital:
a. Sering kencing,
b. Tidak dapat menahan kencing,
c. Amenorrhoe,
d. Masa haid berkepanjangan atau pendek,
e. Haid beberapa kali dalam sebulan,
13. Gejala vegetatif :
a. Mulut kering,
b. Mudah berkeringat,
c. Muka merah,
d. Bulu roma berdiri,
e. Pusing atau sakit kepala.
14 Perilaku sewaktu wawancara:
a. Gelisah,
b. Jari-jari gemetar,
c. Mengkerut kan dahi atau kening,
d. Muka tegang,
e. Tonus otot meningkat.

Total skor : …..


KategoriKecemasan
a. Tidak ada kecemasan, jikaskor< 17
b. Kecemasan ringan, jikaskor 18-24
c. Kecemasan sedang, jikaskor 25-30
d. Kecemasan berat, jikaskor> 30
ANALISIS UNIVARIAT
Frequencies

Statistics

JenisKelamin IPD AS PPW S BK Kecemasan

N Valid 65 65 65 65 65 65 65

Missing 0 0 0 0 0 0 0
Skewness -.158 .077 -.039 .211 -.090 .018 .081
Std. Error of Skewness .297 .297 .297 .297 .297 .297 .297
Kurtosis -2.039 -.788 -.799 -.852 -.407 -.721 -1.333
Std. Error of Kurtosis .586 .586 .586 .586 .586 .586 .586

JenisKelamin

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Laki-laki 30 46.2 46.2 46.2

Perempuan 35 53.8 53.8 100.0

Total 65 100.0 100.0

Ilmu Pengetahuan Dasar

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Kurang 17 26.2 26.2 26.2

Baik 35 53.8 53.8 80.0

Sangat Baik 13 20.0 20.0 100.0

Total 65 100.0 100.0


Atmosfer Sosial

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Kurang 14 21.5 21.5 21.5

Baik 35 53.8 53.8 75.4

Sangat Baik 16 24.6 24.6 100.0

Total 65 100.0 100.0

Program Pelatihan dan Workshop

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Kurang 21 32.3 32.3 32.3

Baik 33 50.8 50.8 83.1

Sangat Baik 11 16.9 16.9 100.0

Total 65 100.0 100.0

Supervisi

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Kurang 9 13.8 13.8 13.8

Baik 39 60.0 60.0 73.8

Sangat Baik 17 26.2 26.2 100.0

Total 65 100.0 100.0


Beban Kerja

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Kurang 15 23.1 23.1 23.1

Baik 36 55.4 55.4 78.5

Sangat Baik 14 21.5 21.5 100.0

Total 65 100.0 100.0

Kecemasan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Tidak ada kecemasan 21 32.3 32.3 32.3

Kecemasan ringan 26 40.0 40.0 72.3

Kecemasan sedang 18 27.7 27.7 100.0

Total 65 100.0 100.0

Statistics

umur

N Valid 65

Missing 0

Mean 25.20

Std. Error of Mean .628

Median 23.00

Std. Deviation 5.063

Variance 25.631

Minimum 20

Maximum 42
umur

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 20 1 1.5 1.5 1.5

21 1 1.5 1.5 3.1

22 10 15.4 15.4 18.5

23 24 36.9 36.9 55.4

24 13 20.0 20.0 75.4

25 5 7.7 7.7 83.1

26 1 1.5 1.5 84.6

30 2 3.1 3.1 87.7

34 2 3.1 3.1 90.8

38 4 6.2 6.2 96.9

40 1 1.5 1.5 98.5

42 1 1.5 1.5 100.0

Total 65 100.0 100.0


ANALISIS BIVARIAT

Crosstabs
Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

IPD * Kecemasan 65 100.0% 0 .0% 65 100.0%

IPD * Kecemasan Crosstabulation

Kecemasan

kecemasan Kecemasan
ringan berat Total

IPD Kurang Count 10 7 17

Expected Count 11.8 5.2 17.0

% within IPD 58.8% 41.2% 100.0%

% within Kecemasan 22.2% 35.0% 26.2%

Baik Count 35 13 48

Expected Count 33.2 14.8 48.0

% within IPD 72.9% 27.1% 100.0%

% within Kecemasan 77.8% 65.0% 73.8%

Total Count 45 20 65

Expected Count 45.0 20.0 65.0

% within IPD 69.2% 30.8% 100.0%

% within Kecemasan 100.0% 100.0% 100.0%


Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 1.171 1 .279
b
Continuity Correction .602 1 .438

Likelihood Ratio 1.134 1 .287

Fisher's Exact Test .361 .217

Linear-by-Linear Association 1.153 1 .283


b
N of Valid Cases 65

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5.23.

b. Computed only for a 2x2 table

Symmetric Measures

Asymp. Std.
a b
Value Error Approx. T Approx. Sig.
c
Interval by Interval Pearson's R -.134 .129 -1.075 .287
c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation -.134 .129 -1.075 .287

N of Valid Cases 65

a. Not assuming the null hypothesis.

b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.

c. Based on normal approximation.

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

AS * Kecemasan 65 100.0% 0 .0% 65 100.0%


AS * Kecemasan Crosstabulation

Kecemasan

kecemasan Kecemasan
ringan berat Total

AS Kurang Count 6 8 14

Expected Count 9.7 4.3 14.0

% within AS 42.9% 57.1% 100.0%

% within Kecemasan 13.3% 40.0% 21.5%

Baik Count 39 12 51

Expected Count 35.3 15.7 51.0

% within AS 76.5% 23.5% 100.0%

% within Kecemasan 86.7% 60.0% 78.5%

Total Count 45 20 65

Expected Count 45.0 20.0 65.0

% within AS 69.2% 30.8% 100.0%

% within Kecemasan 100.0% 100.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 5.826 1 .016
b
Continuity Correction 4.355 1 .037

Likelihood Ratio 5.469 1 .019

Fisher's Exact Test .023 .021

Linear-by-Linear Association 5.737 1 .017


b
N of Valid Cases 65

a. 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4.31.
Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 5.826 1 .016
b
Continuity Correction 4.355 1 .037

Likelihood Ratio 5.469 1 .019

Fisher's Exact Test .023 .021

Linear-by-Linear Association 5.737 1 .017


b
N of Valid Cases 65

a. 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4.31.

b. Computed only for a 2x2 table

Symmetric Measures

Asymp. Std.
a b
Value Error Approx. T Approx. Sig.
c
Interval by Interval Pearson's R -.299 .130 -2.491 .015
c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation -.299 .130 -2.491 .015

N of Valid Cases 65

a. Not assuming the null hypothesis.

b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.

c. Based on normal approximation.

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

PPW * Kecemasan 65 100.0% 0 .0% 65 100.0%


PPW * Kecemasan Crosstabulation

Kecemasan

kecemasan Kecemasan
ringan berat Total

PPW Kurang Count 10 11 21

Expected Count 14.5 6.5 21.0

% within PPW 47.6% 52.4% 100.0%

% within Kecemasan 22.2% 55.0% 32.3%

Baik Count 35 9 44

Expected Count 30.5 13.5 44.0

% within PPW 79.5% 20.5% 100.0%

% within Kecemasan 77.8% 45.0% 67.7%

Total Count 45 20 65

Expected Count 45.0 20.0 65.0

% within PPW 69.2% 30.8% 100.0%

% within Kecemasan 100.0% 100.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 6.802 1 .009
b
Continuity Correction 5.386 1 .020

Likelihood Ratio 6.593 1 .010

Fisher's Exact Test .020 .011

Linear-by-Linear Association 6.697 1 .010


b
N of Valid Cases 65

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6.46.

b. Computed only for a 2x2 table


Symmetric Measures

Asymp. Std.
a b
Value Error Approx. T Approx. Sig.
c
Interval by Interval Pearson's R -.323 .125 -2.714 .009
c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation -.323 .125 -2.714 .009

N of Valid Cases 65

a. Not assuming the null hypothesis.

b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.

c. Based on normal approximation.

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

S * Kecemasan 65 100.0% 0 .0% 65 100.0%


S Kecemasan Crosstabulation

Kecemasan

kecemasan Kecemasan
ringan berat Total

S Kurang Count 6 3 9

Expected Count 6.2 2.8 9.0

% within S 66.7% 33.3% 100.0%

% within Kecemasan 13.3% 15.0% 13.8%

Baik Count 39 17 56

Expected Count 38.8 17.2 56.0

% within S 69.6% 30.4% 100.0%

% within Kecemasan 86.7% 85.0% 86.2%

Total Count 45 20 65

Expected Count 45.0 20.0 65.0

% within S 69.2% 30.8% 100.0%

% within Kecemasan 100.0% 100.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square .032 1 .857
b
Continuity Correction .000 1 1.000

Likelihood Ratio .032 1 .858

Fisher's Exact Test 1.000 .568

Linear-by-Linear Association .032 1 .859


b
N of Valid Cases 65

a. 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2.77.

b. Computed only for a 2x2 table


Symmetric Measures

Asymp. Std.
a b
Value Error Approx. T Approx. Sig.
c
Interval by Interval Pearson's R -.022 .126 -.177 .860
c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation -.022 .126 -.177 .860

N of Valid Cases 65

a. Not assuming the null hypothesis.

b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.

c. Based on normal approximation.

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

BK * Kecemasan 65 100.0% 0 .0% 65 100.0%


BK Kecemasan Crosstabulation

Kecemasan

kecemasan Kecemasan
ringan berat Total

BK Kurang Count 11 4 15

Expected Count 10.4 4.6 15.0

% within BK 73.3% 26.7% 100.0%

% within Kecemasan 24.4% 20.0% 23.1%

Baik Count 34 16 50

Expected Count 34.6 15.4 50.0

% within BK 68.0% 32.0% 100.0%

% within Kecemasan 75.6% 80.0% 76.9%

Total Count 45 20 65

Expected Count 45.0 20.0 65.0

% within BK 69.2% 30.8% 100.0%

% within Kecemasan 100.0% 100.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square .154 1 .695
b
Continuity Correction .005 1 .941

Likelihood Ratio .157 1 .692

Fisher's Exact Test .761 .480

Linear-by-Linear Association .152 1 .697


b
N of Valid Cases 65

a. 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4.62.

b. Computed only for a 2x2 table


Symmetric Measures

Asymp. Std.
a b
Value Error Approx. T Approx. Sig.
c
Interval by Interval Pearson's R .049 .120 .387 .700
c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation .049 .120 .387 .700

N of Valid Cases 65

a. Not assuming the null hypothesis.

b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.

c. Based on normal approximation.