Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

SISTE ENDOKRIN TENTANG DIABETES MELITUS

Di susun oleh :

1. Khoridatun (2017011956)
2. Roitul munawaroh (2017011967)
3. Siti anisyah (2017011970)
4. Ulfatin azizah (2017011974)

PSIK 4B

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


CENDEKIA UTAMA KUDUS
TAHUN 2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Definisi
Diabetes mellitus adalah sekelompok kelainan yang ditandai oleh peningkatan kadar
glukosa darah (hiperglikemia). Mungkin terdapat penurunan dalam kemampuan tubuh
untuk berespon terhadap insulin dan atau penurunan atau tidak terdapatnya pembentukan
insulin oleh pancreas. Kondisi ini mengarah pada hiperglikemia, yang dapat menyebabkan
terjadinya komplikasi metabolic akut seperti ketoasidosis diabetic. Hiperglikema jangka
panjang dapat menunjang terjadinya komplikasi mikrovaskular kronis (penyakit ginjal dan
mata) serta komplikasi neuropati. Diabetes juga berkaitan dengan kejadian penyakit
makrovaskuler, termasuk infark miokard, stroke, dan penyakit vaskuler perifer.
Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik
hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, diabetes mellitus adalah penyakit
yang ditandai oleh tingginya glukosa dalam darah, pada dasarnya hal ini karena tubuh
kekurangan hormon insulin yang diproduksi oleh kelenjar prankreas (sri hartini, 2009).
B. Klasifikasi
1. Diabetes Melitus tipe 1 /insulin-dependent diabetes mellitus (IDDM).
Diabetes melitus tipe I adalah bila tubuh perlu pasokan insulin dari luar,
karena sel-sel beta dari pulau-pulau langerhans telah mengalami kerusakan,
sehingga pankreas berhenti memproduksi insulin. Kerusakan sel beta tersebut
dapat terjadi sejak kecil ataupun setelah dewasa (Lanny, 2007). Pada Diabetes
Melitus tipe 1 ini, terjadi perusakan sel-sel pankreas yang memproduksi insulin.
Kebanyakan penderita Diabetes tipe ini sudah terdiagnosa sejak usia muda.
Umumnya pada saat mereka belum mencapai usia 30 tahun. Karenanya sering juga
diabetes ini disebut dengan Diabetes yang bermula pada usia muda (juvenile-onset
diabetes)
2. Diabetes Melitus tipe 2 / Non-insulin-dependent diabetes mellitus(NIDDM).
Diabetes tipe 2 terjadi jika insulin hasil produksi pankreas tidak cukup atau sel
lemak dan otot tubuh menjadi kebal terhadap insulin, sehingga terjadilah gangguan
pengiriman gula ke sel tubuh. Diabetes tipe 2 ini merupakan tipe Diabetes yang
paling umum dijumpai, juga sering disebut Diabetes yang dimulai pada masa
dewasa, dikenal sebagai NIDDM ( Non-insulin-dependent diabetes melitus). Jenis
diabetes ini mewakili sekitar 90 % dari seluruh kasus diabetes . Diabetes tipe 2
ditandai dengan kerusakan fungsi sel beta pankreas dan resisten insulin, atau oleh
menurunya pengambilan glukosa oleh jaringan sbagai respons terhadap insulin.
Kadar insulin dapat normal, turun atau meningkat, tapi sekresi insulin terganggu
dalam hubungannya dengan tingkat hiperglikemia. Ini biasanya didiagnosa setelah
berusia 30 tahun, dan 75% dari individu dengan tipe 2 adalah obesitas atau dengan
riwayat obesitas.
3. Diabetes millitus tipe lain
a. Defek genetik fungsi sel beta:
- Maturiti onset diabetes of the young (MODY)1/2.
- DNA mitokondria
b. Defek genetik kerja insulin
Penyakit eksokrin pancreas :
- Pancreatitis
- Tumor / pankreatektomi
- Pankreatopati fibrokalkulus
c. Diabetes mellitus gestasional (DMG)
Pada golongan ini, kondisi diabetes dialami sementara selama masa
kehamilan.Artinya kondisi intoleransi glukosa didapati pertama kali pada
masa kehamilan, biasanya pada semester kedua dan ketiga. Diabetes
Melitus gestasional berhubungan dengan meningkatnya komplikasi
perinatal (sekitar waktu melahirkan) dan sang ibu memiliki resiko untuk
menderita penyakit Diabetes Melitus yang lebih besar dalam jangka waktu
5-10 tahun setelah melahirkan. Diabetes tipe ini merupakan intolerensi
karbohidrat akibat terjadinya hiperglikemia dengan berbagai keparahan
dengan serangan atau keparahan awal selama masa kehamilan.
C. Etilogi
Diabetes melitus merupakan suatu sindroma klinik yang ditandai oleh poliuri,
polidipsi, danpolifagi serta peningkatan kadar glukosa atau disebut hiperglikemia yaitu
suatu kadar guladarah yang tingginya sudah membahayakan (farkolUI,2009). Hal tersebut
dikarenakan tubuhtidak mampu mengendalikan jumlah gula, atau glukosa, dalam aliran
darah dan terjadi akibatsekresi insulin yang tidak adekuat atau tidak ada, dengan atau
tanpa gangguan kerja insulin(Katzung,2007). Insulin merupakan suatu hormon polipeptida
yang disintesis oleh sel khususdi pancreas yaitu sel beta pulau Langerhans. Insulin memberi sinyal
kepada sel tubuh agar menyerap glukosa. Insulin, bekerja dengan hormone pancreas lain yang disebut
glukagon, juga mengendalikan jumlah glukosa dalam darah. Apabila tubuh menghasilkan
terlampausedikit insulin atau jika tubuh tidak menanggapi insulin dengan tepat terjadilah
diabetesmellitus. Gangguan metabolisme lemak dan protein serta resiko timbulnya
gangguan mikrovaskular dan makrovaskular meningkat dapat terjadi apabila diabetes
mellitus tidak segera diatasi(farkol UI,2009).
Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengendalikan diabetes mellitus antara
lainmakanan yang rendah kadar gulanya, obat yang di minum, atau suntukan insulin
secarateratur. Meskipun begitu, penyakit ini lama kelamaan terkadang menyebabkan
komplikasiseperti kebutaan dan stroke. Penyebab utama diabetes di era globalisasi adalah
adanyaperubahan gaya hidup (pola makan yang tidak seimbang, kurang aktivitas fisik).
Selain itu,adanya stress, kelainan genetika, usia yang semakin lama semakin tua dapat pula
menjadisalah satu faktor penyebab timbulnya penyakit diabetes. Penyakit ini dapat dicegah
denganmerubah pola makan yang seimbang (hindari makanan yang banyak mengandung
protein,lemak, gula, dan garam), melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari
(berenang,bersepeda, jogging, jalan cepat), serta rajin memeriksakan kadar gula urine
setiap tahun.
D. Patofisiologi
Pada keadaan normal kurang lebih 50% glukosa yang dimakan mengalami
metabolisme sempurna menjadi CO2 dan air, 10% menjadi glikogen dan 20% sampai 40%
diubah menjadi lemak. Pada diabetes mellitus semua proses tersebut terganggu karena
terdapat defisiensi insulin. Penyerapan glukosa kedalam sel macet dan metabolismenya
terganggu. Keadaan ini menyebabkan sebagian besar glukosa tetap berada dalam sirkulasi
darah sehingga terjadi hiperglikemia. Penyakit diabetes mellitus disebabkan oleh karena
gagalnya hormone insulin. Akibat kekurangan insulin maka glukosa tidak dapat diubah
menjadi glikogen sehingga kadar gula darah meningkat dan terjadi hiperglikemi. Ginjal
tidak dapat menahan hiperglikemi ini, karena ambang batas untuk gula darah adalah
180mg% sehingga apabila terjadi hiperglikemi maka ginjal tidak bisa menyaring dan
mengabsorbsi sejumlah glukosa dalam darah. Sehubungan dengan sifat gula yang
menyerap air maka semua kelebihan dikeluarkan bersama urine yang disebut glukosuria.
Bersamaan keadaan glukosuria maka sejumlah air hilang dalam urine yang disebut
poliuria. Poliuria mengakibatkan dehidrasi intraseluler, hal ini akan merangsang pusat
haus sehingga pasien akan merasakan haus terus menerus sehingga pasien akan minum
terus yang disebut polidipsi. Produksi insulin yang kurang akan menyebabkan
menurunnya transport glukosa kel sel-sel sehingga sel-sel kekurangan makanan dan
simpanan karbohidrat, lemak dan protein menjadi menipis. Karena digunakan untuk
melakukan pembakaran dalam tubuh, maka klien akan merasa lapar sehingga
menyebabkan banyak makan yang disebut poliphagia. Terlalu banyak lemak yang dibakar
maka akan terjadi penumpukan asetat dalam darah yang menyebabkan keasaman darah
meningkat atau asidosis. Zat ini akan meracuni tubuh bila terlalu banyak hingga tubuh
berusaha mengeluarkan melalui urine dan pernapasan, akibatnya bau urine dan napas
penderita berbau aseton dan bau buah- buahan. Keadaan asidosis ini apabila tidak segera
diobati akan terjadi koma yang disebut koma diabetic.
E. Manifestasi klinis
Seseorang dapat dikatakan menderita Diabetes Melitus apabila menderita dua dari tiga
gejala yaitu :
a. Keluhan Trias : poliuria (banyak kencing), polidipsia (banyak minum), polifagia
(banyak makan)
b. Kadar glukosa darah pada waktu puasa lebih dari 120 mg/dl
c. Kadar glukosa darah dua jam setelah makan lebih dari 200 mg/dl Keluhan lainnya
yang sering terjadi adalah : berat badan menurun, lemah, kesemutan, gatal, visus
menurun, bisul/luka, keputihan.
Gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah :
a. Katarak
b. Glaucoma
c. Retinopati
d. Gatal seluruh badan
e. Pruritus vulvae
f. Infeksi bakteri kulit
g. Infeksi jamur di kulit
h. Dermatopati
i. Neuropati perifer
j. Neuropati visceral
k. Amiotropi
l. Ulkus neurotropik
m. Penyakit ginjal
n. Penyakit pembuluh darah perifer
o. Penyakit koroner
p. Penyakit pembuluh darah otak
q. Hipertensi Defisiensi insulin yang tadinya bersifat relative sekarang menjadi
absolute dan timbul keadaan ketoasidosis dengan gejala khas hiperventilasi dan
dehidrasi, kesadaran menurun dengan hiperglikemia, dehidrasi dan ketonemia.

Pada pasien dengan kebingungan dan koma, merupakan gangguan metabolisme


serebral yang tampak lebih jelas. Terdapat lima grade ulkus diabetikum antara lain : a.
Grade 0 : tidak ada luka b. Grade I : kerusakan hanya sampai pada permukaan kulit c.
Grade II : kerusakan kulit mencapai otot dan tulang d. Grade III : terjadi abses e. Grade
IV : gangren pada kaki bagian distal f. Grade V : gangrene pada seluruh kaki dan tungkai
bawah distal

F. Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan
kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati.
Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal
tanpa terjadi hipoglikemia dan gangguan serius pada pola aktivitas pasien.
1. Diet Syarat diet DM hendaknya dapat :
a. Memperbaiki kesehatan umum penderita.
b. Mengarahkan pada berat badan normal
c. Menormalkan pertumbuhan DM anak dan dan DM dewasa muda
d. Mempertahankan kadar KGD normal
e. Menekan dan menunda timbulnya penyakit angiopati diabetic
f. Memberikan modifikasi diit sesuai dengan keadaan penderita
g. Menarik dan mudah diberikan
2. Latihan Beberapa kegunaan latihan teratur setiap hari bagi penderita DM adalah :
a. Meningkatkan kepekaan insulin (glukosa uptake), apabila dikerjakan setiap 1 1/2
jam sesudah makan, berarti pula mengurangi insulin resisten pada penderita
dengan kegemukan atau menambah jumlah reseptor insulin dan meningkatkan
sensitivitas insulin dengan reseptornya.
b. Mencegah kegemukan apabila ditambah latihan pagi dan sore .
c. Memperbaiki aliran perifer dan menambah supply oksigen
d. Meningkatkan kadar kolesterol-high density lipoprotein
e. Kadar glukosa otot dan hati menjadi berkurang, maka latihan akan dirangsang
pembentukan glikogen baru
f. Menurunkan kolesterol (total) dan trigliserida dalam darah karena pemba karan
asam lemak menjadi lebih baik.
h. Pemeriksaan penunjang
a. Glukosa darah sewaktu
b. Kadar glukosa darah puasa Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan
penyaring diagnosis DM (mg/dl) Bukan DM Belum pasti DM DM Kadar glukosa
darah sewaktu - Plasma vena - Darah kapiler Kadar glukosa darah puasa - Plasma
vena - Darah kapiler < 100 <80 <110 <90 100-200 80-200 110-120 90-110 >200
>200 >126 >110 Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2
kali pemeriksaan : a. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L) b. Glukosa
plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L) c. Glukosa plasma dari sampel yang diambil
2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) >
200 mg/dl
c. Tes Toleransi Glukosa Oral/TTGO Tes ini telah digunakan untuk mendiagnosis
diabetes awal secara pasti, namun tidak dibutuhkan untuk penapisan dan tidak
sebaiknya dilakukan pada pasien denganmanifestasi klinis diabetes dan
hiperglikemia.
Cara pemeriksaannya adalah :
1.Tiga hari sebelum pemeriksaan, pasien makan seperti biasa
2.Kegiatan jasmani cukup
3.Pasien puasa selama 10 – 12 jam
4.Periksa kadar glukosa darah puasa
5.Berikan glukosa 75 gram yang dilarutkan dalam air 250 ml, lalu minum
dalamwaktu 5 menit
6.Periksa kadar glukosa darah saat ½, 1, dan 2 jam setelah diberi glukosa
7.Saat pemeriksaan, pasien harus istirahat, dan tidak boleh merokok
Pada keadaan sehat, kadar glukosa darah puasa individu yang dirawat jalan
dengantoleransi glukosa normal adalah 70 – 110 mg/dl. Setelah pemberian glukosa,
kadar glukosa akan meningkat, namun akan kembali ke keadaan semula dalam
waktu 2 jam.Kadar glukosa serum yang < 200 mg/dl setelah ½. 1, dan 1 ½ jam
setelah pemberianglukosa, dan <140 mg/dl setelah 2 jam setelah pemberian glukosa,
ditetapkan sebagainilai TTGO normal.
d. Tes Benedict Pada tes ini, digunakan reagen Benedict, dan urin sebagai spesimen
Cara kerja :
1.Masukkan 1 – 2 ml urin spesimen ke dalam tabung reaksi
2.Masukkan 1 ml reagen Benedict ke dalam urin tersebut, lalu dikocok
3.Panaskan selama kurang lebih 2-3 menit
4.Perhatikan jika adanya perubahan warna
Tes ini lebih bermakna ke arah kinerja dan kondisi ginjal, karena pada
keadaan DM,kadar glukosa darah amat tinggi, sehingga dapat merusak kapiler dan
glomerulus ginjal,sehingga pada akhirnya, ginjal mengalami ”kebocoran” dan dapat
berakibat terjadinyaRenal Failure, atau Gagal Ginjal. Jika keadaan ini dibiarkan tanpa
adanya penangananyang benar untuk mengurangi kandungan glukosa darah yang
tinggi, maka akan terjadi berbagai komplikasi sistemik yang pada akhirnya
menyebabkan kematian karena GagalGinjal Kronik
d. Komplikasi

Gejala diabetes tipe 2 tergolong sulit dideteksi, bahkan hingga terjadinya


komplikasi. Beberapa komplikasi yang dapat dialami pasien diabetes tipe 2 meliputi:

1. Penyakit jantung dan pembuluh darah, seperti serangan jantung, dan stroke.
2. Kerusakan saraf (neuropati diabetik). Kondisi ini sering terjadi pada kaki,
dengan gejala yang muncul dapat berupa mati rasa hingga nyeri. Pada pria,
kerusakan pada saraf juga berkaitan dengan terganggunya fungsi seksual.
3. Kerusakan ginjal (nefropati diabetik). Kerusakaan yang parah dapat
menyebabkan gagal ginjal.
4. Kerusakan mata (retinopati diabetik). Kerusakaan pada pembuluh darah retina
berpotensi menyebabkan gangguan penglihatan.
5. Gangguan pendengaran.
6. Gangguan kulit, seperti lebih mudah terjangkit infeksi bakteri maupun virus.
7. Penyakit Alzheimer
BAB II

TINJAUAN KASUS

A. KASUS
Ibu D (45 thn) masuk rumah sakit dengan keluhan luka di kaki yang lama
tidak sembuh, bahkan sekarang lukanya sangat dalam sampai terlihat tulangnya.
Klien mengatakan merasa lemas dan sering kencing, padahal sering sekali minum,
dan inginnya makan terus. Dari hasil pengkajian sementara didapatkan: kondisi
umum klien: lemah, TTV : 100/80 mmHg, N:90 x/ menit, RR: 18 x/ menit, T=38oC,
TB : 165 cm, TB : 42 Kg,GCS : 15., sudah terjadi neuropati ekstremitas, kaki teraba
dingin dan terlihat pucat, gula darah sementara: 450 mg/dl, ada riwayat DM pada
anggota keluarganya (bapaknya ibu D meninggal karena komplikasi DM), sejak kecil
ibu D mengalami gizi lebih (obesitas).

B. APLIKASI PERAWAT
1. Pengkajian
a. Riwayat Kesehatan Keluarga
Adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ?
b. Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya Berapa lama klien
menderita DM, bagaimana penanganannya, mendapat terapi insulin jenis apa,
bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja yang
dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya
c. Aktivitas/ Istirahat : Letih, Lemah, Sulit Bergerak / berjalan, kram otot, tonus
otot menurun.
d. Sirkulasi Adakah riwayat hipertensi,AMI, klaudikasi, kebas, kesemutan pada
ekstremitas, ulkus pada kaki yang penyembuhannya lama, takikardi,
perubahan tekanan darah
e. Integritas Ego Stress, ansietas
f. Eliminasi Perubahan pola berkemih ( poliuria, nokturia, anuria ), diare
g. Makanan / Cairan Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan
berat badan, haus, penggunaan diuretik.
h. Neurosensori Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas kelemahan pada otot,
parestesia,gangguan penglihatan.
i. Nyeri / Kenyamanan Abdomen tegang, nyeri (sedang / berat)
j. Pernapasan Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi /
tidak)
k. Keamanan Kulit kering, gatal, ulkus kulit.
l. Pemeriksaan Diagnostik
- Adanya kadar glukosa darah yang tinggi secara abnormal. Kadar gula
darah pada waktu puasa > 140 mg/dl. Kadar gula sewaktu >200 mg/dl.
- Tes toleransi glukosa. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam
pp >200 mg/dl.
- Glukosa darah: darah arteri / kapiler 5-10% lebih tinggi daripada darah
vena, serum/plasma 10-15% daripada darah utuh, metode dengan
deproteinisasi 5% lebih tinggi daripada metode tanpa deproteinisasi.
- Glukosa urin: 95% glukosa direabsorpsi tubulus, bila glukosa darah >
160-180% maka sekresi dalam urine akan naik secara eksponensial, uji
dalam urin: + nilai ambang ini akan naik pada orang tua.
- Benda keton dalam urine.
- Pemeriksan lain: fungsi ginjal ( Ureum, creatinin), Lemak darah:
(Kholesterol, HDL, LDL, Trigleserid), Ffungsi hati, antibodi anti sel
insula langerhans ( islet cellantibody).
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan berdasarkan analisa data ditemukan diagnosa
keperawatan sebagai berikut:
1. .Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
penurunan masukan oral/ mual.
3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik
(neuropati perifer
3. Intervensi
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, maka perencanaan yang dilakukan
adalah sebagai berikut:
1. .Kekurangan volume cairan berhubuntgan dengan diuresis osmotik.
- Tujuan : kebutuhan cairan atau hidrasi pasien terpenuhi
- Kriteria Hasil : Pasien menunjukkan hidrasi yang adekuat dibuktikan
oleh tanda vital stabil, nadi perifer dapat diraba, turgor kulit dan
pengisian kapiler baik, haluaran urin tepat secara individu dan kadar
elektrolit dalam batas normal.
 Intervensi :
- Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan TD ortostatik
- Pantau pola nafas seperti adanya pernafasan kusmaul.
- Kaji frekuensi dan kualitas pernafasan, penggunaan otot bantu nafas
- Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa.
- Pantau masukan dan pengeluaran.
- Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari
dalam batas yang dapat ditoleransi jantung
- Catat hal-hal seperti mual, muntah dan distensi lambung.
- Observasi adanya kelelahan yang meningkat, edema, peningkatan BB,
nadi tidak teratur
- Kolaborasi : berikan terapi cairan normal salin dengan atau tanpa
dextrosa, pantau pemeriksaan laboratorium (Ht, BUN, Na, K).
 Rasional :
- Hypovolemia dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardia.
- Untuk mengetahui suara nafas
- Untuk mengetahui perubahan frekuensi dan kualitas pernafasan klien
Merupakan indikator dari tingkat dehidrasi, atau volume sirkulasi yang
adekuat.
- Memberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti, fungsi ginjal, dan
keefektifan dari terapi yang diberikan
- Tipe dan jumlah dari cairan tergantung pada derajat kekurangan cairan dan
respons pasien secara individua

2.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


penurunan masukan oral/ mual

- Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi

- Kriteria Hasil :

-Pasien dapat mencerna jumlah kalori atau nutrien yang tepat


-Berat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya
 Intervensi :
- Timbang berat badan setiap hari atau sesuai dengan indikasi.
- Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan
dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien.
- Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen / perut
kembung, mual, muntahan makanan yang belum sempat dicerna,
pertahankan keadaan puasa sesuai dengan indikasi
- Berikan makanan cair yang mengandung zat makanan (nutrien) dan
elektrolit dengan segera jika pasien sudah dapat mentoleransinya
melalui oral.
- Libatkan keluarga pasien pada pencernaan makan ini sesuai dengan
indikasi.
- Observasi tanda-tanda hipoglikemia seperti perubahan tingkat
kesadaran, kulit lembab/dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka
rangsang, cemas, sakit kepala.
- Kolaborasi melakukan pemeriksaan gula darah.
- Kolaborasi pemberian pengobatan insulin.
- Kolaborasi dengan ahli diet
 Rasional :
- Mengkaji pemasukan makanan yang adekuat (termasuk absorbsi dan
utilisasinya
- Untuk mengetahui suara bising usus Agar nutrisi klien terpenuhi
- Meningkatkan rasa keterlibatannya; memberikan informasi pada
keluarga untuk memahami nutrisi pasien.
- Untuk mengetahui perubahan tanda-tanda hipoglikemia
- Untuk mengetahui gula darah klien
- Insulin reguler memiliki awitan cepat dan karenanya dengan cepat
pula dapat membantu memindahkan glukosa ke dalam sel.
- Mengidentifikasi kekurangan dan penyimpangan dari kebutuhan terapeutik

3.Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status


metabolik (neuropati perifer)
- Tujuan : gangguan integritas kulit dapat berkurang atau menunjukkan
penyembuhan.
- Kriteria Hasil : Kondisi luka menunjukkan adanya perbaikan jaringan
dan tidak terinfeksi
Intervensi :
- Kaji luka, adanya epitelisasi, perubahan warna, edema, dan
discharge, frekuensi ganti balut.
- Kaji tanda vital
- Kaji adanya nyeri
- Lakukan perawatan luka
- Kolaborasi pemberian insulin dan medikasi.
- Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.
 Rasional
- Untuk mengetahui luka, adanya epitelisas, perubahan warna, edema
, discharge dan frekuensi ganti balut.
- Untuk mengetahui TTV klien
- Untuk mengetahui lokasi nyeri dan kualitas nyeri
- Agar klien merasa nyaman
- Untuk mengatur kecepatan dan keefektifan gula darah
- Untuk mengurangi neuropati perife
DAFTAR PUSTAKA

https://www.scribd.com/doc/45020612/Asuhan-Keperawatan-Pada-Keluarga-Ny-s-
Khususnya-Pada-Ny-s-Dengan-Diabetes-Mellitus
Guyton, Arthur C, dan Hall John E. 2006.Fisiologi Kedokteran.Edisi Ke-9.Jakarta :
Penerbit buku kedokteran EGC.
https://www.academia.edu/7625369/DM_LENGKAP
https://www.academia.edu/9937374/Diabetes_Mellitus
Ulfahsyam(2009).Asuhan Keperawatan an/pada klien/dengan Diabetes/Mellitus.
Diakses/dari http://ilmukeperawatan.nct/. Pada tanggal 01 maret 2019