Anda di halaman 1dari 85

Kolektor E-book hups://www.facebook.

com/groups/Kolektorebook/

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 0
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

WELAS – ASIH
tak terkalahkan

Jilid - I

Oleh: M. Niep -T. W. L.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Juru potret / Scan : Awie Dermawan
Distribusi & Arsip : Yon Setiyono

WELAS ASIH
tak terkalahkan

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 1
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

JILID 1

Perdesaan Tun San, yang termasuk wilayah propinsi Su Juan,


adalah salah sebuah desa yang terbilang sangat subur. Dengan
sawah-sawah-ladangnya yang menghijaup pepohonan serta tanam-
tanaman lainnya tumbuh dengan suburnya. Tetapi siapa menduga,
bahwa didaerah yang subur ini, mestinya penghidupan kaum
taninyapun akan mengalami juga keadaan yang aman, tenteram dan
makmur. Namun tidak demikianlah keadaannya, karena temyata
didaerah yang sangat subur itu, keadaan penduduknya malah
menderita kemelaratan dan kemiskinan. Lantaran apa, olen sebab
disitu masih bercokol tuan-tuan tanah yang sangat kejam dan bengis
yang hidup dengan mewahnya, atas hasil dari pemerasannya
terhadap si tani miskin yang hidupnya sudah nyenen-kemis itu.
Sehingga didesa ini terjadilah suatu pepatah : Penghisapan manusia
atas manusia !!
Di suatu jalan yang berbelok-belok dipedusunan tersebut,
terlihatlah dari kejauhan 2 orang pemuda yang berpakaian perlente
dan sangat mewahnya berjalan dijalanan itu. Kedua orang ini
masing-masing menyengkelit senjata tajam berupa pedang yang
berkilat-kilat terkena sinarnya sang matahari, yang pada saat itu
sedang terik-teriknya.
Salah seorang diantaranya nampaknya sangat bengis dan
kejam, yang berjalan dengan megal-megol berlagak seperti jagoan
silat yang tak ada tandingannya. Namanya, ialah : Thio King. la
terkenal didaerah itu karena tabiatnya yang jahat, yaitu suka bikin
heboh dengan perkelahian-perkelahian, mencari steru dan
perselisihan-perselisihan diantara penduduk sedesanya. Belum lagi
terhitung mengenai kejahatannya sebagai Don Yuan atau si Hidung

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 2
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

belang yang suka mengganggu gadis-gadis yang masih suci-murni,


untuk dijadikan permainan kotornya. Dan entah sudah berapa
banyaklah gadis-gadis didusunnya yang telah dijadikaa korban
kebiadabannya.
Dimana saja ia berada, senantiasa didampingi oleh gojonya
yang tidak kalah pula kejam serta bengisnya dari pada majikannya,
yakni Kwan Ling namanya. Si algojo ini berperawakan besar
bagaikan sapi saja layaknya. Oleh karena ia memiliki pula
kepandaian beberapa ilmu silat yang terbilang lumajan juga, maka
sudah barang tentu ia semakin ditakuti oleh sementara penduduk. Ia
memelihara juga jenggot yang sangat lebat, sehingga tampangnya
semakin garang. Ketika itu, ia memegangi kipas-tangan sembari
beit siul-siul tak keruan juntrungnya mengikuti tuannya.
Di dusun yang penduduknya kebanyakan terdiri dari pe tani-
tani miskin ini, yang lantaran sawah-ladang mereka di. kuasai oleh
tuan-tuan tanah yang mengangkangi hasil-hasil pertaniannya,
terlihatlah sebuah rumah gubuk kecil berdinding bambu yang sudah
reyot dan bobrok keadaannya. Setibanya didepan gubuk ini, pemuda
perlente itu segera menyuruh algojonya mengetuk pintu.
Kwan Ling segera melakukannya dan dengan galaknya ia
mengetuk pintu keras-keras sambil mengomel kalang-kabut,
lantaran saat itu pintunya belum juga dibuka. Saking marahnya,
pintunya lantas ditendang sekuat tenaga hingga roboh berantakan.
Cepat-cepat ia masuk kedalam seraya memaki-maki: "Heee, mana
nih oranignya ? Apakah sudah mampus semith-nya ? Ayo, lekas
keluar !!"
Tiba-tiba muncullah dari belakang, seorang gadis remadia
puteri yang dengan muka penuh kecemasan lantaran kaget melihat
pintu rumahnya hancur berantakan. Dan dengan suara yang
bergemetaran, anak gadis ini lalu bertanya gagap-gagap.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 3
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

"A … ada ap … apa, tuan ?"


"Heee, ada apa? Barangkali anak perempuan ini sudah
sekongkol dengan bapaknya, masakan tidak tahu ! Ayo lekas bilang
terus-terang, mana situa-bangka bapakmu itu?", dengus si algojo
dengan marah.
“Ayah be..be-lum lagi pu… pulang, tuan", jawab gadis ini
dengan suara. tersekat dan terputus-putus, yang nampak sekali
kegugupannya. Sambil tangannya yang jari-jarinya tentik-tentik itu
diusap-usapkan kebajunya yang sudah koyak-koyak, yang agaknya
ketika itu Baru mencuci pakaian dibelakang rumahnya, maka
sambungnya lagi :
"Sejak pa … pagi-pagi buta, i … ia sudah pergi, tu … tuan !"
"Kurang-ajar !! Ayo, kita pergi cari dia, cepat !!", hardik Kwan
Ling sembari tolak-pinggang dan matanya melotot.
Gadis ini semakin panik dan takut dibuatnya, sehingga tak tahu
apa yang harus dilakukan. Mukanya tampak pucat-pasi, bibirnya
bergemetaran, sedang keringat dinginnya meleleh membasahi
bajunya yang robek-robek itu.
Pada saat-saat yang kritis ini, mendadak saja dari kejauhan
nampaklah seorang laki-laki tua yang berjalan menuju ke gubuk
reyot tersebut, yang seolah-olah kelihatan letih sekali. dipundaknya
memikul sebuah pacul kotor penuh dengan lumpur, sedang sebelah
tanziannya menjinjing keranjang rotan tua yang keabu-abuan
warnanya.
Orang tua yang berpakaian kumal dan lusuh ini, seakan-akan
sudah tahu tentang segala apa yang terjadi didalam gubuk itu,
sehingga jalannya dipercepat dan mulutnya komatkamit seperti
akan berbicara tetapi tak keluar suaranya.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 4
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Setibanya didepan pintu, orang tua ini lantas memberi hormat


serta menyilahkan duduk kepada kedua orang muda itu. Dengan
membungkuk-bungkuk tanda hormat dan takutnya, orang tua ini
lalu menaruh pacul dan keranjangnya disebelah gentong tua yang
berisi air sumur.
Sebenarnya orang tua itu bernama Oen Kok Siang, yang hidup
sebagai petani miskin didesanya bernama anak perempuan satu-
satunya yang kini telah menginjak usia dewasa, Oen Hong Kiauw
namanya. Ibu sigadis telah lama meninggal dunya, yaitu sewaktu
Oen Hong Kiauw m:asih kecil, lantaran tidak tahan menderita
kesengsaraan hidup yang senantiasa menimpa keluargaca, yakni
kemelaratan dan kemiskinan!
Kini, gadis itu telah remaja-puteri, bak' bunga mawar yang
sedang mekar menyebarkan bau harurn-semerbak kesegenap
penjuru dusunnya. Maka tak ayal lagi, bahwa banyaklah kumbang
jaw.): berkeliaran ingin menghisap madunya. Sehingga di depan
gubuk itu, setiap sorenya berhilir-mudik perjaka-perjaka yang
kesemuanya jual-lagak pasang-aksi untuk menarik perhatian serta
akan mempersunting sibunga mawar yang sedang mekar-mekarnya
itu.
Dan entah sudah berapa kali ia dipinang oleh pemuda-pemuda
sedesanya, termasuk si Hidung-belang-Thio King itu, namun.
hingga sekarang belum satupun yang diterimanya. Lantaran, selain,
memang belum ada seorang pemuda yang menjadi tambatan
hatinya, pun juga dengan pertimbangan, bahwa la merasa kasihan
kepada orang tuanya yang tentunya akan hidup sendirian tanpa ada
yang mengurusinya, apabila ia kawin dan kemudian dibawa
suaminya.
Pada tiap-tiap harinya, gadis ini selain tempo-tempo membantu
pula pekerjaan ayahnya diladang, pun juga yang pokok bekerja

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 5
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

didapur. Dan temyata anak perawan. ini bukan saja hanya memiliki
paras yang elok-rupawan, namun pandai juga memasak yang lezat-
lezat rasanya. Perangai dan kelakuannya pun sangat ter puji, karena
pandai ia membawakan diri, hormat dan sopan santun terhadap
siapapun juga serta tidak sombong membang gakan kecantikannya.
Ia sangat patuh dan sayang kepada Orang tuanya. Dengan demikian,
maski ia terbilang anak gadis yang sangat melarat, namun ia disukai
dan disegani oleh tetangga nya tua maupun muda.
Oen Kok Siang didesanya hidup bekerja di sawah sebagai
buruh-tani miskin yang diperalat dan ditindas oleh seorang tuan-
tanat yang kejam dan tak mengenal ampun. Ia menyewa beberapa
petak sawah untuk dkerjakannya.
Tetapi oleh karena sewa tanahnya sangat berat, ditambah
dengan masih adanya sistim-ijon yang kala itu didesanya, maka
begitu ia memetik hasilnya, begitu pula hasilnya ini habis untuk
membayar hutang. Malahan seringkali ia menunggak hutangnya,
lantaran uangnya itu dipergunakan untuk makan tiap-tiap harinya,
sehingga sepanjang hidupnya senantiasa dkejar-kejar hutang yang
semakin lama semakir bertambah besar pula jumlahnya.
Jangankan untuk membei, pakaian, sedang untuk makan 'setiap
harinya saja jauh dari-pa.da cukup. yang mana sering pula terjadi,
pagi makan — sore tidak, dan sore makan — pagi tidak,
demikianlah seterusnya. Walaupun demikian, betapapun berat
penderitaan janc menimpanya it,u, namun orang tua ini masih tetap
sabar dar tawakal kepada Tuhan, sehingga tetaulah ia menjauhkan
dirt, dari. Perbuatan-perbuatan yang tidak halal dan dari segala
macam kejahatan …………
Telah dua tahun ini uang sewa tanah belum mampu
membayarnya, karena uangnya habis untuk berobat tatkala orang
tua ini sakit payah, padahal sakitnyapun belum juga sembuh sama

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 6
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

sekali. Kini datanglah Thio King, anak si tuan tanah, beserta


algojonya. Dan sudah barang tentu, kedatangannya ini akan
menagih hutangnya.
"Heee, s itua-hangka! Apakah engkau pura-pura tidak tahu
untuk apa aku datang kemari ?", bentak Thio King menegas.
Dan sambungnya lagi: "Mana uang sewanya, apakah mau
ngemplang tidak mau bayar ?"
Mendengar bentakan ini, Oen Kok Siang tak berkutik dan
hanya berdiam diri saja, lantaran memang sudah merasa bersalah.
Padahal jangankan untuk membayar hutang, sedang untuk makan
hari ini saja tidak ada! Tetapi bagi anak gadisnya, bentakan itu
bagaikan geledek saja terdengarnya, karena merupakan penghinaan
besar terhadap ayah nya. Dan tak terasa, melelehlah air-matanya
membasahi pipinya yang merah-jambu dan montok itu sehingga
semakin cantiklah nampaknya. sedangkan 'bibirnya bergemetaran
menahan tangis.
Melihat si dara mencucurkan air-rnatanya, yang hingga nampak
semakin cantik dan menawan hati itu, nafsu birahi Thio King
semakin berkobar-kobar, bagaikan kambing lapar lihat daun muda.
Tetapitersebab lamarannya pemah ditampik juga, maka amarahnya
lamas ditumpahkan kepada ayah sigadis.
"Ayo, lekas jawab!! Sudah berapa kali aku datang kemari, tapi
engkau selalu minta tempo dan menunda-nunda saja. Kalau hari ini
belum juga diberesi, engkau tahu rasa!", ancam Thio King dengan
mata melotot dan menunjuk-nunjuk orang tua yang sudah tak
berdaya itu.
"Saja mohon ampun, tuan-muda! Karena saya baru saja sembuh
dari sakit, sehingga uangnya telah habis untuk berobat, maka kali
ini saja belum bisa membayar. Sedikit hari lagi kalau uangnya telah

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 7
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

terkumpul, akan kuantarkan kerumati tuan muda", rintih orang tua


ini seraya membungkuk-bungkuk hormat minta belas-kasihan.
Mendengar jawaban itu, Thio King bukannya merasa kasihan
dan memberi maaf, melainkan sebaiiknya malah menguntpat
kalang-kabut : "Apa, kau mau menunda-nunda lagi sampai engkau
masuk ke liang kubur Kalau engkau memang sudah bosan hidup
dan lekas-lekas mau masuk keliang kubur, ayolah kuantarkan
sekarang juga !!", maki sianak tuan-tanah ini sambil mengacung-
acungkan tinjunya. Kemudian sambungnya iagi : "Sekarang aku
sudah tak bisa sabar lagi. Pokoknya engkau mau bayar sekarang
juga atau memilih kupukul sampai mampus?"
"Yaa Thian, ampun tuanku! Sabarlah dulu, tunggulah sampai
heberapa hari lagi tentu akan kubayar", sahut orang tua itu seraya
menggigil ketakutan.
Melihat siorang tua beraemetaran ketakutan, Thio King
tersenyurn bangga. Tetapi sungguh mengherankan dan tak dapat
diduga-duga semula, bahwa dengan mendadak saja ia lantas
merubah sikapnya, yakni dari sikap yang bends dan ganas, kini jadi
lunak dan halus. Kemudian katanya :
"Tetapi, jaa begini La Pek, aku sekarang punya usul, Sewa
tanah itu bisalah kau anggap lunas saja, bahkan sawahnyapun boleh
kau miliki ! Tetapi …………”
"Tetapi, bagaimana tuan-muda?", sahut Oen Kok Siang tak
sabar.
"Tetapi, …. asal ... asal anak-gadismu diserahkan kepadaku!",
jawab Thio King sambil matanya yang sipit itu maelirik kearah Oen
Hong Kiauw penuh harap. Ia menduga, bahwa kali ini siasatnya
tentu akan berhasil.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 8
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Tempi, demi sigadis mendengar jawaban ini, hatinya lantas


terkesiap dan jadi keder dibuatnya, tak ubah seperti disambar
geledek meleset. Lantaran, dirinya merasa dihina dan dibuat
permainan dianggap seperti barang saja, yaitu dipakai sebagai
penyahur hutang! Maka berkatalah ia kepada ayah nya dengan
beriba-iba : "Oh ayah ku, kasihanilah aku ! Aku tak sudi dianggap
seperti barang saja untuk membayar hutang !!".
"Jangan kuatir nak, aktioun tak sehina itu akan mengorbankan
dirimu untuk membayar hutang!! Sebab hutang harus dibayar pula
dengan uang", bisik sang ayah kepada anaknya yang disayanginya
itu. Kemudian katanja kepada Thio King:
"Maafkan tuan-muda, sebenarnya orang bersuami-isteri itu
harus ada saling mencinta diantara keduanya, jadi perkawinan itu
supaya bisa awet hingga kakek-kakek dan nenek-nenek! Padahal
terus-terang saja, bahwa anakku belum suka bersuami biar kepada
siapapun, ia sekarang masih senang sendirian mengurusi ayahnya",
katanja berhenti sejenak memikir-mikir sambil batuk-batuk. Ke-
mudian samburignja lagi, "Maka, sekali lagi saja minta maaf
sebesar-besarnya, bahwasanya saja belum bisa menerima usul tuan-
muda tersebut. Tentang sewa tanah yang belum kubayar, akan -
selekasnya kuusahakan, dan setelah dapat akan kuantarkan ke-
rumah tuan-muda dengan segera".
Tatkala mendengar jawaban ini, Thio King marahnya bukan
main, karena merasa ditampik lagi dan siasat jahatnja gagal.
Mukanya lantas berubah menjadi merah-padam nampak garang dan
buas sekali, sedang matanja merah blingsatan seperti maling
konangan! Kemudian tangannja lantas memberi isyarat kepada
algojonya.
Sernentara itu, Kwan Ling sesudah menerima isyarat dari
tuannya, tanpa pikir panjang serentak melesat maju kemuka. Dan

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 9
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

dengan cepat bagai kilat ia mengayunkan tinjunja ke arah kepala si


orang tua yang malang ini. Kemudian "Plok, plok", tinjunja
mengenai sasaran.
"Aduh, ampuunn!! Ma mati aku sekarang pekik Oen Kok
Siang sambil memegangi kepalanya terhuyung-huyung lalu jatuh
tersungkur dan terpental keluar dari gubuknja.
Demi melihat ayahnia jatuh terpelanting, Oen Hong Kiano
tergetar hatinya, lalu menjerit dan menubruk tubuh ayahnya yang
disayanginya ini. Seketika itu juga, tubuh siorang tua sudah tak
berkutik sedikitpun, hanya napasnya saja yang masih kembang-
kempis. Maklumlah ia baru saja sembuh dari sakit-nya. mendadak
saja dipukul 2 kali. dengan sekuat tenaga yang hingga kepalanya
berdarah terkena bogem-mentah si algojo.
Menyaksikan keadaan yang mengharukan itu, Kwan Ling
malah tertawa terbahak-bahak sampai perutnya terguncang-
guncang. Dan agaknya ia belum merasa puas juga menyiksa orang
tua yang sudah tak berdaya ini, terbukti malahan mengangkat
sebelah kakinya lagi untuk menyepak tubuh yang sudah tidak
berdaya itu. Keruan saja tubuh ini lantas terguling-guling dan
dibarengi pula dengan dieritan ngeri menyayat hati dan mulut
sigadis jang malang itu. Lantaran, selain ia sangat iba-kasihan
terhadap nasib ayahnya, pun juga ia sendiri terkena tendangan dari
si algojo yang bengis dan tak mengenal ampun ini.
Selagi tendangannya akan diulangi lagi, mendadak-sontak
muncullah dari belakang seorang pemuda yang tampan dan gagah.
Dengan sebat luar-biasa, tahu-tahu tangannya telah menyambar
lenean si algojo lalu dipuntirnya. Dan dengan gampangnya, badan
Kwan Ling diangkat keatas lantas diputar-putar seperti kitiran yang
kemudian dilemparkan sampai sejauh sepuluh langkah. Karuan saja

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 10
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

tubuh Kwan Ling melajang-layang sejenak diudara terus jatuh


terpelanting tak dapat bangun lagi.
Setelah mana, pemuda ini lantas menghampiri Thio King
dengan kalemnya, seolah-olah tak terjadi apa-apa. Seraya membeti
hormat, pemuda tampan ini bertanya dengan sopannya,
“Maafkankan sobat, kenapa kalian memukuli orang tua yang
sudah tak berdaya hingga pingsan?"
"Perduli apa, keparat! Engkau tak perlu ikut-campur urusan
orang lain. Kalau ingin selamat, lebih balk kau pergi saja dari sini",
jawab Thio King dengan kasar dan matanya melotot sambil
menuding-nuding.
"Bukan begitu, kawan! Kalau engkau memang seorang sejati,
tentu saja tak sampai hati menyakiti seorang yang sudah tak berani
melawan. Lebih-lebih senerti kawanmu itu, masakan orang tua yang
sudah pingsan masih ditendangi. Apakah itu perbuatan seorang
satria?", sahut pemuda ini dan berhenti se jenak mengesankan.
Kemudian sambungnya : "Apalagi kalian berdua adalah pemuda
yang gagah-gagah, tetapi mengapa bertega hati melawan seorang
yang sudah lanjut usianya dan tak berdaya untuk melawan ?"
Walaupun, sebetulnya hati-kecilnya membenarkan juga
omongan si peniuda ini, namun dasar Thio King pemuda licik,
maka lantaran merasa diatasi, malahan timbullah amarahnya, dan
dengan sangat sombongnya ia mendamprat.
"Bangsat, eng-kau menggurui aka! Semenjak kapan engkau
kuangkat jadi guruku? Kau tahu, siapa aku? Inilah Thio King,
putera seorang kaya-raya yang berkuasa didusun ini", katanya
sambil menepuk-nepuk dada dengan lagaknya.
"Baiklah sobat, namun kehormatan seseorang tidak tergantung
atas kaya dan miskin. Hanya budi-pekerti yang luhurlah yang patut

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 11
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

dihormati ! Dan mungkin sobat ingin pula mengeuahui namaku.


yang sudi memanggilnya, aku adalah Lay Ting Hok".
"Sekarang kau tak perlu banyak mulut dan menasehati saja
yang penting engkau harus segera pergi dari sini, keparat.” jawab
Thio King dengan kasar dan garangnya, sambil bertolak pinggang
seperti teko saja.
"Jangan terburu nafsu, sobat! Baiknya kita bermusya-warah
dulu", kata Lay Ting Hok dengan sabar, meski ia selalu dimaki
dengan kasar. Sehabis kata ia lantas membungkuki tubuh si orang
tua yang sudah tak bergerak itu dengan maksud akan menolong
mengangkatnya.
Tetapi tak diduga sebelumnya, karena dengan tiba-tiba saja ia
mendenear kesiuran angin keras menyambar kepalanya. Ternyata
datangnya dari kaki Thio King yang dengan liciknya menendamg
dan menyerang dari belakang. Dan dengan secepat-kilat, Lay Ting
Hok mundur selangkah mengelak, sehingga sepakan itu kosonst-
melompong tak mengenai sasarannya.
"Hai, kau pengecut! Belajarlah sedikit jantan, jangan membabi-
buta menyerang dari belakang teriak Lay Ting Hok yang sudah
habis kesabarannya. Mestinya ia masih akan berlaku sabar, tetapi
karena ia diserang secara pengecut, terpaksalah ia akan
meladeninya. Dan dengan sebat luar-biasa, Lay Ting Hok lantas
menjejak tanah meloncat tinggi keudara sambil menggunakan ilmu
Ngo Ciak Sia (Kuntul lapar mematuk udang) lalu menyambar
lawannya.
Mendapat serangan balasan yang mendadak ini, Thio King
kelabakan juga. Tetapi, secepat kilat iapun menangkis pula pukulan
taut itu dengan memakai ilmu Hiap Liong Pa We (Naga hitam
mengayunkan ekornya).

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 12
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Sambil menggunakan ilmu U Ngo Ciak Sia, Lay Ting Hok berganti
menyerang Thio King …..

Setelah beberapa jurus bertarung dan belum ada juga yang


kalah atau menang, tiba-tiba Thio King menahantam lagi dengan
pukulan tangannya yang menggunakan ilmu ‘Pik U Hui Fa’ (Kuntul
putih bentangkan sayapnya) mengarah kedada Lay Ting Hok. Thio
King mengira, bahwa dengan pukulan yang menggunakan ilmu
yang sangat lihay ini tentu akan dapat memukul rubuh lawannya.
Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya
Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 13
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Tetapi siapa tahu, bahwa lawannya ini memang lawan yang tangguh
dan tak boleh dipandang enteng.
Karena temyata, begitu ia mendapat serangan maut dari lawan-
nya, begitu pula ia menangkisnya dengan memakai ilmu gaib yang
hebat keliwat-liwat Tuk Pik Cing Thian (Tangan tunggal penangkis
bahaya udara). Dengan demikian, gagallah serangan hebat dari Thio
King.
Pertarungan ini berjalan seimbang, dan telah berlangsung
beberapa saat lamanya, namun masing-masing maasih dapat
bertahan dan tak matu menyerah kalah pada lawannya. Setelah
beberapa gebrakan telah berlangsung dan belum ada juga yang
roboh, maka kini mereka masing-masing mempergunakan
Iweekangnya, sehingga semakin sengitiah pertandingan itu. Ke-
empat kaki dan keempat lengannya telah bergumul dan berbelit-
belit menjadi satu, tak ubahnya seperti kipas yang sedang diputar-
putar. Sedangkan kedua kepala saling beradu dengan hebatnya,
sehingga mendebarkan ha.ti bagi siapa yang menyaksikan-nya.
Sementara itu, pertandingan Iweekang masih berlangsung
dengan serunya, namun selama ini masih belum juga ada yang
kalah atau unggul, masing-masing mempertahankan kelihay-annya.
Tetapi dengan mendadak, Thio King lantas membatin, bahwa naga-
naganya kalau diteauskan bertanding dengan mengadu tenaga
Iweekang, tak urung ia akan kalah juga. Memperoleh pikiran de-
mikian, maka cepat-cepat ia melepaskan cengkeramannya terhadap
Lay Ting Hok, lalu mundurlah ia beberapa langkah. Tetapi
kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh Lay Ting Hok.
Dan begitu ia tahu lawannya mundur, secepat kilat ia melesat dan
mengapung keudara. Kemudian : "Plok, plok", punggung Thio King
kena terhajar dua kali oleh tangan-besi Lay Ting Hok. Sedangkan
pantatnya kena sepakan karats bagaikan palu-godam yang tepat

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 14
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

mengenai sasarannya, yang mengakibatkan pula Thio King lantas


jatuh tersungkur tak bergerak lagi.
Menyaksikan majikannya jatuh dan tak berkutik lagi Kwan
Ling timbul amarahnya lalu bangun dan berdiri, meski. pun
sebenarnya badannya masih terasa nyeri luar-biasa. Dengan
menggunakan ilmu Hen Jue Jung Jien (Pukulan palu-besi memecah
lingkaran), ia menyerang lawannya dengan dahsyat. Tetapi kali ini
lawannya bukanlah laWan yang empuk, sebab begitu ia diserang,
malah berbalik menyerang dengan tidak kalah pula dahsyatnya.
Yaitu dengan memakai ilmu yang sangat tinggi tingkatannya dan
yang terkenal dengan nama She Ce Fen Jue (Sepuluh jari memecah
pukul-besi), ia bisa terhindar dari sambaran si algojo yang penuh
nafsu itu.
Memang ilmnu silatnya si algojo ini masih cetek dan belum
terbilang dari cabang tinggi. Sehingga dalam menghadapi Lay Ting
Hok yang sudah berpengalaman ini, jadi kelabakan dan pontang-
panting pada saat menangkis setiap serangan yang dilancarkan
dengan gencar oleh lawannya. Keruan saja belum sampai beberapa
jurus, la sudah dapat dirobohkan untuk yang kedua-kalinya oleh
lawan yang bukan tandingnya ini. Setelah ia bangun dari diatuhnya
buru-buru ia berdiri. Tetapi bukannya untuk menyerang lagi, bahkan
dengan segera angkat kaki-panjang dan lari terbirit-birit
meninggalkan arena pertandingan. Dan sebentar kemudian, segera
disusul pula oleh majikannya yang merangkak-rangkak seraya
memegangi pantatnya yang kena tendangan itu. Samba berdiri
perlahan-lahan menahan nyeri ia lantas tertatih-tatih meninggalkan
gelanggang pertarungan, dengan dibarengi oleh suatu perasaan
dendam-kesumat yang berkobar-kobar.
Tatkala itu, Oen Hong Kiauw masih terus tersedu-sedu sambil
merangkul tubuh ayah nya yang malang ini. Air-matanya meleleni
membasahi baju ayah nya yang kumal dan koyak-koyak itu.
Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya
Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 15
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Sekonyong-konyong pemuda tampan ini mendekati sigadis, lalu


mengajak bersama-sama mengangkat tubuh s iorang tua yang masih
pingsan itu.
Setelah Oen Kok Siang dibaringkan di balai-balai, kemudian
Lay Ting Hok berkatalah kepada sigadis samba menghibur : "Hen
daknya, janganlah menangis saja! Diamlah dik, dan susutlah air-
matamu! Karena keparat-keparat itu kini telah pergi semua!", bujuk
sipemuda. Kemudian lalu bertanya : "Apakah orang tua yang
malang ini ayah mu?"
"Oh, terima kasih banya:k, Engko, atas pertolonganmu yang
telah mengusir si keparat-keparat itu. Dan memang betul, bahwa ini
adalah ayah-kandungku sendiri", jawab sigadis sambil masih
terisak-isak. Kemudian sambungn.ja lagi : "Pemuda-pemuda bengal
itu memang sering datang kemari dan selalu membikin kacau dan
heboh saja. Kawannya Thio King itu adalah algojonya, namanya :
Kwan Ling. Tetapi Engko, biaroun Engko telah dapat mengusir dan
menyakiti mereka, justru inilah yang perlu dikuatirkan! Karena
besar kemungkinannya, mereka akan membalas-dendam ….. A …..
aku ta ….. takut, Engko …..!” keluh Oen Hong Kiauw penuh
kecemasan.
"Engkau jangan takut, dik ! Aku akan senantiasa menjaga
keselamatan keluargamu. Lantaran akulah yang menyakiti keparat-
keparat itu, jadi aku pulalah yang harus berani bertanggung jawab
atas segala iakibatnya! Kini yang lebih penting, marilah Lo Pek kita
rawat dulu, jangan memikirkan yang bukan-bukan!''
Sementara itu, Para tetangganyapun berdatangan untuk
menengok dan menanyakan tentang segala apa yang telah terjadi.
Diantaranya terdapat pula dua orang pemuda kawan-karibnya Lay
Ting Hok, yang masing-masing bernama : So Hok Sing dan Lo Cie
Sian. Sesampainya didepan pintu, merekapun segera masuk

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 16
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

kedalam. Tetapi kedua pemuda ini alangkah terkejutnya demi


melihat, bahwa didalam gubuk itu terdapat pula teman-karibnya,
yakni : Lay Ting Flak ! Serentak mereka lalu bertanya : "Lhoo,
Engko Lay !! Ada apa, dan mengapa berada disini ?"
"Ooo, kalian datang juga! Aku tidak apa-apa, hanya menolong
orang tua ini ". jawabnya dengan tenang. Lanta.s diandarkanlah
semua apa yang baru saja terjadi dan yang telah dialaminya. Kedua
pemuda ini terlongoh-longoh mendengarkan cerita yang
mengharukan itu dengan penuh perhatian, dan akhirnya mereka
berdua manggut-manggut tanda solider atas perbuatan jantan
kawan-karibnya ini, setelah keduanya tahu duduk perkaranya.
Untuk selanjutnya, mereka bertiga lalu berunding untuk
menjaga segala kemungkinan yang akan terjadi. Lantaran mereka
berpendapat, bahwa tak urung si pemuda pengecut itu tentu akan
membalas-dendam pula terhadap Lay Ting Hok, dan begitu pula
terhadap seisi rumah ini, yang sudah barang tentu akan
membahayakan pula bagi jiwa ayah dan puterinya itu. Dan
akhirnya, mereka bersepakat untuk saling membantu guna meng-
hadapi segala kemungkinan.
Sesaat kemudian, Oen Hong Kiauw datang sambil membawa
tiga cangkir teh panas lalu ditaruh diatas meja, untuk disuguhkan
kepada mereka bertiga. Kemudian dengan nada suara, yang masih
mengandung kesedihan, gadis ini lantas mempersi lahkan minum
kepada pemuda-pemuda tersebut.

– oOo –

Kini, ketiga pemuda itu telah lama pergi, dan tinggallab Oen
Hong Kiauw bersama ayah nya yang masih sakit itu. Gadis ini

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 17
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

dengan tekun dan sabar merawat ayahnya, sehingga ia tak mengenal


waktu dan selalu berada disamping tempat tidur ajaihnya.
Meski Oen Hong Kiauw memiliki wajah yang cantik-jelita,
namun ia tak pemah membanggakan kecantikannya, sehingga
pekerjaan apa saja yang kasar maupun yang berat-berat selalu ia
kerjakan sendiri tanpa malu-malu. Memang gadis ini terbilang anak
yang radiin sedesanya, karena ia bekerja hampir sepanjang hari
penuh mengurusi keperluan-keperluan rumah-tangganya, yang
boleh dibilang istirahatnya hanya kalau ia sedang tidur.
Pagi-pagi buta, ia telah bangun dari tidurnya. Setelah
membersihkan badan, lalu menyapu pekarangan rumah, yang
seterusnya mengambil air disumur. Sesudah selesai semuanya,
barulah kini memasak air, dan dilanjutkan dengan menanak nasi
untuk sarapan pagi. Pekerjaan-pekerjaan itu masih ditambah dengan
mencuci pakaian, membantu pekerjaan ayah nya diladang, dan lain-
lainnya lagi. Demikianlah setiap haririja gadis ini memeras tenaga
m tak mengenal capai dan lelah, dan yang selalu sibuk dengan
pekerjaan-pekerjaannya. Narnun deinikian, ia tak pemah mengeluh,
karena merasa bahwa ia dilahirkan sebagai anaknya orang miskin,
yang mau tidak mau harus selalu prihatin dan tahan-uji dari segala
penderitaan.
Sekarang Oen Hong Kiauw sudah dewasa, dan sudah
sepatutnyalah apabila ia segera mendapat jodoh. Namun hingga
sekarang belum ada satupun laki-laki yang memikat dan maenjadi
tambatan hatinya.
Tetapi kini, semenjak hadirnya seorang pemuda yang tampan,
gagah dan simpatik itu, ditambah pula berbudi luhur dan "welas-
asih" terhadap sesamanya, yang hingga dapat menyelamatkan jiwa
ayahnya, maka diam-diam hati-kecilnya mulailah timbul suatu
perasaan aneh yang selama ini belum pemah dirasainya. Oleh

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 18
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

karenanya. kini wajah sipemuda itu selalu terbayang-bayang


dipelupuk-matanya. Dan masih terngiang-ngianglah ditelinganya,
suara pemuda itu yang mengatakan " diamlah dik, dan susutlah air-
matamu itu !”
Hingga sampai disini lamunannya, Oen Hong Kiauw lalu
mengeluh dalam hatinya : "Oh Tuhan, apakah ini yang dinamakan
"penyakit" cinta itu?"
Sejak saat itu gadis ini suka termenung-menung dan duduk
melamun sendirian. Dan tak terasa bahwa kini hatinya telah tertusuk
oleh panah asmara, yang lukanya merasuk dalam-dalam kehati-
sanubarinya. Namun demikian, ia sebagai gadis yang bijaksam dan
tahu harga-diri, maka tetaplah teguh menyimpan rahasia ini, yang
hingga ayahnya sendiripun tak mengetahuinya bahwa kini anak
gadisnya sedang mabok-kepayang, merindukan kekasihnya

– oOo –

Kini beralihlah kita kepemuda ganteng yang suka menolong


itu, yakni Lay Ting Hok. Ia sekarang sedang memutar-otak untuk
mencari siasat bagaimana caranya melindungi keselamatan keluarga
Oen Kok Siang supaya terhindar dari pembalasan-dendamnya Thio
King yang kejam, bengis dan tak mengenal peri-kemanusiaan itu. Ia
merasa bertanggung-jawab atas keselamatan jiwa orang tua dan
anaknya ini, lantaran ia pulalah yang menyakiti dan mengusir
sipengecut itu.
Lantas terbayanglah dimukanya, segala peristiwa yang telah
terjadi digubuk orang tua itu. Setelah sampai pada saat
membayangkan wajah-aju rupawan yang dimiliki Oen Hong Maths',
mendadak saja hatinya jadi keder dan berdebar-debar luar biasa.
Segera terbayanglah dimukanya, betana gadis, jelita ini sedang

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 19
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

menangis terisak-isak yang menyayat hati bagi siapa saja yang


melihatnya. Dan air-matanya yang jatuh meleleh di pipinya yang
montok dan berwarna merah-jambu itu, yang seolah-olah sebagai
mutiara yang jatuh dari embanan, membuat orang jadi belas-kasihan
dan sangat terharu. Begitu pula ketika gadis menghantarkan teh
panaskepadanya, dimana pada waktu itu ia ingin mencuri-pandang
untuk menikmati wajahnya, tiba-tiba tak tahunya mata si gadis yang
celi itu memandang pula kepadanya! Sehingga pandang pun
bertemu pandang, dan gadis itu menun-duk tersipu-sipu sarnbil
menarik nanas panjang. Pipinya lantas narnpak kemerah-merahan,
yang semakin menambah cantik luar-biasa.
Semakin dirasa, semakin jadi kelabakanlah ia dibuatnya. Kini
ia barn tahu, bahwa betapa ampuhnya panah asmara itu, yang
hingga mampu menembus dadanya yang ,sudah kebal terhadap
segala macam senjata tajam ini. Padahal Lay Ting Hok adalah
seorang pemuda yang teguh imannya, namun setelah menghadapi
gadis-ayu Oen Hong Kiauw, terpaksalah ia bertekuk lutut dan
menyerah kalah. Kalau tadinya ia terbilang anak muda yang giat
dan tak pemah diam, tetapi setelah hatinya terkena panah amor, kini
ia suka bermenung-menung sendirian dan melamun, bagaikan orang
sinting saja layaknya.
Sebetulnya yang membuat ia selalu gelisah dan pikirannya jadi
kalut itu, ialah yang mengenai soal : Apakah kiranya gadis itu
mencintai juga kepadanya ? Inilah suatu pertanyaan yang meliputi
hati-sanubarinya yang senantiasa menggodanya dan yang belum
pemah terjawab, yang mana hatinya lantas tidak tenteram dan
bimbang selalu. Sehingga tidur tak lelap, makanpun ,tak enak
dirasanya.

– oOo –

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 20
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Sementara itu, marilah kita beralih lagi ke-nemuda bengal yang


sudah bangkrut dan gulung-tikar itu. Setelah ia menderita kekalahan
besar dan memalukan itu, segera pulanglah ia kerumahnya. Betapa
terkejut sang ayah, demi melihat anaknya Pulang dengan
berhunuran darah, mukanya pucat-pasi, sedangkan pakaiannya
rontang-ranting tak keruan dan kotor sekali. Begitu pula setelah
melihat si algojo Kwan Ling yang orangnya besar dan mengaku
sebagai pendekar silat yang tinggi ilmunya itu, kini nampak pula
datang membuntuti tuannya sembari megal-megol jalannya seperti
mentok saja layaknya. Sedang raut-mukanya menunjukkan, bahwa
ia sedang menahan rasa sakit luar-biasa. Kini muka si algojo ini tak
keruan bentuknya, dan kepalanya nampak benjol-benjol
menggelikan.
Setelah behenti sejenak, Thio King lantas mengisahkan segala
apa yang telah terjadi dan yang baru saja ia alami. Mendengar
andaran anaknya ini, sang ayah marahnya bukan kepalang, karena
baru kali inilah ia maerasa dihina. Dan dengan muka merah-padam,
la lantas menggebrak meja kuat-kuat yang kebetulan berada
didepannya. Sucia.h barang tentu semua barang-barang yang ada
diatas maeja ini, lantas jatuh berantakan kelantai. Kemudian dengan
mata naelotot, ia berteriak-teriak tak keruan jun. trungnya,
memanggil pengawal-pribadinya. Dengan tergopoh-gopoh,
datanglah menghadap seseorang yang berkumis lencir-melengkung
serta berbadan kurus-jangkung Ting Liang namanya. la adalah
seorang yang -banyak akal-jahatnya serta licin bagaikan belut.
Semibari membungkuk-bungkuk hormat, ia lalu bertanya :
"Ada apa tuanku?"

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 21
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

"Ih, mestinya kau tak usah tanya lagi! Tentunya kupingniu telah
mendengar sendiri tentang segala apa yang telah dituturkaa
puteraku ini", dengus si raja-tuan-tanah Thio dingin.
"Oooo, tentang itu? Gampang saja, tuan tak perlu kuatir;
serahkan saja seluruh persoalannya kepada saya, tentu beres.
Masakan membunuh orang semacam cecurut itu sampai gagal?”
jawab Ting Liang dengan sombongnya.
Mendengar jawaban yang belakangan ini, ayah Thio King jadi
gembira dan lega hatinya. Sambil menepuk-nepuk punggung
pengawal-pribadinya ini, ia tertawa riuh sampai perutnya yang
gendut dan buncit itu terguncang-guncang. Kemudian katanya :
"Bagus, bagus ! Jadi tak percuma aku piara kau! Dan kalau segala
persoalannya telah bens semua, jangan kuatir engkau akan kuberi
hadiah yang besar! Buat sementara, ini uang untukmu sebagai bekal
menjalankan tugas", kata si raja tuan-tanah Thio dan berhenti
sejenak mengesankan. Kemudian sambungnya lagi : "Tetapi sekali
lagi 'jangan luoa, sesu.dah semuanya itu 'bisa berjalan dengan
sukses, hadiah besarlah yang menantimu!"
Pada keesokan harinya, pagi-pagi buta Ting Liang telah bangun
dari tidurnya. Setelah mengenakan pakaian, bergegaslah ia menuju
kearah jalan besar. Maksud kepergiannya ialah akan menghadap
Suhunya, yakni seorang ahli silat yang kenamaan, Liang Hong
namanya. Sedangkan Ting Liang adalah salah seorang muridnya,
yang berguru kepadanya dalam soal cara-cara menggunakan
bermacam-macam senjata tajam serta beberapa jumlah ilmu-ilmu
silat lainnya.
Setibanya dirumah Suhunya, setelah memberi hormat lain
langsunglah ia menuju keserambi tengah untuk memulai berlatih.
Sedangkan diruangan tengah ini telah nampak olehnya 2 orang
muda, yaitu masing-masing So Hok Sing dan Lo Cie Sian, yang

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 22
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

pada saat itu Lo Cie Sian sedang berlatih dalam suatu cabang ilmu
silat yang dinamakan Jien Shen Lang Dien (Serangan tinju didalam
gumpalan debu). Ilmu ini adalah merupakan suatu cabang ilmu silat
yang paling sukar dipelajarinya. Tetapi Lo Cie Sian telah dapat
melakukannya dengan baik dan sempurna mengenai segala gerak
maupun langkahnya.
Demi melihat atas hasil kemajuan resat yang diperoleh Lo Cie
Sian, muridnya yang paling rajin ini, tersenyumlah bangga Suhunya
itu, seraya katanya : "Bagus-bagus, aku merasa bangga dan memuji
atas kemajuan yang kau neroleh selama ini. Hendaknya teruslah
rajin berlatih hingga mencapai kesempurnaan seperti apa yang kau
cita-citakan !"
"Terima kasih Suhu, kami senantiasa akan mematuhi segala
petuah Guru ! Memang selainnya disini, dirumahpun kami selalu
berlatih dengan giat, misalnya mengangkat batu-batu besar yang
supaya tubuhku bertambah kuat'', sahut Lo Cie Sian.
"Memang demikianlah hendaknya. Nah, sekarang kalian berdua
boleh mengasoh sebentar, nanti latihannya boleh dilan jutkan lagi",
kata Suhu Liang Hong lebih lanjut.
Setelah kedua orang muda ini diperkenankan beristirahat,
keduanya lalu duduk-duduk diserambi belakang sambil beromong-
omong.
"Engko So, sebenarnya hingga sekarang ini saya selalu
memikirkan tentang keadaan keluarga Oen Kok Siang. Karena, saya
sangat kuatir, jangan-jangan lantas dianiaya lagi oleh si pengecut
Thio King yang rupa-rupanya sangat cinta kepada Oen Hong Kiauw
tapi tak terbalas, serta sebagai pembalasan dendam atas
kekalahannya itu", kata Lo Tile Sian memulai bicara.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 23
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

"Akupun punya pikiran demikian, dan jangan lupa, tentu-nya


kawan rkita Lay Ting Hok tidak luput Pula akan menghadapi
marabahaya", sahut So Hok Siang dan berhenti sejenak memikir-
mikir. Kemudian lanjutnya : "Kalaupun hanya kedua iblis si Thio
King dan Kwan Ling itu saja, saja kira tidak begitu membahayakan
bagi jiwa Lay Ting Hok. Lantaran, keduanya telah pemah dihajar
habis-habisan dan nyatanya kalah. Yang saya kuatirkan, ialah
apabila Thio King lantas meminjam tangan orang lain untuk
membalaskan dendam-kesumatnya !"
"Itu memang betul, Engko So! Tetapi kalau saja, Engko dan
Lay Ting Hok bersatu, kita 'bertiga secara bersama-sama tentulah
dapat melawan dan menandinginya si pengehianat-penghianat itu.
Walaupun andaikata mereka dibantu oleh Malaikat dari Kajangan,
kita tak akan mundur setapakpun menghadapinya. Percayalah,
bahwa : Bersatu kita teguh, hercerai kita runtuh ! Kita berani karena
benar, dan pasti menang !!", kata Lo Cie Sian dengan penuh
semangat.
“Memang benarlah semua tutur-katamu! Akupun berjanji
kepada diriku sendiri, bahwa aku akan membantu seratus prosen
untuk turut-serta memberantas si angkara! Dan akupun merasa amat
kasihan atas nasib yang diderita oleh orang tua dan anak-gadisnya
itu. Apalagi kalau sampai kejadian orang tua ini tewas teraniaja, lain
bagaimanakah nasib anakgadisnya yang sudah tak beribu lagi itu?
Dan tentunya lantas hidup sebatang-kara …….”
Hingga disini pembicaraan terhenti sebentar, karena nampaklah
Suhunya berjalan menuju kebiliknya. Setelah gurunya masuk
kekamarnya dan tak terlihat lagi, maka pembicaraan ini pun segera
dilanjutkan lagi.
"Konon kabarnya, ayah Thio King adalah seorang raja tuan-
tanah kaya yang sangat kejam dan bengis. Ia memperlakukan

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 24
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

buruh-taninya seperti terhadap sapi saja. Si tani miskin bekerja


mati-matian siang-malam disawah sewaannya, tetapi hampir
seluruh hasilnya, situan-tanah-lah yang mengangkanginya! Lantaran
apa, karena sebelumnya situan-tanah ini telah memberi hutang lebih
dulu yang bunganya sangat berat kenada si petani tersebut, sehingga
begitu sipetani memetik hasilnya, maka begitu pulalah hasilnya ini
dirampas oleh situan-tanah. Belum lagi terhitung, betapa besarnya
tarif sewa-tanah yang dkenakan kepada penggarapnya, sehingga hal
ini semakin mencekik kaum tani yang sudah payah hidupnya itu",
kata Lo tie Sian lebih lanjut.
"Kalau demikian, itulah yang sekarang dinamakan Penindasan
manusia atas manusia !", teriak So Hok Sing dengan berangnya.
Dan kata selanjutnya, "Oleh karena itu, marilah kita ganyang habis-
habisan setan-setan desa yang kejam dan tak mengenal peri-
kemanusiaan itu !"
Begitulah percakapan antara kedua sahabat-kental ini telah
berlangsung beberapa saat lamanya. Tetapi tidak diduga-duga
sebelumnya, bahwa segala percakapannya itu telah didengar
semuanya oleh Ting Liang, yang memang dengan sengaja
mendengarkannya secara diam-diam. Dan temyata, ketika kedua
sahabat tadi memulai 'pembicaraannya, diam-diam Ting Liang
menyelinap dibelakang pohon Yang Liu yang besar, yang letaknya
tidak jauh dari tempat yang diduduki oleh kedua orang muda
tersebut. Ia mengintip dan .mendengarkan dengan cermat segala apa
yang dibicarakan bleh So Hok Sing dan Lo tie Sian Si.
Setelah selesai pembicaraannya, Ting Liang lantas melesat
pergi. Dan dengan sekejap-mata saja ia sudah tak tampak batang-
hidungnya, ,bagaikan siluman saja layaknya. Lantaran tatkala ia lari
itu sambil memnergunakan ilmu Kaw Ce Dhian, sehingga ia dapat
mengentengkan ,badannya untuk lari secepat kilat dan menghilang
diantara semak-semak belukar.
Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya
Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 25
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Sesampainya dirurnah Thio King, ia pun segera menceritakan


pengalarnannya serta segala apa yang ia dengar itu. Thio King jadi
tahu, bahwa musuhnya tambah 2 orang. Kemudian mereka berdua
lalu mengadakan perundingan rahasia untuk mengatur siasat
maksud-maksud jahatnya.

– oOo –

Matahari hampir silam digaris barat, menyelinap diantara bukit-


bukit dan gunung-gunung yang menjulang tinggi keangkasa.
Suasana udara jadi lembut dan nyaman, sedangkan burung-burung
mulai sibuk mencari penginapan. Disana-sini terdengarlah kicau-
riangnya, yang seakan-akan mereka mentieritakan pengalamannya
masing-masing sehari-harian tadi.
Dari kejauhan, nampaklah Oen Kok Siang yang berjalan
lambat-lambat menuju kerumahnya. Orang tua ini kelibatan lelah
sekali, setelah sehari-suntuk memeras tenaga bekerja disawahnya.
Sesudah membersihkan badan dan makan-sore, orang tua ini
lalu berbaring dihalaman muka pondoknya, sambil menghisap Ta
Low Cuk (pipa-penghisap rokok yang berbentuk panjang). Ia
melepaskan lelahnya setelah sehari-harian menunaikan tugas
bekerja disawah.
Tidak jauh dari tempat orang tua ini berbaring, duduklah Oen
Hong Kiauw sambil menyulam lukisan bunga mawar berwarna
merah diatas kain sutera yang halus. Wajahnya nampak cantik
berseri-seri terkena sinarnya sang matahari senja yang merah-
kekuning-kuningan itu. sedangkan jalanan didepan gubuk ini,
seperti biasa kalau Oen Hong Kiauw sedang duduk-duduk didepan
pondoknya, lalu berhilir-mudiklah pemuda-pemuda untuk saling

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 26
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

bersaing mencari perhatiannya sidara-ayu ini. Namun sebegitu jauh,


Oen Hong Kiauw tetap menunduk saja menekuni pekerjaannya, dan
tidak mau melihat ataupun memperhatikan sikap pemuda-pemuda
tersebut. Karena siapa tahu, bahwa hati sidara kini telah Ada yang
mengisinya.
Dengan jari-jemarinya tang lentik-lentik itu, maka dengan lin-
cahnya dua jari-jari ini menari-nari diatas sulaman bunga mawar
yang sudah hampir selesai itu. Dan sebentar kemudian, sulaman
itupun segera selesai dengan basil yang sangat indahnya, karena
sulaman ini dkerjakan dengan penuh perasaan yang tertanam pada
lukisan bunga itu.
Memang, bunga mawar yang sedang mekar yang dilukiskan
dalam sulaman itu, adalah merupakan cetusan dan pencerminan
jiwanya yang bagaikan setangkai bunga mawar yang sedang mekar
dan harum baunya, yang menantikan sang kumbang untuk
menghisap madunya.
Menyaksikan hasil sulamannya yang indah ini, ia merasa
bangga, maka berkali-kali lantas diamat-amatinya. Semakin lama ia
memandang lukisan bunga itu, semakin membumbung tinggilah
angan-angannya, yang seolah-olah telah melihat hari depannya yang
gilang-gemilang. Lalu pandangnya dialihkan kearah yang jauh, nun
disana, diatas bukit-bukit yang tinggi yang terbentang didepannya,
yang dihiasi pula dengan bintang-bintang yang gemerlapan
memenuhi angkasa biru.
"Oh, betapa indahnya pemandangan senja ini ! yang seolah-
olah menjadi firasat bagi masa depanku yang terang-benderang
penuh kebahagiaan bersama si dia ………… sipenolong jiwa ayah
ku Oh, Tuhanku, semogalah cita-cita hamba-Mu ini dikabulkanlah
hendaknya demikianlah kata-hatinya, seraya mulutnya komat-kamit
tapi tak bersuara. Tak tahunya, air-matanya menetes bagaikan

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 27
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

mutiara terlepas dari embanan. Cepat-cepat air-mata ini disusutnya,


lantaran kuatir dketahui ayah nya, namun telah terlanjur
dketahuinya.
Ketika itu, ayah nya tak tahu apa yang terkandung didalant hati
anaknya, hanya tahu anaknya meneteskan air-mata. Ia mengira,
bahwa anaknya mungkin ingat kepada mendiang ibunya sehingga
menangis itu. Kemudian hiburnya.
“Mengapa engkau menangis, nak? Janganlah engkau
memikirkan yang bukan-bukan! Serahkanlah segala nasib
peruntungan kita ditangan Tuhan, karena Tuhan itu Maha Pengasih
dan Penyajang!", kata ayah nya dan berhenti sejenak untuk
menyedot rokoknya yang apinya hampir padam. Kemudian
sambungnya : "Maka sekarang tidurlah, dan sekali lagi, janganlah
engkau memikirkan yang bukan-bukan, karena hal itu akan merusak
jiwamu saja !"
Dengan perasaan yang sedih dan pilu, dara ini lalu menatap
wajah ayah nya yang sudah kisut-kisut itu, sedangkan badannya
kurus-kering sebagai pertanda bahwa hidupnya selalu menanggung
kepahitan-hidup yang luar-biasa sengsaranya. Mengingat akan hal
ini, semakin deraslah air-matanya mengalir jatuh dipangkuannya.
Kemudian gadis ini cepat-cepat bangkit berdiri masuk kegubuknya,
lalu merebahkan diri ketempat-tidurnya.
Malam telah larut, namun Oen Hong Kiauw belum juga bisa
tertidur.. Kendall matanya dipejam-pejamkannya, tetapi sebegitu
jauh hatinya tetap tak mau tidur. Pikirannya terbang melayang-
layang keangkasa kealam khajal, yang akhirnya sampailah kepada
pemuda pujaan hatinya, Lay Ting Hok. Ketika itu, seolah-olah
pemuda ini datang, lalu mengajak duduk didepan pondoknya.
Dengan disinari sang bulan-purnama yang memancarkan sinarnya
yang lembut, kedua muda-mudi ini duduk berdampingan dengan

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 28
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

mesranya. Mereka berdendang me lagukan lagu cinta-asmara yang


suaranya mengalun 'tinggi ke-cakrawala, menembus gumpalan
awan ke Kajangan para Dewa-dewa, yang diterima oleh sang Dewa
Asmara. Kemudian kembalilah suara ini turun ke Majapada, lalu
diterimalah oleh kedua asjik-masjuk ini lagi. Dan tiba-tiba tangan
pemuda itu lantas memeluk tubuh sang dan dengan mesranya.
Tetapi Oen Hong Kiauw lepaskannya, dan ...... "bruk", badan Oen
Hong Kiauw jatuh dari tempat-tidurnya. Mendengar suara barang
yang terjatuh ini, ayahnya bangun dari tidurnya dibarengi dengan
rasa kaget bukan kepalang. Dan dengan tergopoh-gopoh ia datang
ketempat asalnya suara, sedang saat itu anaknya nampak sudah
duduk ditepi ranjangnya. Dengan terengah-engah, ayah nya
bertanya :
"Ada apa; nak ?"
"Oh, ti … tidak apa-apa, a ajah", jawab gadis ini dengan gugup
dan tersekat-sekat. Lalu sambungnya lagi : "Mung … mungkin aku
mimpi, lantas ja … jatuh, ayah !"
"Oooo, kalau begitu tak apalah Sekarang tidur lagi saja", sahut
ayah nya dengan perasaan lega Subuh mulai mendatang, ajam2
pun berkokok bersaut-sahutan, seakan-akan membangunkan
manusia-manusia supaya tidak lupa akan tugas kewajibannya.
Oen Hong Kiauw bangun dari tidurnya merasa kaget, karena
memang agak kesiangan ketimibang biasanya, sebab hampir
sema'am suntuk ia tak bisa tidur lelap. Ia melihat ayah nya telah
duduk dikursi dan telah mengenakan pakaian kerjanya yang koyak-
koyak itu. Dengan gugupnya, Oen Hong Kiauw lantas pergi
kedapur untuk memasak air, tanpa terlebih dulu membersihkaa
badannya. Tetapi segera dicegah oleh ayahnya, seraya katanya :
"Biarlah nak, tak usah kau repotrepot memasak air, karena ayah
telah minum air teh sisa kemarin", kata ayah nya dengan nada suara

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 29
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

yang iba-kasihan terhadap anaknya. Lantaran iapun tahu, bahwa


semalam anaknya memang kurang tidur. Lalu katanya lagi,
"Sekarang aku akan pergi kesawah, baik-baiklah menjaga rumah!
Dan apabila sianak tuan-tanah itu datang lagi, katakanlah bahwa
aku pergi untuk mencari pinjaman uang, guna membayar sewa
tanahnya itu", pesan ayah gadis ini sambil melangkahkan kaki
keluar rumah.
Kini tinggallah Oen Hong Kiauw dirumahnya seorang diri. Ia
merasa kesepian dan sangat kuatir, jangan-jangan anak si tuan-tanah
itu datang lagi, dan ia tak tahu apa yang akan terjadi. Hatinya
menjadi ciut dan takutnya bukan kepalang, karena siapakah yang
akan membelanya jikalau ia digoda dan dibuat permainan oleh
sibajul-buntung itu? Tetapi, ya apa boleh buat, lantaran kalau ia
pergi lantas siapa yang menjaga rumahnya, dan siapa pula yang
menanakkan nasi untuk ayah nya?
Untuk menghilangkan kerisauan hatinya, ia segera mengambil
pakaian yang koyak-koyak untuk dijahit dan ditambalnya. duduklah
ia didekat jendela rumahnya. Tiba-tiba, terdengarlah ketukan pintu
dari luar. Dengan hati yang berdebar-debar dan gemetaran, lantaran
mengira bahwa yang datang ini ntentulah sianak tuan:tanah itu,
maka bangkitlah ia dari duduknya.
Dengan harap-harap cemas, ia mendekati pintu lalu membuka-
nya. Dan ia tertegun sebentar tak bergerak, bagaikan patung saja
layaknya. Lantas diusap-usapnya matanya, yang seolah-olah tak
percaya pada apa yang dilihatnya. Sebabnya, yang berdiri didepan
pintu ini, tak lain dan tak bukan, adalah si pemuda Lay Ting Hok,
yang semalam dilamunkannya. Dengan agak heran karena sikap
sigadis yang aneh itu, pemuda inipun segera mengucapkan :
"Selamat pagi, nona … "

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 30
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

"Oh, seselamat pa … pagi, Engko", jawab Oen Hong Kiauw


dengan gagap-gagap. Kemudian "Marilah, silahkan masuk!"
"Terima kasih", sahut Lay Ting Hok seraya melangkah masuk.
Sesudahnya si pemuda masuk, sikap serta gerak-gerik sidara
nampak berubah jadi canggung dan gugup, saking girang
bercampur malu. Makanya lantas kasak-kusuk serba salah, pergi
kesana-pergi kesini, tak keruan juntrungnya. Ketika
mempersilahkan duduk tamunya, yang disodorkan bukannya kursi,
tetapi temyata keliru keranjang !
Menyaksikan segalanya ini, keruan saja siperjaka jadi sampai-
sampai tak bisa menahan tertawanya. Demi merasa ditertawai, maka
sigadis semakin malu-lah ia dibuatnya, sehingga pipinya kemerah-
merahan yang semakin menambah cantik 'bukan kepalang.
Kemudian ia imengambil kembali keranjang itu untuk diganti
dengan kursi rotan yang sudah reyot karena saking tuanya, sembari
mempersilahkan tamunya duduk.
Menghadapi tamunya ini, Oen Hong Kiauw membungkam
seribu bahasa, pikirannya pepat tak tahu apa yang harus dikatakan,
sedangkan kepalanya menunduk tak berani memandang ta-munya
yang ketika itu selalu memperhatikannya. Mestinya banyaklah hal-
hal yang akan dituturkannya, tetapi mulutnya bagaikan tersumbat
saja, sehingga bibirnya yang mungil dan merah bat delima merekah
itu hanya komat-kamit saja tak bersuara.
Dasar pemuda ini seorang yang bijak, maka seolah-olah ia telah
dapat membaca segala apa yang terkandung dalam kalbu si gadis-
ayu ini, maka lantas Lay Ting Hok-lah yang memulai berbicara :
"Oh, kiranya Lo Pek telah pergi kesawah, karena temyata cuma
adik sendiri yang ada dirumah".

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 31
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

"Betul Engko, ia telah pergi semenjak pagi-pagi buta", jaiwab


Oen Hong Kiauw seperlunya saja dengan muka yang masih
menunduk, seraya tangannya mempermainkan 'benang sulaman
yang akan digulungnya.
“Agaknya adik pandai juga menyulam, apakah betul demi-
latian ?"
Seperti diingatkan, dengan tanpa menjawab gadis ini segera lari
untuk mengambil hasil sulamannya yang tadi malam baru saja
diselesaikannya. Tetapi, dasar pikiran baru linglung, ia malah
tertegun-tegun dimuka meja-makan didapur. Setelah menanusin
kekeliruannya, ia segera berbalik, dan kini barulah ia ingat bahwa
hasil sulamannya itu, tadi malam ditaruh dibiliknya. Dan dengan
sebat ia lantas lari ke biliknya, kemudian dengan terenyum sedikit,
sulaman ini lantas diserahkan kenada tamunya tengan tanpa kata-
kata.
Demi melihat hasil sulaman yang memang sangat indahnya dan
yang berlukiskaa bunga mawar itu, tanpa disadarinya tercetuslah
pujiannya sipemuda.
"Ah, aku tak menduga, bahwa basil sulaman ini begini
indahnya, sesuai pula dengan yang membuatnya ……..!”
Sungguh tepat pujian ini, sehingga merasuk kelubuk-hati si
gadis yang membuatnya. Ia tersipu-sipu kemalu-maluan, pipinya
yang montok-padat itu, dengan mendadak berubah menjadi merah-
jambu, yang semakin menambah manis luar-biasa. Karuan saja, hati
sipemuda semakin jadi kelabakan dibuatnya.
Sebenarnya maksud kedatangan Lay Ting Hok kemari adalah
untuk merundingkan sesuatu dengan Oen Hong Kiauw, yang
sebelumnya kata-katanya telah diatur lebih dulu sedemikian rupa,
yang hingga ia telah hafal. Tetapi entah mengapa, setelah berhadap-

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 32
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

hadapan dengan orangnya, malahan kata-kata yang telah diatur


rapih itu macet didalam dan tak mau keluar juga dari
kerongkongannya. Iapun merasa heran, mengapa sekarang hatinya
menjadi sekecil semut menghadapi seorang dara yang selalu di.
Impi-impikannya ini sehingga segala isi hatinya yang akan dicurah-
kan dihadapan kekasihnya ini masih tetap tersimpan didalam
kalbunya.
Setelah agak lama mengingat-ingat dan menenangkan pikiran,
tiba-tiba teringatlah akan sesuatu yang dibawanya, yakni yang
berupa lembaran uang emas disakunya, kemudian 'katanya.
“Adik Cu, sebetulnya aku merasa kasihan kepada ayahmu,
karena seseorang yang telah berusia lanjut seperti ayah mu itu,
mestinya sudah tidak boleh bekerja keras-keras memeras-tenaga
yang hanya untuk mencari sesuap. nasi belaka".
"Kukira memang betul kata-katamu itu, Engko! Seharusnya ia
sudah beristirahat tak perlu bekerja keras membanting tulang. Tetapi
apa boleh buat, Engko, sebab ia bekerja keras sebenarnya terpaksa
juga, karena tidak ada orang lain yang membantunya. Padahal,
kendati ayah bekerja keras pada tiap-tiap harinya, namun hasilnya
untuk makan saja tidak cukup. Apalagi kalau ia sama-sekali tidak
bekerja, lalu bagaimanakah jadinya?", jawab Oen Hong Kiauw
sambil air-matanya mengemberig dipelupuk matanya.
"Ya, memang itulah yang perlu kita pikirkan, dik! Sebab aku.
pun tahu, bahwa biar bagaimanapun ayahmu membanting-tulang
memeras-tenaga, tetapi kareha ia mengerjakan sawah orang lain
yang sewa-tanahnya sangat berat, tentu saja hasilnya jauh daripada
cukup! Sebaliknya biarpun hanya sepetak kecil saja sawah itu,
tetapi miliknya sendiri, hasilnyapun akan lumajan juga", sahut Lay
Ting Hok, dan berhenti sejenak sambil memikir-mikir. sambungnya
lagi : "Oleh kaiena itu dik, engkau jangan bersedih hati! Kini aku

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 33
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

membawa beberapa lembar uang emas, usahakanlah supaja uang


ini selain untuk melunasi hutang, juga buat membeli tanah untuk
bersawah. Maka terimalah dengan hati terbuka, demi kebahagiaan
hidup keluargamu selanjutnya!"
Sehabis kata, Lay Ting Hok lantas mengeluarkan pundit yang
berisi uang emas dari sakunya, dan kemudian diletakkan diatas
meja.
Walaupun dalam hatinya bukan main girangnya serta sangat
bersjukur, namun Oen Hong Kiauw sebagai gadis yang tahu harga-
diri, maka seolah-olah ia menolak. pemberian itu, tetapi dengan
sangat sopannya : "Oh, Engko, sebelumnya kuucapkan terima kasih
yang tak tethingga atas. pemberian itu! Tetapi maaafkanlah aku,
bahwa dengan sangat menyesal aku tidak dapat menerimanya.
Sebabnya, biar bagaimanapun juga aku masih mempunyai orang
tua, jadi seyogjanya Engko berikan saja kepada ayahku, kalaupun
Engko betul-betul ingin menolong keluargaku".
"Memang dik, tadinya akupun mempunyai pikiran demikian,
yaitu menyerahkan uang ini kepada ayah mu. Tetapi lantaran aku
kuatir kalaupun ayah mu akan menolaknya, maka lantas kuberikan
kepadamu", jawab pemuda ini menegas, sambil ia membatin, bahwa
gadis ini memang berhati sebab kendati miskin, ia tidak mata-
duitan. Kemudian katanya lagi : "Tetapi meski demikian, baiklah
uang ini akan kuserahkan juga kepada ayahmu, dan nanti sore aku
akan datang lagi kemari".
Sementara itu, suara bergolaknya air mendidih didapur
terdengar dengan jelas, sehingga mengganggu pula pembicaraan ini.
Sebab, Oen Hong Kiauw pun segera bangkit dari duduknya, untuk
menyiapkan teh panas bagi tamunya. Angin pagi meniup lembut,
melewati jendela gubuk ini. Lalu masuklah kedalam dan
xnemperrnain2kan rambut Oen Hong Kiauw yang panjang terurai

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 34
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

itu, yang ketika itu sudah duduk-duduk lagi maenghadapi tamunya.


Sedangkan diatas meja telah tersedia 2 cangkir teh panas, secangkir
untuk siperjaka sedang secangkir lagi buat ia sendiri untuk
mengiringi tamunya. Kedua asyik-masyuk ini hanya berdiam diri
saja, tetapi hati mereka saling berpadu dengan mesranya, seolah-
olah mereka dapat membaca isi hatinya masing-masing. Hanya
kadang-kadang diseling dengan kerlingan mata yang celi dari
sigadis ini sambil bersenyum-simpul manis sekali, sehingga
membuat siperjaka jadi semakin keder hatinya. Mereka masing-
masing membiarkan angan-angannya membumbung tinggi
kecakrawala, yang seolah-olah keduanya telah menjadi sepasang
suami-isteri yang penuh kebahagiaan, sehingga dianggapnyalah
bahwa seantero jagat ini hanya mereka berdualah yang punya.
Mereka tersedar dari lamunannya, tetapi tak terasa bahwa tahu-
tahu matahari telah berada diatas gubuk itu, yang memancar-kan
sinarnya yang amat terik. Kemudian Lay Ting Hok lantas meminta
diri meski sebenarnya agak berat meninggalkan sang gadis yang
telah mencuri hatinya ini. Begitu Dula keadaan Oen Hong Kiauw, ia
sangat berat juga melepas sioerjaka yang menjadi tambatan hatinya
itu. Setelah mengucapkan janji, bahwa nanti sore ia akan datang
kemari lagi, Lay Ting Hok lalu bergegas-gegas meninggalkan
gubuk tersebut.
Sore hari itu, seperti biasanya Oen Kok Siang baru saja datang
dari sawahnya setelah bekerdia sehari-harian. Pada waktu mana,
orang tua ini sedang duduk-duduk dikursi reyotnya didalam
gubuknya, sambil melamun memikirkan nasibnya yang Bakal
datang yang mempunyai hari depan yang gelap-gulita.
Lain halnya dengan anak-gadisnya yang ketika itu sedang
duduk pula tidak jauh dari tempat duduk ayah nya. Ta dengan muka
berseri-seri menandakan hatinya sedang bersuka, sambil sebentar-
sebentar menengok keluar lewat jendela memandangi jalanan yang
Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya
Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 35
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

terbentang didepan gubuknya, yang seolah-olah menantikan


sesuatu. Keadaan didalam rumah ini hening tak ada yang berbicara,
masing-masing sibuk mengumbar lamunannya. Sekonyong-
konyong pintu diketuk dari luar, dan gadis ini segera lari-lari kecil
menuju kepintu penuh harap, karena mengira bahwa yang datang
tentulah kekasihnya yang dinanti-nantikannya itu, yakni Lay Ting
Hok.
Tetapi, berbareng dengan membukanya pinta, tiba-tiba melon-
catiah kedalam ketiga orang berseragam hitani yang bertopeng,
yang masing-masing memegang golok dan pedang panjang.
Seketika itu juga, Oen Hong Kiauw akan menjerit minta tolong,
tetapi dengan sebat luar-biasa salah satu diantara orang yang
bertopeng ini lantas meringkus sigadis sambil mulutnya disumbat
dengan saputangan yang rupa-rupanya telah disediakan
sebelumnya. Keruan saja sigadis ini lantas tak dapat bersuara, selain
hanya meronta-ronta akan melepaskan diri dari cengkeraman orang
itu, tetapi sia-sia belaka. Maklumlah hanya tenaga.seorang wanita
yang lemah in1, tentu saja tak mampu melawannya.
Sementara itu, kedua orang yang lainnya lagi dengan secepat-
kilat lantas menyambar badan siorang tua yang sedang melamun itu.
Dan tanpa mengenal ampun, punggung orang tua ini lantas ditotok
kuat-kuat dengan gagang-pedang, keruan saja ia lalu mengaduh
kesakitan terus tak sadarkan diri. Selanjutnya, kedua tangannya lalu
diikat erat-erat kebelakang badannya, kemudian tubuhnya diseret
dan diikat lagi pada tiang rumahnya.
Kini Oen Hong Kiauw sudah tak berdaya lagi, karena kaki dan
tangannya telah diikat erat-erat pula, yang selanjutnya di masukkan
kekarung goni yang sebelumnya telah disediakan. Dan dengan
hanya memakan waktu yang sangat singkat, gadis ini lantas
digendong.keluar rumah. Sedangkan pintu gubuk itu lalu ditutup
dari luar serta diberi palang dan diikat kuat-kuat, sehingga
Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya
Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 36
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

walaupun andaikata orang tua itu siuman kembali dan dapat terlepas
pula dari ikatannya, toch ia tak akan dapat keluar rumah. Dengan
sekejap-mata saja, gerombolan penjahat bertopeng ini telah lenyap
dari pandangan mata samhil menggendong tubuh Oen Hong Kiauw
yang dimasukkan kedalam karung itu, entah akan dibawa pergi
kemana

– oOo –

Kini, marilah kita tengok keadaan sipemuda Lay Ting Hok


dirumahnya. Sore itu, ia telah slap untuk pergi kerumah Ocri Kok
Siang seperti apa yang telah pemah ia janjikan kepada keka-sihnya
tadi pagi. Saat itu ia berpakaian mentereng sambil di pinggangnya
menyengkelit sebuah golok, yang nampak emakin tampan dan
gagah. Sedangkan disakunya telah tersedia beberapa lembar uang
emas yang akan diberikan kepada ayah si gadis.. .Sambil bersiul-
siul riang, ia lantas meninggalkan rumahnya menuja kearth jalan
besar.
Baru saja ia berjalan kirakira lima lie jauhnya, padahal saat itu
ia sedang enak-enaknya memikirkan bagaimana nantinya ia harus
berbicara dihadapan ayah Oen Hong Kiauw, sekonyong-konyong
hujanpun turan dengan lebatnya. Keruan saja pemuda ini lantas
bingung mencari tempat berteduh. Dan sedan kebetulan sekali,
nampaklah olehnya sebuah Kelenteng tua yang sudah tak dipakai
lagi, jang. terletak tidak jauh dari . situ. Kemudian, segeralah ia lari-
lari kecil maenuju ke Kelenteng tersebut, dan selanjutnya berteduh
diemperan Kelenteng yang sebagian besar gentengnya telah banyak
yang pecah-pecah dan rontok.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 37
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Sambil berteduh itu, Lay Ting Hok lalu melanjutkan


memikirkan tentang bagaimana caranya ia harus berbicara diha.
dapan ayah kekasihnya ini. Selagi enak-enaknya melamun,
mendadak saja lapat-lapat ia dengar suara rintihan orang yang
seakan-akan dicekik lehemya ataupun mungkin juga disumbat
mulutnya. Memang daya-pendengaran sipemuda ini sangat tajant
luar-biasa, karena ia memang memiliki ilmunya, sehingga dengan
cepat dan tepat ia telah dapat menentukan dari mana datangnya
suara itu, yang bagi pendengaran lumrah tak mungkin bisa
mendengarnya.
Dasar ia seorang pemuda yang usilan, yang sok ingin tahu
tentang segala peristiwa yang ia dengar ataupun dilihatnya meski
hal itu sebetulnya bukan urusannya. Maka berbareng dengan
meredanya hujan. tanpa pikir panjang, Lay Ting flok lantas
memetak ilmu entengkan-badan yang sangat tinggi tingkatannya.
Dengan sekali menjejak tanah, melesatlah keatas badan si pemuda
ini bagaikan terbang saja layaknya, yang tahu-tahu telah berada
diatas genteng.
Setelah meloncat-loncat dari atap keatap lainnya dengan tanpa
bersuara sedikitpun, sampailah kini Lay Ting Hok berada diatas
atap serambi-tengah Kelenteng tersebut, yang secara kebetulan ada
beberapa genteng yang sudah retak-retak sehingga ia dapat melihat
kebawah menyakslkan keadaan didalam. ruangan ini. Segera
nampaklah olehnya ketiga sosok tubuh yang sedang mengelilingi
sebuah karung yang terikat. Mereka ketiga-tiganya berseragam
hitam dan memakai topeng, sedang dipinggang mereka masing-
masing menyengkelit golok dan pedang panjang yang seorang
bertubuh sedang, satunya lagi berbadan besar bagaikan sapi saja,
sedangkan yang seorang lagi bertubuh kecil jangkung.
Salah seorang diantaranya lalu membuka ikatan karung itu, dan
berbareng dengan terlepasnya tali ikatan, muncullah sesosok tubuh
Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya
Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 38
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

yang terikat kaki-tangannya, sedang mulutnya disumbat dengan


kain. Kiranya tubuh seorang wanita! Dan dengan sangat tergesa-
gesa, tubuh ini lantas digotong oleh dua orang, yang selanjutnya
dibawa masuk kesalah sebuah kamar Kelenteng, yang rupa-rupanya
telah direncanakan dan dipersiapkan terlebih dulu sebelumnya.
Kemudian kedua orang keluar dari bilik, sedang yang seorang lagi
tertinggal didalam sembari mengunci pintu kamar ini dari dalam.
Dan kedua orang yang keluar ini, lantas duduk-duduk didekat pintu
itu, seakan-akan sedang berjaga.
Lay Ting Hok tak sabar lagi, ia ingin tahu apa jg. diperbuat oleh
orang yang ,berada didalam kamar. Cepat-cepat ia melesat, dan
jatuh tepat diatas atap bilik itu. Dan dengan hati yang berdebar-
debar, ia melihat kebawah lewat celah-celah genteng yang retak-
retak sembari memetak ilmu pentajaman-penglihatan. Kemudian
nampaklah kini dengan jelas apa yang terjadi didalam kamar ini.
Pada saat itu, wanita yang terikat kaki-tangannya dan disumbat
mulutnya ini, sedang dibaringkan telentang dalam keadaan masih
pingsan. Ia dibaringkan dilantai beralaskan bekas pembungkusnya,
sedangkan bajunya nampak koyak-koyak compang-camping, yang
hingga bagian atas tubuh-nya yang terlarang ini kelihatan semua.
Orang laki-laki yang berbadan sedang dan bertopeng Int,
nampak tak sabar menyaksikan keadaan yang demikian itu. Dan
dengan dibarengi oleh nafsu-binatangnya yang berkobar-kobar,
lantas ia menghampiri tubuh ini, kemudian cepat-cepat ia
melepaskan ikatankaki siwanita yang sudah tak .berkutik itu rupa-
rupanya ia akan berbuat mesum, memperkosa tubuh siwanita yang
sudah tak berdaya ini.
Betapa terkejutnya anti sipemuda yang mengintip diatas
genteng, sampai-sampai tak terlukiskan, demi melihatnya bahwa
wanita yang akan diperkosa oleh si binatang ini, adalah Oen Hong

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 39
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Kiauw kekasihnya! Dan berbareng dengan terlepasnya tali ikatan-


kaki sigadis yang dilepaskan oleh orang yang berto-peng itu,
dengan kekuatan yang luar-biasa, Lay Ting Hok lantas menjejak
atap yang diinjaknya. Sangatlah hebat akibatnya, sehingga atap ini
runtuh dan hancur berantakan berjatuhan ke bawah.
Dan tak kalah pula terkejutnya si orang bertopeng ini, lan-taran
tak diduga sebethinnya bahwa akan terjadi suatu kejadian yang
mengagetkan itu. Belum lagi ia tahu apa yang menyebab-kannya
dan baru sibuk menduga-duga, sekonyong-konyong berkelebatlah
suatu bayangan menyambar kepalanya. Dan secepat-kilat pula ia
menghindar sambil menggulingkan badannya kelantai. Sesudahnya
ia bangkit' lagi, segera nampaklah didepannya seorang pemuda
tampan sedang bersiap akan menyerangnya lagi. Ketimbang
didahului, ia ambil putusan untut menyerang lebih lulu, dan dengan
sebat ia menghunus pedang-panjangnya lantas menikam kearah
dada lawannya.
Tetapi, temyata lawannya ini adalah lawan yang tangguh, sebab
begitu ia diserang dan ditusuk dengan pedang ia lantas miringkan
tubuhnya, sehingga serangan ini menumbuk udara kosong.
Sesaat si orang bertopeng ini akan menarik pedangnya,
mendadak-sontak pergelangan tangannya yang memegang pedang
kena sabetan tangannya si petnuda tampan itu, sehingga pedangnya
terlepas dan terpental jauh.
Belum lagi ia dapat berdiri tegak, lawannya telah mengirimkan
tendlangan kearah tulang-rusuk dengan dahsyatnya hingga
menimbulkan kesiuran-angin keras. Tetapi siorang bertopeng ini
dapat menghindar kesamping sambil menghantam punggung
lawannya.
Lay Ting Hok melihat tendangannya gagal dan kini malah
berganti diserang, maka pukulan tangan lawannya yang tiba-tiba itu

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 40
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

bukannya dihindarinya, melainkan dengan tenangnya malah


menangkis dengan keduabelah. tangannya yang disilangkan keatas,
dan "Prok", kedua-belah tangannya beradu. Hebat akibatnya, Lay
Ting Hok dengan mempergunakan tipuan ini, selain ia telah dapat
menangkis pukulan lawannha, bahkan dapat pula meminjam tenaga
musuhnya untuk mementalkan kembali musuhnya itu, jadi
lawannya ini seperti menubruk per saja layaknya, sehingga kalau
lawannya memukul dengan keras, ia akan terpental pula dengan
keras.
Begitu juga keadaan orang yang bertopeng itu, begitu ia
menghantam punggung lawannya dengan sekuat-tenaga, dan begitu
pulalah ia lantas terpental jauh kebelakang sampai beberapa
langkah, yang akhirnya jatuh telentang. Belum lagi ia bisa berdiri
lurus, tiba-tiba "Plok, plok", punggungnya kena terhajar sampai
dua-kali, sehingga ia terpelanting dan jatuh tengkurap tak berkutik
lagi.
Tatkala Lay Ting Hok akan membalikkan badan untuk
menolong kekasihnya, sekonyong-konyong "Bruk", pintu kamar
ini jatuh berantakan roboh kedalam Dan berbareag dengan
robohnya pintu, muncullah kedua orang bertopeng yang tadi berjaga
diluar, sambil masing-masing memegang pedang yang berkilat-kilat
cahajanya. Dengan secara berbareng, kedua orang ini lantas
menyerang bersama-sama kearah Lay Ting Hok.
Menghadapi kedua lawan yang masing-masing bersenjata ini,
padahal saat mana sebetuinya ia sudah sangat lelah setelah
bertempur melawan musuhnya yang telah keok itu, maka Lay Ting
Hok agak keripuhan juga. Maka cepat-cepat ia menghunus
goloknya untuk menangkis serangan itu.
Setelah beberapa gebrakan telah berlalu, kini tahulah Lay Ting
Hok, bahwa lawan satunya yang berbadan besar ini, sebetulnya

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 41
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

ilmu silatnya beluin begitu lihay. Terlintas dipikirannya, bahwa


sebaiknya ia ditundukkan lebih dulu, dengan demikian nantinya
hanya tinggal satu lawan satu.
Memperoleh pikiran demikian, segeralah ia mulai menyerang
dengan dahsyatnya kearah orang bertopeng yang berbadan besar itu.
Dengan memperguna'kan tipu dan ilmunya yang sa-ngat lihay, maka
baru satu gebrakan saja lawannya ini telah dapat dipukul rubuh.
Kini lawannya tinggal seorang, tetapi kali ini ia menghadapi lawan
yang tidak enteng, yang sangat tinggi ilmu silatnya. Maka didalam
menghadapinya, Lay Ting Hok sangat hati-hati dan nampak serius.
Pertarungan telah berjalan beberapa jurus lamanya, sedang kini
nampak sekali Lay Ting Hok dibawah angin, sehingga sekarang
sifatnya hanya mempertahankan diri belaka.
Pada suatu ketika, pemuda ini mengadakan serangan balasan
sambil goloknya berkelebat menikam kearah lambung lawannya.
Tetapi siorang bertopeng yang bertubuh kurus-jangkung ini,
mendapat serangan tersebut bukannya mengelak, sebaliknya
pedangnya malah ditempelkan diatas golok Lay Ting Hok, yang
hingga kedua senjata ini melekat jadi satu seperti ada besi
beraninya.
Dengan tidak enggerakkan badannya, orang bertopeng, ini
lantas gerakkan tangan-kiri dan kaki-kanannya. Sambil tangan-
kirinya digetar-getarkan dan kaki-kanannya diangkat, bersamaan itu
Pula Lay Ting Hok merasakan, bahwa golok yang dipegangnya
semakin bertambah berat, sedang ujung pedang lawannya kini
menempel tepat pada gagang-goloknya.
Kemudian nampak badan si orang bertopeng ini mendesak
maju sambil berjongkok sedikit. Kini Lay Ting Hok merasakan
seolah-olah golok yang dipegangnya seperti lebih satu kwintal
beratnya, sehingga ia tak kuasa memegangi goloknya lebih lama

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 42
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

lagi. Sementara itu matanya merasa berkunang-kunang, dan


goloknya pun segera terlepas dari genggamannya. Dan berbareng
dengan itu, kaki-kanan siorang bertopeng telah menyapu betis Lay
Ting Hok yang hingga jatuh terpelanting kelantai. Selanjutnya
orang bertopeng ini lantas mengayunkan tinggi-tinggi pedang-
panjangnya untuk membabat leher lawannya.
Saat itu Lay Ting Hok telah membatin : "Kini tibalah saat-nya
aku mesti mati! Oh, selamat tinggal kekasihku, aku mati demi kau
….. " Ia telah memejamkan matanya rapat-rapat, dan sebentar lagi
tentulah pedang lawannya itu telah memenggal lehemya.
Tetapi selama ini ia menjadi heran luar-biasa, karena meingapa
pedang itu belum juga menyentuh lehemya? Cepat-;cepat ia
membuka mata, dan terlihatlah olehnya siorang bertopeng itu telah
jatuh terpental keluar kamar. la semakin heran dibuatnya, lantaran
melihat pula bahwa kedua orang yang bertopeng yang telah
dirobohkan itu, kini telah siuman dan buru-buru merat bersama-
sama orang bertopeng yang hampir saja memenggal lehemya itu.
Merekapun lantas angkat kaki-panjang meninggalkan Kelenteng
tersebut sambil lari pontang-panting!
Setelah Lay Ting Hok dapat berdiri lurus, kemudian "Ha-
haaha…haaa …..", terdengarlah suara tertawa riuh di belakangnya.
Sesudah ia menoleh, temyata yang tertawa ini adalah kedua
sahabat-karibnya yang setia : So Hok Sing dan Lo Cie Sian! Segera
berlarilah ia menghampiri kedua kawannya itu sambil kedua-
duanya dirangkul kuat-kuat. Kemudian katanya,
"Oh, kawan-kawanku yang baik hati! Sungguh, suatu
pertolongan yang sangat tepat waktunya, lantaran, andaikata
terlambat sedetik saja, tentulah kalian tak mungkin dapat
menjumpai aku lagi dalam keadaan masih hidup! Oleh karena itu,
dengan hati yang tutus-ikhlas, aku mengucap terima kasih sebesar-

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 43
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

besarnya atas pertolonganmu itu, yang hingga aku percaya, bahwa


tak mungkinlah kiranya aku dapat membalas segala budi baik kalian
itu !"
“Ah ………… terima kasih kembali, Engko Lay! Ja-nganlah
memikir jank bukan-bukan, karena memang sudah seharus-nyalah
kita hidup didunya ini saling tolong-menolong-! Tentang mengapa
pertolongan itu sampai tepat pada waktunya, adalah karena
Kehendak Tuhan belaka, yang berarti Engko memang belum
saatnya untuk meninggalkan dunia yang penuh pengkhianatan
jawab So Hok Sing dengan penuh perasaan.
"Lalu, bagaimanakah mula-mulanya sehingga kalian bisa
mengetahui kalau aku berada didalam Kelenteng ini ?", tanya Lay
Ting Hok.
"Oooo, tentang itu! Tapi sejogjanya nanti saja setelah kita
berada ditempat yang agak aman, yang hingga kita bisa saling
mengisahkan pengalamannya masing-masing dengan leluasa! yang
lebih penting, sekarang Engko Lay supaya segera menolong nona
Oen!", jawab Lo Cie Sian mengingatkan.

Bersambung ke Jilid II (Tamat).

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 44
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 45
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

WELAS – ASIH
tak terkalahkan

Jilid - II

Oleh: M. Niep -T. W. L.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Juru potret / Sean : Awie Dermawan
Distribusi & Arsip : Yon Setiyono

WELAS ASIH

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 46
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

tak terkalahkan

JILID 2

RINGKASAN CERITA JILID KE-I

Thio King, sianak tuan-tanah, dengan didampingi oleh


algojonya : Kwan Ling, telah datang kegubuk Oen Kok Siang (Si..
petani miskin). Maksud kedatangannya ialah, selain untuk menagih
hutang sewa-tanah kepada orang tua ini, juga akan memancing ikan
diair keruh. Yaitu dengan jalan akan membebaskan segala hutang
Oen Kok Siang, asalkan anak gadisnya yang bernama Oen Hong
Kiauw diserahkan kepadanya. Oleh karena dari pihak anak gadisnya
tak mau menjalani untuk dipakai sebagai pembayar hutang,
sedangkan Oen Kok Siang sen did juga tak menyetujuinya, maka
orang tua ini lantas dipu kuli sampai pingsan oleh Kwan Ling..
Mendadak saja, datanglah seorang penolong, yakni seorang
pemuda tampan Lay Ting Hok namanya. Maka lantas terjadilah
suatu pertarungan sengit antara sipenolong, itu de-ngan anak situan-
tanah beserta algojonya. Akhirnya kedua pemuda bengal fili dapat
dirobohkan oleh Lay Ting Hok, dan larilah mereka berdua terbirit-
birit pulang kerumahnya, dengan disertai rasa dendam-kesumat
yang tak ada taranya.
Sementara itu, kedua muda-mudi, yakni Lay Ting Hok dan Oen
Hong Kiauw, hati masing-masing saling mendekat, yang akhirnya
tumbuhlah menjadi rasa cinta yang mendalam diantara mereka
berdua.
Mengenai kedua pemuda bengal Thio King dan algojonya,
setelah mereka berdua keok bertanding melawan Lay Ting Hok,
maka segeralah hal ini diberitahukan kepada ayahnya Thio King,

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 47
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

yaitu si raja tuan-tanah Thio. Betapa marahnya situan tanah ini,


demi mendengar kisah anaknya, maka dengan dibantu oleh
pengawal pribadinya : Ting Ljang, salah seorang yang banyak akal-
jahatnya, meteka berempat pun segera mengatur siasat untuk
membalas-dendam.
Sementara itu, antara sigadis Oen Hong Kiauw dan pemuda
tampan Lay Ting Hok, hati masing-masing saling mengandung
rindu yang tak putus-putusnya. Dan untuk memupuk tumbuhnya
rasa cinta ini, sipemuda lantas menawarkan bantuannya yang berupa
beberapa lembar uang emas, yang selain dimaksud untuk melunasi
hutang ayah sigadis, pun juga supaya dibelikan tanah untuk
bersawah bagi si petani tua yang miskin itu. Tetapi dengan hormat,
bantuan ini ditolak oleh sigadis, dengan maksud supaya uang
tersebut diserahkan saja kepada ayahnya. Dan setelah berjanji
bahwa sore harinya pemuda ini akan datang lagi untuk
menyerahkan uang itu kepada ayah sigadis, maka Lay Ting Hok
lantas pulang meninggalkan kekasihnya. Janji telah tiba, dan sore
itu sigadis maenunggu dengan penuh harap kedatangan kekasihnya.
Tetapi ternyata yang datang bukanlah sipemuda pujaan hatinya,
melainkan ketiga orang gerombolan bertopeng, yang akhirnya
malah menculik sigadis ini, sedangkan ayah nya diikat erat-erat
pada tiang rumahnya, dan pintu rumahnya ditutup serta diikat dari
luar. Kembali diceritakan tentang pemuda tampan Lay Ting Hok.
Sore itu ia bermaksud akan memenuhi janjinya, yakni akan
menyerahkan uang emas tersebut kepada ayah sigadis. Tetapi
ditengah jalan ia kehujanan, dan kemudian berteduh disebuah
Kelenteng tua yang sudah tak terpakai lagi. Tak tahunya, di
Kelenteng ini ia mergoki kekasihnya akan diperkosa oleh seorang
yang bertopeng.
Dan disini Lay Ting Hok lantas bertempur mati-matian
melawan ketiga orang bertopeng yang telah menculik kekasihnya
Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya
Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 48
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

itu. Dua orang lawannya telah dapat dirobohkan, tetapi untuk


melawan yang satunya lagi, yakni yang berbadan kurus-jangkung,
sipemuda ini hampir saja tewas dipenggal lehemya oleh lawannya
ini.
Kemudian datanglah suatu pertolongan yang sangat tepat
waktunya, yaitu dari kedua sahabat-karib Lay Ting Hok, yang
masing-masing bernama So Hok Sing da.n Lo Cie Sian.

HALAMAN 54 HILANG

Diingatkan demikian, Lay Ting Hok lantas berbalik badan, dan


menghampiri badan kekasihnya. Tetapi pada saat itu, Oen Hong
Kiauw telah siuman kembali dalam keadaan tengkurap, yang
mungkin merasa malu karena ketika itu boleh dibilang su-dah
hampir tak berbaju lagi, sedangkan keduabelah tangannya masih
terikat kebelakang. Kemudian setelah sumbatnya dibuang, lalu
ikatan tangannya segera dilepaskan oleh Lay Ting Hok.
Walaupun kini tangannya telah terlepas dan sudah tak terikat
lagi, namun sigadis ini tetap masih menelungkup juga. Oleh karena
Lay Ting Hok tahu soalnya, maka seketika itu juga ia lantas
melepas bajunya untuk ditrapkan dibadan kekasihnya, sehingga ia
sekarang hanya tinggal berbaju dalam saja. Setelah memakai baju
yang kebesaran ini, Oen Hong Kiauw lantas duduk dan berkata :
"Engko, Lay-! Baiknya Engko lekas-lekas pergi ke rumahku,
tolonglah jiwa ayah! Tentang diriku, janganlah dipikirkan lagi,
karena si iblis-iblis itu telah maerat dari sin?'.
Ketiga pentuda ini lantas berunding sebentar, dan kemudian
diputuskanlah, bahwa Lo Cie Sian ditugaskan untuk mengawal Oen

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 49
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Hong Kiauw, sedangkan Lay Ting Hok beserta So Hok Sing akan
mendahuluinya kerumah sigadis untuk menolong ayah nya.
Hari mulai gelap, pelita-pelita rumah diperdesaan telah mulai
dinyalakan. Tatkala itu kedua orang muda Lay Ting Hok dan So
Hok Sing telah sampai didepan pintu rumah ayah Oet Hong Kiauw,
lantaran kedua penauda ini masing-masing memang telah. memiliki
ilmu entengkan badan yang amat lihaynya, Sehingga secepat itu
pula ia sampai kegubuk tersebut. Sesudahnya Lay Ting Hok
membuka palang-pintu yang diikat dari luar cepaujepat kedua
nemuda ini lantas masuk kedalam gubuk.
Ketika itu Oen Kok Siang telah tersedar dari pingsannya, tetapi
lantaran mulutnya disumbat sedang badannya diikat erat-erat pada
tiang rumahnya, maka iapun tak dapat berbuat apa-apa kecuali
hanya matanya saja yang kelap-kelip sangat mengharukan bagi
siapa yang melihatnya.
Menyaksikan keadaan yang demikian, kedua pemuda lantas
serentak maju untuk membuka sumbat serta melepaskan ikatannya.
Sesudah ia terlepas dari ikatannya, pertama-tama yang ditanyakan
ialah mengenai nasib anak-gadisnya. Dan setelah mendapat
jawaban, bahwa anaknya didalam keadaan selamat, bare nampak
lega-lah hatinya, kemudian katanya :
"Sjukur, sjukurlah kalau ia selamat! Oh anak muda, betapa
terima kasihku kepada kalian yang telah berulang kali
menyelamatkan jiwa anakku dan juga nyawaku! Kiranya aku, tak
mungkin dapat membalasnya, kecuali hanya Tuhanlah jant akan
membalas atas segala budisluhurmu yang welas-asih terhadap
sesamamu !", kata orang tua ini sambil air-matanya mengalir
membasahi pipinya yang sudah kisut-kisut itu, mungkin saking
terharu dan girangnya karena anaknya terlepas dari mau bahaya,

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 50
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

yang hingga meski ia seorang laki-laki sampaisam-sampai


mengeluarkan air-matanya juga.
"Oooo, terima kasih kembali, Lo Pek! Memang sudah
sewajibnyalah, bahwa manusia hidup didunya ini hares saling
tolong-menolong", jawab Lay Ting Hok merendah.
Sesaat kemudian, muncullah Oetn Hong Kiauw bersama Lo
Cie Sian dengan bergegas-gegas masuk kedalam rumah. Ketika
gadis ini nampak ayahnya selamat tak kurang suatu apa, iapun
segera lari menubruk ayah nya. sambil menangis dengan-
nyaringnya, sedang ayah nyapun tak dapat membendung keluar nya
sang air-mata yang hingga ayah dan anaknya ini lalu
bertangistangisan, yang membuat hail terharu bag: siapa yang
melihatnya. Begau pula ketiga orang muda ini lantas menundukkan
kepalanya, sebagai pertanda hati merekapun turut terharu pula.
Setelah tangisnya mereda, barulah mereka menceritakan
pengalamannya masingmasing.
"Yang paling mengherankan hatiku sampai sekarang ini, ialah
bahwa mengapa dengan tiba-tiba saja adik Lo muncul di Kelenteng
ma itu? Dan mengapa pula kalian sampai tahu, bahwa aku berada di
Kelenteng tersebut, padahal sebelumnya kita tidak pemah
berjanji ?", tanya Lay Ting Hok menyatakan keheranannya.
"Tentang hal itu, sebetulnya jawabnya gampang saja, Eng-ko
Lay! Begini : Semenjak Engko Lay memukul rubuh kedua pengecut
nu, aku berdua lantas selalu berjaga-jaga dan mengawasi Engko
Lay, sebab siapa tahu kedua orang iblis ini lantas membalas-dendam
kepadamu !", jawab So Hok Sing.
"Dan ketika Engko Lay keluar dari rumahmu dengan
berpakaian mentereng sambil bersiul-siul riang itu, sebenarnya aku

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 51
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

berdua telah membuntuti dari kejauhan!", sambung Lo Tile Sian


sembari tersenyum menggoda.
"Wah, kalau begitu cilaka hidupku ini, karena selalu dimata-
matai, sehingga tentunya semua rahasiaku telah kalian ketahui!",
jawab Lay Ting Hok membanyol. Dan seketika itu juga meledaklah
tertawa riuh, yang hingga ayah dan gadisnya ini juga turut
tersenyum lebar.
Malam itu juga, dengan disaksikan Pula oleh kedua sobatnya,
maka Lay Ting Hok lantas mengeluarkan pundi-pundi yang berisi
beberapa lembar liana emas dari sakunya, yang kemudian ditaroh
diatas meja, seraya katanya :
"Lo Pek, sebetulnya maksud kedatanganku jauh-jauh dari
rumahku sampai kemari ini adaiah untuk menyerahkan beberapa
lembar uang emas ini, yang supaya dipergunakan untuk melunasi
hutang sewa-tanah, sedang sisanya harap dibelikan tanah untuk
bersawah", kata Lay Ting Hok sambil mengingat-ingat. Kemudian
lanjutnya : "Karena menurut pendapatku, kalau hutang sewa-tanah
itu telah dibayar, sedang Lo Pek sudah tidak mengerjakan lagi
tanah-sewaan tersebut, maka mereka, si tuan-tanah Thio beserta
anaknya itu, tak punya alasan lagi untuk berbuat semau-maunya
saja terhadap keluarga Lo Pek! Oleh karenanya, terimalah uang
yang tak seberapa ini dengan senang dan hati terbuka, lantaran uang
ini kuberikan dengan hati yang tulus ikhlas pula !"
Sejenak orang tua ini diam tak berkutik, tetapi air-mukanya
nampak berseriseri sebagai pertanda hatinya sangat bersuka-cita.
Dan mungkin saking girangnya pulalah maka ia lantas tak kuasa
menjawabnya, sedang dipelupuk matanya mengembeng airmata
kegirangan. Betapa tidak, karena bagi kaum tani, tanah adalah
nyawanya!

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 52
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Setelah sesaat lamanya orang tua ini masih tetap membungkam


saja, Oen Hong Kiauw sudah tak sabar lagi, lantas menyiku tangan
ayah nya yang masih menunduk dan agaknya sedang melamun itu.
Keruan saja, setelab kena siku anaknya, orang ma ini jadi kaget
dibuatnya. Kemudian segera teringatlah, bahwa ia harus
menjawabnya, lalu katanya,
"Oh, anak-muda yang berbudi luhur dan welasasih!Betapa
girang dan terima kasihku kepadamu atas segala pertolongan yang
telah kau ,berikan keoada keluargaku yang sengsara ini, sampai-
sampai aku tak bisa melukiskannya dengan katakata maupun
perbuatan ......", jawab orang tua ini dengan terus-terang, karena
hatinya memang sederhana, sehingga ia tak pandai berpura-pura.
Sesudahnya bungkusan uang itu diterimanya, lalu disimpanlah baik-
baik. Selesai penyerahan uang, segera berundingiah ketiga orang
muda itu untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya.
Merekapun bersepakat untuk secara bergilir meronda dan menga-
wasi keselamatan orang tua beserta anak-gadisnya ini

– oOo –

Sepekan telah berlalu, dan kini Oen Kok Siang telah meng
garap sawah miliknya sendiri. Sudah barang tentu, sekarang
bekerjanya lebih giat dan hatinya pun selalu riang-gembira, lantaran
hutang telah tiada, sedang sawahpun kepunyaan sendiri. Lay Ting
Hok seringkali datang menengoknya, sedang selama itu pula belum
pemah terjadi hal-hal yang mencurigakan yang sekiranya akan
mengancam keselamatan keluarga Oen. Dengan demikian,
perondaan terhadap rumah keluarga Oen oleh ketiga pemuda itu,
kini telah sedikit dkendorkan.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 53
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Perhubungan antara Lay Ting Hok dengan Oen Hong Kiauw


semakin hari semakin bertambah eratnya, sehingga kini tumbuk. lah
menjadi cinta-kasih yang murni dan semakin subur.
Hari mulai jadi gelap, dan kini malam pun tiba. Malam malam
gelap, tiada berbulan, tetapi langit yang hitam letkam penuh ditaburi
bintang-bintang yang bergemertanan. Angkasa. kelihatan jauh
sekali, amat luasnya, sedang angin pegunungan meniup sejuk amat
nyaman.
Dan didepan gubuk Oen Kok Siang, nampaklah dua sosok
tubuh yang sedang duduk rapat-ranat disebuah bangku panjang
yang sudah tak keruan bentuknya. Mereka merasakaa, seolah-olah
seantero jagat jang maha besar ini, hanya mereka berdualah Mereka
merasakan pula semacam kegaiban alam dari malam kelam ini,
kegaiban alam yang turun dari angkasa hitam berbintang, dan
datang turun dibawa angin pegunungan yang sejuk itu kepada
mereka, kepada kedua orang muda lain jenis yang duduk
berdampingan ini. Mereka merasa seakan-akan menjadi anak
pilihan alam yang berkuasa, dan didalam pelukan kegaiban malam
itu, mereka merasa sentausa, dijaga dari segala mara. bahaya dan
ancaman.
Siapakah gerangan, kedua asyik-masyuk yang sedang duduk
dengan tenteramnya itu? Mereka berdua, tak lain dan tak bukan,
adalah Lay Ting Hok dan kekasihnya Oen Hong Kiauw. Setelah
sesaat lamanya mereka hanya berdiam diri saja, kemudian
terdengarlah suara berbisik-bisik :
"Oh dik Oen yang manis, aku cinta kepadamu!". Dan sebagai
jawabannya, gadis yang berada disampingnya pemuda itu, hanyalah
memeluk bahu sinemuda ini.
"Nanti setelah rumah ini kita perbaiki, kita kawin !", kata Lay
Ting Hok lagi dengan berbisik pula. Dan gadis inipun tetap tak

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 54
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

menjawabnye juga, hanya pelukannya saja yang semakin erat,


sedang dadanya dirapatkan ketuhuh sipemuda itu.
Sedang asjik-asjiknya mereka bercumbu-rayu dengan
mesranya, tak tahulah mereka berdua, bahwa pada waktu itu
keenam mata sedang mengintipnya dengan sinar kebencian yang
meluap-luap. Dan sekonyong-konyong "Plok", kepala sipemuda
dipukul dari belakang dengan potondan kayu besar. Kemudian :
"Aduh mati aku ", teriak pemuda ini lalu ambruk jatuh dari temnat
duduknya seraya memegangi kepalanya yang memancurkan darah,
dan dibarengi pula dengan jerit ngeri yang memilukan hati dari
mulut sigadis. Gadis ini menjerit sambil maenubruk tubuh
kekasihnya yang sudah tak bergerak lagi itu.
Tetapi sebelum ia menyentuh tubuh kekasihnya, tahu-tahu
badannya terangkat keatas, dan kemudien diringkus serta mulutnya
disumbat, sedangkan kaki-tangannya diikat erat-erat.
Sementara itu Oen Kok Siang, yang ketika itu sedang tiduran
diranjang, demi mendengar jeritan anakgadisnya, cepat-cepat ia
keluar rumah sambil mencabut palang-pintu. Setibanya di tempat
ribut-ribut, orang tua ini lantas mengayunkan palang. pintunya
kearah kepala salah seorang bertopeng yang memegang golok. Dan
dengan sebat pula, orang ini mengelak seraya menya bet bahu Oen
Kok Siang dengan goloknya. Lalu "Aduh ", sambat si orang tua
lantas jatuh terguling, guling menggelepar ditanah badannya
berlumuran darah, seperti seekor ayam yang disembelih
Melihat ayah nya menggelepar dan herlumuran darah darah,
gadis ini memastikan bahwa ayah nya telah melayang jiwanya. Oen
Hong Kiauw lantas menjerit panjang, meski tak keluar suaranya
karena mulutnya disumbat.
Nampak kepala sigadis ter kulai kesamping pundaknya, dan
pingsan tak sadarkan diri. Kemudian badan Oen Hong Kiauw yang

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 55
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

sudah tak berkutik lantas dimasukkan kedalam karung yang telah


disiapkan lebih dulu. Dan sesudah diikat ujungnya, maka segera
dibawa pergi oleh ketiga orang penjahat itu, seperti membawa beras
saja.
Kini diceritakanlah, kedua pemuda sehidup semati yang tak
pemah berpisah itu, yakni So Hok Sing dan Lo Cie Sian. Tat kala itu
mereka baru saja pulang ciari rumah Suhunya Liang Hong, untuk
menerima ajaran-ajaran ilmu silat baru yang di pelajari oleh
gurunya itu. Mestinya mereka akan terus pulang kerumahnya
masing-masing, tetapi entah mengapa, seketika itu juga mereka
lantas teringat rumah Oen Kok Siang seraya hatinya terasa
berdebar-debar, seolah-olah sedang menghadapi suatu bahaya besar.
Bagaikan terkena tarikan besi berani saja layaknya keduanya lantas
berbalik jalan menuju kearah rumah ayah sigadis itu.
Malam semakin gelap, suasana pedusunan semakin hening-
sepi, hanya suara gonggongan anjing saja yang kadang-kadang
terdengar lapat-lapat dari jauh menyeramkan, membikin bulu kuduk
meremang. Dan kedua orang muda ini sampailah kini dipekarangan
rumah orang tua itu.
Mereka tertegun sejenak didepan pintu, karena pintu gu-buk ini
dalam keadaan terluka, namun didalamnya sunyisepi tak ada suara
sedikitpun. Mereka mulai curiga, lalu masing-masing menghunus
goloknya, sambil berjingkit-jingkit masuk kerumah. Kedua orang
muda ini merasa heran, lantaran dise genap penjuru rumah ini telah
habis dikitari dan dijelajahi, namun mereka tak menjumpai apa-apa.
Mendadak saja mereka mendengar lapat-lapat orang merintih
dan mengerang kesakitan disamping rumah. Dengan hati-hati,
merekapun burusburu keluar rumah seraya mempersiap-kan
senjatanya. Dan terhhatiah oleh mereka, sesosok tubuh yang

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 56
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

merangkak-rangkak disamping sebuah bangku-papnjang samba


mengerang kesakitan.
"Siapa itu ?", bentak So Hok Sing dengan keras.
"A ….. aku … Lay Ting Hok", jawabnya tersekat-sekat.
"Oh Engko Lay!", teriak kedua pemuda ini berbareng. Dan
serempak mereka membungkuki tubuh Lay Ting Hok. Setelah
diketahuinya, bahwa yang terluka dikepalanya, Lo Cie Sian lantas
melesat lari masuk kerumah untuk mencari kain pembalut.
Sesudahnya dapat, lain dibalutnyalah kepala Lay Ting Hok yang
terluka kena pukulan ini.
Sebentar kemudian, sebelum kedua sahabatnya sempat bertanya
tentang sebab-musababnya, tiba-tiba Lay Ting Hok lantas bangkit
dari duduknya seraya masih memegangi kepalanya, berkatalah
kepada. kedua teman setianya ini :
"Adik So dan adik Lo, tolong rawatlah tubuh ayah Oen Hong
Kiauw yang ada dibawah pohon itu! Tetapi, baiknya bawalah
kerumahmu saja! Dan kini aku pinjam golokmu untuk menuntut-
balas dan mencari jejak kekasihku yang diculik orang-orang
bertopeng itu!" Sehabis berkata, tanpa menunggu jawaban, dengan
cepat ia merebut golok Lo Cie Sian yang kemudian melesat pergi.
Dan dengan sekejap mata saja, Lay Ting Hok telah lenyap dari
pandangan mata.
Kedua pemuda yang ditinggalkan ini, hanya terlongoh-longoh
saja menyaksikan kawannya yang mempunyai hati seperti baja itu.
Betapa tidak? Karena ia sendiri sebetulnya terluka-parah, tetapi
tanpa memikirkan keselamatan jiwanya, lantas bertekad teguh untuk
menuntut-balas pada lawannya yang telah-berani mencuiik
kekasihnya yang sangat ia cintai. Kini, kedua orang muda ini hanya
patuh dan menurut sa. ja pada apa yang telah dipesankan oleh

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 57
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

sahabat-karibnya, Lay Ting Hok. Kemudian tubuh orang tua yang


malang ini, segera digotong keruma.h Lo Tile Sian untuk
dirawatnya disana.

– oOo –

Hari mulai terang, fajar menyingsing diuftik timur keine rah-


merahan warnanya. Bukit-bukit, batu-batu, rerumputan dan
dedaunan lainnya, nampak seperti habis mandi saja layaknya
terkena embun pagi.
Pagi ini, serambi-tengah rumah tuan tanah Thio yang bagai kan
istana raja itu, nampaklah keempat orang yang sedang berunding.
Rupa-rupanya perundingan ini bersifat sangat rahasia, karena
temyata semua pintunya tertutup rapat.
Pertama-tama yang tanah Thio, katanya "Heee, Ting Liang !
Bagaimana kabarnya, apakah sudah berhasil semua tugasmu?"
"Berkat do'a tuanku, semuanya telah Beres! Dan semuanya telah
berjalan menurut apa yang kita rencanakan. Barangkali, si cecurut
itu kini sudah mampus, lantaran kebacok pundak nya sampai
menggelepar seperti ayam disembelih saja".
"Bagus, bagus, itulah yang kuharankan! Lantas anak si tikus itu
apakah sudah kepegang juga?", tanya si tuan-tanah lebih lanjut.
"Sudah ayah, malahan sekarang ia sudah kukurung dikamarku",
sambung Thio King dengan muka berseri-seri.
"Sjukur, sjukurlah! Karena engkau memangnya sudah jatuh
cinta kepadanya, meski saja sendiri sebetulnya tidak begitu
menyetujuinya. Tetapi yaa apa boleh buat, malahan sebaiknya

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 58
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

supaya lekaslekas saja kita atur dan kita tentukan hari


perkawinanmu itu'', sahut situan-tanah.
Dan Thio King hanya manggut-manggut senang tanda
menyetujui. "Cuma saja ada hal-hal yang perlu dikuatirkan,
tuanku", kata Ting Liang menyela.
"Hm, apa lagi yang perlu dikuatirkan, Ting Liang ?" membuka
pembicaraan adalah tuan.
"Begini tuanku, kukira pemuda Lay Ting Hok si keparat. itu
kini belum mampus, jadi masih bisa balas-dendam".
"Hah, masa sebodoh itu kau, Ting Liang! Percuma aku piara
kau! Masakan cuma dia sendiri seorang diri saja sampai bisa
mengalahkan kita berempat?", bentak si tuans-tanah sembari marah-
marah.
"Bukan begitu, tuanku ! Memang kalau cuma dia seorang saja,
sudah barang tentu tak begitu berbahaya. Tetani, karena dia punya
sobat-kentel, yaitu Sutee-suteku So Hok Sing dan Lo Cie Sian,
inilah yang sangat berat untuk menghadaninya", kata Ting Liang
dengan sungguh-sungguh.
"Huh, macammu, Ting Liang! Justru mereka hanya adik
seperguruanmu, mengapa engkau mesti takut?"
"Terus-terang saja kuakui, bahwa kedua Suteeku tak boleh
dipandang enteng. Lebih-lebih lagi Lo Cie Sian, ia telah memiliki
ilmu yang paling sukar dipelajarinya, yaitu yang dinamakan : Jien
Sin Lang Jen. Sedang saya sendiri tak mampu mempelajarinya,
tuanku !"
"Habis, lalu bagaimana ? Apakah kita mesti gulung-tikar saja?",
sahut ayah Thio King dengan sangat marahnya, sampai kakinya
dihentak-hentakkannya ke lantai.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 59
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

"Baiknya begini tuanku. Sekarang tuan-muda Thio King, Kwan


Ling dan saja sendiri supaya segera pergi kerumah Suhu Liang
Hong untuk meminta bantuannya, yaitu dengan jalan supaya Suhu
untuk sementara waktu mau berdiam dirumah tuanku sini, sehingga
dengan demikian, kalau sewaktu-waktu bahaya, cukuplah dia
sendiri yang menghadapinya !", jawall-Ting Liang yang penuh akal-
busuknya ini.
"Hiii-ha-hahaaa, pendapat yang bagus inu.! Tetapi, lalu
bagaimana caranya supaya Suhu-mu itu mau bertempat-tinggal
sementara disini ?"
"Hm , untuk itu, cukuplah diserahkan saja kepadaku, tuanku!
Pokoknya, aku harus bisa memancing serta menghasut-hasut Suhu
supaya berpihak kepada kita, tuanku", jawab Ting Liang dengan
sungguhsungguh.
"Kalau begitu, baiklah, Ting Liang! Baiknya sekarang juga
engkau bertiga kerumah Suhu Liang Hong untuk meminta
bantuannya", kata situan-tanah, dan kini mukanya diadi bening lagi.
Mereka bertigapun segera mintadiri, dan bergegas-Regas pergi
menuju kearah jalan besar.
Dan tak perlu pulalah kiranya diceritakan lebih lanjut, tentang
bagaimana caranya ketiga orang itu menghasut-hasut dan
memburuk-burukkan kedua orang muda So Hok Sing dan Lo Cie
Sian dihadapan Suhunya itu. yang pada pokoknya, Suhu ini
termakan juga oleh hasutan-hasutan jahat itu, sehingga akhirnya
mau juga ia berdiam sementara dirumah siraja tuan tanah Thio yang
jahat itu, untuk dijadikan begundalnya .
Kembali-lah kita kerumah situan-tanah Thio yang pada saat
mana sedang diadakan perundingan rahasia antara situan tanah,
Ting Liang, Thio King dan Kwan Ling itu. Pada waktu mana,
saking asyik-asyiknya mereka berunding, hingga mereka tak tahu,

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 60
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

bahwa diatas genteng rumah ini telah ada sepasang telinga jg, asjik
pula mendengarkannya, sehingga semua yang dibicarakan secara
rahasia itu telah bocor dan didengar seluruhnya oleh seseorang yang
mengintip diatas genteng.

Siapakah gerangan yang berani mengintipnya itu? Dia adalah


pemuda Lay Ting Hok, yang tatkala itu sedang mencari jejak
kekasihnya yang diculik oleh ketiga penjahat yang bertopeng. Dan
kini telah menjadi jelas 'persoalannya setelah ia mende-ngar seluruh
percakapan rahasia keempat orang pengecut itu. yang paling
penting, ialah bahwa kini Lay Ting Hok telah menjadi tahu bila
kekasihnya telah dikurung dirumah tersebut. Tetapi untuk maerebut
kembali kekasihnya ini dengan hanya seorang diri saja, adalah suatu
perbuatan yang sangat gegabah dan mungkin tak akan terleksana.
Karenanya, setidak-tidaknya ia hares mencari bantuan terlebih dulu.
Memperoleh pikiran demikian, setelah ketiga orang itu pergi
keruma,h Suhu Liang Hong untuk menghasutnya, dengan secepat
kilat ia melesat turun kebawah dengan tanpa bersuara sedikitpun.
Kini, darah yang melekat dikepalanya telah mengering, namun
kadang-kadang masih terasa nyeri juga kepalanya. Tetapi hal ini tak
begitu dirasakannya, lantaran terdorong oleh rasa cinta yang sangat
besar terhadap buah-hatinya Oen Hong Kiauw, yang selama ini ia
selalu dirundung oleh mara-bahaya dan kesengsaraan hidup yang
tak ada taranya. Memikir demikian, karuan saja Lay Ting Hok
lantas semakin menjadi terharu, kasih-an, sayang, cinta dan entah
apa lagi, yang kesemuanya bercampur menjadi satu si pemuda ini.
Sehingga semakin pula mempertebal dan mempertega rasa cintanya
yang selama ini telah menjadi semakin bertambah subur.
Tak perlu kiranya diandarkan juga dalam perjalanannya, Kini
Lay Ting Hok telah sampai dirumah sahabat-karibnya yang

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 61
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

kcbetulan sekali pada saat mana mereka sedang berkumpul dan


duduk beromong-omong. Betapa kaget dan girangnya kedua
Pemuda itu, demi melihat Lay Ting Hok telah kembali dengan
selamat.
"Oooo, Engko Lay!", teriak kedua pemuda ini hampir
berbareng.
"Yaaa, akulah yang datang! Dan bagaimana tentang nasib Lo
Pek Oen Kok Siang ?", tanya Lay Ting Hok tak sabar, "Ia telah
siuman kembali Engko, dan luka-lukanya telah kuobati sebisa-
bisanya. Tulang-iganya telah terpotong tiga ruas, sedang urat-
pundaknya putus samasekali", jawab Lo Cie Sian apa adanya.
Kemudian Lay Ting Hok lantas diantar ke bilik dimana orang tua
ini ditidurkan.
Begitu Lay Ting Hok melihat tubuh siorang tua, begitu pula ia
lantas berjongkok disamping ranjangnya, sambil air-matanya
mengembeng dipelupuk matanya. Pemuda ini merasa sangat terharu
memikirkan nasib orang tua ini, yang selama itu selalu digerayangi
oleh malapetaka dan bahaya. Padahal bela kangan ini ia baru saja
merasa agak senang hidupnya, mendadak saja datang lagi bahaya
itu yang hingga hampir saja merenggut nyawanya.
Memikirkan hal yang sedemikian itu, maka membuat ia
semakin teguh niatnya untuk segera menuntut-balas, karena
sekarang ia baru tahu, bahwa biangkeladi dari kesemua-nya
kejahatan itu adalah terletak atas akal-busuknya situan-tanah dan
anaknya ini.!
Setelah mengasoh sesaat lamanya, segera diandarkanlah
hadapan kedua orang muda sahabatnya ini, tentang segala apa yang
telah ia dengar, sewaktu Lay Ting Hok mengintip diatas genteng
rumah tuan-tanah Thio.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 62
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Mendengar andaran ini, kedua pemuda So Hok Sing dan Lo


Cie Sian jadi amat marah dibuatnya, lantaran tak urung Suhunya
akan termakan juga oleh hasutan-hasutan dari si, pengecut-pengecut
itu. Sebab Ting Liang adalah murid yang tertua, sehingga sudah
barang tentu akan dipercayai pula segala omongannya. Oleh
karenanya, kedua pemuda ini lantas berse pakat untuk menuntut-
balas terhadap pengehianatan yang dilaku-kan oleh Ting Liang dan
kawan-kawannya ini, sambil sedapat mungkin akan menginsjafkan
Suhunya yang tersesat itu. Runding punya runding, maka akhirnya
dengan serempak mereka telah bersepakat, bahwa pada saat itu juga
mereka segera bersiap pergi ke rumah si tuan tanah, untuk membela
kebenaran dan keadilan

–oOo –

Pagi ini, Oen Hong Kiauw bangun dari tidurnya lantas be


ngong. Ia merasa heran ibukari main, setelah mengetahui bahwa
kini ia tidur dikasur yang empuk dengan spreinya yang putih-bersih,
sedangkan tempat-tidurnya berukir sangat indahnya dengan
dkerodongi kelambu yang bersulamkan benang emas ba-gaikan
diistana raja saja layaknya. Ia lantas menggosok-gosok matanya,
seolah-olah tak percaya pada apa yang ia lihat. Baru setelah ia
mengingat-ingat kembali kejadian tadi malam yang mengerikan
yang pemah ia alami, kini ia maenjadi sedih luar-biasa, sedang
badannya maasih terasa kaku dan nyeri sekali. Apalagi setelah
teringat pula akan nasib ayahnya yang malang itu, yang mungkin
telah tewas dianiaja oleh gerombolan penjahat yang bertoneng.
Maka gadis ini lantas menangis tersedu-sedu sembari turun dari
tempat-tidur yang indah itu, yang kemudian duduk dilantai tanpa
alas.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 63
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Teringatlah pula kini ia akan nasib kekasihnya yang dipukul


dari belakang dan terus rubuh berlumuran darah itu. "Apakah
kiranya ia masih hidup?", demikianlah pikir Oen Hong Kiauw
seraya semakin keras tangisnya. Karena mengingat, bahwa pemuda
inilah yang selalu menolong dan membela keluarganya, sampai-
sampai ia tak mengingat akan keselamatannya sendiri. Ia pulalah
yang membelikan sawah ayahnya, sehingga ayahnya pada
belakangan ini kelihatan agak gembira. Tetapi ….. oh nasib belum
lagi lama ayahnya merasakan hidup nya agak senang, mendadak
saja datanglah lagi bahaya yang menimpanya.
Lalu bangkitlah ia dari duduknya, kemudian larilah kepintu
sana, dikunci! Lari kepintu sini, juga dikunci! Lantas larilah ia
kejendela situ, sama juga, dikunci! Saking jengkelnya lalu
menjatuhkan diri kelantai seraya menangis terisak-isak.
Setelah menangis sepuas-puasnya, ketika itu ia sangat terkejut
bukan kepalang, lantaran dengan mendadak saja dan tanpa dketahui
datangnya, didepannya telah berdiri sesosok tubuh yang baunya
amis luar-biasa. Kiranya seorang nenek-nenek tua yang badannya
tinggal tulang dan kulit melulu.
Tatkala itu, nenek-nenek ini berdiri dekat sekali didepan Oen
Hong Kiauw yang duduk dilantai tanpa alas, sehingga pada saat
mana yang terlihat oleh sigadis hanya kakinya belaka. Kemudian
Oen Hong Kiauw mendongak keatas untuk melihat bagaimana rupa
sinenek-nenek ini. Tetapi "Yaaa Tuhan'', pekik sigadis ini seraya
menundukkan kembali kepalanya kelantai. Bulu-kuduknya lantas
meremang, badannya menggigil ketakutan !
Mengapa demikian? Karena muka si nenek-nenek ini sungguh
menyeramkan sekali, pipinya peot-peot, matanya cekung masuk
kedalam hampir tak kelihatan, giginya menjorok keluar, hidungnya
rumpung. Maka kalau roman muka nenek-nenek ini diamat-amati

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 64
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

serta diperhatikan betul, kiranya sudah seperti bukan manusia yang


masih hidup, tetapi tepat apabila dikatakan: Tengkorak yang bisa
jalan! Sedangkan baunya amis luar-biasa! Mungkin saking
takutnya, Oen Hong Kiauw lantas menjerit panjang tak sadarkan
diri.
Tetapi nenek-nenek tua ini masih tetap berdiri juga berada
didalam kamar ini, hanya mundur beberapa langkah saja. Dan ia
tertawa menyeringai, seolah-olah merasa puas lantaran yang
dijaganya merasa takut kepadanya. Kiranya nenek-nenek ini
memang disuruh oleh Thio King untuk menjaga agar sigadis yang
telah diculiknya itu jangan sampai melarikan diri.
Sesudah siuman kembali, Oen Hong Kiauw lantas
mengarahkan lagi pandangnya kearah nenek-nenek ini yang ketika
itu masih berdiri tak jauh dari tempat sigadis duduk. Sedang. kan
nenek-nenek tua ini, kini berdirinya membelakangi si gadis, jadi
mukanya menghadap kesana.
"Ih ha-haha-haaa, anak manis! Engkau jangan takut, karena
aku sekarang membelakangimu! Tetapi jangan coba-coba untuk
merat dari kamar ini, kalau sajang akan jiwamu!", ancam nenek-
nenek ini seraja tertawa dalam hidung. Suaranja sangat parau,
seperti suara dari dalam kubur. Hong Kiauw tidak menjawab,
melainkan hanja matanja saja jang tents mengawaskan tubuh jang
nampak mengerikan itu, sembari hidungnja ditutup dengan lengan
bajunja, lantaran tidak tahan ibau anjir jang disebarkan dari badan
sinenek-nenek itu.
"Ho-ho-hi hi-ha haaaa, anak manis, anak manis! Besok engkau
akan dikawinkan dengan tuan-muda Thio King yang gagah itu.
Sungguh ini adalah keberuntunganmu, anak manis! Karena kau
akan dikawin oleh putera seorang kaya-rayja seantero dusun ini,

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 65
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

sedang penganten lelakinja pun masih muda dan tampan …………


ho-ho hi-hi-ha-haaaa …………”
Mendengar omongan ini, sigadis tetap membungkam seribu-
bahasa, sedang bulu-tengkuknja mulai ;bercliri lagi demi mende-
ngar tertawa jang aneh itu, bagaikan tertawanja hantu kubur saja.
Kini hati Hong Kiauw berontak, lantaran tadi dikatakan, bahwa
besok ia akan dikawinkan dengan si bajul-buntung itu. Sungguh
rasa hatinja jadi pilu, jijik, jengkel, dan entah apa lagi, yang
kesemuanya beraduk menjadi satu didalam kalbu-nya. Maka lalu
mengambil. keputusan nekat, bahwa lebih baik mati daripada
diperisteri si pembunuh ayahnja ini.
Kemudian dengan cepat Hong Kiauw bangkit dari duduknya
lantas melesat lari kepintu untuk merat. Tetapi celaka, pintunja
masih tetap terkunci! Tatkala ia sedang kutak-kutik akan membuka
pintu, sekonyong-konyong dua-belah tangan kurus yang hanya
tinggal tulang melulu serta berbau amis mencengkeram pundak
sigadis dari belakang lantas dibalikkan. Dan begitu Hong Kiauw
melihat muka sinenek-nenek ini lagi, begitu pulalah ia lantas
pingsan tak sadarkan diri lagi.
Pada sore harinya. Senja ini adalah senja dimana esok harinya
akan dilangsungkan perkawinan antara Thio King de-ngan Oen
Hong Kiauw. Rumah tuan-tanah Thio ini, yang berupa sebuah
gedung besar yang dikitari oleh dinding-dinding yang kokoh dan
tinggi itu, kini telah mulai ramai dengan suara genderang dan
terompet sahut-menyahut. Sedang didalam gedung ini, yang
pintunya terlihat ,dari luar berwarna hitam mengkilat ditambah
dengan gelangan kuningan berkepala binatang besar, kini telah
dihiasi dengan lampion-lampion (ting-zing) yang dipajang sangat
indahnya.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 66
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Siapakah sebenarnya tuan-tanah Thio ini ? Dan siapa pula nama


selengkapnya ? Si empunya gedung ini adalah she Thio tetapi oleh
karena ia jarang sekali bergaul dengan para tetangga-nya, maka tak
seorangpun yang tahu nama kepanjangannya, hanya tahunya Thio
saja.
Konon-kabarnya, tuan-tanah Thio yang kaya-raya ini berasal
Boe Ciang (perwira) yang telah pensiun. Ia sangat kikir, bengis dan
kejam. Dan hampir seluruh sawah dan ladang didusun ini adalah
miliknya, yang disewa-sewakannya atau digarapkan pada petani-
petani miskin didesanya. Sewa-tanahnya sangat berat, yang hingga
mencekik leper kaum tani, sedangkan ia memperlakukan tenaga
penggarapnya seperti terhadap binatang saja!
Tuan-tanah Thio mempunyai anak hanya seorang saja, yakni
Thio King. Oleh karena Thio King adalah anak satu-satunya, maka
sudah barang tentu anak ini sangat dimanjakan, sehingga apa saja
yang dimintanya, tentulah selalu dituruti. Dan lan-taran selalu
dimanjakan dan dituruti inilah yang membuat si pemuda itu lantas
berwatak jahat luar-biasa yang hingga melebihi kejahatan ayahnya.
Malam itu, Thio King sedang membujuk-bujuk Oen Hong
Kiauw supaya gadis ini jangan membangkang dan supaya menurut
saja dikawinkan dengannya. Namun selama itu Pula, si gadis tetap
menolaknya, tak sudilah ia diperisteri si pembunuh ayah nya.
"Nona Oen, engkau sekarang telah sebatang-kara, tak beribu
tak berayah, lantas siapakah yang akan mengurusimu? Sedang kalau
engkau mau dikawinkan dengan aku, hidupmu akan terjamin karena
ayahku seorang kaya-raya seantero dusun ini", bujuk pemuda ini.
Tetapi Hong Kiauw tetap membungkam tak mau menjawabnya.
Ketika itu ia tetap duduk dilantai tanpa alas, kendati didekatnya
telah tersedia kursi kursi yang tempat duduknya empuk dibungkus
dengan kain beludru yang sangat halus.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 67
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Sejenak setelah ditunggu-tunggu, namun sigadis tetap


membisu, maka Thio King berkata lagi : "Bagaimana nona Oen,
mengapa engkau tak mau menjawab juga? Anggaplah seluruh apa
yang ada didalam rumah ini sebagai milikmu, dan pakailah
perhiasan-perhiasan yang mahal-mahal harganya yang semenjak
tadi kutaroh dan kusediakan diatas meja itu!"

Memang, semenjak tadi diatas meja didekatnya itu telah


tersedia perhiasan-perhiasan yang bertatahkan ratna-muturmani-
kam atau intanberlian, yang hingga sinarnya menyaaukan mata bagi
siana yang memandangnya, tentulah perhiasan-perhiasan ini amat
mahal harganya. Walaupun demikian, sigadis sedikit pun tak tertarik

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 68
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

pada perhiasan-perhiasan ini, jangankan mau memakainya, sedang


menyentuhpun ia tak sudi melakukannya. Sementara ini, Thio King
yang berwatak berangasan, sudah habis kesabarannya, lantaran ia
bicara sampai meniren, namun tak sepatahpun dapat jawaban Hari
sigadis. Ia lalu bangkit Mari duduknya. Amarahnya pun timbul,
matanya merah, mulutnya gemetaran, samba ia maju kemuka
menghampiri Hong Kiauw. Tetapi dengan sebat pula, sigadis lantas
menghunus pisau-dapur yang diselipkan dipinggangnya. Rupa-
rupanya ketika ia diantari makanan dan buah-buahan, pisaunya lalu
diambil dan disembunyikannya.
"Kalau engkau berani menyentuh tubuhku, maka pilau ini akan
kutikamkan keperutku! Terus-terang aku bilang, daripada kawin
denganmu, lebili baik aku mat menyusul ayahku yang kau bunuh
itu", ancam Hong Kiauw dengan lantangnya.
Sebetulnya ia sampai berani berbuat nekat seperti itu karena
terpaksa juga, lantaran ia sudah tak tahan lagi menanggung asab-
sengsara yang selalu menimpa dirinya.
Sejenak Thio King tertegun, ia amat kaget bukan main, seperti
disambar geledek meleset. Lantaran tidak diduga sebelumnya,
bahwa Hong Kiauw sampai berani akan berbuat senekat itu. Ia
lantas mundur lagi selangkah, samba memikir-mikir.
"Masakan aku tak bisa merebut pisau itu dari tangannya!",
Memperoleh pikiran demikian, maka dengan sebat luar-biasa ia
melesat menubruk si gadis ini.
Tetapi "Plok", sebuah pelor mengenai dadanya, sehingga Thio
King lantas jatuh terjengkang. Seibelum, ia mendusin apa yang
terjadi, sekonyong-konyong berkelebatlah sesosok bayangan yang
datang dari arah jendela lantas menyambar kepalanya. Tetapi,
karena Thio King memiliki juga ilmu. silat yang lumajan, maka
begitu ia diserang lantas mengelak dengan jalan mengguling-

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 69
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

gulingkan badannya kelantai. Dan setelah Thio King ,bisa berdiri


tegak, segera nampaklah didepannya seorang pemuda tampan yang
berdiri dengan gagahnya. Ia adalah Lay Ting Hok yang semendjak
tadi memang sudah mengintip melalui jendela kamar ini, yang
pintunya terbuka sedikit setelah dicukil dengan goloknya.
Marilah kita tinggalkan dulu kedua pemuda yang saling
bertanding mati-matian ini. Diruangan lain, nampaklah ke-4 orang
sedang bertarung dengan sengitnya. Yakni antara Ting Liang
melawan Lo Cie Sian, sedang So Hok Sing dilawan oleh Kwaa
Ling.
Pertarungan berjalan sesaat lamanya, tetapi sebegitu lama
belum ada juga yang kalah atau menang. Lebih-lebih lagi bagi
pasangan kedua lawan yang seperguruan seperti Ting Liang dengan
Lo Cie Sian, karena biar bagaimanapun kedua-belah pihak, namun
tipu-tipunya telah sama-sama diketahui sehingga pertarungan itu
berjalan dengan tempo yang terlalu lama.
Tatkala itu, Lo Tiie Sian sedang mengadakan serangan yang
cepat sekali, sehingga Ting Liang tak sempat menghindar, dan
terpaksalah ia menangkisnya. Dan terkena benturan tangan Lo Cie
Sian ini, Ting Liang bergetar dan mundur dua langkah.
Selintas Ting Liang berpikir, bahwa kalau bertanding hanya
dengan tangan kosong belaka tentulah akan memakan waktu yang
lama. Sedangkan selama itu lawannya tentu masih kuat bertahan,
karena ia masih muda usianya. Tetapi bagi dirinya, apabila
pertarungan gampai memakan tempo lama, tentulah tenaganya akan
berkurang juga.
Memperoleh pikiran demikian, secepat-kilat ia lantas
menghunus pedangnya dan menyerang dengan dahsyatnya.
Pedangnya 3 berkelebat menikam lambung lawannya. Tetapi, Lo
Cie Sian memang lawan yang tangguh, karena begitu ia diserang

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 70
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

dengaa pedang, dengan kalemnya lantas miringkan tubuhnya sambil


menghantan, pergelangan tangan lawannya yang memegang
pedang. Kena hantaman ini, pedang Ting Liang terpental tinggi 2
keudara, dan tak diduganya lantas "Aduh mati a … a-ku !", suatu
jeritan ngeri keluar dari mulut Kwan Ling, yang selanjutnya terus
amhruk kelantai melajang jiwanya. Temyata pedang Ting Liang
yang terpental keras keudara itu, jatuhnya tepat mengenai kepala
Kwan Ling yang botak ini, hingga pedang ini tertancap kekepalanya
menembus sampai ke otaknya, dan tewaslah ia seketika itu juga.
Sungguh celaka, matinya sialgojo yang kejam dan bengis ini mati-
konyol, lantaran terkena senjata kawannya sendiri. Itulah sebagai
hukum alam.
Menyaksikan kawannya tewas terkena senjatanya, Ting Liang
menjadi gugup dan gelisah. Lantaran, baru seorang lawan seorang
saja ia merasa belum tentu menang, apalagi kalau ia sampai
dkeroyok dua orang yang masing-masing memiliki ilmu yang
sangat lihay. Maka hatinya lantas jadi mengkeret sebesar semut.
Sambil mengelak serangan lawannya, selintasan ia teringat,
bahwa didalam rumah situan-tanah ini banyaklah terpasang Cie
Kuan atau alat-perangkap rahasia untuk menjebak mausuh. Dan
dengan sebat ;uar...biasa, ia lantas melesat kearah pintu seraya
menekan sebuah knoll kecil.
Dan, tak diduga-duganya, lantai yang diinjak oleh So Hok Sing
dan Lo Cie Sian itu lantas bergerak kebawah, terus …. terus turun
kebawah! Kini kedua orang muda itu seakan-akan berada didalam
sumur, sekelilingnya hanya tembok melulu. Sebentar kemudian,
disetiap penjuru sumur ini segera keluar airnya yang memancur
dengan derasnya. Air ini semakin lama, semakin ,bertambah tinggi,
sehingga kedua nemuda ini sekarang badannya terendam air sampai
kelututnya. Ting Liang menyaksikan segalanya ini, lantas tertawa
sem-bari mengejek :
Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya
Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 71
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Ha-ha-haaa, hi-hihiii, ho-ho-hooo ! Selamat tinggal, Sute


Sampaikan salamku kepada Malaikat yang akan mencabut
nyawamu ……. !”
Kembalilah kita kini kekamar Thio King, yang pada waktu itu
masih berlangsting pertarungan yang tidak kalah pula serunya,
Mereka saling serang-menyerang dan mempertahankan diri.
Sungguh, mereka bertempur secara mati-matian memperebutkan
sidara-ayu!
Tatkala itu, mereka berdua bertanding masih dengan tangan
kosong. Dasar kepandaian silatnya Thio King ini masih kalah
beberapa tingkat dengan Riau silatnya Lay Ting Hok, dan ini
terbukti telah beberapa kali mereka bertanding selalu Thio King-lah
yang keok, maka kali inipun si pemuda bengal itu jadi kerepotan
juga menghadapi lawan yang bukan tandingnya ini. Ketika ia
diserang dengan jurus-jurus maut yang mematikan dari Lay Ting
Hok, terpaksalah ia menghunus pedangnya untuk menangkis. Dan
lawannya inipun segera mempergunakan pula goloknya, dengan
maksud agar pertarungan ini segera dapat diselesaikan. Tetapi,
dalam mempergunakan senjata, temyata Thio King terbilang
lumajan juga kepandaiannya.
Pada suatu saat, dimana Lay Ting Hok sedang mengadakan
serangan dahsyat dengan goloknya kearah lawannya, temyata
serangan ini dapat digagalkan oleh musuhnya, yaitu dengan jalan
miringkan badannya kesamping, sambil menyapu pergelangan
tangan Lay Ting Hok yang memegang golok, dengan jejakan kaki
yang sangat kuatnya, sehingga golok sipemuda ini terpental jauh
kesudut kamar. Kini Lay Ting Hok sudah tak bersenjata lagi, tetapi
kemudian dari 'belakangnya terdengar suara : "Engko Lay, ini gu
nakanlah !!", teriak Hong Kiauw sambil menyodorkan pisau-dapur
kepada kekasihnya. Dan pisau ini segera disambut dengan hati
gembira oleh Lay Ting Hok. Kini semangat bertempurnya
Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya
Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 72
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

bertambah, setelah mendapat dorongan dan bantuan dari jantung-


hatinya itu. Meski hanya bersenjatakan pisau-d•nur saja, namun
gerakan-gerakannya sangat gesit dan mantap, sehingga membikin
kacau-balau lawannya.
Selagi sengit-sengitnya pertandingan, tiba-tiba dibelakang Thio
King nampaklah Ting Liang dengan pedang terhunus. Celakanya,
saat itu Thio King lantas menoleh untuk mengetahui siapakah
gerangan yang datang itu. Tetapi kesempatan baik ini tidak disia-
siakan pula oleh Lay Ting Hok. Dengan sebat luar-biasa, pemuda
ini lantas menyambar badan Thio King, yang dengan sangat
mudahnya tubuh ini lantas diangkat keatas seperti mengangkat
bantal saja. Kemudian badan ini lantas diputar-putar diatas
kepalanya, yang adhirnya dilemparkan kearah badan Ting Liang,
yang ketika itu ia sudah siap dengan pedang, nya untuk menikam
dada Lay Ting Hok. Dan "Matiii ….. ak ….. a-ku ….. !!",
terdengarlah suatu jeritan panjang yang sangat ngeri, yang keluar
dari mulut Thio King.
Temyata ketika badan Thio King dilemparkan kearah Ting
Liang bisa tepat menancap keujung pedang Ting Liang, yang pada
saat itu sedang bersiap untuk menusuk dada lawannya. Dan pedang
inipun tertanam, kedada Thio King hingga tembus sampai
dipunggungnya. Kini tamatlah riwajat pemuda bengal yang sudah
banyak dosa ini, yang matinya juga mengalami mati konyol seperti
algojonya, yakni tertusuk oleh senjata kawan-nya sendiri.
Menyaksikan tuannya mati diatas senjatanya, begitu pula Kwan
Ling yang tewasnya juga lantaran pedangnya, ia lalu menjadi kalap,
sebab betapa marahnya s ituan-tanah apabila ia mendengar
peristiwa ini. Mungkin ia lantas digantung atau dikubur hidup-
hidup!. "Sungguh ngeri !", pikirnya.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 73
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Memikir demikian, hatinya menjadi cut dan takutnya luar biasa,


bulu-kuduknya lantas berdiri seinua. Maka ia lalu bertekad-bulat
untuk lebih baik mati saja daripada hidup tetapi disiksa oleh
majikannya yang sudah terkenal sangat bengis, buns dan tak
mengenal kasihan itu.
Dengan dibarengi oleh perasaan takut kepada majikannya serta
amarah yang tak ada taranya terhadap pemuda yang dihadapinya
itu, maka lanun segera menggerung sembari menyerang dengan
hebatnya. Tetapi oleh nafsu amarah yang meluap serta perasaan
yang membayanginya, dimana ia telah berjanji lebih baik mati
daripada hidup, maka serangan ini lebih condong kebunuh diri
daripada untuk membinasakan lawannya. Demikianlah serangan itu
dengan mudah saja dapat digagalkan oleh pemuda lawannya ini,
dengan jalan menggulingkan badannya kelantai. Dengan berguling-
guling dilantai ini, Lay Ting Hok masih sempat pula sambil
menyapu betis lawannya. Dasar hatinya sedang risau dan
kalangkabut, maka sabetan kaki lawannya ini, tak dapat ia elakkan.
Dan "Bruk", Ting Liang jatuh terpelanting. Belum Iagi ia dapat
berdiri lurus, suatu bayangan telah berkelebat dimukanya seraya
menghantam dadanya dengan dahsyatnya, sehingga Ting Liang
jatuh lagi terduduk sambil mulutnya memuntahkan gumpalan-
gumpalan darah.
Meskipun telah terluka parah, Ting Liang masih dapat juga
bangkit sembari menahan keluarnya gumpalan kental yang tersekat
dalam kerongkongannya. Ia bersiap akan menyerang lagi. Tetapi
kini lawannya telah memegang senjata, yaitu goloknya yang tadi
jatuh terpental kesudut kamar, yang kemudian diambil oleh Hong
Kiauw secara merangkak-rangkak yang kemudian diserahkan
kepada Lay Ting Hok. Dengan demikian, kedua kekasih ini kini
telah dapat bekerja-sama untuk menuntut-balas dan memberantas si
angkara.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 74
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Waktu itu, Ting Liang sudah mulai menyerang lagi, tetapi tidak
sehebat tadi sebelum ia terluka, sehingga serangannya dapat pula
digagalkan. Sementara ini, Lay Ting Hok ganti menyerang. Dengan
sekali menjejak tanah, ia telah melesat keudara. Turunnya, goloknya
berkelebat menusuk dada, sedang tangan kiri nya menerkam tulang-
rusuk. Dan "Bruk", Ting Liang ambruk lagi, tetapi kali ini
tubuhnya sudah tak bernyawa lagi. Dadanya tembus sampai
kepunggungnya oleh tikaman golok Lay Ting Hok.
Tatkala Lay Ting Hok akan mengajak kekasihnya untuk lekas-
lekas meninggalkan kamar ini, sekonyong-konyong berkelebatlah
sesosok tubuh yang seperti angin saja datangnya. Dan tahu-tahu ia
telali berada dihadapan Lay Ting Hok. Temyata dia adalah Suhu
Liang Hong. Kemudian dengan marahnya ia lantas membentak :
"Keparat, seolah-olah seantero -jagat ini hanya kau sendiri yang
laki-laki ! Engkau telah melakukan pembunuhan besar, hingga si
anak tuan-tanah dan muridku yang tertua tewas karena nya", kata
Suhu itu,berhenti sejenak untuk mengamat-amati tubuktubuh yang
sudah tak mbernyawa itu. Kemudian sambungnya "Lekas, sebutkan
namamu sebelum engkau mampus!!".
"Namaku Lay Ting Hok, Lo Pek", jawab pemuda ini dengan
hormatnya.
"Hm, lantas apa maksudmu melakukan pembunuhan keji ini,
keparat ?"
"Ya Lo Pek, aku akan menuntut balas demi keadilan dan
kebenaran !"
"Wah, aku tak perduli ! Pokoknya hutang darah harus di bayar
dengan darah pula !", dengus Suhu Liang Hong.
Dengan hanya mengibaskan lengan bajunya, maka lantas
tirnbullah desiran angin yang amat kerasnya, sehingga tahu-tahu

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 75
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

badan Lay Ting Hok terpental beberapa langkah. Dan seketika itu
juga pemuda ini lantas menyerang dengan pukulan tangannya
kearah dada orang tua ini.
Tetapi sungguh mengherankan, bahwa orang tua ini tidak
mengelak sama-sekali, dan masih berdiri dengan tenangnya di
tempat itu juga. Pukulan tangan sipemuda telah dibiarkan ben
sarang didadanya. Dan "Plok", tetapi tubuh orang tua ini tak
bergetar sedikitpun. Sebaliknya tangan Lay Ting Hok terasa panas
dan nyeri seperti memukul sebongkah batu. Ke mudian pemuda ini
lantas mengirimkan tendangannya yang bertubi-tubi, namun badan
orang tua ini tetap tak bergeser sama-sekali dari tempatnya, malah
kaki Lay Ting Hok terasa nyeri bukan kepalang.
Maka dengan penasaran, Lay Ting Hok lalu menyerang de-
ngan goloknya ditikamkan kearah dada orang tua itu. Mendapat
serangan yang hebat ini, namun orang tua itu hanya miringkan
badannya sedikit, sambil ia mementil ujung golok ini dengan
jarinya. Tetapi hebat akibatnya, sebab golok ini lantas terpental jauh
dilantai. Lay Ting Hok hanya terlongoh-longoh saja menyaksikan
kesjaktian Liang Hong ini.
Dan hanya dengan gerakan sedikit saja tetapi sangat cepatnya,
sehiugga Lay Ting Hok belum lihat bagaimana caranya orang ini
melayangkan tangannya, maka tahu-tahu pundak si pemuda telah
dapat dipegangnya. Dan seketika itu juga, tubuh Lay Ting Holt
lantas tak berdaya dan tak dapat bergerak sama-sekali, badannya
menjadi lemas bagaikan seutas tali yang direndam di air. Sedang
urat-uratnya seperti terlolosi semua.
Tatkala itu, Suhu Liang Hong lalu menghunus pedang-
wasiatnya, yang kemudian diangkat tinggi-tinggi untuk memeng gal
Icier Lay Ting Hok. Tetapi Suhu ini tertegun sebentar, demi
mendengar jeritan nyaring dari arah belakangnya. Seko nyong-

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 76
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

konyong berlalulah sesosok tubuh yang menghampiri diri-nya.


Temyata seorang gadis yang lari-lari terus koei dihadapan-nya
sembari membenturbenturkan kepalanya kelantai.
"Oh ….. Lo Pek, kasihanilah aku! Janganlah kau bunuh, dia!",
rintih Hong Kiauw.
"Hah ….. siapa ini ? Mengapa ada perempuan disini, siapa
namamu ?", bentak orang tua ini.
"Namaku, Oen Hong Kiauw, Lo Pek!"
"Hm, Oen Hong Kiauw?", ulang orang tua ini agak kaget.
Kemudian tanyanya lagi, "Lantas, siapakah nama ayah mu?".
"Nama ayah ku adalah Oen Kok Siang!".

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 77
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

"Haaa ……., Oen Kok Siang?", ulangnya lagi semakin


terperanjat, seakan-akan tak percaya.
"Betul, Lo Pek! Tetapi ayahku itu telah meninggal akibat
dianiaja dan dibunuh oleh si tuan-tanah Thio, beserta anak dan
algojo-algojonya. Sedang ibuku telah lama meninggalnya, se.. jak
aku masih kecil. Maka kini aku hidup sebatang-kara …..!” jawab
Hong Kiauw sambil menangis terisak-isak.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 78
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Demi mendengar penuturan sigadis ini, situa Liang Hong jadi


terkejut dibuatnya. Dan dengan tanpa mengeluarkan kata kata
sepatahpun, orang tua ini lantas melesat pergi meninggalkan kamar
itu.
Sebenarnya Suhu Liang Hong adalah seorang yang berbudi-
luhur dan baik hati. Tetapi lantaran termakan oleh hasutan-hasutan
yang sangat licin bagaikan belut, maka ia lalu dapat diperdayakan
yang hingga ia bisa diperalat oleh situan-tanah untuk
maksudmaksud jahatnya. Sampai-sampai ia harus berlawan dengan
murid-muricinya sendiri.
Tadi ia mendengar dari mulut sigadis, yang menyebut tentang
nama Oen Kok Siang. Saat itu ia jadi terperanjat bukan main, dan
segera teringatlah ia bahwa Oen Kok Siang sebetulnya adalah
masih saudara sekandungnya sendiri !
Suhu Liang Hong sebenarnya adalah hanya nama samaran saja,
sedang nama yang sebetulnya ialah Oen Kok Hong. Saudara-
sekandungnya Oen Kok Siang ini, olehnya telah lama ditinggal
pergi berkelana kegunung Hu Ling yang terkenal angker itu, yang
termasuk wilayah propinsi Hu Nan. Ia merantau untuk mencari dan
memperdalam ilmunya ketingkat yang lebih tinggi lagi. Kini ia
hidup berkelana sambil mengajar ilmu silat kepada anak-anak
muda, yang akhirnya sampailah ia didesa Tun San ini. Selanjutnya
ia bertempat-tinggal dipedusunan tersebut, untuk melanjutkan
tugasnya sebagai guru silat.
Setelah mengingat-ingat kejadian-kejadian yang telah lampau,
Suhu ini lantas merasa berduka dan bersedih hati bukan kepalang,
sebab tadi ia mendengar dari mulut si gadis, bahwa saudara-
sekandungnya ini telah meninggal dunia, sedang kini ia berpihak
kepada orang yang telah membunuh saudaranya itu. Ia merasa
berdosa besar !!

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 79
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Baru saja Suhu ini keluar dari kamar yang tadi dipakai
pertempuran antara Thio King, Lay Ting Hok dan Ting Liang
muridnya yang tertua itu, maka tiba-tiba nampaklah didepannya
sebuah sumur besar yang temyata didalamnya berisi kedua orang
muridnya, yaitu So Hok Sing dan Lo Cie Sian, yang ketika int
badannya terendam air yang kian lama air ini semakin tinggi. Dan
pada saat itu, airnya telah mencapai dileher kedua orang muridnya
ini, sehingga kalau tidak segera mendapat pertolongan, tak urung
kedua orang muda ini akan mati kelelap.
Sebat luarbiasa, situa Liang Hong lantas mendobrak pintu
kamar sebelahnya, yang meski pintu ini terkunci dari dalam, namun
kena gebrakan kedua-belah tangan Suhu ini lantas berdetak rubuh
kedalam. Segera nampaklah didalamnya, ketiga orang yang
berbadan tinggi-besar dan tegap-tegap yang ketika itu sedang
menjaga sebuah roda besar dengan terali-teralinya yang segede-
gede lengan. Kiranya roda besar ini dipergunakan untuk menaik-
turunkan lantai kamar rahasia yang telah menjebak So Hok Sing
dan Lo Cie Sian itu.
Dengan hanya mengibaskan lengan bayunya kearah tiga orang
tersebut, maka sudah cukuplah untuk merobohkan ketiga orang
yang berbadan tinggi-tinggi-besar ini. Dengan secepat-kilat Liang
Hong lantas menyentil roda besar itu dengan jarinya. Tahu-tahu
lantai yang diinjak oleh So Hok Sing dan Lo Cie Sian ini lantas
bergerak naik keatas, sedang airnya tumnah ke. sebelah-menyebelah
dinding kamar.
Kini kedua orang muda ini seolah-olah telah berada didalam
sebuah kamar lagi, sedang pakaiannya .basahkujub. Setelah melihat
Suhunya, mereka lalu koei dihadapannya. Seraya katanya :

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 80
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

"Kami mengucap terima kasih banyak Suhu, yang mana Suhu


telah menolong kami dari bahaya-maut! Kalau sampai terlambat
sedikit saja, mungkin Suhu sudah tak dapat bersua lagi dengan kami
dalam keadaan masih hidup !"
"Hm, tak apalah! Memang sudah sewajibnya seorang guru
menolong muridnya. Kini yang sangat perlu kutanyakan, ialah :
Apakah kalian tahu tentang seorang tua yang bernama Oen Kok
Siang ?"
"Tentu saja tahu, Suhu Malah kini ia kurawat dirumahku,
lantaran ia terluka-parah dibahunya akibat dianiaja oleh si keparat
Thio King dengan kawan-kaunnya", jawab Lo Cie Sian
menerangkan.
"Ho-hooo, jadi kalau begitu apakah ia masih hidup?", katanya
sangat girang.
"Betul Suhu, ia memang masih hidup. Hanya saja ia terluka-
parah".
"Haaaah Bagus, bagus. Kau memang seorang muda yang
baik-hati dan berbudi luhur. Terima kasih, terima-kasih anak
muda !", sahut Suhu Liang Hong dengan gembira sembari
tangannya menepuk-nepuk punggung Lo Cie Tian. Kemudian
sambungnya lagi : "Ketahuilah, hai anak muda, bahwa Oen Kok
Siang adalah masih saubara-sekandungku sendiri. Maka kini akan
kuambil dari rumahmu, selanjutnya akan kubawa kegunung Hu
Ling untuk kurawat dan kuobati sampai ia sembuh. Dan kalian
sekarang juga bantulah kawanmu Lay Ting Hok untuk bersama-
sama menumpas tuan-tanah dan kawan-kawannya, yang jadi
sumbernya kekacauan dan kejahatan itu!".
Belum lagi kedua orang muda ini sempat menjawab kata-kata
Suhu itu, telah melesatlah tubuh Suhunya yang nampak sangat

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 81
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

ringan itu dan dengan sekejapmata saja telah lenyap dari pandangan
mata, hingga seperti menghilang saja layaknya.
Menaati pesan gurunya, kedua orang muda ini cepat-cepat
menemui kawan-karibnya : Lay Ting Hok, yang secara kebetulan
juga saat itu ia sedang bersiap pergi untuk meninggalkan kamar itu
seraya menggandeng tangan kekasihnya. Melihat kedua orang nuda
sobat-kentalnya So Hok Sing dan Lo Cie Sian yang masih dalam
keadaan selamat ini, Lay Ting Hok lantas merangkulnya erat-erat.
Tak diceritakan lebih lanjut tentang pertemuannya ke empat
orang-orang muda ini, yang pada pokoknya mereka lantas
menghimpun segenap tenaga serta mempersiapkan segala senjata
yang ada pada mereka, untuk menumpas rezim tuan-tanah Thio si
penghisap dan penindas kaum tani itu.
Sementara itu, suasana dalam rumah gedung yang besar dan
indah ini telah menjadi kacau-balau dan kalang-kabut. Sedang
antek-antek dan begundal-begundalnya situan-tanah Thio yang
mulai dari pelayannya, penjaganya, pengawalnya dan algojo-
algojonya yang bengis dan kejam-kejam itu, semuanya telah disapu
bersih oleh ketiga orang muda yang gagah-gagah dan berani ini.
Sedangkan sisanya yang masih hidup, lantas lari terbirit-birit
mencari hidup masuk kehutan-hutan-belukar.
Situan-tanah Thio sendiri sewaktu ia baru bersiapsiap untuk
merat melarikan diri, mendadak saja kepergok oleh Lay Ting Hok
yang semenjak tadi memang mencari-carinya. Ketika itu ia berada
dibelakang si tuan-tanah. Baru saja si tuan-tanah ini mengangkat
kaki-panjang untuk melarikan diri', sekonyongkonyong
berkelebatlah sebuah golok yang berkilat-kilat kena sinar-sinar
lampion, yang melesat dengan lajunya kearah punggungnya.
Kemudian ............ "Aaaaaa ............ ", suatu jeritan panjang
yang mengerikan keluar dari mulut situan-tanah yang sudah banyak

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 82
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

dosanya itu. Selanjutnya rubuhlah ia jatuh tengkurap kelantai dan


sudah tak bernyawa lagi. Sedang punggungnya tertancap sebilah
golok yang menembus sampai kedadanya. mati sia-sia !!
Temyata golok ini berasal dari tangan Lay Ting Hok yang ',ada
saat itu berada di belakang situan-tanah. Dan dengan suatu
lemparan yang menentukan serta yang dilemparkan dengan sekuat-
tenaga, maka golok ini mengenai sasarannya dengan tepat, yakni
dipunggung situan-tanah itu

– oOo –

Disebuah pekarangan yang sangat luas, bekas dimana gubuk


Bien Kok Siang dulu didirikan, berdirilah sebuah rumah gedung,
yang kendati tidak begitu besar, namun kelihatan indah dan mearik
hati. Halaman gedung yang luas ini, ditanami dengan bunga-bunga
yang bermacam-macam dan beraneka-warna, sehingga semakin
menambah asrinya pemandangan.
Memang, kini gubuk Oen Kok Siang telah dibongkar dan
diganti dengan sebuah gedung yang indah itu. Dan sekarang
baruulah bisa disebut rumah, tidak seperti dulu sebelum bangunan
didirikan, yang boleh dikata jauh daripada bisa disebut malahan
boleh dibilang hampir seperti kandang sapi saja layaknya.
Orang tua ini sekarang sudah tidak lagi bekerja sendiri di
sawahnya, sebab memang sudah lanjut usianya, jadi badan sudah
tidak kuat lagi untuk bekerja keras-keras.
Meski sekarang penghidupan Oen Kok Siang telah mengalami
kemajuan yang sangat nesat, sehingga hidupnya menjadi serba
kecukupan, namun sikap orang tua ini masih tetap tidak berubah

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 83
Kolektor E-book hups://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

terhadap para tetangganya, yakni tetap sederhana tidak sombong


serta tetap sopan-santun dan berlaku hormat terhaclap siapapun
juga.
Sedang Suhu Liang Hong alias Oen Kok Hong, ia sering pula
datang kemari untuk menengok keselamatan saudara sekandungnya
ini. Lalu bagaimana pula tentang anak-gadisnya Oen Kok Siang
yang cantik-jelita itu? Ia kini telah ciikawinkan dengan pemuda
pujaan hatinya, Lay Ting Hok. Hidupnya kini mengalami
kebahagiaan seperti apa yang dicita-citakan sebelumnya, yaitu :
Aman, tenteram dan makmur

TAMAT

hups://www.facebook.com/niputuyunita.anyaswari?epa=SEARCHBOX

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 84