Anda di halaman 1dari 29

INTEGRASI PENDIDIKAN KESEHATAN DALAM PELAYANAN RUMAH SAKIT

(IPKP)

Gambaran Umum.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit Pasal
22 dan 23 menetapkan pengaturan tentang rumah sakit pendidikan yang diatur lebih lanjut dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 93 Tahun 2015.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2013 Pasal 1 butir 15 menjelaskan bahwa
Rumah Sakit Pendidikan adalah rumah sakit yang mempunyai fungsi sebagai tempat pendidikan,
penelitian, dan pelayanan kesehatan secara terpadu dalam bidang pendidikan kedokteran,
pendidikan berkelanjutan, dan pendidikan kesehatan lainnya secara multiprofesi.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2013 Pasal 1 butir 16, 17, dan 18
menjelaskan pengertian rumah sakit pendidikan utama, rumah sakit pendidikan afiliasi, dan
rumah sakit pendidikan satelit.

Pasal 3: rumah sakit pendidikan memiliki fungsi pelayanan, pendidikan, dan penelitian bidang
kedokteran, kedokteran gigi, dan kesehatan lain.

UU Nomor 44 Pasal 4 (1): dalam menjalankan fungsi pelayanan bidang kedokteran, kedokteran
gigi, dan kesehatan lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, rumah sakit pendidikan bertugas
menyelenggarakan pelayanan kesehatan terintegrasi dengan mengutamakan tata kelola klinis
yang baik, perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran, kedokteran gigi, serta kesehatan lain
berbasis bukti dengan memperhatikan aspek etika profesi dan hukum kesehatan.

Pasal 9: jenis rumah sakit pendidikan, yaitu rumah sakit pendidikan utama, rumah sakit
pendidikan afiliasi, dan rumah sakit pendidikan satelit.

Rumah sakit pendidikan harus mempunyai mutu dan keselamatan pasien yang lebih tinggi
daripada rumah sakit nonpendidikan.

Agar mutu dan keselamatan pasien di rumah sakit pendidikan tetap terjaga maka perlu ditetapkan
standar akreditasi untuk rumah sakit pendidikan.

Pada rumah sakit yang ditetapkan sebagai rumah sakit pendidikan, akreditasi perlu dilengkapi
dengan standar dan elemen penilaian untuk menjaga mutu pelayanan dan menjamin keselamatan
pasien.

1. Standar IPKP -1.

Rumah sakit menetapkan regulasi tentang persetujuan pemilik dan pengelola dalam
pembuatan perjanjian kerja sama penyelenggaraan pendidikan klinis di rumah sakit.
a) Maksud dan Tujuan IPKP 1.

Keputusan penetapan rumah sakit pendidikan merupakan kewenangan kementerian yang


membidangi masalah kesehatan setelah ada keputusan bersama dalam bentuk perjanjian kerja
sama pemilik dan pengelola rumah sakit dengan pimpinan institusi pendidikan.

Mengintegrasikan penyelenggaraan pendidikan klinis ke dalam operasional rumah sakit


memerlukan komitmen dalam pengaturan, antara lain waktu, tenaga, dan sumber daya.
Peserta pendidikan klinis termasuk trainee/fellow, peserta pendidikan dokter spesialis, dan
peserta pendidikan tenaga kesehatan profesional lainnya.

Keputusan untuk mengintegrasikan operasional rumah sakit dan pendidikan klinis paling
baik dibuat oleh jenjang pimpinan tertinggi yang berperan sebagai pengambil keputusan di
suatu rumah sakit bersama institusi pendidikan kedokteran, kedokteran gigi, dan profesi
kesehatan lainnya yang didelegasikan kepada organisasi yang mengoordinasi pendidikan
klinis.

Untuk penyelenggaraan pendidikan klinis di rumah sakit maka semua pihak harus mendapat
informasi lengkap tentang hubungan dan tanggung jawab masing-masing. Pemilik dan atau
representasi pemilik memberikan persetujuan terhadap keputusan tentang visi-misi, rencana
strategis, alokasi sumber daya, dan program mutu rumah sakit (lihat TKRS 1.1 sampai TKRS
1.3) sehingga dapat ikut bertanggung jawab terhadap seluruh proses penyelenggaraan
pendidikan klinis di rumah sakit yang harus konsisten dengan visi-misi rumah sakit dan
komitmen pada mutu, keselamatan pasien, serta kebutuhan pasien.

Rumah sakit mendapatkan informasi tentang output dengan kriteria-kriteria yang diharapkan
dari institusi pendidikan dari pendidikan klinis yang dilaksanakan di rumah sakit untuk
mengetahui mutu pelayanan dalam penyelenggaraan pendidikan klinis di rumah sakit.

Rumah sakit menyetujui output serta kriteria penilaian pendidikan dan harus dimasukkan
dalam perjanjian kerja sama.

Organisasi yang mengoordinasi pendidikan klinis bertanggung jawab untuk merencanakan,


memonitor, dan mengevaluasi penyelenggaraan program pendidikan klinis di rumah sakit.

Organisasi yang mengoordinasi pendidikan klinis melakukan penilaian berdasar atas kriteria
yang sudah disetujui bersama.

Organisasi yang mengoordinasi pendidikan klinis harus melaporkan hasil evaluasi


penerimaan, pelaksanaan, dan penilaian output dari program pendidikan kepada pimpinan
rumah sakit dan pimpinan institusi pendidikan.

b) Elemen Penilaian IPKP 1.


 Ada penetapan rumah sakit pendidikan yang masih berlaku. (D).
 Ada kerja sama antara rumah sakit dan institusi pendidikan yang sudah
terakreditasi. (D).
 Jumlah penerimaan peserta didik sesuai dengan kapasitas rumah sakit harus
dicantumkan dalam perjanjian kerja sama.

2. Standar IPKP 2.

Pelaksanaan pelayanan dalam pendidikan klinis yang diselenggarakan di rumah sakit


mempunyai akuntabilitas manajemen, koordinasi, dan prosedur yang jelas.

a. Maksud dan Tujuan IPKP 2.

Organisasi yang mengoordinasi pendidikan di rumah sakit menetapkan kewenangan,


perencanaan, monitoring implementasi program pendidikan klinis, serta evaluasi dan
analisisnya.

Kesepakatan antara rumah sakit dan institusi pendidikan kedokteran, kedokteran gigi, dan
pendidikan tenaga kesehatan lainnya harus tercermin dalam organisasi dan kegiatan
organisasi yang mengoordinasi pendidikan di rumah sakit. Rumah sakit memiliki regulasi
yang mengatur:

 kapasitas penerimaan peserta didik sesuai dengan kapasitas rumah sakit yang
dicantumkan dalam perjanjian kerja sama;
 persyaratan kualifikasi pendidik/dosen klinis;
 peserta pendidikan klinis di rumah.

Rumah sakit mendokumentasikan daftar akurat yang memuat semua peserta pendidikan
klinis di rumah sakit. Untuk setiap peserta pendidikan klinis dilakukan pemberian
kewenangan klinis untuk menentukan sejauh mana kewenangan yang diberikan secara
mandiri atau di bawah supervisi.

Rumah sakit harus mempunyai dokumentasi :

 surat keterangan peserta didik dari institusi pendidikan;


 ijazah, surat tanda registrasi, dan surat izin praktik yang menjadi persyaratan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan;
 .klasifikasi akademik;
 identifikasi kompetensi peserta pendidikan klinis
 laporan pencapaian kompetensi.

b. Elemen Penilaian IPKP 2.


 Ada regulasi tentang pengelolan dan pengawasan pelaksananaan pendidikan klinis
yang telah disepakati bersama meliputi 1) sampai dengan 3) di maksud dan tujuan.
(R).
 Ada daftar lengkap memuat nama semua peserta pendidikan klinis yang saat ini ada
di rumah sakit. (D)
 .Untuk setiap peserta pendidikan klinis terdapat dokumentasi yang berisi paling
sedikit meliputi a) sampai dengan e) di maksud dan tujuan.
3. Standar IPKP 3.

Tujuan dan sasaran program pendidikan klinis di rumah sakit disesuaikan dengan
jumlah staf yang memberikan pendidikan klinis, variasi dan jumlah pasien, teknologi, serta
fasilitas rumah sakit.

a. Maksud dan Tujuan IPKP 3.

Pendidikan klinis di rumah sakit harus mengutamakan keselamatan pasien serta memperhatikan
kebutuhan pelayanan sehingga pelayanan rumah sakit tidak terganggu, akan tetapi justru menjadi
lebih baik dengan terdapat program pendidikan klinis ini. Pendidikan harus dilaksanakan secara
terintegrasi dengan pelayanan dalam rangka memperkaya pengalaman dan kompetensi peserta
didik, termasuk juga pengalaman pendidik klinis untuk selalu memperhatikan prinsip pelayanan
berfokus pada pasien.

 Variasi dan jumlah pasien harus selaras dengan kebutuhan untuk berjalannya program,
demikian juga fasilitas pendukung pembelajaran harus disesuaikan dengan teknologi
berbasis bukti yang harus.
 Jumlah peserta pendidikan klinis di rumah sakit harus memperhatikan jumlah staf
pendidik klinis serta ketersediaan sarana dan prasarana.

b. Elemen Penilaian IPKP 3.


 Ada perhitungan rasio peserta pendidikan dengan staf yang memberikan
pendidikan klinis untuk seluruh peserta dari setiap program pendidikan
profesi yang disepakati oleh rumah sakit dan institusi pendidikan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.
 Ada dokumentasi perhitungan peserta didik yang diterima di rumah sakit
per periode untuk proses pendidikan disesuaikan dengan jumlah pasien
untuk menjamin mutu dan keselamatan pasien. (D,W).

4. Standar IPKP 4

Seluruh staf yang memberikan pendidikan klinis mempunyai kompetensi sebagai pendidik klinis
dan mendapatkan kewenangan dari institusi pendidikan dan rumah sakit.

a. Maksud dan Tujuan IPKP 4.

Seluruh staf yang memberikan pendidikan klinis telah mempunyai kompetensi dan kewenangan
klinis untuk dapat mendidik dan memberikan pembelajaran klinis kepada peserta pendidikan
klinis di rumah sakit sesuai dengan peraturan perundang- undangan. (lihat juga KKS 10, KKS
13, dan KKS 16).

Daftar staf yang memberikan pendidikan klinis dengan seluruh gelar akademis dan profesinya
tersedia di rumah sakit. Seluruh staf yang memberikan pendidikan klinis harus memenuhi
persyaratan kredensial dan memiliki kewenangan klinis untuk melaksanakan pendidikan klinis
yang sesuai dengan tuntutan tanggung jawabnya. (lihat juga KKS 9, KKS 13, dan KKS 16).
b. Elemen Penilaian IPKP 4.

 Ada penetapan staf klinis yang memberikan pendidikan klinis dan penetapan penugasan
klinis serta rincian kewenangan klinis dari rumah sakit. (R).
 daftar staf klinis yang memberikan pendidikan klinis secara lengkap (akademik dan
profesi) sesuai dengan jenis pendidikan yang dilaksanakan di RS. (D,W).
 Ada uraian tugas, tanggung jawab, dan juga wewenang untuk setiap staf yang
memberikan pendidikan (lihat juga KKS 10, KKS 13, dan KKS 16) (D,W).
 Ada bukti staf klinis yang memberikan pendidikan klinis telah mengikuti pendidikan
keprofesian berkelanjutan.

5. Standar IPKP 5.

Rumah sakit memastikan pelaksanaan supervisi yang berlaku untuk setiap jenis dan
jenjang pendidikan staf klinis di rumah sakit.

a. Maksud dan Tujuan IPKP 5.

Supervisi dalam pendidikan menjadi tanggung jawab staf klinis yang memberikan
pendidikan klinis untuk menjadi acuan pelayanan rumah sakit agar pasien, staf, dan
peserta didik terlindungi secara hukum. Supervisi diperlukan untuk memastikan asuhan
pasien yang aman dan merupakan bagian proses belajar bagi peserta pendidikan klinis
sesuai dengan jenjang pembelajaran dan level kompetensinya.

Setiap peserta pendidikan klinis di rumah sakit mengerti proses supervisi klinis,
meliputi siapa saja yang melakukan supervisi dan frekuensi supervisi oleh staf klinis yang
memberikan pendidikan klinis. Pelaksanaan supervisi didokumentasikan dalam log book
peserta didik dan staf klinis yang memberikan pendidikan klinis.

Dikenal 4 (empat) tingkatan supervisi yang disesuaikan dengan kompetensi dan


juga kewenangan peserta didik sebagai berikut:

 supervisi tinggi: kemampuan asesmen peserta didik belum sahih sehingga keputusan
dalam membuat diagnosis dan rencana asuhan harus dilakukan oleh dokter penanggung
jawab pelayanan (DPJP). Begitu pula tindakan medis dan operatif hanya boleh dilakukan
oleh Pencatatan pada berkas rekam medis harus dilakukan oleh DPJP;
 supervisi moderat tinggi: kemampuan asesmen peserta didik sudah dianggap sahih,
namun kemampuan membuat keputusan belum sahih sehingga rencana asuhan yang
dibuat peserta didik harus disupervisi oleh Tindakan medis dan operatif dapat dikerjakan
oleh peserta didik dengan supervisi langsung (onsite) oleh DPJP. Pencatatan pada
berkas rekam medis oleh peserta didik dan diverifikasi dan divalidasi oleh DPJP;

 supervisi moderat: kemampuan melakukan asesmen sudah sahih, tetapi kemampuan


membuat keputusan belum sahih sehingga keputusan rencana asuhan harus mendapat
persetujuan DPJP sebelum dijalankan, kecuali pada kasus gawat darurat. Tindakan medis
dan operatif dapat dilaksanakan oleh peserta didik dengan supervisi tidak langsung oleh
DPJP (dilaporkan setelah pelaksanaan). Pencatatan pada berkas rekam medis oleh peserta
didik dengan verifikasi dan validasi oleh DPJP;
 supervisi rendah: kemampuan asesmen dan kemampuan membuat keputusan sudah sahih
sehingga dapat membuat diagnosis dan rencana asuhan, namun karena belum mempunyai
legitimasi tetap harus melapor kepada DPJP. Tindakan medis dan operatif dapat
dilakukan dengan supervisi tidak langsung oleh Pencatatan pada berkas rekam medis oleh
peserta didik dengan validasi oleh DPJP.

Penetapan tingkat supervisi peserta didik dilakukan oleh staf klinis yang memberikan pendidikan
klinis setelah melakukan evaluasi kompetensi peserta didik menggunakan perangkat evaluasi
pendidikan yang dibuat oleh institusi pendidikan.

Beberapa alat evaluasi antara lain:

1. bed site teaching;


2. mini-clinical evaluation exercise for trainee (Mini-CEX);
3. direct observation of procedure and supervision (DOPS);
4. case base discussion (CBD);
5. portofolio dan buku Log.

b. Elemen Penilaian IPKP 5.

 Ada tingkat supervisi yang diperlukan oleh setiap peserta pendidikan klinis di
rumah sakit untuk setiap jenjang pendidikan.
 Setiap peserta pendidikan klinis mengetahui tingkat, frekuensi, dan dokumentasi
untuk supervisinya.
 Ada format spesifik untuk mendokumentasikan supervisi yang sesuai dengan
kebijakan rumah sakit, sasaran program, serta mutu dan keselamatan asuhan
pasien.
 Ada batasan kewenangan peserta pendidikan yang mempunyai akses dalam
mengisi rekam medis. (lihat juga MIRM 13.4)..

6. Standar IPKP 6.

Pelaksanaan pendidikan klinis di rumah sakit harus mematuhi regulasi rumah sakit
dan pelayanan yang diberikan berada dalam upaya mempertahankan atau meningkatkan mutu
dan keselamatan pasien.

a. Maksud dan Tujuan IPKP 6.

Dalam pelaksanaannya program pendidikan klinis tersebut senantiasa menjamin


mutu dan keselamatan pasien. Rumah sakit memiliki rencana dan melaksanakan program
orientasi dengan menerapkan konsep mutu dan keselamatan pasien yang harus diikuti
oleh seluruh peserta pendidikan klinis serta mengikutsertakan peserta didik dalam semua
pemantauan mutu dan keselamatan pasien.

Orientasi peserta pendidikan klinis minimal mencakup :

 program rumah sakit tentang mutu dan keselamatan pasien (lihat juga TKRS 4;
TKRS 4.1; TKRS 5; TKRS 11; dan TKRS 2);
 program pengendalian infeksi (lihat juga PPI 5);
 program keselamatan penggunaan obat (lihat juga PKPO 1);
 sasaran keselamatan pasien.

b. Elemen Penilaian IPKP.6


 Ada program orientasi peserta pendidikan staf klinis dengan materi
orientasi yang meliputi a) sampai dengan d) mengenai maksud dan tujuan
(lihat juga KKS 7 EP 1).(R).
 Ada bukti pelaksanaan dan sertifikat program orientasi peserta pendidikan
klinis.
 Ada bukti pelaksanaan dan dokumentasi peserta didik yang diikutsertakan
dalam semua program peningkatan mutu dan keselamatan pasien di rumah
sakit.
 Ada pemantauan dan evaluasi bahwa pelaksanaan pendidikan klinis tidak
menurunkan mutu dan keselamatan pasien yang dilaksanakan sekurang-
kurangnya sekali setahun yang terintegrasi dengan program mutu dan
keselamatan pasien. (D) (lihat TKRS 1.2 dan TKRS 5 EP 3).
 Ada survei mengenai kepuasan pasien terhadap pelayanan rumah sakit
atas dilaksanakannya pendidikan klinis sekurang-kurangnya sekali
setahun.

Orientasi peserta pendidikan klinis minimal mencakup :

1) Program rumah sakit tentang mutu dan keselamatan pasien (lihat juga TKRS 4,
TKRS 4.1 , TKRS 5 , TKRS 11, dan TKRS 11,2 )

Saat ini upaya meningkatkan mutu pelayanan dan meningkatkan keselamatan pasien di
rumah sakit sudah merupakan gerakan universal. Berbagai negara maju telah menggeser
paradigma ”quality” kearah paradigma baru ”quality-safety”, berarti bukan hanya mutu
pelayanan yang harus ditingkatkan tetapi yang lebih penting lagi adalah menjaga keselamatan
pasien secara konsisten dan terus menerus.

Tujuan keselamatan pasien di rumah sakit adalah mencegah terjadinya cidera yang
disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan
yang harusnya diambil.

Pelayanan kesehatan adalah untuk menyelamatkan pasien sesuai dengan yang diucapkan
Hipocrates 2400 tahun yang lalu, yaitu Primum, non nocere (First, do no harm). Namun
dengan semakin berkembangnya ilmu dan teknologi pelayanan kesehatan, di rumah sakit
terdapat ratusan macam obat, ratusan tes dan prosedur, banyak alat dengan teknologi canggih,
bemacam jenis tenaga profesi dan non profesi yang memberikan pelayanan pasien 24 jam terus
menerus, sangat berpotensi untuk terjadinya Kejadian Tidak Diharapkan (Adverse event) apabila
tidak dikelola dengan baik dan hati-hati.

Rumah sakit memiliki komitmen untuk tetap menjaga dan terus meningkatkan mutu
pelayanan dan keselamatan pasien sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan yang prima
(service excellent) secara terus menerus dan berkelanjutan bagi masyarakat. Oleh karena itu
seluruh karyawan rumah sakit dalam memberikan pelayanan selalu memperhatikan Enam
Sasaran Keselamatan Pasien sesuai International Patient Safety Goals,

2) Program pengendalian infeksi ( lihat juga PPI 5 )

”Health-care Associated Infections (HAIs)” merupakan komplikasi yang paling sering terjadi di
pelayanan kesehatan. HAIs selama ini dikenal sebagai Infeksi Nosokomial atau disebut juga
sebagai Infeksi di rumah sakit ”Hospital-Acquired Infections” merupakan persoalan serius
karena dapat menjadi penyebab langsung maupun tidak langsung kematian pasien. Kalaupun tak
berakibat kematian, pasien dirawat lebih lama sehingga pasien harus membayar biaya rumah
sakit yang lebih banyak.

HAIs adalah penyakit infeksi yang pertama muncul (penyakit infeksi yang tidak berasal dari
pasien itu sendiri) dalam waktu antara 48 jam dan empat hari setelah pasien masuk rumah sakit
atau tempat pelayanan kesehatan lainnya, atau dalam waktu 30 hari setelah pasien keluar dari
rumah sakit. Dalam hal ini termasuk infeksi yang didapat dari rumah sakit tetapi muncul setelah
pulang dan infeksi akibat kerja terhadap pekerja di fasilitas pelayanan kesehatan.

Angka kejadian terus meningkat mencapai sekitar 9% (variasi3-21%) atau lebih dari 1,4 juta
pasien rawat inap di rumah sakit seluruh dunia.Kondisi ini menunjukkan penurunan mutu
pelayanan kesehatan. Tak dipungkiri lagi untuk masa yang akan datang dapat timbul tuntutan
hukum bagi sarana pelayanan kesehatan, sehingga kejadian infeksi di pelayanan kesehatan harus
menjadi perhatian bagi Rumah Sakit.

Pasien, petugas kesehatan, pengunjung dan penunggu pasien merupakan kelompok yang berisiko
mendapat HAIs. Infeksi ini dapat terjadi melalui penularan dari pasien kepada petugas, dari
pasien ke pasien lain, dari pasien kepada pengunjung atau keluarga maupun dari petugas kepada
pasien. Dengan demikian akan menyebabkan peningkatan angka morbiditas, mortalitas,
peningkatan lama hari rawat dan peningkatan biaya rumah sakit.

Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) sangat Penting untuk melindungi pasien,
petugas juga pengunjung dan keluarga dari resiko tertularnya infeksi karena dirawat, bertugas
juga berkunjung ke suatu rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Keberhasilan
program PPI perlu keterlibatan lintas profesional: Klinisi, Perawat, Laboratorium, Kesehatan
Lingkungan, Farmasi, Gizi, IPSRS, Sanitasi & Housekeeping, dan lain-lain sehingga perlu
wadah berupa Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi.
Beberapa rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan merupakan lahan praktik
bagi mahasiswa/siswa serta peserta magang dan pelatihan yang berasal dari berbagai jenjang
pendidikan dan institusi yang berbeda-beda. Tak diragukan lagi bahwa semua mahasiswa/siswa
dan peserta magang/pelatihan mempunyai kontribusi yang cukup besar dalam penularan infeksi
dan akan beresiko mendapatkan HAIs. Oleh karena itu penting bagi mahasiswa/siswa, peserta
magang/pelatihan, termasuk juga karyawan baru memahami proses terjadinya infeksi,
mikroorganisme yang sering menimbulkan infeksi, serta bagaimana pencegahan dan
pengendalian infeksi di rumah sakit. Sebab bila sampai terjadi infeksi nosokomial akan cukup
sulit mengatasinya, pada umumnya kuman sudah resisten terhadap banyak antibiotika. Sehingga
semua mahasiswa/siswa, peserta magang/pelatihan yang akan mengadakan praktik di rumah
sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, termasuk juga karyawan baru yang akan bertugas
harus diberikan Layanan Orientasi dan Informasi (LOI) tentang Pencegahan dan Pengendalian
Infeksi.

a. Rantai Penularan Infeksi

Pengetahuan tentang rantai penularan infeksi sangat penting karena apabila satu mata rantai
dihilangkan atau dirusak, maka infeksi dapat dicegah atau dihentikan. Komponen yang
diperlukan sehingga terjadi penularan adalah:

1. Agen infeksi (infectious agent) adalah Mikroorganisme yang dapat menyebabkan


infeksi. Pada manusia dapat berupa bakteri , virus, ricketsia, jamur dan parasit.
Dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu: patogenitas, virulensi, dan jumlah (dosis, atau load)
2. Reservoir atau tempat dimana agen infeksi dapat hidup, tumbuh, berkembang biak dan
siap ditularkan kepada orang. Reservoir yang paling umumadalah manusia, binatang,
tumbuh-tumbuhan, tanah, air dan bahan-bahan organik lainnya. Pada manusia:
permukaan kulit, selaput lendir saluran nafas atas, usus dan vagina
3. Port of exit ( Pintu keluar) adalah jalan darimana agen infeksi meninggalkan reservoir.
Pintu keluar meliputi : saluran pernafasan, saluran pencernaan, saluran kemih dan
kelamin, kulit dan membrana mukosa, transplasenta dan darah serta cairan tubuh lain.
4. Transmisi (cara penularan) adalah mekanisme bagaimana transport agen infeksi dari
reservoir ke penderita (yang suseptibel). Ada beberapa cara penularan yaitu :

a. Kontak (contact transmission):

 Direct/Langsung: kontak badan ke badan transfer kuman penyebab secara fisik pada
saat pemeriksaan fisik, memandikan pasen
 Indirect/Tidak langsung (paling sering !!!): kontak melalui objek (benda/alat) perantara:
melalui instrumen, jarum, kasa, tangan yang tidak dicuci

b. Droplet : partikel droplet > 5 μm melalui batuk, bersin, bicara, jarak sebar pendek, tdk
bertahan lama di udara, “deposit” pada mukosa konjungtiva, hidung, mulut contoh : Difteria,
Pertussis, Mycoplasma, Haemophillus influenza type b (Hib), Virus Influenza, mumps,
rubella
c. Airborne : partikel kecil ukuran < 5 μm, bertahan lama di udara, jarak penyebaran jauh, dapat
terinhalasi, contoh: Mycobacterium tuberculosis, virus campak, Varisela (cacar air),
spora jamur

d. Melalui Vehikulum : Bahan yang dapat berperan dalam mempertahankan kehidupan kuman
penyebab sampai masuk (tertelan atau terokulasi) pada pejamu yang rentan. Contoh: air, darah,
serum, plasma, tinja, makanan

e. Melalui Vektor : Artropoda (umumnya serangga) atau binatang lain yang dapat menularkan
kuman penyebab cara menggigit pejamu yang rentan atau menimbun kuman penyebab pada
kulit pejamu atau makanan. Contoh: nyamuk, lalat, pinjal/kutu, binatang pengerat

5. Port of entry (Pintu masuk) adalah Tempat dimana agen infeksi memasuki pejamu
(yang suseptibel). Pintu masuk bisa melalui: saluran pernafasan, saluran pencernaan,
saluran kemih dan kelamin, selaput lendir, serta kulit yang tidak utuh (luka).
6. Pejamu rentan (suseptibel) adalah orang yang tidak memiliki daya tahan tubuh yang
cukup untuk melawan agen infeksi serta mencegah infeksi atau penyakit. Faktor yang
mempengaruhi: umur, status gizi, status imunisasi, penyakit kronis, luka bakar yang luas,
trauma atau pembedahan, pengobatan imunosupresan. Sedangkan faktor lain yang
mungkin berpengaruh adalah jenis kelamin, ras atau etnis tertentu, status ekonomi, gaya
hidup, pekerjaan dan herediter.

b. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi

Proses terjadinya infeksi bergantung kepada interaksi antara suseptibilitas penjamu, agen infeksi
(pathogenesis, virulensi dan dosis) serta cara penularan. Identifikasi factor resiko pada penjamu
dan pengendalian terhadap infeksi tertentu dapat mengurangi insiden terjadinya infeksi (HAIs),
baik pada pasien ataupun pada petugas kesehatan.

Strategi pencegahan dan pengendalian infeksi terdiri dari:

1. Peningkatan daya tahan penjamu, dapat pemberian imunisasi aktif (contoh vaksinasi
hepatitis B), atau pemberian imunisasi pasif (imunoglobulin). Promosi kesehatan secara
umum termasuk nutrisi yang adekuat akan meningkatkan daya tahan tubuh.
2. Inaktivasi agen penyebab infeksi, dapat dilakukan metode fisik maupun kimiawi. Contoh
metode fisik adalah pemanasan (pasteurisasi atau sterilisasi) dan memasak makanan
seperlunya. Metode kimiawi termasuk klorinasi air, disinfeksi.
3. Memutus mata rantai penularan. Merupakan hal yang paling mudah untuk mencegah
penularan penyakit infeksi, tetapi hasilnya bergantung kepeda ketaatan petugas dalam
melaksanakan prosedur yang telah ditetapkan.

Tindakan pencegahan ini telah disusun dalam suatu “Isolation Precautions” (Kewaspadaan
Isolasi) yang terdiri dari 2 pilar/tingkatan, yaitu “Standard Precautions” (Kewaspadaan Standar)
dan “Transmission based Precautions” (Kewaspadaan berdasarkan cara penularan)
4. Tindakan pencegahan paska pajanan (“Post Exposure Prophylaxis”/PEP) terhadap
petugas kesehatan. Berkaitan pencegahan agen infeksi yang ditularkan melalui darah
atau cairan tubuh lainnya, yang sering terjadi karena luka tusuk jarum bekas pakai atau
pajanan lainnya. Penyakit yang perlu mendapatkan perhatian adalah hepatitis B, Hepatitis
C, dan HIV.

c. Kewaspadaan Isolasi

Mikroba penyebab HAIs dapat ditransmisikan oleh pasien terinfeksi/kolonisasi kepada pasien
lain dan petugas. Bila kewaspadaan isolasi diterapkan benar dapat menurunkan risiko transmisi
dari pasien infeksi/kolonisasi. Tujuan kewaspadaan isolasi adalah menurunkan transmisi mikroba
infeksius diantara petugas dan pasien. Kewaspadaan Isolasi harus diterapkan kewaspadaan
isolasi sesuai gejala klinis,sementara menunggu hasil laboratorium keluar.

Kewaspadaan Isolasi merupakan kombinasi dari :

 Standard Precautions /Kewaspadaan Standar

gabungan dari:

 Universal Precautions/Kewaspadaan Universal


 Body Substance Isolation/Isolasi substansi/cairan tubuh

berlaku untuk semua pasien, kemungkinan atau terbukti infeksi, setiap waktu di semua unit
pelayanan kesehatan

 Transmission-based precautions/ Kewaspadaan berbasis transmisi

dipakai bila rute transmisi tidak dapat diputus sempurna hanya Standard precautions.

1970 Tehnik isolasi untuk Memperkenalkan 7 katagori kewaspadaan


penggunaan di RS, edisi isolasi kartu berwarna: Strict, Respiratory, Protective,
1. Enteric, Wound and Skin,Discharge, and Blood
1983 CDC Pedoman Membagi menjadi 2 golongan sistim Isolasi; katagori
Kewaspadaan Isolasi RS spesifik dan penyakit spesifik
1985 Universal Berkembang dari epidemi HIV/AIDS
Precautions (UP)
Ditujukan aplikasi kewaspadaan terhadap Darah dan
Cairan Tubuh pada pasien pengidap infeksi

Tidak diterapkan terhadap feses,ingus,sputum,keringat,air


mata,urin,muntahan
1987 Body Substance Isolation Menghindari kontak terhadap semua cairan tubuh
(BSI) dan yang potensial infeksius kecuali keringat
1996 Pedoman Kewaspadaan Dibuat oleh The Healthcare Infection Control Practices
Isolasi dalam Rumah Sakit Advisory
Committee (HICPAC), CDC

Menggabungkan materi inti dari UP and BSI dalam


Kewaspadaan Standard untuk diterapkan terhadap
semua pasien pada setiap waktu
2007 Pedoman Kewaspadaan Dibuat oleh HICPAC, CDC.
Isolasi; Pencegahan
Transmisi penyebab infeksi tambahan :
pada Sarana Kesehatan.
 HAIs
 Hyangiene respirasi/Etika batuk,
 Praktek menyuntik yang aman
 Pencegahan infeksi unt prosedur Lumbal
pungsi

Sejarah Kewaspadaan Isolasi

 Kewaspadaan Standar

Kewaspadaan standar diberlakukan terhadap semua pasien, tidak tergantung


terinfeksi/kolonisasi. Kewaspadaan standar disusun untuk mencegah kontaminasi silang sebelum
diagnosis diketahui dan beberapa merupakan praktek rutin, meliputi:

1. Kebersihan tangan/Handhygiene
2. Alat Pelindung Diri (APD) : sarung tangan, masker, goggle (kaca mata pelindung), face
shield (pelindungwajah), gaun
3. Peralatan perawatan pasien
4. Pengendalian lingkungan
5. Pemrosesan peralatan pasien dan penatalaksanaan linen
6. Kesehatan karyawan / Perlindungan petugas kesehatan
7. Penempatan pasien
8. Hyangiene respirasi/Etika batuk
9. Praktek menyuntik yang aman
10. Praktek pencegahan infeksi untuk prosedur lumbal pungsi

 Kewaspadaan Berdasarkan Transmisi

Tujuan untuk memutus rantai penularan mikroba penyebab infeksi. Diterapkan pada
pasien gejala/dicurigai terinfeksi atau kolonisasi kuman penyebab infeksi menular yang dapat
ditransmisikan lewat udatra, droplet, kontak kulit atau permukaan terkontaminasi.

3 Jenis kewaspadaan berdasarkan transmisi:

 kewaspadaan transmisi kontak


 kewaspadaan transmisi droplet
 kewaspadaan transmisi airborne

Kewaspadaan berdasarkan transmisi dapat dilaksanakan secara terpisah ataupun kombinasi


karena suatu infeksi dapat ditransmisikan lebih dari satu cara.

1. Kewaspadaan transmisi Kontak

a) Penempatan pasien :

 Kamar tersendiri atau kohorting (Penelitian tidak terbukti kamar tersendiri mencegah
HAIs)
 Kohorting (management MDRo )

b) APD petugas:

 Sarung tangan bersih non steril, ganti setelah kontak bahan infeksius, lepaskan sarung
tangan sebelum keluar dari kamar pasien dan cuci tangan menggunakan antiseptik
 Gaun, lepaskan gaun sebelum meninggalkan ruangan

c) Transport pasien

 Batasi kontak saat transportasi pasien

2. Kewaspadaan transmisi droplet

a) Penempatan pasien :

 Kamar tersendiri atau kohorting, beri jarak antar pasien >1m


 Pengelolaan udara khusus tidak diperlukan, pintu boleh terbuka

b) APD petugas:

 Masker Bedah/Prosedur, dipakai saat memasuki ruang rawat pasien

c) Transport pasien

 Batasi transportasi pasien, pasangkan masker pada pasien saat transportasi


 Terapkan hyangiene respirasi dan etika batuk

3. Kewaspadaan transmisi udara/airborne

a) Penempatan pasien :

 Di ruangan tekanan negatif


 Pertukaran udara > 6-12 x/jam,aliran udara yang terkontrol
 Jangan gunakan AC sentral, bila mungkin AC + filter HEPA
 Pintu harus selalu tertutup rapat.
 kohorting
 Seharusnya kamar terpisah, terbukti mencegah transmisi, atau kohorting jarak >1 m
 Perawatan tekanan negatif sulit, tidak membuktikan lebih efektif mencegah penyebaran
 Ventilasi airlock à ventilated anteroom terutama pada varicella (lebih mahal)
 Terpisah jendela terbuka (TBC ), tak ada orang yang lalu lalang

b) APD petugas:

 Minimal gunakan Masker Bedah/Prosedur


 Masker respirator (N95) saat petugas bekerja pada radius <1m dari pasien,
 Gaun
 Goggle
 Sarung tangan

(bila melakukan tindakan yang mungkin menimbulkan aerosol)

c) Transport pasien

 Batasi transportasi pasien, Pasien harus pakai masker saat keluar ruangan
 Terapkan hyangiene respirasi dan etika batuk

Catatan :

Kohorting adalah menempatkan pasien terinfeksi atau kolonisasi patogen yang sama di ruang
yang sama, pasien lain tanpa patogen yang sama dilarang masuk.

Peraturan Untuk Kewaspadaan Isolasi

Harus dihindarkan transfer mikroba pathogen antar pasien dan petugas saat perawatan pasien
rawat inap, perlu diterapkan hal-hal berikut :

1. Kewaspadaan terhadap semua darah dan cairan tubuh ekskresi dan sekresi dari seluruh
pasien
2. Dekontaminasi tangan sebelum dan sesudah kontak diantara pasien satu lainnya
3. Cuci tangan setelah menyentuh bahan infeksius (darah dan cairan tubuh)
4. Gunakan teknik tanpa menyentuh bila memungkinkan terhadap bahan infeksius
5. Pakai sarung tangan saat atau kemungkinan kontak darah dan cairan tubuh serta barang
yang terkontaminasi, disinfeksi tangan segera setelah melepas sarung tangan. Ganti
sarung tangan antara pasien.
6. Penanganan limbah feses, urine, dan sekresi pasien lain di buang ke lubang pembuangan
yang telah disediakan, bersihkan dan disinfeksi bedpan, urinal dan obtainer/container
pasien lainnya.
7. Tangani bahan infeksius sesuai Standar Prosedur Operasional (SPO)
8. Pastikan peralatan, barang fasilitas dan linen pasien yang infeksius telah dibersihkan dan
didisinfeksi benar.

d. Kebersihan Tangan

Tangan merupakan media transmisi patogen tersering di RS. Menjaga kebersihan tangan dengan
baik dan benar dapat mencegah penularan mikroorganisme dan menurunkan frekuensi infeksi
nosokomial. Kepatuhan terhadap kebersihan tangan merupakan pilar pengendalian infeksi.
Teknik yang digunakan adalah teknik cuci tangan 6 langkah. Dapat memakai antiseptik, dan air
mengalir atau handrub berbasis alkohol.

Kebersihan tangan merupakan prosedur terpenting untuk mencegah transmisi penyebab infeksi
(orang ke orang;objek ke orang). Banyak penelitian menunjukkan bahwa cuci tangan menunjang
penurunan insiden MRSA, VRE di ICU.

Kapan Mencuci Tangan?

 Segera setelah tiba di rumah sakit


 Sebelum masuk dan meninggalkan ruangan pasien
 Sebelum dan sesudah kontak pasien atau benda yang terkontaminasi cairan tubuh pasien
 Diantara kontak pasien satu dengan yang lain
 Sebelum dan sesudah melakukan tindakan pada pasien
 Sesudah ke kamar kecil
 Sesudah kontak darah atau cairan tubuh lainnya
 Bila tangan kotor
 Sebelum meninggalkan rumah sakit
 Segera setelah melepaskan sarung tangan
 Segera setelah membersihkan sekresi hidung
 Sebelum dan setelah menyiapkan dan mengkonsumsi makanan

Alternatif Kebersihan Tangan

 Handrub berbasis alkohol 70%:


1. Pada tempat dimana akses wastafel dan air bersih terbatas
2. Tidak mahal, mudah didapat dan mudah dijangkau
3. Dapat dibuat sendiri (gliserin 2 ml 100 ml alkohol 70 %)

 Jika tangan terlihat kotor, mencuci tangan air bersih mengalir dan sabun harus dilakukan
 Handrub antiseptik tidak menghilangkan kotoran atau zat organik, sehingga jika tangan
kotor harus mencuci tangan sabun dan air mengalir
 Setiap 5 kali aplikasi Handrub harus mencuci tangan sabun dan air mengalir
 Mencuci tangan sabun biasa dan air bersih mengalir sama efektifnya mencuci
tangan sabun antimikroba (Pereira, Lee dan Wade 1997.
 Sabun biasa mengurangi terjadinya iritasi kulit
Enam langkah kebersihan tangan :

Langkah 1 : Gosokkan kedua telapak tangan

Langkah 2 : Gosok punggung tangan kiri dengan telapak tangan kanan, dan lakukan
sebaliknya

Langkah 3 : Gosokkan kedua telapak tangan dengan jari-jari tangan saling menyilang

Langkah 4 : Gosok ruas-ruas jari tangan kiri dengan ibu jari tangan kanan dan lakukan
sebaliknya

Langkah 5 : Gosok Ibu Jari tangan kiri dengan telapak tangan kanan secara memutar, dan
lakukan sebaliknya

Langkah 6 : Gosokkan semua ujung-ujung jari tangan kanan di atas telapak tangan kiri,
dan lakukan sebaliknya

3) Program Keselamatan Penggunaaan Obat ( lihat juga PKPO 1 )

Penggunaan obat rasional merupakan hal utama dari pelayanan kefarmasian. Dalam
mewujudkan pengobatan rasional, keselamatan pasien menjadi masalah yang perlu di perhatikan.
Dari data-data yang termuat dalam bab terdahulu disebutkan sejumlah pasien mengalami cedera
atau mengalami insiden pada saat memperoleh layanan kesehatan, khususnya terkait penggunaan
obat yang dikenal dengan medication error. Di rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan
lainnya, kejadian medication error dapat dicegah jika melibatkan pelayanan farmasi klinik dari
apoteker yang sudah terlatih. Saat ini di negara-negara maju sudah ada apoteker dengan
spesialisasi khusus menangani medication safety. Peran Apoteker Keselamatan Pengobatan
(Medication Safety Pharmacist) meliputi :

1. Mengelola laporan medication error

 Membuat kajian terhadap laporan insiden yang masuk


 Mencari akar permasalahan dari error yang terjadi

2. Mengidentifikasi pelaksanaan praktek profesi terbaik untuk menjamin medication safety

 Menganalisis pelaksanaan praktek yang menyebabkan medication error


 Mengambil langkah proaktif untuk pencegahan
 Memfasilitasi perubahan proses dan sistem untuk menurunkan insiden yang sering terjadi
atau berulangnya insiden sejenis

3. Mendidik staf dan klinisi terkait lainnya untuk menggalakkan praktek pengobatan yang aman
 Mengembangkan program pendidikan untuk meningkatkan medication safety dan kepatuhan
terhadap aturan/SOP yang ada

4. Berpartisipasi dalam Komite/tim yang berhubungan dengan medication safety

 Komite Keselamatan Pasien RS


 Dan komite terkait lainnya

5. Terlibat didalam pengembangan dan pengkajian kebijakan penggunaan obat

6. Memonitor kepatuhan terhadap standar pelaksanaan Keselamatan Pasien yang ada

Peran apoteker dalam mewujudkan keselamatan pasien meliputi dua aspek yaitu aspek
manajemen dan aspek klinik. Aspek manajemen meliputi pemilihan perbekalan farmasi,
pengadaan, penerimaan, penyimpanan dan distribusi, alur pelayanan, sistem pengendalian
(misalnya memanfaatkan IT). Sedangkan aspek klinik meliputi skrining permintaan obat (resep
atau bebas), penyiapan obat dan obat khusus, penyerahan dan pemberian informasi obat,
konseling, monitoring dan evaluasi. Kegiatan farmasi klinik sangat diperlukan terutama pada
pasien yang menerima pengobatan dengan risiko tinggi. Keterlibatan apoteker dalam tim
pelayanan kesehatan perlu didukung mengingat keberadaannya melalui kegiatan farmasi klinik
terbukti memiliki konstribusi besar dalam menurunkan insiden/kesalahan.

Apoteker harus berperan di semua tahapan proses yang meliputi :

 Pemilihan

Pada tahap pemilihan perbekalan farmasi, risiko insiden/error dapat diturunkan dengan
pengendalian jumlah item obat dan penggunaan obat-obat sesuai formularium.

 Pengadaan

Pengadaan harus menjamin ketersediaan obat yang aman efektif dan sesuai peraturan yang
berlaku (legalitas) dan diperoleh dari distributor resmi.

 Penyimpanan

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan untuk menurunkan kesalahan pengambilan
obat dan menjamin mutu obat:

 Simpan obat dengan nama, tampilan dan ucapan mirip (look-alike, sound-alike
medication names) secara terpisah.
 Obat-obat dengan peringatan khusus (high alert drugs) yang dapat menimbulkan cedera
jika terjadi kesalahan pengambilan, simpan di tempat khusus. Misalnya :
 menyimpan cairan elektrolit pekat seperti KCl inj, heparin, warfarin, insulin, kemoterapi,
narkotik opiat,neuromuscular blocking agents, thrombolitik, dan agonis adrenergik.
 kelompok obat antidiabet jangan disimpan tercampur dengan obat lain secara alfabetis,
tetapi tempatkan secara terpisah
 Simpan obat sesuai dengan persyaratan penyimpanan.

 Skrining Resep

1). Apoteker dapat berperan nyata dalam pencegahan terjadinya medication error melalui
kolaborasi dengan dokter dan pasien.

 Identifikasi pasien minimal dengan dua identitas, misalnya nama dan nomor rekam
medik/ nomor resep,
 Apoteker tidak boleh membuat asumsi pada saat melakukan interpretasi resep dokter.
Untuk mengklarifikasi ketidaktepatan atau ketidakjelasan resep, singkatan, hubungi
dokter penulis resep.
 Dapatkan informasi mengenai pasien sebagai petunjuk penting dalam pengambilan
keputusan pemberian obat, seperti :
 Data demografi (umur, berat badan, jenis kelamin) dan data klinis (alergi, diagnosis dan
hamil/menyusui). Contohnya, Apoteker perlu mengetahui tinggi dan berat badan pasien
yang menerima obat-obat dengan indeks terapi sempit untuk keperluan perhitungan dosis.
 Hasil pemeriksaan pasien (fungsi organ, hasil laboratorium, tanda-tanda vital dan
parameter lainnya). Contohnya, Apoteker harus mengetahui data laboratorium yang
penting, terutama untuk obat-obat yang memerlukan penyesuaian dosis dosis (seperti
pada penurunan fungsi ginjal).

2). Apoteker harus membuat riwayat/catatan pengobatan pasien.

3).Strategi lain untuk mencegah kesalahan obat dapat dilakukan dengan penggunaan otomatisasi
(automatic stop order), sistem komputerisasi (e-prescribing) dan pencatatan pengobatan pasien
seperti sudah disebutkan diatas.

4). Permintaan obat secara lisan hanya dapat dilayani dalam keadaan emergensi dan itupun harus
dilakukan konfirmasi ulang untuk memastikan obat yang diminta benar, dengan mengeja nama obat
serta memastikan dosisnya. Informasi obat yang penting harus diberikan kepada petugas yang
meminta/menerima obat tersebut. Petugas yang menerima permintaan harus menulis dengan jelas
instruksi lisan setelah mendapat konfirmasi.

 Dispensing
 Peracikan obat dilakukan dengan tepat sesuai dengan SOP.
 Pemberian etiket yang tepat. Etiket harus dibaca minimum tiga kali : pada saat
pengambilan obat dari rak, pada saat mengambil obat dari wadah, pada saat
mengembalikan obat ke rak.
 Dilakukan pemeriksaan ulang oleh orang berbeda.
 Pemeriksaan meliputi kelengkapan permintaan, ketepatan etiket, aturan pakai,
pemeriksaan kesesuaian resep terhadap obat, kesesuaian resep terhadap isi etiket.

 Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)

Edukasi dan konseling kepada pasien harus diberikan mengenai hal-hal yang penting tentang
obat dan pengobatannya. Hal-hal yang harus diinformasikan dan didiskusikan pada pasien adalah

 Pemahaman yang jelas mengenai indikasi penggunaan dan bagaimana menggunakan obat
dengan benar, harapan setelah menggunakan obat, lama pengobatan, kapan harus kembali
ke dokter
 Peringatan yang berkaitan dengan proses pengobatan
 Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) yang potensial, interaksi obat dengan obat lain dan
makanan harus dijelaskan kepada pasien
 Reaksi obat yang tidak diinginkan (Adverse Drug Reaction – ADR) yang mengakibatkan
cedera pasien, pasien harus mendapat edukasi mengenai bagaimana cara mengatasi
kemungkinan terjadinya ADR tersebut
 Penyimpanan dan penanganan obat di rumah termasuk mengenali obat yang sudah rusak
atau kadaluarsa. Ketika melakukan konseling kepada pasien, apoteker mempunyai
kesempatan untuk menemukan potensi kesalahan yang mungkin terlewatkan pada proses
sebelumnya.

 Penggunaan Obat

Apoteker harus berperan dalam proses penggunaan obat oleh pasien rawat inap di rumah sakit
dan sarana pelayanaan kesehatan lainnya, bekerja sama dengan petugas kesehatan lain. Hal yang
perlu diperhatikan adalah :

 Tepat pasien
 Tepat indikasi
 Tepat waktu pemberian
 Tepat obat
 Tepat dosis
 Tepat label obat (aturan pakai)
 Tepat rute pemberian
 Monitoring dan Evaluasi

Apoteker harus melakukan monitoring dan evaluasi untuk mengetahui efek terapi,
mewaspadai efek samping obat, memastikan kepatuhan pasien. Hasil monitoring dan evaluasi
didokumentasikan dan ditindaklanjuti dengan melakukan perbaikan dan mencegah pengulangan
kesalahan. Seluruh personal yang ada di tempat pelayanan kefarmasian harus terlibat didalam
program keselamatan pasien khususnya medication safety dan harus secara terus menerus
mengidentifikasi masalah dan mengimplementasikan strategi untuk meningkatkan keselamatan
pasien.

Faktor-faktor lain yang berkonstribusi pada medication error antara lain :

1). Komunikasi (mis-komunikasi, kegagalan dalam berkomunikasi )

Kegagalan dalam berkomunikasi merupakan sumber utama terjadinya kesalahan. Institusi


pelayanan kesehatan harus menghilangkan hambatan komunikasi antar petugas kesehatan dan
membuat SOP bagaimana resep/permintaan obat dan informasi obat lainnya dikomunikasikan.
Komunikasi baik antar apoteker maupun dengan petugas kesehatan lainnya perlu dilakukan
dengan jelas untuk menghindari penafsiran ganda atau ketidak lengkapan informasi dengan
berbicara perlahan dan jelas. Perlu dibuat daftar singkatan dan penulisan dosis yang berisiko
menimbulkan kesalahan untuk diwaspadai.

2). Kondisi lingkungan

Untuk menghindari kesalahan yang berkaitan dengan kondisi lingkungan, area dispensing
harus didesain dengan tepat dan sesuai dengan alur kerja, untuk menurunkan kelelahan dengan
pencahayaan yang cukup dan temperatur yang nyaman. Selain itu area kerja harus bersih dan
teratur untuk mencegah terjadinya kesalahan. Obat untuk setiap pasien perlu disiapkan dalam
nampan terpisah.

3). Gangguan/interupsi pada saat bekerja

Gangguan/interupsi harus seminimum mungkin dengan mengurangi interupsi baik


langsung maupun melalui telepon.

4). Beban kerja

Rasio antara beban kerja dan SDM yang cukup penting untuk mengurangi stres dan
beban kerja berlebihan sehingga dapat menurunkan kesalahan.

5). Meskipun edukasi staf merupakan cara yang tidak cukup kuat dalam menurunkan
insiden/kesalahan, tetapi mereka dapat memainkan peran penting ketika dilibatkan dalam sistem
menurunkan insiden/kesalahan.

Apoteker di rumah sakit atau sarana pelayanan kesehatan lainnya dapat menerapkan
Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Pada Pelayanan Kefarmasian yang mengacu pada
buku Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety) (diterbitkan oleh
Depkes tahun 2006) :

1. Bangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien Ciptakan kepemimpinan dan


budaya yang terbuka dan adil
 Adanya kebijakan Instalasi Farmasi RS/Sarana Pelayanan Kesehatan
lainnya tentang Keselamatan Pasien yang meliputi kejadian yang tidak
diharapkan (KTD), kejadian nyaris cedera (KNC), Kejadian Sentinel, dan
langkah-langkah yang harus dilakukan oleh apoteker dan tenaga farmasi,
pasien dan keluarga jika terjadi insiden.
 Buat, sosialisasikan dan penerapan SOP sebagai tindak lanjut setiap
kebijakan
 Buat buku catatan tentang KTD, KNC dan Kejadian Sentinel kemudian
laporkan ke atasan langsung

2. Pimpin dan Dukung Staf Anda

Bangun komitmen dan fokus yang kuat dan jelas tentang keselamatan pasien di
tempat pelayanan (instalasi farmasi/apotek)

 Adanya suatu tim di Instalasi Farmasi/Apotek yang bertanggung jawab


terhadap keselamatan pasien (sesuai dengan kondisi)
 Tunjuk staf Instalasi Farmasi/Apotek yang bisa menjadi penggerak dan
mampu mensosialisasikan program (leader)
 Adakan pelatihan untuk staf dan pastikan pelatihan ini diikuti oleh seluruh
staf dan tempatkan staf sesuai kompetensi
 Staf farmasi harus mendapat edukasi tentang kebijakan dan SOP yang
berkaitan dengan proses dispensing yang akurat, mengenai nama dan bentuk
obat-obat yang membingungkan, obat-obat formularium/non formularium,
obat-obat yang ditanggung asuransi/non-asuransi, obat-obat baru dan obat-
obat yang memerlukan perhatian khusus. Disamping itu petugas farmasi
harus mewaspadai dan mencegah medication error yang dapat terjadi.
 Tumbuhkan budaya tidak menyalahkan (no blaming culture) agar staf berani
melaporkan setiap insiden yang terjadi

3. Integrasikan Aktivitas Pengelolaan Risiko

Kembangkan sistem dan proses pengelolaan risiko serta lakukan identifikasi dan
asesmen hal yang potensial bermasalah

 Buat kajian setiap adanya laporan KTD, KNC dan Kejadian Sentinel
 Buat solusi dari insiden tersebut supaya tidak berulang dengan mengevaluasi SOP
yang sudah ada atau mengembangkan SOP bila diperlukan

4. Kembangkan Sistem Pelaporan


 Pastikan semua staf Instalasi Farmasi/Apotek dengan mudah dapat melaporkan
insiden kepada atasan langsung tanpa rasa takut
 Beri penghargaan pada staf yang melaporkan

5. Libatkan dan Komunikasi Dengan Pasien

Kembangkan cara-cara komunikasi yang terbuka dengan pasien

 Pastikan setiap penyerahan obat diikuti dengan pemberian Informasi yang jelas dan
tepat
 Dorong pasien untuk berani bertanya dan mendiskusikan dengan apoteker tentang
obat yang diterima
 Lakukan komunikasi kepada pasien dan keluarga bila ada insiden serta berikan solusi
tentang insiden yang dilaporkan.

6. Belajar dan Berbagi Pengalaman Tentang Keselamatan Pasien

Dorong staf untuk melakukan analisis penyebab masalah

 Lakukan kajian insiden dan sampaikan kepada staf lainnya untuk menghindari
berulangnya insiden

7. Cegah KTD, KNC dan Kejadian Sentinel dengan cara :

 Gunakan informasi dengan benar dan jelas yang diperoleh dari system pelaporan,
asesmen risiko, kajian insiden dan audit serta analisis untuk menentukan solusi
 Buat solusi yang mencakup penjabaran ulang sistem (re-design system),
penyesuaian SOP yang menjamin keselamatan pasien
 Sosialisasikan solusi kepada seluruh staf Instalasi Farmasi/Apotek
C. PENCATATAN DAN PELAPORAN
Di Indonesia data tentang Kejadian Tidak Diharapkan (KTD), Kejadian Nyaris Cedera
(KNC) dan Kejadian Sentinel masih sangat langka. Setiap kegiatan pelayanan kefarmasian baik
di rumah sakit maupun di komunitas diharapkan melakukan pencatatan dan pelaporan semua
kejadian terkait dengan keselamatan pasien meliputi KTD, KNC, dan Kejadian Sentinel.
Pelaporan di rumah sakit dilakukan sesuai dengan Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah
Sakit (Patient Safety) dan Pedoman Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien (IKP) yang
dikeluarkan oleh Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit - Persatuan Rumah Sakit Seluruh
Indonesia (PERSI). Kejadian terkait dengan keselamatan pasien dalam pelayanan farmasi
komunitas di Indonesia belum mempunyai panduan pelaporan, sehingga kegiatan yang dilakukan
adalah pencatatan untuk monitoring dan evaluasi. Tujuan dilakukan pelaporan Insiden
Keselamatan Pasien adalah untuk menurunkan Insiden Keselamatan Pasien yang terkait dengan
KTD, KNC dan Kejadian Sentinel serta meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien.
Sistem pelaporan mengharuskan semua orang dalam organisasi untuk peduli terhadap
bahaya/potensi bahaya yang dapat terjadi pada pasien. Pelaporan juga penting digunakan untuk
memonitor upaya pencegahan terjadinya kesalahan sehingga diharapkan dapat mendorong
dilakukannya investigasi lebih lanjut. Pelaporan akan menjadi awal proses pembelajaran untuk
mencegah kejadian yang sama terulang kembali. Setiap kejadian dilaporkan kepada Tim
Keselamatan Pasien Rumah Sakit menggunakan formulir yang sudah disediakan di rumah sakit
untuk diinvestigasi.

1 Prosedur Pelaporan Insiden

 Insiden yang dilaporkan adalah kejadian yang sudah terjadi, potensial terjadi ataupun
yang nyaris terjadi.
 Laporan insiden dapat dibuat oleh siapa saja atau staf farmasi yang pertama kali
menemukan kejadian atau terlibat dalam kejadian.
 Pelaporan dilakukan dengan mengisi “Formulir Laporan Insiden” yang bersifat rahasia

2 Alur Pelaporan Insiden Ke Tim Keselamatan Pasien (KP) Di Rumah Sakit (Internal)

 Apabila terjadi suatu insiden (KNC/KTD/Kejadian Sentinel) terkait dengan pelayanan


kefarmasian, wajib segera ditindaklanjuti (dicegah/ditangani) untuk mengurangi dampak/
akibat yang tidak diharapkan.
 Setelah ditindaklanjuti, segera buat laporan insidennya dengan mengisi Formulir Laporan
Insiden pada akhir jam kerja/shift kepada Apoteker penanggung jawab dan jangan menunda
laporan (paling lambat 2 x 24 jam).
 Laporan segera diserahkan kepada Apoteker penanggung jawab
 Apoteker penanggung jawab memeriksa laporan dan melakukan grading risiko terhadap
insiden yang dilaporkan.
 Hasil grading akan menentukan bentuk investigasi dan analisis yang akan dilakukan :

Grade biru : Investigasi sederhana oleh Apoteker penanggung jawab, waktu maksimal 1 minggu

Grade hijau: Investigasi sederhana oleh Apoteker penanggung jawab, waktu maksimal 2 minggu

Grade kuning : Investigasi komprehensif/Root Cause Analysis (RCA) oleh Tim KP di RS, waktu
maksimal 45 hari

Grade merah : Investigasi komprehensif/Root Cause Analysis (RCA) oleh Tim KP di RS, waktu
maksimal 45 hari

 Setelah selesai melakukan investigasi sederhana, laporan hasil investigasi dan laporan
insiden dilaporkan ke Tim KP di RS.
 Tim KP di RS akan menganalis kembali hasil investigasi dan Laporan insiden untuk
menentukan apakah perlu dilakukan investigasi lanjutan Root Cause Analysis (RCA)
dengan melakukan Regrading
 Untuk Grade kuning/merah, Tim KP di RS akan melakukan Root Cause Analysis (RCA)
 Setelah melakukan Root Cause Analysis (RCA), Tim KP di RS akan membuat laporan
dan Rekomendasi untuk perbaikan serta “pembelajaran” berupa : Petunjuk / Safety
alert untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali
 Hasil Root Cause Analysis (RCA), rekomendasi dan rencana kerja dilaporkan kepada
Direksi
 Rekomendasi untuk “Perbaikan dan Pembelajaran” diberikan umpan balik kepada
instalasi farmasi
 Apoteker penanggung jawab akan membuat analisis dan tren kejadian di satuan kerjanya
 Monitoring dan Evaluasi Perbaikan oleh Tim KP di RS.

Peran Apoteker Dalam Penyusunan Laporan

Idealnya setiap KTD/KNC/Kejadian Sentinel yang terkait dengan penggunaan obat harus
dikaji terlebih dahulu oleh apoteker yang berpengalaman sebelum diserahkan kepada Tim
Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Tujuan pengkajian untuk memastikan bahwa laporan tersebut
sudah sesuai, nama obat yang dilaporkan benar, dan memasukkan dalam kategori insiden yang
benar. Kategori kesalahan dalam pemberian obat adalah :

 Pasien mengalami reaksi alergi


 Kontraindikasi
 Obat kadaluwarsa
 Bentuk sediaan yang salah
 Frekuensi pemberian yang salah
 Label obat salah / tidak ada / tidak jelas
 Informasi obat kepada pasien yang salah / tidak jelas
 Obat diberikan pada pasien yang salah
 Cara menyiapkan (meracik) obat yang salah
 Jumlah obat yang tidak sesuai
 ADR ( jika digunakan berulang
 Rute pemberian yang salah
 Cara penyimpanan yang salah
 Penjelasan petunjuk penggunaan kepada pasien yang salah

Permasalahan Dalam Pencatatan Dan Pelaporan

Yang bertangggungjawab dalam pencatatan laporan adalah :

 Staf IFRS/Sarana Pelayanan Kesehatan Lainnya yang pertama menemukan kejadian atau
supervisornya
 Staf IFRS/ Sarana Pelayanan Kesehatan Lainnya yang terlibat dengan kejadian atau
supervisornya
 Staf IFRS/ Sarana Pelayanan Kesehatan Lainnya yang perlu melaporkan kejadian

Masalah yang dihadapi dalam pencatatan dan pelaporan kejadian

 Laporan dipersepsikan sebagai ”pekerjaan perawat”


 Laporan sering tidak diuraikan secara rinci karena takut disalahkan
 Laporan terlambat
 Laporan kurang lengkap ( cara mengisi formulir salah, data kurang lengkap )

Hal-hal yang perlu dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan

 JANGAN melaporkan insiden lebih dari 24 jam


 JANGAN menunda laporan insiden dengan alasan belum ditindaklanjuti atau
ditandatangan
 JANGAN menambah catatan medis pasien bila telah tercatat dalam laporan insiden
 JANGAN meletakan laporan insiden sebagai bagian dari rekam medic pasien
 JANGAN membuat salinan laporan insiden untuk alasan apapun
 CATATLAH keadaan yang tidak diantisipasi

Hambatan dalam pencatatan dan pelaporan

 Pandangan bahwa kesalahan adalah suatu kegagalan dan kesalahan dibebankan pada satu
orang saja.
 Takut disalahkan karena dengan melaporkan KTD, KNC, dan Kejadian sentinel akan
membeberkan keburukan dari personal atau tim yang ada dalam rumah sakit/sarana
pelayanan kesehatan lain.
 Terkena risiko tuntutan hukum terhadap kesalahan yang dibuat.
 Laporan disebarluaskan untuk tujuan yang merugikan
 Pelaporan tidak memberi manfaat langsung kepada pelapor
 Kurangnya sumber daya
 Kurang jelas batasan apa dan kapan pelaporan harus dibuat
 Sulitnya membuat laporan dan menghabiskan waktu

Dokumentasi

Semua laporan yang telah dibuat harus didokumentasikan di Instalasi Farmasi/ sarana pelayanan
kesehatan lain untuk bahan monitoring, evaluasi dan tindak lanjut.
D. MONITORING DAN EVALUASI
Sebagai tindak lanjut terhadap Program Keselamatan Pasien, Apoteker perlu melakukan
kegiatan monitoring dan evaluasi di unit kerjanya secara berkala. Monitoring merupakan
kegiatan pemantauan terhadap pelaksanaan pelayanan kefarmasian terkait Program Keselamatan
Pasien. Evaluasi merupakan proses penilaian kinerja pelayanan kefarmasian terkait Program
Keselamatan Pasien. Tujuan dilakukan monitoring dan evaluasi agar pelayanan kefarmasian
yang dilakukan sesuai dengan kaidah keselamatan pasien dan mencegah terjadinya kejadian yang
tidak diinginkan dan berulang dimasa yang akan datang.

Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap :

 Sumber daya manusia (SDM)


 Pengelolaan perbekalan farmasi (seleksi, perencanaan, pengadaan, penerimaan,
penyimpanan dan distribusi/penggunaan)
 Pelayanan farmasi klinik (pengkajian resep, penyerahan obat, pemberian informasi obat,
konseling obat, rekonstitusi obat kanker, iv.admixture, total parenteral nutrition, therapeutic
drug monitoring)
 Laporan yang didokumentasikan.

Dari hasil monitoring dan evaluasi dilakukan intervensi berupa rekomendasi dan tindak
lanjut terhadap hal-hal yang perlu diperbaiki seperti perbaikan kebijakan, prosedur, peningkatan
kinerja SDM, sarana dan prasarana ataupun organisasi. Hasil dari rekomendasi dan tindak lanjut
ini harus diumpan balikkan ke semua pihak yang terkait dengan program keselamatan pasien
rumah sakit. Untuk mengukur keberhasilan program kegiatan yang telah ditetapkan diperlukan
indikator, suatu alat/tolok ukur yang menunjuk pada ukuran kepatuhan terhadap prosedur yang
telah ditetapkan.

Indikator keberhasilan program dapat dilihat dari :

 Menurunnya angka kejadian tidak diinginkan (KTD), kejadian nyaris cedera (KNC) dan
kejadian sentinel.
 Menurunnya KTD, KNC dan Kejadian Sentinel yang berulang

4) Sasaran keselamatan pasien

Pencegahan Pasien Jatuh

Mengevaluasi faktor risiko

2. Pencegahan standar:

 Mengenalkan pasien dengan lingkungan sekitarnya


 Menempatkan tombol panggilan di tempat yang mudah dijangkau pasien dan mengajari
pasien bagaimana cara menggunakannya
 Meletakkan benda-benda penting yang dibutuhkan pasien di tempat yang mudah
dijangkau pasien
 Tempat tidur pasien disiapkan dalam posisi rendah dan dalam keadaan terkunci
 Memastikan pasien menggunakan alas kaki yang tidak licin dan ukurannya sesuai
 Menyediakan pencahayaan yang cukup, terutama pada malam hari
 Pastikan lantai dalam keadaan bersih dan kering
 Sediakan pengaman (handrails) di kamar mandi dan kamar pasien, serta di lorong rumah
sakit

3.Pencegahan khusus:

 Gunakan tanda visual untuk memberitahukan risiko jatuh (seperti: tanda yang dipasang di
pintu kamar pasien/di dalam kamar pasien, gelang penanda, kaos kaki/selimut berwarna,
tanda di berkas rekam medis pasien)
 Dampingi pasien saat pasien ke kamar mandi
 Tanyakan apakah pasien ingin ke kamar mandi setiap 2 jam sekali (apabila pasien dalam
keadaan sadar)
 Gunakan tempat tidur yang rendah
 Bila diperlukan, observasi pasien secara berkala

4.Hourly Rounding

Meliputi 4P: Position, Pain assessment, Personal needs (BAK/BAB), Placement

5.Tempat tidur yang rendah

6. Pemasangan alarm bila ada pasien yang jatuh

7.Observasi secara berkala

8.Komunikasi

 Komunikasi visual (pada rekam medis pasien, gelang pasien diberi tanda “fall risk”;
pemberian kaos kaki atau selimut berwarna)
 Komunikasi dengan pasien dan keluarga pasien
 Jelaskan bahwa pasien memiliki risiko untuk jatuh
 Jelaskan program pencegahan pasien jatuh yang dimiliki rumah sakit
 Libatkan pasien dan keluarganya dalam program pencegahan dan beri kesempatan pada
pasien dan keluarganya untuk memberi masukan.

SPO Sasaran keselamatan Pasien

A. Pengertian

Prosedur kegiatan untuk menilai dan mengevaluasi ulang serta mengambil tindakan pada pasien
yang mempunyai resiko jatuh di berbagai fasilitas layanan kesehatan di rumah sak

B. Tujuan :
 Menciptakan budaya keselamatan pasien
 Optimalisasi penggunaan asesment jatuh untuk menentukan kategori risiko jatuh
 Mendeskripsikan kebutuhan akan perlunya pemahaman faktor risiko jatuh,
pencegahan, dan penanganannya dalam meningkatkan klinis dan kepuasan pasien,
serta menurunkan biaya kesehatan.
 Memahami kunci keberhasilan program faktor risiko jatuh, pencegahan, dan
penanganannya.
C. Kebijakan :
 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1691/Menkes/Per/VII/2011 Tentang
Keselamatan Pasien Rumah Sakit
 SK Direktur Nomor 330 Tahun 2012 Tentang Pengurangan Risiko Pasien Cedera
Akibat Jatuh
D. Prosedur :
 Identifikasi faktor risiko jatuh dari pasien sesuai dengan form pemantauan pasien
jatuh.
 Jumlahkan total skor yang didapat dan kategorikan sesuai dengan jumlah skor yang
didapat.
 Pasang gelang berwarna kuning pada pasien.
 Intervensi sesuaikan dengan kategori yaitu :
1) Skor Risiko Rendah: 0 -7
 Orientasikan pasien pada lingkungan kamar / bangsal.
 Pastikan rem tempat tidur terkunci.
 Pastikan bel pasien terjangkau.
 Singkirkan barang yang berbahaya terutama pada malam hari
(kursi tambahan dan lain-lain).
 Minta persetujuan pasien agar lampu malam tetap menyala karena
lingkungan masih asing.
 Pastikan alat bantu jalan dalam jangkauan (bila menggunakan).
 Pastikan alas kaki tidak licin.
 Pastikan kebutuhan pribadi dalam jangkauan.
 Tempatkan meja pasien dengan baik agar tidak menghaIangi.
 Tempatkan pasien sesuai dengan tinggi badannya.
2) Skor Risiko Tinggi: 8-13
Orientasikan pasien pada lingkungan kamar / bangsal

Komplikasi

Menurut Kane (1996), yang dikutip oleh Darmojo (2004), komplikasi-komplikasi jatuh adalah :

 Perlukaan (injury)
Perlukaan (injury) mengakibatkan rusaknya jaringan lunak yang terasa sangat sakit
berupa robek atau tertariknya jaringan otot, robeknya arteri/vena, patah tulang atau fraktur
misalnya fraktur pelvis, femur, humerus, lengan bawah, tungkai atas.

 Disabilitas

Disabilitas mengakibatkan penurunan mobilitas yang berhubungan dengan perlukaan


fisik dan penurunan mobilitas akibat jatuh yaitu kehilangan kepercayaan diri dan pembatasan
gerak.

Pencegahan

Menurut Tinetti (1992), yang dikutip dari Darmojo (2004), ada 3 usaha pokok untuk
pencegahan jatuh yaitu :

 Identifikasi faktor resiko

Pada setiap lanjut usia perlu dilakukan pemeriksaan untuk mencari adanya faktor
instrinsik risiko jatuh, perlu dilakukan assessment keadaan sensorik, neurologis,
muskuloskeletal dan penyakit sistemik yang sering menyebabkan jatuh. Keadaan lingkungan
rumah yang berbahaya dan dapat menyebabkan jatuh harus dihilangkan. Penerangan rumah
harus cukup tetapi tidak menyilaukan. Lantai rumah datar, tidak licin, bersih dari benda-
benda kecil yang susah dilihat, peralatan rumah tangga yang sudah tidak aman (lapuk, dapat
bergerser sendiri) sebaiknya diganti, peralatan rumah ini sebaiknya diletakkan sedemikian
rupa sehingga tidak mengganggu jalan/tempat aktivitas lanjut usia. Kamar mandidibuat tidak
licin sebaiknya diberi pegangan pada dindingnya, pintu yang mudah dibuka. WC sebaiknya
dengan kloset duduk dan diberi pegangan di dinding.

 Penilaian keseimbangan dan gaya berjalan (gait )

Setiap lanjut usia harus dievaluasi bagaimana keseimbangan badannya dalam


melakukan gerakan pindah tempat, pindah posisi. Bila goyangan badan pada saat berjalan
sangat berisiko jatuh, maka diperlukan bantuan latihan oleh rehabilitasi medis. Penilaian
gaya berjalan juga harus dilakukan dengan cermat, apakah kakinya menapak dengan baik,
tidak mudah goyah, apakah penderita mengangkat kaki dengan benar pada saat berjalan,
apakah kekuatan otot ekstremitas bawah penderita cukup untuk berjalan tanpa bantuan.
Kesemuanya itu harus dikoreksi bila terdapat kelainan/penurunan.

 Mengatur/ mengatasi faktor situasional.

Faktor situasional yang bersifat serangan akut yang diderita lanjut usia dapat dicegah
dengan pemeriksaan rutin kesehatan lanjut usia secara periodik. Faktor situasional bahaya