Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH


RUANG : INSTALASI BEDAH SENTRAL (IBS)

Disusun Oleh:

NAMA : NUR ASIYAH

NIM : P1908114

PROGRAM PROFESI NERS


INSTITUSI TEKNOLOGI KESEHATAN & SAINS
WIYATA HUSADA SSAMARINDA 2019
FRAKTUR COLLUM FEMUR

A. Anatomi
Femur merupakan tulang terpanjang dan terberat dalam tubuh, meneruskan
berat tubuh dari os coxae ke tibia sewaktu kita berdiri. Caput femoris ke arah
craniomedial dan agak ke ventral sewaktu bersendi dengan acetabulum. Ujung
proksimal femur terdiri dari sebuah caput femoris dan dua trochanter (trochanter
mayor dan trochanter minor).
Gambar Anatomi Femur

Sumber: https://dokumen.tips/documents/anatomi-os-femur.html
Area intertrochanter dari femur adalah bagian distal dari collum femur dan
proksimal dari batang femur. Area ini terletak di antara trochanter mayor dan
trochanter minor. Caput femoris dan collum femoris membentuk sudut (1150 -
1400) terhadap poros panjang corpus femoris, sudut ini bervariasi dengan umur
dan jenis kelamin. Corpus femoris berbentuk lengkung, yakni cembung ke arah
anterior. Ujung distal femur, berakhir menjadi dua condylus, epicondylus medialis
dan epicondylus lateralis yang melengkung bagaikan ulir.
Caput femoris mendapatkan aliran darah dari tiga sumber, yaitu pembuluh
darah intramedular di leher femur, cabang pembuluh darah servikal asendens dari
anastomosis arteri sirkumfleks media dan lateral yang melewati retinakulum
sebelum memasuki caput femoris, serta pembuluh darah dari ligamentum teres.
Gambar Vaskularisasi Femur

Sumber: https://dokumen.tips/documents/vaskularisasi-pada-tulang-femur.html
Pada saat terjadi fraktur, pembuluh darah intramedular dan pembuluh darah
retinakulum mengalami robekan bila terjadi pergeseran fragmen. Fraktur
transervikal adalah fraktur yang bersifat intrakapsuler yang mempunyai kapasitas
yang sangat rendah dalam penyembuhan karena adanya kerusakan pembuluh
darah, periosteum yang rapuh, serta hambatan dari cairan sinovial.
Sendi panggul dan leher femur ini dibungkus oleh capsula yang di medial
melekat pada labrum acetabuli, di lateral, ke depan melekat pada linea
trochanterika femoris dan ke belakang pada setengah permukaan posterior collum
femur. Capsula ini terdiri dari ligamentum iliofemoral, pubofemoral, dan
ischiofemoral. Ligamentum iliofemoral adalah sebuah ligamentum yang kuat dan
berbentuk seperti huruf Y terbalik. Dasarnya disebelah atas melekat ada spina
iliaca anterior inferior, dibawah kedua lengan Y melekat pada bagian atas dan
bawah linea intertrochanterica. Ligament ini berfungsi untuk mencegah ekstensi
berlebihan selama berdiri. Ligamentum pubofemoral berbentuk segitiga. Dasar
ligamentum melekat pada ramus superior ossis pubis, dan apex melekat di bawah
pada bagian bawah linea intertrochanterica. Ligament ini berfungsi untuk
membatasi gerak ekstensi dan abduksi. Ligamentum ischifemoral berbentuk spiral
dan melekat pada corpus ossis ischia dekat margo acetabuli dan di bagian bawah
melekat pada trochanter mayor. Ligament ini membatasi gerak ekstensi.

B. Pengertian
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas dari tulang. Fraktur dibagi atas dua,
yaitu fraktur tertutup dan fraktur terbuka. Fraktur tertutup (simple) yaitu bila kulit
yang tersisa diatasnya masih intak (tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar), sedangkan fraktur terbuka (compound) yaitu bila kulit yang
melapisinya tidak intak dimana sebagian besar fraktur jenis ini sangat rentan terhadap
kontaminasi dan infeksi.
Fraktur collum femoris merupakan fraktur yang terjadi antara ujung
permukaan articular caput femur dan regio interthrocanter dimana collum femur
merupakan bagian terlemah dari femur. Secara umum fraktur collum femur
merupakan fraktur intrakapsular dimana suplai pembuluh darah arterial ke lokasi
fraktur dan caput femur terganggu dan dapat menghambat proses penyembuhan.
Fraktur collum atau neck (leher) femur adalah tempat yang paling sering
terkena fraktur pada usia lanjut. Sebagian besar pasien adalah wanita berusia tujuh
puluh dan delapan puluhan. Namun fraktur collum femur bukan semata-mata akibat
penuaan. Fraktur collum femur cenderung terjadi pada penderita osteopenia, banyak
diantaranya mengalami kelainan yang menyebabkan kehilangan jaringan tulang dan
kelemahan tulang, misalnya pada penderita osteomalasia, diabetes, stroke, dan
alkoholisme. Beberapa keadaan tadi juga menyebabkan meningkatnya kecenderungan
terjatuh. Selain itu, orang lanjut usia juga memiliki otot yang lemah serta
keseimbangan yang buruk sehingga meningkatkan resiko jatuh.

C. Mekanisme Terjadinya Fraktur


1. Low-energy trauma, paling umum pada pasien yang lebih tua.
a. Direct: Jatuh ke trokanter mayor (valgus impaksi) atau rotasi eksternal yang
dipaksa pada ekstremitas bawah menjepit leher osteroporotik ke bibir posterior
acetabulum (yang mengakibatkan posterior kominusi)
b. Indirect : Otot mengatasi kekuatan leher femur
2. High-energy trauma. Terjadi patah tulang leher femur pada pasien yang lebih
muda dan lebih tua, seperti kecelakaan kendaraan bermotor atau jatuh dari
ketinggian yang signifikan.
3. Cyclic loading-stress fractures. Terjadi pada atlet, militer, penari balet, pasien
dengan osteroporosis dan osteopenia berada pada risiko tertentu.

D. Klasifikasi
Lokasi anatomi terdiri dari:
1. Subcapital (paling sering)
2. Transcervical
3. Basicervical
Klasifikasi yang paling bermanfaat adalah Garden dimana klasifikasi ini dibuat
berdasarkan pergeseran yang nampak pada hasil sinar-x sebelum reduksi.
1. Garden Type I: fraktur inkomplit, termasuk fraktur abduksi dimana caput femoris
miring ke arah valgus yang berhubungan dengan collum femoris
2. Garden Type II: fraktur komplit, namun tidak terdapat pergeseran
3. Garden Type III: fraktur komplit disertai pergeseran parsial
4. Garden Type IV: fraktur komplit dengan pergeseran keseluruhan
Fraktur Garden I dan II dimana hanya terjadi sedikit pergeseran, memiliki
prognosis yang lebih baik untuk penyatuan dibandingkan dengan fraktur Garden III
dan IV.

E. Etiologi Dan Faktor Resiko


Fraktur collum femur lebih banyak terjadi pada ras kaukasian, wanita post
menopause, dan penderita osteoporosis. Fraktur ini biasanya terjadi akibat trauma.
Pada penderita osteoporosis kecelakaan yang ringan saja sudah bisa menyebabkan
fraktur. Pada orang usia muda fraktur biasanya terjadi akibat jatuh dari ketinggian
atau kecelakaan lalu lintas. Densitas tulang rendah dapat disebabkan oleh
permasalahan kesehatan lain misalnya diabetes melitus, stroke, konsumsi alkohol dan
osteomalasia.
F. Gambaran Klinis
Biasanya terdapat riwayat jatuh, yang diikuti nyeri pinggul. Pada fraktur dengan
pergeseran, tungkai pasien terletak pada rotasi eksternal dan terlihat pemendekan bila
dibandingkan dengan tungkai yang lain. Namun tidak semua fraktur nampak
demikian jelas. Pada fraktur yang terimpaksi pasien mungkin masih dapat berjalan
dan pasien yang sangat lemah atau cacat mental mungkin tidak mengeluh, sekalipun
mengalami fraktur bilateral.
Fraktur collum femur pada dewasa muda biasanya disebabkan oleh kecelakaan
lalu lintas atau jatuh dari ketinggian serta sering dikaitkan dengan cedera multipel.
Mendapatkan keterangan yang akurat mengenai ada atau tidaknya sinkop, riwayat
penyakit, mekanisme trauma dan aktivitas keseharian sangat penting untuk
menentukan pilihan terapi.

G. Pemeriksaan Fisik
Diagnosis fraktur femur dapat ditegakkan dengan anamnesis yang lengkap
mengenai kejadian trauma meliputi waktu, tempat, dan mekanisme trauma;
pemeriksaan fisik yang lengkap dan menyeluruh, serta pencitraan menggunakan foto
polos sinar-x.
1. Inspeksi
a. Deformitas: Deformitas dapat timbul dari tulang itu sendiri atau penarikan
dan kekakuan jaringan lunak.
b. Sikap anggota gerak: Kebanyakan fraktur terlihat jelas, namun fraktur satu
tulang di lengan atau tungkai atau fraktur tanpa pergeseran mungkin tidak
nampak. Pada gambar bawah ini merupakan contoh pengamatan sikap
anggota gerak bawah yang terlihat memendek disertai rotasi eksterna.
2. Palpasi
a) Nyeri tekan: Tanyakan pada pasien daerah mana yang terasa paling sakit.
Perhatikan ekspresi pasien sambal melakukan palpasi.
b) Spasme otot: Hal ini bisa terlihat dan teraba dari daerah fraktur dan pada
gerakan sederhana
c) Krepitasi: Krepitasi tulang dari gerakan pada daerah fraktur dapat diraba
d) Pemeriksaan kulit dan jaringan lunak di atasnya: Pada fraktur akut, terapi
tergantung pada keadaan jaringan lunak yang menutupinya. Adanya blister
atau pembengkakan merupakan kontraindikasi untuk operasi implan. Abrasi
pada daerah terbuka yang lebih dari 8 jam sejak cedera harus dianggap
terinfeksi dan operasi harus ditunda sampai luka sembuh sepenuhnya. Bebat
dan elevasi menurunkan pembengkakan dan ahli bedah harus menunggu
untuk keadaan kulit yang optimal.
e) Neurovaskular distal: Kondisi neurovaskular distal harus diperiksa karena
fraktur apapun dapat menyebabkan gangguan neurovaskular.
3. Gerakan
Sebagai skrining cepat, gerakan aktif dari seluruh anggota gerak diuji pada
penilaian awal. Pasien dengan fraktur mungkin merasa sulit untuk bergerak dan
fraktur harus dicurigai jika ada yang nyeri yang menimbulkan keterbatasan.

H. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan sinar-x pelvis posisi anteroposterior (AP) dan sinar-x proksimal
femur posisi AP dan lateral diindikasikan untuk kasus curiga fraktur collum femur.
Dua hal yang harus diketahui adalah apakah ada fraktur dan apakah terjadi
pergeseran. Pergeseran dinilai dari bentuk yang abnormal dari outline tulang dan
derajat ketidaksesuaian antara garis trabekula di kaput femur, collum femur, dan
supra-asetabulum dari pelvis. Penilaian ini penting karena fraktur terimpaksi atau
fraktur yang tidak bergeser akan mengalami perbaikan setelah fiksasi internal,
sementara fraktur dengan pergeseran memiliki angka nekrosis avaskular dan
malunion yang tinggi.
Magnetic resonance imaging (MRI) saat ini merupakan pilihan pencitraan untuk
fraktur tanpa pergeseran atau fraktur yang tidak nampak di radiografi biasa. Bone
scan atau CT scan dilakukan pada pasien yang memiliki kontraindikasi MRI.

I. Tatalaksana Fraktur Collum Femur


Penatalaksanaan untuk pasien berusia 60 tahun kebawah yang mengalami
fraktur adalah fiksasi internal dan reduksi tertutup. Untuk pasien berusia 60 keatas
disarankan dilakukan hip arthroplasty. Tujuan dari pengklasifikasian adalah pada
pasien berusia 60 tahun kebawah mobilitasnya masih cukup tinggi dibandingkan
dengan usia 60 tahun keatas, untuk menurunkan resiko terjadinya nekrosis avaskular
dan pembentukan tulang kembali pada usia dewasa muda masih mungkin terjadi.
1. Hip Arthroplasty
Hip Arthroplasty merupakan suatu tindakan penggantian sendi pinggul
dengan prostesis yang bertujuan untuk mengurangi rasa sakit dan mengembalikan
fungsi sendi panggul seperti semula. Nyeri setelah tindakan hip arthroplasty
dirasakan membaik selama minimal 3 bulan, sedangkan setidaknya butuh 1 tahun
untuk kembali ke fungsi normal tubuh. Hip Arthroplasty terbagi menjadi dua
jenis, yaitu Total Hip Arthroplasty dan Hemiarthroplasty.
a. Total Hip Arthroplasty
1) Cemented Total Hip Arthroplasty
Bahan cement yang digunakan dalam tindakan total hip arthroplasty
adalah polymethylmethacrylate yang digunakan untuk memfiksasi
prostesis dengan tulang tanpa sifat perekat. Semen yang mengelilingi
prostesis ini bersifat mengisi celah-celah di dalam tulang dan kemudian
setelah kering prostesis akan terfiksasi dengan sendirinya. Beberapa
dokter bedah memasukkan antibiotik profilaksis didalam semen tersebut
untuk mengurangi infeksi post operatif. Namun beberapa dokter bedah
berpendapat bahwa antibiotik dapat melemahkan kandungan dari semen
dan dapat meningkatkan resistensi. Masalah yang sering dihadapi pada
cemented total hip arthroplasty adalah prostesis yang longgar
diakibatkan osteolisis. Osteolisis ini disebabkan karena reaksi fagositosis
dari logam, partikel semen, dan prostesis oleh makrofag dengan resorpsi
tulang itu sendiri.
2) Uncemented Total Hip Arthroplasty
Uncemented total hip arthroplasty dikembangan untuk merespon
bahwa yang paling berperan dalam proses osteolisis dan kelonggaran
cemented total hip arthroplasty adalah partikel dari semen. Pada
prinsipnya prostesis yang dikembangkan dalam tindakan ini adalah
fiksasi tanpa semen dengan mengandalkan pertumbuhan tulang femur itu
sendiri. Maka dari itu teknik ini sering disebut juga teknik press-fit.
Teknik ini ditujukan terutama pada pasien yang berusia dewasa muda.
Uncemented total hip arthroplasty ini memerlukan ketelitian yang lebih
besar daripada teknik cemented karena prostesis harus benar-benar
terfiksasi menempel langsung pada tulang femur. Tulang yang tumbuh
kedalam pori-pori dari prostesis akan dimulai 6-12 minggu setelah
implantasi.
b. Hemiarthroplasty
Hemiarthroplasty adalah suatu proses pembedahan ortopedi yang pada
dasarnya hampir sama dengan Total Hip Arthroplasty namun yang berbeda
pada hemiarthroplasty hanya caput dan collum femur yang diganti dengan
prostesis, sedangkan kartilago asetabulum tidak diganti. Prosedur
pembedahannya adalah insisi lateral paha untuk dapat melihat sendi panggul.
Setelah masuk ke sendi panggul, dokter bedah melepas caput dan collum
femur dari asetabulum. Dengan menggunakan bor khusus, corpus femur
dibentuk seperti kanal agar prostesis stem bisa dimasukkan. Pada
uncemented stem prosthesis langsung dimasukkan ke dalam kanalis
femoralis buatan tersebut.
Berbeda dengan cemented stem, kanalis femoralis dibuat sedikit lebih
besar dari stem tujuannya agar semen bisa melekatkan antara stem dengan
tulang paha. Bola logam sebagai pengganti caput femur dilekatkan pada
asetabulum setelah itu panggul buatan direlokasi sekaligus dipastikan apakah
panggul dan paha dapat bekerja dengan baik. Dokter bedah menutup bekas
insisi dengan jahitan kemudian pasien bisa dipindah ke ruang pemulihan.

J. Asuhan Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Standar Luaran Keperawatan Standar Intervensi Keperawatan
Risiko Jatuh Berhubungan Tingkat Jatuh Pencegahan Jatuh
dengan Kondisi Pasca Bedah. Definisi: Derajat jatuh berdasarkan Definisi: Mengidentifikasi dan
observasi atau sumber informasi. menurunkan risiko terjatuh akibat
Domain: 0143 perubahan fisik atau psikologis.
Kategori: Lingkungan Setelah dilakukan tindakan
Subkategori: Keamanan dan keperawatan diharapakan pasien Tindakan:
Proteksi. memenuhi kriteria hasil berikut: Observasi:
1. Jatuh dari tempat tidur (skala 1. Identifikasi faktor resiko jatuh
Definisi: Berisiko mengalami 4) (mis. Usia>65 tahun, penurunan
kerusakan fisik dan gangguan 2. Jatuh saat duduk (skala 3) tingkat kesadaran, defisit kognitif,
kesehatan akibat terjatuh. gangguan keseimbangan dll)
2. Identifikasi resiko jatuh setidaknya
sekali setiap shift atau sesuai
dengan kebijakan institusi
3. Identifikasi faktor lingkungan yang
meningkatkan risiko jatuh
4. Monitor kemampuan berpindah
dari tempat tidur ke kursi roda dan
sebaliknya
Terapeutik:
1. Pastikan roda tempat tidur dan
kursi roda selalu dalam kondisi
terkunci
2. Pasang handrail tempat tidur
3. Atur tempat tidur mekanis pada
posisi terendah
4. Tempatkan pasien berisiko tinggi
jatuh dekat dengan pantauan
perawat dari nurse station
5. Dekatkan bel pemanggil dalam
jangkauan pasien
Edukasi:
1. Anjurkan memanggil perawat
jika membutuhkan bantuan untuk
berpindah
2. Ajarkan cara menggunakan bel
pemanggil untuk memanggil
perawat.
Nyeri Akut Berhubungan Tingkat Nyeri Manajemen Nyeri
dengan Kondisi Pembedahan
Definisi: Pengalaman sensorik Definisi: Mengidentifikasi dan
Domain: 0077 atau emosional yang berkaitan mengelola pengalaman sensorik atau
Kategori: Psikologis dengan kerusakan jaringan aktual emosional yang berkaitan dengan
Subkategori: Nyeri dan atau fungsional dengan onset kerusakan jaringan atau fungsional
Kenyamanan mendadak atau lambat dan dengan onset mendadak atau lambat
berintensitas ringan hingga berat dan berintensitas ringan hingga berat
Definisi: Pengalaman sensorik dan konstan. dan konstan.
atau emosional yang berkaitan
dengan kerusakan jaringan Setelah dilakukan tindakan Tindakan:
aktual atau fungsional, dengan keperawatan diharapkan pasien Observasi:
onset mendadak atau lambat dan dapat memenuhi kriteria hasil 1. Identifikasi lokasi, karakteristik,
berintensitas ringan hingga berat berikut: durasi, frekuensi, kualitas, dan
yang berlangsung kurang dari 3 1. Keluhan nyeri (skala 4) intensitas nyeri
bulan. 2. Gelisah (skala 4) 2. Identifikasi skala nyeri
3. Kesulitan tidur (skala 4) 3. Identifikasi faktor yang
4. Berfokus pada diri sendiri memperberat dan memperingan
(skala 3) nyeri
5. Perasaan depresi (tertekan) Terapeutik:
(skala 3) 1. Berikan teknik nonfarmakologis
untuk mengurangi rasa nyeri (mis.
Hipnosis, akupresur, terapi musik,
terapi pijat, aromaterapi, komppres
hangat/dingin).
2. Fasilitasi istirahat dan tidur
Edukasi:
1. Jelaskan penyebab, periode, dan
pemicu nyeri
2. Jelaskan strategi meredakan nyeri
Kolaborasi:
1. Kolaborasi pemberian analgetik,
jika perlu
Gangguan mobilitas fisik Mobilitas fisik Dukungan mobilasi
berhubungan dengan
gangguan musculoskeletal Definisi: kemampuan dalam Definisi: memfasilitasi pasien untuk
gerakan fisik dari satu atau lebih meningkatkan aktivitas pergerakan
Kode: D.0064 ekstermitas secara mandiri. fisik.
Kategorik: Fisiologis Tindakan:
Subkategori: Aktivitas/Istirahat Setelah dilakukan tindakan Observasi
keperawatan diharapkan pasien 1. Identifikasi adanya nyeri atau
Definisi: keterbatasan dalam mampu memenuhi kriteria sebagai keluhan fisik lainya
gerakan fisik dari satu atau lebih berikut: 2. Identifikasi toleransi fisik
ekstermitas secara mandiri 1. Pergerakan ekstermitas melakukan pergerakan
(skala 3) 3. monitor kondisi umum selama
2. Nyeri (skala 4) melakukan mobilisasi
3. Gerakan terbatas (skala 3) Terapeutik
4. Kelemahan fisik (skala 3) 1. Fasilitasi aktivitas mobilisasi
dengan alat bantu (missal, pagar
tempat tidur)
2. Fasilitasi melakukan pergerakan,
jika perlu
3. Libatkan keluarga untuk
membantu pasien dalam
meningkatkan pergerakan
REFERENSI

Solomon, L dkk. (2001). Fractures of the Femoral Neck; Apley’s System of


Orthopaedic and Fractures, 8th Ed. Arnold.

Egol, K dkk. (2002). Femoral Neck Fractures; Handbook of Fractures, 3rd Ed.
Lippincott Williams & Wilkins.

Thompson, J. Netter’s. (2010). Concise Orthopaedic Anatomy, 2nd Ed. Elsevier


Saunders.

http://eprints.undip.ac.id/56173/2/Reinardo_Dafon_Perwiraputra_22010113130136_L
ap.KTI_Bab2.pdf

PPNI. (2016). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator


Diagnostik, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan


Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.