Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI NY.S DENGAN BBLASR


(BERAT BADAN LAHIR AMAT SANGAT RENDAH)
DI RUANG PBRT RSUP Dr. KARIADI SEMARANG

DISUSUN OLEH :
FADLIYATUN NA’IMAH
P.1337420919111

PROGRAM STUDI SARJANAN TERAPAN KEPERAWATAN DAN


PROFESI NERS
JURUSAN KEPERAWATAN - POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES
SEMARANG
2019
BAB 1
PENDAHULUAN

BBLASR (Berat Badan Lahir Amat Sangat Rendah) diartikan sebagai bayi
yang lahir dengan berat badan kurang dari 1000 gram. BBLASR merupakan
prediktor tertinggi angka kematian bayi, terutama dalam satu bulan pertama
kehidupan (Kemenkes RI,2015). Bayi BBLASR mempunyai risiko kematian 20
kali lipat lebih besar di bandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat badan
normal. Lebih dari 20 juta bayi di seluruh dunia lahir dengan BBLASR dan 95.6%
bayi BBLASR lahir di negara yang sedang berkembang, contohnya di Indonesia.
Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2014-2015, angka prevalensi
BBLASR di Indonesia masih tergolong tinggi yaitu 9% dengan sebaran yang
cukup bervariasi pada masing-masing provinsi.Angka terendah tercatat di Bali

(5,8%) dan tertinggi di Papua (27%),sedangkan di Provinsi Jawa Tengah berkisar


7% (Kemenkes RI,2015).

BBLASR disebabkan oleh usia kehamilan yang pendek (prematuritas),dan


IUGR (Intra Uterine Growth Restriction) yang dalam bahasa Indonesia disebut
Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT) atau keduanya. Kedua penyebab ini
dipengaruhi oleh faktor risiko, seperti faktor ibu, plasenta,janin dan lingkungan.
Faktor risiko tersebut menyebabkan kurangnya pemenuhan nutrisi pada janin
selama masa kehamilan. Bayi dengan berat badan lahir rendah umumnya
mengalami proses hidup jangka panjang yang kurang baik. Apabila tidak
meninggal pada awal kelahiran, bayi BBLASR memiliki risiko tumbuh dan
berkembang lebih lambat dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat
badan normal. Selain gangguan tumbuh kembang, individu dengan riwayat
BBLASR mempunyai faktor risiko tinggi untuk terjadinya hipertensi, penyakit
jantung dan diabetes setelah mencapai usia 40 tahun (Juaria dan Henry, 2014) .

Pada masa sekarang ini, sudah dikembangkan tatalaksana awal terhadap


bayi BBLASR dengan menjaga suhu optimal bayi, memberi nutrisi adekuat dan
melakukan pencegahan infeksi. Meskipun demikian, masih didapatkan 50% bayi
BBLASR yang meninggal pada masa neonatus atau bertahan hidup dengan
malnutrisi, infeksi berulang dan kecacatan perkembangan neurologis. Oleh karena
itu,pencegahan insiden BBLASR lebih diutamakan dalam usaha menekan Angka
Kematian Bayi (Prawiroharjo,2014). Development Goals yang ke IV yaitu
menurunkan angka kematian anak terutama di negara berkembang, perlu
dilakukan upaya pencegahan kejadian BBLR di masa mendatang, salah satunya
dengan melakukan pengawasan ketat terhadap faktor-faktor risiko yang
mempengaruhi kejadian BBLASR.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI NY.S DENGAN BBLASR
(BERAT BADAN LAHIR AMAT SANGAT RENDAH)
DI RUANG PBRT RSUP Dr. KARIADI SEMARANG

Tanggal Pengkajian : 11 November 2019


Ruang/RS : Ruang PBRT RSUP Dr. Karaidi Semarang

A. Data Demografi
1. Klien / Pasien
Inisial klien : Bayi Ny. S
Tanggal lahir : 13 Oktober 2019
Agama : Islam
Alamat : Semarang
Diagnosa Medis : BBLASR
2. Orang Tua / Penanggung Jawab
Ibu
Nama : Ny. S
Umur : 38 tahun
Hub. Dengan klien : Ibu
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : SMP
Suku : Jawa
Agama : Islam
Alamat : Kudus
Ayah
Nama : Tn. S
Umur : 38 tahun
Hub. Dengan klien : Ayah
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan : SMA
Suku : Jawa
Agama : Islam
Alamat : Kudus

B. Riwayat Klien
1. Riwayat Kehamilan
ANC : Ibu klien mengatakan rutin memeriksakan kehamilanya ke dokter
Sp.Og ( lebih dari 4x)
Riwayat penggunaan obat – obatan : Ibu rajin minum tablet Fe dengan nilai
Hb yang normal, Ibu mengkonsumsi obat penyakit darah tinggi secara rutin
sejak tahun 2006 yaitu.
2. Riwayat persalinan
Usia gestasi : 30 minggu
BB lahir : 700 gram
Jenis Persalinan : Sectio Caesaria
Indikasi : PEB
Apgar score : 8-9-10
3. Riwayat alergi
Tidak ada alergi pada ibu klien

C. RIWAYAT KESEHATAN
1. Riwayat penyakit dalam keluarga
Ibu klien mengatakan menderita penyakit darah tinggi selama kehamilan
dan tidak menderita penyakit keturunan lainnya seperti DM dan Asam
Urat yang diderita oleh kedua keluarga dari ayah maupun ibu By.S
2. Genogram
Keterangan :
: Laki - laki

: Perempuan

: Perempuan (Klien)

: meninggal

D. Riwayat Penyakit Sekarang


1. Penampilan umum
a. Keadaan Umum
KU baik
b. Pemeriksaan Tanda – tanda vital
RR : 40 x/menit
Suhu : 36.9oC
Nadi : 140 x/menit
SpO2 : 99 %
2. Oksigenasi
Irama nafas : Regular (teratur)
Kedalaman nafas : normal, tidak dalam dan tidak dangkal
Penggunaan alat bantu nafas : tidak ada
Penggunaan otot bantu napas : tidak ada otot bantu nafas , tidak ada
sianosis
3. Nutrisi
a. Berat Badan lahir : 700 gr
b. Berat Badan Sekarang : 905 gr
c. Panjang badan : 32 cm
d. Lingkar kepala : 24 cm
e. Lingkar dada : 21 cm
f. Jenis nutrisi : Asi Ibu
g. Terpasang OGT : terpasang OGT no.5
h. Residu OGT : tidak ada
i. Belum ada reflek menghisap, tidak mampu meminum asi
4. Cairan
a. Jenis minuman : ASI
b. Turgor kulit : kembali dengan segera < 2 detik
c. Bibir : lembab, berwarna merah muda
d. Ubun ubun : tidak cekung
e. Mata : conjungtiva tidak anemis
f. Kapilary refil : < dari 2 detik
5. Istirahat tidur
a. Status tidur – terjaga : klien tertidur terus, bangun saat terasa lapar,
BAB dan BAK
b. Kualitas tidur : kuat
6. Aktivitas
a. Gerakan : aktif
b. Tangisan : kuat
c. System Muskuloskeletal
Tonus otot baik, tidak terjadi gangguan

E. Pemeriksaan Head to toe


1. Integumen
- Suhu : 36,9o C, akral dingin
- Warna kulit : kemerahan
- Integritas kulit
 Utuh
 kemerahan
 Seluruh kulit
2. Kepala dan leher
- Tengkorak : simetris , tidak ada kelainan
- Warna dan distribusi rambut : hitam
- Kelopak mata : betuk simetris , gerak simetris
- Warna konjungtiva : tidak anemis
- Sklera : normal
- Telinga : bentuk simetris , bersih
- Hidung : bentuk simetris , tidak ada serumen , bersih
- Leher : bentuk normal
3. Dada, Paru-paru dan jantung
- Pengembangan dada simetris, tidak ada retraksi
- Ictus cordis tidak teraba
- suara paru vesikuler
- suara jantung s1 s2 murni
4. Abdomen
- Bentuk simetris
- Tidak terdapat distensi abdomen
- Lambung tympani
- Sudah BAB
5. Alat Kelamin
- Tidak ada kelainan
- Kebersihan terjaga bersih
- Tidak ada kemerahan /iritasi
6. Ekstermitas
- Atas : Simetris kanan dan kiri, lengkap tidak ada kelainan, terlihat
bersih , SpO2 99%, tidak ada oedema. Akral dingin
- Bawah : simetris kanan dan kiri, tidak ada kelainan, terlihat bersih
Gerakan aktif
7. Perkembangan refleks
Bayi memiliki reflek moro yang baik, reflek menggengam ada, refleks
menghisap belum begitu kuat namun sudah bisa, meringis atau menangis
ketika di stimulasi.
F. Pengkajian Psikososial
1. Respon Hospitalisasi
Klien tidak rewel
2. Pengetahuan orang tua tentang kondisi bayi
Orang tua klien tahu tentang kondisi klien
3. Kunjungan orang tua terhadap bayi
Ibu sering menengok anaknya, setiap 3 jam skali ibu mencoba meneteki
anaknya
4. Interaksi orang tua dan bayi
Klien dengan ibu sering bertemu dan sering disusui
5. Suasana hati orang tua
Orang tua senang anaknya telah lahir kedunia dan senang melihat anaknya
mulai tampak sehat walaupun berat badan anaknya masih tergolong rendah.

G. DATA PENUNJANG
1. Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Tanggal : 04 November 2019
NILAI
PEMERIKSAAN HASIL SATUAN KET.
RUJUKAN
HEMATOLOGI
Hematologi Paket
Hemoglobin 15.9 g/dL 13.60 – 19.60
Hematokrit 46.0 % 44 – 62
Eritrosit 4.06 10^6/uL 5.9 – 5.9 L
MCH 39.2 Pg 24.00 – 34.00 H
MCV 113.0 fL 83 – 110 H
MCHC 34.6 g/dL 29.00 – 36.00 H
Leukosit 10.4 10^3/uL 9 – 30
Trombosit 342 10^3/uL 150 – 400
RDW 14.7 % 11.60 – 14.80
MPV 6.10 f 4.00 – 11.00
2. Pemeriksaan Radiologi
Tanggal :29 / 10 / 2019
Klinis : BBLR
ABDOMEN
 Ukuran vesica felea tampak kecil (ukuran preprandial +_ 1.50 cm, post
prandial sedikit mengecil +_ 1.467 cm) tak tampak gambaran tringular
cord sign pada peri vena porta hepar -> masih mungkin gambaran
atresia balier
 Ukuran dan parenkim hepar dalam batas normal
 Tak tampak pelebaran duktus biliaris intra dan ekstrahepatal
 Tak tampak gambaran choledochal cyst
3. Pemeriksaan USG Kepala
Tanggal : 29/10/2019
 Tak tampak gambaran perdarahan pada subependymal, intraventrikel
maupun parenkim otak
 Tak tampak pelebaran ventrikel
H. DAFTAR MASALAH
No Tgl/jam Data fokus Masalah Ttd
1. 11/11 / 2019 DS : - Risiko Hipotermia
DO :
(000253)
Hipotermia
suhu 36.9o C
N 140 x/mnt,
Akral dingin
Usia gestasi 30 minggu
Warna kulit kemerahan
Klien dirawat di inkubator
2 11 /11/ 2019 DS : - Ketidakseimbangan
DO : nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
a. BB lahir : 700 gr
(00002)
b. BB Sekarang: 905
gr
c. Panjang badan :
32 cm
d. Lingkar kepala:
24 cm
e. Lingkar dada :
21bcm
f. Ketridak
mampuan meminum asi
g. Jenis nutrisi
: Asi Ibu

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan asupan diet kurang
2. Risiko hipotermi
J. INTERVENSI

NO. TGL/JAM Dx TUJUAN INTERVENSI


1. 11 / 11 / 2019 Ketidak Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji refleks menghisap dan
10.00 WIB seimbangan keperawatan selama 3x24 menelan
nutrisi kurang jam, kebutuhan nutrisi pada 2. Ajarkan pada ibu untuk
dari kebutuhan bayi terpenuhi dengan merangsang bayi minum
tubuh b.d kriteria hasil : ASI
asupan diet 1. Tidak terjadi penurunan 3. Berikan ASI setiap 2 jam
kurang BB/terjadi kenaikan BB sekali
bayi 4. Timbang BB setiap hari
2. Bayi mampu minum 5. Kolaborasi dengan farmasi
ASI mengenai jumlah diit yang
sesuai

2 11/ 11/ 2019 Risiko Setelah dilakukan tindakan Pengaturan suhu


hipotermi keperawatan selama 3x24 1. Monitor suhu dan warna
10.00 WIB
jam diharapkan hipotermi kulit
tidak terjadi dengan kriteria 2. Rawat bayi dalam suhu
hasil : yang sesuai
- Suhu tubuh dalam 3. Ganti popok bila basah
rentang normal 36,5- 4. Memberikan pendidikan
37°C kesehatan dan
- Warna kulit merah mengajarkan metode
muda, akral hangat kanguru
(KMC/Kangaroo Mother
Care)
K. IMPLEMENTASI

NO. TGL/JAM DP IMPLEMENTASI RESPON


1. 11/ 11 / 2019 Ketidak 1. Menimbang klien 1. BB klien 905 gr
10.00 WIB seimbangan 2. Mengkaji refleks 2. Klien belum memiliki
nutrisi kurang menghisap dan menelan refleks menghisap dan
dari kebutuhan menelan
11.00 WIB tubuh b.d 3. Mengajarkan pada ibu 3. Ibu mengerti cara
asupan diet untuk merangsang bayi menyusui yang baik
kurang minum ASI dengan teknik dan benar
menyusui yang baik dan
benar
12.00 WIB 4. Memberikan ASI 4. Klien minum asi
melalui OGT 15 ml

2 11 / 11 /2019 Risiko 1. Memonitor suhu dan 1. S : 36.9oC, warna kulit


10.00 WIB hipotermi warna kulit merah, akral dingin
11.00 WIB 2. Mengganti popok 2. Popok klien basah
12.30 WIB 3. Memeberikan pendidikan 3. Ibu klien mengatakan
kesehatan mengenai kmengerti dan antusias
KMC dan merencanakan akan melaksanakan
pelaksanaan KMC pada KMC sesuai waktu
hari Selasa jam 16.00 yang telah disepakati
WIB
3 12 / 11/2019 Ketidak 1. Menimbang klien 1. BB klien 960 gr
08.00 WIB seimbangan
09.00 WIB nutrisi kurang 2. Mengkaji refleks 2. Klien belum memiliki
dari kebutuhan menghisap dan menelan refleks menghisap dan
tubuh b.d menelan
09. 15 WIB asupan diet 3. Memotivasi ibu untuk 3. Bayi latihan menetek
kurang meneteki bayinya 4. Klien minum asi
09.00 WIB 4. Memberikan ASI melalui OGT 15 ml
12.00 WIB 5. Memberikan ASI 5. Klien minum ASI
menggunakan OGT 15
ml

4 12/ 11 / 2019 Risiko 1. Memonitor suhu dan 1. S : 36,7oC , warna kulit


09.00 WIB hipotermi warna kulit kemerahan, akral
dingin
10.00 WIB 2. Mengganti popok 2. Popok basah
15.30 WIB 3. Memonitor pelaksanaan 3. Ibu bisa melaksanakan
KMC KMC selama 1 jam

5 13 / 11/ 2019 Ketidak


seimbangan
1. Menimbang klien
08.00 WIB nutrisi kurang 1. BB klien 990 gr
2. Mengkaji refleks
dari kebutuhan 2. Ibu klien mengatakan
14.30 WIB menghisap dan menelan
tubuh b.d klien mulai memiliki
asupan diet refleks menghisap
15..00 WIB
3. Memberikan ASI
kurang 3. Klien minum asi
melalui OGT 15 ml

6 13 / 11 / 2019 Risiko 1. Memonitor suhu dan 1. Suhu klien 36,5°C,


15.00 WIB hipotermi warna kulit warna kulit merah
muda, akral hangat
15.30 WIB
2. Mengganti popok 2. Popok klien basah

L. EVALUASI
Diagnosa
No Tanggal Catatan Perkembangan TTD
Keperawatan
1. 13/11/2019 Ketidak S : ibu klien mengatakan klien mulai mempunyai
19.00 seimbangan nutrisi reflek menghisap
kurang dari O : BB bayi 990 gr
kebutuhan tubuh A : Masalah teratasi sebagian
b.d asupan diet P : lanjutkan intervensi motivasi ibu untuk
kurang melatih reflek menghisap dan menelan dan
meneteki bayi nya secara baik dan benar
2. 13/11/2019 Risiko hipotermi S:-
O : Suhu bayi 36.5°C, warna kulit merah muda,
akral hangat
A : masalah teratasi sebagian
P : hentikan intervensi

BAB III
PEMBAHASAN
A. ANALISA KASUS
By. Ny.S usia 3 minggu dirawat ruang PBRT dengan diagnose
medis BBLASR. Berat Badan lahir 700 gr, Berat Badan Sekarang 905 gr,
Panjang badan 32 cm , Lingkar kepala24 cm dan Lingkar dada 21 cm,
terpasang OGT no 5 dan diberikan ASI melalui syring pump. RR : 40
x/menit Suhu : 36.9oC Nadi : 140 x/menit SpO2 : 99 %.
BBLASR (Berat Badan Lahir Amat Sangat Rendah) diartikan
sebagai bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 1000 gram.
BBLASR merupakan prediktor tertinggi angka kematian bayi, terutama
dalam satu bulan pertama kehidupan (Kemenkes RI,2015). Bayi BBLASR
mempunyai risiko kematian 20 kali lipat lebih besar di bandingkan dengan
bayi yang lahir dengan berat badan normal. Lebih dari 20 juta bayi di
seluruh dunia lahir dengan BBLASR dan 95.6% bayi BBLASR lahir di
negara yang sedang berkembang,

B. ANALISA INTERVENSI KEPERAWATAN


a. Untuk mengatasi ketidakseimbangan nutrisi klien dapat dilakukan
1) Kaji refleks menghisap dan menelan
2) Ajarkan pada ibu untuk merangsang bayi minum ASI
3) Berikan ASI setiap 2 jam sekali
4) Timbang BB setiap hari
5) Kolaborasi dengan farmasi mengenai jumlah diit yang sesuai
b. Untuk mengatasi hipotermi klien dapat dilakukan Pengaturan suhu
1) Monitor suhu dan warna kulit
2) Rawat bayi dalam suhu yang sesuai
3) Ganti popok bila basah
4) Memberikan pendidikan kesehatan dan mengajarkan metode
kanguru (KMC/Kangaroo Mother Care)

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari hasil tindakan asuhan keperawatan dapat ditarik kesimpulan :
1. By.Ny S usia 3 minggu terdiagnosa BBLASR
2. Diagnosa yang dapat di munculkan adalah hipotermi dan
ketidakseimbangan nutrisi
3. Setelah dilakukan intervensi kondisi klien semakin membaik

B. SARAN
1. Klien dan keluarga
kepada ibu agar pasien dapat menyadari kondisi yang diderita anaknya
perlunya pengobatan dan terapi suportif lain untuk menjaga
kesehatannya. Menjeleskan kepada keluarga tentang penyakit dan
kondisi pasien sehingga dapat memahami dan memberikan dukungan
secara fisik dan psikis dalam memperbaiki kualitas hidup pasien.
2. Perawat
Diharapkan pemantauan lebih intensif terhadap kondisi pasien yang
semakin membaik

DAFTAR PUSTAKA
ulecheck, Gloria M., Butcher, Howard K., Dochterman, J.
McCloskey.(2012).Nursing Interventions Classification (NIC). Fifth Edition.
Iowa : Mosby Elsavier..
Herdman, H & Kamitsuru, S. (2018). NANDA-I Diagnosis Keperawatan :
Definisi dan Klasifikasi 2018-2020 Edisi 11. Jakarta : EGC.
Moorhead, S., Jhonson, M., Maas, M., & Swanson, L. (2013). Nursing Outcomes
Classification (NOC) Edisi 5. Amerika : Elsevier.
Wong, Donna L, dkk. (2009). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong, Ed 6, Vol
1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.