Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih (good governance)
sudah menjadi keniscayaan di era reformasi saat ini. Berbagai upaya telah
dilakukan untuk mewujudkannya, namun impelementasinya masih belum
sesuai harapan. Banyak hal yang masih perlu diperbaiki dalam tata
pemerintahan di Indonesia seperti KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme),
pelayanan publik yang lamban dan tidak netral serta minimnya transparansi dan
akuntabilitas birokrasi.
Untuk mewujudkan tata pemerintahan yang baik diperlukan partisipasi
dan dukungan dari sistem administrasi pemerintahan yang transparan dan
akuntabel. Salah satunya dengan adanya pengelolaan kearsipan yang
terselenggara dengan baik. Pengelolaan arsip atau manajemen arsip dapat
diartikan sebagai pengendalian arsip secara sistematis mulai dari
penciptaan, penggunaan dan pemeliharaan, sampai dengan penyusutan ( life
of cycles ).
Pada hakikatnya, penyelenggaraan kearsipan bertujuan untuk
meningkatkan kualitas pelayanan publik dalam pengelolaan arsip yang autentik
dan terpercaya. Maksud dari pernyataan tersebut yaitu bahwa penyelenggaraan
yang komprehensif dan terpadu dengan dukungan sumber daya manusia yang
profesional, prasarana dan sarana yang memadai serta adanya dukungan
pemerintah akan meningkatkan kualitas pelayanan publik yang merupakan
salah satu indikator untuk menuju good governance. Oleh karena itu keberadaan
dan pengelolaan arsip harus menjadi perhatian pemerintah, khususnya
pemanfaatan teknologi informasi dalam sistem kearsipan sebagai upaya
meningkatkan pelayanan informasi dan penyelenggaraan administrasi publik.
Keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik juga
sangat tergantung dari kompetensi yang dimiliki oleh Aparatur Sipil Negara
(ASN). Kompetensi ini berkaitan dengan kemampuan yang dimiliki ASN
berupa pengetahuan, keterampilan atau kecakapan dan sikap serta perilaku

1
dalam pelaksanaan tugas, fungsi kewenangan serta tanggung jawab yang
diamanatkan. ASN yang profesional mampu mewujudkan tata pemerintahan
yang baik (good governance).
Pada Undang-Undang ASN Nomor 5 Tahun 2014 bahwa Calon Pegawai
Negeri Sipil yang diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil harus memenuhi
persyaratan lulus pendidikan dan pelatihan dan sehat jasmani dan rohani. Maka
untuk meningkatkan kompetensi PNS agar diwajibkan mengikuti Pelatihan
Dasar (Latsar). Latsar bertujuan meningkatkan fungsi aparatur sipil negara
sebagai Pelaksana Kebijakan Publik, Pelayan Publik, dan Perekat dan
Pemersatu Bangsa .
Pelatihan Dasar ini dilaksanakan dalam rangka membentuk nilai-nilai
dasar profesi PNS. Kompetensi inilah yang kemudian berperan dalam
membentuk karakter PNS yang kuat, yaitu PNS yang mampu bertindak dan
bersikap profesional dalam melayani masyarakat. Kompetensi yang dibangun
dalam Latsar adalah kompetensi PNS yang profesional yang diindikasikan
dengan mengaktualisasikan lima nilai dasar yaitu Akuntabilitas, Nasionalisme,
Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi (ANEKA) serta peran dan
kedudukan ASN Whole of Government, Manajemen ASN, dan Pelayanan
Publik. Kompetensi inilah yang kemudian akan membentuk karakter PNS yang
mampu bersikap dan bertindak profesional dalam mewujudkan good
governance.
Pusdiklat APU PPT adalah unit kerja di bawah institusi PPATK yang
diresmikan pada bulan November 2017. Di usia nya yang belum genap 2 tahun
ini, pengelolaan kearsipan di lingkungan Pusdiklat belum optimal karena masih
dijalankan secara manual. Oleh karena itu diperlukan pemanfaatan teknologi
informasi pada pengelolaan arsip di Pusdiklat agar dapat berjalan lebih efektif
dan efisien. Rancangan aktualisasi ini akan membahas bagaimana penerapan
nilai-nilai dasar ASN pada implementasi sistem SIARSIP pada tata kelola arsip
di Pusdiklat APU PPT.

2
1.2 Tujuan
Tujuan pelaksanaan aktualisasi latihan dasar ini yaitu sesuai dengan peraturan
Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2018
tentang Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Golongan III,
penulis selaku peserta Pelatihan Dasar diharapkan mampu :
1. Menunjukkan sikap perilaku bela negara
2. Mengaktualisasikan nilai-nilai dasar PNS dalam pelaksanaan tugas dan
jabatannya
3. Mengaktualisasikan kedudukan dan peran PNS dalam kerangka NKRI
4. Menunjukkan penugasan kompetensi teknis yang dibutuhkan sesuai bidang
tugas
5. Menjadi solusi atas permasalahan yang terjadi di lingkungan tempat kerja

1.3 Ruang Lingkup


Ruang lingkup dari kegiatan aktualisasi ini adalah sebagai berikut :
1. Penerapan nilai-nilai Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik,
Komitmen Mutu, Anti Korupsi, Whole of Government, Manajemen
ASN, dan Pelayanan Publik berdasarkan isu yang diangkat.
2. Pelaksanaan aktualisasi isu yang diangkat dan dilakukan di Pusdiklat
APU PPT
3. Pelaksanaan dilakukan selama off campus pada tanggal 25 Mei 2019
sampai 1 Juli 2019

3
BAB II
RANCANGAN AKTUALISASI

2.1 Deskripsi Organisasi PPATK


Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK)
merupakan lembaga sentral (focal point) yang mengkoordinasikan pelaksanaan
upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang di Indonesia.
Secara internasional PPATK merupakan suatu Financial Intelligence Unit (FIU)
yang memiliki tugas dan kewenangan untuk menerima laporan transaksi keuangan,
melakukan analisis atas laporan transaksi keuangan, dan meneruskan hasil analisis
kepada lembaga penegak hukum.
Lembaga PPATK pertama kali dikenal di Indonesia dalam Undang-
undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang yang
diundangkan pada tanggal 17 April 2002. Pada tanggal 13 Oktober 2003, Undang-
undang tersebut mengalami perubahan dengan Undang-undang No. 25 Tahun 2003
tentang Perubahan atas Undang-undang No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana
Pencucian Uang. Dalam rangka memberikan landasan hukum yang lebih kuat
untuk mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang, pada tanggal 22
Oktober 2010 diundangkan Undang-undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan
dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang yang menggantikan Undang-
undang terdahulu.
Keberadaan Undang-undang No. 8 Tahun 2010 memperkuat
keberadaan PPATK sebagai lembaga independen dan bebas dari campur tangan dan
pengaruh dari kekuasaan manapun. Dalam hal ini setiap orang dilarang melakukan
segala bentuk campur tangan terhadap pelaksanaan tugas dan kewenangan PPATK.
Selain itu, PPATK wajib menolak dan/atau mengabaikan segala campur tangan dari
pihak mana pun dalam pelaksanaan tugas dan kewenangan.
PPATK bertanggung jawab langsung kepada Presiden RI. Sebagai
bentuk akuntabilitas, PPATK membuat dan menyampaikan laporan pelaksanaan
tugas, fungsi dan wewenangnya secara berkala setiap 6 (enam) bulan kepada
Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat.

4
2.1.1 Visi PPATK
Menjadi Lembaga Intelijen Keuangan yang Independen dan terpercaya
dalam mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang dan pendanaan
terorisme.

2.1.2 Misi PPATK


a. Meningkatkan nilai guna Hasil Analisis dan Hasil Pemeriksaan PPATK
b. Meningkatkan peran dan dukungan dalam pencegahan dan pemberantasan
tindak pidana pencucian uang, pendanaan terorisme, dan tindak pidana lainnya
di Indonesia
c. Meningkatkan efektivitas manajemen internal PPATK

Penjelasan atas masing-masing misi diuraikan sebagai berikut:


a. Misi Pertama
Meningkatkan nilai guna hasil analisis dan hasil pemeriksaan PPATK. Hasil
Analisis (HA) dan Hasil Pemeriksaan (HP) merupakan produk utama PPATK
sebagai FIU. HA dan HP tersebut dihasilkan melalui proses analisis dan
pemeriksaan berdasarkan data-data transaksi keuangan mencurigakan yang
kredibel. HA dan HP tersebut kemudian disampaikan kepada Aparat Penegak
Hukum (Apgakum) untuk ditindaklanjuti sesuai ketentuan perundang-undangan.
HA dan HP yang telah disampaikan diharapkan mempunyai nilai guna bagi
Apgakum untuk memroses TPPU dan pendanaan terorisme. Keberhasilan
Apgakum untuk menindaklanjuti HA dan HP sangat bergantung pada kualitas dari
HA dan HP. Dengan demikian, PPATK selalu berkomitmen dan berupaya untuk
meningkatkan kualitas HA dan HP, melalui antara lain peningkatan kepatuhan
Pihak Pelapor, peningkatan kualitas pelaporan, peningkatan kualitas database
pelaporan, peningkatan kualitas riset TPPU, peningkatan sistem analisis, dan
efektivitas penyampaian, serta pemantauan terhadap HA dan HP yang telah
disampaikan kepada Apgakum.

5
b. Misi Kedua

Meningkatkan Peran dan Dukungan dalam Pencegahan dan Pemberantasan


Tindak Pidana Pencucian Uang, Pendanaan Terorisme, dan Tindak Pidana Lainnya
di Indonesia. Peran pencegahan dan pemberantasan TPPU dan pendanaan terorisme
tidak dapat dilaksanakan sendiri oleh PPATK karena TPPU merupakan kejahatan
luar biasa dan bersifat lintas batas, sehingga diperlukan peran dan dukungan
berbagai pihak yang berasal dari dalam dan luar negeri.
PPATK berkomitmen untuk meningkatkan kualitas kerja sama dengan instansi
dalam negeri maupun luar negeri, sehingga penanganan TPPU dan pendanaan
terorisme dapat dilaksanakan dengan lebih efektif, terarah, terukur dan
berkesinambungan. Peningkatan peran dan dukungan dilaksanakan, antara lain
melalui forum KKN-PP TPPU, MoU dengan instansi dalam negeri maupun
pemerintah/FIU negara lain, perluasan kerja sama dalam pengelolaan data,
pemberian rekomendasi kepada pemerintah, pelaksanaan pendidikan dan pelatihan
kepada instansi terkait, maupun keikutsertaan dalam berbagai forum internasional
terkait Anti Money Laundering (AML).

c. Misi Ketiga
Meningkatkan Efektivitas Manajemen Internal PPATK. Dalam melaksanakan
tugas dan fungsinya, PPATK memerlukan dukungan manajemen internal yang
andal. PPATK akan berupaya untuk meningkatkan kualitas manajemen internal
melalui peningkatan kompetensi dan integritas SDM, reformasi birokrasi,
penyempurnaan organisasi yang menggambarkan proses bisnis PPATK yang jelas
dan terintegrasi, peningkatan akuntabilitas pengelolaan kinerja dan anggaran
PPATK, dan peningkatan peran pengawasan internal. Selain itu, PPATK akan terus
berupaya untuk meningkatkan kualitas sistem teknologi informasi. Peningkatan
kualitas sistem teknologi informasi tersebut bertujuan untuk mendukung sistem
pelaporan, pengelolaan database, system analisis, sistem pertukaran informasi,
keamanan informasi, dan pengembangan sistem teknologi informasi lainnya dalam
mendukung proses bisnis PPATK secara menyeluruh dan terintegrasi.

6
2.1.3 Nilai-Nilai Dasar
1. Integritas
Selalu berpikir, berkata, bersikap, dan bertindak secara baik, benar, dan jujur,
konsisten dengan etika dan nilai-nilai dasar organisasi, memegang teguh
keutuhan prinsip moral, serta menjunjung tinggi kewibawaan organisasi.

2. Tanggung Jawab
Melaksanakan tugas, fungsi, dan wewenang secara baik, amanah, dan akuntabel
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Profesionalisme
Bekerja secara ikhlas, tuntas, dan berkualitas berdasarkan kompetensi terbaik,
dengan memegang komitmen dan etika berorganisasi, berorientasi pada
pencapaian hasil kinerja, sanggup mengembangkan kemampuan dan keahlian
serta melaksanakan kepatuhan demi kepentingan organisasi.

4. Kerahasiaan
Mengutamakan sikap kehati-hatian dan perlindungan terhadap keamanan data
dan informasi, serta menghindari tindakan membocorkan informasi rahasia
untuk memperoleh keuntungan atau demi kepentingan pribadi dan/atau pihak
lain.

5. Kemandirian
Bersikap dan bertindak secara independen dan tidak memihak, menghindari
pengaruh pihak lain, bebas dari benturan kepentingan dalam setiap pengambilan
keputusan dalam pelaksanaan tugas, fungsi, dan wewenang, serta tidak
mencampuri kewenangan pihak lain.

2.1.4 Tujuan Strategis PPATK


1. Meningkatnya efektivitas pencegahan dan pemberantasan Tindak Pidana
Pencucian Uang, pendanaan terorisme, dan tindak pidana lainnya di
Indonesia.

7
2. Terwujudnya tata kelola pemerintahan yang andal dalam mendukung
pelaksanaan tugas, fungsi, dan wewenang PPATK.

2.2.1 Tugas, Fungsi, dan Wewenang PPATK


Berdasarkan Pasal 39 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010, PPATK
mempunyai tugas mencegah dan memberantas Tindak Pidana Pencucian
Uang

Berdasarkan Pasal 40 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010, PPATK


memiliki fungsi sebagai berikut :
a. Pencegahan dan pemberantasan TPPU
b. Pengelolaan data dan informasi yang diperoleh PPATK
c. Pengawasan terhadap kepatuhan pihak pelapor
d. Analisis atau pemeriksaan laporan dan informasi transaksi keuangan
yang berindikasi TPPU dan/atau tindak pidana lain

Untuk memperkuat kewenangan PPATK, pemerintah menerbitkan


Peraturan Presiden Nomor 50 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pelaksanaan
Kewenangan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan.

Kewenangan-kewenangan PPATK dalam melaksanakan fungsinya, sebagai


berikut :
1. Dalam melaksanakan fungsi “Pencegahan dan pemberantasan TPPU”,
PPATK berwenang :
a. Meminta dan mendapatkan data dan informasi dari instansi pemerintah
dan/atau lembaga swasta yang memiliki kewenangan mengelola data
dan informasi, termasuk dari instansi pemerintah dan/atau lembaga
swasta yang menerima laporan dari profesi tertentu;
b. Menetapkan pedoman identifikasi transaksi keuangan mencurigakan;
c. Mengoordinasikan upaya pencegahan dan pemberantasan TPPU dengan
instansi terkait;

8
d. Memberikan rekomendasi kepada pemerintah mengenai upaya
pencegahan dan pemberantasan TPPU;
e. Mewakili Pemerintah Republik Indonesia dalam organisasi dan forum
internasional yang berkaitan dengan pencegahan dan pemberantasan
TPPU;
f. Menyelenggarakan program Pendidikan dan pelatihan anti pencucian
uang; dan
g. Menyelenggarakan sosialisasi pencegahan dan pemberantasan TPPU

2. Dalam melaksanakan fungsi “Pengelolaan data dan informasi yang


diperoleh PPATK”,PPATK berwenang menyelenggarakan sistem informasi
yang meliputi antara lain :
a. Membangun, mengembangkan, dan memelihara sistem aplikasi;
b. Membangun, mengembangkan, dan memelihara infrastruktur jaringan
komputer dan basis data;
c. Mengumpulkan, mengevaluasi data dan informasi yang diterima oleh
PPATK secara manual dan elektronik;
d. Menyimpan, memelihara data dan informasi ke dalam basis data;
e. Menyajikan informasi untuk kebutuhan analisis;
f. Memfasilitasi pertukaran informasi dengan instansi terkait, baik dalam
negeri maupun luar negeri; dan
g. Melakukan sosialisasi penggunaan sistem aplikasi kepada Pihak Pelapor

3. Dalam melaksanakan fungsi “Pengawasan terhadap kepatuhan pihak


pelapor”, PPATK berwenang:
a. Menetapkan ketentuan dan pedoman tat acara pelaporan bagi pihak
pelapor;
b. Menetapkan kategori pengguna jasa yang berpotensi melakukan TPPU;
c. Melakukan audit kepatuhan dan audit khusus
d. Menyampaikan informasi dari hasil audit kepada lembaga yang
berwenang melakukan pengawasan terhadap pihak pelapor;

9
e. Memberikan peringatan kepada pihak pelapor yang melanggar
kewajiban pelaporan;
f. Merekomendasikan kepada lembaga yang berwenang mencabut izin
usaha pihak pelapor; dan
g. Menetapkan ketentuan pelaksanaan Prinsip Mengenali Pengguna Jasa
bagi pihak pelapor yang tidak memiliki Lembaga Pengawas dan
Pengatur.

4. Dalam melaksanakan fungsi “Analisis atau pemeriksaan laporan dan


informasi transaksi keuangan yang berindikasi TPPU dan/atau tindak
pidana lainnya”, PPATK berwenang :
a. Meminta dan menerima laporan dan informasi dari Pihak Pelapor;
b. Meminta informasi kepada instansi atau pihak terkait;
c. Meminta informasi kepada Pihak Pelapor berdasarkan hasil
pengembangan analisis PPATK;
d. Meminta informasi kepada Pihak Pelapor berdasarkan permintaan dari
instansi penegak hukum atau mitra kerja di luar negeri;
e. Meneruskan informasi dan/atau hasil analisis kepada instansi peminta,
baik di dalam maupun luar negeri;
f. Menerima laporan dan/atau informasi masyarakat mengenai adanya
TPPU;
g. Meminta keterangan kepada pihak pelapor dan pihak lain yang terkait
dengan dugaan TPPU;
h. Merekomendasikan kepada instansi penegak hukum mengenai
pentingnya melakukan intersepsi atau penyadapan atas informasi
elektronik dan/atau dokumen elektronik sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
i. Meminta Penyedia Jasa Keuangan (PJK) untuk menghentikan
sementara seluruh atau sebagian transaksi yang diketahui atau dicurigai
merupakan hasil tindak pidana;
j. Meminta informasi perkembangan penyelidikan dan penyidikan yang
dilakukan oleh penyidik tindak pidana asal dan TPPU;

10
k. Mengadakan kegiatan administratif lain dalam lingkup tugas dan
tanggung jawabnya; dan
Meneruskan hasil analisis atau pemeriksaan kepada penyidik

2.2 Deskripsi Pusdiklat APU PPT


Untuk Menghasilkan Sumber Daya Manusia yang berkompeten di
bidang Anti Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme, PPATK membentuk
Pusdiklat APU PPT atau Indonesian Financial Intelligence Institute atau lebih
di kenal dengan nama lain IFII. Melalui pelaksanaan pendidikan dan pelatihan
di bidang APU PPT, serta menjadi Pembina sertifikasi keahlian dan
kompetensi di bidang APU PPT.
Pekerjaan pembangunan Pusdiklat APU PPT / IFII dibangun pada
tahun 2016 yang disimbolkan dengan peletakan batu pertama pada tanggal 4
April 2016 yang berlokasi di Jalan Raya Tapos No. 82 Cimpaeun, Tapos, Kota
Depok Jawa Barat.
Sebagai lembaga yang baru berdiri Pusdiklat APU PPT mempunyai
harapan agar dapat meningkatkan pengetahuan dan kompetensi pemangku
kepentingan dan SDM PPATK melalui pendidikan dan pelatihan di bidang
Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme, dapat
mengembangkan dan meningkatkan kualitas layanan dan pengelolaan diklat
melalui standarisasi lembaga yang berkompeten serta dapat melakukan
pembinaan sertifikasi keahlian dan kompetensi di bidang Anti Pencucian Uang
dan Pencegahan Pendanaan.

2.2.1 Visi Pusdiklat APU PPT


Berdasarkan Peraturan Kepala PPATK nomor 03 tahun 2017
tentang Organisasi dan Tata Kerja Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi
Keuangan, Pusat Pendidikan dan Pelatihan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 90 ayat (1) mempunyai tugas melaksanakan pendidikan dan pelatihan
di bidang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan
pencegahan pendanaan terorisme. Dengan memperhatikan kewenangan
Pusdiklat APU PPT dan untuk mendukung tugas pokok PPATK, maka

11
Pusdiklat APU PPT menetapkan visi pada renstra 2018 – 2019 sebagai
berikut:
“Menjadi Pusat Pendidikan dan Pelatihan Unggulan di bidang Anti
Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme”

2.2.2 Misi Pusdiklat APU PPT


Untuk mendukung pencapaian visi Pusdiklat APU PPT, dirumuskan
upaya-upaya yang akan dilaksanakan melalui Misi Pusdiklat APU PPT tahun
2018 – 2019, sebagai berikut:
a. Meningkatkan kapabilitas SDM PPATK dan pemangku kepentingan
dibidang APU PPT
b. Penguatan manajemen internal Pusdiklat APU PPT.

2.2.3 Tugas dan Fungsi Organisasi Pusdiklat APU PPT


Berdasarkan Pasal 91 dan 92, Peraturan Kepala PPATK nomor 03
tahun 2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pusat Pelaporan dan Analisis
Transaksi Keuangan, Pusdiklat APU PPT mempunyai tugas melaksanakan
pendidikan dan pelatihan di bidang pencegahan dan pemberantasan tindak
pidana pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme.
Dalam melaksanakan tugas tersebut, Pusdiklat APU PPT menyelenggarakan
fungsi:
1. Penyiapan penyusunan dan pengembangan program pendidikan dan
pelatihan/kurikulum, modul, metode pembelajaran, materi serta jadwal
pendidikan dan pelatihan;
2. Penyiapan pelaksanaan bimbingan dan pengembangan kompetensi
tenaga pengajar;
3. Penyiapan monitoring, evaluasi dan penyusunan laporan kinerja
pelaksanaan kegiatan pendidikan dan pelatihan;
4. Penyiapan pelaksanaan evaluasi dan pemantauan pendidikan dan
pelatihan;
5. Penyiapan penelaahan dan penilaian hasil pendidikan dan pelatihan;

12
6. Penyiapan pengkajian dan penyusunan laporan kinerja pelaksanaan
pendidikan dan pelatihan;
7. Penyiapan koordinasi pemenuhan tenaga pengajar non widyaiswara dan
widyaiswara di Pusat;
8. Penyiapan pengembangan tenaga pengajar non widyaiswara dan
widyaiswara di bidang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana
pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme;
9. Penyiapan pengembangan ahli di bidang tindak pidana pencucian uang
dan tindak pidana pendanaan terorisme;
10. Penyiapan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan teknis dan fungsional
baik di tingkat nasional maupun internasional;
11. Penyiapan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan prajabatan dan
struktural;
12. Penyiapan koordinasi kerja sama dengan pihak ketiga di bidang
pendidikan dan pelatihan serta pemantauan hasil kerja sama pendidikan
dan pelatihan;
13. Pelaksanaan pengelolaan kerumahtanggaan Pusat termasuk
ketatausahaan, kearsipan, layanan pengadaan barang jasa pemerintah;
14. Pelaksanaan layanan kepegawaian Pusat;
15. Pelaksanaan pengelolaan keuangan Pusat;
16. Pelaksanaan pengelolaan perpustakaan Pusat;
17. Pelaksanaan pengelolaan proses bisnis Pusat; dan Pelaksanaan
Administrasi Pusat.

2.2.4 Struktur Organisasi Pusdiklat APU PPT


Pada Pasal 93 Peraturan Kepala PPATK nomor 03 tahun 2017 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan,
Pusat Pendidikan dan Pelatihan APU PPT sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 90 ayat (1) terdiri atas:
a. Bidang Program dan Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan;
b. Bidang Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan; dan
c. Bagian Umum;

13
Struktur organisasi Pusdiklat APU PPT dapat dilihat pada Gambar 1 :

Gambar 1. Struktur Organisasi Pusdiklat APU PPT

Adapun Tugas Bagian Umum disebutkan pada Pasal 96 PERKA PPATK No.
03 Tahun 2017 yaitu menyiapkan pelaksanaan pengelolaan kerumahtanggaan
Pusat termasuk ketatausahaan, kearsipan, layanan pengadaan barang dan jasa,
pelaksanaan layanan kepegawaian Pusat, pelaksanaan pengelolaan keuangan
Pusat, pelaksanaan pengelolaan perpustakaan, dan pelaksanaan pengelolaan
proses bisnis Pusat.

Pada Pasal 97 PERKA PPATK No. 03 Tahun 2017 Bagian Umum


mempunyai fungsi:
a. Pelaksanaan urusan ketatausahaan;
b. Pengelolaan kearsipan;
c. Pelaksanaan pengelolaan perpustakaan;
d. Pelaksanaan perlengkapan;
e. Pelaksanaan layanan pengadaan barang/jasa pemerintah;
f. Pelaksanaan layanan kerumahtanggaan termasuk keamanan, keprotokolan
dan pemeliharaan;
g. Pelaksanaan administrasi Pembuatan Komitmen;
h. Pengelolaan Barang Milik Negara pada Pusat;
i. Pelaksanaan penyusunan rencana kerja dan penganggaran;

14
j. Pengelolaan layanan kepegawaian;
k. Pelaksanaan urusan perbendaharaan;
l. Pelaksanaan urusan keuangan termasuk pengelolaan gaji dan tunjangan;
m.Penyusunan perumusan kebijakan di bidang kerumahtanggaan,
kepegawaian, dan keuangan; dan
n. Penyusunan proses bisnis Pusat

Dalam melaksanakan fungsi dan tugas kearsipan, bagian umum membawahi


jabatan fungsional Arsiparis. Menurut Peraturan Kepala ANRI No. 4 Tahun
2017 tentang Pelaksanaan Tugas Jabatan Fungsional Arsiparis, Arsiparis PNS
adalah seseorang PNS yang memiliki kompetensi di bidang kearsipan yang
diperoleh melalui pendidikan formal dan/atau pendidikan dan pelatihan
kearsipan serta mempunyai fungsi, tugas, dan tanggung jawab melaksanakan
kegiatan kearsipan yang diangkat oleh pejabat yang berwenang di lingkungan
lembaga negara, pemerintahan daerah, pemerintahan desa dan satuan
organisasi perguruan tinggi negeri.

Adapun tugas pokok Arsiparis menurut Peraturan Kepala ANRI No. 4 Tahun
2017, adalah :
a. pengelolaan arsip dinamis;
b. pengelolaan arsip statis;
c. pembinaan kearsipan; dan
d. pengolahan dan penyajian arsip menjadi informasi.

2.3 Nilai-Nilai Dasar Profesi ASN


2.3.1 Akuntabilitas
Akuntabilitas merujuk kewajiban setiap individu, kelompok, atau institusi
pemerintah untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanahnya. Amanah
ASN yaitu menjamin terwujudnya nilai-nilai publik seperti :
a. Mampu mengambil pilihan yang tepat dan benar ketika terjadi konflik
kepentingan, antara kepentingan publik dengan kepentingan sektor,
kelompok, dan pribadi.

15
b. Memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menghindari dan mencegah
keterlibatan PNS dalam politik praktis.
c. Memperlakukan warga negara secara sama dan adil dalam penyelenggaraan
pemerintahan dan pelayanan publik.
d. Menunjukan sikap dan perilaku yang konsisten dan dapat diandalkan
sebagai penyelenggara pemerintahan.
Aspek-aspek dalam akuntabilitas adalah sebagai berikut :
a. Akuntabilitas adalah sebuah hubungan
b. Akuntabilitas berorientasi pada hasil
c. Akuntabilitas membutuhkan adanya laporan
d. Akuntabilitas memerlukan konsekuensi
e. Akuntabilitas memperbaiki kinerja
Menurut Bovens (2007), akuntabilitas memiliki tiga fungsi utama, yaitu :
a. Untuk menyediakan kontrol demokratis (peran demokrasi); dengan
membangun suatu sistem yang melibatkan stakeholders dan users yang
lebih luas (termasuk masyarakat, pihak swasta, legislatif, yudikatif dan di
lingkungan pemerintah itu sendiri baik di tingkat kementrian, lembaga
maupun daerah)
b. Untuk mencegah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan (peran
konstitusional)
c. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas (peran belajar).
Akuntabilitas dapat diciptakan dari lingkungan yang memiliki aspek-aspek
integritas, kejujuran, kejelasan target, netralitas, tanggung jawab, keadilan,
transparan dan akses informasi, konsistensi, dan partisipasif.

2.3.2 Nasionalisme
Nasionalisme di Indonesia dimaknai dengan nasionalisme yang menolak
segala bentuk diskriminasi, kedholiman, penjajahan, penindasan, ketidakadilan,
serta pengingkaran atas nilai-nilai ketuhanan sebagaimana yang terkandung dalam
Pancasila.
Pancasila memiliki fungsi dan kedudukan, yakni sebagai berikut :
a. Jati diri bangsa

16
Pancasila menjadi ciri khas bangsa Indonesia yang tidak ditentukan di negara
lain. Pancasila merupakan prinsip dasar yang tumbuh dan berkembang dalam
masyarakat Indonesia dan terlihat dalam perilaku bangsa Indonesia (living
reality)
b. Dasar negara
Pancasila merupakan dasar nilai serta norma-norma untuk mengatur
pemerintahan
c. Ideologi bangsa dan negara Indonesia
Pancasila menjadi pijakan bagi pemikiran-pemikiran baru tentang berbangsa
dan bernegara.
Lima indikator dari nilai-nilai dasar nasionalisme dari Pancasila yang harus
diperhatikan, yakni :
a. Sila pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa
Ketuhanan YME menjadikan Indonesia bukan sebagai negara sekuler yang
membatasi agama dalam ruang privat. Pancasila justru mendorong nilai-nilai
ketuhanan mendasari kehidupan masyarakat dan berpolitik. Nilai-nilai
ketuhanan yang dikehendaki Pancasila adalah nilai-nilai ketuhanan yang positif,
yang digali dari nilai-nilai keagamaan yang terbuka (insklusi), membebaskan
dan menjunjung tinggi keadilan dan persaudaraan.
b. Sila kedua : Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
Sila kedua memiliki konsekuensi ke dalam dan keluar. Ke dalam, menjadi
pedoman negara untuk memuliakan nilai-nilai kemanusiaan dan hak dasar/asasi
manusia, dengan menjalankan fungsi “melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, dan
mencerdaskan kehidupan bangsa”, makna ke luar dari sila kedua adalah sebagai
pedoman politik luar negeri bebas aktif dalam rangka “ikut serta melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan abadi dan keadilan sosial”.
c. Sila ketiga : Persatuan Indonesia
Semangat kebangsaan adalah mengakui dalam keragaman dan terbagi dalam
golongan-golongan. Keberadaan bangsa Indonesia terjadi karena memiliki satu
nyawa, satu akal yang tumbuh dalam jiwa rakyat sebenarnya yang menjalani satu

17
riwayat yang membangkitkan persatuan karakter dan kehendak untuk hidup
bersama dalam satu wilayah geopolitik.
d. Sila keempat : Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam
Permusyawaratan Perwakilan
Demokrasi permusyawaratan memiliki dua fungsi. Fungsi pertama, badan
permusyawaratan dapat menjadi ajang memperjuangkan aspirasi beragam
golongan yang ada di masyarakat. Fungsi kedua, semangat permusyawaratan
bisa menguatkan negara persatuan, bukan negara untuk satu golongan atau
perorangan. Permusyawaratan dengan landasan kekeluargaan dan hikmat
kebijakan diharapkan dapat mencapai kesepakatan yang membawa kebaikan
bagi semua pihak.
e. Sila kelima : Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Merupakan dasar tujuan, tercapainya masyarakat Indonesia yang adil dan
makmur secara lahiriah dan batiniah.

2.3.3 Etika Publik


Etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari Yunani Ethos yang berarti
norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah, dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku
manusia yang baik. Etika publik adalah refleksi tentang standar atau norma yang
menentukan baik/buruk, benar/salah perilaku, tindakan dan keputusan untuk
mengarahkan kebijakan publik dalam rangka menjalankan tanggung jawab
pelayanan publik.
Konsep etika sering disamakan dengan moral. Padahal, keduanya berbeda.
Etika dipahami sebagai nilai yang baik dan benar. Moral mengarahkan manusia
tentang cara bertingkah laku, mengikat, dan harus dilakukan agar dapat diterima.
Contoh menggunakan baju piyama saat kondangan, secara moral benar karena
memakai baju, tetapi secara etika hal tersebut salah.
Kode etik adalah aturan-aturan yang mengatur tingkah laku dalam suatu
kelompok khusus, sudut pandangnya hanya ditujukan pada hal-hal prinsip dalam
bentuk ketentuan-ketentuan tertulis yang diharapkan dapat dipegang teguh oleh
sekelompok profesional tertentu.

18
Kode etik ASN termaktub dalam UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur
Sipil Negara (ASN), yakni :
1. Melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab, dan berintegrasi
tinggi.
2. Melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin
3. Melayani dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan
4. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku
5. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau pejabat yang
berwenang sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan dan etika pemerintahan
6. Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara.
7. Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung jawab,
efektif, dan efisien.
8. Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam melaksanakan tugasnya.
9. Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada pihak lain
yang memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan.
10. Tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status, kekuasaan, dan
jabatannya untuk mendapat atau mencari keuntungan atau manfaat bagi diri
sendiri atau untuk orang lain.
11. Memegang teguh nilai dasar dan reputasi dan integritas ASN
12. Melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai disiplin
pegawai ASN.
Selain itu, ASN juga memiliki nilai dasar etik publik yang dapat
disimpulkan ke dalam sembilan nilai utama yaitu tanggung jawab, tidak
diskriminatif (netralitas), professional, jujur, cepat, akurat, santun, tanggap, dan
transparan.
Etika publik memiliki tiga dimensi seperti :
1. Dimensi kualitas pelayanan publik
a. Tersedianya pelayanan publik yang berkualitas dan relevan
b. Kebijakan umum dirumuskan dengan jelas, transparan, dan harus dapat
dipertanggungjawabkan
2. Dimensi modalitas

19
a. Akuntabilitas sebagai sarana untuk mencapai layanan publik
b. Keadilan, netralitas, atau tidak memihak
c. Transparansi
3. Dimensi tindakan integritas publik
a. Tidak melakukan korupsi/kecurangan
b. Tindakan sesuai dengan nilai, tujuan, kewajiban
c. Rasionalitas tindakan
d. Kompetensi teknis

2.3.4 Komitmen Mutu


Komitmen mutu adalah pelaksanaan pelayanan publik dengan
berorientasi pada kualitas hasil, dipersepsikan oleh individu terhadap
produk/jasa berupa ukuran baik atau buruk. Berikut adalah nilai-nilai dasar
berorientasi mutu, antara lain :
a. Mengedepankan komitmen terhadap kepuasan customers/clients
b. Memberikan layanan yang menyentuh hati, untuk menjaga dan
memelihara agar customers/clients tetap setia
c. Memberikan layanan yang memberikan perlindungan
d. Menghasilkan produk/jasa yang berkualitas tinggi, tanpa cacat, tanpa
kesalahan, dan tidak ada pemborosan
e. Beradaptasi dengan perubahan yang terjadi, baik berkaitan dengan
pergeseran tuntutan kebutuhan customers/clients maupun perkembangan
teknologi
f. Menggunakan pendekatan ilmiah dan inovatif dalam pemecahan masalah
dan pengambilan keputusan
g. Melakukan upaya perbaikan secara berkelanjutan melalui berbagai cara,
antara lain : pendidikan,pelatihan, pengembangan ide kreatif, kolaborasi,
dan benchmark
h. Cepat, tepat, dan dengan senyuman ramah

2.3.5 Anti Korupsi


a. Definisi Korupsi

20
Korupsi berasal dari bahasa latin coruptio dan corruptus yang berarti
kerusakan atau kebobrokan. Dalam bahasa Yunani Corruptio perbuatan yang
tidak baik, buruk, curang, dapat disuap, tidak bermoral, menyimpang dari
kesucian, melanggar norma-norma agama, material, mental dan umum.
Sedangkan tindak pidana adalah suatu perbuatan yang diancam dengan
pidana oleh undang-undang, bertentangan dengan hukum, dilakukan dengan
kesalahan oleh seseorang yang mampu bertanggungjawab.

b. Identifikasi Nilai Dasar Anti Korupsi


KPK bersama dengan para pakar telah melakukan identifikasi nilai-nilai dasar
anti korupsi, dan dihasilkan 9 nilai anti korupsi sebagai berikut: 1) jujur, 2)
peduli, 3) mandiri, 4) disiplin, 5) tanggung jawab, 6) kerja keras, 7)
sederhana, 8) berani, 9) adil.

c. Tindak Pidana Korupsi


Menurut UU No. 31/1999 jo No. UU 20/2001, terdapat 7 kelompok tindak
pidana korupsi yang terdiri dari: 1) kerugian keuangan Negara, 2) suap
menyuap, 3) pemerasan, 4) perbuatan curang, 5) penggelapan dalam jabatan,
6) benturan kepentingan dalam pengadaan, 7) gratifikasi.

2.4 Peran dan Kedudukan ASN


2.4.1 Whole of Government (WoG)
Whole of Government (WoG) adalah sebuah pendekatan
penyelenggaraan pemerintah yang menyatukan upaya-upaya kolaboratif
pemerintah dari keseluruhan sektor dalam ruang lingkup koordinasi yang
lebih luas guna mencapai tujuan pembangunan kebijakan, manajemen
program, dan pelayanan publik. Oleh karenanya WoG juga dikenal sebagai
pendekatan interagency, yaitu pendekatan yang melibatkan sejumlah
kelembagaan yang terkait dengan urusan-urusan yang relevan.
WoG dinilai penting, karena diperlukan sebuah upaya untuk
memahami pentingnya kebersamaan dari seluruh sektor guna mencapai
tujuan Bersama. Sikap, perilaku, dan nilai yang berorientasi sektor harus

21
dicairkan dan dibangun dalam fondasi kebangsaan yang lebih mendasar, yang
mendorong adanya semangat persatuan dan kesatuan.

2.4.2 Manajemen ASN


Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN / PNS untuk menghasilkan
Pegawai ASN yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari
intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Visi
Undang-Undang ASN adalah mewujudkan ASN yang memiliki integritas
professional, melayani, dan sejahtera. Adapun misi Undang-Undang ASN
adalah memindahkan ASN dari comfort zone ke competitive zone.
Tujuan utama Undang-Undang ASN antara lain :
a. Independensi dan netralitas
b. Kompetensi
c. Kinerja atau produktivitas kerja
d. Integritas
e. Kesejahteraan
f. Kualitas pelayanan publik
g. Pengawasan

2.4.3 Pelayanan Publik


Pelayanan publik adalah pemberian pelayanan prima kepada
masyarakat yang merupakan kewajiban ASN sebagai abdi masyarakat.
Terdapat tujuh sikap pelayanan prima, yakni :
a. Passionate (bersemangat)
b. Progressive (memakai cara terbaik)
c. Proactive (antisipatif, tidak menunggu)
d. Prompt (positif, tanpa curiga)
e. Patience (sabar)
f. Proportional (tidak mengada-ada)
g. Functional (tepat waktu)
Selain itu terdapat prinsip-prinsip pelayan publik yang baik untuk
mewujudkan pelayanan prima, diantaranya adalah :

22
a. Partisipatif
Dalam penyelenggaraan pelayanan publik dibutuhkan masyarakat,
pemerintah perlu melibatkan masyarakat dalam merencanakan,
melaksanakan, dan mengevaluasi hasilnya.
b. Transparan
Dalam penyelenggaraan pelayanan publik, pemerintah sebagai
penyelenggara pelayanan publik harus menyediakan akses bagi warga
negara untuk mengetahui segala hal yang terkait dengan pelayanan publik
yang diselenggarakan tersebut seperti : persyaratan, prosedur, biaya, dan
sejenisnya. Masyarakat juga harus diberi akses yang sebesar-besarnya
untuk mempertanyakan dan menyampaikan pengaduan apabila mereka
merasa tidak puas dengan pelayanan publik yang diselenggarakan oleh
pemerintah.
c. Responsif
Dalam penyelenggaraan pelayanan publik pemerintah wajib mendengar
dan memenuhi tuntutan kebutuhan warga negaranya.
d. Tidak diskriminatif
Pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah tidak boleh
dibedakan antara satu warga negara dengan warga negara lain atas dasar
perbedaan identitas warga negara, seperti : status sosial, pandangan
politik, etnisitas, agama, profesi, jenis kelamin atau orientasi seksual,
difabel, dan sejenisnya.
e. Mudah dan murah
Penyelenggaraan pelayanan publik dimana masyarakat harus memenuhi
berbagai persyaratan dan membayar fee untuk memperoleh layanan yang
mereka butuhkan harus diterapkan prinsip mudah, artinya berbagai
persyaratan yang dibutuhkan tersebut masuk akal dan mudah untuk
dipenuhi. Murah dalam arti biaya yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk
mendapatkan layanan tersebut terjangkau oleh seluruh warga negara. Hal
ini perlu ditekankan karena pelayanan publik yang diselenggarakan oleh
pemerintah tidak dimaksudkan untuk mencari keuntungan melainkan
untuk memenuhi mandate konstitusi.

23
f. Efektif dan efisien
Penyelenggaraan pelayanan publik harus mampu mewujudkan tujuan-
tujuan yang hendak dicapainya (untuk melaksanakan mandat konstitusi
dan mencapai tujuan-tujuan strategis negara dalam jangka panjang) dan
cara mewujudkan tujuan tersebut dilakukan dengan prosedur yang
sederhana, tenaga kerja yang sedikit, dan biaya yang murah.
g. Aksesibel
Pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah harus dapat
dijangkau oleh warga negara yang membutuhkan dalam arti fisik (dekat,
terjangkau dengan kendaraan publik, mudah dilihat, gampang ditemukan,
dan lain-lain) dan dapat dijangkau dalam arti non-fisik yang terkait
dengan biaya dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh masyarakat untuk
mendapatkan layanan tersebut.
h. Akuntabel
Penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan dengan menggunakan
fasilitas dan sumber daya manusia yang dibiayai oleh warga negara
melalui pajak yang mereka bayar. Oleh karena itu semua bentuk
penyelenggaraan pelayanan publik harus dapat dipertanggungjawabkan
secara terbuka kepada masyarakat. Pertanggungjawaban di sini tidak
hanya secara formal kepada atasan (pejabat atau unit organisasi yang lebih
tinggi secara vertikal) akan tetapi yang lebih penting harus
dipertanggungjawabkan secara terbuka kepada masyarakat luas melalui
media publik baik cetak maupun elektronik. Mekanisme
pertanggungjawaban yang demikian sering disebut sebagai social
accountability.
i. Berkeadilan
Penyelenggaraan pelayanan publik yang dilakukan oleh pemerintah
memiliki berbagai tujuan. Salah satu tujuan yang penting adalah
melindungi warga negara dari praktik buruk yang dilakukan oleh warga
negara yang lain. Oleh karena itu penyelenggaraan pelayanan publik
harus dapat dijadikan sebagai alat melindungi kelompok rentan dan

24
mampu menghadirkan rasa keadilan bagi kelompok lemah ketika
berhadapan dengan kelompok yang kuat.

Kegiatan aktualisasi dari isu implementasi sistem elektronik kearsipan


dengan SIARSIP apabila dikaitkan dengan materi kedudukan dan peran ASN
dalam NKRI, berkesesuaian dengan tujuan manajemen ASN, yaitu untuk
meningkatkan kompetensi dan kinerja atau produktivitas kerja.

2.5 Rancangan Aktualisasi


2.5.1 Identifikasi Isu
Hasil pengamatan selama orientasi di Bagian Umum khususnya terkait
kearsipan Pusdiklat APU PPT, ditemukan beberapa permasalahan yang dapat
diangkat menjadi isu, yaitu :
a. Sarana dan prasarana kearsipan yang belum optimal
b. Implementasi sistem manual ke sistem SIARSIP dalam tata kelola arsip
belum optimal
c. Penggunaan central file yang belum optimal
d. Layanan peminjaman arsip yang belum baik
Dari beberapa isu diatas dapat dianalisa menggunakan alat penetapan
isu berdasarkan kriteria Aktual, Problematik, Kekhalayakan, Kelayakan
(APKL). Aktual artinya isu tersebut sedang terjadi saat ini dan menjadi isu yang
paling banyak dibicarakan. Problematik artinya isu tersebut cukup serius
sehingga perlu segera dicarikan solusinya. Kekhalayakan artinya isu tersebut
hajat hidup orang banyak atau berdampak besar. Kelayakan artinya isu tersebut
layak untuk diangkat dan penyelesaiannya masuk akal. Penilaian yang
digunakan pada kriteria APKL adalah dengan menentang kriteria yang terdapat
dalam isu yang diidentifikasi.
Berdasarkan permasalahan diatas, dilakukan Analisa isu menggunakan
metode APKL (Tabel 1).

25
Tabel 1. Identifikasi Isu Menggunakan Metode APKL
No ISU A P K L Ket
1 Sarana dan prasarana kearsipan belum √ √ - √ Ditolak
optimal
2 Implementasi sistem kearsipan elektronik √ √ √ √ Diterima
dalam tata kelola arsip belum optimal
3 Penggunaan central file belum optimal √ - - - Ditolak
4 Layanan peminjaman arsip yang belum baik √ √ √ √ Diterima
Isu nomor 1 adalah “Sarana dan prasarana kearsipan yang belum
optimal”. Isu ini aktual karena sarana kearsipan adalah hal yang mendasar
untuk terselenggaranya kegiatan kearsipan yang tertib. Isu ini dianggap
problematik karena harus segera dipenuhi untuk menyimpan dan menata
arsip dengan baik. Isu ini belum mengandung masalah kekhalayakan
karena sarana dan prasarana kearsipan digunakan oleh unit pengolah bukan
khalayak ramai. Isu ini memenuhi kriteria layak karena isu ini penting
untuk direalisasikan.
Isu nomor 2 adalah “Implementasi sistem kearsipan elektronik
dalam tata kelola arsip belum optimal”. Isu ini aktual karena dengan sistem
kearsipan elektronik akan sangat membantu pengelolaan arsip aktif dan
inaktif secara efektif dan efisien di Pusdiklat. Isu ini dianggap problematik
karena saat ini pengelolaan arsip di Pusdiklat masih dijalankan secara
manual, sehingga pemberkasan, penataan, dan penyimpanan arsip dan
belum sesuai kaidah kearsipan. Isu ini mengandung unsur kekhalayakan
karena implementasi sistem kearsipan secara elektronik dapat dilakukan
oleh seluruh unit pengolah dan unit kearsipan. Isu ini memenuhi kriteria
layak karena akan sangat bermanfaat untuk kegiatan kearsipan di Pusdiklat
APU PPT.
Isu nomor 3 adalah “Penggunaan ruang kearsipan yang belum
optimal”. Isu ini aktual karena ruang kearsipan sudah tersedia namun belum
digunakan secara optimal. Isu ini belum problematik karena volume arsip
di Pusdiklat masih sedikit. Isu ini belum memenuhi unsur kekhalayakan

26
karena tidak menyangkut hajat hidup orang banyak. Isu ini belum
memenuhi kriteria layak karena bukan isu yang harus segera diselesaikan.
Isu nomor 4 adalah “Layanan peminjaman arsip yang belum baik”.
Isu ini aktual karena peminjaman arsip saat ini tidak tercatat dengan baik.
Isu ini problematik karena peminjaman arsip yang tidak tertib akan
meningkatkan resiko arsip hilang dan harus segera diselesaikan. Isu ini juga
memenuhi unsur kekhalayakan karena menyangkut kepentingan banyak
pihak yang membutuhkan arsip. Selain itu isu ini mengandung kriteria layak
karena harus segera diselesaikan dan realistis untuk direalisasikan.
Isu pada nomor 1 dan 3 ditolak karena mendapat nilai tidak lebih
besar dari isu nomor 2 dan 4. Isu nomor 1 dan 3 dianggap belum dianggap
memenuhi kekhalayakan karena isu tersebut tidak menyangkut hajat hidup
orang banyak. Isu nomor 3 juga belum memenuhi unsur problematik dan
kelayakan karena tidak terlalu urgent untuk diselesaikan.
Isu nomor 2 dan 4 menjadi isu yang paling tinggi nilainya. Isu ini
dianggap aktual karena menjadi isu yang banyak dibicarakan. Isu ini
dianggap problematik karena isu tersebut harus segera diselesaikan dan
dicarikan solusi. Kekhalayakan artinya isu tersebut menyangkut
kepentingan orang banyak dan berdampak besar. Kelayakan artinya isu
tersebut layak untuk diangkat dan penyelesaiannya masuk akal.

2.5.2 Prioritas Isu


Metode USG digunakan untuk menentukan isu yang akan dicari
pemecahan masalahnya dari beberapa isu yang memenuhi kriteria APKL
yang sudah dijabarkan pada Tabel 1. Urgency adalah seberapa mendesak
suatu isu harus dibahas, dianalisis, dan ditindaklanjuti. Seriousness adalah
seberapa serius suatu isu harus dibahas dikaitkan dengan akibat yang
ditimbulkan. Growth adalah seberapa besar kemungkinan memburuknya isu
tersebut jika tidak segera ditangani.
Berdasarkan hal tersebut diatas, dilakukan Analisa prioritas isu
menggunakan kriteria USG (Tabel 2).

27
Tabel 2 Penilaian Prioritas Isu Menggunakan Metode USG
NO ISU U S G TTL PRIORITAS
1 Implementasi sistem kearsipan 5 5 3 13 I
elektronik dalam tata kelola
arsip belum optimal
2 Layanan peminjaman arsip 3 4 4 11 II
yang belum baik
Keterangan :
U : Urgency 1 Sangat Kecil
2 Kecil
S : Seriousness 3 Sedang
4 Besar
G : Growth
5 Sangat Besar

Menurut Analisa menggunakan metode USG pada Tabel 2, dapat


dilihat bahwa isu nomor 1 adalah isu prioritas dengan total nilai 13. Tingkat
mendesak (urgency) pada isu nomor 1 besar karena dengan sistem kearsipan
elektronik pengelolaan arsip dinamis menjadi lebih mudah dimonitoring. Isu
ini akan berdampak serius (seriousness) jika tidak ditangani karena dapat
menimbulkan masalah lain seperti sulitnya memonitoring arsip yang telah
inaktif atau pun temu arsip kembali. Tingkat pertumbuhan (growth) dari isu
ini adalah arsip inaktif menjadi menumpuk dan tidak terkelola dengan baik
sehingga arsip akan mudah mengalami kerusakan fisik. Dampak yang paling
parah adalah penyusutan arsip yang tidak sesuai dengan prosedur.

2.5.3 Pemecahan Isu


Prioritas isu sudah ditentukan melalui metode USG dengan hasil isu
“Implementasi sistem kearsipan elektronik dalam tata kelola arsip di
Pusdiklat” yang memperoleh total nilai tertinggi dan akan dicari pemecahan
masalah isunya. Analisa gagasan pemecahan isu dapat dilakukan dengan
metode tapisan Mc Namara. Kriteria yang dilihat adalah kontribusi, biaya,
dan kelayakan dengan rentang nilai 1-5. Gagasan pemecahan isu disajikan
pada Tabel 3.

28
Tabel 3 Gagasan pemecahan isu metode tapisan Mc Namara
No Alternatif Gagasan Kriteria Total Prioritas
Kontribusi Biaya Layak Nilai
1 Implementasi sistem 5 5 4 14 I
SIARSIP pada tata
kelola arsip di
Pusdiklat
2 Membuat daftar arsip 4 4 3 11 II
aktif dan inaktif
menggunakan excel
Keterangan :
1 : Sangat tidak berkontribusi, biaya sangat mahal, sangat tidak layak
2 : Tidak berkontribusi, biaya mahal, tidak layak
3 : Cukup tidak berkontribusi, biaya cukup mahal, cukup tidak layak
4 : Berkontribusi, biaya murah, layak
5 : Sangat berkontribusi, biaya paling murah, sangat layak

Hasil analisa pemecahan isu menggunakan metode Mc Namara


diperoleh dari sebuah gagasan pemecahan isu yang memiliki nilai total
tertinggi, gagasan pemecahan isu yang memiliki nilai total tertinggi yaitu
gagasan pemecahan masalah isu nomer 1 dengan total nilai 14. Gagasan
yang terpilih yaitu “Implementasi sistem SIARSIP pada taat kelola arsip di
Pusdiklat” karena memberikan kontribusi yang besar, biaya paling murah,
layak dikerjakan serta efektif dan efisien. Adapun aplikasi SIARSIP ini
adalah sebuah aplikasi yang didesain untuk menangani pengelolaan arsip
dinamis pada unit kerja maupun unit kearsipan. SIARSIP telah digunakan
secara internal di kantor pusat PPATK, namun belum digunakan di
Pusdiklat.
Berdasarkan gagasan pemecahan isu diatas, diperoleh beberapa
kegiatan untuk menyelesaikan masalah isu tersebut. Kegiatan yang
dilakukan antara lain :

29
a. Melakukan konsultasi dengan atasan untuk menerapkan sistem
kearsipan elektronik SIARSIP
b. Mendaftarkan komputer setiap pegawai Tata Usaha di masing-masing
unit kerja
c. Membuatkan user untuk mengakses aplikasi SIARSIP pada tiap-tiap
pegawai TU di seluruh unit kerja
d. Sosialisasi penggunaan SIARSIP kepada seluruh TU
e. Pemantauan penggunaan aplikasi SIARSIP

2.6 Tahapan Kegiatan


a. Melakukan konsultasi dengan atasan untuk menerapkan sistem
kearsipan elektronik SIARSIP di PUSDIKLAT APU PPT
1) Tahapan Kegiatan
a) Menghubungi/menghadap pimpinan unit kerja untuk penjadwalan
konsultasi
b) Membahas tata kelola kearsipan yang masih dilakukan secara
manual
c) Menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk
penggunaan aplikasi SIARSIP
d) Mencatat masukan dan saran dari pimpinan
2) Output/Hasil
Notulen yang berisi masukan dan saran dari pimpinan unit kerja
mengenai implementasi sistem kearsipan elektronik.
3) Keterkaitan Substansi Mata Pelatihan
Nilai-nilai ASN yang akan saya terapkan pada kegiatan tersebut antara
lain sebagai berikut :
a) Akuntabilitas (Kepercayaan) : Dalam melakukan konsultasi
dengan atasan, saya akan melaksanakannya dengan baik dan benar
sehingga pimpinan percaya terhadap saya.
b) Nasionalisme (Musyawarah) : Dalam melakukan diskusi dan
konsultasi saya akan senantiasa menerima saran dan masukan untuk
menghasilkan keputusan bersama.

30
c) Etika Publik (Profesional) : Ketika melakukan konsultasi dengan
atasan saya akan senantiasa mengedepankan alasan-alasan yang
sesuai dengan tujuan konsultasi dan meyakinkan alasan tersebut
sehingga menunjukkan keprofesionalan saya.
d) Komitmen Mutu (Komunikasi) : Saya akan senantiasa
mendengarkan dengan baik arahan dan masukan dari atasan dan
menggunakan bahasa yang baik dalam menyampaikan pendapat. .
e) Anti Korupsi (Disiplin) : Pada saat konsultasi dengan pimpinan
saya akan senantiasa tepat waktu sehingga rapat/diskusi dapat
dilaksanakan dengan tepat.
4) Kontribusi Terhadap Visi dan Misi Organisasi
Melakukan konsultasi dengan atasan untuk menerapkan sistem
kearsipan elektronik merupakan wujud berkontribusi terhadap misi
PPATK yaitu meningkatkan efektivitas manajemen internal PPATK.
5) Penguatan Nilai Organisasi
Kegiatan ini memberikan penguatan pada nilai organisasi, yaitu
tanggung jawab ketika melaksanakan tugas, fungsi, dan wewenang
secara baik, amanah, dan akuntabel sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

b. Mendaftarkan komputer setiap pegawai Tata Usaha di masing-masing


unit kerja
1) Tahapan Kegiatan
a) Membuat daftar nama masing-masing TU di tiap unit kerja dan
nomor komputer yang mereka gunakan.
b) Mengajukan permohonan dengan mengirimkan surat kepada
Direktorat PTI untuk membuka akses SIARSIP pada komputer staf
TU yang didaftarkan.
c) Menunggu pengerjaan dari PTI dan konfirmasi bahwa akses
SIARSIP sudah bisa digunakan
2) Output/Hasil

31
Output kegiatan ini adalah staf Tata Usaha dapat mengakses aplikasi
SIARSIP pada komputer mereka.
3) Keterkaitan Substansi Mata Pelatihan
Nilai-nilai dasar ASN yang akan saya terapkan antara lain :
a) Akuntabilitas (Bertanggung Jawab) : saya akan mendata dengan
benar dan memastikan bahwa sistem SIARSIP digunakan oleh
pengguna yang tepat.
b) Nasionalisme (Bekerja sama) : saya akan melakukan kordinasi
dengan direktorat PTI untuk membuka akses komputer staf TU agar
bisa mengakses sistem SIARSIP.
c) Etika Publik (Profesional) : saya akan mendaftarkan komputer para
staf TU untuk mengakses SIARSIP sesuai dengan prosedur yang
berlaku.
d) Komitmen Mutu (Membangun komitmen pegawai untuk
jangka panjang) : Saya akan berusaha agar sistem SIARSIP ini
dapat digunakan secara berkelanjutan oleh staff terkait, sehingga
dapat membantu terselenggaranya kegiatan kearsipan.
e) Anti Korupsi (Peduli) : Di dalam usaha untuk menjalankan
kearsipan secara elektronik, saya akan berusaha memberi perhatian
khusus dan langkah-langkah nyata agar sistem kearsipan elektronik
dapat dilaksanakan, misalnya mendaftarkan komputer staff TU.
4) Kontribusi Terhadap Visi dan Misi Organisasi
Dengan melakukan kegiatan tersebut dapat menunjang misi dari
organisasi yaitu penguatan manajemen internal Pusdiklat APU PPT.
5) Penguatan Nilai Organisasi
Penguatan nilai-nilai organisasi yang terkandung dalam kegiatan ini
yaitu tanggung jawab.

c. Membuatkan user untuk mengakses sistem SIARSIP pada tiap-tiap


pegawai TU di seluruh unit kerja
1) Tahapan Kegiatan

32
a. Mengajukan daftar nama staff TU masing-masing unit kepada admin
SIARSIP untuk pembuatan user dan password SIARSIP
b. Pendistribusian username dan password kepada staf TU.
2) Output/Hasil
Output dari kegiatan ini adalah username dan password pengguna
SIARSIP.
3) Keterkaitan Substansi Mata Pelatihan
Nilai-nilai ASN yang akan saya terapkan pada kegiatan tersebut antara
lain sebagai berikut :
a) Akuntabilitas (Transparansi) : Saya akan berupaya agar seluruh
pegawai ikut berperan dalam kontrol arsip yang dimiliki. Selain itu,
kegiatan ini juga memberikan akses terpadu pada pegawai yang
termasuk dalam unit pengolah arsip.
b) Nasionalisme (Gotong-royong) : arsip yang dimiliki PPATK
sangat banyak, hal tersebut yang menyebabkan banyaknya arsip
yang belum terkelola. Dengan adanya penambahan user SIARSIP
diharapkan pengelolaan arsip akan meningkat.
c) Etika Publik (Meningkatkan efektivitas dalam sistem
pemerintahan) : Penambahan user dalam akses SIARSIP akan
meningkatkan efektivitas dalam pengelolaan arsip PPATK.
d) Komitmen Mutu (Upaya perbaikan secara berkelanjutan) :
dalam pembuatan user SIARSIP ini merupakan tindak lanjut dari
permasalahan kearsipan yang selama ini dihadapi, yaitu banyaknya
arsip yang belum terkelola dengan baik.
e) Anti Korupsi (Tanggung jawab) : Pengelolaan arsip bukan hanya
tanggung jawab satu orang saja, penambahan user SIARSIP
merupakan usaha yang akan saya lakukan agar pengelolaan arsip
dapat diemban bersama-sama.
4) Kontribusi Terhadap Visi dan Misi Organisasi
Dengan melakukan kegiatan tersebut dapat menunjang misi dari
organisasi yaitu penguatan manajemen internal Pusdiklat APU PPT.
5) Penguatan Nilai Organisasi

33
Penguatan nilai-nilai organisasi yang terkandung dalam kegiatan ini
yaitu kerahasiaan.

d. Sosialisasi penggunaan SIARSIP kepada seluruh TU


1) Tahapan Kegiatan
a. Memberitahukan sosialisasi ke TU dan mohon bantuan untuk
kehadirannya
b. Mempersiapkan SIARSIP yang akan disosialisasikan
c. Menentukan tempat dan waktu
d. Menentukan jumlah orang untuk sosialisasi
e. Melaksanakan sosialisasi
2) Output/Hasil
Penggunaan aplikasi SIARSIP oleh segenap unit pengolah kearsipan di
lingkungan Pusdiklat APU PPT
3) Keterkaitan Substansi Mata Pelatihan
Nilai-nilai dasar ASN yang akan saya terapkan antara lain :
a) Akuntabilitas (Kejelasan) : Dengan adanya sosialisasi merupakan
perwujudan dari nilai kejelasan. Sosialisasi ini merupakan usaha yang
saya lakukan untuk memberikan pengetahuan dan kejelasan kepada user
SIARSIP.
b) Nasionalisme (Tidak diskriminatif) : Saya akan memberikan
sosialisasi kepada seluruh unit pengolah kearsipan tanpa memandang
suku, agama, dan golongan.
c) Etika Publik (Memberikan informasi secara benar terkait
kepentingan kedinasan) : Pada kegiatan ini terdapat nilai dalam
memberikan pengetahuan atau informasi secara benar dan jelas untuk
tujuan kedinasan atau unit kerja. Sehingga tujuan akhir saya dari
sosialisasi ini dapat meningkatkan pengetahuan pegawai terkait.
d) Komitmen Mutu (Beradaptasi dengan perubahan yang terjadi) :
Dengan adanya aplikasi baru yang digunakan dalam unit kerja
diharapkan semua pegawai yang menggunakan SIARSIP dapat
mengikuti perkembangan yang ada di unit kerja.

34
e) Anti Korupsi (Adil) : Para staff TU diharapkan memiliki kesamaan
pengetahuan dalam penggunaan sistem SIARSIP setelah saya lakukan
sosialisasi.
4) Kontribusi Terhadap Visi dan Misi Organisasi
Dengan melakukan kegiatan tersebut dapat menunjang misi dari
organisasi yaitu meningkatkan kapabilitas SDM PPATK dan pemangku
kepentingan dibidang APU PPT.
5) Penguatan Nilai Organisasi
Penguatan nilai-nilai organisasi yang terkandung dalam kegiatan ini yaitu
profesionalisme.

e. Pemantauan penggunaan sistem SIARSIP


1) Tahapan Kegiatan
a. Melakukan pendampingan untuk unit pengolah kearsipan
b. Memastikan SIARSIP dapat digunakan dengan baik/tidak ada
kendala
c. Evaluasi bagi unit pengolah arsip dengan cara temu kembali arsip
menggunakan SIARSIP
d. Melihat jumlah arsip yang telah terinput di sistem SIARSIP
2) Output/Hasil
Kegiatan ini memiliki tujuan untuk memantau terkomputerisasinya arsip
di Pusdiklat sehingga memudahkan pencarian arsip di kemudian hari dan
pengelolaan arsip aktif dan inaktif.
3) Keterkaitan Substansi Mata Pelatihan
Nilai-nilai ASN yang akan saya terapkan antara lain adalah sebagai
berikut :
a) Akuntabilitas (Konsistensi) : Saya akan melihat kesesuaian antara
arsip asli dengan arsip hasil scan/alih media di SIARSIP.
b) Nasionalisme (Kecermatan) : Saya akan meneliti dengan teliti
kesalahan penggunaan dalam sistem SIARSIP sehingga bisa segera
diatasi.

35
c) Etika Publik (Akurat) : Saya akan memantau apakah arsip yang
diinput telah sesuai dengan petunjuk, apakah temu arsip bisa
dilakukan dengan cepat dan tepat.
d) Komitmen Mutu (Inovatif) : Saya akan memastikan bahwa sistem
kearsipan elektronik menggunakan SIARSIP merupakan langkah
inovatif dalam tata kelola arsip, sehingga kegiatan kearsipan
menjadi lebih efektif dan efisien.
e) Anti Korupsi (transparan) : Saya akan memonitoring sistem
SIARSIP dan meyakinkan data/arsip yang ada di PUSDIKLAT APU
PPT dapat diakses dengan mudah dan jelas.
4) Kontribusi Terhadap Visi dan Misi Organisasi
Kegiatan pemantauan penggunaan sistem SIARSIP berkontribusi
terhadap misi Pusdiklat APU PPT, yaitu meningkatkan kapabilitas SDM
PPATK dan pemangku kepentingan di bidang APU PPT.
5) Penguatan Nilai Organisasi
Penguatan nilai organisasi PPATK dari kegiatan ini yaitu tanggung
jawab.

2.7 Jadwal Pelaksanaan


Pelaksanaan kegiatan aktualisasi dan habituasi akan dilaksanakan pada tanggal
25 Mei 2019 sampai dengan 1 Juli 2019 sesuai dengan jadwal kegiatan pada
tabel 4 :

36
Tabel 4 Jadwal Rencana Pelaksanaan Aktualisasi
No Kegiatan Mei Juni Juli
4 1 2 3 4 1
1 Melakukan konsultasi dengan
atasan untuk menerapkan sistem
kearsipan elektronik SIARSIP
2 Mendaftarkan komputer setiap
pegawai Tata Usaha di masing-
masing unit kerja
3 Membuatkan user untuk
mengakses aplikasi SIARSIP

CUTI BERSAMA
pada tiap-tiap pegawai TU di
seluruh unit kerja
4 Sosialisasi penggunaan SIARSIP
kepada seluruh TU
5 Pemantauan penggunaan aplikasi
SIARSIP

37
BAB III
PENUTUP

Pemilihan isu pada rancangan aktualisasi ini dilakukan berdasarkan


pendekatan Whole of Government, Manajemen ASN, dan Pelayanan Publik.
Beberapa isu telah identifikasi dari penyelenggaraan kearsipan di Pusdiklat APU
PPT yang kemudian disaring menggunakan metode analisis APKL (Aktual,
Problematik, Kekhalayakan, dan Kelayakan). Setelah itu dilakukan penilaian
dengan metode USG (Urgency, Seriousness, dan Growth) untuk menentukan isu
utama yang akan dipecahkan permasalahannya. Berdasarkan metode-metode
tersebut, itu yang terpilih adalah Implementasi Sistem SIARSIP Pada Tata Kelola
Arsip di Pusdiklat APU PPT.
Selanjutnya mencari alternatif solusi atau gagasan ide untuk isu tersebut.
Alternatif solusi yang dapat diseleksi menggunakan analisis tapisan Mc Namara.
Hasil seleksi tersebut diperoleh dari gagasan pemecahan isu, yaitu Sosialisasi
penggunaan aplikasi SIARSIP pada TU masing-masing unit. Gagasan pemecahan
masalah isu tersebut dirumuskan ke dalam beberapa kegiatan dan dikaitkan dengan
nilai-nilai dasar ASN, yakni Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen
Mutu, dan Anti Korupsi (ANEKA). Gagasan tersebut diharapkan dapat
mempermudah penguji untuk melakukan proses pengujian.
Pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut sebagai bagian dari proses
aktualisasi selama off campus yang dilakukan di PUSDIKLAT APU PPT PPATK
di Depok yang berlangsung dari tanggal 25 Mei 2019 sampai 1 Juli 2019.

38
DAFTAR PUSTAKA

Lembaga Administrasi Negara, 2015. Modul Pelatihan Dasar Calon PNS tentang
Akuntabilitas. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara, 2015. Modul Pelatihan Dasar Calon PNS tentang
Nasionalisme. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara, 2015. Modul Pelatihan Dasar Calon PNS tentang
Etika Publik. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara, 2015. Modul Pelatihan Dasar Calon PNS tentang
Komitmen Mutu. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara, 2015. Modul Pelatihan Dasar Calon PNS tentang
Anti Korupsi. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara, 2015. Modul Pelatihan Dasar Calon PNS tentang
Whole of Government. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara, 2015. Modul Pelatihan Dasar Calon PNS tentang
Manajemen ASN. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara, 2015. Modul Pelatihan Dasar Calon PNS tentang
Pelayanan Publik. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil


Negara.

39
LAMPIRAN I

RANCANGAN AKTUALISASI

Nama : Dewi Yulianti


Unit Kerja : Pusdiklat APU PPT
Identifikasi Isu : 1. Sarana dan prasarana kearsipan yang belum optimal
2. Implementasi sistem manual ke sistem SIARSIP dalam tata kelola arsip belum optimal
3. Penggunaan central file yang belum optimal
4. Layanan peminjaman arsip yang belum baik

Isu yang Diangkat : Implementasi sistem kearsipan elektronik dalam tata kelola arsip belum optimal
Gagasan Pemecahan Isu : Implementasi sistem SIARSIP pada taat kelola arsip di Pusdiklat APU PPT

40
NO KEGIATAN TAHAPAN OUTPUT / HASIL KETERKAITAN KONTRIBUSI PENGUATAN
SUBSTANSI MATA TERHADAP NILAI
PELATIHAN VISI DAN ORGANISASI
MISI
ORGANISASI
1 2 3 4 5 6 7
1 Melakukan a) Menghubungi/menghadap Notulen a) Akuntabilitas Kegiatan ini Penguatan nilai-
konsultasi pimpinan unit kerja untuk (Kepercayaan) : mendukung nilai organisasi
dengan atasan penjadwalan konsultasi Dalam melakukan misi : yang
untuk b) Membahas tata kelola konsultasi dengan Penguatan terkandung
menerapkan kearsipan yang masih atasan, saya akan manajemen dalam kegiatan
sistem dilakukan secara manual melaksanakannya internal ini yaitu
kearsipan c) Menyiapkan sarana dan dengan baik dan Pusdiklat APU Tanggung
elektronik prasarana yang benar sehingga PPT Jawab
SIARSIP di dibutuhkan untuk pimpinan percaya
PUSDIKLAT penggunaan aplikasi terhadap saya.
APU PPT SIARSIP b) Nasionalisme
d) Mencatat masukan dan (Musyawarah) :
saran dari pimpinan Dalam melakukan
diskusi dan
konsultasi saya akan
senantiasa menerima
saran dan masukan
untuk menghasilkan
keputusan bersama.
c) Etika Publik
(Profesional) :

41
Ketika melakukan
konsultasi dengan
atasan saya akan
senantiasa
mengedepankan
alasan-alasan yang
sesuai dengan tujuan
konsultasi dan
meyakinkan alasan
tersebut sehingga
menunjukkan
keprofesionalan
saya.
d) Komitmen Mutu
(Komunikasi) :
Saya akan senantiasa
mendengarkan
dengan baik arahan
dan masukan dari
atasan dan
menggunakan
bahasa yang baik
dalam
menyampaikan
pendapat.
e) Anti Korupsi
(Disiplin) : Pada saat
konsultasi dengan

42
pimpinan saya akan
senantiasa tepat
waktu sehingga
rapat/diskusi dapat
dilaksanakan dengan
tepat.
2 Mendaftarkan a) Membuat daftar nama Staf Tata Usaha a) Akuntabilitas Kegiatan Penguatan nilai-
komputer masing-masing TU di tiap dapat mengakses (Bertanggung tersebut dapat nilai organisasi
setiap pegawai unit kerja dan nomor aplikasi SIARSIP Jawab) : saya akan menunjang yang
Tata Usaha di komputer yang mereka mendata dengan misi dari terkandung
masing- gunakan. benar dan organisasi dalam kegiatan
masing unit b) Mengajukan permohonan memastikan bahwa yaitu ini yaitu
kerja dengan mengirimkan sistem SIARSIP penguatan Tanggung
surat kepada Direktorat digunakan oleh manajemen Jawab
PTI untuk membuka akses pengguna yang tepat. internal
SIARSIP pada komputer b) Nasionalisme Pusdiklat APU
staf TU yang didaftarkan. (Bekerja sama) : PPT.
c) Menunggu pengerjaan saya akan melakukan
dari PTI dan konfirmasi kordinasi dengan
bahwa akses SIARSIP direktorat PTI untuk
sudah bisa digunakan membuka akses
komputer staf TU
agar bisa mengakses
sistem SIARSIP.
c) Etika Publik
(Profesional) : saya
akan mendaftarkan
komputer para staf

43
TU untuk mengakses
SIARSIP sesuai
dengan prosedur yang
berlaku.
d) Komitmen Mutu
(Membangun
komitmen pegawai
untuk jangka
panjang) : Saya akan
berusaha agar sistem
SIARSIP ini dapat
digunakan secara
berkelanjutan oleh
staff terkait, sehingga
dapat membantu
terselenggaranya
kegiatan kearsipan.
e) Anti Korupsi
(Peduli) : Di dalam
usaha untuk
menjalankan
kearsipan secara
elektronik, saya akan
berusaha memberi
perhatian khusus dan
langkah-langkah
nyata agar sistem
kearsipan elektronik

44
dapat dilaksanakan,
misalnya
mendaftarkan
komputer staff TU.

3 Membuatkan a. Mengajukan daftar nama Username dan a) Akuntabilitas Kegiatan Penguatan nilai-
user untuk staff TU masing-masing password pengguna (Transparansi) : tersebut dapat nilai organisasi
mengakses unit kepada admin SIARSIP Saya akan menunjang yang
sistem SIARSIP untuk berupaya agar misi dari terkandung
SIARSIP pembuatan user dan seluruh pegawai organisasi dalam kegiatan
pada tiap-tiap password SIARSIP ikut berperan yaitu ini yaitu
pegawai TU b. Pendistribusian username dalam kontrol penguatan Kerahasiaan
di seluruh unit dan password kepada staf arsip yang manajemen
kerja TU. dimiliki. Selain internal
itu, kegiatan ini Pusdiklat APU
juga memberikan PPT
akses terpadu
pada pegawai
yang termasuk
dalam unit
pengolah arsip.
b) Nasionalisme
(Gotong-
royong) : arsip
yang dimiliki
PPATK sangat
banyak, hal
tersebut yang

45
menyebabkan
banyaknya arsip
yang belum
terkelola. Dengan
adanya
penambahan user
SIARSIP
diharapkan
pengelolaan arsip
akan meningkat.
c) Etika Publik
(Meningkatkan
efektivitas
dalam sistem
pemerintahan) :
Penambahan user
dalam akses
SIARSIP akan
meningkatkan
efektivitas dalam
pengelolaan arsip
PPATK.
d) Komitmen
Mutu (Upaya
perbaikan
secara
berkelanjutan) :
dalam pembuatan

46
user SIARSIP ini
merupakan
tindak lanjut dari
permasalahan
kearsipan yang
selama ini
dihadapi, yaitu
banyaknya arsip
yang belum
terkelola dengan
baik.
e) Anti Korupsi
(Tanggung
jawab) :
Pengelolaan arsip
bukan hanya
tanggung jawab
satu orang saja,
penambahan user
SIARSIP
merupakan usaha
yang akan saya
lakukan agar
pengelolaan arsip
dapat diemban
bersama-sama.
4 Sosialisasi a. Memberitahukan Penggunaan a) Akuntabilitas Kegiatan Penguatan nilai-
penggunaan sosialisasi ke TU dan aplikasi SIARSIP (Kejelasan) : Dengan tersebut dapat nilai organisasi

47
SIARSIP mohon bantuan untuk oleh segenap unit adanya sosialisasi menunjang yang
kepada kehadirannya pengolah kearsipan merupakan perwujudan misi dari terkandung
seluruh TU b. Mempersiapkan SIARSIP dari nilai kejelasan. organisasi dalam kegiatan
yang akan disosialisasikan Sosialisasi ini yaitu ini yaitu
c. Menentukan tempat dan merupakan usaha yang meningkatkan Profesionalisme
waktu saya lakukan untuk kapabilitas
d. Menentukan jumlah orang memberikan SDM PPATK
untuk sosialisasi pengetahuan dan dan pemangku
e. Melaksanakan sosialisasi kejelasan kepada user kepentingan
f. Mengevaluasi hasil SIARSIP. dibidang APU
sosialisasi b) Nasionalisme PPT
(Tidak diskriminatif) :
Saya akan memberikan
sosialisasi kepada
seluruh unit pengolah
kearsipan tanpa
memandang suku,
agama, dan golongan.
c) Etika Publik
(Memberikan
informasi secara benar
terkait kepentingan
kedinasan) : Pada
kegiatan ini terdapat
nilai dalam memberikan
pengetahuan atau
informasi secara benar
dan jelas untuk tujuan

48
kedinasan atau unit
kerja. Sehingga tujuan
akhir saya dari
sosialisasi ini dapat
meningkatkan
pengetahuan pegawai
terkait.
d) Komitmen Mutu
(Beradaptasi dengan
perubahan yang
terjadi) : Dengan
adanya aplikasi baru
yang digunakan dalam
unit kerja diharapkan
semua pegawai yang
menggunakan SIARSIP
dapat mengikuti
perkembangan yang ada
di unit kerja.
e) Anti Korupsi (Adil)
: Para staff TU
diharapkan memiliki
kesamaan pengetahuan
dalam penggunaan
sistem SIARSIP setelah
saya lakukan sosialisasi.

49
5 Pemantauan a. Melakukan Memantau a) Akuntabilitas Kegiatan Penguatan nilai-
penggunaan pendampingan untuk unit terkomputerisasinya (Konsistensi) : Saya tersebut dapat nilai organisasi
sistem pengolah kearsipan arsip di Pusdiklat akan melihat menunjang yang
SIARSIP b. Memastikan SIARSIP kesesuaian antara misi dari terkandung
dapat digunakan dengan arsip asli dengan organisasi dalam kegiatan
baik/tidak ada kendala arsip hasil scan/alih yaitu ini yaitu
c. Evaluasi bagi unit media di SIARSIP. meningkatkan Tanggung
pengolah arsip dengan b) Nasionalisme kapabilitas Jawab
cara temu kembali arsip (Kecermatan) : Saya SDM PPATK
menggunakan SIARSIP akan meneliti dengan dan pemangku
d. Melihat jumlah arsip yang teliti kesalahan kepentingan
telah terinput di sistem penggunaan dalam dibidang APU
SIARSIP sistem SIARSIP PPT
sehingga bisa segera
diatasi.
c) Etika Publik
(Akurat) : Saya akan
memantau apakah
arsip yang diinput
telah sesuai dengan
petunjuk, apakah
temu arsip bisa
dilakukan dengan
cepat dan tepat.
d) Komitmen Mutu
(Inovatif) : Saya
akan memastikan
bahwa sistem

50
kearsipan elektronik
menggunakan
SIARSIP merupakan
langkah inovatif
dalam tata kelola
arsip, sehingga
kegiatan kearsipan
menjadi lebih efektif
dan efisien.
e) Anti Korupsi
(transparan) : Saya
akan memonitoring
sistem SIARSIP dan
meyakinkan
data/arsip yang ada di
PUSDIKLAT APU
PPT dapat diakses
dengan mudah dan
jelas.

51
Lampiran 2. Bimbingan Coach

Nama : Dewi Yulianti


Instansi : PPATK

Tanggal Kegiatan Catatan Media Paraf


No Coaching - Coaching
Output
1 13 Mei Bimbingan Mengangkat isu Tatap
2019 rancangan aktualisasi yang dapat muka
dan pemilihan isu diselesaikan
dan penekanan nilai- selama habituasi
nilai dasar ANEKA serta penekanan
serta kedudukan dan pada ANEKA
peran ASN
2 16 Mei Bimbingan Memberikan Tatap
2019 rancangan kegiatan masukan terkait muka
aktualisasi isu yang
dianalisis
menggunakan
APKL
3 17 Mei Bimbingan Menambahkan Tatap
2019 rancangan kegiatan penjelasan nilai- muka
aktualisasi nilai ANEKA
pada rancangan
kegiatan

52