Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA

PERCOBAAN 3
SISTEM PENCERNAAN

Disusun oleh:
Kelompok C/1

Nisa Fida Farhani 10060316080


Rifa Septiani 10060316081
Natasha Syifa Ramadhanty 10060316082
Robby Dwi Ruslian 10060316083
Neneng Indah Nurazizah 10060316084

Asisten: Cici Delisma, S.Farm

Tanggal Praktikum: 05 Oktober 2017


Tanggal Pengumpulan: 12 Oktober 2017

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT D


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1438H 2017M
PERCOBAAN 3
SISTEM PENCERNAAN

I. TUJUAN

1. Menjelaskan proses pencernaan kimiawi di mulut.


2. Menjelaskan proses pencernaan kimiawi di lambung oleh enzim
pepsin.
3. Menjelaskan kondisi optimum yang diperlukan bagi aktivitas kerja
pepsin.
4. Menjelaskan proses pencernaan kimiawi di usus halus.
5. Mengenal histologi organ –organ yang memebangun sistem
pencernaan.

II. ALAT DAN BAHAN


1.1 Alat
Mikroskop, inkubator, penangas air, stopwatch, thermometer, gelas kimia,,
tabung reaksi, pipet tetes, kaca objek, kaca penutup, plat tetes, batang
pengaduk, corong, kertas saring. Gelas ukur.
1.2 Bahan
Saliva, pasta amilum 3%, larutan iodium 2%, larutan CuSo4 1%, larutan
NaOH 40%, perekasi Benedict, asam asetat 6%, larutan glukosa 10%,
metilen biru 0,15% dalam air, pereaksi Biuret, larutan HCL 0,4%, larutan
Na-karbonat 0,5%, larutan pepsin 5% (dibuat segar), larutan pankreatin,
indicator universal, akuades.

III. PROSEDUR
3.1 Anatomi Sistem Pencernaan

Pada literatur, organ-organ yang terlibat pada sistem pencernaan


dipelajari.

3.2 Fisiologi Sistem Pencernaan


Saliva disumbangkan dari sukarelawan setiap kelompok untuk
bahan percobaan, dan ditampung saliva secukupnya didalam gelas kimia
kecil.
3.2.1 Memeriksa Komponen Saliva
Uji Mikroskopik
Satu tetes saliva diwarnai dengan metilen biru,
ditempatkan pada kaca objek dan ditutup dengan kaca penutup.
Dibawah mikroskop diamati adanya sel-sel epitel, butir-butir
lemak, leukosit, dan bakteri.
3.2.2 Pencernaan Karbohidrat di Mulut

Saliva ditampung pada gelas piala (agar tidak banyak


gelembung saliva dikeluarkan melewati batang pengaduk).
Disiapkan tabung reaksi yang diisi pasta amilum 5% sebanyak
5mL ditambahkan saliva sebanyak 5mL, dikocok hingga rata
dan didiamkan selama 1 menit. Disiapkan tabung reaksi
(minimal 8) sudah diisi larutan Benedict dan disiapkan plat
tetes. Campuran saliva dan pasta amilum yang sebelumnya
diambil 1 tetes untuk diteteskan pada plat tetes, ditambahkan 1-
2 tetes iodium. Secara bersamaan diambil 3 tetes campuran
saliva dan amilum untuk diteteskan pada tabung reaksi berisi
larutan Benedict.

Larutan saliva yang ditambah pasta amilum dengan


iodium akan timbul warna (amilum telah menjadi
eritrodekstrin), lama-kelamaan tidak berwarna (dihasilkan
akromodekstrin / titik akromik dari proses pemecahan amilum).
Semua tabung yang berisi saliva ditambah amilum dengan
benedict dipanaskan pada penangas air yang mendidih, selama
5 menit. Untuk pembanding digunakan tabung reaksi yang
berisi larutan benedict dicampur dengan 2mL glukosa 10%,
lalu dibiarkan dingin. Diamati perubahan warna, dan dicatat
hasil yang diperoleh.

Uji Benedict dengan glukosa akan memberi endapan


warna merah, kuning, atau hijau tergantung dari jumlah gula.

3.2.3 Pencernaan Protein di Lambung


3.2.3.1 Secara In Vitro
Putih telur dipotong-potong (seperti dikunyah), dimasukkan
pada gelas kimia. Putih telur direndam dengan larutan pepsin 5%
(dicatat putih telur dan pepsin yang digunakan), ditetesi HCL 0,4%
sampai pH 1,5 atau 2 digunakan indicator universal. Gelas kimia
ditutup dengan plastic dan diinkubasi pada suhu 37˚C selama 1
hari, campuran harus sering diaduk dan dijaga pH nya dengan
ditambah HCl bila diperlukan. Campuran tadi disaring, lalu
dilakukan uji biuret untuk dilihat adanya hasil urai protein ungu
kemerahan atau merah keunguan telah terjadi hasil urai berupa
campuran proteosa dan pepton. Sebagai control digunakan pepton,
diambil sedikit lalu direaksikan dengan biuret.

3.2.3.2 Kondisi Optimum untuk Aktivitas Pepsin

Disiapkan lima tabung, dengan diisi pepsin 5% pada tabung


pertama sebanyak 5mL, HCl 0,4% 5mL pada tabung kedua,
pepsin 5% 5mL ditambah HCl 0,4% sampai dengan pH 1,5-2,
tabung empat diisi pepsin 5% sebanyak 2mL ditambah Na2CO3
0,5% 5mL, dan pada tabung lima diisi akuades 5mL. Lalu
masing-masing tabung dimasukkan sedikit protein dan
dimasukkan ke incubator dengan cara uji biuret. Pada tabung 1
dan 2 dicampurkan dan diinkubasi pada 40˚C selama 15-
20menit. Perubahan yang terjadi diamati.

3.2.4 Pencernaan Kimia di Usus Halus


3.2.4.1 Percobaan Membandingkan Kecepatan Pencernaan Albumin
dengan Serum Darah

Disiapkan dua buah vial, pada vial pertama diisi 5mL larutan
pankreatin ditambah sedikit putih telur dan pada tabung kedua
ditambah sedikit serum darah. Lalu diinkubasi padaa suhu 40˚C,
setiap selang waktu 15menit diambil sedikit larutan dan diamati
dengan uji biuret. Dilakukan sampai t = 90menit, dicatat hasil yang
diperoleh.

3.2.4.2 Kerja Garam Empedu terhadap Pencernaan Lemak

Disiapkan dua buah tabung reaksi, pada tabung satu diisi


3mL air dan pada tabung dua diisi garam empedu 5% dan air
masing-masing 1,5mL. Pada kedua tabung diteteskan 1 tetes minyak
sayur, dan dikocok lalu dibiarkan salama 5 menit. Diamati,
dibandingkan mana minyak yang terdispersi atau teremulsi (dilihat
dari minyak yang pecah menjadi tetesan kecil-kecil).

IV. DATA PENGAMATAN

4.1.Memeriksa Komponen Saliva

Disaliva ditentukan sel epitel (yang berinti) lemak (yang tengahnya kosong)
4.2.Pencernaan Karbohidrat di Mulut

Tabel 1

Pengamatan Pencernaan Amilum oleh Saliva

Waktu setelah
Warna yang terjadi Warna yang terjadi
pencampuran pasta
pada uji lodium pada Uji Benedict
amilum + saliva
5 menit Kuning Pucat Biru, endapan hijau
10 menit Kuning pekat Biru, endapan hijau
15 menit Kuning Biru, endapan hijau
20 menit Kuning Muda Biru, endapan hijau
25 menit Kuning Biru, endapan hijau
30 menit Kuning Biru, endapan hijau
35 menit Kuning Biru Toska
40 menit Kuning Pekat Biru
45 menit Kuning Biru
50 menit Kuning Biru
55 menit Kuning Agak Pekat Hijau tua endapan putih
60 menit Kuning Hijau muda
65 menit Kuning Biru kehijauan
70 menit Kuning Biru kehijauan
4.3.Pencernaan Protein di Lambung
4.3.1. Percobaan proses pencernaan protein secara in vitro
Tetesan Biuret Warna
0 Putih Pekat
3 Putih Keruh
6 Putih Keruh
9 Putih Keruh
12 Putih Keruh
15 Merah muda ke bening
20 Merah muda
35 Merah muda ke unguan
4.3.2. Kondisi optimum untuk aktivitas pepsin

Tabung Perubahan
1 Setelah dimasukkan Ungu Pekat
2 kedalam inkubator Biru
3 pada suhu 40℃ ½ Ungu Pucat
4 jam Biru Pekat
5 Ungu Kebiruan

Tabung 1 dan Tabung 2 dicampur dan diinkubasi pada suhu 40℃


20 menit timbul warna ungu kebiruan timbul endapan + biuret
warna ungu kebiruan
#Yang paling ungu adalah Tabung 1
4.4.Pencernaan Kimiawi di Usus Halus
4.4.1. Percobaan untuk membandingkan kecepatan pencernaan
albumin dan serum darah

Tabel 2

Pengamatan Perbedaan Kecepatan Pencernaan Albumin dengan


Serum Darah oleh Pankreatin

Waktu setelah Hasil Uji Biuret


pencampuran dengan
Albumin Serum Darah
pankreatin
15 menit Ungu Pudar Biru agak bening
30 menit Ungu Biru pudar
45 menit Ungu Pekat Biru keunguan
60 menit Ungu Ungu pudar
75 menit Ungu Ungu pudar
90 menit Ungu Pucat Biru pudar

 Albumin mulai positif uji biuret pada menit 30-70


 Serum darah mulai positif uji biuret pada menit 60-70
4.4.2. Kerja garam empedu terhadap pencernaan minyak

Pada tabung 1: Tidak terjadi emulsi, air dan minyak menjadi 2


lapisan yang terpisah.

Pada tabung 2: Terjadi emulsi, campuran garam dan air ketika


ditambah minyak menjadi warna putih namun bercampur.
V. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini melakukan percobaan mengenai salah satu sistem
pencernaan yaitu saliva. Saliva adalah salah satu cairan didalam mulut yang
sangat penting, berkaitan dengan proses biologis yang terjadi didalam rongga
mulut (Amerogen dkk., 1991: Hal: 127).

Fungsi saliva antara lain, saliva memulai pencernaan karbohidrat di mulut


melalui kerja amilase saliva yang merupakan suatu enzim yang memecah
polisakarida menjadi disakarida; saliva mempermudah proses menelan dengan
membasahi partikel-partikel makanan sehingga saling menyatu serta dengan
menghasilkan mukus yang kental dan licin sebagai pelumas; memiliki efek
antibakteri, pertama oleh lisozim yaitu enzim yang melisiskan atau
menghancurkan bakteri tertentu dan kedua dengan membilas bahan yang
mungkin digunakan bakteri sebagai sumber makanan; berfungsi sebagai pelarut
untuk molekul-molekul yang merangsang papil pengecap; membantu mastikasi
dan berbicara karena adanya lubrikasi oral. Saliva berperan penting dalam
membantu menjaga kesehatan mukosa mulut dengan adanya growth factor
untuk membantu dalam proses penyembuhan luka. Aliran saliva yang terus
menerus membantu membilas residu makanan, melepaskan sel epitel, dan
benda asing. Penyangga bikarbonat di saliva menetralkan asam di makanan
serta asam yang dihasilkan oleh bakteri di mulut, sehingga membantu mencegah
karies gigi (Pedersen, 2007: Hal. 50).

5.1 Memeriksa komponen saliva

Saliva terdiri dari 94%-99,5% air, bahan organik, dan anorganik.


Komponen anorganik dari saliva antara lain Na+, K+, Ca2+, Mg2+, Cl-, SO42-
, H+, PO4, dan HPO42-. Komponen anorganik yang memiliki konsentrasi
tertinggi adalah Na+ dan K+. Sedangkan komponen organik utamanya
adalah protein dan musin. Selain itu ditemukan juga lipida, glukosa, asam
amino, ureum amoniak, dan vitamin. Komponen organik ini dapat
ditemukan dari pertukaran zat bakteri dan makanan. Protein yang secara
kuantitatif penting adalah α-amilase, protein kaya prolin, musin, dan
imunoglobulin (Nila, 2015: Hal. 16).

Pada percobaan ini dilakukan uji mikroskopik dengan meneteskan


metilen biru yang bertujuan untuk mengetahui keberadaan lebih dari 1
komponen yang terdapat dalam saliva. Dan dibuktikan benar bahwa di
dalam saliva terdapat sel epitel (yang berinti) yang pasti ada karena sel ini
berada di dalam rongga mulut dan lemak (yang tengahnya kosong). Kami
tidak menemukan adanya leukosit dan bakteri karena orang yang
menyumbangkan saliva nya sedang sehat atau sedang tidak mengalami
infeksi seperti sariawan.

5.2 Pencernaan Karbohidrat di mulut

Karbohidrat atau sakarida adalah polihidroksi aldehida atau


polihidroksi keton, yang pada umumnya mempunyai rumus
Cn(H2O)n. Tujuan praktikum pencernaan karbohidrat adalah
mengetahui daya amilolitis amilase saliva. Molekul karbohidrat terdiri
atas atom-atom karbon, hidrogen dan oksigen. Jumlah atom hidrogen
dan oksigen merupakan perbandingan 2:1 seperti pada molekul air.
Sebagai contoh molekul glukosa mempunyai rumus C6H12O6
sedangkan rumus sukrosa C12H22O11 (Ardian dkk., 2012: Hal. 1).

Pencernaan utama karbohidrat terjadi di dalam usus halus dan


enzim yang berperan adalah amilopsin, yaitu enzim amilase yang
berasal dari pankreas, dan enzim-enzim diaskaridase yang di hasilkan
oleh sel-sel mukosa usus sendiri (Ardian dkk,. 2012: Hal. 1).

Kedudukan karbohidrat sangatlah penting pada manusia dan


hewan tingkat tinggi lainnya, yaitu sebagai sumber kalori. Karbohidrat
juga mempunyai fungsi biologi lainnya yang tak kalah penting bagi
beberapa makhluk hidup tingkat rendah, ragi misalnya, mengubah
karbohidrat (glukosa) menjadi alkohol dan karbon dioksida untuk
menghasilkan energi (Ardian dkk,. 2012: Hal. 1).

C6H12O6 ——> 2C2H5OH + 2CO2 + energi


Pada percobaan ini campuran pasta amilum dan saliva dikocok
untuk mempercepat pemecahan amilum menjadi amilase dan akhirnya
menjadi sederhana. Lalu pada penambahan larutan benedict sebagai
indikator glukosa untuk menguji keberadaan glukosa dalam makanan.
Selama proses ini larutan akan berubah warna menjadi biru (tanpa
adanya glukosa).

Uji benedict positif untuk gula pereduksi/ gula inversi seperti


glukosa dan fruktosa. Caranya gula reduksi ditambahkan dengan
campuran CuSO4 (tembaga sulfat), natrium sitrat (NaSO3) dan natrium
karbonat (NaCO3) lalu dipanaskan maka akan terbentuk endapan kupro
oksida (Cu2O) yang berwarna merah coklat. (Abdul & Sumantri, 2007:
Hal. 17).

Uji ini terjadi dalam suasana basa/alkalis karena gula akan


mereduksi dalam suasana basa. Natrium sitrat berfungsi sebagai
pengkelat Cu dengan membentuk kompleks Cu- sitrat. Natrium
karbonat berfungsi untuk menciptakan suasana basa. Berikut ini bentuk
reaksi yang terjadi pada uji benedict. Gambar 2.2 berikut merupakan
gambar reaksi pada uji benedict (Abdul & Sumantri, 2007: Hal. 17).

O O

|| ||

R-C-H +Cu2+ + 2 OH- R-C-OH + Cu2O + H2O

Gambar 2.2 Reaksi pada Uji Benedict

(Abdul & Sumantri, 2007: Hal. 17)

Adanya glukosa ditandai dengan berubahnya warna dan timbul


endapan menjadi merah bata, hijau, kuning, orange. Hasil percobaan
yang kita amati mengalami perubahan warna pada menit ke-55 menjadi
warna hijau dan endapan kuning karena bersifat pereduksi.

Iodium merupakan indikator amilum untuk menguji kandungan


amilum atau dekstrin, jika ada maka pada warna larutan menimbulkan
warna pekat, dan warna pudar menunjukan amilum sudah pecah. Hasil
percobaan yang kita amati adalah kuning tetapi pada menit ke-10 dan
ke-40 kuningnya pekat itu artinya terdapat amilum atau dekstrin di
dalam campuran saliva dan pasta amilum, dan yang menunjukan
amilum sudah pecah dan telah menghasilkan akromodekstrin yang
disebut dengan titik akromik pada menit ke-5 dan ke-20.

5.3 Pencernaan Protein di Lambung


5.3.1 Percobaan proses pencernaan protein secara in vitro

Pada prinsipnya pemeriksaan in vitro adalah jenis


pemeriksaan yang dilakukan dalam tabung reaksi, piring kultur sel
atau di luar tubuh mahluk hidup. Penelitian in vitro mensyaratkan
adanya kontak antara bahan atau suatu komponen bahan dengan
sel, enzim, atau isolasi dari suatu sistem biologik. Proses kontak
dapat terjadi secara langsung, dalam arti bahan langsung
berkontak dengan dengan sistem sel tanpa adanya barier atau
dengan menggunakan barier (Elisa, 2016: Hal: 2)

Pemeriksaan in vitro dapat digunakan untuk mengetahui


sitotoksisitas atau pertumbuhan sel, metabolisme set fungsi sel.
Bisa pula pemeriksaan in vitro untuk mengetahui pengaruh suatu
bahan terhadap genetik set. Ada beberapa keuntungan dari
pemeriksaan in vitro dibandingkan dengan jenis pemeriksaan
biokompatibilitas lainnya, adalah sebagai berikut (Elisa, 2016:
Hal: 3) :

a. Membutuhkan waktu yang relatif singkat

b. Membutuhkan biaya yang relatif sedikit

c. Dapat dilakukan standarisasi

d. Bisa dilakukan kontrol

Pada percobaan kali ini membandingkan dengan percernaan


di lambung. Potongan-potongan putih telur direndam di larutan
pepsin (5%) untuk menghidrolisis protein menjadi pepton
sehingga kerjanya dalam kondisi asam yang disediakan oleh
adanya asam lambung dalam perut. Di tetesi dengan HCL 0,4%
untuk mempertahankan pH agar tetap asam yakni pH 1,5-2 karena
agar sama dengan suasana pH lambung. Dan untuk membunuh
kuman-kuman yang masuk bersama bolus-bolus yang akan
mengaktifkan enzim pepsin.

Inkubasi merupakan suatu teknik perlakuan bagi


mikroorganisme yang telah diinokulasikan pada madia (padat atau
cair), kemudian di simpan pada suhu tertentu untuk dapat melihat
pertumbuhannya. Bila suhu inkubasi tidak sesuai dengan yang
diperlukan, biasanya mikroorganisme tidak dapat tumbuh dengan
baik. Media inkubasi digolongkan menjadi 2 jenis (Dwijoseputro,
1998: Hal.104)

1. Pada lemari biasa atau suhu kamar,


2. Pada inkubator yang suhunya dapat di tentukan

Pada percobaan kali ini kami menggunakan media pada


inkubator yang suhunya dapat di tentukan, tapi karena pemakaian
bersama dan itupun tidak secara bersamaan di masukannya
sehingga di buka tutup inkubatornya yang menyebabkan suhunya
naik turun. Dilakukan inkubasi pada suhu 37℃ selama 1 hari 1
malam bertujuan agar kita dapat melihat pertumbuhan atau
perkembangbiakan pada mikroorganisme.
Di lakukan uji biuret yang merupakan indikator protein untuk
menguji keberadaan ikatan peptida. Hasil praktikum yang kita
lakukan bahwa berubahnya protein menjadi pepton terjadi pada
menit ke-35 ditunjukan dengan berubahnya warna menjadi merah
muda keunguan. Telatnya timbul perubahan warna pada
praktikum kali ini disebabkan karena putih telur dan HCL 0,4%
terlalu kebanyakan yang menyebabkan harus banyak tetesan biuret
untuk menjadi warna merah muda keunguan, yang seharusnya 6
tetesan sudah berubah warna menjadi merah muda keunguan.

5.3.2 Kondisi Optimum untuk Aktivitas Pepsin

Pepsin adalah enzim yang terdapat dalam perut yang akan


mulai mencerna protein dengan memecah protein menjadi bagian-
bagian yang lebih kecil. Enzim ini termasuk protease. Pepsin
disekresi dalam bentuk inaktif, pepsinogen yang akan diaktifkan
oleh asam lambung. Enzim ini diproduksi oleh bagian mukosa
dalam perut yang berfungsi untuk mendegradasi protein. Enzim
pepsin memiliki pH optimum 2-4 dan akan inaktif pada pH diatas
6 (Lehninger, A.L. 1982: Hal. 96).
Dapat dilihat dari hasil pengamatan terjadi kesalahan karena
tabung 1 lebih pekat ungunya, hal ini disebabkan diantaranya oleh
suhu yang turun naik karena inkubator yang selalu di buka tutup.
Seharusnya yang lebih pekat ungunya adalah tabung 3 karena
yang mengandung HCl lebih cepat terhidrolisis dibanding dengan
tabing yang lain. Dengan adanya HCl akan mengubah pepsinogen
menjadi pepsin. Dalam bentuk pepsin inilah baru bisa
dimanfaatkan untuk memecah molekul protein. Semua itu
disebabkan karena pada tabung ke-3 terdapat kondisi asam yang
sama dengan kondisi asam di lambung jadi lebih cepat bereaksi.
Sedangkan pada tabung ke-4 berisi natrium karbonat yang bersifat
basa yang akan sukar menghidrolisis pepsin.

Fungsi HCL pada lambung adalah merangsang keluarnya


sekretin, mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin untuk
memecah protein, desinfektan, merangsang keluarnya hormon
kolesistokinin yang berfungsi merangsang empedu mengeluarkan
getahnya (Lehninger, A.L. 1982: Hal. 96).

5.4 Pencernaan Kimiawi di Usus Halus


5.4.1 Percobaan untuk membandingkan kecepatan pencernaan albumin
dan serum darah
Pada percobaan ini mengamati kecepatan percernaan
albumin dan serum darah. Serum adalah cairan darah/plasma
yang tidak mengandung Fibrinogen(komponen pembeku darah).
Serum terdiri dari semua protein (yang tidak digunakan untuk
pembekuan darah) termasuk cairan elektrolit, antibodi, antigen,
hormon, dan semua substansi exogenous. Rumusan umum yaitu:
serum= plasma - fibrinogen - protein faktor koagulasi.
Salah satu zat yang terkandung di dalam serum adalah albumin
yang merupakan protein globular (Anna, 1994: Hal: 13).
Pada percobaan ini digunakan biuret untuk melihat
perbedaan kecepatan antara albumin dan serum dengan
berubahnya warna. Dapat dilihat dari hasil pengamatan bahwa
terjadinya perubahan warna pada saat selelah inkubasi karena
suhu dapat mempengaruhi kelarutan sehingga pencernaan serum
darah lebih cepat karena ukuran partikelnya lebih kecil
dibandingkan dengan albumin.

5.4.2 Kerja garam empedu terhadap pencernaan lemak

Di percobaan ini mengamati terjadinya emulsi dan dispere,


dilakukan dengan menggunakan air, minyak dan garam empedu
sebagai emulgator. Emulsi merupakan jenis koloid dengan fase
terdispersinya berupa fase cair dengan medium pendispersinya
bisa berupa zat padat, cair dan gas. Emulsi merupakan sistem
yang tidak stabil, sehingga dibutuhkan zat pengemulsi atau
emulgator untuk menstabilkan (Martin dkk, 1993: Hal. 572).

Pemecahan lemak dengan cara hidrolisis di bantu oleh garam


asam empedu yang terdapat dalam cairan empedu dan berfungsi
sebagai emulgator. Dengan adanya garam asam empedu sebagai
emulgator, maka lemak dalam usus dapat dipecah-pecah menjadi
partikel-partikel kecil sebagai emulsi, sehingga luas permukaan
lemak bertambah besar. Hal ini menyebabkan proses hidrolisis
berjalan dengan cepat (Martin dkk, 1993: Hal. 572).

Misel atau globul harus terbentuk, karena untuk mengetahui


campuran sudah tercampur merata. Usaha yang dilakukan untuk
mencampur air dan minyak sehingga membentuk globul yaitu
dengan menurunkan tegangan permukaan (Martin dkk, 1993:
Hal. 572).

Dapat dilihat dari hasil pengamatan bahwa tabung 1 tidak


terjadi emulsi karena air dan minyak tidak bersatu dengan adanya
tegangan permukaan. Sedangkan tabung 2 terjadi emulsi karena
air+garam empedu merupakan surfaktan, yaitu senyawa yang
suka air atau memiliki gugus polah dan non polar. Pada
permukaan air bagian non polar dari molekul surfaktan akan
mengarah ke udara dan bagian polarnya ke air. Hal tersebut dapat
menyebabkan menurunnya tegangan permukaan akhir akibat
meningkatnya gaya adhesi antara molekul air dan udara (Amila
dkk, 2017: Hal.16)

VI. KESIMPULAN

Secara kimiawi proses pencernaan dimulut adalah saliva yang dapat


mempermudah untuk menghancurkan makanan secara kimiawi. Sedangkan
proses percernaan kimiawi di lambung oleh enzim pepsin adalah memecah
protein menjadi pepton. Kondisi optimum untuk aktivitas pepsin harus dalam
keadaan asam. Dan proses percernaan kimiawi di usus halus ada bantuan dari
pankreas yang terdiri dari tripsin, lipase dan amilase dan bantuan dari hati.

VII. DAFTAR PUSTAKA

Abdul dan Sumantri, 2007, Propolis Madu Multikhasiat, Penebar


Swadaya, Jakarta,15-59
Ardian, 2002, Imunologi Oral Kelainan di Dalam Rongga Mulut, Balai
Penerbit FK UI, Jakarta, 121-126
Amerogen, 1991, Ludah dan Kelenjar ludah Arti Bagi Kesehatan Gigi,
Yogyakarta, GadjahMada Univ. Lehninger, A.L. 1982. Dasar-Dasar
Biokimia. Jilid Satu. Erlangga: Jakarta
Nila, 1991, Mikrobiologi untuk profesi Kesehatan, ed. Ke-16, EGC,
Jakarta, 243-248
Pedersen GW. Buku ajar praktis bedah mulut. Alih bahasa: Purwanto,
Basoeseno. Jakarta: ECG.
Press, 115-122.
Pedersen, 1982, Mikrobiologi Kedokteran untuk Laboratorium, PT
Gramedia, Jakarta, 114-116

LAMPIRAN

TUGAS

1. Gambar anatomi sistem pencernaan dan berikan nama bagian-bagian


organ penyusunnya!.

2. a. Jelaskan masing-masing fungsi dari saliva, pasta amilum, reagen iodium


dan reagen benedict!.
Fungsi dari :
 Saliva; mengandung enzim untuk proses pencernaan kimiawi
karbohidrat.
 Pasta amilum; untuk mengetahui proses pencernaan amilum di
dalam mulut oleh saliva.
 Reagen iodium; menguji kandungan amilum.
 Reagen benedict; menguji keberadaan glukosan dalam makanan.
b. Jelaskan mekanisme pencernaan karbohidrat di dalam mulut? Berikan
penjelasan tahap pemecahan karbohidrat di dalam mulut! (enzim apa yang
berperan dan sampai manakan pemecahan amilum/karbohidrat).

Proses pencernaan karbohidrat dimulai dari rongga mulut. Makanan


yang mengandung karbohidrat dikunyah di dalam rongga mulut sehingga
bercampur dengan air ludah. Air ludah mengandung enzim amilase, enzim
yang berfungsi mengurai karbohidrat menjadi glukosa. Adapun jika
pengunyahan dilakukan lebih lama, oleh amilase karbohidrat umumnya
langsung diubah menjadi maltosa.

3. a. Jelaskan fungsi dari putih telur, larutan pepsin, HCl 0,4%! Jelaskan
reaksi pencernaan yang terjadi!
Putih telur; sebagai penyediaan protein,
Larutan pepsin; mengubah protein menjadi pepton,
HCl 0,4% ; mempertahankan pH agar tetap asam.
Reaksi yan terjadi protein dicerna menjadi asam amino oleh enzim
peptida. Pencernaan protein dimulai dari lambung oleh pepsin pada pH
2-3 menjadi pepton dan pepteosa. Lalu tripsin yang disekresi oleh
pankreas merubah protein menjadi polipeptida kecil. Pelepasan
pepsinogen bersamaan dengan HCl akan memungkinkan aktivitas
pepsinogen menjadi pepsin. Hasil akhir dari pencernaan protein adalah
asam amino.
4. Jelaskan fenomena yang terjadi pada masing-masing tabung!. Tabung
manakah yang menggambarkan kondisi optimum aktivitas pepsin?,
mengapa demikian?.
Fenomena yang terjadi pada tabung ke-:
 Satu, larutan bening dan terdapat gumpalan putih. Pada biuret
berwarna ungu pekat.
 Dua, larutan sama seperti pada tabung kesatu namun warna pada
biuret berwarna biru.
 Tiga, larutan masih sama sepereti sebelumnya. Warna pada biuret
berwarna ungu pucat.
 Empat, larutan masih bening dan terdapat gumpalan putih. Pada
biuret berwarna biru pekat.
 Lima, larutan hanya bening saja dan pada biuret berwarna biru.

Untuk pencampuran tabung kesatu, kedua, dan ketiga timbul warna ungu.
Dan ketika ditambah biuret menjadi berwarna ungu. Dari data yang kita
miliki menyatakan pada tabung kesatu yang memiliki warna yang paling
ungu yang menggambarkan terjadinya proses penguraian protein,
sedangkan pada literatur seharusnya tabung ketiga yng memiliki warna
ungu yang lebih pekat.

Mengapa demikian, karena pada tabung kesatu protein yang ada sudah
rusak sebagian terlebih dahulu oleh HCl. Untuk perbedaan dengan
literatur, mugkin ada kesalah dari praktikan ataupun factor lainnya.

5. Amati perbedaan kecepatan pencernaan oleh pankreatin terhadap albumin


dengan serum darah. Manakah yang lebih cepat terurai?. Berikan
kesimpulan atas fenomena yang terjadi?, jelaskan fungsi penggunaan
reagen biuret?.
Dari hasil pengamatan bahwa kecepatan pencernaan lebih cepat terurai
pada albumin, padahal seharusnya yang lebih cepat terurai adalah pada
serum darah karena serum darah memiliki ukuran partikel serum darah
lebih kecil.
Reagen biuret digunakan untuk melihat perbedaan kecepatan antara
albumin dan serum dengan adanya perubahan warna.
6. Jelaskan pentingnya emulsifikasi lemak dalam membantu proses
pencernaan!
Pentingnya emulsifikasi karena, suatu zat hanya bisa diserap jika dapat
larut dalam air, sedangkan lemak tidak larut dalam air. Maka dari itu
emulsifikasi diperlukan untuk mengubah lemak menjadi asam lemak dan
gliserol sederhana.

Anda mungkin juga menyukai