Anda di halaman 1dari 41

BAGIAN ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN Agustus 2019


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

PRE EKLAMPSIA BERAT

Disusun Oleh:
Gina Revana Dwi Aprilia, S.Ked
10542 0486 13

Pembimbing:
DR. dr. H. Nasrudin A. M, Sp.OG(K), MARS

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik Pada


Bagian Obstetri dan Ginekologi

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2019

i
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa :

Nama : Gina Revana Dwi Aprilia, S.Ked

NIM : 10542 0486 13

JudulLaporanKasus : Pre-Eklampsia Berat

Telah menyelesaikan tugas tersebut dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu

Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, Agustus 2019

Pembimbing,

DR. dr. H. Nasrudin A.M, Sp.OG.(K), MARS

2
PENDAHULUAN

Hipertensi yang diinduksi kehamilan merupakan kontributor utama morbiditas


dan mortalitas ibu dan perinatal. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa
setidaknya satu wanita meninggal setiap tujuh menit dari komplikasi gangguan
hipertensi kehamilan.1

Gangguan hipertensi selama kehamilan terjadi pada sekitar 10% wanita hamil,
dengan preeklamsia terlihat pada 2-8% dari semua kehamilan. Setiap tahun lebih dari
50.000 wanita di seluruh dunia meninggal selama kehamilan karena komplikasi yang
terkait dengan hipertensi. Di negara-negara maju, hipertensi arteri dan preeklamsia
adalah penyebab langsung kedua dari kematian sebelum dan sesudah kelahiran karena
persalinan premature.2

Gangguan hipertensi menempati urutan ke-4 dalam daftar penyebab kematian


ibu dalam dekade terakhir. Selain itu, mereka menyebabkan morbiditas dan kecacatan
ibu dan janin yang parah.2

Hipertensi pada kehamilan adalah tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg atau
tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg atau keduanya. Peningkatan tekanan darah sistolik
dan diastolik penting dalam identifikasi hipertensi yang diinduksi kehamilan.
Hipertensi yang diinduksi kehamilan adalah hipertensi yang terjadi setelah 20 minggu
kehamilan pada wanita dengan tekanan darah yang sebelumnya normal. Klasifikasi
luas hipertensi yang diinduksi kehamilan selama kehamilan adalah hipertensi
gestasional, pre-eklampsia dan eklampsia. Tiga karakteristik utama dari kondisi
hipertensi yang diinduksi kehamilan adalah tekanan darah tinggi, protein dalam urin
dan edema patologis.1

Nulipara, kehamilan kembar, riwayat hipertensi kronis, diabetes gestasional,


malformasi janin, obesitas, usia ibu yang ekstrem (kurang dari 20 atau lebih dari 40

3
tahun), riwayat hipertensi pada kehamilan sebelumnya dan penyakit kronis seperti
penyakit ginjal, diabetes mellitus, penyakit jantung , hipertensi kronis yang tidak
dikenali, riwayat keluarga positif preeklamsia yang menunjukkan kerentanan genetik,
stres psikologis, penggunaan alkohol, artritis rematik, berat badan dan berat badan
berlebih, asma dan status sosial ekonomi yang rendah adalah faktor risiko hipertensi
pada kehamilan.1

Hipertensi berat meningkatkan risiko ibu gagal jantung, serangan jantung, gagal
ginjal, dan kecelakaan pembuluh darah otak. Selain itu, janin berisiko lebih tinggi dari
komplikasi seperti transfer oksigen plasenta yang buruk, hambatan pertumbuhan,
kelahiran prematur, solusio plasenta, lahir mati dan kematian bayi baru lahir.1

4
LAPORAN KASUS

Identitas

Nama : Ny. JS
Usia : 27 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : IRT
Pendidikan terakhir : SMA
Agama : Islam
Suku : Makassar
Alamat : -
MRS : 8 Juli 2019 (Pukul 15.15 WITA)

Anamnesis

Keluhan Utama :

Sakit kepala

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien masuk RSIA Sitti Khadijah pada tanggal 8 Juli 2019 pukul 15.15 WITA.
Pasien datang dengan keluhan sakit kepala (+) sejak 1 hari lalu. Penglihatan kabur (-),
nyeri ulu hati (-). Nyeri perut tembus kebelakang (-), pelepasan darah (-), lendir (-), air
ketuban (-). Riwayat mual (-), muntah (-). Riwayat ANC >4x, TT : 1x, riwayat
kontrasepsi (-), riwayat penyakit hipertensi pada kehamilan sebelumnya (-), DM (-),
alergi (-), asma (-).

Riwayat Obstetri :

1) 2019/Kehamilan saat ini

5
Riwayat Penyakit Dahulu :

Riwayat Hipertensi (-), penyakit ginjal (-), penyakit jantung (-), DM (-), asma (-), alergi
(-), Operasi (-), riwayat konsumsi obat-obatan (-), riwayat hipertensi kehamilan
sebelumnya (-).

Riwayat Penyakit Keluarga :

Menurut pasien di keluarga pasien tidak ada yang memiliki riwayat melahirkan dengan
tekanan darah yang tinggi.
Riwayat Alergi :

Pasien mengatakan tidak mempunyai alergi terhadap obat-obatan dan makanan.


Riwayat Kontrasepsi :

Pasien tidak menggunakan metode kontrasepsi apapun

Riwayat Ginekologi :

- Pasien menikah pada umur 24 tahun, pernikahan yang pertama, sudah menikah
selama 2 tahun lebih.
- Haid pertama Usia 13 tahun, teratur, saat haid tidak nyeri, lama haid 7 hari. Siklus
haid 28 hari, HPHT 13 Januari 2019.
Riwayat ANC :
Berdasarkan dari anamnesis pasien mengatakan bahwa pasien rutin melakukan
pemeriksaan antenatal care (ANC) yaitu setiap bulan, namun berdasarkan catatan
perkembangan pasien yang tertulis dalam buku kehamilan, pasien melakukan antenatal
care (ANC) sebanyak 2 kali hingga usia kehamilan sekarang.

6
Berikut ringkasan pemeriksaan ANC pada pasien.

Tanggal Keluhan Tekanan Darah BB


Sekarang
01/07/2019 - 160/110 mmHg 65 kg
08/07/2019 - 170/110 mmHg 67 kg

Tabel 1. Riwayat ANC di Praktek

Status Generalis

Keadaan umum : Baik


Kesadaran : Compos mentis, GCS E4M6V5
Berat Badan : 67 kg
Tinggi Badan : 150 cm (IMT : 29,8/ BB lebih)
Tanda – Tanda Vital
- Tekanan darah : 170/110 mmHg
- Frekuensi nadi : 80 x/menit
- Frekuensi napas : 20 x/menit
- Suhu : 36,6oC

Pemeriksaan Fisik Umum

- Mata : Konjungtiva anemis (-/-), ikterus (-/-)


- Jantung : BJ I dan II reguler, gallop (-), murmur (-)
- Paru : Vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)
- Ekstremitas : Edema - - akral teraba hangat + +
+ + + +

Pemeriksaan Luar
TFU : 13 cm (1 jari atas pusat)
LP : 82 cm

7
TBJ : 1066 gram
Punggung : Kanan
DJJ : 154 x/i
HIS :-
Bagian terbawah : Kepala
Janin : Kesan tunggal
Perlimaan :-
Gerakan Janin : (+) Dirasakan ibu

Pemeriksaan Dalam Vagina


Tidak dilakukan pemeriksaan

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Darah Lengkap :

 Hb : 11.6 g/dL  n : 12-14 g/dL


 Lekosit : 8.3 ribu/uL  n : 4-10 ribu/uL
 Trombosit : 175.000/ uL  n : 150000-450000/ uL
 HbsAg : Non Reaktif  n : Non Reaktif
 Proteinuria : Positif (2+)

Ultrasonografi (USG) Abdomen :

 Di RS Sitti Khadijah tanggal 08/07/2019 :

Gravid tunggal hidup intrauterine, presentasi kepala, punggung kanan, amnion cukup
SDP = 5 cm, plasenta di anterior. EFW 526 gr, GA : 24 minggu.

Diagnosis
- Diagnosis masuk : G1P0A0 gravid 25 minggu 1 hari + belum inpartu + PEB

8
Prognosis
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad fungsional : dubia ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam
Penatalaksanaan
 Observasi Djj
 Protap PEB
o Loading dose : drips 4gr MgSo4 40% dalam 100cc NaCl 0,9% 73 tpm habis
dalam 30 menit
o Maintenance dose : 6 gr MgSo4 40% dalam RL 500cc 28 tpm selama 6 jam
 Nifedipin 3x10 mg
 Dexametason 6 mg/12 jam/ im

Resume

Seorang pasien JS usia 27 tahun kehamilan G1P0A0 masuk RSIA Sitti


Khadijah 1 pada tanggal 8 Juli 2019 pukul 15.15 WITA. Pasien dating dengan keluhan
sakit kepala (+) dirasakan sejak 1 hari yang lalu. Penglihatan kabur (-), nyeri ulu hati
(-). Nyeri perut tembus kebelakang (-), pelepasan darah (-), lendi9ender air ketuban (-
). Riwayat mual (-), muntah (-). Riwayat ANC >4x, TT: 1x, riwayat kontrasepsi (-
),riwayat penyakit hipertensi pada kehamilan sebelumnya (-), DM (-), alergi (-), asma
(-).

Riwayat Obstetri 2019 (kehamilan saat ini). Riwayat penyakit sebelumnya


riwayat hipertensi (-), penyakit ginjal (-), penyakit jantung (-), DM (-), asma (-), alergi
(-), Operasi (-), riwayat konsumsi obat-obatan (-). Riwayat penyakit keluarga, menurut
pasien di keluarga pasien tidak ada yang memiliki riwayat melahirkan dengan tekanan
darah yang tinggi. Riwayat alergi, pasien mengatakan tidak mempunyai alergi terhadap

9
obat-obatan dan makanan. Riwayat ginekologi Pasien menikah pada umur 24 tahun,
pernikahan yang pertama, sudah menikah selama 2 tahun lebih. Haid pertama Usia 13
tahun, teratur, saat haid tidak nyeri, lama haid 7 hari. Siklus haid 28 hari, HPHT 13
Januari 2019.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, kesadaran compos
mentis, GCS E4M6V5, Berat badan 67 kg, Tinggi Badan 150 cm ( IMT 29,8/ BB
lebih), Tekanan Darah 170/110 mmHg, Frekuensi Nadi 80 x/menit, Frekuensi napas
20 x/menit, Suhu 36,6oC. Pemeriksaan luar didapatkan 13 cm (1 jari atas pusat), LP 82
cm, TBJ 1066 gr, punggung kanan, Gerakan janin dirasakan ibu (+). Pemeriksaan
dalam vagina tidak dilakukan.
Pemeriksaan laboratorium berupa darah lengkap ditemukan Hb 11.6 g/dl,
Leukosit 8.3 ribu/uL, Trombosit 175.000/uL, HbsAg non Reaktif, Proteinuria Positif
(2+).
Kemudian diberikan terapi observasi Djj, Protab PEB: Loading dose; drips 4gr
MgSo4 40% dalam 100cc NaCl 0,9% 73 tpm habis dalam 30 menit, Maintenance dose;
6 gr MgSo4 40% dalam RL 500cc 28 tpm selama 6 jam, Nifedipin 3x10 mg,
Dexametason 6 mg/12 jam/ im.

10
PEMBAHASAN

Preeklampsia merupakan sindrom spesifik-kehamilan berupa berkurangnya

perfusi organ akibat vasospasme dan aktivasi endotel, yang ditandai dengan hipertensi

yang timbul setelah 20 minggu kehamilan disertai dengan proteinuria. Preeklampsia

dapat dikaitkan dengan banyak tanda dan gejala lain, termasuk gangguan penglihatan,

sakit kepala, nyeri epigastrium, dan perkembangan edema yang cepat. Penyakit ini

dapat dibagi menjadi bentuk ringan dan berat, sesuai dengan tingkat keparahan dan

jenis gejala yang disajikan. Bentuk ringan pre-eklampsia ditandai oleh tekanan darah

sistolik 140 mmHg atau tekanan darah diastolik 90 mmHg, dan proteinuria > 300 mg

/ 24 jam. Bentuk pre-eklampsia yang parah ditandai dengan hipertensi berat (SBP> 160

mmHg atau DBP> 110 mmHg), atau proteinuria berat (> 2 g / 24 jam).3,4

Pada kasus ini, pasien mengatakan rutin melakukan pemeriksaan ANC dan

pada kunjungan tersebut didapatkan tekanan darah dalam batas normal. Pasien

mengatakan mengalami kenaikan tekanan darah pada saat usia kehamilannya di atas

20 minggu atau usia kehamilan ibu sekitar 5 bulan keatas. Dari pemeriksaan

laboratorium juga didapatkan protein pada urin yaitu (+2) yang menjadi penanda

bahwa terdapat gangguan system organ lain pada tubuh.

11
Terdapat beberapa faktor yang terbukti menigkatkan risiko preeklampsia. Faktor

risiko tersebut meliputi; 5,6,7

1. Usia
Kejadian preeklampsia berdasarkan usia banyak ditemukan pada kelompok
usia ibu yaitu kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun. Usia wanita >35 tahun
meningkatkan frekuensi kejadian preeklampsia sebesar 10-20%. Usia 20-30 tahun
adalah periode paling aman untuk melahirkan. Hipertensi karena kehamilan paling
sering mengenai wanita nulipara. Wanita yang lebih tua, yang dengan
bertambahnya usia akan menunjukkan peningkatan insiden hipertensi kronis,
menghadapi risiko yang lebih besar untuk menderita hipertensi karena kehamilan.

2. Primigravida
Dari kejadian 80% semua kasus hipertensi pada kehamilan, 3-8% pasien
terutama pada primigravida, pada kehamilan trimester kedua. Catatan statistik
menunjukkan dari seluruh insiden dunia, dari 5%-8% pre-eklampsia dari semua
kehamilan, terdapat 12% lebih dikarenakan oleh primigravida. Faktor yang
mempengaruhi pre-eklampsia frekuensi primigravida lebih tinggi bila
dibandingkan dengan multigravida, terutama primigravida muda. Pada The New
England Journal of Medicine tercatat bahwa pada kehamilan pertama risiko terjadi
preeklampsia 3,9%, kehamilan kedua 1,7%, dan kehamilan ketiga 1,8%.

Pada kasus ini, pasien merupakan primigravida. Ini sesuai dengan faktor

resiko dimana preeklamsia pada primigravida lebih tinggi dibandingkan dengan

multigravida.

12
3. Riwayat preeklampsia sebelumnya
Wanita dengan riwayat preeklampsia pada kehamilan pertamanya
memiliki risiko 5 sampai 8 kali untuk mengalami preeklampsia lagi pada
kehamilan keduanya. Sebaliknya, wanita dengan preeklampsia pada kehamilan
keduanya, maka bila ditelusuri ke belakang ia memiliki 7 kali risiko lebih besar
untuk memiliki riwayat preeklampsia pada kehamilan pertamanya bila
dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami preeklampsia di kehamilannya
yang kedua. Kehamilan pada wanita dengan riwayat preeklampsia sebelumnya
berkaitan dengan tingginya kejadian preeklampsia berat, preeklampsia onset dini,
dan dampak perinatal yang buruk.

4. Riwayat keluarga preeklampsia


Risiko preeklamsia meningkat dari 2 kali lipat menjadi 4 kali lipat jika
seorang ibu memiliki keluarga dengan riwayat medis preeklamsia.

5. Obesitas.
Obesitas merupakan faktor risiko yang telah banyak diteliti terhadap
terjadinya preeklampsia. Risiko preeklampsia meningkat sebesar 2 kali lipat setiap
peningkatan IMT sebesar 5-7 kg/m2. Wanita dengan IMT > 35 sebelum kehamilan
memiliki resiko 4 kali lipat mengalami preeklampsia dibandingkan dengan wanita
dengan IMT 19-27. Beberapa penelitian juga menemukan bahwa pada wanita
dengan IMT <20, maka risiko preeklampsianya berkurang.

Pada kasus ini, pasien memiliki berat badan 67 kg dengan tinggi badan

150 cm. jika diukur Indeks Massa Tubuh (IMT) yaitu 29,8. Hasil ini jika

diinterpretasikan maka termasuk BB lebih. Walaupun belum masuk dalam ketgori

13
Obesitas namun Indeks Massa Tubuh pasien tersebut sudah mendekati obesitas

yang merupakan faktor resiko preeklamsia.

6. Hiperplasentosis, misalnya : kehamilan multiple


Preeklampsia dan eklampsia 3 kali lebih sering terjadi pada kehamilan
ganda dari 105 kasus kembar dua didapat 28,6% preeklampsia dan satu kematian
ibu karena eklampsia. Dari penelitian Agung Supriandono dan Sulchan Sofoewan
menyebutkan bahwa 8 (4%) kasus preeklampsia berat mempunyai jumlah janin
lebih dari satu, sedangkan pada kelompok kontrol, 2 (1,2%) kasus mempunyai
jumlah janin lebih dari satu. Kehamilan multipel merupakan faktor risiko
tambahan; kehamilan triplet adalah risiko yang lebih besar daripada kehamilan
kembar.

7. Penyakit-penyakit ginjal dan hipertensi yang sudah ada sebelum hamil


Faktor risiko kardiovaskular klasik juga dikaitkan dengan peningkatan
kemungkinan terjadinya preeklampsia, ibu yang berusia lebih dari 40 tahun,
diabetes, obesitas, dan hipertensi pra-persalinan. Peningkatan prevalensi hipertensi
kronis dan penyakit medis komorbid lain pada wanita yang lebih tua dari 35 tahun
dapat menjelaskan peningkatan frekuensi preeklamsia pada wanita yang lebih tua.
Perbedaan ras dalam kejadian dan beratnya preeklamsia sulit untuk dinilai karena
faktor sosial ekonomi dan budaya yang membingungkan.

Patomekanisme yang menjadi perjalanan dalam timbulnya preeklampsia yaitu


plasentasi dan invasi trofoblas pada jaringan ibu melibatkan dua proses penting,
pertama vaskularisasi untuk membentuk jaringan vaskuler fetoplasenta. Kedua, invasi
citotrofoblas dan endovaskuler trofoblas pada arteri spiralis ibu. Pada saat implantasi,
sel trofoblastik mengalami diferensiasi menjadi citotrofoblas dan synsitiotrofoblas.
Sitotrofoblas akan membentuk trofoblas ekstavillus, yang akan menginvasi sel desidua

14
dan zona segmen junctional myometrium, lapisan ketiga dalam myometrium dan arteri
spiralis. Endovaskular trofoblas akan memicu remodelling pada sel endotel, sehingga
terjadi penurunan elastisitas pada lamina otot polos yang menyebabkan terjadinya
peningkatan resistensi perifer, dari system vaskuler aliran rendah menjadi resistensi
rendah aliran tinggi yang penting untuk pertumbuhan fetus yang normal.7

Gambar 1. Invasi Trofoblas pada Arteri Spiralis Normal dan Preeklamsia

Patofisiologi preeklamsia dibagi kedalam 2 tahap, yang pertama ialah


terjadinya perfusi plasenta yang buruk sehingga menyebabkan terjadinya pelepasan
sitokin pro-inflamasi dan faktor angiogenik kedalam sirkulasi maternal dan yang kedua
ialah terjadinya perkembangan disfungsi endotel ibu dan hipertensi yang menghasilkan
gejala dan tanda terjadinya preeklamsia.5

15
Invasi trofoblas yang tidak tepat akan menyebabkan arteri spiralis tetap dalam
keadaan resistensi vascular yang tinggi sehingga mengakibatkan penurunan perfusi
darah ke plasenta dan mengakibatkan terjadinya iskemik plasenta dan akan
menyebabkan stress oksidatif. Stress oksidatif akan menyebabkan plasenta melepaskan
substansi kedalam sirkulasi maternal yang memiliki efek merusak. Peningkatan sitokin
proinflamasi menyebabkan peningkatan respons inflamasi sistemik maternal dan
peningkatan tingkat sirkulasi reseptor terlarut.7

Perubahan Sistem dan Organ yang dapat dijumpai pada Preeklampsia adalah:3,5

a. Volume Plasma
Pada hamil normal volume plasma meningkat dengan bermakna (hipervolemia),
untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan janin. Peningkatan tertinggi volume
plasma terjadi pada usia kehamilan 32-34 minggu. Namun pada hipertensi dalam
kehamilan terjadi penurunan volume plasma antara 30-40% dibanding hamil
normal, disebut hipovolemia. Hipovolemia diimbangi dengan vasokonstriksi
yang menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah.
b. Hipertensi
Tekanan diastolik menggambarkan resistensi perifer, sedangkan tekanan sistolik
menggambarkan besaran curah jantung. Tekanan darah bergantung terutama
pada curah jantung, volume plasma, resistensi perifer, dan viskositas darah.
Hipertensi dapat terjadi akibat vasospasme menyeluruh dengan ukuran tekanan
darah ≥140/90 mmHg selang 6 jam.
c. Fungsi Ginjal
Perubahan fungsi ginjal terjadi akibat menurunnya aliran darah ke ginjal akibat
hipovolemia, sehingga terjadi oliguria, bahkan anuria; kerusakan sel glomerulus
mengakibatkan meningkatnya permeabilitas membran basalis sehingga terjadi
kebocoran dan mengakibatkan proteinuria; terjadi pembengkakan disertai

16
deposit fibril sehingga menyebabkan adanya endoteliosis kapiler glomerulus;
gagal ginjal akut akibat nekrosis tubulus ginjal; serta adanya kerusakan intrinsik
jaringan ginjal akibat vasospasme pembuluh darah.
d. Elektrolit
Kadar elektrolit total menurun pada waktu hamil normal. Pada hipertensi dalam
kehamilan, elektrolit total sama seperti hamil normal, kecuali bila diberi
diuretikum banyak, restriksi konsumsi garam, atau pemberian cairan oksitosin
yang bersifat antidiuretik. Preeklampsia berat yang mengalami hipoksia dapat
menimbulkan gangguan keseimbangan asam basa.
e. Tekanan Osmotik Koloid Plasma/Tekanan Onkotik
Osmolaritas serum dan tekanan onkotik menurun pada usia kehamilan 8 minggu.
Pada preeklampsia tekanan onkotik makin menurun karena kebocoran protein
dan peningkatan permeabilitas vaskular.
f. Viskositas Darah
Komponen yang menentukan viskositas darah adalah volume plasma, molekul
makro: fibrinogen dan hematokrit. Pada hipertensi dalam kehamilan, terjadi
peningkatan viskositas darah yang meningkatkan resistensi perifer serta
menurunkan aliran darah ke organ.
g. Hematokrit
Pada kehamilan fisiologis, terjadi penurunan hematokrit karena hipervolemia,
kemudian meningkat lagi pada trimester III akibat peningkatan produksi urin.
Pada hipertensi dalam kehamilan, terjadi peningkatan hematokrit karena
hipovolemia.
h. Edema
Edema seringkali dijumpai pada kehamilan, 40% edema terjadi pada hamil
normal, 60% pada kehamilan dengan hipertensi, dan 80% pada kehamilan
dengan hipertensi dan proteinuria. Edema terjadi akibat hipoalbuminemia atau
kerusakan sel endotel kapiler. Edema yang bersifat patologik adalah edema yang

17
nonedependen pada muka dan tangan, atau edema generalisata, dan disertai
dengan kenaikan berat badan yang cepat.
i. Hematologik
Perubahan hematologik terjadi oleh karena adanya hypovolemia akibat
vasospasme, hipoalbuminemia, hemolisis mikroangiopatik akibat spasme
arteriol dan hemolisis akibat kerusakan endotel. Hal ini akan menyebabkan
peningkatan hematokrit. Terkadang pada hipertensi kehamilan dapat terjadi
penurunan trombosit <100.000 sel/ml yang disebut dengan trombositopenia,
yang dapat mengarah kepada hemolisis dan destruksi eritrosit.
j. Hepar
Hepar mengalami perubahan akibat adanya vasospasme, iskemia, dan
perdarahan. Perdarahan pada periportal lobus perifer akan menyebabkan nekrosis
sel hepar dan peningkatan enzim hepar. Perdarahan ini dapat meluas hingga di
bawah kapsula hepar (subkapsular hematoma) yang menimbulkan rasa nyeri di
daerah epigastrium dan dapat menyebabkan ruptur hepar, sehingga perlu
dilakukan pembedahan.
k. Neurologik
Perubahan neurologik yang terjadi pada hipertensi dalam kehamilan yaitu nyeri
kepala akibat edema vasogenik oleh karena hiperperfusi otak; gangguan visus
karena spasme arteri retina dan edema retina; hiperrefleksia; kejang eklamptik;
dan perdarahan intrakranial yang dapat terjadi pada preeklampsia berat dan
eklampsia.
l. Kardiovaskular
Perubahan kardiovaskular disebabkan oleh peningkatan afterload akibat
hipertensi dan penurunan preload akibat hipovolemia.
m. Paru
Penderita preeklampsia berat berisiko mengalami edema paru akibat payah
jantung kiri, kerusakan sel endotel pembuluh darah kapiler paru, dan menurunnya
diuresis.

18
n. Janin
Preeklampsia dan eklampsia umumnya menyebabkan penurunan perfusi utero
plasenta, hipovolemia, vasospasme dan kerusakan sel endotel pembuluh darah
plasenta. Oleh sebab itu seringkali dijumpai janin mengalami intrauterine growth
restriction (IUGR) dan oligohidramnion, kelahiran prematur, yang berarti
meningkatkan morbiditas dan mortalitas janin.

Pada kasus ini, pada pemeriksaan fisis ditemukan edema pada ekstremitas bawah
kiri dan kanan, keadaan ini menunjukkan bahwa terjadi hipoalbuminea pada pasien
ini yang disebakan oleh gangguan fungsi ginjal yang di tandai dengan adanya
proteinuria positif (+2).

Adapun klasifikasi lain yang termasuk kedalam hipertensi dalam kehamilan dan
dapat dijadikan diagnosis banding untuk kasus preeklampsia yaitu;5,8,9

 Hipertensi kronik adalah hipertensi pada ibu hamil yang sudah ditemukan sebelum
kehamilan atau yang ditemukan pada umur kehamilan kurang dari 20 minggu, dan
yang menetap setelah 12 minggu pasca persalinan.
 Preeklamsi/eklamsi atas dasar hipertensi kronis adalah timbulnya preeklamsi atau
eklamsi pada pasien hipertensi kronik.
 Hipertensi gestasional adalah timbulnya hipertensi dalam kehamilan pada wanita
yang tekanan darah sebelumnya normal dan tidak mempunyai gejala-gejala
hipertensi kronik atau preeklamsi/eklamsi (tidak disertai proteinuri). Gejala ini
akan hilang dalam waktu < 12 minggu pascasalin.

19
Penatalaksanaan pada preeklamsia berdasarkan Panduan Praktik Klinik Hipertensi,
dalam Kehamilan yakni;10

1. Medikamentosa
a. Infus larutan ringer laktat
b. Pemberian obat :
1) MgSo4
Pemberian melalui intravena secara kontinyu (infus dengan infusion
pump)
a) Dosis Awal :
4 gram MgSO4 40% dalam 100 cc NaCl dan habis dalam 30 menit
sebanyak 73 tetes per menit. Namun, berdasarkan Panduan Praktik
Klinik Hipertensi dalam Kehamilan tahun 2018 loading dose pada
pemberian MgSO4 yaitu 4 gram MgSO4 (10cc MgSO4 40%)
dilarutkan kedalam 100cc Ringer Laktat, diberikan selama 15-20
menit. (Tetesan  50 gtt/permenit).
b) Dosis Pemeliharaan :
6 gr MgSO4 (15ml larutan MgSO4 40%) dan larutkan dalam 500 ml
larutan Ringer Laktat/Ringer Asetat, lalu berikan IV dengan
kecepatan 28 tetes/menit selama 6 jam, dan diulang hingga 24 jam
setelah persalinan atau kejang berakhir (bila eklampsia).12,13 Namun
berdasarkan Panduan Praktik Klinik Hipertensi dalam Kehamilan
tahun 2018 dosis rumatan MgSO4 saat ini yaitu 10 gram (25 cc
MgSO4 40%) dalam 50cc cairan RL, diberikan dengan kecepatan 1-
2 gram/jam (20-30 tetes permenit).

Pada kasus ini, terapi yang diberikan telah sesuai berdasarkan protap
preeklampsia berat yaitu pada dosis awal dengan pemberian 4 g MgSO4 40% dalam
100cc NaCl 0,9% dengan 73 tts/menit dan habis dalam 30 menit. Kemudian diberikan

20
dosis pemeliharaan 6 gr MgSO4 40% dalam 500 cc Ringer Laktat selama 6 jam 28
tts/menit.

 Syarat-syarat pemberian MgSO4:6


- Harus tersedia antidotum MgSO4 yaitu kalsium glukonas 10% (1 gram dalam
10cc) diberikan IV dalam waktu 3-5 menit.
- Reflex Patella (+) kuat
- Frekuensi Pernapasan  16x per menit
- Produksi urin  30cc dalam 1 jam sebelumnya (0,5 cc/kgBB/jam)
 Magnesium sulfat dihentikan bila:10
- Ada tanda-tanda intoksikasi
- Setelah 24 jam post partum
- Dalam 6 jam post partum sudah terjadi perbaikan tekanan darah
(Normotensif)
2) Pemberian Antihipertensi10,11
Diberikan terutama bila tekanan darah mencapai

 Sistolik  160 mmHg


 Diastolik  110 mmHg
Dapat diberikan : (Gawat Darurat)

- Nifedipin : 10 mg per oral dan dapat diulangi setiap 30 menit


(maksimal 120mg/24 jam) sampai terjadi penurunan MABP 20%.
Selanjutnya diberikan dosis rumatan 3x10mg (pemberian nifedipine
tidak diperkenankan diberikan secara sublingual
- Nikardipine diberikan bila tekanan darah  180/110 mmHg atau
hipertensi emergensi dengan dosis 1 ampul 10 mg dalam larutan 50cc
per jam atau 2 ampul 10 mg dalam larutan 100cc tetes per menit
mikro drip. Pelarut yang tidak dapat digunakan adalah ringer lakta
dan bikarbonat natrikus.

21
Pada kasus ini, pasien juga diberikan antihipertensi yaitu nifedipin 3x10 mg

2. Pengelolaan Konservatif
a. Indikasi
Kehamilan preterm (<34 minggu) tanpa disertai tanda-tanda impending
eklamsi dengan keadaan janin baik.
b. Pengobatan medikamentosa :
Sama dengan perawatan medikamentosa secara aktif. Pemberian MgSO4
dihentikan bila sudah mencapai tanda-tanda preeklampsi, selambat lambatnya
dalam waktu 24 jam.
c. Pengelolaan Obstetrik
1) Selama perawatan konservatif, tindakan observasi dan evaluasi sama
seperti perawatan aktif, termasuk pemeriksaan tes tanpa kontraksi dan
USG untuk memantau kesejahteraan janin.
2) Bila setelah 2 kali 24 jam tidak ada perbaikan maka keadaan ini dianggap
sebagai kegagalan perawatan konservatif pengobatan medikamentosa dan
sangat dianjurkan untuk dilakukan terminasi.

Pada kasus ini, usia kehamilan ibu berdasarkan HPHT yaitu 25 minggu 1
hari sedangkan menurut USG yaitu 24 minggu dan keadaan janin baik sehingga
di beri terapi konservatif berupa Dexametason 6 mg/12j/im untuk pematangan
paru dan tidak dilakukan terminasi karena terjadi perbaikan dalam 2 kali 24 jam.

3. Pengelolaan Aktif6
Indikasi : Bila didapatkan satu/lebih keadaan dibawah ini:
1) Ibu

22
- Kehamilan > 34 minggu (dengan kortikosteroid selama 2 hari telah
diberikan, dan memberitahu bagian perinatology sebelum terminasi
kehamilan)
- Adanya gejala-gejala impending eklamsia
- Gagal perawatan konservatif
2) Janin
- Adanya tanda-tanda gawat janin
- Adanya tanda-tanda IUGR
3) Laboratorium
Adanya sindrom HELLP

4. Pengelolaan Obstetri (Cara terminasi kehamilan)


1) Gravid
a) Dilakukan induksi persalinan :
Bila skor bishop  6. Bila perlu dilakukan pematangan serviks dengan
misoprostol. Induksi persalinan harus sudah mencapai kala II dalam
waktu 24 jam. Bila tidak tercapai, induksi persalinan dianggap gagal, dan
harus disusul dengan seksio sesaria.
b) Indikasi seksio sesaria
1. Syarat persalinan pervaginam tidak terpenuhi
2. Terdapat kontraindikasi persalinan pervaginam
3. Induksi persalinan gagal
4. Terjadi gawat janin
5. Kelainan letak
6. Bila umur kehamilan < 34 minggu
2) Inpartu :
a) Perjalanan persalinan diikuti dengan grafik Friedman
b) Memperpendek kala II dengan menggunakan ekstraksi vakum atau
forceps kecuali bila terdapat indikasi

23
c) Seksio sesaria dilakukan apabila terdapat kegawatan ibu dan gawat janin
d) Bila skor bishop  6 direkomendasikan tindakan seksio sesaria.
e) Anestesia : disesuaikan dengan kemampuan sarana kesehatan.

Bagan 1.Tatalaksana preeklampsia berat

24
KESIMPULAN

Hipertensi dalam kehamilan memerlukan perhatian khusus karena merupakan

suatu masalah kesehatan utama pada wanita yang bersifat mengancam kehamilan dan

beresiko bagi janin. Penegakan diagnosis Hipertensi dalam Kehamilan perlu dilakukan

sedini mungkin, serta membutuhkan tatalaksana segera dengan pengawasan yang ketat

baik bagi ibu dan janinnya.

25
Kaidah Dasar Bioetika Dalam Pengambilan Keputusan Medis12

Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar salahnya
suatu sikap dan atau perbuatan seseorang individu atau institusi dilihat dari moralitas.
Beauchamp dan Childress (1994) menguraikan empat prinsip etika Eropa bahwa untuk
mencapai ke suatu keputusan etik diperlukan 4 kaidah dasar moral atau kaidah dasar
bioetik. Keempat kaidah dasar moral tersebut adalah: berbuat baik (beneficence), tidak
merugikan (non-maleficence), menghargai otonomi pasien (autonomy), dan berlaku
adil (justice).

1. Autonomy yaitu prinsip yang menghormati hak-hak pasien, terutama hak otonomi
pasien dan merupakan kekuatan yang dimiliki pasien untuk memutuskan suatu
prosedur medis. Prinsip moral inilah yang kemudian melahirkan doktrin informed
consent. Pasien harus dihormati secara etik, akan tetapi perlu diperhatikan bahwa
dibutuhkan pasien yang dapat berkomunikasi dan pasien yang sudah dewasa untuk
dapat menyetujui atau menolak tindakan medis.
Pada pasien ini, melalui informed consent, pasien menyetujui untuk
dilakukan rawat inap di rumah sakit untuk bisa memantau keadaan pasien.
Informed consent dapat dicapai setelah diberikan penjelasan mengenai keadaan
pasien bahwa saat ini pasien G1P0A0 gravid 25 minggu 1 hari + belum inpartu +
PEB dimana didapatkan tekanan darah 170/110 mmHg sehingga diperlukan
perhatian khusus terhadap keadaan ibu dan janinmya karena jika pre eklamsia
berat berlanjut dapat menyebabkan ibu kejang (eklamsia) dan kematian janin.

Autonomy menyaratkan bahwa pasien harus terlebih dahulu menerima dan


memahami informasi yang akurat tentang kondisi mereka, jenis tindakan medik
yang diusulkan, risiko, dan juga manfaat dari tindakan medis tersebut.

26
2. Non-maleficence (tidak merugikan) adalah prinsip menghindari terjadinya
kerusakan atau prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk keadaan
pasien. Pernyataan kuno First do no harm, tetap berlaku dan harus diikuti. Dokter
haruslah memilih tindakan yang paling kecil resikonya. “Do no harm” merupakan
point penting dalam prinsip non-maleficence. Prinsip ini dapat diterapkan pada
kasus-kasus yang bersifat gawat atau darurat seperti halnya pada pasien ini.
Preeklampsia berat merupakan suatu kegawat daruratan yang harus segera
ditangani karena memiliki komplikasi yang berbahaya bagi ibu dan janin.
Sehingga pada pasien ini diberikan penanganan awal dengan pemberian MgsO4
untuk mencegah ibu berlanjut jadi kejang (eklampsia) dan tidak hanya berguna
untuk menurunkan tekanan darah ibu namun juga sebagai neuroprotektor sehingga
tindakan ini merupakan jalan untuk mencegah perburukan pasien untuk mencegah
terjadinya komplikasi lanjutan.

3. Beneficence (murah hati) yaitu prinsip moral mengutamakan tindakan yang


ditujukan ke kebaikan pada pasien atau penyediaan keuntungan dan
menyeimbangkan keuntungan tersebut dengan risiko dan biaya. Dalam
beneficence tidak hanya dikenal perbuatan untuk kebaikan saja, melainkan juga
perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih besar daripada sisi buruknya
(mudharat). Dan memandang pasien tidak saja menguntungkan dokternya, serta
meminimalisasikan akibat buruk. Point utama dari prinsip beneficence sebenarnya
lebih menegaskan bahwa seorang dokter harus mengambil langkah atau tindakan
yang lebih banyak dampak baiknya daripada buruknya sehingga pasien
memperoleh kepuasan tertinggi. Dalam hal ini dokter telah melakukan yang
terbaik kepada pasien dalam upaya pengobatan. Dimana pasien telah diberikan
penatalaksanaan protap PEB yaitu pemberian 4 gr MgSO4 40% dalam 100cc NaCl
0,9% dengan 73 tts/menit dan habis dalam 30 menit. Kemudian diberikan dosis

27
pemeliharaan 6 gr MgSO4 40% dalam 500 cc Ringer Laktat selama 6 jam 28
tts/menit. Tindakan ini dilakukan agar pasien tetap terjaga kesehatannya dan
sebagai pencegahan agar pasien tidak masuk ke tahap lebih lanjut yaitu eklampsia
yang dapat memperburuk kondisi pasien.
Prinsip bioetik dimana seorang dokter melakukan suatu tindakan untuk
kepentingan pasiennya dalam usaha untuk membantu mencegah atau
menghilangkan bahaya atau hanya sekedar mengobati masalah-masalah sederhana
yang dialami pasien.

4. Justice atau keadilan adalah prinsip moral yang mementingkan faimess dan
keadilan dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya atau
pendistribusian dari keuntungan, biaya dan risiko secara adil dimana seorang
dokter wajib memberikan perlakuan sama rata serta adil untuk kebahagiaan dan
kenyamanan pasien tersebut. Perbedaan tingkat ekonomi, pandangan politik,
agama, kebangsaan, perbedaan kedudukan sosial, dan kewarganegaraan
tidak boleh mengubah sikap dan pelayanan dokter terhadap pasiennya. Dalam hal
ini, dokter dilarang membeda-bedakan pasiennya berdasarkan tingkat ekonomi,
agama, suku, kedudukan sosial, dsb. Pada kasus ini, dokter memberlakukan segala
sesuatu secara universal artinya dokter memberikan penanganan yang sama pada
semua pasien yang menderita penyakit yang sama dalam hal ini pasien pre
eklampsia berat dengan pemberian obat-obatan sesuai dengan protab yang ada
tanpa membedakan SARA, status sosial, dan sebagainya.
Pembuatan keputusan etik, terutama dalam situasi klinik dapat juga
dilakukan dengan pendekatan yang berbeda yang dikemukakan Jonsen, Siegler,
dan Winslade mereka mengembangkan teori etik yang menggunakan 4 topik

28
Pada topik etik Medical Indication penialaian aspek indikasi medis ini ditinjau dari
sisi etiknya, dan terutama menggunakan kaidah dasar bioetik beneficence dan non-
malificence. Adapun beberapa jawaban pertanyaan etik yang selayaknya disampaikan
kepada pasien ini pada informed consent.

1. Kenaikan tekanan darah pada pasien yaitu 170/110 mmHg yang dialami pasien
pada saat usia kehamilan >20 minggu. Ditemukannya peotein pada urin yaitu (+2).
2. Tujuan pengobatan untuk memperbaiki keadaan ibu dan janin, mencegah
komplikasi buruk yang dapat muncul
3. Rencana lain jika terapi gagal yaitu dilakukan terminasi kehamilan. Namun, sebisa
mungkin dilakukan yang terbaik agar tidak terjadi kegagalan dalam terapi.

Selanjutnya patient preference kita memperhatikan nilai (value) dan penilaian


tentang manfaat dan beban yang akan diterimanya, yang berarti cerminan kaidah
autonomy. Secara rinci jawaban pertanyaan etikanya adalah :
1. Pasien secara mental mampu dan kompeten secara legal dalam menyadari dan
memahami kondisi klinis yang saat ini dialaminya
2. Pasien menyetujui untuk di rawat inap di rumah sakit

29
3. Tentunya pasien telah mengetahui keuntungan serta kerugian dari tindakan yang akan
dilakukan serta efek samping yang dapat timbul melalui komunikasi yang baik antar
petugas medis dan pasien

Pada Quality of life merupakan aktualisasi salah satu tujuan kedokteran, yaitu
memperbaiki, menjaga atau meningkatkan kualitas hidup insani. Apa, siapa, dan
bagaimana melakukan penilaian kualitas hidup merupakan pertanyaan etik sekitar
prognosis, yang berkaitan dengan salah satu kaidah dasar bioetik yaitu Beneficence,
Non-malificence, dan Autonomy. Secara rinci :

1. Dalam hal ini dokter telah melakukan yang terbaik kepada pasien dalam upaya
pengobatan sehingga diharapkan dapat mencegah masuk kedalam keadaan yang
lebih lanjut yaitu kejang (eklamsia).
2. Upaya yang dilakukan pada kasus ini yaitu pemberian MgSO4, dimana MgSO4
ini memiliki beberapa efek samping, namun diharapkan manfaatnya lebih besar
daripada kerugian yang ditimbulkan.

Yang terakhir adalah contextual features. Prinsip dalam bagian ini adalah loyalty
and fairness. Disini dibahas pertanyaan etik seputar aspek non medis yang mempengaruhi
keputusan. Sesuai dengan kasus ini, jawaban dari pertanyaan etikanya adalah :
1. Dalam hal ini, tidak ada kendala dari luar yang didapatkan berupa masalah
penolakan dari keluarga dan lingkungan pasien yang dapat mempengaruhi
pengambilan keputusan pasien
2. Untuk masalah finansial juga tidak ditemukan masalah karena pada pasien
menggunakan jaminan kesehatan nasional dimana seluruh biaya perawatan
ditanggung oleh pemerintah
3. Tidak ada faktor religius, budaya, dan kepercayaan pada pasien dimana pasien pun
menganut agama Islam yang mengajarkan setiap umatnya untuk terus berusaha dan
tidak mudah menyerah karena segala penyakit diturunkan bersama dengan obatnya.

30
Secara kaidah bioetik islam juga didapatkan lima kaidah dasar yang meliputi
Kaidah Niat (Qaidah Niyyat), Kaidah Kepastian (Qaidah al yaqiin), Kaidah Kerugian
(Qaidah al dharar), Kaidah Kesulitan / Kesukaran (Qoidah al Masyaqqat)Kaidah
Kebiasaan (Qoidah al urf). Sementara itu Kaidah Dasar Bioetika Islam meliputi:

1. Kaidah Niat (Qaidah Niyyat).


Prinsip ini meminta dokter agar berkonsultasi dengan hati nuraninya. Terdapat
banyak masalah mengenai prosedur dan keputusan medis yang tidak diketahui
orang awam. Seorang dokter dapat saja melakukan suatu prosedur dengan alasan
yang mungkin masuk akal dari sudut pandang luar, namun sesungguhnya memiliki
niatan berbeda dan tersembunyi. Pada kasus ini dokter telah menentukan diagnosis
berdasarkan klinis medis yang tampak pada pasien sehingga dokter telah memiliki
keputusan untuk memberikan tindakan pada pasien. Pemberian penjelasan tentang
kondisi yang dihadapi oleh pasien, berupa adanya kenaikan tekanan darah yang
dialami pasien yaitu 170/110 mmHg yang memerlukan tindakan rawat inap agar
bisa memantau keadaan ibu dan janin serta pemberian terapi sehingga pasien
mengerti segala kemungkinan yang terjadi dengan tindakan medis yang diambil
semata-mata sebagai suatu tindakan untuk menyelamatkan ibu dan bayi yang
sedang dikandungnya.
2. Kaidah Kepastian (Qaidah al yaqiin).
Tidak ada yang benar-benar pasti (yaqiin) dalam ilmu kedokteran, artinya tingkat
kepastian (yaqiin) dalam ilmu kedokteran tidak mencapai standar yaqiin yang
diminta oleh hukum. Meskipun demikian diharapkan dokter dalam mengambil
keputusan medis, mengambil keputusan dengan tingkat probabilitas terbaik dari
yang ada (evidencebased medicine). Termasuk pula dalam hal diagnosis, perawatan
medis didasarkan dari diagnosis yang paling mungkin. Pastinya dalam hal
pengambilan tindakan medis dokter spesialis telah melihat segala kemungkinan
yang terjadi sebelum melakukan tindakan medis. Begitupun dalam kasus ini, dokter

31
mengambil kesimpulan diagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik
yang dirujuk berbasis evidencebased medicine.
3. Kaidah Kerugian (Qaidah al dharar)
a. Intervensi medis untuk menghilangkan al dharar (luka, kerugian, kehilangan
hari-hari sehat) pasien.
b. Tidak boleh menghilangkan al dharar dengan al dharar yang sebanding (al
dharar la yuzaal bi mitslihi)
c. Keseimbangan antara kerugian vs keuntungan. Pada situasi intervensi medis
yang diusulkan memiliki efek samping, diikuti prinsip bahwa pencegahan
penyakit memiliki prioritas yang lebih tinggi ketimbang keuntungan dengan
nilai yang sama, dar’an mafasid awla min jalbi al mashaalih. Jika keuntungan
memiliki kepentingan yang jauh lebih tinggi daripada kerugian, maka
mendapatkan keuntungan memiliki prioritas yang lebih tinggi. Dalam kasus
ini, petugas medis telah memaksimalkan keuntungan yang dapat diperoleh
pasien dibanding kerugiannya yaitu dengan mempertahankan kehamilan
pasien.
d. Keseimbangan antara yang dilarang vs. diperbolehkan. Dokter kadang
dihadapkan dengan intervensi medis yang memiliki efek yang dilarang namun
juga memiliki efek yang diperbolehkan. Petunjuk hukum adalah bahwa yang
dilarang memiliki prioritas lebih tinggi untuk dikenali jika keduanya muncul
bersamaan dan sebuah keputusan harus diambil, idza ijtima’a al halaal wa al
haram ghalaba al haraam al halaal.
e. Pilihan antara dua keburukan. Jika dihadapkan dengan dua situasi medis yang
keduanya akan menyebabkan kerugian dan tidak ada pilihan selain memilih
salah satu dari keduanya, dipilih yang kurang merugikan, ikhtiyaar ahwan al
syarrain. Suatu hal yang merugikan dilakukan untuk mencegah munculnya
kerugian yang lebih besar, al dharar al asyadd yuzaalu bi al dharar al akhaff .
Dengan cara yang sama, intervensi medis yang memiliki kepentingan umum
diutamakan di atas kepentingan individu, al mashlahat al aamah muqoddamat

32
ala al mashlahat al khassat. Individu mungkin harus mendapatkan kerugian
untuk melindungi kepentingan umum, yatahammalu al dharar al khaas il dafi
u al dharar al aam.
4. Kaidah Kesulitan / Kesukaran (Qoidah al Masyaqqat)
a. Kebutuhan melegalisir yang dilarang. Dalam kondisi yang menyebabkan
gangguan serius pada kesehatan fisik dan mental, jika tidak segera
disembuhkan, maka kondisi tersebut memberikan keringanan dalam
mematuhi dan melaksanakan peraturan dan kewajiban syari’ah. Dalam kasus
ini, segala bentuk gangguan serius yang dapat terjadi pada pasien harus segera
di minimalisir untuk menjaga kesehatan fisik maupun mental pada pasien.
b. Batas-batas prinsip kesulitan: dalam melanggar syari’ah tersebut tidak
melewati batas batas yang diperlukan (secukupnya saja).
c. Aplikasi sementara dari prinsip kesulitan. Adanya suatu kesulitan tidak
menghilangkan secara permanen hak-hak pasien yang harus direkompensasi
dan dikembalikan pada keadaan semula seiring dengan waktu; kesulitan
melegalisir sementara dari tindakan medis yang melanggar, berakhir setelah
kondisi yang menyulitkan tadi berakhir. Dengan kata lain, jika hambatan telah
dilewati, tindakan medis yang dilarang kembali menjadi terlarang.
d. Delegasi: mendelegasikan tugas kepada orang lain untuk melakukan tindakan
yang membahayakan adalah tindakan yang ilegal.
5. Kaidah Kebiasaan (Qoidah al urf);
Dalam prinsip ini, standar yang diterima secara umum, seperti standard operational
procedure (SOP/Protap) untuk perawatan klinis dianggap sebagai hukum dan
diperkuat oleh syari’ah. Terkait dengan kasus tersebut, pasien telah menerima upaya
yang proporsional dalam tindakan medis dan telah sesuai dengan SOP/Protap yang
telah ada.

33
KAJIAN KEISLAMAN13,14

Islam sebagai agama yang sempurna, mengatur semua aspek kehidupan.


Memberikan perhatian besar terhadap kelangsungan keluarga, sesuai posisinya sebagai
bagian penting dalam masyarakat. Tentu saja faktor keluarga menjadi penentu baik
atau buruknya suatu masyarakat.

Allah SWT telah menciptakan manusia secara berpasangan. Ada laki-laki, ada
juga perempuan. Dengan adanya pasangan tersebut manusia dapat berketurunan dan
berkembang dari masa ke masa. Perkembangan keluarga melalui proses keturunan,
menjadikan wanita berada di posisi terpenting dalam melahirkan generasi baru dari
manusia. Proses kehamilan yang sepenuhnya diemban oleh seorang calon ibu,
merupakan sebuah kerja keras dan penuh resiko. Membuat wanita berada di ambang
ancaman, jika saja permasalahan tersebut tidak mendapatkan perhatian memadai dari
semua pihak.

Proses kehamilan ini merupakan suatu yang alami dan paling mudah dalam
melahirkan keturunan. Bahkan secara naluri semua makhluk hidup juga mengetahui
hal tersebut. Allah SWT berfirman:

Artinya : “21. Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim), 22
Sampai waktu yang ditentukan, 23. lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah
sebaik-baik yang menentukan” (QS Mursalat : 21-23)

Di dalam al-Qur’an ditegaskan bahwa kehamilan mengalami perkembangan


dan perubahan mulai dari yang masih ringan dan terus bertambah berat, sebagaimana
dinyatakan di dalam Q.S. Al a’raf (7):189, berbunyi:

34
Terjemahnya: “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya
Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah
dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia
merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya
(suami istri) bermohon kepada Allah, tuhan seraya berkata: “sesungguhnya jika
Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang
bersyukur”.

Ayat ini menjelaskan bahwa tanda-tanda kehamilan adalah adanya perubahan


beban yang dialami oleh seorang perempuan karena adanya janin di dalam perutnya.
Kandungan yang setiap saat brtambah besar yang menyebabkan bertambahnya beban
yang ditanggung oleh ibu hamil dimana ayat ini juga mengandung nilai tanggungjawab
yang berat bagi ibu yang hamil dan nilai kepasrahan terhadap takdir Allah SWT.
Sehingga menyadarkan untuk selalu senantiasa berdoa kepadanya agar kelak
melahirkan anak yang sempurna. Selanjutnya melahirkan manusia ketiga dan
seterusnya manusia berkembangbiak. Proses kehamilan seperti disebutkan pada ayat
tersebut mengalami proses atau tahapan mulai dari rasa ringan kemudian terasa berat
dan akhirnya melahirkan.

35
Artinya :

‘12 dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal)
dari tanah. 13. kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam
tempat yang kokoh (rahim). 14. kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah,
lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami
jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.
kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah,
Pencipta yang paling baik”. (QS Mu’minun :14)

Berdasarkan QS. Al-Mukminun ayat 14, masa kehamilan ada beberapa tahapan,
yaitu:

1. Tahap nuthfah : Tahap ini, calon anak masih berbentuk cairan sperma dan sel
telur dan berlangsung selama 40 hari
2. Tahap ‘alaqah : Setelah berumur 80 hari, nuthfah berkembang bagaikan
segumpal darah kental dan bergantung pada dinding rahim ibu.
3. Tahap mudghah : Sesudah kira-kira berusia 120 hari, segumpal darah tadi
berkembang menjadi segumpal daging. Pada saat itulah si janin sudah siap
menerima hembusan ruh dari Allah SWT
Beberapa hal yang perlu diketahui dalam fase kehamilan, yaitu: Pertama, harus
diyakini bahwa periode dalam kandungan pasti bermula dari adanya kehidupan (al-

36
hayat). Keyakinan tersebut berdasarkan pada suatu kenyataan, yaitu terjadi
perkembangan masa kehamilan. Perkembangan yang berawal dari nuthfah, alaqah
hingga mudghah, kemudian menjadi seorang bayi, berarti nuthfah itu sendiri sudah
mengandung unsur kehidupan (al-hayat). Tanpa unsur kehidupan (al-hayat) tidak
mungkin ada perkembangan yang selanjutnya menjadi janin Kedua, setelah berbentuk
segumpal daging (mudghah) Allah SWT meniupkan ruh kepadanya. Ruh inilah yang
menjadi titik mula dan sekaligus awal mula bergeraknya motor kehidupan psikis
manusia. Berarti pada saat itu, kehidupan janin yang bersifat biologis, sejak itu sudah
mencakup aspek kehidupan psikis. Dikatakan, pada bulan keempat itu jantung janin
mulai bekerja, sehingga getarannya dapat dipantau dengan shetescope. Semenjak itu
janin sudah bisa bergerak, yang semakin lama semakin menguat gerakannya. Di
samping itu, dengan adanya ruh atau jiwa itulah janin mulai dapat melakukan tugas-
tugas seperi merasa, berpikir, mengingat dan sebagainya. Ketiga, adanya aspek agama
pada janin. Sebenarnya naluri agama pada setiap individu ini sudah ada, bahkan sejak
sebelum kelahirannya di dunia nyata. Yang disebut dengan fitrah beragama, manusia
lahir dengan membawa fitrah atau potensi tauhid. Ungkapan demikian sesuai dengan
yang diisyaratkan dalam QS. Al-A’raf ; 172 dan QS. Ar-Rum : 30 “manusia
mempunyai fitrah sebagai makhluk beragama”. Dikatakan beragama, karena secara
fitrah dan qodrati, manusia pada hakekatnya selalu mengakui adanya Tuhan Yang
Maha Esa. Dengan demikian, berarti manusia memiliki potensi kesiapan untuk
mengenal dan mengakui keberadaan Tuhan dalam kehidupannya. Dalam Hadis
dijelaskan “ Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang
menjadikannya anak tersebut beragamaYahudi, Nasrani atau Majusi” (HR. Bukhari
dan Muslim)

Kelahiran anak yang melewati proses kehamilan juga faktor yang dapat
meningkatkan rasa kasih sayang orang tua terutama ibu kepada anaknya. Kelahiran
anak melewati proses yang panjang-lebih kurang 9 bulan. Sang ibu menunggu
kelahiran buah hatinya dengan penuh harap dan bahagia. Proses keibuan pun tumbuh

37
secara alami di samping harus aktifitas sehari-hari. Secara tak langsung memapah calon
anak yang ada dalam kandungannya selama proses kehamilan berlangsung.

Betapa besar jasa ibu terhadap anak yaitu mulai dari beban mengandung dalam
keadaan lemah dan bahkan beban tersebut senantiasa bertambah dari saat kesaat. Lalu
dia melahirkannya dengan susah payah kemudian memelihara dan menyusukannya
setiap saat, bahkan ditengah malam ketika pada saat manusia lain tertidur nyenyak.

Setiap anak berkewajiban berbakti kepada ibunya. Seperti dalam Surah Al-
Ahqaf 46:15 Tentang perjuangan yang menyusahkan bagi ibu yang hamil, berbunyi:

Terjemahannya: ”Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua
orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya
dengan susah payah(pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh
bulan, sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia
berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mengsyukuri nikmat Engkau yang telah
engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal
yang shaleh yang engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi
kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan
sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

38
Ayat ini mengisyaratkan bahwa proses kehamilan dan penyapihan
berlangsung selama 30 bulan dan 9 bulan. Disisi lain, ayat ini juga menekankan betapa
pentingnya ibu kandung memberikan perhatian kepada anak-anaknya. Dimulai dari
masa kehamilan dan seterusnya. Para dokter dan tenaga medis bertugas membantu ibu
hamil agar tetap memberikan perhatian dan pemeliharaan terhadap kandungannya.
Kemudian ayat ini mengandung nilai tanggung jawab tehadap pertumbuhan dan
perkembangan anak. Didalam islam, pendidikan berawal dari pra kelahiran artinya,
perilaku orang tua sangatlah berpengaruh terhadap perilaku anak-anaknya termasuk
pada masa kehamilannya.

Namun, pada kenyataan terdapat beberapa penyakit yang penyebabnya tidak


diketahui muncul pada kehamilan salah satunya adalah hipertensi dalam kehamilan.
Meskipun demikian, dalam menghadapi persoalan hidup, kita semestinya tidak
menunjukan sikap pesimis dalam hal apapun. Termasuk dalam persoalan penyakit yang
menimpa diri kita ataupun keluarga kita. Karena telah disampaikan oleh Rasulullah
bahwa setiap penyakit itu ada obatnya kecuali kematian, sebagaimana yang
diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah bersabda yang bersabda
“Tidakalah Allah menurunkan sebuah penyakit melainkan menurunkan pula obatnya”
(HR.Bukhari & Muslim).

Maksud dari hadis diatas adalah sebagai hamba yang percaya akan janji
dan kebesaran Allah Subahahu Wa Ta’ala. Maka haruslah kita harus tetap optimis
untuk senantiasa mencari sebab-sebab kesembuhan dari setiap penyakit yang kita derita
seperti pergi ke pelayanan kesehatan ataupun melalui pengobatanpengobatan alamiah
disamping rasa harap dan optimis dalam menantikan pertolongan Allah Subahanahu
Wa Ta’ala.

39
DAFTAR PUSTAKA

1. Regassa TM, Gudeta TA. “Pregnancy Induced Hypertension and Associated


Factors among Women Attending Delivery Service at Mizan- Tepi Uiversity
Teaching Hospital, Tepi General Hospital and Gebretsadik Shawo Hospital,
Southwest, Ethiopia”. Ethipian Journal of Health Science. 2019 Jan; 29(1):831-
840.
2. Timokhina E, Kuzmina T, Strizhakov A, Pitskhelauri E, Ignatko I and
Belousova V. “Maternal Cardiac and Function after Normal Delivery,
Preeclamsia, and Eclamsia: A Prospective Study”. Journal of Pregnancy. 2019.
3. Benton SJ, Mccowan LM, Heazell AEP, Grynspan D, Hutcheon JA, Senger C,
et al. "Placental growth factor as a marker of fetal growth restriction caused by
placental dysfunction". Elsevier.2016;42:1–8
4. Peres GM, Mariana M, and Cairrao E. “Pre-Eclamsia and Eclamsia: An Update
on the Pharmocological Treatment Applied in Portugal”. Journal of
Cardiovascular Development and Disease. 2018 Jan.
5. Cunningham, F. Gary. William Obsetrics 25st edition. McGraw-Hill : New
York. 2018
6. POGI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran. Diagnosis dan Tata Laksana
Pre-eklamsia. Himpunan Kedokteran Feto Maternal POGI; Semarang. 2016.
7. Malik A, Jee B, Kumar S. "Preeclampsia : Disease biology and burden , its
management strategies with reference to India". Pregnancy Hypertension.
Elsevier; 2019;1:23–31
8. Brown MA, Magee LA, Kenny LC, Karumanchi SA, Mccarthy FP, Saito S, et
al. "The hypertensive disorders of pregnancy : ISSHP classi fi cation , diagnosis
& management recommendations for international practice". Elsevier;2018

40
9. Obtetrics & Gynecology. ACOG Practice Bulletin No. 202: Gestational
Hypertension and Preeclamsia. Online ACOG Publicatiobns. Vol. 133. 2019
Jan.
10. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Panduan Praktik Klinik
Hipertensi dalam Kehamilan. Cabang Jawa Barat. 2018
11. Gainder S, Thakur M. "To study the changes in fetal hemodynamics with
intravenous labetalol or nifedipine in acute severe hypertension". Pregnancy
Hypertens. Elsevier; 2019;12–5.
12. Mappaware, Nasrudin Andi. Konep Dasar Bioetika-Hukum Kedokteran dalam
Penerapan Masa Kini dan Kesehatan sebagai Haka Asasi Manusia. Makassar.
2007.
13. Al-Qur’an dan Terjemahannya. 2016. Bandung. Departement Agama RI.
14. Idrus, Musyahid A. 2015. Perlindungan Hukum Islam Terhadap Janin.
Makassar. Al-Daulah.

41