Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sistem endokrin mengatur dan mempertahankan fungsi tubuh dan metabolisme


tubuh, jika terjadi ganguan endokrin akan menimbulkan masalah yang komplek terutama
metabolisme fungsi tubuh terganggu salahsatu gangguan endokrin adalah Diabetes
Melitus yang disebabkan karenadefisiensi absolute atau relatif yang disebabkan
metabolisme karbohidrat,lemak dan protein (Maulana. 2008).
Di Indonesia penderita Diabetes Melitus ada 1,2 % sampai 2,3 % daripenduduk
berusia diatas 15 tahun, sehingga Diabetes Melitus (DM) tercantumdalam urutan nomor
empat dari prioritas pertama adalah penyakit kardiovaskuler, kemudian disusul penyakit
selebrolaskuler dan katarak. (Depkes RI,2008).
Di Jawa Tengah berdasarkan atas pola penyakit penderita puskesmasdan rumah
Menurut survei yang dilakukan WHO, Indonesia menempati urutan ke 4 dengan jumlah
penderita Diabetes terbesar didunia setelah India, Cina, Amerika Serikat. Dengan
prevalensi 8,6% dari total penduduk dan pada tahun 2025 diperkirakan meningkat
menjadi 12.4 juta penderita. Sedangkan dari data Departemen Kesehatan , jumlah pasien
Diabetes mellitus rawat inap maupun rawat jalan di Rumah Sakit menempati urutan
pertama dari seluruh penyakit endokrin. (Maulana. 2008)
Umur ternyata merupakan salah satu faktor yang bersifat mandiri dalam
pengaruhnya terhadap perubahan toleransi tubuh terhadap glukosa.Umumnya pasien
diabetes dewasa 90% termasuk diabetes tipe 2. Dari jumlah tersebut dikatakan 50%
adalah pasien berumur > 60 tahun.(Dinkes Jateng,2006)
Hal ini terjadi karena adanya faktor- faktor yang menghambat diantaranya adalah
sosial ekonomi yang kurang, perumahan dan lingkungan yang kotor, pengetahuan
tentang DM yang masih kurang. Faktor pengetahuan keluarga merupakan penghambat
yang sering terjadi, karena dengan pengetahuan yang kurang akan mengetahui proses
pengobatan penyakit.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja penyakit dan obat pada kelenjar pituitary ?
2. Apa saja penyakit dan obat hormon tiroid dan antitiroid ?
3. Apa saja obat paratiroid ?
4. Apa saja obat kelenjar adrenal ?
5. Apa saja obat hormon insulin ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui penyakit dan obat pada kelenjar pituitary
2. Untuk mengetahui penyakit dan obat hormone tiroid dan antitiroid
3. Untuk mengetahui obat paratiroid
4. Untuk mengetahui obat kelenjar drenal
5. Untuk mengetahui obat hormon insulin

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 KELENJAR PITUITARY

Kelenjar Hipofisis (pituitary) disebut juga master of gland atau kelenjar pengendali
karena menghasilkan bermacam-macam hormon yang mengatur kegiatan kelenjar
lainnya. Kelenjar ini berbentuk bulat dan berukuran kecil, dengan diameter 1,3 cm.
Hipofisis dibagi menjadi hipofisis bagian anterior, bagian tengah (pars intermedia), dan
bagian posterior.
Kelenjar Pituitary (hipofisis) memiliki lobus anterior dan posterior. Bagian
anterior atau adenohipofisis mensekresi berbagai hormone yang ditargetkan terhadap
kelenjar dan jaringan, yaitu Growth Hormon yang merangsang pertumbuhan jaringan,
Thiroid Stimulating Hormone (TSH) yang bekerja terhadap kelenjar thyroid, hormone
adrenokortikotropik (ACTH) merangsang kelenjar adrenal dan gonadotropin (follicle
stimulating hotmone /FSH dan luteinizing hormone (LH), Obat-obat yang memiliki
sifat adrenohipofisi dipakai untuk merangsang atau menghambat aktivitas kelenjar.

Obat Yang Digunakan Dalam Gangguan Kelenjar Hipofisis

Obat Dosis Pertimbangan dan Pemakaian

Anterior
Growth Hormone (GH)
Somatropin SC : 0,5-0,7 Digunakan pada gangguan pertumbuhan karena
Genotropin iu/kg/BB/minggu insufisiensi sekresi GH endogen,sindrom
(Pfizer) terbagi dlm injeksi turner,insufisiensi ginjal kronik,berat badan lahir
rendah
Somatropin SC /IM : 0,7- 1 mg/ m² Digunakan pada kegagalan pertumbuhan pada
Saizen (Merck) luas permukaan tubuh anak yg disebabkan krn penurunan atau tidak
atau 0,025-0,035 adanya sekresi hormon pertumbuhan
mg/kg/BB
. Kontra indikasi : Tumor
Thiroid Stimulating Hormone (TSH)
Thyrotropin IM, SK : 10 U, 4 kali Untuk mendiagnosa penyebab Hipotiroid, injksi
sehari, 1-3 hari terakhir dilanjutkan dengan pemeriksaan
radioiodine
Adrenocorticotropic Hormone (ACTH)
Kortikotropin IM, SC : 20 Unit, 4 kali Untuk defisiensi ACTH, Untuk sklerosis multiple ,
sehari dosis 80-120 U/hari.
IV : 10-25 U dalam 500
Obat Dosis Pertimbangan dan Pemakaian
mL D5%/8 jam
Kortikotropin SC, IM : 40 u setiap 12- Untuk defisiensi ACTH,
Repositori 24 jam Untuk mengobati insufisiensi adrenal akibat
pemakaian kortison jangka panjang.
Pituitary Posterior
Anti Diuretik Hormon
Vasopresin Dewasa: SC. IM : 5-10 Untuk diabetes Insipidus. Untuk meredakan
U 2-3 kali sehari. Anak distensi usus. Mengurangi perdarahan GI akibat
dosis lebih rendah varises Esofagus.
Monitor out put urine
Lipresin Intra Nasal : 1-2 Untuk diabetes Insipidus. .
semprotan perlubang Monitor out put urine
hidung
Desmoprasin IV :0,3 µg dalam 50 ml Untuk diabetes Insipidus.
normal salin selama Monitor out put urine
20-30 menit

2.2 OBAT HORMON TIROID DAN ANTITIROID


Tiroid merupakan kelenjar yang terdiri dari folikel-folikel dan terdapat di depan trakea
Kelenjar tiroid merupakan kelenjar yang terletak pada leher, tepatnya pada laring. Kelenjar
ini terdiri atas dua lobus yakni sebelah kanan dan kiri laring.. Kelenjar tiroid menghasilkan
dua macam hormon yaitu tiroksin (T4) dan Triiodontironin(T3). Hormon ini berpengaruh
dalam proses metabolisme sel, pertumbuhan, perkembangan, dan diferensiasi jaringan.
Beberapa penyakit manusia ada yang disebabkan oleh kelenjar tiroid. Misalnya
kelebihan hormon tiroid (hipertiroid) dapat menimbulkan gejala hipermetabolisme
(morbusbasedowi), dengan tanda-tanda meningkatnya detak jantung sehingga muncul
gugup, napascepat dan tidak teratur, mulut menganga, dan mata melebar. Sementara itu,
apabila seseorang sebelum dewasa kekurangan hormon tiroid (hipotiroid), tubuhnya dapat
mengalami kretinisme (kerdil). Kretenisme ditandai dengan fisik dan mental penderita
yang tumbuh tidak normal.

Pada orang dewasa, kondisi hipotiroid dapat menyebabkan miksedema. Gejala


penyakit ini, adalah laju metabolisme rendah, berat badan bertambah, bentuk badan
menjadi besar, kulit kasar, dan rambutmudah rontok. Selain penyakit-penyakit tersebut,
seseorang juga dapat mengalami pembengkakan kelenjar tiroid karena kekurangan
makanan yang mengandung yodium. Penyakit pembengkakan demikian dinamakan
gondok.
Beberapa penyakit tiroid akan mendapatkan terapi pengganti T3 dan T4. Pada pesien
dengan terapi pengganti hormone thiorid, perawat perlu menganjurkan untuk menghindari
makanan yang menghambat sekresi sekresi thyroid, yaitu strawberry, pear, kobis, bayam,
kembang kol dan kacang polong.

Pengganti Hormon Tiroid dan Obat Antitiroid.


Obat Dosis Pertimbangan dan pemakaian
Hipotiroid
L-thyroxine Na Dewasa : awal 0,05-
1 mg/hari.
Dosis harian Digunakan pada hipotiroidisme dengan
ditingkatkan tiap 2 sebab apapun. Supresi kadar TSH pd
minggu 0,025-0,05 mg penyakit gondok.
s/d hasil yg Kontra indikasi : Hipersensitif terhadap
diinginkan tiroksin, tiritoksikosis
Efek samping : berkerigat, sakit kepala,
penurunan BB, kemerahan

Levothyroxine (Euthyrox,Awal 25-50mcg, Digunakan pada hipotiroid.


thyrax, dan Mixid L) ditingkatkan 25-50 Efek samping : tremor pada jari tangan,
mcg pd interval 2-4 penurunan BB, gangguan tidur, gelisah dan
minggu. diare.
Mekanisme kerja : obat ini bekerja dengan
cara menyediakan hormone tiroid ketika
kelenjar tiroid tidak berfungsi secara normal

Antitiroid/Hipertiroid
Dewasa : awal 20-80
mg/hr. Kasus ringan Digunakan pada Hipertiroidisme. Kontra indikasi
Carbimazole Neo 5-10mg/hr, kasus pada Laktasi. Efek samping yang dapat terjadi : mual
(Neo mercazole) sedang 30mg/hr, kasus dan muntah
berat 40-60mg/hr. Mekanisme kerja : Obat ini sebagai anti
Diberikan dalam tiroid yang bekerja dengan cara
beberapa dosis memperlambat kinerja pembentukan
terbagi. Pemeliharaan hormone
5-15 mg/hr.
Thiamazole Dewasa terapi Terapi konservatif hipertiroid Utk
(Thyrozol ,tapazole) konservatif hipertiroid menghambat produksi hormon tiroid scr
untuk menghambat komplit, persiapan operasi utk segala
produksi hormone jenis
tiroid scr komplit 25- Mekanisme kerja : obat ini bekerja dengan
40mg/hr. dosis harian mengurangi produksi hormone tiroid
maks: 40mg dlm maks
20mg dosis tunggal
Metimazol Oral, Dosis Mula : 15- Untuk hipertiroid.
60 mg dalam dosis Dapat menghambat sintesa hormone tiroid
(thirozol) terbagi. Rumatan : 5 Mekanisme kerja : obat ini bekerja dengan
mg 3-4 kali sehari mengurangi produksi hormone tiroid

Iodin Oral :2-6 tetes, 3 kali Untuk diabetes Insipidus.


Larutan Iodin kuat sehari Untuk mengurangi ukuran dan
vaskularisasi kelenjar tiroid

2.3 HORMON PARATIROID


Kelenjar Paratiroid mensekresi hormone paratiroid (HPT) yang berfungsi
mengatur kadar kalsium dalam darah. Penurunan kalsium dalam serum merangsang
pelepasan PTH. PTH mengobati hipoparatiroid dan kalsitonin mengobati
hiperparatiroid. Hipokalsemia dapat disebabkan oleh defisiensi PTH, defisiensi vit D,
gangguan ginjal atau terapi diuretik.

Pengganti PTH dapat membantu untuk memperbaiki kekurangan kalsium.


Hiperparatiroidisme juga dapat disebabkan keganasan kelenjar paratiroid atau sekeresi
hormone PTH ektopik dari kanker paru-paru, hipertiroidisme atau tidak bergerak dalam
jangka waktu lama, dimana kalsium hilang dari tulang.

Obat untuk Hipoparatiroid dan Hiperaratiroid.

Obat Dosis Pertimbangan dan Mekanisme kerja


pemakaian obat
Hipoparatiroidisme dan Hipokalsemia
Analog Vitamin
D
Calcifediol Oral : 50-100 µg/hari Untuk penyakit
tulang akibat GGK
dan dialysis ginjal.
Pantau kadar kalsium
serum
Pantau tanda
hiperkalsemia
Ergokalsiferol Oral 0,25 µg/hari Untuk Hipoparatiroid
Merek dagang : dan rickets.
- Akta-Vol Pantau kadar kalsium
- Calcimet serum.
- Minivita
- Pehavral
- Recovit
- Supradex
- Vitalipid- N
Infant
- Vitalipid- N
Adult
- Vitacalc
Hiperparatiroidisme dan hiperkalsemia
Kalsitonin - Larutan, injeksi: Untuk penyakit paget hormon ini dengan
Merek dagang : 200 units/ml (kondisi tidak normal menghambat aksi
Miacalcic - Larutan, yang mengganggu perombakan sel
intranasal: 200
proses regenerasi tulang oleh osteoklas
units/actuation
(spray) tulang, sehingga dan dapat
menyebabkan tulang mengurangi kadar
menjadi rapuh dan kalsium dalam aliran
mengalami darah, sel-sel yang
deformitas (kelainan menghancurkan
bentuk)). matrix ekstraseluler.

2.4 ADRENAL
Kelenjar ini berbentuk bola, atau topi yang menempel pada bagian atas ginjal.
Kelenjar adrenal terdiri dari medulla dan korteks. Korteks adrenal memproduksi dua
jenis hormone atau kortikosteroid. Kortikosteroid adalah suatu kelompok hormon steroid
yang dihasilkan di kulit kelenjar adrenal. Hormon ini berperan pada banyak sistem
fisiologis pada tubuh, misalnya tanggapan terhadap stres, tanggapan sistem kekebalan
tubuh, dan pengaturan inflamasi, metabolisme karbohidrat, pemecahan protein, kadar
elektrolit darah, serta tingkah laku.
Kortikosteroid dibagi menjadi 2 kelompok, yakni glukokortikoid (contohnya
kortisol) yang berperan mengendalikan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein,
juga bersifat anti inflamasi dengan cara menghambat pelepasan fosfolipid, serta dapat
pula menurunkan kinerja eosinofil. Kelompok lain dari kortikosteroid adalah
mineralokortikoid (contohnya aldosteron), yang berfungsi mengatur kadar elektrolit dan
air, dengan cara penahanan garam di ginjal.

Pemberian kortikosteroid dosis tinggi dapat menyebabkan sindrom Cushing


dengan gejala-gejala moon face, berat badan naik, otot lemah terutama bahu dan
pinggul, dll, , striae dan acne yang dapat pulih (reversibel) bila terapi dihentikan, tetapi
cara menghentikan terapi harus dengan menurunkan dosis secara bertahap (tappering-
off) untuk menghindari terjadinya insufisiensi adrenal akut. Pada anak, penggunaan
kortikosteroid dapat menghambat pertumbuhan dan dapat mempengaruhi
perkembangan pubertas. Oleh karena itu penting untuk menggunakan dosis efektif
terrendah, pemberian secara berselang sehari dapat membatasi efek penurunan
perkembangan anak.

Glukokortikoid

Glukokortikoid mempengaruhi metabolism karbohidrat, protein dan lemak serta


aktivitas sel darah dan otot. Kortisol, glukokortikoid utama, memiliki efek antiinflamasi,
antialegi dan anti stress. Glukokortikoid dipakai untuk mengobati banyak penyakit dan
masalah kesehatan. Efek samping glukokortikoid antara lain diabetes dan osteoporosis,
yang berbahaya, terutama pada lanjut usia, dapat terjadi fraktur osteoporotik pada tulang
pinggul dan tulang belakang. Selain itu, pemberian dosis tinggi dapat mengakibatkan
nekrosis avaskular pada kepala femur. Beberapa obat glukokortikoid akan disajikan pada
table dibawah ini.

Obat –Obat Glukokortikoid

Obat Dosis Pertimbangan Pemakaian


Prednisone Dewasa : oral : 5-60 mg/hari Antiinflamasi atau
(Eltazon, Inflason, dalam dosis terbagi. imunosupresif. Glukokortikoid
Lexacort atau Pehacort Anak : oral : 0,1-0,5 oral, merupakan obat pilihan.
mg/kgBB/hari dalam dosis Perhatian khusus pada kondisi
terbagi 2-4 : Tukak lambung, hipertensi
aktif, gangguan neurologic,
gangguan hati & ginjal, DM.
Dexamethasone Dewasa : oral : 0, 25-4 mg, 2- antiinflamasi yang kuat. Untuk
(Dextaf, Dexamethasone, 4 kali sehari . IV : 1-6 mg/kg gangguan alergi akut,
Cortidex, Dexaharsen, BB serangan asma, udema
Tobroson, Cendo Xitrol, Aerosol : 3 puff, 2-4 kali serebral, shock dan chusing
Dexaton, Exitrol, sehari syndrome.
Dextaco, Dextamine) Efek samping : Retensi cairan
& elektrolit, meningkatkan
kemungkinan infeksi
Metilprednisolon Dewasa : Oral : 4-48 mg/ hari Antiinflamasi atau
(Methylprednisolone, dalam dosis terbagi 4, IM/IV : imunosupresif
Depo Medrol, 10-250 mg setiap 4-6 jam
Cormetison, Lameson,
Meticon, Carmeson,
Phadilon, Vadrol,
Cortesa, Prednox,
Medixon, Urbason,
Hexilon, Comedrol,
Lexcomet, Intidrol,
Methylon, Metrison,
Advantan)
Triamsinolon Dewasa : sehari 4-48 mg Antiinflamasi atau
(Amtocort, Kenacort, sehari dalam dosis terbagi 2-4. imunosupresif. Preparat dapat
Kenalog, Ketricin, Inhalasi : 2 puff disuntikkan pada sendi dan
Nasacort AQ, Sinocort, jaringan lunak.
Trilac, Triamcort dan
Trinolon)

Minerallokortikoid
Mineralokortikoid merupakan type kedua kortikosteroid, mensekresi aldosteron.
Hormon ini mempertahankan keseimbangan cairan dengan meningkatkan penyerapan
natrium dari tubulus ginjal. Natrium menarik air , menyebabkan retensi air. Jika terjadi
hipovolemia, sekresi aldosteron akan ditingkatkan. Dengan reabsorbsi natrium, kalium
akan dikeluarkan dan mengakibatkan terjadinya hipokalemia. Defisiensi minerallo
kortikoid biasanya terjadi dengan defisiensi glukokortikoid, seringkali disebut defisiensi
kortikosteroid.

Fludokortison merupakan suatu minerallokortikoid oral yang dapat diberikan


bersamaan dengan glukokortikoid. Obat ini dapat menyebabkan suatu keseimbangan
negative nitrogen, sehingga biasanya diperlukan diet tinggi protein. Karena pemakaian
minerallo dan glukokortikoid terjadi ekskresi kalium, maka kadar kalium harus dipantau.

2.5 HORMON INSULIN


Diabetes melitus adalah suatu kelainan metabolisme kronis yang terjadi karena
berbagai penyebab, ditandai oleh konsentrasi glukosa darah melebihi normal disertai
dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang diakibatkan oleh
kelainan sekresi hormon insulin, kelainan kerja insulin, atau kedua. Ada 2 type Diabetes
Melitus yaitu Diabetes Melitus type I atau diabetes melitus tergantung insulin (Insulin
Dependent Diabetes Melitus/IDDM) dan type II, diabetes melitus tidak tergantung
insulin (Non Insulin Dependent Diabetes Melitus/NIDDM). Perbedaan utama antara DM
type I dan DM typeII adalah, pada DM tipe 1, orang tidak bisa lagi memproduksi insulin,
sementara itu pada DM type II, tubuh, sel tubuh tidak dapat mereaksi insulin secara
normal lagi. sehingga glukosa tetap dalam aliran darah dan tidak dapat masuk ke dalam
sel sehingga hal tersebut menyebabkan kadar gula darah menjadi tinggi.

Insulin dilepaskan dari sel-sel beta pulau Langerhans dalam responnya terhadap
peningkatan glukosa darah.. Pankreas secara normal mensekresikan 40-60 unit insulin
setiap harinya. Insulin meningkatkan ambilan glukosa, asam amino, dan asam lemak dan
mengubahnya menjadi bahan-bahan yang disimpan dalam sel-sel tubuh. Glukosa diubah
menjadi glikogen untuk keperluan glukosa di masa mendatang dalam hepar dan otot,
sehingga menurunkan kadar glukosa dalam darah. Nilai glukosa darah normal adalah 60-
100 mg/Dl dan glukosa serum, 70-110 mg/Dl.

1. Insulin

Insulin suntikan diperoleh dari pankreas babi dan sapi ketika hewan-hewan ini
disembelih. Insulin tidak dapat diberikan per oral karena sekresi gastrointestinal
merusak susunan insulin. Insulin diberikan secara subkutan, dengan sudut suntikan

45 sampai 90o, 15 sampai 30 menit sebelum makan. Insulin harus disimpan pada

tempat yang sejuk atau di dalam lemari es. Konsentrasi insulin 40 atu 100 U/Ml
(U40/Ml, U100/Ml) dan insulin dikemas dalam vial berisi 10 ml. Spuit insulin
ditandai dalam unit sampai maksimum 100 U per 1 mL. Ada tiga tipe insulin :

1. Insulin kerja singkat/ insulin regular (kristalin), merupakan larutan bening tanpa
tambahan bahan untuk memperpanjang kerja insulin. Onset kerjanya adalah 0,5
-1 jam, puncak kerja timbul dalam 2 sampai 4 jam, dan lama kerja 6-8 jam.
2. Insulin kerja sedang, awitan insulin kerja sedang adalah 1-2 jam, puncak 6-12
jam, dan lama kerja 18-24 jam.
3. Insulin kerja panjang, bekerja dalam 4-8 jam, puncak 14-20 jam, dan berakhir
sampai 24-36 jam.
Dosis insulin dinyatakan dalam unit (U). Sediaan homogen human insulin

mengandung 25-30 UI/mg. Insulin diberikan secara subkutan dengan tujuan

mempertahankan kadar gula darah dalam batas normal sepanjang hari yaitu 80-160 mg%

setelah makan. Untuk pasien usia di atas 60 tahun batas ini lebih tinggi yaitu puasa
kurang dari 150 mg% dan kurang dari 200 mg% setelah makan. Insulin dapat segera

diberikan dalam keadaan dekompensasi metabolik berat, misalnya ketoasidosis, stress

berat, berat badan yang menurun dengan cepat, adanya ketonuria (Anonim, 2006).

Insulin dan Kerjanya

Efek Puncak Lama Kerja


Nama Buatan (Jam) (Jam)
1. Kerja
Cepat
Novo Nordisk (U-40 dan
Actrapid U-100) 2-4 6-8

Humulin-R Eli Lily (U-100)


2. Kerja
Menengah
Novo Nordisk (U-40 dan
Insulatard U-100) 4-12 18-24
Monotard Novo Nordisk (U-40 dan
Human U-100)

Humulin-N Eli Lily (U-100)


3. Kerja
Campuran
Novo Nordisk (U-40 dan
Mixtard 30 U-100) 1-8 14-15
Humulin-
30/70 Eli Lily (U-100)
4. Kerja
Panjang
Lantus Aventis Tidak ada 24
Bentuk penfill untuk Novopen 3 adalah Actrapid Human 100,
Insulatard Human 100, Mixtard 30 Human 100
Bentuk penfill untuk Humapen Ergo adalah Humulin-R 100,
Humulin-N 100, Humulin-30/70 Bentuk penfill untuk Optipen adalah
Lantus
2. Obat Anti Diabetik Oral
a. Sulfonilurea
Kerja utama sulfonilurea adalah meningkatkan sekresi insulin sehingga
efektif hanya jika masih ada aktivitas sel beta pankreas Sulfonilurea
digunakan untuk pasien yang tidak kelebihan berat badan, atau yang
tidak dapat menggunakan metformin. Sulfonilurea dapat menyebabkan
gangguan fungsi hati, yang mungkin menyebabkan jaundice kolestatik,
hepatitis dan kegagalan fungsi hati meski jarang. Dapat terjadi reaksi
hipersensitifitas, biasanya pada minggu ke 6-8 terapi, reaksi yang terjadi
berupa alergi kulit yang jarang berkembang menjadi eritema multiforme
dan dermatitis eksfoliatif, demam dan jaundice. Berikut ini adalah
kriteria pemakaian obat hioglikemia oral :
 Awitan DM pada usia 40 tahun
 Diagnosa DM kurang dari 5 tahun
 Berat badan normal atau kelebihan berat badan
 Gula darah puasa sama atau kurang dari 200 mg/dL
 Memerlukan insulin kurang daro 40 U / hari
 Fungsi ginjal dan hepar baik

Obat Anti Diabetik Oral

Obat Dosis Lama Kerja Pertimbangan penggunaan


Sulfonilurea generasi pertama
Tolbutamid 0,5-1,5 mg/hari 6-12 jam Digunakan pada diabeter
dalam dosis melitus tiper 2. Diabsoribsi

13
terbagi 2-3 cept melalui salurang GI.
(maksimal 2 g) Mekanisme kerja : obat ini
dapat digunakan bersama
obat-obatan diabetes lain,
obat ini bekerja dengan cara
menyebabkan pelaporan
insulin tubuh alami dan dapat
membantu mengembalikan
respon tubuh yang sesuai
tehadap insulin.
Kerja Sedang
asetoheksamid Oral : 0,25-1,5 6-12 jam Digunakan pada diabetes
mg/hari dalam melitus tipe 2. Diasobsi
dosis terbagi 2- melalui saluran GI.
3(maksimal 2 g) Obat ini dalam tubuh cepat
sekali
mengalamibiotransformasi,
masa paruh plasma hanya ½-
2 jam. Tetapidalam tubuh
obat ini diubah menjadi 1-
hidroksiheksamid yang
ternyata lebih kuat dari efek
hipoglikemiknya dari pada
asetoheksamid sendiri.
tolazamid Oral 100-250 12-24 jam Diasobsi lambar melalui
mg/hari tidak saluran GI.
melebihi 1 gr Mekanisme kerja : obat ini
diserap lebih lambat di usus
dari pada seddiaan laiinya.
Masa paruh kira-kira 7 jam
dalam tubuh yang kemudian
di ubah menjadi p-
karboksitolazamid, 4-
hidroksimetilozamid dan
karboksitolazamid.
Kerja
Panjang
Klorpropamid Oral, dosis awal Samapi60 Diasorbsi baik melalui

14
100-250 mg/hari, jam saluran GI.
Rumatan : 100- Mekanisme obat : cara kerja
500 mg/hari obat ini juga cepat diserap
dalam dosis oleh usus, 70-80%
tunggal atau dimetabolisme dalam hati dan
terbagi 2.dosis metabolitnya cepat dieksresi
maksimal melalui ginjal.
750mg/hari.
Sulfonilurea
generasi
Kedua
glibenklamida Dosis awal 2,5- 10-24 jam Diasorbsi baik melalui
5mg tiap hari, saluran GI. Mampu
bila perlu menstimuli insulin setiap
dinaikkan setiap pemasukan glukosa (makan).
minggu, sampai Resiko hipoglikemi lebih
maksimal setiap besar.
2 hari 10mg Mekanisme kerja : sama
degnan sulfonilurea lainnya.
Obat ini 200x lebih kuat dari
pada tolbutamid. Obat ini
dimetabolisme dalam hati,
hanya 25% metabolit
dieksresi melalui urine,
sisantya diekskresi melalui
empedu dan tinja.
Glipizid Dosis awal, 12-24 jam Diasorbsi baik melalui
2,5mg-5mg, 4 saluran GI.
kali sehari atau 2 Mekanisme kerja : mirip
kali sehari dengan sulfonilurea lainnya
Rumatan : 5-25 dengan kekuatan 100x lebih
mg/hari; kuat dari pada tolbutamid.
maksimal Obat ini di arbsobsi lengkap
40mg/hari sesudah pemberian oral dan
degnan cepat dimetabolisme
dam hati menjadi tidak aktif

15
b. Biguanida
Metformin Hidrochlorida, satu-satunya golongan biguanid yang
tersedia, mempunyai mekanisme kerja yang berbeda dengan
sulfonilurea, keduanya tidak dapat dipertukarkan. Efek utamanya adalah
menurunkan glukoneogenesis dan meningkatkan penggunaan glukosa di
jaringan. Karena kerjanya hanya bila ada insulin endogen, maka hanya
efektif bila masih ada fungsi sebagian sel islet pankreas.

Metformin digunakan pada penderita diabetes melitus tipe 2,


terutama untuk pasien dengan berat badan berlebih (overweight),
apabila pengaturan diet dan olahraga saja tidak dapat mengendalikan
kadar gula darah. Metformin dapat digunakan sebagai monoterapi atau
dalam kombinasi dengan obat antidiabetik lain atau insulin (pasien
dewasa), atau dengan insulin (pasien remaja dan anak >10 tahun).
Sedangkan kontraindikasi nya adalah gangguan fungsi ginjal,
ketoasidosis, hentikan bila terjadi kondisi seperti hipoksia jaringan
wanita hamil dan menyusui.

Efek Samping dapat berupa anoreksia, mual, muntah, diare


(umumnya sementara), nyeri perut, rasa logam, asidosis laktat (jarang,
bila terjadi hentikan terapi), penurunan penyerapan vitamin B12,
eritema, pruritus, urtikaria dan hepatitis. Dosis ditentukan secara
individu berdasarkan manfaat dan tolerabilitas. Dewasa & anak > 10
tahun: dosis awal 500 mg setelah sarapan untuk sekurang-kurangnya 1
minggu, kemudian 500 mg setelah sarapan dan makan malam untuk
sekurang-kurangnya 1 minggu, kemudian 500 mg setelah sarapan,
setelah makan siang dan setelah makan malam. Dosis maksimum 2 g
sehari dalam dosis terbagi.

c. Acarbose

16
Acarbose merupakan suatu penghambat enzim alfa glukosidase
yang terletak pada dinding usus. Enszim alfa glukosidase adalah
maltaseeeee. isomaltase, glukomaltase dan sukrose, berfungsi untuk
hidrolisis oligosakarida, trisakarida dan disakarida pada dinding usus
halus.
Obat golongan ini bekerja di usus, menghambat enzim di saluran
cerna, sehingga pemecahan karbohidrat menjadi glukosa atau
pencernaan karbohidrat di usus menjadi berkurang. Dengan demikian
kadar glukosa darah setelah makan tidak meningkat tajam. Sisa
karbohidrat yang tidak tercerna akan dimanfaatkan oleh bakteri di usus
besar, dan ini menyebabkan perut menjadi kembung, sering buang
angin, diare, dan sakit perut.Pemakaian obat ini bisa dikombinasi
dengan obat golongan sulfonilurea atau insulin, tetapi bila terjadi efek
hipoglikemia hanya dapat diatasi dengan gula murni yaitu glukosa atau
dextrose. Gula pasir tidak bermanfaat.
Acarbose hanya mempengaruhi kadar gula darah sewaktu makan
dan tidak mempengaruhi setelah itu. Obat ini tidak diberikan pada
penderita dengan usia kurang dan 18 tahun, karena efek samping
gangguan pencernaan kronis, maupun wanita hamil dan menyusui.
Acarbose efektif pada pasien yang banyak makan karbohidrat dan kadar
gula darah puasa lebih dari 180 mg/dl.

3. Obat Hiperglikemia

Glukagon adalah senyawa hormone hiperglikemia yang diseskresikan


oleh sel alfa pulau Langerhans di pancreas. Glukagon meningkatkan kadar
gula darah dengan merangsang glikogenolisis (pemecahan glikogen ) di
hepar. Glukagon tersedia dalam bentuk suntikan (SC, IM dan IV). Obat ini
digunakan untuk mmengobati hipoglikemia. Penderita DM yang cenderung
mengalami hipoglikemia harus menyimpan glucagon di rumah. Glukosa
darah akan meningkat 5-20 menit paska pemberian.

17
BAB III
PENUTUP

18
3.1 Kesimpulan
Kelenjar Hipofisis (pituitary) disebut juga master of gland atau kelenjar
pengendali karena menghasilkan bermacam-macam hormon yang mengatur
kegiatan kelenjar lainnya.
Tiroid merupakan kelenjar yang terdiri dari folikel-folikel dan terdapat di
depan trakea Kelenjar tiroid merupakan kelenjar yang terletak pada leher,
tepatnya pada laring.
Kelenjar Paratiroid mensekresi hormone paratiroid (HPT) yang berfungsi
mengatur kadar kalsium dalam darah. Penurunan kalsium dalam serum
merangsang pelepasan PTH.
Kortikosteroid adalah suatu kelompok hormon steroid yang dihasilkan di
kulit kelenjar adrenal. Hormon ini berperan pada banyak sistem fisiologis pada
tubuh, misalnya tanggapan terhadap stres, tanggapan sistem kekebalan tubuh,
dan pengaturan inflamasi, metabolisme karbohidrat, pemecahan protein, kadar
elektrolit darah, serta tingkah laku.
3.2 Saran
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini sangat banyak
sekali kesalahan. Besar harapan kami kepada para pembaca untuk bisa
memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun agar makalah ini
menjadi lebih sempurna

DAFTAR PUSTAKA

19
J. H. Green. 2002. Fisiologi Kedokteran. Tangerang : Binarupa Aksara
Lestari, Siti. 2016. Farmakologi dalam Keperawatan. Jakarta Selatan : Kemenkes
Price & Wilson. 2006. Patofisiologi. Jakarta : EGC
Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Kedokteran : dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC

20