Anda di halaman 1dari 10

DASAR-DASAR PENGUKURAN

Fitriani

Prodi Kimia Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar

Jl. Sultan Alauddin No.36 Gora Sulawesi Selatan

*Email: Fitrianifitrii72@gmail.com

Abstrak

Telah dilakukan suatu praktikum tentang dasar pengukuran dan penentuan nilai
skala terkecil (NST) dengan tujuan mampu menggunakan alat-alat ukur dasar, mampu
menentukan nilai skala terkecil (NST) dan tingkat ketelitian pada beberapa alat ukur.
Pengukuran yang dilakukan ada empat, yaitu pengukuran panjang, massa, waktu dan
listrik pada pengukuran tunggal dan pengukuran ganda. Pengukuran panjang
menggunakan alat ukur mistar, jangka sorong, dan mikrometer sekrup. Pengukuran massa
menggunakan dua alat ukur neraca ohauss 311 gram, dan neraca digital. Pengukuran
besaran waktu menggunakan stopwatch analog dan stopwatch dialog. Masing-masing alat
ukur yang digunakan memiliki NST dan ketidakpastian tersendiri. Ketidakpastian
merupakan kesalahan yang mungkin terjadi dalam pengukuran. Pengukuran tunggal hasil
pengukuran sementara mengikut pada kesalahan mutlak. Sedangkan pada pengukuran
berulang kesalahan mutlak yang mengikut pada hasil pengukuran sementara. Selain
kesalahan mutlak, ada pula kesalahan relatif yang digunakan untuk menentukan angka
penting yang digunakan dalam penulisan hasil laporan.
Kata kunci: Pengukuran, Nilai Skala Terkecil (NST), Ketidakpastian

Pendahuluan

Fisika adalah suatu ilmu yang tujuannya mempelajari komponen materi


dan saling antar-aksinya. Pengamatan suatu gejala umunya tidak lengkap bila
tidak menghasilkan informasi kuantitatif. Untuk memperoleh informasi semacam
ini dibutuhkan pengukuran suatu sifat fisis, dan karenanya pengukuran merupakan
suatu bagian besar dari kegiatan rutin paraahli fisika eksperimen.1 dan 3
Fisikawan memperkenalkan 4 besaran fundamental yang tidak bergantung
padayang lain, yaitu:
1.) Panjang, satuan SI : meter (m).
2. MassaSatuan SI : kilogram (kg).
3. Waktu Satuan : detik (dt).
4. Muatan ListrikSatuan SI : coulomb (C).
Semua pengukuran sedikit banyaknya dipengaruhi oleh kesalahan eksperimental
karena ketidaksempurnaan yang tak terelakkan dalam alat ukur atau karena
batasan yang ada pada indera kita (penglihatan dan pendengaran), yang
harusmerekam informasi tadi.1 dan 3. Ketepatan pengukuran merupakan hal yang
sangat penting didalam fisika untuk memperoleh hasil atau data yang akurat dan
dapat dipercaya. Ketelitian atau ketidakpastian suatu besaran fisis memungkinkan
kita untuk mendefenisikan jumlah angka yang menentukan yang terkait dengan
masalah yang tadi. Contohnya, jika suatu pengukurandinyatakan menghasilkan
642,54389±1%, ini berarti bahwa ketidakpastian sekitar 6,4. Karena itu kita
dibenarkan untuk hanya mengambil angka-angka dalam bilangan yang
menentukan tadi. Dalam hal ini, bilangan yang harus diambil adalah 642 ± 1%
atau 642 ± 6.1 dan 4.
Pengukuran adalah aktivitas membandingkan suatu besaran yang diukur dengan
alat ukur. Pengukuran merupakan sesuatu hal yang penting, segala sesuatu yang
berbentuk pasti ada ukurannya, baik itu panjang, tinggi, berat, volume, ataupun dimensi
dari suatu objek. Penentuan besaran dimensi atau kapasitas, biasanya terhadapat suatu
standar satuan ukur tertentu. Pengukuran tidak hanya terbatas pada kuantitas fisik.
Sesuatu yang dapat diukur dan dapat dinyatakan dengan angka disebut besaran,
sedangkan pembanding dalam suatu pengukuran disebut satuan.

Satuan yang digunakan untuk melakukan pengukuran dengan hasil yang sama
atau tetap untuk semua orang disebut satuan baku, sedangkan satuan yang digunakan
untuk melakukan pengukuran dengan hasil yang tidak sama untuk orang yang berlainan
disebut satuan tidak baku. Alat ukur jarak merupakan salah satu alat ukur yang sering
digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka diperlukan alat ukur yang mudah
digunakan, baik pemakaian maupun pembacaan hasilnya. Alat ukur yang ada saat ini
masih menggunakan alat manual. Belum ada layar penampil untuk menampilkan hasil
ukurnya secara langsung sehingga kesalahan pembacaan bisa saja terjadi. Karena dalam
Pembacaan ukuran milimeter jaraknya kecil sehingga dibutuhkan ketelitian.

Pada penelitian ini, peneliti merancang sebuah inovasi baru dalam pengukuran
jarak dengan memanfaatkan sensor rotary encoder. Penelitian ini diharapkan bisa
menggantikan alat ukur konvensional dengan alat ukur digital. Alat ukur ini akan
mempermudah membaca hasil pengukuran jika dibandingkan dengan alat ukur manual,
dengan mempermudah pembacaan hasil sehingga pengguna dapat langsung melihat
hasilnya pada layar.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari percobaan ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana dasar-dasar pengukuran dan menggunakan alat-alat besaran fisika?

2. Bagamana cara menentukan NST *(Nilai Skala Terkecil) dan tingkat ketelitian
pada beberapa alat ukur?

3. Bagaimana cara menentukan ketidakpastian pada hasil pengukuran tunggal,


berganda dan campuran?
Tujuan

1. Memahami dasar-dasar pengukuran dan menggunakan alat-alat besaran fisika.

2. Menjelaskan dan menentukan NST (Nilai Skala Terkecil) dan tingkat ketelitian
dan tingkat ketelitian pada beberapa alat ukur.

3. Mampu menggunakan dan mngoperasikan beberapa alat ukur dasar.

4. Mampu menentukan ketidakpastian pada hasil pengukuran tunggal, berganda dan


campuran.

Tinjauan Pustaka

Pengukuran merupakan kegiatan membandingkan suatu besaran yang diukur


dengan alat ukur yang digunakan sebagai satuan. Misalnya, kamu melakukan
kegiatan pengukuran panjang meja dengan pensil. Dalam kegiatan tersebut artinya
kamu membandingkan panjang meja dengan panjang pensil. Panjang pensil yang
kamu gunakan adalah sebagai satuan. Sesuatu yang dapat diukur dan dapat
dinyatakan dengan angka disebut besaran, sedangkan pembanding dalam suatu
pengukuran disebut satuan. Satuan yang digunakan untuk melakukan pengukuran
dengan hasil yang sama atau tetap untuk semua orang disebut satuan baku,
sedangkan satuan yang digunakan untuk melakukan pengukuran dengan hasil
yang tidak sama untuk orang yang berlainan disebut satuan tidak baku.

Berikut ini akan kita bahas pengukuran besaran-besaran fisika, meliputi panjang,
massa, dan waktu.

1. Pengukuran Panjang

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur panjang benda haruslah sesuai dengan
ukuran benda. Sebagai contoh, untuk mengukur lebar buku kita gunakan pengaris,
sedangkan untuk mengukur lebar jalan raya lebih mudah menggunakan meteran
kelos.

a. Pengukuran panjang dengan jangka sorong


b. Pengukuran panjang dengan mistar

c. Pengukuran panjang dengan spherometer

d. Pengukuran panjang dengan micrometer sekrup


2. Pengukuran Massa Benda

Timbangan digunakan untuk mengukur massa benda. Prinsip kerjanya


adalah keseimbangan kedua lengan, yaitu keseimbangan antara massa benda yang
diukur dengan anak timbangan yang digunakan. Dalam dunia pendidikan sering
digunakan neraca O’Hauss tiga lengan atau dua lengan. Perhatikan beberapa alat
ukur berat berikut ini.

Bagian-bagian dari neraca O’Hauss tiga lengan adalah sebagai berikut:

• Lengan depan memiliki skala 0—10 g, dengan tiap skala bernilai 1 g.

• Lengan tengah berskala mulai 0—500 g, tiap skala sebesar 100 g.

• Lengan belakang dengan skala bernilai 10 sampai 100 g, tiap skala 10 g.

3. Pengukuran Besaran Waktu

Berbagai jenis alat ukur waktu misalnya: jam analog, jam digital, jam dinding,
jam atom, jam matahari, dan stopwatch. Dari alat-alat tersebut, stopwatch
termasuk alat ukur yang memiliki ketelitian cukup baik, yaitu sampai 0,1 s.

Metode Penelitian

Jenis praktikum yang dilakukan yaitu pengukuran besaran panjang, pengukuran


besaran massa, pengukuran besaran waktu dan pengukuran besaran listrik dengan
melakukan pengukuran tunggal dan pengukuran ganda.

Alat dan bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu jangka sorong 0,01 mm 1
buah, spherometer 0,01 mm 1 buah, micrometer sekrup 0,01 mm 1 buah, mistar biasa 1
buah, Neraca ohauss 311 gram 0,01 gram 1 buah, neraca digital 1 buah, stopwatch analog
0,1 s 1 buah, stopwatch digital 1 buah, amperemeter 1 buah, voltmeter 1 buah.

Prosedur Kerja

1. Pengukuran Besaran Panjang dan Massa

Mengambil alat ukur yang akan digunakan, lalu tentukan masing-masing nilai
skala terkecil (NST) dan kesalahan titik nol (KTN). Pengukuran tunggal untuk
menentukan nilai skala terkecil dan kesalahan titik nol.melakukan pengukuran berganda
sebanyak tiga kali dan setiap anggota praktikan diharuskan melakukan masing-masing
satu kali.Untuk pengukuran besaran panjang digunakan sebuah benda seperti tabung
dengan mengukur kedalaman dan diameter melalui jangka sorong,kaca dengan mengukur
ketebalannya melalui micrometer sekrup, uang logam dengan mengukur ketebalannya
melalui spherometer dan balok kaca planparalel dengan mengukur panjangnya melalui
mistar biasa.Untuk pengukuran besaran massa digunakan anak timbangan (beban ) yang
masing-masing akan diukur massanya melalui neraca ohauss 311 g dan neraca digital.

2. Pengukuran Besaran Waktu dan Listrik

Menentukan masing-masing nilai skala terkecil (NST) dan kesalahan titik nol
(KTN. Melakukan pengukuran tunggal untuk menentukan nilai skala terkecil dan
kesalahan titik nol. Selanjutnya melakukan pengukuran berganda sebanyak tiga kali dan
setiap anggota praktikan diharuskan melakukan masing-masing satu kali. Dalam
pengukuran besaran waktu, akan ditentukan waktu ayunan satu bandul. Dalam
pengukuran besaran listrik, akan digunakan beberapa baterai (sumber tegangan) untuk
menentukan kuat arus dan tegangannya sesuai dengan batas ukur yang dipakai.

Hasil dan Pengamatan

Telah dilakukan percobaan pengukuran besaran panjang, pengukuran besaran


massa, pengukuran besaran waktu, dan pengukuran besaran listrik. Percobaan
pengukuran besaran panjang dilakukan dengan menggunakan alat ukur jangka sorog,
micrometer sekrup, dan mistar biasa. Pada percobaan pengukuran besaran massa tidak
dilakukan, karena kerusakan pada alatnya yaitu neraca ohauss 311 gram. Pengukuran
besaran waktu dilakukan menggunakan alat ukur stopwatch analog dan stopwatch digital.
Pengukuran besaran listrik menggunakan alat ukur voltmeter dan amperemeter.

1. Pengukuran Besaran Panjang

a. Pengukuran besaran panjang dengan jangka sorong


Tabel 1.2. Pengukuran besaran panjang dengan jangka sorong
Besaran yang HasilPengukuran Hasil pengukuran berganda
diukur Tunggal Data I Data II Data III
Diameter dalam 2,17mm 3,5mm 3,55mm 3,5mm

b. Pengukuran besaran panjang dengan Mikrometer sekrup


Tabel 1.3. Pengukuran besaran panjang dengan mikrometer sekrup
Besaran HasilPengukuran Hasil pengukuran berganda
yang diukur Tunggal Data I Data II Data III
Ketebalan 5 mm 2,5mm 2,51mm 2,51mm

c. Pengukuran besaran panjang dengan mistar


Tabel 15. Pengukuran besaran panjang dengan mistar
Besaran yang HasilPengukuran Hasil pengukuran berganda
diukur Tunggal Data I Data II Data III
Ketebalan 1,09mm 1,09mm 1,09mm 11mm

1. Pengukuran besaran listrik


a. Pengukuran besaran listrik dengan amperemeter
Tabel. 16. Pengukuran besaran listrik dengan amperemeter
Besaran yang HasilPengukuran Hasil pengukuran berganda
diukur Tunggal Data I Data II Data III
tegangan 0,11A 0,22A 0,22A 0,22A

2. Pengukuran besaran waktu


a. Pengukuran besaran waktu dengan stowatch analog
Tabel 17. Pengukuran besaran waktu dengan stowatch analog
HasilPengukuran Tunggal Hasil pengukuran berganda
Data I Data II Data III
90,7s 0,23s 0,24s 0,26s

b. Pengukuran besaran waktu dengan stowatch digital


Tabel 18. Pengukuran besaran waktu dengan stowatch digital
HasilPengukuran Tunggal Hasil pengukuran berganda
Data I Data II Data III
9s 4,53s 4,81s 4,90s

C. Pengukuran besaran waktu dengan neraca ohauss 311 gram


Tabel 19. Pengukuran besaran waktu dengan neraca ohauss 311 gram
HasilPengukuran Tunggal Hasil pengukuran berganda
Data I Data II
146,1 gram 149,4 gram 149,2 gram

Analisis Data dengan Ketidakpastian


a. Pengukuran besaran panjang
Tabel 20. Hasil analisis data besaran panjang dengan jangka sorong
Besaran yang diukur Analisis Data

∆x (cm) KR% DK% AB Pf

Pengukuran ganda 0,025 0,070 99,99 3,15 3,5± 0,025

Tabel 21 Hasil analisis data besaran panjang dengan Mikrometer Sekrup


Besaran yang diukur Analisis Data

∆x (cm) KR% DK% AB Pf

Pengukuran berganda 0,005 0,002 99,99 2,69 2,5± 0,005


b. Pengukuran Besaran Listrik
Tabel 22. Hasil analisis data besaran listrik dengan Voltmeter
Besaran yang diukur Analisis Data

∆x (V) KR% DK% AB Pf

Pengukuran berganda 0,05 0,27 99,73 1,56 1,8 ± 0,5

Tabel 23. Hasil analisis data besaran listrik dengan Amperemeter


Besaran yang diukur Analisis Data

∆x (A) KR% DK% AB Pf

Pengukuran tunggal 0,5 0,45 99.55 1,34 0,22 ± 0,1

C. Pengukuran Besaran Waktu


Tabel 24. Hasil analisis data besaran waktu dengan Stopwatch Digital
Besaran yang diukur Analisis Data

∆x (A) KR% DK% AB Pf

Pengukuran tunggal 0,005 0,0005 99,99 4,30 9,22 ±


0,005

Pengukuran berganda 1 0,005 0,001 99,99 4 4,75 ±


0,005

1.2 Pembahasan

Pada paraktikum tentang dasar- dasar pengukuran seseorang dapat


mempelajari teknik- teknik dari pengukuran. Dikenalkan berbagai macam alat
ukur yang dapt di gununakan seperti jangka sorong, mikro meter sekrup, mistar,
amperemeter, volumter, speometer, nereca ohauss, stopwatch. Masing- masing
alat ukur ini di tentukan nst nya di peroleh dari skala terkeci. Lalu diamati secara
teliti alat ukurnya. Pengamatan haruslah sejajar anatar mata dengan alat ukur .
kesalahan titik nol di tentukan dengan rumus ½ nst.

Cara untuk menentuka nst dengan menggunaan pengukuran lansung


adalah dengan menggunakan aturan bahwa saja nst adalah setengah nilai nst
masing- masing alat ukur. Adapun rumusnya ½ nst.. cara menentukan nst dengan
pengukuran langsung adalah dengan memperoleh rata- rata hasil pengukuran
standar. Pengukuran di lakukan 3 kali sehingga dapat di cari rata- ratanya.

Pengukuran tidak langsung adalah pengukuran yang di lakukan terhadap


besaran lain yang memiliki hubungan nilai sistematis dengan besara yang di cari.
Pengukuran tak langsung yang dilakukan pada praktikum ini tak langsung di
lakukan pada semu alat ukur, namun pengukuran tak lnsung di bagi penjdi 2 yaitu
pengukuran tak langsung nstdan standar divisi. Pengukuran tak lansung
menggunakan mistar, neraca ohaus, jarak. Terdapat perbedaan ukur dari
pengukuran tidak lansung di atas, walaupun di lakukan pada besarandan
menggunakanalat yang sama. Pengukuran yang di lakukan secara berulang
memiliki hal yang lebih kecil dari pada pengukuran yang di lakukan.

Kesimpulan

1. Dasar-dasar pengukuran yaitu besaran panjang, besaran waktu, besaran listruik,


dan besaran massa.

2. Rumus mencari NST adalah BU(Batas ukur)/JS(Jumlah skala)

3. Pengukuran tunggal merupakan pengukuran yang hanya dilakukan sekali saja.


Pada pengukuran tunggal, nilai yang dijadikan pengganti nilai benar adalah hasil
pengukuran itu sendiri. Sedangkan ketidakpastiannya diperoleh dari setengah
nilai skala terkecil instrumen yang digunakan

Saran

Saran dalam percoban selanjutnya pada saat mengukur ketebalan suatu benda
memerlukan ketelitian yang baik dan benar.
DAFTAR PUSTAKA

Fathuroya,dkk.Fisika Dasar Untuk Ilmu Pangan.Malang: UB Press,2017

Freedman dan Young.Fisika Universitas Edisi Kesepuluhan Jilid 2.Jakarta:

Erlangga,2003

Halliday, dkk., 2005. Fisika Dasar Jilid 1. Jakarta: Erlangga