Anda di halaman 1dari 24

TUGAS MATA KULIAH

PATOLOGI KLINIK VETERINER

JUDUL :
INMUNE-MEDIATED HAEMOLYTIC ANAEMIA

oleh:
Febrianti 1409005043
Yessie Yulianda 1509005035
Richard Christian Daud 1709511001
I Gede Arya Mas Sosiawan 1709511002
Putu Yunika Cahyanti 1709511003
Regina B Br Ginting 1709511005
Doni Damara 1709511006
Agustina Lesmauli Nazara 1709511007
Jeremy Christian Luwis 1709511008
Salsabila Qutrotu’ain 1709511009

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
pertolongan-Nya kami dapat menyelesaiakan makalah Patologi Klinik Veteriner
yang berjudul “Inmune-Mediated Haemolytic Anaemia”. Tidak lupa kami
mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing yang telah memberi kami
waktu untuk menyelesaikan makalah ini. Dalam pembuatan makalah ini tentunya
banyak kesulitan yang kami hadapi, tetapi alhamdulillah kami dapat
menyelesaikannya. Kami tahu dalam penyelesaian tugas ini, masih banyak yang
belum sempurna, oleh karena itu kami harapkan saran dan masukan dari dosen atau
siapapun yang ahli dalam bidangnya, sehingga pembahasan mengenai makalah
Patologi Klinik Veteriner ini akan menjadi lebih baik lagi. Karena itu kami berharap
semoga pembahasan makalah ini dapat menjadi sesuatu yang berguna bagi kita
bersama.

Denpasar, Oktober 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman Sampul
Kata Pengantar ..................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................. 2
1.3 Tujuan .................................................................................................... 2
1.4 Manfaat .................................................................................................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................... 2
2.1 Definisi Hematologi Veteriner ................................................................ 3
2.2 Fisiologi Eristrosit Dan Leukosit ............................................................ 4
2.3 Penjelasan Tentang Anemia .................................................................... 8
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN.............................................................. 11
3.1 Hasil Pemeriksaan ................................................................................... 11
3.2 Pembahasan Penyebab Setiap Kelainan .................................................. 13
3.3 Interpretasi Atau Diagnosa...................................................................... 18
BAB IV PENUTUP ............................................................................................. 20
4.1 Kesimpulan ............................................................................................. 20
4.2 Saran ....................................................................................................... 20
Daftar Pustaka ...................................................................................................... 21

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Patologi klinik veteriner telah berkembang denpan pesat sejalan dengan
bertambah dalamnya pandangan mengenai patofisiologi dan meningkatnya
jumlah serta ketepatan prosedur pemeriksaan laboratorium oleh karena
diagnostik dan pengobatan terus menerus berkembang. Suatu cabang ilmu yang
menggunakkan hasil pemeriksaan laboratorium untuk menerangkan masalah
klinik yang berkaitan dengan pasien dikenal dengan patologi klinik. Dengan
demikian patologi veteriner adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari
hasil pemeriksaan laboratorium dan kemudian menginterprestasikan hasil
tersebut untuk kepentingan klinik veteriner.
Patologi klinik berperan penting dalam pengobatan pasien.
Pengetahuan ini tidak hanya bermanfaat dalam menegakkan diagnosis,
melainkan juga dalam mengontrol pengobatan dan perkembangan penyakit.
Untuk dapat mengetahui suatu penyakit dapat dilakukan dengan pemeriksaan
laboratorium. Salah satu pemeriksaan laboratorium yang dapat kita lakukan
adalah pemeriksaan hematologi. Hematologi veteriner adalah disiplin ilmu
kedokteran hewan yang mempelajari komponen sel darah hewan serta kelainan
fungsional dari sel tersebut
Immune Mediated Haemolytic Anemia (IMHA) merupakan anemia
yang muncul akibat hemolisis eritrosit di dalam intravaskular maupun
ekstravaskular yang berhubungan dengan mediator sistem imun (Mackin,
2014). Kejadian ini dapat disebabkan oleh infeksi protozoa atau parasit darah,
salah satunya Babesia sp (Mackin, 2014). Penularan parasit darah ini diperantai
oleh vektor caplak yaitu Rhipicephalus sanguineus yang hidup di permukaan
kulit anjing dan menghisap darah melalui pembuluh darah perifer di bawah kulit
sehingga sangat berpotensi menyebabkan kerusakan eritrosit yang berujung
dengan kejadian anemia.

1
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaiman hasil test hematologi pada anjing Australian Sheperd?
1.2.2 Bagaimana diagnosa atau interpretasi hasil pemeriksaan hematologi?

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui hasil test hematologi pada anjing Australian Sheperd
dan diagnosa atau interpretasi hasil pemeriksaan hematologi.

1.4 Manfaat
Penulisan paper ini mengharapkan pembaca terutama mahasiswa dapat
mengetahui dan lebih memahami cara menginterpretasikan hasil laboratorium
dari sebuah penyakit.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Hematologi Veteriner


Hematologi Veteriner adalah disiplin ilmu kedokteran hewan yang
mempelajari komponen sel darah hewan serta kelainan fungsional dari sel
tersebut. Sebagai seorang yang menekuni bidang hematologi, selain
mempelajari sel darah, ia juga harus mengetahui volume darah setiap hewan,
sifat aliran darah, serta hubungan fisik antara sel-sel darah dan plasma.
Sebagai yang diketahui, darah dianggap sebagai jaringan khusus
yang menjalani sirkulasi, terdiri dari berbagai macam sel yang terendam dalam
cairan yang disebut plasma. Agak berbeda dengan jaringan lain, sel darah tidak
menempati ruang tetap satu dengan yang lain. Aliran darah dalam saluran
tubuh menjamin lingkungan yang tetap agar semua sel serta jaringan mampu
melaksanakan fungsinya. Dengan kata lain, fungsi darah dalam sirkulasi adalah
sebagai transportasi, pengatur suhu, dan pemeliharaan keseimbangan cairan,
asam dan basa.
Secara rinci, Franson (1986) dalam bukunya Anatomy And
Physiology of Farm Animals menyebutkan bahwa fungsi darah adalah sebagai
berikut:
a. Membawa zat makanan yang telah disispkan oleh saluran pencernaan
menuju ke jaringan tubuh.
b. Membawa oksigen (O2) dari paru-paru ke jaringan.
c. Membawa karbondioksida (CO2) dari jaringan ke paru-paru.
d. Membawa produk buangan dari berbagai jaringan menuju ke ginjal
untuk di ekskresikan.
e. Membawa hormon dari kelenjar endrokin ke dalam organ lain di dalam
tubuh.
Secara umum, volume total darah mamalia berkisar antara 7-8% dari berat
badan. Bahan antar sel/plasma darah berkisar antara 45-65% dari seluruh isi
darah, sedangkan sisanya 35-55% disusun oleh sel darah atau benda darah. Sel
darah dalam garis besarnya dibagi menjadi : 1) Sel darah merah/ Eritrosit. 2)
Sel darah putih/ Tombosit. 3) Trombosit/ Keping-keping darah. Sementara itu,

3
leukosit secara garis besar digolongkan sebagai berikut : a) granulosit yang
terdiri dari neutrofil, eosinofil, basofil, dan b) agranulosit yang terdiri dari
monosit dan limfosit.

2.2 Fisiologi Eritrosit Dan Leukosit


Darah merupakan komponen penting dalam penilaian kondisi fisiologis
tubuh. Darah terdiri dari plasma dan sel darah. Sel darah meliputi eritrosit,
leukosit, dan trombosit. Komponen darah tersebut dapat diamati setelah
dilakukan sentrifugasi sehingga membentuk beberapa lapisan yaitu Plasma,
Leukosit, Trombosit dan Eritrosit.
Plasma darah merupakan carian penyusun darah yang mengandung
sejumlah protein yang berperan sangat penting untuk menghasilkan osmotik
plasma (Isnaeni, 2006). Darah berfungsi untuk mengedarkan substansi yang
masuk ke dalam tubuh maupun yang dihasilkan tubuh dari proses-proses
metabolisme, sebagai pertahanan terhadap antigen, dan mengatur stabilitas
suhu tubuh.
Terdeteksinya hingga tingkat keparahan dari suatu penyakit dapat
diketahui dari pemeriksaan darah (hematologis). Profil darah merupakan
gambaran kondisi fisiologis tubuh yang berkaitan dengan kesehatan, sehingga
kondisi profil darah yang baik akan mendukung proses fisiologis tubuh yang
lebih baik. Kondisi profil darah yang baik dapat ditandai dengan komponen
darah yang berada dalam kisaran normal.Terdapat dua komponen dalam profil
darah yaitu profil hematologi dan profil kimia darah. Hematologi lengkap
(complete blood count) merupakan dasar untuk pengujian praklinis dan klinis
serta menjadi persyaratan dasar dalam penilaian praklinis obat-obatan dan
toksisitas.
Profil hematologi meliputi profil eritrosit (jumlah eritrosit, kadar
hemoglobin, dan persentase hematokrit), profil leukosit (jumlah total leukosit,
jumlah neutrofil, jumlah limfosit, dan mixed (gabungan jumlah monosit,
eosinofil, dan basofil), dan profil trombosit (jumlah trombosit).

2.2.1 Eritrosit
Eritrosit mamalia memiliki diameter rata-rata sebesar 7,5 µm.
Eritrosit merupakan sel cakram tak berinti berbentuk bikonkaf dengan
pinggiran sirkuler yang tebalnya sekitar 1,5 µm dan pusatnya tipis.
Cakram tersebut memiliki permukaan yang relatif luas untuk pertukaran
oksigen melintasi membran sel. Salah satu penyebab naiknya jumlah
eritrosit adalah meningkatnya suhu tubuh, dikarenakan dengan suhu
tubuh yang meningkat akan menyebabkan aktivitas penyerapan oksigen
meningkat. Eritrosit rentan terhadap terjadinya peroksidasi lipid karena

4
struktur membran eritrosit yang kaya asam lemak tak jenuh sehingga
membran tidak stabil dan sel lisis.
Eritrosit berfungsi dalam penyediaan oksigen untuk kebutuhan
energi dalam rangka metabolisme karena adanya hemoglobin.
Hemoglobin merupakan protein majemuk, terdiri atas protein sederhana
(globin) dan heme. Hemoglobin berfungsi untuk mengangkut oksigen
dari kedua paru-paru ke jaringan tubuh dan mengangkut karbondioksida
dari jaringan tubuh ke kedua paru-paru. Hemoglobin dipengaruhi oleh
umur hewan, spesies, lingkungan, pakan, ada tidaknya kerusakan
eritrosit dan penanganan darah saat pemeriksaan.
Eritrosit berasal dari hemositoblast, proses pembentukannya
dinamakan eritropoiesis (Guyton dan Hall, 2006) dan diatur melalui
mekanisme umpan balik yang dipengaruhi jumlah oksigen dalam darah.
Kecepatan eritropoiesis akan meningkat dengan menurunnya jumlah
eritrosit. Pada kondisi jumlah O2 menurun, hati akan banyak melepas
globulin dan ginjal akan memproduksi lebih banyak faktor eritropoietik
yang akan saling berinteraksi membentuk eritropoietin. Eritropoietin
yang terbentuk akan merangsang terjadinya proses eritropoiesis sehingga
jumlah eritrosit meningkat. Namun apabila jumlah O2 meningkat maka
produksi globulin dan faktor eritropoietik akan menurun.
Penurunan jumlah eritrosit dapat terjadi apabila prekursor seperti
zat besi dan asam amino yang membantu dalam pembentukan eritrosit
kurang. Kurangnya prekursor tersebut dikarenakan adanya gangguan
penyerapan gizi yang berkurang sehingga dapat memengaruhi organ
yang berperan dalam produksi sel darah. Gagalnya pembentukan eritrosit
akan mengakibatkan bentuk eritrosit tidak teratur, memiliki membran
sangat tipis, besar, bentuknya oval yang berbeda dengan bentuk normal
sehingga dapat memengaruhi pengangkutan oksigen ke jaringan tubuh
(Guyton dan Hall, 2006).

2.2.2 Leukosit
Leukosit merupakan sel darah yang memiliki inti. Leukosit
memiliki ukuran sel yang lebih besar, tetapi jumlah yang lebih sedikit

5
dibandingkan dengan eritrosit. Leukosit berfungsi sebagai sistem
pertahanan tubuh terhadap agen infeksi yang cepat dan kuat. Sistem
pertahanan tersebut dilakukan dengan cara menghancurkan antigen
melalui fagositosis atau pembentukan antibodi. Leukosit sebagian
dibentuk di sumsum tulang dan sebagian di organ limfoid seperti kelenjar
limfe, timus, dan tonsil, kemudian akan diangkut menuju bagian yang
mengalami peradangan.
Leukosit dibagi menjadi dua kelompok yaitu granulosit yang
terdiri dari neutrofil, eosinofil, basofil dan kelompok agranulosit terdiri
dari monosit dan limfosit. Granulosit seperti monosit, eosinofil, dan
basofil jumlahnya sangat sedikit dalam kondisi normal, tetapi apabila
terdapat antigen maka jumlahnya akan meningkat. Monosit berukuran
lebih besar daripada limfosit dengan memiliki inti sel berbentuk bulat
atau panjang seperti ginjal. Monosit dibentuk di dalam sumsum tulang,
kemudian memasuki aliran darah, beredar sekitar 8 jam dan kemudian
memasuki jaringan ikat, tempat sel ini mengalami pematangan menjadi
makrofag yang berfungsi sebagai fagosit.

2.2.3 Neutrofil
Neutrofil berperan dalam respon imun bawaan. Neutrofil
memiliki masa hidup singkat yaitu sekitar 10 jam dalam sirkulasi.
Granula pada neutrofil tidak bewarna, mempunyai inti sel yang terangkai
(kadang terpisah), dan banyak terdapat granula pada protoplasmanya.
Adanya peningkatan neutrofil dapat terjadi karena terjadinya stress akut.
Adanya sel yang dirusak mikroba akan mengeluarkan sinyal kimiawi
untuk memanggil neutrofil dari darah datang, memasuki jaringan yang
terinfeksi dan menelan serta merusak mikrobia dalam sel tersebut. Ketika
terdapat antigen maka neutrofil merupakan fagosit yang pertama datang,
diikuti monosit yang berkembang menjadi makrofag besar dan aktif.
Makrofag akan memfagositosis antigen dan produknya serta
membersihkan sel-sel jaringan yang rusak dan sisa neutrofil yang dirusak
dalam proses fagositosis tersebut.

6
2.3.4 Limfosit
Limfosit berperan dalam respon imun adaptif. Terdapat dua jenis
utama limfosit yaitu limfosit T (sel T) dan limfosit B (sel B) yang
bersirkulasi dalam darah dan limfa. Kedua jenis limfosit tersebut
melakukan respons pertahanan terhadap antigen yang berbeda tetapi
saling melengkapi. Sel B akan mensekresi protein yaitu antibodi ketika
terdapat antigen. Sel B dan sel T dapat mengenali antigen secara spesifik
karena adanya reseptor antigen yang terikat pada membran plasma. Sel
T umumnya bermigrasi ke kelenjar limfa perifer. Limfosit T dalam organ
limfoid sekunder akan berkembang menjadi sel T helper (Th) atau T
cytotoxic (Tc). Sel Th akan berinteraksi dengan antigen yang disajikan
oleh APC (Antigen Presenting Cell).

2.3.5 Trombosit
Trombosit merupakan komponen sel darah yang tidak memiliki
nukleus. Trombosit dihasilkan oleh megakariosit dalam sumsum tulang,
memiliki bentuk cakram bikonveks apabila dalam keadaantidak aktif.
Trombosit pada manusia berdiameter 2-4 µm dan memiliki volume 7-8
fL. Trombosit memiliki selubung eksternal yang banyak mengandung
glikoprotein yang berfungsi sebagai reseptor. Ketika trombosit berada
dalam keadaan tidak aktif maka tidak teragregasi. Hal ini dikarenakan
glikoprotein pada selubung eksternal trombosit mengandung molekul
sialic acid sehingga selubung eksternal tersebut memiliki muatan negatif
yang menyebabkan adanya reaksi tolak-menolak.
Trombosit berfungsi dalam hemostasis yang berhubungan dengan
koagulasi darah sebagai fungsi utama trombosit. Fungsi koagulasi
tersebut bermula dari melekatnya trombosit ke kolagen yang terpapar
dalam dinding pembuluh darah yang rusak. Trombosit selanjutnya
melepas ADP (Adenosin Dipospat) sehingga sejumlah besar trombosit
bersatu, kemudian melepaskan lipida yang diperlukan untuk
pembentukan bekuan.

7
2.3 Penjelasan Tentang Anemia
Anemia didefinisikan sebagai kondisi dimana terjadinya penurunan
konsentrasi eritrosit atau hemoglobin pada darah sampai dibawah normal, hal
ini terjadi apabila keseimbangan antara kehilangan darah (lewat perdarahan
atau penghancuran sel) dan produksi darah terganggu. Dengan kata lain,
anemia terjadi apabila kadar eritrosit atau hemoglobin dalam darah menurun
dan mengakibatkan penurunan fungsi utamanya.
Dalam menjelaskan definisi anemia, diperlukan adanya batas batas
kadar hemoglobin dan hematokrit sehingga bisa dianggap telah terjadi anemia.
Batasan (cut off point) ini sangat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor,
diantaranya adalah usia, jenis kelamin, ketinggian tempat tinggal dari
permukaan laut, dan lain lain.14 batasan yang umumnya digunakan adalah cutt
off point, yang selanjutnya membagi derajat keparahan anemia berdasarkan
nilai hemoglobinnya.
Berdasarkan proses patofisiologi terjadinya anemia, dapat digolongkan
pada tiga kelompok, yaitu anemia akibat produksi sel darah merah yang
berkurang atau gagal, anemia akibat penghancuran sel darah merah, dan
anemia akibat kehilangan darah. Klasifikasi berdasarkan respons sumsum
tulang, yaitu regeneratif anemia dan non regeneratif anemia. Berdasarkan
etiologi yaitu anemia haemoragi, anemia heamolitika, dan anemia akibat
gangguan eritropoiesis.

2.3.1 Anemia Akibat Produksi Yang Berkurang Atau Gagal


Pada anemia tipe ini, tubuh memproduksi sel darah yang terlalu
sedikit atau sel darah merah yang diproduksi tidak berfungsi dengan baik.
Hal ini terjadi akibat adanya abnormalitas sel darah merah atau
kekurangan mineral dan vitamin yang dibutuhkan agar produksi dan
kerja dari eritrosit berjalan normal. Kondisi kondisi yang mengakibatkan
anemia ini antara lain sickle cell anemia, gangguan sumsum tulang dan
stem cell, anemia defisiensi zat besi, vitamin b12, dan folat, serta
gangguan kesehatan lain yang mengakibatkan penurunan hormon yang
diperlukan untuk proses eritropoesis.

8
2.3.2 Anemia Akibat Penghancuran Sel Darah Merah
Bila sel darah merah yang beredar terlalu rapuh dan tidak mampu
bertahan terhadap tekanan sirkulasi maka sel darah merah akan hancur
lebih cepat sehingga menimbulkan anemia hemolitik. Penyebab anemia
hemolitik yang diketahui atara lain:
a. Keturunan, seperti sickle cell anemia dan thalassemia
b. Adanya stressor seperti infeksi, obat obatan, bisa hewan, atau
beberapajenis makanan
c. Toksin dari penyakit liver dan ginjal kronis
d. Autoimun
e. pemasangan graft, pemasangan katup buatan, tumor, luka
bakar, paparan kimiawi, hipertensi berat, dan gangguan
trombosis
f. Pada kasus yang jarang, pembesaran lien dapat menjebak sel
darah merah dan menghancurkannya sebelum sempat
bersirkulasi.

2.3.3 Anemia Akibat Kehilangan Darah


Anemia ini dapat terjadi pada perdarahan akut yang hebat ataupun
pada perdarahan yang berlangsung perlahan namun kronis. Perdarahan
kronis umumnya muncul akibat gangguan gastrointestinal ( misal ulkus,
hemoroid, gastritis, atau kanker saluran pencernaan ), penggunaan obat
obatan yang mengakibatkan ulkus atau gastritis (misal oains), dan lain-
lain.

2.3.4 Regeneratif Anemia


Penyebab anemia regenerative karena hilangnya darah/destruksi
darah mungkin dapat terlihat pada fase recovery distungsi sumsum tulang.
Kehilangan darah dapat bersifat internal maupun eksternal, bisa akut dan
bisa bersifat kronis. Sedangkan destruksi dara bisa bersifat intravaskuler
maupun ekstravaskuler dan mungkin berkaitan dengan kelainan intrinsic

9
dan kelainan ekstrinsik. Anemia ini ditandai dengan adanya polikromasia,
retikulosit, makrositosis dan hipokromik.

2.3.5 Non Regeneratif Anemia


Ditandai dengan tidak cukupnya sumsum tulang memberikan
respons terhadap gangguan pada sumsum tulang. Ditandai dengan adanya
poikilositosis, target sel, polikromasia, dan retikulosit tidak ditemukan.
Hewan dengan anemia non regenerative yang berhubungan adanya
netropenia dan trombositopenia diketahui mempunyai kerusakan stem sel
baik reversible maupun irreversible.

2.3.6 Anemia Hemorragi


Timbulnya anemia ini disebabkan karena adanya pendarahan dan
sebagai respon dari pendarahan akut, tergantung dari jumlah darah yang
keluar, lama pendarahan, lokasi pendarahan dan tipe pendarahan. Apabila
terjadi pendarahan eksternal maka akan terjadi penurunan jumlah eritrosit,
penurunan kosentrasi protein plasma dan sebagai akibatnya akan terjadi
penurunan Fe. Penyebab anemia hemoragi dapat akut maupun kronis.

2.3.7 Anemia Hemolitik


Anemia hemolitik didefinisikan sebagai anemia yang disebabkan
oleh peningkatan kecepatan destruksi eritrosit atau bisa disebabkan suatu
gangguan yang berkaitan dengan memendeknya usia sel darah merah.
Biasanya terdapat kelainan intrakorpuskular atau ekstrakorpuskular
sehingga life span menjadi terbatas. Anemia hemolitif dapat menimbulkan
regenerasi yang ditandai dengan jumlah reikulosit yang meningkat.

2.3.8 Anemia Karena Gangguan Proses Eritropoiesis


Anemia ini bersifat non regenerative dan ditandai oleh
abnormalnya sumsumtulang terutama pada proses pembetukan eritrosit.
Biasanya anemia ini disebabkan oleh adanya penyakit ginjal kronis,
sehingga akan terjadi gangguan produksi eritropoietin.

10
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Pemeriksaan


Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan fisik dan tes
hematologi terhadap seekor anjing Australian Shepherd umur 2 tahun
3.1.1 Gejala klinis
Anjing mengalami hematuria akut, depresi dan pada pemeriksaan
fisik membrana mukosa terlihat pucat.
3.1.2 Hasil pemeriksaan darah
Pada serum menunjukkan hemolisis dan hasil pemeriksaan lebih
lengkap pada tabel berikut.

Tabel 1. Hasil Test Hematologi


Eritrosit =1,57 x 106 / μl (5,5-8,5)
PCV = 11 % (37-55)
Hb = 4 g/dl (12-18)
Eritrosit berinti = 3 x 103/μl
Retikulosit = 314 x 103/μl → 20% (<80)
MCV = 70 fl (60-77)
MCH = 36 g/dl (32-36)
Leukosit = 32 x 103/μl (6.0-17.0)
Segmented = 24 x 103/μl (3-11.5)
Bands = 1 x 103/μl (0-0.3)
Limfosit = 6 x 103/μl (1-4.8)
Monosit = 3 x 103/μl (0.15-1.35)
Trombosit = 0,75 x 105/μl (2.0-9.0)
Total protein = 6,3 g/dl (6,0-7,5)

11
3.1.3 Hasil hapus darah
Pada pemeriksaan hapus darah terlihat adanya polikromasia dan
anisositosis dengan banyak bentukan sperosit.

Gambar 1. Preparat hapus darah anjing

3.1.4 Trombositopenia
Trombosit di bentuk di sumsum tulang bersama dengan sel-sel
darah yang lain. Trombosit berperan penting dalam proses pembekuan
darah. Jika trombosit dalam darah berkurang, maka pembekuan darah
akan terhambat sehingga menyebabkan pendarahan. Berkurangnya
trombosit dalam darah disebut trombositopenia. Trombositopenia bisa
menyebabkan pendarahan internal sehingga ditemukan darah pada urin
atau hematuria.
Pada hasil tes hematologi anjing Australian Shepherd tersebut
menunjukkan terjadinya trombrositopenia, dimana jumlah trombositnya
yaitu 0,75 x 105/μl sedangkat batas normalnya adalah 2.0 x 105/μl sampai
9.0 x 105/μl. Trombositopenia disebabkan oleh beberapa faktor antara
lain:
a. Sumsum tulang tidak memproduksi trombosit dalam jumlah
cukup
b. Limpa menyimpan trombosit berlebihan dari jumlah seharusnya
c. Pada idiopatik trombositopenia pura-pura berkaitan dengan
gangguan pada sistem imun

12
d. Infeksi virus
e. Infeksi bakteri berat seperti tuberkulosis
f. Leukemia atau limfoma
g. Anemia
h. Defisiensi vitamin B6
i. Penyakit autoimun
j. Pembesaran limpa

3.2 Pembahasan Penyebab Setiap Kelainan


3.2.1 Penurunan Eritrosit
Nilai Eritrosit rendah umumnya juga ditunjukkan dengan nilai sel
darah merah dan hematokrit rendah. Kondisi ini disebut dengan anemia.
Kondisi yang bisa menyebabkan nilai Eritrosit rendah adalah trauma atau
radang yang menyebabkan kehilangan banyak darah pada pada bagian tubuh
tertentu. Hancurnya sel darah merah secara berlebihan dapat menyebabkan
kadar eritrosit rendah sehingga menyebabkan anemia. Penyebab hancurnya
sel darah merah secara berlebihan adalah anemia hemolitik, anemia sel sabit,
defisiensi G6PD, dan penyebab lainnya. Penyebab ini dapat diklasifikasikan
sebagai anemia regenerative.
Penyebab nilai eritrosit rendah lainnya adalah akibat adanya gangguan
pada sumsum tulang belakang. Kerusakan sumsum juga bisa diakibatkan oleh
racun, radiasi seperti kemoterapi, infeksi, hingga efek obat-obatan.Penyakit
atau radang kronis seperti gagal ginjal juga bisa menyebabkan nilai Eritrosit
menurun. Gagal ginjal dapat menyebabkan penurunan produksi
erythropoietin, sehingga produksi sel darah merah juga menurunan. Penyebab
ini diklasifikasikan sebagai anemia non-regeneratif.

3.2.2 Penurunan Haemoglobin


Penurunan Hb dapat disebabkan oleh kehilangan banyak darah atau
anemia didalam tubuh. Penyebab kekurangan hemoglobin umumnya karena
perdarahan yang dapat berasal dari luka yang bisa disebabkan oleh trauma
ataupun infeksi. salain itu, Anemia hemolitik yang ditandai dengan terurainya

13
sel darah merah di dalam pembuluh darah atau limpa. Padahal, sel darah
merah seharusnya terurai di hati. Kondisi inilah yang kemudian menjadi
penyebab jumlah hemoglobin (Hb) rendah. Penyebab dari turunnya nilai Hb
termasuk kedalam anemia regenerative.

3.2.3 Penurunan PCV


Merupakan suatu keadaan dimana kadar Hematrokit rendah atau
dibawah nilai normal. Kondisi ini dapat ditemukan pada hewan mengalami
anemia. Merupakan suatu keadaan kurangnya volume darah dalam tubuh
yang dinyatakan dalam Hb (Haemoglobin). Keadaan ini juga akan secara
langsung berdampak pada penurunan nilai Hematokrit dalam tubuh hewan.
Kondisi anemia lainnya yang juga mempengaruhi penurunan Hct antara lain:
Anemia defisiensi besi merupakan jenis anemia yang berhubungan dengan
penurunan kadar zat besi (Fe) dalam Hb, yang dimana telah dijelaskan
sebelumnya dengan penurunan nilai Hb, juga akan menyebabkan penurunan
nilai dari Hct. Anemia Megaloblastic merupakan anemia yang berhubungan
dengan kurangnya asupan asam folat dan vitamin B12. Sama halnya dengan
Fe, kekurangan asam folat dan B12 juga akan menyebabkan penurunan nilai
Hb. Penyebab ini termasuk anemia regenerative.
Penurunan nilai PCV juga dapat disebabkan oleh Penyakit ginjal
kronis penurunan kadar Hematokrit biasanya berhubungan dengan penurunan
produktifiktas hormon eritropoietin, yang merupakan hormon penting
didalam pembentukan sel darah. Penyakit Sumsum tulang juga merupakan
salah satu tempat untuk memproduksi sel darah merah. Penyebab ini
termasuk anemia non-regeneratif.

3.2.4 Faktor Penyebab Adanya Retikolosit Dan Eritrosit Berinti


Retikulosit adalah Sel Darah Merah (SDM) yang masih muda yang
tidak berinti dan berasal dari proses pematangan normoblas disumsum tulang.
Retikulosit akan masuk ke sirkulasi darah tepi dan bertahan kurang lebih
selama 24 jam sebelum akhirnya mengalami pematangan menjadi eritrosit.
Pada anjing tanpa anemia hitung retikulositnya berkisar antara 0–1,5%.

14
Jumlah ini penting karena dapat digunakan sebagai indicator produktivitas
dan aktivitas eritropoiesis disumsum tulang dan membantu untuk
menentukan klasifikasi anemia sebagai hiperproliferatif, normoproliferatif,
atau hipoproliferatif. Adanya eritrosit berinti merupakan akibat dari proses
eritrogenesis yang meningkat. Banyaknya retikulosit dan adanya eritrosit
berinti menggambarkan bahwa kucing tersebut menderita anemia regeneratif.

3.2.5 Faktor Penyebab Polikromasia Dan Anisositosis


Banyaknya retikulosit yang terwarnai dengan pewarnaan darah biasa
akan menunjukkan sifat polikromasia. Polikromasia adalah bila pada sediaan
hapus ditemui banyak eritrosit polikrom yaitu eritrosit dengan ukuran lebih
besar dari eritrosit dewasa dan berwarna kebiruan. Anisitosis adalah kelainan
ukuran darah yang berbeda dari ukuran darah pada umumnya. nisositosis
ditandai dengan ditemukannya berbagai variasi ukuran eritrosit seperti
makrosit, mikrosit dan normosit. Adanya anisositosis ini dipakai dalam
penggolongan / pengklasifikasian anemia.

3.2.6 Faktor Penyebab Hemolisis


Hemolysis pada kasus ini dapat kita sebut sebagai penyebab anemia,
yaitu anemia hemolitika. Anemia hemolitika merupakan anemia karena
meningkatnya perusakan atau detruksi darah. Anemia hemolitika ini dapat
disebabkan oleh bakteri, virus, parasit dan penyebab lainnya.

3.2.7 Faktor Penyebab Adanya Sperosit


Sperosit merupakan kelainan bentuk sel eritosit yang bentukannya
menyerupai bola, pada sediaan apus dengan pewarnaan Wright akan tampak
sebagai eritrosit normal dan tidak terdapat daerah pucat di bagian tengah
eritrosit sehingga warnanya tampak lebih gelap. Sperosit terjadi akibat
kelainan atau kerusakan membrane eritrosit, baik yang kongenital maupun
didapat. Kelainan congenital bisa karena sferositosis herediter (salah satu
anemia hemolitik yang disebabkan defek molekuler protein sitokletat sel
darah merah). Dan yang kedua kerusakan membrane eritosit bisa disebabkan

15
oleh kelainan didapat (dapatan) yaitu Immune haemolytic anemia, luka bakar
yang berat, hipersplenisme, dan mikroangiopati.
Di kasus diatas dapat dipastikan penyebab dari adanya peningkatan
sperosit ialah Immune haemolytic anemia. Immune haemolytic anemia
adalah suatu kondisi dimana tubuh tidak memiliki cukup sel darah merah
yang sehat. Sel darah merah di hancurkan lebih awal dari biasanya. Anemia
ini biasanya terjadi ketika antibody terbentuk melawan sel darah merah tubuh
sendiri dan menghancurkannya. Ini terjadi karena system kekebalan tubuh
keliru mengenali sel-sel darah merah sebagai benda asing.

3.2.8 Penyebab Peningkatan Leukosit


Leukositosis adalah suatu gambaran darah berupa peningkatan jumlah
absolute dari sel-sel leukosit diatas nilai normal. Tingkatan leukositosis
dipengaruhi oleh: spesies, berat tidaknya infeksi, virulensi agen penyakit dan
kepekaan inang. Pada kasus diatas leukosit mengalami peningkatan drastis
dari yang normalnya 6,0-17,0/ µl menjadi 32 x 103 µl. Hal tersebut
kemungkinan dikarenankan terjadi peradangan, infeksi agen penyakit atau
perdarahan pada rongga badan. Leukositosis jelas diiringi dengan terjadi
peningkatan limfosit dan monosit dalam kasus ini.
a. Limfosit
Limfositosis adalah penigkatan jumlah absolute limfosit yang
ada dalam sirkulasi darah hewan. Dari data kasus diatas terjadi
peningkatan limfosit dari normalnya 1-4,8µl menjadi 6 x 103 µl. Hal
ini menunjukan kemungkinan respon terhadap infeksi terutama virus.
Namun beberapa infeksi bakteri dapat juga meningkatkan jumlah
limfosit.
b. Monosit
Monositosis adalah peningkatan jumlah monosit yang ada
dalam sirkulasi darah hewan. Dari data kasus diatas terjadi
peningkatan limfosit dari normalnya 0,15-1.35 µl menjad 3 x 103 µl.
Hal ini menandakan kemungkinan adanya infeksi akibat bakteri,

16
parasit, maupun jamur dan juga dihubungkan dengan reaksi stress
akut pada anjing diatas.

3.2.9 Penyebab Peningkatan Segmented


Neutrophilia merupakan peningkatan jumlah neutrofil yang ada dalam
sirkulasi darah hewan. Dari data kasus diatas segmented dari normalnya 3-
11,5 µl menjadi 24 x 103 µl. Setelah diuji hasil pemeriksaan lab menyatakan
jumlah neutrophil melebihi batas normal maka kemungkinan adanya infeksi
oleh bakteri, virus, jamur, dan parasit.

3.2.10 Penyebab Peningkatan Band


Penyebab dari peningkatan band kebanyakan terjadi akibat obesitas
dari hewan yang dimana Semakin berat massa tubuh si hewan, semakin
banyak darah yang diperlukan untuk mengantar oksigen dan nutrisi ke seluruh
jaringan tubuh. Hal ini tentu membutuhkan kerja jantung yang lebih keras
dari biasanya sehingga tekanan darah lama-lama akan naik. Penyebab lainnya
seperti kesusahan tidur dari hewan yang dimana juga dapat menyebabkan
peningkatan darah. Faktor makanan juga bisa menyebabkan peningkatan
band seperti konsumsi garam yang berlebih, faktor usia jugatermasuk dalam
penyebab peningkatn band ataupun factor interna seperti fator
geneti/keturunan.

3.2.11 Penyebab Peningkatan Limfosit


Limfosit tinggi umumnya adalah pertanda infeksi, termasuk yang
disebabkan virus atau bakteri. Perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan oleh
dokter untuk menentukan penyebab limfosit tinggi, dikarenakan adanya
penyebab lain seperti peradangan dan pengaruh zat tertentu.
Ada beberapa hal yang dapat memberi pengaruh pada tubuh sehingga
mungkin memberi perubahan pada jumlah limfosit:
a. Adanya infeksi
b. Hewan sedang stress
c. Kanker darah

17
d. Kebuntingan
e. Adanya peradangan pada pembuuh darah
f. Gangguan system limfatik

3.2.12 Penyebab Peningkatan Monosit


Monosit adalah salah satu jenis sel darah putih. Sel ini berfungsi
melawan beberapa jenis infeksi, menyingkirkan sel dan jaringan rusak, serta
meningkatkan kekebalan tubuh terhadap benda asing. Maka dari itu, jumlah
monosit yang terlalu tinggi, bisa menjadi indikator penting dari suatu
gangguan kesehatan.
Ada beberapa hal yang menyebabkan monosit meningkat:
a. Stress.
b. Kanker darah : leukemia, limfoma.
c. Adanya infeksi virus,jamur, bakteri virus dan bakteri.

3.3 Interpretasi atau Diagnosa


Pada kasus ini, anjing mengalami hematuria akut dan kepucatan pada
membrana mukosa yang menunjukkan adanya anemia. Untuk meneguhkan
diagnosa, perlulah menganalisis hasil pemeriksaan hematologi dan hapus darah.
Hasil pemeriksaan darah menunjukkan adanya penurunan eritrosit,
haemoglobin, dan PCV yang merupakan tanda terjadinya anemia. Pada tes
hematologi tersebut, juga menunjukkan adanya eritrosit berinti dan retikulosit
yang berarti bahwa anemia ini tergolong regeneratif. Hal ini diperkuat oleh hasil
hapus darah yang menunjukkan adanya polikromasia dan anisositosis yang
merupakan akibat dari adanya retikulosit dan eritrosit berinti. Hasil lainnya pada
serum terjadi haemolisis sehingga menunjukkan anemia regeneratif hemolitika.
Eritrosit yang berbentuk sperosit juga banyak di temukan pada hapus darah
sebagai akibat gangguan imun. Maka anemia ini tergolong anemia regeneratif
hemolitika imun mediated.
Pada hasil tes hematologi juga menunjukkan peningkatan leukosit,
segmented, bands, limfosit dan monosit yang bisa terjadi karena adanya radang
dan gangguan imun. Trombosit dalam darah pun menurun yang bisa disebabkan

18
oleh adanya anemia dan faktor gangguan imun atau autoimun. Adanya radang
bisa menyebabkan pendarahan dan trombositopenia menyebabkan proses
koagulasi darah gagal sekaligus menjadi faktor pendarahan internal. Ini
dibuktikan dari gejala klinis berupa hematuria akut. Maka dari itu, melihat gejala
klinis, pemeriksaan fisik dan hasil pemeriksaan hematologi, positif
menunjukkan anemia regeneratif hemolitika imun mediated.

19
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
kesimpulan dari hasil pemeriksaan diatas menunjukkan bahwa anjing
Australian Shepherd yang berumur 2 tahun mengalami immune-mediated
haemolytic anemia. Hal ini terlihat dari hasil pemeriksaan darah, dimana nilai
eritrosit, haemoglobin dan pcvnya turun yang menandakan terjadi anemia yang
disebabkan oleh radang atupun infeksi lain. Trombosit menurun kerena adanya
cacat pada proses koagulasi sehingga terjadi pendarahan terus menerus.
Sedangkan jumlah leukositntnya mengalami peningkatan hal ini disebabkan
karena adanya radang ataupun infeksi mempengaruhi sel darah putih
meningkat dalam darah.
Adanya anemia regenerative hemolitika karena adanya retikulosit,
eritrosit berinti, anisisitosis dan polokromasia serta ditandai dengan adanya
serum yang hemolysis. Ditemukan adanya sperosit menandakan adanya
kelainan pada imun anjing. Selain itu pemeriksan fisik menunjukkan
membrane mukosa njing pucat hal ini disebabkan karena terjadi anemia yang
mengakibatkan darah kurang tersuplai ke jaringan.

4.2 Saran
Untuk diagnosa lebih lanjut dapat dilakukan pemeriksaan radiografi
dan ultrasonic untuk menentukan tingkat keparab dari penyakit ini. Penyakit
ini perlu pemantauan dokter hewan terhadap tanda-tanda vital. Pengobatannya
tergantung pada tingkat keparahan kondisinya.

20
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Muhlisin. 2018. diakses tanggal 26 Oktober 2019. Trombositopenia.


https://www.honestdocs.id/trombositopenia
Binjanti R, Yuliani GA, Wahjuni RS, Utomo B. 2010. Buku Ajar Patologi Klinik
Veteriner. Airlangga University Press.
Mackin A. 2014. Immune-mediated hemolytic anemia: pathophysiology and
diagnosis. DVAVM: Mississippi University.
Red Blood Cell Function and Dysfunction: Redox Regulation, Nitric 2019
https://labtestsonline.org/tests/red-blood-cell-count-rbc
Stein. SM. BOH’s Pharmacy pactice manual a guide to the clinical experience.3rd
ed.2010 Lippincott Williams & Wikins
http://www.delawarevalleyacademyvm.org/pdfs/oct14/Autoimmun e.pdf
Willy, Tjin. 2019. Trombositopenia. https://www.alodokter.com/trombositopenia
diakses tanggal 26 Oktober 2019

21