Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM PENGUKURAN MASSA

PENGUJIAN TIMBANGAN PEGAS

Disusun oleh :
Odik Yudi Nugroho (A018031)
Dati Ratna Sari (A018038)
Kelila Putri Nathio L (A018043)

PROGRAM STUDI D3 METROLOGI DAN INSTRUMENTASI


AKADEMI METROLOGI DAN INSTRUMENTASI
KEMENTERIAN PERDAGANGAN
2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Pendahuluan
Dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali menemui ilmu metrologi di
lingkungan sekitar salah satunya di pada transaksi jual beli pasar tradisional.
Metrologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari mengenai pengukuran secara
luas seperti pengukuran berdasarkan standar ukuran, satuan ukur, dan
prosedur pengukuran pada berbagai alat ukur. Dalam ketentuan pasal 12
undang-undang nomor 2 tahun 1981 tentang metrologi legal telah ditetapkan
mengenai pengaturan Alat Ukur, Takar, Timbang, dan Perlengkapannya
(UTTP) yang wajib tera dan tera ulang, dibebaskan dari tera atau tera ulang,
atau kedua-duanya serta syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam
pelaksanaan tera atau tera ulang. Sebagai pedoman untuk pelaksanaan wajib
dan pembebasan tera dan tera ulang pada UTTP pemerintah telah
menetapkan peraturan pemerintah nomor 2 tahun 1985. UTTP yang wajib
diberlakukan tera dan tera ulang bertujuan untuk menentukan hasil
pengukuran, penakaran, dan terwujudnya pelaksanaan peraturan perundang-
undangan seperti halnya pada timbangan. Dalam menjamin kebenaran hasil
pengukuran yang dimaksudkan untuk melindungi konsumen, maka dari itu
perlu dilakukan pengujian atau tera dan tera ulang pada analisa pengujian
timbangan elektronik menggunakan syarat teknis timbangan bukan otomatis
nomor 131/SPK/KEP/10/2015 setiap UTTP khususnya timbangan elektronik.
Timbangan elektronik yang sering digunakan dalam kegiatan jual beli di pasar
dapat memberikan kepuasan tersendiri bagi konsumen yang memperoleh
kebenaran dalam hasil pengukurannya. Pengujian timbangan elektronik dapat
dilakukan berdasarkan pedoman pada syarat teknis timbangan bukan
otomatis. Adapun pengujian pada timbangan elektronik yaitu Pengujian
Kebenaran untuk Tera, Pengujian Eksentrisitas, Pengujian penyetelan Nol,
Pengujiaan Tara, dan Pengujian Kemampuan Ulang (Repeatability). Pengujian
ini dilakukan agar penguji bisa mendapatkan dan memberikan edukasi terkait
modus kecurangan yang dilakukan pedagang pada konsumen saat memakai
alat ukur timbangan elektrnik.
1.2 Tujuan
1. Untuk menentukan kebenaran untuk tera pada alat ukur timbangan
elektronik
2. Untuk menentukan eksentrisitas pada alat ukur timbangan elektronik
3. Untuk menentukan tara pada alat ukur timbangan elektronik
4. Untuk menentukan kemampuan ulan (repeatability) pada timbangan
elektronik
BAB II
TEORI DASAR
Timbangan elektronik adalah timbangan yang bekerjanya
berdasarkan sistem elektronik. Timbangan elektronik berdasarkan prinsip
kerjanya dapat dibagi dua yaitu mix elektronik dan full elektronik. Pada
timbangan mix eletronik, sensor gayanya masih menggunakan lengan-
lengan timbangan yang meneruskan ke indikator yang telah bersifat
elektronik. Sebelum indikator, dipasang suatu sensor yang mengubah
besaran mekanis menjadi besaran elektronik. Pada timbangan full
elektonik sensornya sudah menggunakan komponen yang mengubah
besaran mekanik. Jadi disini tidak lagi digunakan perbandingan lengan
untuk menghitung gaya tetapi sudah berupa signal elektronik.
Sedangkan klasifikasi timbangan eletronik berdasarkan kelas
ketelitiannya dibagi menjadi empat kelas yaitu
1. Kelas 1 (kelas ketelitian khusus) atau special accuracy
2. Kelas 2 (kelas ketelitian halus atau high accuracy
3. Kelas 3 (kelas ketelitian sedang ) atau medium accuracy
4. Kelas 4 (kelas ketelitian biasa) atau ordinary accuracy
Hubungan kelas ketelitian dengan nilai skala verifikasi, jumlah skala
dan kapasitas minimum menimbangnya adalah seperti tercantum dalam
tabel kelas timbangan. Sedangkan untuk timbangan elektronik yang
memiliki e ≠ d, maka “d” digunakan untuk menentukan minimum
menimbangnya.
Nilai skala pengujian atau “e” suatu timbangan elektronik sudah
tertentu besarnya tergantung dari kelasnya, sehingga nilai berat dalam
suatu pembacaan terinterpolasi kebawah atau keatas. Oleh karena itu
dalam setiap pengujian timbangan elektronik harus diperhitungkan
rounding errornya yaitu penunjukkan timbangan P adalah P = I + 0,5 e –
∆L. Dimana DL adalah muatan tambahan atau imbuh yang dapat
menyebabkan penunjukan display berubah satu nilai skala pengujian
sehingga menjadi +1e.
Penunjukan timbangan elektronik dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
lain adalah pengaruh gravitasi, kemiringan, gelombang elektromagnetik,
gaya tekan keatas dari udara, histerisis error, kelembaban, debu, bahan
kima, getaran dan suhu. Timbangan elektronik lebih unggul dari timbangan
mekanik terutama dalam hal ukuran dimensi, akurasi hasil pengukuran,
kefleksibelannya dan kepraktisannya.
Pada mulanya timbangan yang sederhana hanya menunjukan
massa yang ditimbang, tetapi teknologi yang berkembang memungkinkan
untuk saat ini, bukan hanya menunjukan massa saja tetapi juga satuan
yang bayar, bahkan dengan beberapa harga sekaligus sehinggakita tidak
perlu mengubah harga satuannya apabila kita ingin menimbang komoditi
yang lain.
Perkembangan berikutnya, memungkinkan sebuah timbangan
menggunakan interface, baik untuk printer maupun dihubungkan dengan
peralatan lainnya. Perkembangan baru di bidang elektronik dengan
perlengkapan microprocessor telah membuka lebih luas lagi penggunaan
timbangan elektronik tentang kebutuhan, sehingga timbangan elektronik
lebih unggul dari timbangan system mekanik antara lain dalam hal :
akurasinya tinggi, dimensinya kecil dan kompak, responya tinggi, memilika
keleluasan fasilitas yang lebih luas, dapat dihubungkan ke computer untuk
pemerosesan pekerjaan.
BAB III

METODE PENGUJIAN

3.1 Persiapan Pengujian


a. Pastikan bahwa timbangan dalam keadaan bersih, kering dan tidak
berkarat.
b. Posisikan timbangan dalam keadaan datar.
c. Lakukan pemanasan pada timbangan.
3.2 Pengujian Kebenaran untuk Tera
Titik uji penimbangan dengan minimal 5 titik uji dalam rentang ukur
penimbangannya harus mencakup:\
- Min;
- pada perubahan BKD;
- Max.
a. Muati dengan anak timbangan standar sesuai dengan titik uji
yang diperiksa.
b. Jika penunjukan sama dengan anak timbangan standar yang
diletakkan, maka timbangan dinyatakan ”SAH”.
c. Jika penunjukan tidak sama :
1) BKD ±0,5 e, maka timbangan dinyatakan ”BATAL”.
2) BKD ±1 e:
a) Untuk penunjukan stabil di 1e maka tambahkan imbuh
0,5 e
 Jika tetap, maka timbangan dinyatakan ”SAH”.
 Jika berubah menjadi +2e, maka timbangan
dinyatakan ”BATAL”.
b) Untuk penunjukan stabil di -1e maka tambahkan imbuh
0,5e
 Jika berubah, maka timbangan dinyatakan ”SAH”.
 Jika tidak berubah, maka timbangan dinyatakan
”BATAL”.
c) BKD ±1,5 e:
 Untuk penunjukan stabil di ±1 e, maka timbangan
dinyatakan ”SAH”.
 Untuk penunjukan lebih dari ±1 e, maka timbangan
dinyatakan ”BATAL”.
3.3 Pengujian Kebenaran untuk Tera Ulang
Titik uji penimbangan dengan minimal 5 titik uji dalam rentang ukur
penimbangannya harus mencakup:
- Min;
- pada perubahan BKD;
- Max.
a. Muati dengan anak timbangan standar sesuai dengan titik uji
yang diperiksa.
b. Jika penunjukan sama dengan anak timbangan standar yang
diletakkan, maka timbangan dinyatakan ”SAH”.
c. Jika penunjukan tidak sama :
1) BKD ±2 e:
a) Untuk penunjukan stabil di ±1e, maka timbangan
dinyatakan “SAH”.
b) Untuk penunjukan stabil di +2e maka tambahkan imbuh
0,5 e
 Jika tetap, maka timbangan dinyatakan ”SAH”.
 Jika berubah menjadi +3e, maka timbangan
dinyatakan ”BATAL”.
c) Untuk penunjukan stabil di -2e maka tambahkan imbuh
0,5e
 Jika berubah, maka timbangan dinyatakan ”SAH”.
 Jika tidak berubah, maka timbangan dinyatakan
”BATAL”.
d) BKD ±3 e:
 Untuk penunjukan stabil di ±1 e, maka
timbangan dinyatakan ”SAH”.
 Untuk penunjukan lebih dari ±2 e, maka
timbangan dinyatakan ”SAH”.
 Untuk penunjukan stabil di +3e maka tambahkan
imbuh 0,5 e
 Jika tetap, maka timbangan dinyatakan
”SAH”.
 Jika berubah menjadi +4e, maka
timbangan dinyatakan ”BATAL”
 Untuk penunjukan stabil di -3e maka tambahkan
imbuh 0,5e
 Jika berubah, maka timbangan
dinyatakan ”SAH”.
 Jika tidak berubah, maka timbangan
dinyatakan ”BATAL”
BAB V
KESIMPULAN
 Pada pengujian kebenaran timbangan pegas hasilnya dinyatakan batal.

 Pada pengujian kepekaan timbangan pegas hasilnya dinyatakan sah.

 Pada pengujian repeatability timbangan pegas dinyatakan sah.


 Pada pengujian eksentrisitas timbangan pegas dinyatakan sah.