Anda di halaman 1dari 8

ANANDA SEPTIANI YUNUS RMK SISTEM INFORMASI KEPERILAKUAN

A31116039
AKUNTANSI

TEORI TINDAKAN BERALASAN

A. Pendahuluan
Teori tindakan beralasan (theory of reasoned action-TRA) dikembangkan oleh Icek
Ajzen dan Martin Fishbein. Teori ini diderivasi dari penelitian-penelitian sebelumnya
yang dimulai dari teori sikap (theory of attitude) yang mempelajari tentang sikap
(attitude) dan perilaku (behavior). Theory of reasoned action (TRA) oleh Ajzen dan
Fishbein (1980) ini lahir karena kurang berhasilnya penelitian-penelitian yang menguji
teori sikap, yaitu hubungan antara sikap dan perilaku. Hasil-hasil dari penelitian yang
menguji teori sikap ini kurang memuaskan karena banyak ditemukan hasil hubungan
yang lemah antara pengukuran-pengukuran sikap (attitude) dengan kinerja dari perilaku
sukarela (volitional behavior) yang dikehendaki.

B. Minat Perilaku dan Perilaku


Minat perilaku (behavioral intention) dan perilaku (behavior) adalah dua hal yang
berbeda. Minat perilaku (behavioral intention) masih merupakan suatu minat. Minat atau
intensi (intention) adalah keinginan untuk melakukan perilaku. Minat belum berupa
perilakunya. Perilaku (behavior) adalah tindakan atau kegiatan nyata yang dilakukan.
Theory of reasoned action (TRA) menjelaskan bahwa perilaku (behavior) dilakukan
karena individual mempunyai minat atau keinginan untuk melakukannya (behavioral
intention). Minat perilaku (behavioral intention) akan menentukan perilaku (behavioral)
yang dapat digambarkan sebagai berikut.

Minat perilaku Perilaku (behavior)


(behavioral intention)
Gambar. Minat perilaku mempengaruhi perilakunya.

C. Perilaku Volitional dan Mandatori


Menurut Ajzen (1988), banyak sekali perilaku-perilaku yang dilakukan oleh manusia
dalam kehidupan sehari-hari dilakukan dibawah kontrol kemauan (volitional control)
adalah melakukan kegiatan perilaku atas kemauannya sendiri. Perilaku-perilaku dibawah
kontrol kemauan ini disebut dengan perilaku volitional (volitional behavior) yang
didefenisikan sebagai perilaku-perilaku yang individual-individual menginginkannya,
atau menolak untuk tidak melakukannya jika mereka memutuskan untuk melawannya.
Perilaku-perilaku volitional (volitional behavior) disebut juga dengan istilah perilaku-
perilaku yang diinginkan (willful behaviors).
Lawan dari perilaku atas kemauan sendiri (volitional behavior) ini adalah perilaku
diwajibkan (mandatory behavior). Perilaku diwajibkan (mandatory behavior) adalah
perilaku yang bukan atas kemauannya sendiri tetapi karena memang tuntutan ataun
kewajiban dari kerja. Perilaku yang diwajibkan misalnya adalah perilaku operator
komputer menggunakan komputer untuk memasukkan data. Contoh dari perilaku menurut
kemauan sendiri yang diberikan sendiri Ajzen (1988) misalnya adalah memilih kandidat
di pemilihan politik, melihat berita-berita sore ditelevisi, membeli pasta gigi di toko obat,
beribadah digereja terdekat, atau mendonasikan darah pada rumah sakit terdekat. Jika
mereka menginginkan, mereka juga dapat memutuskan untuk tidak melakukan kegiatan
ini.

D. Konsep Minat
Minat (intention) didefinisikan sebagai keinginan untuk melakukan perilaku. Minat
tidak selalu statis. Minat dapat berubah dengan berjalannya waktu. Permasalahan lain dari
minat yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengukur minat ini.
Stabilitas Minat-Minat
Minat-intensi berhubungan dengan perilaku-perilaku atau tindakan-tindakan volitional
dan dapat memprediksi mereka dengan akurasi yang tinggi. Akan tetapi, minat-minat
dapat berubah menurut waktu. Semakin lebar interval waktu, semakin mungkin terjadi
perubahan-perubahan di minat-minat. Suatu pengukur dari minat yang diperoleh sebelum
perubahan terjadi tidak dapat diharapkan memprediksi perilaku secara akurat. Akurasi
dari prediksi biasanya akan menurun dengan jumlah waktu yang terjadi antarapengukuran
minat tersebut dengan observasi dari perilaku.
Pengukur Minat
Ajzen (1988) memberikan contoh pengukuran minat. Contohnya adalah suatu perilaku
tentang rencana berjalan di sebuah treadmill (mesin olahraga jalan) paling sedikit 30
menit setiap hari di bulan mendatang.
Penentu-Penentu Minat
Hasil yang menunukkan bahwa minat-minat memprediksi perilaku dengan cukup
akurat tidak berarti dengan sendirinya menyediakan informasi yang banyak tentang
alasan-alasan melakukan perilakunya. Karena Ajzen (1988) lebih tertarik di pemahaman
perilaku manusia, bukan sekedar memprediksinya, maka perlu diidentifikasikan
penyebab-penyebab dari minat-minat perilaku tersebut. Ajzen dan Fishbein (1980)
memperkenalkan suatu teori yang disebut dengan teori tindakan beralasan (theory of
reasoned action) untuk menjelaskan maksud ini, yakni mencoba menjelaskan penyebab-
penyebab kausal dari perilaku volitional.
Sesuai dengan namanya, teori tindakan beralasan (theory of reasoned action)
didasarkan pada asumsi bahwa manusia biasanya berperilaku dengan cara yang sadar,
bahwa mereka mempertimbangkan informasi yang tersedia, dan secara implisit dan
eksplisit juga mempertimbangkan implikasi-implikasi dari tindakan-tindakan yang
dilakukan. Konsisten dengan fokusnya pada perilaku volitional, dan sesuai dengan
penemuan-penemuan yang sudah dilaporkan, teori ini mempostulasikan bahwa minat dari
seseorang untuk melakukan (atau tidak melakukan) suatu perilaku merupakan penentu
langsung dari tindakan atau perilaku. Dengan membatasi kejadian-kejadian tidak terduga,
manusia diharapkan akan bertindak sesuai dengan minat-minat mereka.
Teori tindakan beralasan (theory of reasoned action) adalah teori yang menjelaskan
bahwa minat dari seseorang untuk melakukan (atau tidak melakukan) suatu
perilakumerupakan penentu langsung dari tindakan atau perilaku. Theory of Reasoned
Action (TRA) mengusulkan bahwa minat perilaku (behavioral intention) adalah suatu
fungsi dari sikap (attitude) dan norma-norma subjektif (subjective norms) terhadap
perilaku. Ini berarti bahwa minat seseorang untuk melakukan perilaku diprediksi oleh
sikapnya terhadap perilakunya (attitude towards the behavior) dan bagaimana dia berpikir
orang lain akan menilainya jika dia melakukan perilaku itu (disebut dengan norma-norma
subjektif). Sikap seseorang dikombinasikan dengan norma-norma subjektif akan
membentuk minat perilakunya.

E. Model TRA
Model ini menunjukkan bahwa sikap seseorang, misalnya sikap terhadap belajar,
digabung dengan norma-norma subjektif, misalnya kepercayaan-kepercayaan orang lain
terhadap belajar, akan mempengaruhi minat terhadap belajar dan akhirnya akan
menentukan belajar atau tidak (behavior).
Teori tindakan beralasan ini menjelaskan tahapan-tahapan manusia melakukan
perilaku. Pada tahap awal, perilaku diasumsikan ditentukan oleh minat. Pada tahap
berikutnya minat-minat dapat dijelaskan dalam bentuk sikap-sikap terhadap perilaku dan
norma-norma subjektif. Tahap ketiga mempertimbangkan sikap-sikap dan norma-norma
subjektif dalm bentuk kepercayaan-kepercayaan tentang konsekuensi melakukan
perilakunya dan tentang ekspektasi-ekspektasi normatif dari orang yang direferensi yang
relevan. Secara keseluruhan, berarti perilaku seseorang dapat dijelaskan dengan
mempertimbangkan kepercayaan-kepercayaannya. Karena kepercayaan-kepercayaan
seseorang mewakili informasi yang mereka peroleh tentang dirinya sendri dan tentang
dunia di sekeliling mereka, ini berarti bahwa perilaku terutama ditentukan oleh informasi
ini.

F. Sikap
Sikap (attitude) adalah evaluasi kepercayaan atau perasaan positif atau negatif dari
seseorang jika harus melakukan perilaku yang akan ditentukan. Fishbein dan Ajzen
(1975) mendefinisikan sikap sebagai jumlah dariafeksi (perasaan) yang dirasakan
seseorang untuk menerima atau menolak suatu objek atau perilaku dan diukur dengan
suatu prosedur yang menempatkan individual pada skala evaluatif dua kutub, misalnya
baik atau jelek; setuju atau menolak; dan lainnya. Dengan demikian, sikap seseorang
terhadap sistem informasi menunjukkan seberapa jauh orang tersebut merasakan bahwa
sistem informasinya baik atau jelek.
Pengukuran Sikap
Sikap terhadap suatu perilaku (attitude towards a behavior) merupakan suatu evaluasi
menyeluruh seseorang dalam melakukan suatu perilaku. Penelitian empiris telah
menunjukkan bahwa evaluasi menyeluruh sering berisi dengan dua komponen yang
terpisah. Satu komponen adalah sufat dari instrumentalnya, yang diwakili oleh semacam
pasangan-pasangan kata sifat seperti berguna-tidak berguna, dan berbahaya-bermanfaat.
Komponen kedualebih banyak ke kualitas pengalaman dan dihubungkan dengan skala
semacam menyenangkan-tidak menyenangkan dan suka-tidak suka. Disarankan untuk
menggunakan gabungan dari kedua komponen ini ditambah dengan skala baik-jelek untuk
menangkap evalusi meyeluruh dengan baik.
Kepercayaan-Kepercayaan Perilaku Sebagai Penentuan Sikap
Menurut teori tindakan beralasan, sikap atau lengkapnya sikap terhadap suatu perilaku
(atitude toward a behavior) ditentukan oleh kepercayaan-kepercayaan yang kuat tentang
perilakunya yang disebut dengan istilah kepercayaan-kepercayaan perilaku (behavioral
beliefs).
Kepercayaan-kepercayaan perilaku (behavioral beliefs) ditentukan oleh evaluasi
terhadap hasil yang dihubungkan dengan perilaku dan juga ditentukan oleh kekuatan dari
asosiasi-asosiasi tersebut. Dengan mengalihkan kekuatan kepercayaan (belief strength)
dan evaluasi terhadap hasil, dan menjumlahkan hasil perkalian-perkalian ini, maka akan
diperoleh suatu sikap (attitude).
Sikap Terhadap Objek dan Terhadap Perilaku
Fishbein dan Ajzen (1975) membedakan dua macam sikap-sikap (attitudes), yaitu
sikap-sikap terhadap obyek-obyek (attitudes toward objects) dan sikap-sikap
berhubungan dengan perilaku-perilaku (attitudes concerning behaviors). Sikap-sikap
terhadap obyek-obyek (attitudes toward objects) merupakan perasaan seseorang terhadap
benda-benda atau obyek-obyek. Misalnya seseorang mengatakan bahwa “system
informasi yang baru ini luar biasa”, atau sebaliknya mereka mengatakan bahwa “system
informasi yang baru sangat jelek”. Contoh ini menunjukkan bahwa perasaan seseorang
terhadapa suatu obyek, yaitu system informasi yang baru. Berbeda dengan sikap-sikap
mengenai perilaku-perilaku (attitudes concerning behaviors) yaitu sikap yang lebih
mengarah ke perilakunya bukan ke obyeknya. Misalnya “menggunakan system informasi
merupakan suatu yang berguna”. Sikap yang berhubungan dengan penggunaan system
informasi merupakan sikap mengenai perilakunya.

G. Norma-Norma Subjektif
Norma-norma subyektif (subjective norms) adalah persepsi atau pandangan seseorang
terhadap kepercayaan-kepercayaan orang lain yang akan mempengaruhi minat untuk
melakukan atau tidak melakukan perilaku yang sedang dipertimbangkan.
Pengukur Norma Subjektif
Beberapa pertanyaan berbeda dapat diformulasikan untuk mendapatkan pengukuran
langsung dari norma subyektif (subjective norm).
Kepercayaan-Kepercayaan Normatif Sebagai Penentu Norma Subjektif
Norma-norma subyektif (subjective norm) yang berupa penentu kedua dari minat-
minat juga diasumsikan sebagai suatu fungsi kepercayaan-kepercayaan (beliefs), tetapi
kepercayaan-kepercayaan seseorang bahwa individual-individual tertentu atau grup-grup
menyetujui atau tidak menyetujui melakukan suatu perilaku. Jika menjadi suatu titik
referensi untuk mengarahkan perilaku, individual-individual atau grup-grup tersebut
dikenal sebagai referents. Untuk beberapa perilaku, referents yang penting termasuk
orangtua, pasangan, teman-teman dekat, teman-teman kerja, dan tergantung dari perilaku
yang terlibat, mungkin juga berupa pakar-pakar semacam dokter-dokter atau akuntan-
akuntan. Kepercayaan-kepercayan yang mendasari norma-norma subyektif disebut
dengan kepercayaan-kepercayaan normative (normative beliefs).

H. Model TRA yang Lengkap


Digabungkan bersama-sama pembahasan sebelumnya, yaitu pengaruh minat perilaku
(behavioral intention) terhadap perilaku (behavior) dan menentukan penentu-penentu dari
minat, yaitu sikap terhadap perilaku (attitude toward behavior) dan norma subyektif
(subjective norm) ditambah dengan kepercayaan-kepercayaan perilaku (behavioral
beliefs) dan kepercayaan-kepercayaan normatif (normative beliefs) menjadi suatu model
lengkap yang disebut dengan teori tindakan beralasan (theory reasoned action) yang
lengkap. Model TRA yang lengkap ini tampak di gambar berikut ini.

Kepercayaan- Sikap
kepercayaan perilaku terhadap
(Behavior Beliefs) Perilaku
𝑛
(Attitude
∑(bi. ei) towards Minat
𝑖=1 Behavior) Perilaku
Perilaku
(Behavior)
(Behavioral
Kepercayaan-
Norma Intention)
kepercayaan normatif
Subyektif
(Normative Beliefs)
𝑛 (Subjective
∑(nj. mj) Norm)
𝑖=1

Gambar. Model TRA yang Lengkap

I. Variabel-Variabel Eksternal
Walaupun Fishbein dan Ajzen (1975) mengklaim bahwa sikap (attitude), norma
subyektif (Subjective norm), dan minat (intention) merupakan penentu utama dari
perilaku (behavior), mereka tidak menolak kemungkinan variabel-variabel lain dapat juga
mempengaruhi perilaku. Tetapi mereka mengklaim bahwa variabel-variabel ini yang
disebut dengan variabel-variabel eksternal akan mempengaruhi perilaku secara idak
langsung.
Contoh dari variabel-variabel eksternal ini adalah:
1. Variabel-variabel demografi;
2. Karakteristik-karakteristik personalitas;
3. Kepercayaan-kepercayaan mengenai obyek-obyek;
4. Sikap-sikap terhadap obyek-obyek;
5. Karakteristik-karakteristik tugas; dan
6. Variabel-variabel situsional.
Contoh variabel-variabel eksternal di penelitian sistem informasi adalah sebagai
berikut ini.
1. Pendidikan (Fuerst dan Cheney, 1982);
2. Pengalaman komputer (Fuerst dan Cheney, 1982);
3. Gaya kognitif (Huber, 1983);
4. Karakteristik-karakteristik sistem (Banbasat dan Dexter, 1986);
5. Sikap-sikap terhadap sistem-sistem (Ives et al., 1983).
6. Pendekatan pengembangan sistem (Alavi, 1984);
7. Partisipasi pemakai (Baroudi et al., 1986).

J. Keterbatasan TRA
Theory of reasoned action (TRA) mempunyai keterbatasan utama, yaitu hanya
dimaksudkan untuk menjelaskan perilaku-perilaku yang akan dikerjakan secara sukarela
bukan perilaku-perilaku yang diwajibkan. Oleh karena itu, model ini sebenarnya kurang
mengena jika digunakan untuk memprediksi perilaku-perilaku yang spontan, kebiasaan,
yang diinginkan, sudah diatur, atau kurang bersemangat. Perilaku-perilaku ini kurang
mengena digunakan di TRA karena perilaku-perilaku ini tidak dikerjakan secara sukarela
atau perilaku-perilaku ini dikerjakan tanpa atau kurang minat dari pelakunya.

K. Penerapan TRA di Sistem Teknologi Informasi


Hartwick dan Barki (1994) mengembangkan suatu model berbasis pada TRA untuk
meneliti secara empiris hubungan antara partisipasi pemakai di pengembangan sistem
informasi dengan penggunaan sistemnya setelah diimplementasikan. Untuk menguji
modelnya, Hartwick dan Barki (1994) melakukan studi lapangan dengan waktu yang
panjang (longitudinal) yang melibatkan dua periode waktu, yaitu periode waktu pertama
sebelum pengembangan sistem informasi dan periode waktu kedua setelah implementasi
sistem informasi tersebut.

L. Kesimpulan Penerapan TRA


Penelitian ini memberikan bukti yang kuat untuk mendukung TRA baik secara
longitudinal melibatkan waktu (menggunakan sikap, norma subyektif, dan minat sebelum
pengembangan sistem untuk memprediksi penggunaan sistem setelah implementasi) dan
secara cross-section (menggunakan sikap, norma subyektif, dan minat setelah
implementasi untuk memprediksikan penggunaan sistem sekarang).
Sikap dan norma subyektif sitemukan menggunakan jumlah pengaruh yang berbeda
sebelum dan sesudah pengembangan sistem. Sebelum pengembangan sistem, ketika
pengetahuan dan kepercayaan-kepercayaan pemakai terhadap sistem masih rendah dan
belum dibentuk dengan baik, norma subyektif ditemukan mempunyai pengaruh lebih
besar ke minat. Dengan demikian sebelum pengembangan sistem, minat dapat
ditumbuhkan lewat pengaruh normatif (misalnya dukungan dari manajemen puncak)
terbukti lebih efektif.
Setelah implementasi sistem, kekuatan dan kelemahan sistem sudah diketahui, sikap
ditemukan mempunyai pengaruh yang lebih besar ke minat. Ketika sistem ini sudah
dioperasikan, pengaruh informasional (misalnya menyediakan informasi mengenai
kekuatan dan manfaat-manfaat dari sistem, atau informasi untuk memudahkan pemakai)
akan lebih efektif untuk menumbuhkan minat dibandingkan lewat pengaruh normatif.
Bukti hasil penelitian ini yang menunjukkan hasil TRA jangka pendek lebih
signifikansi dibandingkan dengan hasil TRA jangka panjang, juga konsistensi dengan apa
yang dijelaskan oleh Ajzen (1988) bahwa minat (intention) berubah menurut waktu.
Semakin pendek interval waktunya, semakin jarang terjadi perubahan di minat. Akan
tetapi, semakin lebar interval waktu, semakin mungkin terjadi perubahan-perubahan di
minat dengan akibat hubungan antara minat dengan perilakunya menjadi lemah.