Anda di halaman 1dari 31

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MUSYAWARAH

PERENCANAAN PEMBANGUNAN TINGKAT KELURAHAN


Studi Pada Pelaksanaan Musrenbang Di Kecamatan Pasirian kelurahan Pegirian
Kota Surabaya

PROPOSAL PENELITIAN
DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH METODE PENULISAN
ILMIAH

Oleh:
Yogi Wahyu Pratama 155030101111010
Daud Theofilus Gulo 155030100111011
Sri Manggala Wijaya 155030100111007
Muhammad Khairul Anwar 155030100111078
Zakariya Rachman 155030107111053
Aditya Purnomo Putra 155030101111009
Rifky Tadayyan 155030101111007
Prayogi Aprilianto 155030100111006
Farid Yuli Bachtiar 145030101111125
Aditya Widya Septian 145030107111049
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
JURUSAN ILMU ADMINISTRASI PUBLIK
PRODI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK
MALANG
2017

i
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MUSYAWARAH
PERENCANAAN PEMBANGUNAN TINGKAT KELURAHAN
Studi Pada Pelaksanaan Musrenbang Di Kecamatan Pasirian kelurahan Pegirian
Kota Surabaya

PROPOSAL PENELITIAN
DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH METODE PENULISAN
ILMIAH

Oleh:
Yogi Wahyu Pratama 155030101111010
Daud Theofilus Gulo 155030100111011
Sri Manggala Wijaya 155030100111007
Muhammad Khairul Anwar 155030100111078
Zakariya Rachman 155030107111053
Aditya Purnomo Putra 155030101111009
Rifky Tadayyan 155030101111007
Prayogi Aprilianto 155030100111006
Farid Yuli Bachtiar 145030101111125
Aditya Widya Septian 145030107111049
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
JURUSAN ILMU ADMINISTRASI PUBLIK
PRODI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK
MALANG
2017

ii
Motto
-Sincere is an invaluable wealth.-

iii
HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MUSYAWARAH
PERENCANAAN PEMBANGUNAN TINGKAT KELURAHAN
Studi Pada Pelaksanaan Musrenbang Di Kecamatan Pasirian kelurahan Pegirian
Kota Surabaya
Yogi Wahyu Pratama 155030101111010
Daud Theofilus Gulo 155030100111011
Sri Manggala Wijaya 155030100111007
Muhammad Khairul Anwar 155030100111078
Zakariya Rachman 155030107111053
Aditya Purnomo Putra 155030101111009
Rifky Tadayyan 155030101111007
Prayogi Aprilianto 155030100111006
Farid Yuli Bachtiar 145030101111125
Aditya Widya Septian 145030107111049
Disetujui dan disahkan oleh :
Ketua Prodi Pembimbing I

Andhy Fefta Wijaya, Drs, MDA, Ph.D Aulia Puspita

Dekan FIA

Bambang Supriyono, Prof. Dr., MS

iv
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Sri Manggala Wijaya
NIM : 155030100111007
Judul Proposal :“PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM
MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN TINGKAT
KELURAHAN ”
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa penulisan Proposal ini berdasarkan hasil
penelitian, pemikiran dan pemaparan asli dari saya sendiri. Jika terdapat karya orang
lain, saya akan mencantumkan sumber yang jelas. Demikian pernyataan ini saya buat
dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan
ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik
berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh karena karya tulis ini dan sanksi lain
sesuai dengan peraturan yang berlaku di Universitas Brawijaya. Demikian pernyataan
ini saya buat dalam keadaan sadar tanpa paksaan dari pihak manapun.

Malang, 21 September 2017


Yang membuat pernyataan

Sri Manggala Wijaya


NIM. 155030100111007

v
RINGKASAN

Pada penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana sebenarnya


partisipasi masyarakat pada Musrenbang kelurahan Pegirian kecamatan Pasirian Kota
Surabaya. Partisipasi dianggap penting keberadaannya karena partisipasi bisa membuat
suatu kebijakan pemerintah lebih mendapatkan legitimasi dari masyarakatnya. Khusus
pada peneliitian ini akan menggunakan 4 variabel bentuk-bentuk partisipasi yang
diangap bisa menggambarkan keadaan sebenarnya dilapangan. Bentuk-bentuk
partisipasi yang dimaksud ialah informasi atau akses lainnya, inisiatif (voice/suara) dan
apresiasi warga (masukan), mekanisme pengambilan keputusan, kontrol pengawasan.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan
pendekatan kualitatif. Peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif yang memiliki
ciri penjelasan lebih rinci dengan metode interpretive karena data hasil penelitian lebih
berkenaan dengan interpretasi terhadap data yang ditemukan di lapangan.

vi
SUMMARY

vii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmatNYA sehingga proposal
yang berjudul “Partisipasi Masyarakat Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan
Tingkat Kelurahan: Studi Pada Pelaksanaan Musrenbang Di Kecamatan Pasirian
kelurahan Pegirian Kota Surabaya” dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa juga
penulis berterimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan
memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya dalam membuat makalah ini .

Dan harapan penulis semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun
menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih


banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Malang , 21 September 2017

Penulis

viii
DAFTAR ISI
Hal.

MOTTO............................................................................................................iii

HALAMAN PERSETUJUAN.........................................................................iv

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS..............................................v

RINGKASAN...................................................................................................vi

SUMMARY.....................................................................................................vii

KATA PENGANTAR.....................................................................................viii

DAFTAR ISI.....................................................................................................ix

DAFTAR TABEL.............................................................................................xi

BAB I PENDAHULUAN................................................................................12

Latar Belakang...........................................................................................12

Rumusan Masalah......................................................................................15

Tujuan.........................................................................................................15

Manfaat......................................................................................................15

Sistematika Pembahasan............................................................................16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................17

Partisipasi Masyarakat...............................................................................17

Peerencanaan Pembangunan......................................................................19

Musrenbang Desa.......................................................................................20

BAB IV METODE PENELITIAN................................................................28

Jenis Penelitian...........................................................................................28

ix
Fokus Penelitian.........................................................................................28

Lokasi Penelitian........................................................................................29

Sumber Data...............................................................................................29

Teknik Pengumpulan Data........................................................................29

Instrumen Penelitian...................................................................................30

Teknik Analisis...........................................................................................30

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................32

x
DAFTAR TABEL

No. Judul Tabel Hal.

1. Jumlah Kehadiran Peserta Musrenbang Kelurahan..............................14

2. Tanggal Pelaksanaan Musrenbang Kelurahan......................................15

xi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di Indonesia, semenjak munculnya Undang-undang No. 32 Tahun 2014 telah
terjadi perubahan paradigma pembangunan. Perubahan yang dimaksud ialah dari
yang sebelumnya mengunakan sentralistik, sekarang menjadi pembangunan dengan
kaidah-kaidah desentralisasi. Pembangunan desentralisasi mencerminkan gerakan
dari bawah (bottom up), yang berarti mengikutsertakan masyarakat secara aktif,
dilaksanakan dari dan bersama masyarakat.
Bentuk nyata dari pembangunan desentralisasi salah satunya adalah
diadakannya Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang, baik pada
tingkat paling bawah yaitu desa, kecamatan, dan kabupaten/kota). Dalam Undang-
undang nomor 25 tahun 2004 tentang sistem perencanaan pembangunan nasional
dijelaskan pada pasal 1 ayat 21 yakni musrenbang adalah forum antar pelaku dalam
rangka menyusun rencana pembangunan Nasional dan pembangunan Daerah,
tujuan diadakannya musrenbang yakni melibatkan peran serta masyarakat untuk
mengetahui rencana pembangunan yang akan dilakukan sebagiamana yang
dijelaskan dalam pasal 2 ayat 4 huruf d menjelaskan diantara tujuan dalam Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional yaitu mengoptimalkan partisipasi masyarakat.
Musrenbang menjadi ruang publik yang berguna untuk menampung aspirasi
masyarakat serta keluhan masyarakat terkait pembangunan kedepan mulai dari
mengenali masalah, kebutuhan, tantangan eksternal, potensi yang ada serta
penyelesaian masalah yang dihadapi masyarakat.
Musrenbang sebenarnya ditujukan untuk menyusun dokumen perencanaan.
Dalam penyusunan rencana pembangunan memiliki rentan waktu yang berbeda
yaitu rencana pembangunan jangka panjang, rencana pembangunan jangka
menengah dan rencana kerja pemerintah dan rencana kerja pemerintah daerah.
Sebagaimana yang tertuang dalam UU nomor 25 tahun 2004 tentang sistem
perencanaan pembangunan Nasional pada beberapa pasal diantaranya, pasal 1 ayat
4 dijelaskan bahwa rencana pembangunan jangka panjang yang disingkat (RPJP)
yaitu dokumen untuk periode 20 tahun, pasal 1 ayat 5 dijelaskan bahwa rencana
pembangunan jangka menengah (RPJM) yaitu dokumen untuk periode 5 tahun dan

12
pada pasal 1 ayat 8 dan 9 menjelaskan rencana pembangunan tahunan nasional
yang disebut dengan rencana kerja pemerintah (RKP) dan rencana pembangunan
tahunan daerah yang disebut rencana kerja pemerintah daerah (RKPD).
Musrenbang tingkat desa/kelurahan merupakan Musrenbang yang bersentuhan
langsung dengan masyarakat. Dengan adanya musrenbang diharapkan dapat
meningkatkan peran serta masyarakat dalam setiap kegiatan pembangunan.
Pembahasan dimulai dari RT, RW hingga pada saat musrenbang kelurahan.
keikutsertaan masyarakat pada Musrenbang tidak hanya mendukung kebijakan
pemerintah, akan tetapi masyarakat diharapkan bisa mengkoreksi bagian-bagian
kebijakan yang dirasa tidak menjawab permasalahan utama yang dihadapi
masyarakat. Maka dari itu, disinilah letak pentingnya keikutsertaan masyarakat.
Konsep Musrenbang pada dasarnya menginginkan partisipasi masyarakat
dalam proses pembangunan. Sehingga masyarakat bisa berperan aktif dalam
pembangunan disekitarnya. Adisasmita (2006:38) dalam jurnal berjudul “Partisipasi
Masyarakat Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Di Kelurahan
Kotabaru Tengah” mengungkapkan bahwa partisipasi dalam konteks pembangunan
ialah:
“keterlibatan dan pelibatan anggota masyarakat dalam pembangunan, meliputi
kegiatan dalam perencanaan dan pelaksanaan (implementasi) program/proyek
pembangunan yang dikerjakan di masyarakat lokal. Partisipasi atau peran serta
masyarakat dalam pembangunan merupakan aktualisasi dari ketersediaan dan
kemauan anggota masyarakat untuk berkorban dan berkontribusi dalam
implementasi program/proyek.”

Pemerintah Kota Surabaya sejak tahun 2002 telah memulai merintis penerapan
e-goverment, mulai dari pengadaan barang dan jasa secara online dan lainnya.
Selanjutnya penerapan e-goverment Surabaya dibagi dua yaitu dalam hal
pengelolaan keuangan daerah yang meliputi e-budgeting, e-project, e procurement,
e delibery, e-controlling, dan eperformance. Dalam hal yang berhubungan dengan
masyarakat yaitu, e-sapa warga yang meliputi eperizinan, e-musrenbang, dan
pengaduan secara elektornik (http://www.menpan.go.id/beritaterkini/478-pemkot-
surabaya-akan-dijadikan-model-egovt-nasional diakses tanggal 18 september
2017).

13
Sejak tahun 2009 Pemerintah Kota Surabaya menyediakan fasilitas e-
musrenbang. Adanya e-musrenbang ditujukan untuk memberikan wadah bagi
masyarakat untuk menampung aspirasi, saran dan kritikan yang menjadi masukan
bagi Pemerintah Kota Surabaya. Dengan adanya e-musrenbang bukan berarti forum
musrenbang yang dilaksanakan di tiap tingkatan tiada. Penerapan e-musrenbang
bertujuan untuk mempermudah warga untuk mengetahui usulan yang masuk dan
diverifikasi oleh tim musrenbang dan merekapitulasi usulan lebih cepat dan efisien.
Adanya e-Musrenbang ternyata tidak membuat warga khususnya di kecamatan
Semampir kota Surabaya lebih tertarik untuk berpartisipasi dalam musrenbang
kelurahan masing-masing. Terlihat dari rekapitulasi kehadiran masyarakat atau
perwakilan masyarakat yang hadir dalam musrenbang tiap kelurahan di Kecamatan
Semampir pada tahun 2014-2015.
Tabel 1
Jumlah Kehadiran Peserta Musrenbang Kelurahan

Sumber: Azhar, Fikri. 2015. Partisipasi Masyarakat Dalam Musyawarah


Perencanaan Pembangunan (MUSRENBANG) di Kelurahan Pegirian Kecamatan
Semampir Kota Surabaya. Volume 3, Nomor 2, FISIP: UNAIR.
Sebagaimana terlihat dari data diatas menjelaskan bahwasannya musrenbang di
Kelurahan Pegirian menunjukkan keikutsertaan masyarakat sangat minim sekali.
Bukan hanya berpengaruh pada tingkat kehadiran peserta, melainkan juga berimbas
pada jadwal pelaksanaan musrenbang di tingkat kelurahan. Menurut surat dari
Pemerintah Kota Surabaya jadwal Pelaksanaan Musrenbang Kelurahan dimulai
tanggal 2 s/d 13 februari 2015 akan tetapi yang tejadi di Kelurahan Pegirian tidak
sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Pelaksanaannya mundur hingga sepuluh hari
dari batas akhir pelaksanaannya,terlihat pada tabel 2 sebagai berikut :

14
Tabel 2
Tanggal Pelaksanaan Musrenbang Kelurahan
No. Kelurahan Tgl pelaksanaan Musrenbang
1 Wonokusumo 11 Februari 2015
2 Ujung 13 Februari 2015
3 Pegirian 23 Februari 2015
4 Ampel 13 Februari 2015
5 Sidotopo 13 Februari 2015

Sumber: Azhar, Fikri. 2015. Partisipasi Masyarakat Dalam Musyawarah


Perencanaan Pembangunan (MUSRENBANG) di Kelurahan Pegirian Kecamatan
Semampir Kota Surabaya. Volume 3, Nomor 2, FISIP: UNAIR.
Sebenarnya, Musrenbang merupakan satu wadah untuk mendiskusikan proses
perencanaan program pemerintah ataupun dalam proses kebijakan penganggaran
yang didalamnya melibatkan masyarakat secara langsung (khusus Musrenbang
desa). Namun pertanyaannya apakah dalam musrenbang telah melibatkan
masyarakat, atau hanya menjadi formalitas kegiatan berulang saja. Berawal dari
pertanyaan tersebut, peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana bentuk
partisipasi masyarakat dalam musyawarah perencanaan pembangunan kelurahan
Pegirian Kecamatan Semampir Kota Surabaya.
1.2 Perumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana bentuk-bentuk partisipasi masyarakat dalam Musrenbang
kelurahan Pegirian Kecamatan Semampir Kota Surabaya?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1Untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk partisipasi masyarakat dalam
Musrenbang kelurahan Pegirian Kecamatan Semampir Kota Surabaya.
1.4 Manfaat
Secara teoritis, makalah ini bermanfaat sebagai bahan kajian untuk diteliti lebih
dalam mengenai tema yang dibahas dalam makalah ini. Makalah ini juga bisa
dijadikan sebagai bahan referensi bagi karya-karya tulis lain yang relevan dengan
tema yang dibahas dalam makalah ini.
Secara praktis, makalah ini bermanfaat kepada Pemerintah Kota Surabaya
sebagai bahan pertimbangan dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam
pembangunan
1.5 Sistematika Pembahasan
BAB I PENDAHULUAN

15
Pada bab ini membahas latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penelitian.
BAB II LANDASAN TEORI
Pada bab ini dijelaskan tentang Partisipasi Masyarakat, Perencanaan
Pembangunan, dan Musrenbang
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Menyajikan data penelitian, berupa deskripsi data berkenaan dengan
variabel yang diteliti secara objektif dalam arti tidak tercampur dengan
opini penulis

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Partisipasi Masyarakat
Menurut Bintoro Tjokroamidjojo (Rahardjo, 1986) mengemukakan pengertian
partisipasi dalam hubungannya dengan proses pembangunan, yaitu :
1) Keterlibatan dalam penentuan arah, strategi dan kebijakan pembangunan yang
dilakukan oleh pemerintah. Hal ini bukan saja berlangsung dalam proses politik,
tetapi juga dalam proses sosial yaitu hubungan antara kelompok-kelompok
kepentingan dalam masyarakat
2) Keterlibatan dalam memikul beban dan tanggung jawab dalam pelaksanaan
kegiatan pembangunan dalam bentuk sumbangan dalam mobilisasi pembiayaan

16
pembangunan, kegiatan produktif yang serasi, pengawasan sosial atas jalannya
pembangunan, dan lain-lain.
3) Keterlibatan dalam memetik hasil dan manfaat pembangunan secara berkeadilan
Pengertian partisipasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu tindakan
ikut mengambil bagian, keikutsertaan atau ikut serta. sedangkan Menurut Juliantara
(2004:84) dalam jurnal yang berjudul “Studi Tentang Partisipasi Masyarakat dalam
Pembangunan”, partisipasi diartikan sebagai keterlibatan setiap warga negara yang
mempunyai hak dalam pembuatan keputusan, baik secara langsung maupun melalui
intermediasi institusi legitimasi yang mewakili kepentingannya, partisipasi
masyarakat merupakan kebebasan dan berbicara dan berpartisipasi secara
konstruktif.1
Sementara partisipasi masyarakat menurut Isbandi (2007:27) adalah
keikutsertaan masyarakat dalam proses pengidentifikasian masalah dan potensi
yang ada di masyarakat, pemilihan dan pengambilan keputusan tentang alternatif
solusi untuk menangani masalah, pelaksanaan upaya mengatasi masalah, dan
keterlibatan masyarakat dalam proses mengevaluasi perubahan yang terjadi.
Partisipasi menurut Adisasmita dalam Suhardiman, (2006:38) partisipasi
masyarakat dapat didefinisikan sebagai keterlibatan dan pelibatan anggota
masyarakat dalam pembangunan, meliputi kegiatan dalam perencanaan dan
pelaksanaan (implementasi) program pembangunan. Adisasmita juga mengatakan
peningkatan partisipasi masyarakat merupaka salah satu bentuk pemberdayaan
masyarakat (social empowerment) secara aktif yang berorientasi pada pencapaian
hasil pembangunan yang dilakukan dalam masyakarat pedesaan.2
Berdasarkan beberapa pengertian mengenai partisipasi masyarakat yang telah
disampaikan oleh para ahli tersebut, bahwa konsep partisipasi memiliki makna
yang beragam. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa pengertian dari
partisipasi masyarakat adalah suatu wujud dari peran serta masyarakat dalam
aktivitas berupa perencanaan dan pelaksanaan untuk mencapai tujuan pembangunan
masyarakat. wujud dari partisipasi tersebut dapat berupa saran, jasa, ataupun dalam

1
Deviyanti, Dea. 2013. Studi Tentang Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan di Kelurahan Karang
Jati Kecamatan Balikpapan Tengah. Dapat diakses pada http://ejournal.an.fisip-unmul.ac.id/site/wp-
content/uploads/2013/05/JURNAL%20DEA%20(05-24-13-09-02-30).pdf diakses pada 20/09/2017
Hal.382
2
Akbar, Nanda Wahyu. 2014. Partisipasi Masyarakat dalam Pelaksanaan Musyawarah Rencana
Pembangunan (Musrenbang) Kelurahan Sembulang Kecamatan Galang Kota Batam. Hal. 7

17
bentuk materi baik secara langsung maupun tidak langsung dalam suasana
demokratis.
Partisipasi masyarakat juga terefleksikan dalam berbagai bentuk, Rusidi dalam
Siregar (2001:21) dalam jurnal berjudul “Partisipasi Masyarakat Dalam
Musyawarah Perencanaan Pembangunan Di Kelurahan Kotabaru Tengah”
mengatakan ada empat dimensi dalam berpartisipasi:
1) sumbangan pikiran (ide atau gagasan)
2) sumbangan materi (dana, barang dan alat)
3) sumbangan tenaga (bekerja atau memberi kerja)
4) memanfaatkan dan melaksanakan pelayanan pembangunan.3
Sementara Cohen dan Uphoff dalam Ndraha (1990:104) dalam jurnal berjudul
“Partisipasi Masyarakat Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Di
Kelurahan Kotabaru Tengah” menguraikan bentuk-bentuk partisipasi yang terbagi
dalam empat bentuk, yaitu:
1) Partisipasi dalam pembuatan keputusan (participation in decision making)
2) Partisipasi dalam pelaksanaan (participation in implementation)
3) Partisipasi dalam menerima manfaat (participation in benefits)
4) Partisipasi dalam evaluasi (participation in evaluation).
Berdasarkan pemaparan mengenai bentuk-bentuk partisipasi diatas, maka
peneliti menyimpulkan bahwa bentuk-bentuk partisipasi yang digunakan untuk
menggambarkan partisipasi sebenarnya dimasyarakat, sebagai berikut:
1) informasi atau akses lainnya;
2) inisiatif (voice/suara) dan apresiasi warga (masukan),
3) mekanisme pengambilan keputusan;
4) kontrol pengawasan.
2.2 Perencanaan Pembangunan
Perencanaan Pembangunan Tjokroamidjojo (1994, h.12) merumuskan
perencanaan sebagai berikut:
a. Perencanaan dalam arti seluas-luasnya tidak lain adalah suatu proses
mempersiapkan secara sistematis kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan
untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh karena itu pada hakekatnya terdapat
pada tiap jenis usaha manusia.
b. Perencanaan adalah suatu cara bagaimana mencapai tujuan sebaik-baiknya
dengan sumber-sumber yang ada supaya lebih efisien dan efektif.
c. Perencanaan adalah penentuan tujuan yang akan dicapai, bagaimana,
bilamana, dan oleh siapa.
3
fadil, Fathurrahman. 2013. Partisipasi Masyarakat Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Di
Kelurahan Kotabaru Tengah. hal.256.

18
Menurut Siagian dalam Suryono (2010, h.46), ide pokok dari pembangunan
mengandung makna bahwa:
a. Pembangunan merupakan suatu proses yang tanpa akhir,
b. Pembangunan merupakan suatu usaha yang secara sadar dilaksanakan
secara terus menerus,
c. Pembangunan dilakukan secara berencana dan perencanaanya beorientasi
pada pertumbuhan dan perubahan.
d. Pembangunan mengarah pada modernitas,
e. Modernitas yang dicapai melalui pembagunan bersifat multi
dimensional, proses dan kegiatan pembangunan ditujukan kepada usaha
membina bangsa dalam rangka pencapaian tujuan bangsa dan negara
yang telah ditentukan.
Dari definisi tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perencanaan
pembangunan merupakan pemilihan cara atau pemilihan langkah dalam mencapai
tujuan pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan dan perubahan kearah
yang lebih baik dengan menggunakan sumberdaya yang ada secara efektif dan
efisien. Perencanaan memang dibutuhkan ketika akan melakukan pembangunan.
Hal ini dikarenakan dengan melakukan perencanaan maka arah pembangunan
kedepannya akan menjadi jelas.
2.3 Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan (Musrenbang) Desa
Musrenbang Desa adalah forum musyawarah tahunan para pemangku
kepentingan (stakeholder) desa untuk menyepakati Rencana Kerja Pembangunan
Desa (RKP) tahun anggaran yang direncanakan. Musrenbang Desa dilaksanakan
setiap bulan Januari dengan mengacu pada RPJM desa. Setiap desa diamanatkan
untuk menyusun dokumen rencana 5 tahunan yaitu RPJM Desa dan dokumen
rencana tahunan yaitu RKP Desa.
Musrenbang adalah forum perencanaan (program) yang dilaksanakan oleh
lembaga publik yaitu pemerintah desa, bekerja sama dengan warga dan para
pemangku kepentingan lainnya. Musrenbang yang bermakna akan mampu
membangun kesepahaman tentang kepentingan dan kemajuan desa, dengan cara
memotret potensi dan sumber-sumber pembangunan yang tidak tersedia baik dari
dalam maupun luar desa.
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 66 tahun 2007, Rencana
Kerja Pembangunan Desa yang selanjutnya disingkat (RKP-Desa) adalah dokumen
perencanaan untuk periode 1 (satu) tahun dan merupakan penjabaran dari RPJM-

19
Desa yang memuat rancangan kerangka ekonomi desa, dengan mempertimbangkan
kerangka pendanaan yang dimutahirkan, program prioritas pembangunan desa,
rencana kerja dan pendanaan serta prakiraan maju, baik yang dilaksanakan
langsung oleh pemerintah desa maupun yang ditempuh dengan mendorong
partisipasi masyarakat dengan mengacu kepada Rencana Kerja Pemerintah Daerah
dan RPJM-Desa.
Setiap tahun pada bulan Januari, biasanya didesa-desa diselenggarakan
musrenbang untuk menyusun Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKP Desa).
Penyusunan dokumen RKP Desa selalu diikuti dengan penyusunan dokumen
Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APB Desa), karena suatu rencana apabila
tanpa anggaran sepertinya akan menjadi dokumen atau berkas belaka. Kedua
dokumen ini tidak terpisahkan, dan disusun berdasarkan musyawarah dan
mufakat. RKP Desa dan APB Desa merupakan dokumen dan infomasi publik.
Pemerintah desa merupakan lembaga publik yang wajib menyampaikan informasi
publik kepada warga masyarakat. Keterbukaan dan tanggung gugat kepada publik
menjadi prinsip penting bagi pemerintah desa.
RKP Desa ditetapkan dengan Surat Keputusan (SK) Kepala Desa dan disusun
melalui forum musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) tahunan atau
biasa disebut musrenbang Desa. Dokumen RKPDesa kemudian menjadi masukan
(input) penyusunan dokumen APB Desa dengan sumber anggaran dari Alokasi
Dana Desa (ADD), Pendapatan Asli Desa (PA Desa), swadaya dan pastisipasi
masyarakat, serta sumber-sumber lainnya yang tidak mengikat.
Proses penyusunan dokumen RKP Desa dapat dibagi dalam tiga tahapan,
tahapan tersebut adalah :
1. Tahap Persiapan Musrenbang Desa,
Merupakan kegiatan mengkaji ulang dokumen RPJM Desa, mengkaji
ulang dokumen RKP Desa tahun sebelumnya, melakukan analisa data dan
memverifikasi data ke lapangan bila diperlukan. Analisis data yang dilakukan
seringkali disebut sebagai “analisis kerawanan desa” atau ”analisis keadaan
darurat desa” yang meliputi data KK miskin, pengangguran, jumlah anak
putus sekolah, kematian ibu, bayi dan balita, dan sebagainya. Hasil analisis
ini dilakukan sebagai bahan pertimbangan penyusunan draft rancangan
awal RKP Desa dan perhitungan anggarannya.

20
2. Tahap Pelaksanaan Musrenbang Desa
Merupakan forum pertemuan warga dan berbagai pemangku kepentingan
untuk memaparkan hasil “analisis keadaan darurat/kerawanan desa”,
membahas draft RKP Desa, menyepakati kegiatan prioritas termasuk alokasi
anggarannya. Pasca Musrenbang, dilakukan kegiatan merevisi RKP Desa
berdasarkan masukan dan kesepakatan, kemudian dilakukan penetapan
dengan Surat Keputusan (SK) Kepala Desa.
3. Tahap Sosialisasi
Merupakan sosialisasi dokumen RKP Desa kepada masyarakat dan
seluruh pemangku kepentingan. Dokumen RKP Desa selanjutnya akan
menjadi bahan bagi penyusunan APB Desa. RKP Desa dan APB Desa wajib
dipublikasikan agar masyarakat dapat terlibat dalam kegiatan dan melakukan
pengawasan partisipatif terhadap pelaksanaannya.
Langkah – langkah penyusunan dokumen RKP Desa :
1. Pembentukan dan persiapan Pokja (Tim) Perencana Desa
Penyusunan RKP Desa merupakan kelanjutan dari proses penyusunan
RPJM Desa, dan pelaksanaan kegiatannya tetap dijalankan oleh Pokja (Tim)
Perencana Desa yang sama. Beberapa istilah sering dipergunakan untuk tim ini,
yaitu Tim Penyelenggara Musrenbang (TPM) Desa atau Tim
Penyusun RKPDesa. Istilah apa pun yang digunakan, intinya adalah tim yang
bertugas menyelenggarakan dan memandu proses sejak dari persiapan,
pelaksanaan musrenbang sampai paska musrenbang.
Keluaran (output) dari tahap ini adalah:
 SK Kepala Desa tentang Pokja (Tim) Perencana Desa atau Tim
Penyusun RKP Desa atau Tim Penyelenggara Musrenbang Desa yang
bertugas memfasilitasi dan menyusun dokumen RKP Desa.
 Pokja (Tim) Perencana desa yang siap menjalankan tugasnya setelah
memperoleh pembekalan yang diperlukan.
Susunan tim ini biasanya sebagai berikut:
 Kepala Desa selaku pembina dan pengendali kegiatan;
 Sekretaris Desa selaku penanggungjawab kegiatan (Ketua Tim);

21
 Lembaga Pemberdayaan Kemasyarakatan Desa selaku penanggungjawab
pelaksana kegiatan, termasuk membentuk tim pemandu.
Tugas-tugas tim RKP Desa ini antara lain: melakukan pertemuan/rapat-
rapat panitia, membentuk Tim Pemandu, mengidentifikasikan peserta dan
mengundang peserta, menyusun jadwal dan agenda, dan menyiapkan logistik.
Tim pemandu bertugas untuk mengelola proses dan memfasilitasi
pertemuan/musyawarah seperti kegiatan kajian/analisis data, lokakarya desa,
dan pelaksanaan musrenbang desa.
2. Mereview (mengkaji ulang) Dokumen RPJM Desa
Pokja (Tim) Perencana Desa atau Tim Penyusun RKP Desa atau Tim
Penyelenggara Musrenbang Desa melakukan reviuw terhadap dokumen RPJM
Desa dan dokumen RKP Desa tahun lalu sebagai tahap awal pelaksanaan
tugasnya. Bagi desa–desa yang sudah mempunyai RPJM Desa,
penyusunan RKP Desa dilakukan dengan merujuk pada program dan kegiatan
indikatif yang sudah disusun dalam dokumen rencana 5 tahun tersebut. Sedang
bagi desa yang belum mempunyai RPJM Desa, pada tahap pra
musrenbang RKP Desa harus dimulai dari penggalian kebutuhan dan
permasalahan masyarakat melalui musyawarah dusun/RW.
3. Analisis Data Kerawanan Desa
Untuk penyusunan RKP Desa, kajian desa bersama masyarakat
(Participatory Rural Appraisal/PRA dengan proses yang cukup panjang yaitu
musyawarah dusun/RW dan kajian kelompok sektoral) tidak perlu dilakukan.
PRA cukup dilakukan setiap penyusunan RPJM Desa. Walau dokumen RPJM
Desa sudah menyusun program dan kegiatan indikatif selama 5 tahun, namun
data/informasi terkini perlu dicek kembali. Analisis data yang dilakukan
disebut sebagai “analisis kerawanan desa” atau ”analisis keadaan darurat desa”.
Hasil analisis ini akan menjadi salah satu materi yang dipaparkan saat
pelaksanaan musrenbang.
Kegiatan ini melibatkan kepala dusun, pemuda dan perempuan. Hasilnya
didampingkan dengan data tahun lalu, untuk dianalisa dan dicari program apa
yang lebih baik dilanjutkan, ditambah, dikurangi, dan sebagainya. Jadi, sifat

22
dokumen RPJM Desa tidaklah “harga mati” tetapi juga bukan berarti dengan
mudah diubah/diganti program maupun kegiatannya.
Analisis data kerawanan ini digunakan untuk mengkaji ulang dokumen
RPJM Desa, khususnya mengenai prioritas masalah dan kegiatan yang akan
disusun untuk RKP Desa tahun berikutnya. Data-data kerawanan desa meliputi:
 Berapa jumlah KK miskin sekarang;
 Berapa warga yang menganggur sekarang;
 Berapa anak yang putus sekolah dan yang rawan putus sekolah
sekarang;
 Berapa jumlah kematian ibu, bayi dan balita selama setahun terakhir;
 Berapa orang (terutama ibu, bayi, balita) yang mengalami kurang gizi;
 Berapa kasus wabah penyakit yang terjadi selama setahun terakhir;
 Dan sebagainya yang dianggap isu-isu darurat/rawan terkait
kemiskinan, gangguan kesejahteraan atau gangguan pemenuhan 10 hak
dasar.
4. Penyusunan Draft Rancangan Awal RKP Desa
Sama seperti cara penyusunan draft rancangan awal RPJM Desa,
draft RKP Desa bisa dilakukan dengan Lokakarya Desa yang melibatkan warga
masyarakat, bisa juga dilakukan dengan rapat Pokja (Tim) Perencana desa.
Secara umum, langkah-langkah penyusunan RPJM Desa dan RKP Desa sama
saja, hanya penyusunan RKP Desa lebih ringkas/sederhana. Untuk RKP Desa
dilakukan lokakarya desa. Peserta lokakarya adalah berbagai komponen desa
(terdiri dari Sekretaris Desa sebagai Ketua, Ketua LPM sebagai Sekretaris dan
beranggotakan : LPM, Tokoh Masyarakat dan Wakil Perempuan), biasanya
juga melibatkan unsur kecamatan dan unsur UPTD atau SKPD.
Proses lokakarya penyiapan RKP Desa adalah sebagai berikut:
Persiapan:
Menyusun jadwal dan agenda, mengumumkan secara terbuka kepada
masyarakat mengenai agenda lokakarya desa, membuka
pendaftaran/mengundang calon peserta, menyiapkan peralatan, bahan materi
dan notulen.
Pelaksanaan:

23
 Pendaftaran peserta lokakarya.
 Pemaparan tujuan, metode serta keluaran lokakarya oleh Tim Perencana
Desa.
 Pemaparan dan analisa kebijakan dan arah program desa. Narasumber dari
Desa: tokoh masyarakat, pengurus Kelembagaan Masyarakat Desa, LSM
yang bekerja di Desa tersebut. Topik-topik pembahasannya adalah:
Evaluasi pembangunan tahun sebelumnya (RKP Desa sebelumnya),
Pemaparan dan analisa kegiatan di dalam dokumen RPJM Desa dan
Pemaparan dan analisa keadaan darurat desa.
 Pemaparan dan analisa kebijakan dan arah program supra desa.
Narasumber: dari Kecamatan (Camat /yang mewakili, Kasi PMD, Kepala
UPTD/yang mewakili) dan Kabupaten (DPRD dari Dapil yang
bersangkutan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat).
 Pengembangan draft rancangan awal RKP Desa : Penentuan draf prioritas
pembangunan tahun yang akan datang dan Penyusunan draf matrik
program dan kegiatan RKP Desa.
 Penandatanganan berita acara dan penutupan lokakarya.
5. Persiapan Teknis/logistik Musrenbang
Setelah dokumen draft RKP Desa tersusun, panitia pendukung bertugas
untuk menyiapkan logistik (tempat, alat dan bahan/materi) untuk kegiatan
pelaksanaan musrenbang. Undangan disebarkan kepada warga masyarakat dan
pemangku kepentingan serta kegiatan diumumkan secara terbuka. Jadual dan
agenda disusun oleh tim pemandu. Tim pemandu dan tim notulen mengadakan
persiapan teknik memandu dan mendokumentasikan hasil musrenbang.
6. Pelaksanaan Musrenbang RKP Desa
Musrenbang Desa adalah forum musyawarah tahunan pihak yang
berkepentingan untuk mengatasi permasalahan desa dan pihak yang akan
terkena dampak hasil musyawarah untuk menyepakati rencana kegiatan tahun
anggaran berikutnya (tahun yang direncanakan).
Perserta Musrenbang RKP Desa adalah berbagai komponen desa (terdiri
dari Sekretaris Desa sebagai Ketua, Ketua LPM sebagai Sekretaris dan
beranggotakan : LPM, Tokoh Masyarakat dan Wakil Perempuan), unsur

24
Kecamatan, unsur SKPD, ditambah unsur DPRD dari daerah pemilihan (dapil)
bersangkutan.
Tujuan musrenbang RKP Desa:
 Menyusun prioritas kebutuhan/masalah yang akan dijadikan kegiatan
untuk penyusunan RKPDesa dengan pemilahan sbb : Prioritas kegiatan
desa yang akan dilaksanakan desa sendiri dan dibiayai oleh APB Desa
yang bersumber dari Pendapatan Asli Desa (PA Desa), Alokasi Dana Desa
(ADD), dana swadaya desa/masyarakat, dan sumber lain yang tidak
mengikat, dan Prioritas kegiatan desa yang akan dilaksanakan desa sendiri
yang dibiayai oleh APBD kabupaten/kota,APBD Propinsi, APBN.
 Menyiapkan prioritas masalah daerah yang ada di desa yang akan
diusulkan melalui musrenbang kecamatan untuk menjadi kegiatan
pemerintah daerah (UPTD dan atau SKPD);
 Menyepakati Tim Delegasi Desa yang akan memaparkan persoalan daerah
yang ada di desanya pada forum musrenbang kecamatan untuk
penyusunan program pemerintah daerah (UPTD dan atau SKPD) tahun
berikutnya.
Penting untuk diperhatikan:
1. Pada prakteknya, lebih banyak desa membawa usulan kegiatan skala desa
ke musrenbang kecamatan sehingga tidak dapat diakomodir oleh program
supra desa terutama SKPD. Usulan yang dibawa dari desa ke atas
semestinya yang bukan kegiatan skala desa, tapi kegiatan skala kecamatan
atau kabupaten.
2. Seringkali terjadi kesulitan dalam memilah antara kegiatan skala desa
dengan skala kabupaten. Biasanya akan muncul usulan kegiatan baru yang
di bawa oleh peserta musrenbang yang tidak mengikuti proses
sebelumnya.
3. SKPD dan anggota DPRD belum terlibat sehingga usulan untuk skala
kabupaten kadang tidak sinkron dengan Rancangan Renstra SKPD.
4. Masih minimnya keterlibatan warga miskin dan perempuan sehingga perlu
diterapkan kuota jumlah peserta perempuan.
5. Rapat kerja Pokja (Tim) Rencana Desa

25
Draft RKP Desa kemudian diperbaiki berdasarkan hasil musrenbang di
dalam rapat Pokja (Tim) Perencana Desa. Setelah itu, dilakukan
pemeriksaan dokumen RKP Desa oleh Kades.
6. Penyusunan SK Kades tentang RKP Desa
Penyusunan draf Surat Keputusan Kepala Desa tentang RKP Desa
dilakukan oleh sekretaris desa. Draft Surat Keputusan Kepala Desa
tentang RKP Desa diserahkan kepada Kepala Desa untuk ditetapkan
menjadi Surat Keputusan Kepala Desa tentang RKP Desa.
7. Sosialisasi
Peraturan Desa dan peraturan pelaksanaannya wajib disebarluaskan
kepada masyarakat oleh pemerintah desa. Materi Sosialiasasi adalah
Lampiran SK RKP Desa yang memuat program dan kegiatan tahun
bersangkutan. Media sosialisasi RKP Desa sebaiknya disesuaikan dengan
kondisi masing – masing desa. Beberapa alternatif media sosialisasi yang
bisa digunakan antara lain: Forum masyarakat baik formal maupun non
formal, poster RKP Desa dan APB Desa, papan informasi desa, papan
informasi dusun/RW/RT, dan sebagainya.
Sasaran sosialisasi di tingkat desa adalah: warga masyarakat pada
umumnya, toga, tomas, Lembaga Masyarakat Desa (LKMD, PKK, RW, RT,
dsb), kelompok-kelompok kepentingan (kelompok tani, kelompok pedagang,
nelayan, perempuan pedagang kecil, dsb.).
Sasaran sosialisasi di tingkat supra desa adalah: Pemerintah (kecamatan,
BAPPEDA, SKPD terkait), DPRD (Komisi DPRD terkait, anggota DPRD dari
perwakilan daerah pemilihan bersangkutan)

26
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Peneliti menggunakan jenis penelitian
deskriptif yang memiliki ciri penjelasan lebih rinci dengan metode interpretive
karena data hasil penelitian lebih berkenaan dengan interpretasi terhadap data yang
ditemukan di lapangan (Prof. Dr. Sugiyono, 2012:12). Nazir,1999:63
mendefinisikan metode deskriptif sebagai suatu metode dalam meneliti status
kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun
suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Penelitian deskriptif digunakan untuk
membuat gambaran atau lukisan secara sistematis, factual dan akurat mengenai
fakta - fakta, sifat - sifat serta hubungan - hubungan antara fenomena lapangan yang
diselidiki. Sedangkan pendekatan kualitatif oleh peneliti membantu dalam
memaparkan dengan lebih rinci permasalahan yang ada untuk dikaji dan dipahami
lebih mendalam sehingga peneliti dapat memberikan pemecahan masalah.
Penelitian ini bertujuan menganalisis partisipasi masyarakat dalam musyawarah
perencanaan pembangunan tingkat kelurahan.

27
3.2 Fokus Penelitian
Menurut Spradly dalam Sugianto (2007:34), fokus penelitian merupakan
domain tunggal atau beberapa domain yang terkait dari situasi sosial. Fokus
penelitian ini bertujuan untuk membatasi cakupan masalah yang akan diteliti.
Fokus penelitian sebagai berikut :
Cohen dan Uphoff dalam Ndraha (1990:104) menguraikan bentuk-bentuk
partisipasi yang terbagi dalam empat bentuk, yaitu:
1. Partisipasi dalam pembuatan keputusan (participation in decision making)
2. Partisipasi dalam pelaksanaan (participation in implementation)
3. Partisipasi dalam menerima manfaat (participation in benefits)
4. Partisipasi dalam evaluasi (participation in evaluation).
Berdasarkan pemaparan mengenai bentuk-bentuk partisipasi diatas, maka
peneliti menyimpulkan bahwa bentuk-bentuk partisipasi yang digunakan untuk
menggambarkan partisipasi sebenarnya dimasyarakat, sebagai berikut:
1. informasi atau akses lainnya;
2. inisiatif (voice/suara) dan apresiasi warga (masukan),
3. mekanisme pengambilan keputusan;
4. kontrol pengawasan.
3.3 Lokasi Peneltian
Lokasi penelitian adalah tempat dimana peneliti melakukan suatu penelitian.
Lokasi yang diambil untuk penelitian berada pada Kelurahan Pegirian Kecamatan
Pasirian Kota Surabaya. Sedangkan situs penelitan adalah tempat penelitian yang
menjadi obyek penelitian. Situs penelitian mengambil tempat pada
3.4 Sumber Data
Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Data Primer
Data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada
pengumpul data dan sumber kepada pengumpul data (Sugiyono, 2012:225).
Data primer dalam penelitian ini bersumber dari hasil wawancara terhadap
informan yakni :
1. Perangkat Kelurahan
2. Masyarakat
3. Ketua Pelaksana Musrenbang Kelurahan.
b. Data Sekunder

28
Data sekunder adalah sumber yang tidak langsung memberikan data kepada
pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau artikel (Sugiyono, 2012:225).
Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari arsip-arsip, artikel maupun
dokumen.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam
penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa
mengetahui teknik pengumpulan data maka peneliti tidak akan mendapatkan data
yang memenuhi standar data yang ditetapkan. (Sugiyono, 2012:224). Teknik
pengumpulan data menurut Sugiyono (2012:225) ada 3 cara, yakni :
a. Observasi
Observasi merupakan teknik mengumpulkan data dengan melakukan
pengamatan secara langsung terhadap objek yang ingin diteliti. Penelitian ini
menggunakan model observasi terus terang hal ini dikarenakan peneliti dalam
melakukan pengumpulan data menyatakan terus terang kepada sumber data
bahwa peneliti sedang melakukan penelitian.
b. Wawancara/Interview
Menurut Esterberg dalam Sugiyono (2012), wawancara adalah pertemuan dua
orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat
dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.
c. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data dengan menggunakan
tulisan, gambar, atau karya sebagai bagian dari data penelitian.
3.6 Instrumen Penelitian
Adapun instrumen dari penelitian ini adalah:
a. Peneliti
Instrumen penting dalam penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri karena
peneliti terlibat secara langsung dalam mengumpulkan data yang diperlukan
melalui wawancara dengan informan yang telah ditentukan.
b. Interview guide
Interview guide merupakan daftar pertanyaan yang dijadikan sebagai pedoman
oleh peneliti dalam melakukan wawancara dengan narasumber.

29
c. Alat perekam, alat komunikasi, dan buku catatan
Alat yang digunakan peneliti sebagai penunjang dalam mengumpulkan data
ketika observasi dan wawancara.
3.7 Teknik Analisis
Penelitian ini menggunakan metode analisis data Miles dan Huberman. Miles
& Huberman (dalam Sugiyono, 2012), mengemukakan bahwa aktivitas dalam
analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus
menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data
yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verivication (Sugiyono,
2012:246).
a. Data Reduction (Reduksi Data)
Tahap ini dilakukan reduksi data yang berarti merangkum, memilih hal-hal
yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya.
Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang
lebih jelas dan mencarinya bila diperlukan. (Sugiyono, 2012:247).
b. Data Display (Penyajian Data)
Pada tahap ini menyajikan data dalam bentuk tabel, grafik ataupun bagan
sehingga data akan terorganisasi dan tersusun sesuai dengan pola hubungan
yang memudahkan peneliti untuk mudah memahami (Sugiyono, 2012:249).
c. Conclusion Drawing/Verification
Pada tahap ini dilakukan penarikan kesimpulan terhadap data yang telah
diperoleh sebelumnya. Kesimpulan ini masih bersifat sementara dan akan
berubah ketika tidak ditemukan bukti-bukti yang mendukung pada
pengumpulan data berikutnya (Sugiyono, 2012:252).

30
Gambar 1. Komponen dalam Analisis Data (Interaktif Model)
Sumber : Sugiyono, 2012:246)

DAFTAR PUSTAKA

Azhar, Fikri. 2015. Partisipasi Masyarakat Dalam Musyawarah Perencanaan


Pembangunan (MUSRENBANG) di Kelurahan Pegirian Kecamatan Semampir Kota
Surabaya. Volume 3, Nomor 2, FISIP: UNAIR.

UNDANG_UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO. 25. 2004. Sistem Perencanaan


Pembangunan Nasional.

UNDANG_UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO. 32. 2004. Pemerintah Daerah.

31