Anda di halaman 1dari 16

BIOTEKNOLOGI MODERN

ANTIBODI MONOKLONAL

Disusun Oleh :

KELOMPOK
Alifya Azzahra (130210180012)
Haya Hafidzah (130210180040)
Gisela Nur Fitriani (130210180005)
Rahmah Dahary (130210180025)
Refina Sastya Qomariyuti (130210180027)

Universitas Padjajaran
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha


Esa, yang telah melimpahkan nikmat, rahmat dan karunia-Nya sehingga
makalah ini dapat diselesaikan dengan baik.
Disadari bahwa terselesaikannya makalah ini tak lepas dari
pihak-pihak yang membantu dan memberikan dukungan kepada
penulis, oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih pada semua
pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang secara langsung
ataupun tidak langsung mempunyai peranan dalam penyusunan makalah
ini.
Dalam penyusunan makalah ini penulis telah berusaha
semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Namun
penulis menyadari bahwa karena adanya keterbatasan yang ada pada diri
penulis, maka wajar jika makalah ini masih jauh dari kata sempurna.
Untuk itu saran dan kritik dari para pembaca yang bersifat membangun,
sangat diharapkan supaya makalah ini dapat lebih sempurna.
Akhirnya penulis berharap makalah ini bermanfaat bagi penulis
dan pembaca, serta bermanfaat bagi semua orang. Amiin.

Sumedang, 09 Oktober 2018

PENULIS

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................................... 2

DAFTAR ISI........................................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 4

A. Latar Belakang ........................................................................................................ 4

B. Identifikasi Masalah ................................................................................................ 4

C. Maksud dan Tujuan................................................................................................. 4

BAB II PEMBAHASAN........................................................................................................... 5

BAB IV KESIMPULAN ......................................................................................................... 15

Kesimpulan ................................................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 16

3
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bioteknologi adalah cabang ilmu biologi yang
mempelajari pemanfaatan makhluk hidup maupun produk dari
makhluk hidup dalam proses produksi untuk menghasilkan barang
dan jasa. Di dalam bioteknologi sendiri terdapat 2 macam, yaitu
bioteknologi konvensional, yaitu, penerapan bioteknologi dengan
peralatan sederhana, dan bioteknologi modern, yaitu penerapan
bioteknologi dengan peralatan-peralatan modern dan cara-cara
yang canggih.
Kali ini penulis akan membahas mengenai antibodi
monoklonal, yang merupakan bioteknologi modern. Bioteknologi
modern
B. Identifikasi Masalah
A. Apa yang dimaksud dengan antibodi monoklonal ?
B. Apa saja macam-macam antibod monoklonal ?
C. Bagaimana cara pembuatan antibodi monoklonal ?
D. Bagaimana mekanisme kerja antibodi monoklonal ?
C. Maksud dan Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud antibodi monoklonal.
2. Mengetahui pemicu kasus macam-macam antibod monoklonal.
3. Mengetahui cara pembuatan antibodi monoklonal.
4. Mengetahui mekanisme kerja antibodi monoklonal.

4
BAB II PEMBAHASAN

A. Antibodi Monoklonal
Antibodi merupakan campuran
protein di dalam darah dan disekresi
mukosa menghasilkan sistem imun
bertujuan untuk melawan antigen
asing yang masuk ke dalam sirkulasi
darah. Antibodi dibentuk oleh sel
darah putih yang disebut limfosit B.
Limfosit B akan mengeluarkan antibodi yang kemudian diletakkan pada
permukaannya. Setiap antibodi yang berbeda akan mengenali dan
mengikat hanya satu antigen spesifik. Antigen merupakan suatu protein
yang terdapat pada permukaan bakteri, virus dan sel kanker. Pengikatan
antigen akan memicu multiplikasi sel B dan penglepasan antibodi. Ikatan
antigen antibodi mengaktivasi sistem respons imun yang akan menetralkan
dan mengeliminasinya. Antibodi memiliki ber-bagai macam bentuk dan
ukuran walaupun struktur dasarnya berbentuk `Y`(gambar 4.1). Antibodi
tersebut mempunyai 2 fragmen, fragmen antigen binding (Fab) dan
fragmen cristallizable (Fc). Fragmen antigen binding digunakan untuk
mengenal dan mengikat antigen spesifik, tempat melekatnya antigen
antibodi yang tepat sesuai regio yang bervariasi disebut complementary
determining region (CDR) dan Fc berfungsi sebagai efektor yang dapat
berinteraksi dengan sel imun atau protein serum (Albert, B., et al., 2002;
Abbas, A.K., 2005; Nelson, P.N., et al., 2000).
Antibodi monoklonal adalah antibodi buatan identifik karena
diproduksi oleh salah satu jenis sel imun saja dan semua klonnya
merupakan sel single parent. Antibodi monoklonal mempunyai sifat
khusus yang unik yaitu dapat mengenal suatu molekul, memberikan
informasi tentang molekul spesifik dan sebagai terapi target tanpa merusak
sel sehat sekitarnya. Antibodi monoklonal murni dapat diproduksi dalam

5
jumlah besar dan bebas kontaminasi. Antibodi monoklonal dapat diperoleh
dari sel yang dikembangkan di laboratorium, reagen tersebut sangat
berguna untuk penelitian terapi dan diagnostik laboratorium. (Albert, B., et
al., 2002; Abbas, A.K., 2005; Nelson, P.N., et al., 2000).
Antibodi monoklonal dapat diciptakan untuk mengikat antigen tertentu
kemudian dapat mendeteksi atau memurnikannya. Manusia dan tikus
mempunyai kemampuan untuk membentuk antibodi yang dapat mengenali
antigen. Antibodi monoklonal tidak hanya mempertahankan tubuh untuk
melawan organisme penyakit tetapi juga dapat menarik molekul target
lainnya di dalam tubuh seperti reseptor protein yang ada pada permukaan
sel normal atau molekul yang khas terdapat pada permukaan sel kanker.
Spesifisitas antibodi yang luar biasa menjadikan zat ini dapat digunakan
sebagai terapi. Antibodi mengikat sel kanker dan berpasangan dengan zat
sitotoksik sehingga membentuk suatu kompleks yang dapat mencari dan
menghancurkan sel kanker. (Albert, B., et al., 2002; Abbas, A.K., 2005;
Nelson, P.N., et al., 2000)
B. Macam-Macam Antibod Monoklonal
Beberapa jenis antibodi monoklonal generasi baru yang telah
dikembangkan antara lain adalah :
1. Murine Monoclonal Antibodies
Yaitu antibodi murni yang didapatkan dari tikus. Antibodi ini dapat
menyebabkan human anti mouse antibodies (HAMA). Biasanya
antibodi ini memiliki akhiran dengan nama “momab” (contohnya
Ibritumomab®). (Radji, M., 2011; Tuscano, J.M., et al; 2005)
2. Chimaric Monoclonal Antibodies
Antibodi ini dibuat melalui teknik rekayasa genetika untuk
menciptakan suatu mencit atau tikus yang dapat memproduksi sel
hibrid mencit-manusia. Bagian variabel dari molekul antibodi,
termasuk antigen binding site berasal dari mencit, sedangkan bagian
lainnya yaitu bagian yang konstan berasal dari manusia. Salah satu

6
contohnya antibodi monoklonal yang struktur molekulnya terdiri dari
67% manusia adalah Rifuximab (Tuscano, 2005).
3. Humanized Monoclonal Antibodies
Antibodi ini dibuat sedemikian rupa sehingga bagian protein yang
berasal dari mencit hanya terbatas pada antigen binding site saja.
Sedangkan bagian yang lainya yaitu bagian variabel dan bagian konstan
berasal dari manusia. Antibodi monoklonal yang struktur molekulnya
terdiri dari 90% manusia diantaranya adalah Alemtuzumab (Tuscano,
2005).
4. Fully Human Monoclonal Antibodies
Antibodi ini merupakan antibodi yang paling ideal untuk
menghindari terjadinya respon imun karena protein antibodi yang
disuntikkan ke dalam tubuh seluruhnya merupakan protein yang berasal
dari manusia. Salah satu pendekatan yang dilakukan untuk merancang
pembentukan antibodi ini adalah dengan teknik rekayasa genetika untuk
menciptakan mencit transgenik yang membawa gen yang berasal dari
manusia. Sehingga mampu memproduksi antibodi yang diinginkan
(Tuscano, 2005).

Gambar Struktur antibodi monoklonal rekombinan. Dari yang paling


kiri ke kanan; antibodi monoklonal fully mouse, chimaric,. humanized,
fully human.
C. Cara Pembuatan Antibodi Monoklonal
Kőhler dan Milstein menjelaskan bagaimana caranya mengisolasi
dan mengembangkan antibodi monoklonal murni spesifik dalam jumlah

7
banyak yang didapat dari campuran antibodi hasil respons imun. Tikus
yang telah diimunisasi dengan antigen khusus ke dalam sumsum tulang
akan menghasilkan sel limfosit B yang memiliki masa waktu hidup
terbatas dalam kultur, hal ini dapat diatasi dengan cara menggabungkan
dengan sel limfosit B tumor (myeloma) yang abadi. Hasil campuran
heterogen sel hybridomas dipilih hybridoma yang memiliki 2 kemampuan
yaitu dapat menghasilkan antibodi khusus dan dapat tumbuh di dalam
kultur. Hybridoma ini diperbanyak sesuai klon individualnya dan setiap
klon hanya menghasilkan satu jenis antibodi monoklonal yang permanen
dan stabil. Hybridoma yang berasal dari satu limfosit akan menghasilkan
antibodi yang akan mengenali satu jenis antigen. Antibodi inilah yang
dikenal sebagai antibodi monoklonal.

Skema pembuatan antibody monoklonal dari kultur tikus


Proses pembuatan antibodi monoklonal melalui 5 tahapan yaitu:
1. Imunisasi tikus dan seleksi tikus donor untuk pengembangan sel
hybridoma Tikus diimunisasi dengan antigen tertentu untuk
menghasilkan antibodi yang diinginkan. Tikus dimatikan jika titer
antibodinya sudah cukup tercapai dalam serum kemudian limpanya
digunakan sebagai sumber sel yang akan digabungkan dengan sel
myeloma.
2. Penyaringan produksi antibodi tikus Serum antibodi pada darah tikus
itu dinilai setelah beberapa minggu imunisasi. Titer serum antibodi
ditentukan dengan berbagai macam teknik seperti enzyme link

8
immunosorbent assay (ELISA) dan flow cytometry. Fusi sel dapat
dilakukan bila titer antibodi sudah tinggi jika titer masih rendah maka
harus dilakukan booster sampai respons yang adekuat tercapai.
Pembuatan sel hybridoma secara in vitro diambil dari limpa tikus yang
dimatikan.
3. Persiapan sel myeloma Sel myeloma yang didapat dari tumor limfosit
abadi tidak dapat tumbuh jika kekurangan hypoxantine guanine
phosphoribosyl transferase (HGPRT) dan sel limpa normal masa
hidupnya terbatas. Antibodi dari sel limpa yang memiliki masa hidup
terbatas menyediakan HGPRT lalu digabungkan dengan sel myeloma
yang hidupnya abadi sehingga dihasilkan suatu hybridoma yang dapat
tumbuh tidak terbatas. Sel myeloma merupakan sel abadi yang dikultur
dengan 8-azaguanine sensitif terhadap medium seleksi hypoxanthine
aminopterin thymidine (HAT). Satu minggu sebelum fusi sel, sel
myeloma dikultur dalam 8-azaguanine. Sel harus mempunyai
kemampuan hidup tinggi dan dapat tumbuh cepat. Fusi sel meng-
gunakan medium HAT untuk dapat bertahan hidup dalam kultur.
4. Fusi sel myeloma dengan sel imun limpa Satu sel limpa digabungkan
dengan sel myeloma yang telah dipersiapkan. Fusi ini diselesaikan
melalui sentrifugasi sel limpa dan sel myeloma dalam polyethylene
glycol suatu zat yang dapat menggabung-kan membran sel. Sel yang
berhasil mengalami fusi dapat tumbuh pada medium khusus. Sel itu
kemudian didistribusikan ke dalam tempat yang berisi makanan,
didapat dari cairan peritoneal tikus. Sumber makanan sel itu
menyediakan growth factor untuk pertumbuhan sel hybridoma.
5. Pengembangan lebih lanjut kloning sel hybridoma kelompok kecil sel
hybridoma dapat dikembangkan pada kultur jaringan dengan cara
seleksi ikatan antigen atau dikembangkan melalui metode asites tikus.
Kloning secara limiting dilution akan memastikan suatu klon itu
berhasil. Kultur hybridoma dapat dipertahankan secara in vitro dalam
tabung kultur (10-60 ug/ml) dan in vivo pada tikus, hidup tumbuh di

9
dalam suatu asites tikus. Konsentrasi antibodi dalam serum dan cairan
tubuh lain 1-10 ug/ml.
D. Mekanisme Kerja Antibodi Monoklonal
Antibodi monoklonal menggunakan mekanisme kombinasi
untuk meningkatkan efek sitotoksik sel tumor. Mekanisme
komponen sistem imun adalah antibody dependent cellular
cytotoxicity (ADCC), complement dependent cytotoxicity (CDC),
mengubah signal transduksi sel tumor atau menghilangkan sel
permukaan antigen. Antibodi dapat digunakan sebagai target
muatan (radioisotop, obat atau toksin) untuk membunuh sel tumor
atau mengaktivasi prodrug di tumor, antibody directed enzyme
prodrug therapy (ADEPT). Antibodi monoklonal digunakan
secara sinergis melengkapi mekanisme kerja kemoterapi untuk
melawan tumor. (Adams, G.P., et al., 2005)
1. Antibody dependent cellular cytotoxicity (ADCC)
Antibody dependent cellular cytotoxicity (ADCC) terjadi
jika antibodi mengikat antigen sel tumor dan Fc antibodi
melekat dengan reseptor Fc pada permukaan sel imun efektor.
Interaksi Fc reseptor ini berdasarkan kemanjuran antitumor dan
sangat penting pada pemilihan suatu antibodi monoklonal. Sel
efektor yang berperan masih belum jelas tapi diasumsikan sel
fagosit mononuklear dan atau natural killer (NK). Struktur Fc
domain dimanipulasi untuk menyesuaikan jarak antibodi dan
interaksi dengan Fc reseptor. Antibody dependent cellular
cytotoxicity (ADCC) dapat meningkatkan respons klinis secara
langsung menginduksi destruksi tumor melalui presentasi
antigen dan menginduksi respons sel T tumor. Antibodi
monoklonal berikatan dengan antigen permukaan sel tumor
melalui Fc reseptor permukaan sel NK. Hal ini memicu
penglepasan perforin dan granzymes untuk menghancurkan sel
tumor. Sel-sel yang hancur ditangkap antigen presenting cell

10
(APC) lalu dipresentasikan pada sel B sehingga memicu
penglepasan antibodi kemudian antibodi ini akan berikatan
dengan target antigen (gambar 4.4b-d). Sel cytotoxic T
lymphocytes (CTLs) dapat mengenali dan membunuh sel target
antigen. (Adams, G.P., et al., 2005)

Gambar Skema mekanisme kerja Antibody Dependent Cellular Cytotoxicity (ADCC)


2. Complement dependent cytotoxicity (CDC)
Pengikatan antibodi monoklonal dengan antigen permukaan
sel akan mengawali kaskade komplement. Complement
dependent cytotoxicity (CDC) merupakan suatu metode
pembunuh sel tumor yang lain dari antibodi. Imunoglobulin G1
dan G3 sangat efektif pada CDC melalui jalur klasik aktivasi
komplemen (gambar 4.5a). Formasi kompleks antigen antibodi
merupakan komplemen C1q berikatan dengan IgG sehingga
memicu komplemen protein lain untuk mengawali penglepasan
proteolitik sel efektor kemotaktik/agen aktivasi C3a dan C5a.
(Adams, G.P., et al., 2005)

Gambar Skema mekanisme kerja Complement Dependent Cytotoxicity (CDC)

11
3. Perubahan transduksi signal
Reseptor growth factor merupakan suatu antigen target tumor,
ekspresinya berlebihan pada keganasan. Aktivasi transduksi signal pada
kondisi normal akan menginduksi respons mitogenik dan meningkatkan
kelangsungan hidup sel, hal ini diikuti dengan ekspresi perkembangan
sel tumor yang berlebihan yang juga menyebabkan tumor tidak sentitif
terhadap zat kemoterapi. Antibodi monoklonal sangat potensial
menormalkan laju perkembangan sel dan membuat sel sensitif terhadap
zat sitotoksik dengan menghilangkan signal reseptor ini. Target
antibodi EGFR merupakan inhibitor yang kuat untuk transduksi signal.
Terapi antibodi monoklonal memberikan efek penurunan densitas
ekspresi target antigen contohnya penurunan konsentrasi EGFR
permukaan sel tumor atau membersihkan ligan seperti VEGF.
Pengikatan ligand reseptor growth factor memicu dimerisasi dan
aktivasi kaskade signal sehingga terjadi proliferasi sel dan hambatan
terhadap zat sitotoksik. Antibodi monoklonal menghambat signal
dengan cara menghambat dimerisasi atau mengganggu ikatan ligand.
(Adams, G.P., et al., 2005)

Gambar. Skema mekanisme kerja pada transduksi sinyal

4. Imunomodulasi

Beberapa percobaan menunjukkan antibodi yang langsung


melawan cytotoxic T lymphocyte antigen 4 (CTLA 4) terbukti
dapat menginduksi regresi imun. Pola toksisitas yang diteliti

12
pada uji klinis memperlihatkan hubungan perlekatan CTLA 4
dengan ligand dapat menginduksi respons autoimun, hal ini
terlihat pada aktivasi sel T dependent. Gabungan antibodi anti-
CTLA 4 dengan antibodi monoklonal menginduksi ADCC,
kemoterapi sitotoksik atau radioterapi sehingga dapat
meningkatkan respons imun terhadap antigen spesifik tumor.
(Adams, G.P., et al., 2005)
5. Penghantaran muatan sitotoksik
Antibodi monoklonal pada terapi kanker akan melawan
target sel tumor dengan cara mengikat sel spesifik tumor dan
menginduksi respons imun. Antibodi monoklonal telah
digunakan secara luas dalam percobaan sebagai zat sitotoksik
sel-sel tumor. Modifikasi antibodi monoklonal dilakukan
dengan tujuan sebagai zat penghantar radioisotop, toksin
katalik, obat-obatan, sitokin, enzim atau zat konjugasi aktif
lainnya. Pola antibodi bispesifik pada kedua bagian Fab
memungkinkan untuk mengikat target antigen dan sel efektor.
(Adams, G.P., et al., 2005)
6. Antibodi directed enzyme prodrug therapy (ADEPT)
Antibodi directed enzyme prodrug therapy (ADEPT)
menggunakan antibodi monoklonal sebagai penghantar untuk
sampai ke sel tumor kemudian enzim mengaktifkan prodrug
pada tumor, hal ini dapat meningkatkan dosis active drug di
dalam tumor. Konjugasi antibodi monoklonal dan enzim
mengikat antigen permukaan sel tumor (gambar 4.7a)
kemudian zat sitotoksik dalam bentuk inaktif prodrug akan
mengikat konjugasi antibodi monoklonal dan enzim permukaan
sel tumor (gambar 4.7b-c) akhirnya inaktivasi prodrug terpecah
dan melepaskan active drug di dalam tumor. (Adams, G.P., et
al., 2005)

13
Gambar Skema mekanisme kerja pada imunomodulasi\

14
BAB IV KESIMPULAN

Kesimpulan
1. Antibodi monoklonal
Antibodi monoklonal adalah antibodi buatan identifik karena diproduksi
oleh salah satu jenis sel imun saja dan semua klonnya merupakan sel single
parent yang mempunyai sifat khusus yang unik yaitu dapat mengenal suatu
molekul, memberikan informasi tentang molekul spesifik dan sebagai terapi
target tanpa merusak sel sehat sekitarnya.
2. Macam-macam antibod monoklonal :
a. Fully Human Monoclonal Antibodies
b. Chimaric Monoclonal Antibodies
c. Humanized Monoclonal Antibodies
d. Murine Monoclonal Antibodies
3. Cara pembuatan antibodi monoklonal.
 Imunisasi tikus dan seleksi tikus
 Penyaringan produksi antibodi tikus Serum antibodi pada darah
tikus
 Persiapan sel myeloma Sel myeloma
 Fusi sel myeloma dengan sel imun limpa
 Pengembangan lebih lanjut kloning sel hybridoma
4. Mekanisme kerja antibodi monoklonal.
 Antibody dependent cellular cytotoxicity (ADCC)
 Complement dependent cytotoxicity (CDC)
 Perubahan transduksi signal
 Imunomodulasi
 Penghantaran muatan sitotoksik
 Antibodi directed enzyme prodrug therapy (ADEPT)

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Alberts, B., Johnson, A., Lewis, J., Raff, M., Robert, K., Walter, P. (2002).
Manipulating proteins, DNA, and RNA. In: Anderson MS, Dilernia B, editors.
Molecular biology of the cell. 4th ed.New York: Garland Science. 469-78.
2. Tuscano JM, Noonan K, Mulrooney T. (2005).Monoclonal antibodies: case
studies in novel therapies. In: Frankel C, editor. A continuing
education program for oncology nurses.Pittsburgh: OES. 5-8.
3. Adams, G.P., dan Weiner, L.M. (2005). Monoclonal antibody therapy of
cancer. Nature Biotechnology. 23: 1147-57.

16