Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

INFERTILITAS PADA MANUSIA


Diajukan untuk memenuhi nilai Embriologi

Dosen Pengampu Mata Kuliah


Dr. Sumiyati Sa’adah, M.Si.
Epa Paujiah, M.Si.

Disusun oleh :
Nicky Rhaina Risti

1162060073

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG


FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha
penyayang. Penulis panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, atas hidayah dan
inayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah Embriologi ini dengan kajian
khusus mengenai Infertilitas pada Manusia.

Penulis sangat bersyukur karena telah menyelesaikan makalah ini. Namun


terlepas dari itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasa dan isi. Oleh karena itu, dengan
tangan terbuka penulis sangat menerima kritik dan saran dari pembaca agar dapat
memperbaiki makalah ini.

Akhir kata, penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat, dapat


menambah wawasan, ilmu pengetahuan dan menjadi inspirasi, juga sebagai tolak
ukur agar dapat membuat makalah yang lebih baik lagi bagi para pembaca sekalian.

Bandung, Februari 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

BAB I ................................................................................................................................................ 1

Pendahuluan ...................................................................................................................................... 1

A. Latar Belakang ..................................................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ................................................................................................................ 2

C. Tujuan .................................................................................................................................. 2

BAB II ............................................................................................................................................... 3

Pembahasan ....................................................................................................................................... 3

A. Pengertian Infertilitas ........................................................................................................... 3

B. Jenis-jenis Infertilitas ........................................................................................................... 4

C. Penyebab Infertilitas ............................................................................................................ 4

D. Evaluasi dan Pengobatan Infertilitas .................................................................................... 8

BAB III ........................................................................................................................................... 10

A. Kesimpulan ........................................................................................................................ 10

B. Saran .................................................................................................................................. 10

Daftar Pustaka .................................................................................................................................. iv

iii
BAB I
Pendahuluan

A. Latar Belakang

Kehamilan merupakan suatu masa dimana pasangan suami istri hendak


mendapatkan keturunan. Dalam hal ini kehamilan juga menjadikan suatu
keluarga menjadi terasa lebih lengkap dan cenderung lebih harmonis. Namun
pada hakikaktnya tidak semua wanita dapat mengalami kehamilan atau tidak
semua pasangan dapat mendapatkan keturunan, salah satunya adalah karena
infertilitas. Infertilitas adalah gangguan dari sistem reproduksi yang ditandai
dengan kegagalan mengalami kehamilan setelah 12 bulan atau lebih dan telah
melakukan hubungan sanggama tanpa kontrasepsi secara teratur.

Pada tahun 2010, infertilitas diperkirakan terjadi pada 48,5 juta


pasangan di seluruh dunia. Wanita yang berumur 20 – 44 tahun yang ingin
memiliki anak mengalami infertilitas primer sebesar 1,9% dan 10,5 % wanita
mengalami infertilitas sekunder. Penyebab infertilitas multifaktorial. Faktor
pria dan wanita sebagai penyebab infertilitas sekitar 26%. Dari data Biro Pusat
Statistik di Indonesia, diperkirakan terdapat 12% pasutri yang tidak mampu
membuahkan keturunan. Berdasar survei kesehatan rumah tangga tahun 1996,
diperkirakan ada 3,5 juta pasangan (7 juta orang) yang infertil. Kini, para ahli
memastikan angka infertilitas telah meningkat mencapai 15-20% dari sekitar 50
juta pasangan di Indonesia.

Seringkali wanita yang disalahkan bila suatu pasangan suami istri sukar
memperoleh keturunan. Sekitar 40 % kasus infertilitas disebabkan kemandulan
wanita, 30 % disebabkan kemandulan pria dan 30% keduanya. terkadang dalam
pasangan suami istri menolak dilakukan pemeriksaan karena menganggap
infertilitas sebagai suatu hal yang memalukan di masyarakat. Untuk itulah
diperlukan suatu penanganan infertilitas yang menyeluruh dari tenaga
kesehatan meliputi pasangan suami istri, keluarga dan lingkungannya,

1
B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan infertilitas?


2. Apa saja jenis infertilitas?
3. Apa penyebab infertilitas?
4. Bagaimana evaluasi dan pengobatan infertilitas?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian infertilitas


2. Untuk mengetahui jenis infertilitas
3. Untuk mengetahui penyebab infertilitas
4. Untuk mengetahui evaluasi dan pengobatan infertilitas

2
BAB II
Pembahasan

A. Pengertian Infertilitas

Infertilitas erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Infertilitas


merupakan suatu ketidakmampuan untuk menghasilkan keturunan. Pada pria,
infertilitas merupakan ketidakmampuan sperma untuk membuahi ovum.
Infertilitas didefinisikan sebagai hilangnya kemampuan untuk hamil dan
melahirkan anak. Keadaan ini tidak sama dengan sterilitas yang merupakan
kemampuan absolut dan ireversibel untuk hamil. Secara klinis, suatu pasangan
diduga mengalami infertilitas jika tidak terjadi kehamilan setelah koitus yang
sering dan tidak menggunakan konstrasepsi selama 12 bulan (Heffner, 2016 :
76).

Menurut dokter ahli reproduksi, sepasang suami istri dikatakan infertil


jika tidak hamil setelah 12 bulan melakukan hubungan intim secara rutin (1-3
kali seminggu) dan bebas kontrasepsi bila perempuan berumur kurang dari 34
tahun. Tidak hamil setelah enam bulan melakukan hubungan intim secara rutin
dalam kurun 1-3 kali seminggu dan bebas kontrasepsi bila perempuan berumur
lebih dari 35 tahun serta perempuan yang bisa hamil namun tidak sampai
melahirkan sesuai masanya (37-42 minggu). Pada dasarnya infertilitas adalah
ketidakmampuan secara biologis dari seorang laki-laki atau seorang perempuan
untuk menghasilkan keturunan

Ada definisi yang ketat dari infertilitas digunakan oleh banyak dokter.
Namun, ada juga istilah yang serupa, subfertilitas misalnya untuk kondisi yang
lebih jinak dan fekunditas untuk ketidakmungkinan alami untuk hamil.
Kemandulan pada pasangan dapat disebabkan baik wanita atau pria, belum
tentu baik. Beberapa yang telah mencoba gagal untuk memiliki anak untuk satu
tahun atau lebih dikatakan makna “subfertile” kurang subur dari beberapa

3
tingkat fecundability pasangan adalah sekitar 3-5%. Banyak penyebabnya
adalah sama dengan infertilitas.

Menurut Manuaba, (2007 : 33) mempertimbangkan bahwasanya untuk


menjadi pasangan infertil jika:

1. Pasangan tidak hamil setelah 12 bulan bebas kontrasepsi hubungan seksual


jika perempuan berada di bawah usia 34 tahun.
2. Pasangan tidak hamil setelah 6 bulan bebas kontrasepsi hubungan seksual
jika perempuan tersebut berusia di atas 35 (penurunan kualitas telur
perempuan di atas usia 35 account untuk perbedaan berdasarkan usia seperti
ketika untuk mencari intervensi medis).
3. Wanita tidak mampu membawa kehamilan untuk jangka lama.

B. Jenis-jenis Infertilitas

Menurut Saraswati (2015 : 5-9) Infertilitas terdiri dari 2 macam, yaitu :

1) Infertilitas primer yaitu jika perempuan belum berhasil hamil walaupun


bersenggama teratur dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan
selama 12 bulan berturut-turut.
2) Infertilitas sekunder yaitu Disebut infertilitas sekunder jika perempuan
penah hamil, akan tetapi kemudian tidak berhasil hamil lagi walaupun
bersenggama teratur dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan
selama 12 bulan berturut- turut.

C. Penyebab Infertilitas

1) Faktor Penyebab Infertilitas Primer


a. Infertilitas pada wanita; infertilitas lebih banyak ditemukan pada wanita
karir, beberapa masalah diantaranya ialah masalah organ reproduksi wanita;
masalah vagina berupa dispareunia dan vulvovaginitis, trikomonas
vaginalis yang hebat akan menyebabkan infeksi lanjut pada portio, serviks,
endometrium bahkan sampai ke tuba yang dapat menyebabkan gangguan

4
pergerakan dan penyumbatan pada tuba sebagai organ reproduksi vital
untuk terjadinya konsepsi (Oktarina, 2014 : 295-300).

Gambar 1 Lokasi yang dapat mengalami gangguan penyebab infertilitas pada manusia

Sumber : Heffner, Linda. 2016. At a Glance Sistem Reproduksi Edisi Kedua. Jakarta : Erlangga.

b. Infertilitas pada pria


 Faktor koitus pria; seperti spermatogenesis yang abnormal, motilitas
sperma yang tidak normal,kelainan anatomi, disfungsi seksual, dan
gangguan endokrin.
 Masalah ejakulasi; Ejakulasian retrograde yang berhubungan dengan
diabetes, kerusakan saraf, obat-obatan atau trauma bedah.
 Faktor lain; Adapun yang berpengaruh terhadap produksi sperma atau
semen adalah infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual, stress,
nutrisi yang tidak adekuat, asupan alkohol berlebihan dan nikotin.
 Faktor pekerjaan; Spermagenesis diperkirakan kurang efisien pada pria
dengan jenis pekerjaan tertentu, yaitu pada petugas pemadam kebakaran
dan pengemudi truk jarak jauh.
c. Infertilitas pada pria dan wanita (masalah interaktif); masalah yang berasal
dari penyebab spesifik untuk setiap pasangan meliputi : frekuensi sanggama
yang tidak memadai, waktu sanggama yang buruk, perkembangan antibody
terhadap sperma pasangan dan ketidakmampuan sperma untuk melakukan
penetrasi ke sel telur

5
2) Faktor Penyebab Infertilitas Sekunder

Menurut Daniel (2008, 166) penyebab infertilitas secara sekunder ialah:

a. Usia; usia sangat berpengaruh pada kesuburan seorang wanita. Selama


wanita tersebut masih dalam masa reproduksi yang berarti mengalami haid
yang teratur, kemungkinan masih bisa hamil. Akan tetapi seiring dengan
bertambahnya usia maka kemampuan indung telur untuk menghasilkan sel
telur akan mengalami penurunan. Penelitian menunjukkan bahwa potensi
wanita untuk hamil akan menurun setelah usia 25 tahun dan menurun drastis
setelah usia diatas 38 tahun. Pada pria dengan bertambahnya usia juga
menyebabkan penurunan kesuburan. Meskipun pria terus menerus
memproduksi sperma sepanjang hidupnya, akan tetapi semakin usia
bertambah maka kualitas sperma semakin menurun.
b. Gaya hidup; Pasangan usia subur yang keduanya mengalami obesitas
memiliki risiko 2.74 kali untuk mengalami infertilitas dibandingkan dengan
pasangan usia subur yang tidak obesitas. Wanita dengan berat badan yang
berlebihan sering mengalami gangguan ovulasi, karena kelebihan berat
badan dapat mempengaruhi estrogen dalam tubuh dan mengurangi
kemampuan untuk hamil. Pria yang berolah raga secara berlebihan juga
dapat meningkatkan suhu tubuh mereka,yang mempengaruhi
perkembangan sperma dan penggunaan celana dalam yang ketat juga
mempengaruhi motilitas sperma. Selain itu, merokok juga dapat
menyebabkan infertilitas dimana timbulnya seminal oxidative stres pada
pria yang mengalami infertil berhasil membuktikan bahwa merokok
memiliki efek yang merugikan terhadap kualitas sperma, terutama
konsentrasi sperma, motilitas, dan morfologi (Sa’adah, 2016: 61–69).
3) Faktor Fungsional
a. Gangguan system hormonal wanita dan dapat di sertai kelainan bawaan
(immunologis; Apabila embrio memiliki antigen yang berbeda dari ibu,
maka tubuh ibu memberikan reaksi sebagai respon terhadap benda asing.
Reaksi ini dapat menyebabkan abortus spontan pada wanita hamil.

6
b. Gangguan pada pelepasan sel telur (ovulasi).Ovulasi atau proses
pengeluaran sel telur dari ovarium terganggu jika terjadi gangguan
hormonal. Salah satunya adalah polikistik.

c. Gangguan di daerah sebelum testis (pretesticular). Gangguan biasanya


terjadi pada bagian otak, yaitu hipofisis akibatnya produksi sperma dapat
terganggu serta mempengaruhi spermatogenesis dan keabnormalan semen
dan harus dilakukan untuk peningkatan testosterone dengan terapi hormon.

4) Faktor Penyebab Infertilitas dari Segi Psikologis; unsur ketakutan serta


kecemasan berkaitan dengan fungsi reproduksi yang menimbulkan dampak
yang merintangi tercapainya orgasme pada koitus. Pada umumnya
dinyatakan bahwa sebab yang paling banyak dari kemandulan adalah
ketakutan-ketakutan yang tidak disadari atau yang ada dibawah sadar, yang
infantile atau kekanak-kanakan sifatnya. (Kartono, 2007:74 ). Penelitian
kedokteran juga menemukan bahwa peningkatan kadar prolaktin dan kadar
Lutheinizing Hormon (LH) berhubungan erat dengan masalah psikis.
Kecemasan dan ketegangan cenderung mengacaukan kadar LH, serta
kesedihan dan murung cenderung meningkatkan prolaktin. Kadar prolaktin
yang tinggi dapat mengganggu pengeluaran LH dan menekan hormon
gonadotropin yang mempengaruhi terjadinya ovulasi ( Kasdu, 2001 : 70 ).
Keadaan wanita yang lebih rileks ternyata lebih mudah hamil dibandingkan
dengan wanita yang selalu dalam keadaan stres. Adapun perasaan tertekan
atau tegang yang dialami wanita tersebut berpengaruh terhadap fungsi
hipotalamus yang merupakan kelenjar otak yang mengirimkan sejumlah
sinyal untuk mengeluarkan hormon stres keseluruh tubuh. Hormon stress
yang terlalu banyak keluar dan lama akan mengakibatkan rangsangan yang
berlebihan pada jantung dan melemahkan sistem kekebalan tubuh.
Kelebihan hormon stres juga dapat mengganggu keseimbangan hormon,
sistem reproduksi ataupun kesuburan.

7
D. Evaluasi dan Pengobatan Infertilitas

Evaluasi meliputi penilaian analisis semen dan pemeriksaan menstruasi


ovulatory dan patensi tuba fallopi. Pada beberapa pasangan diperlukan beberapa
pemeriksaan tambahan seperti penilaian anatomis rongga uterus, evaluasi
kandungan ovarium dengan mengukur kadar FSH dan estradiol serum pada fase
folikular siklus dan jika diinginkan laparoskopi atau histeroskopi. Pengobatan
dapat dilakukan jika hasil evaluasi pemeriksaan telah keluar (Heffner, 2016 :
77).

Pengobatan infertilitas pada pria dapat meliputi terapi medis atau


pembedahan, seperti koreksi varikokel atau koreksi pada penyumbatan vas
deferens yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah sperma. Sperma dapat
dicuci, dikonsentrat, dan diletakkan langsung pada rongga uterus dengan
inseminasi buatan.

Menurut Ferial, (2012 :131-136) kandungan gizi dapat memengaruhi


kesuburan, dalam kata lain dapat memperkecil kemungkinan infertile atau dapat
menyembuhkan infertilitas. Hasil penelitian tersebut ialah 1) plasebo dosis 1 X
1 tidak memberikan perbaikan signifikan positif terhadap volume, likuefaksi,
viskositas, pH, konsentrasi, motilitas, jumlah dan viabilitas, warna, bau,
aglutinasi dan morfologi spermatozoid (p > 0,05). 2) Gizi Kerang Darah
Anadara granosa L. 1 X 1 mampu memberikan perbaikan yang signifikan
positif terhadap volume, likuefaksi, viskositas, pH, konsentrasi, motilitas,
jumlah dan viabilitas, warna, bau, aglutinasi dan morfologi spermatozoid (p <
0,05). 3) Gizi Kerang Darah Anadara granosa L. 2 X 1 juga mampu memberikan
perbaikan yang signifikan positif terhadap volume, likuefaksi, viskositas, pH,
konsentrasi, motilitas, jumlah dan viabilitas, warna, bau, aglutinasi dan
morfologi sepermatozoid (p < 0,05). Pemberian gizi Kerang Darah Anadara
granosa L. dosis 2 x 1 Iebih efektif dari pada dosis 1 x 1 ditunjukkan dengan
selisih rerata kualitas spermatozoid. Hal tersebut memperbesar kemungkinan
hamil karena adanya kualitas sperma yang baik. Ketersediaan teknologi

8
reproduksi secara luas telah berevolusi sehingga pengobatan infertilitas
membuat kehamilan mungkin saja terjadi dengan terapi misalnya.

Adapun seiring berkembangnya teknologi, dapat menjadi salah satu


jawaban dari keresahan pasangan yang dianggap infertile, ialah dengan
melakukan beberapa metode sebagai berikut. 1) Inseminasi buatan, yang
merupakan upaya untuk memasukkan spermatozoa langsung ke dalam kavum
uteri dari luar. Syarat utama untuk dapat berhasil dalam teknik inseminasi
buatan adalah hasil pemeriksaan fungsi tuba fallopi dalam batas normal. Dalam
upaya mendapatkan kehamilan dengan inseminasi buatan fungsi tuba secara
utuh sangat penting karena disanalah akan berlangsung perjalanan ovum dan
spermatozoa, terjadi konsepsi, tumbuh-kembang hasil konsepsi sambil berjalan
menuju ke kavum uteri untuk implantasi; 2) Assisted Technology Reproductive
(ART) dikenal oleh masyarakat dengan nama “bayi tabung”. Tindakan ini tidak
menjamin 100% terjadi kehamilan meskipun dengan biaya yang sangat tinggi.
Keberhasilan tindakan ini hanya sekitar 30-40%.

9
BAB III

Penutup
A. Kesimpulan

Dari makalah ini maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1) Infertilitas merupakan suatu ketidakmampuan untuk menghasilkan


keturunan. Keadaan ini tidak sama dengan sterilitas yang merupakan
kemampuan absolut dan ireversibel untuk hamil. Menurut dokter ahli
reproduksi, sepasang suami istri dikatakan infertil jika tidak hamil setelah
12 bulan melakukan hubungan intim secara rutin (1-3 kali seminggu) dan
bebas kontrasepsi bila perempuan berumur kurang dari 34 tahun.
2) Terdapat dua jenis keadaan infertile yang terjadi pada manusia, yakni
infertile primer dan infertile sekunder.
3) Penyebab infertilitas dapat berasal dari luar (eksternal) ataupun dari dalam
diri sendiri (internal).
4) Adapun pada era globalisasi kali ini terdapat banyak terobosan baru untuk
mengatasi masalh tersebut, salah satunya ialah bayi tabung, tentunya yang
digunakan dengan kaidah yang sesuai ajaran agama.

B. Saran

1) Bagi pasangan suami istri hendaknya melakukan pemeriksaan sesegera


mungkin apabila mengalami infertilitas tersebut agar dapat segera diketahui
penyebabnya dan dilakukan pengobatan.
2) Bagi pembaca hendaknya dapat mengambil nilai-nilai positif serta
pengetahuan yang dapat menjadikan referensi untuk kedepannya.
3) Bagi mahasiswa agar memahami lebih lanjut tentang infertilitas dan
menjelaskan pada masyarakat tentang infertilitas tersebut.

10
Daftar Pustaka

Chandranita M, Ida Ayu, dkk. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan
KB. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Ferial, Eddyman. 2012. Kajian Infertilitas Pria dan Usaha Penanganannya. Jurnal
Biologi MIPA, Vol. 1(3) : 131-136.

Hamilton, Persis Mary. 1995. Dasar-dasar Keperawatan Maternais. Jakarta : EGC.

Heffner, Linda. 2016. At a Glance Sistem Reproduksi Edisi Kedua. Jakarta :


Erlangga.

Manuaba, Ida Bagus. 2007. Pengantar Kuliah Obsetri. Jakarta : Kedokteran EGC.

Muslimin, Yusriani, dkk. 2016. Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian


Infertilitas pada Wanita Usia Subur di RSU Sawerigading Palopo. Jurnal
Kesehatan, Vol. 2(1) : 1-7.

Oktarina, Anastasia, dkk. 2014. Faktor-faktor yang Memengaruhi Infertilitas pada


Wanita di Klinik Fertilitas Endokrinologi Reproduksi. Jurnal MKS, Vol.
46(4) : 295-300.

Sa’adah, Najakhatus, dan Windhu Purnomo. 2016. Karakteristik dan Perilaku


Berisiko Pasangan Infertil di Klinik Fertilitas dan Bayi Tabung Tiara Cita
Rumah Sakit Putri Surabaya. Jurnal Biometrika dan Kependudukan, Vol. 5(1)
: 61–69.

Saraswati, Andini. 2015. Infertilitas. Jurnal Majority, Vol. 4(5) : 5-9.

Sitoepoe, Mangku. 2008. Corat-coret Anak Desa Berprofesi Ganda. Jakarta : KPG
(Kepustakaan Populer Gramedia).

iv

Anda mungkin juga menyukai