Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Polinom atau suku banyak adalah bentuk suku- suku dengan banyak
terhingga yang disusun dari peubah atau variable dan konstanta. Operasi yang
digunakan hanya penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pangkat bilangan
bulat tak negative. Banyak cara menyelesaikan suku banyak salah satunya
dengan menggunakan rumus Cardano.
Pada tahun 1501, di sebuah kota kecil tidak jauh dari Milan, Italia bagian
utara lahirlah seorang anak bernama Girolamo Cardano. Anak Fazio, seorang
intelektual bungkuk, karena terlalu banyak membaca buku.
Cardano membantu mengembangkan aljabar di Eropa. Cardano juga
menerbitkan dua buku tentang matematika: Aritmatika dalam Praktik (The
Practice of Arithmetic) dan Pengukuran seherhana (Simple Mensuration). Ini
adalah awal karir Cardano sebagai pengarang sebelum menulis buku tentang
pengobatan, filsafat, astronomi dan theologi selain matematika.
Selain mempercepat pengembangan aljabar di Eropa, Cardano memberi
sumbangsih pada perkembangan teori probabilitas, hidrodinamika, mekanika
dan geologi. Buku tentang peluang dalam permainan diselesaikan tahun 1563
tapi baru terbit pada tahun 1663, dimana isinya adalah topik-topik yang ‘tabu’
disentuh matematikawan “normal” adalah dasar teori probabilitas. Penelitian
tentang putaran dadu, didasarkan pada premis bahwa terkandung prinsip-
prinsip dasar sains, bukan sekedar keberuntungan. Teori probabilitas ini kelak
akan dikembangkan oleh keluarga Bernoulli.
Suku banyak (polinomial) adalah sebuah ungkapan aljabar yang variabel
(peubahnya) berpangkat bilangan bulat non negatif. Variabel peubah yaitu
pengganti nilai yang memberikan nilai berbeda pada fungsi. Penjumlahan dan
pengurangan suku banyak. Operasi penjumlahan dan pengurangan dua suku
banyak atau lebih dapat dilakukan jika setiap suku banyak yang dijumlahkan
atau dikurangkan mempunyai variabel yang pangkatnya sama.Operasi
perkalian suku banyak berarti mengalikan setiap suku dari suku banyak dengan
semua suku dari suku banyak lainnya.

1
Dibalik semua itu banyak manfaat dari polinomial dalam kehidupan sehari-
hari yang belum banyak orang mengetahuinya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Menganalisis keterbagian dan faktorisasi polynomial.
2. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan faktorisasi polinomial.
3. Menjelaskan konsep dasar polinomial.
4. Menganalisis algoritma pembagian polinomial.
5. Menganalisis teorema sisa.
6. Menganalisis teorema faktor.
7. Penerapan polynomial dalam kehidupan sehari-hari.
1.3 Tujuan Pembahasan Makalah
1. Agar dapat memberikan konsep polinomial pada para pembaca.
2. Agar dapat mengetahui manfaat dari polinomial dalam kehidupan sehari-
hari.
1.4 Manfaat penulisan
1. Menambah wawasan siswa mengenai masalah polinomial.
2. Menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap aplikasi polinomial.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Keterbagian dan Faktorisasi Polinomial


Bentuk umum fungsi polinomial dinyatakan dalam persamaan
𝑓(𝑥) = 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 + 𝑎𝑛−1 𝑥 𝑛−1 + 𝑎𝑛−2 𝑥 𝑛−2 + ⋯ + 𝑎2 𝑥 2 𝑎1 𝑥 + 𝑎0 , 𝑎𝑛 ≠ 0, 𝑎0 ≠ 0
Dengan tiap koefisien dari suku-suku adalah bilangan bulat. Secara
umum, faktorisasi polinomial bisa dikerjakan dengan menggunakan
teorema akar rasional.
Teorema akar rasional berbunyi sebagai berikut:
𝑝
“Kemungkinan akar-akar rasional suatu fungsi polinomial adalah 𝑞 ”

dimana p adalah faktor-faktor dari konstanta 𝑎0 dan q adalah faktor-faktor


dari koefisien suku utama 𝑎𝑛 .
Misalnya, 𝑓(𝑥) = 2𝑥 3 + 9𝑥 2 − 17𝑥 + 6
Karena f memiliki suku-suku dengan koefisien berupa bilangan bulat,
maka kita bias menggunakan teorema akar rasional. Pertama kita daftar
semua bilangan bulat p yang merupakan faktor-faktor dari konstanta 𝑎0 =
6 dan semua bilangan bulat q yang merupakan faktor-faktor dari koefisen
suku utama 𝑎𝑛 .
𝑝 ∶ ±1, ±2, ±3, ±6 faktor-faktor dari 6
𝑞 ∶ ±1, ±2 faktor-faktor dari 2
𝑝
Sekarang kita daftar semua kemungkinan akar-akar rasional 𝑞.
𝑝 1 3
∶ ±1, ±2, ±3, ±6, ± 2 , ± 2
𝑞

Jika f memiliki akar rasional, maka akar rasional tersebut bisa diperoleh
dari daftar diatas, yaitu memiliki 12 kemungkinan.
Setelah memperoleh factor pertama, maka factor sisanya bias diperoleh
dengan pembagian sintetik. Guna memudahkan pekerjaan kita, yang diuji
terlebih dahulu selalu kemungkinan rasional bulat, dimulai dari ±1.
Contoh untuk sifat keterbagian polynomial. Misalkan p(x) dan q(x)
adalah dua polinomial dengan koefisien bulat. Misalkan semua koefisien
dari p(x)\cdot q(x) genap tetapi tidak semuanya habis dibagi 4. Tunjukkan

3
bahwa satu dari p(x) dan q(x) memiliki semua koefisien genap dan yang
lainnya punya koefisien ganjil.
Solusi:
Jika keduanya punya semua koefisien genap, jelas bahwa p(x)\cdot q(x)
punya semua koefisien habis dibagi 4. Jika keduanya punya koefisien ganjil,
misalkan x^k di p(x) dan x^l di q(x) memiliki koefisien ganjil, maka
koefisien x^{k+l} pada p(x)\cdot q(x) memiliki koefisien ganjil,
kontradiksi.
2.2 Masalah yang Berkaitan dengan Faktorisasi Polinomial
Contoh masalah yang berkaitan dengan faktorisasi polinomial adalah
sebagai berikut:
1. Diketahui bahwa (x − 1) adalah faktor dari persamaan x3 − 2x2 − 5x
+ 6 = 0. Tentukan faktor-faktor yang lain!

Penyelesaian:

x − 1 merupakan faktor dari 𝑥 3 − 2𝑥 2 − 5𝑥 + 6 = 0 , sehingga


x = 1 adalah akar dari persamaan tersebut. Untuk mencari faktor lain
gunakan horner seperti berikut:

Pemfaktoran dengan horner untuk nilai x = 1

Diperoleh bahwa koefisien 𝑥 2 adalah 1

koefisien x adalah −1 dan 6

Sehingga faktor yang didapat adalah

1𝑥 2 − 1𝑥 − 6 = 0

𝑥2 − 𝑥 − 6 = 0

Faktorkan lagi, lebih mudah karena x dalam pangkat dua, diperoleh

4
𝑥2 − 𝑥 − 6 = 0

(x + 2) (x − 3) = 0

Jadi selain (x − 1), faktor-faktor dari 𝑥 3 − 2𝑥 2 − 5𝑥 + 6 = 0


adalah (x + 2) dan (x – 3)

2. Tentukan penyelesaian dari 𝑥 3 − 2𝑥 2 − 𝑥 + 2 = 0 ?


Penyelesaian:
Faktor-faktor dari konstantanya, yaitu 2, adalah ±1 dan ±2 dan
factor-faktor koefisien pangkat tertingginya, yaitu 1 adalah ±1 ,
sehingga angka-angka yang perlu dicoba: ±1 dan ±2
Karena jumlah seluruh koefisien + konstantanya = 0 (1 – 2 – 1 + 2 =
0), maka, pasti x = 1 adalah salah satu faktornya, jadi:

Jadi 𝑥 3 − 2𝑥 2 − 𝑥 + 2 = (𝑥 − 1)(𝑥 2 − 𝑥 − 2)
=(x-1)(x-2)(x+1)
x=1 x=2 x=-1
Jadi, himpunan penyelesaian nya adalah -1,1,2
2.3 Konsep Dasar Polinomial
2.3.1 Pengertian Polinomial
Suatu polinomial P(x) berderajat n dinyatakan dalam bentuk
umum berikut

𝑓(𝑥) = 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 + 𝑎𝑛−1 𝑥 𝑛−1 + ⋯ + 𝑎1 𝑥 + 𝑎0 , 𝑎𝑛 ≠ 0

Dengan:

 𝑎𝑛 , 𝑎𝑛−1 , 𝑎𝑛−2 , 𝑎2 , 𝑎1 , 𝑎0 konstanta real dan 𝑎𝑛 ≠ 0


 𝑎𝑛 koefisien 𝑥 𝑛 , 𝑎𝑛−1 koefisien 𝑥 𝑛−1 , dan seterusnya
 𝑎0 disebut suku tetap (konstanta)
 n bilangan cacah yang menyatakan derajat polynomial

5
Polinomial tidak boleh mengandung variabel dengan
1
eksponen negative seperti 𝑥 −1 atau 𝑥 , eksponen pecahan seperti
1
√𝑥 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑥 2 , eksponen berupa variabel seperti 2𝑥 .

2.3.2 Suku Utama, Derajat, dan Koefisien Utama


Jika dalam persamaan (1) koefisien 𝑎𝑛 ≠ 0, maka suku 𝑎𝑛 𝑥 𝑛
disebut suku utama (leading term), yaitu suku yang eksponen
variabelnya paling tinggi. Koefisien 𝑎𝑛 pada suku utama disebut
koefisien utama (leading coefficient). Sedangkan eksponen
tertinggi n menyatakan derajat dari polinomial. Adapun suku 𝑎0
yang tidak mengandung variabel x disebut sebagai konstanta.
Fungsi linear dan fungsi kuadrat merupakan baginan dari
polynomial. Fungsi linear adalah fungsi polinomial berderajat
satu karena eksponen paling tingginya adalah 1. Sedangkan
fungsi kuadrat adalah fungsi polinomial berderajat dua karena
eksponen paling tingginya adalah 2.
Tabel: Derajat dari fungsi polinomial
Derajat Jenis Bentuk Standar
0 Konstan 𝑓(𝑥) = 𝑎0
1 Linear 𝑓(𝑥) = 𝑎1 𝑥 + 𝑎0
2 Kuadrat 𝑓(𝑥) = 𝑎2 𝑥 2 + 𝑎1 𝑥 + 𝑎0
3 Kubik 𝑓(𝑥) = 𝑎3 𝑥 3 + 𝑎2 𝑥 2 + 𝑎1 𝑥 + 𝑎0
4 Kuartik 𝑓(𝑥) = 𝑎4 𝑥 4 + 𝑎3 𝑥 3 + 𝑎2 𝑥 2 + 𝑎1 𝑥 + 𝑎0
 Eksponen tertinggi dalam polinomial menentukan
derajat dari polinomial
 Polinomial boleh anda beri nama dengan huruf kecil
seperti f(x), g(x), atau h(x) dan boleh juga dengan
huruf besar seperti P(x), Q(x), atau R(x)

Untuk fungsi-dungsi yang sering dijumpai, bentuk umumnya


biasanya menggunakan koefisien-koefisien sesuai urutan abjad,
seperti pada tabel berikut:

6
Fungsi Polinomial Bentuk Derajat Nama
Umum Fungsi
𝑦 = 𝑎𝑥 + 𝑏 1 Linear
𝑦 = 𝑎𝑥 2 + 𝑏𝑥 + 𝑐 2 Kuadrat
𝑦 = 𝑎𝑥 3 + 𝑏𝑥 2 + 𝑐𝑥 + 𝑑 3 Kubik
𝑦 = 𝑎𝑥 4 + 𝑏𝑥 3 + 𝑐𝑥 2 + 𝑑𝑥 + 𝑒 4 Kuartik

Contoh:

1. Tentukanlah derajat, banyak suku, serta koefisien masing-


masing suku dari polinomial berikut:

𝑥 3 + 5𝑥 2 + 3𝑥 − 9

Penyelesaian:

Derajat polinomial 𝑥 3 + 5𝑥 2 + 3𝑥 − 9 adalah 3 dan


terdiri atas 4 suku. Koefisien masing-masing suku
𝑥 3 , 𝑥 2 , dan 𝑥 berturut-turut adalah 1, 5, dan 3, sedangkan
suku tetapnya adalah -9.

2. Tentukanlah derajat, banyak suku, serta koefisien masing-


masing suku dari polinomial berikut:
𝑥 4 − 2𝑥 3 + 5𝑥 2 − 𝑥 + 11
Penyelesaian:
Derajat polinomial 𝑥 4 − 2𝑥 3 + 5𝑥 2 − 𝑥 + 11 adalah
4 dan terdiri atas 5 suku. Koefisien masing-masing suku
𝑥 4 , 𝑥 3 , 𝑥 2 , dan 𝑥 berturut-turut adalah 1, -2, 5, dan -1,
sedangkan suku tetapnya adalah 11.
2.3.3 Menghitung Nilai Polinomial
Anda telah mengetahui bahwa jika suatu fungsi dinyatakan
oleh f(x), maka nilai f(x) untuk x=k ditulis f(k). sebagai contoh
nilai 𝑓(𝑥) = 2𝑥 3 − 3𝑥 2 + 5𝑥 + 1 untuk x=2 ditulis f(2). Nilai

7
f(2) diperoleh dengan menyubstitusikan variable x dalam f(x)
dengan 2.
Dengan demikian,
𝑓(2) = 2(2)3 − 3(2)2 + 5(2) + 1
𝑓(2) = 16 − 12 + 10 + 1 = 15
Demikian pula dengan polinomial, kamu dapat menentukan
nilai suatu polynomial P(x) untuk suatu nilai x tertentu. Ada dua
cara untuk menentukan nilai polinomial, yaitu dengan cara
subtitusi dan cara skema.
1. Cara Substitusi
Kita dapat menentukan nilai polynomial P(x) untuk
suatu nilai x tertentu dengan cara mensubstitusikan atau
mengganti variabel x pada P(x) dengan nilai x yang
diberikan.
Dengan demikian untuk menentukan nilai polinomial
𝑃(𝑥) = 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 + 𝑎𝑛−1 𝑥 𝑛−1 + ⋯ + 𝑎1 𝑥 + 𝑎0 untuk x=k
dengan k adalah suatu bilangan real adalah sebagai
berikut
𝑃(𝑘) = 𝑎𝑛 𝑘 𝑛 + 𝑎𝑛−1 𝑘 𝑛−1 + ⋯ + 𝑎1 𝑘 + 𝑎0
Contoh:
Suatu polinomial 𝑃(𝑥) = 𝑥 4 − 𝑥 3 − 3𝑥 + 3 ,
tentukan nilai P(x) jika x=1!
Penyelesaian:
Dengan cara substitusi, diperoleh P(x) untuk x=1
adalah sebagai berikut
𝑃(𝑥) = 14 − 13 − 3(1) + 3
=0
2. Cara Skema

Selain menentukan nilai polynomial P(x) untuk suatu


nilai tertentu dengan cara substitusi, kamu dapat
menentukan nilainya dengan cara skema. Agar kamu
lebih mudah memahaminya, perhatikan contoh berikut:

8
F(x) = 2x3 – 3x2 + x + 5 dibagi dengan P(x) = 2x2 –
x–1

Penyelesaian:
P(x) =2x2 – x – 1 = (2x + 1)(x – 1)
P1: 2x + 1 = 0 → x = –½
P2: x – 1 = 0 → x = 1

Cara ini dapat digunakan untuk pembagi berderajat


1 atau pembagi yang dapat difaktorkan menjadi pembagi
- pembagi berderajat 1
Caranya yaitu:
 Tulis koefisiennya saja → harus runtut dari
koefisien xn, xn – 1, … hingga konstanta (jika
ada variabel yang tidak ada, maka koefisiennya
ditulis 0) Contoh: untuk 4x3 – 1, koefisien-
koefisiennya adalah 4, 0, 0, dan -1 (untuk x3, x2,
x, dan konstanta)
 Jika koefisien derajat tertinggi P(x) ≠ 1, maka
hasil baginya harus dibagi dengan koefisien
derajat tertinggi P(x)
 Jika pembagi dapat difaktorkan, maka:
 Jika pembagi dapat difaktorkan menjadi P1 dan
P2, maka S(x) = P1.S2 + S1
 Jika pembagi dapat difaktorkan menjadi P1, P2,
P3, maka S(x) = P1.P2.S3 + P1.S2 + S1
 Jika pembagi dapat difaktorkan menjadi P1, P2,
P3, P4, maka S(x) = P1.P2.P3.S4 + P1.P2.S3 +
P1.S2 + S1
 dan seterusnya

9
Cara Hornernya:

H(x) = 1.x – 1 = x – 1
S(x) = P1.S2 + S1 = (2x + 1).1/2 + 7/2 = x + ½ + 7/2 = x
+4

2.3.4 Penjumlahan dan Pengurangan Polinomial


Ketika menjumlahkan atau mengurangkan polynomial,
maka yang Anda jumlah atau kurangkan adalah suku-suku yang
sejenis. Untuk polinomialsatu variable, suku-suku sejenis adalah
suku-suku dengan eksponen variabelnya sama, misalnya
1
𝑥 4 dan 2 𝑥 4 , 2𝑥 2 dan −5𝑥 2 , atau pun 𝑥 dan 3𝑥.

Contoh:
Diberikan polynomial-polinomial 𝑃(𝑥) = 4𝑥 3 +
𝑥 2 − 3𝑥 + 5, dan 𝑄(𝑥) = 𝑥 3 + 5𝑥 2 − 6 . Tentukan
bentuk paling sederhana dari P(x) + Q(x)
Penyelesaian:
P(x) + Q(x) = (4𝑥 3 + 𝑥 2 − 3𝑥 + 5) + (𝑥 3 + 5𝑥 2 − 6)
P(x) + Q(x) = (4𝑥 3 + 𝑥 3 ) + (𝑥 2 ) + (−3𝑥 + 5𝑥) + (5 − 6)
P(x) + Q(x) = 5𝑥 3 + 𝑥 2 + 2𝑥 − 1
Jadi, P(x) + Q(x) = 5𝑥 3 + 𝑥 2 + 2𝑥 − 1
2.3.5 Perkalian Polinomial
Operasi perkalian pada polinomial menggunakan sifat
distributive, dimana a(b+c) = ab+bc. Derajat polinomial hasil
perkalian dapat diperoleh dari penjumlahan derajat polinom-
polinom yang dikalikan. Bila polinom berderajat m dikalikan

10
dengan polinom berderajat n, maka akan menghasilkan polinom
berderajat m+n.
Contoh:
Diberikan polynomial-polinomial 𝑃(𝑥) = 𝑥 2 −
3, dan 𝑄(𝑥) = 5𝑥 2 − 6. Tentukan hasil dari P(x) . Q(x)
Penyelesaian:
P(x) . Q(x) = (𝑥 2 − 3) . (5𝑥 2 − 6)
P(x) . Q(x) = 5𝑥 4 − 6𝑥 2 − 15𝑥 2 + 18
P(x) . Q(x) = 5𝑥 4 − 21𝑥 2 + 18
Jadi, hasil dari P(x) . Q(x) adalah 5𝑥 4 − 21𝑥 2 + 18

2.4 Algoritma Pembagian Polinomial


Proses pembagian polinomial mempunyai proses yang hampir sama
dengan pembagian bilangan bulat.
2.4.1 Pengertian Pembagi, Hasil Bagi dan Sisa Pembagian
Saat di jenjang Sekolah Dasar, kita mengetahui jika 35
dibagi 3, maka hasil pembagiannya adalah 11 dan empunyai sisa
2. Demikian pula dengan polinomial. Jika polinomial P (x) dibagi
oleh (k-x), maka hasil baginya adalah suatu fungsi H(x) dan
mempunyai sisa pembagian berupa S(x).
Suatu polinomial 𝑃(𝑥) = 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 + 𝑎𝑛−1 𝑥 𝑛−1 + ⋯ + 𝑎1 𝑥 +
𝑎0 mempunyai derajat sebesar n, bagaimnana cara kamu
menentukan derajat dari hasil bagi polynomial P(x) dengan suatu
pembagi tertentu?
Jika suatu polinomial berderajat n dibagi oleh fungsi
berderajat satu, maka hasil baginya berderajat (n-1) dan sisa
pembagian berupa konstanta.
2.4.2 Pembagian Polinomial
Hasil pembagian suatu polinomial, dapat ditentukan melalui
dua cara, yaitu dengan cara horner, cara pembagian bersusun, dan
koefisien tak tentu.

11
1. Pembagian Polinomial dengan Cara Pembagian
Bersusun
Contoh Soal : jika P(x)= 4x² – 14x + 15 dan Q(x)=x – 4.
tentukan Q(x) dan H(x).
Jawab :

Selanjutnya kita bagi suku pertama terbagi dengan suku


pertama pembagi untuk mendapatkan suku pertama hasil bagi:
4x²/x = 4x. Kemudian kita kalikan pembagi dengan 4x dan
kita kurangkan terbagi dengan hasil yang diperoleh.

Kita ulang proses ini dengan menggunakan baris


terakhir 2x + 15 sebagai yang terbagi.

dari gambar diatas, maka H(x) adalah 4x+2 dan S(x)


atau sisa adalah 23.

2. Pembagian Polinomial dengan Cara Pembagian Horner

Untuk dapat memahami metode Horner, anda perlu


melihat langsung konsep mengerjakan soal dengan dalil
Horner.

12
Contoh soal: Tentukan H(x) dan S(x), jika P(x) = x2
– 4x + 6 dan Q(x) = x-2

Jawab: Pertama-tama, buatlah skema horner seperti


bentuk berikut

Seperti yang kita ketahui, Q(x) atau pembagi


adalah x-2, yang dalam bentuk persamaan adalah x-2=
0 atau x=2 seperti berikut.

Setelah itu, kita memulai perhitungan

Setelah anda selesai membuat perhitungan,


maka anda sudah mengetahui H(x) dan S(x).

13
Dari 3 angka dibawah garis, angka paling kanan
adalah S(x), jadi S(x) = 2. 2 angka dari kiri adalah
koefisien dari H(x). Dimulai dari sebelah kiri dari S(x)
adalah konstanta, berlanjut variabel x, lalu x^2, dan
seterusnya. Dalam soal ini, maka H(x) adalah x-2.
Untuk P(x) = X4 – 5x2 + 6x dan Q(x) = x + 1,
maka skema hornernya seperti berikut (menggunakan
konsep yang sama dengan soal di atas).

Dari skema horner ini, dapat disimpulkan


bahwa S(x) = -10, dan H(x) = x3 – x2 – 4x + 10
Dari 2 soal di atas, dapat disusun sebuah skema
horner seperti berikut:

Bagian kiri dibawah garis horner adalah H(x), sedangkan


f(h) adalah sisa pembagian atau S(x)

14
3. Pembagian Polinoomial dengan Cara Pembagian
Koefisien Tak Tentu
Cara ini didasari dengan persamaan dasar
pembagian sukubanyak yaitu: P(x) = Q(x) × H(x) + S(x)
Rumus patokan yang harus anda ketahui adalah bahwa:
 Derajat H(x) = Derajat P(x) – Derajat Q(x)
 Derajat S(x) = Derajat Q(x) – 1
Untuk dapat lebih memahaminya, lihat contoh
soal ini:
P(x) = X3 + 2x2 – x + 3 dengan Q(x) = x + 2,
tentukan H(x) dan S(x).
Jawab:
 H(Derajat H(x) = Derajat P(x) – Derajat Q(x),
maka H(x) = 3-1 = berderajat 2 à ax2 + bx + c
 Derajat S(x) = Derajat Q(x) – 1
Maka S(x) = 1-1 = berderajat 0 à merupakan
konstanta à d
Berdasarkan persamaan dasar pembagian
sukubanyak, diperoleh:
àx3 + 2x2 – x + 3 = (x+2)H(x) + S(x)
àx3 + 2x2 – x + 3 = (x+2)( ax2 + bx + c ) + d
àx3 + 2x2 – x + 3 = ax3 + (b+2a)x2 + (2b+c)x + (2c+d)
Perhatikan bahwa ruas kiri sama dengan ruas kanan,
sehingga diperoleh:
1. Koefisien x3
a=1
2. Koefisien x2
b+2a = 2
b=0
3. Koefisien x
2b+c = -1
c = -1

15
4. Konstanta
2c+d = 3
d=5
Jadi H(x) = ax2 + bx + c = x2 – 1, dan S(x) = d = 5.
2.5 Teorema Sisa
2.5.1 Derajat Hasil Bagi dan Sisa Pembagian
Derajat hasisl pembagian dan sisa pembagian dapat
ditentukan dengan hanya melihat derajat polynomial dan
pembagi. Misalkan polinomial P(x) dibagi oleh pembagi B(x),
maka diperoleh hubungan seperti berikut.
P(x) = B(x) H(x) + S(x)
Jika P(x) polinomial berderajat n dan pembagi B (x)
berderajat m, dengan m ≤ n, maka derajat hasil bagi dan derajat
sisa pembagian dapat ditentukan sebagai berikut.
a. H(x) adalah hasil bagi berderajat (n-m)
b. S(x) adalah sisa pembagian berderajat maksimum (m-1)

2.5.2 Teorema Sisa Pembagian Polinomial


Dalam pembagian polinomial, kita akan mendapatkan hasil
bagi dan sisa pembagian. Sisa pembagian polinomial dapat kamu
temukan dengan mudah jika kamu menerapkan teorema sisa pada
pembagian polinomial. Suatu teorema merupakan pernyataan
yang dapat dibuktikan kebenarannya.
1. Teorema Sisa Pembagian Polinomial oleh (x - k)
Jika polinomial P(x) berderajat n dibagi
dengan (x – k), maka sisa pembagiannya S(x) = P(k).
Sisa P(k) adalah nilai polinomial P(x) untuk x=k.
Contoh:
Tentukan sisa pembagian polinomial 𝑓(𝑥) = 𝑥 3 −
3𝑥 2 + 7 oleh (x-7)
Penyelesaian:

16
Berdasarkan teorema sisa, maka sisa pembagian
𝑓(𝑥) = 𝑥 3 − 3𝑥 2 + 7 oleh (x-7) dengan cara
substitusi adalah sebagai berikut.
S(x) = f(7)
S(x) = 73 − {3 × 72 } + 7
S(x) = 203
Jadi, sisa pembagian 𝑓(𝑥) = 𝑥 3 − 3𝑥 2 + 7 oleh (x-
7) adalah S(x) = 203
2. Teorema Sisa Pembagian Polinomial oleh (ax + b)
Jika polinomial P(x) berderajat n dibagi
dengan (x – k), maka sisa pembagiannya S(x) = P(k).
Sisa P(k) adalah nilai polinomial P(x) untuk x=k.
Contoh:
Diketahui polinomial 𝑓(𝑥) = 2𝑥 3 + 5𝑥 2 + 3𝑥 + 7
dibagi oleh (3x+2). Tentukan sisa pembagiannya!
Penyelesaian:
Berdasarkan teorema sisa, maka sisa pembagian
𝑓(𝑥) = 2𝑥 3 + 5𝑥 2 + 3𝑥 + 7 dibagi oleh (3x+2)
dengan cara Horner adalah sebagai berikut.

Dengan demikian, sisa pembagian dari 𝑓(𝑥) =


2𝑥 3 + 5𝑥 2 + 3𝑥 + 7 dibagi oleh (3x+2)adalah S(x)
3
= f(− 2) = 7

3. Teorema Sisa Pembagian Polinomial oleh Bentuk


Kuadrat
Jika polinomial P(x) berderajat n dibagi
dengan (x – a)(x - b), maka sisa pembagiannya S(x)
= rx + s, dimana P(a) = rb + s.

17
Teorema sisa mengenai pembagian
polynomial oleh bentuk kuadrat di atas hanya dapat
diterapkan untuk bentuk kuadrat yang dapat
difaktorkan.
Contoh:
Diketahui 𝑓(𝑥) = 4𝑥 3 + 2𝑥 2 − 3 dibagi oleh (𝑥 2 +
2𝑥 − 3). Tentukan sisa pembagiannya!
Penyelesaian:
Pembagi bentuk kuadrat 𝑥 2 + 2𝑥 − 3 dapat
difaktorkan menjadi (x+3)(x-1). Misalkan sisa
pembaginya dinyatakan sebagai S(x) = rx+s, maka
diperoleh persamaan f(-3) = -3r +s dan f(1) = r+s.
Nilai f(-3) dan f(1) ditentukan dengan cara substitusi
seperti berikut.
𝑓(−3) = 4(−3)3 + 2(−3)2 − 3 = -93
𝑓(1) = 4(1)3 + 2(1)2 − 3 = 3

2.6 Teorema Faktor


Secara umum, teorema faktor dinyatakan sebagai berikut.
a. Suatu polinomial f(x) memiliki faktor (x – k) jika dan
hanya jika f(k) = 0
b. Suatu polynomial f(x) memiliki factor (ax + b) jika dan
−𝑏
hanya jika 𝑓( 𝑎 ) = 0

Kita akan membuktikan teorema factor yang nomor a. Jika


polinominal yang dibagi f(x), hasil bagi h(x) serta sisa pembagian s,
maka algoritma pembagian dengan factor linear (x – k) bias ditulis
sebagai 𝑓(𝑥) = (𝑥 − 𝑘)ℎ(𝑥) + 𝑠. Dari teorema sisa telah kita ketahui
bahwa jika f(x) dibagi oleh (x - k), maka sisanya s = f(k). Dengan
demikian 𝑓(𝑥) = (𝑥 − 𝑘)ℎ(𝑥) + 𝑓(𝑘)

Kebalikannya, jika (x – k) adalah factor dari h(x), maka


s=f(k)=0. Ini bisa dilihat dengan meyubstitusi x=k ke persamaan,

18
yaitu 𝑓(𝑘) = (𝑘 − 𝑘)ℎ(𝑘) = 0 . Sering juga dikatakan bahwa (x – k)
adalah factor dari f(x) jika f(x) habis dibagi oleh ( x- k)

Contoh:

1. Tunjukkan bahwa merupakan faktor dari


menggunakan teorema faktor!
Penyelesaian:
Untuk menunjukkan bahwa merupakan faktor dari
, cukup ditunjukkan bahwa
. Perhatikan perhitungan berikut.

Dengan demikian, merupakan faktor dari


.
Untuk membuktikannya, kita bisa melakukan pemfaktoran
menggunakan cara horner. Faktor
dari suatu suku banyak f(x) dapat pula ditentukan dengan
menggunakan cara Horner seperti pada contoh berikut.

Hasil pemfaktoran menghasilkan persamaan di bawah.

19
Bentuk f(x) pada persamaan di atas memiliki pangkat
tertinggi 2, artinya masih bisa difaktorkan lagi. Cara
memfaktorkan persamaan kuadrat tidak perlu menggunakan
cara horner, walaupun cara horner tetap bisa digunakan.
Persamaan kuadrat yang akan difaktorkan adalah
, jika akar-akar persamaan kuadrat tersebut
adalah dan maka cari kedua bilangan yang memenuhi
syarat berikut.

Bilangan tersebut adalah dan , sehingga hasil faktor


persamaan kuadrat adalah

Sehingga, kita peroleh persamaan f(x) menjadi persamaan


seperti bentuk berikut.

Jadi, faktor-faktor persamaan dari


adalah . Hasil ini sesuai dengan teorema faktor
(pembahasan sebelumnya) yang menyatakan bahwa
merupakan faktor dari .
2. Jika 3 adalah salah satu akar persamaan 𝑥 3 + 𝑎𝑥 − 6 =
0 ,maka akar yang lainnya adalah…
a. -6 c. -8
b. -7 d. -9
Penyelesaian:
Substitusikan x=3 ke persamaan 𝑥 3 + 𝑎𝑥 − 6 = 0
𝑓(3) = 33 + 𝑎(3) − 6 = 0

20
𝑓(3) = 27 + 3𝑎 − 6 = 0
3a = -7
Jadi, akar lain dari persamaan 𝑥 3 + 𝑎𝑥 − 6 = 0 adalah -7
2.6.1 Akar-Akar Persamaan Polinomial
Suatu polinomial P(x) berderajat n mempunyai banyak akar
persamaan polinomial P(x)=0 maksimal sebanyak n akar.
1. Untuk polinomial berderajat dua
Misal diketahui polinomial berderajat dua 𝑃(𝑥) =
𝑎𝑥 2 + 𝑏𝑥 + 𝑐 dengan 𝑥1 dan 𝑥2 adalah akar akar
persamaannya, maka
−𝑏+√𝑏2 −4𝑎𝑐 −𝑏−√𝑏2 −4𝑎𝑐
𝑥1 = dan 𝑥2 =
2𝑎 2𝑎

Dengan demikian, jika 𝑥1 dan 𝑥2 adalah akar akar


persamaan 𝑎𝑥 2 + 𝑏𝑥 + 𝑐, maka berlaku sifat berikut.
𝑏
I. 𝑥1 + 𝑥2 = − 𝑎
𝑐
II. 𝑥1 × 𝑥2 = 𝑎

2. Untuk polinomial berderajat tiga


Sebagaimana polinomial berderajat dua, kita dapat
menentukan sifat-sifat akar polinomial berderajat tiga.
Dengan menggunakan (𝑥 − 𝑥1 )(𝑥 − 𝑥2 )(𝑥 − 𝑥3 ) =
𝑎𝑥 3 + 𝑏𝑥 2 + 𝑐𝑥 + 𝑑 , sifat-sifat akar polinomial
berderajat tiga dapat disimpulkan sebagai berikut.
𝑏
I. 𝑥1 + 𝑥2 + 𝑥3 = − 𝑎
𝑐
II. 𝑥1 × 𝑥2 + 𝑥1 × 𝑥3 + 𝑥2 × 𝑥3 = 𝑎
𝑑
III. 𝑥1 × 𝑥2 × 𝑥3 = −
𝑎

3. Untuk polinomial berderajat empat


Seperti halnya polinomial berderajat tiga, dengan
menggunakan (𝑥 − 𝑥1 )(𝑥 − 𝑥2 )(𝑥 − 𝑥3 )(𝑥 − 𝑥4 ) =
𝑎𝑥 4 + 𝑏𝑥 3 + 𝑐𝑥 2 + 𝑑𝑥 + 𝑒 , kita dapat menemukan
sifat-sifat akar polynomial berderajat empat sebagai
berikut, jika 𝑥1 , 𝑥2 , 𝑥3 , dan 𝑥4 .

21
𝑏
I. 𝑥1 + 𝑥2 + 𝑥3 + 𝑥4 = − 𝑎

II. 𝑥1 × 𝑥2 + 𝑥1 × 𝑥3 + 𝑥1 × 𝑥4 + 𝑥2 × 𝑥3 + 𝑥2 ×
𝑐
𝑥4 + 𝑥3 × 𝑥4 = 𝑎

III. 𝑥1 × 𝑥2 × 𝑥3 + 𝑥1 × 𝑥2 × 𝑥4 + 𝑥2 × 𝑥3 × 𝑥4 =
𝑑
−𝑎
𝑒
IV. 𝑥1 × 𝑥2 × 𝑥3 × 𝑥4 = 𝑎

Contoh:

Diketahui persamaan 𝑥 3 − 3𝑥 2 − 10𝑥 + 𝑝 = 0


mempunyai akar akar 𝑥1 , 𝑥2 , dan 𝑥3 . Jika 2𝑥1 =
−𝑥2 − 𝑥3 , maka tentukan nilai p dan akar persamaan
polinomial tersebut.

Penyelesaian:

𝑏
𝑥1 + 𝑥2 + 𝑥3 = − 𝑎 , berdasarkan sifat jumlah akar

persamaan polinomial.
𝑥1 − 2𝑥1 = 3, perhatikan 2𝑥1 = −𝑥2 − 𝑥3 dapat ditulis
𝑥2 + 𝑥3 = −2𝑥1.
𝑥1 = −3
Substitusikan nilai 𝑥1 = −3 ke persamaan 𝑥 3 − 3𝑥 2 −
10𝑥 + 𝑝 = 0
(−3)3 − 3(−3)2 − 10(−3) + 𝑝 = 0
−27 − 27 + 30 + 𝑝 = 0
𝑝 = 24

Persamaan tersebut menjadi 𝑥 3 − 3𝑥 2 − 10𝑥 + 24 = 0

2.7 Penerapan Polinomial


Suku banyak (polinomial) adalah sebuah ungkapan aljabar yang
variabel (peubahnya) berpangkat bilangan bulat non negatif. Variabel peubah
yaitu pengganti nilai yang memberikan nilai berbeda pada fungsi.

22
Penjumlahan dan pengurangan suku banyak. Operasi penjumlahan dan
pengurangan dua suku banyak atau lebih dapat dilakukan jika setiap suku
banyak yang dijumlahkan atau dikurangkan mempunyai variabel yang
pangkatnya sama.Operasi perkalian suku banyak berarti mengalikan
setiap suku dari suku banyak dengan semua suku dari suku banyak lainnya.
Dibalik semua itu banyak manfaat dari polinomial dalam kehidupan
sehari-hari yang belum banyak orang mengetahuinya. Diantara manfaat
polinomial di kehidupan sehari-hari yaitu sebagai berikut.
a) Memecahkan Masalah dengan Berbagai Kemungkinan
Masihkah kamu ingat peristiwa kecelakaan pesawat yang saat ini
sering terjadi di Indonesia? Ternyata kecelakaan pesawat itu disebabkan
oleh banyak sekali faktor. Beberapa di antaranya yaitu kesalahan manusia,
masalah navigasi, cuaca, kerusakan mesin, body pesawat yang sudah tidak
memenuhi syarat, dan lain-lain.
Jika factor-faktor tersebut diberi nama suku x1, x2, x3, …., xn maka
terdapat banyak suku dalam satu kesatuan. Dalam ilmu Matematika, hal
demikian dinamakan suku banyak. Pada hal ini, kamu akan belajar lebih
lanjut mengenai aturan suku banyak dalam penyelesaian masalah. Dengan
mempelajarinya, kamu akan dapat menggunakan algoritma pembagian
suku banyak untuk mencari hasil bagi dan sisa, serta menggunakan
teorema sisa dan teorema faktor dalam pemecahan masalah
b) Penerbangan pesawat
Semakin maraknya jatuhnya pesawat di indonesia ini sebenarnya
disebabkan oleh beberapa faktor yang mungkin bisa mempengaruhi
terbangnya pesawat dan karena beberapa faktor itulah pesawat dapat jatuh.
Beberapa faktor tersebut seperti kesalahan pilot, mesin pesawat, body
yang tidak layak, cuaca, dan lain-lain.
Dengan masalah seperti itu maka diperlukan inisiatif yaitu untuk
menerapkan suku banyak sebagai faktor-faktor tersebut jika faktor itu kita
beri nama suku x1, x2, x3,…., xn maka terdapat banyak suku dalam satu
kesatuan. Oleh sebab itu maka penerapan suku banyak sangat diperlukan
dalam penerbangan pesawat terbang.

23
c) Jarak sepeda motor
Saat kita berkendara dengan sepeda motor maka kita akan
mengetahui kecepatan sepeda motor kita melalui jarum pada spedo.
Tapi pernahkah kita berfikir jika kita memisalkan hubungan antara jarak
yang ditempuh itu adalah x(t). Dan kita juga memisalkan waktu untuk
menempuh itu adalah (t). Maka akan terjadi persamaan gerak sebuah
sepeda motor itu dapat dinyatakan x(t) = 48t2 – 3t.
Dalam hal ini, x(t) dalam meter dan t dalam menit. Sehingga dengan
persamaan tersebut kita dapat menerapkan suku banyak dalam menghitung
misalnya jarak sepeda motor setelah 3 menit, 6 menit, maupun 1 jam ( 60
menit )

d) Membuat suatu alat transportasi.

Pada alat transportasi, suku banyak digunakan untuk menentukan


perbandingan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya. Dalam
hal ini penggunanya bisa mengukur dan mempertimbangkan suatu
ukuran yang diinginkan agar bisa mengetahui keseimbangan, berat,
struktur, bentuk, dan ukuran alat tersebut. Jika unsur-unsur tersebut
diketahui maka pengerjaan suatu alat transportasi tersebut bisa
dipermudah selain itu tidak perlu ada perasaan was-was dalam
pembentukan maupun pengerjaannya. Sehingga benda tersebut akan cepat
selesai dengan hasil yang memuaskan.

e) Menghitung suatu tumpukan-tumpukan barang yang berbentuk


sama dengan jumlah isi yang berbeda.

Dengan demikian si pengguna bisa mengetahui berapa banyak barang


yang ada dalam beberapa tumpukan yang berbeda tempatnya dan
jumlahnya. Misalnya ada suatu box kecil yang hanya bisa diisi dengan 20
butir telur. Lalu ada box sedang yang isinya 2 kalinya isi dari box kecil.
Dan juga ada box besar yang bisa diisi dengan 4 kalinya box kecil. Jika
box kecil ada 3 tumpukan, box sedang, ada 1 tumpukan, dan box besar ada
2 tumpukan maka rumusnya yaitu :

24
f(x) = x3 + x32 + x2

f(x) = x3 + 4x2 + 2x

f(20) = 203 + 4.202 + 2.20

f(20) = 80000 + 1600 + 40

f(20) = 81640

f) Untuk Pemodelan atau Fisika

Polinomial juga dapat digunakan untuk model situasi yang berbeda,


seperti di pasar saham untuk melihat bagaimana harga akan bervariasi dari
waktu ke waktu. Bisnis orang juga menggunakan polinomial ke pasar model,
seperti dalam untuk melihat bagaimana menaikkan harga barang akan
mempengaruhi penjualan. Selain itu, polinomial digunakan dalam fisika
untuk menggambarkan lintasan proyektil. Integral polinomial (penjumlahan
polinomial banyak) dapat digunakan untuk mengekspresikan energi, inersia
dan perbedaan tegangan, untuk nama beberapa aplikasi

g) Industri

Bagi orang-orang yang bekerja di industri yang berhubungan dengan


fenomena fisik atau situasi pemodelan untuk masa depan, polinomial
berguna setiap hari. Ini termasuk semua orang dari insinyur untuk pengusaha.
Selama sisa kita, mereka kurang jelas tapi kita mungkin masih
menggunakannya untuk memprediksi bagaimana perubahan salah satu faktor
dalam hidup kita dapat mempengaruhi lainbahkan tanpa menyadarinya.

25
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Suku banyak atau polinom dalam variable x yang berderajat n secara
umum dapat ditulis sebagai berikut
𝑓(𝑥) = 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 + 𝑎𝑛−1 𝑥 𝑛−1 + 𝑎𝑛−2 𝑥 𝑛−2 + ⋯ + 𝑎2 𝑥 2 𝑎1 𝑥 + 𝑎0 , 𝑎𝑛 ≠ 0, 𝑎0
≠0
Dengan tiap koefisien dari suku-suku adalah bilangan bulat. Secara
umum, faktorisasi polinomial bisa dikerjakan dengan menggunakan
teorema akar rasional.
Derajat dari suatu suku banyak dalam variable x ditentukan oleh pangkat yang
paling tinggi bagi variable x yang ada dalam suku banyak itu.
3.2 Saran

Dengan penyusunan makalah ini, penulis berharap pengengetahuan


menegenai polynomial matematika dapat lebih mudah dipahami oleh para
pembaca dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

26
DAFTAR PUSTAKA

Kanginan, Marthen, Hadi Nurdiansyah, dan Ghany Akhmad. 2018. Matematika untuk
Siswa SMA/MA Kelas XI Kelompok Peminatan Matematika dan Ilmu-Ilmu Alam. Bandung:
Yrama Widya.
Suparmin, Putri Estikarini, dan Triyanto. 2016. Matematika untuk Siswa SMA/MA Kelas XI
Kelompok Peminatan Matematika dan Ilmu-Ilmu Alam. Jakarta: Mediatama.
https://www.academia.edu/34796483/Contoh_Soal_Polinomial_Pangkat_3_samp
ai_Pangkat_6
https://matematikastudycenter.com/kelas-11-sma/98-suku-banyak-dan-teorema-
sisa
https://dokumen.tips/documents/mkalah-polinomial.html
https://www.coursehero.com/file/18771736/makalah/
http://rumus-matematika.com/suku-banyak-polinomial/
https://lovemathematin.wordpress.com/2017/04/30/a-pembagian-sukubanyak-px-
dengan-x-h/
https://idschool.net/sma/teorema-sisa-dan-teorema-faktor-pada-suku-banyak-
polinomial/
https://www.wardayacollege.com/matematika/aljabar/suku-banyak-
polinomial/teorema-faktor/
https://dokumen.tips/documents/mkalah-polinomial.html
https://dokumen.tips/documents/makalah-tentang-suku-banyak-
5684590ed4a09.html
https://olimpiadematematika.wordpress.com/tag/keterbagian/

27