Anda di halaman 1dari 14

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengendalian merupakan suatu proses dasar untuk mendapatkan sesuatu yang
identik dan apa saja yang akan dikendalikan. Pengendalian membantu
mengidentifikasikan masalah-masalah manajemen.
Usaha-usaha untuk mengidentifikasikan masalah-masalah merupakan tantangan
bagi para manajer. Seorang manajer akan menyadari suatu masalah apabila
terjadipenyimpangan dari sasaran yang ingin dicapai.
Salah satu fungsi daripada manajemen adalah pengendalian. Dalam organisasi
memiliki lingkup-lingkup pengendalian manajemen, konsep daripada pengendalian
manajemen yang akan lebih detail dibahas dalam bab selanjutnya.
Pengendalian yang dilakukan harus memiliki karakteristik yaitu:
1. Bahwa jenis pengendalian yang digunakan harus sesuai dengan kegiatan yang
bersangkutan. Luas kegiatan operasional dan lokasinya di dalam organisasi
merupakan faktor-faktor yang paling penting.
2. Penyimpangan yang perlu dikoreksi harus segera diidentifikasikan, bahkan
sebelum terjadi, seperti dapat dilakukan terhadap kualitas dengan menggunakan
data-data statistik.Biayanya pun harus ringan.Manfaat dari usaha pengendalian
bersifat relatif dan tergantung dari kepentingan kegiatan yang bersangkutan,
hasilnya dan pengukuran perusahaannya.

Pengendalian harus dikaitkan dengan pola organisasinya, sehingga memudahkan


pembagian tanggung jawab untuk mengendalikan orang-orang yang diberi tugas untuk
melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bersangkutan dan menyediakan data pengendalian
untuk anggota-anggota manajemen.

Pengendalian biasanya diaplikasikan pada fungsi-fungsi utama dari suatu


organisasi, yakni bidang produksi, penjualan, keuangan dan kepegawaian serta faktor-
faktor utama seperti: kuantitas, kualitas, penggunaan waktu dan biaya. Fungsi dari
faktor-faktor tersebut saling berhubungan dalam sebuah organisasi yang menjalankan
pengendalian.

1
B. Rumusan masalah
1. Bagaimana Konsep dasar?
2. Apa tujuan pengendalian?
3. Bagaimana indikator mutu asuhan keperawatan?
4. Apa saja Jenis pengendalian ruang rawat?
5. Bagaimana Proses dan Cara pengendalian

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Konsep dasar
2. Untuk mengetahui tujuan pengendalian
3. Untuk mengetahui indikator mutu asuhan keperawatan
4. Untuk mengetahui Jenis pengendalian ruang rawat
5. Bagaimana Proses dan Cara pengendalian

D. Manfaat
1. Bagi Institusi Pendidikan
Manfaat makalah ini bagi Institusi pendidikan kesehatan adalah untuk
mengetahui tingkat kemampuan mahasiswa sebagai peserta didik dalam meneliti
suatu fenomena kesehatan yang spesifik tentang upaya penyusunan pengendalian
Mutu asuhan dan layanan keperawatan
2. Bagi Tenaga Kesehatan (Perawat)
Manfaat makalah ini bagi tenaga kesehatan khususnya untuk perawat adalah
untuk mengetahui tentang program-program pembangunan kesehatan dalam
menanggulangi masalah penyusunan pengendalian Mutu asuhan dan layanan
keperawatan
3. Bagi Mahasiswa
Manfaat makalah ini bagi mahasiswa baik penyusun maupun pembaca adalah
untuk menambah wawasan tentang program-program pembangunan kesehatan dalam
menanggulangi masalah penyusunan pengendalian Mutu asuhan dan layanan
keperawatan

2
BAB 11

PEMBAHASAN

A. Konsep dasar
1. Mutu
Mutu Pelayanan keperawatan adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan
oleh profesi keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan pasien dalam
mempertahankan keadaan dari segi biologis, psikologis, sosial, dan spiritual pasien
(Suarli dan Bahtiar, 2012).
Mutu pelayanan keperawatan adalah asuhan keperawatan professional yang
mengacu pada 5 dimensi kualitas pelayanan yaitu, (reability, tangibles, assurance,
responsiveness, dan empathy) (Bauk et al, 2013).
Mutu pelayanan keperawatan merupakan suatu pelayanan yang
menggambarkan produk dari pelayanan keperawatan itu sendiri yang meliputi secara
biologis, psikologis, sosial, dan spiritual pada individu sakit maupun yang sehat dan
dilakukan sesuai standar keperawatan (Asmuji, 2012)
Berdasarkan pernyataan ketiga teori diatas dapat disimpulkan bahwa pelayanan
keperawatan merupakan kegiatan atau upaya pelayanan yang dapat dilakukan secara
mandiri atau bersama-sama dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan pasien secara
holistik.
2. Pelayanan Keperawatan
Produk yang dihasilkan oleh suatu organisasi dapat menghasilkan barang atau
jasa. Jasa diartikan juga sebagai pelayanan karena jasa itu menghasilkan pelayanan
(Supranto, 2006).
Definisi mengenai pelayanan telah banyak dijelaskan, dan Kottler (2000,
dalam Supranto, 2006) menjelaskan mengenai definisi pelayanan adalah suatu
perbuatan di mana seseorang atau suatu kelompok menawarkan pada kelompok/orang
lain sesuatu yang pada dasarnya tidak berwujud dan produksinya berkaitan atau tidak
berkaitan dengan fisik produk
Tjiptono (2004) menjelaskan bahwa pelayanan merupakan aktivitas, manfaat
atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual, sehingga dapat dikatakan bahwa
pelayanan itu merupakan suatu aktivitas yang ditawarkan dan menghasilkan sesuatu
yang tidak berwujud namun dapat dinikmati atau dirasakan.

3
Kotler (1997, dalam Supranto, 2006) juga menjelaskan mengenai karakteristik
dari pelayanan dengan membuat batasan-batasan untuk jenis-jenis pelayanan
pelayanan sebagai berikut :
a. pelayanan itu diberikan dengan berdasarkan basis peralatan (equipment based)
atau basis orang (people based) dimana pelayanan berbasis orang berbeda dari
segi penyediaannya, yaitu pekerja tidak terlatih, terlatih atau profesional;
Disampaikan dalam Pelatihan Manajemen Keperawatan
b. Beberapa jenis pelayanan memerlukan kehadiran dari klien (client’s precense)
c. pelayanan juga dibedakan dalam memenuhi kebutuhanperorangan (personal need)
atau kebutuhan bisnis (business need)
d. pelayanan yang dibedakan atas tujuannya, yaitu laba atau nirlaba (profit or non
profit) dan kepemilikannya swasta atau publik (private or public).
Berdasarkan dari pendapat-pendapat tersebut, maka dapat dikatakan
bahwapelayanan merupakan salah satu bentuk hasil dari produk yangmemberikan
pelayanan yang mempunyai sifat tidak berwujud sehinggapelayanan hanya dapat
dirasakan setelah orang tersebut menerimapelayanan tersebut. Selain itu,
pelayanan memerlukan kehadiran ataupartisipasi pelanggan dan pemberi
pelayanan baik yang professionalmaupun tidak profesional secara bersamaan
sehingga dampak daritransaksi jual beli pelayanan dapat langsung dirasakan dan
jika pelangganitu tidak ada maka pemberi pelayanan tidak dapat memberikan
pelayanan.
Kotler (1997) dan Tjiptono (2004), menjelaskan karakteristik dari
pelayanan sebagai berikut :
1) Intangibility (tidak berwujud)
suatu pelayanan mempunyai sifat tidak berwujud, tidak dapat
dirasakan atau dinikmati, tidak dapat dilihat, didengar dan dicium
sebelum dibeli oleh konsumen. Misalnya : pasien dalam suatu rumah
sakit akan merasakan bagaimana pelayanan keperawatan yang
diterimanya setelah menjadi pasien rumah sakit tersebut.
2) Inseparibility (tidak dapat dipisahkan)
Yaitu pelayanan yang dihasilkan dan dirasakan pada waktu
bersamaan dan apabila dikehendaki oleh seseorang untuk diserahkan
kepada pihak lainnya, dia akan tetap merupakan bagian dari pelayanan
tersebut. Dengan kata lain, pelayanan dapat diproduksi dan
dikonsumsi/dirasakan secara bersamaan. Misalnya : pelayanan
4
keperawatan yang diberikan pada pasien dapat langsung dirasakan
kualitas pelayanannya.
3) Variability (bervariasi)
Yaitu pelayanan bersifat sangat bervariasi karena merupakan non
standardized dan senantiasa mengalami perubahan tergantung dari
siapa pemberi pelayanan, penerima pelayanan dan kondisi di mana
serta kapan pelayanan tersebut diberikan. Misalnya : pelayanan
yang diberikan kepada pasien di ruang rawat inap kelas VIP berbeda
dengan kelas tiga.
4) Perishability (tidak tahan lama)
Dimana pelayanan itu merupakan komoditas yang tidak tahan lama
dan tidak dapat disimpan. Misalnya : jam tertentu tanpa ada pasien di
ruang perawatan, maka pelayanan yang biasanya terjadi akan hilang
begitu saja karena tidak dapat disimpan untuk dipergunakan lain
waktu.

Standar praktek keperawatan telah disahkan oleh MENKES Rl dalam


Surat Keputusan Nomor : 660/Menkes/SK/IX/1987. Kemudian diperbaharui
dan disahkan berdasarkan SK DIRJEN YANMED Rl No : 00.03.2.6.7637,
tanggal 18 Agustus 1993. Kemudian pada tahun 1996,DPP PPNI menyusun
standar profesi keperawatan SK No: 03/DPP /SKI/1996 yang terdiri dari
standar pelayanan keperawatan, praktek keperawatan, standar pendidikan
keperawatan dan standar pendidikan keperawatan berkelanjutan

B. Tujuan Pengendalian
Menurut Nursamalam cit Triwibowo (2013) tujuan mutu pelayanan
keperawatan terdapat 5 tahap yaitu:
1. Tahap pertama adalah penyusunan standar atau kriteria
Dimaksudkan agar asuhan keperawatan lebih terstruktur dan terencana
berdasarkan standar kriteria masing-masing perawat.
2. tahap kedua adalah mengidentifikasi informasi yang sesuai dengan kriteria.
Informasi disini diharapkan untuk lebih mendukung dalam proses asuhan
keperawatan dan sebagai pengukuran kualitas pelayanan keperawatan.
3. Tahap ketiga adalah identifikasi sumber informasi.
Dalam memilih informasi yang akurat diharuskan penyeleksian yang ketat dan
berkesinambungan. Beberapa informasi juga didapatkan dari pasien itu sendiri.
5
4. Tahap keempat adalah mengumpulkan dan menganalisa data.
Perawat dapat menyeleksi data dari pasien dan kemudian menganalisa satu-
persatu.
5. Tahap kelima adalah evaluasi ulang
Dihahap ini berfungsi untuk meminimkan kekeliruan dalam pengambilan
keputusan pada asuhan dan tidakan keperawatan.
Tujuan keperawatan merupakan hal yang harus direncanakan secara optimal
oleh perawat. Tujuan keperawatan menurut Gillies cit Asmuji (2012) menyebutkan:
a. Tujuan keperawatan harus jelas, sehingga tercipta output keberhasilan yang
optimal. Dari hasil yang optimal maka akan mendukung kinerja dan meningkakan
kerja perawat
b. Tujuan yang memiliki kriteria sulit dan menantang harus dikolaborasikan dengan
tim sejawat lain maupun tim medis lainnya. Disini perawat tidak diperkenankan
untuk melakukan tindakan secara persepsi tetapi secara rasional berdasarkan hasil
diskusi.
c. Tujuan keperawatan diharuskan dapat diukur, berisi ketentuan kuantitatif
sehingga akan lebih mudah membandingkan seberapa besar pencapaian
keberhasilan tersebut.
d. Tujuan keperawatan harus berdasarkan waktu yang ditentukan, agar pencapaian
target lebih baik lagi. Waktu yang optimal dilaksanakan dengan target dan tidak
mengesampingkan kolaborasi dengan pasien.

C. Indikator mutu asuhan keperawatan


Mutu asuhan kesehatan sebuah rumah sakit akan selalu terkait dengan struktur,
proses, dan outcome sistem pelayanan RS tersebut. Mutu asuhan pelayanan RS juga
dapat dikaji dari tingkat pemanfaatan sarana pelayanan oleh masyarakat, mutu
pelayanan dan tingkat efisiensi RS.
1. Secara umum aspek penilaian meliputi evaluasi, dokumen, instrumen, dan audit
(EDIA) (Nursalam, 2014).
a. Aspek struktur (input)
Struktur adalah semua input untuk sistem pelayanan sebuah RS yang
meliputi M1 (tenaga), M2 (sarana prasarana), M3 (metode asuhan
keperawatan), M4 (dana), M5 (pemasaran), dan lainnya. Ada sebuah
asumsi yang menyatakan bahwa jika struktur sistem RS tertata dengan baik
akan lebih menjamin mutu pelayanan. Kualitas struktur RS diukur dari
6
tingkat kewajaran, kuantitas, biaya (efisiensi), dan mutu dari masing-
masing komponen struktur.
b. Proses
Proses adalah semua kegiatan dokter, perawat, dan tenaga profesi lain
yang mengadakan interaksi secara professional dengan pasien. Interaksi ini
diukur antara lain dalam bentuk penilaian tentang penyakit pasien,
penegakan diagnosis, rencana tindakan pengobatan, indikasi tindakan,
penanganan penyakit, dan prosedur pengobatan.
c. Outcome
Outcome adalah hasil akhir kegiatan dokter, perawat, dan tenaga
profesi lain terhadap pasien

2. Indikator-indikator mutu yang mengacu pada aspek pelayanan meliputi:


a. Angka infeksi nosocomial: 1-2%
b. Angka kematian kasar: 3-4%
c. Kematian pasca bedah: 1-2%
d. Kematian ibu melahirkan: 1-2%
e. Kematian bayi baru lahir: 20/1000
f. NDR (Net Death Rate): 2,5%
g. ADR (Anasthesia Death Rate) maksimal 1/5000
h. PODR (Post Operation Death Rate): 1%
i. POIR (Post Operative Infection Rate): 1%

3. Indikator mutu pelayanan untuk mengukur tingkat efisiensi RS:


a. Biaya per unit untuk rawat jalan
b. Jumlah penderita yang mengalami decubitus
c. Jumlah penderita yang mengalami jatuh dari tempat tidur
d. BOR: 70-85%
e. BTO (Bed Turn Over): 5-45 hari atau 40-50 kali per satu tempat tidur/tahun
f. TOI (Turn Over Interval): 1-3 hari TT yang kosong
g. LOS (Length of Stay): 7-10 hari (komplikasi, infeksi nosocomial; gawat
darurat; tingkat kontaminasi dalam darah; tingkat kesalahan; dan kepuasan
pasien)
h. Normal tissue removal rate: 10%

7
4. Indikator cakupan pelayanan sebuah RS terdiri atas
a. Jumlah dan presentase kunjungan rawat jalan/inap menurut jarak RS dengan
asal pasien.
b. Jumlah pelayanan dan tindakan seperti jumlah tindakan pembedahan dan
jumlah kunjungan SMF spesialis
c. Untuk mengukur mutu pelayanan sebuah RS, angka-angka standar tersebut di
atas dibandingkan dengan standar (indicator) nasional. Jika bukan angka
standar nasional, penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan hasil
penacatatan mutu pada tahun-tahun sebelumnya di rumah sakit yang sama,
setelah dikembangkan kesepakatan pihak manajemen/direksi RS yang
bersangkutan dengan masing-masing SMF dan staff lainnya yang terkait.

5. Indikator mutu yang mengacu pada keselamatan pasien:


a. Pasien terjatuh dari tempat tidur/kamar mandi
b. Pasien diberi obat salah
c. Tidak ada obat/alat emergensi
d. Tidak ada oksigen
e. Tidak ada suction (penyedot lendir)
f. Tidak tersedia alat pemadam kebakaran
g. Pemakaian obat

Standar Nasional

Ʃ BOR 75-80%

Ʃ ALOS 1-10 hari

Ʃ TOI 1-3 hari

Ʃ BTO 5-45 hari

Ʃ NDR < 2,5%

Ʃ GDR < 3%

Ʃ ADR 1,15.000

Ʃ PODR < 1%

Ʃ POIR < 1%

Ʃ NTRR < 10%

Ʃ MDR < 0,25%

Ʃ IDR < 0,2%

Indikator-indikator pelayanan rumah sakit dapat dipakai untuk mengetahui


tingkat pemanfaatan, mutu, dan efisiensi pelayanan rumah sakit. Indikator-indikator
berikut bersumber dari sensus harian rawat inap
8
1) BOR (Bed Occupancy Ratio = Angka penggunaan tempat tidur)
Menurut Depkes RI (2005), BOR adalah prosentase pemakaian tempat tidur
pada satuan waktu tertentu. Indikator ini memberikan gambaran tinggi rendahnya
tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit.Nilai parameter BOR yang ideal
adalah antara 60-85% (Depkes RI, 2005).

(jumlah hari perawatan di rumah sakit) × 100%

(jumlah tempat tidur × jumlah hari dalam satu periode)

2) ALOS (Average Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien dirawat)


ALOS menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata lama rawat seorang
pasien.Indikator ini disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi, juga dapat
memberikan gambaran mutu pelayanan, apabila diterapkan pada diagnosis
tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut.Secara
umum nilai ALOS yang ideal antara 6-9 hari (Depkes, 2005).
Rumus :
(jumlah lama dirawat)
(jumlah pasien keluar (hidup + mati))

3) TOI (Turn Over Interval = Tenggang perputaran)


TOI menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak
ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya.Indikator ini memberikan
gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur.Idealnya tempat tidur kosong
tidak terisi pada kisaran 1-3 hari.
Rumus :
((jumlah tempat tidur × Periode) − Hari Perawatan)
(jumlah pasien keluar (hidup + mati))

4) BTO (Bed Turn Over = Angka perputaran tempat tidur)


BTO menurut Depkes RI (2005) adalah frekuensi pemakaian tempat tidur
pada satu periode, berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu
tertentu.Idealnya dalam satu tahun, satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali
Jumlah pasien dirawat (hidup + mati)

(jumlah tempat tidur)


9
5) NDR (Net Death Rate)
NDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian 48 jam setelah
dirawat untuk tiap-tiap 1000 penderita keluar. Indikator ini memberikan
gambaran mutu pelayanan di rumah sakit.
Rumus :

Jumlah pasien mati > 48 jam × 100%


(jumlah pasien keluar (hidup + mati))

6) GDR (Gross Death Rate)


GDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian umum untuk setiap
1000 penderita keluar.

Rumus :
Jumlah pasien mati seluruhnya × 100%
(jumlah pasien keluar (hidup + mati))

Menurut Nursalam (2014), ada enam indikator utama kualitas pelayanan


kesehatan di rumah sakit:
a) Keselamatan pasien (patient safety), yang meliputi: angka infeksi nosokomial,
angka kejadian pasien jatuh/kecelakaan, dekubitus, kesalahan dalam pemberian
obat, dan tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan
b) Pengelolaan nyeri dan kenyamanan
c) Tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan
d) Perawatan diri
e) Kecemasan pasien
f) Perilaku (pengetahuan, sikap, dan keterampilan) pasien.

10
D. Jenis pengendalian ruang rawat
1. Pengendalian karyawan (personal control)
Suatu proses pengaturan dalam suatu ruang rawat agar pelaksanaannya sesuai
dengan ketetapan dalam rencana. Pengendalian ini ditujukan kepada hal-hal yang
ada hubungannya dengan kegiatan pegawai, apakah pegawai bekerja sesuai dengan
perintah, rencana, tata kerja, absensi pegawai dan lain-lain.
2. Pengendalian keuangan (financial control)
Pengendalian ini ditujukan untuk hal-hal yang menyangkit keuangan, tentang
pemasukan dan pengeluaran, biaya-biaya rumah sakit termasuk pengendalian
anggarannya .
3. Pengendalian produksi (production control)
Suatu pengendalian yang difokuskan untuk mengetahui kualitas dan kuantitas
produksi yang dihasilkan, apakah sesuai dengan standart atau rencananya
4. Pengendalian waktu (time control)
Pengendalian ini ditujukan kepadada penggunaan waktu, artinya apakah waktu
untuk mengerjakan suatu pekerjaan sesuai tidaknya dengan rencana
5. Pengendalian teknis (technical control)
Pengendalian ini ditujukan kepada hal-hal yang bersifat fisik , yang berhubungan
dengan tindakan dan tekhnis pelaksanaan
6. Pengendalian kebijaksanaan (policy control)
Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui dan menilai apakah kebijaksanaan
organisasi telah dilaksanakan sesuai dengan yang di garis

11
7. Pengendalian penjualan (sales control)
Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui produksi yang dihasilkan terjjual
sesuai dengan rencana yang ditentukan
8. Pengendalian inventaris (inventory control)
Pengendalian ini ditukan untuk mengetahui apakah inventaris masih ada semua atau
ada yang hilang
9. Pengendalian pemeliharaan (maintenance control)
Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui apakah semua inventaris dan control
terpelihara atau tidak dan mengetahui kerusakan.

E. Proses dan Cara pengendalian


Langkah-langkah proses pengendalian adalah sebagai berikut
1. Menentukan standart-standart yang akan digunakan sebagai dasar pengendalian
2. Mengukur pelaksanaan atau hasil yang telah dicapai
3. Membandingkan pelaksanaan atau hasil dengan standart dan menentukan
penyimpangan jika ada
4. Melakukan tindakan perbaikan jika terdapat penyimpangan agar pelaksanaan dan
tujuan sesuai dengan rencana.
Cara-cara pengendalian adalah sebagai berikut
a. Pengawasan langsung
Dimana dilakukan sendiri secara langsug oleh mnajer. Manajer
memeriksa pekerjaan yang dilakukan, tujuannya untuk mengetahui apakah
yang dikerjakan sudah sesuai dengan apa yang ditentukan.
b. Pengawasan tidak langsung
Pengawasan jarak jauh dengan melalui laporan oleh bawahan baik
secara lisan maupun tulisan tentang pelaksanaan pekerjaan dan hasil
yang dicapai
c. Pengawasan berdasarkan kekecualian
Dimana pengawasan yang dilakukan dengan khusus untuk kesalahan
yang berat. Pengendalian ini dilakukan dengan cara kombinasi
langsung tidak langsung oleh manajer.

12
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Indikator mutu pelayanan keperawatan merupakan hal yang sangat penting bagi suatu
institusi rumah sakit, karena mutu pelayanan keperawatan ini merupakan penilaian bagi
masyarakat terhadap suatu rumah sakit. Indikator mutu ini merupakan citra dari suatu
rumah sakit. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pelaksanaan indikator mutu
pelayanan keperawatan di ruang rawat inap.

B. Saran
Adapun saran yang diharapkan penulis kepada pembaca agar pembaca dapat mulai
menerapkan manajemen mutu di kehidupan sehari-hari. Mulai meningkatkan manajemen
mutu dan dapat menjaga kualitas mutu dengan sebaik mungkin. Terutama manajemen
mutu dalam pelayanan keperawatan yang diberikan kepada klien maupun pasien
sehingga dapat menjadi perawat yang professional.

13
Daftar Pustaka

Nursalam, 2014. Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional


Edisi 4. Jakarta: Salemba Medika

Nursalam, 2015. Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional


Edisi 5. Jakarta: Salemba Medika

Azwar, A. 1996. Menuju Pelayanan Kesehatan yang Lebih Bermutu. Jakarta: Yayasan
Penerbitan Ikatan Dokter Indonesia.

Gillies, D.A. 1994. Nursing Management, A System Approach. Third Edition. Philadelphia :
WB Saunders.

Kozier, Erb & Blais. 1997. Profesional Nursing Practice: Concept & Perspectives. Third
Edition. California : Addison Wesley Publishing. Inc

Meisenheimer, C.G. 1989. Quality Assurance for Home Health Care. Maryland: Aspen
Publication.

Rakhmawati, Windy. 2009. Pengawasan Dan Pengendalian Dalam Pelayanan Keperawatan


(Supervisi, Manajemen Mutu & Resiko). http://pustaka.unpad.ac.id/wp-
content/uploads/2010/03/pengawasan_dan_pengendalian_dlm_pelayanan_keperawatan.p
df,diakses 4 November 2015

Tjiptono, F. (2004). Prinsip-prinsip total quality service (TQS). Yogyakarta : Andi Press

Wijono, D. (2000). Manajemen mutu pelayanan kesehatan. Teori, Strategi dan Aplikasi.
Volume.1. Cetakan Kedua. Surabaya : Airlangga Unniversity Press

DepKesRI (2003), Indonesia sehat 2010. Jakarta : Departemen Kesehatan R.I


Douglas, Laura Mae. (1992) The effective Nurse : Leader and Manager ., 4 Th. Ed,.
Mosby -year book, Inc.

Swansburg, R.C. & Swansburg, R.J. (1999). Introductory management and leadership for
nurses. Canada : Jones and Barlett Publishers

Yaslis, I. (2004). Perencanaan SDM rumah sakit. teori, metoda dan formula. Depok : FKMUI

14