Anda di halaman 1dari 14

A.

Spesifikasi APD kinerjanya

Dalam buku Kesehatan dan Keselamatan Kerja (1984), menjelaskan bahwa fungsi alat pelindung
telinga adalah menurunkan intensitas kebisingan yang mencapai alat pendengaran. Pengurangan
intensitas kebisingan dari alat pelindung telinga ini tergantung dari macamnya, cara
pemakaiannya, serta keteraturan penggunaannya dari alat pelindung telinga. Berikut ini berbagai
jenis alat pelindung telinga dengan tingkat peredaman kebisingan berdasarkan kisaran frekuensi,
seperti Tabel 1.

Tabel 1. Peredaman kebisingan berbagai jenis pelindung telinga

(*) Angka dalam kurung menyatakan penyimpangan (deviasi)


Pilihan alat pelindung pendengaran sangat tergantung pada sejumlah faktor termasuk tingkat
kebisingan, kenyamanan, dan kesesuaian alat pelindung pendengaran bagi pekerja dan
lingkungannya. Yang paling penting, alat pelindung pendengaran harus memberikan pengurangan
kebisingan yang diinginkan. Jika paparan kebisingan adalah intermiten, maka ear muff lebih tepat
digunakan, karena mungkin kurang nyaman untuk memasukan dan mengeluarkan ear plug.
Menurut jenisnya, alat pelindung telinga terbagi menjadi 3 jenis, yaitu:

1) Sumbat telinga (ear plug), dapat dibuat dari kapas, plastik, karet alami dan sintetis. Pengurangan
tekanan bising pada sumbat telinga ini adalah sekitar 8-30 dB(A). Namun hal tersebut tergantung
pada longgar tidaknya pemasangan sumbat telinga yang menutupi lubang telinga. Daya proteksi
alat ini kurang baik untuk tingkat bising di atas 100 dB(A), alat tidak dapat dipakai bila ada infeksi
pada telinga, penggunaan alat sukar dimonitor karena dari jauh tidak terlihat, harus disediakan
berbagai ukuran dan akan mudah hilang karena kecil, serta perlu perawatan untuk menjaga
kebersihan alat. Berikut ini beberapa jenis ear plug berdasarkan reduksi tingkat kebisingannya
dapat dilihat pada Tabel 1.1 ini.

Tabel 1.1 APT Jenis Ear Plug berdasarkan reduksi tingkat kebisingan

Ear plug dapat diproduksi secara massal atau secara individu dibentuk agar sesuai dengan telinga,
dan ear plug dapat digunakan kembali atau sekali pakai. Di sisi positif, ear plug mudah digunakan,
lebih murah dari pada ear muff, dan lebih nyaman dalam wilayah kerja panas atau lembab. Di sisi
negatif, ear plug kurang memberikan perlindungan jika dibandingkan dengan ear muff, dan tidak
boleh digunakan di daerah yang memiliki tingkat kebisingan lebih dari 105 dB. Ear plug tidak
terlihat saat digunakan sebagaimana halnya ear muff sehingga pengawas tidak mudah untuk
melihat apakah pekerja memakainya. Dan ear plug harus benar dimasukkan untuk memberikan
perlindungan yang memadai.

Gambar 1. Cara penggunaan earplug

Tabel 1.2 Kelebihan dan kekurangan ear plug

Kelebihan Kekurangan
Kecil mudah dibawa Dapat mengiritasi saluran telinga
Nyaman untuk digunakan dengan peralatan Membutuhkan lebih banyak waktu untuk
pribadi perlindungan lainnya (bisa dikenakan menyesuaikan
dengan earmuff)
Lebih nyaman digunakan untuk waktu yang Lebih sulit untuk memasukkan dan
lama ditempat yang panas dan lembab mengeluarkan

Nyaman digunakan untuk didaerah kerja yang Memerlukan praktik kebersihan yang baik
terbatas

2) Tutup telinga (ear muff), dapat dipakai pada tekanan bising sampai dengan 110dB(A) karena
dapat mengurangi tekanan bising sekitar 25 – 40 dB(A), dapat digunakan walaupun terdapat
infeksi pada telinga dan cukup disediakan satu ukuran, tidak mudah hilang serta mudah dimonitor
pemakaiannya karena dapat dilihat dari luar. Kerugian alat ini adalah tidak nyaman dalam
penggunaan yang lama di lingkungan yang panas dan menggannggu penggunaan alat pelindung
diri lainnya. Kombinasi antara tutup telinga dan sumbat telinga dianjurkan penggunaannya untuk
tekanan kebisingan antara 120 – 125 dB(A). Berikut ini beberapa jenis ear muff berdasarkan
reduksi tingkat kebisingannya dapat dilihat pada Tabel 2.1 ini.

Tabel 2.1 APT Jenis Ear Muff berdasarkan reduksi tingkat kebisingan

Ear Muff dapat bervariasi berdasarkan bahan, kedalaman penutup, dan kekuatan ikat kepala (head
band). Penutup yang lebih dalam dan lebih berat, akan semakin memberikan perlindungan yang
lebih baik. Ikat kepala harus cukup erat dan kuat untuk mempertahankan posisi yang stabil, namun
tidak terlalu ketat untuk kenyamanan. Di sisi positif, ear muff biasanya dapat memberikan
perlindungan lebih besar dari pada ear plugs. Ear muff lebih mudah untuk menyesuaikan,
umumnya lebih tahan lama dari ear plugs, dan ear muff memiliki bagian yang dapat diganti. Di
sisi negatif, ear muff lebih mahal, dan sering kurang nyaman daripada ear plugs, khususnya di
wilayah kerja panas. Di daerah di mana tingkat kebisingan yang sangat tinggi, ear muff dan ear
plug dapat dipakai bersama-sama untuk memberikan perlindungan yang lebih baik.

Tabel 2.2 Kelebihan dan kekurangan earmuff


Kelebihan Kekurangan
Variabilitas atunuasi antar pengguna sedikit. Kurang portable dan lebih berat
Mudah terlihat di kejauhan untuk membantu Kurang nyaman untuk digunakan dengan
dalam pemantauan penggunaan peralatan pelindung pribadi lainnya

Dapat dipakai pada pekerja dengan infeksi Kurang nyaman di tempat yang panas dan
telinga ringan lembab

Dirancang sedemikian rupa sehingga satu ukuran Kurang nyaman untuk digunakan di daerah kerja
cocok semua ukuran kepala terbatas

3) Helmet, dapat mengurangi tingkat bising sekitar 40 – 50 dB(A) dan mengurangi masuknya
gelombang suara melalui getaran tulang kepala. Kerugian alat ini adalah mahal dan tidak nyaman
penggunaannya karena berat dan besar. Berikut ini beberapa jenis helmet berdasarkan reduksi
tingkat kebisingannya dapat dilihat pada Tabel 3.1 ini.

Tabel 3.1 APT Jenis Helmet berdasarkan reduksi tingkat kebisingan


 Penjelasan mengenai pentingnya preferensi pengguna
Aspek manusia dalam pemilihan alat perlindungan pendengaran (hearing protection)
adalah sangat penting karena alat pelindungan pendengaran akan efektif jika digunakan secara
benar oleh pengguna. Mungkin beberapa orang tidak cocok dengan jenis tertentu dari alat
pelindung; setiap manusia berbeda, anatomi telinga dan saluran telinga dapat bervariasi secara
signifikan dari orang ke orang.

Sebaiknya management menyediakan beberapa jenis alat perlindungan pendengaran


(hearing protection) sehingga para pekerja dapat memilih yang sesuai dengan mereka. Harap selalu
diingat faktor keselamatan dan hygiene dalam memilih alat pelindung pendengaran. Artinya, jenis
tertentu dari pelindung tidak boleh digunakan jika tingkat kebisingan yang terlalu tinggi atau jika
terbukti tidak memadai dari sudut pandang higienis. Sebagai contoh, ear plugs yang digunakan
berulang ulang tanpa memperhatikan kebersihan, dapat memasukkan kotoran dan bakteri ke dalam
telinga, dan dapat menyebabkan infeksi telinga.

Intinya adalah jika pekerja merasa tidak cocok dengan jenis alat perlindungan (misalnya,
tidak nyaman, tidak terlalu pas, atau tidak praktis), mereka tidak akan memakainya.

 Apa yang harus diketahui tentang fit dari alat pelindung pendengaran (hearing
protection)?
Ikuti instruksi manufaktur. Untuk ear plug, misalnya, telinga harus ditarik ke luar dan katas
dengan tangan yang berlawanan untuk memperbesar dan meluruskan saluran telinga, dan
masukkan ear plug dengan tangan yang bersih. Pastikan ear plug masuk dan menutup saluran
telinga secara maksimal, atau penutup ear muff menutup rapat dan menempel dikulit secara
maksimal.

 Apa yang terjadi pada tingkat perlindungan ketika alat pelindung pendengaran
digunakan dalam waktu yang singkat?
Dalam rangka untuk mendapatkan manfaat penuh, pelindung pendengaran harus dikenakan
sepanjang waktu selama bekerja dalam kebisingan. Jika pelindung pendengaran dikeluarkan
hanya untuk jangka waktu pendek, perlindungan secara substansial berkurang. Tabel berikut
memberikan perlindungan maksimum yang disediakan untuk non-kontinyu penggunaan alat
pelindung yang dipasang “100%” fit melindungi. Sebagai contoh jika seseorang melepas
pelindung pendengaran selama 5 menit dalam pergeseran 8-jam, perlindungan maksimal akan
menjadi 20 dB
Persen Waktu
Pemakaian Maksimum Perlindungan
50% 3 dB
60% 4 dB
70% 5 dB
80% 7 dB
90% 10 dB
95% 13 dB
99% 20 dB
99.9% 30 dB
Maka gunakanlah selalu secara penuh waktu alat pelindung pendengaran untuk mendapatkan
perlindungan maksimum.

 Perawatan alat perlindungan pendengaran


a) Ikuti petunjuk produsen.

b) Periksa secara teratur untuk memeriksa kerusakan dan keausan.

c) Ganti bantal telinga atau colokan yang tidak lentur lagi.

d) Ganti unit head band apabila sudah longgar sehingga penutup telingga tidak menempel
dengan sempurna.

e) Bongkar ear muff untuk dibersihkan.

f) Cuci ear muff dengan deterjen cair ringan di air hangat, dan kemudian bilas dengan air
hangat. Pastikan bahwa bahan peredam suara di dalam penutup telingga tidak basah.

g) Gunakan sikat yang halus untuk menghilangkan minyak dan kotoran yang dapat
mengeraskan bahan penutup telinga.
B. Media peredam kebisingan dan kinerjanya
 Faktor dalam mempertimbangkan pembangunan noise barrier

Dalam kehidupan sehari-hari, barrier sering disebut tembok, pagar atau bangunan yang
fungsinya sebagai peredam rambatan gelombang bunyi. Adapun pertimbangan- pertimbangan
dalam merancang dan membuat barrier yang dapat digunakan sebagai peredam bising secara
maksimal, antara lain:
1. Faktor Posisi
Bunyi yang merambat dari sumber bunyi menyebar ke segala arah. Namun bunyi yang
diterima oleh bangunan umumnya adalah bunyi yang merambat secara horizontal menuju
bangunan atau pada sudut kemiringan tajam. Perambatan ini terjadi melalui medium rambat udara
di sekitar bangunan. Ada juga perambatan yang melalui tanah dapat juga terjadi tetapi nilai
perambatannya sangat kecil karena tanah memiliki nilai tingkat atenuasi yang besar. Oleh karena
itu, perambatan bunyi yang merambat dengan arah horizontal atau merambat dengan sudut tajam
akan dapat diredam oleh penghalang bising yang berbentuk vertical
Bunyi dengan frekuensi yang amat rendah akan disertai dengan getaran hebat karena
kuatnya amplitudo yang dimiliki. Jika terjadi keadaan yang demikian maka tidak hanya elemen
vertikal bangunan yang akan berperan dalam menghambat perambatan, namun juga elemen
horizontal. Hal ini terjadi karena getaran yang cukup kuat yang menyertai bunyi tidak mampu
diredam sepenuhnya oleh tanah.
2. Faktor Peletakan
Proses peletakan sebuah penghalang kebisingan sangat mempengaruhi besarnya
peredaman yang dihasilkan untuk menahan laju gelombang bunyi. Ada beberapa kemungkinan
peletakan yang dapat dipakai dalam mendesain barrier sebagai peredam kebisingan, antara lain:
a. Cenderung lebih mendekati sumber bunyi
Suatu penghalang kebisingan diletakkan dengan jarak tertentu dan berdiri sejajar dengan
pemukiman. Pada pemukiman yang mempunyai luas tanah yang luas, dapat dimungkinkan
penghalang tersebut diletakkan cukup jauh dari jarak barrier terhadap pemukiman. Jika
keadaannya seperti ini, maka gelombang bunyi yang merambat pada ujung barrier sebagian akan
didifraksikan lurus ke atas atau sebagian ke bawah. Karena letak penghalang kebisingan yang
berada jauh di depan pemukiman, maka difraksi gelombang setelah mengenai penghalang tersebut
tidak langsung merambat menuju pemukiman. Meskipun tetap ada gelombang bunyi yang
merambat menuju pemukiman tetapi dengan intensitas tingkat bunyi yang relatif kecil. (Gambar
2.2a)
b. Jika posisi letak yang terjadi pada point (a)
Tidak dapat terlaksana karena terbatasnya lahan yang dimiliki, posisi letak pada point (c)
lebih disarankan dengan ketinggian barrier jauh melebihi tinggi rumah di daerah pemukiman.
Letak barrier yang lebih dekat dengan pemukiman (c) dapat lebih baik dibandingkan dengan
posisi barrier yang berada di tengah-tengah antara jalan dan pemukiman (posisi b). Pada keadaan
ini, difraksi gelombang bunyi sebagian besar langsung mengarah ke pemukiman, walaupun
dimensi barrier sudah ditinggikan.
3. Faktor Bentuk

Elemen vertikal bangunan yang letaknya terpisah dengan bangunan dapat dimanfaatkan secara
maksimal sebagai peredam gelombang bunyi jika didukung tertentu tentang bentuk.Umumnya
elemen tersebut dibuat dengan bentuk pipih tanpa lubang atau celahsupaya rambatan gelombang
bunyi tidak dapat menembus celah – celah dinding pagar tersebut. Sehingga dapat berfungsi
sebagai peredam bising secara maksimal. Selain itu juga memiliki ketinggian tertentu. Biasanya
terbuat dari material bata merah atau batako yang direkatkan dengan campuran pasir, semen, kapur
dan air. Selain pembatas yang bentuknya pipih, ada juga pembatas yang bentuknya menyerupai
gundukan tanah membentuk bukit kecil atau semacamnya. Dengan bentuk yang demikian,
efektifitas peredaman sumber bunyi bisa lebih maksimal terutama jika meredam frekuensi rendah
disertai getaran hebat. Ukurannya yang lebih besar daripada pagar dengan bentuk pipih
memungkinkan untuk dapat lebih stabil dalam menahan resonansi. Bila resonansinya dapat
diredam, maka perambatan bunyi dengan getaran besar akan semakin kecil.

4. Faktor Kerapatan Material

Material alam atau material bangunan yang memiliki berat tertentu lebih baik dalam meredam
bunyi. Berat yang dimiliki tiap-tiap material mendukung material tersebut untuk bertahan pada
posisi untuk tidak mudah mengalami resonansi sehingga bunyi yang merambat dari sumber tidak
dapat diteruskan ke posisi penerima. Semakin berat dan lapisan tebal material maka
kemampuannya dalam meredam bunyi sangat baik. Disamping itu juga bisa menekan terjadinya
resonansi karena dapat menyerap gelombang bunyi yang masuk ke pori-pori dibandingkan dengan
material yang tipis dan rungan.
5. Faktor Dimensi Ukuran atau dimensi sebuah pembatas

Sangat menentukan seberapa besar gelombang bunyi yang dapat diredam oleh pembatas tersebut.
Semakin menyeluruh dalam melingkupi bangunan maka kemampuan perlindungannya terhadap
gangguan bunyi akan semakin baik. Tetapi jika semua pagar melingkupi bangunan, kesan
estetika yang ditampilkan sangat kurang. Malah, bangunan tersebut terkesan tertutup dari
lingkungan sekitarnya. Selain itu juga laju aliran udara luar menuju ke bangunan juga akan
terbatas. Ketika tingkat kebisingan suatu kawasan melampaui ambang batas yang diperbolehkan
oleh Peraturan Menteri Negera Lingkungan Hidup no.46 tahun 1996, maka harus dilakukan
penanganan terhadap aliran rambatan bunyi tersebut. Bangunan peredam kebisingan adalah
bangunan yang berfungsi sebagai penghalang bagi kawasan yang diakibatkan oleh kebisingan
jalan raya. Jenis- jenis bangunan bising dapat berupa tembok atau pagar dengan ukuran tertentu
dan dibuat dari bahan tertentu pula tergantung dari data- data awal yang diperoleh mengenai
tingkat kebisingan yang terjadi di kawasan tersebut disertai dengan metode yang akan dipakai
untuk merancang sebuah pembatas. Bangunan peredam bising dapat berupa

• Enclosure sumber bising

• Enclosure penerima

• Enclosure keduanya

Pengurangan kebisingan pada tiap sisi dinding, akan bervariasi nilainya tergantung dari
konstruksi pembuatan dinding itu sendiri. Tujuan didesain barrier adalah untuk mengurangi
kebisingan dalam bentuk bunyi bayangan. Besarnya pelemahan dengan terbentunya bayangan
telah diteliti oleh Redfearn dan dari hasil analisisnya diperoleh bahwa pelemahan bunyi tergantung
pada tinggi barrier dimana panjang gelombang bunyi lebih besar dari garis penghubung sumber
dan penerima. Umumnya, dinding pada bangunan rumah diasumsikan sebagai massa. Daerah
bayangan (shadow zone) adalah daerah yang ada di belakang penghalang kebisingan yang bagian
atasnya dibatasi oleh garis perambatan gelombang bunyi yang terbelokkan oleh bagian atas
penghalang. Daerah ini merupakan daerah pengaruh yang efektif sebagai penghalang kebisingan.
Perambatan bunyi di luar ruangan melalui udara umumnya memiliki tingkat kebisingannya
semakin menurun seiring dengan semakin jauhnya jarak penerima dengan sumber bunyi.
 Media peredam kebisingan
Dapat menjadi pilihan ketika pengurangan kebisingan melalui pemilihan layout bangunan tidak
memberikan reduksi maksimal. Agar dapat membangun barrier secara tepat, beberapa faktor harus
diperhatikan, misalnya perletakan, dimensi, pemilihan material, estetika. Berikut merupakan
media yang dapat digunakan sebagai media peredam kebisingan

Tabel 2.2.1 nilai TL perkiraan untuk beberapa material umum, diuji untuk lintas spektrum
dengan frekuensi suara yang khas. Dapat digunakan sebagai panduan kasar dalam desain akustik
hambatan suara. Data merupakan laporan pengujian bahan oleh laboratorium terakreditasi

Aspek- aspek penting untuk diperhatikan dalam pembangunan noise barrier adalah sama dengan
aspek pemanfaatan pagar sebagai peredam bising yaitu posisi, perletakan, bentuk, berat dan
kerapatan material, pemilihan material, dimensi, dan Estetika.
Barrier yang sengaja dibangun untuk meredam bunyi bisa dijumpai pada garis luar site bangunan
yang berdekatan dengan jalan raya, yang banyak dilalui kendaraan besar/berat seperti jalan lingkar,
jalan tol atau highway(sebutan di negara maju)

Hal yang paling menonjol dalam rancangan noise barrier adalah pemilihan dan penggunaan aneka
material modern guna mencapai Estetika yang tinggi. Meski demikian pada beberapa keadaaan
dijumpai pula penggunaan material konvensional seperti kayu dan batu/beton.

1. Material Kayu

Meski memberikan tampilan alami sebagaimana layaknya pagar bangunan, noise barrier yang
tersusun dari kayu memiliki kekurangan dari aspek tebal dan berat material bila dibandingkan
material dari batu atau beton. Celah- celah yang terbentuk antarpapan atau lembaran kayu yang
disusun juga sangat memungkinkan terjadinya penyusupan rambatan gelombang bunyi
2. Material Batu/ bata/ beton

Seiring perkembangan dan penemuan material baru, bata, bata atau beton kini digolongkan sebagai
material konvensional. Meski begitu dilihat dari aspek berat dan tebal materialnyaa, batu, bata atau
beton merupakan material yang sangat disarankan untuk digunakan sebagai material noise barrier.

3. Material Logam

Material ini memenuhi aspek berat meski tidak selalu memenuhi aspek tebal. Logam memberikan
tampilan modern dan menghemat waktu karena fabrikasi. Permukaan nya memiliki kecendrungan
pemantul yang kuat. Sebaiknya di selesaikan dengan permukaan kasar (bergelombang, bergerigi)
agar tidak memantulkan kembali bunyi ke arah sumber secara kuat.

4. Material Kaca
Material transaparan memberikan kesan modern dan menyediakan view dari bangunan ke arah
luar. Sifat permukaan kaca yang cenderung halus dan licin memiliki kekurangan karena dapat
memantulkan kembali gelombang bunyi ke arah sumber sehingga menghasilkan akumulasi
kebisingan.

DAFTAR PUSTAKA
Santoso, Budi. 2008. Skripsi “Analisis Kebisingan pada Proses Produksi Gula pada Stasiun
Masakan, Putaran, dan Power House di PG Bunga Mayang, Lampung”. Bogor : Institut
Pertanian Bogor
Pamungkas, Rizky Indar Dwi. 2019. Skripsi “Perancangan Alat Bantu Peredam Kebisingan pada
Mesin Diaphragm Pump Untuk Mengurangi Dampak Kebisingan.” Kota Solo : Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Faradilla, Novantri dan Andi Rahmadiansah. Pengendalian Kebisingan pada Industri Pencuci
Pasir di PT. Maharadia Prakarsa Rembang – Jawa Timur. Surabaya : Institut Teknologi
Sepuluh November.