Anda di halaman 1dari 51

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

DIAGNOSA MEDIS STROKE

OLEH :

KELOMPOK 7

TINGKAT 3.3

DEWA AYU LILIK SARASWATI P07120015111

NI LUH SUCIPTAYANI P07120015112

NI PUTU EKA PRADNYA KARTINI P07120015113

LUH PUTU ROSITA DEWI P07120015114

PUTU YUNI KUMALA DEWI P07120015115

POLTEKNIK KESEHATAN KEMENKES DENPASAR

PRODI DIII JURUSAN KEPERAWATAN

TAHUN 2017

i
KATA PENGANTAR

Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat Ida Sang Hyang Widhi
Wasa, yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kami, sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah tentang asuhan keperawatan klien dengan
stroke.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.
Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah berkontribusi dalam penyusunan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh
karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari
pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang asuhan keperawatan


klien dengan stroke ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap
pembaca.

Denpasar, 25 September 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................3
1.1 Latar Belakang..........................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................4
1.3 Tujuan Tulisan...........................................................................................4
1.4 Manfaat Tulisan.........................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................5
2.1 Konsep Teoritis Stroke..............................................................................5
2.1.1 Definisi Stroke................................................................................6
2.1.2 Klasifikasi Stroke...........................................................................6
2.1.3 Etiologi Stroke................................................................................8
2.1.4 Patofisiologi..................................................................................10
2.1.5 Pohon Masalah (WOC)................................................................11
2.1.6 Manifestasi Klinik........................................................................12
2.1.7 Pemeriksaan Diagnostik...............................................................14
2.1.8 Komplikasi...................................................................................15
2.1.9 Penatalaksanaan............................................................................15
2.1.10 Konsep Asuhan Keperawatan Pada Pasien Stroke dan
Penerapannya..............................................................................................17
BAB III PENUTUP...............................................................................................52
3.1 Simpulan..................................................................................................52
3.2 Saran........................................................................................................52

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Stroke adalah penyakit multifaktorial dengan berbagai penyebab disertai


manifestasi klinis mayor, dan penyebab utama kecacatan dan kematian di
negara-negara berkembang (Saidi, 2010). WHO mendefinisikan stroke sebagai
suatu tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan otak fokal (atau
global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih dan
dapat menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain
vaskuler (WHO, 2006). Berdasarkan data WHO (2010), setiap tahunnya
terdapat 15 juta orang di seluruh dunia menderita stroke. Diantaranya
ditemukan jumlah kematian sebanyak 5 juta orang dan 5 juta orang lainnya
mengalami kecacatan yang permanen. Penyakit stroke telah menjadi masalah
kesehatan yang menjadi penyebab utama kecacatan pada usia dewasa dan
merupakan salah satu penyebab terbanyak di dunia (Xu, et al., 2010).
Stroke merupakan penyakit serebrovaskular yang banyak ditemukan tidak
hanya pada negara-negara maju tapi juga pada negara-negara berkembang.
Menurut Janssen, et al., (2010), stroke merupakan penyebab utama kecacatan
di negara-negara barat. Di Belanda, stroke menduduki peringkat ketiga
sebagai penyebab DALY’s (Disability Adjusted Life Years = kehilangan
bertahun-tahun usia produktif). Berdasarkan data NCHS (National Center of
Health Statistics), stroke menduduki urutan ketiga penyebab kematian di
Amerika setelah penyakit jantung dan kanker (Heart Disease and Stroke
Statistics—2010 Update: A Report from American Heart Association). Dari
data National Heart, Lung, and Blood Institute tahun 2008, sekitar 795.000
orang di Amerika Serikat mengalami stroke setiap tahunnya. Dengan 610.000
orang mendapat serangan stroke untuk pertama kalinya dan 185.000 orang
dengan serangan stroke berulang (Heart Disease and Stroke Statistics_2010
Update: A Report From the American Heart Association). Setiap 3 menit

iv
didapati seseorang yang meninggal akibat stroke di Amerika Serikat. Stroke
menduduki peringkat utama penyebab kecacatan di Inggris (WHO, 2010-a).
Stroke menduduki urutan ketiga sebagai penyebab utama kematian setelah
penyakit jantung koroner dan kanker di negara-negara berkembang. Negara
berkembang juga menyumbang 85,5% dari total kematian akibat stroke di
seluruh dunia. Dua pertiga penderita stroke terjadi di negara-negara yang
sedang berkembang. Terdapat sekitar 13 juta korban stroke baru setiap tahun,
di mana sekitar 4,4 juta di antaranya meninggal dalam 12 bulan (WHO, 2006).
Di Indonesia, prevalensi stroke mencapai angka 8,3 per 1.000 penduduk.
Daerah yang memiliki prevalensi stroke tertinggi adalah Nanggroe Aceh
Darussalam (16,6 per 1.000 penduduk) dan yang terendah adalah Papua (3,8
per 1.000 penduduk). Menurut Riskesdas tahun 2007, stroke, bersama-sama
dengan hipertensi, penyakit jantung iskemik dan penyakit jantung lainnya,
juga merupakan penyakit tidak menular utama penyebab kematian di
Indonesia. Stroke menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian
utama semua usia di Indonesia (Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
2009).
Menurut Davenport dan Dennis (2000), secara garis besar stroke dapat
dibagi menjadi stroke iskemik dan stroke hemoragik. Di negara barat, dari
seluruh penderita stroke yang terdata, 80% merupakan jenis stroke iskemik
sementara sisanya merupakan jenis stroke hemoragik. Berdasarkan penelitian-
penelitian sebelumnya, di Indonesia kejadian stroke iskemik lebih sering
ditemukan dibandingkan stroke hemoragik. Dari studi rumah sakit yang
dilakukan di Medan pada tahun 2001, yang tidak sempat dipublikasi, ternyata
pada 12 rumah sakit di Medan pada tahun 2001, dirawat 1263 kasus stroke
terdiri dari 821 stroke iskemik dan 442 stroke hemoragik, di mana meninggal
201 orang (15,91%) terdiri dari 98 (11,93%) stroke iskemik dan 103 (23,30%)
stroke hemoragik (Nasution, 2007). Adapun faktor risiko yang memicu
tingginya angka kejadian stroke adalah faktor yang tidak dapat dimodifikasi
(non-modifiable risk factors) seperti usia, ras, gender, genetik, dan riwayat
Transient Ischemic Attack atau stroke sebelumnya. Sedangkan faktor yang
dapat dimodifikasi (modifiable risk factors) berupa hipertensi, merokok,

v
penyakit jantung, diabetes, obesitas, penggunaan oral kontrasepsi, alkohol,
hiperkolesterolemia (PERDOSSI, 2004). Identifikasi faktor risiko stroke
sangat penting untuk mengendalikan kejadian stroke di suatu negara. Oleh
karena itu, berdasarkan identifikasi faktor risiko tersebut maka dapat
dilakukan tindakan pencegahan dan penanggulangan penyakit stroke, terutama
untuk menurunkan angka kejadian stroke. Dalam makalah ini, penulis akan
membahas lebih lanjut mengenai konsep penyakit stroke dan asuhan
keperawatan pada pasien stroke.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimanakah definisi dari stroke ?


1.2.2 Bagaimanakah klasifikasi dari stroke ?
1.2.3 Bagaimanakah etiologi dari stroke ?
1.2.4 Bagaimanakah patofisiologi dari stroke ?
1.2.5 Bagaimanakah pohon masalah dari stroke ?
1.2.6 Bagaimanakah manifestasi klinik dari stroke ?
1.2.7 Apa sajakah pemeriksaan diagnostik pada pasien stroke ?
1.2.8 Apa sajakah komplikasi dari stroke ?
1.2.9 Bagaimanakah penatalaksaan pada pasien stroke ?
1.2.10 Bagaimanakah konsep asuhan keperawatan pada pasien stroke dan
penerapannya ?

1.3 Tujuan Tulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :


1.3.1 Untuk memahami definisi dari stroke
1.3.2 Untuk memahami klasifikasi dari stroke
1.3.3 Untuk mengetahui etiologi dari stroke
1.3.4 Untuk memahami patofisiologi dari stroke
1.3.5 Untuk memahami pohon masalah pada stroke
1.3.6 Untuk mengetahui manifestasi klinik dari stroke
1.3.7 Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostik pada pasien stroke
1.3.8 Untuk memahami komplikasi dari stroke
1.3.9 Untuk mengetahui penatalaksanaan pada pasien stroke
1.3.10 Untuk memahami konsep asuhan keperawatan pada pasien stroke
dan penerapannya

1.4 Manfaat Tulisan

vi
1.4.1 Manfaat teoritis
Untuk menambah wawasan pengetahuan mahasiswa mengenai
penyakit stroke dan konsep asuhan keperawatan pada pasien
stroke.
1.4.2 Manfaat praktis
Untuk menjadi pedoman agar nantinya mahasiswa dapat
mengimplementasikan asuhan keperawatan pada pasien stroke.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Teoritis Stroke

2.1.1 Definisi Stroke

vii
Stroke atau penyakit serebrovaskuler menunjuk adanya beberapa
kelainan otak baik secara fungsional maupun structural yang disebabkan
oleh keadaan patologis dari pembuluh darahserebral atau dari seluruh
system pembuluh darah otak (Doenges, 2000). Stroke merupakan
gangguan sirkulasi serebral, merupakan suatu gangguan neurologis fokal
yang dapat timbul sekunder dari suatu proses patologi pada pembuluh
darah serebral (Price & Wilson, 1994). Stroke atau cedera serebrovaskuler
adalah kehilangan fungsi otak yang disebabkan oleh terhentinya suplai
darah ke bagian otak (Smeltzer & Bare, 2001).
Stroke adalah sindrom klinis yang awal timbulnya mendadak,
progresif, cepat berupa deficit neurologis vocal atau global yang
berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian.
Semata-mata disebabkan oleh peredaran darah otak non traumatic
(Mansjoer, 2000). Stroke adalah tanda-tanda klinis yang berkembang cepat
akibat gangguan fungsi otak baik local maupun menyeluruh (global) yang
berlangung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa
adanya penyebab lain yang jelas selain Vaskuler (WHO,1999).

2.1.2 Klasifikasi Stroke

Stroke dapat diklasifikasikan menurut patologi dan gejala kliniknya,


yaitu :
a. Stroke hemoragik
Merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan
subarachnoid. Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada
daerha otak tertentu. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas
atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien
umumnya menurun. Stroke hemoragik adalah disfungsi neurologi
fokal yang akut dan disebabkan oleh perdarahan primer substansi otak
yang terjadi secara spontan dan diebabkan karena pecahnya pembuluh
arteri,vena dan kapiler (Widjaja,1994).

Perdarahan otak dibagi dua,yaitu :

viii
a) Perdarahan intraserebral : Pecahnya pembuluh darah
(mikroaneurisma) tertutama karena hipertensi mengakibatkan
darah masuk ke dalam jaringan otak,membentuk massa yang
menekan jaringan otak dan menimbulkan edema otak. Peningkatan
TIK yang terjadi cepat,dapat mengakibatkan kematian mendadak
karena herniasi otak. Perdarahan intraserebral yang disebabkan
oleh hipertensi sering dijumapi di daerah putamen, thalamus, pons
dan serebrum (Siti Rohani,2000).

b) Perdarahan subarachnoid : perdarahan ini berasal dari pecahnya


aneurisma berry atau AVM. Aneurisma yang pecah ini berasal dari
pembuluh darah sirkulasi Willisi dan cabang-cabangnya yang
terdapat di luar parenkim otak .

b. Stroke non hemoragik (CVA Infark)


Dapat berupa iskemia atau emboli dan thrombosis serebral, terjadi
saat setelah lama beristirahat,baru bangun tidur atau dipagi hari. Tidak
terjadi perdarahan namun terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia
dan selanjutnya dapat timbul edema sekunder. Kesadaran umunya
baik.

Menurut perjalanan penyakit atau stadiumnya :

a) TIA (Trans Iskemik Attack) :


Gangguan neurologis setempat yang terjadi selama beberapa menit
sampai beberapa jam saja. Gejala yang timbul akan hilang dengan
spontan dan sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam.

b) Stroke involusi
Stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan
neurologis terlibat semakin berat dan bertambah buruk. Proses
dapat berjalan 24 jam atau beberapa hari.

c) Stroke komplit
Gangguan neurologi yang timbul sudah menetap atau permanen.
Sesuai dengan istilahnya stroke komplit dapat diawali oleh
serangan TIA berulang.

ix
2.1.3 Etiologi Stroke

Penyebab stroke dapat dibagi tiga,yaitu :


a) Thrombosis serebri
Aterosklerosis serebral dan perlambatan sirkulasi serebral adalah
penyebab utama thrombosis serebral yang menjadi penyebab umum
dari stroke (Smeltzer,2005). Thrombosis ditemukan pada 40% dari
semua kasus stroke yang telah dibuktikan oleh ahli patologi. Biasanya
ada kaitannya dengan kerusakan local dinding pembuluh darah akibat
aterosklerosis (Price,2005).

b) Emboli serebri
Embolisme serebri termasuk urutan kedua dari berbagai penyebab
utama stroke,penderita embolisme biasanya lebih muda dibandingkan
dengan penderita trombosit, kebanyakan emboli serebri berasal dari
suatu thrombus dalam jantung sehingga masalah yang dihadapi
sesungguhnya merupakan perwujudan penyakit jantung (Price,2005).

c) Hemoragi
Hemoragi dapat terjadi di luar durameter (hemoragi ekstra dural
atau epidural) dibawah durameter (hemoragi subdural), di ruang sub
arachnoid (hemoragi subarachnoid atau dalam substansial otak
(hemoragi Intra Serebral) (Price,2005).

Factor Risiko yang Mempengaruhi :

a) Hipertensi
Merupakan factor risiko utama. Hipertensi dapat disebabkan
arterosklerosis pembuluh darah serebral, sehingga pembuluh darah
tersebut menglami penenbalan demi degenerasi yang kemudia pecah /
menimbulkan pendarahan.

b) Penyakit kardiovaskuler
Misalnya embolisme serebral berasal dari jantung seperti penyakit
arteri koronaria, gagal jantung kongestif, MCI, hipertrofi Ventrikel
kiri. Pada fibriliasi atrium menyebabkan penurunan CO, sehingga
perfusi darah ke otak menurun, makan otak akan kekurangan oksigen
yang akhirnya dapat terjadi stroke. Pada arterosklerosis elastisitas

x
pembuluh darah menurun, sehingga perfusi ke otak menurun juga pada
akhirnya terjadi stroke.

c) Diabetes mellitus
Pada penyakit DM akan mengalami penyakit vaskuler, sehingga
terjadi mikrovaskularisasi dan terjadi aterosklerosis, terjadinya
arterosklerosis dapat menyebabkan emboli yang kemudian menyumbat
dan terjadi iskemia, iskemia menyebabkan perfusi otak menurun dan
pada akhirnya terjadi stroke.

d) Merokok
Pada perokok akan timbul plaque pada pembuluh darah oleh
nikotin sehingga memungkinkan penumpukan arterosklerosis dan
kemudian berakibat stroke

e) Alkoholik
Pada alkoholik dapat menyebabkan hipertensi,penurunan aliran
darah ke otak dan kardiak aritmia serta kelainan motilitas pembuluh
darah sehingga terjadi emboli serebral.

f) Peningkatan kolestrol
Peningkatan kolestrol tubuh dapat menyebakan arterosklerosis dan
terbentuknya emboli lemak sehingga aliran darah lambat termasuk ke
otak, maka perfusi otak menurun.

g) Obesitas
Pada obesitas kadar kolestrol tinggi. Selain itu dapat mengalami
hipertensi karena terjadi gangguan pada pembuluh darah. Keadaan ini
berkontribusi pada stroke.
h) Arterosklerosis
i) Kontrasepsi
j) Riwayat kesehatan keluarga adanya stroke
k) Umur (insiden meningkat sejalan dengan meningkatnya umur)
l) Stress emosional

2.1.4 Patofisiologi

xi
Otak sangat bergantung terhadap oksigen. Jika aliran darah ke setiap
bagian otak terhambat karena thrombus dan embolus, maka mulai terjadi
kekurangan oksigen ke jaringan otak. Kekurangan okksigen dalam waktu
yang lama dapat menyebabkan nekrosisi mikroskopik neuron-neuron. Area
nekrotik disebut infark. Kekurangan oksigen pada awalnya mungkin
akibat iskemia mum (karena henti jantung atau hipotensi) atau hipoksia
karena akibat proses anemia dan kesukaran untuk bernafas. Stroke karena
embolus dapat merupakan akibat dari bekuan darah,udara, plaque,
atheroma fragmen lemak. Jika etiologi stroke adalah hemorrhagi maka
factor pencetus adalah hipertensi. Abnormalitas vaskuler, aneurisma
serabut dapat terjadi rupture dan dapat menyebabkan hemorrhagi. Pada
stroke thrombosis atau metabolic maka otak mengalami iskemia dan infark
sulit ditentukan. Ada peluang dominan stroke akan meluas setelah
serangan pertama sehingga dapat terjadi edema serebral dan peningkatan
tekanan intracranial (TIK) dan kematian pada area yang luas.
Prognosisnya tergantung pada daerah otak yang terkena dan luasnya saat
terkena. Gangguan pasokan aliran darah otak dapat terjadi dimana saja
yang membentuk sirkulasi Willisi : arteri karotis interna dan system
vertebrobasilar dan semua cabang- cabangnya. Secara umum, apabila
aliran darah ke jaringan otak terputus selama 15-20 menit, akan terjadi
infark atau kematian jaringan. Perlu diingat bahwa oklusi di suatu arteri
tidak selalu menyebabkan infark di daerah otak yang diperdarahi oleh
arteri tersebut (Price,2005).
Alasannya adalah bahwa mungkin terdapat sirkulasi kolateral yang
memadai daerah tersebut. Proses patologik yang mendasari mungkin salah
satu dari berbagai proses yang terjadi didalam pembuluh darah yang
memperdarahi otak. Patologinya dapat berupa :
a) Keadaan penyakit pada pembuluh darah itu sendiri, seperti
aterosklerosis dan thrombosis, robeknya dinding pembuluh atau
peradangan.
b) Berkurangnya perfusi akibat gangguan aliran darah, misalnya syok
atau hipervikositas darah
c) Gangguan aliran darah akibat bekuan atau embolus infeksi yang
berasal dari jantung atau pembuluh ekstrakranium

xii
d) Gangguan aliran darah akibat bekuan atau embolus infeksi yang
berasal dari jantung atau pembuluh ekstrakranium
e) Rupture vascular didalam jaringan otak atau ruang subaraknoid (Price,
2005).

2.1.5 Pohon Masalah (WOC)

(terlampir)

2.1.6 Manifestasi Klinik

Pada stroke non haemoragik gejala utamanya adalah timbulnya


deficit neurologis secara mendadak atau subakut, didahului gejala
prodromal, terjadi pada waktu istirahat atau bangun pagi dan
kesadaran biasanya tak menurun, kecuali bila embolus cukup besar
(Mansjoer,2000).
Menurut WHO, dalam Internasional Statistic Classification Of
Diseases And Related Health Problem 10th Revision, stroke dapat
dibagi atas :
a) Perdarahan Intraserebral (PIS)
Stroke akibat PIS mempunyai gejala prodromal yang tidak jelas,
kecuali nyeri kepala karena hipertensi. Serangan seringkali setiap hari,
saat aktivitas, atau emosi/marah. Sifat nyeri kepalanya hebat sekali.
Mual da muntah seringkali terjadi sejak permulaan serangan.
Kesadaran biasanya menurun cepat masuk koma (65% terjadi kurang
dari setengah jam, 23% antara ½ s.d 2 jam dan 12% terjadi setelah 2
jam, sampai 19 hari).

b) Perdarahan Subaraknoid (PSA)


Pada pasien dengan PSA didapatkan gejala prodromal berupa nyeri
kepala hebat dan akut. Kesadaran sering terganggu dan sangat
bervariasi. Ada gejala atau tanda rangsangan meningeal. Edema papil
dapat terjadi bila ada perdarahan subhialoid karena pecahnya
aneurisma pada arteri komunikanns pada anterior atau arteri karotis
interna. Gejala neurologis terjadi tergantung pada berat ringannya

xiii
gangguan pembuluh darah dan likasinya. Manifestasi stroke dapat
berupa :
 Kelumpuhan wajah dan anggota badan yang timbul mendadak
 Gangguan sinsibilitas pada salah satu atau lebih anggota badan
 Perubahan mendadak status mental
 Afasia (bicara tidak lancar, kurangnya ucapan atau kesulitan
memahami ucapan)
 Ataksia anggota badan
 Vertigo, mual, muntah atau nyeri kepala (Mansjoer,2000)

Gejala Khusus pada Pasien Stroke


a. Kehilangan Motorik
Srtoke adalah penyakit motor neuron atas dan mengakibatkan
kehilangan kontrol volunter terhadap gerakan motorik, misalnya :
 Hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi tubuh)
 Hemiparesis (kelemahan pada salah satu sisi tubuh)
 Menurunnya tonus otot abnormal

b. Kehilangan Komunikasi
Fungsi otak yang dipengaruhi oleh stroke adalah bahasa dan
komunikasi, misalnya:
 Disartria, yaitu kesulitan berbicara yang ditunjukkan dengan bicara
yang sulit dimengerti yang disebabkan oleh paralisis otot yang
bertanggung jawab untuk menghasilkan bicara
 Disfasia atau afasia atau kehilangan bicara yang terutama
ekspresif/represif., Apraksia, yaitu ketidakmampuan untuk
melakukan tindakan yang dipelajari sebelumnya.

c. Gangguan Persepsi
 Homonimus hemianopsia, yaitu kehilangan setengah lapang
pandang dimana sisi visual yang terkena berkaitan dengan sisi
tubuh yang paralisis.
 Amorfosintesis, yaitu keadaan dimana cenderung berpaling dari
sisi tubuh yang sakit dan mengabaikan sisi/ruang yang sakit
tersebut.
 Gangguan hubungan visual spasia, yaitu gangguan dalam
mendapat hubungan dua atau lebih objek dalam area spasial.

xiv
 Kehilangan sensori, antara lain tidak mampu merasakan posisi dan
gerakan bagian tubuh (kehilangan proprioseptik) sulit
menginterpretasikan stimulasi visual, taktil, auditorius.

2.1.7 Pemeriksaan Diagnostik

a. Angiografi serebral
Membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti
perdarahan, obstruksi arteri, oklusi/reptur.
b. Elektro Encefalografy
Mengidentifikasi masalah didasarkan pada gelombang otak atau
mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.
c. Sinar x tengkorak
Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang
berlawanan dari masa yang luas, klasifikasi karotis interna terdapat
pada trobus serebral. Klasifikasi parsial dinding, aneurisma pada
pendarahan sub arachinoid.
d. Ultrasonography Doppler
Mengidentifikasi penyakit arteriovena (masalah sistem arteri
karotis/aliran darah/muncul plaque/arterosklerosis).
e. CT-Scan
Memperlihatkan adanya edema, hematoma, iskemia dan adanya infark.

f. MRI
Menunjukkan adanya tekanan annormaldan biasanya ada trombosisi,
emboli dan TIA, tekanan meningkat dan cairan mengandung darah
menunjukkan hemoragi sub arachhnois/perdarahan intrakranial.
g. Pemeriksaan foto thorax
Dapat memperlihatkan keadaan jantung, apakah terdapat pembesaran
ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda hipertensi kronis pada
penderita stroke, menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal
daerah berlawanan dari massa yang meluas (Doengoes,2000).

h. Pemeriksaan laboratorium
 Pungsi lumbal : Tekanan normal biasanya ada trombosis, emboli
dan TIA. Sedangkan tekanan yang meningkat dan cairan yang
mengandung darah menunjukkan adanya perdarahan

xv
subarachnoid atau intrakranial. Kadar protein total meningkat
pada kasus trombosis sehubungan dengan proses imflamasi
 Pemeriksaan darah rutin
 Peeriksaan kimia darah : pada stroke akkut dapat terjadi
hiperglikemia. Gula darah dapat mencapai 250 mg daam serum
dan kemudian berangsur-angsur turun kembali (Doengoes,2000).

2.1.8 Komplikasi

a. Berhubungan dengann immobilisasi


 Infeksi pernafasan
 Nyeri yang berhubungan dengan daerah yang tertekan
 Konstipasi
 Tromboflebitis
b. Berhubungan dengan mobilisasi
 Nyeri pada daerah punggung
 Dislokasi sendi
c. Berhubungan dengan kerusakan otak
 Epilepsi
 Sakit kepala
 Kraniotomi
d. Hidrosefalus

2.1.9 Penatalaksanaan

a. Penatalaksanaan Umum
 Posisi kepala dan badan atas 20-30 derajat, posisi lateral
dekubitus bila disertai muntah. Boleh dimulai mobilisasi
bertahap bila hemodinamik stabil.
 Bebaskan jalan nafas dan usahakan ventilasi adekuat bila perlu
diberikan oksigen 1-2 liter/menit bila ada hasil gas darah.
 Kandung kemih yang penuh dikosongkan dengan kateter.
 Kontrol tekanan darah, dipertahankan normal
 Suhu tubuh harus dipertahankan
 Nutrisi per oral hanya boleh diberikan setelah tes fungsi
menelan baik, bila terdapat gangguan menelan atau pasien yang
kesadaran menurun, dianjurkan pipi NGT
 Mobilisasi dan rehabilitasi dini bila tidak ada kontraindikasi.
b. Penatalaksanaan Medis
 Trombolitik (Streptokinase)

xvi
 Anti platelet/ati trombolitik (asetosol, ticlopidin, cilostazol,
dipirimadol)
 Antikoagulan (heparin)
 Hemorrhagea (pentoxyfilin)
 Antagonis serotonin (Noftidrofuryl)
 Antagonis calsium (nomodipin, piracetam)
c. Penatalaksanaan Khusus/Komplikasi
 Atasi kejang (antikonvulsan)
 Atasi tekanan intrakranial yang meninggi (manitol, gliserol,
furosemid, intubasi, steroid, dll)
 Atasi dekompresi (kraniotomi)
d. Penatalaksanaan faktor resiko
 Atasi hipertensi (antihipertensi)
 Atasi hiperglikemi (anti hiperglikemi)
 Atasi hiperurisemia (anti hiperurisemia)
Upaya pencegahan yang dapat dilakukan :
a. Menguranngi kegemukan
b. Berhenti merokok
c. Berhenti minum kopi
d. Batasi makana garam/lemak
e. Tingkatkan masukan kalium
f. Rajin berolahraga
g. Mengubah gaya hidup
h. Menghindari obat-obatan yang dapat meningkatkan tekanan darah

2.1.10 Konsep Asuhan Keperawatan Pada Pasien Stroke dan


Penerapannya

1. Pengkajian
a. Indentitas klien
Umur, jenis kelamin, ras,suku bangsa dan lain-lain
b. Riwayat kesehatan masalalu
 Riwayat hipertensi
 Riwayat penyakit kardiovaskuler misalnya emblisme serebral
 Riwayat tinggi kolesterol
 Obesites
 Riwayat DM
 Riwayat aterosklerosis
 Merokok
 Riwayat pemakaian kontrasepsi yang disertai hipertensi dan
menngkatnya kadar estrogen
 Riwayat konsumsi alcohol
c. Riwayat kesehatan sekarang

xvii
 Kehilangan komunikasi
 Gangguan presepsi
 Kehilangan motoric
 Merasa kesulitan untuk melakukan aktifitas karena kelemahan,
kehilangan sensasi atau paralisis(hemiplegia), merasa mudah
lelah, susah beristirahat (nyeri, kejang, otot)
d. Riwayat kesehatan keluar
Apakah ada riwayat penyakit degenerative dalam keluarga

Pemeriksaan data dasar


 Aktifitas/ istirahat
- Merasa kesulitan untukmelakukan aktifitas karena
kelemahan, kehilangan sensasi atau paralisis (hemiplegia)
- Merasa mudah lelah, susah beristirahat (nyeri,kejang otot)
- Gaungguan tonus otot (flaksid, spatik), paralistik
(hemiplegia) dan terjadi kelemahan umum
- Gangguan pengelihatan
- Gangguan tingkat kesadaran
-
 Sikulasi
- Adanya penyakit jantung (mis. Reumatik/penyakit jantung
vaskuler, endocarditis, polisitemia, riwayat hipotensi
postural)
- Hipotensi arterial berhubunagn dengan
embolisme/melformasi vaskuler
- Frekuensi nadi dapat bervasiasi karena ketidakefektifan
fungsi/ keadaan jantung

 Integritas ego
- Persaan tidak berdaya, perasaan putus asa
- Emosi labil, ketidaksiapan untk makan sendiri dan gembira.
- Kesulitan untuk mengekspresikan diri

 Eliminasi
- Perubahan pola berkemih seperti : inkontenensia urin,
anuria
- Distensi abdomen, bising usus (-)

 Makan/ cairan
- Nafsu makan hilang, mual, muntah selama fase akut/
peningkatan Tik

xviii
- Kehilangan sensasi (rasa kecap pada lidah, pipi dan
tengkorak)
- Disfagia, riwayat DM, penigkatan lemak dalam darah
- Kesulitan menelan (gangguan pada reflex palatum dan
faringeal), obesitas

 Neurosensori
- Adnya sinkope/pusing, sakit kepala berat
- Kelemahan, kesemutan, kebas pada sisi terkena seperti
mati/ lumpuh
- Pengelihatan menurun : buta total, kehilangan daya lihat
sebagian (kebutaan monokuler), pengelihatan ganda
(diplopia)
- Sentuhan : hilangnya rangsangan sensoris kontra lateral
(ada sisi tubuh yang berlawanan/ pada ektremitas dan
kadang pada ipsilateral 9 satu sisi) pada wajah
- Gangguan rasa pengecapan dan penciuman
- Status mental/ tingkat kesadaran : koma pada tahap awal
hemoragik, tetap sadar jika thrombosis alami
- Gangguan fungsi kognitif : penurunan memori
- Ekstremitas : kelemahan /paralise (kontralateral) tidak dapat
mengenggam, reflex tendon melemah secara kontralateral
- Afisia : gangguan fungsi bahasa, afisia motoric (kesulitan
mengucapkan kata) atau afisia sensorik (kesulitan
memahami kata-kata bermakna)
- Kehilangan kemampuan mengenali/menghayati masuknya
sensasi visual, pendengaaran, taktil (agnosia seperti
gangguan kesadaran terhadap citra diri, kewaspadaan
kelainan terhadap bagian yang terkena, gangguan presepsi,
kehilangan kemampuan menggunakan motoric saat klien
ingin menggunakannya (perdarahan/hernia)

 Nyeri
- Sakit kepala dengan intensitas berbeda (karena arteri karotis
terkena)
- Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketergantungan
pada otot/fasia.

xix
 Pernafasan
- Merokok
- Ketidakampauan menelan, batuk / hambatan jalan nafas
- Pernafasan sulit, tidak teratur, suara nafas terdengar/ronki
(aspirasi sekresi)

 Keamanan
- Motoric/ sensorik : masalah pengelihatan, perubahan
presepsi terhadap orientasi tentang tubuh (stroke kanan),
kesulitan melihat objek dari sisi kiri, hilangnya
kewaspadaan terhadap bagian tubuh yang sakit.
- Tidak mampu mengenali objek, arna dan wajah yang pernah
dikenali.
- Gangguan berespon terhadap panas dan dingin, ganggan
regulasi tubuh
- Tidak mandiri, gangguan dalam memutuskan, perhatian
terhadap keamanan sedikit
- Tidak sadar/ kurang kesadaran diri

 Interaksi sosial
- Masalah bicara, tidak mampu berkomunikasi

Pemeriksaaan neurologis
 Satus mental
- Tingkat kesadaran : kualitatif dan kuantitatif
- Pemeriksaan kemampuan bicara
- Orientasi (tempat, waktu, orang)
- Pemeriksaan daya pertimbangan
- Penilaian daya pertimbangan
- Penilaian daya obstruksi
- Penilaian kosakata
- Pemeriksaan respon emosional
- Pemeriksaan daya ingat
- Pemeriksaan kemampuan berhitung
- Pemeriksaan kemampuan mengenali benda

 Nervous kranialis
- Olfaktorius : penciuman
- Optikus : pengelihatan
- Okulomotorius : gerak mata, kintraksi pupil akomodasi
- Troklear : gerak mata
- Abducen : gerak mata

xx
- Trigeminus : sensasi umum pada wajah, kulit kepala, gigi,
gerak mengunyah
- Fasialis: pengecap, sensasi umum pada platum dan telingan
luar sekresi kelenjar lakrimalis, submadibula, sublingualial,
ekpresi wajah
- Vestibulokoklearis : pendengaran dan keseimbangan
- Aksesoris spinal : fonasi, gerakan kepala, leher dan bahu
- Hipoglosus : gerak lidah
 Fungsi motoric
- Masa otot, kekuatan otot dan tonus otot. Pada pemeriksaan
ini ekstremits diperiksa lebih dulu.
- Fleksi dan ekstensi lengan.
- Abduksi lengan dan adduksi lengan
- Fleksi dan ekstensi pergelangan tangan.
- Adduksi dan abduksi jari
- Abduksi dan adduksi pinggul
- Fleksi an ekstensi lutut
- Dorsofleksi dan fleksi platar pergelangan kaki
- Dorsofleksi dan fleksi paltar jari kaki
 Fungsi sensori
- Sentuhan ringan
- Sensasi nyeri
- Sensasi posisi
- Sensasi getaran
- Lokalisasi taktil
 Fungsi serebelum
- Tes jari hidung
- Tes tumit lutut
- Gerakan berganti
- Tes rombreg
- Gaya berjalan
 Refleks
- Bisep
- Trisep
- Brachioradialis
- Patella
- Achilles

2. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul


a. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan interupsi
aliran darah, gangguan oklusi, hemoragi, vasospasme serebral,
edema serebral

xxi
b. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan neurovaskuler,
kelemahan dan flaksid/ paralis hipotonik (awal), kerusakan
preseptual/ kognitif
c. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan kerusakan
sirkulasi serebral, kerusakan neuromuscular, kehilangan tonus /
control otot fasia, kelemahan/ kelelahan umum
d. Risiko cedera b.d faktor internal (disfungsi sensorik)

xxii
3. Rencana Asuhan Keperawatan

No Hari/ Diagnosa Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional


Tgl/jam Keperawatan
1. Senin, 2 Perubahan perfusi Pasien  Gelisah tidak ada  Tentukan factor-  Mempengaruhi
Oktober jaringan serebral b.d menunjukkan  Tingkat kesadaran faktor yang penetapan
2017 interupsi aliran perfusi membaik (GCS berhubungan intervensi
08.00 darah, gangguan jaringan 12-15) dengan keadaan
 Tidak ada  Mengetahui
Wita okfusi, hemoragi, serebral tertentu atau yang
peningkatan TIK kecenderungan
vasospasme adekusi  Bias mengingat menyebabkan
kesadaran dan
serebaral, edema  Orientasi baik koma/penurunan
 Perbaikan respon potensial
serebral perfusi serebral
motoric/sensorik peningkatan
Data : dan potensial
 Pupil isokor TIK dan
 Gelisah  Reflex cahaya terjadinya
mengetahui
 Perubahan positif peningkatan TIK
lokasi, luas dan
tingkat  Output urin >30
 Pantau/ catat kemajuan/
kesadaran ml/jam
 Penurunan  Tingkat kesadaran status neurologis resolusi
memori compos mentis sesering mungkin kerusakan SSP
 Orientasi  Pasien mampu dan bandingkan
menurun(ora mengingat dengan
ng, tempat, baik dengan nilai  Variasi
 Respon
waktu) standar mungkin terjadi
 Penurunan motoric/sensorik
oleh karena
respon normal
 Pantau tanda- tekanan/ trauma
 Nadi dalam batas
motoric/sens
tanda vital serebral pada
normal (60-100
orik  Adanya
daerah
 Pupil x/menit)
hipertensi/
 Tekanan darah vasomotor otak.
anisokor
hipotensi
 Reflexs dalam batas Hipertensi atau
bandingkan
cahaya normal (td sistolik hipotensi
tekanan darah
negative : 90-140 mmHg, postural dapat
 Deficit yang terbaca
td diastolic : 60- menjadi factor
sensori, pada kedua
90 mmHg) pencetus.
bahasa, lengan Hipotensi dapat
 Frekuensi dan
intelektual terjadi karena
 Prubahan irama jantung
syok,
tanda vital : : auskultasi
peningkatan
nadi adanya
TIK dapat
menurun murmur
 Catat pola terjadi,
atau tidak
dan irama tersumbatnya
ada, dari arteri
penurunan pernapasan subkliavikula
tekanan dapat
 Evaluasi pupil,
darah dinyatakan
catat ukuran,
 Output urin
dengan adanya
bentuk,
< 30 ml/jam perbedaan
kesamaan, dan
tekanan pada
reaksinya
kedua lengan
terhadap cahaya
 Berguna dalam
 Catat perubahan menentukan
dalam apakah batang
penglihatan, otak masih baik
seperti adanya ukuran dan
kebutaan, kesamaan pupil
gangguan lapang ditentukan oleh
pandang/ keseimbangan
kedalamam antarapersarafa
persepsi n simatis dan
parasimpatis
 Kaji fungsi- yang
fungsi seperti mempersarafin
fungsi bicara jika ya. Respon
pasien sadar terhadap reflex
cahaya
mengkobinasik
an fungsi dari
saraf kranial
optikus (II) dan
 Letakkan kepala saraf
dengan posisi okulamotor
agak ditinggikan (III)
dan dalam posisi
anatomis (netral)  Gangguan
penglihatan
 Pertahankan
yang spesifik
keadaan tirah
mencerminkan
baring ; ciptakan
daerah otak
lingkungan yang
yang terkena ,
tenang; batasi mengindikasika
pengunjung/ n kemanan
aktivitas pasien yang harus
sesuai indikasi. mendapat
Berikan istirahat perhatian dan
secara periodic mempengaruhi
antara aktivitas intervensi yang
perawatan, batasi akan dilakukan
lamanya setiap
prosedur  Perubahan
dalam isi
 Cegah terjadinya kognitif dan
mengejan saat bicara
defekasi, dan merupakan
pernafasan yag indicator dan
memaksa (batuk lokasi/ derajat
terus menerus) gangguan
serebal dan
 Kaji rigitas nukal, mungkin
kedurtan, mengindikasika
kegelisahan yang n penurunan/
meningkat, peka peningkatan
rangsangan dan TIK
serangan kejang
 Menurunkan
 Berikan oksigen tekanan arteri
sesuai indikasi dengan
meningkatkan
 Berikan obat drainase dan
sesuai indikasi meningkatkan
sirkulasi

 Aktiovitas yang
 Pantau
kontinu dapat
pemeriksaan meningkatkan
labor sesuai TIK. Istirahat
indikasi total dan
ketenangan
mungkin
diperlukan
untuk
pencegahan
teradap
pendarahan

 Maneuver
vassava dapat
meningkatkan
TIK dan
memperbesar
resiko
terjadinya
pendarahan

 Merupakan
indikasi
asalnya iritasi
meningeal.
Kejang dapat
mencerminkan
adanya
peningkatan
TIK/ trauma
serebral yang
memerlukan
perhatian

 Menurunkan
hipoksia yang
dapat
menyebabkan
vasodilatasi
serebral dan
tekanan
meningkat /
terbentuknya
edema

 Meningkatkan
/ memperbaiki
kondisi pasien

 Memberikan
informasi
tentang
keefektifan
pengobatan
2. Senin, 2 Kerusakan mobilitas Kerusakan  Kebutuhan klien  Kaji kemampuan  Mengidentifika
Oktober fisik b.d keterlibatan mobilitas terhadap secara fungsional/ si kekuatan/
2017 neurovaskuler, fisik teratasi pergerakan dapat luasnya kelemahan dan
08.00 kelemahan dan dipenuhi kerusakan awal memberi
Wita flaksid/ paralisis  Mendemonstrasik
secara teratur informasi
hipotonik (awal), an perilaku yang tentang
kerusakan memungkinkan
 Ubah posisi pemulihan,
perseptual/ kognitif melakukan minimal 2 jam membantu
Data aktivitas (telentang, miring dalam
 Mobilisasi dapat
 Ketidakmam ) dan sebagiannya pemilihan
dilakukan dan jika
puan intervensi
bergerak  Kesadaran memungkinkan  Menurunkan
 Kerusakan
membaik bias lebih sering resiko
koordinasi  Mempertahankan jika diletakkan terjadinya
 Keterbatasan
meningkatkan dalam posisi trauma/ skemia
rentang
kekuatan dan bagian yang jaringan dan
gerak
fungsi bagian terganggu
 Penurunan mengalami
tubuh yang
kekuatan perburukan/
tertekan  Letakkan pada sirkulasi yang
 Teknik perubahan
posisi telungkup lebih jelek dna
melakukan
satu kali atau 2 menurunkan
aktifitas
 Mempertahankan kali sehari jika sensasi dan
integritas kulit pasien dapat lebih besar
mentolerir menimbulkan
kerusakan pada
 Mulailah kulit
melakukan (dekubitus)
 Membantu
latihan rentang
mempertahanka
gerak aktif dan
n ekstasni
pasif pada semua
ekstremitas saat pinggul
masuk. Anjurkan fungsional
melakukan tetapi
latihan quadrisep kemungkinan
(gluteal , akan
meremas bola meringankan
karet, melebarkan ansietas
jari dan telapak terutama
tangan) mengenai
kemampuan
 Sokong klien untuk
ekstremitas pada bernafas
 Meminimalkan
posisi
atrofi otot,
fungsinalnya,
meningkatkan
gunakan papan
sirkulasi,
kaki selama
membantu
periode palisis
mencegah
flaksid,
kontraktur,
pertahankan
posisi kepala menurunkan
netral terjadinya
hiperkalsiuria
 Gunakan
dan
penyangga lengan
osteoporosis
ketika berada
dalam posisi
 Mencegah
tegak sesuai
kontraktur
indikasi
paralisis fiaksid
 Tempatkan bantal
dapat
di bawah aksila mengganggu
untuk melakukan kemampuannya
abduksi pada untuk
tangan menyangga
 Tinggikan tangan kepala.
dan kepala Paralisis spastik
dapat
 Tempatkan
menyebabkan
handroll keras ada
deviasi pada
telapak tangan salah satu sisi.
dengan jari-jari
 Selama periode
dan ibu jari saling
flaksid
berhadapan
penggunaan
 Posisikan lutut penyangga
dan panggul dapat
dalam posisi menurunkan
ekstensi terjadinya
sindrom bahu
 Pertahankan kaki
lengan
dalam posisi
netral dengan  Mencegah
gulungan adduksi bahu
bantal/trokanter dan fleksi siku

 Observasi bagian  Meningkatkan


yang sakit/ aliran balik
terkena, tandai vena dan
gangguan membantu
sirkulasi mencegah
oedema
 Anjurkan klien
 Menurunkan
untuk membantu
stimulasi fleksi
pergerakkan dan
jari-jari,
latihan dengan
mempertahanka
menggunakkan
n pada posisi
ekstermitas yang
anatomis
tidak sakit untuk
menyokong yang  Mempertahank
lemah an posisi
fungsional
Kolaborasi
 Mencegah
 Konsultasikan
rotasi eksternal
dengan ahli
pada panggul
fisioterapi secara
aktit, latihan dan  Jaringan yang
ambulasi klien mengalami
 Berikan obat
cedera mudah
relaksasi otot,
mengalami
anto spasmodic
sesuai indikasi trauma

 Dapat berespon
dengan baik
jika yang sakit
tidak menjadi
lebih terganggu
dan
memerlukan
dorongan serta
latihan aktif

 Untuk
memenuhi
kebutuhan
mobilitas,
koordinasi dan
kekuatan pada
ekstermitas
 Menghilangkan
spastisitas
ekstermitas
yang terganggu

3. Senin, 2 Kerusakan Klien dapat  Klien dapat  Kaji tipe/derajat  Membantu


Oktober komunikasi verbal berkomunika mengidentifikasi disfungsi, seperti menentukan
2017 b.d kerusakan si dengan pemahaman pasien tidak daerah dan
08.00 sirkulasi serebral, tepat sesuai tentang masalah tampak derajat
Wita kerusakan dengan komunikasi memahami kata kerusakan
neuromuscular, keadaan dan  Klien akan
atau mengalami serebral yang
kehilangan dapat mengenai metode kesulitan bicara etrjasi dan
tonus/kontrol otot mengemukak komunikasi atau membuat kesulitan klien
fasia, an dimana kebutuhan pengertian sendiri dalam beberapa
kelemahan/kelelaha kebutuhanny dapat  Bedakan antara
atau seluruh
n umum a diekspresikan afasia dengan tahap proses
disartria komunikasi.
 Perhatikan
Data : Pasien mungkin
kesalahan dalam
Kerusakan mempunyai
komunikasi dan
artikulasi/tidak berikan umpan kesulitan
dapat bicara balik memahami kata
 Minta klien untuk
Ketidakmampuan yang
mengikuti
untuk bicara diucapkan,
perintah
Ketidakmampuan mengucapkan
sederhana (seperti
untuk memakai kata-kata
buka mata),
bahsa/ucapan dengan benar
ulangi dengan
Ketidakmampuan atau mengalami
kata/kalimat yang
menghasilkan kerusakan atau
sederhana
komunikasi tertulis mengalami
 Tunjukkan objek
kerusakan pada
dan minta klien
kedua daerah
untuk
tersebut
menyebutkan  Intervensi yang
nama benda dipilih
tersebut tergantung pada
 Mintalah klien
tipe
untuk
krusakannya
mengucapkan  Klien mungkin
suara sederhana kehilangan
seperti “sh” atau kemampuan
“pus” untuk
 Minta pasien
memantau
untuk menulis ucapan yang
nama atau kalimat keluar dan tidak
yang pendek. Jika menyadari
tidak dapat bahwa
menulis, mintalah komunikasi
pasien untuk yang
membaca kalimat diucapkannya
yang pendek tidak nyata.
 Berikan metode
Umpan balik
komunikasi
emmbantu
alternative,
klien
seperti menulis di
merealisasikan
papan tulis,
kenapa pemberi
gambar, berikan
askep tidak
petunjuk visual
 Antisipasi dan mengerti/beresp
penuhi kebutuhan on sesuai dan
klien memberikan
 Katakan secara
isi/makna yang
langsung dengan terkandung
klien, bicara dalam
perlahan dan
ucapannya
tenang. Gunakan  Melakukan
pertanyaan penilaian
terbuka dengan terhadap
jawaban ya/tidak , adanya
selanjutnya kerusakan
kembangkan pada sensorik (afasia
pertanyaan yang sensori)
 Melakukan
lebih kompleks
penilaian
sesuai dengan
terhadapa
respon klien
 Bicaralah dengan adanya
nada normal dan kerusakan
hindari motorik, seperti
percakapan yang klien mungkin
cepat. Berikan mengenalinya
klien jarak waktu tetapi tidak
untuk berespon. dapat
Bicaralah tanpa menyebutkanny
tekanan terhadap a
 Menidentifikasi
sebuah respon
 Anjurkan adanya disartria
pengunjung/orang sesuai
terdekat komponen
mempertahankan motoric dari
usahanya untuk bicara yang
berkomunikasi dapat
dengan pasien mempengaruhi
 Diskusikan
artikulasi dan
mengenai hal-hal mungkin juga
yang dikenal tidak disertai
klien , seperti afisia motoric
pekerjaan,  Menilai
keluarga, hobi kemampuan
 Hargai
menulis dan
kemampuan klien kekurangan
sebelum terjadi dalam
penyakit, hindari membaca yang
percakapan yang benar yang juga
merendahkan merupakan
pada klien bagian dari
afasi sensorik
Kolaborasi
 Konsultasi/ rujuk dan otorik
 Memberikan
ke terapi wicara
komunikasi
tentang
kebutuhan
berdasarkan
keadaan/defisit
yang
mendasarinya
 Bermanfaat
dalam
menurunkan
frustasi bila
tergantung pada
orang lain
 Menurunkan
kebingungan/an
sietas selama
proses
komunikasi
 Mencegah
marah pada
klien dan
frustasi pada
klien
 Mengurangi
isolasi sosial
klien dan
meningkatkan
penciptaan
komunikasi
efektif
 Meningkatkan
percakapan
yang bermakna
 Menjaga
kemampuan
klien untuk
mempertahanka
n harga diri
 Mengidentfikas
i kekuranga,
kebutuhan
terapi
4. Senin, 2 Resiko cedera b.d Pasien  Pasien terbebas  Sediakan  Agar psien
Oktober factor internal mampu dari cedera lingkungan terhindar
2017 (disfungsi sensorik) mencegah  Pasien mampu
yang aman dari resiko
08.00 risiko cedera menjelaskan cara untuk pasien cedera
Wita atau metode untuk  Identifikasi  Menentuka
mencegah injuri/ kebutuhan n kebutuhan
cedera keamanan pasien
 Pasien mampu
pasien, sesuai terhadapm
menjelaskn factor dengan keamanan
resiko dari kondisi fisik dan
lingkungan atau dan fungsi menentukan
prilaku personal kognitif intervensi
 Pasien mampu
pasien dan yang tepat
memodifikasi  Mencegah
riwayat
gaya hidup untuk risiko cidera
penyakit
 Mencegah
mencegah injuri terdahulu
 Menggunakan pasien
pasien
fasilitas yang ada  Menghindark mengalami
 Mampu
risiko cidera
an
mengenali  Agar pasien
lingkungan
perubahan status merasa
yang
kesehatan nyaman
berbahaya
 Memasang
side trail  Untuk

tempat tidur mengurangi


 Menyediakan resiko
tempat tidur cedera
yang nyaman  Mengurangi

dan bersih keletihan


 Menempatka pada pasien
n saklar yang dapat
lampu menyebabk
ditempat an risiko
yang mudah cidera
 Agar
dijangkau
keluarga
pasien
 Membatasi dapat
pengunjung mengetahui
 Menganjurka
lebih awal
n keluarga terjadinya
untuk cedera
menemani
pasien
 Mengurangi
 Mengontrol
keletihan
lingkungan
pada pasien
dari
yang dapat
kebisingan
 Memimndahk menyebabk
an barang an risiko
yang dapat cidera
membahayak  Mencegah
an terjadinya
 Berikan
cedera
penjelasan  Agar
pada pasien keluarga
dan keluarga dapat
adanya mengetahui
perubahan lebih awal
status kondisi
kesehatan dan awal
penyebab
penyakit
4. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang
dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status
kesehatan yang dihadapi kestatus kesehatan yang baik yang
menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan (Gordon, 1994, dalam
Potter & Perry, 1997). Ukuran intervensi keperawatan yang diberikan
kepada klien terkait dengan dukungan, pengobatan, tindakan untuk
memperbaiki kondisi, pendidikan untuk klien-keluarga, atau tindakan
untuk mencegah masalah kesehatan yang muncul dikemudian hari.
Untuk kesuksesan pelaksanaan implementasi keperawatan agar sesuai
dengan rencana keperawatan, perawat harus mempunyai kemampuan
kognitif (intelektual), kemampuan dalam hubungan interpersonal, dan
keterampilan dalam melakukan tindakan.

5. Evaluasi Keperawatan

Tahap evaluasi merupakan perbandingan yang sistematik dan


terencana tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan,
dilakukan berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga hatan
lainnya. Evaluasi dalam keperawatan merupakan kegiatan dalam menilai
tindakan keperawatan yang telah ditentukan, untuk mengetahui
pemenuhan kebutuhan klien secara optimal dan mengukur hasil dari
proses keperawatan. Menurut Craven dan Hirnle (2000) evaluasi
didefenisikan sebagai keputusan dari efektifitas asuhan keperawatan
antara dasar tujuan keperawatan klien yang telah ditetapkan dengan
respon prilaku klien yang tampil.

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan

Stroke atau penyakit serebrovaskuler menunjuk adanya beberapa


kelainan otak baik secara fungsional maupun structural yang disebabkan
oleh keadaan patologis dari pembuluh darahserebral atau dari seluruh
system pembuluh darah otak (Doenges, 2000). Stroke merupakan gangguan
sirkulasi serebral, merupakan suatu gangguan neurologis fokal yang dapat
timbul sekunder dari suatu proses patologi pada pembuluh darah serebral
(Price & Wilson, 1994). Stroke menurut patologinya dibagi menjadi stroke
haemoragi dan non haemoragik. Etiologi dibagi menjadi thrombosis serebri,
embolin serebri dan hemoragik. Faktor risiko stroke diantaranya hipertensi,
penyakit kardiovaskuler, DM, merokok, alkoholik, peningkatan kolesterol,
obesitas, riwayat kesehatan keluarga adanya stroke, umur, stress emosional.

3.2 Saran

Setelah kami membuat kesimpulan tentang asuhan keperawatan pada


pasien dengan stroke, maka kami menganggap perlu adanya sumbang
saran untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu asuhan keperawatan.
Adapun saran-saran yang dapat kami sampaikan sebagai berikut:

1. Dalam perencanaan tindakan, harus disesuaikan dengan kebutuhan


klien pada saat itu.
2. Dalam perumusan diagnose keperawatan, harus diprioritaskan sesuai
dengan kebutuhan maslow ataupun kegawatan dari masalah.
3. Selalu mendokumentasikan semua tindakan keperawatan baik yang
kritis maupun yang tidak.
DAFTAR PUSTAKA

Doengoes,M.E.2000. Rencana Asuhan Keperawatan.Jakarta:EGC

Harsanah, Dewi. 2015. Konsep Asuhan Keperawatan . Diakses dalam


http://dewinrhasanah.blogspot.co.id/2013/10/implementasi-dan-evaluasi-
keperawatan.html tanggal 23 September 2017

Price, Sylvia A. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid


2. Ed 4. Jakarta : EGC

Smeltzer Suzanne C.2005.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah


Brunner&Suddath. Alih bahasa Agung Waluyo,dkk. Editor Monica
Ester,dkk. Ed 8. Jakarta : EGC

Saferi Wijaya, Andra. 2013. Keperawatan Medikal Bedah : Keperawatan Dewasa


Teori dan Contoh Askep. Yogyakarta : Nuha Medika

Wijaya, Heri. 2014. Asuhan Keperawatan Pada Penyakit Stroke. Diakses dalam
http://diiarykoe.blogspot.co.id/2012/12/makalah-askep-pada-penyakit-
stroke.html tanggal 23 September 2017