Anda di halaman 1dari 28

PACARAN, PERNIKAHAN,

& KELUARGA
PACARAN, PERNIKAHAN,
& KELUARGA

Jimmy Pardede

Penerbit Momentum
PACARAN, PERNIKAHAN, DAN KELUARGA
oleh: Jimmy Pardede

Transkripsi : Samuel Yonathan, Ria Novianty, Samuel Limawan,


Hanni Agustina, Charista Chrisanty, Herman Tanamas,
Ike Karyadi, Phebe Nurhayati, Selamat Waluyo,
Agnes Christin, Mayman Mendrofa, Mery Zega,
Marvin Rompis, Johanes Susilo, Liedya Setiawan,
Jenytan, Kiki Setiawan.
Editor : Wawa Louisa, Yuk Ting, Budiana Soendjojo, Niken Cahyani,
Livia Vasantadjaja, Maclaurin Hutagalung.
Tata Letak : Juliani Wijaya, Djeffry Imam
Pengoreksi : Jessy Siswanto
Desain Sampul : Juliani Wijaya
Penyelia Akhir : Djeffry Imam

Hak cipta © 2019 pada Jimmy Pardede


Diterbitkan oleh Penerbit Momentum (Momentum Christian Literature)
Andhika Plaza C/5-7, Jl. Simpang Dukuh 38-40, Surabaya 60275, Indonesia
Telp.: +62-31-5323444; Faks.: +62-31-5459275
e-mail: momentum-cl@indo.net.id
website: www.momentum.or.id

Ilustrasi gambar sampul dan isi buku: Joseph von Fuhrich (1800-1876):
Jacob Encountering Rachel, 1836. Lukisan ini sudah termasuk domain publik.

Perpustakaan: Katalog dalam Terbitan (KDT)

Pardede, Jimmy,
Pacaran, pernikahan, dan keluarga / Jimmy Pardede; Surabaya:
Momentum, Cetakan 2019.
x + 286 hlm.; 21 cm.
ISBN 978-602-393-090-6
1. Pacaran dan Pernikahan—Aspek-aspek Religius—Kekristenan
2. Pernikahan Kristen—Pengajaran Alkitabiah
3. Konseling Pranikah—Kekristenan
4. Kehidupan Kristen—Keluarga

2019 248.4
Terbit pertama: Mei 2019

Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang. Dilarang mengutip, menerbitkan kembali, atau memperbanyak se-
bagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun dan dengan cara apa pun untuk tujuan komersial tanpa
izin tertulis dari penerbit, kecuali kutipan untuk keperluan akademis, resensi, publikasi, atau kebutuhan non-
komersial dengan jumlah tidak sampai satu bab.
DAFTAR ISI

Prakata ix
1. Relasi dan Komunikasi 1

2. Kasih, Ordo, dan Kesetaraan 17


3. Kasih Kristus dan Saling Menerima 31

4. Pernikahan dan Seksualitas 61

5. Theologi, Relasi, dan Keintiman 87

6. Relasi dan Mertua 109

7. Menikmati Konflik 125

8. Pertengkaran, Perang Dingin, dan Pengampunan 151


9. Keuangan dalam Keluarga 187

10. Mengenal Diriku melalui Pernikahan 217

11. Pertumbuhan Rohani Bersama 233

12. Pernikahan dan Kehidupan Sosial 263


B A B S A T U

RELASI DAN KOMUNIKASI

Relasi adalah hal yang sangat penting. Melalui relasi kita


mengenal pribadi lain selain diri kita. Kita mengerti bahwa ada
orang lain selain diri kita, dan kita belajar menjalin relasi
dengan orang-orang lain itu.

Doktrin Allah Tritunggal sebagai Dasar dari Relasi


Kemampuan dan cara yang benar untuk berelasi hanya mung-
kin didapatkan melalui pengenalan akan Allah Tritunggal. Itu
sebabnya pengenalan akan Allah Tritunggal harus mendorong
orang Kristen untuk memahami kasih sejati, memperjuangkan
kemampuan untuk mengasihi, dan membentuk komunitas
kasih. Cinta dan komunitas direfleksikan melalui pemahaman
akan makna relasi, dan makna relasi harus dipahami dengan
melihat uniknya seorang manusia di dalam pandangan Tuhan.
Keunikan manusia ada di dalam relasi antarpribadi, dan relasi
antarpribadi ini mencerminkan relasi antar-Pribadi di dalam
Allah Tritunggal. Penyembahan kita kepada Allah, kasih kita,
serta komitmen kita kepada Dia akan berpengaruh ke dalam
hidup kita sehari-hari di dalam menjalin relasi.
Seorang Bapa Gereja, yaitu Augustinus, memberikan sum-
bangsih penting mengenai Tritunggal. Dari pemikirannya kita
PACARAN, PERNIKAHAN, DAN KELUARGA

diajak untuk membawa pengertian akan Allah Tritunggal ke


dalam relasi kita sehari-hari. Para theolog sebelum Augustinus
menuliskan pemikiran mereka karena ada konflik, perteng-
karan, dan karena adanya ajaran bidah. Tulisan mereka ber-
sifat polemik untuk membenahi gereja dan menyingkirkan
ajaran yang salah dan merusak gereja Tuhan. Tetapi Augus-
tinus menulis dengan cakupan lebih luas demi kebutuhan
gereja dan jemaat yang dia layani. Dia tidak hanya menulis
karena sedang terjadi polemik. Dia juga menuliskan pemikir-
annya untuk kepentingan jemaat. Augustinus memahami
keadaan gereja yang senantiasa bergumul untuk menafsirkan
Kitab Suci dengan benar, dan dari refleksinya mengenai menaf-
sirkan Kitab Suci ini terbitlah buku yang berjudul On Christian
Doctrine (“Mengenai Doktrin Kristen”). Ketika orang Kristen
dituduh sebagai penyebab runtuhnya Kekaisaran Romawi,
Augustinus memberikan pembelaan dengan menulis City of
God (“Kota Allah”). Selain itu Augustinus juga menggumulkan
tentang memahami Allah Tritunggal, dan dia pun menulis
buku On The Trinity (“Mengenai Trinitas”).
Augustinus juga menulis karya-karya polemik. Dia menen-
tang kaum Donatis, yang dianggapnya sebagai kelompok peme-
cah gereja dan penentang doktrin yang benar. Kaum Donatis
adalah orang-orang yang tidak percaya kepada institusi gereja
dan sakramen yang diberikan oleh gereja. Ia juga menuliskan
tulisan-tulisan anti-Pelagian, untuk membuktikan bahwa pene-
kanan kepada anugerah Tuhan lebih penting dan lebih utama
daripada penekanan akan kebebasan manusia. Kebebasan di
luar Kristus tidak akan pernah memberikan pengharapan.
Sebaliknya, sekalipun kita pernah memilih jalan yang salah,
anugerah Tuhan itu cukup dan sempurna untuk menarik hati
kita kembali ke jalan yang benar.
Selain itu dia juga menulis Confessions (“Pengakuan”). Ini
adalah karya Augustinus yang sangat menggugah dan meng-

2
Relasi dan Komunikasi

gerakkan. Sebuah karya sastra yang luar biasa. Confessions


dituliskan dalam bentuk doa, tetapi mengandung pembahasan
filsafat yang sangat kaya. Ini adalah karya autobiografi, tetapi
penuh dengan pembahasan tentang pergumulan seluruh
gereja. Ini adalah sebuah buku yang sangat baik untuk dibaca
oleh setiap orang Kristen. Mari belajar dibentuk dengan baca-
an-bacaan berkualitas seperti karya-karya Augustinus. Jikalau
kita terbiasa membuang waktu kita dengan sesuatu yang
dangkal, maka kita akan terus jadi orang yang dangkal.

Pembahasan Augustinus tentang Tritunggal


Di dalam buku On The Trinity, salah satu pembahasan Augus-
tinus yang sangat penting adalah tentang Pneumatology, atau
doktrin Roh Kudus. Augustinus mengajarkan bahwa Roh
Kudus adalah kasih. Roh Kudus mengikat relasi kasih antara
Bapa dan Anak. Roh Kudus jugalah yang menarik pribadi-
pribadi di luar Allah Tritunggal, yaitu kita—orang-orang per-
caya, untuk diikat ke dalam relasi Allah Tritunggal. Relasi
kasih yang dimiliki Bapa dan Anak menjadi milik orang-orang
percaya karena Roh Kudus. Kira-kira seratus tahun sebelum
Augustinus, beredar ajaran sesat yang mengajarkan bahwa
ada semacam tenaga impersonal yang keluar dari Allah.
Energi, dan bukan Pribadi. Energi ini adalah Roh Kudus. Tetapi
karena Roh Kudus tidak dilihat sebagai pribadi, maka muncul
reaksi dari para theolog lain di dalam gereja. Tiga orang yang
menentang ajaran ini adalah para Bapa Kapadokia. Mereka
menulis buku yang melawan ajaran ini, dan menegaskan
bahwa Roh Kudus adalah Allah. Para Bapa Kapadokia berjuang
untuk membawa gereja kembali menganut pengakuan iman
Konsili Nicea. Augustinus melanjutkan pengertian ini dan
menekankan peran Roh Kudus sebagai Pribadi Ketiga Tritung-

3
PACARAN, PERNIKAHAN, DAN KELUARGA

gal yang menyatakan kasih dari Pribadi Pertama dan Pribadi


Kedua, yaitu Bapa dan Anak.

Karya Roh Kudus dalam Relasi Tritunggal


Augustinus mengatakan bahwa Roh Kudus adalah cinta kasih
yang mengikat antara Pribadi pertama dan Pribadi kedua,
tetapi cinta kasih ini juga adalah Pribadi. Kalimat-kalimat ini
mungkin sangat filosofis, namun sangat penting untuk kita
pahami. Kadang-kadang orang terpaksa menggunakan istilah
filsafat karena ada isi yang penting yang sulit dirumuskan
dengan istilah lain. Kita harus berpikir mengenai tema-tema
penting dalam hidup secara mendalam. Sokrates pernah ber-
debat dengan pedagang di pasar, dan dia mengatakan bahwa
dia bukan kaum Sofis. Dia adalah kaum pecinta kebijaksana-
an—filo-sofia. Dia mengatakan bahwa dia bukan orang yang
sudah tahu kebenaran, tetapi dia adalah orang yang ingin tahu
kebenaran karena mencintai kebenaran. Orang Kristen seha-
rusnya bersikap seperti ini. Seharusnya ada keinginan untuk
mengenal Allah yang benar dan membahas pengenalan akan
Dia dengan definisi yang setepat mungkin mengenai Dia.
Roh Kudus adalah pribadi yang mengikat Bapa dan Anak
dalam relasi kasih yang indah. Bapa dan Anak disatukan oleh
Roh Kudus. Karena Roh Kudus mengikat Bapa dengan Anak,
maka Dia akan melakukan hal yang sama kepada orang-orang
percaya. Dia datang ke dalam dunia untuk menyatukan antara
orang percaya yang satu dengan orang percaya yang lain, dan
antara orang percaya dengan Bapa melalui penebusan Sang
Anak. Roh Kudus mengikat orang percaya untuk bisa ber-
bagian dalam relasi Allah Tritunggal.
Pengertian Tritunggal Augustinus sangat menekankan re-
lasi. Dia menekankan bahwa ada satu Allah dan ada Tiga Relasi
karena ada Tiga Pribadi. Ada relasi antara Bapa dan Anak, dan

4
B A B E M P A T

PERNIKAHAN DAN
SEKSUALITAS

Pengertian Firman dan Penerapannya


dalam Hidup
Di dalam pengertian iman Kristen yang sejati, Firman selalu
terkait dengan realitas hidup. Apa yang kita jalani dalam hidup
adalah menghidupi Firman. Ini poin yang penting sekali untuk
dipahami. Pengertian ini bukan hanya untuk dipahami di da-
lam dunia ide, tetapi untuk dijalankan di dalam hidup. Dalam
pengertian iman Kristen, Firman itulah yang utama, kemudian
baru segala hal yang terkait dengan penerapannya, itulah
hidup.
Waktu Tuhan menyatakan Firman, Tuhan menyatakannya
untuk dihidupi, bukan untuk ditulis lalu dipahami hanya di
dalam pikiran. Orang postmodern menekankan tentang pen-
tingnya teks. Sedangkan, di dalam zaman modern, kehidupan
riil itulah segalanya. Orang-orang postmodern sangat mene-
kankan teks sebagai sesuatu yang riil, dan sesuatu yang ada di
luar teks tidak harus dilihat sebagai sesuatu yang penting atau
yang riil. Orang Kristen tidak perlu merasa terganggu dengan
pengertian ini, karena kita percaya yang riil itu memang teks,
yaitu teks Kitab Suci. Teks Kitab Suci bukanlah sesuatu yang
PACARAN, PERNIKAHAN, DAN KELUARGA

abstrak, tetapi sesuatu yang bisa dijalani dalam hidup. Inilah


anugerah terbesar yang Allah berikan. Saya berikan contoh.
Pernah engkau melihat not balok? Bentuk tulisan not balok
tidak ada gunanya bagi telinga kita, tetapi melalui sentuhan
permainan seorang pianis, teks itu menjadi hidup. Manakah
yang lebih penting? Permainan piano yang membuat teks itu
hidup atau teks itu sendiri? Kita tidak bisa menikmati keindah-
an dari not balok tanpa mengerti apa yang sedang dinyatakan
oleh not-not tersebut. Ketika seorang pianis memainkannya,
barulah kita tahu keindahannya. Demikian juga dengan Firman
Allah.

Firman Allah adalah pernyataan yang


sangat indah yang Allah izinkan
untuk kita mainkan dalam hidup.
Seluruh hidup yang kita jalani adalah
usaha untuk menghidupi Firman.

Itu sebabnya Firman Allah tidak bisa dipahami sebagai


bagian kecil untuk menolong hidup kita jadi lebih baik. Firman
Allah adalah segalanya. Kita lahir di dunia ini untuk meng-
hidupi Firman, menjalani hidup di dalam mengenal Tuhan, dan
menjalaninya dengan cara Tuhan Allah. Allah tidak dengan
kejam dan keras mengatakan manusia harus mengikuti Fir-
man-Nya. Allah menyatakan dengan cara yang penuh kelim-
pahan bahwa manusia boleh menjalankan Firman. Ini adalah
kenikmatan yang besar sekali.

Hidup yang Berinteraksi dengan Firman


Banyak hal di dalam kehidupan menjadi masuk akal dan dapat
dipahami karena kita sudah menginteraksikannya dengan Fir-

62
Pernikahan dan Seksualitas

man. Ternyata banyak hal yang kita lakukan tidak menemukan


keutuhannya ketika kita menjalankannya dengan cara dunia.
Orang-orang postmodern berusaha mereka-reka konsep
salib. Mereka sudah seperempat atau separuh sampai, namun
mereka gagal mencapai garis akhirnya. Mereka berusaha me-
respons budaya dan keadaan yang kacau dengan baik, namun
tidak akan pernah bisa sampai kepada pengertian yang utuh.
Mengapa harus membahas pemikiran postmodern? Karena
kita sedang hidup di zaman postmodern.
Ketika kita memahami Firman, kita akan melihat betapa
relevannya hidup itu untuk disesuaikan dengan Firman. Fir-
man Allah yang dinyatakan di dalam Alkitab memberikan
aspek yang utuh. Seluruhnya menjadi sesuatu yang indah di
dalam gambaran besar yang Alkitab bagikan. Demikian juga
dengan pernikahan, relasi seksual, dan masalah hal kepriaan
dan kewanitaan (manhood dan womanhood).

Apa Kata Alkitab tentang Pria dan Wanita?


Mari kita memahami apa yang Tuhan nyatakan mengenai
menjadi seorang pria dan menjadi seorang wanita. Kitab Suci
mengadopsi konsep umum di dalam budaya lalu memberikan
kritik terhadapnya. Walter Brueggemann mengatakan “Alkitab
punya natur kritik terhadap budaya tetapi tidak menentang,
menghancurkan, atau mengusir sama sekali budaya yang
sudah dibentuk oleh manusia.”
Alkitab menyatakan ada hal-hal yang perlu diubah, tetapi
tetap ada hal-hal yang baik untuk dipertahankan. Demikian
juga tentang menjadi laki-laki dan perempuan. Ada beberapa
aspek dalam kebudayaan yang diambil oleh Alkitab, tetapi
Alkitab memberikan kritik terhadapnya. Di Kitab Kejadian ada
penekanan yang sangat indah bahwa baik laki-laki maupun
perempuan diciptakan menurut gambar Allah.

63
PACARAN, PERNIKAHAN, DAN KELUARGA

Laki-laki dan perempuan setara di hadapan Allah.

Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan pertama kali


dicatat di dalam Alkitab. Ini tema yang penting karena tidak
terdapat di dalam tulisan lain. Kalau orang mengatakan bahwa
Kitab Kejadian adalah Kitab Suci Yahudi, maka kita akan
mengatakan ini juga Kitab Suci Kristen. Ini Kitab Suci Yahudi,
tetapi orang Yahudi hanya mendapat separuh sedangkan
orang Kristen mendapat seluruhnya, yaitu Perjanjian Lama
dan Perjanjian Baru. Kita mempunyai pengertian yang lebih
utuh dari narasi yang lengkap. Apa yang ditulis di dalam Kitab
Kejadian digenapi oleh Kristus di dalam Perjanjian Baru. Inilah
yang tidak dimiliki oleh orang Yahudi.

Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan


Di dalam Kitab Kejadian ada pernyataan tentang kesetaraan
laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan itu setara.
Bahkan, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dinyata-
kan dengan cara yang cukup provokatif bagi budaya zaman itu.
Misalnya, di dalam Kitab Hakim-Hakim muncul seorang hakim
yang bernama Deborah. Tidak ada yang tahu bagaimana
Deborah bisa muncul sebagai hakim, hanya ditulis bahwa pada
waktu itu ada seorang hakim bernama Deborah dan dia meng-
hakimi Israel. Tidak ada penjelasan panjang. Seolah-olah kitab
tersebut mengatakan kepada kita pembacanya untuk “terima
saja” bahwa ada seorang hakim perempuan. Ini adalah bagian
yang sangat mengagetkan, karena sifatnya yang kontrabu-
daya—melawan kebudayaan. Kita perlu tahu bahwa ini bukan
pola yang umum, dan Alkitab tetap menekankan kepemim-
pinan laki-laki.

64
B A B D E L A P A N

PERTENGKARAN, PERANG DINGIN,


DAN PENGAMPUNAN

Konflik selalu terdengar spektakuler dalam kehidupan, namun


tidak demikian nyatanya. Apa itu konflik? Bagaimana pengerti-
an konflik menurut Alkitab dan apa yang harus kita pahami
dari konflik itu? Bagaimana kita mengerti tentang tujuan per-
nikahan dengan adanya konflik yang terjadi di dalamnya?

Pernikahan sebagai
Gambaran Relasi antara Kristus dan Jemaat
Terdapat aspek yang unik dari pernikahan dilihat dari sudut
pandang Alkitab. Pernikahan adalah gambaran relasi antara
Kristus dan jemaat yang ideal atau eskatologis (keadaan final
pada waktu Tuhan menyempurnakan langit dan bumi). Dan
yang kita perjuangkan sekarang adalah pernikahan yang
menjadi gambaran tujuan yang sempurna itu. Tuhan sedang
membentuk pernikahan kita untuk mencerminkan relasi
antara Kristus dan jemaat yang dikuduskan-Nya.
Pernikahan adalah persatuan yang Tuhan sendiri tetapkan
di dalam Kitab Kejadian. Tuhan sendirilah yang menginisiasi
agar Adam dan Hawa diikat oleh perjanjian pernikahan yang
PACARAN, PERNIKAHAN, DAN KELUARGA

melibatkan satu laki-laki dan satu perempuan. Inilah yang


Tuhan maksud. Tidak pernah ada rencana yang lain dari itu.
Tuhan tidak menginginkan manusia menikah laki-laki dengan
laki-laki atau perempuan dengan perempuan, atau manusia
dengan spesies lain. Tidak ada kemungkinan yang lain dari
yang telah disetujui oleh Tuhan.

Kisah Kejatuhan dalam Kitab Kejadian


Tuhan telah menetapkan bahwa pernikahan adalah bagi satu
laki-laki dan satu perempuan. Tetapi kalau kita lihat di dalam
generasi selanjutnya, laki-laki akan mempunyai lebih dari satu
istri. Dimulai dari Lamekh, keturunan Kain yang mempunyai
dua istri, kemudian semakin memuncak pada peristiwa
sebelum air bah. Pada waktu itu dikatakan bahwa anak-anak
Allah melihat anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik,
lalu mereka mengambil dan menikahi para perempuan itu
sekehendak hati mereka. Ada banyak tafsiran tentang peris-
tiwa ini, seperti siapakah anak-anak Allah? Juga siapakah
anak-anak perempuan manusia yang dimaksud? Dari beragam
tafsiran itu, ada satu yang menarik untuk pembahasan kita,
yaitu tafsiran dari Meredith Kline, seorang ahli Perjanjian
Lama dari Westminster Theological Seminary, yang menafsir-
kan bahwa anak-anak Allah yang dimaksudkan pada bagian ini
adalah para raja. Pada zaman dulu, Allah atau anak Allah
sering dipakai sebagai gelar bagi para raja. Ini merupakan
kebiasaan yang juga terlihat di dunia Perjanjian Baru. Kaisar
dari Kekaisaran Romawi juga mendapatkan sebutan sebagai
anak Allah. Jadi, anak Allah itu bisa berarti seorang pemimpin
atau raja, dan anak-anak perempuan manusia itu adalah para
perempuan.
Lalu apakah yang dimaksudkan ketika dikatakan bahwa
anak-anak Allah itu melihat anak-anak perempuan manusia

152
Pertengkaran, Perang Dingin, dan Pengampunan

dan mengambil siapa saja yang mereka inginkan? Yang dimak-


sudkan adalah penggambaran keadaan rusak para pemimpin
dan raja-raja. Sejak Kitab Kejadian, para raja telah digambar-
kan sebagai mereka yang berhak mengambil siapa saja sebagai
istri mereka, siapa saja dan sebanyak yang dia mau. Perem-
puan menjadi objek kesenangan para raja. Semakin tinggi
kedudukan seorang laki-laki, semakin besar kemampuan dia
untuk menikmati banyak perempuan. Ini kerusakan yang
mulai terjadi di dalam zaman Kitab Kejadian.
Tuhan tidak pernah menginginkan satu laki-laki menikah
dengan banyak perempuan, juga tidak menginginkan satu
perempuan menikah dengan banyak laki-laki. Suatu kali ada
demonstrasi di daerah San Fransisco. Ada sebuah spanduk
yang bertuliskan satu slogan yang besar berbunyi, “Rombak
gaya pernikahan yang lama! Tidak lagi satu dengan satu, tetapi
banyak dengan banyak!” Pembawa spanduk kemudian men-
jelaskan arti spanduk itu demikian, “Kenapa tidak boleh empat
laki-laki menikah dengan tujuh perempuan? Atau lima laki-laki
dengan sembilan perempuan? Atau sembilan laki-laki dengan
lima perempuan?” Semakin lama semakin kacau. Namun
Tuhan tidak pernah mengizinkan manusia menafsirkan sendiri
apa itu pernikahan. Maka dari itu kita harus kembali ke tujuan
mula-mula.

Kesulitan yang terjadi di dalam pernikahan


disebabkan oleh kegagalan manusia
memahami tujuan pernikahan.

Alasan menikah yang salah dan tujuan menikah yang salah


tentu akan mendatangkan masalah. Hal ini sama seperti kita
salah naik kereta. Misalkan Saudara salah naik kereta, ingin ke
Jakarta tetapi malah naik kereta ke Surabaya. Bagaimana
solusinya? Pindah gerbong saja. Bisakah ini menolong? Tidak.

153
PACARAN, PERNIKAHAN, DAN KELUARGA

Yang salah adalah seluruh rangkaian kereta. Pindah gerbong


tidak akan mengubah tujuan kita.” Banyak orang ingin meng-
ubah cara komunikasi, cara berelasi, cara ini, cara itu di dalam
pernikahan. Tetapi segala perubahan itu tetap dilakukan di
dalam pengertian yang salah mengenai tujuan pernikahan.
Kesalahan mengerti tujuan ini tidak bisa diperbaiki dengan
mengubah cara ini atau itu di dalam pernikahan. Seseorang
yang salah memahami arti dan tujuan pernikahan harus
mengubah arti dan tujuan terlebih dulu, baru bisa memper-
baiki hal-hal lain di dalam kehidupan pernikahannya. Salah
satu tujuan pernikahan adalah bagaimana relasi antara suami
dan istri itu diarahkan kepada relasi antara Kristus dan
jemaat. Pernikahan harus dibina dan diperjuangkan supaya
semakin mampu membuat relasi antara Kristus dan jemaat-
Nya tercermin ke dalam dunia ini.

Status dan Fakta dari Kekudusan Kita


Seperti yang Paulus katakan di Efesus 5, Yesus mengasihi
gereja-Nya, menebus-Nya, menyucikan-Nya supaya kudus dan
tak bercacat. Kita sudah memiliki status kudus, tetapi kita
sedang dalam proses menjadi kudus secara praktik. Maka kita
tidak perlu mengkhawatirkan pandangan orang lain ketika
mencibir kita yang mementingkan kekudusan dalam hidup.
Orang akan mencibir karena kita “sok kudus,” atau mencibir
karena kita jatuh dan gagal menjadi kudus. Tetapi nanti di
dalam keadaan final, yaitu ketika Yesus datang untuk kedua
kalinya, Ia akan menunjukkan keberhasilan-Nya dalam me-
nguduskan umat-Nya dengan sempurna. Tentu saja kita tidak
boleh menjadikan ini sebagai cara untuk membenarkan diri
dan tidak mau berjuang untuk hidup benar. Hidup benar ini
jugalah yang kita perjuangkan di dalam pernikahan. Hidup
pernikahan yang diperjuangkan menikmati relasi Kristus dan

154
B A B S E P U L U H

MENGENAL DIRIKU
MELALUI PERNIKAHAN

Di sebuah kelas, di depan murid-murid theologi, Martin Luther


membagikan hal-hal yang akan membentuk seseorang men-
jadi seorang theolog yang baik. Luther menyebutkan ada enam
hal. Dua dari antara enam hal itu akan kita bahas sekarang.
Yang pertama, Luther mengatakan bahwa seorang theolog
yang baik adalah orang Kristen yang mendapatkan anugerah
Roh Kudus. Ada Gratia Spiritus—anugerah dari Roh Kudus
Tuhan. Ini sepertinya bukan hal yang baru. Kita sering men-
dengar bahwa orang Kristen harus dipimpin oleh Roh Kudus.
Orang Kristen adalah orang-orang yang mendapatkan anu-
gerah keselamatan, bimbingan, dan bentukan dari Roh Kudus.
Tetapi yang menarik adalah Martin Luther memberikan fon-
dasi ayat bagi pengertian ini dari Kitab Kejadian pasal dua,
yakni ketika Tuhan menciptakan manusia.

Pembentukan dari Anugerah Roh Kudus


Di dalam Kejadian 2, Tuhan membentuk manusia dari debu
tanah, kemudian Tuhan meniupkan napas hidup. Tuhan mem-
berikan Roh dan manusia itu menjadi manusia yang hidup.
PACARAN, PERNIKAHAN, DAN KELUARGA

Pada bagian ini Luther menafsirkan bahwa Roh Kudus itulah


yang membuat manusia menjadi manusia yang utuh. Bagi
Martin Luther, Roh Kuduslah yang membawa manusia itu
kepada kesempurnaan.

Hal penting dari karya Roh Kudus adalah


Roh Kuduslah yang membawa manusia
kepada kesempurnaan.

Dalam Yehezkiel 37 ada narasi tentang Tuhan membawa


Yehezkiel ke tengah sebuah lembah. Dari situ Yehezkiel meli-
hat lembah yang dipenuhi banyak tulang belulang manusia,
tulang belulang yang amat banyak dan amat kering. Tuhan
bertanya kepada Yehezkiel, “Hai anak manusia, apakah tulang-
tulang ini bisa dihidupkan kembali?” Yehezkiel menjawab, “Ya
Tuhan ALLAH, Engkaulah yang mengetahui!” Lalu Tuhan
memerintahkan Yehezkiel untuk berseru supaya tulang belu-
lang ini kembali mempunyai otot, darah, dan kulit. Kemudian,
tulang belulang ini mulai bergerak dan bersatu. Tetapi tetap
belum ada kehidupan. Tuhan pun memerintahkan Yehezkiel
untuk berseru, “Beginilah firman Tuhan ALLAH ...: Aku
memberi nafas hidup [Ibrani: ‫ח‬ ַ ‫ָר֑וּ‬
‫( ה‬ha-ruach, Sang Roh)] di
dalammu, supaya kamu hidup kembali.”
Yehezkiel sungguh tidak mengerti, tetapi dia tetap bertin-
dak menaati Tuhan. Tuhan menyuruh dia untuk berkata-kata,
tetapi dia tidak tahu efek dari kata-katanya. Seorang theolog
bernama Michael Welker mengatakan bahwa ini menandakan
bahwa Roh Kudus tidak diikat oleh perkataan dan inisiatif
manusia. Roh Kudus adalah Roh Allah dan inisiatif Dia tidak
tergantung pada inisiatif manusia. Tuhan menaruh Firman
dalam mulut Yehezkiel dan Tuhan menyuruh Yehezkiel ber-
firman, “Hai, Nafas Hidup,” atau “Hai, Sang Roh, masuklah ke
dalam orang-orang ini.” Kemudian Tuhan mengutus Roh-Nya

218
Mengenal Diriku melalui Pernikahan

masuk, dan Tuhan membuat tulang belulang ini hidup kembali.


Ini pemandangan yang sangat spektakuler. Yehezkiel pasti
mendapat penghiburan besar, karena ternyata tulang belulang
ini melambangkan seluruh orang Israel yang sudah seperti
tulang yang telah kering. Ternyata tulang yang sudah sangat
kering ini pun bisa dihidupkan kembali. Di dalam bagian awal
dari Kitab Yehezkiel, Tuhan menyatakan kepada Yehezkiel
bahwa Israel itu sudah tinggal tulang, tidak ada daging lagi.
Merek sudah tidak ada harapan, mereka sudah lama mati.
Tetapi lihatlah pekerjaan Roh Kudus. Tulang belulang ini bisa
dihidupkan kembali!
Demikian juga Roh Kudus di dalam tafsiran Luther terha-
dap Kejadian 2. Roh Kuduslah yang membuat manusia men-
jadi hidup dalam penciptaan. Manusia berada pada pada ben-
tuk finalnya yang penuh kehidupan oleh karena pekerjaan
Roh. Betapa sempitnya pembahasan tentang Roh Kudus jika
melulu hanya dikaitkan dengan status keselamatan saja dan
akhirnya pekerjaan Roh Kudus di dalam hal-hal yang lain
sering dilupakan. Roh Kudus adalah Roh yang membawa ma-
nusia ke dalam tahap final dari penciptaan manusia.

Roh Kudus Adalah Roh yang Membentuk Manusia


Masuk ke dalam Tahap Final
Tafsiran Luther ini membahas tentang adanya pola waktu
Tuhan menciptakan manusia. Tuhan membentuk dia dari
tanah, dan Tuhan meniupkan kepada dia nafas hidup. Setelah
nafas hidup itu masuk, maka Adam menjadi manusia yang
hidup. Pembahasan tentang penciptaan manusia ini tidak ber-
bicara soal dualisme antara fisik dan roh. Sama sekali bukan
tentang hal itu. Pembahasan ini sedang berbicara bahwa Roh
Kudus adalah yang mengerjakan tahap akhir dari penciptaan
manusia. Setelah Roh Kudus bekerja, Adam menjadi manusia

219
PACARAN, PERNIKAHAN, DAN KELUARGA

yang hidup. Ini juga yang dikatakan oleh Paulus. Kalau Adam
dari tanah menjadi hidup, maka Kristus adalah Roh yang
menghidupkan itu (1 Korintus 15:45). Dan di dalam bagian
lain Paulus mengatakan, “Dan jika Roh Dia, yang telah
membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam
kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari
antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang
fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu” (Roma 8:11).
Kebangkitan tubuh kita itu adalah keadaan finalnya. Kita
sedang menjalani tahap pembentukan sekarang, lalu kita mati,
setelah itu dibangkitkan oleh Roh Kudus di dalam keadaan
yang tidak binasa lagi. Inilah keadaan sempurna yang Tuhan
rancang, dan yang mengerjakan bagian finalnya adalah Roh
Kudus. Sebab itu dinyatakan oleh Paulus bahwa jika Roh
Kudus dari Allah yang membangkitkan Kristus ada di dalam
diri kita, maka sama seperti Kristus bangkit, kita juga akan
bangkit.
Roh Kudus adalah Roh yang membawa status keadaan
final kita untuk saat ini. Diri-Nya sendiri adalah meterai dari
kepastian janji keadaan final ini (Efesus 1:13). Keadaan final
kita akan terjadi oleh karena Kristus telah menjadi Jurusela-
mat kita, tetapi kita belum mengalaminya sekarang. Lalu, apa
yang bisa memastikan kita bahwa Tuhan akan membawa kita
ke dalam keadaan final itu? Roh Kudus! Bagaimana Roh Kudus
bisa menjadi jaminan? Dengan diri-Nya menjadi meterai akan
kesempurnaan kita nanti. Roh Kudus yang menjadikan kita
milik Allah, Roh Kudus yang membentuk kita menuju kesem-
purnaan, dan Roh Kudus yang menjadi jaminan bagi kesem-
purnaan itu.
Oleh karena itu, siapa saja yang sudah ada di dalam
Kristus, dia adalah ciptaan baru (2 Korintus 5:17). Yang lama
sudah berlalu dan yang baru sesungguhnya sudah datang.
Kesempurnaan dari yang baru itulah yang Roh Kudus bawa di

220
B A B D U A B E L A S

PERNIKAHAN DAN
KEHIDUPAN SOSIAL

Martin Luther adalah seorang theolog yang berjuang untuk


mengaitkan theologinya ke dalam hal-hal yang sehari-hari dan
praktis. Salah satu motivasi yang mendorong Luther untuk
membagikan theologinya secara praktis adalah karena pada
zaman itu ada pembedaan antara orang awam dengan orang
yang terpelajar (kaum klerus atau rohaniwan). Pada waktu itu
theologi bukan untuk semua orang, tetapi hanya untuk para
kaum terpelajar. Karena itu, Luther berusaha untuk meng-
gumulkan bagaimana theologi ini bisa diberikan untuk semua
orang. Hal ini menjadi satu dobrakan dari reformasi, baik dari
Luther maupun Zwingli.
Zwingli memberikan penekanan terhadap perlunya mem-
bawa pelajaran Alkitab di universitas kepada jemaat. Jadi, di
dalam konsep reformasi, pemisah antara orang yang men-
dalami theologi dengan orang awam harus dikurangi dengan
pendidikan. Itu sebabnya, baik Luther maupun Zwingli mem-
bawa pelajaran theologi yang ada di universitas untuk diajarkan
dan dipahami oleh jemaat awam.
PACARAN, PERNIKAHAN, DAN KELUARGA

Pernikahan dalam Kehidupan Bermasyarakat


Martin Luther mengaitkan pengertian berkeluarga dengan
bermasyarakat dalam tulisannya yang berjudul The Estate of
Marriage (“Keadaan Pernikahan”). Tulisan tersebut meng-
alami beberapa perbaikan atau perubahan konsep di tahun
1522. Beberapa aspek yang Luther bagikan, antara lain, bahwa
pernikahan itu tidak bisa disoroti hanya di dalam pernikahan
itu sendiri. Biasanya orang memikirkan tentang pernikahan
antara dirinya dan calon suami/istri, lalu punya anak, dan
menjadi keluarga yang bahagia. Tetapi bagi Luther, keluarga
adalah tempat di mana kita menggumulkan bagaimana hidup
di tengah-tengah manusia lain, di tengah-tengah masyarakat
dengan cara yang dari Tuhan. Jadi, keluarga haruslah meng-
gumulkan hal ini dengan memperhatikan lingkungan yang
lebih luas di mana dia berada. Bagi Martin Luther, pengajaran
yang membuat theologi itu menjadi satu sisi, yaitu “hanya saya
dan Tuhan” dan tidak mempertimbangkan aspek sosial bukan-
lah theologi yang baik dan benar.

Theologi dan Pemikiran Sosial


Pengajar etika di Seattle University, Stephen Chan, mengatakan
bahwa Alkitab adalah buku yang sangat politis. Alkitab mem-
berikan pengajaran tentang apa itu kuasa di dalam kerajaan
dan bangsa-bangsa. Alkitab juga memberikan prinsip mengenai
apa itu menjadi raja. Alkitab juga menceritakan tentang intrik
dan juga kejadian yang terjadi di dalam kasus para raja. Jadi,
Alkitab adalah buku yang sangat bersifat politik.
Itu sebabnya ketika orang Kristen menjadi orang yang
mendualismekan kehidupan sosial dengan kehidupan theologi
atau kehidupan rohaninya, maka theologi itu menjadi lumpuh.
Theologi tidak mampu berbicara di tengah masyarakat karena
theologi sudah disterilkan dari berbicara kepada masyarakat.

264
Pernikahan dan Kehidupan Sosial

Theologi menjadi subjek yang hanya berbicara tentang kenya-


manan diri di hadapan Tuhan, dan bungkam untuk hal-hal
yang lain.

Jadi, di dalam konsep Reformasi,


pemisah antara orang yang mendalami theologi
dan orang awam harus dikurangi
dengan pendidikan.

Aspek lainnya adalah theologi harus berbicara atau ber-


suara kepada publik. Memang benar gereja tidak harus, bah-
kan tidak boleh menjalankan politik praktis, misalnya menya-
takan dukungan kepada salah satu calon atau pendeta sendiri
berpolitik dan menggerakkan gerejanya untuk mendukung
dia. Pendeta yang ingin berpolitik harus mundur dari pekerja-
an dan jabatannya di gereja. Jadi, gereja tidak berpolitik secara
praktis, tetapi gereja harus mempunyai konsep politik yang
benar yang berasal dari Firman Tuhan dan mewartakannya
untuk membentuk pengertian jemaat, dan mengkhotbahkan-
nya untuk menggerakkan jemaat yang memiliki panggilan di
bidang politik untuk berjuang.
Inti dari kaitan antara Firman dan kehidupan politik sebe-
narnya sederhana, yaitu bahwa Tuhan menginginkan manusia
hidup dalam komunitas, dan karena itu, komunitas harus
diatur. Lalu, bagaimana mengatur komunitas? Misanya, teori
sosial, teori politik, dan teori etika menyatakan konsepnya
masing-masing. Maka theologi pun harus punya sumbangsih
untuk menyatakan sesuatu, yaitu sesuatu yang akan berkaitan
dengan yang lain namun unik dibandingkan dengan yang lain.
Kekristenan harus menawarkan sesuatu yang berkaitan de-
ngan agama lain, namun unik dibandingkan dengan agama
lain. Jadi, kita bisa membawakan sesuatu yang signifikan, se-
suatu yang akan didengar oleh orang karena tidak akan dida-

265
PACARAN, PERNIKAHAN, DAN KELUARGA

pat dari yang lain namun tetap relevan kalau didiskusikan de-
ngan yang lain.
Jangan bangga kalau kita membawa pembahasan yang
tidak terkait sama sekali dengan yang lain. Misalnya saat kita
duduk dengan orang-orang dari agama lain atau tokoh-tokoh
etika atau filsafat atau yang lain, lalu membicarakan tentang
kerajaan. Apakah yang dimaksud dengan kerajaan? Lalu yang
beragama Islam memberi pendapat, pakar etika memberi
pendapat, dan para filsuf memberi pendapat. Lalu ketika gilir-
an orang Kristen memberikan pendapat, malah mengatakan
bahwa “Kerajaan itu milik setan, Tuhan tidak suka raja-raja,
Tuhan tidak suka berpolitik, yang penting kita cepat-cepat
mati dan masuk sorga.” Ini pembahasan yang tidak berkaitan.
Kita harus menemukan pembahasan yang unik, tetapi ber-
kaitan dengan yang lain, yang membuat orang lain mengang-
guk-ngangguk dan ingin berpikir lebih lanjut tentang hal
tersebut. Tetapi ini tentunya bukan berarti kita mengemuka-
kan sesuatu karena kita meniru teori yang lain.
Di Jerman ada seorang bernama Michael Welker. Dia men-
dorong orang-orang baik yang ada di Princeton maupun di
tempat dia mengajar di Heidelberg, supaya ada komunitas
para sarjana/cendekiawan, komunitas para doktor yang pin-
tar-pintar untuk saling berdiskusi di dalam tema yang berbeda
tetapi saling berkaitan. Dalam diskusi tersebut mereka yang
berasal dari bidang-bidang yang berbeda, masing-masing ha-
rus membawa pembahasan yang unik namun akan relevan
untuk didiskusikan dengan yang lain.

Martin Luther membagikan kepada kita


bahwa pernikahan adalah tempat di mana Tuhan
mau bekerja untuk memberkati sebuah masyarakat.

266