Anda di halaman 1dari 6

TUGAS RESENSI BUKU

“ADVOKASI DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA”


UNTUK MEMENUHI TUGAS TERSTRUKTUR 1

Oleh :
Nama : Widya Vida Pertiwi
NIM : 196010200111042

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS HUKUM
PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN
MALANG
2019
Judul Buku : Advokasi dan Alternatif Penyelesaian Sengketa
Pengarang Buku : Rachmad Safa’at
Penerbit Buku : Surya Pena Gemilang
Tahun Terbit : 2016
Jumlah halaman : 349 halaman

Rachmad Safa’at adalah seorang Dosen di Fakultas Hukum Universitas


Brawijaya. Lahir di Surabaya, tanggal 5 Agustus 1962. Menyelesaikan pendidikan
Stratum I di Universitas Brawijaya Malang (1986) bidang Ilmu Hukum, kemudian
tahun 1991 melanjutkan studi ke Universitas Indonesia untuk mendalami bidang
studi Ilmu Ekologi pada Program Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia selesai
tahun 1995. Menyelesaikan Studi Doktor Ilmu Hukum pada Program Doktor Ilmu
Hukum Universitas Diponegoro Semarang (2011). Sampai saat ini aktif dalam
kegiatan advokasi dan pendampingan buruh, petani, nelayan, dan perempuan serta
memberikan ceramah di bidang ilmu hukum, studi wanita, buruh, lingkungan
hidup, metode penelitian serta advokasi dan penyelesaian sengketa di luar
peradilan, dan melakukan berbagai penelitian. Berbagai karya ilmiah telah
dihasilkan, antara lain Advokasi dan Pilihan Penyelesaian Sengketa; Latar
Belakang, Konsep, dan Implementasinya, Yayasan Pembangunan Nasional
Malang (2006), Strategi Penelitian dan Penulisan Ilmu Hukum, Advokasi Hak-
Hak Dasar Buruh, dan Negara, Masyarakat Adat, dan Kearifan Lokal.

Buku Advokasi dan Alternatif Penyelesaian Sengketa ini menjelaskan


tentang fungsi dan peran lembaga peradilan yang seakan-akan telah bergeser
maknanya. Pergeseran makna ini berimplikasi pada proses penyelesaian sengketa
yang terjadi di masyarakat. Lembaga Peradilan yang seharusnya dijadikan sebagai
tempat mencari keadilan telah bergeser menjadi “Mafia Peradilan”. Praktek mafia
peradilan semakin terbuka, hingga resistensi masyarakat muncul untuk menyikapi
putusan yang tidak adil ini. Buku ini menjelaskan mengenai model alternatif
penyelesaian sengketa di luar pengadilan, karena penyelesaian sengketa di dalam
pengadilan dirasa mahal, lama, dan bahkan putusannya dirasa jauh dari keadilan.

Hukum di negara Indonesia tengah memasuki titik terendah dari apa yang
disebut dengan hilangnya ruhani hukum, kehidupan hukum yang tidak imajinatif,
semrawut, dan kumuh. Hukum yang demikian tidak memiliki kekuasaan untuk
menata dirinya dan berada pada titik keberantakan. Hal ini juga berimbas pada
lembaga peradilan yang mengalami pergeseran peran dan otomatis produk
lembaga peradilan tersebut mengalami krisis. Kondisi tersebut harus diperbaiki
dengan dilakukannya reformasi hukum guna mengontrol jalannya lembaga
peradilan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah meningkatkan peran dan
kapasitas eksaminasi publik. Lembaga eksaminasi publik memberikan kontribusi
yang sangat signifikan dengan upaya Mahkamah Agung untuk melakukan
pengawasan terhadap kinerja hakim. Tim eksaminasi publik dapat dibentuk oleh
masyarakat yang memiliki keahlian hukum. Kasus yang dapat dieksaminasi bisa
kasus pidana, perdata maupun niaga, namun di luar bidang tersebut tetap
dimungkinkan asal sudah diputus oleh hakim.

Konflik atau perselisihan nyaris tidak terpisah dari fenomena kehidupan


manusia di dalam kehidupan bermasyarakat. Konflik atau sengketa dapat
diselesaikan melalui mekanisme litigasi, nonlitigasi maupun advokasi. Ketiga
mekanisme penyelesaian sengketa tersebut memiliki cakupan yang sangat luas.
Teknik advokasi dan mediasi merupakan satu model penyelesaian sengketa
nonlitigasi. Menariknya di halaman 49 buku ini, dijelaskan pengertian mediasi
sebagai suatu proses negosiasi pemecahan konflik atau sengketa di mana pihak
luar atau pihak ketiga (mediator) yang tidak memihak, bekerjasama dengan pihak
yang bersengketa atau berkonflik untuk membantu memperoleh kesepakatan
perjanjian dengan memuaskan. Sedangkan Advokasi merupakan media yang
digunakan dalam rangka mencapai tujuan tertentu secara sistematis dan
terorganisasi untuk mempengaruhi dan mendesakkan terjadinya perubahan dalam
kebijakan publik secara bertahap dan maju (dapat dibaca pada halaman 55).
Dengan adanya kedua alternatif penyelesaian sengketa nonlitigasi tersebut
menguntungkan bagi semua golongan masyarakat khususnya masyarakat yang
tersingkir dan terpinggirkan dalam proses pembangunan.

Pada buku ini juga dijelaskan terkait dengan pendekatan dan metode PAR
yang berkembang sangat cepat dan pesat di kalangan masyarakat. PAR banyak
dikenal dan digunakan oleh kalangan LSM atau Ornop dan perguruan tinggi. PAR
merupakan pendekatan dan metode yang memungkinkan masyarakat untuk saling
berbagi, meningkatkan, dan menganalisis pengetahuan mereka tentang kondisi
dan kehidupannya, membuat rencana dan kemudian bertindak bersama. Fokus
utama penggunaan metode PAR diarahkan pada keprihatinan dan keberpihakan
pada masalah kemiskinan dan ketidakadilan baik kultural maupun struktural.

Pemberdayaan masyarakat merupakan sebuah keharusan karena


pemberdayaan didasarkan pada prinsip pemihakan kepada kelompok masyarakat
marjinal, tertindas, dan mereka berada pada lapisan bawah sruktur sosial. Dalam
pemberdayaan, berbagai teknik dapat dipergunakan,yaitu (1) agitasi (upaya untuk
mengungkap bagian yang terselubung), provokasi (tindakan agitasi yang
bertujuan merangsang/memberi stimulasi kesadaran kritis), dan propaganda
(meode penyebar luasan doktrin dan prinsip yang bersifat relijius), (2) infiltrasi
(cara masuk dan bekerja di emapt musuh), dan (3) pengorganisasian (memperkuat
rakyat untuk mandiri dan mengenali pesoalan agar tercipta sebuah jalan keluar).

Selain itu di dalam buku ini, juga dijelaskan terkait dengan ADR, di mana
ADR (alternative to adjudication) merupakan alternatif penyelesaian sengketa
nonlitigasi melalui proses negosiasi, mediasi, konsiliasi, dan arbitrase. Pada
halaman 93 dijelaskan secara singkat arti dari negosiasi yaitu sebagai suatu teknik
mempengaruhi dan meyakinkan pihak lain untuk menggunakan kemampuan yang
ada demi menyelesaikan suatu konflik. Beda halnya dengan Arbitrase yang mana
arbitrase merupakan alternatif penyelesaian sengketa yang berfokus pada sengketa
buruh. Menurut Pasal 1 angka (1) UU No. 30 Tahun 1999, menjelaskan Arbitrase
sebagai cara penyelesaian suatu perkara perdata di luar peradilan umum yang
didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak
yang bersengketa.

Buku ini juga menjelaskan mengenai kelestarian sumberdaya, perizinan,


retribusi, dan andon yang merupakan suatu permasalahan di sektor kelautan dan
pesisir. Salah satu upaya perubahan hukum dapat dimulai melalui perubahan
paradigmatik dalam pengelolaan sumberdaya kelautan dan pesisir. Peran
pemerintah, baik pusat, provinsi, kabupaten, dan kota sangat diperlukan. Selain itu
penguatan dan pengembangan pranata organisasi masyarakat lokal di daerah
pesisir juga perlu terus dilakukan secara intensif dan berkesinambungan agar
masyarakat memiliki posisi tawar yang memadai baik dalam penyelesaian konflik
atau mempertahankan hak untuk mengakses sumberdaya pesisir dan lautan guna
menjamin tingkat kesejahteraan hidup.

Pada buku ini juga dijelaskan mengenai upaya penyelesaian sengketa


kasus ketidakadilan gender dengan cara feminis atau para ahli hukum membangun
sistem hukum berperspektif perempuan, antara lain pembaruan hukum, advokasi
bidang hukum, dan melakukan pendidikan hukum. Hal ini membawa dampak
besar bagi kaum perempuan. Sehingga saat ini mulai banyak bermunculan kaum
perempuan telah masuk dan bermain pada ranah wilayah struktur politik.
Kendatipun demikan, masih banyak juga ditemukan kasus trafficking perempuan
dan anak. Kejahatan trafficking sering kali dilakukan secara terorganisasi, artinya
tidak dilakukan oleh pelaku tunggal atau perseorangan. Pemerintah harus segera
mengambil tindakan untuk kasus trafficking ini agar kaum wanita dan anak bisa
merasa aman karena terlindunginya hak-hak mereka.

Selanjutnya pada buku ini dijelaskan terkait dengan keberadaan hukum


perburuhan dan ketenagakerjaan merupakan upaya perlindungan hukum bagi PRT
yang bekerja di sektor domestik dalam negeri. Selain itu PRT sendiri juga harus
mengubah format gerakan dari model gerakan buruh yang eksklusif menuju pada
gerakan sosial. Hal itu bertujuan terjaminnya perlindungan hukum bagi mereka.
Buku ini juga membahas mengenai perbedaan nama biro hukum pemerintah yang
berdampak pada variasi pembebanan tugas, kewenangan, peran, dan fungsi
lembaga tersebut. Padahal biro hukum pemerintahan harus bisa mewujudkan
otonomi daerah dan good governance. Good governance sendiri ditegakkan atas
tiga pilar utama, yaitu public accuntability, transparancy, dan participation. Akan
tetapi public governance hanya terfokus pada salah satu pilar saja yaitu
participation, sedangkan dua pilar yang lain tidak.

Di dalam buku ini juga dijelaskan bahwa partisispasi masyarakat terkait


penyusunan ranperda memiliki makna yang penting karena : Pertama, dalam
menjaring pengetahuan, keahlian, atau pengalaman masyarakat sehingga perda
dibuat dengan baik; Kedua, menjamin perda sesuai dengan kenyataan dan
kebutuhan masyarakat; Ketiga, menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab;
keempat, mengakomodasi aspirasi masyarakat daerah.
Setelah membaca keseluruhan buku ini, ada banyak kelebihan yang
terkandung di dalam buku “Advokasi dan Alternatif Penyelesaian Sengketa” ini.
Kelebihan buku ini adalah cover buku sesuai dengan isi materi yang terkandung,
bahasanya mudah dimengerti, tidak hanya ditujukan pada mahasiswa saja, tetapi
juga masyarakat umum bisa dengan mudah mengetahui inti dari buku ini dengan
membacanya. Selain itu kelebihan dari buku ini adalah mampu memberikan
informasi tentang Pratek mafia peradilan dan Eksaminasi Publik, Penjelasan dari
konsep, metode, dan strategi pengorganisasian, Tujuan dan alternatif penyelesaian
sengketa, Macam-macam konflik hukum dan segala bentuk penyelesaiannya,
Strategi pemberdayaan perempuan di bidang hukum, politik, HAM, dan
perburuhan., Revitalisasi biro hukum pemerintah dan bagaimana partisipasi
masyarakat dalam penyusunan perda, dan tak kalah pentingnya di dalam buku ini
juga dijelaskan mengenai Terorisme, kearifan lokal, dan perlindungan lingkungan.

Buku ini layak dibaca karena di dalamnya memberikan atau memuat


informasi-informasi penting terkait dengan penjelasan advokasi dan alternatif
penyelesaian sengketa yang lengkap sehingga cocok untuk pegangan mahasiswa
fakultas hukum supaya bisa lebih mendalami konflik-konflik hukum dan
mengetahui bagaimana alternatif penyelesaiannya dan dapat dipraktikkannya
dengan benar. Tidak hanya diperuntukkan untuk mahasiswa fakultas hukum dan
para ahli hukum tetapi buku ini juga dianjurkan untuk dibaca oleh semua
golongan masyarakat agar mereka juga mengetahui dan memahami apa yang
disebut dengan sengketa dan bagaimana upaya penyelesaiannya. Jadi apabila
suatu saat mereka tengah dihadapkan pada persoalan terkait dengan sengketa,
mereka setidaknya sudah sedikit paham dan tidak asing lagi sekaligus mereka
mengetahui upaya yang harus mereka lakukan.