Anda di halaman 1dari 8

Partisipasi dan Konsultasi K3 (Keselamatan dan Kesehatan

Kerja)
Perusahaan mengikutsertakan seluruh personil di bawah kendali perusahaan untuk
berperan aktif dalam partisipasi dan konsultasi mengenai penerapan K3 di tempat kerja.

Partisipasi/konsultasi personil dapat dilakukan secara berkelompok maupun individu.


Partisipasi secara kelompok dapat dilaksanakan melalui rapat (pertemuan) yang
dijadwalkan secara rutin maupun non-rutin oleh Perusahaan atau Manajemen
Representatif penerapan K3 di tempat kerja. Sedangkan partisipasi/konsultasi secara
individu dapat dilaksanakan melalui menghubungi langsung Manajemen Representatif
penerapan K3 di tempat kerja untuk dikonsultasikan lebih lanjut ke Manajemen Atas atau
dapat dilaksanakan melalui media lain yang telah disiapkan Manajemen Perusahaan.
Partisipasi/konsultasi secara individu juga dapat dilaksanakan melalui rapat (pertemuan)
K3 rutin maupun non-rutin.

Ilustrasi Partisipasi & Konsultasi K3

Partisipasi/konsultasi juga melibatkan pihak luar seperti pengunjung, tamu, kontraktor


ataupun pemasok maupun pihak ke tiga yang bekerja sama dengan Perusahaan dalam hal-
hal yang berkaitan dengan penerapan K3 di wilayah perusahaan.

Partisipasi/konsultasi personil dapat meliputi hal-hal


sebagai berikut :
1. Konsultasi mengenai pilihan dalam pengendalian bahaya di tempat kerja.
2. Rekomendasi peningkatan kinerja K3.
3. Konsultasi mengenai perubahan-perubahan yang dapat mempengaruhi penerapan K3 di
tempat kerja yang dapat menimbulkan bahaya baru atau bahaya tidak biasa lainnya.
Partisipasi/konsultasi dengan pihak luar meliputi hal-
hal sebagai berikut :
4. Bahaya-bahaya baru atau bahaya tidak biasa lainnya di tempat kerja.
5. Perubahan manajemen (perubahan pengendalian, operasi, material/bahan/alat/mesin,
tanggap darurat, peraturan dan persyaratan lainnya).
6. Bahaya-bahaya lain yang dapat mempengaruhi wilayah sekitar Perusahaan maupun
yang bersumber dari wilayah sekitar Perusahaan.



• 12/08/13--22:47: Program Zero Accident (Kecelakaan Nihil) di Tempat Kerja

Program zero accident (kecelakaan nihil) ialah tanda penghargaan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja yang diberikan pemerintah kepada manajemen perusahaan yang telah
berhasil dalam melaksanakan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja sehingga
mencapai nihil kecelakaan (zero accident).

Penghargaan Zero Accident

Penghargaan zero accident (kecelakaan nihil) diberikan kepada perusahaan yang telah
berhasil mencegah terjadinya kecelakaan kerja di tempat kerjatanpa menghilangkan
waktu kerja.

Penghargaan zero accident (kecelakaan nihil) diberikan dalam bentuk piagam dan plakat
yang ditetapkan melaui Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia.

Dasar Hukum pelaksanaan program zero accident


(kecelakaan nihil) di tempat kerja antara lain :
1. Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
2. Undang-Undang No 13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan.
3. Permenaker RI No 5 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja.
4. Permenaker RI No 3 Tahun 1998 tentang Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan
Kecelakaan.
5. Kepmenaker RI no 463 Tahun 1993 tentang Pola Gerakan Nasional Membudayakan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Kriteria/kategori/kelompok Perusahaan peserta


program zero accident (kecelakaan nihil) di tempat
kerja antara lain :
6. Perusahaan Besar : jumlah tenaga kerja keseluruhan lebih dari 100 (seratus) orang.
7. Perusahaan Menengah : jumlah tenaga kerja keseluruhan antara 50 (lima puluh) orang
sampai dengan 100 (seratus) orang.
8. Perusahaan Kecil : jumlah tenaga kerja keseluruhan sampai dengan 49 (empat puluh
sembilan) orang.

Kriteria/kategori/kelompok kecelakan kerja yang


menghilangkan waktu kerja menurut program zero
accident (kecelakaan nihil) antara lain :
9. Kecelakaan kerja yang menyebabkan tenaga kerja tidak dapat kembali bekerja dalam
waktu 2 x 24 jam.
10. Kecelakaan kerja ataupun insiden tanpa korban jiwa (manusia/tenaga kerja) yang
menyebabkan terhentinya proses/aktivitas kerja maupun kerusakan
peralatan/mesin/bahan melebihi shift kerja normal berikutnya.

Tidak termasuk dalam kriteria/kategori/kelompok


kecelakaan kerja yang menghilangkan waktu kerja
menurut program zero accident (kecelakaan nihil) di
tempat kerja antara lain :
11. Kehilangan waktu kerja akibat kecelakaan kerja karena perang, bencana alam ataupun
hal-hal lain di luar kendali perusahaan.
12. Kehilangan waktu kerja karena proses medis tenaga kerja.

Perhitungan kehilangan waktu kerja akibat kecelakaan


kerja menurut program zero accident (kecelakaan nihil)
di tempat kerja antara lain dapat dijabarkan sebagai
berikut :
13. Kehilangan waktu kerja karena bagian tubuh cacat tetap (permanen) :

Tangan dan Jari Tangan (hari)


Amputasi seluruh atau sebagian dari Ibu
Telunjuk Tengah Manis Kelingking
tulang Jari

Ruas ujung 300 100 75 60 50

Ruas tengah - 200 150 120 100

Ruas pangkal 600 400 300 240 200

Telapak (antara jari-jari dan pergelangan) 900 600 500 450 -

Tangan sampai pergelangan 3000

14.

Kaki dan Jari Kaki (hari)


Amputasi seluruh atau sebagian dari tulang Ibu Jari Jari-Jari Lainnya

Ruas ujung 150 35

Ruas tengah - 75

Ruas pangkal 300 150

Telapak (antara jari-jari dan pergelangan) 600 350

Kaki sampai pergelangan 2400

15.

Lengan (hari)
Tiap bagian dari pergelangan sampai siku 3600

Tiap bagian dari atas siku sampai sambungan bahu 4500

16.

Tungkai Kaki (hari)


Tiap bagian dari atas mata kaki sampai lutut 3000
Tiap bagian dari atas lutu sampai pangkal paha 4500

17.

Kehilangan Fungsi (hari)


Satu mata 1800

Kedua mata dalam satu kasus kecelakaan kerja 6000

Satu telinga 600

Kedua telinga dalam satu kasus kecelakaan kerja 3000

18.

Lumpuh Total & Kematian (hari)


Lumpuh total permanen 6000

Kematian 6000

19. *catatan : untuk setiap luka ringan dimana tidak terdapat amputasi tulang, maka
kerugian hari kerja ialah jumlah sesungguhnya selama tenaga kerja tidak mampu
bekerja.
20. Kehilangan waktu kerja dimana tenaga kerja tidak mampu bekerja kembali pada shift
normal berikutnya sesuai jadwal kerja.

Perhitungan keseluruhan jam kerja dimulai sejak terjadinya kecelakaan kerja (insiden)
yang dapat mengakibatkan angka perhitungan jam kerja menjadi 0 (nol) yaitu kriteria
kecelakaan kerja yang menghilangkan waktu kerja, dan bertambah secara kumulatif
sesuai jam kerja yang dicapai.

Perhitungan jam kerja keseluruhan meliputi semua jam kerja nyata tenaga kerja yang
melaksanakan kegiatan perusahaan termasuk kontraktor dan sub-kontraktornya pada
masing-masing bidang pekerjaan.

Ketentuan pemberian penghargaan zero accident


(kecelakaan nihil) antara lain :
21. Bagi perusahaan besar : tidak terjadi kecelakaan kerja (insiden) yang menghilangkan
waktu kerja berturut-turut selama 3 (tiga) tahun atau telah mencapai 6.000.000 (enam
juta) jam kerja tanpa kecelakaan kerja (insiden) yang menghilangkan waktu kerja.
22. Bagi perusahaan menengah : tidak terjadi kecelakaan kerja (insiden) yang
menghilangkan waktu kerja berturut-turut selama 3 (tiga) tahun atau telah mencapai
1.000.000 (satu juta) jam kerja tanpa kecelakaan kerja (inseden) yang menghilangkan
waktu kerja.
23. Bagi perusahaan kecil : tidak terjadi kecelakaan kerja (insiden) yang menghilangkan
waktu kerja berturut-turut selama 3 (tiga) tahun atau telah mencapai 300.000 (tiga ratus
ribu) jam kerja tanpa kecelakaan kerja (inseden) yang menghilangkan waktu kerja.
24. Bagi perusahaan sektor konstruksi : perusahaan kontraktor utama yang telah selesai
melaksanakan pekerjaan tanpa terjadi kecelakaan kerja (insiden) yang menghilangkan
waktu kerja dengan waktu pelaksanaan kegiatan minimal 1 (satu) tahun. Perusahaan
sub-kontraktor merupakan pendukung data bagi perusahaan kontraktor utama. Apabila
terjadi kecelakaan kerja (insiden) yang menyebabkan hilangnya waktu kerja baik pada
perusahaan kontraktor utama maupun pada perusahaan-perusahaan sub-kontraktor,
maka seluruh jam kerja yang telah dicapai menjadi 0 (nol) secara bersama.

Tata cara pengajuan serta penilaian untuk memperoleh


penghargaan zero accident (kecelakaan nihil) antara
lain :
25. Perusahaan telah melaksanakan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
serta Audit Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja selama 3 (tiga) tahun.
26. Mengajukan permohonan kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik
Indonesia c.q. Direktur Jenderal Binawas melalui Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
27. Melengkapi data pendukung sebagai berikut :
▪ Jumlah jam kerja nyata keseluruhan tenaga kerja selama 3 (tiga) tahun berturut-
turut dan diperinci dalam jumlah jam kerja tahunan.
▪ Jumlah jam kerja lembur nyata keseluruhan tenaga kerja selama 3 (tiga) tahun
berturut-turut dan diperinci dalam jumlah jam kerja lembur tahunan.
▪ Jumlah jam kerja nyata keseluruhan tenaga kerja kontaktor maupun sub-
kontraktor (yang dianggap bagian dari perusahaan) selama 3 (tiga) tahun
berturut-turut dan diperinci dalam jumlah jam kerja kontraktor dan atau sub-
kontraktor tahunan.
▪ Jumlah jam kerja lembur nyata keseluruhan tenaga kerja kontaktor maupun
sub-kontraktor (yang dianggap bagian dari perusahaan) selama 3 (tiga) tahun
berturut-turut dan diperinci dalam jumlah jam kerja lembur kontraktor dan atau
sub-kontraktor tahunan.
28. Panitia (tim penilai) melaksanakan pemeriksaan terhadap data-data yang diajukan
perusahaan.
29. Panitia (tim penilai) melaksanakan pemeriksaan ke lokasi perusahaan meliputi :
▪ Dukungan dan kebijakan manajemen secara umum terhadap program K3 di
dalam maupun di luar perusahaan.
▪ Organisasi dan administrasi K3.
▪ Pengendalian bahaya industri.
▪ Pengendalian kebakaran dan hygiene industri.
▪ Partisipasi, motivasi, pengawasan dan pelatihan.
▪ Pendataan, pemeriksaan kecelakaan, statistik dan prosedur pelaporan.
30. Hasil penilaian dilaporkan kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik
Indonesia untuk selanjutnya ditetapkan dalam Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja
dan Transmigrasi Republik Indonesia.
31. Penghargaan zero accident (kecelakaan nihil) diserahkan oleh Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Republik Indonesia ataupun pejabat lain yang ditunjuk.
32. Biaya yang timbul sebagai akibat pemberian penghargaan zero accident (kecelakaan
nihil) menjadi beban perusahaan bersangkutan.
33. Besarnya biaya yang dibutuhkan untuk pemberian penghargaan zero accident
(kecelakaan nihil) dapat dilakukan dengan mempertimbangkan saran-saran dari
perusahaan bersangkutan.

0 0

• 09/26/14--21:39: Prosedur Identifikasi Bahaya, Penilaian Resiko dan Pengendalian Resiko K3 PDF
Download

Prosedur Identifikasi Bahaya, Penilaian dan Pengendalian Resiko K3 merupakan sebuah


prosedur yang wajib disusun untuk memenuhi kriteria OHSAS 180001:2007 klausul
4.3.1. Hazard Identification, Risk Assessment and Determining Control.

Prosedur ini merupakan langkah awal dari perencanaan Sistem Manajemen Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (SMK3) di tempat kerja. Dari hasil identifikasi bahaya, penilaian
resiko dan pengendalian resiko K3 dapat ditentukan langkah-langkah lanjutan yang
diperlukan untuk membangun SMK3 di tempat kerja.

Secara umum prosedur identifikasi bahaya, penilaian


resiko dan pengendalian resiko K3 meliputi hal sebagai
berikut :
1. Pengumpulan data :
o Denah/Peta Lokasi Perusahaan.
o Kebijkan K3.
o Struktur Organisasi Perusahaan.
o Diagram Alir Proses.
o Prosedur, Instruksi Kerja serta peralatan yang digunakan.
o Komposisi Tenaga Kerja.
o Daftar Fasilitas Umum dan Fasilitas Penunjang Operasional Perusahaan.
o Daftar mesin tenaga dan produksi.
o Daftar pesawat uap dan bejana tekan yang digunakan
o Daftar alat berat dan kendaraan operasional yang digunakan.
o Daftar bahan baku.
o Daftar produk.
o Daftar sampah, limbah dan emisi yang dihasilkan.
o Laporan Insiden sebelumnya.
o Masukan/informasi dari tenaga kerja ataupun pihak ke-3 di luar Perusahaan.
o Aktivitas keamanan, lalu-lintas, lingkungan dan situasi darurat.
o Perizinan, Perundang-undangan dan kontrak dengan pihak ke tiga.
o Daftar pihak lain yang beraktivitas di wilayah Perusahaan.
o Perubahan Manajemen, dsj.
• Melaksanakan observasi lapangan.
• Melaksanakan identifikasi bahaya berdasarkan 5 faktor bahaya di tempat kerja.
• Melaksanakan penialaian resiko berdasarkan matriks resiko.
• Menentukan pengendalian resiko berdasarkan 5 hierarki pengendalian resiko/bahaya K3.
• Melaporkan hasil identifikasi bahaya, penilaian resiko dan pengendalian resiko kepada pimpinan
perusahaan.

Download :
Prosedur Identifikasi Bahaya, Penilaian dan Pengendalian Resiko K3.doc (81 Kb).

Form Terkait
Form Identifikasi Bahaya, Penialaian Resiko dan Pengendalian Resiko.

Diagram alir Prosedur Identifikasi Bahaya, Penilaian


Resiko dan Pengendalian Resiko