Anda di halaman 1dari 16

Tiga Golongan Politik Besar pada Masa

Orde Lama

PAPER

Disusun untuk Memenuhi Tugas Kewarganegaraan Semester


Satu yang Diampu oleh Dr. Ani Purwanti, SH, MH.

Disusun Oleh :

Tri Sapti Adhyaksari (24020117140050)

PROGRAM STUDI SARJANA BIOLOGI

DEPARTEMEN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA

UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG

2017

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Golongan politik di Indonesia ada banyak macamnya. Golongan-golongan


politik tersebut mempunyai tujuan dan ideologi yang berbeda beda. Golongan
politik dapat dibedakan dari kapan masa terbentuknya, apakah itu orde lama, orde
baru maupun pada era reformasi.Golongan politik pada orde lama yaitu ;
1. Partai Nasional Indonesia (PNI)
2. Masyumi
3. Nahdlatul Ulama
4. Partai Komunis Indonesia
5. Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII)
6. Partai Kristen Indonesia (Parkindo)
7. Partai Katolik
8. Partai Sosialis Indonesia (PSI)
9. Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI)
10. Pergerakan Tarbiyah Islamiyah (Perti)
11. Partai Rakyat nasional
12. Partai Buruh
13. Gerakan Pembela Panca Sila (GPPS)
14. Partai Rakyat Indoesia (PRI)
15. Persatuan Pegawai Polisi Indonesia (P3RI)
Golongan - golongan politik yang akan dibahas pada paper ini adalah
golongan-golongan politik pada masa orde lama. Golongan- golongan politik
yang yang akan dibahas adalah 3 golongan politik besar yaitu MASYUMI, PKI,
dan PNI. Ketiga partai besar ini mempunyai sejarah masing masing pada masa
nya. Golongan politik sendiri adalah organisasi politik yang memegang ideologi
tertentu dan memliki tujuan tertentu pula. Seperti pada PKI yang memegang
ideologi atau paham komunisme. MASYUMI yang memegang ideologi atau
paham yang berhubungan dengan keislaman. PNI yang memegang ideologi atau
paham liberalisme kebebasan tanpa batas. Pada paper ini akan dibahas secara
mendalam tentang proses pembentukan, maupun peristiwa peristiwa yang terjadi
selama ketiga golongan politik itu ada. Permasalahan yang dihadapi dengan
adanya ketiga golongan politik tersebut. Sesuai dengan tujuan paper ini adalah
menjelaskan sejarah golongan politik PKI, PNI, dan MASYUMI , agar kita dapat
menambah pengetahuan tetang ketiga partai besar tersebut dan bisa mengambil
pelajaran dari sejarah ketiga partai politik besar tersebut.
BAB II

PERMASALAHAN

Permasalahan yang akan dibahas pada paper ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimanakah proses pembentukan PKI?

2. Bagaimana cara PKI memiliki anggota yang besar jumlahnya?

3. Bagaimanakah proses pembentukan PNI?

4. Bagaimana proses pembentukan MASYUMI?

5. Bagaimana hubungan antara PKI dan MASYUMI?


Pembentukan PKI, PNI, MASYUMI merupakan permasalahan yang akan
dibahas pada paper ini. Begitu juga dengan masalah masalah lain seperti mengapa
PKI bisa terkenal pada masanya, dan bagaimana PKI dapat menjadi partai politik
yang besar dengan anggota yang banyak. Berbicara tentang PNI juga mengapa
PNI dapat menjadi salah satu golongan politik yang besar selain PKI. Sejarah
pembentukan PNI juga akan menjadi permasalahan dan akan dibahas pada paper
ini. Selain PKI dan PNI , sejarah MASYUMI juga akan masuk ke dalam
permasalahan yang akan dibahas. Permasalahan yang terakhir adalah bagaimana
hubungan antara PKI dengan MASYUMI yang mengakibatkan beberapa
peristiwa, juga akan dibahas pada paper ini.

BAB III

PEMBAHASAN
3.1 Pembentukan PKI

Partai ini didirikan atas inisiatif tokoh sosialis Belanda, Henk Sneevliet pada
1914, dengan nama Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) (atau
Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda). Keanggotaan awal ISDV pada
dasarnya terdiri atas 85 anggota dari dua partai sosialis Belanda, yaitu SDAP
(Partai Buruh Sosial Demokratis) dan SDP (Partai Sosial Demokratis), yang aktif
di Hindia Belanda[1] Pada Oktober 101 SM ISDV mulai aktif dalam penerbitan
dalam bahasa Belanda, "Het Vrije Woord" (Kata yang Merdeka). Editornya
adalah Adolf Baars. Pada saat pembentukannya, ISDV tidak menuntut
kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu, ISDV mempunyai sekitar 100 orang
anggota, dan dari semuanya itu hanya tiga orang yang merupakan warga pribumi
Indonesia. Namun demikian, partai ini dengan cepat berkembang menjadi radikal
dan anti kapitalis. Di bawah pimpinan Sneevliet partai ini merasa tidak puas
dengan kepemimpinan SDAP di Belanda, dan yang menjauhkan diri dari ISDV.
Pada 1917, kelompok reformis dari ISDV memisahkan diri dan membentuk
partainya sendiri, yaitu Partai Demokrat Sosial Hindia. Pada 1917 ISDV
mengeluarkan penerbitannya sendiri dalam bahasa Melayu, "Soeara Merdeka".
Di bawah kepemimpinan Sneevliet, ISDV yakin bahwa Revolusi Oktober seperti
yang terjadi di Rusia harus diikuti Indonesia. Kelompok ini berhasil mendapatkan
pengikut di antara tentara-tentara dan pelaut Belanda yang ditempatkan di Hindia
Belanda. Dibentuklah "Pengawal Merah" dan dalam waktu tiga bulan jumlah
mereka telah mencapai 3.000 orang. Pada akhir 1917, para tentara dan pelaut itu
memberontak di Surabaya, sebuah pangkalan angkatan laut utama di Indonesia
saat itu, dan membentuk sebuah dewan soviet. Para penguasa kolonial menindas
dewan-dewan soviet di Surabaya dan ISDV. Para pemimpin ISDV dikirim
kembali ke Belanda, termasuk Sneevliet. Para pemimpin pemberontakan di
kalangan militer Belanda dijatuhi hukuman penjara hingga 40 tahun. ISDV terus
melakukan kegiatannya, meskipun dengan cara bergerak di bawah tanah.
Organisasi ini kemudian menerbitkan sebuah terbitan yang lain, Soeara Ra’jat.
Setelah sejumlah kader Belanda dikeluarkan dengan paksa, ditambah dengan
pekerjaan di kalangan Sarekat Islam, keanggotaan organisasi ini pun mulai
berubah dari mayoritas warga Belanda menjadi mayoritas orang Indonesia.

Pada awalnya PKI adalah gerakan yang berasimilasi ke dalam Sarekat Islam.
Keadaan yang semakin parah dimana ada perselisihan antara para anggotanya,
terutama di Semarang dan Yogyakarta membuat Sarekat Islam melaksanakan
disiplin partai. Hal tersebut dilakukan dengan melarang anggotanya mendapat
gelar ganda di kancah perjuangan pergerakan indonesia. Keputusan tersebut tentu
saja membuat para anggota yang beraliran komunis kesal dan keluar dari partai
dan membentuk partai baru yang disebut ISDV. Pada Kongres ISDV di Semarang
(Mei 1920), nama organisasi ini diubah menjadi Perserikatan Komunis di Hindia.
Semaoen diangkat sebagai ketua partai. PKH adalah partai komunis pertama di
Asia yang menjadi bagian dari Komunis Internasional. Henk Sneevliet mewakili
partai ini pada kongresnya kedua Komunis Internasional pada 1920. Pada 1924
nama partai ini sekali lagi diubah, kali ini adalah menjadi Partai Komunis
Indonesia (PKI).

Partai Komunis Indonesia berjaya dalam sebuah periode yang didominasi


oleh figur kharismatik Presiden Soekarno yang dipuja rakyat Indonesia dan
mendapat perhatian dunia lantaran pidato-pidato anti-imperialismenya yang
berapi-api. Selama di bawah pemerintahan Soekarno dan perlindungannya, PKI
menjadi partai Komunis bukan pemerintah terbesar di dunia, dan banyak orang di
luar dan dalam Indonesia yakin periode tersebut akan menjadi batu pijak bagi
langkah mereka selanjutnya menjadi partai yang berkuasa. Oleh karena itulah,
kebanyakan orang sontak terkejut ketika mendengar kalau hanya dalam semalam
saja satu partai sebesar dan sekuat itu bisa dihancurkan di kubangan darah yang
demikian besar dalam sejarah modern. Melalui gelombang episode kudeta pada 1
Oktober 1965, PKI disapu habis dari panggung politik Indonesia, dan tidak lama
kemudian pelindungnya, Soekarno.

Tampaknya sejarah Komunisme di Indonesia seakan-akan ditakdirkan untuk


konsisten dengan tragedi. Pada tiga periode berbeda, Partai Komunis Indonesia
telah mengemuka dari sekadar partai pinggiran yang tidak mencolok menjadi
partai terdepan dan menonjol dengan kecepatan begitu menakjubkan laksana ‘api
sabana’ membakar habis di musim panas – istilah Mao Tse Tung, untuk
menggambarkan kebangkitan gerakan petani di Cina Tengah pada 1925 – namun
senantiasa kandas oleh percobaan kekerasaan.

3.2 Cara PKI Merekrut Anggotanya

Cara PKI merekrut anggotanya adalah sebagai berikut ;

1. Cara mengembangkanya begitu di minati banyak orang karena menarik .

Cara pengembangan partai yang mengayomi rakyat kaum bawah


dan mendukung rakat kaum atas menjadikan banyak orang yang
tertaik dan berminat bergabung.

2. Memiliki para pemimpin yang memiliki jiwa yang sangat merakyat .

Seperti sudah disinggung, PKI sangat mengayomi rakyat kaum


bawah, hal tersebuut karena pemimpinnya yang memiliki jiwa merakyat.

3. Memiliki cara yang terbukti efektif dalam merekrut orang yang sudah
bergabung dalam partai atau organisasi lain .

4. Mempunyai sifat yang menentang paham kolonial dan kapitalisme .

5. Banyak anggota ataupun warga sipil kalangan menengah kebawah


berharap PKI bisa membuat suatu keadilan yang selama ini di dambakan
dan di anut oleh Ratu Adil .

3.3 Pembentukan PNI


Dalam dasawarsa pertama abad ke-20 didalam sejarah Indonesia dikenal
sebagai periode kebangkitan nasional maka pertumbuhan kesadaran nasionalisme
mulai tampak dengan mulai bermunculannya organisasi – organisasi di Indonesia.
Walau awalnya orientasi tujuan organisasi-organisasi ini belum sampai pada fase
penegasan identitas politiknya namun lambat laun mulai terlihat tujuan-tujuan
yang mendasar ditubuh organisasi-organisasi yang muncul di negri ini. Sebagai
contoh adalah PNI, dulu sebelum PNI resmi berdiri menjadi sebuah organisasi
politik PNI merupakan kelompok-kelompok studi di Surabaya yang dipimpin oleh
Sutomo dan di Bandung dipimpin oleh Soekarno yang kemudian berkembang ke
seluruh Jawa dan meluas lagi ke luar Jawa. Tujuan pendirian kelompok-kelompok
studi ini agar para pelajar Jawa dapat bersatu, menanamkan kesadaran kepada
mereka bahwa Indonesia adalah suatu bangsa.
Mereka yang tergabung dalam studieclub beranggapan bahwa setelah PKI
memberontak serta kegagalannya yang sangat dirasakan oleh umum hal ini
menunjukan kelemahan besar dalam urusan organisasi maka dengan semangat
nasionalisme meraka merapatkan barisan untuk menuju Indonesia yang
merdeka. Salah satu usaha awal ialah prakarsa Soedjadi, Iskaq, Tjokroadisoerjo
dan Boediarto membentuk SRNI (Serikat Rakyat Nasional Indonesia) terlebih
dulu dengan perantaraan Soedjadi prakarsa itu diteruskan ke PI di Negeri Belanda
yang selanjutnya memberi pengarahan namun setelah dirasa – rasakan ternyata
rencana PI tidak sesuai dengan situasi di Indonesia dan oleh karena itu mereka
berusaha sendiri membentuk organisasi politik. Maka pada tanggal 4 juli 1927
PNI resmi didirikan di Bandung melalui pertemuan-pertemuan yang dilakukan
para anggotanya yang mana dalam pertemuan – pertemuan itu sering
membicarakan keadaan-keadaan sosial politik pada saat tersebut. Agenda
pertemuan 4 juli tersebut selain meresmikan pendirian PNI (Perserikatan Nasional
Indonesia) juga menetapkan Soekarno sebagai ketua dan membahas
anggaran-anggaran dasar keorganisasian.
Pada awal berdirinya, PNI berkembang sangat pesat karena didorong oleh
faktor-faktor yaitu antaralain adalah : Pergerakan yang ada lemah sehingga kurang
bisa menggerakkan massa, PKI sebagai partai massa telah dilarang,
Propagandanya menarik dan mempunyai orator ulung yang bernama Ir. Soekarno
(Bung Karno) selain itu secara eksplisit PNI menyatakan bahwa didalam tubuh
PNI tidak ada diskriminasi ras dan tingkat kasta melainkan sikap nasionalisme
yang dijunjung tinggi, sehingga dengan adanya beberapa faktor ini PNI
berkembang sangat pesat dan banyak yang berminat menjadi anggotanya. PNI pun
mulai berkembang telihat pada akhir tahun 1927 tercatat menjadi 3 cabang. Selain
di Bandung juga terbentuk cabang di Yogyakarta dan di Batavia. Pada bulan
Desember dibentuk juga sebuah panita di Surabaya untuk persiapan pembentukan
cabang baru di kota tersebut. Di Surabaya sendiri PNI resmi berdiri pada 5
February 1928. Kemudian memasuki tahun 1928 secara terang – terangan
organisasi ini berganti nama dari Perserikatan Nasional Indonesia menjadi Partai
Nasional Indonesia.
Badan ini merupakan sebuah badan koordinasi dari bermacam aliran untuk
menggalang kesatuan aksi melawan imperialisme atau penjajahan. Kemajuan yang
dicapai PNI dalam menyadarkan rakyat Indonesia akan pentingnya kemerdekaan
dan sikapnya yang non kooperasi menimbulkan kecemasan pihak Belanda. PNI
bersifat terbuka sehingga keanggotaannya cepat berkembang.

3.4 Pembentukan MASYUMI

Tanggal 23 Agustus 1945,atau satu minggu setelah kemerdekaan Indonesia,


Presiden Soekarno mengusulkan pembentukan organisasi resmi pembantu
presiden, namun mempunyai fungsi partai dan parlemen, organisasi tersebut
nantinya dikenal sebagai komite nasional. Pada saat yang bersamaan, Soekarno
juga menginginkan pembentukan partai tunggal yaitu Partai Nasional Indonesia
sebagai motor perjuangan rakyat dalam segala suasana, dan lapangan.

Ide tersebut ditentang keras oleh tokoh-tokoh lain yang menginginkan


kehidupan demokratis, di mana partai ada, dan berfungsi sebagai artikulator
rakyat. Salah satu tokoh yang paling lantang menolak ide tersebut adalah
Muhammad Syahrir, dia berpendapat ide tersebut hanya akan menyeret iklim
politik Indonesia menuju otoritarisme. Karena itu dia berusaha menggalang
dukungan dari anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) untuk
menuntut agar Komite Nasional dirombak, sehingga mempunyai kekuatan
legislatif.

Usaha yang dilakukan Syahrir tersebut ternyata mendapat sambutan


positif, dia memperoleh dukungan 50 dari 150 anggota KNIP saat itu, yang
kemudian membuat Soekarno menyetujui permintaan Syahrir. Akhirnya terbitlah
Maklumat Negara Republik Indonesia No. X, yang ditandatangani oleh Wakil
Presiden Mohammad Hatta pada tanggal 16 Oktober 1945.

Mulai dilakanakannya sistem parlementer, berarti membuka kesempatan


parpol untuk memainkan perannya di legislatif. Partai yang bisa memperoleh
suara terbanyak di legislatif, akan mendomiasi kabinet. Kemudian, pada tanggal 3
November 1945 keluar Maklumat Pemerintah yang berisi anjuran untuk
mendirikan partai politik. Maklumat tersebut disambut dengan antusias berbagai
kalangan, salah satu kalangan yang antusias dengan keluarnya Maklumat tersebut,
adalah kalangan umat Islam. Mereka menyambutnya dengan mengadakan
Kongres Umat Islam Indonesia pada 7-8 November 1945, di gedung Muallimin
Muhammadiyah di Yogyakarta. Hadir dalam kesempatan ini sekitar lima ratus
utusan organisasi-organisasi keagamaan Islam, tokoh-tokoh aliran utama, dan
tokoh-tokoh politik Islam. Pada tanggal 7 November 1945, para peserta kongres
menyepakati pembentukan partai politik Islam yang resmi dinamakan Partai
Politik Islam Indonesia Masyumi. Gagasan pembentukan partai Masyumi berasal
dari tokoh-tokoh pergerakana Islam yang sudah aktif sejak zaman penjajahan,
diantaranya: Agus Salim, Abdul Kahar Muzakkir, Mohammad Natsir,
Mohammad Roem, Abdul Wahid Hasyim, Prawoto Mangkusasmito, dan Ki
Bagus Hadikusumo.

Tujuan dari pendirian Partai Masyumi tercantum dalam Anggaran Dasar :


“Tujuan partai ialah terlaksananya ajaran dan hukum Islam di dalam kehidupan
orang seorang, masyarakat, dan negara Republik Indonesia, menuju keridhaan
ilahi.” Dari rumusan tersebut, Masyumi mempunyai tujuan menciptakan
Indonesia yang bercorak Islam, tetapi juga ingin memberikan kebebasan penuh
kepada golongan-golongan lain untuk berbuat, dan memperjuangkan aspirasi
politik sesuai dengan agama, dan ideologinya masing-masing.

3.5 Hubungan PKI dengan MASYUMI

Seteru partai Islam dan partai komunis di Indonesia memanas pada awal
1954, setahun sebelum pemilihan umum digelar pada 1955. Konflik keduanya
ternyata tidak hanya melibatkan anggota partai, tapi juga dua negara adidaya,
Amerika Serikat dan Uni Soviet (saat ini Rusia).

Perseteruan tersebut berupa :

1. Bentrok di lapangan

Pada medio Mei 1954, Partai Masyumi menggelar perhelatan besar di


Malang, Jawa Timur, untuk menandingi rapat umum PKI di tempat yang
sama. Kedua partai masing-masing mengerahkan massanya ke alun-alun
Malang. Bahkan massa Masyumi yang datang dari Surabaya dan Malang
membaur bersama ribuan anggota PKI yang menunggu kehadiran Ketua PKI
DN Aidit dan Eric Aarons, perwakilan Partai Komunis Australia yang juga
didaulat berpidato.Suasana di sana tegang, ditambah lagi terlihat selembar
spanduk membentang yang tak jauh dari podium tempat Aidit berpidato.
“Kutuk teror perampok Masjumi-BKOI," begitu bunyi tulisan di spantuk itu.
BKOI adalah Badan Koordinasi Organisasi Islam. Spanduk itu menanggapi
demonstrasi Masyumi-BKOI di Jakarta pada 28 Februari 1954 yang berakhir
rusuh dan menewaskan perwira TNI Kapten Supartha Widjaja.

Emosi kedua massa akhirnya tersulut setelah Aidit berpidato. Dalam


pidatonya, Aidit mengatakan:

"Nabi Muhammad SAW bukanlah milik Masjumi sendiri, iman Islamnya


jauh lebih baik daripada Masjumi. Memilih Masjumi sama dengan
mendoakan agar seluruh dunia masuk neraka. Masuk Masjumi itu haram
sedangkan masuk PKI itu halal."

2. Antek Amerika Serikat dan Uni Soviet


Dalam sejarahnya, PKI menuduh Masyumi sebagai antek Amerika
Serikat. Masyumi tak mau kalah. Mereka membalas dan menuding bahwa
PKI adalah partai agen asing yang berkiblat ke Rusia. Ketua Masyumi
cabang Jawa Barat Isa Anshary turut membentuk Front Anti-Komunis,
sebuah underbouw partai yang tak pernah diakui secara resmi keberadannya.
Melalui Front Anti-Komunis, Isa menggalang massa untuk menandingi
propaganda PKI.

Boyd R. Compton, peneliti Amerika Serikat, pernah menemui Isa pada


Maret 1955. Dalam pertemuan itu, Isa meminta pendapat Boyd tentang
sebuah organisasi anti-komunis yang berkantor di New York yang
menawarinya bantuan.

“Ia mengungkapkan kesulitan-kesulitannya dalam mencari dana untuk


menerbitkan sebuah majalah anti komunis,” kata Boyd tentang Isa dan Front
Anti-Komunisnya. Cerita inilah yang dijadikan dasar bagi PKI bahwa
Masyumi berkiblat pada Amerika Serikat. Sebaliknya, Perdana Menteri
Indonesia saat itu (1947-1948) disebut sebagai pendukung PKI dan diduga
berhubungan erat dengan Rusia.Suhu politik pada 1948 juga memanas
terlebih ketika Amir mendirikan Front Demokrasi Rakyat (FDR), yang
disertai kedatangan tokoh PKI Musso dari Moskow ke Yogyakarta pada
Agustus 1948.Rangkaian peristiwa politik di pengujung 1948 itu bermuara
pada peristiwa Madiun.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Golongan politik atau partai politik besar pada orde lama yaitu PKI, PNI, dan
MASYUMI. Ketiga golongan tersebut memiliki anggota yang banyak, dan
sejarah yang menarik. Mulai dari jatuh bangunnya pembentukan PKI yang
akhirnya dapat menjadi golongan politik yang tadinya hanya partai pinggiran
menjadi besar, lalu PNI yang berideologi nasionalisme tapi juga liberalisme, lalu
ada MASYUMI yang merupakan partai politik yang berbasis pada nilai nilai
keislaman. Ketiga partai diatas menorehkan peristiwa peristiwa yang menjadi
sejarah sampai saat ini. Mulai dari peristiwa tidak sinkronnya antara MASYUMI
dan PKI hingga menimbulkan bentrok dan kericuhan.

4.2 Saran

Paper ini masih belum sapat dikatakan baik karena masih banyak kekurangan
dan kesalahan-kesalahan baik tu dalam segi penulisan maupun segi informasi.
Sehingga masih perlu adanya perbaikan dan pengembangan lagi.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.rappler.com/indonesia/107575-sejarah-partai-islam-komunis-tragedi-1965

https://indoprogress.com/2011/12/partai-komunis-indonesia/

https://indoprogress.com/2011/12/partai-komunis-indonesia/

https://www.google.com/search?q=Sejarah+patai+masyumi&ie=utf-8&oe=utf-8&client=firefox-b-ab

http://historia07uns.blogspot.co.id/2012/05/partai-nasional-indonesia-pni.html