Anda di halaman 1dari 33

SIFAT- SIFAT TERMAL KRISTAL

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas kelompok mata kuliah


Fisika Zat Padat
DosenPengampu, 1. Ade Yeti Nuryantini, S.Pd, M.Pd, M.Si.
2. Pina Pitriana, M.Si.

Disusun oleh:
Kelompok 6
1. Melinda Kristiana Dewi 1162070043
2. Mulyanah Robiatul Adawiyah 1162070048
3. Rizqy Saffana Jinani 1162070059
4. Santika Purnama 1162070064
5. Sasqia Nurul Fauziah 1162070065

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT, karena atas rahmat
dan karunia-Nya penyusun dapat menyelesaikan laporan tentang “Sifat- Sifat
Kristal” ini tepat pada waktunya. Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahkan
kepada nabi Muhammad SAW, kepada keluarga dan sahabatnya.
Makalah Sifat- Sifat Kristal penyusun sampaikan kepada dosen Fisika Zat
Padat sebagai salah satu tugas mata kuliah tersebut. Dalam penulisan makalah ini,
penyusun menemukan banyak sekali kesulitan, namun penyusun menyadari
bahwa hal itu merupakan bagian dari proses pembelajaran.
Penyusun mengucapkan banyak terimakasih kepada Ibu Ade Yeti
Nuryantini, S.Pd, M.Pd, M.Si. dan Ibu Pina Pitriana, M.Si. yang telah
memberikan bimbingan serta arahannya sehingga penyusun dapat menyelesaikan
tugas makalah ini. Tidak lupa kepada orangtua yang telah memberikan banyak
sekali dukungan, baik itu dukungan moril maupun materil. Penyusun menyadari
bahwa proposal ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca guna penulisan laporan alat
yang lebih baik di masa yang akan datang.

Bandung, 11 September 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................1
A. Latar Belakang ......................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah .................................................................................... 2

C. Tujuan ....................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................3


A. Kapasitas Panas Fonon ............................................................................. 3

B. Rapat Keadaan Model Klasik ................................................................. 14

C. Rapat Keadaan Model Einstein .............................................................. 15

D. Rapat Keadaan Model Debye ................................................................. 17

E. Temperature Debye ................................................................................ 23

F. Persamaan Debye ....................................................................................... 26

BAB III PENUTUP .............................................................................................28


A. Kesimpulan ............................................................................................. 28

B. Saran ....................................................................................................... 28

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................29

ii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Hubungan Dispersi Diatomik ................................................................ 3
Gambar 2. Grafik Fungsi Distribusi Planck ............................................................ 4
Gambar 3. Garis elastik pada atom 𝑁 + 1. ............................................................. 7
Gambar 4. Kondisi terikat sin𝑠𝐾𝑎 = 0................................................................... 7
Gambar 5. Dianggap partikel N. ............................................................................. 9
Gambar 6. Nilai-nilai gelombang vektor K............................................................. 9
Gambar 7. Diperbolehkan nilai-nilai..................................................................... 10
Gambar 8. Ketergantungan Suhu dari Panas......................................................... 15
Gambar 9. Panas jenis model klasik Dulong - Petit .............................................. 17
Gambar 10. Panas jenis sebagai fungsi suhu. ...................................................... 20
Gambar 11. Kurva kerapatan ................................................................................ 22
Gambar 12. Kapasitas panas temperature. ............................................................ 24
Gambar 13. Hukum Deybe ................................................................................... 24
Gambar 14. Sketsa pada fungsi distribusi Planck. ................................................ 25

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejumlah energy bisa ditambahkan ke dalam material melalui
pemanasan, medan listrik, medan magnet, bahkan gelombang cahaya seperti
pada peristiwa photo listrik yang telah kita kenal. Tanggapan padatan terhadap
macam- macam tambahan energy tersebut tentulah berbeda. Pada penambahan
energi melalui pemanasan misalnya, tanggapan padatan termanifestasikan
mulai dari kenaikan temperatur sampai pada emiisi termal tergantung dari
besar energy yang masuk. Pada peristiwa photolistrik tanggapan tersebut
termanifestasikan sebagai emisi electron dari permukaan metal tergantung dari
frekuensi cahaya yang kita berikan, yang tidak lain adalah besar energy yang
sampai ke permukaan metal (Zannah, 2016).
Dalam mempelajarai sifat non-listrik material, kita akan mulai dengan
sifat thermal, yaitu tanggapan material terhadap penambahan energi secara
thermal (pemanasan). Dalam padatan, terdapat dua kemungkinan penyimpanan
energy thermal, yang pertama adalah penyimpanan dalam bentuk vibrasi atom/
ion di sekitar posisi keseimbangannya, dan yang kedua berupa energy kinetic
yang dikandung oleh electron bebas. Ditinjau secara makroskopis, jika suatu
padatan menyerap panas maka energy internal yang ada dalam padatan
meningkat yang diindikasikan oleh kenaikan temperaturnya. Jadi perubahan
energi pada atom-atom dan electron bebas menentukan sifat-sifat thermal
padatan. Sifat- sifat thermal yang akan kita bahas adalah kapasitas panas, panas
spesifik, pemuaian, dan konduktivitas panas (Tamado, Budi, Wirawan, & Dwi,
2013).
Salah satu sifat penting dari material sebuah benda padat adalah panas.
Sifat panas, perpindahan panas, perlakuan panas mempunyai dampak pada
material benda padat tersebut salah satunya adalah kapasitas panas. Kapasitas
panas merupakan banyaknya panas yang diperlukan untuk menaikan
temperature suatu zat. Kapasitas panas dibagi menjadi dua bagian, yakni
kapasitas panas pada tekanan tetap (CP) dan kapasitas panas pada volume tetap

1
(CV). Salah satu dasar teori tentang kapasitas panas volume tetap adalah
kapasitas panas Debye yang diturunkan dari fungsi energi system osilator
harmonik kuantum dan rapat keadaan. Pada persamaan model Debye dengan
tinjauan Kristal monoatomic, penyelesaian integrasinya tidak dapat
diselesaikan secara analitik (Sembiring & Karo-Karo, 2007).

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang kami ajukan adalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan kapasitas panas Fonon?
2. Bagaima rapat keadaan model klasik?
3. Bagaimana rapat keadaan model Debye?
4. Bagaimana rapat keadaan model Debye?
5. Bagaimana temperatur Debye?
6. Bagaimana bentuk persamaan Debye?

C. Tujuan
Adapun tujuan dalam makalah ini adalah untuk mampu menganalisis:
1. Kapasitas panas Fonon
2. Rapat keadaan model klasik
3. Rapat keadaan model Debye
4. Rapat keadaan model Debye
5. Temperatur Debye
6. Bentuk persamaan Debye.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kapasitas Panas Fonon
Kapasitas panas adalah kuantitas panas yang dibutuhkan untuk
menguapkan air pada suhu dan tekanan tertentu (Hasibuan, 2005). Kapasitas
panas dibagi menjadi dua jenis ditinjau dari keadaan sistem ketika menerima
atau melepaskan panas, yaitu kapasitas panas pada tekanan tetap (Cp) dan
kapasitas panas pada volume tetap (Cv). Kapasitas panas pada volume tetap
Cv dibagi menjadi tiga yaitu: kapasitas panas klasik, kapasitas panas Einstein
dan kapasitas panas Debye (Juarlin & et all, 2010).
Untuk menentukan kapasitas panas jenis (pada volume konstan - Cv)
phonon pada temperatur tinggi dan temperatur rendah Model Einstein dan
Model Debye (Kittel, 2005).
Jika dalam kristal terdapat phonon, maka akan terjadi hubungan
dispersi (diatomik) yang dinyatakan:

Gambar 1. Hubungan Dispersi Diatomik


-π/a ≤ k ≤ π/a Daerah Brilloin
𝑐
Sehingga partikel phonon yang mempunyai frekuensi ϑ = hλ menurut

kuantum Planck. E = h𝜗 =ℏ𝜔. Energi kristal untuk k = k1 adalah :

3
Uk1,p = ∑3𝑃=1 < 𝜂 k1,p> ℏ𝜔k1,p (A.1)
Harga k ditentukan oleh vektor panjang gelombang serta p
menunjukkan jenis polarisasinya
Artinya : setiap harga 1 k kita akan mempunyai 3 jenis polarisasi (1
Longitudinal dan 2 Transversal).
Secara umum, energi kristal untuk k :
Ukp = ∑𝑃 𝜂kP =ℏ𝜔𝑘𝑝. (A.2)
Untuk seluruh nilai k, energi total kristal yang dimiliki adalah :
Utotal = ∑𝑝𝑘 𝑈kp =∑𝑘 ∑𝑝 𝑈kp =∑𝑘(∑𝑝 < 𝜂𝑘𝑝 > ℏ𝜔𝑘𝑝) (A.3)
𝞰kp = Probabilitas penempatan tingkat energi phonon
= distribusi Planck = peluang pengisi tingkat energi phonon yang ≠
suhu.
𝟏
< 𝞰 > =𝒆ℏ𝝎 (A.4)
−𝟏
𝒌𝒃 𝑻

Dengan kb = konstanta Boltzman = 1,381 x 10-23 J/K

Gambar 2. Grafik Fungsi Distribusi Planck


ℏ𝜔𝑘𝑝
Utotal =∑𝑘𝑝 (A.5)
ℏ𝜔𝑘𝑝 /𝑘𝑏 𝑇

Untuk temperatur yang tinggi (T >>) maka ℏ𝜔/kbT ≪ 1


Ingat : 𝑒 ±𝑥 ≈ 1 ± 𝑥 ± 𝑥 2 ± 𝑥 3 ± ⋯
ℏ𝜔
Maka : 𝑒 ℏ𝜔 /𝑘𝑏 𝑇 ≈ 1 + 𝑘 + (ℏ𝜔/𝑘𝑏 𝑇)2 +......
𝑏𝑇

ℏ𝜔
Utotal =∑𝑘𝑝 1+ ℏ𝜔𝑘𝑝𝑘𝑏 = ∑𝑘𝑝 𝑘𝑏 𝑇 (A.6)
−1
𝑘𝑏 𝑇

4
Sehingga menurut Einstein adalah sebagai berikut, atom-atom kristal
dianggap bergetar satu sama lain di sekitar titik setimbangnya secara bebas.
Getaran atomnya dinaggap harmonik sederhana yang bebas sehingga
𝜔
mempunyai frekuensi sama (𝜐 = 2𝜋) sehingga di dalam zat padat terdapat

sejumlah N atom maka ia akan mempunyai 3N osilator harmonik yang


bergetar bebas dengan frekuensi 𝜔 (Kittel, 2005).
Utotal =∑𝑘𝑝 𝑘𝑏 𝑇 = 3𝑁𝑘𝑏 𝑇 (A.7)
𝜕𝑈 𝑑
Cυ =𝜕𝑑 =𝑑𝑇 [3𝑁𝑘𝑏 𝑇]= 3𝑁𝑘𝑏 = 3R (A.8)

Model Einstein untuk T>>


Cυ = 3Nkb = 3R → sesuai dengan eksperimen Dulong & Petit
Untuk T<< ℏ𝜔/𝑘𝑏 𝑇 ≫1
3𝑁ℏ𝜔
Bila 𝜔kp =𝜔 maka Utotal = 𝑒ℏ𝜔
−1
𝑘𝑏 𝑇

𝜕𝑈 𝑑 3𝑁ℏ𝜔
Cυ = 𝜕𝑇 =𝑑𝑇 [𝑒ℏ𝜔 ]
−1
𝑘𝑏 𝑇

−1 ℏ𝜔
= 3Nℏ𝜔 𝑒ℏ𝜔
(− 𝑘 2 ) 𝑒 ℏ𝜔/𝑘𝑏𝑇
( )^2 𝑏𝑇
𝑘𝑏 𝑇−1

3𝑁ℏ2 𝜔2 𝑒 ℏ𝜔/𝑘𝑏 𝑇
= 𝑒ℏ𝜔
𝑘𝑏 𝑇2 ( )^2
𝑘𝑏 𝑇−1

3𝑁ℏ2 𝜔2 𝑒 ℏ𝜔/𝑘𝑏 𝑇
= 𝑘𝑏 𝑇2
𝑒ℏ𝜔
( ℏ𝜔 )
𝑘𝑏 𝑇−2𝑒𝑘 𝑏 𝑇 +2

3𝑁ℏ2 𝜔2 −1
= 𝑒ℏ𝜔
𝑘𝑏 𝑇 ( )
𝑘𝑏 𝑇−1

Untuk T<<→ ℏ𝜔/𝑘𝑏 𝑇 ≫1,maka :


3𝑁ℏ2 𝜔2
Cυ = 𝑒 −ℏ𝜔/𝑘𝑏𝑇 (A.9)
𝑘𝑏 𝑇

5
1. Distribusi Planck
Distribusi Planck Phonons digunakan untuk menjelaskan panas
spesifik kristal (Schley, et al., 2013). Pertimbangan pada sebuah set dari
osilator harmonik yang identik dalam kesetimbangan termal.
Perbandingan nilai osilator pada keadaan kuantum eksitasi (𝑛 + 1) pada
saat ke-𝑛 keadaan kuantumnya adalah sebagai berikut :
𝑁𝑛+1 𝑁𝑛 = 𝑒𝑥𝑝(−ℏ𝜔⁄𝜏), 𝜏 ≡ 𝑘𝐵 𝑇, (1)
Dengan menggunakan faktor Boltzmann. Maka fraksi total nilai osilator
pada keadaan kuantum adalah :
𝑁𝑛 𝑒𝑥𝑝(−𝑛ℏ𝜔⁄𝜏)
∑∞
= ∑∞ (2)
𝑠=0 𝑁𝑠 𝑠=0 𝑒𝑥𝑝(−𝑠ℏ𝜔⁄𝜏 )

Kita lihat bahwa rata-rata nilai quantum eksitasi pada osilator


adalah :
∑𝑠 𝑠 𝑒𝑥𝑝(−𝑠ℏ𝜔⁄𝜏)
〈𝑛〉 = (3)
∑𝑠 𝑒𝑥𝑝(−𝑠ℏ𝜔⁄𝜏 )

Sumasi pada persamaan 3 adalah :


1 𝑑 𝑥
∑𝑠 𝑥 𝑠 = ; ∑𝑠 𝑠 𝑥 𝑠 = 𝑥 ∑𝑠 𝑥 𝑠 = (4)
1−𝑥 𝑑𝑥 (1−𝑥)2

Dengan 𝑥 = 𝑒𝑥𝑝(−ℏ𝜔⁄𝜏). Maka kita dapat menulis persamaan (3)


sebagai distribusi Planck :
𝑥 1
〈𝑛〉 = = 𝑒𝑥𝑝(ℏ𝜔⁄𝜏)−1 (5)
1−𝑥

Pencacahan Mode Normal


Energi dari pengumpulan frekuensi osilator 𝜔𝐾𝑝 pada
kesetimbangan termal dapat diperoleh :
ℏ𝜔𝐾𝑝
𝑈 = ∑𝐾 ∑𝑝 𝑈𝐾𝑝 = 𝑒𝑥𝑝(ℏ𝜔 (6)
𝐾𝑝 ⁄𝜏 )−1

Biasanya cocok untuk menggantikan sumasi K dengan integral.


Diperkirakan bahwa Kristal memiliki mode 𝐷𝑝 (𝜔)𝑑𝜔 yang diberikan
polarisasi 𝑝 pada rentang frekuensi 𝜔 menuju 𝜔 + 𝑑𝜔. Kemudian
energinya adalah :
ℏ𝜔
𝑈 = ∑𝑝 ∫ 𝑑𝜔 𝐷𝑝 (𝜔) 𝑒𝑥𝑝(ℏ𝜔⁄𝜏)−1 (7)

6
Kapasitas panas kisi diperoleh dari perbedaan dengan toleransi
temperatur. Karena = ℏ𝜔⁄𝜏 = ℏ𝜔⁄𝑘𝐵 𝑇 : kemudian 𝜕𝑈⁄𝜕𝑇 menjadi :
𝑥 2 exp 𝑥
𝐶𝑙𝑎𝑡 = 𝑘𝐵 ∑𝑝 ∫ 𝑑𝜔 𝐷𝑝 (𝜔) (exp 𝑥−1)2 (8)

Pusat kasus adalah untuk mencari 𝐷(𝜔), Jumlah mode per rentang
satuan frekuensi. Fungsi ini disebut dengan density of modes atau, sering
disebut dengan density of states.

Density of States pada Satu Dimensi

Gambar 3. Garis elastik pada atom 𝑁 + 1, dengan 𝑁 = 10, untuk kondisi terikat yang pada
ujung atom 𝑠 = 0 dan 𝑠 = 10. Pemindahan partikel pada mode normal untuk
pemindahan longitudinal atau transversal dari bentuk 𝑢𝑠 = sin 𝑠𝐾𝑎. Bentuk ini
otomatis bernilai nol pada saat atom berada di ujung 𝑠 = 0, dan kita memilih K
untuk membuat perubahan nol di ujung 𝑠 = 10.

Gambar 4. Kondisi terikat sin 𝑠𝐾𝑎 = 0untuk 𝑠 = 10 dapat diperoleh dengan memilih 𝐾 =
𝜋⁄10𝑎 , 2 𝜋⁄10𝑎 , … 9𝜋⁄10𝑎, dimana 10a merupakan panjang L dari garis.
Gambar yang ditunjukkan pada runag K. Dot tdiatas bukan atom akan tetapi jumlah
dari K . Pada partikel 𝑁 + 1 dalam garis, hanya 𝑁 − 1 yang diperbolehkan untuk
berpindah, dan paling umum pergerakannya dapat diungkapkan pada 𝑁 − 1 adalah
nilai yang diperbolehkan dari K. Kuantisasi K tidak berhubungan dengan mekanika
kuantum akan tetapi ada hubungannya dengan mekanika klasik dari kondisi terikat
atom

Kita anggap bahwa partikel 𝑠 = 0 dan 𝑠 = 𝑁 pada ujung garis tetap ada.
Masing-masing mode vibrasi normal dengan polarisasi 𝑝 yang memiliki
bentuk gelombang berdiri, dimana 𝑢𝑠 adalah pemindahan partikel s :
𝑢𝑠 = 𝑢(0) exp(−𝑖𝜔𝐾𝑝 𝑡) sin 𝑠𝐾𝑎 (9)

7
Dimana 𝜔𝐾𝑝 dihubungkan oleh K dengan hubungan dispersi yang tepat.
Seperti pada Gambar 4, gelombang vektor K dilarang oleh kondisi
fixed-end boundary pada nilai :
𝜋 2𝜋 3𝜋 (𝑁−1)𝜋
𝐾 = 𝐿, , ,…, (10)
𝐿 𝐿 𝐿

Solusi untuk 𝐾 = 𝜋⁄𝐿 adalah :


𝑢𝑠 ∞ sin(𝑠𝜋𝑎 ⁄𝐿) (11)
Dan akan hilang apabila 𝑠 = 0 dan dibutuhkan 𝑠 = 𝑁.
Solusi untuk K = Nπ/L = π/a = Kmaks dengan us ∞ sin sπ; ini tidak
diperbolehkan ada gerakan atom apapun, karena sin sπ hilang di setiap
atom. Jadi, N - 1 diperbolehkan nilai-nilai bebas dari K dalam pers.(12).
Jumlah ini sama dengan jumlah partikel yang diperbolehkan untuk
bergerak. Setiap nilai K diperbolehkan dikaitkan dengan gelombang
berdiri. Untuk garis satu dimensi ada satu modus untuk setiap interval ΔK
= π /L, sehingga jumlah modus per jangkauan unit dari K adalah L/π
untuk K ≤ π/a, dan 0 untuk K > π/a. (Kittel, 2005)
Ada tiga polarisasi p untuk setiap nilai K: dalam satu dimensi dua
polarisasi transversal dan satu polarisasi longitudinal. Dalam tiga dimensi
polarisasi yang sederhana ini hanya untuk vektor gelombang di arah
kristal khusus tertentu. Perangkat lain untuk menyebutkan modus sama
berlaku. Dengan menganggap medium sebagai tak terbatas, namun
diperlukan bahwa solusi bersifat periodik melalui jarak L besar, sehingga
u (sa) = u (sa + L). Metode keadaan batas periodik (Gambar 5.4 dan 5.5)
tidak mengubah fisik dari masalah dalam hal apapun untuk sistem yang
besar. Dalam solusi gelombang berjalan us = u(0) exp[i(sKa – ωkt)] nilai-
nilai K diperbolehkan adalah
2𝜋 4𝜋 6𝜋 𝑁𝜋
𝐾 = 0, ± ,± ,± ,…,,± (5.12)
𝐿 𝐿 𝐿 𝐿

8
Gambar 5. Dianggap partikel N dibatasi untuk meluncur di sebuah cincin melingkar.Partikel-
partikel dapat berosilasi oleh mata air elastis.

Gambar 6. Nilai-nilai gelombang vektor K untuk kondisi batas periodic diterapkan pada kisi
linear periodisitas N = 8 atom pada garis panjang L. K = 0 solusi adalah modus
seragam.

Metode pencacahan memberikan jumlah yang sama dari modus


(satu per atom mobile) seperti yang diberikan oleh pers.(10), tapi kita
miliki sekarang dua nilai baik positif dan negatif dari K, dengan interval
ΔK = 2π / L antara nilai-nilai K. Untuk keadaan batas periodik, jumlah
modus per jangkauan unit dari K adalah L/2π untuk -π / a ≤ K ≤ π / a,
dan sebaliknya. Situasi dalam kisi dua dimensi digambarkan dalam
Gambar 5.
Kita perlu tahu D(ω), jumlah modus per jangkauan frekuensi unit
polarisasi diberikan. Jumlah modus D(ω) dω di dω pada ω diberikan
dalam satu dimensi dengan
𝐿 𝑑𝐾 𝐿 𝑑𝜔
𝐷1 (𝜔)𝑑𝜔 = 𝜋 𝑑𝜔 𝑑𝜔 = 𝜋 𝑑𝜔⁄𝑑𝐾 (5.15)

9
Gambar 7. Diperbolehkan nilai-nilai dalam ruang Fourier dari gelombang fonon vektor K untuk
kisi persegi kisi konstan, dengan kondisi batas periodik diaplikasikan di atas sebuah
persegi samping L = 10a.

Kita dapat memperoleh kecepatan grup dω/dK dari dispersi hubungan ω


terhadap K. Ada singularitas di D1 (ω) setiap kali hubungan dispersi ω(K)
adalah horizontal; yaitu, setiap kali kecepatan grup sama dengan nol.

Kepadatan Keadaan dalam Tiga Dimensi


Diterapkan kondisi batas periodik atas sel primitif N3 dalam kubus sisi L,
sehingga K ditentukan oleh kondisi

𝑒𝑥𝑝[𝑖(𝐾𝑥 𝑥 + 𝐾𝑦 𝑦 + 𝐾𝑧 𝑍)] ≡ 𝑒𝑥𝑝 [𝑖 (𝐾𝑥 (𝑥 + 𝐿) + 𝐾𝑦 (𝑦 + 𝐿) +

𝐾𝑧 (𝑧 + 𝐿))] (14)

di mana
2𝜋 4𝜋 6𝜋 𝑁𝜋
𝐾 = 𝐾𝑥 , 𝐾𝑦 , 𝐾𝑧 = 0; ± ,± ,± ,…,,± (15)
𝐿 𝐿 𝐿 𝐿

Oleh karena itu, ini merupakan satu nilai diperbolehkan dari K per
volume (2π/L)3 dalam ruang K, atau
𝐿 3 𝑉
(2𝜋) = 8𝜋3 (16)

diperbolehkan nilai-nilai dari K per unit volume dari ruang K, untuk


setiap polarisasi dan setiap cabang. Volume dari bahan percobaan adalah
V = L3.

10
Nomor total dari modus dengan vektor gelombang kurang dari K
dididapatkan dari pers.(18) untuk (L/2π)3 kali volume bola dari jari-jari
K, diperoleh:
𝐿 3 4𝜋𝐾3
𝑁 = (2𝜋) (17)
3

Untuk masing-masing tipe polarisasi. Besarnya kepadatan untuk masing-


masing polarisasi adalah :
𝐷(𝜔) = 𝑑𝑁⁄𝑑𝜔 = (𝑉𝐾 2 ⁄2𝜋 2 )(𝑑𝐾 ⁄𝑑𝜔) (18)

2. Panas Spesifik
Panas spesifik (specific heat) adalah kapasitas panas pes satuan
massa per derajat K, yang juga sering dinyatakan sebagai kapasitas panas
per mole per derajat K. Untuk membedakan dengan kapasitas panasa
yang ditulis dengan huruf besar (Cv dan Cp), maka panas spesifik
dituliskan dengan huruf kecil (cv dan cp) (Kittel, 2005).
Perhitungan klasik. Menurut hukum Dulong-petit (1820), panas
spesifik unsur adalah hampir sama untuk semua unsur, yaitu sekitar 6
cal/mole K. Boltzman kemudian menunjukkan bahwa angka yang
dihasilkan oleh Dulong- Petit dapat ditelusuri melalui pandangan bahwa
energi dalam padatan tersimpan dalam atom-atomnya yang bervariasi.
Energi atom-atom ini diturunkan dari teori kinetik gas (Kittel, 2005).
Dalam teori kinetik gas, molekul gas ideal memiliki tiga derajat
kebebasan dengan energi kinetik rata-rata per derajat kebebasan adalah
1 3
𝑘 𝑇 sehingga energi kinetik rata-rata dalam tiga dimensi adalah 2 𝑘𝐵 𝑇.
2 𝐵

Energi per mole adalah


3 3
Ek/mole =2 𝑁𝑘𝑏 𝑇 = 2 𝑅𝑇 , (N bilangan Avogadro)

Yang merupakan energi internal gas ideal. Dalam padatan, atom-


atom saling terikat;atom bervibrasi sekitar titik keseimbangannya. Oleh
karena itu, selain energi kinetik terdapat pula energi potensial sehingga

11
1
energi rata-rata per derajat kebebasan bukan I 𝑘𝐵 𝑇 melainkan 𝑘𝐵 𝑇
2

Energi per mole padatan menjadi


Etot/mole padat = 3RT cal/mole
Panas spesifik pada volume konstan
𝑑𝐸
Cv = 𝑑𝑇 |v = 3R = 5,96 cal/moleoK

Angka inilah yang di peroleh oleh Dulong-Petit. Pada umumnya


Hukum Dulong-Petit cukup teliti untuk temperatur di atas temperatur
kamar. Namun beberapa unsur memiliki panas spesifik pada temperatur
kamar yang lebih rendah dari angka Dulong-Petit, misalnya Be
([𝐻𝑒] 2𝑠2), B ([𝐻𝑒]2𝑠2 2𝑝1), B([𝐻𝑒] 2𝑠2 2𝑝2), Si ([𝑁𝑒] 3𝑠2 3𝑝2). Uns
ur-unsur ini orbital terluarnya terisi penuh atau membuat ikatan kovalen
dengan unsur sesamanya. Oleh karena itu pada temperatur kamar hampir
tidak terdapat elektron bebas dalam material ini. Lebih rendahnya
kapasitas panas yang dimiliki ini disebabkan oleh tidak adanya kontribusi
elektron bebas dalam peningkatan energi material (Kittel, 2005).
Sebaliknya pada unsur-unsur yang sangat elektropositif seperti Na
([𝑁𝑒] 3𝑠1)misalnya, kapasitas panas pada temperatur tinggi melebihi
prediksi Dulong-Petit karena adanya kontribusi elektron bebas dalam
penyimpanan energi internal (Kittel, 2005).
Pada temperatur yang sangat rendah panas spesifik semua unsur
menuju nol. Perhitungan Einsten. Einsten melakukan perhitungan panas
spesifik dengan menerapkan teori kuantum.ia menganggap padatan terdiri
dari N atom, yang masing-masing bervivrasi (osilator) secara bebas pada
arah tiga dimensi, dengan frekuensi Fe. Mengikuti hipotesa Planck
tentang terkuantisasinya energi, energi osilator adalah En = nhfE
Dengan n adalah bilangan kuantum, n= 0,1,2,....... jika jumlah
osilator tiap status energi adalah Nn dan N0 adalah jumlah asilator pasa
statusNn En dan total energi dalam padatan adalah Nn dan N0 adalah
jumlah asilator pada status0, maka menuruti fungsi Bolztmann
Nn = N0e-(𝐸𝑛 /𝑘𝐵 𝑇)

12
Jumlah energi per status energiadalah Nn En dan total energi dalam
padatan adalah
E =∑𝑛 𝑁𝑛 𝐸𝑛
Sehingga energi rata-rata osilator adalah
𝐸 ∑ 𝑁 𝐸 ∑ 𝑁 𝐸 −(𝑛ℎ𝑓𝐸 /𝑘
𝐵 𝑇)𝑛ℎ𝑓𝐸
𝐸̅ =𝑁 = ∑𝑛 𝑁𝑛 𝑛 = 𝑛∑ 0 𝑁 −(𝑛ℎ𝑓𝐸 /𝑘 𝑇)
𝑛 𝑛 𝑛 0𝐸 𝐵

Untuk memudahkan penulisan, kita misalkan x = - 𝑛𝑓𝐸 /𝑘𝐵 𝑇


sehingga persamaan diatas dapat ditulis menjadi
𝐸 ∑ 𝑒 −𝑛𝑥 𝑛ℎ𝑓 ℎ𝑓𝐸 (0+𝑒 𝑥 +𝑒 2𝑥 +𝑒 3𝑥 +⋯..)
𝐸̅ =𝑁 = 𝑛∑ 𝐸
=
𝑛 𝑒 −𝑛𝑥 1+𝑒 𝑥 +𝑒 2𝑥 +𝑒 3𝑥 +⋯

Pada pesermaan diatas terlihat bahwa pembilang adalah adalah


turunan dan penyebut, sehingga dapat dituliskan
𝑑
𝐸̅ =ℎ𝑓𝐸 𝑑𝑥 ln(1 + 𝑒 𝑥 + 𝑒 2𝑥 + 𝑒 3𝑥 + ⋯ )

Apa yangberada dalam tanda kurung (persamaan diatas)


merupakan deret yang dapat dituliskan sebagai
1
1 + 𝑒 𝑥 + 𝑒 2𝑥 + 𝑒 3𝑥 + ⋯ =
1 − 𝑒𝑥
Sehingga
𝑑 1 (1−𝑒 𝑥 ) 1
𝐸̅ =ℎ𝑓𝐸 𝑑𝑥 ln(1−𝑒 𝑥 ) = ℎ𝑓𝐸 = ℎ𝑓𝐸 (1−𝑒 𝑥 )
−(1−𝑒 𝑥 )
ℎ𝑓
= 𝑒−ℎ𝑓𝐸
−1
𝑘𝐵 𝑇

Dengan N atom yang masing-masing merupakam osilator bebas


yang berosilasi tiga dimensi, maka didapatkan total energi internal (Kittel,
2005).
3𝑁𝑛ℎ𝑓𝐸
E = 3N𝐸̅ = 𝑒−ℎ𝑓
−1
𝑘𝐵 𝑇

Panas spesifik
𝑑𝐸 ℎ𝑓 𝑒 ℎ𝑓𝐸 /𝑘𝐵 𝑇
Cv = 𝑑𝑇 |v = 3NkB (𝑘 𝐸𝑇)2 𝑒ℎ𝑓𝐸 2
𝐵 ( )
𝑘𝐵 𝑇

Frekuensi Fe, yang kemudian disebut frekuensi Einstein,


ditentukan dengan cara mencocokan kurva dengan data-data
eksperimental. Hasil yang diperoleh adalah bahwa pada temperatur

13
rendah kurva Einstein menuju nol jauh lebih cepat dari data eksperimen
(Kittel, 2005).

B. Rapat Keadaan Model Klasik


Andaikan atom bermasa 𝑚 melakukan gerak harmonik dengan
frekuensi 𝜔. Bila konstanta gaya pemulih adalah 𝜇, perpindahan atom dari
titik kesetimbangannya adalah 𝜋, dan kecepatannya adalah v, maka energi
totalnya adalah (Kittel, 2005):
𝐸 = Energi kinetik + Energi potensial
1 1
𝐸= 𝑚𝑣 2 + 2 𝜇𝑥 2
2
1
𝐸 = 2 (𝑣 2 + 𝜔2 𝑥 2 ) (B.1)

Energi rata-rata sesuai dengan didistribusi Boltzmann, harga ekspektasi


klasik
𝑣 𝑥
∫0 𝑚 ∫0 𝑚 𝐸.𝑒 −(𝐸/𝑘0 𝑇) 𝑑𝑣𝑑𝑥
〈𝐸〉 = 𝑣 𝑥 (B.2)
∫0 𝑚 ∫0 𝑚 𝑒 −(𝐸/𝑘0 𝑇) 𝑑𝑣𝑑𝑥

𝑇 = suhu ; 𝑘0 = Konstanta Botzmann


Dengan mensubstitusikan persamaan (1) ke dalam persamaan (2) dan
mengingat bahwa
𝑛+1
~ 2 1 𝑛+1
𝐼(𝑛) = ∫0 𝑒 𝛼𝑥 𝑥 𝑛 𝑑𝑥 = 2 Γ [ 2
] 𝛼− 2 (B.3)

Maka Persamaan (2) dapat dievaluasi, hasilnya adalah :


〈𝐸〉 = 𝑘0 𝑇 (B.4)
Untuk N atom yang mana masing-masing memiliki tiga derajat kebebasan,
sehingga energi total kisi adalah :
𝑈 = 3𝑁𝑘0 𝑇 (B.5)
Dari sini, panas jenisnya adalah :
𝜕𝑈
𝐶𝑉 = ( 𝜕𝑇 ) = 3𝑁𝑘0 (B.6)
𝑣

Pada volume konstan, panas per mole adalah :


𝑗𝑜𝑢𝑙𝑒
𝐶𝑉 = 3𝑁0 𝑘0 = 24,94 𝑀𝑜𝑙𝑒 − 𝐾𝑒𝑙𝑣𝑖𝑛 (B.7)

14
Ini dikenal sebagai hukum Dulong dan Petit. Tampak bahwa panas jenis
adalah konstan, tidak tergantung pada suhu.
Secara eksperimen panas jenis sesungguhnya adalah tergantung pada
suhu, seperti diperlihatkan pada Gambar berikut. Oleh karenanya perlu
pejelasan lebih lanjut untuk menjelaskan ketergantungan panas jenis pada
suhu

Gambar 8. Ketergantungan Suhu dari Panas Jenis Argon, Xenon, dan Kripton. Gaaris
Mendatar adalah Hasil Perhitungan Secara Klasik

C. Rapat Keadaan Model Einstein


Berdasarkan kesuksesan dari M. Planck dalam menggambarkan radiasi
benda hitam dengan aturan terkuantisasinya, Einstein kemudian mengambil
aturan tersebut untuk menjelaskan bagaimana ketergantungan panas jenis
terhadap suhu. Dalam hal ini gelombang elastis yang digambarkan sebagai
fonon adalah analog dengan foton. Secara kuantum energi suatu keadaan
(osilator) adalah diungkapkan sebagai (Kittel, 2005):
𝐸𝑛 = 𝑛ℏ𝜔 ; n = 0, 1, 2
Dan probalitas keadaan ke n adalah :
𝐸
𝑔𝑛 = 𝑒𝑘𝑝 [𝑘 𝑛𝑇] (C.1)
0

15
Energi rata-rata sesuai dengan osilator dalam kesetimbangan
termalnya, adalah :
∑∞
𝑛=0 𝐸𝑛 𝑒
−(𝐸𝑛 /𝑘0 𝑇)
〈𝐸〉 = (C.2)
∑∞
𝑛=0 𝑒
−(𝐸𝑛 /𝑘0 𝑇)

Dengan mengingat bentuk penjumlahan untuk x < 1 berlaku hubungan


1
∑𝑛 𝑥 𝑛 = ;
1−𝑥
𝑑 1
∑𝑛 𝑛𝑥 𝑛 = 𝑥 ∑𝑛 𝑥 𝑛 = (1−𝑥)2 (C.3)
𝑑𝑥

maka Persamaan (C.2) dapat dievaluasi, dan hasilnya adalah


−1
〈𝐸〉 = ℏ𝜔[𝑒 (ℏ𝜔/𝑘0 𝑇) − 1] (C.4)
Untuk penyederhanaan, Einstein menganggap bahwa N atom memiliki
3 N ragam vibrasi dan seluruhnya memiliki frekuensi sudut yang sama, yaitu
𝜔𝐸 . Dengan demikian setiap ragam vibrasi memiliki energi yang sama,
yaitu <E>. Energi vibrasi kisi secara total adalah
3𝑁ℏ𝜔𝐸
𝑈= ℏ𝜔𝐸 (C.5)
[𝑒𝑘𝑝( )−1]
𝑘0 𝑇

Dengan menggunakan Persamaan .(C.5) ini, panas jenis pada volume


konstan adalah
𝜕𝑈
𝐶𝑣 = ( 𝜕𝑇 )
𝑣

= 3𝑁𝑘0 𝐹𝐸 (𝜔𝐸 , 𝑇) (C.6)


dengan fungsi Einstein 𝐹𝐸 (𝜔𝐸 , 𝑇) adalah
ℏ𝜔𝐸 2 ℏ𝜔
( ) 𝑒𝑘𝑝( 𝐸 )
𝑘0 𝑇 𝑘0 𝑇
𝐹𝐸 (𝜔𝐸 , 𝑇) = ℏ𝜔𝐸 2 (C.7)
[𝑒𝑘𝑝( )−1]
𝑘0 𝑇

Fungsi Einstein adalah mendekati satu pada suhu tinggi, sehingga


panas jenisnya adalah sama dengan panas jenis klasik.
Dengan mendefinisikan suhu karakteristik Einstein, 𝑇𝐸 = ℏ𝜔𝐸 /𝑘0 ,
pada T << 𝑇𝐸 maka Persamaan (C.7) menjadi
ℏ𝜔 2 ℏ𝜔
𝐹𝐸 (𝜔𝐸 , 𝑇) = ( 𝑘 𝑇𝐸 ) 𝑒𝑘𝑝 (− 𝑘 𝑇𝐸 )
0 0

𝑇 2 𝑇𝐸 2
= ( 𝑇𝐸 ) 𝑒𝑘𝑝 (− ) (C.8)
𝑇

16
Perbandingan kurva panas jenis model klasik dan model yang dibuat
oleh Einstein sebagaimana diperlihatkan pada Gambar di bawah,

Gambar 9. Panas jenis model klasik Dulong - Petit dibandingkan dengan model Eintein.
Sesuai dengan prinsip mekanika kuantum “modern” yang mana
dibangun 20 tahun setelah masanya Einstein, energi kuantum persamaan
𝐸𝑛 = 𝑛ℏ𝜔 dimodifikasi menjadi :
1
𝐸𝑛 = (2 + 𝑛) ℏ𝜔 (C.9)

Ada tambahan energi ½ℏ𝜔, adalah energi titik nol karena ada pada
seluruh suhu termasuk T = 0.

D. Rapat Keadaan Model Debye


Kelemahan dari model Einstein adalah terletak pada anggapan bahwa
semua modus vibrasi mempunyai frekwensi sama 𝜔𝐸. Sebelum membahas
model Debye terlebih dahulu dibahas rapat keadaan dan jumlah ragam vibrasi
dalam daerah frekwensi 𝜔, 𝜔 + 𝑑𝜔. Persamaan gelombang untuk suatu
polarisasi (longitusinal atau transversal) didalam ruang isotropik 3 dimensi
(Kittel, 2005).
𝜕2 ψ 𝜕2 ψ 𝜕2 ψ 1 𝜕2 ψ
+ 𝜕𝑦 2 + = 𝑣 𝜕𝑡 2 (D.1)
𝜕𝑥 2 𝜕𝑧 2

ψ = perpindahan posisi, 𝑣 = cepat rambat. Pada batas kristal


perpindahan ψ → 0, dan solusi Persamaan di atas adalah dalam bentuk
gelombang berdiri.
𝑈~ sin(𝑘𝑥 𝑥) 𝑠𝑖𝑛(𝑘𝑦 𝑦)𝑠𝑖𝑛 (𝑘𝑧 𝑧)𝑒 −𝑖𝜔𝑡 (D.2)

17
Komponen-komponen k dalam Lx, Ly, Lz adalah :
2𝜋 2𝜋 2𝜋
𝑘𝑥 = 𝑚𝑥 ; 𝑘𝑦 = 𝑚𝑦 ; 𝑘𝑧 = 𝑚𝑧 (D.3)
𝐿𝑥 𝐿𝑦 𝐿𝑧

𝑚 = bilangan bulat
Terdapat satu harga k per volume (2𝜋/L)3 dalam ruang k, atau
𝐿 3 𝑉
(2𝜋) = 8𝜋3 (D.4)

harga k yang diijinkan per satu satuan volume di dalam ruang k.


Jumlah total ragam dengan vektor gelombang kurang dari k adalah (𝐿/2𝜋)3
kali volume bola yang berjari-jari k, yaitu :
𝐿 3 4𝜋𝑘 3
𝑁 = (2𝜋) ( ) (D.5)
3

Rapat keadaan adalah didefinisikan sebagai


𝑑𝑁 𝑉𝑘 2 𝑑𝑘
𝑔(𝜔) = (𝑑𝜔) = (D.6)
2𝜋 2 𝑑𝜔

Dalam pendekatan Debye digunakan relasi dispersi 𝜔 = 𝑣𝑘 di mana


v= kecepatan yang konstan. Dengan demikian, rapat keadaan pers menjadi :
𝑉𝜔 2 𝑉𝜔 2 1 2
𝑔(𝜔) = 2𝜋2 𝑉 3 = (𝑉 3 + 𝑉 3 ) (D.7)
2𝜋 2 𝐿 𝑇

Selanjutnya kita bahas panas jenis sesuai dengan model Debye. Model
ini didasarkan pada asumsi Berarti sistem mempunyai ragam utama dengan 3
N derajat kebebasan. Oleh karenanya
𝜔𝑚
3𝑁 = ∫0 𝑔(𝜔)𝑑𝜔 (D.8)
Sebagai pendekatan, Debye mendefinisikan bahwa
3𝑉𝜔 2
𝑔(𝜔) ≅ 2𝜋2 𝑣 3
0 < 𝜔 < 𝜔0 (D.9)
0

Untuk seluruh ragam vibrasi, kemudian Persamaan (D.8) dapat ditulis


sebagai
3𝑁 𝜔𝐷 3𝜔 2 𝜔 2
= ∫0 𝑑𝜔 = 2𝜋2𝐷𝑣 (D.10)
𝑉 2𝜋 2 𝑣0 3 0
3

Atau
1/3
6𝜋 2 𝑁
𝜔𝐷 = ( ) 𝑣0 (D.11)
𝑉

𝜔𝐷 disebut dengan frekuensi ambang


Suhu karateristik Debye diungkapkan dalam bentuk

18
ℏ𝜔𝐷
𝜃𝐷 = ( )
𝑘0
1/3
ℏ𝜔𝐷 6𝜋 2 𝑁
𝜃𝐷 = ( )( ) (D.12)
𝑘0 𝑉

Selanjutnya, energi vibrasi kisi per satu satuan volume adalah


(ℏ𝜔)𝑔(𝜔)𝑑𝜔
𝑈 = ∫ [𝑒𝑥𝑝(ℏ𝜔/𝑘 (D.13)
𝑜 𝑇)−1]

Dengan menggunakan ungkapan Persamaan (D.9) maka Persamaan di


atas menjadi
3ℏ 𝜔 3 𝑑𝜔
𝑈 = (2𝜋2 𝑣 3) ∫ ℏ𝜔 (D.14)
0 [𝑒𝑥𝑝( )−1]
𝑘𝑜 𝑇

Kemudian didefinisikan variabel tak berdimensi


ℏ𝜔 ℏ𝜔𝐷 𝜃𝐷
𝑥=𝑘 ; 𝑥𝐷 = = (D.15)
𝑜𝑇 𝑘𝑜 𝑇 𝑇

Sehingga persamaan (D.14) dapat diungkapkan dalam variabel x


3𝑘 4 𝑇 4 𝑥𝐷 𝑥 3 𝑑𝑥
𝑈 = 2𝜋20𝑣 3 ℏ3 ∫0
0 𝑒 𝑥 −1

9𝑁𝑘0 𝑇 4 𝑥𝐷 𝑥 3 𝑑𝑥
𝑈= 3 ∫0 (D.16)
𝑉𝜃𝐷 𝑒 𝑥 −1

Panas jenis dicari dengan mendiferensialkan pers. (c) terhadap T, yaitu


4 ℏ𝜔
𝜕𝑈 3ℏ2 𝜔𝐷 𝜔 𝑒𝑥𝑝(𝑘0 𝑇)
𝐶𝑉 = ( 𝜕𝑇 ) = ∫ (D.17)
2𝜋 2 𝑣0 3 𝑘0 𝑇 2 0 [𝑒𝑥𝑝( ℏ𝜔 )−1]2
𝑘0 𝑇

Dan dalam variable x


9𝑁𝑘0 𝑇 3 𝑥 𝑥4𝑒 𝑥
𝐶𝑉 = (𝜃 ) ∫0 𝐷 [𝑒 𝑥 −1]2 (D.18)
𝑉 𝐷

Kurva panas jenis suatu zat padat (per-mol) sebagai fungsi suhu sesuai
dengan model Debye yang diberikan pada gambar di bawah
Sifat-sifat termal 𝑈 dan 𝐶𝑉 melibatkan integral yang cukup rumit untuk
diselesaikan secara langsung. Akan tetapi dengan mudah dapat diselesaikan
secara analitik dengan pendekatan pada suhu yang sangat tinggi dan sangat
rendah. Untuk suhu yang sangat tinggi dimana 𝑇 ≫ 𝜃𝐷 (Kittel, 2005).
𝑥3
≅ 𝑥2 (D.19)
𝑒 𝑥 −1

19
Gambar 10. Panas jenis sebagai fungsi suhu. Lingkaran adalah data eksperimen dari
Yttrium yang dilaporkan oleh l.D. Jennings, dkk. (1960)
Sehingga persamaan 4.25 dapat diungkapkan kembali dalam bentuk
suhu T,
3
9𝑁𝑘0 𝑇 4 𝑥𝐷
𝑈≈ 3
𝑉𝜃𝐷 3
3
9𝑁𝑘0 𝑇 4 𝜃𝐷 3𝑁𝑘0 𝑇
𝑈= 3 = (D.20)
𝑉𝜃𝐷 3𝑇 3 𝑉

Dan panas jenis pers. (D.18) menjadi


3𝑁𝑘0
𝐶𝑣 ≈ (D.21)
𝑉

Hasilnya ternyata sesuai dengan pendekatan klasik. Untuk T << 𝜃𝐷 ,


dengan mengambil batas atas sampai tak terhingga dapat diperoleh
~ 𝑥 3 𝑑𝑥 ~
∫0 = ∫0 𝑥 3 ∑~
𝑠=1 𝑒
−𝑛𝑥
𝑒 𝑥 −1
1 𝜋4
= 6 ∑~
𝑠=1 𝑠4 = 15

Dengan demikian, persamaan energi total pers. 4.25 dapat dinyatakan


dalam suhu T, yaitu
3𝜋𝑁𝑘0 𝑇 4
𝑈≅
5𝑉𝜃𝐷3
Kemudian panas jenis 𝐶𝑣 dapat dihitung, yaitu
12𝜋 4 𝑁𝑘0 𝑇 3 𝑇 3
𝐶𝑣 ≅ (𝜃 ) ≅ 234𝑁𝑘𝐷 (𝜃) (D.22)
5𝑉 𝐷

Hasilnya memperlihatkan bahwa panas jenis berbanding lurus dengan


𝑇 3 . Persamaan (4.29) ini disebut dengan hukum Debye 𝑇 3 . Untuk suatu

20
gradien suhu yang kecil arus thermal yang diamati sebanding dengan ∇T
(Kittel, 2005):
𝑑𝑇
𝑗𝑣 = −𝐾 𝑑𝑥

𝐽 = −𝐾∇𝑇 (D.23)
Energi thermal per elektron adalah 𝜀(𝑇{𝑥 − 𝑙}. 1 = 𝑉𝑥 𝜏 adalah panjang
lintasan bebas rata-rata bila v = kecepatan rata-rata dan 𝜏 = waktu rata-rata
1
𝐽=
𝑛𝑣(𝜀(𝑇[𝑥 − 1])𝜀(𝑇[𝑥 + 1]))
2
Dengan perubahan suhu pada lintasan bebas rata-rata adalah sangat
kecil, persamaan di atas dapat diekspansikan sehingga diperoleh
𝑑𝜀 𝑑𝑇
𝐽 = 𝑛𝑣𝑥2 𝜏 𝑑𝑇 (− 𝑑𝑥 ) (D.24)

Kecepatan elektronik rata-rata dalam berbagai arah 〈𝑣𝑥2 〉 = 〈𝑣𝑦2 〉 =


〈𝑣𝑧2 〉 = 1/3𝑣 karena :
𝑑𝜀 𝑁 𝑑𝜀
𝑛 = ( ) = 𝐶𝑣
𝑑𝑇 𝑉 𝑑𝑇
adalah panas jenis, maka pers.(4.31) dapat ditulis sebagai
1
𝐽 = 3 𝑣 2 𝜏𝐶𝑣 (−∇𝑇) (D.25)

Dengan membandingkan persamaan.(D.23) dan persamaan (D.25)


maka koefisien konduktivitas panas dapat diungkapkan sebagai
1 1
𝑘 = 3 𝑣 2 𝜏𝐶𝑣 = 3 𝑙𝑣𝐶𝑣 (D.26)

Dari pembicaraan konduktivitas listrik DC pada logam rapat arus


𝐽 = 𝜎𝐸
𝑛𝑒 2 𝜏
𝜎=( )
𝑚
E= medan listrik, m = masa elektron, e = muatan elektron mak
Dari pendekatan klasik, 𝐶𝑣 = 3/2 n𝑘0 dan ½ m𝑣 2 = 3/2 𝑘0 T, pers.(4-34)
menjadi
1
𝐾 3 𝐶𝑣 𝑚𝑣 2
=( )
𝜎 𝑛𝑒 2

21
𝐾 3 𝑘0 2
= ( )
𝑇𝜎 2 𝑒
≅ 1,11. 10−8 𝑤𝑎𝑡𝑡 − Ohm/𝑘 2
Ini dikenal sebagai hukum Wiedemann-Franz, dan sering disebut
seabgai bilangan Lorentz. Harga ini adalah sekitar setengah dari harga hasil
eksperimen (Kittel, 2005).
Analisis difraktogram pada analisis XRD akan digunakan untuk
menghitung ukuran partikel, yang ditentukan metode Debye Scherrer, yaitu
dengan menggunakan persamaan berikut.
𝑘. 𝜆
𝐷=
𝐵 cos 𝜃
Dengan D = ketebalan kristal yang juga dapat dianggap sebagai ukuran
kristal (nm), K = konstanta material yang nilanya kurang dari satu, nilai yang
umumya dipakai untuk K adalah (0,9), λ= panjang gelombang sinar-X yang
digunakan pada waktu pengukuran (nm), B = lebar setengah puncak pada
difraktogram, θ = berasal dari data grafik 2θ pada difraktogram (Astuti &
Khairurrijal, 2009)

Gambar 11. Kurva kerapatan keadaan sebagai fungsi pada model Einstein dan Debye

Perbedaan kurva kerapatan keadaan sebagai fungsi pada model


Einstein dan Debye diperlihatkan pada gambar diatas. Berapa nilai ωm pada
model Debye? Untuk menentukan ωm kita kembali kepada definisi bahwa
g(ω) adalah jumlah keadaan per satuan frekuensi. Karena frekuensi
maksimum fonon adalah ωm maka integral g(ω) dari frekuensi 0 sampai ωm

22
memberikan jumlah total keadaan yang dimiliki fonon, dan itu sama dengan
jumlah atom,N (Sinensis, Dian, & Firdaus, 2012).

E. Temperature Debye
Pada setiap temperature rendah kita bisa menggunakan persamaan
berikut,
𝑇 3 𝑥 𝑥3
𝑈 = 9𝑁𝑘𝐵 𝑇 (𝜃) ∫0 𝐷 𝑑𝑥 (E.1)
𝑒 𝑥 −1

dimana persamaan atas tersebut membiarkan batas atas menuju tak terhingga.
Kita mendapatkan persamaan berikut,
∞ ∞ ∞ ∞
𝑥3 1 𝜋4
∫ 𝑑𝑥 𝑥 = ∫ 𝑑𝑥 𝑥 3 ∑ exp(−𝑠𝑥) = 6 ∑ 4 =
0 𝑒 −1 0 𝑠 15
𝑠=1 1
−4
dimana, jumlah lebih dari 𝑠 ditemukan dalam table standar. Demikian 𝑈 ≅
3𝜋 4 𝑁𝑘𝐵 𝑇 4 /5𝜃 3 pada 𝑇 ≪ 𝜃 dan
12 𝜋4 𝑇 3 𝑇 3
𝐶𝑣 ≅ 𝑁𝑘𝐵 ( ) ≅ 234 𝑁𝑘𝐵 ( ) , (E.2)
5 𝜃 𝜃

Yang merupakan pendekatan 𝑇 3 Debye. Hasil eksperimen pada argon


ditunjukan pada gambar berikut.

23
Gambar 12. Kapasitas panas temperature rendah pada padatan argon. Digambarkan
secara berlawanan terhadap T3. Pada temperature ini hasil eksperimen memperoleh
hasil yang sesuai dengan hokum Debye T3 dengan 𝜽 = 𝟗𝟐. 𝟎 𝑲.
Pada suhu yang cukup rendah persamaan T3 cukup bagus. Pada saat
itulah hanya mode akustik panjang gelombang yang panjang yang keluar
secara termal. Ini hanya mode yang boleh berlaku sebagai sebuah konstanta
kontinum elastis. Energy pada mode panjang gelombang yang pendek
(dimana pendekatan ini gagal) ini terlalu tinggi untuk mereka untuk menjadi
populasi yang signifikanpada temperature rendah (Kittel, 2005).
Kita memahami hasil T3berdasarkan hasil argument sederhana pada
gambar berikut.

Gambar 13. Untuk memperoleh sebuah penjelasan kualitatif pada hokum


3
Debye T , kita menduga bahwa semua mode phonon vector gelombang kurang dari K T
mempunyai energy termal klasik kBT dan mode itu antara KT. dari 3N mode yang
memungkinkan, bentuk pecahannya adalah (KT/KD)3 = (T/𝜽)3,
Hanya mode kisi yang mempunyau ℏ 𝜔 < 𝑘𝐵 𝑇akan sangat menarik sampai
batas tertentu pada temperature T rendah. Eksitasi pada mode ini akan
menjadi pendekatan klasik, masing- masing dengan energy yang mendekati
pada KBT, berdasarkan gambar berikut.

24
Gambar 14. Sketsa pada fungsi distribusi Planck. Pada te,peratur yang tinggi
Pada volume yang diizinkan dalam daerah K, pecahan ditempati oleh
mede excited secara berurutan pada (𝜔T/𝜔D)3 atau (𝐾 T/𝐾 D)3, dimana KT
adalah “termal” vector gelombang didefinisikan sebagai ℏ𝑣𝐾𝑇 = 𝑘𝐵 𝑇 dan
KD adalah Debye memotong vector gelombang. Demikian pecahan yang
terisi adalah (T/𝜃)3 pada volume total dalam daerah K. berada pada urutan
3N(T/𝜃)3 mode excited, masing- masing mempunyai energy kBT. energy
adalah ~3N kBT(T/𝜃)3 , and the heat capacity is ~12 N kBT(T/𝜃)3 .
Untuk kristal yang sebenarnya bertemperatur pada T3 pendekatan
berlaku cuikup rendah. itu munkin diperlukan untuk suhu rendah T= 𝜃/50
untuk mendapat perilaku T3 yang cukup murni.
Nilai yang dipilih pada 𝜃 dapat di lihat pada table berikut,
Tabel 1. Temperatur Debye dan Konduktivitas Debay

25
Catatan, untuk contoh, dalam logam alkali bahwa atom yang lebih
berat memiliki 𝜃 yang lebih kecil, karena kecepatan pada bunyi berkurang
bersamaan dengan meningkatnya kerapatan atau densitas (Kittel, 2005).

F. Persamaan Debye
Penyimpangan tersebut, menurut Debye, disebabkan oleh asumsi yang
diambil Einstein bahwa atom-atom bervibrasi secara bebas dengan frlekuensi
sama fE. analisis yang perlu dilakukan adalah menentukan spectrum frekuensi
g(f) dimana g(f)df didefinisikan sebagai jumlah frekuensi yang diizinkan
yang terletak antara f dan (f+df) (yang berarti jumlah osilator yang memiliki
frekuensi antara f dan f+df). Debye melakukanpenyederhanaan perhitungan
dengan menganggap padatan sebagai medium merata yang bervibrasi dan
mengambil pendekatan pada vibrasi atom sebagai spectrum gelombang
berdiri sepanjang Kristal (Kittel, 2005).
4𝜋𝑓 2
𝑔(𝑓) = (F.1)
𝑐𝑠 3

dengan cs kecepatan rambat suara dalam padatan. Debye juga memberikan


postulat adanya frekuensi osilasi maksimum, fd, karena jumlah keseluruhan

26
frekuensi yang diizinkan tidak akan melebihi 3N (N adalah jumlah atom yang
bervariasi tiga dimensi). Panjang gelombang minimum adalah 𝜆 D = cs/f D
tidak lebih kecil dari jarak antar atom dalam Kristal. Dengan mengintegrasi
g(f) df kali energy rata- rata yang diberikan oleh (10) ia memperoleh energy
internal untuk satu mole volume kristal (Kittel, 2005).
9𝑁 𝑓𝑑 ℎ𝑓
𝐸=𝑓 3 ∫0 𝑓 2 𝑑𝑓 (F.2)
𝑑 𝑒 ℎ𝑓/𝑘𝐵 𝑇 −1

untuk satu mole volume Kristal


ℎ𝑓𝐷
jika didefinisikan hfD /KBT ≡ 𝜃𝐷 /T, dimana 𝜃D = adalah apa yang
𝑘𝐵

kemudian disebut temperature Deybe, maka panas spesifik menurut Debye


adalah
𝑑𝐸 𝑇 3 𝜃 /𝑇 𝑒 𝑥 𝑥 4 𝑑𝑥
𝑐𝑣 = | = 9𝑁𝑘𝐵 [(𝜃 ) ∫0 𝐷 ] (F.3)
𝑑𝑇 𝑉 𝐷 (𝑒 𝑥 −1)2

atau 𝑐𝑣 = 3𝑁𝑘𝐵 𝐷 (𝜃𝐷 /𝑇)


dengan D(𝜃D/T) adalah fungsi Debye yang didefinisikan sebagai
𝑇 3 𝜃 /𝑇 𝑒 𝑥 𝑥 4 𝑑𝑥
D(𝜃D/T) = 3 𝑥 [(𝜃 ) ∫0 𝐷 (𝑒 𝑥 −1)2
] (F.4)
𝐷

Walaupun fungsi Debye tidak dapat diintegrasi secara analitis, namun dapat
dicari nilai-nilai limitnya.
𝜃
𝐷 ( 𝑇𝐷 ) → 1 Jika 𝑇 → ∞

𝜃 4𝜋 2 𝑇 3
𝐷 ( 𝑇𝐷 ) → (𝜃 ) Jika T<< 𝜃𝐷 (F.5)
5 𝐷

Dengan nilai- nilai limit ini, pada temperature tinggi cv mendekati nilai yang
diperoleh Einstein.
𝑐𝑣 = 3𝑁𝑘𝐵 = 3𝑅
Sedangkan pada temperature rendah
4𝜋 2 𝑇 3 𝑇 3
𝑐𝑣 = 3𝑁𝑘𝐵 (𝜃 ) = 464,5 (𝜃 ) (F.6)
5 𝐷 𝐷

27
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa :
B. Saran
Saran yang kami ajukan adalah :
1. Diharapakan apabila pembaca sudah membaca laporan alat ini
diharapkan tidak hanya laporan ini yang dibaca oleh para pembaca,
melainkan banyak sekali sumber-sumber ataupun buku-buku yang lebih
lengkap. Tarap pembaca yang ingin menulis laporan dengan judul yang
sama, jangan hanya terpacu pada makalah ini, berkreasilah sekreatif
mungkin untuk mencapai pembelajaran yang berkembang dan maju.
2. Pada penulisan laporan ini, kami menyarankan kepada segenap pembaca
agar tidak hanya terpaku kepada makalah yang kami buat dan mencari
referensi lain sebagai perbandingan. Serta kritik dan saran sangat kami
harapkan untuk perbaikan makalah selanjutnya.

28
DAFTAR PUSTAKA

Astuti, M., & Khairurrijal. (2009). Sintesis NanopartikelY2O3:Eu (Yttria) yang


Didispersikan dalam Larutan Polivinil Alkohol Sebagai Tinta Luminisens.
Jurnal Nano sains dan Nanoteknologi Edisi Khusus.
Hasibuan, R. (2005). Proses Pengeringan. . Sumatera Utara: Repository USU.
Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
Juarlin, E., & et all. (2010). Juarlin E, et al.201Integrasi Numerik Kapasitas Panas
Debye Material Logam Menggunakan Metode Newton-Cotes. SIGMA,
13(2), 107-113.
Kittel, C. (2005). Introduction to Solid State Physics. United State of America:
John Wiley & Sons, Inc.
Sembiring, S., & Karo-Karo, P. (2007). Pengaruh Suhu Sintering Terhadap
Karakteristik TYermal dan Mikrostruktur Silika Sekam Pada. J.Sains
MIPA, 233-239.
Sinensis, A. R., Dian, E., & Firdaus, T. (2012). Aplikasi Statistik Bose-Einstein.
Jurnal Fisika, 13-14.
Tamado, D., Budi, E., Wirawan, R., & Dwi, H. (2013). Sifat Termal Karbon Aktif
Berbahan Arang Tempurung Kelapa. Seminar Nasional Fisika, 73-81.
Zannah, S. R. (2016). Pengaruh Temperatur Annealing Pada Sifat Listrik Film
Tipis Zinc Oksida Doping Alumunium Oksida. Jurnal MIPA, 115-122.

29