Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN PRAKTIKUM

ASPEK HUJAN

Chusnul Chotimah
NIM : 171710201026

JURUSAN TEKNIK PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2019
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa
pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah
ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda
tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di
akhirat nanti.
Perkembangan Teknologi Informasi telah membawa perubahan besar dalam
dunia irigasi. Perkembangan tersebut terutama berupa makin berperannya
teknologi elektronika dan informatika. MapInfo menjadi bukti perkembangan
irigasi yang melibatkan teknologi elektronika dan informatika. Map info merupakan
sarana untuk menyampaikan informasi terutama informasi-informasi tentang data
spasial. Selain itu, MapInfow merupakan suatu sistem informasi sumber daya
lahan yang terkomputerisasi menjadi seperangkat prosedur yang berkaitan dengan
penyimpanan, pengolahan, dan penyajian data.
Indonesia merupakan negara beriklim tropis sehingga memiliki dua musim
yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Pada stiap daerah memiliki kondisi
iklim yang berbeda-beda. Kondisi curah hujan, kecepatan angina, lama penyinaran
dan suhu. Untuk menginterpretasi iklim pada suatu wilayah dapat dilakukan
klasifikasi iklim. Klasifikasi iklim yang digunakan dalam penyusunan laporan ini
menggunakan klasifikasi oldeman yang digunakan untuk lahan pertanian pangan.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah


mendukung terselesaikannya penyusunan laporan Aspek Hujan ini. Para pembaca
yang telah meluangkan waktu untuk membaca dan memberikan saran perbaikan
dan juga kerjasamanya dalam penyusunan laporan ini.

Jember, September 2019

Penulis

ii
D AFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................... ii


DAFTAR ISI ....................................... iii
DAFTAR TABEL ....................................... iv
DAFTAR GAMBAR ....................................... iv

BAB 1. PENDAHULUAN ..................................... I-


1
1.1 Latar Belakang ....................................... I-
1
1.2 Tujuan ....................................... I-
1

BAB 2. DASAR TEORI ..................................... II-


1
2.1 Keragaman Iklim ....................................... II-
1
2.2 Klasifikasi Oldeman ....................................... II-
2

BAB 3. METODOLOGI ..................................... III-


1
3.1 Waktu dan Tempat ....................................... III-
1
3.2 Bahan, Alat dan Software ....................................... III-
1
3.3 Metode ....................................... III-
1
3.3.1 Data dan Spasial Curah Hujan .................................... III-
2
3.3.2 Data Hujan Bulanan ....................................... III-
3
3.3.3 Interpretasi EGM ....................................... III-
3
3.3.4 Interpolasi Klasifikasi Spasial Oldeman ....................... III-
3

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................... III-


1
4.1 Tempat dan Waktu ....................................... III-
1
4.2 Stasiun Hujan ....................................... III-
7
4.3 Klasifikasi Oldean Jember Contour ....................................... III-
7
4.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Praktikum ......................... III-
7

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ..................................... IV-


1

iii
5.1 Kesimpulan ....................................... I-
1
5.2 Saran ....................................... I-
1

LAMPIRAN- LAMPIRAN

iv
D AFTAR TABEL

Tabel 1.1 Matriks Beda Jarak ....................................... IV- 7

v
D AFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 .......................................III-


Gambar 4.1 .......................................IV-
Gambar 4.2 .......................................IV-
Gambar 4.3 .......................................IV-
Gambar 4.4 .......................................IV-
Gambar 4.5 .......................................IV-
Gambar 4.6 .......................................IV-

vi
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Iklim adalah keadaan rata-rata cuaca (atmosfer) pada suatu wilayah


tertentu yang berlangsung dalam kurun waktu yang panjang, yaitu sekurang-
kurangnya 25 atau 30 tahun. Unsur-unsur iklim meliputi radiasi matahari,
suhu, kelembapan udara, awan, hujan dan angin sangat menentukan
keberhasilan hidup organisme. Pengembangan usaha di bidang pertanian erat
hubungannya terhadap tipe iklim terutama dalam pengembangan beraneka
ragam jenis komoditi tanaman pada berbagai wilayah. Karena kesuksesan
tanaman untuk tumbuh dan berkembang sangat ditentukan oleh daya
dukung unsur lingkungan (Ariffin, 2019).

Setiap iklim tempat disusun oleh unsur‐unsur yang variasinya besar,


sehingga hampir tidak mungkin dua tempat yang berbeda mempunyai iklim
yang identik. Interpretasi iklim suatu wilayah dilakukan klasifikasi iklim.
Klasifikasi iklim yang digunakan di Indonesia, yaitu (i) Koppen digunakan
untuk iklim pada tumbuhan/vegetasi; (ii) Schmidth‐Ferguson digunakan
untuk iklim kehutanan dan perkebunan dan (iii) Oldeman digunakan untuk
iklim lahan pertanian pangan.

Klasifikasi iklim Oldeman digunakan untuk pertanian pangan sehingga


sangat tepat digunakan di Indonesia yang bebagian besar mata pencarian
masyarakatnya sebagai petani. Klasifikasi iklim Oldeman memakai unsur
curah hujan sebagai dasar penentuan klasifikasi iklimnya. Tipe utama
klasifikasi Oldeman didasarkan pada jumlah bulanan basah berturut-turut
yaitu : zona A, zona B, zona C, zona D, dan zona E. Sedangangkan subtipenya
didasarkan pada jumlah bulan kering berturut-turut yaitu : zona 1, zona 2,
zona 3, dan zona 4 (Lakitan, 1994).

1.2 Tujuan

Tujuan kajian ini yaitu :

1. Menginterpretasikan tipe klasifikasi oldeman berdasarkan data curah


hujan; dan

2. Menginterpretasikan klasifikasi oldeman secara spasial.


BAB 2. DASAR TEORI

2.1 Keragaman Iklim

Perbedaan iklim dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara diantaranya


lokasi negara, kedudukan matahari, luas darat dan luas laut, topografi, dll.
Faktor‐faktor itu biasa disebut pengendali iklim. Pengendali iklim dapat
mengatur keberadaan unsur‐ unsur atau elemen‐elemen iklim di suatu
wilayah. Ada dua faktor pengendali iklim, yaitu :

(1) Faktor Luar Bumi

Faktor pengendali iklim dari luar bumi ialah matahari. Sinar


matahari adalah sebagai sumber panas atau energi bagi bumi.
Panas matahari atau energi mampu mempengaruhi keberadaan
dan perkembangan terhadap: angin, awan, hujan, temperatur,
tekanan udara, dll. Kedudukan matahari terhadap bumi atau
sebaliknya, sepanjang tahun tidak sama, tetapi selalu bergeser.
Hal ini dapat terjadi karena rotasi dan revolusi oleh bumi terhadap
matahari, sehingga luasan daerah di bumi yang mendapat energi
selalu berubah, baik kuantitas, kualitas, dan lama waktunya.
Kedudukan matahari terhadap bumi berpengaruh besar bagi
pembagian daerah iklim di bumi.

(2) Faktor Dalam Bumi

Faktor pengendali iklim dari dalam bumi ditentukan oleh manusia


dan faktor fisis daerah bersangkutan. Pengendali iklim oleh
manusia tidak banyak merubah keadaan dan perkembangan iklim,
tetapi hanya mampu memperkecil pengaruh iklim, seperti
membuat hujan buatan. Keadaan fisis daerah yang berperan
sebagai pengatur iklim adalah :

a. Garis Lintang

b. Bentuk muka bumi

c. Topografi

d. Daerah tekanan udara

e. Permukaan tanah

f. Luas darat dan laut


Oleh perlu dilakukan pengelompokan atau klasifikasi iklim. Klasifikasi
iklim pada digunakan di Indonesia, yaitu (i) Koppen digunakan untuk iklim
pada tumbuhan/vegetasi; (ii) Schmidth‐Ferguson digunakan untuk iklim
kehutanan dan perkebunan dan (iii) Oldeman digunakan untuk iklim lahan
pertanian pangan. Metode Oldeman merupakan melakuan klasifikasi
kemampuan lahan pertanian pangan berdasarkan curah hujan wilayah.

2.2 Klasifikasi Oldeman

Iklim Oldeman merupakan klasifikasi iklim yang didasarkan pada


kriteria bulan‐ bulan basah dan bulan‐ bulan kering (bulan turun hujan)
secara berturut‐ turut. Klasifikasi iklim oldeman sangat banyak untuk
klasifikasi lahan pertanian tanaman pangan Indonesia. Klasifikasi Oldeman
dibentuk berdasar unsur iklim hujan.
Konsep Klasifikasi Oldeman adalah sebagai berikut :
(1) Padi sawah membutuhkan air rata‐rata per bulan 145 mm dalam
musim hujan.
(2) Palawija membutuhkan air rata-rata per bulan 50 mm dalam
musim kemarau
(3) Hujan bulanan yang diharapkan mempunyai peluang kejadian
75% sama dengan 0,82 kali hujan rata‐rata bulanan dikurangi 30.
(4) Hujan efektif untuk sawah adalah 100%.
(5) Hujan efektif untuk palawija dengan tajuk tanaman tertutup rapat
adalah 75%.
Konsep diatas dapat ditulis dengan persamaan sebagai berikut :

RCWR 
  0,82  R  30 
dimana : RCwr = Curah hujan yang dibutuhkan oleh padi

= Rsawah (145 mm) dan Rpolowijo (50 mm)

= 145 mm/bulan

= efisien curah hujan efektif

η = Sawah (75%) dan Polowijo (100%)

Untuk Padi :

145 = 1,0 (0,82 R  30  R =118 mm/bulan

Untuk Palawija :
50 = 0,75 (0.82R  R
Angka 213 dan 118 dibulatkan menjadi 200 dan 100 mm/bulan yang
digunakan sebagai batas penentuan bulan basah dan kering, sehingga
dibentuk kriteria sebagai berikut :
(1)Bulan Basah (BB) : Bulan dengan rata‐rata curah hujan lebih dari
200 mm
(2)Bulan Lembab (BL) : Bulan dengan rata‐rata curah hujan 100‐200 mm
(3)Bulan Kering (BK) : Bulan dengan rata‐rata curah hujan kurang
dari 100 mm
Selanjutnya dalam penentuan klasifikasi iklim Oldeman
menggunakan ketentuan panjang periode bulan basah dan bulan kering
berturut‐turut. Klasifikasi iklim Oldeman dibedakan :
(1) Tipe Iklim
Oldeman membagi tipe iklim menjadi 5 kategori yaitu A, B, C, D, dan E.
A nBB >9
B 7nBB
Tipe Utama = C 5nBB
D 3nBB
E nBB
Dimana : nBB = Jumlah curah bulan basah yang berturutan

(2) Sub Tipe


Oldeman membagi tipe iklim menjadi 4 kategori yaitu 1, 2, 3, dan 4
1 nBk
2 2nBk
Sub Tipe = 3 4nBk
4 nBk
Dimana : nBK = Jumlah curah bulan kering yang berturutan

Berdasarkan kriteria di atas, dapat dibuat klasifikasi tipe iklim


Oldeman untuk suatu daerah tertentu yang mempunyai cukup banyak

stasiun/pos hujan. Data yang dipergunakan adalah curah hujan wilayah


dengan pengamatan selama 10 tahun atau lebih. Hasil diinterpretasi sebagai

gambar berikut :
Gambar 2.1 Setting Template Sketchup
Sumber : Simple Template-Meters

Oldeman mengeluarkan penjabaran tiap-tiap tipe agroklimat sebagai berikut:


Tabel 2.1 Interpratasi Oldeman
No. Tipe Iklim Uraian Keterangan
Sub Tipe
(1) (2) (3) (4)
1. A1 Sesuai untuk padi terus – menerus tetapi produksi
kurang karena pada umumnya kerapatan fluks
radiiasi surya rendah sepanjnag tahun
A2

2. B1 Sesuai untuk padi terus‐menerus dengan


perencanaan awal musim tanam yang baik produksi
tinggi bila panen musim kemarau
3. B2 Dapat tanam padi dua kali setahun dengan varietas
B3 umur pendek dan musim kering yang pendek cukup
untuk tanaman polowijo
4. C1 Dapat tanam padi dua kali setahun dengan varietas
umur pendek dan musim kering yang pendek cukup
untuk tanaman polowijo
5. C2 Tanam padi dapat sekali dan polowijo dua kali
C3 setahun. Tetapi penanaman padi polowijo kedua harus
C4 hati2 jangan jatuh pada bulan kering.
6. D1 Tanam padi umur pendek satu kali dari biasanya produksi
D2 bisa tinggi karena kerapatan fluks radiasi tinggi. Waktu
D3 tanam palawija

7. D4 Hanya mungkin satu kali padi polowijo setahun tergantung


adanya persediaan air irigasi

8. E Daerah ini umumnya terlalu kering mungkin dapat


satu kali polowijo, itupun tergantung adanya hujan
BAB 3. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini direncanakan pada 10 September 2019 dengan lokasi praktikum di


Kampus Universitas Jember - Kampus Tegal Boto - Jember. Kampus ini berlokasi di
Kelurahan Sumbersari - Kecamatan Sumbersari - Kabupaten Jember.

3.2 Bahan, Alat, dan Software

Bahan yang dipergunakan dalam praktikum ini adalah :

(1) Peta Dasar

Peta RBI bernomor indeks 1607-632 dengan skala 1:25.000

(2) Image Google Maps

Image Google Maps dengan batas antara 113,650492 sampai dengan


114,043373 BT dan -8,090773 sampai dengan -8,381444 LS

(3) Data Hujan

Data hujan yang dipergunakan dalam praktikum ini adalah data hujan yang
diperoleh pada stasiun – stasiun hujan sebagai berikut :
a. Jatian (2004 s/d 2018)
b. Suren (2004 s/d 2018)
c. Sumber Jati (2004 s/d 2018)
d. Silo (2004 s/d 2018)
e. Seputih (2004 s/d 2018)
f. Kr. Kedawung (2004 s/d 2018)
g. Tempurejo (2004 s/d 2018)
h. Pakusari (2004 s/d 2018)
i. Dam Talang (2004 s/d 2018)
j. Sanenrejo (2004 s/d 2018)

Software yang dilakukan dalam praktikum ini adalah :

(1) Map Info Profesional 11.0

(2) Vertical Map

(3) Komputer
3.3 Metodologi Praktikum

Gambar 3.1 Metodologi Praktikum


Berdasarkan Gambar 3.1, metodologi praktikum dilakukan tahapan sebagai
berikut :
(1) Data dan Spasial Curah Hujan
(2) Perhitungan Curah Hujan Wilayah
(3) Klasifikasi Oldeman
(4) Interpolasi Spasial Klasifikasi Oldeman
(5) Peta Klasifikasi Oldeman

3.3.1 Data dan Spasial Curah Hujan

Data dan Spasial Curah Hujan dilakukan dengan tahapan seperti tersaji
Gambar 3.1.

(1) Setiap praktikum akan mengerjakan suatu wilayah UPT (Unit Pelaksana
Teknis) Dinas PU Bina Marga dan Sumber Daya Air ‐ Kabupaten Jember
sesuai daerah irigasi kajian.

Setiap UPT yang dipilih harus diketahui oleh asisten

(2) Praktikum direncanakan mempergunakan data hujan yang teramati


selama sepuluh tahuan dengan ketentuan :

a. Stasiun yang dipergunakan adalah stasiun hujan yang berada


dalam UPT dan sekitar UPT.

b. Data diberikan antara 2004 sampai 2018. Setiap mahasiswa harus


memilih 10 Tahun (meskipun tahunnya tidak urut).
3.3.2 Curah Hujan Bulanan
Curah Hujan dilakukan sebagai berikut
(1) Data hujan diamati oleh pada stasiun kemudian dicatat pada Formulir.
Formulir direkap oleh UPT dan Dinas pada Formulir 11 Data Hujan.
Setiap bulan UPT mengirim ke UPT dan Dinas harus mengoreksi
kesamaan formulir.

(2) Data disajikan dalam Microsoft Excell periode tahunan :


a. Setiap Book Excel akan mempunyai data pengamatan bulanan
(Januari s/d Desember) yang diamati secara harian dan dilakukan
rekap setiap stasiun per bulan

b. Setiap Book Excel akan mempunyai data rekapan tahunan (Sheet


Tahunan)yang berasal bulanan (Januari s/d Desember)
Data Microsoft Excell periode tahunan disajikan pada gambar 3.2

Keterangan
(1) Data Bulanan
(2) Rekap Data
Tahunan
(3) Nilai rekap
menjadi
komponen hujan
tahunan

Gambar 3.2 Metologi Praktikum


(3) Menginterpretasikan stasiun hujan yang dapat menginterpretasikan
UPT. Curah Malang tersaji pada Gambar 3.3
Stasiun :
(1) Kottok
(2) Jatian
(3) Pakusari
(4) Wirolegi
(5) Renes
(6) Dam Talang
(7) Seputih
(8) Tempurejo
(9) Semnaggir

Gambar 3.3 Stasiun Hujan UPT. Sumbersari


3.3.3 Klasifikasi Oldeman
Klasifikasi oldeman dilakukan dengan :
(10) Curah Hujan Wilayah – Bulan Basah
Curah Hujan Wilayah – Bulan Basah ditentukan berdasarkan sebagai
berikut :

nBB(J) = nBB(J) = nBB(J-1) + 1 if nBB 


nBB(J) = nBB(J-1) if nBB(J-1)
dimana : nBB = Jumlah bulan basah
J = 0,1,2, ......,12
= nomor indeks bulan
(11) Curah Hujan Bulanan – Bulan Kering
Curah Hujan Wilayah – Bulan Kering ditentukan berdasarkan sebagai
berikut :
nBK(J) = nBK(J-1) + 1 if nBK 
nBK(J) =
nBK(J) = nBK(J-1) if nBK(J-1) 
dimana : nBK = Jumlah bulan Kering
J = 0,1,2, ......,12
= nomor indeks bulan

3.3.4 Interpolasi Klasifikasi Spasial Oldeman


Interpolasi Klasifikasi Spasial Oldeman dilakukan dengan tahapan
sebagai berikut :
(1) Membentuk Peta Tematik (Thematic Map) dengan metode Grid, seperti
tersaji pada Gambar 3.4

2
1
Gambar 3.4 Penentuan Klasifikasi Oldeman
Keterangan : (1) Sheet Data Hujan Bulanan (H2004 s/d H2018)
(2) Sheet Rekap rata-rata selama pengamatan
(3) Jumlah Bulan Basah
Oldeman_BB1 {range1;range2}
Range1 : Data Awal Bulan
Range 2 Data Rata Bulanan (1,2,……,12)
(4) Jumlah Bulan Kering
Oldeman_BK1{range1;range2}
Range1 : Data Awal
Range 2 : Data Rata Bulanan (1,2,….,12)
(5) OldemanTipe {Integer1;Integer2}
Integer 1 : Jumlah bulan basah
Integer 2 : Jumlah bulan kering
(6) Nomer Stasiun
Gambar 3.5 Penentuan Klasifikasi Oldeman
Keterangan : Nilai Tipe klasifikasi disesuaikan dengan hasil perhitungan Excell
(Normal

(2) Membentuk Grid untuk Vertical Mapper dengan Import Grid dari peta
thematik, seperti pada Gambar 3.6

Gambar 3.6 Penentuan Klasifikasi Oldeman


Keterangan : (1) Creat Grid
(2) Open file :Hasil Grid – Peta Thematic
(3) Defini Dimensi
(4) Grid Import
(5) Peta Grid (Vertical Map)
(3) Membentuk kontour berdasarkan peta grid dengan bawah bawah 0,5 dari
batas petas bawah dan batas atas dengan interval 1,0, seperti tersaji pada
Gambar 3.7 dan Gambar 3.8.
Gambar 3.7 Penentuan Klasifikasi Oldeman

Gambar 3.8 Penentuan Klasifikasi Oldeman:


BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tempat dan Waktu

Praktikum dilaksanakan pada tanggal 10 September 2019. Dengan lokasi


praktikum berada di DI Kebun Gunung pada UPT. Mayang Dinas Pengairan dan
Binamarga Kabupaten Jember yang terletak pada koordinat 113,650492 sampai
dengan 114,043373 BT dan -8,090773 sampai dengan -8,381444 LS, seperti yang
disajikan pada Gambar 4.1

Gambar 4.1 Lokasi Kajian UPT. Mayang

Gambar 4.1 Lokasi Kajian UPT. Mayang

4.2 Stasiun Hujan

Stasiun curah hujan yang termasuk diwilayah kajian adalah :


1. Jatian
2. Suren
3. Sumber Jati
4. Silo
5. Seputih
6. Kr. Kedawung
7. Tempurejo
8. Pakusari
9. Dam Talang
10. Sanenrejo
Dari sepuluh stasiun hujan yang termasuk kedalam wilayah UPT Mayang
adalah Jatian, Suren, Sumber Jati, Silo, Seputih, Kr. Kedawung, Tempurejo,
Pakusari, Dam Talang, dan Sanenrejo diluar wilayah UPT Mayang. Hal ini karena
pada stasiun hujan yang terdapat di UPT Mayang berdekatan dengan stasiun
curah hujan wilayah lain, sehingga untuk mendapatkan data yang akurat
diperlukan penambahan data stasiun hujan terdekat wilayah UPT Mayang

4.3 Klasifikasi Oldeman

Penentuan klasifikasi Oldeman ini berdasarkan pengamatan data mulai dari


tahun 2004 sampai tahun 2018, seperti tersaji pada lampiran

Rekapitulasi hujan disajikan sebagai berikut.

Tabel 4.1 Data Rekapitulasi Curah Hujan

No. Nama SHVP Nomor Curah Hujan Bulan (mm)


Stasiun
Hujan Stasiun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop
( + ) Hujan
1. Jatian 205 265 388 297 265 177 98 53 15 9 31 96 233
2. Suren 293 111C 360 281 253 206 102 52 30 10 37 119 288
3. Sumber Jati 415 245 325 316 247 257 104 75 19 14 33 98 281
4. Silo 368 2723 441 377 276 287 158 108 33 13 38 115 276
5. Seputih 167 113 362 373 313 194 157 58 25 16 32 100 254
Kr.
6. Kedawung 118 243 300 270 288 199 103 52 24 14 23 74 241
7. Tempurejo 81 122 306 325 256 196 126 64 27 7 42 85 225
Pakusar
8. i 172 2598 321 303 276 196 122 63 28 11 25 94 231
9. Dam Talang 78 124 311 281 261 220 117 62 47 14 29 115 204
10. Sanenrejo 50 25 681 272 186 280 11 - - - - - 308

Berdasarkan tabel rekapitulasi diatas dapat disajikan klasifikasi oldeman sebagai


berikut :

Tabel 4.2 Data Klasifikasi Oldeman


No.. Nama Oldeman Tipe
Stasiun Hujan BB BK Utama Subtipe

1 Jatian 4 5 D 3
2 Suren 5 3 C 2
3 Sumber Jati 5 4 C 3
4 Silo 5 2 C 2
5 Seputih 4 3 D 2
6 Kr. Kedawung 4 4 D 3
7 Tempurejo 4 4 D 3
8 Pakusari 4 4 D 3
9 Dam Talang 5 3 C 2
10 Sanenrejo 3 5 D 3
Keterangan :

C2 5 : Tanam padi dapat sekali dan polowijo dua kali setahun. Tetapi penanaman
padi polowijo kedua harus hati2 jangan jatuh pada bulan kering
C3 5 : Tanam padi dapat sekali dan polowijo dua kali setahun. Tetapi penanaman
padi polowijo kedua harus hati2 jangan jatuh pada bulan kering
D2 6 : Tanam padi umur pendek satu kali dari biasanya produksi bisa tinggi
karena kerapatan fluks radiasi tinggi. Waktu tanam palawija
D3 6 : Tanam padi umur pendek satu kali dari biasanya produksi bisa tinggi
karena kerapatan fluks radiasi tinggi. Waktu tanam palawija
Berdasarkan tabel data klasifikasi oldeman diatas dapat disajikan gambar
sebagai berikut :

Gambar 4.2 Hasil Klasifikasi Oldeman


Berdasarkan gambar diatas wilayah UPT Mayang memiliki empat tipe
oldeman yang dibedakan menjadi empat warna klasifikasi. Keterangan klasifikasi
oldeman disajikan pada gambar 4.3

Gambar 4.3 Klasifikasi Oldeman UPT Mayang

Berdasarkan gambar diatas pada DI Kebun Gunung terletak pada wilayah


dengan tipe oldeman 6, yang berarti memiliki pola tanam padi umur pendek satu
kali dari biasanya produksi bisa tinggi karena kerapatan fluks radiasi tinggi.
Waktu tanam palawija.

4.4 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Praktikum

Faktor-faktor yang mempengaruhi ketelitian praktikum diantaranya:


(1) Letak Stasiun Hujan
Sepuluh stasiun hujan yang dipilih memiliki letak yang berbeda-beda. Oleh
karena itu iklim disetiap stasiun juga berbeda.
(2) Ketepatan Perhitungan Data Curah Hujan
Data curah hujan yang telah diperoleh akan dihitung menggunakan
Microsoft Excel 2010 untuk diklasifikasikan berdasarkan klasifikasi Oldeman.
Adanya kesalahan saat perhitungan menyebabkan data yang diperoleh kurang
akurat.
(3) Kemiringan Lahan
Untuk lahan yang miring membutuhkan air yang lebih banyak dari pada
lahan yang datar, karena air akan lebih cepat mengalir menjadi aliran permukaan
dan hanya sedikit yang mengalami infiltrasi, dengan kata lain kehilangan air di
lahan miring akan lebih besar.
BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1. Hasil analisis dan pemetaan iklim berdasarkan klasifkasi Oldeman


menunjukan bahwa UPT Mayang memilik tipe oldeman terdiri dari 5 dan 6.

2. Pada DI Kebun Gunung memiliki tipe Oldeman 6 yang artinya memiliki pola
tanam padi umur pendek satu kali dari biasanya produksi bisa tinggi karena
kerapatan fluks radiasi tinggi. Waktu tanam palawija

5.2 Saran

Untuk mengurangi kesalahan dan beda jarak yang cukup besar dalam
proses interpretasi peta maka perlu adanya ketelitian dan perhatian pada faktor
yang menghambat atau mempengaruhi ketelitian dan ketepatan dalam
menentukan titik lokasi.
DAFTAR PUSTAKA

Ariffin. 2019. Metode Klasifikasi Iklim di Indonesia. UB PRESS: Malang


LAMPIRAN – LAMPIRAN
1. Data Stasiun Hujan Tahun 2004

Tahun : 2004
No Curah Hujan
Total
. Nama SHVP Nomor Bulan (mm)
Stasiun Hujan Stasiun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
( + ) Hujan
7 Jatian 205 265 453 198 380 175 65 46 0 8 0 34 131 649 2139
9 Suren 293 111C 390 132 343 192 12 19 9 0 0 38 309 530 1974
10 Sumber Jati 415 245 313 107 229 172 36 25 0 0 0 6 155 806 1849
11 Silo 368 2723 784 356 162 370 42 30 0 0 0 7 267 1001 3019
12 Seputih 167 113 447 342 261 194 45 15 0 0 0 5 211 564 2084
13 Kr. Kedawung 118 243 431 246 390 219 24 48 7 0 0 6 239 524 2134
14 Tempurejo 81 122 416 257 325 214 77 42 0 0 0 4 264 590 2189
18 Pakusari 172 2598 497 218 252 277 31 2 0 0 0 4 248 646 2175
20 Dam Talang 78 124 363 194 190 185 99 122 0 0 2 27 190 512 1884
25 Sanenrejo 50 25 681 272 186 280 11 0 0 0 0 0 308 526 2264
2. Data Stasiun Hujan pada Tahun 2005

:
Tahun
2005
Curah Hujan Bulan
No. Total
Nama SHVP Nomor (mm)
Stasiun Hujan Stasiun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
( +
) Hujan
7 Jatian 205 265 325 376 323 91 0 88 15 35 0 51 33 672 2009
9 Suren 293 111C 220 235 276 65 0 43 50 27 0 248 216 614 1994
10 Sumber Jati 415 245 152 227 389 111 0 84 2 0 5 204 113 632 1919
11 Silo 368 2723 134 201 305 77 0 76 1 0 10 174 103 626 1707
12 Seputih 167 113 364 567 354 26 11 102 65 0 0 282 41 564 2376
13 Kr. Kedawung 118 243 79 223 290 58 0 78 139 0 31 94 67 497 1556
14 Tempurejo 81 122 112 268 219 160 0 54 41 0 11 101 143 482 1591
18 Pakusari 172 2598 248 442 280 104 0 135 38 26 0 99 66 425 1863
20 Dam Talang 78 124 357 276 292 175 0 113 190 26 28 230 144 625 2456
3. Data Stasiun Hujan pada Tahun 2006

Tahun : 2006
No. Nama SHVP Nomor Curah Hujan Bulan (mm) Total
Stasiun Hujan Stasiun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
( + ) Hujan
7 Jatian 205 265 393 371 379 225 137 4 0 4 57 16 84 261 1931
9 Suren 293 111C 342 377 394 262 108 15 0 0 0 0 39 298 1835
10 Sumber Jati 415 245 570 647 491 448 208 0 0 0 0 20 101 303 2788
11 Silo 368 2723 474 632 434 302 269 0 0 0 0 19 96 310 2536
12 Seputih 167 113 458 328 423 242 177 11 0 0 0 0 70 346 2055
13 Kr. Kedawung 118 243 311 135 324 172 259 11 0 0 0 19 120 439 1790
14 Tempurejo 81 122 262 290 429 201 236 9 0 0 0 0 68 239 1734
18 Pakusari 172 2598 298 329 214 276 153 11 0 0 27 0 57 317 1682
20 Dam Talang 78 124 386 454 400 265 249 6 0 0 0 0 92 376 2228
4. Data Stasiun Hujan pada Tahun 2007

Tahun : 2007
No. Nama SHVP Nomor Curah Hujan Bulan (mm) Total
Stasiun Hujan Stasiun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
( + ) Hujan
7 Jatian 205 265 25 224 165 301 117 149 9 0 6 52 236 373 1657
9 Suren 293 111C 95 290 202 187 94 64 0 0 0 47 430 554 1963
10 Sumber Jati 415 245 101 213 231 232 173 23 0 0 0 0 379 694 2046
11 Silo 368 2723 122 209 250 290 290 13 0 0 0 9 397 736 2316
12 Seputih 167 113 36 56 69 99 83 0 0 0 0 0 274 505 1122
13 Kr. Kedawung 118 243 84 116 95 88 84 114 0 0 0 8 352 674 1615
14 Tempurejo 81 122 8 224 41 66 174 143 0 0 0 0 124 497 1277
18 Pakusari 172 2598 72 218 109 149 262 165 18 0 0 29 312 395 1729
20 Dam Talang 78 124 105 223 122 131 115 47 31 14 0 81 169 711 1749

5. Data Stasiun Hujan pada Tahun 2009


Tahun : 2009
No. Nama SHVP Nomor Curah Hujan Bulan (mm) Total
Stasiun Hujan Stasiun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
( + ) Hujan
7 Jatian 205 265 386 221 349 126 56 0 0 43 0 173 312 452 2118
9 Suren 293 111C 268 184 291 93 85 0 0 54 0 291 325 281 1872
10 Sumber Jati 415 245 423 297 377 322 64 6 0 35 0 131 395 274 2324
11 Silo 368 2723 447 230 404 207 84 1 0 10 0 99 430 280 2192
12 Seputih 167 113 334 280 492 135 129 2 0 69 0 187 412 236 2276
13 Kr. Kedawung 118 243 297 324 705 276 18 5 0 46 0 75 321 234 2301
14 Tempurejo 81 122 215 342 490 61 137 10 0 8 0 122 415 288 2088
18 Pakusari 172 2598 230 282 570 119 111 12 0 23 0 156 245 249 1997
20 Dam Talang 78 124 202 325 639 82 125 0 0 5 4 375 355 326 2438

6. Data Stasiun Hujan pada Tahun 2010


Tahun : 2010
No. Nama SHVP Nomor Curah Hujan Bulan (mm) Total
Stasiun Hujan Stasiun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
( + ) Hujan
7 Jatian 205 265 490 311 133 175 123 48 89 13 118 230 276 389 2395
9 Suren 293 111C 528 447 152 460 203 140 155 0 297 164 320 342 3208
10 Sumber Jati 415 245 318 273 210 385 226 80 69 22 294 219 229 263 2588
11 Silo 368 2723 425 502 236 394 244 199 167 19 235 275 305 264 3265
12 Seputih 167 113 342 265 171 271 287 86 52 30 246 220 263 305 2538
13 Kr. Kedawung 118 243 181 198 151 197 127 11 28 33 91 55 63 123 1258
14 Tempurejo 81 122 513 395 377 319 325 134 139 37 262 152 437 175 3265
18 Pakusari 172 2598 347 274 128 245 216 121 102 12 160 399 349 319 2672
20 Dam Talang 78 124 377 391 309 300 220 129 202 71 213 190 204 245 2851

7. Data Stasiun Hujan pada Tahun 2011


Tahun : 2011
No. Nama SHVP Nomor Curah Hujan Bulan (mm) Total
Stasiun Hujan Stasiun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
( + ) Hujan
7 Jatian 205 265 393 248 477 206 186 0 11 0 1 115 505 224 2366
9 Suren 293 111C 272 223 340 186 274 31 0 0 32 133 261 369 2121
10 Sumber Jati 415 245 168 165 196 147 49 18 0 0 0 38 256 362 1399
11 Silo 368 2723 284 318 402 337 194 28 0 0 59 46 326 429 2423
12 Seputih 167 113 337 346 386 317 228 3 51 0 18 92 372 555 2705
13 Kr. Kedawung 118 243 283 328 265 331 187 11 0 0 0 111 346 277 2139
14 Tempurejo 81 122 336 241 183 296 70 0 0 0 0 132 340 426 2024
18 Pakusari 172 2598 332 296 379 182 197 17 19 0 4 105 184 532 2247
20 Dam Talang 78 124 226 255 156 473 122 16 9 0 0 125 317 478 2177

8. Data Stasiun Hujan pada Tahun 2012


Tahun : 2012
No. Nama SHVP Nomor Curah Hujan Bulan (mm) Total
Stasiun Hujan Stasiun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
( + ) Hujan
7 Jatian 205 265 495 334 176 171 51 16 65 0 0 39 66 351 1764
9 Suren 293 111C 561 424 379 215 221 37 84 0 0 22 287 498 2728
10 Sumber Jati 415 245 309 382 184 117 53 0 64 0 0 9 106 187 1411
11 Silo 368 2723 418 595 307 163 168 0 92 0 0 13 307 300 2363
12 Seputih 167 113 453 557 457 142 288 9 97 0 0 35 138 276 2452
13 Kr. Kedawung 118 243 399 408 297 124 80 10 68 0 0 43 81 309 1819
14 Tempurejo 81 122 317 394 311 129 85 0 52 0 0 0 125 348 1761
18 Pakusari 172 2598 424 419 299 135 130 23 84 0 0 37 87 392 2030
20 Dam Talang 78 124 327 391 287 115 154 55 62 0 0 77 165 242 1875

9. Data Stasiun Hujan pada Tahun 2014


Tahun : 2014
No. Nama SHVP Nomor Curah Hujan Bulan (mm) Total
Stasiun Hujan Stasiun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
( + ) Hujan
7 Jatian 205 265 453 198 195 175 65 46 0 8 0 34 131 649 1954
9 Suren 293 111C 390 132 36 192 12 19 9 0 0 38 309 530 1667
10 Sumber Jati 415 245 313 107 93 172 36 25 0 0 0 6 155 806 1713
11 Silo 368 2723 784 356 107 370 42 30 0 0 0 7 267 1001 2964
12 Seputih 167 113 447 342 139 194 45 15 0 0 0 5 211 564 1962
13 Kr. Kedawung 118 243 431 246 118 219 24 48 7 0 0 6 239 524 1862
14 Tempurejo 81 122 416 257 143 214 77 42 0 0 0 4 264 590 2007
18 Pakusari 172 2598 497 218 118 277 31 2 0 0 0 4 248 646 2041
20 Dam Talang 78 124 363 194 171 185 99 122 0 0 0 27 190 512 1863

10. Data Stasiun Hujan pada Tahun 2015


Tahun : 2015
No. Nama SHVP Nomor Curah Hujan Bulan (mm) Total
Stasiun Hujan Stasiun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
( + ) Hujan
7 Jatian 205 265 311 367 276 252 85 36 0 0 0 0 325 314 1966
9 Suren 293 111C 266 258 269 287 0 25 9 0 0 0 189 373 1676
10 Sumber Jati 415 245 243 600 153 337 17 30 0 0 0 0 359 407 2146
11 Silo 368 2723 534 396 312 474 31 15 0 0 0 0 168 498 2428
12 Seputih 167 113 245 359 350 325 17 48 0 0 0 0 152 305 1801
13 Kr. Kedawung 118 243 255 181 381 308 60 42 7 0 0 0 99 280 1613
14 Tempurejo 81 122 241 475 239 296 43 76 0 0 0 0 102 233 1705
18 Pakusari 172 2598 214 251 448 459 93 36 0 0 0 0 127 305 1933
20 Dam Talang 78 124 246 68 308 356 35 11 0 0 0 0 150 248 1422

11. Data Stasiun Hujan pada Tahun 2016


Tahun : 2016
No. Nama SHVP Nomor Curah Hujan Bulan (mm) Total
Stasiun Hujan Stasiun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
( + ) Hujan
7 Jatian 205 265 317 354 114 140 169 97 5 8 179 254 335 212 2184
9 Suren 293 111C 432 315 273 200 120 115 71 51 141 265 342 263 2588
10 Sumber Jati 415 245 412 397 316 256 199 305 108 130 121 331 506 321 3402
11 Silo 368 2723 512 591 352 421 407 569 137 137 176 477 456 514 4749
12 Seputih 167 113 214 931 499 239 481 106 61 113 92 185 407 403 3731
13 Kr. Kedawung 118 243 162 426 193 143 252 70 28 109 111 272 368 370 2504
14 Tempurejo 81 122 310 581 116 112 154 118 118 43 84 388 188 349 2561
18 Pakusari 172 2598 260 515 400 145 284 177 102 82 69 213 421 229 2897
20 Dam Talang 78 124 346 394 72 152 193 156 99 71 134 281 224 245 2367

12. Data Stasiun Hujan pada Tahun 2017


Tahun : 2017
No. Nama SHVP Nomor Curah Hujan Bulan (mm) Total
Stasiun Hujan Stasiun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
( + ) Hujan
7 Jatian 205 265 367 186 276 129 111 100 0 0 23 125 297 501 2115
9 Suren 293 111C 163 312 167 167 99 126 0 0 6 152 356 291 1839
10 Sumber Jati 415 245 191 185 207 324 148 254 1 0 6 153 448 175 2092
11 Silo 368 2723 224 190 174 165 142 195 14 0 7 185 233 448 1977
12 Seputih 167 113 449 165 280 171 124 156 0 0 32 146 377 425 2325
13 Kr. Kedawung 118 243 405 304 305 225 114 69 16 0 32 136 422 486 2514
14 Tempurejo 81 122 262 187 185 240 127 132 0 0 93 101 229 337 1893
18 Pakusari 172 2598 299 157 250 92 40 35 2 0 33 89 329 339 1665
20 Dam Talang 78 124 235 120 140 222 52 13 8 0 0 39 227 338 1394

13. Data Stasiun Hujan pada Tahun 2018


Tahun : 2017
No. Nama SHVP Nomor Curah Hujan Bulan (mm) Total
Stasiun Hujan Stasiun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
( + ) Hujan
7 Jatian 205 265 636 468 197 129 111 63 0 0 23 125 297 501 2550
9 Suren 293 111C 748 326 164 167 99 38 0 0 6 152 356 291 2347
10 Sumber Jati 415 245 708 503 133 324 148 126 1 0 6 153 448 175 2725
11 Silo 368 2723 597 320 139 165 142 254 14 0 7 185 233 448 2504
12 Seputih 167 113 579 315 187 171 124 195 0 0 32 146 377 425 2551
13 Kr. Kedawung 118 243 580 372 231 225 114 156 16 0 32 136 422 486 2770
14 Tempurejo 81 122 565 310 265 240 127 69 0 0 93 101 229 337 2336
18 Pakusari 172 2598 453 320 139 92 40 80 2 0 33 89 329 339 1916
20 Dam Talang 78 124 505 371 307 222 52 18 8 0 0 39 227 338 2087
L-1