Anda di halaman 1dari 51

TUGAS FILSAFAT HUKUM

RESUME BUNGA RAMPAI TEORI HUKUM BUKU II


(BUNGA RAMPAI II)

NATURAL LAW

- Pengertian hukum alam “Natural Law” terdiri dari dua aspek, yaitu:
a. hukum-hukum (eksak) dalam ilmu-ilmu alam (Natural Science); dan
b. hukum-hukum moral alamiah (Natural Moral Law).

- Hukum alam dalam konteks ilmu hukum adalah sebagai perintah-perintah


Tuhan yang dituangkan dalam kitab suci.

- Hukum alam mempunyai premis-premis dasar yang menjadi tolok ukur esensi
hukum, juga mempunyai norma-norma dasar. Premis-premis dan norma-
norma dasar ini bersifat kekal dan abadi. Sifat kekal dan abadi merupakan
salah satu sifat hukum alam yang esensial, yang berarti bahwa hukum alam itu
tetap, tidak berubah untuk selama-lamanya dan dimanapun, berlaku untuk
semua tempat dan segala jaman dengan landasan premis dan norma-norma
dasar yang tetap. Eksitensi hukum alam mengatasi ruang dan waktu.
Karakteristik hukum alam berlaku di semua tempat dalam yang sama
diistilahkan dengan sifat kosmopolitan dari hukum alam.

- Pada hakekatnya, ide hukum alam adalah persamaan dari suatu “idee”
(pengertian). “Idee” adalah bukan suatu hasil penyelidikan atau bukan juga
suatu hasil dari pengalaman-pengalaman yang ada di lapangan hukum,
melainkan hanya satu perkiraan berdasarkan akal, yang sebenarnya tidak
dibuktikan.

- Filsuf Yunani yang pertama, Ephese bernama Heraclitus, mengatakan bahwa


segala tingkah laku manusia di bawah pengawasan satu undang-undang
ketuhanan. Sedangkan Archytos dari Tarente, yang adalah murid dari
Phytagoras, mengatakan bahwa perbedaan antara undang-undang ketuhanan
dan undang-undang manusia adalah bahwa undang-undang ketuhanan tidak
tertulis, sedangkan undang-undang manusia tertulis.

- J.J. Rousseau adalah salah seorang selain Hugo de Groot, Thomas Hobbes,
Jogn Locke dan Imanuel Kant mendasarkan teorinya berpendapat bahwa
orang taat dan tunduk pada hukum oleh karena berjanji untuk menaatinya.
Hukum dianggap sebagai kehendak bersama, suatu hasil consensus
(perjanjian) dari segenap anggota masyarakat.

- Sedang FRIEDMANN berpendapat bahwa sejarah tentang hukum alam


merupakan sejarah umat manusia dalam usahanya untuk menemukan apa yang
dinamakan keadilan yang mutlak (absolute justice) di samping sejarah tentang
kegagalan umat manusia dalam mencari keadilan tersebut.
 Selain itu, hukum alam ditinjau dari sumbernya dibedakan:
1. Hukum alam yang bersumber dari Tuhan (Irasional);
2. Hukum alam yang bersumber dari akal manusia (Rasional);

 Hukum alam dipandang sebagai hukum yang berlaku universal dan abadi.
Hukum alam yang irasional berpendapat, bahwa hukum yang berlaku
universal dan abadi itu bersumber langsung dari Tuhan.

ALIRAN/MAZHAB HUKUM ALAM (NATURAL LAW)

- Aliran hukum alam merupakan salah satu aliran dalam filsafat hukum. Filsafat
hukum berusaha untuk mencari suatu rechtsideal yang dapat menjadi dasar
hukum dan etis bagi berlakunya sistem hukum positif suatu masyarakat.

- Heraclitus filsuf Yunani yang pertama, mengatakan bahwa segala tingkah laku
manusia ada di bawah pengawasan satu undang-undang ketuhanan. Archytos
mengemukakan perbedaan antara undang-undang ketuhanan dan undang-

2
undang manusia adalah bahwa undang-undang ketuhanan tidak tertulis,
sedangkan undang-undang manusia adalah tertulis.

- Pendirian Socrates tentang hukum, masalah hukum alam adalah bahwa kita
harus menjawab pertanyaan bagaimana seharusnya sikap kita terhadap
undang-undang ketuhanan, kita dapat menaatinya atau melanggarnya. Di sini
terlihat masalahnya adalah masalah etis, masalah kesusilaan dan mencapai
puncaknya pada masa Plato, Aristoteles dan filsuf lainnya.

- Aristoteles berpendapat bahwa hukum adalah suatu jenis ketertiban dan


hukum yang baik adalah ketertiban yang baik dan hukum merupakan ekspresi
dari kemauan suatu kelas/sekelompok orang. Dan dalam bukunya yang
berjudul “Etica” dijelaskan perbedaan antara apa yang adil menurut Undang-
Undang dan apa yang adil menurut alam.

- Justianus di dalam proklamasinya yang terkenal Kons Seo Auctore


mengatakan, bahwa negara yang menjaga kepentingan suatu masyarakat
secara khusus (ius civile); ada hukum bangsa-bangsa (ius gentium) yang
dibuat untuk mengatur perhaulan timbal balik mereka, juga ada hukum yang
mengatakan standar yang lebih tinggi dan lebih permanen (ius naturale) yang
sama dengan apa yang senantiasa baik dan adil (honum et aequum).

- Menurut Cicero hukum yang benar adalah adanya kesesuaian antara akal
dengan alam, hal ini merupakan kebutuhan universal, tidak berubah dan abadi
(kekal), hukum yang benar akan memuat tentang perintah-perintah untuk
melaksanakan kewajiban dan berpaling dari perbuatan jahat dan larangan-
larangan.

- Hukum alam yang bersumber dari Tuhan, misalnya dianut oleh hukum
Scholastik pada abad pertengahan yaitu setelah runtuhnya kekaisaran
Romawi, antara lain yang dianut oleh Thomas van Aquino dan Gratianus.

3
- Hal ini memberi ide atau pemikiran tentang “kebaikan”. Kebaikan merupakan
akhir dan dapat dicapai apabila dalam menjalani kebaikan tersebut tidak
dijumpai rintangan atau halangan. Pandangan ini dibangun oleh Thomas van
Aquino pada abad 13, dalam kerangka pandangan dunia kristen. Thomas van
Aquino membagi hukum kedalam 4 golongan, yaitu:
 Lex Aeterna, merupakan rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala hal dan
merupakan sumber dari segala hukum. Rasio ini tidak dapat ditangkap
oleh panca indera manusia.
 Lex Divina, merupakan bagian dari rasio Tuhan yang dapat ditangkap oleh
manusia berdasarkan wahyu yang diterimanya.
 Lex Naturalis, inilah yang merupakan hukum alam, yaitu yang merupakan
penjelmaan dari Lex Aeterna di dalam rasio manusia.
 Lex Positivis, yaitu merupakan pelaksanaan dari hukum alam oleh
manusia berhubung dengan syarat khusus yang diperlukan oleh keadaan
dunia.

- Sedangkan konsep mengenai hukum, Thomas van Aquino membagi asas


hukum alam menjadi 2, yaitu Principia Prima, yaitu asas asas yang dimiliki
manusia sejak lahir dan bersifat mutlak, tidak dapat berubah dimanapun dan
kapanpun, dan Principia Secundaria yang merupakan asas yang diturunkan
oleh Principia Prima yang dapat berubah menurut tempat dan waktu dan
merupakan penafsiran manusia oleh rasionya atas Principia Prima.

- Pendapat Gratianus seorang rahin Italia dalam Decrelum Gratianum, yaitu


suatu pimpinan hukum gereja mengatakan bahwa manusia itu dikuasai oleh
hukum alam dan adat kebiasaan. Hukum alam adalah hukum yang lahir
bersamaan dengan terciptanya manusia dan tidak berubah sepanjang zaman,
sebagaimana yang terdapat dalam kitab suci (injil). Terhadap hukum-hukum
lainnya, hukum alam mempunyai kedudukan yang tertinggi.

- Dalam perkembangannya terdapat perbedaan antara pemikiran hukum alam


yang baru dan hukum alam yang lama atau pada zaman dahulu karena mazhab

4
baru memberikan jawaban terhadap kritik mazhab hukum histories dan
positivisme yuridis. Para ahli filsafat yang membela hukum alam zaman
modern yakni teori Grotius, Pufnedorf, Wolf, dan lain-lainnya filsuf ini berani
menyusun daftar lengkap tentang norma hukum alam seakan-akan terdapat
hukum alam abadi yang tidak akan berubah dan berlaku untuk selama-
lamanya.

- Perkembangan pemikiran hukum alam pada abad pertengahan dan zaman


modern sebelum perang dunia kedua dikembangkan oleh beberapa sarjana
antara lain Francois Geny dan Johannes Messner.

- Hubungan Hukum Alam dengan Hukum Positif


Mengenai hubungan antara hukum alam dan hukum positif, menurut
Aristoteles, hukum alam lebih tinggi dari hukum positif, dan gunanya untuk
melengkapi kekurangan-kekurangan hukum positif. Hukum positif haya
memberikan peraturan-peraturan yang berlaku secara umum.

- Hukum Alam dan Kontrak Sosial


Ilmu hukum alam modern dihadapkan kepada persoalan perbandingan antara
manusia dengan negara. Menurut pendapat zaman modern justru manusialah
dengan kemampuannya perorangan yang memajukan negara. Manusia
memiliki hak-hak perorangan sedang negara hanya satu hasil dari kegiatan
tersebut.

- Hubungan Hukum dan Moral


Hubungan hukum dan moral adalah pangkal pokok semua teori hukum alam.
Hukum adalah kelanjutan dari apa yang baik dan adil. Hukum yang ideal
menurut hukum alam. Pengakuan terhadap adanya hukum yang tidak ideal
tidak perlu mengandung arti, bahwa hukum positif hendaknya dikuasai
olehnya dalam perkara-perkara perselisihan.

5
- Mengenai hukum alam terdapat banyak sekali ajaran atau pendapat, seperti
yang akan diuraikan di bawah ini:
 Thomas Aquinas
Menurut Aquinas, manusia memperoleh pengetahuan jika manusia dapat
menempatkan diri dan berfungsi atau berperan sebagaimana mestinya
dalam kehidupan sosialnya.Pandangan ini dibangun oleh Aquinas pada
abad ke-13, dalam kerangka pandangan dunia kristen. Kebaikan yang telah
dibuka oleh alam disebut Lex Aeterna. Kehendak Tuhan terhadap alam
semesta dimana akal dapat memperoleh pengetahuan tentang hal itu dari
wahyu (kitab suci) dinamakan Les Divina dan partisipasi manusia secara
sadar disebut juga sebagai Les Naturalis.

 Menurut Grotius, Hukum Alam adalah hukum yang muncul sesuai kodrat
manusia. Menurut Grotius, Hukum Alam tidak dapat dirubah secara
ekstrim meski oleh Tuhan sekalipun. Hukum Alam diperoleh manusia dari
akalnya, tetapi Tuhanlah yang memberikan kekuatan mengikatnya.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Grotius telah meletakkan dasar-


dasar prinsip rasional dalam bidang hukum yaitu setiap orang mempunyai
kecenderungan untuk hidup bersama orang lain secara damai,
kecenderungan ini ada pada manusia lepas dari kemauannya/hawa nafsu.
Oleh karena itu kecenderungan ini dapat menjadi dasar obyektif seluruh
hukum. Dari kondisi obyekttif tersebut dapat disimpulkan empat prinsip
dasar, yang perlu ditaati supaya hidup bersama dalam damai dapat
berjalan. Keempat prinsip itu merupakan tiang seluruh sistem hukum
alam, yaitu:
1. Prinsip “kupunya dan kaupunya”, milik orang lain harus dijaga,
termasuk jika meminjam barang orang lain yang dapat memberikan
untung maka pemiliknya harus dibagi keuntungannya.
2. Prinsip kesetiaan pada janji; jika berjanji harus ditepati mengandung
nilai spiritual dan moral.

6
3. Prinsip ganti rugi, yakni kerugian itu disebabkan karena kesalahan
orang lain.
4. Prinsip perlunya hukuman karena pelanggaran atas hukum alam dan
hukum-hukum lain.

 Fuller dan Moralitas Hukum


Menurut Fuller hubungan hukum dan moralitas adalah hal yang pening
tetapi tidak seperti penganut mazahab hukum kodrat sebelumnya, Ia tidak
bersikeras bahwa aturan-aturan dari suatu sistem hukum harus sesuai
dengan prasyarat-prasyarat substantif dari suatu moraliras/patokan baku
lainnya.

 Hart dan Hukum Alam


Menurut Hart ada aturan-aturan dasar yang besifat substantif tertentu yang
bersifat esensial, jika manusia hidup besama secara intim. Hart meletakkan
penekanannya yang utama pada suatu asumsi kelangsungan hidup sebagai
tujuan kemanusiaan yang utama. Menurutnya, terdapat aturan-aturan
tertentu yang mengisi setiap organisasi sosial dan merupakan fakta dari
sifat manusia yang memberikan pertimbangan bagi postulasi (dalil)
sesuatu isi minimum dari hukum kodrat.

7
HISTORICAL AND ANTHROPOLOGICAL JURISPUDENCE THE
ROMANTIC REACTION

Dua aliran /gerakan prinsipil ini muncul sebgai reaksi atas pemikiran hukum alam
pada abad ke 18 yaitu mazhab legal positivism dan mazhab yang berdasarkan
pemikiran mistis dalam hubungan manusia. Romantic movement merupakan
bagian yang besar dari pemikiran manusia melawan standar-standar diabad 18
yang klasik dan rasionalistis.
Para tokoh aliran historical and Anthropological jurisprudence antara lain;
1. Herder dan Hegel
2. F.K. Von Savigny
3. Sir Henry Maine
4. E.A Hoebel
5. M. Gluckman
6. L.L Fuller
7. Paul Bohannan
8. S. Diamond

1. Herder dan Hegel

Herder merupakan pencetus pertama yang sangat berpengaruh dari aliran


romantic movement, ia menolak penyatuan tendensi dari filosofi perancis dan
menekankan pada keunikan dari setiap periode sejarah, peradaban dan
kebangsaan.
Hegel menyatakan bahwa Negara merupakan transcending individualistic
interest, hegel menempatkan bahwa Negara sebagai memberikan perlindungan
terhadap Kemerdekaan dan secara tegas mnenyerang Negara prusia yang tidak
memberikan kebebasan terhadap kemerdekaan individu dan kelompok.
2. F.K Von Savigny

System of modern Roman Law


Savigny menolak aliran hukum alam. Baginya system hukum merupakan
bagian dari kebudayaan masyarakat, hukum bukan suatu hasil pengadilan atau

8
hasil dari pembuat undang-undang tetapi berkembang pada suatu respon terhadap
kekuatan impersonal yang dapat ditemukan pada semangat nasional rakyat
(people national Spirit).
Sebagai ahli sejarah Savigny mengambil suatu hipotesa bahwa segala hukum
terbentuk dari budayayang akhirnya berkembang menjadi suatu kegiatan
yuridksi.Pada aliran ini Savigny mencari dan menghubungkan suatu study yang
murni dan serius mengenai arah perkembangan hukum Romawi dan jerman kuno
sampai keberadaanya sekarang sebagai sekarang sebagai dasar dari semangat
orang-orang tertentu. Menurutnya , hal ini merupakan dasar dan bentuk alami
hukum, dan amelihat skema-skema kodifikasi dengan perasaan kebencian, bahkan
untuk meperlakukan legislasinya dengan penundaan yang cukup lama, kecuali
memang sudah mengakar dalam kesadaran yang ada dalam masyarakat.
3. Sir Henry Maine

Ancient law
Maine merupakan penenentang dari perasionalisasian aliran hukum alam
dan aliran utilitarian.Kontribusinya pada jurispudensi tidaklah spesificsecara
empiris, sisstematika dan metode sejarah. Menurut Sir Henry Maine, menurutnya,
awal kondisi hukum adat istiadat masih merupakan yang tidak tertulis
pendokumentasian adat istiadat dalam suatu bentuk tertulis baru dimulai pada saat
Pengadilan di Westminter hall di Inggris dimulai dan selanjutnya hukum tertulis
disebut dengan codes.
Law and Anthropology by holme
Salah satu peninggalan holmes yang hingga saat ini perlu kita ingat adalah
bahwa apabila kita melihat hukum maka secara jelas hal tersebut akan terkait
dengan antropologi dan kitab harus menghormati dan mempelajari hukum sebagai
suati karya besar dari peninggalan-peninggalan dokumen antropologi.
4. E.A Hoebel

The law of primitive man


Makin banyak perhatian yang diberikan pada aktualisasi aturan hukum di dalam
masyarakat suku adat. Hoebel telah mencari untuk menunjukkan bagaimana basic

9
jural dalam masayarakat primitive yang berbeda, bagaimana hal-hal ini mengakar
dalam kondisi social
Dalam penelitianya terhadap perkembangan hukum dalam masyarakat primitive
ini hoebel memandangnya dari 4 Fungsi Hukum dalam masyarakat.
1) Untuk memberikan suatu ikatan dari seluruh anggota masyarakat terhadap
hal-hal yang diterima dan pengaturanya
2) Hukum sebagai alokasi kekuasaan untuk menerapkan kekuatan
fisiksebagai suatu alas an yang sah
3) Pendisposisian kasus-kasu yang timbul
4) Menemukan kembali hubungan antara masing-masing individu dengan
kelompok-kelompoknya sebagai suatu perubahan kehidupan hal ini
berkaitan dengan hukum yang dinamis

5. M Gluckman
Judicial Proses
Ia menyatakan bahwa dalam menilai manusia secara keseluruhan,
harus menginvestigasi, ke dalam sejarah panjang hubungan yang bersifat
multiple dari bagian, pihal/pihak dalam melkakukanya mungkin akan
terbawa dalam lingkup pertimbangan dimana pihak-pihak tidak memenuhi
atau melanggar kewajibanb moral, aturan etika, anjuran ritual dan
semacamnya.
6. L.L Fuller

Menurut Fuller bahwa apabila kita dapata mengerti secara baik tentang
adat istiadat, maka kita dapat menerima kedudukan adat istiadat itu sebagai suatu
bagian penting dalam perkembangan kehidupan di dunia ini karena, :
 Hukum international secara mendasar merupakan adat istiadat
 Beberapa Negara yanbg berdiri saat ini masih diperintah berdasarkan
hukum adat

7. Paul Bohannan

The differiong realism of the law

10
Norma adal;ah aturan sedangkan adat istiadat adalah tubuh dari norma-norma
tersebut. Kita sering terjebak pada pengertian hukum dan norma. Institusi hukum
adalah institusi dmana masyarakatnya memiliki memeiliki suatu system
penyelesaian permasalahan antara satu dengan yang lainya dan melakukan suatu
counterparts atas spelanggaran hukum, 2 aspek penting yang membedakan
institusi hukum dengan yang lainya adalah
 Institusi tersebut memiliki peraturan untuk dapat meng intervensi institusi
yang yang bukan hukum terhadap permasalahan hukum
 Memiliki aturan tersendiri dan substansi hukum tersendiri

8. S Diamond

The Differing of the law


Diamond menyatakan bahwa kita harus bisa membedakan the rule of law dengan
adat istiadat.Hukum dengan adat istiadat pada prinsipnya adalah saling
bertentangan dan tidak berkesinambungan.

HUKUM DAN ANTROPOLOGI


Salah satu pendapat holmes adalah pengaruh yang menyataklan jika subject anda
adalah hukum, maka secara jelas hal tersebut akan terkait dengan antropologi dan
kita harus menghormati dan mempelajari hukum sebagai suatu karya besardari
peninggalan2 antropologi
Bahwa sampai abad kedua puluh hukum sering dipandang dalam cara pandang
yang kaku dan sempit. Masyarakat primitive tanpa kitab hukum formal ,
pengadilan, polisi atau penjara telah diajarkan tentang hal-hal yang kurang dapat
menaikan derajat hukum.
Radcliffe mendefinisikan hukum sebagai suatu control sosial melalui penerapan
sistematis kekuatan masyarakat yang terorganisir secara politis, hamnett juga
menuliskan bahwa hukum kebudayaan bukan sebagai pernyataan dari praktek,
terlebih sebagai norma-norma tertutup yang dipisahkan dari praktek. Pendekatan
yang paling sering dilakukan adalah tidak hanya difokuskan dengan hukum
dimaksud , melainkan pada metode penangnan dan penggabunganya pertanyaan

11
definisi mulai dikesampingkan dan perhatian dipusatkan kepada institusi teknik
penyelesasian masalah. Konsentrasi dalam penyelesaian masalah ini cenderung
memberi gambaran patologi dalam masyarakat yang digambarkan.
Pada abad keduapuluh terakhir ini, ahli-ahli antropologi mempelajari bahwa
proses hukum mempunyai tempat penekanan terbaik dalam faktor ekonomi,
dalam dominasi bentuk-bentuk fakta dan pertanyaan pertanyaan ketidaksamaan
sosial. Beberapa telah menggunakan teori hukum Marxist dan kebanyakan dari
mereka tidak menggunakanya.
ANCIENT LAW (HUKUM KUNO)
Seperti dijelaskan oleh Sir Henry Maine diatas bahwa Keseimbangan dari
lingkungan mungkin biasa biasa dalam mekanisme yang sederhana dari
masyarakat kuno daripada yang pada saat ini dan rangkaian pada kasus-kasus
yang sama sepertinya mengikuti dan saling mengulangi satu sama lain. Disini kita
memiliki unsur-unsur permulaan dari adat, suatu konsep permulaan dari
themistes-themistes atau putusan-putusan.
HUKUM ADAT (Customary Law)
Masalah yang terpenting bagi para ahli hukum adalah kaum ningrat (aristocrat)
secara umum merupakan tempat penyimpanan dan administrator dariu
hukum.Berlakunya hukum adat untuk menjaga ketertiban, adalah sesuatu yang
sangat luar biasa.Keadaan dari ilmu atau pengetahuan hukum yang meninggalkan
jejak yang mungkin masih terdeteksi dalam penyusunan kata-kata hukum.Hukum
yang dikenal secara khusus di bagi sekelompok minoritas, baik suku, lasta
aristokasi, seorang pendeta maupun seseorang terpelajar, adalah hukum yang
tidak tertulis.Dari periode hukum adat ini kita menuju ke pengertian lainya dari
pengertian masa dalam sejarah ilmu hukum. Kita sampai pada masa Undang-
undang kuno yaitu Twelve table of Rome adalah specimen yang paling terkenal.
PENDAHULUAN (filsafat hukum dan teori hukum)
Di segebap penjuru dunia yang beradab, ajaran marx ditentang dan diperangi oleh
semua ilmu pengetahuan borjuis yang memandang marxisme semacam sakte yang
jahat, tidak bisa diharapkan adanya sikap lain, karena tidak ada ilmu sosial yang
netrak dalam suatu masyarakat yang berbasiskan perjuangan kelas. Mengharapkan
sikap netral dari ilmu pengetahuan dalam masyarakat perbudakan upahan adalah

12
bodoh.Doktrin Marxist bersifat serbaguna karena tingkat kebenaranya yang tinggi,
juga komlit dan harmonis serta melengkapi kita dengan suatu pandangan dunia
yang integral yang tidak bisa dipersatukan dengan berbagai macam reaksi atau
tekanan dari pihak bporjuis.Marxisme mnerupakan penerus yang sah dari
beberapa pemikiran besar umat manusia pada abad ke 19 yang dipresentasikan
oleh filsafat klasik jeman ekonomi politik inggris dan sosialisme perancis.Marx
dan Engels membela filosofi materialism dengan tekun dan berulang kali
menjelaskan bagaimana kekeliruan terdahulu merupakan penyimpangan dalam
basis ini. Pandangan-pandangan meraka dijelaskan secara panjang lebar dalam
karya engels edwig perbeli merupakan buku-buku pegangan bagi setiap pekerja
yang memiliki kesadaran kelas.
Kejeniusan Marx adalah karena dia adalah yang pertama kalinya menyimpulkan
pelajaran seluruh dunia dengan tepat dan menerapkan pelajaran itu secara
konsisten, kesimpulan yang dibuatnya menjadi doktrin dari perjuangan kelas.
Rakyat selalu mejadi korban dari penipuan kemunafikan dunia Politik, mereola
alamn selalu begitu sampai mereka mencoba mencari tahu apa kepentingan kelas-
kelas yang ada dalam masyarakat. Apa yang ada dibalik segala macam ajaran,
moral agama dan janjo-janji politik. Para pemenang dari proses reformasi dan
pembangunan akan selalu terkecoh oleh pendukung pemerintahan lama, sampai
mereka menyadari bahwa setiap lembaga yang lama akan tetap dijalankan ileh
kekuatan kelas-kelas tertentu yang berkuasa, hanya ada satu kelompok yang bisa
melawan dan itu bisa ditemukan di dalam masyarakat kita.

13
PERKEMBANGAN HUKUM ALAM

Hukum alam, menurut Marcus G. Singer merupakan suatu konsep dari


prinsip-prinsip umum moral tentang sistem keadilan, dan berlaku untuk seluruh
umat manusia serta umumnya diakui atau diyakini oleh umat manusia itu sendiri.
Oleh karena itu, hukum alam berbeda dan mempunya ukuran yang
berbeda dengan hukum positif yang berlaku pada suatu masyarakat. Menurut
konsep teori hukum alam, individu mempunyai hak alam yang takdapat dicabut
atau dipindahkan. Secara formal dimuat ulang dalam deklarsi kemerdekaan
Amerika Serikat.
Konsep hukum alam mempunyai beberapa bentuk, ide yang pada
awalnya bermula dari konsep Yunani Kuno. Pada intinya alam semesta, dalam
setiap geraknya diatur oleh hukum abadi yang tidak pernah berubah-ubah, kau ada
perbedaan (perubahan) terutama tentang ukuran adil, selalu terkait pada sudut
pandang pendekatannya, adil menurut hukum alam atau adil menurut hukum
kebiasaan.
Aliran ini disebut Stoicin/Stoa, yang disampaikan oleh Zeno (336-264
SM). Zeno memberi gambaran cukup tentang hukum alam yang bersufat
universalistik. Akal merupakan pusat kendali untuk mengungkapkan dan
mengetahui segala hal termasuk mengenai hukum alam.
Menurut aliran/filsafat Stoa, alam semesta diatur oleh logika/ilmutentang
berfikir (logos/ prinsip rasional) dan manusia memilikinya karena manusia akan
mentaati hukum alam. Disini manusia mempunya kebebasan memilih, mereka
tidak mungkin melanggar hukum, selama ia melakukan tindakan-tindakannya
dibawah kontrol akal/nalurinya yang berarti mengikuti kehendak alam.
Dengan demikian aliran Stoa dengan ajaranya yang bersifat universal-
umum menjabarkan lebih lanjut ajaran hukum alam yang dipelopori Aristoteles
yang merubah manusia semula mengedepankan emosional, menjadi makhluk
yang rasional abstrak.
Para ahli filosof kristiani menerima ajaran teori hukum alam
diidentifikasikan dengan hukum Tuhan. Menurut Thomas Aquino, hukum alam
merupakan bagian dari hukum keabadian dari tuhan yang dapat diketahui atau

14
dirasakan oleh manusia lewat kekuatan otaknya. Dalam ajaran Islam, berlakunya
hukum alam merupakan sunnatullah, yaiyu sesuatu yang berjalan dengan
kehendak Allah. Hukum yang memang berjalan sesuai dengan kebenaran Tuhan.
Hukum posituf merupakan aplikasi dari hukum alam pada keadaan
masyarakat tertantu. Seperti aliran Stoa yang percaya bahwa hukum manusia
(human law) yang bertabrakan dengan hukum alam merupakan bukan hukum
yang benar.
Umat manusia secara alamiah tidak saja makhluk rasional, tetapi juga
makhkuk sosial. Namun sifat rasionalnya lebih kuat. Karenanya kepentingan
pribadi dan keuntungan diri sendiri yang menyingkirkan kepentingan umum tidak
dapat dijadikan dasar pikiran tentang keadilan. Dari pemikiran tersebut secara
alamiah akal menguasai manusia, dan lepas dari kaitan dengan Tuhannya. Hukum
alam merupakan suatu peraturan akal murni dan karenanya bersifat tetap, akibat
bersifat tetapnya tersebut sehingga Tuhan tidak bisa mengubahnya.
Dalam perjalanan filosof banyak yang mengembangkan hukum alam,
seperti Thomas Hobbes yang memodifikasi hukum alam dari yang tadinya
harmonis atau adil menjadi tidak adil. Hali ini disebabkan karena manusia
memiliki watak rakus, agresif, mementingkan diri sendiri.
Dalam perjalanan sosial manuria menyerahkan seutuhnya kemerdekaan
nya kepada penguasa yang absolut. Walupun demikian, ide pembelaan diri yang
dimiliki manusia merupakan kunci yang cukup rasional. John Locke berpendapat
meski manusia menyerahkan seutuhnya kepada penguasa, namun pada keadaan
bebas state of nature dalam hukum alam bebas dan sederajat, tetap mempunyai
hak-hak alamiah yang tidak dapat diserahkan kepada kelompok masyarakat
lainnya, kecuali lewat perjanjian masyarakat. Dimana ketika suatu individu masuk
menjadi kelompok masyarakat tersebut. Dan pada saat itu manusia hanya
menyerahkan hak-hak tertentunya untuk memperoleh keamanan, dan kepentingan
bersama.
Pelopor hukum alam lainya yang perlu dicatat yaitu Jean Jacques
Rousseau (1712-1778) yang dianggap sebagai bapak kedaulatan rakyat,
pemikirannya diawali dari melihat kekacauan dialam bebas. Menurut ajaran ini
kejadian kekacawan tersebut hanya dapat diatasi oleh perjanjian masyarakat.

15
Perjanjian masyarakat membangun kebersamaan, kesatuan dan setiap orang secara
pribadi terlindungi serta tercipta keseimbangan antara kekuasaan dengan
kebebasan. Dengan adanya perlindungan tersebut setiap anggota masyarakat
memiliki serta dijamin kebebasannya. Disinipula lewat instrumen perjanjian
masyarakat berarti mengukuhkan kembali kebebasan manusia.
Lewat perjanjian pulalah negara diciptakan, dengan berarti telah terjadi
peralihan pemikiran dari keadaan alam bebas kealam bernegara. Peralihan
paradigma tersebut mengubah nurani manusia semula hanya mengenal kebebasan
(cenderung dalam arti negatif) kepemikian positif yang mengenal nilai-nilai
keadilan, kesusilaan, kemanusiaan lainnya.
Dalm tatanan publik mengenal kemerdekaan, namun kemerdekaan yang
dimiliki selain sudah bermuatan nilai-nilai kemanusiaan dalam arti luas juga
dibatasi oleh kekuasaan umum. Kemauan umum masyarakat inilah yang
merupakan kekuasaan tertinggi. Yang disebut kedaulatan (kekuasaan tertinggi).
Kedaulatan sebagai simbol kekuasaan tertinggi tetap ditangan anggota
masyarakat/rakyat dan tidak pernah diserahkan kepada siapapun,termasuk kepada
penguasa.
Diabad 19 teori hukum alam mulai kehilangn pengaruhnya, dengan
menculnya beberapa aliran pemikiran dalam hukum, antara lain teori Utilitas
(kemanfaatan) yang dipelopori oleh Jeremy Bhentam, yang menekankan tujuan
hukum mewujudkan keadilan. Disamping itu timbul pula aliran hukum positif
yang menekankan antara hukum dan norma terpisah, masing-masing memiliki
tugas dan tempat berbeda. Hukum diciptakan dari keputusan pembentuk undang-
undang.
Disamping itu, muncul pula aliran sejarah hukum yang dimotori
Frederick von Savigny (1779-1861). Pandangnnya menekankan pada proses
pembentukan hukum yang berakar dari sejarah manusia sendiri, yang dapat
berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lain. Karenanya hukum akan
berkembang terus dengan kebiasaan, kesadaran dan keyakinan masing-masing
masyarakat itu sendiri. Dengan demikian setiap bangsa mempunya sistem hukum
yang berbeda, sehingga terjadi perbedaan sistem hukum antara satu bangsa
dengan bangsa lainnya.

16
Hukum alam pada dasarnya merupakan suatu hukum universal yang pada
awalnya digagas oleh pemikir yunani kuno. Pandangn tersebut dikembangkan
lebih lanjut oleh bangsa romawi dalam buku Corpus Luris Civilis yang sampai
sekarang asas-asas hukum alam tetap hidup dan banyak menjadi asas.
Asal mula gagassan hukum alam mungkin bersumber pada suatu gerakan
pikiran manusia yang lama dan tidak dapat diabaikan yang mendorong kearah
suatu pengertian keadilan yang abdi dan takberubah-ubah. Keadilan yang
dimaksud adalah keadilan yang dinyatakan seharusnya dinyatakan oleh kekuasaan
manusia, tetapi yang tidak dilakukannya, karena faktor-faktor tertentu.
Dari kupasan diatas memberi keyakinan kepada kita bahwa aspek
ketuhanan tetap menjadi bagian dari pemikiran hukum alam. Masalahnya tinggal
diman posisi tuhan ditempatkan. Masalah tersebut merupakan bagian dari lintas
wacana para pemikir (Barat dan Timur) sepanjang masa. Sebagai ilmu
pengetahuan hukum adalah pengetahuan tentang manusia dan tentang hal-hal
yang bersifat kudus (devinarum atqe humanarum rerum notitia). Sebagai seni,
hukum merupakan kelanjutan dari hal-hal yang baik dan adil .
Demikian tingginya tugas ahli hukum sehingga dapat dibandingkan
dengan tugas-tugas para agamawan karena antara keadilan dan hukum itu bersifat
korelatif. Jadi pada dasarnya hukum alam merupakan hukum yang bersumber dari
Tuhan yang diberikan kepada manusia untuk dipergunakan oleh manusia sendiri
dan tuhan pun tidak akan ikut mempengaruhinya lagi. Bahkan Thomas Aquino
berpendapat bahwa “hukum alam akan tetap berlaku meskipun, seandainya tuhan
tidak ada”.

KESIMPULAN

Dalam perkembangan hukum alam dinyatakan bahwa, hukum alam tetap


dipercaya sebagai sumber dari segala hukum, karena hukum alam sendiri berasal
dari hati hurani manusia, sehingga hukum alam dipercaya sebagai hukum yang
murni dari tuhan. Tidak hanya itu, hukum alam dalam perkembangannya banyak
diyakini sebagai hukum yang berasal dari Tuhan itu berarti hukum ini merupakan

17
hukum yang suci yang diwariskan oleh tuhan kepada manusia dan dianggap
sebagai hukum yang tahu akan kebenaran yang murni.
Hukum alam alam sebenarnya bersumber dari nurani manusia sendiri,
dengan dianugrahkannya pemikiran kepada manusia (oleh Tuhan) manusia dapat
membedakan yang baik serta yang bernar, dan pada sifat manusiawi seseorang
atau manusia memiliki kesamaan sifat, yakni sama-sama ingin mendapatkan
keadilan, keamanan dan ketentraman dalam hidupmnya. Oleh sebab itu muncullah
pemikiran dari manusia bahwa setiap orang memerlukan kehidupan yang aman
damai dan tetap berada pada lingkaran sosial.
Akan tetapi dalam sejarah perkembangannya hukum alam sendiri pernah
mengalami ketidak berdayaan, hal ini dikarnakan dari sifat manusia itu sendiri
yang cenderung tidak merasa puas dengan apa yang ada disekitarnya. Yang
kemudian memacu pemikiran bahwa hukum alam tidak mampu mengakomodir
kepentingan manusia seutunya, karena hukum alam hanya dapat dirasakan oleh
manusia itu sendiri, tanpa ada kesepakatan yang tertulis.
Hukum alam tetap menjadi sumber dari filsafat hukum karena dianggap
sebagai hukum yang murni dalam mengatur kehidupan manusia, sebab segala
hukum bertujuan untuk mengatur kehidupan mansia agar menjadi lebih baik dan
menjadi aturan bersama dalammenjalankan kehidupan didunia. Hukum positif
juga merupakan aplikasi dari hukum alam, karena hukum alam mampu
membedakan dengan sendirinya perilaku manusia sendiri baik atau tidak baiknya.
Hukum alm juga sering dikatakan sebagai hukum keabadian dari Tuhan yang
dapat diketahui atau dirasakan melalui kekuatan otaknya.

18
BAB V
KEMUNDURAN TEORI HUKUM ALAM

Pada bad ke 18 terjadi perubahan fungsi akal, sehingga jika dibanding


dengan kondisi pada abad ke-17 sudah berlainan. Jika pada abad ke-17 akal
dimanfaatkan sebagai alat untuk menerangkan kenyataan yang ada, maka pada
abad ke-18 akal dimanfaatkan sebagai sarana pemberi nilai suatu keadaan secara
kritis agar dapat menghasilan suatu susunan sesuai tuntuan akal.

Karena itu sifat akal menjadi istimewa. Pemikiran tentang negara dan
hukum mengalami perberkembangan, sehingga kadang-kadang bertentangan
dengan negara dan hukum yang ada pada waktu itu.

Pada abad ke-18 akal memiliki arti politik yang penting. Pemerintahan
dengan sistem absolut ditentang yang berpuncak pada terjadinya revolosi besar di
Prancis. Alasan-alasan penyebab akal tidak dapat diterima lagi pada abad ke-17
dan abad ke-18 adalah :
1. Lahirnya konsep tatanan kemasyarakatan yang bersifat kolektifistik yang
menggantikan konsep tatanan kemasyarakatan yang individualistik, akibat
semakin tumbuhnya rasa nasionalisme.
2. Ilmu pengetahuan alam semakin berkembang, sehingga metode berfikir
deduktif digantikan dengan metode berfikir empiris analitis.
3. Masalah-masalah di negara eropa diselesaikan secara konkrit berdasar fakta
sosiologis dan tidak lagi bersifat abstrak.

Perkembangan teori perjanjian masyarakat yang bersifat indivisualistik,


deduktif dan abstrak mengalami kemunduran semenjak Montesquieu melahirkan
ajaran-ajaran filsafat hukum alam setelah Rousseau. Dengan demikian titik berat
tujuan penyusunan hukum tidak lagi untuk melegalkan kekuasaan yang absolud,
tetapi untuk mengusulkan agar hukum menjadi pelindung dan penjamin hak-hak
asasi manusia.

19
A. Montesqueieu (1689-1755)

Montesquieu itu nama tempat, nama lengkapnya yaitu Charles de Secondat,


Baron le de Brede et de Montesqueieu. Inti ajarannya tentang adalah hukum
merupakan hubungan-hubungan yang timbul dari kodrat yang secara samar-
samar terkandung prinsip-prinsip hukum alam yang dipengaruhi oleh lingkungan
(environment and condition) dalam arti luas geografi, agama, kebiasaan dan
lainnya dimana hukum tumbuh. Perbedaan hukum di berbagai negara disebabkan
karena adanya perbedaan fakta/sejarah/sistem pemrintahan yang dianut dan
kondisi wilayahnya. Berdasarkan penyeledikannya disimpulkan bahwa hukum
positip di berbagai bangsa tidak hanya sangat berlainan, tetapi memang harus
berlainan karena harus menyesuaikan dengan keadaan lingkungan hidupnya.

Montesqueiu mengemukakan teori politik yaitu tentang kekuasaan.


Kekuasaan harus dipisahkan dan diserahkan, karena pengalaman menunjukan
bahwa orang yang diberi kekuasaan cenderung menyalahgunakan dan
menggunakan kekuasaan itu sejauh mungkin. Untuk menghindari
penyalahgunaan tersebut perlu kekuadaan dibagi-bagi di dalam kekuasaan
legislatif, eksekutif dan judikatif (Trias Politica).

Selain Montesqueiu, David Hum adalah orang pertama penentang teori


hukum alam karena kelemahan-kelemahannya dari segi rasionalisme :
1. Hukum matematis tidak dapat dipengaruhi oleh rasio manusia. Kepastian
dalil-dalil matematik tidak ada dalam tingkah laku manusia. Hukum lebih
pasti dibanding rasio sendiri..
2. Adanya ebab tingkah laku manusia tidak harus logis dan universal,
merupakan obyek pengetahuan yang empiris.
3. Rasio manusia itu berada dibawah kehendaknya, sehingga rasio hanyalah alat
dari kehendak itu sendiri.

20
David Hum mengatakan : Hukum adalah bukan suatu yang berasal dari rasio
manusia, tetapi hanya suatu susunan aturan dari masyarakat yang diperlukan
untuk tercapainya perdamaian dan ketertiban.

B. Jeremi Bentham (1748-1832)

Adalah pendiri aliran utilitarianisme yang berkeinginan mengadakan


pembaharuan berdasarkan doktrin manfaat (utility) dengan mengkodifikasi hukum
dan tidak mengikuti ajaran judge-made-law. Bentham mnegmukakan teori
“apabila individu mengejar kebahagiaan tanpa dibatasi, berakibat terjadinya
“homo homini lupus”. Tujuan hukum itu adalah memnerikan kebahagiaan yang
sebesar-besarnya kepada jumlah yang sebanyak-banyaknya (the greatest
happiness for the greatest number). Kepastian merupakan tujuan hukum utama.
Manusia bertindak untuk memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi
penderitaan. Ukuran baik buruknya tindakan manusia tergantung apakah tindakan
tersebut dapat mendatangkan kebahagiaan atau tidak.

Bentham mengemukakan bahwa pembentuk hukum harus membentuk hukum


yang adil bagi segenap masyarakat secara individual. Kelemahan teori ini
terletak pada kenyataan bahwa tidak semua manusia mempunyai ukuran yang
sama mengenai keadilan, kebahagiaan dan penderitaan.

Kodifikasi hukum yang selengkap-lengkapnya berdasar prinsip-prinsip


rasional bisa dilaksanakan tanpa memperhatikan penerapan hukum yang berbeda,
akan tetapi kelemahan teorinya terletak pada kenyataan bahwa tidak setiap
manusia mempunyai ukuran yang sama mengenai keadilan, kebahagiaan dan
penderitaan.

Dengan demikian Bentham telah “over estimate” terhadap kekuatan


negara,sebalinya “under estimate” terhadap ketidakseragaman manusia
(complexity), namun demikian Bentham juga telah memberikan peranan yang

21
moderen terhadap hukum, yakni sebagai penjaga keseimbangan dari berbagai
macam kepentingan (balance of interests).

Pada abad ke-18 teori tentang hukum alam mulai ditinggalkan dan
selanjutnya t teori hukum positivisme mulai banyak dianut dan dikembangkan.
Alasanya adalah karena hukum alam terlalu umum, abstark dan bervariasi,
sehingga sulit memperoleh kepastiannya.

Paham positivisme, menganggap hukum alam terlalu umum, abstrak dan


bervariasi, kepastian menjadi sulit diperoleh, dibanding dengan hasil penemuan
penelitian ilmiah (eksata) yang menjanjikan. Bukti teori positivisme adalah hasil
penemuan ilmiah lewat perang dunia I dan II yang membawa petaka umat
manusia.

Para pemikir menyimpulkan bahwa hal itu akibat perkembangan ilmu dan
teknologi yang tidak dikaitkan dengan agama, moral, dan filsafat agar
pembahahasan dan pengembangan ilmu pengetahuan tidak berjalan sendiri. Hal
tersebut juga berdampak pada ilmu hukum yaitu sebagaimana Hiltler dan
Musolini yang telah menyalahgunakan hakekat hukum positif, dengan
menerapkan sistem politik otoriter terbangun dengan bebas. Karena itu hukum
positif harus dilihat dari filsafat hukum dan teori hukum yang harus dikaitkan
segi-segi kemasyarakatan.

Pengembang hukum Alam Rudolp Stammler (filosuf Jerman), membedakan


antara the concept of law (formal hukum) dengan the idea of law (realita
keadilan). Pokok-pokok pikirannya adalah :
1. Semua hukum positif merupakan usaha menuju pada hukum yang adil.
2. Hukum alam berusaha membuat suatu metode rasional yang dapat digunakan
untuk menentukan kebenaran yang relatif dari hukum pada setiapsituasi.
3. Metode itu diharapkan jadi pemandu jika hukum itu gagal dalam ujian dan
membawanya lebih dekat kepada tujuan.

22
4. Dengan analisis logis, akan menemukan asas-asas penyusunan hukum
(juridical organization) tertentu yang mutlak syah untuk memandu kita
dengan aman dalam memberikan penilaian tentang tujuan yang manakah
yang layak untuk memperoleh pengakuan oleh hukum dan bagaimana tujuan
itu berkembang satu sama lainnya secara hukum.

Pendapat Peresume:

Teori-teori hukum terus berkembang dari abad ke abad, pada periode abad
ke-17 sampai abad ke-18, terdapat empat teori pemikiran tentang hukum alam
dan perkembangan fungsi akal dan rasio manusia.

Pada periode abad ke-18 fungsi akal dan rasio manusia sudah berlainan
dengan yang terjadi pada abad ke-17. Akal dan rasio manusia sudah dianggap
memiliki fungsi istimewa sehingga pemikiran tentang negara dan hukum
berkembang sedemikian, hingga kadang-kadang bertentangan dengan negara
hukum yang telah ada pada saat itu.

Pada periode ini teori hukum berupa perjanjian masyarakat yang bersifat
indivisualistik, deduktif dan abstrak mengalami kemunduran ke arah untuk tidak
melegalkan kekuasaan absolud, tetapi untuk pelindungi dan penjamin hak-hak
asasi manusia.

Montesqueiu mengemukakan teori politik kekuasaan, bahwa kekuasaan harus


dipisahkan dan diserahkan, karena kekuasaan cenderung disalahgunakan. Untuk
menghindari penyalahgunaan tersebut perlu kekuasaan dibagi-bagi di dalam
kekuasaan legislatif, eksekutif dan judikatif (Trias Politica).

David Hum juga menentang teori hukum alam dari segi rasionalisme hukum
matematis khususnya tentang kepastian dalil-dalilnya yang tidak ada dalam
tingkah laku manusia. Dengan pendapat bahwa hukum itu lebih pasti dibanding
dengan rasio manusiai.

23
Bahwa tentang sebab tingkah laku manusia yang tidak harus logis dan
universal, adalah merupakan obyek pengetahuan yang empiris. Bahwa pada saat
itu diketahui bahwa rasio manusia itu berada dibawah kehendaknya, sehingga
rasio hanyalah alat dari kehendak itu sendiri.

24
ALIRAN HUKUM MODERN

I. Aliran Legal Positivisme

Aliran Legal Positivisme adalah : suatu aliran dalam filsafat hukum yang
beranggapan bahwa, hukum satu-satunya hanyalah hukum positif. Tidak ada
norma-norma hukum diatas batas hukum positif dan hukum positif hanyalah
undang-undang. Aliran ini memandang hukum sebagai norma semata-mata.
Pengaruh mahzab ke-19 dan terdesaknya kepercayaan dan ajaran-ajaran aliran
hukum alam yang rasionalis hingga di tinggalkan umum, dampak dari pengganti
aliran hukum tersebut ialah aliran baru Rechtpositivsme atau Legal Positivisme
yang kemudian berhasil menyurutkan para sarjana terhadap rechtphilosopi. Aliran
Legal Positivisme pun mengedepankan ajaran-ajaran hukum materialistis. Ini
berinduk pada aliran filsafat umum positivisme. Aguste Comte (1798-1857)
merupakan pencetus aliran ini, di sebut pula sebagai Bapak Sosiologi. Sebelum
berkembang aliran ini terlebih dahulu telah berkembang 2 aliran yaitu : a. Aliran
Legisme yang bergerak di lapangan ilmu hukum dan b. Aliran Positivisme yng
bergerak di lapangan filsafat umum kedua-duanya telah menjadi pergerak utama
lahirnya aliran rechtpositivisme yang anti hukum alam dan menganggap sepi
filsafat hukum.
Satu-satunya sumber hukum ialah Undang-undang (de we als enige rechtsbom) :
1. Legisme terkenal juga dengan nama positivisme perundang-undangan.
Sudah di kenal sejak abad pertengahan, baik dikenal dalam pikiran ahli-
ahli hukum maupun para filosof masa itu. Kaum kanoist adalah orang yag
menyelidiki hukum gereja dan kaum legist mereka yang
mempelajari/menyelidiki hukum romawi.
2. Perkembangan pikiran rasionalis, teori tersebut dapat di terima serta
mendapat banyak pengikut karena ajaran legisme pada dasarnya dapat di
terima akal.
3. Legisme cocok dengan ajaran “Social Contract”, dari ajaran Thomas
Hobbes (1588-1679), John Locke (1632-1704) dan Jean Jaques Rousseau
(1722-1778) dasarnya hukum alam yang bersifat rasionalistik dan logis.

25
4. Teori Montesquieu (1688-1755), trias politika yang mengajarkan
pemisahan kekuasaan, tugas pembentukan hukum adalah semata-mata hak
luar biasa dari badan pembentuk undang-undang.
5. Legisme di kenal di Inggris dalam bentuk agak lain, karena sebagian
hukumnya tidak tertulis.
6. Di Jerman pada abad ke 19 legisme di pertahankanoleh penganut-penganut
teori kedaulatan negara lain Paul Laband, George Jellinek, Rudolf Von
Jehring, Carre de Melberg, Hans Nawiaski dan Hans Kelsen.
7. Di negeri Belanda, legisme di anut ahli hukum dan pembuat undang-
undang, terlihat dalam hasil kodifikasi hukum privat pada abad 19.

II. Aliran Positivisme

Agust Comte , adalah pelopor Aliran Positivisme. Di kenal sebagai Bapak


Sosiologi dan diketahui istilah sosiologi merupakan teknis yang di perkenalkan
Comte. Aguste Comte ingin menerapkan hukum alam dalam masyarakat, ia ingin
menyusun metode untuk ilmu pengetahuan alam. Ajaran Aguste Comte membagi
tiga masa perkembangan pikiran manusia yaitu:
a) Tingkat religi, tahap ini manusia berpikir sendiri yaitu menyandarkan
kepada kemauan Tuhan yang terdapat dalam kitab-kitab suci.
b) Tingkat metafisika, manusia sudah mulai dapat berpikir sendii, sudah
mampu mencari penjelasan sendiri tetapi sifatnya masih abstrak/spekulatif.
c) Tingkat positif, manusia mengakui bahwa yang penting fakta/kenyataan.

Positivisme berasal dari kata positif istilah sehari-hari yang di pakai rakyat
Yunani tingkat bawah yang maknanya relatif. Anggapan positivisme sendiri
memiiki sifat hukum positif relatif, karena tidak ada hukum pribadi/langgeng
seperti hukum alam. Beberapa dimensi yang menyebabkan beda waktu lampau,
sekarang dan yang akan datang, tempat dan keadaan juga keragaman
bangsa/budaya. Jadi, hukum yang masa lalu berbeda dengan hukum saat ini,
hukum bagi bangsa yang satu berbeda dengan hukum bangsa yang lain. Apabila
di hubugkan dengan ajaran mazhab sejarah dari von savigny yang berpendapat
bahwa hukum tidak di buat, tetapi hukum ada dan tumbuh bersama-sama rakyat.

26
Karenanya mazhab sejarah menolak hukum alam yang sifatnya universal dan
abadi. Positivisme menolak berpikir abstrak, dengan mngedepankan hal-hal yang
transendental merenung, melampaui batas pengalaman manusia.
Aliran hukum positif menolak ajaran hukum alam, karena sifatnya yang
spekulatif dan abstrak. Menurut hukum positif, psekulatif abstarktif harus di
hindari yang nampak bukan status naturalis, status civilis, leges fundamentalis,
pactum unionis pactum unions, pactum subjetionis, semua tidak ada hanya fiktif
saja. Di samping itu hukum positif yang bersandar/bersumber dan menyelidiki
perundang-undangan pada umumnya. Apabila hukum berbentuk undang-undang,
dilakukan dengan logika dan ketika interpretasi di jalankan/digunakan adalah
interpretasi autentik.

III. Pengertian Positivisme

Prof. H.L.A Hart memberikan arti arti tentang pengertian positivisme


yang di kenali dalam ilmu hukum yaitu :
a) Hukum adalah perintah dari manusia.
b) Tidak ada hubungan mutlak antara hukum dan moral, atau hukum
sebagaimana yang berlaku/ada dan hukum yang seharusnya.
c) Analisis konsepsi hukum, mempunyai arti penting dan harus di pisahkan
dengan penyelidikan.
d) Sistem hukum merupakan sistem hukum logis, tetap dan bersifat tertutup
di dalam ketentuan-ketentuan hukum yang benar serta di peroleh dengan
pendekatan logika atas peraturan-peraturan hukum yang telah di tentukan
sebelumnya tanpa memperhatikan tujuan-tujuan sosial, politik dan ukuran-
ukuran moral.
e) Pertimbangan-pertimbangan moral tidak dapat di buat atau di pertahankan
sebagai kenyataan yang ada, perlu ada pembuktian lewat argumentasi
rasional atau percobaan.

Hal di atas merupakan bagian dari pengertian sistem hukum postivime dan
dengan system yang logis, tetap dan bersifat tertutup yang bertalian erat dengan
ciri yang sifatnya lebih umum dan pemisahan tajam antara yang nyata dan yang

27
seharusnya. Pandangan filosofis atasan aliran hukum positif di tekankan pada
pemisahan antara hukum dalam kenyataan dan hukum sebagaimana seharusnya
hal ini merupakan dasar filsafat yang terpenting dari legal positivisme.
Pandangan ini sangat bertentangan dengan ajaran skolastik, awalnya mengkritis
ajaran gereja yang memandang hukum positif hanya sebagai pancaran hukum
alam yang lebih tinggi derajatnya, berbeda dengan filsafat hegel yang
mencampur filsafat hukum dan ilmu hukum. Pemisahan antara yang nyata dan
yang seharusnya tidak berart penolakan atas nilai dalam hukum, sebagaimana
dari karya Austin dan Kelsen (Analitical Positivisme). Seperti Austin
pendukung Analitical Positivisme menyebutkan sistem hukum hanyalah sebagai
bentuk-bentuk dari analisa umum dalam bidang Jusriprudance (ilmu hukum)
sedangkan ahli-ahli hukum lainnya menitik beratkan pada makna definisi dan
klarifikasi konsep-konsep hukum merupakan ilmu tersendiri.

Sistem positivisme menolak adanya hubungan hukum dengan apa yang


baik dan yang buruk, demikian pula dengan Law of God hanya di anggap
berfungsi sebagai wadah dari keyakinannya yang didasarkan pda kemanfaatan,
sebagaimana prinsip kemanfaatan dari Betham. Menurut Austin, asas manfaat
merupakan petunjuk yang nyata bagi pembentukan Undang-undang sehingga
menjadi pedoman.

IV. Aliran Wina

Tokoh utama mazhab Wina adalah Hans Kelsen, ahli hukum Austria.
Kelsen masuk salah satu tokoh mazhab formalistik terkenal dengan ajaran
Analytical Jurisprudance (John Austin) yang berinduk kepada aliran posiitivitik
dengan pendirian keras, hukum dan moral merupakan dua bidang terpisah dan
harus di pisahkan. Asal usul filosofis dari aliran Wina sangat berbeda jauh dengan
utilirasime John Austin. Dasar filosofis dar pemikiran Hnas Kelsen adalah Neo
Kantianisme. Hans Kelsen menghubungkan dengan inspirasi Neo Kantianist dari
Rudolf Stammler dan Del Vecchio yang memberi definisi hukum yang dapat di

28
pakai secara umum, hukum kurang formal dan universal lepas dari kenyataan
sosial yang selalu berubah.

Ajaran Hans Kelsen yang terkenal antara lain :


a) Ajaran Stuffenbeu Theorie yang menekankan hukum di turunkan dari
norma dasar, semakin ke bawah semakin menyebar dan beragam.
b) Ajaran Grundnorm, merupakan induk dari semua peraturan hukum yang
ada. Dengan demikian setiap sistem hukum dapat berbeda.
c) Ajaran Reine Rechtslehre/Pure Theory of Law, memsucikan hukum dari
pengaruh non hukum (moral, sosiologi, politik, dll). Keadilan bukan
bahasan hukum.

Teori Stuffenbau pertama kali di perkenalkan dan di bentangkan oleh


murid Hans Kelsen yang bernama Adolph Merkl. Stuffenbau des Recht atau
pertanggaan hukum yang merupakan stuktur piramida, Kelsen beranggapan
bahwa sistem hukum sebagai sistem pertanggaan dari norma-norma dimana suatu
norma hukum tertentu akan di cari sumber asalnya pada norma yang lebih tinggi
derajatnya. Norma yang merupakan puncak dari sistem pertanggaan tersebut
dinamakan sebagai “norma dasar” atau “grundnorm” yang memperlihatkan
kesatuan formal dari hukum positif. Menurut Kelsen bahwa hukum itu
berkembang secara berangsur-angsur dan bertangga seperti bentuk piramida
(stuffen), mulai dari norma hukum yang tertinggi derajatnya yang bersifat konkrit,
khusus individualised dan bersifat pelaksanaan. Sedangkan norma hukum yang
lebih rendah derajatnya mendapat legalitas (daya berlaku) dari norma hukum yang
derajatnya lebih tinggi dimana setiap tingkatan sekaligus merupakan penciptaan
hukum baru dan pelaksanaan dari hukum yang lebih tinggi tersebut tadi.

29
Modern Trends In Analitical And Normative Jurisprudence
(Pembahasan Teori Nozick dan Hohfeld)

A.Nozick and The Minimal State


Konsep keadilan “Entitlement Theory” (Teori Hak Yang Adil), barang-barang
ekonomi sudah tumbuh sejalan dengan hak terhadap kepemilikan. Secara moral
minimal state adalah sah dan tujuan anarkis terbukti salah (disangkal). Nozick
memperkuat pengertian “Minimal State” dan “Individual Anarchist”, bahwa
apabila monopoli Negara menggunakan kekuatan dalam wilayahnya dan
menghukum pihak lain yang melanggar monopoli negaranya, Negara bermoral
dimana minimal state adalah sah dan tujuan anarkis terbukti salah.
Kepemilikan seseorang adalah adil apabila didapat melalui perolehan asli yang
adil atau melalui pemindhan hak yang adil atau melalui perolehan terhadap
ketidakadilan dalam arti pertama dan kedua.
Tidak sepakat atas teori distribusi peradilan. Hak untuk kebebasan didasarkan
pada referensi pada hak untuk kepemilikan. Nozick hanya menunjuk pada
kebebasan pasar, bersatu, secara sukarela dan adanya kedermawanan pribadi.
Menyampingkan pertumbuhan peranan dari Negara dalam era kapitalisme, tetapi
juga secara radikal pre-sosilogis tanpa struktur sosial atau sosial atau ketetapan
budaya dan hambatan dalam tindakan yang bebas dan juga pertukaran kegiatan
individual.
B.Hohfeld’s Analysis of Rights
Mengakui ketidakpastian akan penggunaan kata Rights (hak), dimana
dihubungkan dengan masalah pengertian “Normatif” dan segi hukum lainnya
“Correlative, Opposite atau Class Compliments”. Rights dalam arti sempit
mencerminkan “Corelative Duty”, tetapi tidak setiap “Duty” mencerminkan
“Corelative Rights”. Kekuatan identik dengan kontrolTujuan penelitian ini untuk
memperoleh kemudahan “Legal Transaction” secara sederhana, tepat dan dapat
diakui secara universal.
C.R.Nozick Anarchy, State and Utopia (Anarki, Negara dan Harapan) 1974
Minimal State secara moral itu sah, dimana proses peralihan harus dilaksanakan
secara sah dan bermoral juga. Prinsip pemberian kompensasi mengatur dimana

30
operator mempunyai hak melarang. Apabila proteksi merupakan suatu kewajiban,
maka proteksi harus ada meskipun harus ada biaya tambahan. Secara kenyataan
monopoli tumbuh sendirinya dengan cara proses bermoral yang diizinkan, tanpa
hak sesorang dilanggar dan tanpa ada suatu gugatan khusus bagi orang lain.
Kompensasi perlu diberikan untuk proteksi.
D.W.N Hohfeld “Fundamental Legal Conceptions Applied in Judicial
Reasoning (Konsep Hukum Mendasar Yang Diterapkan Dalam Pertimbangan-
Pertimbangan Hukum) 1923.
Penyelesaian masalah hukum dapat dipersempit pada analisa Hak (Rights) dan
Kewajiban (Duties), dimana dalam menerapkan prosedurnya dengan
mengelompokkan hubungan hukum yang diterapkan dalam kasus yang diteliti.
Privilages and No Right, lawan dari duty dan merupakan persamaan dari No
Right.
Power and Liability, perubahan hubungan hukum dapat disebabkan oleh:
a. Faktor-faktor tambahan yang berada diluar control manusia;

b. Faktor tambahan yang berada dibawah control manusia yang memiliki


kekuatan untuk merubah suatu hubungan hukum.

Immunities and Disabilities, lawan dari dapat mempertanggungjawabkan ganti


rugi dan korelasi dari ketidakmampuan memberikan ganti rugi. Tujuannya bukan
hanya mempelajari arti dan ruang lingkup saja, tetapi juga hubungan satu dengan
lainnya dan metode bagaimana penerapannya dalam mencari alasan hukum
mengatasi persoalan nyata dalam proses peradilan.

Modern Trends In Analitical And Normative Jurisprudence


Membahas aliran Neopositivisme, aliran positivis yang mengkritik kritikan aliran
positivisme lama.
I.Pengertian Ilmu Hukum Menurut Hart
Sistem hukum adalah system dari peraturan-peraturan sosial yaitu : a. Sistem
hukum mengatur sikap tindak anggota masyarakat b. Sistem hukum berasal dari
praktek-praktek masyarakat.

31
Intinya adanya suatu kesatuan peraturan primer (peraturan yang menimbulkan
beban, tugas maupun kewajiban) dan peraturan sekunder (peraturan yang
memberikan kekuatan atau kewenangan). Ada 3 macam peraturan sekunder
yaitu; a) Rule of Adjudication (kewenangan hakim dalam kasus penegakan
hukum); b) Rule of Change (peraturan perubahan dengan memberikan
kewenangan untuk memberlakukan undang-undang sesuai prosedur); c) Rule of
Recognition (aturan yang menentukan kriteria yang mempengaruhi validitas
peraturan yang ada).Sistem hukum efektif apabila memenuhi dua kondisi; 1)
Peraturan-peraturan tingkah laku tersebut sah menurut criteria validitas harus
dipatuhi oleh masyarakat; 2) Peraturan sekunder harus dipatuhi pembentuk atau
pejabat hukum sebagai standar bagi menciptakan peraturan.
Hart, menolak setiap jenis hukum yang semata-mata hanya berdasarkan perintah-
perintah paksaan, karena semata-mata berasal dari pola hukum criminal yang
tidak dapat diterapkan pada bagian yang besar sistem hukum modern, melibatkan
publik dan kekuatan pribadi. Hart dalam “Positivism and Separation of Law and
Morals” 5 ciri positivism; 1) Hukum suatu perintah yang datangnya dari manusia;
2) Tidak ada hubungan mutlak hukum dan kesusilaan, hukum yang berlaku
dengan hukum yang dicita-citakan; 3)Analisa pengertian hukum; 4)Sistem hukum
adalah system logika yang tertutup, hukum yang benar dapat diperoleh dengan
alat logika peraturan-peraturan hukum sebelumnya tanpa memperhatikan tujuan
sosial, politik, moral dan lainnya;5) Pertimbangan kesusilaan tidak dapat
dibuktikan atas argumentasi dan bukti logika.
II.Aspek Internal Hukum
Hart, hukum selain bergantung pada tekanan sosial eksternal, hukum juga
bergantung pandangan dalam masyarakat sendiri, dimana peraturan tertentu
menimbulkan kewajiban-kewajiban. Ia memperkenalkan aspek internal hukum
dengan membedakan hukum dan kebiasaan, menolak penafsiran semata atas
bentuk luar tingkah laku, namun digantungkan pandangan dari dalam yaitu
manusia menuju kearah peraturan yang digambarkan sebagai tanggung jawab.

III.Pandangan Antara Hukum dan Moral

32
Hart, tidak percaya hukum berasal dari moral, ketidaksahihan hukum berbeda
dengan tidak bermoral. Moral mengenai batin manusia saja, sedangkan hukum
dari sumber hukum isinya moral maupun immoral. Moral adalah sebab-akibat,
bagian hukum untuk membenarkan perbedaan.
IV. Petunjuk Pengenal (The Rule Of Recognition)
Selalu terdapat suatu norma pengenal yang terakhir, norma dasar yang mendasari
berlakunya norma lain (ultimate rule of recognition). Norma didapati dengan
bertanya terus mengenai berlakunya suatu aturan.
Norma hukum hanya berlaku berasal dari kenyataan yang telah ditandai kaidah
yang lebih tinggi sebagai sumber norma hukum, selain itu juga mencari suatu
sumber norma-norma hukum, sampai pada norma dasar yang bersifat kenyataan
saja.
V.Teori Keadilan John Rawls
Dalam masyarakat yang diatur menurut prinsip utilitarisme orang-orang akan
kehilangan harga diri, pelayanan demi perkembangan bersama akan lenyap.
Terdapat 3 (tiga) syarat supaya manusia sampai pada posisi aslinya yaitu: 1.)
Tidak diketahui posisi manakah yang akan diraih seorang pribadi tertentu; 2)
Prinsip keadilan dipilih dengan semangat keadilan;3)Tiap-tiap orang pertama-
tama suka mengejar kepentingan individualnya baru kepentingan umum.
Kecenderungan keuntungan individual tidak menjadi penghalang menntukan
prinsip keadilan, bahkan menjadi titik tolak pembagian yang merata.
Prinsip Fundamental Keadilan meliputi: a).Prinsip Kesamaan, seluruh
keuntungan masyarakat dibagi rata diantara anggota-anggota masyarakat yang
sama, pemerataan kebebasan peluang berkembang, pendapatan dan
kekayaan;b).Prinsip Ketidaksamaan, terjadi dengan syarat: a)menjamin
maximum minimorum, bagian golongan yang paling lemah; b) Ketidaksamaan
diikat pada jabatan yang terbuka bagi semua orang.
Teori Utilitarisme membawa kearah suatu maksimum penggunaan barang bagi
suatu komunitas serta Teori posisi asli membawa kearah suatu maksimum
penggunaan barang secara merata dengan tetap memperhatikan kepribadian tiap-
tiap orang.
VI.Keadilan Distributif & Political Liberalism

33
Rawls, tidak mendukung egalitarianism, dan Teori Rawls berbeda dngan paham
Utilitarialisme. Ia menganggap warga Negara yang bertentangan dalam dasar
demokrasi yang berlawanan demikian tidak dapat didamikan, konsep kebaikan
menjadikan dasar kesepakatan politik logis atas kesepakatan tumpang tindih dan
menggunakan pengertian keadilan.
Modern Trends In Analitical And Normative Jurisprudence
Tiga cara menjawab kealamian hukum oleh Raz:
1.Cara Linguistik, mengkonsentrasikan pada kata”hukum”, yaitu Legal
Condition, “ semua pernyataan legal diatur oleh penggunaan kalimat dalam
bentuk Peraturan secara legal”.
2.Cara pandang Pengacara, Basic Institution yaitu hukum berkaitan dengan
konsiderasi yang sesuai untuk pengadilan untuk memutuskan keputusan mereka.
Seorang pengacara harus memperkuat intuisi dasar dengan pengetahuan, hukum
berkaitan dengan alasan judicial tidak menentukan alasan dari pandangan
profesionalnya untuk menghentikan pengenalan teori hukum dengan teori
keputusan.
3.Cara pendekatan Institusi, menyajikan analisa pusat institusi politik yang
seharusnya diterima sebagai analisa hukum. Tiga ciri khas pengadilan hukum: a)
Mereka berurusan dengan penolakan tujuan dalam memecahkan masalah; b)
Mempermasalahkan peraturan dan kewenangan yang memutuskan penolakan; c)
Mereka terikat untuk dipandu konsiderasi yang berwenang.
Kritisme Praktek atas Teori
Teori praktek terhalang oleh tiga kelumpuhan fatal yaitu, tidak menjelaskan
peraturan-peraturan yang bukan praktek, gagal membedakan antara peraturan
sosial, dan merampas peraturan-peraturan karakter normative mereka.

34
Modern analytical and Normatif Jurisprudence (gagasan John Rawls)
Teori Keadilan
Pemikiran keadilan John Rawls didasarkan pada konsep pemikiran kaum
Utilitarianisme, dalam pandangannya hukum bertujuan untuk memberikan
manfaat bagi seluruh orang meskipun disadari kemanfaatan yang diberikan secara
adil kepada semua orang merupakan satu cita-cita belaka.
Prinsip-prinsip keadilan yang mendasar menurut rawls dalam hal tercapai posisi
asli dibedakan menjadi dua yaitu :
1. Prinsip yang sama sebesar besarnya, dalam prinsip ini setiap orangnya
mempunyai hak yang sama atas seluruh keuntungan masyrakat.
2. Prinsip ketidaksamaan yang menyatakan bahwa kondisi social ekonomi
harus diberikan aturan sedemikian rupa sehingga memberikn keuntungan
bagi golongan yang lemah.

Adapun untuk mencapai suatu posisi asli, Rawls memberikan beberapa syarat
yaitu :
1. Diandaikan bahwa tidak diketahui posisi yang akan diraih seorang
individu tertentu dikemudian hari.
2. Diandaikan bahwa prinsip keadilan dipilih dengan semangat keadilan
dengan kesediaan untuk tetap berpegangan teguh pada prinsip-prinsip
keadilan yang telah dipilihnya.
3. Diandaikan bahwa tiap-tiap orang pertama tama suka mengejar
kepentingan individualnyadan baru kemudian kepentingan umum.

Jadi menurut Rawls melalui hukum kebebasan manusia dibatasi akan tetapi tujuan
supaya kebebasanya dipertahankan. Teori posisi asli dari Rawls membawa kearah
penggunaan secara maksimum barang-barang secara merata dengan tetap
memperhatikan kepribadian tiap-tiap orang , sedangkan menurut kaum utilisme,
keadila membawa kearah maksimum penggunaan barang secara merata.
Prinsip keadilan yang dikemukanan Rawls ini harus mengerjakan dua hal yaitu :
1. Memberikan penilaian konkrit tentang adil tidaknya institusi-institusi dan
praktek-praktek institusional.

35
2. Membimbing kebijakan dan hukum untuk mengoreksi ketidakadilan
dalam struktur dasar masyarakat tertentu.

Dalam kerangka stuktur dasar masyarakat, kebutuhan-kebutuhan pokok


dipandang sebagai sarana untuk mengejar tujuan dan kondisi pemikiran yang
kritis serta seksama atas tujuan dan rencana seseorang. Keadilan merupakan suatu
nilai yang tidak dapat ditawar tawar karena hanya dengan keadilanlah terdapat
jaminan stabilitas hidup manusia. Adanya benturan kepentingan pribadi dan
kepentingan bersama memerlukan aturan –aturan yang dalam hal ini adalah
hukum.
Secara keseluruhan, Rawls mengemukakan tiga prinsip keadilan yaitu :
1. Kebebasan yang sama yang sebesar-besarnya
2. Perbedaan
3. Persamaan yang adil atas kesempatan.

Konsep umum, bahwa semua barang primer kebebasan dan kesempatan pendapat
dan kesejahteraan dan dasar dari penghematan didistribusikan secara sama, jika
tidak demikian maka pendristibusian yang tidak sama terhadap barang barang
tersebut hanya untuk kemanfaatan dari keinginan sebagian kecil masyarakata saja.
Liberalisme Politik (1993)
Karena tidak terdapat doktri moral, filosofi dan keagamaan yang masuk akal yang
ditegaskan oleh semua masyarakat, maka paham keadilan yang ditegaskan dalam
susunan demokratik social yang baik harus menjadi paham yang terbatas dengan
apa disebut “wilayah politik” dan nilai-nilainya. Point yang ingin ditekankan
adalah bahwa masyarakat secara individual memutuskan sendiri dalam cara
paham politik umum yang ditegaskan berhubungan dengan pandangan
komprehensif mereka yang lebih jauh.
Konsensus Tumpang Tindih Tidaklah Skeptis, berpaling 36keptic36 kedua dari
36keptic3636 tumpang tindih konsepsi keadilan politik, yaitu penghindaran
doktrin komprehensif dan umum yang menyebutkan ketidak pandaian atau
skeptisme sebagai konsepsi keadilan poltik bisa menjadi benar. Reaksi dari hal ini
akan fatal jika kita melihat konsepsi politik sebagai skeptisme. Skeptisme atau
ketidakpandaian akan menempatkan filosofi secara berlawanan dengan jumlah

36
besar doktrin komprehensif. Dan akhirnya mengalahkan tujuan dalam mencapai
konsesus tumpang tindih.
Konsepsi Politik Tidak Perlu Komprehensif, walaupun telah dikatakan bahwa
consensus tumpang tindih bukanlah modus vivensi, beberapa orang mungkin
akan berkata bahwa konsepsi politik haruslah umum dan komprehensif. Semakin
dalam basis filosofi dan konseptual pada konflik tersebut, semakin umum dna
komprehensif tingkat pencerminan filosofisnya.
Langkah Menuju Konsensus Konstitusional, ada dua langkah dalam mencapai hal
tersebut, langkah pertama berakhir dengan consensus konstitusional, kedua
dengan consensus tumpang tindih.
Tugas berikutnya adalah menjelaskan langkah-langkah dimana consensus
konstitusional pada prinsip tertentu dan hal-hal dasar politik dan kebebasan serta
pada prosedur demokrasai menjadi consensus tumpang tindih seperti yang sudah
kita sebutkan, meneybutkan beberapa hal yang berhubungan dengan kedalaman
perluasan dan seberapa tajamnya kelas konsepsi di fokuskan.
Supaya keadilan dapat menjelaskan pusat kelas, maka terdapat dua kondisi yang
berperan :
1. Benar berdasarkan ide-ide fundamental sentral
2. Sangatlah stabil melihat tujuan yang mendukungnya dan didukung
olehnya.\

Hukum Masyarakat (1993)


Keberadaan ide-ide keadilan liberal terhadap hukum masyarakat dalam dua tahap
yang masing-masing tahap memiliki dua cara.
Tahap pertama adalah teori idea, dimana keberadaan hukum masyarakata adalah
untuk penyusunan masyarakat liberal yang baik saja. Cara kedua dari teori ideal
adalah yang lebih sulit, dimana kita perlu mecirikan jenis masyarakat kedua yaitu
masyarakat hirarki. Tujuannya adalah untuk menerapkan hukum masyarakat
kedalam masyrakat hirarki dan untuk menunjukan bahwa meraka menerima
hukum masyrakat yang sama seperti masyrakat liberal. Oleh karena itu pembagian
hukum masyrakat itu, pembagian hukum masyrakat ini baik liberal maupun
hirarki mecerminkan teori ideal.

37
Terdapat tiga persyaratan bagi rejim hirarki. Pertama masayrakat hirariki haruslah
damai dan meningkatkan tujuan legitimasinya melalui diplomasi dan perdagangan
dan cara damai lainnya. Doktrin keagamaan nya dianggap konvensional dan
berpengaruh bagi keamanan pemerintah.
Persyaratan fundamental kedua menggunakan ide-ide Philip Soper yang mana
memiliki beberapa bagian. Pertama system hukum masyrakat hirarki harus
menerapkan kewajiban dan tugas moral pada semua individu dalam semua
wilayah kekuasannya. System hukumnya dipandu oleh konsensi keadilan umum
yang baik.
Persyaratan kedua ini dapat disebutkan dengan menambahkan bahwa institusi
politik dan masyarakat hirarki meliputi konsulasi hirarki yang beralasan termasuk
badan representative atau perkumpulan-perkumpulan lain, yang tugasnya untuk
menjaga pentingnya tujuan dari semua element masyrakat. Walaupun dalam
masyrakat hirarki setiap individu tidak digolongkan sebagai masyrakat yang bebas
dan sama seperti dengan masyarakat yang bebas dan sama seperti masyarakat
yang liberal, mereka terlihat sebagai anggota masyarakat yang bertangungjawab
yang dapat mengenali kewajiban dan tugas moral dan memainkan peran mereka
dalam kehidupan social.
Hak Asasi Manusia
Ciri hak asasi manusia yaitu, pertama hak-hak ini tidak bergantung pada doktrin
komprehensif moral tertentu atau konsepsi filosofis terhadap kealamian manusia,
contohnya manusia adalah makhluk bermoral dan memiliki kesamaan nilai dan
atau mereka memiliki beberapa moral tertentu dan kekuatan intelektual yang
menggabungkan mereka pada hak-hak ini.
Hal uama yang dijelaskan disini adalah bahwa semua hak asasi manusia seperti
yang dijelaskn di atas dapat dilindungi dalam Negara bagaian hirarki yang
memiliki pemerintahan yang baik dengan komunikasi hirarkinya yang memegang
skema hak-hak politik hegel yang mencakup untuk semua hak. System hukumnya
dapat memenuhi kondisi yang ada dan memahami hak untuk hidup dan keamanan,
bagi kekayaan pribadi dan element-element peraturan hukum, seperti hak
kebebasan berpendaat dan berkumpul yang juga memastikan hak-hak ini bagi
individu sebagai anggota 38kepti bagian dan bukan sebagai penduduk. Tapi itu

38
bukanlah masalah. Hak-hak tersebu dijamin dan bahwa system hukum harus
memberikan hak-hak moral maka kewajibanpun terpenuhi.
Hak asasi manusia memiliki tiga peran :
1. Merupakan kondisi yang penting bagi legitimasi rejim dan bagi kelayakan
peritah hukumnya.
2. Dengan penggunaan yang tepat, hak asasi manusia juga cukup untuk
mengeluarkan pembenaran dan paksaan intervensi dari orang lain,
contohnya oleh sanksi ekonomi.
3. Hak asasi manusia menetukan batasan terhadap pluralisme di dalam
masyrakat.

Sociological Jurisprudence And The Sociology Of Law


I. Pendahuluan

Salah satu karakteristik perkembangan jurisprudence pada abad ke 20 ini adalah


berkembangnya ilmu sosiologi dengan pendekatanya terhadap hukum. Pemikiran
hukum selama ini cenderung untuk merfleksi kejadiankejadian ke dalam
sosiologi, sedangkan sociological jurisprudence bertentangan dengan keadaan ini,
sebaba belakangan ini konflik teori cenderung didominasi secara sosiologi dan
menjadi bagian dari pendapat-pendapat hukum.
A. Pengertian Sosiologi jurisprudence
Istilah jurisprudence berasal dari kata : juris yang berarti hukum dan
prudence yang berarti pengetahuan. Dengan demikian jurisprudence
diartikan sebagai pengetahuan tentang hukum. Jurisprudence ini
dipopulerkan oleh aliran positivisme
Para ahli jurisprudence ini cenderung merasa skeptis terhadap peraturan
yang ada di buku dan cenderung memilih apa yang terjadi dalam
kehidupan masyrakat ( law in Action). Ahli sociological jurisprudence
cenderung untuk mendukung teori relatifisme dan menolak teori hukum
alam
Gray merumuskan tentang jurisprudence adalah ilmu pengetahuan hukum
yang berupa pernyataan pernyataan dan berupa peraturan-peraturan yang

39
sistematik dari peraturan yang diikuti oleh pengadilan negeri dan prinsip-
prinsip yang terlibat di dalamnya.
Jadi kalau dilihat sekilas, maka dapatlah dikatakan dari cirri-ciri daripada
sociological jurisprudence yaitu :
1. Hukum yang sosiologis
2. Merupakan cabang ilmu hukum
3. Merupakan aspek social dari hukum
4. Lahir di amerika serikat
5. Hukum itu merupakan law in action\
6. Terdapatnya dalam pengadilan

B. Sosilogi Of Law
Sosiologi hukum adalah ilm u yang mempelajari tentang gejala-gejala
yang ada dalam masyarakat baik itu yang homogen maupun heterogen.
Ahli sosiologi seperti Weber, Durkhain dan Ehrlich adalah tokoh-tokoh
yang fundamental dalam perkembangan sosiologi. Weber adalah seorang
yang pertama kali yang mengembangkan sosiologi secara sistematis,
Weber sangat memperatikan adanya tipe rasional dan irasional dalam
suatu legal sistem.
Di dalam sosiologi of law kita mempelajari beberapa variasi yakni
ideology, norma, institusi social, kekuatan hubungan dan proses social.dari
uraian dan pendapat para sosiologi hukum tersebut dapat diberikan cirri-
ciri dari sosiologi hukum tersebut yakni:
1. Sosiologi hukum
2. Lahir di Eropa
3. Prilaku yang melembaga
4. Hukum di dalam masyarakat
5. Melihat adanya gejala-gejala social masyarakat.

II. Pembahasan

A. Ruang lingkup sociological jurisprudence

40
Apa yang menjadi penyelidikan jurisprudence hingga saat ini masih
dipersoalkan para ahli sosiologi. Belum terdapatnya kata sepakat antara
para ahli sosiologi hukum tersebut. Lloyd oF Hamstead, dalam
introduction to jurisprudence, membahas secara garis besar dari
jurisprudence antara lain :
1. Nature of jurisprudence
2. Meaning Of Law
3. Natural Law
4. Positivisme analytical jurisprudence and the Concept Of Law
5. Pure Theory Of Law
6. Sosiological School
7. American Realism
8. The Scandinavian Realism
9. Historical And Antropological
10. Marxis Theory Of Law And Sosialist
11. Jurisprudence Process

B. Klasifikasi bidang jurisprudence


Menurut salmon, jurisprudence diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Analitycal jurisprudence, yakni analisis dari prinsip-prinsip utama
hukum tanpa memperhatikan aspek historis maupun aspek etisnya.
b. Historical jurisprudence yaitu studi tentang perkembangan konsep
hukum yang fundamental
c. Ethichal jurisprudence, studi mengenai kegunaan dan tujuan yang
harus dicapai oleh hukum.

C. Pendapat Sosiologycal jurisprudence


1. Pendapat Roscoe pound
Roscoe adalah seorang amerika yang mengembangkan ajran
sosiologycal jurisprudence. Dia yang mengajarkan tentang hukum
sebagai alat control masyrakat ( law is a Tool for social engenering).

41
Pound sangat memperhatikan keefektifan dari hukum dalam suatu
masyrakat dan hukum apa yang tepat dalam suatu masyrakat.
2. Pendapat Julius Stone
Julius Stone seorang tokoh soisologycal jurisprudence modern yang
dalam argumentasinya mengatakan tentang teeori social dan ekonomi
dalam hal yang lebih komplek. Dia mempercayai sebuah pendekatan,
sebuah perlakuan khusus dalam masalah dalam suatu keadaan yang
diisolasi.
3. John Austin
Seorang Juristanalitycal school, memandang jika seorang pelajar
mempelajari prinsip-prinsip umu atau suatu legal sitem harus
merupakan satu kesatuan.

Realisme Amerika

Teori ini mengadakan penyelidikan tentang kenyataan-kenyataan dimasyarakat


modern dalam hubungannya dengan hukum modern. Dasar-dasar dari aliran ini
adalah sebagian metafisis sebagian sosiologis.
Sumber hukum utama aliran ini dalah putusan hakim. Hakim lebih sebagai
penemu hukum dari pada pembuat hukum yang mengandalkan peraturan
perundang-undangan.
Oliver Wendell Holmes (1841-1935)
Di Amerika Serikat holmes dianggap sebagai bapak dari gerakan realism
Amerika. Dalam salah satu tulisannya the path of the law yang dikeluarkan pada
tahun 1897 beliau meberikan satu rumusan tentang hukum yang didasarkan pada
pengalaman dan dimana holmes meragukan peranan logika dalam hukum.
Definisi hukum sebagaimana tersebut di atas yang dibuat oleh seorang hakim
ternama, yang juga seorang ahli pikir, dirumuskan dalam istilah-istilah akibat
akibat dan definisi tersebut tidak saja meragukan segala ketentuan yang bisa
diperoleh dengan analisis, akan tetapi juga tidak mengakui adanya hubungan
antara hukum dengan cita-cita kesusilaan. Holmes menekankan pada pentingnya
teori hukum.

42
Ucapan holmes tersebut di atas oleh penganut-penganut realisme dalam hukum
dianggap sebagai sesuatu yang keramat, walaupun sikap mereka sangat skeptis
dan mengejek terhadap ajaran-ajaran ahli-ahli hukum lain, akan tetapi mereka
mengikuti ucapan lainnya yang sama dengan sangat tepat.
John Dewey (1859-1952)
John termasuk salah satu peletak realisme dalam hukum yang penting. Teori John
Dewey dapat ditemukan dalam tulisannya yaitu logical method of law.
Logika adalah bukan mengambil keputusan tentang pengertian pengertian yang
artinya telah pasti yang dapat diperoleh dari dasar-dasar yang bersifat teoritis,
akan tetapi adalah penyelidikan mengenai kemungkinan-kemungkinan (study of
probaliti). Logika adalah salah satu teori tentang penyelidikan mengenai akibat-
akibat yang mungkin terjadi, satu proses dimana prinsip-prinsip umum hanya
dapat dipergunakan sebagai alat yang harus dibenarkan oleh pekerjaan yang
dilakukannya. Jika prinsip tersebut diterapkan pada proses hukum, hal tersebut
berarti bahwa kepercayaan akan kebenaran dari putusan-putusan hakim yang dulu
telah disiapkan kepercayan pada asas-asas umum harus ditinggalkan dan diganti
dengan satu logika dan fleksibel dan yang didasarkan pada pengalaman. Logika
pada pokoknya adalah disiplin empiris dan konkrit.

Jerome Frank and K.Liewellyn


Theirs prespective on American Realism

A. Jerome Frank
J. Frank adalah salah seorang pemikiran Holmes. Menurut Frank, hukum
tidak dapat disamakan dengan suatu aliran yang tetap dalam aturan tetap,
norma-norma hukum berperan seakan akan merupakan prinsip-prinsip
logika. Dengan berpegang terhadap prinsip-prinsip tersebut, hakim
kemudian menjatuhkan putusannya. UU hanya merupakan satu tahap
dalam proses pembentukan hukum dan terpaksa mencari kelengkapannya
dalam praktik hukum dari hakim. J. Frank membuat tulisan yang terdiri
dari dua, yaitu :
1. “law and the modern mind”

43
Di dalam bukunya ini, dia mengadakan analisa tentang hukum dilihat dari
sudut ilmu jiwa. Frank melihat suatu keinginan akan kepastian dalam
pelajaran dan penggunaan hukum tradisional. Keinginan sebagai tersbut
oleh Frank dibandingkan dengan kerinduan kekanak kanakan terhadap
satu kekuasaan yang tidak dapat berbuat salah (Father-Complex )
gambarannya merupai bayangan yang dimiliki seorang anak dalam
hubungan dengan ayahnya. Dalam bayangan itu, ayah bersifat sempurna
dan tidak dapat berbuat salah.
2.”Courts On trial “
Di dalam tulisan ini, frank mempersoalkan beberapa “Aksioma” hukum,
yakni asumsi di dalam pengadilan pada pemeriksaan perkara. Dalam
menggunakan meode pemikiran hukum tradisional berpijak pada
“aksioma” (yakni asumsi) yang beberapa diantaranya eksplisit, terang
terangan, dan beberapa diantaranya tersirat. Frank meragukan memadainya
beberapa asumsi pemikiran hukum tradisional, dengan menyatakan bahwa,
walaupun sedemikian dikualifikasikan dengan kekecualian sebagai
segalanya tetapi tidak berarti, tidak ada kaitannya dengan kejadiannya di
dalam ruang pengadilan.

B. K. Llewellyn
Menurut Llewellyn bahwa hal yang pokok dalam ilmu hukum realis
adalah gerakan dalam pemikiran dan kerja tentang hukum. Llewellyn
membuat tulisan yang diantaranya adalah : some realism about realism,
“using the new Jurisprudence”. “the common law tradition”, “my
philosophy of law”,
Ada lima kategori yang harus diperhatikan apabila “the law –jobs “ dalam
menjalankan tugasnya yaitu :
1. Penentuan kasus-kasus yang bermasalah : kesalahan-kesalahan,
keluhan-keluhan dan sengketa. Hal ini adalah merupakan bengkel
untuk memperbaiki yang rusak.
2. Pencegahan, sekaligus memberikan harapan untuk menghindari
kesulitan.

44
3. Menghimpun peraturan peraturan hukum oleh penguasa dan mengatur
prosedur-prosedur yang menandai tindakan-tindakan yang tergolong
untuk itu, termasuk konstitusi dll.
4. Bagian positif dari pekerjaan ( Law Work), melihat bagaiman mestinya
secara keseluruhan organisasi masyarakat, agar dapat melakukan
penyatuan-penyatuan, arahan-arahan dan rangsangan-rangsangan
5. Membuat metode hukum yang dapat dipergunakan sebagai acuan
untuk menyelesaikan masalah-masalah hukum dan dapat dipergunakan
seterusnya dikemudian hari.

K. Llewellyn juga dikenal sebagai ahli sosiologi hukum, yang


menyebutkan beberapa cirri dari realism ini yang terpenting diantaranya
yaitu :
1. Realisme tidak mengakui adanya satu mazhab realisme :
realisme adalah satu gerakan tentang cara berpikir dan cara
bekerja tentang hukum.
2. Realisme adalah konsepsi hukum yang terus berubah dan alat
untuk tujuan-tujuan social, sehingga tiap bagian harus diuji
tujuan dan akibatnya.
3. Realisme berpoko pangkal atas pendapat adanya pemisahan
(untuk sementara) antara sein dan solen guna keperluan
penyelidikan.
4. Realisme tidak mau menggantungkan puusan-puusannya pada
peraturan peraturan dan pengertian-pengertian hukum
tradisional oleh karena gerakan realisme bertujuan melukiskan
apa yang dibuat sesungguhnya oleh pengadilan-pengadilan dan
penganut-penganut gerakan realisme member definisi tentang
peraturan-peraturan sebagai generalize prediction of what the
cort will do.
5. Gerakan realisme berpendirian bahwa perkembangan dari
masing-masing bagian hukum, terutama harus diperhatikan
mengenai akibatnya.

45
46
American and Scandinavian Realism
Gerakan Realisme di Skandinavia
Skandinavia mengambangkan cara berfikir tentang hukum yang memiliki
ciri khas Skandinavia yang tidak ada persamaan dengan Negara lain. Realisme
Skandinavia adalah dasar-dasar terutama, dimana suatu filsafat yang memberikan
kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum (Skandinavian realism is
essentially a philosophical critique of the metaphysical foundations of law).
Gerakan Realisme Skandinavia menolak cara pendekatan yang dipergunakan
kaum realisme Amerika Serikat. Gerakan Skandinavia mempunyai cirri-ciri yang
mirip sekali dengan cirri-ciri filsafat Eropa. Ahli hukum di Skandinavia menolak
ajaran Hukum Kodrat, dimana mereka menolak adanya pengertian mutlak tentang
keadilan yang menguasai dan yang memberi pedoman kepada sistem hukum
positif. Hal ini dikarenakan tidak begitu besarnya pengaruh agama Katolik di
Skandinavia. Gerakan Realisme Skandinavia mempunyai pendirian yang sama
dengan filsafat Relativisme, dimana mereka menolak ketentuan-ketentuan tentang
tindakan hukum dapat disalurkan secara memaksadari prinsip keadilan yang tidak
dapat diubah. Setiap ketertiban umum akhirnya harus didasarkan pada suatu skala
nilai tertentu, yang dirumuskan tidak dengan rumus yang mutlak akan tetapi
dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan masyarakat yang berubah-ubah
mengikuti perkembangan zaman, keadaan, dan perubahan keyakinan suatu
bangsa.
Pemikiran menurut K. Olivecrona dakam Realisme Skandinavia
Olivecrona seorang ahli hukum Swedia, menyamakan hukum dengan
perintah bebas (independent imperative) yaitu keliru untuk menganggap hukum
sebagai perintah dari seorang manusia, sebab tidak mungkin ada manusia yang
dapat memberikan semua perintah yang terkandung dalam hukum tersebut.
Law as Fact (Hukum sebagai Fakta) 1939
Hukum adalah realitas sebagai suatu pemikiran dalam pikiran manusia.
Bahwa sebuah peraturan hukum tidak pernah dimaksudkan untuk dianggap dalam
isolasi. Dimana peraturan tersebut selalu dihubungkan dengan peraturan lain.
Tujuan pemberi hukum adalah untuk mempengaruhi tindakan manusia,
tapi hal ini hanya dapat dilakukan dengan mempengaruhi pikirannya. Di setiap

47
tempat terdapat sekumpulan pemikiran yang memuat perintah Negara, pemikiran
yang dianggap mengikat dan dipatuhi secara implisit.
Legal Language and Reality (Bahasa Hukum dan Realitas) 1962
Tujuan dari semua penetapan hukum, keputusan judicial, kontrak, dan
tindakan hukum lainnya adalah untuk mempengaruhi sikap manusia dan
mengarahkan mereka dalam cara tertentu. Bahasa hukum harus dipandang sebagai
alat untuk menuju tujuan ini. Hal tersebut adalah instrumen kontrol sosial dan
hubungan social. Bahasa dianggap sebagai alat utama untuk menggambarkan
fakta yang mudah terarah.
Pemikiran Menurut A.V Lundstedt di dalam Realisme Skandinavia
Pemikirannya mengenai Legal Thinking Revised 1956 di Inggris
mengatakan bahwa “Hukum tidak lain hanya merupakan bentuk kehidupan
manusia dalam kelompok terorganisasi dan keadaan-keadaan yang
memungkinkan individu dalam masyarakat hidup berdampingan secara damai dan
kelompok social bekerja sama untuk mengakhiri suatu kehidupan dan
penyebarluasan belaka.”
Metode keadilan (the method of justice)
Masalah ini dirumitkan dengan fakta bahwa sangat sering sebuah klaim
dinyatakan adil. Hal ini mengandung tautology, sejauh klaim tersebut disebut-
sebut, digunakan oleh jurisprudensi sebagai factor ideological hukum yang
dipertimbangkan atas dasar hukum (material) dan semuanya bergantung pada hal
itu pasti adil.
Realisme Amerika dan Realisme Skandinavia
Realisme Amerika Serikat adalah hasil pendekatan secara pragmatis dan
behaviouristis terhadap lembaga-lembaga social. Para ahli hukum Amerika
mengembangkan cara pendekatan sebagaimana tersebut dengan meletakkan
tekanan pada putusan-putusan pengadilan dan pada lain-lain tindakan hukum
sebagai reaksi terhadap filsafat positivisme analitis yang menguasai hukum
Amerika serikat pada abad 19.
Sebaliknya realisme Skandinavia adalah dasar-dasar terutama suatu
filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum.

48
Gerakan realisme Skandinavia menolak cara pendekatan yang dipergunakan kaum
realis Amerika Serikat yang menurut mereka mempunyai nilai rendah.
Dasar Pemikiran dari para Tokoh Pemikir di Era Realisme Skandinavia;
1) A. Ross

a. Analysis of the concept “valid law”

Valid law diartikan sebagai suatu abstraksi dari kumpulan ide-ide


yang bersifat normative yang disajikan sebagai suatu skema dari
interpretasi terhadap fenomena kegiatan hukum yang dapat pula berarti
norma tersebut dipatuhi secara efektif didasarkan pada pengalaman dan
sebagai suatu ikatan social.
b. Directive and Norm

Norma didefinisikan sebagai suatu perintah yang disamakan dalam


suatu hal tertentu pada beberapa fakta kehidupan social.
c. Tu-Tu

Teori ini secara garis besar menggambarkan arti penting dari


adanya sebuah klaim. Dalam setiap fakta hukum pasti menimbulkan suatu
klaim dan klaim tersebut pasti merujuk pada satu fakta hukum yang sejenis.
2) F. Castberg

Bahwa yang menjadi fokus dari pemikiran Castberg yaitu pemikiran


tentang hukum tidak semata-mata hanya ditemukan terhadap apa yang
dianggap baik atau buruk akan tetapi juga perlu memperhatikan adanya sisi
phsyco-physical dari suatu fakta untuk mendapatkan suatu keputusan sebagai
bagian dari pemikiran hukum.

49
Pendapat Pribadi mengenai Filsafat Hukum

Filsafat hukum merupakan bagian penelusuran kebenaran yang tersaji dalam ruang
lingkup filsafat. Filsafat adalah kegiatan berpikir secara sistematikal yang hanya dapat merasa
puas menerima hasil-hasil yang timbul dari kegiatan berfikir itu sendiri. Filsafat tidak membatasi
diri hanya pada gejala-gejala indrawi, fisikal, psikhikal atau kerohanian saja. Ia juga tidak hanya
mempertanyakan “mengapa” dan “bagaimana”-nya gejala-gejala ini, melainkan juga landasan
dari gejala-gejala itu yang lebih dalam, ciri-ciri khas dan hakikat mereka. Ia berupaya merefleksi
hubungan teoritikal, yang di dalamnya gejala-gejala tersebut dimengerti atau dipikirkan. Dalam
hal itu, maka filsafat tidak akan pernah terlalu lekas puas dengan suatu jawaban. Setiap dalil
filsafat harus terargumentasikan atau dibuat dapat dipahami secara rasional. Karena
bagaimanapun filsafat adalah kegiatan berfikir, artinya dalam suatu hubungan dialogikal dengan
yang lain ia berupaya merumuskan argumen-argumen untuk memperoleh pengkajian. Berikutnya
filsafat menurut hakikatnya bersifat terbuka dan toleran. Filsafat bukanlah kepercayaan atau
dogmatika, jika ia tidak lagi terbuka bagi argumentasi baru dan secara kaku berpegangan pada
pemahaman yang sekali telah diperoleh, tidak heran ketika kefilsafatan secara praktikal akan
menyebabkan kekakuan.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa karena fisafat hukum merupakan bagian khusus
dari filsafat pada umumnya, maka berarti filsafat hukum hanya mempelajari hukum secara
khusus. Sehingga, hal-hal non hukum menjadi tidak relevan dalam pengkajian filsafat hukum.
Penarikan kesimpulan seperti ini sepertinya tidak begitu tepat. Filsafat hukum sebagai suatu
filsafat yang khusus mempelajari hukum hanyalah suatu pembatasan akademik dan intelektual
saja dalam usaha studi dan bukan menunjukkan hakekat dari filsafat hukum itu sendiri.
Sebagai filsafat, filsafat hukum semestinya memiliki sikap penyesuaian terhadap sifat-
sifat, cara-cara dan tujuan-tujuan dari filsafat pada umumnya. Di samping itu, hukum sebagai
obyek dari filsafat hukum akan mempengaruhi filsafat hukum. Dengan demikian secara timbal
balik antara filsafat hukum dan filsafat saling berhubungan.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa filsafat hukum adalah cabang filsafat, yaitu
filsafat tingkah laku atau etika, yang mempelajari hakikat hukum. Dengan perkataan lain, filsafat
hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis. Jadi objek filsafat hukum adalah
hukum, dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya, yang
disebut hakikat.

50
Pertanyaan tentang apa hakikat hukum itu sekaligus merupakan pertanyaan filsafat
hukum juga. Pertanyaan tersebut mungkin saja dapat dijawab oleh ilmu hukum, tetapi jawaban
yang diberikan ternyata serba tidak memuaskan. Menurut Apeldorn. hal tersebut tidak lain
karena ilmu hukum hanya memberikan jawaban yang sepihak. Ilmu hukum hanya melihat
gejala-gejala hukum sebagaimana dapat diamati oleh pancaindra manusia mengenai perbuatan-
perbuatan manusia dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat. Sementara itu pertimbangan nilai di
balik gejala-gejala hukum, luput dari pengamatan ilmu hukum. Norma atau kaidah hukum, tidak
termasuk dalam dunia kenyataan (sein), tetapi berada pada dunia nilai (sollen), sehingga norma
hukum bukan dunia penyelidikan ilmu hukum.
Refleksi filsafat hukum melandaskan diri pada kenyataan hukum, oleh karena itu ia
merenungkan semua masalah fundamental dan masalah marginal yang berkaitan dengan gejala
hukum. Setidaknya refleksi filsafat hukum berangkat dari bidang penyelidikan secara folosofis
yang pada gilirannya dapat menemukan penelusuran terhadap landasan (dasar-dasar) kebenaran.

51