Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakang

BPTU-HPT Indrapuri adalah unit pelaksana teknis dibidang peternakan dan kesehatan
hewan, yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Peternakan
dan Kesehatan Hewan dan secara teknis dibina oleh Direktur Perbibitan Ternak dan Direktur
Pakan, yang mempunyai tugas melaksanakan pemeliharaan, produksi, pemuliaan,
pengembangan, penyebaran dan distribusi bibit ternak unggul, khususnya sapi Aceh, serta
produksi dan distribusi benih/bibit hijauan pakan ternak. Sapi Aceh merupakan rumpun sapi
lokal Indonesia yang mempunyai sebaran asli geografis di Provinsi Aceh dan telah
dibudidayakan secara turun temurun sebagai kekayaan sumber daya genetik ternak Indonesia
sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian No 2907/Kpts/OT.140/6/2011 tentang
Penetapan Rumpun Sapi Aceh.

BPTU-HPT Indrapuri pertama kali didirikan bernama Balai Pembibitan Ternak dan
Hijauan Makanan Ternak (BPT dan HMT) dengan SK Mentan Nomor: 313/Kpts/Org/5/1978
pada tanggal 25 Mei 1978. Selanjutnya pada tahun 2002 berubah dengan adanya SK Mentan
No.282/Kpts/TU. 210/4/2002 tanggal 6 April 2002, BPT dan HMT berubah namanya
menjadi Balai PembibitanTernak Unggul (BPTU) Sapi Aceh Indrapuri – NAD. Dalam
perkembangannya, BPTU Sapi Aceh Indrapuri-NAD mengalami perubahan nomenklatur
kembali pada tahun 2013 yaitu dengan SK Mentan Nomor: 56/Permentan/OT.140/5/2013
tanggal 24 Mei 2013 menjadi Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak
(BPTU-HPT) Indrapuri.

Peternakan merupakan salah satu usaha yang sangat menggiurkan hasilnya. Usaha
peternakan ruminansia saat ini memiliki prospek usaha yang sangat bagus, dimana kebutuhan
konsumen akan produk daging, susu, kulit ,dan lain-lain pada setiap tahunnya semakin
meningkat secara signifikan, salah satu contohnya adalah sapi Aceh, sapi Aceh merupakan
sapi yang berasal dari provinsi Aceh, Indonesia. Peternakan merupakan sektor yang memiliki
peluang sangat besar untuk dikembangkan sebagai usaha di masa depan. Kebutuhan
masyarakat akan produk –produk peternakan akan semakin meningkat setiap tahunnya.
Peternakan sebagai penyedia protein, energi, vitamin, dan mineral semakin meningkat seiring
meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan gizi guna meningkatkan kualitas hidup.
Peternakan merupakan salah satu usaha yang sangat menggiurkan hasilnya. Usaha peternakan
unggas dan ruminansia saat ini memiliki prospek usaha yang sangat bagus, dimana kebutuhan
konsumen akan produk daging, susu, telur,dan lain-lain pada setiap tahunnya semakin
meningkat secara signifikan.

Sapi potong merupakan salah satu ternak penghasil daging di Indonesia, akan tetapi
produksi daging sapi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan karena populasi dan

1
tingkat produktivitas ternak rendah. Rendahnya populasi sapi potong antara lain disebabkan
sebagian besar ternak dipelihara oleh peternak berskala kecil dengan lahan dan modal
terbatas. Di Indonesia terdapat beberapa sapi lokal yang memiliki daya adaptasi yang tinggi
terhadap makanan yang berkualitas rendah, sistem pemeliharaan yang ekstensif dan memiliki
daya tahan tehadap penyakit serta parasit. Keungulan yang dimiliki oleh sapi lokal ini perlu
dipertahankan sebagai plasma nutfah Indonesia dan perlu dikembangkan sebagai kekayaan
genetik yang dimiliki Indonesia. Bangsa sapi tersebut adalah sapi bali, sapi pesisir, sapi
Madura dan sapi Aceh.

Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak yang ada di Aceh, tepatnya
di Indrapuri merupakan wadah untuk melestarikan sumber daya peternakan sapi aceh
sekaligus tempat untuk mencari plasma nutfah sapi aceh.

1.2 Tujuan

 Agar mahasiswa mengetahui dan menggenal ciri-ciri dari sapi aceh baik yang
jantan maupun betina
 Memperluas pengetahuan dan wawasan tentang BPTU-HPT INDRAPURI yang
menjadi pusat pembibitan sapi unggul yang ada di aceh
 Mengetahui jenis hijauan pakan ternak apa saja yang ada di BPTU Indrapuri

2
BAB II
METODOLOGI KEGIATAN

2.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan

A. Waktu Pelaksanaan
Kunjungan BPTU-HPT Indrapuri ini dilaksanakan pada tanggal 25 Oktober 2018,
pukul 09:00 Wib s/d selesai

B. Tempat Pelaksanaan
Kunjungan BPTU-HPT Indrapuriini dilaksanakan di Balai Pembibitan Ternak Unggul
dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Indrapuri Aceh Besar, Aceh.

3
BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Kondisi Geografis

BPTU-HPT lndrapuri berada di Desa Reukih Dayah Kecamatan Indrapuri, Kabupaten


Aceh Besar, Provinsi Aceh. Posisinya terletak di daerah yang memiliki topografi berbukit-
bukit dan berada pada ketinggian (lebih kurang 30 – 80 mdpl). Daerahnya termasuk beriklim
panas dengan suhu rata-rata 26,660Celcius, kelembaban 84,83% dengan curah hujan rata-rata
1.147 mm/ tahun. Intensitas hari hujan mencapai 98 hari per tahun.

3.2.Kondisi Ternak dan Lahan

Data ternak sapi Aceh yang dipelihara di BPTU-HPT per 31 Juli 2013 sebanyak 698
ekor, yang menempati lahan seluas 430 ha dengan sertifikat No 1 tahun 1983. Lebih dari 30
% lahan yang ada merupakan daerah perbukitan dan semak belukar, sisanya merupakan
kebun rumput.

3.3.Kondisi Lapangan

Sapi-sapi yang ada di BPTU-HPT Indrapuri ini berasal dari peternak-peternak yang
ada di kampung-kampung di seluruh daerah Aceh. Jumlah ternak yang ada di BPTU ini
kurang lebih 915 ekor. Sapi-sapi jantan yang diambil semen biasanya berkisar antara umur 4-
5 tahun. Untuk proses perkawinannya, pada saat umur sapi sudah sampai untuk dikawinkan,
maka dalam satu kandang akan dimasukkan 1 sapi jantan dengan 20 sapi betina.

4
3.4.Sapi Aceh

Sapi Aceh merupakan salah satu rumpun sapi lokal Indonesia yang telah ditetapkan
oleh pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 2907/Kpts/OT.140/6/2011,
yang mempunyai sebaran asli geografis di Provinsi Aceh yang dibudayakan secara turun
temurun. Sapi Aceh Umumnya diternakkan oleh masyarakat sebagai penghasil daging. Selain
itu juga sebagai ternak kerja, tabungan, budaya meugang, dan peupok leumo (adu sapi).

Sapi Aceh pada mulanya diduga dimasukkan oleh pedagang India pada masa kerajaan
Islam pertama di Peureulak yang terbentuk tahun 847M (225 H). Karena pada masa itu sudah
terjalin hubungan kerja sama antarnegara dan perdagangan bebas di Aceh terutama lada yang
ingin dikuasai seluruhnya oleh pedagang-pedagang dari mesir, Parsi dan Gujarat (catatan
sejarah Aceh, catatan Marcopolo 1256 dan Ibnu Bathutah 1345). Perdagangan yang ramai
sudah lama terjalin antara Aceh dengan Malaka. Pedagang Arab, Cina, serta India yang
datang yang datang ke Aceh, mereka membawa sapi-sapi dari India ke Aceh. Pada abad ke-
19 telah menjadi kebiasaan mengimpor ternak melalui Selat Malaka, khususnya ke Pidie dan
Aceh Timur Laut (Peureulak) (Merkens, 1926; Abdullah., et al., 2008b).

Kehidupan masyarakat Aceh dalam beternak telah berlangsung sangat lama sekali.
Masyarakat Aceh telah beternak sebelum mereka beragama Islam, berarti ketika masih
menganut agama Hindu. Sapi Hissar serta beberapa bangsa sapi turunan zebu lainnya yang
dulunya banyak dijumpai sepanjang pantai Utara-Timur dari daerah Aceh kini telah banyak
berkurang. Kekurangan tersebut selain penyembelihan, perdagangan sapi dari Aceh ke
Medan, kematian dan tsunami.
Di BPTU indrapuri adalah tempat pembibitan ternak lokal unggul sebagai hewan
plasma nutfah yang sudah diakui dan mendapat sk mentri. Dan menjadian kebanggaan
tersendiri bagi warga aceh karena memiliki kekeyaan berupa sapi aceh ini.

 Ciri-ciri sapi aceh jantan


1. Warna tubuh didominasiwarna merah bata, dengan bulu merah bata sampai cokelat,
2. Punuk besar mengarah ke belakang
3. Tanduk mengarah ke samping dan melengkung ke atas
4. Telinga kecil mengarah kesamping tidak terkulai
5. Muka cenderung cekung
6. Tinggi gumba pada umur 24-36 bulan rata-rata 105-112 cm.

 Ciri-ciri sapi aceh betina


1. Warna dominan merah bata
2. Tidak berpunuk, bagian pundak tidak rata, dan sedikit menonjol
3. Tanduk mengarah ke samping, melengkung ke atas kemudian ke depan dan lebih
kecil dari jantan
4. Kuping dan daun telinga tidak jatuh, tidak besar dan agak runcing
5. Tinggi gumbar rata-rata 105 cm (3 Tahun)

5
3.5. Perkandangan

Pemeliharaan sapi aceh di BPTU indrapuri menggunakan sistem perkandangan dan


juga digembalakan. Perkandangan dibedakan antara kandang untuk pejantan unggul, sapi
muda dan juga sapi betina. Pembangunan kandang pada BPTU itu sendiri mendapatkan dana
dari APBN pusat yang dikelola dibawah naungan dinas kesehatan hewan dan peternakan
aceh. Perkandangan ini bersifat intensif dan semi intensif (dikeluarkan dari kandang jam
10:00 dan dimasukkan kembali pukul 17:00 sore).
Di BPTU indrapuri juga terdapat beberapa macam kandang seperti :
 Kandang isolasi
kandang isolasi yang berfungsi untuk memisahkan ternak yang terinfeksi penyakit
dengan ternak yang sehat, dan tujuan lain agar ternak yang sehat juga tidak ikut terinfeksi.

 Kandang untuk pengukuran


Jarak antara kandang biasa dengan kandang pengukuran ini lumayan jauh, karena
sudah di perkirakan dengan sedemikian rupa. Di kandang penggukuran ini dilakukan proses
seleksi bibit, seleksi untuk jualdan ketika saat akan dinaikkan ke pengangkutan, dan setiap
paginya para pegawai disana mengiring sapi dari kandang biasa ke kandang pengukuran ini
untuk melakukan proses diatas.

 Tempat penimbangan
Kandang penimbangan ini memiliki kapasitas sebesar 1 ton, yang bersifat elektrik dan
berhubungan dengan listik, di dalam kandang penimbangan ini ketika di masukkan sapi maka
kita bisa langsung mengetahui berat badan sapi dan juga harga sapi. Kandang penimbangan
ini merupakan kandang yang akhir.

3.6. Hijauan Makanan Ternak (HMT)

Hijauan merupakan sumber makanan ternak terutama untuk ternak ruminansia. Selain
kebutuhan pokok untuk pertumbuhan dan sumber tenaga, hijauan juga komponen penunjang
produksi dan reproduksi ternak. Jenis hijauan seperti rumput maupun kacang-kacangan
(leguminosa) dalam bentuk segar atau kering wajib tersedia dalam jumlah cukup sepanjang
tahun. Ketersediaannya penting karena kebutuhan pakan hijauan bagi ternak ruminansia
terutama sapi mencapai 70% dari total pakan. Hijauan yang diberikan untuk ternak perlu
memenuhi beberapa kriteria, disukai (palatable), mudah dicerna, nilai gizi tinggi dan dapat
segera berproduksi kembali setelah dipanen. Hijauan pakan ternak dibagi kedalam dua bagian
yaitu bangsa rumput-rumputan dan leguminosa (semak dan pohon).

Pakan dikategorikan HMT adalah rumput atau hijauan yang memiliki nilai kandungan
gizi yang cukup sesuai kebutuhan ternak, khususnya ruminansia. Secara garis besar, pakan

6
ternak ruminansia bisa dibedakan menjadi dua yakni pakan serat dan pakan penguat, pakan
serat ini diantaranya adalah rumput (HMT) dan penguat adalah konsentrat.
Beberapa jenis HMT atau HPT yang ada di BPTU antara lain:

1. Lamtoro (Leucaena leucocephala)

Bahan tanam dari lamtoro adalah berupa biji dan stek. Lamtoro dapat dipotong
pertama kali setelah mencapai tinggi 0,6 – 0,9 m yaitu sekitar umur 4 – 6 bulan, dengan
interval pemotongan 2 – 3 bulan (Soegiri et. al, 1982). Tanaman lamtoro dapat di tanam
bersama dengan rumput Guinea. Daun muda lamtoro terdapat racun mimosin (Sutopo, 1988).
Lamtoro berakar dalam, mempunyai ketinggian antara 6,5 sampai 33 ft. Daun – daunnya
berkurang, berbunga dengan bentuk bola berwarna putih kekuning-kuningan atau merah
muda. Lamtoro dapat ditanam untuk makanan ternak, pemotongan pertama dapat dilakukan 6
– 9 bulan sesudah penyebaran bijinya, pemotongan dilakukan sampai sisa tanaman adalah 2
sampai 4 inchi dari atas tanah dan kemudian pemotongan berikutnya dapat dilakukan tiap 45
bulan sekali. Petai cina atau lamtoro ini dapat ditanam sebagai tanaman annual dan perennial.

2. Rumput BeHa (Brachiaria humidicola)

7
Tanaman rumput tahunan yang mempunnyai banyak stolon dan rizoma dan
membentuk lapisan penutup tanah yang padat. Batang vegetatif prostrate pada bagian bawah
dimana dibentuk akar dari buku yang lebih bawah. Helai daun lebar 5-16 mm, dan panjang
sampai 25 cm. Tangkai bunga tegak, tinggi 20-60 cm. Inflorescence panjang 7-12 cm, dengan
2-5 tandan, kelompok bunga berbulu.

Tumbuh pada beragam janis tanah mulai dari tanah sangat asam tidak subur (pH 3,5),
tanah dengan Alumunium tinggi, tanah liat berat merekah, sampai tanah pasir
berbatu pH tinggi. Kebutuhan Ca rendah. Tahan terhadap tanah berpengairan buruk dan
sering ditemukan pada tanah liat basah musiman.
Dapat memberikan kenaikan berat badan yang tinggi per hektar karena tanaman ini
dapat menahan tingkat penggembalaan yang tinggi. Di Panama, padang gembala murni
digembalai dengan 4 ekor/ha, memberikan kenaikan berat badan 0,32 kg/ekor/hari dan 501
kg/ha/tahun sementara dengan Pueraria phaseoloides , kenaikan berat badan ternak adalah
0,38 kg/ekor/hari dan 585 kg/ha/tahun.

3. Rumput Kolonjono

kolonjono memiliki nama lain Brachiaria mutica, Panicum muticum, Para grass,
dan Buffalo grass. Rumput kolonjono berasal dari Afrika dan Amerika Selatan tropik,
sekarang rumput ini tersebar sebagai makanan ternak didaerah tropik basah dan sub tropik.
Rumput tumbuh paling baik pada tanah yang basah dan tahan terhadap genangan air, tetapi
tumbuhnya terhambat pada musim kemarau. Rumput kolonjono dipergunakan sebagai
rumput potongan untuk makanan ternak, hay atau disenggut ternak dan penggembalaan harus
dilakukan secara rotasi, karena tidak taham penggembalaan berat. Rumput dapat dipotong
tiap 6-8 minggu
Nilai gizi rumput ini cukup tinggi dan diakui para peternak sebagai makanan ternak
yang baik, bila rumput masih muda dan remah batangnya yang masih muda dapat dijadikan
rumput kering atau silase (Rismunandar, 1986). Kandungan nutrisi rumput kolonjono yaitu
BK 8,59%, PK 1,31%, LK 43,41%, SK 12,80%, BETN 33,89.

8
4. Rumput Gajah Mini

Rumput gajah mini (Pennisetum Purpureum cv.Mott) adalah salah satu jenis rumput
gajah yang baru dikembangkan sekarang ini. Ukurannya yang lebih kecil dari rumput gajah,
membuatnya juga sering di sebut rumput gajah kerdil. Rumput ini dapat tumbuh pada
berbagai macam tanah, sampai liat alkalis, dan sangat responsif terhadap pemupukan.

Kekurangan secara umum dari rumput gajah mini ialah cepat menua sehingga
kandungan nutrisi cepat menurun, dan cepat menghabiskan unsur hara yang terdapat didalam
tanah . Oleh karena itu untuk mengatasi kekurangan dari rumput gajah mini maka dianjurkan
dilakukan penanaman campuran dengan legum. Pertanaman campuran antara rumput-
rumputan dengan legum merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produksi, mutu
hijauan dan memperbaiki kesuburan tanah.

Rumput gajah mini dibudidayakan dengan potongan batang (stek) atau sobekan rumpun
(pols) sebagai bibit. Bahan stek berasal dari batang yang sehat dan tua, dengan panjang stek
20 – 25 cm (2 – 3 ruas atau paling sedikit 2 buku atau mata). Waktu yang terbaik untuk
memotong tanaman yang akan dibuat silase adalah pada fase vegetatif, sebelum pembentukan
bunga (Reksohadiprodjo, 1994 dan Regan, 1997). Fase pertumbuhan tanaman pada waktu
pembuatan silase besar pengaruhnya terhadap kecernaan dan komposisi kimia silase.

9
5. Rumput Raja

Rumput raja berasaldari Nigeria danterebarluas di seluruh Afrika Tropik.Rumput raja


biasanya dikembangkan dengan stek batang atau pols dan mampu tumbuh baik pada tanah
ringan sampai berat. Rumput raja dapat tumbuh pada ketinggian 0-3000 m diatas permukaan
air laut dengan curah hujan tahunan sebesar 1000 m atau lebih (Reksohadiprojo, 1994).
Rumput Raja mempunyai ciri-ciri antara lain: lengkap dengan organ tubuh, struktur daun
tidaks empurna, berdaun tunggal, bersirif sejajar, batang berbentuk silindris dan persegi,
berakar serabut, hidup di tempat kering, struktur daun kasar, termasuk monokotil, tumbuh
berumpun – rumpun, batang tebal, keras, helaian daun panjang dan ada bulu serta permukaan
daunnya luas. Produksi rumput Raja segar dapat mencapai 40 ton /hektar sekali panen atau
antara 200 – 250 ton/hektar/tahun (Rukmana, 2005).

6. Rumput Mexico

10
Rumput meksiko berasal dari Meksiko, dan Amerika tengah. Rumput ini menyebar luas
keberbagai daerah dengan cepat, dikarenkan pertumbuhannya yang sangat cepat
dibandingkan dengan rumput lainnya. Rumput ini biasanya digunakan sebagai olahan pakan
ternak baik dilakukan dengan cara pembudidayan maupun tanaman liar. Rumput ini
diperkiraan masuk ke Indonesia pada tahun 1878 yang pertama kalinya muncul dan
ditemukan di Pulau Jawa.

7. Rumput Benggala

Rumput Benggala merupakan salah satu rumput yang biasanya digunakan sebagai
pakan ternak ruminansia sebagai asupan protein kasar, lemak kasar, dan juga kandungan
lainnya. Rumput benggal ini berasal dari Zimbabwe, Afrika dengan penyebaran yang sangat
cepat diberbagai wilayah terutamanya Indonesia. Rumput ini sangat di kenal dan juga banyak
di manfaatkan bagi peternak dan juga sebagian orang ada yang budidayakan rumput ini
sebagai pakan ternak. Rumput ini memiliki daun banyak, dengan pertumbuhan cepat,
berumpun dengan ketinggian 60-80 cm, dan juga memiliki batang rongga dengan diameter
2,5 cm.

11
8. Rumput BD (Rumput Signal)

Brachiaria decumbens disebut rumput gembalaan yng tumbuh menjalar yang


dengannya stolon membentuk hamparan yng lebat. Rumput bede salah satunya rumput
berumur panjang, bisa tumbuh yang dengannya membentuk hamparan lebat serta
penyebarannya Amat cepat melalui stolon. Rumput bede tahan penggembalaan berat, tahan
injakan serta renggutan dan tahan kekeringan serta responsif terhadap pemupukan nitrogen.
Selain itu rumput ini pun cepat tumbuh serta berkembang menjadikan gampang menutup
tanah, namun tak tahan terhadap genangan air. Rumput ini adalah bahan hay yng balk,
lantaran batangnya kecil gampang menjadi kering. Rumput bede bisa tumbuh baik pada
ketinggian 0-1200 m (dataran rendah hingga dataran tinggi) yang dengannya curah hujan
762-1500 mm/tahun, kemasaman tanah (pH) 6-7 (Kismono serta Susetyo, 1977).

3.7. Kegiatan Teknis Lapangan Bptu – Hpt Aceh


Kegiatan teknis pada Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi Aceh Indrapuri yang
dilakukan baik rutin maupun proyek antara lain pelayanan teknis perneliharaan bibit temak
sapi, produksi bibit ternak, pelayanan teknis produksi.
1. Pelayanan Teknis Pemeliharaan Bibit Ternak Sapi Aceh
a. Pemeliharaan dan Perawatan

Ada tiga kelompok ternak sapi yang dipelihara pada Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi
Aceh Indrapuri -Provinsi Aceh, yaitu:

1. Kelompok ternak Sapi Aceh yang merupakan sapi lokal Aceh yang diharapkan
kemurniannya untuk program pembibitan.

12
2. Kelompok ternak Sapi Brahman yang didatangkan dari Australia pada
pertengahan bulan Juni 2006.
3. Kelompok ternak persilangan antara Sapi Brahman dengan Sapi Aceh

Perawatan meliputi kegiatan yang berhubungan dengan sanitasi kandang dan lingkungan
sekitar, pemberantasan dan pengobatan penyakit. Observasi dilakukan pada setiap pagi dan
sore hari untuk semua kelompok sapi, bila teriihat ada yang menampakkan kelainan atau
kondisi sakit, maka segera dipisahkan dari kelompok untuk mendapatkan perawatan secara
khusus. Perawatan khusus juga dilakukan terhadap ternak yang melahirkan dan yang akan
melahirkan. Tindakan perawatan kesehatan ternak meliputi:
a). Deteksi dini penyakit hewan.
b). Persyaratan bebas penyakit hewan menular utama.
c). Program vaksinasi dan pengobatan.

Selain itu juga perlu diterapkan tindakan biosekuriti yang ketat. Tindakan biosekuriti adalah
semua tindakan yang merupakan perlindungan pertama untuk pengendalian wabah dan
pencegahan kemungkinan penularan penyakit dengan ternak serta penyebaran penyakit.
Tindakan biosekuriti diterapkan terhadap:
1. Ternak bibit dan benih
2. Manusia yang keluar masuk di lokasi BPTU
3. Pakan, kandang, peralatan dan alat angkut
4. Media pembawa penyakit hewan lainnya

Untuk mengetahui lebih cepat kemungkinan terjadinya penyakit hewan terhadap ternak bibit
pada BPTU perlu dilakukan deteksi dini melalui sistem pemeriksaan reguler sekurang-
kurangnya 3 bulan sekali yang meliputi pemeriksaan terhadap penampilan fisik hewan,
sampel darah, feses, sekreta dan sampel lainnya pada ternak bibit, sesuai dengan jenis
penyakit yang akan diuji. Deteksi dini terhadap penampilan fisik hewan dilakukan oleh
dokter hewan yang berwenang di BPTU, sedangkan deteksi dini yang dilakukan melalui
pengambilan sampel dapat dilakukan oleh paramedik dibawah pengawasan dokter hewan
yang berwenang. Sampel yang telah diambil selanjutnya dikirim ke Laboratorium Kesehatan
Hewan Regional yaitu Balai Besar Veteriner (BBVet) atau Balai Penyidikan dan Pengujian
Veteriner (BPPV). Hasil pemeriksaan selanjutnya harus didokumentasikan secara tertib,
dilakukan evaluasi sebagai bahan tindak lanjut yang diperlukan.

3.8. Jenis-Jenis Konsentrat yang diberikan

 Pollard
 Bungkil Kelapa
 Onggok
 DDGS
 SBM
13
BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari kunjungan ke BPTU-HPT Indrapuri adalah:


 BPTU-HPT Indapuri adalah tempat untuk pembibitan sapi aceh unggul atau tempat untuk
plasma nutfah sapi aceh.
 Sapi aceh adalah sapi asli aceh yang memiliki keunggulan tahan terhadap iklim tropis dan
tahan terhadap penyakit.
 Selain tempat plasma nutfah sapi aceh BPTU indrapuri juga menanam berbagai jenis
hijauan untuk pakan ternak.
 Jenis konsentrat yang ada pada BPTU Indrapuri yaitu Pollard, Bungkil Kelapa, Onggok,
DDGS, SBM.
 Dengan sistem manajemen yang sesuai dilakukan maka akan dapat menghasilkan ternak
yang baik dan unggul dengan karkas yang sangat baik dan bebas dari penyakit.

14
DAFTAR PUSTAKA

Andadari, L. & Prameswari. D. 2005. Pengaruh Pupuk Daun Terhadap Produksi dan Mutu
Daun Murbei ( Morus sp.,). Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan
Konservasi Alam. Kehutanan

http://www.dirjenpeternakan.go.id

http://keswannakaceh.co.id

Kismono, I dan S. Susetyo. 1977. Pengenalan Jenis Hijauan Tropika Penting, Produksi
Hijauan Makanan Ternak untuk Sapi Perah. BPLPP Lembang, Bandung.

Reksohadiprodjo, S. 1994. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropika. BPFE,


Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

15