Anda di halaman 1dari 7

Rekayasa Ide

MK. Konsep Dasar PAUD


Prodi S1 PGSD – Fakultas Ilmu
Pendidikan

Skor Nilai :

Nama Kelompok : 1. Sindy Boturan Lbn Toruan (1193311066)

2. Agung Febrian Bangun (1193311050)

3. Syarifah Aulia (119331

4. Nadya

5. Christin

Kelas : Ekstensi-H

Dosen Pengampu : Santa Murni Situmorang

Mata Kuliah : Konsep Dasar PAUD

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmatnya sehingga saya masih diberikan kesempatan dan kesehatan untuk dapat
menyelesaikan tugas rekayasa ide ini dengan judul “Memutar Musik Klasik Selama Tujuh
Menit Sebelum Proses Pembelajaran Dimulai Sebagai Penguat Konsentrasi Belajar Siswa".
Rekayasa Ide ini saya buat guna memenuhi penyelesaian tugas pada mata kuliah Psikologi
Pendidikan, semoga Rekayasa Ide ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi para
pembaca.

Dalam penulisan Rekayasa Ide ini, saya tentu saja tidak dapat menyelesaikannya
sendiri tanpa bantuan dari pihak lain. Oleh karena itu, saya mengucapkan terimakasih kepada:

1. Kedua orang tua saya yang selalu mendoakan

2. Kepada Ibu dosen pengampu Santa Murni Situmorang, S.E,M.Pd. yang telah
memberikan tugas ini.

Saya menyadari bahwa Rekayasa Ide ini masih jauh dari kata sempurna karena masih
banyak kekurangan. Oleh karena itu, saya dengan segala kerendahan hati meminta maaf dan
mengharapkan kritik serta saran yang membangun guna perbaikan dan penyempurnaan ke
depannya.

Akhir kata saya mengucapkan selamat membaca dan semoga materi yang ada dalam
Rekayasa Ide yang berbentuk makalah ini dapat bermanfaat sebagaimana mestinya bagi para
pembaca.

Medan, Oktober 2019

Penyusun

Sindy Boturan Lbn Toruan

1193311066
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menjadi orang tua sebagai ayah dan ibu yang mengasuh anak-anak dengan pasangan
hidupnya tentu sangat menyenangkan, namun pada kenyataannya terdapat keluarga yang
tidak memiiki ayah atau ibu, yang bisa terjadi karena perpisahan atau meninggal dunianya
salah satu pasangan yang mengharuskan ibu atau ayah tunggal tersebut untuk mengasuh dan
membesarkan anak-anaknya seorang diri tanpa adanya dukungan dari pasangan hidup.
Tentunya hal ini dapat menjadi kegelisahan pada setiap pasangan yang ditinggalkan.
Seorang single parent dipandang tidak memiliki pasangan atau pilihan yang tepat atau
masih sedang mencari pilihan yang tepat. Single parent menjadi sebuah minoritas yang
semakin tinggi populasinya. Anak yang didik oleh seoarang ibu single parent tumbuh dan
mencontoh prilaku yang dilakukan oleh ibu tersebut.
b. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pola asuh single parent?
2. Dampak keluarga single parent terhadap perkembangan anak?

c. Tujuan Penelitian
Tujuan rekayasa ide ini yaitu sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bagaimana mengatasi dampak negative dari anak yang ada
dalam keluarga single parent

d. Manfaat Penelitian
1. Dapat mengetahui apa saja tanggungjawab orangtua yang single parent.
2. Untuk mendapatkan solusi pemecah masalah dari anak yang memilki dampak
negative akibat dibesarkan di keluarga single parent
BAB II

PEMBAHASAN

A. Permasalahan yang dihadapi oleh single parent


Ibu single parent memiliki hambatan dan kesusahan sendiri dalam mendidik anak –
anak mereka. Permasalahan yang ada diantara mengenai pola asuh ibu single parent dan
peran ganda yang harus ditanggung oleh ibu single parent, termasuk diantara peran ayah
yang kemudian menjadi tanggung jawab ibu single parent tersebut dan juga permasalahan
ekonomi dimana ibu single parent harus menjadi tulang punggung keluarga. Permasalahan
lain yang dihadapi oleh ibu single parent dalam mengasuh anaknya adalah sikap anak yang
berbeda dengan anak dari keluarga normal, sikap anak yang tidak bersosialisasi dengan
masyarakat sekitar, sikap anak yang kurang terbuka, bersikap lebih manja dan cenderung
lebih temperamen dibandingkan anak – anak lain.
Single parent memiliki peran ganda bagi keluarganya. Peran ganda tersebut antara
lain memenuhi kebutuhan psikologis anak-anaknya yang meliputi memberikan rasa aman,
pemberian kasih sayang serta perhatian dan juga memenuhi kebutuhan fisik anak meliputi
kebutuhan sandang pangan, pendidikan, kesehatan serta kebutuhan lainnya yang berkaitan
dengan materi, yang artinya seorang ibu single parent harus mampu untuk membagi waktu
antara pekerjaan rumah dan luar rumah agar anak–anak dapat merasakan kasih sayang dari
orang tuanya dan terpenuhinya kebutuhan hidup bagi anak. Namun terkadang adanya
konflik dari dalam yang dapat terjadi saat ibu single parent harus membagi waktu antara ibu
sekaligus sebagai ayah bagi anak-anaknya. Hal ini dapat terjadi karena ibu yang mengurus
seluruh keperluan rumah tangga dan di sisi lain juga harus bekerja untuk menafkahi anak-
anaknya. Jika ibu single parent hanya memainkan perana sebagai seorang ibu saja maka
akan mengorbankan hal-hal yang berkaitan peranya sebagai seorang ayah yang
sesungguhnya penting bagi hubunganya dengan keluarga. Maka berdasarkan hal tersebut
kematangan, kemandirian serta kesiapan sangat dibutuhkan pada ibu single parent, karena
kematangan, kemandirian serta kesiapan pada ibu single parent dapat mempengaruhi dalam
cara mendidik anak agar membentuk anak yang berkualitas, maka ibu single perent dapat
membesarkan anak-anak nya sebagai mana orang tua yang super walau tanpa adanya
pasangan (Akmalia ,2008).

Peran dan tanggung jawab yang harus dirasakan oleh single parent kepada dirinya dan
anak-anaknya tentu bukanlah hal yang mudah hal ini dapat menyebabkan ibu single parent
tertekan dengan tanggung jawab barunya. Tekanan yang dirasakan dari berbagai hal tersebut
bisa menjadi sumber masalah. Ibu single parent yang sangat berpikir keras mengenai siapa
yang akan bertanggung jawab atas kesehatan dan kesejahteraan dirinya, anak-anak dan
anggota keluarga lainnya. Hal tersebut menjadikan single parent kewalahan dan
mengalami tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan wanita dengan peran lebih rendah
dan tanggung jawab bersama pasangan (Hashim, Azmawati, Endut, 2015).

b. Pola Asuh
Pola asuh yang diberikan oleh ibu single parent pada anak mempengaruhi terhadap
kemandirian anak. Dengan pola asuh yang diterapkan berbeda – beda pada masing –
masing ibu single parent tersebut maka dampak yang didapatkan pada anak juga
berbeda. Seperti penerapan kedisiplinan terhadap anak, penanaman jiwa religius pada
anak dan penanaman bersikap sosialisasi pada anak hingga sikap anak yang kemudian
muncul dari akibat pola asuh yang diterapkan tersebut.

Dalam pola asuh yang diberikan oleh orangtua, diantaranya adalah pembiasaan anak
untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Dalam beberapa pola asuh yang diterapkan oleh
ibu single parent beberapa ibu single parent melakukan pendampingan pada anak ketika
melakukan pekerjaan rumah, memberitahukan pada anak tentang bagaimana mengerjakan
pekerjaan rumah dengan baik dan benar.
Menurut pendapat kami, anak yang dibesarkan dalam keluarga yang otoriter biasanya
akan bertingkah laku baik jika ada orangtua didekatnya. Anak yang dibesarkan dalam
keluarga yang permisif akan membuat mereka tidak aktif dalam kehidupan sosial, anak yang
dibesarkan dalam keluarga yang demokratis anak akan mudah bergaul, belajar menerima
pandangan – pandangan orang lain. Secara psikologi, kondisi anak yang orangtuanya
bercerai kebanyakan dari mereka memiliki sifat yang lebih peka, pendiam, suka menyendiri,
bingung tanpa tahu sebabnya, gampang merasa tertekan, cengeng atau mudah menangis,
memiliki perasaan takut ditinggalkan dan anak – anak ini tidak banyak memiliki banyak
teman.

c. Dampak Negative Single Parent bagi Perkembangan Anak

1. Tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya dengan baik sehingga anak kurang
dapat berinteraksi dengan lingkungan, menjadi minder dan menarik diri.
2. Pada anak single parent dengan ekonomi rendah, biasanya nutrisi tidak
seimbang sehingga menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan terganggu.
3. Single parent kurang dapat menanamkan adat istiadat dan murung dalam
keluarga, sehingga anak kurang dapat bersopan santun dan tidak meneruskan budaya
keluarga, serta mengakibatkan kenakalan karena adanya ketidakselarasan dalam
keluarga.
4. Dibidang pendidikan, single parent sibuk untuk mencari nafkah sehingga pendidikan
anak kurang sempurna dan tidak optimal.
5. Dasar pendidikan agama pada anak single parent biasanya kurang sehingga anak jauh
dari nilai agama.
6. Single parent kurang bisa melindungi anaknya dari gangguan orang lain, dan
bila dalam jangka waktu lama, maka akan menimbulkan kecemasan pada anak atau
gangguan psikologis yang sangat berpengaruh pada perkembangan anak.
BAB III

GAMBARAN IDE

A.