Anda di halaman 1dari 9

A.

Latar belakang
Sistem pelayanan kesehatan di Indonesia saat ini telah menunjukkan
perbaikan dan peningkatan secara bertahap dari tahun ke tahun. Saat ini
petugas kesehatan seperti dokter dan perawat dituntut untuk meningkatkan
mutu pelayanannya serta menentukan strategi terbaik dalam memberikan
pelayanan kesehatan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992,
profesi keperawatan dan kedokteran harus memberikan pelayanan sesuai peran
dan fungsinya masing-masing agar pelayanan kesehatan yang diberikan dapat
berjalan secara maksimal (Ahmad, 2018).
Tujuan di atas tidak dapat dicapai hanya dengan menjalankan tugas sesuai
peran masing-masing petugas atau profesi kesehatan saja, namun diperlukan
kerja sama antar petugas atau profesi kesehatan terutama perawat dan dokter.
Salah satu cara dalam bekerja sama adalah dengan kolaborasi antar profesi.
Perilaku kolaborasi antar perawat dan dokter telah terbentuk sebagai suatu
proses komunikasi antara perawat dan dokter selama melakukan perawatan
pasien (Ahmad, 2018).
Perawat dan dokter bekerjasama dan bertanggungjawab untuk
menyelesaikan masalah, manajemen konflik, pembuat keputusan dan
berkomunikasi secara terbuka (Ahmad, 2018).
Pada awalnya komunikasi dinilai oleh banyak pihak sebagai ilmu yang
monodisiplin. Pengertian monodisiplin di sini melihat kedudukan ilmu itu
berdiri sendiri dengan cirinya sendiri. Namun dengan perkembangan
masyarakat yang begitu cepat dibidang genetika dan teknologi komunikasi
telah membawa dampak kaburnya batas-batas kewenangan dan fungsi
beberapa ilmu pengetahuan, sehingga ilmu yang tadinya monodisiplin menjadi
multidisiplin (Madoni, 2019)
Ilmu komunikasi sebagai salah satu ilmu sosial, mempunyai kaitan yang
erat dengan ilmu sosial lainnya. Persamaan bukan saja karena ia berada dalam
satu lingkaran sosial tapi juga memiliki objek material yang sama yaitu
mempelajari perilaku manusia dalam bermasyarakat. Perbedaan terletak pada
objek formalnya yaitu komunikasi mempelajari pernyataan manusia dalam
situasi berkomunikasi. Objek formalnya inilah yang merupakan ciri khas dari
suatu ilmu yang dapat membedakannya dengan ilmu lain. Misalnya ilmu
komunikasi dengan ilmu psikologi, memiliki objek material yang sama yaitu
perilaku manusia. Sedangkan objek formalnya beda. Ilmu komunikasi identik
dengan pernyataan manusia dalam situasi berkomunikasi sedangkan ilmu
psikologi lebih cenderung pada kejiwaan manusia dalam berperilaku (Nasilah,
2018).
Komunikasi memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia, karena
melalui komunikasi akan terjadi interaksi, saling memahami, membina relasi

1
antar sesama manusia dan lingkungannya. Keadaan ini yang membuat manusia
‘dipaksa’ untuk berinteraksi dengan dirinya sendiri (intrapribadi), dengan
orang lain (antarpribadi), dengan kelompok bahkan dengan masyarakat sosial
yang sifatnya lebih luas untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya (Nasilah,
2018).
Komunikasi merupakan proses kompleks yang melibatkan perilaku dan
memungkinkan individu untuk berhubungan dengan ornag lain dan dunia
sekitarnya. Sebagai sebuah ilmu multidisiplin, sebuah visi teori komunikasi
yang mengambil sebuah langkah maju yang besar untuk mempersatukan
bidang yang akan sedikit berbeda ini dan menunjukkan kerumitan-
kerumitannya. Dengan kata lain, komunikasi tidak akan pernah menyatu
dengan dengan sebuah teori tunggal atau kelompok teori. Teori-teori akan
selalu mencerminkan perbedaan gagasan praktis mengenai komunikasi dalam
kehidupan yang umum. Sehingga, manusia selalu dihadapkan pada keragaman
pilihan (Nasilah, 2018).

B. Pengertian
Multidisiplin atau multidisipliner mengacu pada tim dimana sejumlah orang
atau individu dari berbagai disiplin ilmu terlibat dalam suatu proyek namun
masing-masing individu bekerja secara mandiri. Setiap individu dalam tim
multidisiplin memiliki keterampilan dan keahlian yang berbeda namun saling
melengkapi satu sama lain. Pengalaman yang dimiliki masing-masing individu
memberikan kontribusi yang besar bagi keseluruhan upaya yang dilakukan
(madoni, 2019).
Tim multidisiplin dapat kita temui di bidang kesehatan atau medis. Di
lingkungan kesehatan atau medis, tim multidisiplin adalah sebuah kelompok
pekerja kesehatan atau pekerja medis yang terdiri dari anggota-anggota dengan
latar belakang ilmu atau profesi yang berbeda dan masing-masing anggota tim
memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien(madoni, 2019)
Masing-masing anggota tim bekerja secara mandiri dalam menangani
berbagai permasalahan yang dihadapi pasien dan mereka hanya
menitikberatkan pada permasalahan yang menjadi spesialisasinya.
Permasalahan yang ditangani dapat berkaitan ataupun tidak berkaitan dengan
permasalahan lain yang dihadapi oleh individu anggota tim(madoni, 2019).
Keberhasilan tim multidiplin dalam menangani dan merawat pasien
ditentukan oleh beberapa hal salah satunya adalah komunikasi yang efektif.
Tim multidisiplin yang baik adalah tim yang saling berbagi ide atau gagasan
dan informasi dengan cepat dan dilakukan secara teratur (madoni, 2019).
Komunikasi multidisiplin dalam keperawatan adalah komunikasi yang
melingkupi seluruh aspek jalur komunikasi penanganan dan perawatan pasien.

2
Dalam bidang komunikasi kesehatan, komunikasi multidisiplin terjadi antara
sesama anggota tim multidisiplin dan antara anggota tim multidisiplin dengan
pasien serta anggota keluarga pasien dalam rangka penanganan dan perawatan
pasien. Komunikasi multidispilin yang baik sangat penting bagi keberhasilan
tim dalam menangani dan merawat pasien. Karena itu, setiap anggota tim
hendaknya dibekali dengan pelatihan komunikasi agar setiap anggota tim
memiliki keterampilan komunikasi sebagai bagian dari upaya penanganan dan
perawatan pasien(Madoni, 2019).
Komunikasi multidisiplin adalah kombinasi dari berbagai disiplin ilmu
berbagai disiplin ilmu dalam tugas tidak harus bekerja secara terkoordinasi,
dimana dalam pemecahan masalah suatu masalah menggunakan berbagai sudut
pandang yang relevan penggabungan beberapa disiplin untuk untuk bersama-
sama mengatasi masalah tertentu. komunikasi sangat luas dan beraneka ragam.
Hampir tidak ada aspek kehidupan yang tidak lepas dari komunikasi. Berbagai
dimensi selalu hadir dalam kehidupan manusia dan sepanjang sejarah manusia
ada, komunikasi dipastikan selalu hadir baik secara perorangan, kelompok,
bangsa maupun umat manusia sepanjang hidup di muka bumi (Daryanto,
2014).
Dengan demikian, komunikasi bisa dipandang sebagai ilmu yang
multidimensional, karena dipelajari dari berbagai disiplin ilmu bersama-sama
maupun sendiri. begitu luasnya pembahasan Namun, yang biasanya terjadi
seorang manusia komunikasi hanya memusatkan perhatian dan keahliannya
pada satu bidang saja. Dengan begitu, jarang ada yang bergerak, memahami
maupun menjadi ahli di dua bidang atau tiga bidang komunikasi. Hal ini
membuktikan begitu luasnya cakupan ilmu komunikasi, hingga segala aspek
kehidupan nyaris tidak bisa lepas dari komunikasi ( Daryanto, 2014).

C. Ciri-ciri Komunikasi Multidisiplin


1. setiap bagian ikut peran cukup besar,melakukan perencanaan pengelolan
bersama
2. setiap beraktivitas berdasarkan batasan ilmunya.
3. Konseptual dan operasional & terpisah –pisah dalam pelayanan kesehatan,
berbagai bidang ilmu berupaya mengintegrasikan pelayanan untuk
kepentingan pasien.namun setiap disiplin membatasi diri secara tegas
(madoni, 2019).

Menurut cara pandang serta objek pokok pengamatannya di bagi mejadi 3


kelompok atau aliran pendekatan-pendekatan humanistik (humaniora
interpretif) serta penekatan sciencific (ilmu-ilmu sosial). Aliran pendekatan
scientific umumnya berlaku di kalangan jpara ahli ilmu-ilmu eksakta, seperti

3
fisika, biologi, kedokteran, keperawtan, farmasi, matematika dan lain-lain.
Menurut pandangan yang dimaksudkan di sini adalah objektifitas yang
menekankan prinsip standarisasi observasi dan konsisten. Landasan
filosofinya adalah bahwa dunia ini pada dasarnmya mempunyai bentuk dan
struktur (Daryanto. 2014).

Ciri utama lainnya dari kelompok pendekatan iini adalah adanya


pemisahan yang tegas antara know (objek atau hal yang ingin dioketahui dan
diltelitiP) dan knower ( subjek pelaku/pencari pengetahuan atau pengamat).
Tujuan penelitian lazimnya diarahkan pada upaya mengukur ada tidaknya
pengaruh sebab-akibat di antar dua variabel atau lebih (Daryanto, 2014)

Apabila aliran pendekatan sciebtific mengutamakan prinsisp objektivtas


maka kelompok pendekatan humanistik mengasosiasikan ilmu dengan prinsip
subjektivitas (Daryanto, 2014).
Perbedaan -perbedaan pokok antar kedua aliran pendekatan ini antara lain:

1. Bagi aliran scientific. Ilmu yang bertujuan untuk menstandarkan observasi,


sementara aliran humanistik mengutakamakan kretivitas individu.
2. Aliran scientfic memfokuskan perhatiannya pada dunia hasil penemua
(discovery world), sedangkan aliran humanistik menitikberatkan
perhatiannya pada dunia para penemunya (discovery person).
3. Aliran scientific membaut pemisahan yang tegas antar know dan knower,
sedangkan aliran humanistik cenderung tidak memisahkan kedua hal
tersebut (Daryanto, 2014).
Pandangan klasik dari aliran humanistik adalah bahwacara pandang
seseorang tentang sesuatu hal akan menentukan penggambaran dan uraian
tentnag hal tersebut. Karena sifatnya yang subjektif dan overprektif, maka
pendekatan aliran humanistik ini lazimnya cocok diterapkan untuk mengkaji
persoalan-persoalan yang menyangkut sistem nilai, kesenian, kebudayaan,
sejarah dan pengalaman sendiri(Daryanto, 2014).
Kelompok aliran yang ketiga adalah pendekatahn khusus ilmu pengetahuan
sosial (social sciences). Pendekatan yang diterapkan oleh para pendukung
kelompok aliran ini pada dasarnya merupakan gabungan atua kombinasi dari
pendekatan -pendekatan aliran “sciences” dan “humanistik”. Dalam banyak hal,
pendekatan ilmu alam (naturesciences), karena beberapa metode yang
diterapkan banyak diantaranya yang diambil dari ilmu alam/fisika. Namun,
metode-metode pendekatan aliran “humanistik” juga diterapkan (Daryanto,
2014).

4
D. Cara Komunikasi Multidisiplin terhadap pasien
1. Menciptakan hubungan interpersonal yang baik
Menciptakan dan memelihara hubungan yang baik adalah penting
dalam upaya penanganan dan perawatan pasien. Hasil studi menunjukkan
bahwa komunikasi dan hubungan baik antara pasien dan anggota tim
memberikan dampak positif pada kepuasan pasien, pengetahuan dan
pemahaman, kepatuhan terhadap program pengobatan, dan hasil kesehatan
yang terukur (Parka, 2018)

2. Bertukar informasi
Anggota tim yakni dokter perlu memperoleh sebanyak mungkin
informasi dari pasien agar dapat mendiagnosa dengan tepat jenis penyakit
yang diderita pasien dan merumuskan rencana penanganan dan perawatan.
Bagi pasien, pasien perlu mengetahui, memahami, merasa dikenal, dan
dipahami oleh anggota tim. Untuk itu, kedua belah pihak sangat perlu
melakukan komunikasi dua arah sebagai upaya untuk saling bertukar
informasi (Parka, 2018).

3. Mendengarkan secara aktif dan penuh perhatian


Mendengarkan secara aktif dan penuh perhatian adalah salah
satu penyebab keberhasilan dalam komunikasi. Perawat sebagai anggota
tim bertanggung jawab dalam memberikan perhatian dan memobilisasi
semua indera untuk mempersespi semua pesan verbal maupun pesan
nonverbal yang diberikan oleh pasien. Dengan mendengarkan secara aktif
dan penuh perhatian, perawat dapat menilai situasi dan masalah yang
dialami pasien. Selain itu perawat juga dapat meningkatkan harga diri
pasien dan mengintergrasikan diagnosa keperawatan dan proses perawatan
(Parka, 2018)

4. Penggunaan bahasa yang tepat


Informasi yang diberikan selama proses konsultasi, penanganan, dan
perawatan pasien perlu dilakukan dengan menggunakan bahasa yang dapat
dipahami oleh pasien dan anggota pasien. Bahasa sebagai alat
komunikasi dalam proses konsultasi, penanganan, dan perawatan pasien
hendaknya tidak menggunakan jargon dan istilah teknis kesehatan kecuali
dijelaskan secara komprehensif. Yang harus dihindari juga adalah
penggunaan eufemisme karena dapat mengarah pada ambigu (Parka,
2018).

5
5. Bahasa tubuh dan penampilan
Bahasa tubuh dalam komunikasi dan penampilan juga hendaknya
menjadi bahan pertimbangan dan perlu diperhatikan dengan baik.
Berbagai komunikasi nonverbal yang ditampilkan seperti postur tubuh,
gaya, dan perilaku dapat berdampak pada kemajuan dan hasil konsultasi
antara pasien dan anggoa tim. Untuk itu, bahasa tubuh yang ditampilkan
selama proses konsultasi harus ditampilkan secara lengkap dan fokus pada
pasien (Parka, 2018).

6. Bersikap jujur
Bersikap jujur merupakan salah satu konsep moral dalam komunikasi
keperawatan. Anggota tim seperti perawat harus bersikap jujur agar diskusi
atau konsultasi yang dilakukan tidak menimbulkan kecurigaan, keraguan,
dan kesalahpahaman. Jika ada kebutuhan untuk diskusi yang terpisah
dengan anggota keluarga pasien maka harus dilakukan dengan
mengunakan teknik komunikasi terapeutik seperti hati-hati,
memperhatikan tempat diskusi, dan waktu yang tepat (Parka, 2018).

7. Memperhatikan kebutuhan pasien


Anggota tim seperti pasien perlu mengetahui apa yang menjadi
kebutuhan komunikasi pasien. Beberapa orang pasien hanya ingin didengar
tanpa banyak penjelasan dan beberapa pasien lainnya ingin mengetahui
penjelasan yang lengkap tentang penyakit yang diderita. Perawat harus
dapat mendeteksi setiap apa yang diinginkan pasien (Parka, 2018).

8. Mengembangkan sikap empati


Empati merupakan salah satu karakteristik komunikasi terapeutik.
Yang dimaksud dengan empati adalah perawat dapat merasakan apa yang
dirasakan oleh pasien. Dalam artian, perawat hendaknya dapat
memposisikan dirinya pada posisi pasien (Parka, 2018).

6
KESIMPULAN

Komunikasi multidisiplin adalah komunikasi yang kita gunakan dalam bidang


kesehatan, contohnya cara kita berkomunikasi dengan kesehatan baik itu sesama
perawat, bidan, ilmu gizi, farmasi, dokter, dan cara kita menyampaikannya kepada
pasien supaya pasien dan kaeluarga mengerti apa yang disampaikan.
Komunikasi multidisiplin adalah komunikasi yang kita lakukan dengan dokter,
perawat, maupun pasien untuk menyampaikan dalam hal informasi dengan
menggunakan tim. Komunikasi multidisiplin digunakan untuk berkomunikasi yang
mencangkup keseluruhan dari tim medis, tim kesehatan, klien, dan keluarga.

7
Pertanyaan

1. Apa sih ciri yang menonjol pada komunikasi multidisiplin? Dan apa perbedaan
komnunikasi teraupetik dan komunikasi multidisiplin.?
2. Komunikasi multidisiplin adalah tim medis, hubungan antara tim medis dan
kesehatan apa?
3. Menurut kalian komunikasi multidisiplin itu seperti apa?

Jawaban

1. Komunikasi multidisiplin yang menonjol adalah bagaimana kita sebagai tim


medis berkomunikasi dengan keluarga klien, gizi, farmasi, dan lainnya.
Perbedaan dari komunikasi teraupetik dengan komunikasi multidisiplin adalah
komunikasi teraupetik adalah komunikasi dimana perawat berkomunikasi
dengan klien, sedangkan komunikasi multidisiplin adalah komunikasi dimana
perawat bisa berkomunikasi dengan bagian tim medis lain, seperti
berkomunikasi dengan ilmu gizi, ilmu farmasi, ilmu bidan, ilmu kedokteran,
dan lain nya.
2. Hubungan nya adalah, kita sendiri bisa melihat tim medis selalu berkaitan
dengan kesehatan, tim medis ada karena kesehatan. Komunikasi kesehatan
mengarah pada jalannya proses komunikasi dan pesan yang menyelimuti isu
kesehatan. Pengetahuan dalam bidang ini dapat dikategorikan berdasarkan
penekanannya ke dalam dua kelompok besar yaitu perspektif berdasarkan
proses dan perspektif berdasarkan pesan. Pendekatan berdasarkan proses
menggali cara-cara yang di dalamnya pemaknaan kesehatan dinyatakan,
diinterpretasi dan dipertukarkan, sebuah proses investigasi interaksi dan
strukturasi simbolik yang dikaitkan dengan kesehatan, sedangkan perspektif
berbasis pesan terpusat pada pembentukan pesan kesehatan yang efektif, juga
mengenai usaha strategis untuk menciptakan komunikasi yang efektif.
3. Komunikasi multidisiplin adalah kombinasi dari berbagai disiplin ilmu
berbagai disiplin ilmu dalam tugas tidak harus bekerja secara terkoordinasi,
dimana dalam pemecahan masalah suatu masalah menggunakan berbagai sudut
pandang yang relevan penggabungan beberapa disiplin untuk untuk bersama-
sama mengatasi masalah tertentu.

8
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, ismadi. 2018. Komunikasi multidisiplin. (11 April 2019).


https://kupdf.net/queue/komunikasi-
multidisiplin_5bb1e252e2b6f5d975ffc808_pdf?queue_id=-
1&x=1554823590&z=MzYuODQuNjQuMTEx. Jurnal.KUPDF.Net
Aris. 2017.Komunikasi efektif dalam pelayanan kesehatan. (11 April 2019).
https://kupdf.net/download/komunikasi-efektif-dalam-pelayanan-
kesehatan_595e19f6dc0d60a24571c825_pdf.
Daryanto. 2014. Teori Komunikasi. Malang : Gunung Samudera.
Madoni, Abro.2019. Komunikasi dalam pelayana khususnya komunikasi. (10 April
2019.https://kupdf.net/download/komunikasi-dalam-pelayanan-
kesehatan-khususnya-komunikasi-
multidisplinpptx_5c56c9c2e2b6f52113126f1c_pdf.
Salisah N. 2011. komunikasi kesehatan: perlunya multidipler dalam ilmu
komunikasi. Jurnal ilmu komunikasi. Vol.1. no.2 (10 April 2019)
http://jurnalilkom.uinsby.ac.id/index.php/jurnalilkom/article/view/19/15.

Anda mungkin juga menyukai