Anda di halaman 1dari 25

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Swamedikasi

2.1.1 Defenisi

Swamedikasi berarti mengobati segala keluhan pada diri sendiri dengan obat-

obat yang sederhana yang dibeli bebas di apotik atau toko obat atas inisiatif sendiri

tanpa nasehat dokter (Rahardja, 2010).

Swamedikasi atau pengobatan sendiri adalah perilaku untuk mengatasi sakit

ringan sebelum mencari pertolongan ke petugas atau fasilitas kesehatan. Lebih

dari 60% dari anggota masyarakat melakukan swamedikasi, dan 80% di antaranya

mengandalkan obat modern (Anonim, 2010)

Swamedikasi adalah Pengobatan diri sendiri yaitu penggunaan obat-obatan

atau menenangkan diri bentuk perilaku untuk mengobati penyakit yang dirasakan

atau nyata. Pengobatan diri sendiri sering disebut dalam konteks orang mengobati

diri sendiri, untuk meringankan penderitaan mereka sendiri atau sakit. Dasar

hukumnya permekes No.919/MENKES/PER/X/1993, secara sederhana

swamedikasi adalah upaya seseorang dalam mengobati gejala sakit atau penyakit

tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Namun bukan berarti asal

mengobati, justru pasien harus mencari informasi obat yang sesuai dengan

penyakitnya dan apoteker-lah yang bisa berperan di sini. Apoteker bisa

memberikan informasi obat yang objektif dan rasional. Swamedikasi boleh

dilakukan untuk kondisi penyakit yang ringan, umum dan tidak akut. Setidaknya

ada lima komponen informasi yang yang diperlukan untuk swamedikasi yang

5
6

tepat menggunakan obat modern, yaitu pengetahuan tentang kandungan aktif obat,

indikasi, dosage, efek samping, dan kontra indikasi (Anonim, 2010).

Resiko dari pengobatan sendiri adalah tidak mengenali keseriusan

gangguan. Keseriusan dapat dinilai salah satu atau mungkin tidak dikenali,

sehingga pengobatan sendiri bisa dilakukan terlalu lama. Gangguan bersangkutan

dapat memperhebat keluhan, sehingga dokter perlu menggunakan obat-obat yang

lebih keras. Resiko yang lain adalah penggunaan obat yang kurang tepat. Obat

bisa digunakan secara salah, terlalu lama atau dalam takaran yang terlalu besar.

Guna mengatasi resiko tersebut,maka perlu mengenali kerugian-kerugian tersebut

(Tjay dan Raharja, 1993).

Disinilah peran Farmasi Apoteker untuk membimbing dan memilihkan obat

yang tepat. Pasien dapat meminta informasi kepada apoteker agar pemilihan obat

lebih tepat. Selain apoteker, tenaga farmasi lain seperti asisten apoteker

mempunyai peran penting dalam menyampaikan informasi obat kepada

masyarakat. Seperti penyampaian informasi tentang Penggunaan obat secara tepat,

aman dan rasional. Atas permintaan masyarakat Informasi yang diberikan harus

benar, jelas dan mudah dimengerti serta cara penyampaiannya disesuaikan dengan

kebutuhan, selektif, etika, bijaksana dan hati-hati. Informasi yang diberikan

kepada pasien sekurang-kurangnya meliputi: cara pemakaian obat, cara

penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, makanan/ minuman/ aktifitas yang

hendaknya dihindari selama terapi dan informasi lain yang diperlukan (Anief,

1997).
7

Swamedikasi biasanya digunakan untuk mengatasi keluhan-keluhan

penyakit ringan yang banyak dialami masayarakat, seperti demam, nyeri, pusing,

batuk, influenza, sakit maag, diare, penyakit kulit dan lain-lain. Swamedikasi

diambil masyarakat untuk meningkatkan keterjangkauan pengobatan. Pada

pelaksanaanya, swamedikasi menjadi sumber terjadinya kesalahan pengobatan

karena ada ancaman penyakit yang lebih serius yang tidak disadari oleh

masyarakat dan juga keterbatasan pengetahuan masyarakat akan obat dan

penggunannya (Sriana, 2004).

Obat bebas dan obat bebas terbatas adalah obat yang dapat diperjualbelikan

secara bebas tanpa resep dokter untuk mengobati jenis penyakit yang

pengobatannya dapat diterapkan sendiri oleh masyarakat. Pengertian obat itu

sendiri adalah suatu zat yang digunakan untuk diagnosis, pengobatan melunakkan,

penyembuhan atau pencegahan penyakit pada manusia atau hewan (Anief, 1997).

2.1.2 Terapi Rasional

Menurut Siregar (2003) definisi penggunaan obat secara rasional adalah

mensyaratkan bahwa penderita menerima obat yang sesuai dengan kebutuhan

klinik, dalam dosis serta periode waktu yang memadai dan harga terendah bagi

komunitas mereka

Pada pengobatan sendiri dibutuhkan penggunaan obat yang tepat atau

rasional. Penggunaan obat yang rasional adalah pasien menerima obat yang tepat

dengan keadaan kliniknya, dalam dosis yang sesuai dengan keadaan individunya,

pada waktu yang tepat dan dengan harga terjangkau bagi dia dan komunitasnya.

Pengertian lain dari penggunaan obat yang rasional adalah suatu tindakan
8

pengobatan terhadap suatu penyakit dan pemahaman aksi fisiologi yang benar dari

penyakit Sesuai dengan konteks tersebut, terapi rasional meliputi kriteria

(Maulana, 2010).

a. Tepat indikasi

Tepat indikasi adalah adanya kesesuaian antara diagnosis pasien dengan

obat yang diberikan.

b. Tepat obat

Tepat obat adalah pemilihan obat dengan memperhatikan efektivitas,

keamanan, rasionalitas dan murah.

c. Tepat dosis regimen

Tepat dosis regimen adalah pemberian obat yang tepat dosis (takaran obat),

tepat rute (cara pemberian), tepat saat (waktu pemberian), tepat interval

(frekuensi), dan tepat lama pemberian.

d. Tepat pasien

Tepat pasien adalah obat yang diberikan sesuai dengan kondisi pasien.

Kondisi pasien misalnya umur, faktor genetik, kehamilan, alergi, dan penyakit

lain.

2.1.3 Keuntungan dan Kerugian

Menurut Rahardja (2010) keuntungan swamedikasi adalah obat untuk

ganguan-ganguan tersebut sering kali memang sudah tersedia di rumah.

Keuntungan yang lainnya yaitu aman apabila digunakan sesuai dengan

petunjuk (efek samping dapat diperkirakan), efektif untuk menghilangkan keluhan

karena 80% sakit bersifat self limiting, yaitu sembuh sendiri tanpa intervensi tenaga
9

kesehatan, biaya pembelian obat relatif lebih murah daripada biaya pelayanan

kesehatan, hemat waktu karena tidak perlu menggunakan fasilitas atau profesi

kesehatan, kepuasan karena ikut berperan serta dalam sistem pelayanan kesehatan,

menghindari rasa malu atau stres apabila harus menampakkan bagian tubuh tertentu

di hadapan tenaga kesehatan, dan membantu pemerintah untuk mengatasi

keterbatasan jumlah tenaga kesehatan pada masyarakat (Supardi dkk, 2005)

Menurut Anief (1997), keuntungan yang lain yaitu lebih mudah, cepat, tidak

membebani sistem pelayanan kesahatan dan dapat dilakukan oleh diri sendiri.

Bagi konsumen obat, pengobatan sendiri dapat memberi keuntungan yaitu bila ia

dapat

1) Menghemat biaya ke dokter

2) Menghemat waktu ke dokter

3) Segera dapat beraktifitas kembali

Kekurangan, obat dapat membahayakan kesehatan apabila tidak digunakan

sesuai dengan aturan, pemborosan biaya dan waktu apabila salah menggunakan obat,

kemungkinan kecil dapat timbul reaksi obat yang tidak diinginkan, misalnya

sensitifitas, efek samping atau resistensi, penggunaan obat yang salah akibat salah

diagnosis dan pemilihan obat dipengaruhi oleh pengalaman menggunakan obat di

masa lalu dan lingkungan sosialnya (Supardi dkk, 2005).

2.2 Obat Tanpa Resep

2.2.1 Definisi

Obat tanpa resep adalah obat untuk jenis penyakit yang pengobatannya

dianggap dan ditetapkan sendiri oleh masyarakat dan tidak begitu membahayakan
10

jika mengikuti aturan memakainya. Obat yang beredar dimasyarakat dibagi atas

empat golongan, yaitu obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras, dan obat

narkotika (Anief, 1997).

Resiko dari pengobatan sendiri adalah tidak mengenali keseriusan

gangguan. Keseriusan dapat dinilai salah satu atau mungkin tidak dikenali,

sehingga pengobatan sendiri bisa dilakukan terlalu lama. Gangguan bersangkutan

dapat memperhebat keluhan, sehingga dokter perlu menggunakan obat-obat yang

lebih keras. Resiko yang lain adalah penggunaan obat yang kurang tepat. Obat

bisa digunakan secara salah, terlalu lama atau dalam takaran yeng terlalu besar.

Guna mengatasi resiko tersebut, maka perlu mengenali kerugian-kerugian tersebut

(Tjay dan Raharja, 1993).

Pada setiap produk obat selalu dicantumkan nama obat, komposisi,

indikasi, informasi mengenai cara kerja obat, aturan pakai, peringatan, perhatian,

nama produsen, nomor batch atau lot, nomor registrasi, dan tanggal kadaluwarsa.

Obat bebas dan obat bebas terbatas dapat dibeli tanpa resep di apotek dan toko

obat.Biasanya obat bebas dapat mendorong untuk pengobatan sendiri atau

perawatan penyakit tanpa pemeriksaan dokter dan diagnosa.

Obat yang dapat diperoleh tanpa resep sering digunakan pasien atas

anjuran paramedik. Sikap dokter terhadap praktek pengobatan sendiri dengan obat

tanpa resep umumnya tidak keberatan dalam batas-batas tertentu.Profesi

kedokteran meyakinkan bahwa pengobatan sendiri adalah terbatas pada kondisi

kecil yang pasien mampu mengenal dengan jelas pengalaman sebelumnya dan

rasa kurang enak yang diderita adalah bersifat sementara (Anief, 1997).
11

Menurut Anief juga pada penggunaan obat tanpa resep perlu diperhatikan:

a. Apakah obatnya masih baik atau tidak.

b. Bila ada tanggal kadaluwarsa, perhatikan tanggalnya apakah lewat atau belum.

c. Keterangan pada brosur atau selebaran yang disertakan oleh pabrik, dibaca

dengan baik, antara lain berisi informasi tentang:

1) Indikasi yaitu petunjuk penggunaan obat dalam pengobatan penyakit.

2) Kontraindikasi yaitu petunjuk penggunaan obat yang tidak diperbolehkan,

karena berlawanan dengan kondisi tubuh kita.

3) Efek samping yaitu efek yang timbul, bukan efek yang diinginkan. Efek

samping dapat merugikan atau berbahaya.

4) Dosis obat yaitu besaran obat yang boleh digunakan untuk orang dewasa

atau anak-anak berdasarkan berat badan atau umur anak.

5) Waktu kadaluwarsa.

6) Cara penyimpanan obat.

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 919/Menkes/Per/X/1993

disebutkan bahwa penyerahan obat tanpa resep harus memenuhi kriteria pada

penggunaan obatnya, yaitu:

a. Tidak kontra indikasi untuk penggunaan pada wanita hamil, anak dibawah

usia dua tahun, orang tua diatas 65 tahun.

b. Pada pengobatan sendiri, tidak memberi resiko pada kelanjutan penyakit.

c. Tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga

kesehatan.

d. Diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia.


12

e. Memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dijamin untuk pengobatan

sendiri (Anief, 2000).

2.2.2 Penggolongan Obat tanpa resep

Menurut penggolongannya obat dibagi menjadi 4 golongan yaitu:

1) Obat Bebas

Obat bebas adalah obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa

resep dokter. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas adalah lingkaran

hijau dengan garis tepi berwarna hitam contoh paracetamol (Anonim, 2006).

2) Obat Bebas Terbatas

Selain tanda khusus obat bebas terbatas, terdapat pula tanda peringatan.

Tanda peringatan ini diberikan karena hanya dengan takaran dan kemasan tertentu

obat ini aman dipakai untuk pengobatan sendiri. Tanda peringatan berupa empat

persegi panjang dengan huruf putih pada dasar hitam yang terdiri dari 6 macam,

yaitu:

a) P.No.1: Awas! Obat Keras. Bacalah aturan memakainya.

b) P. No. 2: Awas! Obat keras.Hanya untuk kumur, jangan ditelan.

c) P. No. 3: Awas! Obat keras.Hanya untuk bagian luar badan.

d) P. No.4: Awas!Obat keras.Hanya untuk luka bakar.

e) P. No.5: Awas! Obat keras.Tidak boleh ditelan.

f) P. No.6: Awas! Obat keras.Obat wasir jangan ditelan (Anonim, 2004a)

3) Obat Keras

Obat keras adalah obat yang hanya dapat dibeli di apotek dengan resep

dokter. Tanda khusus pada kemasan dan etiket adalah huruf K dalam lingkaran
13

merah dengan garis tepi berwarna hitam. Obat psikotropika adalah obat keras baik

alamiah maupun sintetis bukan narkotik, yang berkhasiat psikoaktif melalui

pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas

pada aktivitas mental dan perilaku. (Anonim, 2000)

4) Obat Narkotika dan Psikotropika

Obat narkotika adalah obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman

baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau

perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa

nyeri dan menimbulkan ketergantungan. Obat psikotropika adalah obat keras baik

alamiah maupun sintetis bukan narkotik, yang berkhasiat psikoaktif melalui

pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas

pada aktivitas mental dan perilaku (Anonim, 2000).

5) Obat Wajib Apotik (OWA)

Selain memproduksi obat generik, untuk memenuhi keterjangkauan

pelayanan kesehatan khususnya akses obat pemerintah mengeluarkan kebijakan

OWA. OWA merupakan obat keras yang dapat diberikan oleh Apoteker Pengelola

Apotek (APA) kepada pasien.Walaupun APA boleh memberikan obat keras,

namun ada persayaratan yang harus dilakukan dalam penyerahan OWA. Tujuan

OWA adalah memperluas keterjangkauan obat untuk masyarakat, maka obat-obat

yang digolongkan dalam OWA adalah obat yang diperlukan bagi kebanyakan

penyakit yang diderita pasien. Antara lain: obat antiinflamasi (asam mefenamat),

obat alergi kulit (salep hidrokotison), infeksi kulit dan mata (salep oksitetrasiklin),

antialergi sistemik (CTM), obat KB hormonal (Anonim,2000).


14

Sesuai permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993, kriteria obat yang dapat

diserahkan:

1. Tidak dikontra indikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di

bawah usia 2 tahun dan orang tua di atas 65 tahun.

2. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko pada

kelanjutan penyakit.

3. Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan

oleh tenaga kesehatan.

4. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di

Indonesia.

5. Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat

dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri (Anonim,2000).

2.3 Informasi Obat

Menurut Anief (1997) Pasien harus benar-benar paham dalam memilih obat

sebagai upaya pengobatan sendiri. Disinilah peran farmasi apoteker untuk

membimbing dan memilihkan obat yang tepat. Pasien dapat meminta informasi

kepada apoteker agar pemilihan obat lebih tepat. Arti informasi obat bagi rakyat

sangat besar. Spliane (2007) dalam Maulana (2010) Bahwa Semakin lama

semakin banyak orang di seluruh dunia terpaksa menggunakan pendapatan yang

terbatas untuk membeli lebih banyak obat – obatan.

Berdasarkan keputusan menteri Kesehatan No.386 Tahun 1994 tentang

periklanan obat maka iklan harus memenuhi persyaratan seperti dibawah ini:
15

a. Obat harus sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku dan tergolong

obat bebas dan bebas terbatas.

b. Obat tersebut telah mendapat nomor persetujuan pendaftaran Depkes RI.

c. Rancangan iklan harus telah disetujui oleh Depkes RI.

d. Nama obat yang di iklankan adalah nama yang disetujui dalam pendaftaran.

e. Iklan dapat bermanfaat bagi masyarakat untuk memilih penggunaan obat

bebas secara rasional.

f. Iklan tidak boleh mendorong penggunaan obat yang berlebihan dan terus-

menerus.

g. Iklan tidak boleh ditujukan untuk anak-anak atau menampilkan anak-anak

tanpa supervisi orangdewasa, iklan tidak boleh menggambarkan bahwa

keputusan penggunaan harus ditentukan dan diambil oleh anak-anak.

2.4 Penyakit Influenza

2.4.1 Definisi

Menurut Kurnia (2009), influenza merupakan sebuah penyakit infeksi

saluran nafas yang bisa menyerang semua manusia tanpa mengenal usia.

Umumnya penyakit ini bisa sembuh sendiri dan biasanya masa inkubasi selama 2

hari, tetapi ada juga yang mencapai 4 hari.

Salesma adalah penyakit yang disebabkan oleh virus pilek yang dikenal

dengan Rhynovirus dan gejalanya berupa pilek berat, mata banyak mengeluarkan

air, kepala terasa mampat, dan disertai demam ringan. Influenza merupakan

penyakit yang menunjukan gejala seperti Salesma, namun bersifat lebih berat
16

yaitu demam tinggi, hidung tersumbat, nyeri otot dan persendian, nyeri kepala dan

tenggorokan, suara serak, hilangnya nafsu makan, dan adakalanya nyeri telinga,

mual, muntah dan diare.

Patogenesis penyakit virus merupakan hasil interaksi antara virus dan

inang yang terinfeksi. Virus bersifat patogenik untuk inang tertentu jika virus

tersebut dapat menginfeksi dan menimbulkan gejala penyakit pada inang tersebut.

Untuk menimbulkan penyakit, virus harus memasuki suatu inang, melakukan

kontak dengan sel yang dapat dimasukinya, bereplikasi dan menimbulkan cedera

sel. Agar infeksi dapat terjadi, virus mula-mula harus melekat dan memasuki sel

dari suatu permukaan tubuh (dapat melalui kulit,saluran pernafasan, pencernaan,

saluran kemih atau konjungtiva). Sebagian besar virus memasuki inang melalui

mukosa saluran pernafasan atau pencernaan, namun ada virus yang langsung

masuk ke dalam aliran darah atau melalui gigitan serangga (Maulana, 2010).

2.4.2 Replikasi

Virus dapat bereplikasi hanya pada sel hidup. Infeksi dan replikasi

influenza merupakan proses bertahap: pertama, virus harus berikatan dengan sel

dan memasuki sel, kemudian memindahkan genomnya pada suatu tempat dimana

virus tersebut dapat memproduksi duplikat dari protein virus dan RNA, kemudian

menyusun komponen-komponen tersebut menjadi partikel virus baru, dan

terakhir, keluar dari sel inang.

Biasanya virus bereplikasi di tempat masuknya, sehingga menyebabkan

gejala penyakit di tempat tersebut, kemudian menyebar kedalam tubuh inang.Jalur

penyebaran virus beragam, namun yang palingumum adalah melalui aliran


17

darah.Adanya virus dalam darah disebut viremia. Stadium akhir dari patogenesis

adalah pelepasan virus yang infeksius kelingkungan sekitarnya, untuk menjaga

keberadaan virus dalam populasi inang.Pelepasan biasanya terjadi dari permukaan

tubuh tempat virus masuk.Penyakit virus mengakibatkan beberapa abnormalitas

baik struktural maupun fungsional. Kerusakan sel yang terinfeksi virus dan

perubahan fisiologis yang ditimbulkan pada inang oleh cedera jaringan dapat

menjadi sebab terjadinya penyakit atau gejala penyakit (Anonim, 2011).

2.4.3 Penularan

Influenza dapat disebarkan dalam tiga cara utama: melalui penularan

langsung (saat orang yang terinfeksi bersin, terdapat lendir hidung yang masuk

secara langsung pada mata, hidung, dan mulut dari orang lain); melalui udara (saat

seseorang menghirup aerosol (butiran cairan kecil dalam udara) yang dihasilkan

saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau meludah), dan melalui penularan

tangan-ke-mata, tangan-ke-hidung, atau tangan-ke-mulut, baik dari permukaan

yang terkontaminasi atau dari kontak personal langsung seperti bersalaman

(Anonim, 2011).

Menurut Maryani dan Kristiana (2004), Penularan penyakit influenza dapat

melalui dua cara juga yaitu melalui pernapasan dan kontak jasmani. Cara pertama,

ketika seorang penderita influenza baik batuk, bersin, virus ini akan di keluarkan

dan menyebar ke udara. Akibanya, orang yang sehat dapat tertular virus influenza.

Cara kedua, jika orang sehat tidak sengaja bersentuhan dengan orang yang

terinfeksi seperti berjabat tangan, menyentuh benda benda yang tercemar virus
18

kemudian menyentuh hidung dan mulutnya, maka virus akan masuk ke saluran

nafas orang sehat tersebut.

Virus ini juga dapat menular dengan mudah dari orang ke orang melalui

droplet dan partikel kecil yang dihasilkan ketika orang yang terinfeksi batuk atau

bersin. Influenza cenderung menyebar cepat pada epidemi musiman. Kebanyakan

orang yang terinfeksi sembuh dalam waktu satu sampai dua minggu tanpa

memerlukan perawatan medis. Namun, di sangat muda, orang tua, dan mereka

dengan kondisi medis yang serius, infeksi dapat mengakibatkan komplikasi parah

dari pneumonia, kondisi yang mendasari dan kematian.

Shedding virus influenza (waktu di mana seseorang dapat menularkan virus

pada orang lain) dimulai satu hari sebelum gejala muncul dan virus akan

dilepaskan selama antara 5 sampai 7 hari, walaupun sebagian orang mungkin

melepaskan virus selama periode yang lebih lama. Orang yang tertular influenza

paling infektif pada hari kedua dan ketiga setelah infeksi. Jumlah virus yang

dilepaskan nampaknya berhubungan dengan demam, jumlah virus yang

dilepaskan lebih besar saat temperaturnya lebih tinggi. Anak-anak jauh lebih

infeksius dibandingkan orang dewasa dan mereka melepaskan virus sebelum

mereka mengalami gejala hingga dua minggu setelah infeksi. Penularan influenza

dapat dimodelkan secara matematis, yang akan membantu dalam prediksi

bagaimana virus menyebar dalam populasi (Anonim, 2012).

2.4.4 Tanda dan Gejala

Menurut Soedarmo (2002), gejala dan tanda influenza pada anak dan

dewasa berbeda, yaitu anoreksia, nyeri perut, muntah, mual, pembesaran kelenjar
19

servikal dan demam sampai 38,9°C, lebih sering ditemukan pada anak

dibandingkan dengan pasien dewasa lain, berbeda dengan pendapat Biddulp

(1999), menurutnya gejala dan tanda influenza adalah demam, malaise (merasa

kurang enak badan), nausea (mual, seperti mau muntah), sakit kepala, muntah,

sakit tenggorokan, sakit mata, nyeri otot dan ingus encer. Influenza dapat

berlangsung selama tiga sampai sepuluh hari. Kekebalan terhadap influenza

terjadi sebagai akibat dari interaksi kompleks antara mekanisme humoral,

sekretori, dan seluler.

2.4.5 Patofisiologi Influenza

Virus flu menyerang sel-sel permukaan saluran napas. Jaringan menjadi

bengkak dan meradang. Namun meskipun rusak jaringan ini akan sembuh dalam

beberapa minggu. Meskipun influenza sering disebut penyakit pernapasan, namun

penyakit ini bisa memberi pengaruh ke seluruh tubuh.Penderita secara tiba-tiba

menjadi demam, letih, lesu, kehilangan selera makan, dan sakit kepala, belakang

tangan dan kaki.Juga menderita sakit tenggorokan dan batuk kering, mual dan

mata seperti terbakar. Panas bisa meningkat hingga 104 derajat Fahrenheit, tapi

akan menurun setelah 2 hingga 3 hari. Gejala saluran nafasnya sendiri bisa berupa

pilek dan batuk. Transimisi virus influenza lewat partikel udara dan lokalisasinya

ditraktus respiratorius. Penularan bergantung pada ukuran partikel (droplet) tang

membawa virus tersebut masuk ke dalam saluran nafas. Pada dosis infeksius 10

virus/droplet 50% orang-orang terserang dosis ini akan menderita influenza. Virus

akan melekat pada epitel sel di hidung dan bronkus. Setelah virus berhasil

menerobos masuk ke dalam sel, dalam beberapa jam sudah mengalami replikasi.
20

Partikel-partikel virus baru ini kemudian menggabungkan diri dekat permukaan

sel, dan langsung dapat meninggalkan sel untuk pindah ke sel lain. Virus

influenza dapat mengakibatkan demam tapi tidak sehebat efek pirogen lipopoli-

sakarida kuman Gram negatif (Nelwan, 2006).

2.4.6 Terapi influenza

1. Terapi obat modern

Untuk mencegah infeksi virus influenza hingga kini belum ditemukan

obatnya. Setelah terinfeksi, tubuh membentuk zat-zat penangkis. Jenis virus

influenza banyak, maka flu akan kambuh lagi, sehingga tiap kali virus kembali

menyerang, tubuh belum siap melawan serangan virus tersebut. Risiko terkena

infeksi dapat diperkecil dengan cara-cara hidup sehat yang ditujukan untuk

meningkatkan sistem daya tahan tubuh, misalnya cukup tidur dan makan

dietsehari-hari yang bervariasi dengan banyak konsumsi sayur dan buah-buahan.

Dengan demikian, tubuh diberi kesempatan untuk memperkuat sistem tangkisnya

dan mengahalau semua virus penyerbu. (Tjay dan Rahardja, 1993).

2. Terapi alternatif (obat Tradisional)

Beberapa penyakit bisa di cegah dan diobati dengan obat tradisioanal. sudah

di pahami bahwa flu di sebabkan oleh infeksi virus yang menimbulkan sakit bila

terjadi penurunan daya tahan tubuh seseorang. Maka beberapa tanaman obat

tradisional dapat digunakan untuk mengatasi penyakit flu dengan meredakan

gejala demam, pilek, batuk, nyeri otot dan tulang dan meningkatkan daya tahan

tubuh.Lebih baik lagi bila tanaman obat tersebut mempunyai daya antivital.

Tanaman obat tradisional dapat di gunakan secara tunggal atau dalam bentuk
21

ramuan. Berikut ini beberapa tanaman obat tradisional yang telah diketahui dan

bisa digunakan untuk mengatasi flu / influenza :

a) Tapak liman (Elephantophus scaber)

Dalam pengobatan tradisional cina, tapak liman di kenal sebagai

tanaman yang memiliki rasa pahit, pedas, dan sejuk. Bisa digunakan untuk

anti radang (radang amandel dan tenggorokan, radang hati radang ginjal),

peluruh air seni, menghilangkan bengkak, menetralkan racun, mengatasi

perut kembung, disentri, pembersih darah, dan peluruh haid.

b) Ciplukan (Physallis peruviana L.)

Tanaman ini mempunyai rasa pahit dan sejuk, memiliki sifat sebagai

pereda demam dan nyeri (anti piretik dan analgesik), peluruh air seni,

penetral racun, dan mengaktifkan fungsi kelenjar kelenjar tubuh.

c) Sambiloto (Androgaphis paniculata Burm. F nees)

Tanaman ini memiliki rasa pahit, dan dingin.Mempunyai fungsi

menurunkan demam (antipiretik), anti radang, anti racun, anti bengkak dan

mengaktifkan kelenjar kelenjar tubuh.Tanaman ini ini dapat merangsang

fagositosis untuk meningkatkan aktivitas kekebalan seluler hingga efektif

melawan virus ataupun kuman.

d) Pulutan (Urena lobata)

Tanaman ini memiliki rasa manis, tawar, dan sejuk. Memiliki efek

menurunkan demam (antipiretik), anti radang memperbaiki fungsi kelenjar

kelenjar tubuh.

e) Meniran (Phylantus Urinaria Linn)


22

Tanaman ini memiliki rasa agak asam dan sejuk memiliki efek

menurunkan demam, peluruh air seni, Anti radang (radang ginjal dan radang

hepatitis) dan juga dapat menigkatkan kekebalan tubuh.

3. Terapi Non obat

Adapun tindakan umum yang dapat dilakukan pada pasien influenza yaitu:

a) Istirahat dan cukup tidur

b) Makan diet sehari-hari yang bervariasi dengan banyak konsumsi

sayur-mayur dan buah-buahan

c) Minum cukup cairan dan istirahat selama satu sampai tiga hari sampai

tubuh pulih

d) Menghindari tempat-tempat umum untuk mencegah penularan.

Hal diatas dimaksudkan untuk memberikan kesempatan tubuh untuk

memperkuat sistem daya tahan tubuh dan menghalau semua virus penyerbu (Tjay

dan Rahardja,1993).

2.4.7 Usaha pencegahan

Usaha yang dapat dilakukan dalam upaya pencegahan influenza antara lain:

1. Vaksinasi

Untuk pencegahan influenza di banyak negara Barat, setiap tahun diberikan

2 minggu sebelumnya epidemi yang diperkirakan. Namun, vaksinasi tidak

memberikan jaminan terhindar dari influenza. Tetapi, jika terserang infeksi

biasanya gejala-gejalanya lebih ringan (Tjay dan Rahardja,1993).

2. Antibiotik
23

Antibiotika hanya digunakan pada orang-orang yang berisiko tinggi dengan

daya tangkis lemah, seperti pada penderita bronkitis kronis, jantung atau ginjal.

Mereka mudah dihinggapi infeksi sekunder dengan bakteri, yang tak jarang

berakhir fatal (Maulana, 2010).

3. Vitamin C

Adanya radikal bebas dapat menyebabkan kerusakan jaringan pada tubuh.

Kerusakan jaringan tersebut dapat terlihat pada proses menua, kanker, dan

penyakit lain seperti jantung, pembuluh, mata, paru, lambung, usus dan sistem

imun. Menurut ahli ortomolekuler, vitamin C 500-1000 mg berguna sebagai

antioksidan, yakni melindungi jaringan tubuh terhadap kerusakan oksidatif oleh

radikal bebas yang merugikan jaringan tubuh, antara lain membran sel dan

intiDNA. Perlindungan dilakukan dengan mengaktifasi fagosit dan menstimulasi

produksi interferon dengan daya antiviral. Oleh karena itu dalam keadaan

streskontinu dan pembebanan belebihan sehingga daya tahan tubuh menurun,

asupan vitamin C dalam dosis tinggi sangat berguna (Maulana, 2010).

4. Aturan hidup sehat

Menurut Tjay dan Rahardja (1993), Resiko adanya infeksi dapat diperkecil

dengan cara hidup yang ditujukan untuk meningkatkan sistem daya tahan tubuh.

Hal-hal yang dapat dilakukan diantaranya dengan:

a. Tidak makan makanan yang berlemak, gula, garam tinggi, berbumbu

dan alkohol

b. Makan buah, sayur, bawang merah dan bawang putih

c. Istirahat cukup dan olahraga ringan.


24

2.4.8 Obat-Obat Penyakit Influenza

Untuk mencegah infeksi virus influenza hingga kini belum ditemukan

obatnya. Setelah terinfeksi, tubuh membentuk zat-zat penangkis. Jenis virus

influenza banyak, maka flu akan kambuh lagi, sehingga tiap kali virus kembali

menyerang, tubuh belum siap melawan serangan virus tersebut. Risiko terkena

infeksi dapat diperkecil dengan cara-cara hidup sehat yang ditujukan untuk

meningkatkan sistem daya tahan tubuh, misalnya cukup tidur dan makan diet

sehari-hari yang bervariasi dengan banyak konsumsi sayur dan buah-buahan.

Dengan demikian, tubuh diberi kesempatan untuk memperkuat sistem tangkisnya

dan mengahalau semua virus penyerbu (Tjay dan Rahardja, 1993). Untuk

mengatasi influenza dapat digunakan obat-obatan untuk mengurangi gejala yang

diderita yaitu:

1. Analgetik non narkotika

Analgetika non narkotika disebut juga analgetik antipiretik. Obat golongan

ini dapat dibeli di toko obat maupun apotek tanpa resep dokter. Analgetika

menimbulkan efek analgetik dengan cara menghambat secara langsung dan

selektif enzim-enzim pada sistem saraf pusat yang mengkatalisis biosintesis

prostaglandin, seperti siklooksigenase, sehingga mencegah sensitisasi reseptor

rasa sakit oleh mediator-mediator rasa sakit, seperti bradikinin, histamin,

serotonin, prostasiklin, prostaglandin, ion-ion hidrogen dan kalium, yang

merangsang rasa sakit secara mekanis atau kimiawi. Antipiretik menimbulkan

efek dengan meningkatkan eliminasi panas, pada penderita dengan suhu badan

tinggi, dengan cara menimbulkan dilatasi pembuluh darah perifer dan mobilisasi
25

air sehingga terjadi pengenceran darah dan pengeluaran keringat (Siswandono dan

Soekardjo, 2000). Contoh: asetaminofen (parasetamol), asetosal.

a. Asetaminofen (paracetamol)

Derivat asetanilida ini adalah metabolit dari fenasetin, yang dahulu banyak

digunakan sebagai analgetik. Namun, pada tahun 1978 fenasetin telah ditarik dari

peredaran karena efek sampingnya (nefrotoksisitas dan karsinogen) Dewasa ini

asetaminophen umumnya dianggap sebagai zat antinyeri yang paling aman, juga

untuk swamedikasi. Efek analgetiknya dapat diperkuat oleh kofein dengan kira-

kira 50%. Resorpsinya dari usus cepat dan praktis tuntas, secara rektal lebih

lambat. Dalam hati, zat ini diuraikan menjadi metabolit-metabolit toksis yang

diekskresi lewat kemih sebagai konjugat glukuronida dan sulfat. Efek samping tak

jarang terjadi antara lain hipersensitivitas dan kelainan darah. Parasetamol

termasuk dalam daftar obat kategori aman untuk wanita hamil juga selama laktasi

walaupun mencapai air susu ibu. Dosis dewasa untuk nyeri dan demam oral 2-3

kali sehari 0,5 gram, maksimum 4 gram/hari (Tjay dan Rahardja, 2002).

b. Asetosal (asam asetilsalisilat atau aspirin)

Asetosal merupakan obat antinyeri tertua juga berkhasiat sebagai

antidemam, namun pada dosis tinggi lebih bekerja sebagai analgetik karena

bekerja dengan perintangan prostaglandin di ujung- ujung saraf. Pada umumnya

mulai kerjanya agak cepat, dalam 20-30 menit dan efeknya bertahan hingga 5 jam

(Tjay dan Rahardja, 1993). Asetosal dapat menimbulkan efek samping iritasi

lambung. Iritasi lambung akut kemungkinan berhubungan dengan gugus

karboksilat yang bersifat asam, sedangkan iritasi kronik dapat disebabkan oleh
26

penghambatan pembentukan prostaglandin E1 dan E2 yaitu senyawa yang dapat

meningkatkan vasodilatasi mukosa lambung, sehingga terjadi peningkatan sekresi

asam lambung dan vasokonstriksi mukosa lambung yang menyebabkan nekrosis

iskemik dan kerusakan mukosa lambung (Siswandono dan Soekardjo, 2000).

Sehingga, untuk mengatasi hal tersebut sebaiknya diberikan sesudah makan atau

dalam bentuk garam kalsiumnya (Ascal) (Tjay dan Rahardja, 1993). Obat ini tidak

dianjurkan untuk anak-anak karena berisiko menimbulkan Sindroma Rye yang

berbahaya. Sindrom ini berciri muntah hebat, termangu-mangu, gangguan

pernafasan, konvulsi dan adakalanya koma. Begitu pula wanita hamil sebaiknya

tidak mengkonsumsinya, terutama pada trimester terakhir dan sebelum persalinan,

karena lama kehamilan dan persalinan dapat diperpanjang, juga kecenderunga

perdarahan meningkat. Pada laktasi sebaiknya juga dihindari karena dapat

mencapai ASI, sehingga dapat mengganggu perkembangan bayi. Dosisnya untuk

nyeri dan demam oral 4 kali sehari 0,5-1 gram, maksimum 4 gram sehari (Tjay

dan Rahardja, 2002).

2. Dekongestan

Dekongestan merupakan golongan simpatomimetika yang bekerja pada

reseptor adrenergik. Contoh dekongestan dalam obat flu antara lain: Efedrin,

Epinefrin, Fenilefrin HCl, Pseudoefedrin HCl (Tjay dan Rahardja, 2002).

a. Efedrin

Efedrin adalah alkaloid yang diperoleh dari tumbuhan efedra.

Farmakodinamik dari efedrin sama seperti amfetamin (tetapi efek sentralnya lebih

lemah) atau mirip seperti epinefrin. Di bandingkan dengan epinefrin, efedrin dapat
27

diberikan peroral, masa kerjanya jauh lebih lama, efek sentralnya lebih kuat dan

untuk terapi diperlukan efek yang lebih besar dari dosis epinefrin. Seperti

epinefrin, efedrin menimbulkan bronkodilatasi, tetapi efeknya lebih lemah dan

berlangsung lama.

Dalam klinis efedrin dapat digunakan sebagai dekongestan diberikan per

oral, efek samping efedrin sama seperti amfetamin, tetapi efek samping pada SSP

lebih ringan (anonim, 2004b).

Contoh obat yang mengandung efedrin (Hardjasaputra dkk, 2002):

a) Dalam tiap tablet mixadin (Dankos, obat batuk) mengandung 12,5 mg

efedrin.HCl. Efedrin.HCl merupakan suatu simpatomimetik yang berfungsi

untuk melonggarkan saluran nafas dan melegakan pernafasan.

b) Dalam tiap tablet demacolin (Coronet, obat demam) mengandung

efedrin.HCl 7,5 mg. Dalam tiap tablet asmasolon(Westmont, antiasma)

mengandung 12,5 mg efedrin.HCl.

c) Dalam tiap 5 mL noscapax (Nicholas, sirup obat batuk) mengandung 8 mg

efedrin.HCl. Efedrin HCl mempunyai efek bronkodilatasi untuk

memperlancar jalannya pernafasan.

d) Dalam tiap 5 mL oskadryl (Supra FF, sirup obat batuk) mengandung 10 mg

efedrin.HCl. Dalam tiap tablet prinasma(Medikon, obat antiasma)

mengandung 2,5 mg efedrin.HCl.

b. Pseudoefedrin

Pseudoefedrin (PSE) adalah bentuk distereomer dari efedrin yang biasanya

digunakan sebagai dekongestan. Pseudoefedrin selain diperoleh dari tanaman


28

efedra (Ma Huang, sama dengan efedrin), secara industri diperoleh dari hasil

fermentasi dektrosa dengan benzaldehid. Cina dan India merupakan negara

Industri pseudoefedrin terbesar didunia dan sebagian besar adalah untuk keperluan

ekspor.

Contoh obat yang mengandung pseudoefedrin (Hardjasaputra dkk, 2002):

a) Dalam tiap tablet Actifed (Glaxo, obat pilek) mengandung 60 mg

pseudoefedrin.HCl. Pseudoefedrin.HCl mempunyai aktivitas

simpatomimetik langsung maupun tidak langsung dan merupakan

dekongestan saluran nafas bagian atas.

b) Dalam tiap tablet actigesic (Glaxo) mengandung 60 mg pseudoefedrin.HCl.

Pseudoefedrin merupakan dekongestan pada membrane mukosa dari saluran

pernafasan atas khususnya mukosa nasal dan sinus.

c) Dalam tiap tablet alerfed (Guardian, obat gangguan pernafasan)

mengandung 60 mg pseudoefedrin.HCl. Pseudoefedrin.HCl adalah suatu

turunan dari efedrin yang merupakan simpatomimetik dengan efek

bronkodilator, sehingga dapat melegakan pernafasan.

d) Dalam tiap tablet anakonidin (Konimex, sirup obat batuk dan pilek untuk

anak) mengandung 60 mg pseudoefedrin.HCl.

e) Dalam tiap tablet clarinase (Schering Pl., obat pilek) mengandung 120 mg

pseudoefedrin sulfat. Pseudoefedrin sulfat adalah salah satu dari alkaloid

Ephedra yang diperoleh secara alamiah dan vasokonstriktor yang diberikan

secara oral, memberikan suatu efek dekongestan yang bertahap namun


29

berlangsung lama yang membebaskan penyempitan dari mukosa yang

mengalami kongesti pada saluran nafas bagian atas.

f) Dalam tiap tablet librofed (Bintang 7, obat pilek) mengandung 60 mg

pseudoefedrin.HCl. Pseudoefedrin mempunyai khasiat simpatomimetik dan

merupakan dekongestan saluran nafas atas. Pseudoefedrin lebih lemah

daripada efedrin dalam menimbulkan takikardi, peningkatan tekanan darah

sistolik, maupun perangsangan susunan saraf pusat.

g) Dalam tiap tablet nasafed (Medikon, obat pilek) mengandung 60 mg

pseudoefedrin.HCl, sirup mengandung 30 mg pseudoefedrin.HCl.

Pseudoefdrin HCl merupakan suatu simpatomimetik yang memiliki khasiat

bronchial dan nasal dekongesti sehingga melegakan saluran pernafasan

melalui cara vasokonstriksi dan menghilangkan pembengkakan mukosa

hidung serta merelaksasi otot polos bronkus.

h) Dalam tiap tablet nichofed (Nicholas, obat influenza) mengandung 60 mg

pseudoefedrin.HCl, sirup mengandung 30 mg pseudoefedrin.HCl.

Pseudoefedrin.HCl mempunyai aktivitas simpatomimetik dan bekerja

sebagai dekongestan saluran pernafasan bagian atas, digunakan untuk

menghilangkan kongesti nasal dan bronchial.

i) Dalam tiap tablet stop cold (Darya Varia, obat influenza) mengandung 30

mg pseudoefedrin.HCl.