Anda di halaman 1dari 77

TiO2-SiO2 HASIL SINTESIS DARI ABU DAUN BAMBU DAN

PREKURSOR TITANIUM (IV) BUTOKSIDA SEBAGAI FOTOKATALIS

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mencapai gelar Sarjana Sains (S.Si)
pada Program Studi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Islam Indonesia

Oleh:

ANDITA AINUN NAAFI


No. Mahasiswa: 14612095

PROGRAM STUDI KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2017

i
ii
iii
HALAMAN PERSEMBAHAN

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin

Puji syukur atas segala rahmat dan hidayah Allah SWT yang telah memberi ilmu
pengetahuan dan kemudahan sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan tugas
akhir ini dengan baik.

Atas izin Allah SWT


Karya tulis ini penulis persembahkan untuk :

Ibunda dan Ayahanda Tercinta, sebagai bakti dan rasa terimakasih ku persembahkan
karya kecil ini kepada Ibu dan Ayah yang telah memberikan kasih sayang,
memberikan dukungan, yang selalu mendaokanku, selalu menasehatiku agar menjadi
pribadi yang lebih baik. Semoga ini menjadi langkah awal untuk membuat Ibu dan
Ayah Bahagia, karna ku sadar selama ini belum bisa memberi dan berbuat yang lebih.
Ainun selalu berusaha membahagiakan Ibu dan Ayah.
Terimakasih Ibu… Terimakasih Ayah…
Owta Pandu Quwaiyu, walaupun jarang komunikasi tapi kakak tetap sayang adek.
Maaf kakak belum bisa menjadi panutan yang baik buat adek, tetapi kakak selalu
mendoakan yang terbaik buatmu. Semoga kelak kita berdua menjadi orang sukses ya.
Teman penelitian sekaligus teman seperjuanganku Dikha Utami Trisnawati, Atin,
Lita, Ulil, Rohini, Welly, Greef, Rivaldo, Yulan, Burhan...terimakasih untuk
bantuan dan kerjasama selama proses penelitian, semoga kita semua menjadi sarjana
yang Rahmatan Lil Alamin dan sukses kedepannya,
Aamiiin.

Sahabat-sahabat Kimia B yang berjuang bersama serta selalu memberikan dukungan,


bantuan dan semangat dari awal semester hingga saat ini
Semua pihak yang tiada henti memberikan do'a, motivasi, semangat, bantuan, dan
dukungan
terimakasih atas kebersamaan kurang lebih 4 tahun ini,
Semoga silaturrahim tetap terus terjaga.

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan
KATA beberapa derajat. (QS. Al-Mujadalah:11)
PENGANTAR

iv
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh


Alhamdulillahirabbil’allamin puji syukur penulis ucapkan setinggi-
tingginya atas kehadirat dan nikmat Allah SWT sehingga atas izin-Nya penulis
dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “TiO2-SiO2 HASIL SINTESIS DARI
ABU DAUN BAMBU DAN PREKURSOR TITANIUM (IV) BUTOKSIDA
SEBAGAI FOTOKATALIS”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat bagi
mahasiswa untuk memperoleh gelar Sarjana Sains (S.Si) pada Program Studi
Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di Universitas Islam
Indonesia.

Dalam penyusunan skripsi ini, dari awal hingga akhir telah banyak pihak yang
memberikan bantuan dan masukan baik berupa moril maupun materil. Untuk itu,
penulis menghaturkan terimakasih banyak yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Nandang Sutrisno, SH., M.Hum., LLM., Ph.D selaku Rektor Universitas

Islam Indonesia.

2. Bapak Drs. Allwar, M.Sc., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Matematika Dan Ilmu

Pengetahuan Alam Universitas Islam Indonesia yang telah memberikan sarana

dan prasarana bagi penulis.

3. Ibu Dr. Is Fatimah selaku Dosen Pembimbing Skripsi dan Ketua Program Studi

Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Islam

Indonesia Yogyakarta yang telah membimbing secara tulus dan ikhlas sehingga

saya mampu menyelesaikan, melaksanakan penelitian hingga pendadaran

skripsi dengan hasil yang baik.

v
4. Bapak Dr.Dwiarso Rubiyanto selaku dewan penguji I serta Bapak Gani

Purwiandono, M.Sc selaku dewan penguji II yang telah memberikan arahan,

kritik dan saran sehingga saya lebih mendapatkan ilmu baru untuk saya.

5. Seluruh Dosen Kimia, staff pengajar, laboran dan karyawan Fakultas

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam atas ilmu dan dukungannya yang

telah diberikan selama ini.

6. Almamater saya Universitas Islam Indonesia, tempat di mana saya menuntut

ilmu.

Penulis menyadari bahwa Skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu dengan senang hati penulis menerima kritik dan saran sebagai bahan
perbaikan. Akhir kata, penulis berharap semoga Allah SWT membalas kebaikan
semua pihak yang turut membantu dan semoga Skripsi ini dapat bermanfaat bagi
pembaca.

Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh


Yogyakarta, 6 juni 2017

Penulis

Andita Ainun Naafi

vi
TiO2-SiO2 HASIL SINTESIS DARI ABU DAUN BAMBU DAN
PREKURSOR TITANIUM (IV) BUTOKSIDA SEBAGAI FOTOKATALIS

INTISARI

Andita Ainun Naafi


NIM 14612095

Sintesis fotokatalis TiO2-SiO2 menggunakan daun bambu sebagai sumber silika


telah dilakukan. Silika diekstraksi dari abu daun bambu dan penambahan
precursor Titanium (IV) butoksida menggunakan metode sol-gel. Tujuan
penelitian ini adalah mendegradasi methylene blue menggunakan fotokatalis TiO2-
SiO2 serta mengkaji pengaruh sinar, lama penyinaran dan variasi konsentrasi.
Fotokatalis yang telah disintesis dikarakterisasi menggunakan SEM, FTIR, XRD,
SAA dan DR UV-Vis. Karakterisasi SEM menunjukkan bahwa dengan
penambahan SiO2 akan merubah morfologi fotokatalis TiO2. Analisis FTIR
menunjukkan bahwa adanya serapan vibrasi ulur OH (Si-OH) pada 3411,92 cm-1
dan vibrasi tekuk OH (Si-OH) pada 1640,65 cm-1, 1635,87 cm-1 (Ti-OH), 794,93
cm-1 (Si-O-Si) and 965 cm-1 (Ti-O-Si). Komposit TiO2-SiO2 yang terbentuk
merupakan material yang memiliki fase anatase pada 2θ= 25 dengan ukuran
kristal 7,93 nm. Hasil ini diperkuat oleh karakterisasi SAA menunjukkan bahwa
komposit TiO2-SiO2 merupakan material mesopori, volume pori yang dimiliki
komposit TiO2-SiO2 yaitu 0,392 serta jari-jari pori 284,45 Å. Energi bandgap
yang dimiliki yaitu 3,57 eV. Aktivitas fotokatalitik dari TiO2-SiO2 dalam
degradasi methylene blue diuji melalui fotodegradasi. Hasil menunjukkan bahwa
fotoaktivitas yang dihasilkan signifikan pada laju degradasi dalam degradasi
methylene blue dengan variasi perlakuan konsentrasi. Semakin besar konsentrasi
fotoaktivitas semakin menurun. Konsentrasi yang optimum digunakan dalam
degradasi methylene blue yaitu 10-3 M.
Kata Kunci: prekursor titanium butoksida, methylene blue, fotokatalis TiO2-SiO2,
Fotodegradasi

vii
PREPARATION OF TiO2-SiO2 PHOTOCATALYST USING BAMBOO’S
LEAVES ASH AND TITANIUM (IV) BUTOXIDE PRECURSOR

ABSTRACT

Andita Ainun Naafi


NIM 14612095

Preparation of photocatalyst material, TiO2-SiO2 using Bamboo leaves as silica


source has been investigated. Silica was extracted from Bamboo’s leaves ash and
the composite formation was conducted using Titanium (IV) butoxide precursors
through the method of sol-gel. Purpose of this research is degradation of
methylene blue using TiO2-SiO2 photocatalyst and study the effect of light, time
irradiation and varied concentration. Prepared materials were characterized by
using SEM, FTIR, XRD, SAA and DR UV-Vis. From SEM characterization
shows that the addition of SiO2 will alter the morphology of TiO2 photocatalyst.
FTIR analysis results that in peaks 3411,92 cm-1 stretching vibration OH owned
Si-OH bonds, and absorption 1640,65 cm-1 stretching vibration Si-OH bending,
1635,87 cm-1 (Ti-OH), 794,93 cm-1 (Si-O-Si) and 965 cm-1 (Ti-O-Si). The XRD
results indicated the formation of materials has is anatase phases (2θ= 25) of
titanium dioxide in the composite form with a size of 7,93 nm. This results is
supported by SAA characterization indicated that the photocatalyst have a
mesopore materials. The pore volume of the TiO2-SiO2 composite is 0.392 and the
pore radius is 284.45 Å. The bandgap energy of TiO2-SiO2 photocatalyst is 3,57
eV. Photocatalytic activity of the materials TiO2-SiO2 was tested in methylene
blue photodegradation. The results showed the significant photoactivity as
indicated by the degradation rate of methylene blue at varied treatments. As the
methylene blue concentration increases the resulting photoactivity decreases. The
optimum concentration used in methylene blue degradation is 10-3 M.
Keywords: Titanium (IV) butoxide precursors, methylene blue, TiO2-SiO2
photocatalyst, photodegradation.

viii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... ii
PERNYATAAN PLAGIARISME .................................................................. iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................... iv
KATA PENGANTAR .................................................................................... v
INTISARI ........................................................................................................ vii
ABSTRACTS .................................................................................................. viii
DAFTAR ISI ................................................................................................... ix
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xii
DAFTAR TABEL ........................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xiv
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................. 4
1.3 Tujuan ................................................................................................. 5
1.4 Manfaat Penelitian .............................................................................. 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................... 6
2.1 Fotokatalis TiO2-SiO2 ......................................................................... 6
2.2 Hipotesis Penelitian ............................................................................. 9
BAB III DASAR TEORI ................................................................................ 10
3.1 Silika (SiO2) ........................................................................................ 10
3.2 Titanium Dioksida (TiO2) ................................................................... 11
3.3 Fotokatalis TiO2-SiO2 ......................................................................... 12
3.4 Metode Sol Gel ................................................................................... 13
3.5 Metilen Biru ....................................................................................... 13
3.6 Fotodegradasi ..................................................................................... 14

ix
3.7 Karaterisasi Komposit TiO2-SiO2 ....................................................... 15
3.7.1 Scanning Electron Microscopy-Energy
Dispersive X-Ray (SEM-EDX) .................................................. 15
3.7.2 Fourier Transform Infra Red (FTIR) ........................................ 16
3.7.3 X-Ray Diffraction (XRD) ........................................................... 17
3.7.4 Surface Area Analyzer (SAA) .................................................... 19
3.7.5 UV-Visible Diffuse Reflectance (DR-UV) ................................. 20
3.7.6 Spektrofotometer UV-Vis .......................................................... 21
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN ....................................................... 22
4.1 Alat ...................................................................................................... 22
4.2 Bahan ................................................................................................... 22
4.3 Prosedur Kerja ..................................................................................... 22
4.3.1 Preparasi sampel (daun bambu) ................................................. 22
4.3.2 Preparasi TiO2-SiO2 dengan penambahan prekursor
Titanium (IV) butoksida ............................................................ 22
4.4 Karakteristik Komposit TiO2-SiO2 ...................................................... 23
4.4.1 Karakteristik dengan Scanning Electron Microscopy
(SEM) dan Energy Dispersive X-Ray (EDX) ............................ 23
4.4.2 Karakteristik dengan Spektrofotometer Infra Merah (FTIR)
atau (Fourier Transform Infra Red) ........................................... 23
4.4.3 Karakteristik dengan Spektrofotometer Difraksi Sinar-X
(XRD) ........................................................................................ 23
4.4.4 Karakteristik dengan Surface Area Analyzer (SAA) ................. 24
4.4.5 Karakteristik dengan Spektrofotometer UV-Visible Diffuse
Reflectance (DR-UV) ................................................................ 24
4.4.6 Pengujian Aktivitas Fotokatalitik Komposit TiO2-SiO2 ............ 24
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................... 25
5.1 Sintesis Fotokatalis TiO2-SiO2 ............................................................ 25
5.2 Karakterisasi Scanning Eelectron Microscope-Energy Dispersive
X-Ray Spectroscopy (SEM-EDX) ....................................................... 27

x
5.3 Karakterisasi Fourier Transform Infra Red (FTIR) ............................ 31
5.4 Karakterisasi X-Ray Diffraction (XRD) .............................................. 33
5.5 Karakterisasi Surface Area Analyzer (SAA) ....................................... 35
5.6 Karakterissai Spektrofotometer UV-Visible Diffuse
Reflectance (DR-UV) ......................................................................... 36
5.7 Uji Fotodegradasi Metylene Blue dengan komposit TiO2-SiO2 .......... 38
BAB VI PENUTUP ........................................................................................ 44
6.1 Kesimpulan ......................................................................................... 44
6.2 Saran .................................................................................................... 44
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 45
LAMPIRAN .................................................................................................... 50

xi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Struktur Tetrahedral Silika ......................................................... 10

Gambar 2. Bentuk Kisi Kristal TiO2 ............................................................ 11

Gambar 3. Struktur Methylene Blue ............................................................ 14

Gambar 4. Skema SEM ............................................................................... 16

Gambar 5. Skema FTIR ............................................................................... 17

Gambar 6. Skema XRD ............................................................................... 18

Gambar 7. Skema DR-UV ........................................................................... 20

Gambar 8. Komposit TiO2-SiO2 .................................................................. 26

Gambar 9. Hasil SEM Silika (SiO2) ............................................................ 27

Gambar 10. Hasil EDX Silika (SiO2) ............................................................ 28

Gambar 11. Hasil SEM TiO2-SiO2 ................................................................ 29

Gambar 12. Hasil EDX TiO2-SiO2 ................................................................ 30

Gambar 13. Spektra FTIR (a) TiO2-SiO2 dan (b) SiO2 .................................. 31

Gambar 14. Spektra XRD SiO2 dan TiO2-SiO2 ............................................. 34

Gambar 15. Kurva Isoterm Linear TiO2-SiO2 ............................................... 35

Gambar 16. Spektra DR UV-Vis TiO2-SiO2 .................................................. 37

Gambar 17. Uji Fotodegradasi MB variasi konsentrasi ................................. 39

xii
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Gugus fungsional komposit hasil sintesis ......................................... 33

Tabel 2. Data orde reaksi uji fotodegradasi dengan UV ................................. 41

Tabel 3. Data orde reaksi uji fotodegradasi tanpa UV .................................... 42

xiii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Hasil abu daun bambu ............................................................. 50


Lampiran 2. Fotodegradasi Metilen Biru dengan UV .................................. 50
Lampiran 3. Fotodegradasi Metilen Biru tanpa UV .................................... 51
Lampiran 4. Hasil Fotodegradasi Metilen Biru dengan UV ........................ 51
Lampiran 5. Hasil Metilen Biru tanpa UV ................................................... 52
Lampiran 6. Perhitungan pembuatan katalis TiO2-SiO2 10% ...................... 52
-3
Lampiran 7. Perhitungan MB konsentrasi 10 M ........................................ 52
Lampiran 8. Perhitungan MB konsentrasi 2.10-3 M ..................................... 53
Lampiran 9. Perhitungan MB konsentrasi 5.10-3 M ..................................... 53
Lampiran 10. Perhitungan konstanta laju reaksi MB
konsentrasi 10-3 M dengan UV ................................................ 53
Lampiran 11. Perhitungan konstanta laju reaksi MB
konsentrasi 2.10-3 M dengan UV ............................................. 53
Lampiran 12. Perhitungan konstanta laju reaksi MB
konsentrasi 5.10-3 M dengan UV ............................................. 54
Lampiran 13. Perhitungan konstanta laju reaksi MB
konsentrasi 10-3 M tanpa UV ................................................... 54
Lampiran 14. Perhitungan konstanta laju reaksi MB
konsentrasi 2.10-3 M tanpa UV ................................................ 54
Lampiran 15. Perhitungan konstanta laju reaksi MB
Konsentrasi 5.10-3 M tanpa UV .............................................. 54
Lampiran 16. Hasil XRD TiO2-SiO2 .............................................................. 55
Lampiran 17. Hasil Perhitungan D Komposit TiO2-SiO2 .............................. 57
Lampiran 18. Hasil SAA TiO2-SiO2 .............................................................. 58
Lampiran 19. Hasil FTIR Silika (SiO2) ......................................................... 61
Lampiran 20. Hasil FTIR TiO2-SiO2 ............................................................. 62

xiv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Indonesia merupakan salah satu wilayah yang banyak dilimpahi tanaman
bambu. Bambu merupakan tanaman jenis rumput-rumputan yang memiliki batang
berongga, kedap air dan menyebar dengan sistim akar rizoma. Bambu yang
terdapat di Indonesia umumnya ditemukan pada pinggiran sungai dan memiliki
beberapa jenis spesies yaitu diperkirakan sekitar 159 spesies. Jenis-jenis bambu
yang ditanami di lahan kering seperti bambu petung (Dendrocalamus asper),
bambu apus (Gigantochloa. Apus Kurz), bambu legi (Gigantochloa atter), dan
bambu surat (Gigantochloa pseudoarundinacae). Sedangkan kelompok bambu
yang ditanami di lahan basah seperti bambu ampel gading (Bambusa vulgaris v.
striata), bambu ampel hijau (Bambusa vulgaris v. vitata) dan bambu ori
(Bambusa blumeana) (Sutiyono, 2005).
Dengan melimpahnya tanaman bambu yang ada di Indonesia, kalangan
masyarakat memanfaatkan tanaman tersebut untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Adapun bagian dari tanaman bambu yang sebagian besar dimanfaatkan
kalangan masyarakat yaitu bagian batangnya yang nantinya dapat digunakan
untuk pembuatan berbagai macam alat musik, bahan bangunan, transportasi,
kerajinan rumah tangga, dan lain-lain. Bagian lain selain batang pada tanaman
bambu yang dimanfaatkan masyarakat yaitu daun bambu. Terdapatnya kandungan
senyawa kimia alami pada daun bambu dapat dimanfaatkan masyarakat untuk
sebagai alternatif pengobatan herbal seperti mengobati batuk, mengobati asma,
melancarkan menstruasi dan lain-lain. Selain itu daun bambu belum dimanfaatkan
secara luas oleh masyarakat.
Daun bambu merupakan komponen bambu yang seringkali diabaikan oleh
masyarakat dan kurang dimanfaatkan. Masih banyak daun bambu hanya dibiarkan
mengering begitu saja sampai mengotori halaman sekitar. Hal ini disebabkan tidak
banyak yang tahu bahwa pada daun bambu terdapat beberapa kandungan kimia

1
yang dapat dimanfaatkan. Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan

2
2

oleh Dwivedi (2006) bahwa kandungan silika yang terdapat pada daun bambu
yaitu memiliki kandungan silika terbesar dengan kadar 75,9% setelah abu sekam
padi dengan kadar 93,2%. Dari kandungan silika cukup tinggi yang dimiliki daun
bambu maka memungkinkan memanfaatkan daun bambu yang lebih optimal serta
dapat mengurangi pencemaran lingkungan akibat banyaknya daun bambu yang
berserakan di lingkungan.
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka penulis memanfaatkan daun
bambu sebagai sumber silika (SiO2). Seperti yang telah dilakukan penelitian
sebelumnya oleh Gao (1999) SiO2 merupakan material pendukung katalis yang
mempunyai stabilititas termal dan ketahanan mekanik yang tinggi serta mampu
menjaga kinerja bahan semikonduktor fotokatalis TiO2 (Strauss dkk, 2011;
Sellapan, 2013). Dengan beberapa sifat keunggulan yang dimiliki oleh silika
maka penulis melakukan pengembanan fotokatalis TiO2 pada SiO2 yang diperoleh
dari sumber silika daun bambu jenis bambu apus (Gigantochloa. Apus Kurz).
Tujuan penelitian ini dilakukan yaitu untuk mensintesis TiO2-SiO2 sebagai
fotokatalis yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk mendegradasi zat warna. Zat
warna merupakan suatu bahan yang tidak terlepas dari industri tekstil.
Berkembangnya industri tekstil yang sangat pesat menimbulkan dampak negatif
bagi lingkungan sebab dalam produksi industri tekstil selalu dihasilkan limbah
yakni limbah cair zat warna.
Di Indonesia, limbah dari industri tekstil masih tercemar dari pewarna sintesis.
Pewarna-pewarna berbahan kimia tersebut tergolong tidak ramah lingkungan.
Selain berbahaya bagi manusia, limbah yang dihasilkan dari industri tekstil
merupakan senyawa organik non-biodegradable yang dapat menyebabkan
pencemaran lingkungan terutama lingkungan perairan sehingga mengakibatkan
organisme dalam air akan mati.

Saat ini limbah zat warna tekstil menjadi perhatian tersendiri hal ini
disebabkan: (1) Penggunaan tekstil akan selalu mengikuti peningkatan jumlah
populasi penduduk, (2) Sulitnya pengolahan limbah zat warna disebabkan
terdapatnya struktur aromatik yang dimiliki zat warna sehingga sulit terdegradasi
(3) Secara umum zat warna serta dibuat agar memiliki sifat yang resistensi
3

terhadap pH, suhu dan aktivitas mikroba serta pengaruh lingkungan lainnya, (4)
Pewarna azo yang menghasilkan limbah zat warna mempunyai sifat toksisitas
yang tinggi dan limbah tersebut bersifat karsinogenik (Yang dkk, 2003; Hussein,
2011).

Dari beberapa zat warna yang ada, pada perindustrian tekstil yang sering
digunakan yaitu zat warna Methylene Blue. Zat warna Methylene Blue termasuk
salah satu zat warna penting dalam proses pewarnaan industri tekstil karena
harganya relatif murah dibandingkan dengan pewarna lainnya. Penggunanan
metilen blue sudah sangat luas yaitu digunakan untuk kosmetik, pewarna sutra,
wool, tekstil dan kertas (Palupi, 2006). Dosis tinggi penggunaan Metilen blue
dapat mengganggu kesehatan manusia seperti nyeri pada perut serta dada, muntah,
mual, sakit kepala, produksi keringat berlebihan, dan menimbulkan hipertensi
(Amirullah, 2006). Dengan demikian ditetapkan nilai ambang batas yang
diperbolehkan pada perairan yaitu konsentrasi metilen blue sebesar 5-10 ppm
(Hidayat, 2008). Oleh karena itu diperlukan suatu teknik yang mampu
mempercepat penguraian limbah zat warna.

Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menanggulangi


limbah tekstil maka bervariasi metode telah dilakukan, salah satunya yaitu metode
adsorpsi. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Wijaya (2006)
menyebutkan bahwa metode adsorpsi kurang begitu efektif sebab zat warna tekstil
yang diadsorpsi tersebut masih tertimbun di dalam adsorben yang suatu saat nanti
akan menimbulkan permasalahan baru (Wijaya, 2006). Permasalahan baru yang
dimaksud karena dalam proses adsorpsi ini tidak dapat mendegradasi polutan
menjadi senyawa yang tidak berbahaya, melainkan hanya memindahkan limbah
dari cairan ke permukaan adsorben, sehingga adsorben tersebut perlu diregenerasi
bila telah jenuh (Slamet, 2008).

Beberapa metode modern seperti metode biodegradasi, klorinasi dan ozonisasi


telah dikembangkan (Gunlazuardi, 2000). Metode ini memang memberikan hasil
yang cukup memuaskan, tetapi membutuhkan biaya operasional yang cukup
mahal sehingga kurang efektif diterapkan di Indonesia. Di antara metode modern
4

penanggulangan limbah, metode fotodegradasi merupakan metode yang relatif


murah serta mudah untuk diterapkan (Hofmann, 1995). Dengan metode
fotodegradasi ini, zat warna akan diurai menjadi komponen yang lebih sederhana
yang lebih aman untuk lingkungan (Guisnet, 2002).

Pada penelitian ini dipilih alternatif untuk menguraikan limbah zat warna
adalah metode fotodegradasi menggunakan fotokatalis TiO2. Metode ini mampu
menguraikan limbah zat warna menjadi komponen-komponen sederhana melalui
oksidasi fotokatalitik. Aktivitas fotokatalitik dalam mendegradasi zat warna dapat
dilakukan dengan melakukan pengembanan TiO2 pada SiO2.

Pada penelitian ini TiO2-SiO2 di tambahkan suatu prekursor Titanium (IV)


butoksida. Selanjutnya akan diuji aktivitas fotokatalis TiO2-SiO2 butoksida dalam
degradasi zat warna Methylene Blue yang kemudian diaplikasikan ke limbah batik
menggunakan peroksida (H2O2). Proses fotodegradasi akan terlihat dari penurunan
nilai absorbansi larutan Methylene Blue dan limbah batik dengan spektroskopi
Uv-Vis selama beberapa menit.

1.2 Rumusan Masalah


Merujuk latar bakang yang telah diuraikan ada beberapa rumusan masalah
yang harus diselesaikan. Rumusan masalah yang harus diselesaikan adalah:
1. Bagaimana metode prepasi TiO2-SiO2 dengan penambahan prekursor Titanium
(IV) butoksida yang dapat digunakan sebagai fotokatalis dalam degradasi
Methylene Blue?
2. Bagaimana karakteristik fotokatalis TiO2-SiO2 dari abu daun bambu dan
prekursor Titanium (IV) butoksida?
3. Bagaimana aktivitas fotokatalis TiO2-SiO2 dalam degradasi zat warna
Methylene Blue?
4. Bagaimana pengaruh konsentrasi terhadap degradasi zat warna Methylene Blue
oleh fotokatalis TiO2-SiO2?
5

1.3 Tujuan Penelitian


1. Preparasi TiO2-SiO2 dengan penambahan prekursor Titanium (IV) butoksida
yang dapat digunakan untuk fotokatalis dalam degradasi Methylene Blue.
2. Mengetahui karakteristik fotokatalis TiO2-SiO2 dari abu daun bambu dan
prekursor Titanium (IV) butoksida.
3. Mengetahui aktivitas fotokatalis TiO2-SiO2 dalam degradasi zat warna
Methylene Blue.
4. Mengetahui pengaruh konsentrasi terhadap degradasi zat warna Methylene
Blue oleh fotokatalis TiO2-SiO2.

1.4 Manfaat Penelitian


Penelitian ini memberikan manfaat dunia industri dalam mengolah limbah
berbasis sumber daya terbarukan dengan menggunakan TiO2-SiO2 serta
penambahan prekursor Titanium (IV) butoksida sebagai fotokatalis. Apabila
fotokatalis TiO2-SiO2 butoksida memiliki aktivitas fotokatalik yang optimum
dalam degradasi zat warna maka dapat diaplikasikan secara langsung pada
pengolahan limbah yang lebih kompleks yaitu limbah tekstil.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Fotokatalis TiO2-SiO2


Semikonduktor TiO2 dalam bentuk kristalnya memiliki tiga jenis bentuk yaitu
rutil, anatas, dan brukit. Kristal rutil dan anatas memiliki struktur tetragonal
sedangkan brukit memiliki bentuk struktur ortorombik. Pada struktur kristal dan
memiliki kestabilan yang lebih stabil dibandingkan rutil. Dari ketiga bentuk
kristal tersebut, rutil dan anatas yang paling mudah diamati daripada brukit karena
kristal brukit tidak stabil. Dalam penelitian kristal rutil dan anatas memiliki
peranan penting dalam aktivitas fotokatalitik di alam (Fujishima, 2005). Massa
jenis untuk masing-masing kristal rutil dan anatas yaitu sebesar 4,2 g/L dan 3,9
g/L (Ahmed, 2010).
Secara termodinamika kristal anatase stabil pada ukuran kristal kurang dari 11
nm, rutil lebih dari 35 nm dan brukit antara 11-35 nm. Stabilitas fase yang
dimiliki pada kristal rutil yaitu pada suhu tinggi dan mempunyai band gap sebesar
3,0 eV (415 nm), sedangkan pada kristal anatas yang terbentuk pada suhu rendah
memiliki band gap sebesar 3,2 eV (380 nm) (Licciuli, 2002).
Pada bidang industri TiO2 sangat memiliki banyak peran diantaranya untuk
adsorben, sebagai zat warna atau pigmen, pendukung untuk katalitik dan bahan
semikonduktor. Adanya keterbatasan bahan semikonduktor untuk digunakan
sebagai fotokatalis maka dapat digunakan alternatif dengan melakukan
pengubahan atau pemodifikasian permukaan bahan semikonduktor dengan
penambahan SiO2. Dengan dilakukannya pengembanan TiO2 pada SiO2 dapat
meningkatkan aktivitas fotokatalis serta meningkatkan ketahanan termal (Gao,
1999)
Secara umum silika (SiO2) dapat diperoleh dari berbagai tanaman seperti padi,
bambu dan tebu. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Ding T.P dkk
(2005) yang meneliti kandungan silika pada bagian-bagian tanaman bambu seperti
pada akar, batang, cabang dan daun. Terbukti bahwa pada hasil penelitian
kandungan silika memiliki peningkatan dari akar sampai puncaknya pada daun

6
7

dengan persentase dari 0,3% pada akar sampai 9,95% pada daun.
Pada umumnya preparasi komposit TiO2-SiO2 dilakukan dengan metode sol-
gel. Metode sol gel adalah suatu metode yang sederhana dalam mensintesis
nanopartikel. Proses sol gel diawali dengan pembentukan sol. Sol merupakan
sistem koloid yang memiliki padatan tersuspensi di dalam larutannya. Sol ini
kemudian mengalami perubahan fase menjadi gel, yaitu sistem koloid yang
memiliki fraksi solid yang lebih besar daripada sol. Gel yang dihasilkan nantinya
mengalami kekakuan selanjutnya dipanaskan untuk membentuk kerak (Dawnay,
1997).
Menurut Brinker dan Scherer (1990) proses sol-gel dikendalikan oleh:
a. Hidrolisis, pada tahap ini prekursor yang digunakan akan dilarutkan dalam
alkohol dan akan terhidrolisis dengan penambahan air. Semakin banyak air
yang ditambahkan akan mengakibatkan proses hidrolisis semakin cepat
sehingga proses gelasi juga akan menjadi lebih cepat.
Reaksi hidrolisis adalah:
Ti (C4H9O)4 + H2O → Ti(C4H9O)3(OH) + C4H9OH
Ti (C4H9O)3 (OH) + H2O → Ti(OH)4 + 3 C4H9OH
Ti (C4H9O)4 + Ti(OH)4 → 2 TiO2 + 4 C4H9OH
Ti (C4H9O)4 + Ti(OH)4 → 2 TiO2 + 4 C4H9OH
Ti (OH)4 → TiO2 + 2H2O
b. Kondensasi, pada tahap ini akan terjadi transisi dari sol menjadi gel. Molekul-
molekul yang telah mengalami kondensasi akan saling bergabung sehingga
menghasilkan molekul gel yang mempunyai kerapatan massa yang besar dan
akan menghasilkan kristal logam oksida.
c. Aging merupakan tahap pematangan dari gel yang telah terbentuk dari proses
kondensasi. Proses pematangan ini, terjadi reaksi pembentukan jaringan gel
yang lebih kaku, kuat dan menyusut di dalam larutan.
d. Tahap terakhir ialah proses penguapan pelarut yang digunakan dan cairan
yang tidak diinginkan untuk mendapatkan struktur sol gel yang memiliki luas
permukaan yang tinggi.
8

Beberapa penelitian terus meningkat mengenai pembuatan komposit TiO2


sebagai katalis dengan matriks pengembanan silika. Penelitian yang dilakukan
oleh Zhou et al (1996) membuktikan bahwa penelitiannya berhasil dalam
mensintesis nanokomposit dari TiO2 yang merupakan partikel nanokristal dengan
pengembanan matriks SiO2 menggunakan metode sol-gel. Dalam penelitiannya
ternyata terbukti bahwa dengan melakukan pemodifikasian TiO2 pada SiO2 dapat
meningkatkan energi band gapnya dari 2,8 eV menjadi 3,5 eV.
Penggunaan pekursor TiO2 yang berbeda juga mempengaruhi penurunan
energi gap silika. Perbedaan energi celah pita dari komposit berdasarkan jenis
prekursor TiO2 ini terjadi karena mekanisme proses sol-gel yang menyertai
masing-masing prekursor TiO2 memiliki kecepatan reaksi yang berbeda. Titanium
(IV) isopropoksida (TiIPP) merupakan prekursor dari persenyawaan Ti-alkoksida
dengan rantai -OR yang lebih pendek jika dibandingkan dengan Titanium (IV)
butoksida (TiBu). TiBu memiliki rantai –OR yang lebih panjang dan memiliki
rintangan sterik yang lebih besar ketika bereaksi dengan senyawa lain, oleh sebab
itu kereaktifan TiBu lebih rendah dibandingkan dengan TiIPP. Penelitian yang
dilakukan oleh Wiyono (2015) menunjukkan bahwa penambahan titania dengan
jenis prekursor yang berbeda memiliki perbedaan energi gap yang cukup jelas,
dan juga penambahan titania membuat energi gap silika (SiO2) murni dari ~9,0 eV
menjadi turun secara drastis. Penggunaan prekursor TiBu pada sintesis TiO2-SiO2
menyebabkan penurunan yang paling besar pada energi gap dari silika yaitu ~9,0
eV menjadi 3,53 eV (untuk suhu kalsinasi 500 °C); 3,34 eV (600 °C) dan 3,41 eV
(700 °C). Sementara penggunaan prekursor TiIPP pada sintesis TiO2-SiO2
menyebabkan penurunan energi gap menjadi 3,61 eV (untuk suhu kalsinasi 500
°C), 3,49 eV (600 °C) dan 3,50 eV (700 °C).
Semakin pendek rantai alkoksi (M-O-R) maka kereaktifan suatu prekursor
semakin besar, sehingga proses hidrolisis sol-gel semakin cepat yang
mengakibatkan rantai atom karbon pada prekursor mudah bereaksi dengan gugus
siloksan (Si-O-Si) sehingga terbentuk ikatan Si-O-Ti (Simonsen, dkk., 2010).
9

2.2 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka diperoleh hipotesis sebagai

berikut:

Penambahan prekursor Titanium (IV) butoksida mempengaruhi karakteristik

dari komposit TiO2-SiO2 serta mampu meningkatkan aktivitas fotokatalis dari

TiO2 dan semakin lama penyinaran maka aktivitas fotokatalis akan semakin

meningkat.
BAB III
DASAR TEORI

3.1 Silika (SiO2)


Silika merupakan senyawa antara silikon dengan oksigen. Ikatan antara silikon
dan oksigen membentuk struktur tetrahedron, sebagaimana digambarkan pada
Gambar 1. Bentuk umum silika adalah quartz (kwarsa), yang terdapat pada
sebagian besar batu-batuan sedimen alam dari batuan metaforik. Silika terdapat
dalam tiga macam bentuk kristalin pada temperatur kamar antara lain : quartz-
kwarsa (stabil hingga 870oC), tridmit (stabil 870-1470)oC dan kristobalit (stabil
1470 -1710)oC, ketiganya tidak dapat saling terbentuk. Silika banyak digunakan
karena silika mudah ditemukan dan memiliki daya serap yang baik sehingga
apabila digunakan dalam proses penurunan akan mendapatkan hasil yang baik
pula (Kristian, 2004).

Gambar 1. Struktur Tetrahedal Silika (Kristian, 2004)


Secara umum, silika dapat diperoleh dari bahan anorganik dan bahan organik.
Pada bahan organik, silika dapat diperoleh dari tanaman. Tanaman akumulator Si
membutuhkan unsur Si dalam jumlah banyak untuk pertumbuhannya. Tanaman
akumulator Si terutama berasal dari famili Gramineae seperti padi, bambu, dan
tebu serta tanaman tingkat rendah dari famili Chlorophyta seperti alga (Harsono,
2002). Silika memiliki ciri fisik seperti berbentuk padatan atau serbuk yang halus,

10
11

berwarna putih, tidak larut dalam air, dan memiliki daya tahan terhadap asam dan
basa seperti H2SO4, NaOH, KOH, dan HCl (Katsuki et al, 2005).

Namun pada penelitian kali ini, penulis memanfaatkan daun bambu sebagai
bahan dasar untuk mendapatkan silika. Pertimbangan kami memilih daun bambu
sebagai bahan dasar pembuatan silika organik dikarenakan banyaknya daun
bambu yang ada di Indonesia yang belum dimanfaatkan secara maksimal oleh
masyarakat baik itu yang dibudidayakan maupun yang tumbuh secara liar.

3.2 Titanium Dioksida (TiO2)

Titanium dioksida yang memiliki rumus molekul TiO2 merupakan bentuk


oksida dari dari titanium, sehingga lebih dikenal dengan titanium (IV) oksida atau
titania. TiO2 memiliki sifat fisik berupa padatan yang berwarna putih dengan
kestabilan termal baik, tidak ditembuh oleh cahaya, tidak mudah terbakar dan
sukar larut. Senyawa ini dimanfaatkan secara luas dalam cat, kosmetik, obat-
obatan, bakterisida, pasta gigi, fotokatalis, dan elektroda pada sel surya .Titanium
dioksida dihasilkan dari batuan ilmenite (FeTiO3) dan pasir. Titanium dioksida
dapat disentesis melalui proses sulfat. Pada proses sulfat, batuan ilmenite
dilarutkan dengan H2SO4 pada suhu 100 oC, didinginkan pada suhu 15 °C, filtrasi
menghasilkan FeSO4, dan hidrasi pada suhu 110°C (Anselme, 2013).

Gambar 2. Bentuk Kisi Kristal TiO2 (Landmann dkk., 2012)


12

3.3 Fotokatalis TiO2-SiO2

Titanium dioksida (TiO2) dikenal sebagai fotokatalisis yang banyak


diterapkan untuk mengatasi masalah lingkungan. Hal ini dikarenakan TiO2
memiliki aktivitas yang tinggi dan stabil terhadap proses biologi dan kimia. TiO 2
bisa bermanfaat untuk mengoptimalkan kemampuan sinar Uv-Vis dalam proses
mendegradasi zat warna. Fotokatalis TiO2 dapat berfungsi sebagai fotokatalis
yaitu mempercepat reaksi oksidasi-reduksi yang diinduksi oleh cahaya
(fotooksidasi-reduksi). Hal ini karena TiO2 mempunyai struktur semikonduktor
yaitu struktur elektronik yang dikarakterisasi oleh pita valensi (vb) yang terisi
elektron dan pita konduksi (cb) yang kosong. Pita konduksi memiliki energi lebih
tinggi daripada pita valensi dan perbedaan energi (selisih energi) antara kedua pita
disebut energi celah pita atau band gap energy (Eg) sebesar 2-3,5 eV (Hoffmann,
et al., 1995).

Penggunaan fotokatalis TiO2 serbuk pada proses fotodegradasi mempunyai


kelemahan yaitu partikel TiO2 sulit dipisahkan dari suspensi setelah proses
fotodegradasi dan suspensi menjadi keruh sehingga mengganggu proses
penyerapan cahaya oleh fotokatalis karena radiasi UV tidak mampu mengaktifkan
seluruh partikel TiO2, akibatnya dapat menurunkan aktivitas fotokatalis (Aziz,
dkk. 2009). Partikel yang susah dipisahkan akan membutuhkan waktu yang lama
untuk pemisahan filtrat dari padatan. Aktivitas fotokatalis TiO2 dapat ditingkatkan
dengan menambahkan material penyangga seperti SiO2, ZrO2, Al2O3 dan lain-lain.
SiO2 adalah material penyangga yang mempunyai luas permukaan besar, daya
adsopsi yang tinggi, tidak toksik, relatif murah, stabilitas suhu yang tinggi dan
kemampuan sedimentasi yang baik, sehingga partikel TiO2 mudah dipisahkan dari
suspensi (Chen et al, 2003)

Pengkompositan TiO2 dengan silika dapat menghasilkan distribusi TiO2 yang


merata serta ukuran yang relatif kecil. Sehingga luas permukaan TiO2 relatif besar
dan aktivitas fotokatalitiknya semakin meningkat. Substrat silika yang juga
merupakan adsorben dapat menyediakan situs adsorpsi yang dapat mendukung
TiO2 dalam mengadsorp zat warna. Pengembanan TiO2 pada SiO2 dapat
13

meningkatkan efek superhidrofilik setelah radiasi UV. SiO2 merupakan bahan


yang lebih fleksibel untuk dibentuk, yang telah digunakan sebagai bahan optik
transparan oleh karena itu dimungkinkan pembuatan komposit TiO2-SiO2.

3.4 Metode Sol Gel

Proses sol-gel adalah proses pembentukan senyawa anorganik melalui reaksi


kimia dalam larutan pada suhu rendah, dalam proses tersebut terjadi perubahan
fase dari suspensi koloid (sol) membentuk fase cair kontinu (gel). Menurut
Fernandez (2011), metode sol-gel memiliki beberapa keuntungan antara lain : (1)
tingkat stabilitas termal yang baik, (2) stabilitas mekanik yang tinggi, (3) daya
tahan pelarut yang baik, dan (4) modifikasi permukaan dapat dilakukan dengan
berbagai kemungkinan.

Tahapan proses sol-gel meliputi hidrolisis, kondensasi, pematangan (aging)


dan pengeringan. Tahap pertama logam prekursor (alkoksida) dilarutkan dalam
pelarut (alkohol) dan terhidrolisis dengan penambahan air pada kondisi asam, basa
atau netral menghasilkan sol koloid. Hidrolisis menggantikan ligan (-OR) dengan
gugus hidroksil (-OH). Selama reaksi hidrolisis berlangsung, ligan (-OR) dari
prekursor akan bereaksi dengan molekul air, sehingga membentuk intermediet
[M(OC2H5)4-x(OH)x] gugus alkil akan digantikan oleh gugus-gugus hidroksil.
Semakin panjang ligan (-OR) pada prekursor M(OR)4 maka laju hidrolisis
semakin lambat, hal ini disebabkan rintangan sterik akibat semakin panjangnya
rantai R, sehingga pergantian ligan (-OR) dengan gugus hidroksil (-OH) akan
semakin lambat (Simonsen, 2010).

3.5 Methylene Blue


Methylene Blue (MB) merupakan suatu bahan zat warna yang dimanfaatkan
pada berbagai industri seperti untuk bahan pencelup kertas, antiseptik,
bakteriologi, indikator redoks, dan desinfektan. Secara umum zat warna organik
terutama senyawa azo adalah senyawa yang bersifat non-biodegradable dan
bersifat karsinogenik (Kuo et al, 2001)
14

Methylene Blue (MB) adalah senyawa kimia yang memiliki rumus molekul
C16H18ClN3S dengan Mr = 319,85 g/mol dan titik leleh 100 oC. Sifat fisik yang
dimiliki Methylene Blue (MB) diantaranya tidak memiliki bau, jika dilarutkan
dalam air berubah menjadi biru. Berikut struktur Methylene Blue (MB):

Gambar 3.Struktur Methylene Blue

3.6 Fotodegradasi

Proses pemecahan senyawa menjadi molekul yang sederhana dengan adanya


bantuan cahaya disebut dengan Fotodegradasi. Proses fotodegradasi memerlukan
suatu fotokatalis, yang umumnya merupakan bahan semikonduktor seperti TiO2,
CdS, atau ZnO. Prinsip fotodegradasi adalah adanya loncatan elektron dari pita
valensi ke pita konduksi pada logam semikonduktor jika dikenai suatu energi
foton. Loncatan elektron ini menyebabkan timbulnya hole (lubang elektron) yang
dapat berinteraksi dengan pelarut (air) membentuk radikal •OH. Radikal •OH
bersifat aktif dan dapat berlanjut untuk menguraikan senyawa organik target
(Gustavsson, 2010).

Di antara beberapa logam fotokatalis, oksida Ti memiliki aktivitas yang


cukup besar dan efektif selain murah dan non toksik. Dalam reaksi fotokatalis
dengan TiO2 dalam bentuk kristal anatas TiO2 dilaporkan sebagai komponen aktif
sedangkan dalam bentuk rutil kurang menunjukkan aktivitasnya. TiO2 dengan
bentuk kristal anatase dan rutil jika dikenai suatu sinar UV dengan λ <385
nm untuk anatas dan λ= 405 nm untuk rutil, akan menghasilkan spesies
ditunjukkan hole+ pada permukaannya. Oleh karenanya TiO2 mampu
15

mengoksidasi spesies kimia yang memiliki potensial redoks yang lebih kecil
(Castellote, 2011; Sellapan, 2013).

3.7 Karakterisasi komposit TiO2-SiO2

3.7.1 Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive X-ray Spectroscopy


(SEM-EDX)

Scanning Electron Microscopy (SEM) yaitu sejenis mikroskop yang


menggunakan pengganti cahaya berupa elektron untuk melihat benda dengan
resolusi tinggi. Analisis SEM digunakan untuk mengetahui mikrostruktur
(termasuk porositas dan bentuk retakan) benda padat. Pada SEM terbentuknya
gambar berdasarkan deteksi elektron sekunder yang muncul dari permukaan
sampel ketika sampel tersebut dikenai sinar elektron. Tampilan gambar yang
dihasilkan adalah data dari permukaan atau lapisan yang tebalnya sekitar 20 µm
dari permukaan (T.D, 2009).
Prinsip kerja SEM (Scanning Electron Microscope) yaitu dapat dipahami
dengan kata kunci scanning yang berarti bahwa berkas elektron “menyapu”
permukaan spesimen, titik demi titik dengan sapuan membentuk garis demi garis,
mirip seperti gerakan mata yang membaca. Teknik SEM terdapat electron gun
yang merupakan berkas sinar elektron yang dihasilkan dari filamen yang
dipanaskan (T.D, 2009). Ketika electron gun dikenai berkas sinar elektron
menghasilkan electron beam dari filamen. Filamen berfungsi sebagai katoda. Pada
filamen ini menimbulkan tegangan sehingga terjadi proses pemanasan. Katoda
pada filamen kemudian menarik elektron ke anoda. Selanjutnya electron lens
memfokuskan elektron menuju kesuatu titik pada permukaan sampel. Kemudian
sinar elektron yang terfokuskan menscan seluruh permukaan sampel yang
diarahkan oleh koil pemindai. Pada saat elektron tersebut mengenai sampel,
elektron terhambur menjadi elektron sekunder atau backscattered electron dari
permukaan sampel dan dideteksi oleh detector. Maka muncul signal dari detector
dan dikuatkan oleh amplifier selanjutkan ditampilkan dalam bentuk data atau
gambar dalam monitor CRT. Seperti yang terlihat pada Gambar 4 (T.D, 2009).
16

Gambar 4. Skema SEM (T.D, 2009)


SEM biasanya dilengkapi dengan Energy Dispersive X-ray Spectroscopy
(EDS atau EDX). EDX yaitu suatu teknik analisis yang digunakan untuk
menganalisis unsur dari suatu sampel. Pada teknik EDX terdapat empat
komponen utama yaitu sumber sinar, detektor sinar-X, prosesor pulsa dan analisa.
Prinsip kerja EDX yaitu suatu detektor akan mengkonversi sinar-X kedalam
bentuk sinyal, selanjutnya informasi ini dikirim ke prosesor pulsa yang berfungsi
untuk mengukur sinyal dan kemudian melewati ke sebuah analyzer sehingga
memperlihatkan data dan analisis. Oleh karena itu EDX dapat menunjukkan
unsur-unsur apa saja yang terkandung dalam sampel disertai dengan persentase
berat pada unsur tersebut. Tidak semua unsur dapat terdeteksi oleh detektor EDX.
Beberapa unsur yang tidak dapat terdeteksi oleh detektor EDX yaitu unsur-unsur
yang memiliki nomor atom kurang dari 4 seperti H, He dan Li (T.D, 2009).

3.7.2 Fourier Transform Infra Red (FTIR)

Spektroskopi inframerah adalah suatu teknik spektroskopi yang didasarkan


pada penyerapan inframerah oleh senyawa. Karakterisasi ini digunakan untuk
mengetahui jenis-jenis vibrasi antar atom.
Spektroskopi FTIR menggunakan sistem optik dengan laser yang
berfungsi sebagai sumber radiasi yang kemudian diinterferensikan oleh radiasi
inframerah agar sinyal radiasi yang diterima oleh detektor memiliki kualitas yang
baik dan bersifat utuh (Giwangkara, 2006). Prinsip kerja FTIR berupa infrared
17

yang melewati celah ke sampel, dimana celah tersebut berfungsi mengontrol


jumlah energi ysng disampaikan kepada sampel. Kemudian beberapa infrared
diserap oleh sampel dan yang lainnya ditransmisikan melalui permukaan sampel
sehingga sinar infrared lolos ke detektor dan sinyal yang terukur kemudian
dikirim ke komputer seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5 dibawah ini
(Thermo, 2001).

Gambar 5. Skema FTIR (Thermo, 2001)

Sinar inframerah mempunyai panjang gelombang yang lebih panjang


dibandingkan dengan UV-Vis, sehingga energinya lebih rendah dengan bilangan
gelombang antara 600-4000 cm-1. Sinar inframerah hanya dapat menyebabkan
vibrasi (getaran) pada ikatan baik beruapa rentangan (streaching = str) maupun
berupa bengkokan (bending = bend). Energi vibrasi untuk molekul adalah
spesifik. Namun pada prakteknya spektroskopi IR lebih diperuntukkan untuk
menetukan adanya gugus-gugus fungsional utama dalam suatu sampel yang
diperoleh berdasarkan bilangan yang dibutuhkan untuk vibrasi tersebut (Sitorus,
2009).

3.7.3 X-Ray Diffraction (XRD)


Teknik analisis XRD dapat digunakan untuk menentukan sistem kristal,
parameter kisi, derajat kristalinitas dan fase yang terdapat dalam suatu sampel.
XRD juga dapat memberikan informasi secara umum baik secara kuantitatif
18

maupun secara kualittatif tentang komposisi fasa-fasa (Cullity, 2001).


Prinsip kerja XRD yaitu ketika suatu kristal ditembak oleh sinar-X berupa
material (sampel), maka intensitas sinar yang ditransmisikan akan lebih rendah
dari intensitas sinar datang karena adanya penyerapan oleh material dan juga
hamburan oleh atom-atom dalam material tersebut. Seperti yang terlihat pada
Gambar 6.

Gambar 6. Skema XRD (Grant & Suryanayana, 1998)

Berkas sinar-X yang dihamburkan ada yang saling menghilangkan. Hal ini
disebabkan karena fasenya berbeda dan yang saling menguatkan karena fasenya
sama. Berkas sinar-X yang saling menguatkan disebut dengan interferensi
konstruktif. Interferensi konstruktif ini terjadi disebabkan dari gelombang yang
terhambur. Proses ini dikenal dengan peristiwa difraksi. Sinar-X yang mengenai
bidang kristal akan terhambur ke segala arah, supaya terjadi interferensi
konstruktif antara sinar yang terhambur dan beda jarak lintasnya maka harus
memenuhi Hukum Bragg (Tauqiyah, 2012) sebagai berikut:
n.λ = 2.d.sin θ
Dimana
λ = panjang gelombang
d = jarak antar bidang
θ = sudut difraksi
n = bilangan bulat (1,2,3…)
19

3.7.4 Surface Area Analyzer (SAA)

Surface Area Analyzer (SAA) merupakan salah satu alat penting dalam
karakterisasi material yang tidak memerlukan jumlah sampel dalam jumlah besar
hanya diperlukan sampel berkisar 0,1 sampai 0,01 gram. Teknik SAA berfungsi
untuk mennetukan luas permukaan material, distribusi pori dari material dan
isotherm adsorpsi suatu gas pada suatu sampel (Gregg, 1982)

Pada dasarnya alat ini hanya mengukur gas yang dijerap oleh suatu
permukaan padatan pada tekanan dan suhu tertentu. Persiapan utama sebelum di
analisa menggunakan alat ini yaitu menghilangkan gas-gas yang terserap
(degassing). Prinsip kerja Surface Area Analyzer (SAA) yaitu didasarkan pada
siklus adsorpsi dan desorpsi isothermis gas N2 oleh sampel berupa serbuk pada
suhu N2 cair.. Setiap siklus adsorpsi dan desorpsi menghasilkan variasi data
tekanan proses yang didasarkan pada hukum gas ideal PV=NRT sebagai fungsi
volume gas. Pada tabung sampel yang dimasuki sejumlah volume gas nitrogen,
maka sensor tekanan menampilkan data tekanan proses yang bervariasi. Data
volume gas yang dimasukkan yang telah diketahui jumlahnya serta data hasil
kenaikan tekanan dibuat sebagai persamaan BET. Persamaan BET ini dipakai
sebagai dasar perhitungan luas permukaan serbuk (Rosyid, 2012).

= +
( )

Dimana

X : berat gas yang teradsorpsi pada tekanan relative (P/Po)

Xm : berat gas yang teradsorpsi pada lapis tunggal

C : konstanta BET

Po : tekanan uap jenuh (atm)

P : tekanan gas (atm)


20

Prinsip perhitungannya adalah dengan mengetahui berapa volume gas


spesifik yang dijerap oleh permukaan sampel pada tekanan dan suhu tertentu serta
mengkonversi satuan volume menjadi satuan luasan dengan bantuan data luas
bagian molekul gas N2 = 16,2 A2 dan mengetahui berapa luas permukaan secara
teoritis dari suatu molekul gas yang diserap, maka luas permukaan serbuk padatan
dapat dihitung (Rosyid, 2012).

3.7.5 UV-Visible Diffuse Reflectance (DR-UV)

Diffuse Reflectance Ultra Violet (DR-UV) merupakan karakterisasi


material penting yang digunakan untuk menentukan besarnya energy gap yang
dihasilkan oleh suatu semikonduktor yang telah disintesis. Energy gap (Eg)
adalah energi celah pita antara pita valensi yang penuh elektron dengan pita
konduksi yang tidak ada elektron (Lestari, 2011). Berikut skema dari DR-UV:

Gambar 7. Skema DR-UV (Jentoft, 2008)

Prinsip kerja dari DR-UV adalah jika terdapat sinar UV mengenai sebuah
sampel berupa padatan maka sebagian cahaya akan diserap dan ada yang
dilewatkan. Syarat senyawa yang dapat menyerap cahaya (UV) yaitu senyawa
yang memiliki gugus kromofor. Sinar UV ini dihasilkan dari elektron yang keluar
dari filamen panas dalam keadaan vakum pada tegangan tinggi. Sinar yang masuk
21

disebut dengan incident light sedangkan sinar yang dipantulkan disebut reflected
light. Cahaya dikeluarkan pada permukaan sampel sebab cahaya tidak dapat
masuk ke dalam sampel karena terjadi penetrasi cahaya (Tim Prodi, 2016).

3.7.6 Spektrofotometer UV-Vis (ultraviolet-visible)

Spektrofotometer UV-Vis (ultraviolet-visible) adalah alat analisis sampel


menggunakan prinsip-prinsip absorpsi radiasi gelombang elektromagnetik oleh
material dalam rentang panjang gelombang ultraviolet (mulai sekitar 200 nm)
hingga mencakup semua panjang gelombang cahaya tampak (sampai sekitar 700
nm) (Rohmah, 2015).

Prinsip kerja UV-Vis yaitu ketika cahaya dengan panjang berbagai panjang
gelombang (cahaya polikromatis) mengenai suatu zat, maka cahaya dengan
panjang gelombang tertentu saja yang akan diserap. Di dalam suatu molekul yang
memegang peranan penting adalah elektron valensi dari setiap atom yang ada
hingga terbentuk suatu materi. Elektron-elektron yang dimiliki oleh suatu molekul
dapat berpindah (eksitasi), berputar (rotasi) dan bergetar (vibrasi) jika dikenai
suatu energi. Jika zat menyerap cahaya tampak dan UV maka akan terjadi
perpindahan elektron dari keadaan dasar menuju ke keadaan tereksitasi.
Perpindahan elektron ini disebut transisi elektronik. Apabila cahaya yang diserap
adalah cahaya inframerah maka elektron yang ada dalam atom atau elektron
ikatan pada suatu molekul dapat hanya akan bergetar (vibrasi). Sedangkan
gerakan berputar elektron terjadi pada energi yang lebih rendah lagi misalnya
pada gelombang radio (Kustanto, 2002).
BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah neraca analitik,


seperangkat gelas (pyrex), magnetic stirrer model H-12/09, Stirer, kertas saring
whatman ukuran 41, cawan porselen, furnace (Vulcan TM A-550), seperangkat
alat refluks, sendok sungu, batu didih, oven (Memmert), seperangkat alat
fotodegradasi/fotokatalisis, rangkaian alat reaktor pengolahan limbah, surface
area analyser merk NOVA 1200e Data Analysis package Ver 20, Difraction
Sinar-X (XRD) Shimadzu X6000, SEM EDX, Spektrofotometer Uv-Vis
HITACHI, FTIR Nicolet Avatar dan DR Uv-Vis.

4.2 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah NaOH Merck


KGaA, HCl, Aquades, lrutan Isopropanol Merck KGaA, daun bambu yang berasal
dari Klaten, Jawa Tengah, larutan Titanium (IV) butoksida dan zat warna
Methylene Blue (MB) Merck KGaA.

4.3 Prosedur Kerja


4.3.1 Preparasi sampel (daun bambu)

Preparasi sampel (daun bambu) dilakukan dengan cara dikalsinasi.


Sebelum dikalsinasi, daun bambu dijemur terlebih dahulu sampai kering. Setelah
itu dipotong kecil-kecil. Kemudian daun bambu ditimbang terlebih dahulu untuk
mengetahui berat awal sampel. Selanjutnya daun bambu dikalsinasi menggunakan
furnace menjadi abu daun bambu.

4.3.2 Preparasi TiO2-SiO2 dengan penambahan prekursor Titanium (IV)


butoksida
Metode preparasi terdiri dari 2 tahap yakni ektraksi silika dan reaksi sol-
gel pembentukan TiO2-SiO2 Aerogel (TSA):

22
23

1. Pembentukan TiO2-SiO2 Aerogel (TSA) : larutan Titanium (IV) butoksida


(perbandingan teoritis Ti terhadap Si = 5 : 9) dicampurkan ke dalam 10 mL
isopropanol. Diaduk dengan magnetik strirer selama 15 menit hingga
membentuk sol homogeny. Campuran didiamkan dalam autoclave pada
variasi kondisi (temperatur dan waktu). Larutan sol yang telah terbentuk
diteteskan kedalam larutan gel yang sudah diaduk selama 15 menit.
Kemudian campuran larutan diaduk dengan magnetik stirer selama 2 jam.
Larutan dimasukkan ke dalam oven hingga kering kemudian dipanaskan
dalam furnace pada suhu 400 oC selama 4 jam.
2. Variabel dalam preparasi ini meliputi rasio Si:Ti, temperatur kalsinasi,
temperatur dan waktu pemeraman aerogel terhadap karakter energi celah
pita yang dihasilkan dan luas permukaan spesifiknya.

4.4 Karakteristik Komposit TiO2-SiO2


4.4.1 Karakteristik dengan Scanning Electron Microscopy (SEM) dan
Energy Dispersive X-Ray ( XRD)
Karakteristisasi menggunakan SEM-EDX dilakukan untuk melihat tekstur,
morfologi, komposisi dan informasi kristalografi permukaan partikel dari suatu
sampel. Sampel yang dikarakterisasi menggunakan SEM-EDX adalah sampel
SiO2 dan TiO2-SiO2.
4.4.2 Karakteristik dengan Spektrofotometer Infra Merah (FTIR) atau
(Fourier Transform Infra Red)
Karakterisasi menggunakan FTIR dilakukan untuk mengidentifikasi gugus
fungsional TiO2-SiO2 pada bilangan gelombang 300-4000 cm-1. Sampel yang
dianalisis menggunakan FTIR adalah sampel SiO2 dan TiO2-SiO2.
4.4.3 Karakteristik dengan Spektrofotometer Difraksi Sinar-X (XRD)
Karakterisasi menggunakan XRD dilakukan untuk menentukan kristalinitas
dengan menggunakan sinar-X. Struktur dan sistem kristal komposit hasil sintesis
dapat diketahui berdasarkan difraktogram XRD hasil sintesis yang dibandingkan
dengan beberapa standar difaktogram TiO2-SiO2. Munculnya puncak serapan
24

karakteristik dibandingkan dengan difraktogram standar. Sampel yang dianalisis


menggunakan XRD adalah SiO2 dan TiO2-SiO2.
4.4.4 Karakteristik dengan Surface Area Analyzer (SAA)
Karakterisasi menggunakan SAA dilakukan untuk menentukan isotherm
adsorpsi suatu gas pada suatu bahan, luas permukaan material dan distribusi pori
dari material. Sampel yang dianalisis menggunakan SAA adalah TiO2-SiO2.
4.4.5 Karakteristik dengan Spektrofotometer UV-Visible Diffuse
Reflectance (DR-UV)
Karakterisasi menggunakan DR-UV dilakukan untuk mengetahui besarnya
celah pita energy (Eg) komposit TiO2-SiO2. TiO2 sebagai prekursor utama yang
dikompositkan dengan SiO2 menyebabkan perubahan pada celah pita eneri TiO2
yang signifikan. Sampel yang dianalisis dengan DR-UV yaitu SiO2 dan TiO2-
SiO2.
4.4.6 Pengujian Aktivitas Fotokatalitik Komposit TiO2-SiO2
1. Uji Fotolisis: uji fotolisis terdiri dari pengamatan kinetika penurunan
konsentrasi Metyhlene Blue dengan variasi waktu oleh penyinaran tanpa
adanya fotokatalis TiO2-SiO2.
2. Uji Fotooksidasi: terdiri dari pengamatan kinetika penurunan konsentrasi
Metyhlene Blue dengan variasi waktu oleh penyinaran dengan adanya
fotokatalis TiO2-SiO2 dan H2O2 sebagai sumber oksidan. Penambahan variasi
konsentrasi dilakukan pada uji fotooksidasi.
BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Sintesis Fotokatalis TiO2-SiO2

Pada penelitian ini dilakukan sintesis komposit TiO2-SiO2 dari abu daun
bambu dan penambahan prekursor TiO2. Prekursor TiO2 yang digunakan dalam
sintesis komposit TiO2-SiO2 adalah Titanium (IV) butoksida, sementara sumber
SiO2 memanfaatkan dari abu daun bambu.

Proses awal sintesis fotokatalis TiO2-SiO2 dilakukan preparasi sampel daun


bambu menggunakan proses kalsinasi. Kalsinasi merupakan metode pembakaran
pada temperatur yang sangat tinggi menggunakan furnace pada suhu 700 oC
selama 2 jam sehingga didapatkan abu daun bambu berupa serbuk berwarna abu-
abu. Pada proses kalsinasi terjadi pengurangan massa daun bambu, hal ini
disebabkan karena tereliminasinya komponen-komponen organik dari daun
bambu. Abu daun bambu yang diperoleh dilakukan ekstraksi dengan metode
refluks. Filtrat dititrasi dengan HCl 37% hingga pH 7 dan terbentuk endapan putih
silika (gel). Endapan gel silika lalu dicuci menggunakan aquades untuk
menghilangkan pengotor yang berupa senyawa garam (NaCl) dan endapan SiO 2,
setelah itu dikeringkan pada suhu 100 oC selama 24 jam dengan tujuan untuk
menguapkan air yang masih ada di dalam gel sehingga terbentuk padatan putih.

Proses awal pembentukan komposit TiO2-SiO2 dengan metode sol-gel yaitu


proses hidrolisis. SiO2 hasil sintesis ditambahkan dengan aquades dan dilakukan
pengadukan selama proses hidrolisis selama 15 menit. SiO2 tersebut dipadukan
dengan TiO2. Penambahan silika pada TiO2 diharapkan mampu meningkatkan
sifat fotokatalitik yang lebih optimal dibandingkan dengan TiO2 murni teutama
dalam aplikasinya pada penelitian ini untuk mendegradasi Methylene Blue.

TiO2 yang digunakan yaitu prekursor titanium (IV) butoksida ditambahkan


dengan pelarut isopropanol dan proses pengadukan dilakukan selama proses

25
26

hidrolisis dengan tujuan agar larutan terbentuk secara homogen. Penambahan


prekursor titanium (IV) butoksida dengan tujuan untuk menghidrolisis dan
membentuk polimer dengan gugus siloksan (Si-O-Si) sehingga terbentuk ikatan
Ti-O-Si. Proses hidrolisis pada prekursor sangat dipengaruhi oleh jenis prekursor,
salah satunya jenis prekursor TiO2. Semakin pendek rantai alkoksi (M-O-R) maka
kereaktifan suatu prekursor semakin besar, sehingga proses hidrolisis sol-gel
semakin cepat yang mengakibatkan rantai atom karbon pada prekursor mudah
bereaksi dengan gugus siloksan (Si-O-Si) sehingga terbentuk ikatan Si-O-Ti
(Simonsen, dkk., 2010).

Proses kondensasi terjadi setelah proses hidrolisis yaitu proses transisi dari
fase sol menjadi gel. Proses ini membuat dua lapisan, pada lapisan bawah terdapat
gel berwarna putih dan bagian atas terdapat sedikit larutan alkohol (isopropanol)
sisa dari proses hidrolisis. Setelah proses kondensasi dilanjutkan dengan proses
pematangan (aging) yang bertujuan untuk membuat gel yang terbentuk menjadi
sempurna dengan ikatan-ikatan yang ada dalam polimer yang terbentuk
(Fernandez, 2011).

Proses akhir yaitu proses pengeringan untuk menghasilkan komposit yang


lebih murni serta menguapkan air serta sisa pelarut (isopropanol) yang masih ada
di dalam gel sehingga dihasilkan TiO2-SiO2 hasil analisis seperti berikut:

Gambar 8. Komposit TiO2-SiO2 (Sumber: pribadi)


27

TiO2-SiO2 yang dihasilkan dilakukan pengeringan selama 24 jam pada suhu


100°C menghasilkan padatan TiO2-SiO2 halus pada sampel dan berwarna putih.
Komposit TiO2-SiO2 hasil sintesis kemudian dikarakterisasi menggunakan SEM-
EDX, FTIR, XRD, SAA dan DR-UV serta dilakukan uji fotodegradasi untuk
mengetahui aktivitas fotokatalitik dalam mendegradasi Methylene Blue.

5.2 Karakterisasi Scanning Eelectron Microscope-Energy Dispersive X-ray


Spectroscopy (SEM-EDX)

Analisis SEM-EDX terhadap sampel dilakukan untuk mengetahui bentuk


morfologi dan unsur kandungan kimianya. Sampel yang dianalisis menggunakan
SEM-EDX yaitu silika (SiO2) dan material komposit TiO2-SiO2.

Gambar 9. Hasil SEM Silika (SiO2) (Sumber: pribadi)

Analisis silika (SiO2) menggunakan SEM dilakukan pada perbeseran 5000x


untuk mendapatkan hasil permukaan silika lebih detail dan jelas. Pada Gambar 10
terlihat bahwa permukaan sampel silika memiliki ukuran butir yang cukup
beragam, berongga, kasar dengan distribusi yang tidak merata. Morfologi
permukaan silika hasil sintesis tidak merata dan terdiri dari gumpalan-gumpalan
atau agregat.

Agregat-agregat yang terlihat pada morfologi permukaan silika cukup besar.


Hal ini terjadi karena proses pengeringan. Pada proses pengeringan menggunakan
oven, molekul air dilepaskan secara konstan. Pelepasan air tersebut disebabkan
konsentrasi sol meningkat dan terjadi penarikan fluida sehingga partikel saling
28

berdekatan. Dengan berdekatannya partikel maka membentuk agregat yang besar


(Jafarzadeh, 2009).

Informasi tambahan yang didapatkan dari analisis SEM adalah EDX.


Analisis EDX dilakukan untuk menunjukkan unsur-unsur yang terdapat dalam
sampel serta komposisi sampel berdasarkan unsur tersebut. Berikut hasil analisis
EDX disajikan pada Gambar 10.

Gambar 10. Hasil EDX Silika (SiO2) (Sumber: pribadi)


29

Berdasarkan Gambar 10 hasil EDX dapat diketahui bahwa material silika


terdiri dari beberapa komposisi massa dari unsur antara lain C sebesar 10,12%, O
sebesar 38,43%, Na sebesar 1,84%, Mg sebesar 1,17%, Si sebesar 27,47%, P
sebesar 1,65%, Cl sebesar 4,43%, K sebesar 12,04% dan Ca sebesar 2,84%.
Berdasarkan unsur tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam material tersebut
terdapat kandungan unsur silika (SiO2) sebesar 65,9% dan 34,1 % yang lain
adalah unsur pengotor. Sehingga dapat diketahui kemurnian silika yaitu 65,9%.

Silika murni hasil sintesis kemudian dimodifikasi dengan penambahan


prekursor Titanium (IV) butoksida. Pemodifikasian material diharapkan dihasilkan
material yang memiliki luas permukaan yang lebih besar. Untuk membuktikan
bahwa sintesis fotokatalis TiO2 termodifikasi silika (TiO2-SiO2) berhasil
dilakukan maka diperlukan karakterisasi menggunakan SEM-EDX. Data
disajikan pada Gambar 11 dan Gambar 12.

Gambar 11. Hasil SEM TiO2-SiO2

Analisis TiO2-SiO2 menggunakan SEM dilakukan pada perbesaran 5000x


sehingga didapatkan penampakan permukaan TiO2-SiO2 yang disajikan pada
Gambar 11. Pada Gambar 11 menunjukkan bahwa silika telah terbukti sebagai
dopan TiO2. Morfologi permukaan terlihat jelas bahwa material tersebut
merupakan material berpori. Material TiO2 tersebar merata pada permukaan SiO2
dengan membentuk gumpalan-gumpalan dan butiran-butiran yang menempel pada
30

permukaan SiO2. Ukuran butir yang dihasilkan cukup beragam dengan distribusi
yang merata pada permukaan material.

Informasi tambahan yang didapatkan dari analisis SEM adalah EDX.


Analisis EDX dilakukan untuk menunjukkan unsur-unsur yang terdapat dalam
sampel serta komposisi sampel berdasarkan unsur tersebut. Dengan analisis EDX
lebih membuktikan bahwa material yang dianalisis terkandung TiO2-SiO2.

Gambar 12. Hasil EDX TiO2-SiO2

Berdasarkan Gambar 12 hasil EDX dapat diketahui bahwa material TiO2-


SiO2 terdiri dari beberapa komposisi massa dari unsur-unsur dan senyawa yaitu C
sebesar 31,89%, Al2O3 1,77%, SiO2 sebesar 36,53%, TiO2 sebesar 22,55%, CuO
sebesar 4,55% dan ZnO sebesar 3%. Berdasarkan komposisi senyawa tersebut
dapat disimpulkan bahwa dalam analisis yang dilakukan berhasil mensintesis abu
daun bambu dan prekursor Titanium (IV) butoksida sehingga didapatkan material
fotokatalis TiO2-SiO2 sebesar 58,78% dan 41,22% yang lain adalah senyawa
pengotor. Sehingga dapat diketahui kemurnian fotokatalis TiO2-SiO2 yaitu
58,78%.
31

5.3 Karakterisasi Fourier Transform Infra Red (FTIR)

Gambar 13. Spektra FTIR (a) TiO2-SiO2 dan (b) SiO2

Hasil analisis fotokatalis TiO2-SiO2 dan SiO2 dapat dilihat pada spektra
Gambar 13. Spektra yang dihasilkan memiliki serapan yang karakteristik pada
bilangan gelombang masing-masing.

Dalam penelitian Yusefah (2014), menyebutkan bahwa serapan pada


frekuensi 3500-3300 cm-1 merupakan vibrasi ulur –OH dari gugus Si-OH dan Ti-
OH. Pada spektra SiO2 tersebut menunjukkan pita serapan 3411,92 cm-1 yang
menunjukkan vibrasi ulur –OH dari Si-OH (silanol). Namun pada hasil spektra
FTIR fotokatalis TiO2-SiO2 tidak terkandung gugus tersebut. Hal ini disebabkan
pada saat proses pengeringan (oven) kandungan air yang terikat pada silika telah
hilang.
32

Serapan spesifik untuk vibrasi tekuk –OH yang berasal dari Ti-OH atau
Si-OH pada daerah 1650-1610 cm-1 (Yusefah, 2014). Pada spektra SiO2
ditunjukkan pada serapan 1640,65 cm-1. Serapan tersebut merupakan vibrasi tekuk
–OH yang berasal dari Si-OH. Sedangkan pada spektra TiO2-SiO2 ditunjukkan
pada spektra 1635,87 cm-1. Adanya gugus –OH yang berasal dari Ti-OH pada
permukaan TiO2 menandakan masih adanya molekul air yang terkandung dalam
komposit.

Pada frekuensi 1200-900 cm-1 tedapat vibrasi ulur asimetris Si-O dari Si-
O-Si (Yusefah, 2014). Spektra SiO2 memperlihatkan bahwa serapan Si-O dari Si-
O-Si muncul pada serapan 1079,04 cm-1 dengan peak yang sangat tajam dan kuat.
Spektra fotokatalis TiO2-SiO2 pada bilangan gelombang 1082,95 cm-1 yang
menandakan adanya vibrasi ulur asimeteris Si-O dari Si-O-Si dengan serapan
peak yang tajam dan kuat. Peningkatan bilangan gelombang ini disebabkan
karena TiO2 yang telah dimodifikasi oleh silika. Vibrasi ulur simetris dari Si-O-Si
ditunjukkan pada serapan 795,51 cm-1 oleh spektra SiO2 sedangkan pada spektra
TiO2-SiO2 terdapat pada serapan 794,93 cm-1 sedangkan pada literatur terdapat
pada serapan 804,70 cm-1 dan 795,01 cm-1 (Yusefah, 2014).

Identifikasi gugus fungsional menggunakan FTIR menunjukkan bahwa


adanya pita serapan pada bilangan gelombang 962-965 cm-1. Pita serapan ini
menunjukkan adanya ikatan Ti-O-Si (Yusefah, 2014). Namun pada spektra TiO2-
SiO2 terlihat bahwa gugus Ti-O-Si memiliki serapan yang lemah pada peaknya
965 cm-1. Serapan ini berbeda dari spektra SiO2 yang tidak terdapatnya gugus
pada daerah bilangan gelombang 965 cm-1. Hasil karakterisasi ini menunjukkan
bahwa TiO2 berhasil diembankan pada SiO2 sehingga dapat disimpulkan bahwa
fotokatalis TiO2-SiO2 telah berhasil disintesis. Gugus fungsional pada
karakterisasi FTIR hasil sintesis dapat dilihat pada Tabel 1.
33

Tabel 1. Gugus fungsional komposit hasil sintesis

Bilangan Gelombang (cm-1) Gugus Fungsional


3411,92 vibrasi ulur -OH dari Si-OH
1640,65 vibrasi tekuk -OH dari Si-OH
SiO2 vibrasi ulur asimetris Si-O dari Si-
1079,04 O-Si
vibrasi ulur simetris Si-O dari Si-O-
795,51 Si
1635,87 vibrasi tekuk -OH dari Ti-OH
vibrasi ulur asimetris Si-O dari Si-
TiO2-SiO2 1082,95 O-Si
965 ikatan Ti-O-Si
vibrasi ulur simetris Si-O dari Si-O-
794,93 Si

5.4 Karakterisasi X-Ray Diffraction (XRD)

Karakterisasi XRD pada sampel bertujuan untuk menentukan sistem kristal.


Sampel yang dianalisis berupa material SiO2 dan TiO2-SiO2. Pembacaan data XRD
dilakukan dengan cara membandingkan XRD katalis hasil sintesis dengan
spektrum senyawa standard powder data file JCPDS (Joint Committee Powder
Diffraction Standard) sesuai dengan nomor katalog masing-masing komponen.
Pola difraksi sinar-X katalis TiO2-SiO2 disajikan pada Gambar 14.
34

Gambar 14. Spektra XRD SiO2 dan TiO2-SiO2

Dari spektrum XRD material SiO2 memiliki intensitas tertinggi pada 2θ =


20o. Puncak yang dihasilkan ini sama dengan puncak difraksi yang dihasilkan
pada penelitian-penelitian sebelumya. Berdasarkan hasil penelitian (S. Musić et al.
2011), pola difraksi puncak yang dihasilkan pada sudut 2θ = 21,8°. Dari pola
difraksi yang dihasilkan pada sampel silika gel hasil sintesis menggunakan
metode sol-gel, dapat dinyatakan bahwa puncak pada sudut 2θ yang dihasilkan
tidak jauh berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Oleh karena itu dari
dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa silika gel hasil sintesis
merupakan material yang semikristalin dan tergolong amorf.

Difraktogram TiO2-SiO2 menunjukkan adanya puncak pada 2θ = 25


dengan intensitas sangat tinggi. Hasil spektrum tersebut bila dibandingkan dengan
spektrum senyawa standard powder data file JCPDS dengan nomor 89-4921
memiliki kesamaan yaitu pada 2θ = 25 dengan intensitas tertinggi yang sangat
karakteristik dengan fase anatas. Berdasarkan karakterisasi menggunakan XRD
maka dapat diketahui bahwa Kristal TiO2-SiO2 hasil sintesis memiliki fase TiO2
anatas.
35

Pada umumnya struktur anatas merupakan fase kristal yang paling sering
digunakan karena struktur anatas paling baik dibandingkan struktur rutil. Hal ini
dapat dilihat dari kelebihannya dalam proses fotokatalitik, dari segi
kereaktifannya struktur anatase menunjukkan aktivitas yang lebih baik
dibandingkan struktur rutil. Selain itu struktur anatase memiliki luas permukaan
yang lebih besar dan ukuran partikel yang lebih kecil dibandingkan rutil.

5.5 Karakterisasi Surface Area Analyzer (SAA)

Karakterisasi menggunakan SAA bertujuan untuk menentukan distribusi pori


material, ukuran pori, volume pori, isoterm adsorpsi suatu gas pada suatu bahan
dan luas permukaan. Sampel yang dikarakterisasi menggunakan SAA yaitu
material TiO2-SiO2. Data disajikan pada Gambar 15.

Kurva Isoterm TiO2-SiO2


300
Volume @ STP (cc/g)

250

200

150

100

50

0
0.00E+00 2.00E-01 4.00E-01 6.00E-01 8.00E-01 1.00E+00 1.20E+00
Tekanan Relatif

Gambar 15. Kurva Isoterm Linear TiO2-SiO2

Pembacaan kurva isoterm linear dilakukan dengan membandingkan kurva


hasil analisis dengan 5 tipe kurva adsorpsi isotermis Langmuir dan BET. Dari
gambar 10 dapat diketahui bahwa material TiO2-SiO2 hasil karakterisasi masuk ke
dalam tipe V kurva adsorpsi isotermis Langmuir dan BET. Jenis ini adalah bentuk
normal isoterm pada adsorben padatan berpori menengah (mesopori) dengan
ukuran 2-50 nm.
36

Jenis kurva ini dihasilkan dari interaksi yang rendah antara adsorben
dengan adsorbat. Dari kurva isoterm tersebut menunjukkan kuantitas adsorben
semakin tinggi saat tekanan relatif bertambah. Dengan masuknya ke dalam tipe V
yang ditandai dengan adanya hysteresis loop pada kurva maka memperlihatkan
bahwa material TiO2-SiO2 merupakan material mesopori. Volume pori yang
dimiliki TiO2-SiO2 yaitu 0,392 cc/g dan jari-jari pori yang dimiliki material TiO2-
SiO2 yaitu 284,45 Å.

Selain menentukan isoterm adsorpsinya, ditentukan juga luas permukaan


fotokatalis TiO2-SiO2 menggunakan metode BET. Luas permukaan merupakan
parameter penting untuk menentukan kualitas padatan berpori. Dengan besarnya
luas permukaan suatu material maka semakin banyak material tersebut dalam
mengadsorp adsorbat. Pada karakterisasi BET material fotokatalis TiO2-SiO2 luas
permukaan sebesar 55,452 m2/g.

5.6 Karakterisasi UV-Visible Diffuse Reflectance (DR-UV)


Karakterisasi menggunakan spektrofotometer DR UV-Vis digunakan untuk
mengetahui energi celah pita dari fotokatalis TiO2-SiO2 yang dihasilkan. Data
disajikan pada Gambar 16.
37

0.9

0.8

0.7

0.6
Absorbansi

0.5

0.4

0.3

0.2 λedge = 347nm

0.1

0
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900
panjang gelombang (nm)

Gambar 16. Spektra DR UV-Vis TiO2-SiO2


Energi celah pita dapat dihitung menggunakan persamaan Max Planck yaitu:

E=

Dimana

h = tetapan Planck (6,626 × 10–34 J dt)

c = kecepatan cahaya dalam vakum (3 × 108 m det–1)

λ = panjang gelombang (m)

Dari persamaan Max Planck dapat disederhanakan menjadi


Eg =

Pada DR UV-Vis yang diukur adalah panjang gelombang tepi (λedge).


Panjang gelombang tepi diperoleh dari penarikan garis lurus memotong sumbu x
dalam kurva antara panjang gelombang terhadap absorbansi. Berdasarkan spektra
DR UV diperoleh λedge= 347 nm. Maka dari perhitungan energi celah pita hasil
sintesis TiO2-SiO2 sebesar 3,57 eV.
38

Nilai (harga) energy gap suatu semikonduktor merupakan komponen yang


penting sebab sangat mempengaruhi terhadap kinerja semikonduktor dalam
loncatan elektron dan hole. Energy gap yang terlalu kecil akan menyebabkan
loncatan elektron dari pita valensi ke pita konduksi sehingga elektron kurang
bebas, melainkan energy gap yang terlalu besar akan menghambat loncatan
elektron (Lestari, 2011)

5.7 Uji Fotodegradasi Methylene Blue dengan komposit TiO2-SiO2

Analisis komposit TiO2-SiO2 dengan Spektrofotometer UV-Visible


menggunakan laruran metilen biru bertujuan untuk mengetahui adsorpsi
fotokatalis dalam mendegradasi zat warna Methlyene Blue. Parameter yang diuji
yaitu penurunan absorbansi dalam mendegradasi Methlyene Blue (MB) pada
variasi waktu reaksi fotodegradasi. Reaksi yang terjadi pada degradasi Methlyene
Blue adalah reaksi redoks dimana terjadi pelepasan dan penangkapan elektron
yang diakibatkan oleh energi foton hv.

Uji fotodegradasi dilakukan dengan variasi konsentrasi Methlyene Blue yaitu


10-3 M, 2.10-3 M dan 5.10-3 M menggunakan H2O2 dengan UV dan tanpa UV.
Data disajikan dalam kurva berikut.

C/Co vs t (MB 10-3 M) C/Co vs t (MB 2.10-3 M)


1.2 1.2
1 1
0.8 0.8
C/Co

C/Co

0.6 0.6
0.4 0.4

0.2 0.2

0 0
0 15 30 45 60 90 120 0 15 30 45 60 90 120
waktu (menit) waktu (menit)

UV+H2O2 tanpa UV+H2O2 UV+H2O2 tanpa UV+H2O2


39

C/Co vs t (MB 5.10-3 M)


1.2
1

Absorbansi
0.8
0.6
0.4
0.2
0
0 15 30 45 60 90 120

waktu (menit)

UV + H2O2 tanpa UV + H2O2

Gambar 17. Uji fotodegradasi Methylene Blue Variasi Konsentrasi

Dari hasil analisis dengan spektorofotometer UV-Vis pada panjang


gelombang 665 nm terlihat bahwa penggunaan sinar UV dengan fotokatalis TiO2-
SiO2 dalam mendegradasi Methlyene Blue sangat berpengaruh. Hal ini dapat
dilihat dari penurunan absorbansi yang konstan. Semakin lama waktu penyinaran
maka zumlah zat warna Methlyene Blue yang terdegradasi semakin besar.
Sementara tanpa penggunaan sinar UV, penurunan absorbansi tidak konstan. Hal
ini disebabkan waktu penyinaran merupakan lamanya interaksi antara fotokatalis
TiO2 dengan cahaya UV dalam menghasilkan OH radikal. Selain itu juga
mempengaruhi lamanya kontak antara OH radikal dengan zat warna didegradasi
yaitu Methlyene Blue. Semakin lama waktu penyinaran dapat meningkatkan
energi foton yang dihasilkan. Meningkatnya energi foton yang dihasilkan
menyebabkan OH radikal semakin banyak. OH radikal disinilah berperan sebagai
oksidator kuat yang dapat digunakan untuk mendegradasi zat warna Methlyene
Blue. Semakin banyak OH radikal yang dihasilkan maka semakin banyak pula zat
warna Methlyene Blue yang terdegradasi.

Uji fotodegradasi dengan variasi konsentrasi digunakan untuk mengetahui


besarnya konsentrasi Methlyene Blue optimum yang mampu didegradasi oleh
katalis TiO2-SiO2. Pada Gambar 17 menunjukkan bahwa semakin besar
40

konsentrasi Methlyene Blue yang digunakan semakin tidak optimal sehingga dapat
menurunkan aktivitas fotokataliknya. Konsentrasi Methlyene Blue yang semakin
besar maka semakin banyak jumlah molekulnya. Banyaknya molekul tersebut
menyebabkan kompetisi antar molekul metilen biru untuk teradsorbsi oleh katalis
TiO2-SiO2. Hal ini menyebabkan proses adsorbsi semakin menurun (Andari,
2014).

Selain itu, konsentrasi metilen biru yang besar akan mempengaruhi sinar UV
yang sampai pada katalis TiO2-SiO2. Jika sinar UV yang sampai pada fotokatalis
sedikit, maka energi foton yang mengenai fotokatalis juga semakin sedikit dan
dapat mengakibatkan kemampuan elektron bereksitasi semakin kecil. Dengan
demikian maka akan menghasilkan OH radikal yang semakin sedikit dan
kemampuan mengoksidasi metilen biru menurun (Andari, 2014). Oleh karena itu
dapat simpulkan bahwa semakin besar konsentrasi Methlyene Blue yang
digunakan semakin tidak bagus dalam mendegradasi Methlyene Blue karna warna
zat warna tersebut semakin keruh. Maka konsentrasi Methlyene Blue yang paling
optimum digunakan yaitu saat konsentrasi Methlyene Blue sebesar 10-3 M. Hal ini
dapat dilihat dari Methlyene Blue yang didegradasi oleh katalis TiO2-SiO2 paling
besar.

Salah satu parameter penggunaan kinetika fotokatalitik (uji fotodegradasi)


adalah penentuan orde reaksi. Orde reaksi merupakan bentuk matematik
persamaan laju reaksi sebagai fungsi konsentrasi reaktan-reaktan yang terlibat
dalam reaksi. Orde reaksi menggambarkan perilaku dari molekul pada saat
mereka berbenturan atau mengalami tumbukan antar molekul. Tingkatan orde
reaksi menujukkan pola linear atau melengkung antara hubungan perubahan
konsentrasi reaktan/produk terhadap perubahan waktu (Fatimah, 2013). Data
disajikan pada Tabel 2.
41

Tabel 2. Data orde reaksi uji fotodegradasi dengan UV

Orde Konsentrasi Methylene Blue (MB)


orde 1 10-3 M 2.10-3 M 5.10-3 M
slope -0,3267 -0,1465 -0,0273
intersep 0,3487 -0,1486 0,0083
R2 0,9828 0,7655 0,08995
orde 2
slope 0,9628 0,2721 0,0299
intersep -0,6398 1,0991 0,9882
R2 0,9173 0,8548 0,9068
orde 3
slope 7,0066 1,0835 0,0658
intersep -13,673 0,7977 0,9681
2
R 0,8128 0,9105 0,9132

Kesesuaian persamaan orde reaksi dengan data ditunjukkan dari besarnya


koefisien determinasi (R2) yang terbesar. Dari data yang disajikan pada Tabel 2
hasil pengolahan data orde reaksi uji fotodegradasi dengan UV menunjukkan
bahwa saat MB 10-3 M kinetika reaksi cenderung mengikuti orde satu karena nilai
R2-nya adalah tersebesar yaitu 0,9828 dibandingkan dua model lainnya (orde dua
dan tiga). Besarnya slope = -kt, sehingga konstanta laju reaksi = 0,3267/menit.
Adanya kinetika reaksi yang mengikuti simulasi orde satu ini berarti dapat
disimpukan bahwa hanya terdapat satu komponen yang mempengaruhi laju reaksi.

Pada saat MB 2.10-3 M kinetika reaksi cenderung mengikuti orde 3 karena


nilai R2-nya adalah terbesar yaitu 0,9105 jika dibandingkan dengan dua model
lainnya (orde satu dan dua). Besarnya slope = 2Cokt, sehingga konstanta laju
reaksi= 541,75/menit. Dengan kinetika reaksi yang mengikuti simulasi orde tiga
ini dapat disimpulkan bahwa katalis TiO2-SiO2 atau H2O2 berpengaruh pada laju
reaksi.
42

Kinetika reaksi pada saat MB 5.10-3 M cenderung mengikuti simulasi orde


3. Hal ini dapat dilihat dari R2-nya adalah terbesar yaitu 0,9132 dibandingkan
dengan dua model lainnya (orde satu dan orde dua). Besarnya slope = 2Cokt,
sehingga konstanta laju reaksi= 32,9/menit. Dengan kinetika reaksi yang
mengikuti simulasi orde tiga ini dapat disimpulkan bahwa katalis TiO2-SiO2 atau
H2O2 berpengaruh pada laju reaksi.

Tabel 3. Data orde reaksi uji fotodegradasi tanpa UV

Orde Konsentrasi Methylene Blue (MB)


orde 1 10-3 M 2.10-3 M 5.10-3 M
slope -0,1744 -0,0389 -0,0606
intersep -0,766 0,0589 0,1219
R2 0,2705 0,8567 0,6995
orde 2
slope 0,5209 0,0424 0,1819
intersep 3,0268 0,9355 0,6061
R2 0,2098 0,8633 0,6203
orde 3
slope 4,3437 0,093 0,0736
intersep 13,912 0,8581 0,8463
R2 0,1795 0,8682 0,6603

Dari Tabel 3 hasil pengolahan data orde reaksi uji fotodegradasi tanpa UV
dapat dilihat bahwa saat MB 10-3 M kinetika reaksi cenderung mengikuti orde 1
karena nilai R2-nya terbesar dibandingkan dengan orde 2 dan orde 3. Kinetika
reaksi yang cenderung mengikuti orde 1 berarti hanya 1 komponen saja yang
mempengaruhi laju reaksi. ). Besarnya slope = -kt, sehingga konstanta laju reaksi
= 0,1744/menit.

Pada konsentrasi MB 2.10-3 M kinetika reaksi cenderung mengikuti orde 3


karena nilai R2-nya terbesar dibandingkan dengan orde satu dan orde dua.
Kinetika reaksi yang cenderung mengikuti orde 3 berarti menunjukkan katalis
43

TiO2-SiO2 atau H2O2 berpengaruh pada laju reaksi. Besarnya slope = 2Cokt,
sehingga konstanta laju reaksi= 46,5/menit.

Kinetika reaksi pada saat MB 5.10-3 M cenderung mengikuti simulasi orde


1. Hal ini dapat dilihat dari R2-nya adalah terbesar dibandingkan dengan dua
model lainnya (orde satu dan orde dua). Kinetika reaksi yang cenderung
mengikuti orde 1 berarti hanya 1 komponen saja yang mempengaruhi laju reaksi.
Besarnya slope = -kt, sehingga konstanta laju reaksi = 0,0606/menit.

Berdasarkan pengujian dan karakterisasi yang telah dilakukan material


TiO2-SiO2 berperan sebagai katalis yang dapat mendegradasi zat warna Methylene
Blue karena memiliki luas permukaan material yang cukup besar sehingga
berpengaruh terhadap banyaknya substansi adsorbat yang melekat pada katalis.
Hal ini dapat dilihat dari perbandingan waktu dengan absorbansi, semakin lama
proses degradasi yang dilakukan menyebabkan absorbansi semakin menurun
sehingga jumlah Methylene Blue yang terdegradasi semakin banyak. Sementara
itu penentuan orde reaksi menunjukkan adanya interakasi antara katalis TiO2-SiO2
dan zat warna Methylene Blue.
BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik


kesimpulan sebagai berikut:

1. Fotokatalis TiO2-SiO2 dapat disintesis dari abu daun bambu dan titanium (IV)
butoksida dengan metode sol-gel.
2. Karakteristik dari fotokatalis TiO2-SiO2 yaitu pada analisis SEM-EDX
menghasilkan sifat padatan amorf pada silika dengan material TiO2 tersebar
merata pada permukaan SiO2 dengan kadar TiO2-SiO2 yang dihasilkan yaitu
58,78%. Spektra FTIR TiO2-SiO2 menunjukkan bahwa pada serapan 1635,87
cm-1 terdapat gugus fungsi Ti-OH, serapan 1082,95 cm-1 adalah Si-O dan
serapan 965 cm-1 adalah gugus fungsi Ti-O-Si. Fase kristal pada pola difraksi
sinar-X yang dimiliki yaitu fase anatase dengan ukuran kristal 7,93 nm. Hasil
ini diperkuat oleh analisis SAA yang menunjukkan bahwa fotokatalis TiO2-
SiO2 hasil sintesis berukuran mesopori, volume pori yang dimiliki komposit
TiO2-SiO2 yaitu 0,392 serta jari-jari pori 284,45 Å dengan dengan besar energi
gap yang dihasilkan pada analisis DR UV-Vis adalah 3,57 eV.
3. Komposit TiO2-SiO2 hasil sintesis mampu meningkatkan aktivitas
fotokatalitiknya dalam mendegradasi zat warna Methylene Blue.
4. Konsentrasi (Molaritas) dari Methylene Blue sangat mempengaruhi besarnya
aktivitas fotodegrasi dari komposit TiO2-SiO2. Konsentrasi Metyhlene Blue
yang paling optimal yaitu 1.10-3 M.

6.2 Saran

Perlu dikaji lebih lanjut mengenai prekursor lain untuk mendapatkan


kandungan TiO2-SiO2 yang lebih baik. Serta mengkaji metode yang digunakan
untuk sintesis komposit TiO2-SiO2.

44
DAFTAR PUSTAKA

Ahmed, S., Rasul, W.N., Martens, R., Brown and Hashib, M.A., 2010, Advances
in Heterogeneous Photocatalytic Degradation of Phenols and Dyes in
Wastewater: A Review, Water Air Soil Pollut.
Amirullah, 2006, Biosorbsi Biru Metilena oleh Ganggang Cokelat (sargassum
binderi), FMIPA ITB, Bogor.

Andari, N.D., Wardhani, S., 2014, Fotokatalis TiO2-Zeolit Untuk Degradasi


Metilen Biru, Chem. Prog, vol. 7, no.1.
Anselme, P., 2013, Titanium Dioxide. Titanium Dioxide Manufactures
Assosiation for a brighter future, Brussels, Pan-cefic.
Aziz, Radhiyah Abd dan Sopyan, Iis. 2009. Synthesis of TiO2-SiO2 Powders and
Thin Film Photocatalysts by Sol-Gel Method. Indian Jurnal of Chemistry.
Vol 48 A. pp.951-957.

Brinker, and Scherer. 1990. Chem.Mater., 12, 434 – 441.

Castellote, M., dan Bengtsson, N., 2011, Principles of TiO2 Photocatalysis.


Application of Titanium Dioxide Photocatalysis to Construction Material,
Vol. 5: 5-10.

Chen, Y., Wang, K., Lou, L., 2004, Photodegradation of dye pollutants on silica
gel supported TiO2 particles under visible light irradiation. Journal of
Photochemistry and Photobiology, A: Chemistry 163, 281-287.

Cullity, B.D. and Stock, S.R., 2001, Elements of X-Rays Diffraction, 3rd Edition
Adison-Wesley Publishing Company INC, USA.

Dawnay, E.J.C., and Yeatman., 1997, Doped Sol-Gel Film for Silica-on-Silcon
Photonic Components, J. sol-gel Sci. Tech, 8, 1007-1011

Ding T. P., Ma G. R., Shui M. X., Wan D. F. and Li R. H. 2005.Silicon isotope


study on rice plants from the Zhejiang province, China”, Chemistry.
Geology. No. 218.

Dwivedi, V.N., Singh, N.P., Dass, S.S., Singh, N.B, 2006, A new
pozzolanicmaterial for cement industry: bamboo leaf ash, Int J Physics Sci,
pp. 106-111.

45
46

Fatimah, I., 2013, Kinetika Kimia, Graha Ilmu, Yogyakarta.

Fernandez, B.R., 2011, Sintesis Nanopartikel, Pascasarjana , Universitas Andalas,


Padang, hal 6-9.

Fujishima, A., Kazuhito, H., Hiroshi, I., 2005, TiO2 Photocatalysis A Historical
Overview and Future Prospects, Japanese Journal of Applied Phisics, vol.
44, no. 12.

Gao, X., dan Wachs I.E., 1999, Titania-silica as catalysts: molecular structural
characteristics and physico-chemical properties, Journal Catalysis Today,
Vol. 5: 233-254.

Grant, N. M., & Suryanayana, C.,1998, X-Ray Diffraction : A Partical Approach,


Plennum Press, New York.

Gregg, S.J., and Sing, K.S.W., 1982, Adsorpsi, Surface and Porosity, 2 ed,
Academic Press, London.

Guisnet, M. and Gilson, J.P. 2002. Zeolites for Cleaner Technologies, Imperial
College Press, London, 5-8.

Gunlazuardi, J. 2000, Fotoelektrokatalis untuk Detoksifikasi Air, Prosiding,


Seminar Nasional Elektrokimia, 1-21.

Gustavsson, A., dan Schuler E., 2010, Solar Photocatalytic Degradation of


Rhodamine B by TiO2 Nanoparticle Composites, Thesis, Physics of
Materials and Biological Systems Radiation Physics, University of
Gothenburg.

Harsono, H.2002. “Pembuatan Silika Amorf dari Limbah Sekam Padi”, Jurnal
Ilmu Dasar, Vol.3 No. 2.

Hidayat, W., 2008, Teknologi Pengolahan Air Limbah, Majari Magazine, Jakarta.

Hofmann, M.R., Seot, C.W., & Bahnemann, D.W. 1995. Chem rev. 69-96.

Hussein, F.H. 2011, Photochemical Treatments of Textile Industries


Wastewatewater, Advances, in Treatting Textile Effluent, Iraq: Chemistry
Department, College of Science, Babylon University.
47

Jafarzadeh, M., Rahman., I.A and Sipaut C.S., 2009, Synthesis of silica
nanoparticles by modified sol gel process: the effect of mixing modes of
the reactants and drying techniques, Journal of Sol-Gel Science
Technology, Vol. 50, pp. 328-336.

Jentoft, F.C., 2008, Diffuse Reflectance IR and UV-vis Spectroscopy, 4-6,


Faradayweg, Berlin.
Katsuki, H., Furuta, S.,Watari, T. dan Komarneni, S., 2005, ZSM-5 Zeolite/
porouscarbon composite : Conventional and Microwave-Hidrothermal
Synthesis from Carbonized Rice Husk, Microporous and Mesoporous
Material. 86: hlm 145-151

Kristian H. Sugiy7arto. 2004, Common Textbook Kimia Anorganik I,


Yogyakarta, UNY, hlm 180.

Kuo W.S and P.H. Ho. 2001, Solar Photocatalytic Decolorization of Metilen biru
in Water. J, Chemosphere, 45, 77-83

Kustanto, M.W., 2002, Analisis Spektroskopi UV-Vis “Penentuan Konsentrasi


Permanganat (KMnO4)”, Jurusan Fisika, Fakultas MIPA, Universitas
Sebelas Maret, Surakarta.

Landmann, M., Rauls E., dan Schmidt W.G., 2012, The electronic structure and
optical response of rutile, anatase and bookite TiO2, Journal of Physics,
No.24, 1-6.

Lestari, D.S., 2011, Preparasi Nanokomposit ZnO/TiO2 Dengan Metode


Sonokimia Serta Uji Aktivitasnya Untuk Fotodegradasi Fenol, Skripsi,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri
Semarang, Semarang.

Licciulli A., Lisi D., 2002, Self-Cleaning Glass, Universita Degli Studio, Lecce.

Nogueira, R.F.P., and Jardim, W.F., 1993, Photodegradation of Methylene Blue


Using Solar Light and Semiconductor (TiO2), J.Chem, Ed.70, 10, 861-862.
Palupi, E. 2006, Degradasi Metyhlene dengan Metode Fotokatalisis dan
Fotoelektro Katalisis Menggunakan Film TiO2, FMIPA ITB, Bogor.

Rohmah, N., 2015, Sintesis dan Karakterisasi Fotokatalis Ni-N-TiO2


Menggunakan Metode Sol-Gel untul Degradasi Metilen Biru, Skripsi,
Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Semarang, Semarang.
48

Rosyid, M., Nawangsih, E., Dewita, 2012, Perbaikan Surface Area Analyzer
NOVA-1000 (Alat Penganlisis Luas Permukaan Serbuk), Prosiding
Seminar Penelitian dan Pengelolaan Perangkat Nuklir, ISSN 1410-8178.

S. Musić1, N. Filipović-Vinceković and L. Sekovanić, 2011, Precipitation Of


Amorphous SiO2 Particles And Their Properties. Brazilian Journal of
Chemical Engineering, ISSN 0104-6632.
Sellapan, R., 2013, Mechanisms of Enhanced Activity of Model TiO2/Carbon and
TiO2/Metal Nanocomposite Photocatalysts, Department of Applied
Physics Chalmers University, Gotebrog, Sweden.

Simonsen, M.E., dan Soogard E.G., 2010, Sol-gel reactions of titanium alkoxides
and water: influence of pH and alkoxy group on cluster formation and
properties of the resulting products, Journal of Sol-Gel Science, 53(3):
485-497.

Sitorus, M., 2009, Spektroskopi edisi elusidasi struktur molekul organik, Graha
Ilmu, Yogyakarta.

Slamet, Ellyana, M & Bismo, S. 2008, Modifikasi Zeolit Alam Lampung Dengan
Forokatalis TiO2 Melalui Metode Sol Gel dan Aplikasinya Untuk
Penyisisihan Fenol, Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik,
Universitas Indonesia, Jakarta.

Strauss, M., Maroneze C.M., Silva J.M.S., Sigoli F.A., Gushikem Y., dan Mazali
I.O., 2011, Annealing suhue effects on sol-gel nanostructured mesoporous
TiO2/SiO2 and its photocatalytic activity, Materials Chemistry and
Physcis, 126, 188-194.

Tauqiyah, R., 2012, Perbandingan Struktur Kristal dan Morfologi Lapisan Tipis
Barium Titanat (BT) dan Barium Zirkonium Titanat (BZT) yang
ditumbuhkan dengan Metode Sol-Gel, Skripsi, Program Fisika, Fakultas
Ilmu dan Pengetahuan Alam, Universitas Sebelas Maret, Surakarta

Tim Prodi S1 Ilmu Kimia, 2016, Panduan Praktikum Kimia Instrumental II,
Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Yogyakarta.
49

T.D, A.O., 2009, Teknologi Penginderaan Mikroskopi, Tugas Makalah, Fakultas


Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sebelas Maret,
Surakarta.

Thermo, N., 2001, Introduction to Fourier Transform Infrared Spectrometry,


Thermo Nicolet Corporation , Madison USA.

Wijaya, K., Sugiharto, E., Fatimah, Is., Sudiono S., & Kurniaysih, D., 2006,
Utilisasi TiO2-Zeolit dan Sinar UV Untuk Fotodegradasi Zat Warna
Congro-Red, Laboratorium Kimia Fisika FMIPA UGM, Sekip Utara,
Jogjakarta.

Wiyono, E., 2015, Pengaruh Jenis Prekursor dan Suhu Kalsinasi Terhadap
Karakteristik Komposit TiO2-SiO2 dan Aplikasinya dalam Degradasi
Rhodamin B, Skripsi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Negeri Semarang, Semarang.

Yang, Y., Guo Y., Hu C., Jiang C., dan Wang E, 2003, Synergistic effect of
Keggintype [Xn+W11O39](12-n)- and TiO2 in macroporous hybrid materials
[Xn+W11O39](12-n)--TiO2 for the photocatalytic degradation of textile dyes
[Review]. J. Mater. Chem. Vol. 13: 1686-1694.

Yusefah, D., Amaria, 2014, 2014, Pengaruh Suhu Kalsinasi Terhadap Ukuran
Kristal dan Energi Celah Pita Komposit TiO2-SiO2, Journal of Chemistry,
vol. 3, no.1.

Zhang, Y., Weidenkaff A., dan Reller A, 2001, Mesoporous Structure and Phase
Transition of Nanosrystalline TiO2, Materials Letters, vol. 3429

Zhou, Q. F., Zhang, Q. Q., Zhang, J. X., Zhang, L. Y., and Yao, X., 1996,
Preparation and Optical Properties of TiO2 Nanocrystalline Particles in
SiO2 Nano Composites, Matt. Lett, 39-42.
LAMPIRAN

Lampiran 1. Hasil abu daun bambu

Lampiran 2. Fotodegradasi Metilen Biru dengan UV

50
51

Lampiran 3. Fotodegradasi Metilen Biru tanpa UV

Lampiran 4. Hasil fotodegradasi Metilen Biru dengan UV


52

Lampiran 5. Hasil Fotodegradasi Metilen Biru tanpa UV

Lampiran 6. Perhitungan pembuatan katalis TiO2-SiO2 10%

Diketahui : SiO2 = 3 gam

ρ TiBu = 0,97 g/mL

Ditentukan : Volume TiBu

Jawab

3 gram SiO2 = massa Ti

Ti = 10% x 3 g = 0,1 x 3 g = 0,3 gram

Dalam 1 mL → Ti = x 0,97 gram = 0,13644 gram

Dalam 0,3 gram → Ti = x 1 mL = 2,199 mL

Jadi banyaknya prekursor Titanium (IV) butoksida yang dibutuhkan untuk


membuat TiO2-SiO2 10% adalah 2,199 mL.

Lampiran 7. Perhitungan Metilen Biru konsentrasi 10-3 M

M=
53

10-3 =

gram = 0,16 → diencerkan dalam 500 mL.

Lampiran 8. Perhitungan Metilen Biru konsentrasi 2.10-3 M

M=

2.10-3 =

gram = 0,08 → diencerkan dalam 500 mL.

Lampiran 9. Perhitungan Metilen Biru 5.10-3 M

M=

5.10-3 =

gram = 0,03 → diencerkan dalam 500 mL.

Lampiran 10. Perhitungan konstanta laju reaksi Metilen Biru 10-3 M dengan UV

Orde 1 → slope = -kt

k=

k= = 0,3267/menit

Lampiran 11. Perhitungan konstanta laju reaksi Metilen Biru 2.10-3 M dengan
UV

Diketahui : Co = konsentrasi awal metilen biru (10-3 M)

Orde 3 → slope = 2Cokt

k=

k= = 541,75/menit
54

Lampiran 12. Perhitungan konstanta laju reaksi Metilen Biru 5.10-3 M dengan
UV

Diketahui : Co = konsentrasi awal metilen biru (10-3 M)

Orde 3 → slope = 2Cokt

k=

k= = 32,9/menit

Lampiran 13. Perhitungan konstanta laju reaksi Metilen Biru 1.10-3 M tanpa UV

Orde 1 → slope = -kt

k=

k= = 0,1744/menit

Lampiran 14. Perhitungan konstanta laju reaksi Metilen Biru 2.10-3 M tanpa UV

Diketahui : Co = konsentrasi awal metilen biru (10-3 M)

Orde 3 → slope = 2Cokt

k=

k= = 46,5/menit

Lampiran 15. Perhitungan konstanta laju reaksi Metilen Biru 5.10-3 M tanpa UV

Orde 1 → slope = -kt

k=

k= = 0,0606/menit
55

Lampiran 16. Hasil XRD TiO2-SiO2


56
57

Lampiran 17. Hasil Perhitungan D Komposit TiO2-SiO2

D= → diperoleh dari rad = deg. = 1,0288. = 0,01794684

= = 7,928507645 nm = 7,93 nm
58

Lampiran 18. Hasil SAA TiO2-SiO2


59
60
61

Lampiran 19. Hasil FTIR Silika (SiO2)


62

Lampiran 20. Hasil FTIR TiO2-SiO2