Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN PENDAHULUAN DAN

ASUHAN KEPERAWATAN DISTOSIA

Nama Kelompok :
1. Dhenis Puji Rahayu (1711005)
2. Herlina Binti Mahmudah (1711017)
3. Lutfi Huzaini (1711006)
4. Miftackul Nikmah (1711011)
5. Sinta Anna Insyia (1711023)
6. Umma Norrozhikin (1711024)

Program Studi Ilmu Keperawatan (S1)


STIKES PATRIA HUSADA
BLITAR
2019
KATA PENGANTAR

Segala Puja dan puji syukur kita panjatkan kepada Allah S.W.T yang
telah memberikan kita berbagai macam nikmat terutama nikmat sehat dan sempat
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang “ Laporan Pendahuluan
dan Konsep Asuhan Keperawatan Distosia” ini dapat diselesaikan dengan apa
adanya dan tepat pada waktunya.
Dengan adanya makalah ini, diharapkan dapat membantu proses
pembelajaran dan dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca. Penulis juga
tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, atas bantuan,dukungan
dan doanya. Makalah ini mungkin kurang sempurna, untuk itu kami mengharap
kritik dan saran dari Bapak/Ibu Dosen dan teman-teman untuk penyempurnaan
makalah ini.
Semoga makalah yang kami tulis ini dapat memberikan tambahan
wawasan bagi teman-teman mahasiswa keperawatan dan semoga bisa menjadi
bahan referensi untuk pembelajaran kita bersama.

Blitar, 17 November 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

ii
BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Distosia yang secara literatur berarti persalinan yang sulit, memiliki
karakteristik kemajuan persalinan yang abnormal atau lambat. Persalinan
abnormal atau lambat umum terjadi bila ada disproporsi antara ukuran bagian
terbawah janin dengan jalan lahir. Pada presentasi kepala, distosia adalah
indikasi yang paling umum saat ini untuk seksio sesaria primer.
CPD(cephalopelvic disproportion) adalah akibat dari panggul sempit, ukuran
kepala janin yang besar,atau lebih sering kombinasi dari kedua di atas. Setiap
penyempitan diameter panggul yang mengurangi kapasitas pelvis dapat
mengakibatkan distosia selama persalinan. Panggul sempit bisa terjadi pada
pintu atas panggul, midpelvis, atau pintu bawah panggul, atau umumnya
kombinasi dari ketiganya. Karena CPD bisa terjadi pada tingkat pelvic
inlet,outlet dan midlet,diagnosisnya bergantung pada pengukuran ketiga hal
tersebut yang dikombinasikan dengan evaluasi ukuran kepala janin.Panggul
sempit disebut-sebut sebagai salah satu kendala dalam melahirkan secara
normal karena menyebabkan obstructed labor yang insidensinya adalah 1-3%
dari persalinan.
Apabila persalinan dengan panggul sempit dibiarkan berlangsung sendiri
tanpa pengambilan tindakan yang tepat, timbul bahaya pada ibu dan janin.
Bahaya pada ibu dapat berupa partus lama yang dapat menimbulkan dehidrasi
serta asidosis, dan infeksi intrapartum,ruptur uteri mengancam serta resiko
terjadinya fistula vesikoservikalis, atau fistula vesikovaginalis,atau fistula
rektovaginalis karena tekanan yang lama antara kepala janin dengan tulang
panggul.Sedangkan bahaya pada janin dapat berupa meningkatkan kematian
perinatal,dan perlukaan pada jaringan di atas tulang kepala janin bahkan bisa
menimbulkan fraktur pada os parietalis.
Oleh sebab itu, penatalaksanaan keperawatan yang tepat akan sangat
membantu mengurangi dan memperbaiki masalah-masalah yang berhubungan

1
dengan resiko tinggi persalinan pada distosia.Dimana dengan perencanaan
yang tepat akan memberikan hasil yang lebih baik.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apakah definisi dari distosia ?
2. Apa saja klasifikasi distosia ?
3. Bagaimana etiologi distosia ?
4. Bagaimana manifestasi klinis distosia ?
5. Apa saja komplikasi distosia ?
6. Bagaimana penatalaksanaan medis dan keperawatan distosia ?
7. Bagaimana pengkajian asuhan keperawatan dari distosia ?

1.3 TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu :
1. Untuk mengetahui definisi dari distosia
2. Untuk mengetahui klasifikasi dari distosia
3. Untuk memahami etiologi dari distosia
4. Untuk memahami manifestasi klinis dari distosia
5. Untuk mengetahui komplikasi dari distosia
6. mengidentifikasi penatalaksanaan medis dan keperawatan distosia
7. mengidentifikasi pengkajian asuhan keperawatan distosia

2
BAB II PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI DISTOSIA


Persalinan distosia adalah persalinan yang memerlukan bantuan dari
luar karena terjadi penyimpangan dari konsep eutosia 3P (power, passage,
passenger). (manuaba, 1998). Menurut rustam mochtar, 1998 adalah kesulitan
dalam jalannya persalinan. Secara harfiah diartikan sebagai persalinan sulit
yang ditandai dengan kemajuan persalinan yang lambat (Al-fathdry, 2002).
Distosia adalah Kesulitan dalam jalannya persalinan. (Rustam Mukhtar,
1994). Distosia adalah persalinan yang panjang, sulit atau abnormal yang
timbul akibat berbagai kondisi. (Bobak, 2004 : 784)

Distosia adalah kesulitan dalam jalannya persalinan. Distosia karena


kelainan tenaga (his) yg tidak normal, baik kekuatan maupun sifatnya,
sehingga menghambat kelancaran persalinan.

2.2 KLASIFIKASI DISTOSIA


1. Distosia karena kelainan presentasi
Malpersentasi adalah semua persentasi janin selain vertex sementara
malposisi adalah posisi kepala janin relative terhadap pelvis dengan
oksiput sebagai titik referens,masalah ;janin yang dalam keadaan
malpresentasi dan malposisi kemungkinan menyebabkan partus lama.
Kelainan letak, persentasi atau posisi
a. Posisi oksipitalis posterior persisten, yaitu persalinan persentasi
belakang kepala.
b. Presentasi puncak kepala, bila defleksinya ringan sehingga UUB
merupakan bagian terendah.
c. Presentasi muka, dimana kepala dalam kedudukan defleksi maksimal
sehingga oksiput tertekan pada punggung.
d. Presentasi dahi, kedudukan kepala berada antara fleksi maksimal dan
defleksi maksimal sehingga dahi merupakan bagian terendah.
e. Letak sungsang, janin terletak memanjang dengan kepala di fundus
uteri dan bokong di bagian bawah kavum uteri.

3
f. Letak lintang, sumbu memanjang janin menyilang, sumbu memanjang
ibu tegak lurus atau mendekati 90 derajat.
g. Presentasi ganda, keadaan dimana disamping kepala janin di dalam
rongga panggul dijumpai tangan, lengan atau kaki, atau keadaan di
samping bokong janin dijumpai tangan
2. Distosia Kelainan Tenaga dan / His
a. Inersia uteri atau Hypotonic uterine countraction.
Kontraksi uterus lebih lemah, singkat dan jarang daripada normal.
Keadaan umum biasanya baik, dan rasa nyeri tidak seberapa.
b. His terlampau kuat atau Hypertonic uterine contraction (tetania uteri)
His yang terlalu kuat dan sering menyebabkan persalinan berlangsung
singkat tanpa relaksasi rahim. Hal ini dapat membahayakan bagi ibu
karena terjadinya perlukaan luas pada jalan lahir (dapat menyebabkan
ruptura uteri) sedangkan bayi bisa mengalami perdarahan dalam
tengkorak karena mendapat tekanan kuat dalam waktu singkat.
c. Aksi uterus inkoordinasi atau uncoordinate hypertonic uterine
contraction.
Sifat his yang tidak berubah dimana tidak ada koordinasi dan
sinkronisasi antara kontraksi dan bagian-bagiannya. Jadi kontraksi
tidak efisien dalam mengadakan pembukaan, apalagi dalam
pengeluaran janin.
3. Distosia karena alat kandungan dan jalan lahir
Meliputi alat kelamin luardan dalam,adapun yang bisa mempengaruhi
kemajuan persalinan dapat dijabarkan sebagi berikut :
a. Pada vulva
 Edema ditemukan pada persalinan lama yang disebabkan pasien
dibiarkan mengedan terus,jarang mempengaruhi kelangsungan
persalinan.
 Stenosis pada vulva yang diakibatkan oleh radang dapat sembuh
dan meninggalkan jaringan perut sehingga mengalami kesulitan
pada kala pengeluaran sehingga diperlukan episiotomy yang cukup
luas.

4
 Tumor dalam bentuk neoplasma.
b. Pada vagina
 Septum vagina yang tidak lengkap menyebabkan kadang-kadang
menahan turunnya kepala janin sehingga harus dipotong dahulu.
 Stenosis vagina yang tetap kaku menyebabkan halangan untuk
lahirnya janin perlu dipertimbangkan seksio sesaria
 Tumor vagina menyebabkan rintangan persalinan
pervaginam,beresiko kelancaran persalinan pervaginam.
c. Pada uterus
 Posisi anterversio uteri (posisi uterus ke depan)pada kala 1
pembukaan kurang lancar sehingga tenaga his salah arah,ajurkan
ibu untuk tidur pada posisi terlentang.
 Kelainan uterus seperti uterus sub septus dan uterus arkuatus yang
menyebabkan terjadinya letak lintang dan tidak bisa
dikoreksi.biasanya jalannya partus kurang lancar dan his kurang
lancar yang menyebabkan fungsi uterus kurang baik.
d. Kelainan pada ovarium
 Kista ovarium,jika tempatnya di daerah fundus maka persalinan
dapat berlangsung normal
 Jika kedudukan kista di pelvis minor,maka dapat menganggu
persalinan dan persalinan diakhiri dengan seksio saesaria.
4. Distosia karena kelainan janin
Klasifikasi :
- Distosia kepala : hydrosefalus (kepala besar,hygromonas koli / tumor
leher)
- Distosia bahu : bahu janin lebar seperti anak kingkong
- Distosia perut : hydro post fetalis,asites,akardiakus
- Distosia bokong : meningokel,spina bifida dan tumor pada bokong
janin
- Kembar siam (double monster)
- Monster lainnya.
a. Pertumbuhan janin yang berlebihan (janin besar )

5
Dikenal dengan makrosomia,atau giant baby adalah bayi dengan
berat badan diatas 4 kilogram.
b. hydrosefalus
Keadaan dimana terjadi penimbunan cairan serebrospinalis dalam
pentrikel otak,sehingga kepala menjadi besar serta terjadi pelebaran
sutura-sutura dan ubun-ubun.cairan yang tertimbun dalam pentrikel
biasanya antara 500-1500 ml,akan tetapi kadang-kadang dapat
mencapai 5 liter.hydrosefalus seringkali disertai kelainan bawaan
lain seperti misalnya spinabifida.
c. Anencefalus
Suatu kelainan congenital dimana tulang tengkorak hanya
terbentuk dari bagian basal dari os frontalis,os parietalis,dan os
oksipitali,os orbita sempit hingga Nampak penonjolan bola mata.
d. Kembar siam
Terjadi pada janin kembar ,melekat dengan penyatuan janin secara
lateral.pada banyak kasus biasanya terjadi persalinan
premature.apabila terjadi kemacetan dapat dilakukan tindakan
vaginal dengan merusak janin atau melakukan section saesaria.
e. Gawat janin
Terjadi bila janin tidak menerima cukup oksigen,sehingga
mengalami hipoksia .
5. Distosia karena kelainan panggul
Jenis kelainan panggul (Caldwell moloy) :
- Panggul ginekoid
- Panggul anthropoid
- Panggul android
- Panggul platipeloid
Perubahan panggul menurut munro kerr
- Perubahan bentuk karena kelainan pertumbuhan intruretin
- Perubahan bentuk karena penyakit pada tulang panggul dan atau sendi
- Perubahan bentuk karena penyakit tulang belakang
- Perubahan bentuk karena penyakit kaki

6
Perubahan bentuk Karena kelainan pertumbuhan intrauretin
- Panggul naegele
- Panggul Robert
- Split pelvis
- Panggul asimilasi
Perubahan bentuk karena penyakit pada tulang panggul dan atau sendi :
- Rakitis
- Osteoplasma
- Neoplasma
- Fraktur
- Atrofi
- Penyakit sendi

2.3 ETIOLOGI DISTOSIA


Distosia dapat disebabkan oleh :

1. Distosia karena kelainan presentasi


malpersentasi adalah semua persentasi janin selain vertex sementara
malposisi adalah posisi kepala janin relative terhadap pelvis dengan
oksiput sebagai titik referens,masalah ;janin yang dalam keadaan
malpresentasi dan malposisi kemungkinan menyebabkan partus lama
2. Distosia karena kelainan posisi janin
a.letak sunsang disebabkan oleh prematuritas karena bentuk rahim
relative kurang lonjong,air ketuban masih banyak dan kepala relative
besar,hidramion anak mudah bergerak,plasenta previa Karena
mengahalangi turunnya kepala kedalam pintu atas panggul,bentuk rahim
yang abnormal,kelainan bentuk kepala seperti amemsefalus dan
hidrosefalus (obsteri patologi;134)
b. letak lintang disebabkan oleh fiksasi kepala tidak ada indikasi CPD,
hidrosefalus,ansefalus,plasenta previa,dan tumor pelvis ,janin mudah
bergerak karena hidramion,multiparitas,pertumbuhan janin terhambat,
atau janin mati,gemeli, kelainan uterus,lumbar skoliosis, monster, pelvic
kidney,dan kandung kemih serta rectum penuh.
Distosia karena kelainan tenaga/ His

7
Disebabkan oleh sering dijumpai pada primigravida tua dan inersia uteri
sering dijumpai pada multi gravid,factor herediter,emosi dan kekuatan
,salah pimpinan persalinan pada kala II atau salah pemberian obat seperti
oksitosin dan obat penenang.
3. Distosia karena kelainan alat kandungan dan jalan lahir
Berkaitan dengan variasi ukuran dan tulang pelvis ibu atau keabnormalan
saluran reproduksi yang dapat mengganggu dorongan atau pengeluaran
janin
4. Distosia karena kelainan janin
1. Bayi besar
a. Diabetes mellitus
DM mengakibatkan ibu melahirkan bayi besar dengan berat
lahir mencapai 4000-5000 gram atau lebih
b. Keturunan
Seorang ibu gemuk berisiko 4 sampai 12 kali untuk melahirkan
bayi besar
c. Multiparitas dengan riwayat makrosomia sebelumnya
Bila bumil punya riwayat melahirkan bayi makrosomia
sebelumnya,maka ia berisiko 5-10 kali lebih tinggi untuk
kembali melahirkan makrosomia dibandingkan wanita yang
belum pernah melahirkan bayi makrosomia karena umumnya
berat seorang bayi yang akan lahirv berikitnya bertambah sekitar
80-120 gr.
2. Hydrosefalus
Terjadi penyumbatan aliran cairan serebrospinal pada salah satu
tempat antara tempat pembentukan CSS dalam sistem ventrikeldan
tempat absorpsi dalam ruang subaraknoid.
3. Anensefalus
Disebabkan factor mekanik, factor infeksi, factor obat, factor umur
ibu, factor hormonal.
4. Kembar siam

8
Terjadi apabila zigot dari bayi kembar identik gagal terpisah secara
sempurna. Karena terjadinya pemisahan yang lambat, maka pemisah
anak tidak sempurna dan terjadi kembar siam (UNPAD 1998).
5. Gawat janin
a. Infusiensi uteruplasenter akut (kurangnya aliran darah uterus
plasenta dalam waktu singkat) berupa : aktivitas uterus, yang
berlebihan, dapat dihubungkan dengan pemberian oksitosin,
hipotensi ibu, kompresi venakava, posisi terlentang, perdarahan
ibu, solusio plasenta, plasenta previa.
b. Infusiensi uteruplasenter kronik (kurang aliran darah uterus
plasenta dalam waktu lama) berupa penyakit hipertensi,
c. Diabetes melliltus
Pada ibu penderita DM maka kemungkinan pada bayi akan
mengalami hipoglikemia karena pada ibu yg diabetes
mengalami toleransi glukosa terganggu, dan dan seringkali
disertai hipoksia.
d. Isoimunisasi rh, postmaturnitas atau dismaturnitas, kompresi
(penekanan) tali pusat.

Kelainan his sering dijumpai pada primigravida tua sedangkan


inersia uteri sering dijumpai pada multigravida dan grandemulti. Faktor
herediter mungkin memegang pula peranan dalam kelainan his dan juga
factor emosi (ketakutan) mempengaruhi kelainan his. Salah satu sebab yg
penting dalam kelainan his inersia uteri, ialah apabila bahwa janin tidak
berhubungan rampat dengan segmen bawah rahim ini dijumpai pada
kesalahan-kesalahan letak janin dan disproporsi sefalopelvik.salah
pimpinan persalinan atau salah pemberian obat-obatan seperti oksitosin
dan obat oenenang. Kelainan pada uterus misalnya uterus birkornis
unikolis dapat pula mengakibatkan kelainan his. Inersia uteri adalah
kelainan his yg kekuatannya tidak adekuat untuk melakukan pembukaan
serviks atau mendorong janin keluar.

Inersia uteri dibagi menjadi 2 :

9
1. inersia uteri primer : terjadi pada awal fase laten
2. inersia uteri sekunder : terjadi pada fase aktif

2.4 MANIFESTASI KLINIS


 Dapat dilihat dan diraba, perut terasa membesar kesamping
 Pergerakan janin pada bagian kiri lebih dominan
 Nyeri hebat dan janin sulit untuk dikeluarkan
 Terjadi distensi berlebihan pada uterus
 Dada teraba seperti punggung, belakang kepala terletak berlawanan
dengan letak dada, teraba bagian – bagian kecil janin dan denyut jantung
janin terdengar lebih jelas pada dada.

2.5 PATOFISIOLOGI
Setelah kelahiran kepala, akan terjadi putaran paksi luar yang menyebakan
kepala berada pada sumbu normal dengan tulang belakang bahu pada
umumnya akan berada pada sumbu miring (oblique) dibawah ramus pubis.
Dorongan pada saat ibu meneran akan menyebabkan bahu depan (anterior)
berada dibawah pubis, bila bahu gagal untuk mengadakan putaran
menyesuaikan dengan sumbu miring dan tetap berada pada posisi
anteroposterior, pada bayi yang besar akan terjadi benturan bahu depan
terhadap simfisis sehingga bahu tidak lahir mengikuti kepala.

10
PATHWAY
Kelainan respon psikologis
Kelainan tenaga Kelainan bentuk dan letak Kelainan jalan lahir
janin (janin besar, letsu )
Kurang pengetahuan ttg PAP sempit Ketokolamin
cara mengejan dg benar
Vasokontriksi pmb.
Kontraksi tdk sinkron Darah di miometrium
dg tenaga Janin kesulitan
melewati PAP His/ kontraksi uterus
Tenaga cepat habis

Kesulitan persalinan/ macet

DISTOSIA

Tonus otot Partus lama Rencana


tindakan SC
Obstruksi mekanis pd Penekanan pd jalan Penekanan kepala Energy ibu Jalan lahir terpapar
penurunan janin lahir janin pd panggul terlalu lama dg Krisis situasi
hipermetabolisme udara luar
Menekan saraf Ketokolamin
Resiko cedera Resiko cedera
pada ibu Resiko Pathogen mudah
Respon hipotalamus pada janin stress
ketidakseimbangan masuk
Pengeluaran mediator nyeri cairan
Resiko infeksi Ansietas
Respon nyeri

11
Nyeri akut
2.6 KOMPLIKASI
Distosia yang tidak ditangani dengan segera dapat mengakibatkan komplikasi
antara lain :
a. Pada ibu akan terjadi ruptur jalan lahir akibat his yang kuat sementara
kemajuan janin dalam jalan lahir tertahan dan juga dapat mengakibatkan
terjadinya fistula karena nekrosis pada jalan lahir
b. Pada janin distosia akan berakibat kematian karena janin mengalami
hipoksia dan perdarahan

2.7 PENATALAKSANAAN MEDIS DAN KEPERAWATAN


a. Fase laten yang memanjang : Selama ketuban masih utuh dan passage
serta passanger normal, pasien dengan fase laten memanjang sering
mendapat manfaat dari hidrasi dan istirahat terapeutik. Apabila dianggap
perlu untuk tidur, morfin(15 mg) dapat memberikan tidur 6-8 jam. Apabila
pasien terbangun dari persalinan, diagnosa persalinan palsu dapat ditinjau
kembali, berupa perangsangan dengan oksitosin.
b. protraksi : Dapat ditangani dengan penuh harapan, sejauh persalinan mau
dan tidak ada bukti disproporsi sevalopelvik, mal presentasi atau fetal
distress. Pemberian oksitosin sering bermanfaat pada pasien dengan suatu
kontrakti hipotonik.
c. Kelainan penghentian : Apabila terdapat disproporsi sevalopelvik
dianjurkan untuk dilakukan seksio sesarea.perangsangan oksitosin hanya
dianjurkan sejauh pelviks memadai untuk dilalui janin dan tidak ada tanda-
tanda fetal distress

Pemeriksaan klinik dan ultrasonografi yg seksama terhadap janin yg


sedang tumbuh, disertai dengan faktor-faktor yang diketahui merupakan
predisposisi terhadap makrosomia (bayi besar) memungkinkan dilakukannya
sejumlah kontrol terhadap pertumbuhan yg berlebihan pemantauan glukosa
darah ( pada saat datang atau umur 3jam, kemudian tiap 6 jam sampai 24 jam
atau bila kadar glukosa >_ 45 gr% dua kali berturut- turut). Pemantauan
elektrolit pemberian glukosa parenteral sesuai indikasi hidrokortison
5mg/kg/hari IM dalam dua dosis bila pemberian glukosa parenteral tidak
efektif.

12
2.8 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
 Tes Prenatal : Untuk memastikan penyulit persalinan seperti : janin besar,
malpresentasi
 Pelvimetri sinar X : Mengevaluasi arsitektur pelvis, presentasi dan posisi
janin
 Pengambilan sample kulit kepala janin : mendeteksi atau mencegah
asidosis

BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 PENGKAJIAN
1. Identitas Klien : nama, umur, pekerjaan, pendidikan, agama, suku/bangsa.
2. Keluhan utama : proses persalinan yang lama menyebabkan adanya
keluhan nyeri dan cemas.
3. Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya dalam kehamilan sekarang ada kelainan seperti : Kelainan letak
janin (lintang, sunsang dll) apa yang menjadi presentasi dll.
4. Riwayat kesehatan dahulu
Yang perlu dikaji pada klien, biasanya klien pernah mengalami distosia
sebelumnya, biasanya ada penyulit persalinan sebelumnya seperti
hipertensi, anemia, panggul sempit, biasanya ada riwayat DM, biasanya
ada riwayat kembar dll.
5. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit kelainan darah, DM,
eklamsi dan pre eklamsi.

3.2 PEMERIKSAAN FISIK


1. Kepala
Rambut tidak rontok, kulit kepala bersih tidak ada ketombe
2. Mata
Biasanya konjungtiva anemis
3. Thorak

13
Inpeksi pernafasan : Frekuensi, kedalam, jenis pernafasan, biasanya ada
bagian paru yang tertinggal saat pernafasan
4. Abdomen
Kaji his (kekuatan, frekuensi, lama), biasanya his kurang semenjak awal
persalinan atau menurun saat persalinan, biasanya posisi, letak, presentasi
dan sikap anak normal atau tidak, raba fundus keras atau lembek, biasanya
anak kembar/ tidak, lakukan perabaab pada simpisis biasanya blas penuh/
tidak untuk mengetahui adanya distensi usus dan kandung kemih.
5. Vulva dan Vagina
Lakukan VT : biasanya ketuban sudah pecah atau belum, edem pada
vulva/servik, biasanya teraba promantorium, ada/tidaknya kemajuan
persalinan, biasanya teraba jaringan plasenta untuk mengidentifikasi
adanya plasenta previa
6. Panggul
Lakukan pemeriksaan panggul luar, biasanya ada kelainan bentuk panggul
dan kelainan tulang belakang

3.3 POLA FUNGSIONAL GORDON


1. Pola persepsi-menajemen kesehatan klien terkadang tidak mengetahui
bagaimana penatalaksaan terhadap sakitnya ini
2. Pola nutrisi – metabolik, biasanya pada klien terdapat penurunan nafsu
makan karena sakit yang ia alami
3. Pola eliminasi, biasanya pada klien ini distensi usus atau kandung kemih
yang mungkin menyertai
4. Pola latihan dan aktivitas keadaan, biasanya pada klien ini mengalami
keletihan, kurang energi, letargi, penurunan penampilan
5. Pola istirahat dan tidur, biasanya pada klien ini istriharatnya terganggu
karena sakit yang dirasakan
6. Konsep diri merasa stress dengan keadaan penyakitnya ini
7. Pola peran dan hubungan, biasanya ada sedikit masalah karena klien
merasa rendah diri karena selalu merasa bergantung kepada orang di
sekitarnya

14
8. Pola reproduksi uterus mungkin distensi berlebihan karena hidramnion,
gestasi multipel.
9. Pola kognitif-perseptual, biasanya tidak ada masalah dengan indra.
10. Pola coping, klien biasanya tampak cemas dan keakutan
11. Pola keyakinan, pada keadaan ini klien susah menjalankan kewajibannya
dalam beribadah karena sakit yang ia alami

3.4 DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Nyeri Akut (Psikologi, Nyeri dan Kenyamanan, D.0077)
2. Resiko cedera pada ibu (Lingkungan, Keamanan dan Proteksi, D.0137)
3. Resiko cedera pada janin (Lingkungan, Keamana dan Proteksi, D.01338)
4. Resiko ketidakseimbangan cairan (Fisiologis, NutrisiCairan, D0036)
5. Resiko infeksi (Lingkungan, Keamanan dan Proteksi, D.0142)
6. Ansietas (Psikologis, Integritas Ego, D.0080)

3.5 INTERVENSI
NO SDKI SLKI SIKI
1. Nyeri akut Tingkat nyeri menurun Manajemen nyeri :
Pengertian : dengan kriteria hasil : Observasi
pengalaman - Keluhan nyeri - Identifikasi lokasi,
sesorik/emosional menurun karakteristik, durasi,
yang berkaitan - Sikap protektif frekuensi, kualitas,
dengan kerusakan menurun intensitas nyeri
jaringan - Gelisah menurun - Identofokasi skala
actual/fungsional, - Kesulitan tidur nyeri
dengan onset menurun - Identifikasi factor yang
mendadak/lambt - Ketegangan otot memperberat dan
dan berintensitas menurun memperingan nyeri
ringan hingga berat - Perineum terasa Terapeutik
yang berlagsung tertekan menurun - Berikan teknik
kurang dari 3 - Pola tidur nonfarmakologis untuk
bulan (D.0077) membaik mengurangi rasa nyeri
- Control lingkungan

15
yang memperberat rasa
nyeri
- Pertimbankan jenis dan
sumber nyeri dalam
pemilihan strategi
meredakan nyeri
Edukasi
- Jelaskan penyebab,
periode, dan pemicu
nyeri
- Ajarkan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
Kolaboasi
Kolaborasi pemberian
analgetik, jika perlu
2. Resiko cedera pada Tingkat cidera menurun Pencegahan cidera :
ibu dengan kriteria hasil : Observasi
Pengertian : - Ketegangan otot - Identifikasi area
Bersiko menurun lingkungan yang
mengalami - Ekspresi wajah berpotensi
bahaya/kerusakan kesakitan menurun menyebabkan cedera
fisik pada ibu - Perdarahan - Identifikasi obat yang
selama masa menurun berpotensi
kehamilan sampai - Frekuensi nafas menyebabkan cedera
dengan proses membaik Terapeutik
persalinan - Pola istirahat/tidur - Sediakan pencahayaan
(D.0137) membaik yang memadai
- Sediakan pispot untuk
eliminasi di tempat
tidur, jika perlu
- Pertahankan posisi

16
tempat tidur di posisi
terendah saat
digunakan
- Pastikan roda tempat
tidur terkunci
- Gunakan pengaman
tempat tidur sesuai
dengan kebijakan
fasilitas pelayanan
kesehatan
- Diskusikan mengenal
latihan dan terapi fisik
yang digunakan
Edukasi
- Njurkan bearganti
posisi secara perlahan
dan duduk selama
beberapa menit
sebelum berdiri
3. resiko cedera pada Tingkat cidera
janin
Pengertian :
beresiko
mengalami
bahay/kerusakan
fisik pada janin
selama proses
kehamilan dan
persalinan
(D.0138)
4. Resiko Keseimbangan cairan Manajemen cairan :
ketidakseimbangan meningkat dengan Observasi

17
cairan kriteria hasil : - Monitor status hidrasi
Pengertian : - Asupan cairan (mis. Frekuensi nadi,
beresiko meningkat kekuatan nadi, akral,
mengalami - Kelembaban pengisian kapiler,
penurunan, membrane mukosa kelembapan mukosa,
peningkatan/perce meningkat turgor kulit, tekanan
patan perpindahan - Asupan makanan darah)
cairan dari menigkat - Monitor hasil
intravaskuler, - Membrane mukosa pemeriksaan
interstisial/intrasel membaik laboratorium
ular (D.0036) - Dehidras menurun Terapeutik
- Catat intake-output
cairan, sesuai
kebutuhan
- Berikan asupan cairan,
sesuai kebutuhan
- Berikan cairan
intravena, jika perlu
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian
diuretic, jika perlu
5. Resiko infeksi Resiko infeksi menurun Pencegahan infeksi :
Pengertian : dengan kriteria hasil : Observasi
beresiko - Nafsu makan - Monitor tanda dan
mengalami meningkat gejala infeksi local dan
peningkatan - Nyeri menurun sistemik
terserang - Terapeutik
organisme - Batasi jumlah
patogenik pengunjung
(D.0142) - Cuci tangan sebelum
dan sesudah kontak
dengan pasien dan

18
lingkungan pasien
- Pertahankan teknik
aseptic pada psien
beresiko tinggi
Edukasi
- Jelaskan tanda dan
gejala infeksi
- Ajarkan cara mencuci
tangan dengan benar
- Anjurkan
meningkatkan asupan
nutrisi
- Anjurkan
meningkatkan asupan
cairan
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian
imunisasi, jika perlu
6. Ansietas Tingkat ansietas Reduksi ansietas :
Pengertian : menurun dengan Observasi
kondisi emosi dan kriteria hasil : - Identifikasi saat tingkat
pengalaman - Verbalisasi ansietas berubah
subyektif individu kebingungan - Monitor tanda-tanda
terhadap objek menurun ansietas (verbal dan
yang tidak jelas - Verbaslisasi nonverbal)
dan spesifik akibat khawatir akibat Terapeutik
antisipasi bahaya kondisi yang - Ciptakan suasana
yang dihadapi menurun terapeutik untuk
memngkinkan - Perilaku gelisah menumbuhkan
individu menurun kepercayaan
melakukan - Perilaku tegang - Temani pasien untuk
tindakan untuk menurun mengurangi

19
menghadapi - Pola tidur kecemasan, jika
ancaman (D.0080) membaik memunginkan
- Pola berkemih - Gunakan pendekatan
membaik ynag tenang dan
meyakinkan
- Motivasi
menidentifikasi situasi
yang memicu
kecemasan
Edukasi
- Jelaskan prosedur,
termasuk sensasi yang
mungkin dialami
- Anjurkan keluaga
untuk tetap bersama
pasien, jika perlu
- Anjurkan
mengungkapkan
perasaan dan persepsi
- Latihh kegiatan
pengalihan untuk
mengurangi
ketegangan
- Latih teknik relaksasi
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian obat
antiansietas,, jika perlu

20
BAB IV APLIKASI KASUS SEMU

Seorang ibu multipara G2P1A0 datang ke rumah sakit dengan keluhan


merasa kenceng-kenceng, dari hasil pengkajian perawat didapatkan data sebagai
berikut : TD 140/100 mmHg, Nadi 80x/menit, pembukaan 3 cm, klien sudah
tampak keletihan, kurang energi, fase laten memanjang 14 jam, kontraksi setiap 7
menit, serviks kaku.

4.1 PENGKAJIAN
Identitas Klien
Nama : Ny A
Umur : 34 tahun
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pendidikan : SMA
Alamat : Pondok Bukit Agung AA-4 Sumurboto Banyumanik
Pekerjaan : Guru

4.2 RIWAYAT KESEHATAN


a. Kehamilan saat ini
Ibu multipara G2P1A0 dengan usia gestasi 37 minggu, mengalami
distosia, mengeluh kenceng-kenceng, pembukaan 3 cm, klien sudah

21
tampak keletihan, kurang energi, fase laten memanjang 14 jam, kontraksi
setiap 7 menit, serviks kaku, HPHT : 6 Oktober 2013, dan HPL : 13
Agustus 2014
b. Kehamilan dahulu
Klien mengatakan saat ini adalah kehamilan yang kedua, klien belum
pernah mengalami abortus.
c. Keluhan utama
Klien mengeluh kenceng-kenceng di abdomennya.
d. Riwayat Ginekologi
Menarche : 12 th
Siklus Haid : 28 hari
Teratur/ tidak teratur : Teratur
Sifat darah : Encer
Banyak : 3x ganti pembalut
Lamanya : 7 hari
Keluhan : Klien mengatakan bahwa ia mengalami
dismenorhoe
e. Riwayat Medis
Pasien mengatakan tidak pernah menderita penyakit berat seperti HIV,
diabetes, kanker, ginjal, jantung.
f. Riwayat Medis Keluarga
Saudara kandung klien pernah mengalami kesulitan melahirkan karena
kelainan HIS
g. Riwayat Pekerjaan
Klien merupakan wanita karir yang bekerja sebagai guru dan harus
menjaga toko setelah pulang bekerja.

4.3 PEMERIKSAAN FISIK


a. Umum
1) Tinggi badan : 155 cm
2) Berat badan : Sebelum : 48 Kg, Sekarang : 58 Kg
3) TTV :
a) TD : 140/100 Nadi : 80x/ menit

22
b) RR : 26x/ menit Suhu : 36,5 C
b. Kepala
1) Bentuk kepala Mesochepal, kepala teampak kurang bersih, tidak
terdapat cloasma gravidarum, dan atau benjolan.
2) Pemeriksaan leher tidak ditemukan pembesaran kelenjar tioroid.
3) Pemeriksaan mata tidak ada pembengkakan pada kelopak mata,
konjungtiva anemis, selaput mata pucat (anemia) karena proses
persalinan yang mengalami perdarahan, sklera kuning.
4) Telinga simetris, telinga tampak bersih dan tidak ada cairan yang
keluar dari telinga.
5) Pemeriksatidak terdapat polip pada hidung.
c. Kulit
1) Telapak kaki dan tangan tampak kemerahan
2) Jumlah keringat meningkat
3) Kulit berminyak dan berjerawat
4) Terdapat gars-garis putih pada kulit (striae gravidarum)
d. Wajah
1) Pucat
2) Bercak hiperpigmentasi kecoklatan pada pipi dan dahi (Chloasma
gravidarum).
3) Tidak terlihat adanya oedema
e. Jantung
Murmur jantung sistolik (90% pd wanita hamil) 1/6 atau 2/6 adalah ringan.
Bila murmur sistolik 2/6< harus dilakukan pemeriksaan lanjutan.
f. Dada
1) Letak payudara simetris
2) Hyperpigmentasi areola mamae
3) Puting susu menonjol
4) Terdapat colostrum
5) Bunyi nafas vesikuler, jenis pernapasan thoracoabdominal
g. Abdomen
1) Inspeksi

23
a) Tidak terdapat bekas luka operasi
b) Terdapat Linea nigra di garis tengah perut
c) Terjadi M. Rectus abdominis terbelah kiri-kanan pada trisemester
ketiga kehamilan
d) Terdapat Striae Gravidarum
e) Bising usus berkurang
2) Palpasi
a) Tonus meningkat dan terdapat nyeri tekan
b) Terdapat strie gravidarum (garis yang terlihat pada kulit perut
wanita hamil).
c) Leopold I :-
d) Leopold II : Sering dijumpai kesalahan letak
e) Leopold III : Bagian terbawah janin belum turun, letak
kepala biasanya kepala masih goyang atau terapung(floating) atau
mengolak diatas pintu atas panggul.
f) Leopold IV : Kepala janin belum masuk pintu atas
panggul
3) Perkusi : Reflek lutut +/+
h. Genitalia
1) Tidak terdapat kelainan genetalia, terdapat pengeluaran air ketuban, adanya
kelainan letak anak.
2) Pengkajian genitalia eksterna:warna kemerahan dan peningkatan
vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda Chandwick ).
3) Pengkajian vagina dan serviks: tidak adanya rabas vagina, servisitis
mukopurulen dan lesi.

i. Dengan inersia sekunder


1) Subjektif : Pada keluhan utama : perut mules bagian bawah dan
menjalar sampai kepinggang disertai pengeluaran lendir campur darah
dari alat kelamin ibu
2) Objektif : perut kenceng-kenceng bagian bawah dan menjalar ke
pinggang serta his tidak teratur dengan frekuensi 1 x dalam 7 menit
dengan lama 32 detik
3) Anemia ringan

24
a) Subjektif : ibu mengeluh pusing dan badan lemas
b) Objektif : konjungtiva pucat, kuku agak pucat
c) Penunjang : Hb 9,5 gr%
4) Janin tunggal hasil pemeriksaan leopold 1 – IV : teraba 1 bokong, 1
bagian besar di bagian kanan di bagian kanan dan 1 kepala
5) Janin hidup : hasil pemeriksaan DJJ + : 150 x/ menit
6) Presentasi kepala
hasil pemeriksaan Leopold I – IV : bagian terbawah janin teraba bulat,
keras dan melenting
j. Anus
Tidak terdapat oedema dan nyeri, tidak ada haemoroid pada rectum.

4.4 PENGKAJIAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA


a. Aktivitas/istrahat
1) Melaporkan keletihan, kurang energi
2) Letargi, penurunan penampilan
b. Sirkulasi
1) Tekanan darah dapat meningkat
2) Mungkin menerima magnesium sulfat untuk hipertensi karena kehamilan
c. Eliminasi
Distensi usus atau kandung kemih
d. Integritas ego
Sangat cemas dan ketakutan
e. Nyeri/ketidaknyamanan
1) Klien menunjukan persalinan palsu di rumah
2) Kontraksi jarang, dengan intensitas ringan sampai sedang (kontraksi setiap
7 menit sekali)
3) Dapat terjadi sebelum awitan persalinan (diasfungsi fase laten primer) atau
setelah persalinan terjadi (disfungsi fase aktif sekunder)
4) Fase laten persalinan dapat memanjang : pembukaan 3 dalam 14 jam
5) Tonus istrahat miometrial mungkin 8 mm Hg atau kurang dan kontraksi
dapat terukur kurang dari 30 mm Hg atau dapat terjadi masing-masing lebih
dari 5 menit. Sedangkan, tonus istrahat dapat lebih besar dari 15 mm Hg,
pada peningkatan kontraksi 50 sampai 85 mm Hg dengan peningkatan
frekuensi dan penurunan intensitas.

25
f. Keamanan
1) Dapat mengalami versi eksternal setelah gestasi 34 minggu dalam upaya
untuk mengubah presentasi bokong menjadi presentasi kepala.
2) Penurunan janin mungkin kurang dari 1 cm/jam pada nulipara atau kurang
dari 2 cm/jam pada multipara (penurunan dengan durasi yang lebih lama
(protracted). Tidak ada kemajuan yang terjadi dalam 1 jam atau lebih untuk
nulipara atau dalam 30 menit pada multipara (penghentian penurunan)
3) Serviks kaku/tidak siap.
4) Dilatasi kurang dari 1,2 cm/jam pada primipara atau kurang dari 1,5 cm/jam
untuk multipara, pada (fase aktif protraksi)
g. Seksualitas
1) Dapat primigravida atau grand multipara
2) Uterus mungkin distensi berlebihan karena hidramnion, gestasi multipel,
janin besar, atau grand multriparitis.
3) Dapat mengalami tumor uterus tidak teridentifikasi.
h. Nutrisi dan cairan
Klien mengalami penurunan nafsu makan (1 kali/ hari), frekuensi minum
klien juga mengalami penurunan (3 gelas/ 8 jam). Klien mengalami
pengeluaran air ketuban yang banyak.
i. Nyeri
Gangguan ketidaknyamanan dan nyeri pada daerah pinggang karena
kontraksi intermiten sampai regular yang jaraknya kurang dari 10 menit
selama paling sedikit 30 detik dalam 30-60 menit. Skala nyeri klien adalah
9, durasi dan awitan nyeri yang dialami klien setiap 7 menit sekali saat
kontraksi dan berakhir setelah kontraksi.
j. Personal Hygiene
Klien mandi 1x/ hari, sikat gigi 2x/ hari
k. Seksualitas
Biasanya terjadi disfungsi seksual yaitu perubahan dalam hubungan
seksual atau fungsi dari seksual yang tidak adekuat karena keterbatasan
gerak ibu hamil, menurunan libido.

4.5 DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Nyeri akut

26
2. Resiko cederapada ibu
3. Resiko cedera pada janin
4. Keletihan
5. Ansietas

4.6 ANALISA DATA

NO Data Etiologi Masalah


1. Ds : klien mengatakan nyeri Partus lama Nyeri Akut
pada bagian pinggang ↓
Penekanan pd jalan lahir
Do : ↓
P : kontraksi intermiten Menekan syaraf
sampai regular ↓
Q : tertusuk-tusuk Respon hipotalamus
R : pinggang ↓
S :9 Pengeluaran mediator
T : setiap 7 menit sekali saat nyeri
kontraksi dan berakhir ↓
setelah kontraksi. Nyeri Akut
-pasien tampak gelisah
2. Kesulitan persalinan Resiko cedera
meneyebabkan distosia pada ibu

Partus lama

Penurunan tonus otot

Obstruksi mekanis pada
penurunan janin

Resiko cedera pada ibu

27
3. Janin kesulitan melewati Resiko cedera paa
PAP janin

Distosia

Partus lama

Penekanan kepala janin
pada panggul

Resiko cedera pada
janin
4. Ds : Kurang pengetahuan Keletihan
Px mengeluh lelah tentang cara mengejan
dengan benar
Do : ↓
-pasien tampak keletihan Kontraksi tidak sinkron
dan kurang energi dengan tenaga
-pasien tampak lesu ↓
Tenaga cepat habis

Keletihan
5. Ds : Partus lama Ansietas
px mengatakan khawatir ↓
terhadap kondisinya Rencana tindakan SC

Do : Krisis situasi
- pasien tampak cemas dan ↓
ketakutan Ketokolamin meningkat
- RR : 26x/menit ↓
Stress

28
Ansietas

4.7 INTERVENSI

NO SDKI SLKI SIKI


1. Nyeri akut Tingkat nyeri menurun Manajemen nyeri :
Pengertian : dengan kriteria hasil : Observasi
pengalaman - Keluhan nyeri - Identifikasi lokasi,
sesorik/emosional menurun karakteristik, durasi,
yang berkaitan - Sikap protektif frekuensi, kualitas,
dengan kerusakan menurun intensitas nyeri
jaringan - Gelisah menurun - Identofokasi skala
actual/fungsional, - Kesulitan tidur nyeri
dengan onset menurun - Identifikasi factor yang
mendadak/lambt - Ketegangan otot memperberat dan
dan berintensitas menurun memperingan nyeri
ringan hingga berat - Perineum terasa Terapeutik
yang berlagsung tertekan menurun - Berikan teknik
kurang dari 3 - Pola tidur nonfarmakologis untuk
bulan (D.0077) membaik mengurangi rasa nyeri
- Control lingkungan
yang memperberat rasa
nyeri
- Pertimbankan jenis dan
sumber nyeri dalam
pemilihan strategi
meredakan nyeri

29
Edukasi
- Jelaskan penyebab,
periode, dan pemicu
nyeri
- Ajarkan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
Kolaboasi
Kolaborasi pemberian
analgetik, jika perlu
2. Resiko cedera pada Tingkat cidera menurun Pencegahan cidera :
ibu dengan kriteria hasil : Observasi
Pengertian : - Ketegangan otot - Identifikasi area
Bersiko menurun lingkungan yang
mengalami - Ekspresi wajah berpotensi
bahaya/kerusakan kesakitan menurun menyebabkan cedera
fisik pada ibu - Perdarahan - Identifikasi obat yang
selama masa menurun berpotensi
kehamilan sampai - Frekuensi nafas menyebabkan cedera
dengan proses membaik Terapeutik
persalinan - Pola istirahat/tidur - Sediakan pencahayaan
(D.0137) membaik yang memadai
- Sediakan pispot untuk
eliminasi di tempat
tidur, jika perlu
- Pertahankan posisi
tempat tidur di posisi
terendah saat
digunakan
- Pastikan roda tempat
tidur terkunci
- Gunakan pengaman

30
tempat tidur sesuai
dengan kebijakan
fasilitas pelayanan
kesehatan
- Diskusikan mengenal
latihan dan terapi fisik
yang digunakan
Edukasi
- Njurkan bearganti
posisi secara perlahan
dan duduk selama
beberapa menit
sebelum berdiri
3. resiko cedera pada Tingkat cidera
janin
Pengertian :
beresiko
mengalami
bahay/kerusakan
fisik pada janin
selama proses
kehamilan dan
persalinan
(D.0138)
4.
6. Ansietas Tingkat ansietas Reduksi ansietas :
Pengertian : menurun dengan Observasi
kondisi emosi dan kriteria hasil : - Identifikasi saat tingkat
pengalaman - Verbalisasi ansietas berubah
subyektif individu kebingungan - Monitor tanda-tanda
terhadap objek menurun ansietas (verbal dan
yang tidak jelas - Verbaslisasi nonverbal)

31
dan spesifik akibat khawatir akibat Terapeutik
antisipasi bahaya kondisi yang - Ciptakan suasana
yang dihadapi menurun terapeutik untuk
memngkinkan - Perilaku gelisah menumbuhkan
individu menurun kepercayaan
melakukan - Perilaku tegang - Temani pasien untuk
tindakan untuk menurun mengurangi
menghadapi - Pola tidur kecemasan, jika
ancaman (D.0080) membaik memunginkan
- Pola berkemih - Gunakan pendekatan
membaik ynag tenang dan
meyakinkan
- Motivasi
menidentifikasi situasi
yang memicu
kecemasan
Edukasi
- Jelaskan prosedur,
termasuk sensasi yang
mungkin dialami
- Anjurkan keluaga
untuk tetap bersama
pasien, jika perlu
- Anjurkan
mengungkapkan
perasaan dan persepsi
- Latihh kegiatan
pengalihan untuk
mengurangi
ketegangan
- Latih teknik relaksasi
Kolaborasi

32
Kolaborasi pemberian obat
antiansietas,, jika perlu

BAB V PENUTUP

Persalinan tidak selalu berjalan lancar, terkadang ada kelambatan dan


kesulitan yang dinamakan distosia. Salah satu penyebab distosia itu adalah karena
kelainan his yaitu suatu keadaan dimana his tidak normal, baik kekuatannya
maupun sifatnya sehingga menghambat kelancaran persalinan.

Setelah rencana tindakan keperawatan disusun secara sistemik.


Selanjutnya rencana tindakan tersebut diterapkan dalam bentuk kegiatan yang
nyata dan terpadu guna memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan yang
diharapkan.

Akhir dari proses keperawatan adalah ketentuan hasil yang diharapkan


terhadap perilaku dan sejauh mana masalah klien dapat teratasi. Disamping itu
perawat juga melakukan umpan balik atau pengkajian ulang jika tujuan ditetapkan
belum berhasil/ teratasi.

33
DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo S. 2006. Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan


neonatal. Jakarta : YBP-SP

Prawirohardjo Sarwono. 2002. Ilmu kebidanan. Jakarta : yayasan bina pustaka


sarwono prawirohardjo

Sastrawinata, Sulaeman. Obstetri fisiologis. Fakultas kedokteran UNPAD :


Jakarta. 1987

Ladewig Patricia W. 2006. Asuhan keperawatanibu-bayi baru lahir. ECG :


Jakarta

Wiknojosastro, Hanifa. 1992. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka


Sarwono Prawihardjo

Farrer, Helen. 2001. Perawatan meternitas edisi II. Jakarta : EGC

34