Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM HIDRAULIKA
MODUL 2

PERIODE I ( 2018-2019)

KELOMPOK 9
NAMA MAHASISWA : Ihsan Rahmat Ramadhan
NIM : 104117060
Kelas : CV 1

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS PERENCANAAN INFRASTRUKTUR
2019
KEDALAMAN KRITIS PADA OPEN CHANNEL FLOW
Ihsan Rahmat Ramadhan9*, Dicky Masrul9, Mohammad Dawwas Fasya N9, Nurul Habibah Lubis9,
Rahmi Ilmi Sari Rangkuti9

Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Perencanaan Infrastruktur, Universitas Pertamina


*
Corresponding Author : ihsanrahmatr@gmail.com

ABSTRAK
Pada Rabu, 20 Februari 2019 di gedung Laboratorium Sains dan Teknik Universitas
Pertamina Telah dilakukan praktikum modul Kedalaman kritis pada open channel flow. Praktikum
modul Kedalaman kritis pada open channel flow bertujuan agar mahasiswa mengetahui persamaan
energy spesifik dan menunjukan kedalaman kritis adalah fungsi dari aliran per satuan lebar. Energi
spesifik adalah tinggi tenaga pada sembarang tampang diukur dari dasar saluran, atau tenaga tiap
satuan berat air pada sembarang tampang diukur dari dasar saluran. Dari hasil analisis didapat
energi spesifik sebesar 0,0227062868 m dengan kedalaman kritis 0,0151375245 m.
Kata kunci : Saluran terbuka, Kedalaman kritis, Energi spesifik, Debit, Fluida

ABSTARCT
Wednesday, February 20, 2019 at Pertamina University Science and Engineering
Laboratory building Practicum of the Critical Depth on the Open Channel Flow
has been carried out. Practicum of the Critical Depth on the Open Channel Flow
intent to make students know the specific energy formula and indicated the critical
depth is a function of the wide per unit. Specific energy is energy on any measured
section from the base channel, or energy every water weight unit on any section
from the base channel. From the results of experiments conducted the specific
energy is 0,0227062868 m and critical depth is 0,0151375245 m.
Keyword : Open channel flow, Critical depth, Specific energy, Discharge, Fluid
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan sehari-hari sulit untuk menemukan aliran saluran
terbuka dengan aliran seragam dan kedalaman normal. Aliran saluran terbuak di
alam memiliki ketinggian yang berbeda-beda. Tinggi aliran tersebut
mempengaruhi besarnya energy spesifik yang terjadi pada aliran. Energi spesifik
adalah tinggi tenaga pada sembarang tampang diukur dari dasar saluran, atau
tenaga tiap satuan berat air pada sembarang tampang diukur dari dasar saluran (
Djoko Luknanto, 2003). Pada praktikum kali ini, akan membahas konsep energy
spesifik, serta pengaplikasian energy spesifik, kedalaman kritis serta pengaruh
kedalaman terhadap energy spesifik.
B. RUMUSAN MASALAH
Berapa energy spesifik aliran pada kedalaman kritis di saluran terbuka?
Berapa kedalaman kritis pada saluran yang diamati?
Apa pengaruh meningkatnya kedalaman perairan terhadap energy spesifik?

C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui persamaan energy
spesifik dan menunjukan kedalaman kritis adalah fungsi dari aliran per satuan
lebar.

D. DASAR TEORI
Energi spesifik adalah tinggi tenaga pada sembarang tampang diukur dari
dasar saluran, atau tenaga tiap satuan berat air pada sembarang tampang diukur
dari dasar saluran ( Djoko Luknanto, 2003). Energi Spesifik adalah tenaga tiap
satuan berat air pada sembarang tampang diukur dari dasar saluran.
Energi Spesifik pada Tampang dapat diuraikan dengan :

𝑣2
Es = y + α 2𝑔 (2.1)

Dimana :
Es = tenaga spesifik (m)
y = kedalaman saluran diukur vertikal (m)
V = kecepatan rerata saluran (m/s)
α = koefisien koreksi tenaga kinetika
g = percepatan gravitasi (m/s2)
Energi pada suatu titik dengan mengambil dasar saluran sebagai datum sebagai
berikut :
𝑣2
Es = y + 2𝑔 (2.2)
Dapat pula persamaan energy spesifik dituliskan sebagai :

𝑄2
Es = y + 2𝑔𝐴2 (2.3)
Parameter energi spesifik (Robert.J.K. (2002))
Besarnya energi spesifik dapat dirumuskan sebagai berikut ( Ven Te Chow,1959
dalam Robert,J.K., 2002) :
𝑣2
𝐻 = 𝑧 + ℎ cos 𝜃 + 𝛼 2𝑔 (2.4)

Dasar saluran diasumsikan mempunyai kemiringan landai atau tanpa


kemiringan. Z adalah ketinggian dasar diatas garis sreferensi yang dipilih, h
adalah kedalaman aliran, dan faktor koreksi energi (α) dimisalkan sama dengan
satu. Energi spesifik aliran pada setiap penampang tertentu dihitung sebagai total
energi pada penampang itu dengan menggunakan dasar saluran sebagai referensi
(Rangga Raju, 1981).

Dengan ketentuan :
H = tinggi energi (cm)
z = tinggi suatu titik terhadap bidang referensi (cm),
α = koefisien energi, pada perhitungan selanjutnya α = 1
E = energi spesifik (cm)
h = kedalaman aliran (cm)
v = kecepatan aliran rata-rata (cm/detik)
A = luas penampang (cm2)
g = percepatan grafitasi (cm/detik2)
Q = debit (cm3/det).

Penyempitan saluran adalah suatu fenomena yang biasa dijumpai pada saluran
terbuka. Suatu penyempitan pada saluran terbuka, terdiri atas daerah penyempitan
penampang lintang saluran secara mendadak. Pengaruh penyempitan tergantung
pada geometri (bentuk) bagian lengkungan masuk penyempitan, kecepatan aliran
dan keadaan aliran (Ven Te Chow,1992).
METODE PENELITIAN
1. ALAT DAN BAHAN

Alat dan Bahan yang digunakan selama praktikum, antara lain:


a. Hydraulic Bench
b. Hydraulic Flow Demonstrator
c. Stopwatch
Bahan yang digunakan sebagai sampel uji pada praktikum ini adalah air.

2. CARA KERJA

Berikut ini adalah prosedur kerja pada modul praktikum ini.


Alat dan bahan yang digunakan disiapkan terlebih dahulu. Ketinggian
manometer dipastikan sama dengan air yang masuk pada apparatus. Pintu
air dibuka pada ketinggian 17 mm. hydraulic bench dinyalakan, lalu atur
katup kontrol outlet agar ketinggian air berkisar 150 mm. Aliran yang
tampak diamati. Ukur ketinggian y dengan garis ukur yang ada di
Hydraulic Flow Demonstrator. Setelah itu, debit yang mengalir dihitung
dengan cara menghitung waktu yang dibutuhkan untuk mencapai volume
tertentu.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL
Tabel 2.1 hasil pengamatan
No Kelompok Ygate (m) Y0(m) Y1(m) Q(m3/s)
1. Kelompok 9 17 x 10-3 0,15 0,027 8,375 x 10-4

B. PEMBAHASAN
Menghitung Luas
A = B x y1
A = 0,075 x 0,027
= 2,025 x 10-3 m2

Menghitung Kecepatan
V=Q/A
V = 8,375 x 10-4 / 2,025 x 10-3
= 0,4135 m/s

Menghitung Nilai E0 dan E1

𝑣2 0,41352
E0 = 𝑦 + 2𝑔 = 0,15 + 2 𝑥 9,81 = 0,1587 m
𝑣2 0,41352
E1 = 𝑦 + 2𝑔 = 0,027 + 2 𝑥 9,81 = 0,0357 m
Menghitung nilai Yc dan Ec

3 𝑄2 3 (8,375 𝑥 10−4 )2
Yc = √𝑏2 𝑔 = √ = 0,0151375245 m
0,0752 𝑥 9.81
3
Ec = 2𝑦𝑐 = 1,5 𝑥 0, 0151375245 = 0,0227062868 m

Plot grafik

Specific Energy Graph


Q1

120.0

100.0

80.0
y (m)

60.0

40.0

20.0

0.0
0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 120.0
E (m)

Discharge & Critical Depth Relation


12.0

10.0

8.0
yc (m)

6.0

4.0

2.0

0.0
0 200 400 600 800 1000
Q (m3)
Pada energi 0,0227062868 m, diperoleh kedalaman kritis sebesar
0,0151375245 m. Dari grafik dan data yang dianalisis, didapat bahwa semakin
besar kedalaman perairan, maka energi spesifik juga akan semakin besar. Hal ini
berdasarkan rumus energy spesifik, yang mana kedalaman perairan berpengaruh
terhadap luas penampang dan kedalaman kritis.

KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa
energi spesifik akan meningkat apabila kedalaman perairan juga meningkat.
Energi spesifik yang diperoleh yaitu sebesar 0,0227062868 m. Kedalaman kritis
pada 0,0151375245 m. Pada kedalaman kritis tersebut, terjadi aliran kritis pada
saluran. Penentuan kedalaman kritis bergantung pada bentuk geometri saluran, hal
ini berdasarkan pada eksperimen dan penggunaan rumus Yc untuk praktikum kali
ini. Dengan menganalisis data yang diperoleh, dihasilkan grafik hubungan E dan
Yc. Dari grafik yang ada, bahwa Yc dan E linear. Semakin besar Y maka E
semakin besar.

DAFTAR PUSTAKA
Luknanto, Djoko. 2003. Hidrolika Saluran Terbuka. Jakarta : Erlangga
Ahadi ( 20 Februari 2011). Rumus Hidrolika Diakses dari
https://www.ilmusipil.com/rumus-hidrolika
Chow, V. T. (1959). Open Channel Hydraulic. McGraw-Hill Book Company.
Rangga Raju. K.G.2005. Aliran Melalui Saluran Terbuka. Jakarta: Erlangga.
LAMPIRAN