Anda di halaman 1dari 14

REFARAT

NOVEMBER 2019

MORBILI

Oleh:

Pricillya Carmelita, S.Ked

K1A1 11083

Pembimbing:

dr. Hj. Syamsiah Pawennei, M.Kes

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DAN


KEDOKTERAN KOMUNITASF (BAGIAN KEDOKTERAN KELUARGA)
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
2019
BAB I

PENDAHULUAN

Morbili (disebut juga rubeola, red measles atau hard measles) merupakan penyakit virus

menular dan menimbulkan dampak yang serius. Seseorang yang tidak mendapat vaksin virus ini

memiliki risiko lebih tinggi terkena morbili. Morbili lebih sering terjadi pada seseorang yang

rentan (mereka yang tidak pernah terkena penyakit ini sebelumnya atau yang tidak mendapat

vaksin) yang melakukan perjalanan. Morbili menular melalui kontak langsung melalui droplet

infeksi maupun penyebaran udara. Transmisi juga terjadi melalui kontak maupun sentuhan

dengan bahan yang terkontaminasi dan kemudian tersentuh mata, hidung, dan/atau mulut.

Transmisi morbili mulai dari 4 hari sebelum sampai 4 hari sesudah ruam kemerahan muncul,

maksimal terjadi mulai dari onset prodromal (atau gejala pertama) yaitu 3-4 hari setelah ruam

kemerahan muncul.1

Morbili memiliki karakteristik berupa gejala prodromal selama 2-4 hari (rata-rata 1-7

hari) yang ditandai dengan demam tinggi, gatal, mata berair dan flu. Dua atau tiga hari setelah

gejala prodromal muncul, maka akan timbul bercak koplik atau bercak tipis putih dengan pusat

berwarna kebiruan-putih ditengahnya (Koplik’s spot/tiny white with bluish-white centers) di

mulut. Kemudian akan muncul ruam kemerahan 3-5 hari setelah gejala prodromal, biasanya

dimulai dari wajah ( di belakang rambut), menyebar ke bawah (badan) kemudian lengan dan

kaki. Setelah ruam kemerahan muncul, biasanya akan muncul demam.1


Morbili merupakan penyakit yang sangat menular, diperkirakan 30% dengan kasus

morbili memiliki satu atau lebih komplikasi. Risiko berupa komplikasi hebat sampai kematian

lebih tinggi terjadi pada anak-anak 5 kali lebih besar dibandingkan orang dewasa berusia 20

tahun maupun lansia. Komplikasi yang berat termasuk diantaranya diare (8%), otitis media (7%),

dan pneumonia (6%) yang disebabkan oleh virus maupun bakteri dan kebanyakan

mengakibatkan kematian (60%).1

Morbili endemis di masyarakat metropolitan dan mencapai proporsi untuk menjadi

epidemi setiap 2-4 tahun ketika terdapat 30-40% anak yang rentan atau belum mendapat

vaksinasi. Pada kelompok dan masyarakat yang lebih kecil, epidemi cenderung terjadi lebih luas

dan lebih berat. Setiap orang yang telah terkena campak akan memiliki imunitas seumur hidup.

Penyakit campak dapat terjadi dimana saja kecuali di daerah yang sangat terpencil. Vaksinasi

telah menurunkan insiden morbili tetapi upaya eradikasi belum dapat direalisasikan. Di Amerika

Serikat pernah ada peningkatan insidensi campak pada tahun 1989-1991. Kebanyakan kasus

terjadi pada anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi, termasuk anak-anak di bawah umur

15 bulan. Di Afrika dan Asia, campak masih dapat menginfeksi sekitar 30 juta orang setiap

tahunnya dengan tingkat kefatalan 900.000 kematian. Berdasarkan data yang dilaporkan ke

WHO, terdapat sekitar 1.141 kasus campak di Afganistan pada tahun 2007. Di Myanmar tercatat

sebanyak 735 kasus campak pada tahun 2006.2

Morbili merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, sehingga penularan

penyakit ini dapat dicegah atau dikurangi. Tujuannya untuk mencegah komplikasi dan/atau

mengurangi angka kematian.2


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. DEFINISI

Morbili merupakan penyakit virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu

stadium prodormal ( kataral ), stadium erupsi dan stadium konvalisensi, yang dimanifestasikan

dengan demam, konjungtivitis dan bercak koplik.1,2

Morbili atau morbillia dan rubeola (bahasa Latin), yang kemudian dalam bahasa Jerman

disebut dengan nama masern, dalam bahasa Islandia dikenal dengan nama mislingar dan measles

dalam bahasa Inggris, dan dalam bahasa Indonesia penyakit ini disebut dengan penyakit campak.

Morbili merupakan penyakit infeksi yang sangat menular yang disebabkan oleh virus, dengan

gejala-gejala eksantem akut, demam, kadang kataral selaput lendir dan saluran pernapasan,

gejala-gejala mata, kemudian diikuti erupsi makulopapula yang berwarna merah dan diakhiri

dengan deskuamasi dari kulit.1,2,3

2.2. ETIOLOGI

Penyakit ini disebabkan oleh golongan paramyxovirus (Anonim), yaitu virus RNA dari

famili Paramixofiridae, genus Morbillivirus. Hanya satu tipe antigen yang diketahui. Selama

masa prodromal dan selama waktu singkat sesudah ruam tampak, virus ditemukan dalam sekresi

nasofaring, darah dan urin. Virus dapat tetap aktif selama sekurang-kurangnya 34 jam dalam

suhu kamar. Virus campak dapat diisolasi dalam biakan embrio manusia. Perubahan sitopatik,

tampak dalam 5-10 hari, terdiri dari sel raksasa multinukleus dengan inklusi intranuklear.

Antibodi dalam sirkulasi dapat dideteksi bila ruam muncul.2,3,4


Penyebaran virus maksimal adalah dengan tetes semprotan selama masa prodromal

(stadium kataral). Penularan terhadap kontak rentan sering terjadi sebelum diagnosis kasus

aslinya. Orang yang terinfeksi menjadi menular pada hari ke 9-10 sesudah pemajanan (mulai fase

prodromal), pada beberapa keadaan awal hari ke 7 sesudah pemajanan sampai hari ke 5 sesudah

ruam muncul.2,3

Gambar 2.1. Virus Morbili

2.3. EPIDEMIOLOGI

Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan kekebalan

seumur hidup. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah menderita morbili akan mendapatkan

kekebalan secara pasif (melalui plasenta) sampai umur 4-6 bulan dan setelah umur tersebut

kekebalan akan berkurang sehingga si bayi dapat menderita morbili. Bila si ibu belum pernah

menderita menderita morbili ketika ia hamil 1 atau 2 bulan, maka 50% kemungkinan akan

mengalami abortus, bila ia menderita morbili pada trimester pertama, kedua atau ketiga maka ia

mungkin melahirkan seorang anak dengan kelainan bawaan atau seorang anak dengan berat

badan lahir rendah atau lahir mati anak yang kemudian meninggal sebelum usia 1 tahun. 2,3
2.4. PATOFISIOLOGI

Sebagai reaksi terhadap virus maka terjadi eksudat yang serous dan proliferasi sel

mononukleus dan beberapa sel polimorfonukleus disekitar kapiler. Kelainan ini terdapat pada

kulit, selaput lendir nasofaring, bronkus dan konjungtiva. Penularannya secara droplet terutama

selama stadium kataralis. Umumnya menyerang pada usia 6 bulan sampai 5 tahun.1,2,3,4

Di kulit, reaksi terutama menonjol sekitar kelenjar sebasea dan folikel rambut. Bercak

koplik terdiri dari eksudat serosa dan proliferasi sel endotel serupa dengan bercak pada lesi kulit.

Reaksi radang menyeluruh pada mukosa bukal dan faring meluas kedalam jaringan limfoid dan

membrana mukosa trakeobronkial. Pneumonitis interstisial akibat dari virus campak mengambil

bentuk pneumonia sel raksasa Hecht. Bronkopneumoni dapat disebabkan oleh infeksi bakteri

sekunder.2,3,4

Penelitian terbaru mengenai morbili, virus yang menjadi agen penyebab diantaranya

measles virus (MV), canine distemper virus (CDV), rinderpest virus (RPV), Peste des petits

ruminant’s virus (PPRV). Virus ini melakukan replikasi pada organ limfoid yang kemudian

menekan sistem imun yang ditandai dengan limpopenia. CD46 merupakan molekul pertama

yang ditemukan sebagai reseptor morbili, CD46 juga sebagai reseptor in vivo. Virus ini

kemudian memberi signal ke limfosit yang selanjutnya akan mengaktivasi SLAM, yang

diketahui juga sebagai CD150 yang merupakan reseptor selular dari virus-virus ini. Protein

SLAM tidak hanya berfungsi sebagai co-reseptor untuk aktivasi limfosit dan/atau adhesi, tetapi

juga memiliki fungsi sebagai reseptor selular untuk jalan masuk virus morbili (cellular entry

receptors).4
2.5. GEJALA KLINIS

Masa inkubasi sekitar 10-12 hari jika gejala-gejala prodromal pertama dipilih sebagai

waktu mulai, atau sekitar 14 hari jika munculnya ruam yang dipilih, jarang masa inkubasi dapat

sependek 6-10 hari. Kenaikan ringan pada suhu dapat terjadi 9-10 hari dari hari infeksi dan

kemudian menurun selama sekitar 24 jam. Penyakit ini dibagi dalam 3 stadium, yaitu : 1,2,3,5

1. Stadium Kataral (Prodromal).

Biasanya stadium ini berlangsung selama 4- 5 hari disertai panas (38,5 ºC), malaise,

batuk, nasofaringitis, fotofobia, konjungtivitis dan koriza. Menjelang akhir stadium kataral dan

24 jam sebelum timbul enantema, timbul bercak koplik yang patognomonik bagi morbili, tetapi

sangat jarang dijumpai. Bercak koplik berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum dan

dikelilingi oleh eritema. Lokalisasinya di mukosa bukalis berhadapan dengan molar bawah.

Jarang ditemukan di bibir bawah tengah atau palatum. Kadang-kadang terdapat makula halus

yang kemudian menghilang sebelum stadium erupsi. Gambaran darah tepi ialah limfositosis dan

leukopenia. Secara klinis, gambaran penyakit menyerupai influenza dan sering didiagnosis

sebagai influenza. Diagnosis perkiraan yang besar dapat dibuat bila ada bercak koplik dan

penderita pernah kontak dengan penderita morbili dalam waktu 2 minggu terakhir.

Gambar 2.3. Koplik’s Spot


2. Stadium Erupsi.

Koriza dan batuk-batuk bertambah. Timbul enantema atau titik merah di palatum durum

dan palatum mole. Kadang-kadang terlihat pula bercak koplik. Terjadinya eritema yang

berbentuk makula-papula disertai menaiknya suhu badan. Diantara makula terdapat kulit yang

normal. Mula-mula eritema timbul di belakang telinga, di bagian atas lateral tengkuk, sepanjang

rambut dan bagian belakang bawah. Kadang-kadang terdapat perdarahan ringan pada kulit. Rasa

gatal, muka bengkak. Ruam mencapai anggota bawah pada hari ketiga dan akan menghilang

dengan urutan seperti terjadinya. Terdapat pembesaran kelenjar getah bening di sudut mandibula

dan di daerah leher belakang. Terdapat pula sedikit splenomegali. Tidak jarang disertai diare dan

muntah. Variasi dari morbili yang biasa ini adalah “black measles”, yaitu morbili yang disertai

perdarahan pada kulit, mulut, hidung dan traktus digestivus.

Gambar 2.4. Ruam Kemerahan (rash)


3. Stadium Konvalesensi.

Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua (hiperpigmentasi) yang

lama-kelamaan akan hilang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada anak Indonesia sering

ditemukan pula kulit yang bersisik. Hiperpigmentasi ini merupakan gejala patognomonik untuk

morbili. Pada penyakit-penyakit lain dengan eritema dan eksantema ruam kulit menghilang tanpa

hiperpigmentasi. Suhu menurun sampai menjadi normal kecuali bila ada komplikasi.

Gambar 2.5. Stadium Konvalesensi (ruam hiperpigmentasi)


2.6. DIAGNOSIS BANDING2,5,6

1. German Measles.

Pada penyakit ini tidak ada bercak koplik, tetapi ada pembesaran kelenjar di

daerah suboksipital, servikal bagian posterior, belakang telinga.

2. Eksantema Subitum.

Ruam akan muncul bila suhu badan menjadi normal. Rubeola infantum

(eksantema subitum) dibedakan dari campak dimana ruam dari roseola infantum

tampak ketika demam menghilang. Ruam rubella dan infeksi enterovirus cenderung

untuk kurang mencolok daripada ruam campak, sebagaimana tingkat demam dan

keparahan penyakit. Walaupun batuk ada pada banyak infeksi ricketsia, ruam biasanya

tidak melibatkan muka, yang pada campak khas terlibat. Tidak adanya batuk atau

riwayat injeksi serum atau pemberian obat biasanya membantu mengenali penyakit

serum atau ruam karena obat. Meningokoksemia dapat disertai dengan ruam yang

agak serupa dengan ruam campak, tetapi batuk dan konjungtivitis biasanya tidak ada.

Pada meningokoksemia akut ruam khas purpura petekie. Ruam papuler halus difus

pada demam skarlet dengan susunan daging angsa di atas dasar eritematosa relatif

mudah dibedakan.

2.7. KOMPLIKASI

Pada penderita campak dapat terjadi komplikasi yang terjadi sebagai akibat replikasi

virus atau karena superinfeksi bakteri antara lain2,3,4,6,7:

· Otitis Media Akut : Dapat terjadi karena infeksi bakterial sekunder.

· Ensefalitis
Dapat terjadi sebagai komplikasi pada anak yang sedang menderita campak atau dalam

satu bulan setelah mendapat imunisasi dengan vaksin virus campak hidup, pada penderita yang

sedang mendapat pengobatan imunosupresif dan sebagai Subacute sclerosing panencephalitis

(SSPE). Angka kejadian ensefalitis setelah infeksi campak adalah 1 : 1.000 kasus, sedangkan

ensefalitis setelah vaksinasi dengan virus campak hidup adalah 1,16 tiap 1.000.000 dosis. SSPE

jarang terjadi hanya sekitar 1 per 100.000 dan terjadi beberapa tahun setelah infeksi dimana lebih

dari 50% kasus-kasus SSPE pernah menderita campak pada 2 tahun pertama umur kehidupan.

Penyebabnya tidak jelas tetapi ada bukti-bukti bahwa virus campak memegang peranan dalam

patogenesisnya. SSPE yang terjadi setelah vaksinasi campak didapatkan kira-kira 3 tahun

kemudian.

Bronkopneumonia

Dapat disebabkan oleh virus morbilia atau oleh Pneuomococcus, Streptococcus,

Staphylococcus. Bronkopneumonia ini dapat menyebabkan kematian bayi yang masih muda,

anak dengan malnutrisi energi protein, penderita penyakit menahun misalnya tuberkulosis,

leukemia dan lain-lain.

· Kebutaan

Terjadi karena virus campak mempercepat episode defisiensi vitamin A yang akhirnya

dapat menyebabkan xeropthalmia atau kebutaan.

· Aktivasi tuberkulosis laten.

· Lain-lain (jarang) : ensefalitis, miokarditis, tromboflebitis, sindrom Guillain-Barre, dan

lainlain.
2.8. PENATALAKSANAAN2,3,7

Simtomatik yaitu antipiretika bila suhu tinggi, sedativum, obat batuk, dan memperbaiki

keadaan umum. Tindakan yang lain ialah pengobatan segera terhadap komplikasi yang

timbul:

1. Istirahat.

2. Pemberian makanan atau cairan yang cukup dan bergizi..

3. Medikamentosa :

- Antipiretik : parasetamol 7,5 – 10 mg/kgBB/kali, interval 6-8jam.

- Ekspektoran : gliseril guaiakolat anak 6-12 tahun : 50 – 100 mg tiap 2-6 jam, dosis

maksimum 600 mg/hari.

- Antitusif perlu diberikan bila batuknya hebat/mengganggu,narcotic antitussive (codein)

tidak boleh digunakan.

- Mukolitik bila perlu.

- Vitamin terutama vitamin A dan C. Vitamin A pada stadium kataral sangat bermanfaat.

2.9. PROGNOSIS

Baik pada anak dengan keadaan umum yang baik, tetapi prognosis buruk bila
keadaan umum buruk, anak yang sedang menderita penyakit kronis atau bila ada
komplikasi.2

2.10. PENCEGAHAN

Imunisasi aktif : ini dilakukan dengan menggunakan strain Schwarz dan Moraten.
Vaksin tersebut diberikan secara subkutan dan menyebabkan imunitas yang
berlangsung lama. Pencegahan juga dengan imunisasi pasif. 3,7
BAB III
KESIMPULAN

Morbili merupakan penyakit virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium,

yaitu stadium prodormal ( kataral ), stadium erupsi dan stadium konvalisensi, yang

dimanifestasikan dengan demam, konjungtivitis dan bercak koplik. Morbili lebih sering

terjadi pada seseorang yang rentan (mereka yang tidak pernah terkena penyakit ini

sebelumnya atau yang tidak mendapat vaksin) yang melakukan perjalanan. Morbili

menular melalui kontak langsung melalui droplet infeksi maupun penyebaran udara.

Transmisi juga terjadi melalui kontak maupun sentuhan dengan bahan yang

terkontaminasi dan kemudian tersentuh mata, hidung, dan/atau mulut. Morbili

merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, sehingga penularan penyakit

ini dapat dicegah atau dikurangi. Tujuannya untuk mencegah komplikasi dan/atau

mengurangi angka kematian.


DAFTAR PUSTAKA
1. Departement of Health and Senior Services (DHSS). Measles (Rubeola). Missouri
DHSS, 2013.
2. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak, Edisi I.
Jakarta: IDAI, 2004.
3. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Buku ajar Penyakit Infeksi Tropis. Jakarta: IDAI, 2004.
4. Sannat C, Chandel BS, Chauhan HC, dadawala AI. Morbilli virus and SLAM/CD 150
Receptors. International Journal of Pharmaceutical Research and Bio-science.Volume 1
(4) : 19-41, 2012.
5. Penyakit Tropik dan Infeksi Anak. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi III Jilid FKUI
2000.
6. Atom. Campak. http://www.Medlinux.blogspot.com. [diakses 4 Oktober 2013]
7. Haryowidjojo. Demam Campak. Http://www.Pediatrik.com. [diakses 4 Oktober
2013]