Anda di halaman 1dari 38

RANCANG BANGUN ALAT PENDETEKSI ASAP

ROKOK DAN KEBAKARAN DENGAN


MENGGUNAKAN SENSOR MQ-2 DAN DFR0076
BERBASIS ARDUINO UNO
(Research and Development)

PROPOSAL PENELITIAN

OLEH:

ELDA HANDAYANI
A1E014061

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2018
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. iv

DAFTAR TABEL ................................................................................................... v

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

A. Latar Belakang ................................................................................................. 1


B. Rumusan Masalah............................................................................................ 3
C. Tujuan Penelitian ............................................................................................. 3
D. Batasan Penelitian............................................................................................ 4
E. Manfaat Penelitian ........................................................................................... 4
BAB II KERANGKA TEORITIS .......................................................................... 5

A. Tinjauan Pustaka.............................................................................................. 5
1. Asap Rokok ..................................................................................................... 5
2. Kebakaran ........................................................................................................ 5
3. Sensor MQ-2.................................................................................................... 6
4. Sensor DFR0076.............................................................................................. 8
5. Arduino UNO ................................................................................................ 10
6. Modul GSM SIM900A .................................................................................. 12
7. Breadboard .................................................................................................... 13
8. LED ............................................................................................................... 14
9. Buzzer ............................................................................................................ 14
10. LCD ............................................................................................................... 15
11. Relai ............................................................................................................... 16
12. Resistor .......................................................................................................... 17
B. Penelitian yang Relevan ................................................................................ 17
C. Kerangka Berpikir ......................................................................................... 19
BAB III METODE PENELITIAN....................................................................... 21

A. Jenis Penelitian .............................................................................................. 21


B. Waktu dan Tempat Penelitian........................................................................ 21
C. Variabel Penelitian ........................................................................................ 21

ii
D. Definisi Operasional ...................................................................................... 21
E. Prosedur Pengembangan................................................................................ 22
1. Planning (Perancangan) ................................................................................ 22
2. Production (Memproduksi) ........................................................................... 28
3. Evaluation (Evaluasi) .................................................................................... 31
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 32

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Sensor asap MQ-2 ............................................................................... 6

Gambar 2.2 Sensor api ............................................................................................ 9

Gambar 2.3 Board Arduino Uno ........................................................................... 12

Gambar 2.4 Modul GSM SIM900A ..................................................................... 13

Gambar 2.5 Light Emiting Diode ......................................................................... 14

Gambar 2.6 Kerangka Berpikir ............................................................................. 19

Gambar 3.1 Langkah-langkah Metode Research and Development (R & D) ...... 21

Gambar 3.2 Diagram blok sistem ......................................................................... 24

Gambar 3.3 Rangkaian elektronik alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran ..... 25

Gambar 3.4 Flowchart pendeteksi asap rokok dan kebakaran ............................. 26

Gambar 3.5 Rancangan mekanik alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran ....... 28

Gambar 3.6 Kode program alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran ................ 29

Gambar 3.7 Kode program alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran ................ 30

Gambar 3.8 Kode program alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran ................ 30

Gambar 3.9 Kode program alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran ................ 31

iv
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Spesifikasi board Arduino Uno ............................................................ 11

Tabel 2.2 Fitur Modul GSM SIM900A ................................................................ 13

Tabel 3.1 Alat dan Bahan………………….………………………………......... 22

v
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seiring berkembangnya teknologi yang semakin pesat, banyak manfaat yang

dirasakan manusia dalam melakukan aktivitasnya. Salah satunya mengatur

keamanan lingkungan ataupun ruangan yang benar-benar harus terjaga

kemananannya dan terhindar dari gas, asap, dan nyala api. Hal ini dilakukan untuk

menghindari kebakaran ruangan dan menjaga kesehatan khususnya pada

pernapasan yang disebabkan oleh gas beracun yang ada didalam ruangan tersebut.

Gas beracun ini seperti gas monoksida yang terkandung dalam asap rokok.

Asap rokok sangat berbahaya bagi kesehatan karena mengandung berbagai

bahan kimia yang dapat menyebabkan bermacam-macam penyakit seperti batuk

kronis, kanker paru-paru, dan gangguan kesehatan lainnya. Meskipun asap rokok

ini berbahaya, masih banyak manusia yang setiap hari menghisapnya dan

menjadikan rokok sebagai kebutuhan karena banyak orang yang tidak peduli

dengan efek negatif dari asap rokok ini. Selain membahayakan kesehatan perokok

itu sendiri, asap rokok ini juga membahayakan kesehatan orang lain yang berada

disekitarnya. Hal ini terjadi karena senyawa-senyawa yang terkandung dalam asap

rokok tetap berada di udara sebagai asap tembakau yang dihirup oleh orang lain di

kawasan tersebut. Partikel berbahaya ini dapat melayang di udara selama berjam-

jam.

Mengingat banyaknya penyakit yang ditimbulkan oleh asap rokok maka

pemerintah terus berupaya meningkatkan pencegahan larangan merokok di tempat

umum dengan membuat kebijakan tentang kawasan bebas asap rokok. Kebijakan

1
2

ini telah diterapkan di gedung-gedung perkantoran, pendidikan, rumah sakit, dan

juga tempat umum lainya. Hal itu dilakukan dengan memantau kondisi ruangan

oleh petugas keamanan dan juga memberi peringatan tentang larangan merokok

secara tertulis yang ditempel pada dinding-dinding ruangan yang ada pada setiap

gedung. Karena banyaknya ruangan yang ada di gedung-gedung, perkantoran,

pendidikan, rumah sakit, dan juga tempat umum lainya membuat pemantuan oleh

petugas keamanan tidak efektif. Peringatan tertulis yang telah ada juga tidak

dipatuhi oleh para perokok aktif, dan hal tersebut mengakibatkan udara

terkontaminasi oleh asap-asap rokok yang sangat berbahaya untuk kesehatan tubuh

manusia. Selain itu, sisa puntung rokok yang masih menyala dan dibuang

sembarangan dapat menjadi salah satu sumber terjadinya kebakaran. Kebakaran

merupakan suatu bencana yang sangat sering terjadi di berbagai tempat dan

berakibat sangat merugikan.

Berdasarkan permasalahan tersebut, perlu adanya perangkat otomatis yang

dapat mendeteksi adanya asap rokok dan nyala api di suatu ruangan dengan

menggunakan sensor asap MQ-2 dan sensor api DFR0076. Sensor MQ-2

merupakan sensor yang sensitif terhadap gas metana, butana, LPG, dan asap rokok

(Kadir, 2016, p. 203). Sedangkan sensor DFR0076 merupakan sensor api yang

mampu menangkap cahaya dengan panjang gelombang cahaya rata-rata 940nm

dengan lebar bandwidth spektrum panjang gelombang 760nm-1100nm sehingga

sangat cocok digunakan untuk mendeteksi adanya sumber api didekat permukaan

sensor (Utomo & Saputra, 2016, p. 56).

Alat pendeteksi yang dirancang akan menggunakan salah satu layanan

telekomunikasi berupa pesan singkat atau sering disebut dengan Short Message
3

Services (SMS), informasi dapat dikirim langsung ke penanggung jawab keamanan

gedung. Arduino merupakan rangkaian papan elektronik, didalamnya terdapat chip

mikrokontroler yang dapat diprogram sehingga dapat membaca input memproses

input dan dapat menghasilkan output yang sesuai dengan kebutuhan. Arduino

tersebutlah yang akan mengkonversikan data yang terbaca oleh sensor asap dan

sensor api. Sedangkan SMS adalah salah satu layanan komunikasi jarak jauh berupa

pesan singkat dalam bentuk teks, tidak membebani jaringan karena biaya yang

relatif murah, dapat dikirim ke tujuan meskipun perangkat mobile pada perangkat

tujuan dalam keadaan off dan juga dapat digunakan pada semua perangkat mobile.

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka penulis tertarik akan melakukan penelitian

yang berjudul tentang “Rancang Bangun Alat Pendeteksi Asap Rokok dan

Kebakaran dengan Menggunakan Sensor MQ-2 dan DFR0076 Berbasis

Arduino Uno”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka rumusan masalah

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah merancang alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran dengan

menggunakan sensor MQ-2 dan DFR0076 berbasis Arduino Uno?

2. Bagaimanakah membuat alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran dengan

menggunakan sensor MQ-2 dan DFR0076 berbasis Arduino Uno dalam

mendeteksi asap rokok dan api?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini mengacu pada dua hal sebagai berikut :


4

1. Untuk merancang alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran dengan

menggunakan sensor MQ-2 dan DFR0076 berbasis Arduino Uno.

2. Untuk membuat alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran dengan

menggunakan sensor MQ-2 dan DFR0076 berbasis Arduino Uno dalam

mendeteksi asap rokok dan api.

D. Batasan Penelitian

Batasan penelitian ini adalah pada hal-hal berikut :

1. Alat pendeteksi yang dibuat adalah alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran

dengan menggunakan sensor MQ-2 dan DFR0076 berbasis Arduino Uno.

2. Pembahasan tentang Arduino hanya sebatas yang berkaitan dengan

perancangan dan pembuatan alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran.

3. Pembahasan mengenai komponen pendukung yang meliputi: Modul GSM

SIM900A, buzzer, dan komponen-komponen lainnya hanya sebatas teori umum

dan yang berkaitan dengan perancangan alat pendeteksi asap rokok dan

kebakaran.

4. Perangkat lunak yang digunakan adalah bahasa C dengan compiler Codevision

AVR dan Arduino IDE.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Memahami cara kerja alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran dengan

menggunakan sensor MQ-2 dan DFR0076 berbasis Arduino Uno.

2. Alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran dengan menggunakan sensor MQ-2

dan DFR0076 berbasis Arduino Uno dapat digunakan sebagai bahan referensi

bagi peneliti lain dalam upaya penelitian lebih lanjut.


BAB II

KERANGKA TEORITIS

A. Tinjauan Pustaka

1. Asap Rokok

Merokok merupakan suatu aktivitas buruk yang tidak ada keuntungan sedikit

pun bagi kesehatan. Merokok dapat menimbulkan efek candu yang susah untuk

dihentikan bahkan mungkin sampai tua. Hal ini dikarenakan pada rokok

mengandung zat psikoaktif yaitu nikotin yang bersifat adiktif. Oleh karena itu

merokok menimbulkan penyakit-penyakit berbahaya bahkan mematikan yang

pastinya setiap orang tidak ingin merasakan sakit. Meskipun demikian, masih

banyak orang yang berani merokok dan mengabaikankan serta merusak dirinya

sendiri dengan rokok tersebut.

Asap rokok mengandung ribuan zat kimia, yang merupakan komponen asap

paling luas dikenal ialah tar, nikotin, dan karbon monoksida (CO). Selain zat-zat

ini, hingga saat ini lebih dari 4000 zat kimia telah diketahui terkandung dalam asap

rokok. Dampak merokok dalam medis yaitu darah kental dan pembuluh rapuh

sehingga memicu serangan jantung koroner dan stroke. Dampak lain yaitu kanker

dan radang saluran pernapasan (Partodiharjo, 2002, p. 66).

2. Kebakaran

Kebakaran merupakan suatu peristiwa yang begitu cepat dan tidak kehendaki

oleh siapapun. Kebakaran dapat terjadi baik disengaja maupun tidak disengaja.

Dengan kata lain kebakaran bisa disebabkan oleh faktor kesengajaan manusia

dalam beberapa kegiatan, seperti kegiatan ladang dan perkebunan. Kebakaran oleh

faktor tidak disengaja, yang disebabkan oleh faktor alami ataupun kelalaian

5
6

manusia. Misalnya kebakaran karena kelalaian manusia seperti: akibat membuang

puntung rokok sembarangan (pada saat dibuang kelihatannya sudah mati, namun

setelah ditinggalkannya masih ada bara api), pembakaran sampah atau sisa-sisa

perkemahan. Penyebab lain dari kebakaran adalah karena bencana alam

(Purbowaseso, 2004, p. 6).

Kebakaran diakibatkan adanya proses nyala api, hal ini dapat terjadi karena

adanya tiga unsur yaitu udara, bahan bakar, dan panas (dari suhu tinggi). Kebakaran

terjadi apabila ketiga unsur tersebut muncul bersamaan, sehingga saling

mendukung munculnya api. Api merupakan reaksi kimia eksotermik yang disertai

timbulnya panas/kalor, cahaya (nyala), asap dan gas dan bahan yang terbakar.

Proses ini dinamakan reaksi pembakaran.

Dalam mencegah kebakaran, harus mengetahui beberapa faktor yang menjadi

sebab munculnya atau terjadinya kebakaran dan mengambil langkah-langkah untuk

mencegah kemungkinan tersebut (Purbowaseso, 2004, p. 55).

3. Sensor MQ-2

Salah satu kelompok sensor gas yang terkenal berserikan MQ. Sensor ini

berguna untuk mendeteksi keberadaan gas di dalam ruangan tertutup. Salah satu

contoh sensor gas ditunjukkan pada Gambar 2.1. Sensor ini berguna untuk

mendeteksi gas metana, butana, LPG, dan asap rokok (Kadir, 2015, p. 240).

Gambar 2.1 Sensor asap MQ-2


7

Pada dasarnya prinsip kerja dari sensor MQ-2 adalah mendeteksi eksistensi gas-

gas yang dianggap mewakili asap rokok, yaitu gas hidrogen dan metana. Jika sensor

tersebut mendeteksi keberadaan asap rokok di udara dengan tingkat konsentrasi

tertentu, maka sensor MQ-2 akan menganggap adanya asap rokok di udara. Ketika

sensor MQ-2 mendeteksi keberadaan asap rokok tersebut maka resistansi elektrik

sensor akan turun dan menyebakan tegangan yang dihasilkan oleh output sensor

akan semakin besar. Dengan memanfaatkan prinsip kerja dari sensor MQ-2

kandungan asap rokok tersebut dapat diukur. Keluaran sensor ini berupa resistansi

analog yang dengan mudah dapat dikonversi menjadi tegangan dengan

menambahkan satu resistor biasa yaitu mengkonversi impedansi ini menjadi

tegangan, hasil bacaan sensor dapat dibaca oleh pin ADC (analog to digital

converter) pada mikrokontroler (Kinanti, Yamin, & Aksara, 2016).

Berdasarkan datasheet, sensor asap MQ-2 memiliki spesifikasi antara lain

sebagai berikut:

a. Catu daya pemanas: 5V AC/DC

b. Catu daya rangkaian: 5V DC

c. Batas pengukuran: 200-5000 ppm untuk LPG, propana; 300-5000 ppm untuk

butana; 5000-20000 ppm untuk metana; 300-5000 ppm untuk hidrogen; dan

100-2000 ppm untuk alkohol.

d. Luaran: analog (perubahan tegangan)

Sensor ini dapat mendeteksi konsentrasi gas yang mudah terbakar di udara serta

asap dan keluarannya berupa tegangan analog. Sensor MQ-2 dapat mengukur

konsentrasi gas mudah terbakar dari 300 sampai 10.000 ppm. Dapat beroperasi pada
8

suhu dari -20 °C sampai 50 °C dan menghubungkan arus kurang dari 150 mA pada

5 V (Hanwei Eletronics Co., 2010).

Adapun skema elektronik dari sensor MQ-2 dapat dilihat pada Gambar 2.2

seperti di bawah ini.

1 2

Gambar 2.2 Skema elektronik sensor MQ-2

Dari Gambar 2.1 menampilkan bahwa, pada sensor MQ-2 terdapat heater yang

berfungsi sebagai pemicu sensor untuk dapat mendeteksi asap rokok ketika

diberikan tegangan 5V. Sensor MQ-2 mengandung dua elemen logam (1 dan 2)

yang diantara keduanya terdapat ruang yang jaraknya sudah ditentukan. Jika ada

asap yang terdeteksi oleh sensor, maka kerapatan ruang antara kedua logam akan

membesar/mengecil. Ketika tahanan semakin kecil, maka, arus akan mengalir dari

1 ke 4 sehinga output tegangan sensor akan besar.

4. Sensor DFR0076

Untuk dapat menghindari adanya hal-hal yang tidak diinginkan dan mendeteksi

adanya sumber api maka diperlukan sensor api. Sensor api adalah sensor yang

ditunjukan untuk mendeteksi api dan radiasi. Sensor ini juga dapat digunakan untuk

mendeteksi sumber cahaya dengan panjang gelombang dalam jangkauan 760 nm


9

hingga 1100 nm. Sensor tersebut mampu mendeteksi dari 20 cm hingga pada jarak

100 cm. Sumber tegangan yang diperlukan adalah 3,3V-5V (Kadir, 2015, p. 246).

Adapun sensor api yang digunakan adalah jenis photo transistor flame sensor

type DFR0076 buatan DFROBOT electronics. Sensor api DFR0076 mudah

didapatkan juga mudah digunakan. Berdasarkan datasheet, sensor api DFR0076

merupakan type YG1006 berbasis sensor photodiode yang memiliki sensitifitas

tinggi dengan kemasan black epoxy yang sensitif terhadap radiasi infra merah.

Sensor api DFR0076 mampu menangkap cahaya dengan panjang gelombang

cahaya rata-rata 940 nm dengan lebar bandwidth spectrum panjang gelombang 760

nm-1100 nm.

Prinsip kerja sensor api dimulai dari mendeteksi api berdasarkan keberadaan

spektrum cahaya infra merah, dan komponen di dalam sensor api akan bekerja

untuk membedakan spektrum cahaya yang terdapat pada api yang sudah terdeteksi.

Secara lebih rinci, spesifikasi dari sensor api DFR0076 sebagai berikut:

1. Sumber tegangan: 3,3V sampai 5V

2. Rentang deteksi: 20 cm (4,8V) ~ 100 cm (1V)

3. Jangkauan panjang gelombang: 760 nm sampai 1100 nm

4. Waktu responsif: 15 µs

5. Luaran: analog (perubahan tegangan) (DFROBOT, 2016).

Gambar 2.3 Sensor api


10

Pada sensor DFR0076 terdapat tranduser, yang digunakan untuk mendeteksi

akan penyerapan cahaya pada panjang gelombang tertentu dan dapat membedakan

antara spektrum cahaya pada api dengan spektrum cahaya lainnya. Secara libih

rinci, dapat dilihat skema elektronik dari sensor api pada Gambar 2.4 berikut.

Gambar 2.4 Skema elektronik sensor api DFR0076


5. Arduino UNO

Menurut (Kadir, 2016, pp. 2- 3) Arduino ialah perangkat keras (hardware)

sekaligus perangkat lunak (software) yang sering digunakan dalam pembuatan

prototype suatu rangkaian elektronika yang berbasis mikrokontroler. Sebagai

contoh, Arduino Uno menggunakan mikrokontroler ATmega328P. Dari sisi

perangkat lunak, Arduino IDE adalah tool yang bermanfaat untuk menuliskan

program (yang secara khusus dinamakan sketsa di Arduino), mengompilasinya, dan

sekaligus mengunggahkannya ke papan Arduino. Untuk spesifikasi board Arduino

Uno dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut.


11

Tabel 2.1 Spesifikasi board Arduino Uno


Mikrokontroler ATmega328
Tegangan operasi 5V
Tegangan output 7-12V
Batas tegangan output pin digital I/O 6-20V
Pin analog input 14 (di mana 6 pin output PWM)
Arus DC per I/O pin 40 mA
Arus DC untuk pin 3,3 V 50 Ma
Flash memory 32 KB (ATmega328), di mana 0,5 KB
digunakan oleh bootloader
SRAM 2 KB (ATmega328)
EEPROM 1 KB (ATmega328)
Clock 16 MHz

Board Arduino Uno bekerja dengan tegangan input 7-12V. Adapun tegangan

kerja yang digunakan adalah 5V. Meskipun, pin 5V dapat disuplai kurang dari 5V,

board Arduino mungkin tidak stabil. Jika tegangan yang digunakan lebih dari 12V,

regulator tegangan bisa panas dan merusak board Arduino. Board Arduino Uno

memiliki 14 pin digital dan beberapa pin memiliki fungsi khusus:

1. Serial: 0 (RX) dan 1 (TX), digunakan untuk menerima (RX) dan mengirimkan

(TX) data serial TTL (Time to Live).

2. Interupsi eksternal: 2 dan 3, pin ini dapat dikonfigurasi untuk memicu interrupt

pada nilai yang rendah, tepi naik atau turun, atau perubahan nilai.

3. PWM (Pulse Width Modulation): 3, 5, 6, 9, 10, dan 11 meyediakan 8 bit output

PWM dengan fungsi analogWrite (). Hal menarik, keenam pin analog ini dapat

diperlakukan sebagai pin-pin digital.

4. SPI (Serial Peripheral Interface): 10 (SS), 11 (MOSI), 12 (MISO), 13 (SCK),

pin ini mendukung komunikasi SPI mengunakan library SPI.

5. LED (Light Emiting Diode): 13, terdapat LED pin digital 13 pada board. Ketika

pin bernilai tinggi (HIGH), LED menyala (ON), ketika pin bernilai rendah

(LOW), LED akan mati (OFF).


12

6. Arduino Uno memiliki 6 input analog, berlabel A0 sampai A5, yang masing-

masing menyediakan 10 bit resolusi (yaitu 1024 nilai yang berbeda). Secara

default, 5V dari ground (Syahwil, 2013, p. 64).

Gambar 2.5 Board Arduino Uno


6. Modul GSM SIM900A

Modul GSM SIM900A merupakan perangkat yang dapat menggantikan fungsi

dari handphone. Untuk komunikasi data antara sistem Arduino via jaringan seluler,

maka digunakan Modul GSM SIM900A yang difungsikan sebagai media pengirim

dan penerima SMS (Short Message Service). Modem ini bekerja untuk mengirim

SMS berupa data peringatan pada user pada saat sensor dari alarm aktif. Adapun

protokol komunikasi yang digunakan ialah komunikasi standar modem yaitu AT

Command (Utomo & Saputra, 2016, p. 57).

Prinsip kerja Modul GSM SIM900A dengan Arduino menggunakan perintah

AT. Perintah AT yang mengirim atau diterima dari modul menggunakan fungsi

komunikasi serial yang disediakan oleh library Arduino. Fungsi seperti

Serial.begin () yang membantu untuk menginisialisasi serial port dengan baud rate

yang diberikan, Serial.write () untuk mengirim data ke serial port, Serial.available

() dan Serial.read () berfungsi untuk membaca data dari serial port yang digunakan.
13

SIM900A adalah motor dual-band GSM/GPRS yang bekerja pada frekuensi

EGSM 900MHz dan DCS 1800MHz. SIM900A menampilkan kelas multi-slot

GPRS kelas 10/8 dan mendukung pengkodean GPRS CS-1. CS-2, CS-3, dan CS-4.

Dengan bentuk mungil 24 mm × 24 mm × 3 mm. SIM900A dapat memenuhi

hampir semua persyaratan ruang pada aplikasi Anda, seperti M2M, smart phone,

PDA dan perangkat mobile lainnya. Secara umum Modul GSM SIM900A memiliki

fitur sebagai berikut:

Tabel 2.2 Fitur Modul GSM SIM900A


No Fitur Implementasi
1 Sumber tegangan 3,4 - 4,5V
2 Jaringan GPRS GPRS mobile station kelas B
3 Penghubung SIM Support kartu SIM 1,8V, 3V
4 Frekuensi Band Sesuai dengan fase GSM 2/2 +
5 Pengiriman daya  Kelas 4 (2W) pada EGSM 900
 Kelas 1 (1W) pada DCS 1800
6 SMS MT, MO, CB, teks, dan PDU
7 FAX Grup 3 Kelas 1
8 Suhu operasi -30°C sampai 80°C
9 Konsumsi daya rendah 1,5mA (sleep mode)
10 Antena eksternal Antenna pad
11 Berat 3,4g
(SIMCom, 2009).

Gambar 2.6 Modul GSM SIM900A


7. Breadboard
14

Breadboard adalah papan yang digunakan untuk membuat rangkaian elektronik

sementara dengan tujuan uji coba atau prototype tanpa harus menyolder. Dengan

memanfaatkan breadboard, komponen-komponen elektronik yang digunakan tidak

akan rusak dan dapat digunakan kembali untuk membuat rangkaian yang lain.

Broadboard umumnya terbuat dari plastik dengan banyak lubang diatasnya.

Lubang-lubang pada breadboard diatur sedemikian rupa membetuk pola sesuai

dengan pola jaringan koneksi didalamnya (Syahwil, 2013, p. 21).

8. LED

LED (Light Emiting Diode) adalah komponen yang dapat memancarkan cahaya

jika dialiri tegangan listrik rendah sekitar 1,8V dengan arus 1,5mA. LED banyak

digunakan sebagai lampu indikator dan peraga (Syahwil, 2013, p. 26).

Kompenen LED umumnya mempunyai dua kaki. Salah satu kaki bernama

anode dan kaki lainnya dinamakan katode. Seperti yang ditunjukkan pada gambar

2.5, sisi yang mengandung segitiga dalah anode dan sisi lainnya adalah katode

(Kadir, 2014, pp. 58-59).

Gambar 2.7 Light Emiting Diode

9. Buzzer

Buzzer sering disebut piezo buzzer atau piezo speaker dengan diameter sekitar

1 cm. Suara yang dikeluarkan sekitar 95dB (Kadir, 2015, p. 292). Menurut

(Christian & Komar, 2013, p. 60) buzzer adalah salah satu komponen elektronika

yang berfungsi untuk mengubah getaran listrik menjadi getaran suara.


15

Prinsip kerja dari buzzer ini sebenarnya hampir sama dengan load speaker,

buzzer terbentuk oleh kumparan yang terpasang di diafragma lalu kumparan

tersebut dialiri arus sehingga menjadi elektromagnet. Kumparan tersebut akan

tertarik ke dalam atau keluar, tergantung pada arah arus dan polaritas magnetnya,

oleh karena itu kumparan dipasang pada diafragma maka setiap gerakan kumparan

akan menggerakkan diafragma secara bolak-balik sehingga udara jadi bergetar dan

kemudian menimbulkan suara. Buzzer ini digunakan sebagai indikator (alarm) bila

di dalam suatu ruangan terdapat asap rokok dan nyala api dengan batas nilai yang

telah ditentukan. Untuk skema elektronik dari buzzer dapat dilihat pada Gambar 2.8

berikut.

Gambar 2.8 Skema elekronik buzzer


10. LCD

Menurut (Kadir, 2015, p. 126) LCD (Liquid Crystal Display) biasa dipakai

untuk menampilkan teks. Salah satu bentuk LCD yang dapat digunakan untuk

menampilkan 2 baris × 16 karakter, dan komponen ini memiliki 16 pin. LCD ini

dikenal dengan LCD display 1602, yang menggunakan display controller HD44780

dan cocok digunakan untuk berbagai jenis mikrokontroler atau Arduino. LCD

terdiri dari dua bagian utama yaitu backlight dan kristal cair. Backlight merupakan
16

sumber cahaya yang terdiri dari 1 sampai 4 buah lampu, yang biasanya berwarna

putih. Prinsip kerja LCD yaitu dimulai dengan kristal cair akan menyaring cahaya

backlight. Cahaya putih merupakan susunan dari beberapa ratus spektrum cahaya

dengan warna yang berbeda. Beberapa ratus spektrum cahaya tersebut akan terlihat

jika cahaya putih mengalami refleksi atau perubahan arah sinar.

Spesifikasi LCD display 1602 adalah sebagai berikut: 1) display controller:

HD44780 (standar industri LCD); 2) terdapat 16 karekter × 2 baris huruf yang bisa

ditampilkan; 3) setiap huruf terdiri dari 5 × 8 dot-matrix cursor; 4) terdapat 192

macam karakter; 5) terdapat 80 × 8 bit display RAM (maksimal 80 karakter); 6)

memiliki kemampuan penulisan dengan 8 bit maupun dengan 4 bit; 7) tegangan

kerja: 5V DC; 8) dimensi modul: 80 × 36 × 1,6 mm; 9) dimensi layar tampilan: 69,5

mm × 14,5 mm; 10) sumber tegangan: 5V; dan 11) bekerja pada suhu 0 °C sampai

50°C (Eone Electronics Co., 2012).

11. Relai

Relai adalah komponen yang menggandung kumparan (lilitan) dan dapat

digunakan untuk menghentikan atau mengalirkan arus. Hal yang menarik, arus

yang dapat dikontrol dapat berupa arus searah (DC) maupun arus bolak-balik (AC)

(Kadir, 2016, p. 270).

Relai ini berfungsi sebagai remote control yang dapat menyalakan atau

mematikan alat dari jarak jauh. Relai terdiri dari coil dan contact. coil merupakan

gulungan kawat yang mendapat arus listrik, sedang contact adalah sejenis saklar

yang pergerakannya tergantung dari ada tidaknya arus listrik di coil. Secara

sederhana prinsip kerja dari relay yaitu ketika coil mendapat energi listrik maka

akan timbul gaya elektromagnet yang akan menarik armature yang berpegas, dan
17

contact akan menutup. Untuk skema elektronik relai ditunjukkan pada Gambar 2.9

berikut.

Gambar 2.9 Skema elekronik relai


12. Resistor

Menurut (Syahwil, 2013, p. 32) resistor adalah komponen elektronika berjenis

pasif yang mempunyai sifat menghambat arus listrik. Satuan nilai dari resistor

adalah ohm, biasa disimbolkan Ω. Fungsi dari resistor adalah sebagai pembagi arus,

penurun tegangan, pembagi tegangan, penghambat aliran arus listrik, dan lain-lain.

Resistor sebagai pembagi tegangan pada saat dirangkai secara seri dengan

karakteristik nilai resistor akan bertambah sesuai dengan nilai resistor yang

dihubungkan seri. Selanjutnya, resistor akan berfungsi sebagai pembagi arus pada

rangkaian paralel dengan karkateristik nilai resistansi menjadi lebih rendah dan

berbanding terbalik dengan nilai resistansi resistor yang diparalel.

B. Penelitian yang Relevan

1. (Christian & Komar, 2013) dalam penelitiannya yang berjudul “Prototipe

Sistem Pendeteksi Kebocoran Gas LPG Menggunakan Sensor Gas MQ-2,


18

Board Arduino Duemilanove, Buzzer, dan Arduino GSM Shield pada PT. Alfa

Retailindo (Carrefour Pasar Minggu)”. Penelitian ini ditekankan pada sistem

pendeteksi kebocoran gas LPG dengan sensor gas MQ-2 berbasis suara dan

SMS. Sistem yang dibangun ini dapat memberikan peringatan dini dari

kebocoran gas LPG dengan cepat supaya bisa melakukan tindakan mitigasi

secepat mungkin. Dengan demikian, pihak management dapat mengetahui

keadaan bahaya ketika gas bocor kapanpun dan dimanapun berada karena

pengiriman peringatan bukan hanya melalui suara namun juga melalui SMS.

2. (Mandarani & Ariani, 2016) dalam penelitiannya yang berjudul “Perancangan

Sistem Deteksi Asap Rokok Menggunakan Layanan Short Message Service

(SMS) Alert Berbasis Arduino”. Penelitian ini ditekankan pada sistem deteksi

asap rokok dengan menggunakan layanan SMS alert berbasis Arduino. Jadi,

penelitian ini hanya membahas bagaimana merancang sistem deteksi asap

rokok dengan menggunakan layanan SMS alert berbasis Arduino. Dan

penelitian dilakukan di ruangan tertutup yang digunakan untuk layanan publik

di gedung D Institut Teknologi Padang (ITP). Dengan menggunakan sistem

otomatis ini, dapat mempermudah petugas keamanan dalam mendeteksi asap

rokok, sehingga ruangan bebas asap rokok dapat terwujud dengan baik.

3. (Utomo & Saputra, 2016) dalam penelitiannya yang berjudul “Simulasi Sistem

Pendeteksi Polusi Ruangan Menggunakan Sensor Asap dengan Pemberitahuan

Melalui SMS (Short Message Service) dan Alarm Berbasis Arduino”. Pada

penelitian ini ditekankan pada sistem deteksi polusi ruangan apabila terdapat

kandungan asap berupa gas CO (Carbon Monoksida) yang terdapat pada rokok

dan mendeteksi adanya api. Jadi, penelitian ini hanya membahas bagaimana
19

merancang perangkat lunak agar sistem dapat melakukan pendeteksian asap CO

dan api, melakukan pengolahan perintah SMS dan mengirim informasi SMS

pada user.

C. Kerangka Berpikir

Banyaknya ruangan yang ada di gedung-gedung, perkantoran, pendidikan,

rumah sakit, dan juga tempat umum lainya membuat pemantuan terhadap asap

rokok dan kebakaran oleh petugas keamanan tidak efektif. Peringatan tertulis yang

telah ada juga tidak dipatuhi oleh para perokok aktif, dan hal tersebut

mengakibatkan udara terkontaminasi oleh asap-asap rokok yang sangat berbahaya

untuk kesehatan tubuh manusia. Selain itu, sisa puntung rokok yang masih meyala

dan di buang sembarangan dapat menjadi salah satu sumber terjadinya kebakaran.

Kebakaran merupakan suatu bencana yang sangat sering terjadi di berbagai tempat

dan berakibat sangat merugikan.

Berdasarkan permasalahan tersebut perlu suatu alat pendeteksi asap rokok dan

kebakaran di suatu ruangan. Dengan adanya alat pendeteksi asap rokok dan

kebakaran ini dapat memonitoring ruangan dari jarak jauh melalui SMS apabila

terdeteksi asap rokok maupun nyala api. Pada Gambar 2.10 menunjukakan

kerangka berpikir dalam penelitian ini sebagai berikut.

PLANNING PRODUCTION EVALUATION

Gambar 2.10 Kerangka Berpikir


Dari Gambar 2.10 dapat dilihat bahwa penelitian ini akan dimulai dari tahap

planning (perencanaan), production (produksi) dan evaluation (evaluasi). Yang

mana pada tahap planning, yaitu membuat rencana produk yang akan dibuat untuk

tujuan tertentu. Tahap planning, diawali dengan menganalisis kebutuhan yang akan
20

dilakukan melalui penelitian dan studi literatur ataupun pengumpulan informasi

yang berkaitan dengan penelitian.

Setelah perencanaan, kegiatan selanjutnya yaitu production atau membuat

produk berdasarkan rancangan yang telah dibuat. Produk yang dirancang dalam

penelitian ini merupakan alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran dengan

menggunakan sensor MQ-2 dan DFF0076 berbasis Arduino Uno. Apabila tahap

produksi sudah selesai, maka tahapan terakhir melakukan evaluation, yang

merupakan kegiatan menguji, menilai seberapa tinggi produk tersebut telah

memenuhi spesifikasi yang sudah ditentukan. Dalam penelitian ini hanya akan

melakukan evaluasi terhadap software dan hardwere yang digunakan saja.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (Research and

Development). Menurut (Sugiyono, 2017, p. 26) metode penelitian dan

pengembangan (R&D) adalah metode penelitian yang digunakan untuk

menghasilkan produk baru, menguji keefektifan produk, serta megembangkan dan

membuat produk baru tersebut.

Menurut Richey and Klein (2009) dalam (Sugiyono, 2017, p. 39) ada langkah-

langkah penelitian dan pengembangan, yaitu sebagai berikut :

PLANNING PRODUCTION EVALUATION

Gambar 3.1 Langkah-langkah Metode Research and Development (R & D)

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Januari sampai Maret tahun 2018

di laboratorium Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Bengkulu.

C. Variabel Penelitian

Menurut Walker dan Hess (dalam Arsyad, 2011: 175) variabel penelitian

pengembangan ini adalah kualitas teknis dan Kualitas isi. Kualitas teknis dan

kualitas isi ini meliputi kesesuaian, kemudahan, dan kemanfaatan.

D. Definisi Operasional

Ada beberapa defenisi operasional pada penelitian rancang bangun alat

pendeteksi asap rokok dan kebakaran dengan menggunakan sensor MQ-2 dan

DFR0076 berbasis Arduino Uno antara lain sebagai berikut :

21
22

1. Alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran adalah suatu alat yang terdiri dari

komponen-komponen elektonika yang dirancang sedemikian rupa sehingga

menghasilkan sebuah alat yang dapat difungsikan untuk mendeteksi keberadaan

asap rokok dan nyala api secara otomatis.

2. Sensor MQ-2 merupakan sensor asap yang dapat mendeteksi kadar asap rokok.

3. Sensor DFR0076 merupakan sensor api yang dapat mendeteksi adanya sumber

api.

E. Prosedur Pengembangan

Prosedur pengembangan yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Planning (Perancangan)

Tahap planning, diawali dengan menganalisis kebutuhan yang akan dilakukan

melalui penelitian dan studi literatur ataupun pengumpulan informasi yang

berkaitan dengan penelitian (Sugiyono, 2017, p. 39).

a. Analisis Kebutuhan

Ada dua jenis kebutuhan yang diperlukan dalam penelitian ini yaitu perangkat

keras (hardware) dan perangkat lunak (software).

a) Perangkat keras (Hardware)

Perangkat keras merupakan komponen-komponen yang dibutuhkan dalam

pembuatan alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran. Adapun perangkat keras

yang digunakan dalam penelitian ini seperti pada Tabel 3.1 berikut.

Tabel 3.1 Alat dan Bahan


No Alat dan Bahan Jumlah
1 Arduino Uno 1 buah
2 Sensor MQ-2 1 buah
Lanjutan tabel 3.2 Alat dan Bahan
No Alat dan Bahan Jumlah
23

3 Sensor DFR0076 1 buah


4 Modul GSM SIM 900A 1buah
5 Sim Card 1 buah
6 LCD 162 1 buah
7 LED 3 buah
8 Kipas 5V 1 buah
9 I2C 1 buah
10 Relay 1 Channel 1 buah
11 Resistor 3 buah
12 Buzzer 1 buah
13 Breadboard 1 buah
14 Kabel USB 1 buah
15 Kabel Jumper Secukupnya
16 Adaptor 1 buah
17 Laptop 1 buah
18 Acrylic Secukupnya

b) Perangkat Lunak (Software)

Perangkat Lunak pada perancangan alat ini akan dibangun menggunakan

perangkat lunak Arduino IDE.

b. Studi Literatur

Pada tahap studi literatur kegiatan yang dilakukan yaitu mencari dan

mengumpulkan referensi tentang Arduino Uno, sensor MQ-2, sensor DFR0076,

GSM SIM900A, relai, fan, buzzer, LED, LCD, serta dasar teori yang berkaitan

dengan alat yang akan dibuat.

c. Perancangan Sistem (Desain)

Pada tahap desain akan membuat rancangan dari awal hingga akhir secara

terperinci. Pada tahap ini ada tiga bentuk perancangan yaitu perancangan perangkat

keras (hardware), perancangan perangkat lunak (software), dan perancangan

mekanik.

a) Perancangan Perangkat Keras (Hardware)

1) Perancangan Diagram Blok Sistem


24

Perancangan perangkat keras (hardware) secara umum dapat digambarkan pada

diagram blok pada Gambar 3.2 berikut.

Gambar 3.2 Diagram blok sistem


Fungsi dari diagram blok rangkaian di atas adalah sebagai berikut :

1. Sensor MQ-2 berfungsi sebagai input untuk mendeteksi keberadaan adanya

asap rokok.

2. Sensor DFR0076 berfungsi sebagai input untuk mendeteksi adanya sumber api

yang menyala pada puntung rokok.

3. Arduino Uno berfungsi sebagai sistem kontrol dari semua rangkaian dan

penghubung GSM SIM 900A.

4. GSM SIM 900A berfungsi sebagai alat yang digunakan untuk melakukan

pengiriman Short Message Service (SMS) kepada pengguna.

5. LCD berfungsi sebagai monitor untuk menampilkan kadar asap rokok dan api

yang terdeteksi.

6. Kipas/Fan berfungsi untuk menguraikan asap rokok yang terdeteksi dengan

kontrol SMS.

7. Buzzer berfungsi sebagai output untuk indikator bunyi pada saat terdeteksi asap

rokok dan nyala api.


25

8. LED (merah, kuning, hijau) sebagai output untuk indikator peringatan pada saat

terdeteksi asap rokok dan nyala api.

9. Handphone (HP) berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menerima SMS dari

GSM SIM900A bila terdeteksi adanya asap dan api yang menyala di sekitar

sensor.

2) Perancangan Rangkaian Elekronik

Perancangan perangkat keras (hardware) untuk rangkaian elektronik secara

umum ditunjukkan pada Gambar 3.3 di bawah ini.

Gambar 3.3 Rangkaian elektronik alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran
b) Perancangan Perangkat Lunak (Software)

Perancangan perangkat lunak terfokus pada pemprograman Arduino.

Perancangan perangkat lunak pada alat ini dibangun menggunakan bahasa C.

Keseluruhan maupun perangkat lunak untuk mengakses bagian-bagian dari sistem

diatur didalam ATmega328.

Adapun flowchart dari perangkat lunak pada alat pendeteksi asap rokok dan

kebakaran ditunjukkan pada Gambar 3.4.


26

Mulai

Inisialisasi keseluruhan
modul

Tes koneksi
keseluruhan modul

Tes keseluruhan sensor


T

Ada Asap
& Api

Sensor Asap & Api

Modul GSM
mengirim

Nilai sensor Y AMAN


T
<100

Nilai sensor Y WASPADA


≥100 & <300

Nilai sensor
≥300

Y
BAHAYA

Tampilkan nilai di
LCD

Selesai

Gambar 3.4 Flowchart pendeteksi asap rokok dan kebakaran


27

Dari Gambar 3.4 flowchart menjelaskan sistem alat pendeteksi asap rokok dan

kebakan akan dimulai dengan menginisialisasi keseluruhan modul yaitu modul

Arduino Uno dan modul GSM SIM900A. Setelah itu, tes koneksi keseluruhan

modul. Jika keadaan keduanya sudah aktif dan normal maka, akan melakukan tes

keseluruhan sensor (sensor MQ-2 dan DFR0076). Apabila sensor terdeteksi adanya

asap rokok dan kebakaran maka, SIM900A akan mengirimkan SMS ke handphone

pengguna dengan ketentuan sebagai berikut :

1) jika batas nilai sensor yang terdeteksi <100 maka indikator 1 terkirim yang isi

pesannya “Tidak ada asap rokok dan kebakaran”, dan LED hijau menyala.

2) Jika terdeteksi nilai sensor ≥100 & <300 maka indikator 2 terkirim “Waspada

terdeksi asap rokok dan kebakaran”, LED kuning menyala, dan buzzer sebagai

alarm berbunyi.

3) Jika terdeteksi nilai sensor ≥300 indikator 3 terkirim “AWAS terdeksi asap

rokok dan kebakaran”, LED merah menyala, dan buzzer sebagai alarm

berbunyi.

Untuk indikator 1, 2, 3, relay akan mengaktifkan kipas, apabila ada perintah

via SMS dari pengguna, serta nilai yanag terbaca oleh sensor akan ditampilkan pada

LCD (Liquid Crystal Display).

c) Perancangan Mekanik

Perancanagan mekanik meliputi pembuatan kerangka alat dengan

menggunakan bermacam bahan-bahan yang digunakan. Perancangan mekanik alat

ini akan dibuat seperti ruangan yang alas dan dindingnya menggunakan bahan

acrylic. Perancangan alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran ini ditempatkan satu
28

sensor MQ-2, satu sensor DFR0076, satu buzzer, dan tiga buah LED. Untuk lebih

lengkapnya diperlihatkan pada Gambar 3.5 berikut.

Gambar 3.5 Rancangan mekanik alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran

2. Production (Memproduksi)

Setelah perencanaan, kegiatan selanjutnya yaitu production atau membuat

produk berdasarkan rancangan yang telah dibuat. Produk yang dirancang dalam

penelitian ini merupakan alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran dengan

menggunakan sensor MQ-2 dan DFF0076 berbasis Arduino Uno.

Adapun tahapan proses pembuatan alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran

dengan menggunakan sensor MQ-2 dan DFR0076 sebagai berikut:

a. Merakit komponen elektronik yang terdiri dari Arduino Uno, sensor MQ-2,

sensor DFR0076, GSM SIM900A, buzzer, dan adaptor lalu disambungkan ke

laptop dengan menggunakan kabel USB.


29

b. Mengkomunikasikan GSM SIM900A dengan handphone dan membuat format

data SMS.

c. Melakukan uji coba secara keseluruhan.

d. Membuat bagian mekanik alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran.

e. Menempelkan bagian-bagian rangkaian alat pendeteksi asap rokok dan

kebakaran pada mekanik.

Kode program alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran ditunjukkan pada

gambar di bawah ini:

Gambar 3.6 Kode program alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran
30

Gambar 3.7 Kode program alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran

Gambar 3.8 Kode program alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran
31

Gambar 3.9 Kode program alat pendeteksi asap rokok dan kebakaran

3. Evaluation (Evaluasi)

Apabila tahap produksi sudah selesai, maka tahapan terakhir melakukan

evaluation, yang merupakan kegiatan menguji, menilai seberapa tinggi produk

tersebut telah memenuhi spesifikasi yang sudah ditentukan. Dalam penelitian ini

hanya akan melakukan pengujian perancangan software, perancangan hardwere,

dan pengujian sistem secara keseluruhan.


32

DAFTAR PUSTAKA

Budiharto,W dan Firmansyah,S. (2008). Elektronika Digital dan Mikroprosesor.


Yogyakarta: Andi.

Christian, J., & Komar, N. (2013). Prototipe Sistem Pendeteksi Kebocoran Gas
LPG Menggunakan Sensor Gas MQ2, Board Arduino Duemilanove,
Buzzer, dan Arduino GSM Shield pada PT. Alfa Retailindo (Carrefour
Pasar Minggu). Technology of Imformation and Communication, 60.

DFROBOT. (2016, Oktober 21). Flame Sensor SKU: DFR0076. Retrieved from
Datasheet: https://www.dfrobot.com/.

Eone Electronics Co., L. (2012, Februari 16). Interfacing an HD44780 2-line LCD
display with the STM8SVLDISCOVERY. Retrieved from Datasheet:
www.st.com.

Hanwei Eletronics Co., L. (2010, Mei 14). CH4 Gas Sensor Module. Retrieved
from Datasheet: http://www.hwsensor.com.

Kadir, A. (2014). Buku Pintar Pemprograman Arduino. Yogyakarta: MediaKom.

Kadir, A. (2015). From Zero to a PRO Arduino. Yogyakarta: Andi Offset.

Kadir, A. (2016). Simulasi Arduino. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Kinanti, V. N., Yamin, M., & Aksara, L. F. (2016). Prototype Penyaring Asap Roko
Pada Smoking Area Menggunakan Pulse Widh Modulation (PWM) dan
Fuzzy Tsukamoto. semanTIK, 195-202.

Mandarani, P., & Ariani, R. (2016). Perancangan Sistem Deteksi Asap Rokok
Menggunakan Layanan Short Massage Service (SMS) Alert Berbasis
Arduino. Jurnal Teknologi Informatika, 66-75.

Partodiharjo, S. (2002). Kenali Narkoba dan Musuhi Penyalahgunaanya. Jakarta:


Erlangga.

Purbowaseso, B. (2004). Pengendalian Kebakaran Hutan . Jakarta: Rineka Cipta.


33

Relay, S. (n.d.). Relay ISO9002. Retrieved from Datasheet:


http://www.100y.com.tw.

SIMCom. (2009, Desember 26). Hardware Design SIM900A_HD_V1.01.


Retrieved from Datasheet: www.sim.com/wm.

Sugiyono. (2017). Metode Penelitian dan Pengembangan (Research and


Development). Bandung: Alfabeta.

Syahwil, M. (2013). Panduan Mudah Simulasi dan Praktik Mikrokontroler


Arduino. Yogyakarta: Andi Offset.

Utomo, B. T., & Saputra, D. S. (2016). Simulasi Sistem Pendeteksi Polusi Ruangan
Menggunakan Sensor Asap dengan Pemberitahuan Melalui SMS (Short
Massage Service) dan Alarm Berbasis Arduino. Jurnal Ilmiah Teknologi
dan Informasi Asia, 56-57.