Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang
alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “ I’lal ”
Makalah ini berisikan tentang informasi tentang pengertian I’lal, pembagian jenis I’lal, dan
pengecualiannya. Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua
mengenai I’lal.
Atas dukungan materi yang telah diberikan, kami mengucapkan terima kasih kepada dosen
pembimbing mata kuliah Shorof III, ibu Triyanti Nurul Hidayati, S.S, M.A.
Kami menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan
saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan
Makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
serta dalam penyusunan Makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah Subhanhu Wa Ta’ala
senantiasa meridhai segala usaha kita. Aamiin.

Surakarta, 25 November 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................................................... i
DAFTAR ISI ...................................................................................................................................................ii

BAB I.............................................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN ............................................................................................................................................ 1
A. Latar Belakang .................................................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................................................................. 1
C. Tujuan Penulisan………………………………………………………………………………………………………......................1

BAB II............................................................................................................................................................. 2
PEMBAHASAN .............................................................................................................................................. 2
A. Pengertian I’lal .................................................................................................................................... 2
B. Pembagian Jenis I’lal........................................................................................................................... 2
a. Penghapusan Huruf Illat............................................................................................................... 2
b. Penggantian Huruf Illat ................................................................................................................ 4
c. Taskin ........................................................................................................................................... 9
d. I’lal Huruf Hamzah...................................................................................................................... 12

BAB III ......................................................................................................................................................... 14


PENUTUP .................................................................................................................................................... 14
A. Kesimpulan .............................................................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................................... 16

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
I’lal merupakan salah satu pembahasan dalam ilmu shorof/morfologi arab.
Didalamnya menganut berbagai pembahasan mengenai huruf ‘illat yaitu wawu, ya’ , dan
alif.

I’lal memiliki berbagai macam jenis penyebab, hukum serta pengecualian hukum
yang sebagian orang belum mengetahuinya. Oleh karena itu kami akan menjelaskan I’lal
secara mendetail.

B. Rumusan Masalah
1. Apa itu I’lal?
2. Apa saja pembagian jenis dari I’lal?
3. Apa saja hukum dan pengecualian hukum yang terdapat pada I’lal?

C. Tujuan Penulisan
1. Agar dapat mengerti dan memahami apa yang dimaksud dengan I’lal
2. Agar dapat mengerti dan memahami apa saja pembagian jenis I’lal
3. Agar dapat mengerti dan memahami apa saja hukum dan pengecualian hukum yang
terdapat pada I’lal

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian I’lal
َ ِ‫إ‬-َّ‫يُ ِعل‬-َّ‫ أ َ َعل‬yang bermakna menimpakan suatu
Secara bahasa berasal dari kata َّ‫عَلل‬
penyakit. (Al-Munjid, 2008 : 523)
Adapun pengertian i’lal secara istilah diantaranya sebagai berikut :
ْ ‫َّال ِعل ِةَّأ َ ْو‬
َّ‫َّقلبِ ِهَّأ َ ْوَّت َ ْس ِك ْينِ ِه‬ ْ ‫ف‬ ُ ‫لع ََْللَُّ ُه َوَّ َح ْذ‬
ِ ‫فَّ َح ْر‬ َِّ ْ َ ‫َّا‬
I’lal adalah menghapus, mengganti, atau men-sukun-kan ( memberi harakat
sukun ) huruf ‘illat.َّ(Al-Ghulayaini, 2009 : 258)

َّ‫ةَّوَّأنَّي َح ّلَّحرفَّعلّ ِةَّمح ّلَّحرفَّعلّةَّأخرى‬


ْ ‫فَّال ِعل‬ َ َ‫وَّأنَّيُحذ‬
ُ ‫فَّ َح ْر‬ َ ‫ال‬
ْ ‫عَللَُّ ُه‬ ِ
‫فىَّالكلمة‬
I’lal adalah menghapus huruf ‘illat dan menempatkan huruf ‘illat pada
posisi huruf ‘illat lain dalam sebuah kalimat. (Ni’mah, Fuad. 1998 : 89)
B. Pembagian I’lal

I’lal menurut prosesnya dibagi menjadi 3 yaitu penghapusan, penggantian, dan taskin.
Ditambah dengan i’lal yang khusus pada huruf hamzah.

1. Penggantian huruf illat


Dalam hukum i’lal ada 3 bentuk penggantian huruf ‘illat :

a. H uruf wawu atau ya’ diganti dengan alif


Hukum dasar huruf wawu dan ya’ diganti dengan huruf alif apabila keduanya
berharakat asli dan huruf sebelumya berharakat fathah.
Contoh :

Asalnya I’lal Arti

َّ‫ع َو‬ ََّ َ‫د‬ ‫عا‬ ََّ َ‫د‬ Mengundang


‫ََّبََّي ََّع‬ ََّ ‫َبَّا‬
‫ع‬ Menjual

Namun, ada beberapa keadaan dimana huruf wawu dan ya’ dalam keadaan diatas
tidak diganti dengan huruf alif, yaitu :

2
1) Jika keduanya berada pada posisi ‘ain fi’il dan huruf setelahnya bukan huruf asli
dalam keadaan mati (sukun).
Contoh : َّ‫( بََّيََّان‬penjelasan) َّ‫غَّيُور‬ ََّ َّ (yang cemburu)
2) Jika keduanya berada pada posisi lam fi’il (mu’tal akhir) dan huruf setelahnya
berupa alif atau ya’ bertasydid (َّ‫ي‬ ّ َّ).
Contoh : َّ‫وي‬َِّ َ‫عَّل‬
َ (tingkat atas) ‫(َّ َر ََّميََّا‬mereka berdua melempar)
3) Jika keduanya merupakan ‘ain fi’il dari fi’il lafif maqrun dan mengikuti wazan
(ََّ‫)فَ ِعل‬.
Contoh : َّ،‫ي‬َ ‫(َّ ََّه َِّو‬menyukai) ‫ي‬
ََّ ‫( َّدَ َِّو‬jatuh sakit)
4) Jika keduanya berada pada posisi ‘ain fi’il dan huruf setelahnya berupa huruf
‘illat yang sudah di-i’lal. Hal ini supaya tidak terjadi dua proses i’lal secara
bersamaan.
Contoh :‫وى‬ ََّ َّ(melipat)
ََّ ‫(َّ ََّه‬jatuh) ‫ط ََّوى‬
5) Jika keduanya berada pada posisi ‘ain fi’il yang berwazanَّ(َّ‫)فَ َع ََلن‬
ََّ (hewan) َّ‫ج ََّو ََلن‬
Contoh :َّ‫حيََّ َوان‬ ََّ َّ (berkeliling)
6) Jika keduanya berada pada posisi ‘ain fi’il ( ) yang mempunyai bentuk sifat
musyabbahah berwazan (‫ل‬ َُّ ‫)أ ْف َع‬.
Contoh :‫َّر‬ َُّ ‫َّو‬
َ ‫َّأ ْع‬-َّ‫َّيَ ْع َو ُر‬-َّ‫ع ِو َر‬
َ (buta sebelah mata)
7) Jika huruf wawu berada pada posisi ‘ain fi’il (ajwaf) yang mengikuti wazan
ََّ ‫ )أفَت َ َع‬dan memiliki makna musyarakah
(‫ل‬
Contoh :َّ‫و َرَّالقَ ْو ُم‬
ََّ َ ‫اجَّت‬
ْ َّ(saling bertetangga)
(Al-Ghulayaini, 2009 : 258)

b. Huruf wawu diganti dengan huruf ya’


Dalam kaidah i’lal, huruf wawu harus diganti dengan huruf ya’ pada 8 keadaan,
yaitu :

1) Jika huruf wawu berharakat sukun dan huruf sebelumnya berharakat kasrah.
Contoh :

Asalnya I’lal Arti


َّ ‫ع‬
‫اد‬ َ ‫ِم ْو‬ َّ َ‫َِّمَّْيع‬
‫اد‬ Waktu yang ditentukan
َّ‫ِم ْوزَ ان‬ َّ‫َِّمَّْيزَ ان‬ Timbangan

3
2) Jika huruf wawu berada diakhir suatu kata dan huruf sebelumnya berharakat
kasrah.
Contoh :
Asalnya I’lal Arti
‫ض ََّو‬
َّ ِ ‫َر‬ ََّ ‫ض‬
‫ي‬ َّ ِ ‫َر‬ Rela
َّ‫عو‬
َِّ ‫دَا‬ َّ‫عي‬
َِّ ‫دَا‬ Da’i (yang berdakwah)

3) Jika huruf wawu berada setelah huruf ya’ pada bentuk tashghir
Contoh :
Asalnya I’lal Idghom Arti
Anak anjing yang
َّ‫ُج َرَّْيو‬ َّ‫ُج َرَّْيي‬ َّ‫ُج ََّري‬ kecil
َّ‫دُلََّْيو‬ َّ‫دُلََّْيي‬ َّ‫دُلََّي‬ Ember kecil

4) Jika huruf wawu berada diantara kasrah dan huruf alif pada isim mashdar dari
fi’il ajwaf yang ‘ain fi’ilnya di-i’lal.
Contoh :
Asalnya I’lal Arti
َّ‫قِ َوام‬ َّ‫قِيَام‬ Bangkit
َّ‫اِ ْن ِق َواد‬ َّ‫اِ ْن ِق َياد‬ Penundukan

5) Jika huruf wawu menjadi ‘ain fi’il yang terletak setelah harakat kasrah yaitu
pada isim jamak shohihul akhir yang mengikuti wazan (َّ‫َّ) فِ َعال‬dan (َّ‫)فِ َعل‬. Dan
di-i’ilal atau disukun pada bentuk mufrodnya.
Contoh :
Asalnya : I’lal Arti
َّ‫د َِوار‬ َّ‫ِديَار‬ Rumah-rumah
َّ‫ِح َول‬ َّ‫ِح َيل‬ Tipu daya

6) Jika ada huruf wawu yang bergandeng dengan huruf ya’ baik sebelum maupun
sesudahnya. Maka huruf wawu tersebut diganti dengan huruf ya’ dan
diidghamkan. Dengan syarat, huruf yang terletak lebih awal merupakan huruf
asli dan berharakat sukun asli juga. Baik dalam satu kalimat atau yang
menyerupai satu kalimat.

4
Contoh :
Proses Asal 1 2 3
Huruf mim di-kasrah-kan
Wawu yang Di-idgham-kan untuk menjamin huruf ya’
bergandeng karena 2 huruf yang seharusnya diganti
Kaidah - dengan ya’ satu jenis dan wawu karena menyesuaikan
diganti dengan yang pertama dhammah
huruf ya’ dalam sukun (Mundzir, tanpa tahun : 10)
satu kalimat.
َّ ‫َم ْر ُم ْو‬
‫ي‬
Hasil َّ‫َم ْر َُّمَّْيي‬ َّ‫َم ْر ُمي‬ َّ‫َم ْر َِّمي‬
(َّ‫) َم ْفعُ ْول‬
7) Jika wawu merupakan lam fi’il pada kata jamak yang mengikuti wazan (َّ‫) فُعُ ْول‬.
Contoh :

Proses Asal 1 2 3 4
Wawu pada Wawu yang Di-idgham- Huruf mim di-
lam fi’il bergandeng kan karena kasrah-kan untuk
berwazan dengan ya’ ada 2 huruf menjamin huruf ya’
َّ‫ فُعُ ْول‬diganti diganti satu jenis dan yang seharusnya
Kaidah - dengan ya’ dengan huruf yang pertama diganti wawu karena
ya’ dalam disukun menyesuaikan
satu kalimat. dhammah
(Mundzir, tanpa
tahun : 10)
َّ‫دُلُ ْوو‬
Hasil َّ‫دُلُ َّْوي‬ َّ‫دَُّلَُّْيي‬ َّ‫َّدَُّلُي‬ َّ‫دَُِّلي‬
(َّ‫) َم ْفعُ ْول‬
8) Jika wawu merupakan ‘ain fi’il pada jamak yang bewazan ( َّ‫ ) فُعل‬dan lam
fi’ilnya berupa huruf shohih.
Contoh :
Asalnya (Mufrod) Asalnya (Jamak) I’lal Arti
َّ‫صائِم‬ َ َّ‫صوم‬ ُ َّ‫صيَّم‬
َُّ Orang yang berpuasa
َّ‫نَائِم‬ َّ‫نُوم‬ َّ‫َّنُيَّم‬ Orang yang tidur

c. Mengganti huruf ya’ menjadi wawu


Menurut kaidah, huruf ya’ diganti menjadi wawu dalam 3 keadaan :
1) Apabila huruf ya’ berharakat sukun dan terletak setelah harakat dhammah
kecuali ism jama’ yang berwazan (َّ‫)فُ ْعل‬
Contoh :
5
Asalnya I’lal nya Artinya
َّ ‫َّ ُم ْيس‬،‫يُ ْيس ُِر‬
‫ِر‬ ‫َّ َُّمو ِس َّر‬،‫َّيُو ِس ُر‬ Menjadi kaya
َّ‫َّ ُم ْي ِقن‬،‫يُ ْي ِق ُن‬ َّ‫َّ َُّموقِن‬،‫َّيُوقِ ُن‬ Meyakinkan

Kecuali ism jama’ yang berwazan (َّ‫ )فُ ْعل‬seperti َََّّّ‫( بُيْض‬putih) dan َّ‫هيْم‬
ُ (
yang kehausan). Maka tidak diganti dengan wawu’ melainkan harakat dhommah
sebelumnya diganti kasrah sehingga menjadi َََّّّ‫ َِّبيْض‬dan َّ‫هيْم‬
ِ .
2) Apabila huruf ya’ menjadi lam fi’il yang terletak setelah harakat dhammah.
Contoh :
Asalnbnya I’lal nya Contoh Artinya
َّ ‫نَ ُه‬
‫ي‬ َ ‫نَ َُّه َّو‬َ َُّ ‫الر ُج‬
‫ل‬ َ ‫نَ ُهو‬ Berakhirlah lelaki itu!
َ
ََّ ‫ض‬
‫ي‬ ُ َ‫ق‬ ‫ض ََّو‬ َُّ َ‫ق‬ َُّ ‫الر ُج‬
‫ل‬ َ ‫ض َو‬ ُ َ‫ق‬ Habislah lelaki itu!

3) Apabila huruf ya’ menjadi ‘ain fi’il pada wazan ( ‫)فُ ْعلَى‬.
Contoh :
Asalnya I’lal nya Artinya
َُّ
‫طَّْي َبى‬ َُّ
‫ط َّْو َبى‬ Paling baik
َ ‫َُّكَّْي‬
‫سى‬ َ ‫َُّك َّْو‬
‫سى‬ SayYaur mentimun

Dan ada dua kata yang huruf ya’ tidak diganti dengan wawu, melainkan
harakat sebelumnya dikasrahkan.
Contoh :
Asalnya I’lal nya Artinya
‫ضيْزَ ى‬
ُ ‫ضيْزَ ى‬
َّ ِ Tidak adil
‫ُح ْي َكى‬ ‫حي َكى‬
َِّ Berlagak

Namun, menurut pendapat Ibnu Malik dan anaknya, semua yang berwazan
َّ‫ فُ ْعلَى‬boleh diganti wawu ataupun diganti harakat sebelumnya dengan kasrah.

(Tambahan)

d. Wazan (‫ )فَ ْعلَى‬dan (‫ )فُ ْع َلى‬yang lam fi’ilnya berupa huruf ‘illat
a) Wazan (‫ ) فَ ْعلَى‬yang lam fi’ilnya berupa wawu, maka tidak di-i’lal ketika
dalam bentuk isim seperti (‫) َدع َْوى‬, dan dalam bentuk sifat seperti (‫)نَش َْوى‬.
Jika lam fi’ilnya berupa ya’ maka tidak di-i’lal dalam bentuk sifat seperti (
‫ ) َخ ْزيَى‬dan di-i’lal dalam bentuk isimnya seperti (‫)تَ ْق َوى‬
Asalnya I’lal Artinya

6
‫ت َ ْقيَا‬ ‫ت ََّْق ََّوى‬ Takwa

b) Wazan (‫ )فُ ْعلَى‬jika lam fi’ilnya berupa ya’ maka pada bentuk isim dan sifat
tidak di-i’lal. Dan jika berupa wawu maka pada bentuk sifat di-i’lal seperti
(‫ع ْليَا‬
ُ ) dan tidak pada bentuk ismnya seperti ( ‫) ُخ ْز َوى‬.
Asalnya I’lal Artinya
ْ
‫عل َوى‬ُ ْ
‫عَّلََّيا‬
ُ Yang tinggi

e. I’lal Alif
1) Apabila alif terletak setelah ya’ tashghir maka diganti dengan ya’ dan di-
idgham-kepada ya’ tashghir tersebut.
Asal Tashghir I”lal Idgham Arti
َّ‫ِكتَاب‬ َّ‫ُكتَيْاب‬ َّ‫ُكتَ ْييْب‬ َّ‫ُكتَ ِيّب‬ Buku kecil
2) Huruf alif diganti dengan wawu’ apabila terletak setelah dhammah dan diganti
ya’ apabila terletak setelah kasrah.
Asal I’lal Arti
َّ‫صا ِبا ُح‬
َ ‫َم‬ َّ‫صا ِب ْي ُح‬
َ ‫َم‬ Lampu-lampu
(jamak dari َّ‫صبَاح‬
ْ ‫)م‬
ِ
ُ
ُ ‫شا َه َّد‬
ُ
ُ ‫ش ْو َه َّد‬ Disaksikan
(bentuk majhul dari َ‫ه َّد‬
َ ‫)شَا‬
3) Apabila alif merupakan huruf ke-empat ( isim atau fi’il ) dari hasil i’lal
penggantian wawu’ atau ya’. Maka alif diganti dengan ya’ apabila
bersambung dengan dhomir mutsanna, dhomir rafa’ mutaharrik pada fi’il, atau
alif tatsniyah pada isim.
Contoh :
َ ‫ أ َ ْع‬dari fi’il madhi ‫طى‬
‫ط َيا‬ َ ‫أ َ ْع‬
َُّ ‫طي‬
‫ْت‬ َ ‫ أ َ ْع‬dari fi’il madhi ‫أَ ْع َطى‬
َِّ َ‫ ال ُم ْست َ ْشفَي‬dari isim mufrodََّّ‫ََََّّّّال ُم ْست َ ْشفى‬
‫ان‬
Apabila alif merupakan huruf ke-tiga dari hasil i’lal penggantian wawu
atau ya’ dan pada keadaan diatas. Maka dikembalikan pada asalnya.
Contoh :
ُ ‫ع ْو‬
َّ‫ت‬ َ َ‫ د‬dari fi’il madhiَّ‫عى‬
َ َ‫َََّّّد‬asalnya ‫دَ َع ََّو‬
ََّ ‫ َر َمي‬dari fi’il madhi َّ‫ َر َمى‬asalnya ‫ي‬
‫ْت‬ ََّ ‫َر َم‬
2. Taskin
Kata taskin disini memiliki 2 pengertian. Yang pertama adalah membuang harakat
huruf ‘illat dengan tujuan untuk meringankan bacaan. Kedua, memindahkan harakat huruf
shohih ‘illat pada huruf sebelumnya yang mati (sukun).

7
a. Apabila ada wawu atau ya’ berada pada akhir kata, berharakat kasrah atau
dhammah, dan huruf sebelumnya shohih berharakat hidup. Maka harakat wawu
atau ya’ dibuang/ dimatikan dengan maksud untuk meringankan bacaan.
Contoh :
Asal I’lal Arti
‫يَدْعو‬ ‫يَدْع ْو‬ Mengundang

‫يَ ْقضي‬ ‫يَ ْقض ْي‬ Mengerjakan

Dan apabila wawu atau ya’ berharakat fathah, maka tidak dibuang /
disukunkan harakatnya. Contohnya seperti : ‫( لَ ْن ا َ ْدع َو‬Aku tidak akan
mengundangmu)
Adapun ketika wawu dan ya’ itu berada diakhir kata dan huruf sebelumnya
berharakat sukun maka tidak sukunkan ( tetap ). Contohnya : ‫هذَا دَ ْلو‬
َ (Ini ember)
b. Apabila wawu atau ya’ berharakat dan huruf sebelum keduanya adalah huruf
shohih yang mati ( sukun ), maka wajib menukar harakat wawu atau ya’ dengan
huruf shohih tersebut. Hal ini karena huruf shohih lebih berhak untuk mendapatkan
harakat.
Contoh :

Asal I’lal Arti


‫يَ ْقوم‬ ‫يَق ْوم‬ Dia sedang berdiri
‫َيبْين‬ ‫َيبيْن‬ Tampak

PePpemindahan harakat ini seringkali diikuti dengan penggantian atau


penghapusan huruf ‘illat atau bahkan keduanya sekaligus.
Pemindahan harakat yang diikuti penggantian huruf ‘illat yaitu jika keduanya
tidak sejenis, maka diganti dengan huruf ‘illat yang sejenis.
Contoh :
I’lal I’lal
Proses Asal
(Pemindahan) (Penggantian)
Menukar harakat Huruf wawu diganti
huruf ‘illat kepada dengan ya’ jika
Kaidah - huruf shohih berharakat sukun dan
sebelumnya yang jatuh setelah kasrah
mati
‫ي ْقوم‬
Hasil ‫يق ْوم‬ ‫يق ْيم‬
َُّ ‫)يُ ْف ِع‬
(‫ل‬

8
Akan tetapi kaidah pemindahan harakat ini tidak berlaku pada beberapa
keadaan, yaitu :
1) Shighot fi’il ta’ajjub, seperti ‫( أ َ ْق َو َم‬lebih tegak/lurus)
2) Berbentuk isim tafdhil atau musyabbahah yang berwazan ‫ل‬ َُّ ‫أ َ ْف َع‬, seperti
َّ‫( ا َ ْق َو ُم‬tafdhil), َّ‫ض‬
ُ ‫( ا َ ْب َي‬berwarna putih)
3) Isim yang berwazan َّ‫عل‬ َ ‫ ِم ْف‬, َّ‫م ْف َعلَة‬,
ِ َّ‫ ِم ْفعال‬.ََّّ
Contohَّ: ,ََّّ‫(َّ ِم ْكيَال‬timbangan), َّ‫حة‬ َ ‫( ِم ْر َو‬kipas angin), َّ‫ ِم ْق َول‬,ََّّ(alat
berbicara)
4) Huruf setelah wawu atau ya’ adalah huruf alif. Contoh : َّ‫جدْوال‬ َ
(jadwal)
5) Berbentuk mudho’af. Contoh : َّ‫( ا َ ْبيَض‬memutih)
6) Bentuk mu’tal lam. Contoh : َّ‫( أ َ ْه َوى‬hancur)
7) Jika huruf ‘illat pada ‘ain fi’il madhinya tidak di-i’lal.َّ
َُّ ‫ يَ ْع َو‬dan ‫اَع َْو ََّر‬, fi’il madhinya
Contoh : ‫ر‬ َ .
َّ‫ع ِو َر‬
(Al-Ghulayaini, 2009 : 258)
Kemudian, pemindahan harakat yang diikuti penghapusan huruf ‘illat yaitu
apabila setelah pemindahan harakat itu mengakibatkan bertemunya 2 sukun. Maka
huruf ‘illatnya harus dihapuskan.

1. I’lal 2. I’lal 3.
Proses Asal
ََََّّّّ(Pemindahan) َََََّّّّّ(Penghapusan)
Menukar harakat Menghapus huruf Membuang
huruf ‘illat kepada ‘illat untuk alif karena fa’
Kaidah - huruf shohih mencegah fi’il sudah
sebelumnya yang bertemunya 2 berharakat.
mati sukun
َّ‫اَِّْبيَِّ ْع‬
Hasil َّ‫اَِِّبَّْي ْع‬ َّ‫اَِّ ِب ْع‬ َّ‫ِب ْع‬
َّْ ‫)اِ ْف ِع‬
(‫ل‬

Kemudian, pemindahan harakat yang diikuti penggantian dan penghapusan


huruf ‘illat sekaligus, terdapat pada isim mashdar yang mu’tal ‘ain pada wazan ( ).
Asal I’lal I’lal I’lal
Proses
(Pemindahan) (Penggantian) (Penghapusan)

9
- Menukar Huruf wawu Huruf ‘illat
harakat huruf diganti dengan dihapus karena
‘illat kepada ya’ karena bertemunya 2
Kaidah huruf shohih sukun dan sukun.
sebelumnya sebelumnya
yang mati harakat fathah
َّ‫أ َ ْق ِو ْم‬
Proses َّ‫أَقِ ْو ْم‬ َّ‫أَقِ ْي ْم‬ َّ‫أ َ ِق ْم‬
)‫(أ َ ْف ِع ْل‬

ُ ْ‫)ال َحذ‬
3. Penghapusan huruf ‘illat (َّ‫ف‬
Dalam hukum i’lal, penghapusan huruf ‘illat terjadi pada 3 keadaan/tempat yaitu :

a. Jika ada huruf ‘illat yang berupa mad, bertemu dengan harakat sukun. Maka huruf
‘illat itu dihapus untuk mencegah bertemunya dua sukun.
َُّ ‫( قُ ْم‬aku telah berdiri) dan
Contoh : َّ‫ت‬ َّ‫(ََّّقُ ْم‬berdirilah!)
Proses Asal 1 2 3

Wawu diganti alif Huruf ‘illat dihapus Didhommahkan


apabila berharakat untuk mencegah untuk menunjukan
Kaidah -
dan jatuh setelah bertemunya 2 wawu yang
fathah sukun terbuang

َُ‫َقَ ََو ْمت‬


Hasil َُ‫َقَا ْمت‬ َُ‫قَ ْمت‬ َُ‫قُ ْمت‬
(َُ‫)فَ َع ْلت‬

Proses Asal 1 2 3

Menukar harakat
huruf I’llat Wawu dihapus Alif ziyadah
kepada huruf untuk mencegah dihapus karena
Kaidah - shahih bertemunya 2 huruf pertama
sebelumnya yang sukun sudah berharakat
mati

َ‫أ َُْق َُو ْم‬


Hasil َ‫أ َُقُ َْو ْم‬ َ‫أُقُ ْم‬ َ‫قُ ْم‬
(َ‫)أ ُ ْفعُ ْل‬

Namun ada pengecualian yaitu huruf ‘illat tidak dihapus jika harakat sukun
setelahnya di-idghamkan dengan huruf setelahnya. Dikarenakan idhgam itu
membuat dua huruf seperti satu huruf yang berharakat seperti َ‫َيُشَاد‬-ََّ‫شَاد‬

10
َُّ ‫ يَ ْف ِع‬. Maka dihilangkan
b. Jika ada fi’il ma’lum yang berupa mitsal wawi berwazan ‫ل‬
fa’ fi’il nya pada fi’il mudore dan amr.

Asal I’lal Arti


َّ‫ا ِْو ِع ْد‬ َّ‫ِع ْد‬ Berjanjilah!
(amr)
ُ‫يَ ْو ِع َّد‬ ُ‫يَ ِع َّد‬ Dia (lk) berjanji
(mudhori’)

Juga dihilangkan pada isim mashdar yang dibentuk dengan ta’ marbuthoh
seperti َّ‫ ِعدَة‬. Apabila ta’ marbuthoh dihilangkan, maka huruf ‘illat dimunculkan
kembali menjadi َّ َّ‫ َوعْد‬. Dan tidak boleh memunculkan kedua huruf tersebut
bersamaanَّseperti َّ‫عدَة‬
ْ ‫ َو‬.
Tidak dihilangkan huruf ‘illat nya jika fi’il itu mabniy majhul seperti ُ ‫ع َّد‬
َ ‫ي ُْو‬ .
َُّ ‫ يَ ْف َع‬seperti ‫ل‬
Dan pada mitsal wawu yang berwazan ‫ل‬ َُّ ‫ج‬
ََّ ‫يَ ْو‬ .َّ(Al-Ghulayaini,2005 :
259)

c. Jika berupa fi’il mu’tal akhir (‘ain fi’il nya berupa huruf ‘illat) :

2) Maka dihilangkan huruf illat nya pada fi’il amr untuk mufrad muzakkar (laki-
laki tunggal)

Asal I’lal Arti2


َّ‫ع ْو‬َُّ ‫ا ُ ْد‬
َُّ‫ا ُ َّْدع‬ Panggillah!
)‫(ا ُ ْفعُ ْل‬
ََّّ‫ي‬ َّْ ‫ا ِْر َِّم‬
َّ‫ا َِّْر ِم‬ Lemparlah!
)‫(اِ ْف ِع ْل‬
3) Dihilangkan juga pada fi’il mudori’ majzum yang tidak bersambung dengan kata
setelahnya. Penghapusan itu untuk menunjukan mabniy sukun pada fi’il amr dan
i’rab sukun pada fi’il mudore. Contoh:

Asal I’lal Arti


َُّ ‫َي ْد‬
َّ‫ع ْو‬ ُ ‫لَ َّْمَّيَ ْد‬
َّ‫ع‬ Dia (lk) tidak memanggil
َّْ ‫يَ ْر َِّم‬
‫ي‬ ‫لَ ْمَّيَ ْر َِّم‬ Dia (lk) tidak melempar

11
4. I’LAL HURUF HAMZAH

Hamzah sebenarnya adalah huruf shohih, akan tetapi karena dia menyerupai huruf
‘illat maka berlaku lah hukum i’lal padanya.
Berikut kaidah-kaidah yang berlaku :
a. Apabila 2 hamzah bertemu, maka :
1) Jika hamzah yang pertama berharakat dan yang kedua sukun/mati. Maka wajib
mengganti hamzah yang kedua dengan huruf mad yang sejenis/sesuai dengan
harakat hamzah yang pertama. Contoh :

Asal Wazan I’lal


ََّ ‫أ ََّأْ ََّم‬
‫ن‬ َّ‫َّأ َ ْفعَ َل‬ َّ‫آ َم َن‬
َّ‫ِإَّإْ َمان‬ ََّ ‫َِّإ ْف َع‬
‫ال‬ ‫ِإَّْيماَنا‬
َُّ ‫أ َُّأْ ِم‬
‫ن‬ َُّ ‫َّأ ُ ْف ِع‬
‫ل‬ َُّ ‫أ ُ َّْو ِم‬
‫ن‬

2) Jika kedua hamzah tersebut berharakat fathah, maka hamzah yang kedua diganti
dengan wawu. Seringkali ini terjadi saat pembentukan ism tafdhil.
Contohََّّ : َّ‫ أ َ َون‬bentuk isim tafdhil dari َّ‫َّ َيئِن‬-ََّّ‫أَن‬
3) Jika hamzah yang pertama berupa huruf mudhoro’ah (dhomir ana), maka
hukumnya boleh untuk mengganti hamzah yang kedua dengan wawu jika
berharakat dhammah dan diganti dengan ya’ jika berharakat fathah. Contoh :
Asal Wazan I’lal
‫َّأ َ َُّؤ َّم‬ َّ‫َّأ َ ْف َّعُ ُل‬ ‫َّأ َ َُّو َّم‬
َّ‫َّأ َئَِّن‬ َُّ ‫َّأ َ ْف ِع‬
‫ل‬ َّ‫َّأ ََِّين‬
Namun, jika bukan berupa hamzah mudhoro’ah maka hukumnya menjadi
wajib sepertiَّ َّ‫ أ َ ُوب‬asalnya َّ‫ أَؤُب‬jamak dari َّ‫أَب‬

c. Apabila ada hamzah yang disukun dan terletak setelah huruf shahih (selain hamzah),
maka hukumnya boleh untuk mengganti hamzah dengan huruf yang sesuai dengan
harakatnya. Atau boleh juga membiarkannya. Contoh :
Asal I’lal Arti

‫ِبئْ َّر‬ َّ ‫ِبي‬


‫ْر‬ Sumur

َّ‫َرأْس‬ َّ‫َراس‬ Kepala

12
d. Apabila hamzah berada diakhir kata dan terletak setelah wawu’ atau ya’ tambahan.
Maka boleh diganti jika sebelumnya wawu dan diganti ya’ jika sebelumnya ya’. Dan
kemudian di-idgham-kan. Contoh :
Asli I’lal Idgham Arti

َّ‫ض ْوء‬
ُ ‫ُو‬ َّ‫ض ْوو‬
ُ ‫ُو‬ َّ‫ضو‬
ُ ‫ُو‬ Wudhu’

َّ‫َط ْيئَة‬
ِ ‫خ‬ َّ‫َط ْي َية‬
ِ ‫خ‬ َّ‫َطية‬
ِ ‫خ‬ Kesalahan

Dan apabila wawu’ dan ya’ tersebut huruf asli, lebih utama untuk membiarkannya
saja.

e. Apabila hamzah terletak ditengah kata dan harakat sebelumnya kasrah atau
dhammah. Maka boleh membiarkannya atau menggantinya dengan huruf mad yang
sesuai dengan harakat sebelumnya. Contoh :

Asli I’lal Arti

َّ‫ِذئَاب‬ َّ‫ِذيَاب‬ Serigala-serigala

Demikian pula jika hamzah terletak diakhir kata dan huruf sebelumnya berharakat hidup.

Contoh : َ ‫رَّأ‬
ََّ َ‫ ق‬menjadi ‫قَ َرا‬
َ َ‫ أ‬dan ‫ل‬
f. Wajib menghapus hamzah pada semua bentuk fi’il amr dari kataَََّّ‫خ َّذ‬ ََّ ‫ أَ َك‬seperti
َّ‫ُخ ْذ‬ dan َّ‫َّ ُك ْل‬ . Kemudian pada fi’il mudhori’ dan amr dari fi’il ‫ َرأَى‬seperti ََّّ ‫يَ َرى‬
ََّ ََّّ. Dan pada semua tashrif dari kata ‫ َرأَى‬yang berwazan ‫ل‬
dan َّ‫ر‬ ََّ َ‫ أ َ ْفع‬seperti ‫ي‬
َّْ ‫ي ُِر‬.
g. ََّ ‫ َّأ َ َم‬seperti‫ َّ ُم َّْر‬dan
Kebanyakan hamzah dihapus pada fi’il amr dari kata‫ر‬ َّ‫ َّ ُم ُر ْو‬.Dan
jarang sekali dibuang pada fi’il amr dari kata ‫ أَتَى‬.
h. Hamzah wajib dibuang/dihapus pada bentuk fi’il mudhori’ ,isim fa’il, isim maf’ul,
mashdar mim, dan isim zaman makan dari wazan ‫ل‬ ََّ َ‫ أَ ْفع‬.
Asal Wazan I’lal Arti

َّ‫ي ُْو َء ْك ِر ُم‬ َّ‫يُ ْف ِع ُل‬ َّ‫يُ ْك ِر ُم‬ Dia memuliakan

َّ‫ُم ْو َء ْك ِرم‬ َّ‫ُم ْك ِرم‬ َّ‫ُم ْك ِرم‬ Yang memuliakan

َّ‫ُم ْو َء ْك َرم‬ َّ‫ُم ْك َرم‬ َّ‫ُم ْك َرم‬ Yang dimuliakan

13
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

I’lal secara bahasa bisa diartikan menyelamatkan. Adapun secara istilah I’lal adalah
menghapus, mengganti, atau men-sukun-kan ( memberi harakat sukun ) huruf ‘illat.
Sedangkan I’lal menurut prosesnya dibagi menjadi 3 yaitu penghapusan,
penggantian, dan taskin. Ditambah dengan i’lal yang khusus pada huruf hamzah.

14
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghulayaini, Mushthafa. 2009. Jami’ud Durus Al-‘Arabiyyah. Kairo : Daar Ibnu Al-
Jauzy.

Nadzir, Mundzir. Tanpa Tahun. Qowaid Al-I’lal Fi As-Sharfi. Surabaya : Maktabah Al-
Hikmah.

Ni’mah, Fuad. 1998. Mulakhos Qawaidul Lughah Al-‘Arabiyyah. Beirut : Tsaqafah Al-
Islamiyyah.

www.khudzilkitab.com, (2019, 07 Juni). Belajar Kaidah I’lal Sharaf. Diakses pada 23 November
2019, dari https://www.khudzilkitab.com/2019/06/belajar-kaidah-ilal-sharaf.html?m=1

Ma’luf, Louis. 2008. Al-Munjid Fi Lughoh Wal A’lam . Beirut : Daarul Masyriq.

15