Anda di halaman 1dari 7

“Materi Wisata Rohani”

14 Perhentian Dalam Jalan Salib

1. Yesus di hukum mati

Para bangsa Romawi menentang ajaran Kristus, dan para ahli-ahli taurat semakin tersudut dengan pandangan dan
pemikiran Yesus yang diberikan oleh Bapa. Manusia paling suka menghakimi sesamanya, karena menganggap diri
paling benar. Menolak pandangan dan pemikiran orang lain adalah sebuah sifat manusia yang egois. Dari
pelajaran Jalan salib perhentian pertama (1), Umat Kristus diharapkan dapat menerima pandangan dan orang lain
sebagai masukan yang berharga dalam diri kita.

2. Yesus memanggul salib

Salib yang berat akhirnya dipikul oleh Yesus sebagai tanda kecintaanya terhadap umat manusia. Hal ini di lakukan
bukan karena kesalahan Nya, melainkan dengan jalan ini Yesus mengorbankan diri untuk memikul dosa manusia
yang larut akan kenikmatan duniawi. Dengan tegar Yesus menerima beban salib yang berat yang diberikan pada
pundak Nya, tanpa mengeluh dan menghindar Ia menerima. Dengan memperingati perhentian yang kedua (2) ini
umat Kristus diharapkan dapat menerima, mengakui kesalahan yang diperbuat dan jangan menutupi atau
menghidar dari kesalahan yang telah diperbuat. Marilah dengan terbuka kita mengakui kesalahan dan meminta
maaf atas semua yang terjadi. Dengan ini kebijaksanaan dan kekuatan pasti dapat tercurah kepada kita
dikemudian hari.
3. Yesus jatuh untuk pertama kalinya

Letih terasa menyelimuti tubuh Yesus yang memikul salib, dengan tenaga yang tersisa Ia mencoba bangkit dari
jatuh. Para serdadu Romawi tiada hentinya meluncurkan cambukan dan hinaan kepada Yesus. Diiringin dara yang
bercucuran dari bilur-bilur luka dan tekanan mental yang teramat menyakitkan akhirnya Yesus bangkit kembali.
Mengenang perhentian kedua (3), kita sebagai umat Kristus diharpkan jangan berpatah semangat dalam meraih
cita-cita. Rintangan yang ada hendaknya dapat kita jadikan penyemangat dalam meraih keberhasilan, karena
orang yang menyerah pastilah tidak akan dapat mencapai cita-cita dan meninggalkan penyesalan. Jadilah individu
yang kuat seperti Yesus dalam menjalankan cita-cita Bapa di surga.

4. Yesus berjumpa dengan Ibu-Nya

Disaat memikul salib suci Yesus ditinggalkan oleh murid-murid Nya yang takut akan tentara Romawi, mereka
menjauh dan menghindar dari agar tidak dilibatkan dengan apa yang Yesus perbuat. Namun Maria (Ibu Yesus)
mengikuti Nya diantara kerumunan orang yang ingin menyaksikan perjalanan Yesus sampai ke Golgota (bukit
tengkorak) tempat para penjahat disalibkan. Setelah berhasil melewati kerumunan orang banyak akhirnya Maria
dapat berjumpa langsung dihadapan Yesus. Sabda Yesus “Siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga,
dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku!”( Mat12:50). Sungguh menyakitkan
terasa ketika kita menderita dan ditinggalkan orang-orang yang kita sayangi. Dengan perhentian keempat (4), kita
sebagai umat Kristus diharapkan agar selalu tegar terhadap apa yang terjadi. Teguhkanlah hati untuk membantu
sesama yang menderita, seperti Yesus selalu mengasihi orang kecil dan lemah.

5. Yesus ditolong oleh Simon dari Kirene


Melihat Yesus semakin lemah maka tentara Romawi memanggil Simon dari Kirene yang baru pulang dari ladang
untuk membantu memikul salib. Ia mengikuti Yesus sambil memikul salib di bahu Nya. Dalam kehidupan sebagai
umat Kristiani Yesus mengharapkan kita sebagai pengikutnya agar dapat saling membantu. Seperti sabda Nya
Jadi, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Maka kamu memenuhi hukum Kristus!” (Gal 6:2).

6. Wajah Yesus diusap oleh Veronika

Badan letih bercampur darah yang semakin mengering serta debu dan keringat yang bercucuran semakin
menyiksa. Melihat keadaan Yesus yang semakin letih memikul salib yang berat, Veronika memberanikan diri
mengusap wajah Yesus dengan kain putih bersih. Setelah mengusap wajah Yesus, Veronika mendapati kain putih
bersih itu bergambar wajah Yesus. Keajaiban ini adalah suatu hadiah teristimewah Yesus kepada Veronika.
Melalui perhentian keenam ini kita diingatkan agar selalu memberikan dorongan atau semangat kepada sesama
dalam menjalani kehidupan, terutama bagi orang-orang yang menderita. Jadilah teman yang setia dalam suka dan
duka terhadap sesama manusia.
7. Yesus jatuh untuk kedua kalinya

Beban salib akhirnya menjatuhkan Yesus ke tanah untuk kedua kalinya dan berat beban salib itu menimpah tubuh
Yesus yang letih. Namun Yesus teguh kembali berdiri dan meneruskan perjalanan dan tetap memikul salib Nya.
Dengan ini maka genaplah nubuat Alkitab, “Dia dianiaya, Dia membiarkan diri ditindas, dan tidak membuka
mulut-Nya, seperti anakdomba yang dibawa ke tempat pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan
orang-orang yang menggunting bulunya, Ia tidak membuka mulut-Nya” (Yes 53:7). Melalui perhentian ketujuh
hendaknya kita sebagai pengikut Kristus agar tetap selalu bersabar dengan keadaan dan jika ada yang berbuat
manusia yang menghina pendirian Mu, jangan membalas kejahatan mereka dengan kejahatan yang lain.
Tunjukanlah jati diri sebagai umat Kristus yang teguh, bangkitlah dan tunjukan kepada mereka kebaikan karena
Yesus akan selalu menyertai langkah-langkah umat Nya.

8.Yesus menghibur perempuan-perempuan yang menangisi-Nya

Sepanjang perjalanan Yesus memikul salib menuju Golgota (bukit tengkorak), banyak para wanita yang menganisi
keadaan Nya. Mereka terus menangis dan mengikuti Yesus tanpa henti. Maka Yesus memalingkan wajah
kehadapan para wanita-wanita tersebut dan berkata “Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah Engkau menangisi
Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!” (Luk 23:28). Melalui perhentian kedelapan Yesus
mengharapkan kita sebagai umat kristus agar tetap memberi teladan dan menghibur orang lain meski diri sendiri
sedang menderita. Sesibuk-sibuknya Kita dalam menghadapi hidup ini hendaknya kita tetap memperhatikan
orang lain terutama mereka yang ada di sekeliling kita (keluarga).
9. Yesus jatuh untuk ketiga kalinya

Sisa-sisa tenaga Yesus semakin terkuras oleh panasnya hari, dengan tertatih Ia berjalan berlahan melewati jalan
ke Golgota (bukit tengkorak) yang semakin menanjak. Namun Yesus sudah tidak kuat lagi, Ia jatuh untuk ketiga
kalinya di tanah kering dan bebatuan keras membuat darah kembali mengalir keluar bercampur keringat dan
tanah. Hasrat Yesus tidak surut atas peristiwa tersebut, Ia bangun dari jatuh Nya dan kembali berjalan. Dengan
perhentian kesembilan, umat Kristiani diharapkan agar tetap berusaha hidup dengan kebaikan. Bila kita kembali
jatuh kedalam dosa, hendaknya segara bertobat kembali juga dan melanjutkan cinta kasih Yesus.

10. Pakaian Yesus ditanggalkan

Ternyata orang-orang sudah ramai berkumpul di bukit Golgota (tengkorak), mereka berkumpul untuk untuk
melihat kematian Yesus. Dengan lesu Yesus berdiri diantara mereka sebagai tontonan, dan datanglah para pajurit
Romawi untuk menganggalkan pakaianNya. Dengan paksa mereka menarik jubah yang menutupi tubuh Yesus.
Setelah melepaskan jubah Yesus para tentara Romawi berniat membagi-bagikannya, para prajurit hendak
mengoyak jubah tersebut menjadi empat bagian agar tiap-tiap prajurit mendapatkan bagian. Namun mereka
merasa sayang jika harus merobek-robek jubah tersebut menjadi empat bagian, maka mereka mengadakan
undian diantara para tentara untuk dapat memiliki jubah tersebut secarah utuh. Dengan pristiwa ini maka
genaplah Nubuat Kitab Suci, “Mereka membagi-bagikan pakaian-Ku diantara mereka dan mereka membuang undi
atas jubah-Ku” (Yoh 19:23-24). Dengan perhentian kesepuluh, kita umat Kristiani diingatkan oleh Yesus “Ketika
Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku dalam penjara, kamu
mengunjungi Aku. Sebab sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang yang paling hina
ini kamu melakukannya untuk Aku” (Mat 25:36). Pertanya tersebut adalah untuk diri kita sebagai umat Kristen,
“apakah kita sudah mengasihi sesama?” . Karena bila kita mengasihi sesama maka kita juga mengasihi Dia.
11. Yesus disalibkan

Saatnya sudah tiba buat penggenapan Kitab Suci melalui Yesus. Di Golgota (bukit tengkorak) para serdadu
menawarkan anggur bercampur mur untuk diminum Nya. Namun Yesus memilih menolak tawaran para tentara
Romawi dan tetap dalam keadaan dahaga daripada harus meminum anggur tersebut. Akhirnya Yesus
dibentangkan pada kayu salib yang telah dipikulNya sendiri. Satu demi satu paku menancap ke kedua tangan dan
kaki Nya sampai melekat pada kayu salib. Yesus berserah kepada Bapa di surga dan tanpa menyahkan mereka
yang telah menyalibkan diri Nya. Melalui perhentian yang kesebelas, kita diingatkan Yesus bahwa kenikmatan
duniawi bukanlah kemikmatan surgawi. Jadi jalanilah hidup dengan rasa sukur, dan apapun yang terjadi
hendaknya jangan menyalahkan orang lain. Melainkan tetaplah merubah kehidupan kearah yang lebih baik
dengan perbuatan nyata.

12. Yesus wafat di kayu Salib

Hari itu cerah menyelimuti Golgota (bukit tengkorak), rasa letih tanpak sudah tiada tertahan dari raut wajah
Yesus. Ketika hari kira-kira pukul duabelas (12) siang, matahari tanpak tidak bersinar lagi di bukit Golgota dan
kegelapan terasa menyelimuti daerah itu sampai pukul tiga (3). Maka Yesus menghadapkan wajahNya ke langit
dan berseru dengan suara keras dan nyaring ” Ya Bapa , ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”. Sesudah itu
Yesus menundukan kepala dan menyerahkan Nyawa Nya. Melihat peristiwa tersebut, kepala pasukan dan para
prajurit yang mengawal Yesus menjadi sangat ketakutan, dan mereka berkata “Sungguh orang ini adalah anak
Allah”. Melalui wafat Yesus pada perhentian ke duabelas, semakin meneguhkan iman kepercayaan kita dan
menyerahkan secarah utuh kehidupan kita kedalam hadirat Allah. Hal ini menyadarkan siapa kita sebenarnya dan
untuk apa kita hidup? Seperti ada tertulis pada Kitab suci “Jika kita telah mati bersama Kristus, kita percaya bahwa
kita akan hidup juga bersama Dia. Maka hendaklah kita semua sadar; kita telah mati bagi dosa, tetapi hidup bagi
Allah dalam Kristus Yesus” (Rom 6:8).
13. Yesus diturunkan dari Salib

Disekitar salib Yesus tanpaklah Maria (ibu Nya), saudara Ibu Nya (Maria istri Kleopas), dan Maria Magdalena,
mereka berdiri meratapi wafat Yesus. Seketika itu juga tanpak seorang prajurit Romawi datang untuk memastikan
bahwa Yesus benar-benar wafat, Ia mengacuhkan tombak kearah lambung Yesus dan segera keluar darah serta
air (Yoh 19:25). Wafatnya Yesus meninggalkan kesan tersendiri pada kita umat Kristiani, begitu juga dengan Yusuf
dari Arimatea sangat mengagumi kharisma dan ajaran Nya. Malam hari Yusuf memberanikan diri menghadap
Pilatus untuk meminta jenazah Yesus agar dimakamkan. Pilatus yang masih merasa heran setelah mendengar
keterangan kepala pasukan yang mengawal Yesus, maka Ia segera mengabulkan permohonan Yusuf. Maria (Ibu
Yesus) menempatkan jenazah putera Nya di pangkuan. Melalui perhentian ke tigabelas umat Kristiani diarahkan
menjadi seperti Yusuf dari Arimatea dan Maria. Kedua sosok ini mencerminkan kepedulianNya terhadap orang
yang menderita disekitar mereka dan mengasihi sesama.

14. Yesus dimakamkan

Sebelum Yesus dimakamkan para murid-muridNya mengkafani dengan kain lenan dan menaburi rempah-rempah,
hal ini merupakan tradisi kaum Yahudi dalam prosesi penguburan. Kubur Yesus tidak jauh dari tempat Nya
disalibkan, disana terdapat kuburan baru yang belum pernah dimakamkan seseorang. Ditempat inilah para murid-
murid Nya membaringkan raga Yesus. Dengan perhentian keempatbelas, menyadarkan umat Kristen mengenai
kematian dan maknanya. Ada tertulis pada Kitab Suci “Kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis
dalam kematian-Nya. Oleh pembaptisan kita telah dikuburkan bersama-sama Dia, supaya, sama seperti Kristus
dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup secara baru.(Rom 6:3-4)