Anda di halaman 1dari 10

HIGEIA 2 (4) (2018)

HIGEIA JOURNAL OF PUBLIC HEALTH


RESEARCH AND DEVELOPMENT
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/higeia

Youth Centre Model Peningkatan Pengetahuan dan Sikap Remaja di Daerah Tinggi
Kehamilan Berisiko

Muhammad Azinar 1, Arulita Ika Fibriana1

1
Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Info Artikel Abstrak


________________ ___________________________________________________________________
Sejarah Artikel: Jumlah kasus kematian ibu di kabupaten Kendal pada tahun 2015 sebanyak 23 kasus, tahun 2016
Diterima 18 September 19 kasus, dan tahun 2017 naik menjadi 25 kasus. Desa Singorojo adalah desa yang dalam 3 tahun
2018 terakhir memiliki trend kenaikan kasus kehamilan risiko tinggi yang signifikan. Penelitian ini
Disetujui 17 Oktober bertujuan untuk mengetahui efektivitas Youth Centre Model dalam meningkatkan pengetahuan sikap
2018 remaja di daerah kehamilan berisiko tinggi. Penelitian ini dirancang dengan desain pre-eksperimental
Dipublikasikan 30 research dengan one group pretest-posttest design yang dianalisis secara kuantitatif. Populasi penelitian
Oktober 2018 adalah remaja di desa Singorojo kabupaten Kendal. Sampel ditentukan secara purposive sampling.
________________ Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji beda dan uji Wilcoxon. Hasil penelitian
menujukkan edukasi sebaya yang dilakukan oleh Kader Youth Centre yang telah diberi pelatihan
Keywords:
telah mampu meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja khususnya terkait
Youth Centre, Knowledge,
seksualitas dan kehamilan berisiko tinggi (p value 0,001). Selain itu juga dapat meningkatkan
Atitude, Risky Pregnancy
kesadaran remaja akan pentingnya pendewasaan usia perkawinan melalui perubahan sikap remaja
____________________
(p value 0,002). Simpulan menunjukkan Youth Centre dapat meningkatkan pengetahuan dan
DOI:
kesadaran pada siswa remaja.
https://doi.org/10.15294
/higeia.v2i4.26801
____________________
Abstract
___________________________________________________________________
The number of maternal mortality cases in Kendal district in 2015 reached 23 cases, in 2016 were 19 cases,
and in 2017 were 25 cases. Singorojo village was a village that in the last 3 years had a significant upward
trend in cases. This study aimed to determine the effectiveness of the Youth Center Model in increasing the
knowledge of the attitudes of adolescents in high risk pregnancy areas. This study was designed with a pre-
experimental research design with one pretest-posttest design group analyzed quantitatively. The study
population was adolescents in Singorojo village, Kendal district. Sampling technique used purposive sampling.
Data analysis was used a different test and Wilcoxon test. The results of a complete peer education study
conducted by Youth Center Cadres who had been given training had been able to improve adolescent health
knowledge with high sexuality and pregnancy (p value 0.001). In addition, it could also increase teenagers'
awareness of the importance of marriage awareness for adolescent girls (p value 0.002). Conclusion showed that
Youth Center can increase knowledge and awareness of adolescent students.

© 2018 Universitas Negeri Semarang


Alamat korespondensi:
p ISSN 1475-362846
Gedung F5 Lantai 2 FIK Unnes
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229 e ISSN 1475-222656
E-mail: azinar.ikm@mail.unnes.ac.id

663
Muhammad, A., Arulita, I. F. / Youth Centre Model / HIGEIA 2 (4) (2018)

PENDAHULUAN kehamilan berisiko tinggi. Data Puskesmas


Singorojo I menunjukkan pada tahun 2015
Kematian ibu baik pada masa kehamilan persentase kehamilan risiko tinggi mencapai
dan persalinan masih menjadi masalah besar di 37,5%. Pada tahun 2016 persentase tersebut
Indonesia. Target MDGs dalam menurunkan naik secara signifikan yaitu menjadi 58,9%.
angka kematian ibu (AKI) menjadi 102/100.000 Kasus tersebut belum bisa ditekan sampai saat
kelahiran hidup sampai berakhirnya MDGs ini. Persentase kehamilan berisiko tinggi masih
tahun 2015 belum dapat tercapai. AKI di Jawa tinggi yaitu 58,17%.
Tengah juga masih besar yaitu 111,16 per Desa Singorojo adalah desa yang dalam 3
100.000 kelahiran hidup (Dinkes Jateng, 2017). tahun terakhir memiliki trend kenaikan kasus
Demikian juga di kabupaten Kendal, jumlah kehamilan risiko tinggi yang signifikan. Pada
kasus kematian ibu masih cukup tinggi. Pada tahun 2015 yaitu 36,25% kehamilan yang terjadi
tahun 2015 adalah terjadi 23 kasus, tahun 2016 adalah kehamilan berisiko tinggi, naik menjadi
terjadi 19 kasus, dan tahun 2017 naik menjadi 39,24% pada tahun 2016 dan naik drastis pada
25 kasus (Dinkes Kendal, 2018). tahun 2017 yaitu menjadi 55,42% (Puskesmas
Penyebab utama kasus kematian ibu Singorojo I, 2018). Fakta-fakta ini menunjukkan
adalah perdarahan, hipertensi dan anemia bahwa kehamilan yang terjadi di wilayah
(Hb<10g/dl). Komplikasi kehamilan, tersebut sebagian besar adalah kehamilan
komplikasi persalinan, dan riwayat penyakit ibu berisiko tinggi. Kondisi ini akan berdampak
hamil menjadi determinan utama kasus serius termasuk terjadinya komplikasi
kematian ibu (Aeni, 2013; Kaddour et al, 2008). persalinan bahkan dapat berdampak fatal pada
Selain itu, riwayat penyakit ibu juga dapat kemungkinan terjadinya kasus kematian ibu.
meningkatkan risiko kematian ibu (Bazaar, dan Studi awal yang dilakukan oleh Tim
Azhari, 2012). Pengabdi awal Februari 2018, mendapatkan
Kondisi “3 terlambat”, yaitu terlambat fakta bahwa kehamilan risiko tinggi di wilayah
dalam pengambilan keputusan, terlambat tersebut banyak disebabkan oleh faktor usia ibu
mencapai tempat rujukan, serta terlambat dalam hamil. Kehamilan dan persalinan usia muda
mendapatkan pertolongan yang tepat di fasilitas masih banyak terjadi di wilayah tersebut. Data
kesehatan, menjadi faktor risiko kematian ibu. Bidan Desa setempat menunjukkan 67%
Selain itu, kondisi ibu hamil dalam kategori “4 kehamilan yang terjadi di wilayah tersebut
terlalu” yaitu terlalu tua, terlalu muda saat adalah kehamilan pada usia muda (kurang dari
melahirkan, terlalu sering melahirkan dan 20 tahun) dan sebagian besar adalah kehamilan
terlalu rapat jarak kelahiran satu dengan dan persalinan yang tidak direncanakan secara
berikutnya juga menjadi faktor risiko kematian matang. Kondisi ini selain menyebabkan jumlah
ibu (Dinkes Kendal, 2017). kelahiran yang dialami oleh ibu usia muda akan
Letak geografis wilayah Singorojo dan lebih banyak atau lebih sering, juga akan
kondisi sosiokultural pedesaan, turut menjadi menjadi faktor risiko gangguan kehamilan dan
faktor risiko kematian ibu. Jarak menuju pusat komplikasi persalinan.
layanan rujukan persalinan yang jauh menjadi Faktor-faktor internal meliputi intensitas
penyebab semakin tingginya risiko kematian ibu komitmen kedua pasangan untuk menjalin
khususnya pada masa persalinan. Masyarakat hubungan jangka panjang dalam perkawinan,
harus menempuh jarak lebih dari 33 kilometer sikap dan persepsi terhadap janin yang
untuk dapat mengakses layanan rujukan dikandung, dan persepsi subjektif tentang
komplikasi kehamilan maupun persalinan di kesiapan psikologis dan ekonomi untuk
rumah sakit (Dinkes Kendal, 2017). memasuki kehidupan perkawinan. Faktor-faktor
Wilayah Puskesmas Singorojo I ekstemal meliputi sikap dan penerimaan
merupakan wilayah yang dalam tiga tahun orangtua kedua belah pihak, penilaian socially
terakhir mengalami peningkatan jumlah kasus constructed perception, nilai-nilai normatif dan etis

664
Muhammad, A., Arulita, I. F. / Youth Centre Model / HIGEIA 2 (4) (2018)

dari lembaga keagamaan, dan sakral. Akan tetapi, peristiwa ini kerap terjadi
kemungkinankemungkinan perubahan hidup terlalu awal dalam siklus kehidupan seseorang,
pada masadepanyangmengikutipelaksanaan tanpa dikehendaki, terlalu sering, atau terjadi
suatu keputusanyang akan dipilih. Bagi remaja dalam keadaan yang tidak tepat.
yang mengalaminya, kehamilan pranikah Kehamilanyang bukan merupakan hasil
memunculkan dilema kemanusiaan yang paling keputusan dari pilihan bebas akan menjadi
dasar, yang menyangkut pertanyaan tentang hak kemelut individu dan drama keluarga yang
hidup calon mahluk manusia dilawankan pahit ketika dialami oleh remaja yang belum
dengan pertimbanganpertimbangan ekstemal menikah. Pasangan remaja dan keluarganya
yang sangat kompleks. dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sangat
Dari hasil wawancara mendalam dilematis dalam mencari jalan keluar. Mereka
terdahulu diketahui bahwa remaja yang baru dihadapkan pada proses
mengetahui dirinya hamil memberikan reaksi pengambilan keputusan yang rumit, yang
awal yang hampir serupa rasa relatif aman yang melibatkan dua jenis pertimbangan, yakni
selama ini dirasakannya karena orang lain dan pertimbangan faktor-faktor internal dan
masyarakat tidak mengetahui bahwa ia telah pertimbanganfaktor-faktor ekstemal.
melakukan hubungan seks pranikah, tiba-tiba Remaja perempuan harus disiapkan
bukan lagi merupakan alasan. Kengerian akan secara matang untuk menghadapi proses
sanksi sosial berupa pengucilan dan pelecehan reproduksi yang aman dan sehat. Perkawinan,
sosial yang amat berat tiba-tiba saja hadir kehamilan dan persalinan wajib dipersiapkan
kongkret dihadapannya. Berbagai kecemasan dan direncanakan secara matang. Oleh karena
tentang konsekuensi lanjutan dari itu, remaja khususnya remaja perempuan sangat
kehamilanpranikah menjadi nightmare baginya: perlu diintervensi secara komprehensif
"Bagaimana perasaan dan sikap orang tuaku khususnya dalam mengenali kesehatan
bila mereka tahu? reproduksi, permasalahannya, faktor risiko dan
Bagaimana kalau pacarku tahu,apakah dampak-dampak yang mungkin dihadapi
iaakan meninggalkanku?Apa pendapat selama masa reproduksinya serta bagaimana
masyarakat nanti? Bagaimana dengan sekolah upaya penanggulangan dan pencegahannya.
dan kuliahku? Apa yang akan dikatakan teman- Pemberdayaan dan pembinaan remaja
teman nanti? Bagaimanastatus anakku kelak? terutama untuk menciptakan remaja sehat
Seperti apa rasa sakitnya melahirkan? reproduksi belum banyak dilakukan di daerah-
Bagaimana anakku akan kuurus sementara aku daerah pedesaan yang rawan kehamilan risiko
belum siap secara ekonomi? Apa yang harus tinggi. Salah satu inovasi yang dapat diterapkan
kulakukan. aborsi atau meneruskan kehamilan?" adalah dengan membentuk Youth Centre sebagai
Pengetahuan kesehatan reproduksi yang media edukasi dan promosi pentingnya
masih rendah dari remaja khususnya, menjadi kesehatan reproduksi pada remaja, dampak
salah satu penyebab utama terjadinya perkawinan usia muda serta upaya preventif
perkawinan usia dini. Akibatnya perkawinan terhadap kehamilan berisiko tinggi. Belum ada
tersebut banyak yang tidak direncanakan secara penelitian sebelumnya yang meneliti Youth
baik dan matang. SDKI (2007) menyebutkan Centre secara komprehensif, sehingga penelitian
pengetahuan remaja tentang kesehatan ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan
reproduksi remaja masih rendah dan median pengetahuan remaja sasaran antara sebelum dan
usia kawin pertama perempuan relatif masih sesudah diterapkannya Program Youth Centre.
rendah yaitu 19,8 tahun. Hal ini menjadi
permasalahan yang vital yang dihadapi remaja METODE
saat ini khususnya di daerah-daerah pedesaan.
Reproduksi adalah fungsi yang Penelitian ini dirancang dengan desain
dianggap dasariah, terhormat, dan bahkan pre-eksperimental research dengan one group pretest-

665
Muhammad, A., Arulita, I. F. / Youth Centre Model / HIGEIA 2 (4) (2018)

posttest design yang dianalisis secara kuantitatif. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa
Instrumen penelitian yaitu dengan memberikan tahap yaitu pretest, penyuluhan atau edukasi,
kuesioner pretest dan posttest untuk mengetahui postest. Materi penyuluhan berupa materi
perbedaan signifikan antara pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja khususnya
sebelum dan sesudah pelatihan. Penelitian ini materi seksualitas remaja dan dampak yang
dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan dapat ditimbulkan akibat perilaku negatif
pengetahuan kader sebaya pengelola Youth remaja. Media yang digunakan dalam
Centre dan pengetahuan remaja sasaran Youth penyuluhan ini yaitu berupa handout materi
Centre, keterampilan kader sebaya dalam untuk mempermudah pemahaman peserta
melakukan edukasi sebaya dan sikap remaja penyuluhan terhadap isi penyuluhan. Kuesioner
asaran Youth Centre di daerah tinggi kehamilan pretest dan posttest diisi langsung oleh peserta
berisiko sebelum dan sesudah edukasi dan penyuluhan.
program Youth Centre. Penelitian ini diawali dengan pretest untuk
Penelitian ini dilakukan di desa Singorojo mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan
kabupaten Kendal. Populasi penelitian adalah tentang kesehatan reproduksi, seksualitas dan
remaja di desa Singorojo kabupaten Kendal. kehamilan berisiko. Jumlah sample penelitian
Sampel ditentukan dengan cara purposive pretest dan posttest berjumlah 13 peserta dan akan
sampling. Pada penelitian ini, teknik didapatkan nilai dari pretest. Analisis data
pengambilan sampel tidak berdasarkan random, dilakukan dengan menggunakan uji beda dan
daerah, atau strata, melainkan berdasarkan atas uji Wilcoxon. Dimaksudkan untuk mengetahui
adanya pertimbangan atau kriteria yang perbedaan pengetahuan antara sebelum dan
berfokus pada tujuan atau masalah dalam sesudah pelatihan Kader Sebaya Pengelola
penelitian dalam sebuah populasi. Sample Youth Centre.
penelitian yang telah dipilih akan mengikuti Setelah diberikan pelatihan sebaya oleh
pretest dan posttest. Kader Youth Centre selama 3 kali tatap muka
Analisis data dilakukan dengan remaja peserta pelatihan diberikan posttest.
menggunakan uji beda dan uji Wilcoxon. Uji Sehingga akan di dapatkan skor perbedaan
beda adalah bentuk analisis variabel (data) untuk mengetahui perbedaan pengetahuan
untuk mengetahui perbedaan diantara dua antara sebelum dan sesudah pelatihan, Setelah
kelompok data (variabel) atau lebih. Kemudian, didapatkan skor, data kembali dianalisis secara
Uji Wilcoxon digunakan untuk menganalisis statistik dengan menggunakan uji Wilcoxon.
hasil-hasil pengamatan yang berpasangan dari Selanjutnya, setelah diberikan pelatihan
dua data apakah data tersebut berbeda atau Youth Centre Kesehatan Reproduksi, Kader
tidak. Wilcoxon signed Rank test ini digunakan Sebaya mulai mencoba melaksanakan edukasi
hanya untuk data bertipe interval atau ratio, kepada remaja sasaran melalui kegiatan Karang
namun datanya tidak mengikuti distribusi Taruna di desa Singorojo. Jumlah sample
normal. penelitian berjumlah 29 orang remaja yang
Teknik pengumpulan data dalam mengikuti edukasi. Data dianalisis secara
penelitian ini menggunakan kuesioner pretest statistik dengan menggunakan uji Wilcoxon.
dan posttest yang berkaitan dengan terkaitan
kesehatan reproduksi, seksualitas kehamilan HASIL DAN PEMBAHASAN
berisiko dan dampak yang dapat ditimbulkan
akibat perilaku negatif remaja. Sumber data Evaluasi untuk mengetahui tingkat
yang dikumpulkan bersifat primer. Data primer keberhasilan Program Youth Centre di daerah
dalam penelitian ini diperoleh dengan hasil tinggi kehamilan berisiko dilakukan dengan
pretest dan posttest kepada peserta atau sampel beberapa indikator yaitu: 1) pengetahuan kader
penelitian yaitu para remaja di desa Singorojo sebaya pengelola Youth Centre, 2) keterampilan
kabupaten Kendal. kader sebaya dalam melakukan edukasi sebaya,

666
Muhammad, A., Arulita, I. F. / Youth Centre Model / HIGEIA 2 (4) (2018)

Tabel 1. Perbedaan Hasil Pre Test dan Post Test yaitu dengan cara memberikan kasus yang
Kader Sebaya Pengelola Youth Centre dihadapi remaja dan Kader Sebaya yang dilatih
Skor Skor mencoba memberikan solusi atas kasus tersebut.
No. Nama Selisih
Pre-Test Post-Test Kader Sebaya mulai terampil dalam
1. Peserta 1 60.0 77.5 17.5 memberikan konseling sebaya kesehatan
2. Peserta 2 47.5 67.5 20.0 reproduksi remaja. Konseling yang dilakukan
3. Peserta 3 40.0 70.0 30.0 adalah seputar kesehatan reproduksi remaja dan
4. Peserta 4 40.0 82.5 42.5 dampak yang dapat ditimbulkan akibat perilaku
5. Peserta 5 52.5 80.0 27.5 negatif remaja. Diharapkannya dapat
6. Peserta 6 67.5 82.5 15.0 tersambungnya pengetahuan dari kader Youth
7. Peserta 7 57.5 87.5 30.0 Center kepada remaja dan selanjutnya remaja
8. Peserta 8 62.5 82.5 20.0 dapat menyebarluaskan kembali kepada sesama
9. Peserta 9 72.5 95.0 22.5 temannya. Sehingga edukasi dan konseling yang
10. Peserta 10 52.5 70.0 17.5 telah dilakukan dapat mencapai hasil yang
11. Peserta 11 52.5 80.0 27.5 maksimal dengan tersebarluasnya pengetahuan
12. Peserta 12 50.0 77.5 27.5 yang diberikan.
13. Peserta 13 65.0 80.0 15.0 Istilah gelanggang remaja merupakan
Rata-rata 55.38 79.42 terjemahan dar istilah Bahasa Inggris, Youth
P value 0.0001 Centre. Kata gelanggang mengandung
pengertian suatu arena atau tempat bertanding.
3) kegiatan Youth Centre, 4) Pengetahuan remaja Dengan demikian Gelanggang Remaja memiliki
sasaran Youth Centre, dan 5) sikap remaja pengertian tempat bertanding atau berkompetisi
sasaran Youth Centre. para remaja dalam berbagai macam kegiatan.
Berdasarkan evaluasi terhadap hasil pre- Sehubungan dengan itu maka Gelanggang
test dan post-test pengetahuan Kader Sebaya Remaja juga dapat dipahami sebagai suatu
Pengelola Youth terkait materi seksualitas arena atau tempat yang bersifat tetap bagi para
remaja diketahui mengalami peningkatan. Hal remaja untuk menyelenggarakan berbagai
ini ditunjukkan dengan perbedaan skor macam kegiatan secara teratur dan terarah
pengetahuan antara sebelum dan sesudah dengan penanggung jawab tertentu. Di dalam
pelatihan Kader Sebaya Pengelola Youth Centre. Youth Center mereka dapat berekreasi dan
Tabel 1 menunjukkan terdapat perbedaan berkreasi sesuai dengan aspirasi, hasrat, bakat
signifikan antara pengetahuan sebelum dan dan niatnya serta dapat menggunakan fasilitasi
sesudah pelatihan. Setelah pelatihan skor yang tersedia di tempat. Sehingga arena ini
pengetahuan meningkat signifikan. Rata-rata bermaksud memberikan fasilitas bagi
skor sebelum pelatihan adalah 55.38 dan penyaluran dan pengembangan aspirasi, hasrat
meningkat menjadi 79.42 setelah diberi dan minat yang kreatif dimana
pelatihan (p value 0,0001). penyelenggaraannya berlandaskan pada unsur-
Selain itu, berdasarkan hasil simulasi unsur pendidikan dan rekreasi.
setelah pelatihan Kader Sebaya Pengelola Youth Pasca pelatihan Kader Sebaya, kegiatan-
Centre, Kader yang dilatih telah mampu kegiatan Youth Centre Kesehatan Reproduksi
mempraktikkan edukasi kesehatan reproduksi mulai dilaksanakan oleh Kader Sebaya.
remaja khususnya materi seksualitas remaja Kegiatan yang sudah dilakukan antara lain
dengan menggunakan materi yang diberikan melakukan perkumpulan dan diskusi-diskusi
oleh fasilitator dengan sasaran teman peserta terkait kesehatan reproduksi remaja yang
pelatihan lainnya. disisipkan melalui kegiatan-kegiatan Karang
Berdasarkan hasil monitoring, Kader Taruna agar efektif dalam pelaksanaannya.
Youth Centre yang telah dilatih telah mampu Berdasarkan hasil monitoring, kegiatan ini telah
mempraktikkan edukasi dan konseling sebaya dilaksanakan di desa Singorojo.

667
Muhammad, A., Arulita, I. F. / Youth Centre Model / HIGEIA 2 (4) (2018)

Setelah diberikan pelatihan Youth Centre Hal ini telah sesuai dengan prinsip-prinsip
Kesehatan Reproduksi, Kader Sebaya mulai pengembangan Youth Centre sebagai wadah
mencoba melaksanakan edukasi kepada remaja layanan terhadap remaja, antara lain: 1) Remaja
sasaran melalui kegiatan Karang Taruna di desa berhak mendapatkan informasi dan pelayanan
Singorojo. Hasil edukasi sebaya tersebut telah kesehatan reproduksi yang lengkap dan tepat
dapat meningkatkan pengetahuan remaja sesuai dengan kebutuhan mereka; 2) Remaja
khususnya terkait kesehatan reproduksi remaja, berhak dilibatkan dalam pelaksanaan program,
seksualitas dan kehamilan berisiko tinggi. mulai dari perencanaan, pelaksanaan,
Tabel 2 menunjukkan, dari 29 orang monitoring, dan evaluasi; 3) Remaja perlu
remaja yang hadir dan mengikuti edukasi memiliki sikap dan perilaku yang sehat dan
kesehatan reproduksi remaja, sebagian besar bertanggung jawab berkenaan dengan kesehatan
atau 21 orang remaja (72,41%) masih memiliki reproduksinya.
pengetahuan yang kurang tentang kesehatan Youth Centre yang salah satu kegiatannya
reproduksi remaja, dampak kehamilan usia adalah memberikan edukasi sebaya telah
remaja serta kehamilan berisiko tinggi. Selain mampu meningkatkan pengetahuan kesehatan
itu, mereka juga tidak mengetahui faktor risiko reproduksi remaja sasaran di desa mitra. Hal ini
terjadinya kehamilan risiko tinggi yang dapat sesuai dengan penelitian Savitri et al (2013)
dilihat dari usia hamil terlalu muda atau tua yang menyatakan ada pengaruh yang signifikan
serta faktor risiko lainnya. antara pemberian pendidikan kesehatan
Fakta ini berubah secara signifikan reproduksi terhadap tingkat pengetahuan
setelah mereka diberikan edukasi sebaya tentang seks bebas pada remaja.
kesehatan reproduksi melalui kegiatan-kegiatan Hasil kegiatan ini juga menyatakan
diskusi oleh Kader Youth Centre, remaja yang bahwa edukasi sebaya kesehatan reproduksi
pengetahuannya masih dalam kategori kurang remaja melalui diskusi telah mampu
jumlahnya berkurang menjadi 10 orang meningkatkan pemahaman remaja tentang
(34,48%). Hal ini menunjukan terdapat kesehatan reproduksi remaja di desa mitra. Hal
peningkatan pengetahuan yang siginifikan ini juga sesuai dengan Suriani dan Hermansyah
antara sebelum dan sesudah dilaksanakannya (2015) yang menyatakan bahwa penyampaian
edukasi sebaya kesehatan reproduksi (p value pendidikan kesehatan oleh peer group
0,001). berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan
Youth Centre ini adalah salah satu program remaja. Hal senada oleh Taukhit (2014), yang
yang dikembangkan untuk upaya dalam menyatakan pendidikan reproduksi pada remaja
menangani persoalan remaja maupun perlu disesuaikan dengan perkembangan pada
komunitasnya. Pendekatan yang dilakukan remaja. Pada usia remaja dalam pembelajaran
Youth Centre adalah dari, oleh dan untuk remaja. cenderung ingin tahu terhadap suatu hal.
Youth Center ini merekrut remaja untuk diseleksi Metode pembelajaran yang lebih sesuai adalah
dan dilatih menjadi pendidik sebaya dan dengan metode diskusi untuk menerima suatu
konselor sebaya selain itu Youth Centre ini kesimpulan dan tidak kaku secara penyampaian
sepenuhnya dikelola oleh remaja. materi. Metode pembelajaran tersebut bertujuan

Tabel 2. Perbedaan Pengetahuan Remaja Sasaran antara Sebelum dan Sesudah Diterapkannya
Program Youth Centre
Sesudah
Pengetahuan Remaja Sasaran p value
Kurang baik Baik Jumlah
Sebelum Kurang baik 10 11 21 0,001
Baik 0 8 8
Jumlah 10 19 29

668
Muhammad, A., Arulita, I. F. / Youth Centre Model / HIGEIA 2 (4) (2018)

supaya pesan edukasi dapat diterima dan sesuai karena sang pacar lari dari tanggung jawab.
dengan tugas perkembangannya Fakta ini menunjukkan bahwa dalam kasus
Selain itu juga, remaja yang mengikuti aborsi, inisiatif yang dominan dalam
edukasi kesehatan reproduksi remaja mulai pengambilan keputusan tentang tindak lanjut
lebih menyadari pentingnya pendewasaan usia kehamilan terletak pada remaja laki-laki.
perkawinan. Mereka mulai menyadari dampak Sebagian besar remaja yang meneruskan
kehamilan usia remaja. kelahiran pada awalnya telah berusaha
Tabel 3 menunjukkan, sebelum melakukan aborsi dengan cara-cara yang
dilaksanakan edukasi sebaya kesehatan bervariasi. Ada yang sudah datang ke klinik
reproduksi remaja diketahui masih banyak kebidanan, dokter kandungan, atau PKBI, tetapi
remaja sasaran yang memiiliki sikap kurang lalu ditolak karena tidak memenuhi syarat
mendukung terhadap pendewasaan usia (seperti umur kandungan sudah terlalu tua
perkawinan. Dari 29 orang remaja yang hadir untuk aborsi, tidak mampu menunjukkan surat
dan mengikuti edukasi kesehatan reproduksi nikah, atau dasannva kurang adekuat). Ada
remaja lebih dari separuh (65,51%) memiliki yang mencoba minum jamu atau ramuan
sikap yang kurang mendukung terhadap tradisional pelancar haid; ada yang mencoba
pentingnya pendewasaan usia perkawinan. datang ke dukun paraji atau tukang urut
Angka ini berubah secara signifikan tradisional; ada yang menenggak minuman
setelah dilaksanakan edukasi sebaya kesehatan keras dan obat-obatan tanpa resep dalam dosis
reproduksi remaja pada kelompok remaja tinggi. Setelah usaha-usaha itu gagal, mereka
sasaran. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan tidak punya pilihan lain kecuali meneruskan
persentase remaja yang kurang mendukung kehamilan. Sebagian besar responden yang
terhadap pendewasaan usia perkawinan pasca gagal aborsi beruntung karena pasangannya
program Youth Centre diterapkan dan edukasi mau bertanggung jawab menikahi, namun 20
sebaya kesehatan reproduksi remaja persen sisanya terpaksa menjadi ibu dengan
dilaksanakan di desa mitra yaitu menjadi tidak menikah karena sang pacar lari dari
31,03% (p value 0,002). tanggungjawab, atau karena orang tua remaja
Sejalan dengan itu, seperti yang kita putri melarangnya menikah dengan laki-laki
ketahui, dampak dari sikap negatif remaja yang telah "merusak" kehidupan anak gadis
dalam hal reproduksi adalah kehamilan di luar mereka.
pranikah dan ingin menjalani aborsi. Remaja Orang pertama yang diberitahu tentang
yang menjalani aborsi umumnya menyatakan kehamilan rata-rata adalah pacar, dan reaksi
bahwa sang pacarlah yang lebih dominan dalam awal kedua belah pihak pada umumnya adalah
menentukan keputusan aborsi, dengan alasan keinginan dan usaha untuk aborsi. Jika usaha
belum siap memasuki kehidupan perkawinan aborsi gagal, barulah mereka berterus terang
dan berkeluarga yang menuntut tanggung jawab kepada orangtua. Diluar dugaan banyak
besar, karena ingin melanjutkan sekolah atau responden, banyak orang tua yang ternyata,
kuliah, karena tidak ingin membuka aib meskipun marah besar dan kecewa dapat tidak
keluarga dan mengecewakan orang tua, atau mendukung aborsi. Alasannya adalah nanti

Tabel 3. Perbedaan Sikap Remaja Sasaran antara Sebelum dan Sesudah Diterapkannya Program
Youth Centre
Sesudah
Sikap p value
Kurang Mendukung Mendukung Jumlah
Sebelum Kurang mendukung 9 10 19 0,002
Mendukung 0 10 10
Jumlah 9 20 29

669
Muhammad, A., Arulita, I. F. / Youth Centre Model / HIGEIA 2 (4) (2018)

akan berdosa dua kali lipat bila melakukan masyarakat secara keseluruhan jika
aborsi. Orangtua remaja putri biasanya lalu masalahiniterjadi secara masif.
memusyawarahkan masalah ini dengan pacar si Remaja yang hamil berasal dari kelas
puteri dan orang tuanya, dan jalan keluar yang sosial-ekonomi yang beragam, dengan jumlah
diambil biasanya adalah menikahkan keduanya. terbesar berasal dari kelas menengah ke bawah.
Jadi, dapat dilihat bahwa ada tiga faktor Pasangan yang menghamili umumnya berasal
yang berperanan penting dalam resolusi dari kelas sosial-ekonomi yang setara.
keputusan tindak lanjut kehamilan. Faktor Konsekuensi sosial-ekonomi yang paling
pertama adalah sikap significant others, terutama menonjol dari masalah kehamilan remaja
sang pacar (meliputi intensitas hubungan dan adalah terputus atau tertundanya sekolah atau
peran gender) dan orang tua; faktor kedua kuliah, meningkatnya ketergantungan finansial
adalah sikap terhadap aborsi dalam kaitannya pada orangtua atau anggota keluarga lain,
dengan nilai-nilai normatif; dan faktor ketiga kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai
adalah pertimbangan konsekuensi sosial dengan harapan, dan kesulitan memenuhi
ekonomi. kebutuhan ekonomi secara mandiri.
Kehamilan remaja juga memunculkan Pendidikan kesehatan reproduksi sangat
konsekuensi psikologis yang cukup berat. penting bagi remaja karena dapat meningkatkan
Remaja hamil mengalami rasa rendah diri, pengetahuan dan sikap remaja agar mereka
malu, dan merasa bersalah karena telah memiliki kesadaran dan tanggungjawab yang
melakukan tindakan yang dipandang sebagai tinggi terhadap kesehatan reproduksinya. Hal
aib dan dosa oleh norma-norma agama dan ini sesuai dengan Sutajaya (2013), yang
masyarakat (Amalia, 2017). Dalam beberapa menyatakan bahwa pendidikan kesehatan
kasus, remaja yang hamil bahkan nekat reproduksi dan seksualitas memiliki tujuan
mengambil keputusan bunuh diri karena merasa utama untuk memberikan informasi kepada
sangat bersalah, helpless, depresi, bingung, dan remaja untuk memberdayakan mereka dalam
frustrasi (Pakasi, 2013) membangun nilai dan keterampilan berelasi
Selain itu, dari segi konsekuensi sosial- yang memampukan mereka membuat
ekonomi, terjadi peningkatan jumlah anak-anak keputusan yang bertanggung jawab untuk
yang terbuang (abandoned) dan yang menjadi orang dewasa yang sehat secara seksual
diperlakukan salah (abused) olehibu- pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual
ibuusiaremaja (WHO, 2001) Ketidakstabilan penting untuk di berikan.
kehidupan rumah tangga, terputusnya sekolah Pendidikan kesehatan reproduksi remaja
(school leaving), masalah ekonomi, dan masalah melalui program Youth Centre ini telah mampu
pengasuh ananak adalah beberapa komplikasi meningkatkan kesadaran remaja akan
lain yang disebabkan oleh kehamilan dini yang pentingnya pendewasaan usia perkawinan.
tak dikehendaki pada remaja (Arsani, 2013). Mereka mulai menyadari bahwa perkawinan
Dalam ungkapan yang berbeda, Pakasi (2013) usia muda akan berdampak pada terjadinya
menyatakan bahwa kehamilan remaja akan kehamilan berisiko tinggi.
berpengaruh negatif terhadap tingkat
pendidikan yang dapat dicapai, posisi ekonomi PENUTUP
di kemudian hari, dan partisipasi angkatan kerja
perempuan. Tanggapan masyarakat umum yang
Berbagai konsekuensi negatif tersebut masih didominasi penolakan terhadap program
tidak saja dialami oleh remaja perempuan yang program pendidikan kesehatan reproduksi
bersangkutan, tetapi juga oleh pasangannya, untukrjemaja menyebabkan keragu-raguan di
bayi yang dikandung atau anak yang kalangan pengambil kebijakan untuk
dilahirkannya, orang tua dan keluarga remaja mengimplementasikan kebijakan kesehatan
yang bersangkutan, serta akhirnya oleh reproduksi untuk remaja yang sangat

670
Muhammad, A., Arulita, I. F. / Youth Centre Model / HIGEIA 2 (4) (2018)

kontroversial ini. Sebagai contoh, setting kehamilan pada usia remaja yaitu dengan
sekolah belum dimanfaatkan sebagai wadah pendewasaan usia perkawinan. Oleh karena itu,
potensial untuk program-program prevensi program dan kegiatan Youth Centre ini harus
kehamilan remaja. Hingga kini belum mendapatkan dukungan dari berbagai pihak
diterapkan kebijakan yang mengatur sekolah khususnya pemerintah desa, stakeholder
untuk menyediakan informasi mengenai topik- kesehatan dan para remaja agar tujuan Youth
topik yang berkaitan dengan masalah seks dan Centre dalam ikut serta menurunkan faktor risiko
kesehatan reproduksi, baik sebagai terjadinya kehamilan risiko tinggi khususnya di
matapelajaran terpisah maupun sebagai bagian daerah pedesaan dapat tercapai.
dari subjek pelajaran lain seperti biologi atau
olah raga. Ceramah dan penyuluhan yang rutin DAFTAR PUSTAKA
biasanya hanya terbatas pada isu narkoba
(Narkotik dan obat terlarang) dan penataran P4, Aeni. Nurul. 2012. Perilaku Kesehatan Ibu Hamil di
yang keduanya tidak menyentuh masalah Kabupaten Pati (Studi Pada Kasus Kematian
kesehatan reproduksi remaja. Maternal Tahun 2011). Jurnal Litbang. 8 (3):
Isu kehamilan remaja memang pada satu 200-207.
Aeni. Nurul. 2013. Risk Factors of Maternal
sisi memiliki dilema psikologis bagi berbagai
Mortality. Kesmas (Jurnal Kesehatan Masyarakat
kalangan masyarakat, kelompok profesional,
Nasional). 7(10) : 453-459.
dan para pengambil kebijakan. Akan tetapi, Amalia, E. H., & Azinar, M. 2017. Kehamilan Tidak
dilain sisi isu ini berkembang sangat cepat Diinginkan pada Remaja. HIGEIA (Journal of
dalam intensitas yang menguatirkan sehingga Public Health Research and Development), 1(1): 1-
membutuhkan penanganan programatik yang 7.
sungguh-sungguh Dalam kata-kata Dini (2016), Arsani, N. L. K. A. (2013). Peranan program PKPR
diperlukan kerja sama multidisipliner dan (Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja)
interdepartemental untuk menemukan cara-cara Terhadap Kesehatan Reproduksi Remaja di
Kecamatan Buleleng. Jurnal Ilmu Sosial dan
efektif dalam mendorong remaja menjadi orang
Humaniora, 2(1).
tua yang baik pada masa depan tanpa memacu
Bazaar A. Theodorus and A. Azhari. Maternal
mereka untuk menjadi orang tuadi usiadini; dan Mortality and Contributing Risk Factors.
cara-carayangbijak untuk melindungi remaja Indonesian Journal of Obstetric and Gynecology.
dari konsekuensi negatif kehamilan dim tanpa 36 (1): 8-13.
menghukum mereka yang sudah terlanjur Buzarudina, F. 2013. Efektivitas Penyuluhan
tergelincir Kesehatan Reproduksi Remaja Terhadap
Hasil edukasi sebaya yang dilakukan oleh Tingkat Pengetahuan Siswa Sman 6
Kader Youth Centre yang telah diberi pelatihan Kecamatan Pontianak Timur Tahun
2013. Jurnal Mahasiswa PSPD FK Universitas
telah mampu meningkatkan pengetahuan
Tanjungpura, 3(1).
remaja di desa mitra khususnya terkait
Dini, L. I., Riono, P., & Sulistiyowati, N. (2016).
kesehatan reproduksi remaja, seksualitas dan Pengaruh Status Kehamilan Tidak Diinginkan
kehamilan berisiko tinggi. Selain itu juga, dapat Terhadap Perilaku Ibu Selama Kehamilan
meningkatkan kesadaran remaja akan dan Setelah Kelahiran di Indonesia (Analisis
pentingnya pendewasaan usia perkawinan. Data SDKI 2012). Jurnal Kesehatan
Sehingga terhindarnya adanya kehamilan di Reproduksi, 7(2): 119-133.
luar nikah, dan akhirnya berujung ke aborsi, Dinkes Jateng. 2017. Profil Kesehatan Jawa Tengah
yang tentunya mengurangi resiko adanya Tahun 2016. Semarang: Dinkes Jateng.
Dinkes Kendal. 2018. Laporan Data Kematian Ibu
kematian.
Tahun 2017. Kendal: Dinkes Kendal.
Youth Centre dapat menjadi sarana dalam
Gutierrez. R. Gustavo. Vera.E. de Lean P. Vargas
peningkatan pengetahuan dan sikap remaja LF. 2007. Risk Factors of Maternal Death in
terkait permasalahan kesehatan reproduksi Mexico. Birth. Vol 34 : 21-25.
remaja serta sebagai upaya pencegahan

671
Muhammad, A., Arulita, I. F. / Youth Centre Model / HIGEIA 2 (4) (2018)

Kaddour C. Souissi R. Haddad Z. Zaghdoudi. Tentang Seks Bebas pada Remaja Kelas X
Magouri M. Saussi M. et al. 2008. Causes and dan XI 2 di SMK Muhammadiyah II Bantul.
Risk Factors of Maternal Mortality in the Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia (JNKI).
ICU. Critical Care. Volume 12 suppl 2 pp. 492. 1(1): 23-28.
Karlsen et.al.. 2011. The Relationship between Suriani dan Hermansyah. 2015. Pengaruh Peer Group
Maternal Education and Mortality among terhadap Peningkatan Pengetahuan
Women Giving Birth in Health Care Kesehatan Reproduksi Remaja. Jurnal Ilmu
Instituttions: Analysis of the cross sectional Keperawatan. 22-27.
WHO Global Survey on Maternal and Sutajaya, I. M. (2013). Perbaikan Kondisi Kerja
Perinatal Health. BMC Public Health. Vol 11. Berbasis Kearifan Lokal yang Relevan dengan
Pakasi, D. T., & Kartikawati, R. 2013. Antara Konsep Ergonomi untuk Meningkatkan
kebutuhan dan tabu: pendidikan seksualitas Kualitas Kesehatan dan Produktivitas
dan kesehatan reproduksi bagi remaja di Pematung. Jurnal Ilmu Sosial dan
SMA. Jurnal Makara Seri Kesehatan, 2(17): 79- Humaniora, 2(1).
81. Taukhit. 2014. Pengembangan Edukasi Kesehatan
Pratitis. Dian dan Kamidah. 2013. Hubungan antara Reproduksi dan Seksualitas Remaja dengan
Pengetahuan Ibu Hamil tentang Tanda Metode Game Kognitif Proaktif. Jurnal Studi
Bahaya Kehamilan dengan Kepatuhan Pemuda. 3(2): 123:131.
Pemeriksaan Kehamilan di BPS Ernawati WHO. 2001. Maternal Mortality Surveillance. WHO :
Boyolali. GASTER. (10)2: 33-41. Training Course on Using Data for Decesion
Savitri, Dian; Kirnantoro, Nurunniyah, Siti. 2013. Making.
Pemberian Pendidikan Kesehatan Reproduksi
Berpengaruh Terhadap Tingkat Pengetahuan

672