Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Menurut Suriasumantri (2007) mengatakan bahwa bahasa pada
hakikatnya mempunyai dua fungsi utama yaitu, sebagai sarana komunikasi
antarmanusia dan sebagai sarana budaya yang mempersatukan kelompok
manusia yang mempergunakanbahasa tersebut. Fungsi yang pertama dapat
kita sebutkan sebagai fungsi komukitatif dan fungsi yang kedua sebagai
fungsi kohesif atau integratif. Pengembangan suatu bahasa haruslah
memperhatikan kedua fungsi ini agar terjadi keseimbangan yang saling
menunjang dalam pertumbuhannya. Seperti juga manusia yang
mempergunakannya bahasa harus terus tumbuh dan berkembang seiring
dengan pergantian zaman.
Hakikat bahasa yang muncul ke permukaan memang lebih dominan
kepada fungsi bahasa sebagai alat komunikasi daripada sebagai tataran ilmu
linguistik yang memang berfokus terhadap seluk beluk bahasa. Hal ini wajar
karena bahasa menyentuh segala sisi manusia dari semua golongan bila
ditinjau dari aspek komunikasi ketimbang aspek linguistik yang hanya
menjadi ajang penelitian akademisi. Akan tetapi terlepas daripada itu semua,
kedudukan bahasa bagi sebuah bangsa amatlah penting karena bahasa
merupakan identitas sebuah bangsa. Bangsa yang memiliki karakter adalah
bangsa yang tetap mempertahankan bahasanya.
Di Indonesia, berdasarkan Sensus Penduduk Indonesia (SPI) 2010 yang
dikumpulkan kembali melalui Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan
bahwa Indonesia memiliki 1211 bahasa dan 1158 didalamnya termasuk
bahasa daerah yang menjadi ciri khas daerah tersebut. Berdasarkan fakta
tersebut, perlu adanya bahasa nasional yang resmi dijadikan sebagai alat
pemersatu bangsa. Tepat pada 28 Oktober 1928, dalam peringatan Sumpah
Pemuda , bahasa Indonesia resmi dijadikan bahasa nasional sampai saat ini.
Juga tercantum dalam UUD 1945 Bab XV, Pasal 36 yang berbunyi Bahasa
Negara adalah Bahasa Indonesia. Ketentuan ini menyatakan bahwa Bahasa
Indonesia tidak lagi dipakai sebagai bahasa perhubungan, tetapi juga sebagai
bahasa resmi kenegaraan. Sebagai alat satu implementasi politik bahasa.
Setelah diresmikan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia terus
mengalami perkembangan dari sisi komunikasinya. Setiap warga Indonesia,
dituntut menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Baik berarti
kondisional, sedangkan benar berarti sesuai tata aturan. Hanya saja
perkembangannya selalu mendapatkan permasalahan dari segi penuturnya.
Hal tersebut diakibatkan penutur asli bahasa Indonesia tidak bisa terlepas
dari budaya daerahnya yang melekat. Disinilah sering terjadi kesenjangan
sosial yang sering terjadi kesalah pahaman makna meski menggunakan
bahasa yang sama.
Permasalahan bahasa di Indonesia tidak hanya menyangkut
perkembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, tapi juga
hubungannya dengan bahasa-bahasa daerah yang merupakan bahasa ibu dari
penutur etnisnya dan juga bahasa asing (Hernayah, 2003, hlm.128).
Berangkat dari pendapat Hernayah, Indonesia memiliki dua permasalahan
sekaligus yang berangkat dari dalam dan luar. Dari dalam permasalahan
dengan bahasa ibu dari penutur etnisnya, sedangkan dari luar permasalahan
bahasa asing sebagai dampak pengaruh globalisasi.
Bila tidak ada tindak lanjut dari pemerintah, dalam hal ini mereka yang
memiliki wewenang untuk membuat sebuah kebijakan, peranan bahasa
Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa, tidak akan berfungsi dengan baik.
Para penutur akan bersikap etnositrisme karena kurangnya rasa nasionalisme
dan lebih mementingkan budaya. Terlebih lagi hadirnya bahasa asing yang
juga harus dikuasai untuk menghadapi tantangan ke depan, bisa jadi
menggeser kedudukan bahasa Indonesia karena penutur akan lebih memilih
menguasai bahasa asing dan mengesampingkan bahasa Indonesia. Peran
pemerintah untuk mengatasi berbagai macam problematika tersebut amatlah
penting. Pemerintah harus mengadakan pengolahan bahasa Indonesia sebagai
bahasa nasional dalam seluruh kebijakan nasional yang dibuat. Pengolahan
tersebut kemudian lebih dikenal dengan politik bahasa nasional yang mulai
didengungkan sejak 29-30 Oktober 1974 di Jakarta dengan penyelenggaraan
Praseminar Politik Bahasa Nasional, disusul dengan seminarnya 25-28
Februari 1975 di Jakarta. Dalam pidato pengarahan, Amran Halim, Ketua
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa saat itu, menyatakan bahwa
tujuan politik bahasa nasional adalah.
1. Perencanaan dan perumusan kerangka dasar kebijaksanaan dalam
kebahasaan.
2. Perumusan dan penyusunan ketentuan-ketentuan dan pengembangan
kebijakasanaan umum mengenai penelitian, pengembangan
pembakuan, dan pengajaran bahasa dan sastra.
3. Penyusunan rencana pengembangan kebijaksanaan/nasional.

Politik selalu dikaitkan dengan sebuah kebijakan. Politik bahasa berarti


menjadikan bahasa sebagai objek dalam mnentukan kebijakan tersebut.
Berbeda dengan pemahaman bahasa politik, yang menjadi objeknya justru
politik itu sendiri dilihat dari bahasa yang digunakan oleh politikus baik lisan
maupun tulisan. Adapun istilah politik bahasa, menurut Purnomo (2010) bila
dilihat dari dua macam hubungan. Pertama, hubungan koordinatif atau sejajar
antara politik dan bahasa. Di sini politik dan bahasa berinteraksi, saling
memengaruhi, dan tarik-menarik secara setara. Keduanya saling berpengaruh
dan berkontribusi karena keduanya menjadi subjek. Kedua, hubungan
subordinatif atau saling membawahkan antara politik dan bahasa. Di sini
salah satu menjadi subjek dan lainnya menjadi objek. Pada satu pihak bahasa
dapat dijadikan agenda, kebijakan, dan sasaran kajian politik sehingga di sini
politik menjadi subjek dan bahasa menjadi objek; dan pada pihak lain tuturan
politik dan perilaku verbal politik dapat dilihat sebagai gejala kebahasaan
dan sasaran kajian (ke) bahasa (an) sehingga di sini politik menjadi objek dan
bahasa menjadi subjek. Yang pertama dapat disebut politik bahasa (language
politics), sedang yang kedua dapat disebut bahasa politik (political language,
linguistics of power).
Mengingat politik bahasa menjadikan bahasa objek di dalam berpolitik,
tentu perlu adanya upaya-upaya nyata ynag dilakukan agar kedudukan dan
peran bahasa Indonesia tetap menjadi alat pemersatu bangsa. Oleh karena itu,
penulis memilih judul Peran Bahasa Indonesia dalam Politik Bahasa pada
judul makalah ini sebagai tinjauan deskriftif mengenai permasalahan yang
sering terjadi di dalam politik bahasa Indonesia.

1.2. Rumusan Masalah


Berbeda dengan masalah, rumusan masalah ini merupakan beberapa
pertanyaan yang akan dicari jawabannya melalui pengumpulan data. Namun,
rumusan masalah erat kaitannya dengan masalah karena masalah merupakan
landasan dalam merumuskan masalah penelitian (Sugiyono, 2014, hlm. 55).
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan oleh penulis, berikut
adalah rumusan masalah yang disusun penulis:
1) Apa pengertian politik bahasa?
2) Permasalahan bahasa apa yang terjadi berkaitan dengan politik bahasa?
3) Bagaimana solusi mengatasi permasalahan tersebut?

1.3. Tujuan Penulisan


1) Mendeskripsikan pengertian politik bahasa.
2) Menjelaskan permasalahan bahasa yang terjadi berkaitan dengan
politik bahasa.
3) Memaparkan solusi mengatasi permasalahan tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
PERAN BAHASA INDONESIA DALAM POLITIK BAHASA

2.1. Peranan Bahasa


Bahasa memiliki peranan penting dalam suatu negara karena bahasa
merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh manusia untuk saling
berinteraksi serta menuangkan pikiran, perasaan, maupun keinginan yang
akan diucapkan. Sebagai negara yang memiliki ribuan pulau, ratusan suku,
dankebudayaan yang berbeda-beda tentu harus mempunyai bahasa untuk
mempersatukan itu semua. Bahasa Indonesia merupakan alat pemersatu bagi
bangsa Indonesia karena dapat menyatukan seluruh suku yang ada di
Indonesia. Tentunya setiap suku memiliki bahasa daerahnya masing-masing
sehingga disepakati pada hari sumpah pemuda diresmikan bahwa Indonesia
memiliki bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia.
Awalnya pembentukan bahasa Indonesia berasal dari bahasa melayu.
Tetapi dalam pertumbuhan dan perkembangannya, bahasa melayu yang telah
berubah nama menjadi bahasa Indonesia itu terus diperkaya. Sumbernya
adalah bahasa daerah dan bahasa asing. Bahasa itu bersifat dinamis sehingga
akan berubah mengikuti perkembangan dan kemajuan dunia modern yang
mana sangat dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Semakin
berkembang dan majunya suatu negara maka akan semakin luas pula
jangkauan pemikirannya dan karena itu ia membutuhkan bahasa yang
berkemampuan tinggi untukmenyatakan semua yang dipikirkannya serta
semakin banyak kosakata ataupun istilah-istilah yang akan muncul akibat
pengaruh tersebut. Karena apabila kita hidup di lingkungan yang sederhana
secara tidak langsung bahasa yang digunakan pada lingkungan tersebut
merupakan bahasa kehidupan sehari-hari. Berbeda apabila kita hidup
dilingkungan yang telah mengenal ilmu pengetahuan dan teknologi yang
mana kita harus mampu berbahasa menyesuaikan dengan zamannya.
2.2. Politik Bahasa
Terdapat perbedaan antara bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa
asing. Pernah ada yang mengatakan bahwasanya bahasa Indonesia itu wajib,
bahasa daerah itu pasti dan bahasa asing itu perlu. Dari pernyataan tersebut
dapat disimpulkan bahwa bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang paling
penting karena kita diwajibkan untuk menguasainya, sedangkan bahasa
daerah itu perlu mengapa karena agar kita tidak melupakan identitas
kedaerahaan yang dimiliki oleh masing-masing individu yang mana lahir dari
daerahnya masing-masing. Berbeda lagi dengan kedudukan bahasa asing bagi
orang Indonesia ialah bahasa asing itu perlu karena dengan berkembangnya
ilmu pengetahuan dan teknologi kita harus mampu bersaing dengan negara-
negara lain, apabila kita memiliki kemampuan dalam mengusai bahasa asing
tentu itu akan mempermudah bagi kita untuk melakukan interaksi dengan
orang asing.
Selama ini kita menganggap bahwa yang dimaksud dengan politik
bahasa nasional ialah kedudukan bahasa dalam dunia politik nasional. Akan
tetapi, anggapan tersebut kurang tepat karena yang dimaksud dengan politik
bahasa nasional adalah kebijakan nasional yang berisi perencanaan ,
pengarahan, dan ketentuan-ketentuan yang dapat dipakai sebagai dasar bagi
pemecahan keseluruhan masalah bahasa. Politik bahasa nasional
menempatkan bahasa Indonesia pada titik pusat. Politik bahasa nasional
adalah kebijakan di bidang kebahasaan dan kesastraan secara nasional, yaitu
kebijakan yang meliputi bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan penggunaan
bahasa asing.
Sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia memiliki multifungsi, antara
lain digunakan dalam upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan baik lisan
maupun tulisan, mengharusakan lembaga-lembaga pendidikan menggunakan
bahasa pengantar bahasa Indonesia, sebagai pelaksana administrasi
pemerintahan, pendidikan dan pengajaran, pengembangan kesussastraan
nasioanal, peningkatan mutu media massa, dan sebagai penulisan buku-buku
pelajaran maupun buku-buku ilmu pengetahuan. Selain itu juga, fungsi
bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, antara lain mencerminkan nilai-
nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebanggaan kita, mengajak kita
bersyukur kepada Tuhan karena telah memiliki bahasa nasioanl yang berasal
dari bumi kita sendiri sehingga kita dapat bersatu dalam kebesaran Indonesia,
lambing identitas nasional.

2.3. Permasalahan Rintisan Sekolah Bersekolah Internasional


Pada tahun 2010 pernah terjadi isu mengenai keberadaan sekolah RSBI
dan SBI yang mana dianggap menggeser kedudukan bahasa Indonesia
sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah. Hal ini merupakan salah satu
masalah dalam kebahasaan yang mana menjadi kajian bagi politik bahasa
nasioanl untuk mementukan bahasa pengantar yang harus digunakan di
sekolah. Menurut wakil kepala sementara pusat bahasa Agus Dharma
mengatakan bahwa RSBI dinilai salah kaprah dalam mengertikan
internasionalisasi pendidikan. Internasionalisasi diartikan dengan
menggentikan bahasa pengantar bahasa Indonesia menjadi bahasa Inggris.
Padahal, mestinya sistem pendidikan, kurikulum,standar,dan kualitasnya
yang internasioanl, bukan mengesampingkan bahasa Indonesia.
Tujuan internasionalisasi pendidikan adalah untuk meningkatkan daya
saing siswa di kancahinternasional. Jika bahasa Indonesia yang
dikesampingkan, siswa akan kehilangan jati diri sekaligus tidak mampu
merebut kualitas internasional. Adapun permasalahan kebahasaan yang
lainnya terdapat pada bidang jurnalistik. Pada bidang jurnalistik bahasa yang
digunakan tidak boleh melanggar kode etik jurnalistik. Para jurnalis harus
mampu membuat sebuah berita dengan bahasa jurnalistik yang baik dan
benar. Seperti halnya yang diungkapkan Yos bahwa ragam bahasa jurnalistik
mengandung beberapa ciri khas antara lain sederhana, ringkas, jelas, padat,
dan objektif.
Bahasa adalah sebagai alat komunikasi untuk seluruh manusia dalam
keseluruhan aspek kehidupan, membuat bahasa tidak terpisahkan dari
kehidupan manusia dan harus dikuasai oleh masyarakat indonesia. Bahkan,
tidak hanya dikuasai namun harus dipraktekkan dengan baik dan benar. Ini
penting karena fungsi bahasa adalah sebagai alat pemersatu bangsa dan
merupakan bagian integral dari keberadaan manusia karena hanya makhluk
berpikir yang diberi kemampuan berbahasa, sedangkan makhluk hidup lain
tidak memilikinya. Menurut Sutan Takdir Alisjahbana, bahasa merupakan
alat pikiran, alat pemikiran yang terbaik dalam lingkungan masyarakat dan
kebudayaan. Bahasa indonesia yang berdasarkan kongres bahasa indonesia
kedua di medan tahun 1954 dinyatakan sebagai bahasa nasional.

2.4. Permasalahan Perkembangan Bahasa


Permasalahan bahasa indonesia tidak hanya menyangkut
perkembangan bahasa indonesia sebagai bahasa nasional, tapi juga
hubungannya dengan bahasa- bahasa daerah yang merupakan bahasa ibu dari
penutur etnisnya dan juga bahasa asing. Fungsi bahasa sebagai pengantar
resmi dalam dunia pendidikan, bahkan dalam dunia pendidikan, bahasa
indonesia sudah menjadi mata pelajaran bagi anak pelajar bahkan sebagai
ujian nasional, sebagai bahasa resmi dalam perhubungan tingkat nasional, dan
sebagai bahasa resmi dalam pembangunan kebudayaan dan pemanfaatan
iptek modern telah mengakibatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara
berpacu dalam menata dan mengembangkan diri agar tetap berperan sebagai
sarana komunikasi dalam berbagai bidang. Menurut Kridalaksana bahwa
bahasa adalah sistem lambang yang arbiter yang dipergunakan oleh
masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan untuk mengidentifikasi
diri.
Sehubungan dengan fakta bahwa bahasa digunakan dalam keseluruhan
aspek, kehidupan maka bahasa pun tidak terlepas dari penggunanya dalam
dunia politik. Di suatu negara dikenal adanya bahasa politik yang hidup dan
berlaku di lingkungan geografis pemerintahan negara tersebut. kita lebih
sering mendengar bahasa politik memang bahasa digunakan dalam seluruh
aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang politik. Menurut KBBI
politik adalah pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan seperti
tentang sistem pemerintahan, dasar pemerintahan, dan segala urusan dan
tindakan kebijakan, siasat dan sebagainya mengenai pemerintahan negara
atau terhadap negara lain. Mengacu kepada definisi mengenai politik dan
definisi mengenai bahasa, pengertian bahasa politik dapat dirumuskan
sebagai bahasa yang digunakan oleh seseorang dalam bidang-bidang yang
berkaitan dengan masalah kenegaraan dan pemerintahan. Berbeda dengan
politik bahasa yang akan kita bahas saat ini mengenai perkembasngan bahasa
saat ini. Kongres bahasa indonesia pun diselenggarakan dan dinyatakan
sebagai peristiwa nasional. Betapa pentingnya peran bahasa terutama di
indonesia sehingga banyak diadakan bermacam acara nasional mengenai
perkembangannya, sebut saja kongres bahasa indonesia yang telah diadakan
sampai yang terakhir kali pada tahun 1998 (kongres bahasa indonesia ke VII)
bulan bahasa, seminar politik bahasa dan acara-acara lain yang berhubungan
dengan bahasa.
Khusus yang terkait dengan penggunaan bahasa oleh masyarakat
penutur bahasa-bahasa daerah indonesia, perubahan pola, prilaku para
penutur tersebut setidaknya dapat dikaitkan dengan dua situasi kebahasaan
yang mereka hadapi. Di satu sisi para penutur bahasa daerah indonesia mesti
berhadapan dengan tuntutan untuk menggunakan bahasa nasional, bahasa
indonesia, yang menjadi media komunikasi dalam layanan-layanan publik,
seperti pendidikan, kesehatan, dan layanan publik lainnya. ketidakmampuan
menggunakan bahasa indonesia akan berdampak pada tereliminasinya yang
bersangkutan untuk mengakses layanan-layanan publik yang dirancang dan
bersifat nasional itu. Sementara itu tidak semua lapisan masyarakat penutur
bahasa daerah di wilayah indonesia mampu berkomunikasi dengan
menggunakan bahasa indonesia, terutama generasi lanjut yang tinggal di
pedesaan.
Pada sisi lain, bahasa indonesia telah dideklarasikan sebagai salah satu
indentitas bangsa indonesia sejak 28 oktober 1928. Khusus terkait dengan
politik dan perencanaan bahasa, misalnya setiap daerah sepertinya berlomba
untuk mengedepankan sentimen bahasa daerah dengan dalih
pemeliharaandan pemuliaan bahasa daerah. Akibatnya, keindonesiaan yang
tengah dibangun sebagai sebuah keutuhan dari bangsa indonesia melalui
bahasa indonesia sebagai bahasa negara yang berfungsi sebagai bahasa
persatuan itu menghadapi ancaman yang tidak kurang bahayanya. Bagaimana
pun, pengikaran bahasa indonesia sebagai bahasa persatuan melalui sumpah
pemuda pada 28 oktober 1982 merupakan gerakan yang sangat elitis para
pemimpin organisasi pemuda yang saat itu tengah berjuang gigih meraih
kemerdekaan.

2.5. Keberlangsungan Bahasa Daerah-daerah


Kekhawatiran tentang kelangsungan hidup bahasa-bahasa daerah
karena semakin mendominasinya pemakaian Bahasa Indonesia dalam
berbagai bidang kehidupan dan juga sikap penutur bahasa daerah yang
kurang positif terhadap bahasa daerahnya. Sikap ini disamping disebabkan
oleh penutur bahasa daerah yang relatif kecil jumlahnya, juga karena
memandang rendah dirinya sebagai kelompok minoritas yang kurang
berprestise. Dengan kata lain, dari gejala yangtampak tersebut, patut diduga
bahwa bahasa indonesia sesungguhnya memang belum merupakan bagian
dari budaya inti nmasyarakat bangsa indonesia. Akibatnya, pembangunan dan
penguatan jati diri bangsa indonesiayang digalang melalui bahasa indonesia
pun, bisa jadi, tidak akan memberikan hasil yang paling optimal. Banyak hasil
penelitian yang menunjukkan bahwa penguatan jati diri yang tidak
didasarkan pada nilai budaya inti sebuah masyarakat sangat rentan untuk
tidak berhasil, sebab ia akan mudah luntur bahkan berpeluang hilang dari
individu.
Menurut Berger Peter L dan Thomas Luckman menjelaskan bahwa
dalam proses konstruksi realitas, bahsa menjadi unsur utama. Bahasa
merupakan alat konseptualisasi dan alat narasi. Penggunaan bahasa dapat
menentukan format narasi dan makna tertentu, termasuk di dalamnya adalah
bentuk pencitraan yang diinginkan. Dari prespektif ini, bahasa tidak hanya
mampu mencerminkan realitas, tetapi sekaligus dapat menciptakan realitas.
Dari kondisi seperti itu, maka secara faktual akan relatif sulit untuk
menentukan kadar keindonesiaan yang bisa dijadikan indikator umum dan
bisa digunakan untuk mengukur mana-mana dan apa yang sesungguhnya
menggambarkan dan bisa disebut sebagai jati diri bangsa indonesia itu.
Namun, semboyan yang dipegang dan tertuang dalam Bhineka Tunggal Ika
memberikaninspirasi bahwa sesungguhnya indonesia itu adalah kenegaraan
yang dilihat sebagai sebuah kesatuan. Dari pembahasan diatas bisa ditarik
kesimpulan bahwa kencangnya pengaruh lingkungan, baik lokal maupun
global akan mempengaruhi sikap anggota masyarakat, termasuk dalam sikap
berbahasa. Nilai-nilai budaya inti yang dimiliki anggota sebuah masyarakat
memiliki andil yang kuat terhadap perilaku mereka. Sikap bahasa seperti ini
dapat dikaitkan dengan persepsi mereka tentang budaya inti mereka. Semakin
tinggi penilasian mereka terhadap posisi bahasa dalam dalam pusaran budaya
inti, maka semakin kuat dan sentimen mereka terhadap bahasanya, dan tetu
sebaliknya. Dengan demikian kelangsungan hidup bahasa tersebut dapat
lebihu terjamin. Sebaliknya, masyarakat yang tidak memandang bahasa
sebagai bagian paling penting yang menisbatkan dirinya dengan budaya
masyarakatnya. Yang perlu diupayakan sekarang adalah bagaimana agar
penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari kita justru didominasi oleh
gambaran berbahasa yang berkarakter positif untuk mendukung pembentukan
jati diri yang terpuji.

2.6. Permasalahan Akronim dan Eufemisme


Bahasa merupakan alat yang digunakan manusia untuk saling
berkomunikasi dan saling bertukar informasi. Menurut Kurniawan (dalam
Nasution, 2007, hlm. 446) bahasa berperan dalam mencapai tujuan nasional
maupun internasional suatu bangsa. Bahasa membentuk suatu ikatan sosial
melalui interaksi dan proses saling memengaruhi penggunaannya. Karena
melalui bahasa suatu bangsa mengungkapkan pendapat, harapan, obsesi,
kenyataan, ketakutan, maupun protes-protesnya dalam kehidupan, sehingga
bahasa menjadi sangat penting bagi kita.
Perkembangan bahasa saat ini sudah dibatasi pengertian-pengertian
istilahnya dan diabadikan untuk kepentingan penguasa dan pengusaha.
(Marcuse dalam Nasution, , hlm. 447). Hal tersebut ditunjukkan dengan
penggunaan akronim dan eufemisme yang tidak jelas dan tidak sesuai dengan
aturan. Akronim adalah gabungan huruf atau suku kata yang dilafalkan
sebagai kata yang wajar, sedangkan eufemisme adalah ungkapan yang lebih
halus sebagai pengganti ungkapan yang dianggap dapat merugikan atau tidak
menyenangkan. Penggunaan akronim yang tidak sesuai