Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA TANAMAN

PERSILANGAN MONOHIBRID, DIHIBRID, DAN BACKCROSS

Dosen Pengampu Mata Kuliah:

Ani Lestari S.Si.,M.Si

Disusun oleh :
Kelompok I
Kelas 3B

Tiya Amelia Nur’inayah (1810631090028)


Jesara Oktavia Silalahi (1810631090030)
Teguh Adhetya R (1810631090130)
Amiruddin (1810631090141)
Nida Nurul Hakiki (1810631090142)
Tiffany Ramadhanie Suwandi (1810631090157)

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG
2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Genetika (kata serapan dari bahasa Belanda: genetica, adaptasi dari bahasa Inggris: genetics,
dibentuk dari kata bahasa Yunani: γέννω, genno yang berarti "melahirkan") adalah cabang biologi yang
mempelajari pewarisan sifat pada organisme maupun suborganisme (seperti virus dan prion). Secara
singkat dapat juga dikatakan bahwa genetika adalah ilmu tentang gen dan segala aspeknya. Istilah
"genetika" diperkenalkan oleh William Bateson pada suatu surat pribadi kepada Adam Chadwick dan ia
menggunakannya pada Konferensi Internasional tentang Genetika ke-3 pada tahun 1906 (Anonim,2015).

A. Gen
Pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Hunt Morgan, ahli Genetika dan Embriologi Amerika
Serikat (1911), yang mengatakan bahwa substansi hereditas yang dinamakan gen terdapat dalam lokus, di
dalam kromosom. Menurut W. Johansen, gen merupakan unit terkecil dari suatu makhluk hidup yang
mengandung substansi hereditas, terdapat di dalam lokus gen. Gen terdiri dari protein dan asam nukleat
(DNA dan RNA), berukuran antara 4 – 8 m (mikron).

B. Fungsi Gen
Fungsi gen antara lain:
a. Menyampaikan informasi kepada generasi berikutnya
b. Sebagai penentu sifat yang diturunkan.
c. Mengatur perkembangan dan metabolisme

C. Simbol-Simbol Gen

1. Gen dominan, yaitu gen yang menutupi ekspresi gen lain, sehingga sifat yang dibawanya terekspresikan
pada turunannya (suatu individu) dan biasanya dinyatakan dalam huruf besar, misalnya A.
2. Gen resesif, yaitu gen yang terkalahkan (tertutupi) oleh gen lain (gen dominan) sehingga sifat yang
dibawanya tidak terekspresikan pada keturunannya.
3. Gen heterozigot , yaitu dua gen yang merupakan perpaduan dari sel sperma (A) dan sel telur (a).
4. Gen homozigot, dominan, yaitu dua gen dominan yang merupakan perpaduan dari sel kelamin jantan dan sel kelamin
betina, misalnya genotipe AA.
5. Gen homozigot resesif, yaitu dua gen resesif yang merupakan hasil perpaduan dua sel kelamin. Misalnya
aa
6. Kromosom homolog, yaitu kromosom yang berasal dari induk betina berbentuk serupa dengan kromosom
yang berasal dari induk jantan.
7. Fenotipe, yaitu sifat-sifat keturunan pada F1, F2, dan F3 yang dapat dilihat, seperti tinggi, rendah, warna,
dan bentuk.
8. Genotipe, yaitu sifat-sifat keturunan yang tidak dapat dilihat, misalnya AA, Aa, dan aa. Tiap sifat makhluk
hidup dikendalikan oleh sepasang faktor keturunan yang dikenal dengan nama gen. Sepasang gen ini satu
berasal dari induk jantan dan yang lainnya dari induk betina. Gen yang satu pasang ini disebut sebagai gen
yang satu alela. Menurut Mendel gen yang satu alela akan memisah pada waktu pembentukan gamet, yang selanjutnya
dikenal dengan prinsip segregasi secara bebas dan gen akan berpasangan kembali pada waktu fertilisasi
sehingga setiap individu akan diploid (Widianti, 2014).

Hukum pewarisan Mendel adalah hukum yang mengatur pewarisan sifat secara genetik dari satu
organisme kepada keturunannya. Hukum ini didapat dari hasil penelitian Gregor Johann Mendel, seorang
biarawan Austria. Hukum tersebut terdiri dari dua bagian:

1. Hukum Pertama Mendel (hukum pemisahan atau segregation)


Isi dari hukum segregasi : Pada waktu berlangsung pembentukan gamet, setiap pasang gen akan
disegregasi ke dalam masing-masing gamet yang terbentuk.

2. Hukum Kedua Mendel (hukum berpasangan secara bebas atau independent assortment)
Isi dari hukum pasangan bebas : Segregasi suatu pasangan gen tidak bergantung kepada segregasi pasangan
gen lainnya, sehingga di dalam gamet-gamet yang terbentuk akan terjadi pemilihan kombinasi gen-gen
secara bebas. Hukum Mendel adalah salah satu hukum terpenting dalam perkembangan ilmu genetika di
dunia. Namun, tidak banyak orang yang menyadari bahwa penelitian Mendel didasari pada ilmu
Matematika Diskrit (Fransisca:2010).

Hukum Segregasi
Jika model percampuran dari pewarisan sifat adlah benar, hibrid F1 dari persilangan antara ercis
berbunga ungu dan berbunga putih seharusnya memiliki bunga ungu pucat, sifat intermediet antara sifat-
sifat pada generasi P. Namun ternyata semua keturunan F1 memiliki bunga yang seungu induk berbunga ungu. Ketika
Mendel membiarkan tanaman F1 menyerbuk sendiri dan menanam biji yang dihasilkan, siat bunga putih
muncul kembali pada generasi F2. Mendel menggunakan ukuran sampel yang sangat besar dan mencatat hasilnya
dengan akurat. Mendel mendeskripsikan empat konsep terkait yang menyusun model Mendel.
i. Versi alternatif gen menyebabkan variasi dalam karakter yang diwarisi.
ii. Untuk setiap karakter, organisme mewarisi dua alel, satu dari masing-masing induk
iii. Jika dua alel pada suatu lokus berbeda, maka slah satunya, alel dominan, menentukan kenampakan
organisme; yang satu lagi, alel resesif, tidak memiliki efek pada kenampakan organisme.
iv. Hukum Segregasi yaitu dua alel untuk suatu karakter terwariskan bersegregasi (memisah) selama
pembentukan gamet dan akhirnya berada dalam gamet-gamet yang berbeda (Campbell, 2010).
Perbandingan fenotip yang ditemukan dalam persilangan monohibrid tidak sepenuhnya merupakan
perbandingan yang pasti. Dalam kejadian nyata terdapat penyimpangan atau deviasi. Perbandingan
hasil persilangan di dalam kenyataan berbeda atau memiliki selisih dengan perhitungan. Maka dari
itu perlu diadakan evaluasi. Cara evaluasi tersebut adalah dengan mengadakan chi-square test(χ2)
(Suryo, 1990).

1.2 Tujuan
1. Membuktikan adanya prinsip segregasi secara bebas.
2. Membuktikan perbandingan Mendel pada F2 persilangan monohibrida, yaitu perbandingan genotip
1 : 2 : 1 dan perbandingan fenotip 3 : 1.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hukum Mendel I

Hukum mendel I disebut juga hukum segregasi atau pemisahan gen-gen yang seale ( segregation of allelic
genes). Menurut Hukum Mendel I, tiap organisme memiliki dua alel untuk setiap sifat. Selama pembentukan
gamet, dua alel berpisah sehingga mesing-masing gamet hanya mengandung satu alel untuk satu sifat. Jika dua
gamet bertemu pada fertilisasi, keturunan yang terbentuk mengandung dua alel yang mengendalikan satu sifat.
Hukum Mendel I tersebut sesuai dengan teori pewarisan sifat karena alel-alel tersebut menjelaskan mengapa
Hukum Mendel I dapat dibuktikan dengan persilangan monohibrid (persilangan dengan satu sifat beda).

Dalam suatu persilangan perlu diketahui istilah-istilah yang digunakan. Istilah- istilah itu diantaranya (Brown, T.A,
1993).

a) Parental(P): induk
b) Filial(F): keturunan
c) Keturunan pertama (F1): anak
d) Keturunan kedua (F2): cucu
e) Genotipe: sifat menurun yang tidak tampak dari luar, contoh: AA, Aa, aa, AABb
f) Fenotipe: sifat menurun yang tampak dari luar, contoh: besar, kecil, tinggi, pendek
g) Dominan: sifat gen yang memiliki ekspresi lebih kuat yang dapat menutupi/mengalahkan sifat yang
dibawa gen alelnya, disimbolkan dengan huruf kapital, contoh: AA, BB, MM
h) Resesif : sifat gen yang tidak muncul (tertutup) karena kalah oleh sifat pasangannya, akan muncul
apabila bersama-sama gen resesif lainnya, disimbolkan dengan huruf kecil, contoh: aa, bb, mm
i) Homozigot: pasangan gen yang sifatnya sama, contoh: AA, aa, MM, bb
j) Heterozigot: pasangan gen yang tidak sama, contoh: Aa, Mm, Bb

a. Persilangan Monohibrid

Persilangan monohibrid adalah persilangan sederhana yang hanya memperhatikan satu sifat atau tanda
beda. Persilangan ini dapat membuktikan kebenaran Hukum Mendel II yaitu bahwa gen-gen yang terletak pada
kromosom yang berlainan akan bersegregasi secara bebas dan dihasilkan empat macam fenotip dengan
perbandingan 9 : 3 : 3 : 1. Kenyataannya, seringkali terjadi penyimpangan atau hasil yang jauh dari harapan yang
mungkin disebabkan oleh beberapa hal seperti adanya interaksi gen, adanya gen yang bersifat homozigot letal dan
sebagainya. Mendel melakukan persilangan monohibrid atau persilangan satu sifat beda, dengan tujuan
mengetahui pola pewarisan sifat dari tetua kepada generasi berikutnya. Persilangan ini untuk membuktikan hukum
Mendel I yang menyatakan bahwa pasangan alel pada proses pembentukkan sel gamet dapat memisah secara
bebas.

2.2. Hukum Mendel II


Hukum Mendel II disebut jugahukum asortasi atau pengelompokangen secara bebas (independent
assortment genes). Hukum Mendel II menyatakan bahwa apabila dua individu memiliki dua pasang sifat atau
lebih maka diturunkannya sepasang sifat secara bebas tidak bergantung pada pasangan sifat yang lain. Hal ini
menjelaskan bahwa gen yang menentukan, misalnya bentuk dan warna biji, tidak saling mempengaruhi. Hukum
ini berlaku untuk persilangan dihibrid (dua sifat beda) atau lebih.

a. Persilangan Dihibrid

Persilangan dihibridadalah persilangan organisme yang memiliki dua sidat beda. Contoh persilangan (dihibrid)
yang dilakukan Mendel adalah persilangan antara tanaman kapri galur murni yang berbiji bulat dan berwarna
kuning dengan tanaman kapri berbiji keriput dan berwarna hijau. Biji bulat dominan terhadap biji keriput,
sedangkan warna biji kuning dominan terhadap biji hijau.Pada 8 persilangan tersebut dihasilkan tanaman F1yang
semuanya berbiji bulat dan berwarna kuning. Mendel kemudian menyilangkan sesama tanaman F1dan hasilnya
adalah F2yang menunjukkan adanya empat kombinasi fenotipe. Kombinasi tersebut menunjukkan adanya
pengelompokan dua pasang gen secara bebas yang dikenal sebagai Hukum Mendel II.

b. Backcross atau Test Cross

Backcrossadalah perkawinan antara F1dan induk jantan atau betina. Sebagai contoh, jika tikus jantan hitam
(HH) disilangkan dengan tikus betina putih (hh), semua F1-nya berwarna hitam (Hh). Jika dilakukan perkawinan
balik dengan induk jantan, akan dihasilkan tikus F2 berwarna hitam semua. Hal itu membuktikan bahwa individu
yang memiliki fenotipe sama dapat memiliki genotipe berbeda.Test cross atau uji silang adalah perkawinan antara
F1 dan individu yang homozigotnya resesif.Test crossdigunakan untuk menguji kemurnian suatu galur. Sebagai
contoh, jika tikus hitam hasil perkawinan tikus hitam (HH) dan putih (hh) ditest cross,hasilnya adalah tikus hitam
dan tikus putih dengan perbandingan 1 : 1.
BAB III

BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat

 Waktu : Pukul 07.30-09.00


 Tempat : Lab Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Singaperbangsa Karawang

3.2 Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah :

1. Kertas Folio
2. Pulpen
3. Penggaris

3.3 Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :

1. Pohon Mangga

3.4 Langkah kerja

1. Siapkan alat dan bahan terlebih dahulu.


2. Cari dua pohon buah yang akan di amati, pilih dua pohon mangga yang berbeda.
3. Setelah menemukan pohon tersebut, bandingkan rasa dan bentuk kedua buah pohon mangga tersebut.
4. Diketahui bahwa dari pohon pertama memiliki rasa buah yang manis (A) dan pohon kedua rasa buah
asam (a).
5. Setelah itu lakukan persilangan monohibrid dan melakukan backcross.
6. Lakukan percobaan persilangan dihibrid dengan mengamati bentuk buah dari kedua pohon tersebut.
7. Diketahui bahwa dari pohon pertama memiliki rasa buah yang manis (A), bentuk buah yang besar (B)
dan pohon kedua rasa buah asam (a), bentuk buah yang kecil (b).
8. Dan lakukan backcross pada persilangan dihibrid.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

1. Data kelompok 1

Melakukan Persilangan Pada dua pohon mangga Rasa Buah dan Bentuk Buah

Keterangan : Rasa Buah Manis (A) Rasa Buah Asam (a)

Bentuk Buah Besar (B) Bentuk Buah Kecil (b)

a) Monohibrid

P1: AA X aa

(Rasa Buah Manis) (Rasa Buah Asam)

G1 : A a

F1 : Aa 100 % Manis

P2: Aa X Aa

(Rasa Buah Manis) (Rasa Buah Manis)

G 2: A A

a a

F 2 : BB (Manis), Bb (Manis), Bb (Manis), bb (Asam)

Fenotip A a
Genotip
A AA Aa
A Aa Aa

Perbandingan Fenotip : 3 Manis : 2 Asem

Perbandingan Genotip : 1 AA : 2 Aa : 1 aa

b) Backcross

P1 : Aa X AA

(Rasa Buah Manis) (Rasa Buah Manis)


G : A A

a A

F : AA,AA,Aa,Aa (Manis)

Perbandingan Fenotipe : 4 (manis)

Perbandingan Genotipe : 2 AA : 2 Aa

c) Dihibrid

P1 : AABB x aabb

(Manis Besar) (Kecil Asam)

G1 : AB x ab

F1 : AaBa = 100% Manis Besar

P2 : AaBb x AaBb

AB Ab aB ab
AB AABB AaBb AaBB AaBb
Ab AABb AAbb AaBb Aabb
aB AaBB AaBb aaBB aaBb
ab AaBb Aabb aaBb aabb

R.Genotipe: AABB: AABb: AaBB: AAbb : AaBb : Aabb: aaBB: aaBb : aabb

1: 2: 2: 1: 4: 2: 1: 2: 1

F. Fenotipe: 9 :3 :3 :1

Manis manis asam asam

Besar kecil besar kecil

d) Backcross Dihibrid

 Persilangan induk dominan

F1 : AaBb
P : AaBb x AABB
AB Ab aB ab
AB AABB AABb AaBB AaBb
AB AABB AABb AaBB AaBb

RG : AABB, AABb, AaBB, AaBb


1: 1 : 1: 1
RF : 100% manis besar

 Persilangan induk resesif

P : AaBb x aabb
AB Ab ab ab
ab AaBb Aabb aabb aabb
ab AaBb Aabb aabb aabb
RG : AaBb, Aabb, aaBb, aabb
1:1:1:1
RF: 25% manis besar
25% manis kecil
25% asam besar
25% asam kecil

2. Data Kelompok 2

 MONOHIBRID

Diketahui : Pohon mangga tinggi ( AA )


Pohon mangga pendek ( aa )

P1 : AA x aa
( tinggi ) x ( pendek )

G1 : A a

F1 : Aa

P2 : Aa x Aa
G2 : A,a x A,a

F2 :
A a
A AA Aa
a Aa aa

Perbandingan Fenotipe = 3 : 1
(tinggi) : (pendek)

Perbandingan Genotipe = 1 : 2 : 1
(AA) : (Aa) : (aa)

BACKCROSS

F1 : Aa (tinggi)

P: Aa x AA
( tinggi ) x ( tinggi )

G: A A

A A

F: AA , AA , Aa , Aa

Perbandingan Fenotipe = 4 ( tinggi )

Perbandingan Genotipe = 2AA : 2Aa

 DIHIBRID
Diketahui : Mangga besar manis : AABB
Mangga kecil asam : aabb

P1 : AABB x aabb

G1 : AB ab

F1: Aa Bb

G2 : AB Ab aB ab

F2 :
AB Ab aB Ab
AB AABB AABb AaBB AaBb
Ab AABb AAbb AaBb Aabb
aB AaBB AaBb aaBB aaBb
ab AaBb Aabb aaBb Aabb

Perbandingan fenotipe = 9 : 3 : 3 : 1

(besar manis ) : (besar asam) : (kecil manis) : (kecil asam)

Perbandingan genotipe =AABB :AaBB :AaBb :AABb :aaBB :aaBb :AAbb :Aabb :aabb

1 : 2 : 2 : 4 : 1 : 2 : 1 : 2 : 1

BACKROSS

F1: AaBb ( besar manis )

P: AaBb x AABB
( besar manis ) x ( besar manis )

G: AaBb AB

F: AB
AB AABB
Ab AABb
aB AaBB
ab AaBb
Perbandingan Fenotipe : 4 (besar manis )

Perbandingan Genotipe : AABB : AABb : AaBB : AaBb


1 : 1 : 1 : 1

3. Data Kelompok 3

 Persilangan monohibrid
P1= TT x tt
(tinggi) (pendek)
G1= T t
F1= Tt→ ket: tinggi dominan terhadap pendek
(tinggi)
P2= Tt x Tt
(tinggi) (tinggi)

G2= T T

T t
F2= TT (tinggi), Tt (tinggi), Tt(tinggi), Tt(tinggi), tt (pendek)
Perbandingan fenotipe: 3 (tinggi) : 1 (pendek)
Perbandingan genotipe: TT : Tt : tt
1:2:1
o Backcross
F2= Tt (tinggi)
Beckcrossnya:
P= Tt x TT
(tinggi) (tinggi)

G= T T

t T
F= TT, TT, Tt, Tt (tinggi)
Perbandingan fenotipe: 4 tinggi
Perbandingan genotipe: TT : Tt
2: 2
 Persilangan dihibrid
P1= TTBB x ttbb
G1= TB tb
F1= TtBb= 100% tinggi besar
P2= TtBb x TtBb
G2= TB TB
Tb Tb
tB tB
tb tb

F2=

♀/♂ TB Tb tB tb

TB TTBB TTBb TtBB TtBb


Tb TTBb TTbb TtBb Ttbb
tB TtBB TtBb ttBB ttBb
tb TtBb Ttbb ttBb ttbb
Rasio fenotipe: tinggi besar : tinggi kecil : pendek besar : pendek kecil
9 :3 : 3 : 1
Rasio genotipe: TTBB : TTBb : TtBB : TTbb : Ttbb : ttBB : ttBb : ttbb
1: 2 :4 :1 :1 :1 :1 :1
o Backcross
P= TtBb x TTBB
G= TB, Tb
tB, tb TB
F=

♀/♂ TB Tb tB tb

TB TTBB TTBb TtBB TtBb


Perbandingan genotipe: TTBB : TTBb : TtBB : TtBb
1:1 :1 :1
Perbandingan fenotipe: 100% tinggi besar (TB)
4. Data Kelompok 4

a) Monohibrid

P1: MM X mm

( Manis) ( Asam)

G1 : M m

F1 : Mm 100 % Manis

P2: Mm X Mm

(Manis) (Manis)

G 2: M M

m m

F 2 : MM (Manis), Mm (Manis), Mm (Manis), bb (Asam)

Fenotip M m
Genotip
M MM Mm
M Mm mm
Perbandingan Fenotip : 3 Manis : 1 Asem

Perbandingan Genotip : 1 MM : 2 Mm : 1 mm

b) Backcross

P1 : Mm X Mm

(Manis) (Manis)

G : A A

a A

F : MM,MM,Mm,Mm (Manis)

Perbandingan Fenotipe : 4 (manis)

Perbandingan Genotipe : 2 MM : 2 Ma

c) Dihibrid
P1 : MMBB x mmbb

(Manis Besar) (Kecil Asam)

G1 : MB x mb

F1 : MmBa = 100% Manis Besar

P2 : MmBb x MmBb

MB Mb mB mb
MB MMBB MMBb MmBB MmBb
Mb MMBb MMbb MmBb Mmbb
mB MmBB MmBb mmBB mmBb
Mb MmBb Mmbb mmBb aabb

R.Genotipe: MMBB: MMBb: MmBB: MMbb : MmBb: Mmbb: mmBB: mmBb : mmbb

1: 2: 2: 1: 4: 2: 1: 2: 1

F. Fenotipe: 9 :3 :3 :1

Manis manis asam asam

Besar kecil besar kecil


d) Backcross Dihibrid

 Persilangan induk dominan

F1 : MmBb
P : MmBb x MMBB

MB Mb aB ab
MB MMBB MMBb MmBB MmBb
MB MMBB MMBb MmBB MmBb

RG : MMBB, MMBb, MmBB, MmBb


1: 1 : 1: 1
RF : 100% manis besar
5. Data Kelompok 5
 Persilangan Monohibrid Pohon Jeruk Nipis
Berdaun lebar ( LL ) = Homozigot Dominan
Berdaun kecil ( ll ) = Homozigot Resesif
P1 = LL (lebar) x ll (kecil)
G1 = L l
F1 = Ll ( heterozigot ) = 100% lebar
P2 = Ll (lebar) x Ll (lebar)
G2 = L, l L, l
F2 = L l
L LL Ll
l Ll ll

Perbandingan fenotipe = 3 berdaun lebar : 1 berdaun kecil


Perbandingan genotype = 1 LL : 2 Ll : 1 ll
 Backcross Monohibrid
P = Ll (lebar) x LL (lebar)
G= L,l L
F =
L
L LL
100% Berdaun lebar
l Ll

Perbandingan fenotipe = 4 lebar


Perbandingan genotipe = 2 LL : 1 LL

 Persilangan Dihibrid Pohon Jeruk Nipis


Berdaun lebar berwarna hijau (LLHH) = dominan
Berdaun kecil berwarna kuning (llhh) = resesif

P1 = LLHH (lebar hijau) x llhh (kecil kuning)


G1 = LH lh
F1 = LlHh = 100% lebar hijau
P2 = LlHh (lebar hijau) x LlHh (lebar hijau)
G2 = LH, Lh , lH , lh LH , Lh , lH, lh
F2 = LH Lh lH lh
LH LLHH LLHh LlHH LlHh
Lh LLHh LLhh LlHh Llhh
lH LlHH LlHh llHH llHh
lh LlHh Llhh llHh llhh

Perbandingan genotip : 1 LLHH : 2 LlHH: 2 LLHh : 4 LlHh : 1 LLhh :


2 Llhh: 1 llHH : 2 llHh : 1 llhh
Perbandingan fenotipe : 9 lebar hijau : 3 lebar kuning : 3 kecil hijau : 1 kecil kuning
Perbandingan genotipe : 9 (L-H-) : 3 (L-hh) : 3 (llh-) : 1 (llhh)

 Backcross Dihibrid
P = LlHh (lebar hijau) x LLHH (lebar hijau)
G = LH,Lh,lH,lh LH
F =
LH
LH LLHH
100% lebar hijau
Lh LLHh
lH LlHH
lh LlHh

Perbandingan fenotipe : 4 lebar hijau


Perbandingan genotipe : 1 LLHH : 1 LLHh : 1 LlHH : 1 LlHh
6. Data Kelompok 6
 Persilangan monohibrid (Hk. Mendel I)

♀ ♂

P1 KK x kk

G1 K k

F1 Kk (heterozigot) → 100% kuning

♀ ♂

P2 Kk x Kk

G2 Kk Kk

F2 K- KK

k- Kk

K- Kk

k- kk

atau dengan cara

♀/♂ K k

K KK Kk
K Kk kk
Perbandingan fenotipe= 3 kuning : 1 hijau

Perbandingan genotipe= 1 KK : 2 Kk : 1 kk

o Backcross dari F1

F1 ♀

P Kk x KK

G Kk K
F

K
K KK
= 100% kuning
K Kk

 Persilangan dihibrid (Hk. Mendel II)

Kuning (KK) tetua ♂ kuning lonjong

Hijau (kk) KKLL= dominan


Lonjong (LL)
Bulat (ll) tetua ♀ hijau bulat
kkll= resesif

P1 KKLL x kkll
G1 KL kl
F1 KkLk→ 100% kuning lonjong

P2 KkLl x KkLl
G2 KL Kl
Kl Kl
kL kL
kL kl
F2
KL Kl kL Kl
KL KKLL KKLl KkLl KkLl
Kl KKLl KKll KkLl Kkll
kL KkLL KkLl kkLL kkLl
kl KkLl Kkll kkLl Kkll
Perbandingan genotipe
1 KKLL : 2 KKLl : 1 KKll : 2 KkLL : 4 KkLl : 2 Kkll : 1 kkLL : 2 kkLl : 1 kkll
Perbandingan fenotipe
Kuning lonjong (K_L_): 9
Kuning bulat (K_ll): 3
Hijau lonjong (kkL_): 3
Hijau bulat (kkll): 1

Backcross dari F2
F1
P KkLl x KKLL
G KL KL
KL
kL
kl
F
KL
KL KKLL
Kl KKLl 100% kuning lonjong
kL KkLL
Kl KkLl

4.2 Pembahasan

Persilangan monohybrid adalah persilangan dengan satu sifat beda. Persilangan monohybrid
dilakukan Mendel pada tanaman ercis. Persilangan yang dilakukan Mendel tersebut untuk membuktikan
teorinya yang kemudian disebut Hukum Mendel I.

Praktikum kali ini dilakukan percobaan untuk menentukan suatu hipotesis signifikan atau tidak
signifikan dalam suatu percbaan, yaitu dengan melakukan persilangan monohybrid antara buah mangga
manis dan buah mangga asam. Dari hasil persilangan yang kami lakukan hipotesis tesebut signifikan atau
hasil pengujian sesuai dengan Hukum Mendel I. Dari data yang kami dapatkan pada persilangan
monohybrid mangga manis (AA) disilangkan dengan mangga asam (aa) menghasilkan F1 yaitu 100%
manis (Aa). Pada G2, menyilangkan Aa dengan Aa. Lalu pada F2 menghasilkan AA (manis), Aa (manis),
Aa (manis), aa (asam). Terbentuklah perbandingan fenotipe : 3 manis: 1 asam dan perbandingan genotype:
1AA : 2Aa : 1aa. Maka dapat ditarik kesimpulan, percobaan kami sesuai dengan Hukum Mendel I.
Selanjutnya kami melakukan persilangan backcross dengan menyilangkan keturunan F1 dengan tetua
dominannya.
Dengan menghasilkan:
perbandingan fenotipe: AA, AA, Aa, Aa= manis
perbandingan genotipe 2 AA: 2 Aa.

Persilangan backcross kedua dengan menyiangkan keturunan F1 dengan tetua resesifnya.


Dengan menghasilkan:
Perbandingan fenotipe: 2manis, 2asam
Perbandingan genotip: 1Aa : 1aa
Melalui silang balik yang dilakukan berulang-ulang, memungkinkan terjadinya pemisahan gen-gen tertentu
yang terletak pada satu kromosom sebagai akibat berlangsungnya peristiwa pindah silang.

Pada percobaan selanjutnya untuk menentukan hipotesis signifikan atau tidak signifikan dalam suatu
percobaan, yaitu dengan melakukan ersilangan dihybrid antara dua sifat rasa dan ukuran. Dari data yang
kami dapatkan pada persilangan dihybrid mangga manis besar (AABB) disilangkan dengan mangga asam
kecil (aabb) menghasilkan F1 yaitu 100% manis besar (AaBb). Pada P2, menyilangkan AaBb dengan
AaBb. Lalu didapatkan G2 menghasilkan AABB, AABb, AaBB, AAbb, AaBb, Aabb, aaBB, aaBb, aabb
dengan F2 yaitu 9 (Manis besar): 3(Manis kecil) : 3(Asam Besar) : 1 (asam kecil).

Maka dapat ditarik kesimpulan, percobaan kami sesuai dengan Hukum Mendel II.
Selanjutnya kami melakukan persilangan backcross dengan menyilangkan keturunan F1 dengan tetua
dominannya.
Dengan menghasilkan:
perbandingan fenotipe: 100% manis besar
perbandingan genotype: 1AABB: 1AABb :1AaBB : 1AaBb

Persilangan backcross kedua dengan menyilangkan keturunan F1 dengan tetua resesifnya.


Dengan menghasilkan:
Perbandingan fenotipe: 25% manis besar, 25% manis kecil, 25% asam besar, 25% asam kecil
Perbandingan genotip: 1AaBb : 1 Aabb : 1aaBb : 1aabb
Melalui backcross yang dilakukan berulang-ulang, memungkinkan terjadinya pemisahan gen-gen tertentu
yang terletak pada satu kromosom sebagai akibat berlangsungnya peristiwa pindah silang.

Berdasarkan hasil dari setiap kelompok dapat di simpulkan bahwa hasil persilangan Monohibrid,
Dihybrid, dan Backcross sesuia dengan Hipotesis Hukum mendel I dan II dan setiap kelompok yang ada
melakukan persilangan yang sama sehingga tidak ada perbedaan dari hasil persilangan yang ada.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Hasil perhitungan pada setiap persilangan sesuai dengan bunyi hukum mendel. Pada proses persilangan
akan dihasilkan gen yang bersifat dominan, intermediat dan resesif. Dominan merupakan sifat dominan yang
paling banyak muncul atau sifat yang menutupi, intermediat adalah sifat yang akan tampak dan merupakan
campuran dari dua sifat, sedangkan resesif adalah sifat yang tidak muncul dalam keturunannya karena terkalahkan
atau tertutupi oleh kemunculan sifat sejenis dari individu lain dalam persilangan.

1. Hasil yang diperoleh dari persilangan monohibrid sesuai dengan bunyi Hukum Mendel I.

2. Hasil yng diperoleh dari persilangan dihibrid sesuai dengan bunyi hokum Mendel II. Namun, hasil persilangan
tidaklah selalu sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh hukum Mendel, karena dalam persilangan dilakukan
pembulatan dalam penjumlahan.

3. Hukum Mendel memang nyata dan penyimpangan yang terjadi bukanlah penyimpangan yang nyata melainkan
penyimpangan yang semu karena masih mengikuti hukum Mendel

5.2 Saran

Hendaknya dalam praktikum ini dilakukan dengan baik agar dalam perhitungan tidak terjadi kesalahan.
Seharusnya pengamatan tersebut dilakukan langsung dilapangan, agar tidak melakukan pesilangan berdasarkan
pemikiran tetapi berdasarkan pengamatan langsung dilapangan. Dan rata rata dari setiap kelompok melakukan
persilangan yang sama hanya membedakan pada huruf perlakuan saja. Asisten dosen seharusnya melakukan
pemeriksaan ACC dengan teliti agar tidak banyak kelompok yang melakukan persilangan yang sama.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Genetika Dan Hukum Mendel, dalam http://staff.unila.ac.id/gnugroho /files/2012/09/Genetika-dan-


Hukum-Mendel.pdf, diakses pada 27 November 2019

Listiana. 2016. Jurnal Genetika Penyimpangan Hukum Mendel, dalam


https://www.academia.edu/35819823/JURNAL_GENETIKA_PENYIMPANGAN_HUKUM_MEND
EL?auto=download, diakses pada 27 November 2019
LAMPIRAN