Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Di Indonesia terdapat banyak badan hukum maupun badan tidak berbadan hukum
yang memberikan kontribusi cukup besar dalam pembangunan Indonesia, seperti PT,
CV, firma, koperasi, dan lain-lain. Namun, ada beberapa badan hukum yang saat ini
kurang mendapat perhatian di mata masyarakat, salah satunya yaitu koperasi.
Saat ini, beberapa orang tampaknya percaya bahwa koperasi itu tidak berguna
untuk dibicarakan. Mereka berpikir bahwa hanya UUD 1945 pasal 33 dan Undang-
Undang Perkoperasian yang harus mereka ketahui. Sebagian lainnya tampak
menekankan pada apa yang menjadi prinsip-prinsip koperasi dan beberapa sumber lain
membahas tentang tugas-tugas untuk memodernisasikan prinsip-prinsip dasar yang
berakar dari abad ke-19.1
Koperasi di negara-negara yang sedang berkembang, pada umunya tidak memiliki
kesempatan untuk tumbuh secara bertahap serta meningkatkan efisien ekonominya agar
sejajar dengan para pesaing swasta utama (lembaga) serta ekonomi pemerintah lainnya.
Koperasi harus mampu bersaing pada dunia yang sedang berubah cepat. Demikian juga
dengan koperasi-koperasi di Indonesia, tidak dapat mengelak dari kecenderungan ini.2
Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk sosial. Sifat dasar inilah
yang mendorong manusia untuk memperhatikan orang-orang disekitarnya. Hal inilah
yang mendorong munculnya pembentukan yayasan, dimana keberadaan yayasan
dianggap sebagai suatu jawaban atau jalan bagi mereka yang menginginkan suatu
wadah atau lembaga yang dapat menyalurkan keinginan mereka untuk melaksanakan
segala kegiatan yang pada dasarnya bersifat kedermawanan baik dalam sosial,
keagamaan, kemanusiaan, pendidikan, kesehatan dan sebagainya.
Yayasan dipandang sebagai bentuk ideal untuk mewujudkan keinginan manusia
dan karena keberadaannya dirasakan membawa manfaat positif dari sisi sosial
kemanusiaan. Hal ini disebabkan karena yayasan tidak semata-mata mengutamakan
profit atau mengejar mencari keuntungan atau penghasilan sebagaimana layaknya
badan usaha lainnya.
Namun saat ini, yayasan telah dipergunakan untuk tujuan-tujuan yang bukan untuk
tujuan sosial dan kemanusiaan, seperti untuk meperkaya diri sendiri atau organ
yayasan, menghindari pajak yang seharusnya dibayar, menguasai suatu lembaga
pendidikan untuk selama-lamanya, menembus birokrasi, memperoleh berbagai fasilitas
dari negara atau penguasa dan berbagai tujuan lainnya.3

1
Sri Djatnika, Ekonomi Koperasi, 2003, Jakarta:Salemba Empat, hal. 10
2
Ibid, hal. 2
3
Chatamarrasjid Ais, Badan Hukum Yayasan, 2006, Bandung:PT. Citra Aditya Bakti, hal. 1

1
Oleh karena itu, tim penulis merasa tertarik untuk mengangkat tema “Badan
Hukum Koperasi dan Yayasan” untuk membahas lebih rinci mengenai hal-hal yang
berkaitan dengan tema yang kami angkat.

1.2. Rumusan Masalah


1) Apa pengertian koperasi dan yayasan ?
2) Apa peran dan fungsi koperasi ?
3) Bagaimana keanggotaan koperasi ?
4) Bagaimana prosedur pendirian koperasi dan yayasan ?
5) Bagaimana struktur kepengurusan dalam koperasi dan yayasan ?
6) Bagaimana cara mendirikan koperasi dan yayasan ?
7) Bagaimana cara pembubaran koperasi dan yayasan ?

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Koperasi
2.1.1. Pengertian Koperasi
Koperasi berasal dari kata “co” dan “operation” yang mengandung arti
bekerja sama untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, secara umum koperasi dapat
diartikan sebagai suatu perkumpulan yang beranggotakan orang-orang atau badan-
badan yang memberikan kebebasan untuk masuk dan keluar menjadi anggota,
dengan kerjasama secara kekeluargaan menjalankan usaha, untuk mempertinggi
kesejahteraan anggotanya.4
Koperasi diatur dalam UU No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian sebagai
pengganti UU No. 12 Tahun 1967. Dalam Pasal 1 angka 1 UU Perkoperasian
dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan koperasi adalah:
“Badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi
yang melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus
sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan.”
Dengan pengertian diatas jelas bahwa koperasi harus berbadan hukum.
Caranya untuk memperoleh badan hukum ini adalah akta pendirian koperasi
tersebut harus disahkan oleh pemerintah, yang kemudian akta pendiriannya itu
harus diumumkan dalam Tambahan Berita Negara (Pasal 9 sampai dengan 14 UU
No. 25 Tahun 1992).

2.1.2 Jenis-Jenis Koperasi


Jenis-jenis koperasi dibagi menjadi 2 (dua) yaitu jenis koperasi berdasarkan
usaha dan keanggotaanya. Jika dilihat dari berdasarkan usaha dapat dibagi menjadi
Koperasi Konsumen, Koperasi Produsen, Koperasi Jasa dan Koperasi Simpan
Pinjam. Jika dilihat berdasarkan keanggotaannya yaitu Koperasi Fungsional dan
Koperasi non Fungsional, Koperasi Fungsional disini seperti Koperasi Pegawai
Negeri, Koperasi TNI, Koperasi Pasar (KOPPAS), Koperasi Unit Desa (KUD), dan
Koperasi Sekolah.

2.1.2. Fungsi dan Peran Koperasi


Koperasi sebagai suatu organisasi atau badan usaha dibidang bisnis yang
berdasarkan atas asas kekeluargaan/gotong royong memiliki fungsi dan peran
diantaranya (Pasal 4 UU No. 25 Tahun 1992):
1) Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota
pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan
kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.

4
Arifinal Chaniago, Perkoperasian Indonesia, 1979, Bandung:Angkasa, hal. 2

3
2) Berperan secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia
dan masyarakat.
3) Memperoleh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan
perekonomian nasional dengan koperasi sebagai sokogurunya.
4) Berusaha mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang
merupakan usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan dan
demokerasi ekonomi.

Dengan fungsi dan peran sebagaimana dikemukakan di atas, Koperasi harus


melaksanakan prinsip berikut ini:
a. Keanggotaan berisfat sukarela dan terbuka. Sifat kesukarelaan dalam
Keanggotaan Koperasi mengandung makna bahwa menjadi anggota Koperasi
tidak boleh dipaksakan siapapun. Sifat kesukarelaan juga mengandung
makna bahwa seorang anggota dapat mengundurkan diri dari Koperasinya
sesuai dengan syarat yang ditentukan dalam Anggaran Dasar Koperasi.
Sedangkan sifat terbuka memiliki arti bahwa dalam keanggotaan tidak
dilakukan pembatasan atau diskriminasi dalam bentuk apapun.
b. Pengelolaan dilakukan secara demokratis. Prinsip demokrasi menunjukkan
bahwa pengelolaan Koperasi dilakukan atas kehendak dan keputusan para
anggota. Para anggota itulah yang memegang dan melaksanakan tertinggi
dalam Koperasi.
c. Pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya
jasa usaha masing-masing anggota.
d. Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal.
e. Kemandirian. Kemandirian mengandung pengertian dapat berdiri sendiri,
tanpa tergantung pada pihak lain yang dilandasi oleh kepercayaan kepada
pertimbangan, keputusan, kemampuan dan usaha sendiri. Dalam kemandirian
terkandung pula pengertian kebebasan yang bertanggung jawab, otonomi,
swadaya, berani mempertanggungjawabkan perbuatan sendiri, dan kehendak
untuk mengelola diri sendiri.

Koperasi juga melaksanakan dua prinsip Koperasi yang lain yaitu pendidikan
perkoperasian dan kerjasama antar Koperasi merupakan prinsip Koperasi yang
penting dalam meningkatkan kemampuan, memperluas wawasan anggota, dan
memperkuat solidaritas dalam mewujudkan tujuan Koperasi. Kerja sama dimaksud
dapat dilakukan antar Koperasi ditingkat lokal, regional, nasional dan
internasional.

2.1.3. Tata Cara Pendirian Koperasi


1) Rapat pembentukan
Rapat pembentukan koperasi hanya bisa dilakukan oleh minimal dua
puluh orang calon anggota. Dalam rapat pembentukan yang perlu diputuskan
adalah akta pendirian dan anggaran dasar.

4
Anggaran dasar sekurang-kurangnya harus memuat:
a. Daftar nama pendiri;
b. Nama dan tempat kedudukan;
c. Maksud dan tujuan serta bidang usaha;
d. Ketentuan mengenai keanggotan;
e. Ketentuan mengenai rapat anggota;
f. Ketentuan mengenai pengelolaan;
g. Ketentuan mengenai permodalan;
h. Ketentuan mengenai jangka waktu berdirinya;
i. Ketentuan mengenai pembagian sisa hasil usaha;
j. Ketentuan mengenai sanksi

2) Permohonan pengesahaan
Permohonan pengesahaan harus dilakukan secara tertulis oleh para
pendiri kepada pemerintah (Cq. Departemen yang membina Koperasi,
sekarang Menteri Koperasi dan UKM), dengan melampirkan:
a) berita acara rapat pembentukan;
b) akta pendirian;
c) anggaran dasar.
Pengesahan harus sudah dilakukan oleh pemerintah paling lambat tiga
bulan sejak permohonan diterima dengan mengumumkannya dalam Berita
Negara Republik Indonesia.

2.1.4. Keanggotaan
Anggota Koperasi adalah pemilik dan sekaligus pengguna jasa Koperasi.
Keanggotaan Koperasi dicatat dalam buku daftar angota. Yang dapat menjadi
anggota Koperasi ialah setiap warga negara Indonesia yang mampu
melakukan tindakan hukum atau Koperasi yang memenuhi persyaratan
sebagaimana ditetapkan dalam Anggaran Dasar. Keanggotaan Koperasi didasarkan
pada kesamaan kepentingan ekonomi dalam lingkup usaha Koperasi.
Keanggotaan Koperasi dapat diperoleh atau diakhiri setelah syarat
sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dipenuhi. Keanggotaan Koperasi tidak
dapat dipindahtangankan. Keanggotaan Koperasi pada dasarnya tidak dapat
dipindah-tangankan karena persyaratan untuk menjadi anggota Koperasi adalah
kepentingan ekonomi yang melekat pada anggota yang bersangkutan, dalam hal
anggota Koperasi meninggal dunia, keaanggotaannya dapat diteruskan oleh ahli
waris yang memenuhi syarat dalam Anggaran Dasar. Hal ini dimaksudkan untuk
memelihara kepentingan ahli waris dan mempermudah proses mereka untuk
menjadi anggota.
Selain itu, yang dapat menjadi anggota Koperasi Primer adalah orang-
seorang yang telah mampu melakukan tindakan hukum dan memenuhi persyaratan
yang ditetapkan oleh Koperasi yang bersangkutan. Hal ini dimaksudkan sebagai
konsekuensi Koperasi sebagai badan hukum. Namun demikian khusus bagi pelajar,
siswa dan/atau yang dipersamakan dan dianggap belum mampu melakukan
tindakan hukum dapat membentuk Koperasi, tetapi Koperasi tersebut tidak
disahkan sebagai Badan Hukum dan statusnya hanya Koperasi tercatat.

5
Koperasi dapat memiliki anggota luar biasa yang persyaratan, hak, dan
kewajiban keanggotaannya ditetapkan dalam Anggaran Dasar. Dalam hal terdapat
orang yang ingin mendapat pelayanan dan menjadi anggota Koperasi, namun tidak
sepenuhnya dapat memenuhi persyaratan sebagaimana ditetapkan dalam Anggaran
Dasar, mereka dapat diterima sebagai anggota luar biasa. Ketentuan ini memberi
peluang bagi penduduk Indonesia bukan warga negara dapat menjadi anggota luar
biasa dari suatu Koperasi sepanjang memenuhi ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Setiap anggota mempunyai kewajiban dan hak yang sama terhadap Koperasi
sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar.
Setiap anggota mempunyai kewajiban :
a. Mematuhi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta keputusan
yang telah disepakati dalam Rapat Anggota;
b. Berpartisipasi dalam kegiatan usaha yang diselenggarakan oleh Koperasi;
c. Mengembangkan dan memelihara kebersamaan berdasar atas asas
kekeluargaan.

Setiap anggota mempunyai hak :


a. Menghadiri, menyatakan pendapat, dan memberikan suara dalam Rapat
Anggota;
b. Memilih dan/atau dipilih menjadi anggota Pengurus atau Pengawas;
c. Meminta diadakan Rapat Anggota menurut ketentuan dalam Anggaran
Dasar;
d. Mengemukakan pendapat atau saran kepada Pengurus di luar Rapat Anggota
baik diminta maupun tidak diminta;
e. Memanfaatkan Koperasi dan mendapat pelayanan yang sama antara sesama
anggota;
f. Mendapatkan keterangan mengenai perkembangan Koperasi menurut
ketentuan dalam Anggaran Dasar.

Sebagai konsekuensi seseorang menjadi anggota Koperasi, maka anggota


mempunyai kewajiban yang harus dipenuhi, yaitu mematuhi ketentuan yang ada
dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta keputusan yang telah
disepakati dalam Rapat Anggota. Mengingat anggota adalah pemilik dan pengguna
jasa sangat berkepentingan dalam usaha yang dijalankan oleh Koperasi, maka
partisipasi anggota berarti pula untuk mengembangkan usaha Koperasi. Hal itu
sejalan pula dengan hak anggota untuk memanfaatkan dan mendapat pelayanan
dari Koperasinya. Anggota merupakan faktor penentu dalam kehidupan Koperasi,
oleh karena itu penting bagi anggota untuk mengembangkan dan memelihara
kebersamaan.

6
2.1.5. Perangkat Organisasi Koperasi
Menurut ketentuan Pasal 21 UU No. 25 Tahun 1992, perangkat organisasi
Koperasi terdiri dari sebagai berikut.
1) Rapat Anggota
Rapat anggota koperasi merupakan pemegang kekuasaan tertinggi
dalam pengelolaan koperasi, yang mempunyai kewenangan menetapkan:
a) Anggaran dasar;
b) Kebijaksanaan umum di bidang organisasi, manajemen, dan usaha
koperasi;
c) Pemilihan, pengangkatan, pemberhentian pengurus, dan pengawas;
d) Rencana kerja, rencana anggaran dan pendapatan dan belanja koperasi,
serta laporan pengesahan keuangan;
e) Pengesahan, pertanggungjawaban pengurus dalam pelaksanaan
tugasnya;
f) Pembagian sisa hasil usaha; dan
g) Penggabungan, peleburan, pembagian dan pembubaran koperasi (Pasal
23 UU No. 25 Tahun 1992).

Rapat anggota harus dilaksanakan paling sedikit satu kali dalam


setahun. Keputusan rapat anggota diambil berdasarkan musyawarah mufakat.
Apabila tidak tercapai keputusan dengan cara ini,keputusan tersebut dapat
diambil dengan suara terbanyak melalui suatu pemungutan suara.
Pemungutan suara yang dimaksud ayat ini dilakukan hanya oleh anggota
yang hadir.
Selain Rapat Anggota, Koperasi dapat melakukan Rapat
Anggota Luar Biasa apabila keadaan mengharuskan adanya keputusan segera
yang wewenangnya ada pada Rapat Anggota. Rapat Anggota Luar Biasa
diadakan apabila sangat diperlukan dan tidak bisa menunggu
diselenggarakannya Rapat Anggota. Rapat Anggota Luar Biasa dapat
diadakan atas permintaan sejumlah anggota Koperasi dan atau keputusan
Pengurus yang pelaksanaannya diatur dalam Anggaran Dasar.
Permintaan Rapat Anggota Luar Biasa oleh anggota dapat dilakukan
karena berbagai alasan, terutama apabila anggota menilai bahwa Pengurus
telah melakukan kegiatan yang bertentangan dengan kepentingan Koperasi
dan menimbulkan kerugian terhadap Koperasi. Jika permintaan tersebut telah
dilakukan sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar, maka Pengurus harus
memenuhinya. Rapat Anggota Luar Biasa atas keputusan Pengurus
dilaksanakan untuk kepentingan pengembangan Koperasi. Rapat Anggota
Luar Biasa mempunyai wewenang yang sama dengan wewenang Rapat
Anggota.

2) Pengurus Koperasi
Menurut ketentuan Pasal 29 UU No. 25 Tahun 1992, pengurus dipilih
dari dan oleh anggota koperasi dalam rapat anggota. Masa jabatan pengurus
paling lama 5 tahun. Dalam tahap pertama, susunan dan nama pengurus
dicantumkan dalam akta pendirian.

7
Pengurus koperasi bertugas:
a) Mengelola koperasi dan usahanya;
b) Mengajukan rancangan rencana anggran pendapatan dan belanja
koperasi;
c) Menyelenggarakan rapat anggota;
d) Mengajukan laporan keuangan dan pertanggung jawaban pelaksaan
tugas; dan
e) Memelihara daftar buku anggota dan pengurus

Sementara kewenangan pengurus adalah:


a) Mewakili koperasi di dalam dan di luar pengadilan;
b) Memutuskan penerimaan dan penolakan anggot baru serta
pemberhentian anggota sesuai dengan ketentuan dalam anggaran dasar;
c) Melakukan tindakan dan upaya bagi kepentingan dan kemanfaatan
kopeerasi sesuai dengan tanggung jawabnya dan keputusan rapat
anggota.
Untuk kepentingan pengelolaan koperasi, pengurus dapat mengangkat
pengelola yang diberi wewenang dan kuasa untuk mengelola usaha.
Ketentuan ini dimaksudkan untuk mewujudkan profesionalisme dalam
pengelolaan usaha Koperasi. Karenanya, Pengurus dapat mengangkat tenaga
Pengelola yang ahli untuk mengelola usaha Koperasi yang bersangkutan.
Penggunaan istilah Pengelola dimaksudkan untuk dapat mencakup
pengertian yang lebih luas dan memberi alternatif bagi Koperasi. Dengan
demikian sesuai kepentingannya Koperasi dapat mengangkat Pengelola
sebagai manajer atau direksi. Maksud dari kata diberi wewenang dan kuasa
adalah pelimpahan wewenang dan kuasa yang dimiliki oleh Pengurus.
Dengan demikian Pengurus tidak lagi melaksanakan sendiri wewenang
dan kuasa yang telah dilimpahkan kepada Pengelola dan tugas Pengurus
beralih menjadi mengawasi pelaksanaan wewenang dan kuasa yang
dilakukan Pengelola. Adapun besarnya wewenang dan kuasa yang
dilimpahkan ditentukan sesuai dengan kepentingan Koperasi. Dalam hal
yang demikian, pengurus harus mendapat persetujuan rapat anggota.
Pengelola bertanggung jawab kepada pengurus tanpa mengurangi tanggung
jawab pengurus itu sendiri. Hubungan hukum antara pengurus dengan
pengelola adalah hubungan kerja sebagaimana ketentuan Hukum
Ketenagakerjaan.

3) Pengawas
Sebagaimana halnya pengurus, pengawas juga dipilih dari dan oleh
anggota, dengan tugas-tugas antara lain:
a) Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijaksaan dan
pengelolaan koperasi;
b) Membuat laporan tertulis tentang hasil pengawasan.

8
Dalam rangka melaksaan tugas tersebut, pengawas berwenang untuk
meneliti catatan yang ada pada koperasi, mendapatkan keterangan yang
diperlukan, dan merahasiakan hasil pengawasannya pada pihak ketiga.

2.1.6. Modal dan Sisa Hasil Usaha Koperasi


Modal dalam Koperasi pada dasarnya dipergunakan untuk kemanfaatan
anggota dan bukan untuk sekedar mencari keuntungan. Oleh karena itu balas jasa
terhadap modal yang diberikan kepada para anggota juga terbatas, dan tidak
didasarkan semata-mata atas besarnya modal yang diberikan. Yang dimaksud
dengan terbatas adalah wajar dalam arti tidak melebihi suku bunga yang berlaku
dipasar.
Modal koperasi terdiri dari modal sendiri dan modal pinjaman. Modal sendiri
adalah modal yang menanggung resiko atau disebut modal ekutif. Modal sendiri
dapat berasal dari :
1) Simpanan pokok. Simpanan pokok adalah sejumlah uang yang sama
banyaknya yang wajib dibayarkan oleh anggota kepada Koperasi pada saat
masuk menjadi anggota. Simpanan pokok tidak dapat diambil kembali
selama yang bersangkutan masih menjadi anggota.
2) Simpanan wajib. Simpanan wajib adalah jumlah simpanan tertentu yang
tidak harus sama yang wajib dibayar oleh anggota kepada Koperasi dalam
waktu dan kesempatan tertentu. Simpanan wajib tidak dapat diambil kembali
selama yang bersangkutan masih menjadi anggota.
3) Dana cadangan. Dana cadangan adalah sejumlah uang yang diperoleh dari
penyisihan sisa hasil usaha, yang dimaksudkan untuk memupuk modal
sendiri dan untuk menutup kerugian Koperasi bila diperlukan.
4) Hibah

Sementara itu, modal pinjaman dapat berasal dari :


1) Anggota;
2) Koperasi lainnya dan/ atau anggotanya;
3) Bank dan lembaga keuangan lainnya;
4) Penerbitan obligasi dan surat utang lainnya;
5) Sumber lain yang sah.

Koperasi dapat pula melakukan pemupukan modal yang berasal dari modal
penyertaan. Pemupukan modal dari modal penyertaan, baik yang bersumber dari
Pemerintah maupun dari masyarakat dilaksanakan dalam rangka memperkuat
kegiatan usaha Koperasi terutama yang berbentuk investasi. Modal penyertaan ikut
menanggung resiko. Pemilik modal penyertaan tidak mempunyai hak suara dalam
Rapat Anggota dan dalam menentukan kebijaksanaan Koperasi secara keseluruhan.
Namun demikian, pemilik modal penyertaan dapat diikutsertakan dalam

9
pengelolaan dan pengawasan usaha investasi yang didukung oleh modal
penyertaannya sesuai dengan perjanjian.
Sisa hasil usaha koperasi merupakan pendapatan koperasi yang diperoleh
dalam satu tahun buku dikurangi dengan biaya, penyusutan, dan kewajiban lainnya
termasuk pajak dalam tahun buku yang bersangkutan. Sisa hasil usaha tersebut
setelah dikurang dana cadangan harus dibagikan kepada anggota sebanding dengan
jasa usaha yang dilakukan oleh masing-masing anggota koperasi, serta digunakan
untuk keperluan pendidikan perkoperasian, dan keperluan lain dari koperasi sesuai
dengan keputusan rapat anggota.
Pembagian sisa hasil usaha kepada anggota dilakukan tidak semata-mata
berdasarkan modal yang dimiliki seseorang dalam Koperasi tetapi juga berdasarkan
perimbangan jasa usaha anggota terhadap Koperasi. Ketentuan yang demikian ini
merupakan perwujudan nilai kekeluargaan dan keadilan.

2.1.7. Perbedaan Koperasi dengan Badan Usaha Lainnya


Perbedaan koperasi dengan bentuk badan usaha lainnya jika dibuat dalam
bentuk tabel adalah sebagai berikut.

Berdasarkan
Koperasi Badan Usaha Lain
Unsur
Orang-oorang yang tidak bermodal Tidak perlu banyak
sehingga untuk mendapatkan modal jumlahnya, karena masing-
1. Para Pihak
yang besar harus banyak masing mempunyai modal
anggotanya. yang besar.
Untuk kemakmuran bersama, yakni
2. Tujuan Untuk mencari keuntungan.
kebutuhan masing-masing anggota.
Dikumpulkan dari simpanan-
Terdiri atas masukan-masukan
simpanan, pinjaman-pinjaman,
para sekutu yang dilakukan
3. Modal penyisihan hasil usaha, termasuk
sekali saja dengan jumlah
dana cadangan, serta sumber lain
yang besar.
yang sah.
Pembagian hasil usaha (SHU)
dibagikan kepada semua anggota Pembagian hasil usaha atau
4. Pembagian sebanding dengan jasa usaha yang keuntungan akan dibagi
Hasil Usaha dilakukan oleh masing-masing sebanding dengan jumlah
anggota setelah dikurangi dengan pemasukan modal.
dana cadangan.

2.1.8. Pembubaran Koperasi


a) Cara Pembubaran Koperasi
Pembubaran Koperasi dapat dilakukan berdasarkan :
a. Keputusan Rapat Anggota, atau
b. Keputusan Pemerintah.

10
Keputusan pembubaran oleh Pemerintah dilakukan apabila :
a. Terdapat bukti bahwa Koperasi yang bersangkutan tidak memenuhi
ketentuan Undang-undang ini;
b. Kegiatannya bertentangan dengan ketertiban umum dan/atau
kesusilaan. Keputusan pembubaran karena alasan kegiatan Koperasi
bertentangan dengan ketertiban umum dan/atau kesusilaan dalam
ketentuan ini dilakukan apabila telah dibuktikan dengan keputusan
pengadilan. Keputusan pembubaran karena alasan kelangsungan
hidupnya tidak dapat lagi diharapkan, antara lain karena dinyatakan
pailit.
c. Kelangsungan hidupnya tidak dapat lagi diharapkan.

Keputusan pembubaran Koperasi oleh Pemerintah dikeluarkan dalam


waktu paling lambat 4 (empat) bulan terhitung sejak tanggal diterimanya
surat pemberitahuan rencana pembubaran tersebut oleh Koperasi yang
bersangkutan.
Dalam jangka waktu paling lambat 2 (dua) bulan sejak tanggal
penerimaan pemberitahuan, Koperasi yang bersangkutan berhak mengajukan
keberatan. Keputusan Pemerintah mengenai diterima atau ditolaknya
keberatan atas rencana pembubaran diberikan paling lambat 1 (satu) bulan
sejak tanggal diterimanya pernyataan keberatan tersebut.
Keputusan pembubaran Koperasi oleh Rapat Anggota diberitahukan
secara tertulis oleh Kuasa Rapat Anggota kepada:
a. Semua kreditor;
b. Pemerintah.

Pemberitahuan kepada semua kreditor dilakukan oleh Pemerintah,


dalam hal pembubaran tersebut berlangsung berdasarkan keputusan
Pemerintah. Selama pemberitahuan pembubaran Koperasi belum berlaku
baginya. Dalam pemberitahuan disebutkan :
a. Nama dan alamat Penyelesai, dan
b. Ketentuan bahwa semua kreditor dapat mengajukan tagihan dalam
jangka waktu (3) tiga bulan sesudah tanggal diterimanya surat
pemberitahuan pembubaran.

b) Penyelesaian
Penyelesaian dilakukan oleh penyelesaian pembubaran yang
selanjutnya disebut Penyelesai. Untuk penyelesaian berdasarkan keputusan
Rapat Anggota, Penyelesai ditunjuk oleh Rapat Anggota.
Untuk penyelesaian berdasarkan keputusan Pemerintah, Penyelesai
ditunjuk oleh Pemerintah. Selama dalam proses penyelesaian, Koperasi
tersebut tetap ada dengan sebutan ”Koperasi dalam penyelesaian”. Hal ini
menegaskan bahwa “Koperasi dalam penyelesaian”, hak dan kewajibannya
masih tetap ada untuk menyelesaikan seluruh urusannya.

Penyelesaian segera dilaksanakan setelah dikeluarkan keputusan


pembubaran Koperasi. Penyelesai bertanggung jawab kepada Kuasa Rapat

11
Anggota dalam hal Penyelesai ditunjuk oleh Rapat Anggota dan kepada
Pemerintah dalam hal Penyelesai ditunjuk oleh Pemerintah.

Penyelesai mempunyai hak, wewenang, dan kewajiban sebagai berikut:


a. Melakukan segala perbuatan hukum untuk dan atas nama ”Koperasi
dalam penyelesaian”.
b. Mengumpulkan segala keterangan yang diperlukan;
c. Memanggil pengurus, anggota dan bekas anggota tertentu yang
diperlukan, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama;
d. Memperoleh, memeriksa, dan menggunakan segala catatan dan arsip
Koperasi;
e. Menetapkan dan melaksanakan segala kewajiban pembayaran yang
didahulukan dari pembayaran hutang lainnya;
f. Menggunakan sisa kekayaan Koperasi untuk menyelesaikan sisa
kewajiban Koperasi;
g. Membagikan sisa hasil penyelesaian kepada anggota;
h. Membuat berita acara penyelesaian.

Dalam hal terjadi pembubaran Koperasi, anggota hanya menanggung


kerugian sebatas simpanan pokok, simpanan wajib dan modal penyertaan
yang dimilikinya.

c) Hapusnya Status Badan Hukum


Pemerintah mengumumkan pembubaran Koperasi dalam Berita Negara
Republik Indonesia. Status badan hukum Koperasi hapus sejak tanggal
pengumuman pembubaran Koperasi tersebut dalam Berita Negara Republik
Indonesia.

2.2. Yayasan
2.2.1 Pengertian Yayasan
Menurut UU No. 16 Tahun 2001, yayasan adalah badan hukum yang terdiri
atas kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu
di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan, yang tidak mempunyai anggota.
Dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan, diharapkan
Yayasan akan menjadi dasar hukum yang kuat dalam mengatur kehidupan Yayasan
di Indonesia, serta menjamin kepastian dan ketertiban hukum agar Yayasan
berfungsi sesuai dengan maksud dan tujuannya berdasarkan prinsip keterbukaan
dan akuntabilitas.5
Keterbukaan dan akuntabilitas pengelolaan yayasan memberikan persepsi
bahwa informasi pengelolaan dan kegiatan yayasan dapat diketahui segala pihak
yang berkepentingan sehingga masyarakat harus memiliki hak untuk mendapat
informasi secara jujur mengenai yayasan baik dari pihak yayasan maupun dari
pemerintah. Kedua prinsip tersebut secara langsung dapat membantu meningkatkan

5
Chatamarrasjid Ais, op.cit, hal. 2

12
profesionalisme yayasan karena masyarakat dapat langsung mengawasi program-
program kerja yayasan.
2.2.2. Pendirian Yayasan
a) Pendirian
Yayasan didirikan oleh satu orang atau lebih maupun badan hukum
dengan memisahkan sebagian harta kekayaan pendirinya, sebagai kekayaan
awal. Dasar pendirian yayasan ini dapat berupa kesepakatan para pendiri
untuk melakukan kegiatan sosial, keagamaan, dan kemanusiaan, ataupun
dapat berdasar kepada suatu surat wasiat. Proses pendirian yayasan tersebut
dilakukan dengan akta notaris, kecuali untuk pendirian yayasan oleh orang
asing atau bersama-sama dengan orang asing yang akan diatur lebih lanjut
dalam Peraturan Pemerintah.
Dalam pembuatan akta pendirian Yayasan, pendiri dapat diwakili oleh
orang lain berdasarkan surat kuasa. Apabila Yayasan didirikan menggunakan
surat wasiat, penerima wasiat bertindak mewakili pemberi wasiat. Dalam hal
surat wasiat tidak dilaksanakan, maka atas permintaan pihak yang
berkepentingan, Pengadilan dapat memerintahkan ahli waris atau penerima
wasiat yang bersangkutan untuk melaksanakan wasiat tersebut.

b) Pengesahan
Yayasan memperoleh status badan hukum setelah akta pendirian akta
pendirian yang dibuat oleh notaris memperoleh pengesahan dari Menteri.
Kewenangan Menteri dalam memberikan pengesahan akta pendirian
Yayasan sebagai badan hukum dilaksanakan oleh Kepala Kantor Wilayah
Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia atas nama Menteri, yang
wilayah kerjanya meliputi tempat kedudukan Yayasan.
Dalam memberikan pengesahan, Kepala Kantor Wilayah Departemen
Kehakiman dan Hak Asasi Manusia dapat meminta pertimbangan dari
instansi terkait. Pengesahan akta pendirian diajukan oleh pendiri atau
kuasanya dengan mengajukan permohonan tertulis kepada Menteri melalui
Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM.6 Pengesahan diberikan
dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal
permohonan diterima secara lengkap. Dalam hal diperlukan pertimbangan
pengesahan diberikan atau tidak diberikan dalam jangka waktu:
a. Paling lambat 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal jawaban
permintaan pertimbangan diterima dari instansi terkait; atau
b. Setelah lewat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal jawaban
permintaan pertimbangan kepada instansi terkait tidak diterima.

Apabila permohonan pengesahan ditolak, maka Menteri wajib


memberitahukan secara tertulis disertai dengan alasannya, kepada pemohon
mengenai penolakan pengesahan tersebut. Alasan penolakan adalah bahwa
permohonan yang diajukan tidak sesuai dengan ketentuan dalam Undang-
undang dan/atau peraturan pelaksanaannya.

6
Ignatius Ridwan Widyadharma, Badan Hukum Yayasan (Undang-Undang Nomor 16 Tahun
2001), 2001, Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang, hal. 12

13
Akta pendirian memuat Anggaran Dasar dan keterangan lain yang
dianggap perlu. Anggaran Dasar Yayasan sekurang-kurangnya memuat:
a. Nama dan tempat kedudukan;
b. Maksud dan tujuan serta kegiatan untuk mencapai maksud dan tujuan
tersebut;
c. Jangka waktu pendirian;
d. Jumlah kekayaan awal yang dipisahkan dari kekayaan pribadi pendiri
dalam bentuk uang atau benda;
e. Cara memperoleh dan penggunaan kekayaan;
f. Tata cara pengangkatan, pemberhentian, dan penggantian anggota
Pembina, Pengurus, dan Pengawas;
g. Hak dan kewajiban anggota Pembina, Pengurus, dan Pengawas;
h. Tata cara penyelenggaraan rapat organ Yayasan;
i. Ketentuan mengenai perubahan Anggaran Dasar;
j. Penggabungan dan pembubaran Yayasan; dan
k. Penggunaan kekayaan sisa likuidasi atau penyaluran kekayaan Yayasan
setelah pembubaran.

Keterangan lain memuat sekurang-kurangnya nama, alamat, pekerjaan,


tempat dan tanggal lahir, serta kewarganegaraan Pendiri, Pembina, Pengurus,
dan Pengawas.

c) Pengumuman
Akta pendirian Yayasan yang telah disahkan sebagai badan hukum atau
perubahan Anggaran Dasar yang telah disetujui, wajib diumumkan dalam
Tambahan Berita Negara Republik Indonesia. Pengumuman diajukan
permohonannya oleh Pengurus Yayasan atau kuasanya kepada Kantor
Percetakan Negara Republik Indonesia dalam waktu paling lambat 30 (tiga
puluh) hari terhitung sejak tanggal akta pendirian Yayasan yang disahkan.
Ketentuan mengenai besarnya biaya pengumuman ditetapkan dengan
Peraturan Pemerintah. Selama pengumuman belum dilakukan, Pengurus
Yayasan bertanggung jawab secara tanggung renteng atas seluruh kerugian
Yayasan.
Konsekuensi dari tidak dilakukannya pengumuman adalah bahwa
selama pengumuman belum dilakukan, pengurus yayasan bertanggung jawab
secara tanggung renteng atas seluruh kerugian yayasan.

Setelah ketiga proses diatas tersebut dijalankan, maka yayasan tersebut telah
sah menjadi suatu badan hukum.

2.2.3. Organ Yayasan


Yayasan sebagai badan hukum berbeda dengan badan hukum lainnya seperti
Perseroan Terbatas ataupun Koperasi, yayasan tidak memiliki anggota ataupun
persero. Yayasan hanya memiliki organ-organ yang berfungsi sebagai pengelola
yayasan, yaitu pembina, pengurus dan pengawas.7

7
Ignatius Ridwan Widyadharma, op.cit, hal. 59

14
a) Pembina
Pembina adalah organ Yayasan yang mempunyai kewenangan yang
tidak diserahkan kepada Pengurus atau Pengawas oleh Undang-undang
tentang yayasan atau Anggaran Dasar.
Kewenangan pembina meliputi:
a. Keputusan mengenai perubahan Anggaran Dasar;
b. Pengangkatan dan pemberhentian anggota Pengurus dan anggota
Pengawas;
c. Penetapan kebijakan umum Yayasan berdasarkan Anggaran Dasar
Yayasan;
d. Pengesahan program kerja dan rancangan anggaran tahunan Yayasan;
dan
e. Penetapan keputusan mengenai penggabungan atau pembubaran
Yayasan.

Yang dapat diangkat menjadi anggota Pembina adalah orang


perseorangan sebagai pendiri Yayasan dan/atau mereka yang berdasarkan
keputusan rapat anggota Pembina dinilai mempunyai dedikasi yang tinggi
untuk mencapai maksud dan tujuan Yayasan.
Dalam hal Yayasan karena sebab apapun tidak lagi mempunyai
Pembina, paling lambat dalam waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak
tanggal kekosongan, anggota Pengurus dan anggota Pengawas wajib
mengadakan rapat gabungan untuk mengangkat Pembina dengan
memperhatikan ketentuan.
Keputusan rapat sah apabila dilakukan sesuai dengan ketentuan
mengenai korum kehadiran dan korum keputusan untuk perubahan Anggaran
Dasar sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang tentang Perkoperasian
dan/atau Anggaran Dasar. Anggota Pembina tidak boleh merangkap sebagai
anggota Pengurus dan/atau anggota Pengawas. Pembina mengadakan rapat
sekurang-kurangnya sekali dalam 1 (satu) tahun. Dalam rapat tahunan,
Pembina melakukan evaluasi tentang kekayaan, hak dan kewajiban Yayasan
tahun yang lampau sebagai dasar pertimbangan bagi perkiraan mengenai
perkembangan Yayasan untuk tahun yang akan datang.

b) Pengurus
Pengurus adalah organ Yayasan yang melaksanakan kepengurusan
Yayasan. Yang dapat diangkat menjadi Pengurus adalah orang perseorangan
yang mampu melakukan perbuatan hukum. Pengurus tidak boleh merangkap
sebagai Pembina atau Pengawas. Pengurus Yayasan diangkat oleh Pembina
berdasarkan keputusan rapat Pembina untuk jangka
waktu selama 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali
masa jabatan.
Susunan Pengurus sekurang-kurangnya terdiri atas:
a. Seorang ketua;
b. Seorang sekretaris; dan
c. Seorang bendahara

15
Dalam hal Pengurus selama menjalankan tugas melakukan tindakan
yang oleh Pembina dinilai merugikan Yayasan, maka berdasarkan
keputusan rapat Pembina, Pengurus tersebut dapat diberhentikan sebelum
masa kepengurusannya berakhir.

Dalam hal terdapat penggantian Pengurus Yayasan, Pembina wajib


menyampaikan pemberitahuan secara tertulis kepada Menteri dan kepada
instansi terkait. Pemberitahuan wajib disampaikan paling lambat 30 (tiga
puluh) hari terhitung sejak tanggal dilakukan penggantian Pengurus Yayasan.
Dalam hal pengangkatan, pemberhentian dan penggantian Pengurus
dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar, atas permohonan
yang berkepentingan atau atas permintaan Kejaksaan dalam hal mewakili
kepentingan umum, Pengadilan dapat membatalkan pengangkatan,
pemberhentian, atau penggantian tersebut paling lambat 30 (tiga puluh) hari
terhitung sejak tanggal permohonan pembatalan diajukan.
Pengurus Yayasan bertanggung jawab penuh atas kepengurusan
Yayasan untuk kepentingan dan tujuan Yayasan serta berhak mewakili
Yayasan baik di dalam maupun di luar Pengadilan. Setiap Pengurus
menjalankan tugas dengan itikad baik, dan penuh tanggung jawab untuk
kepentingan dan tujuan Yayasan.Dalam menjalankan tugas, Pengurus dapat
mengangkat dan memberhentikan pelaksana kegiatan Yayasan. Ketentuan
mengenai syarat dan tata cara pengangkatan dan pemberhentian pelaksana
kegiatan Yayasan diatur dalam Anggaran Dasar Yayasan.
Setiap Pengurus bertanggung jawab penuh secara pribadi apabila yang
bersangkutan dalam menjalankan tugasnya tidak sesuai dengan ketentuan
Anggaran Dasar, yang mengakibatkan kerugian Yayasan atau pihak ketiga.
Anggota Pengurus tidak berwenang mewakili Yayasan apabila:
a. Terjadi perkara di depan pengadilan antara Yayasan dengan anggota
Pengurus yang bersangkutan; atau
b. Anggota Pengurus yang bersangkutan mempunyai kepentingan yang
bertentangan dengan kepentingan Yayasan.

Dalam hal terdapat keadaan dimana anggota kehilangan kewenangan


terhadap Yayasan, yang berhak mewakili Yayasan ditetapkan dalam
Anggaran Dasar.

Pengurus tidak berwenang:


a. Mengikat Yayasan sebagai penjamin utang;
b. Mengalihkan kekayaan Yayasan kecuali dengan persetujuan Pembina;
dan
c. Membebani kekayaan Yayasan untuk kepentingan pihak lain.

16
Anggaran Dasar dapat membatasi kewenangan Pengurus dalam
melakukan perbuatan hukum untuk dan atas nama Yayasan.
Pengurus dilarang mengadakan perjanjian dengan organisasi yang
terafiliasi dengan Yayasan, Pembina, Pengurus, dan/atau Pengawas Yayasan,
atau seseorang yang bekerja pada Yayasan. Larangan tersebut tidak berlaku
dalam hal perjanjian tersebut bermanfaat bagi tercapainya maksud dan tujuan
Yayasan.
Dalam hal kepailitan terjadi karena kesalahan atau kelalaian Pengurus
dan kekayaan Yayasan tidak cukup untuk menutup kerugian akibat kepailitan
tersebut, maka setiap Anggota Pengurus secara tanggung renteng
bertanggung jawab atas kerugian tersebut.
Anggota Pengurus yang dapat membuktikan bahwa kepailitan bukan
karena kesalahan atau kelalaiannya tidak bertanggung jawab secara tanggung
renteng atas kerugian tersebut. Anggota Pengurus yang dinyatakan bersalah
dalam melakukan pengurusan Yayasan yang menyebabkan kerugian bagi
Yayasan, masyarakat, atau Negara berdasarkan putusan pengadilan, maka
dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal putusan tersebut
memperoleh kekuatan hukum yang tetap, tidak dapat diangkat menjadi
Pengurus Yayasan manapun.

c) Pengawas
Pengawas adalah organ Yayasan yang bertugas melakukan pengawasan
serta memberi nasihat kepada Pengurus dalam menjalankan kegiatan
Yayasan. Yayasan memiliki Pengawas sekurang-kurangnya 1 (satu) orang
Pengawas yang wewenang, tugas, dan tanggung jawabnya diatur dalam
Anggaran Dasar. Yang dapat diangkat menjadi Pengawas adalah orang
perseorangan yang mampu melakukan perbuatan hukum. Pengawas tidak
boleh merangkap sebagai Pembina atau Pengurus.
Pengawas Yayasan diangkat dan sewaktu-waktu dapat diberhentikan
berdasarkan keputusan rapat Pembina. Dalam hal pengangkatan,
pemberhentian, dan penggantian Pengawas dilakukan tidak sesuai
dengan ketentuan Anggaran Dasar, atas permohonan yang berkepentingan
umum, Pengadilan dapat membatalkan pengangkatan, pemberhentian atau
penggantian tersebut. Pengawas wajib dengan itikad baik dan penuh
tanggung jawab menjalankan tugas untuk kepentingan Yayasan.
Pengawas dapat memberhentikan sementara anggota Pengurus dengan
menyebutkan alasannya. Pemberhentian sementara paling lambat 7 (tujuh)
hari terhitung sejak tanggal pemberhentian sementara, wajib dilaporkan
secara tertulis kepada Pembina. Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari terhitung
sejak tanggal laporan diterima, Pembina wajib
memanggil anggota Pengurus yang bersangkutan untuk diberi kesempatan
membela diri.

Dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak


tanggal pembelaan diri, Pembina wajib:
a. Mencabut keputusan pemberhentian sementara; atau
b. Memberhentikan anggota Pengurus yang bersangkutan.

17
Apabila Pembina tidak melaksanakan ketentuan tersebut,
pemberhentian sementara tersebut batal demi hukum.

Pengawas Yayasan diangkat oleh Pembina berdasarkan keputusan rapat


Pembina untuk jangka waktu selama 5 (lima) tahun dan dapat diangkat
kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan. Dalam hal terdapat penggantian
Pengawas Yayasan, Pembina wajib menyampaikan
pemberitahuan secara tertulis kepada Menteri dan kepada instansi terkait.
Pemberitahuan tersebut wajib disampaikan paling lambat 30 (tiga
puluh) hari terhitung sejak tanggal dilakukan penggantian Pengawas
Yayasan.
Dalam hal pengangkatan, pemberhentian, dan penggantian Pengawas
dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar, atas permohonan
yang berkepentingan atau atas permintaan Kejaksaan dalam hal mewakili
kepentingan umum, Pengadilan dapat membatalkan pengangkatan,
pemberhentian, dan penggantian Pengawas tersebut.
Dalam hal kepailitan terjadi karena kesalahan atau kelalaian Pengawas
dalam melakukan tugas pengawasan dan kekayaan Yayasan tidak cukup
untuk menutup kerugian akibat kepailitan tersebut, setiap anggota Pengawas
secara tanggung renteng bertanggung jawab atas kerugian tersebut.
Anggota Pengawas Yayasan yang dapat membuktikan bahwa
kepailitan bukan karena kesalahan atau kelalaiannya, tidak bertanggung
jawab secara tanggung renteng atas kerugian tersebut. Setiap anggota
Pengawas yang dinyatakan bersalah dalam melakukan pengawasan Yayasan
yang menyebabkan kerugian bagi Yayasan, masyarakat, dan/atau Negara
berdasarkan putusan Pengadilan dalam jangka waktu paling lama 5 (lima)
tahun sejak putusan tersebut memperoleh kekuatan hukum tetap, tidak dapat
diangkat menjadi Pengawas Yayasan manapun.

2.2.4. Pembubaran Yayasan


Yayasan bubar karena:
a. Jangka waktu yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar berakhir;
b. Tujuan Yayasan yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar telah tercapai atau
tidak tercapai;
c. Putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap
berdasarkan alasan:
1) Yayasan melanggar ketertiban umum dan kesusilaan;
2) Tidak mampu membayar utangnya setelah dinyatakan pailit; atau
3) Harta kekayaan Yayasan tidak cukup untuk melunasi utangnya setelah
pernyataan pailit dicabut.

Dalam hal Yayasan bubar karena Jangka waktu yang ditetapkan dalam
Anggaran Dasar berakhir dan tujuan Yayasan yang ditetapkan dalam Anggaran
Dasar telah tercapai atau tidak tercapai, Pembina menunjuk likuidator untuk
membereskan kekayaan Yayasan.

18
Dalam hal tidak ditunjuk likuidator, Pengurus bertindak selaku likuidator.
Dalam hal Yayasan bubar, Yayasan tidak dapat melakukan perbuatan hukum,
kecuali untuk membereskan kekayaannya dalam proses likuidasi. Dalam hal
Yayasan sedang dalam proses likuidasi, untuk semua surat keluar, dicantumkan
frasa "dalam likuidasi" di belakang nama Yayasan.
Dalam hal Yayasan bubar karena putusan Pengadilan, maka Pengadilan juga
menunjuk likuidator. Dalam hal pembubaran Yayasan karena pailit, berlaku
peraturan perundang-undangan di bidang Kepailitan. Ketentuan mengenai
penunjukan, pengangkatan, pemberhentian sementara, pemberhentian, wewenang,
kewajiban, tugas dan tanggung jawab, serta pengawasan terhadap Pengurus,
berlaku juga bagi likuidator.
Likuidator atau kurator yang ditunjuk untuk melakukan pemberesan
kekayaan Yayasan yang bubar atau dibubarkan, paling lambat 5 (lima) hari
terhitung sejak tanggal penunjukan wajib mengumumkan pembubaran Yayasan
dan proses likuidasinya dalam surat kabar harian berbahasa Indonesia.
Likuidator atau kurator dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh)
hari terhitung sejak tanggal proses likuidasi berakhir, wajib mengumumkan hasil
likuidasi dalam surat kabar harian berbahasa Indonesia. Likuidator atau kurator
dalam waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal proses
likuidasi berakhir wajib melaporkan pembubaran Yayasan kepada Pembina. Dalam
hal laporan mengenai pembubaran Yayasan dan pengumuman hasil likuidasi tidak
dilakukan, bubarnya Yayasan tidak berlaku bagi pihak ketiga.
Kekayaan sisa hasil likuidasi diserahkan kepada Yayasan lain yang
mempunyai maksud dan tujuan yang sama dengan Yayasan yang bubar. Dalam hal
sisa hasil likuidasi tidak diserahkan kepada Yayasan lain yang mempunyai maksud
dan tujuan yang sama, sisa kekayaan tersebut diserahkan kepada Negara dan
penggunaannya dilakukan sesuai dengan maksud dan tujuan Yayasan tersebut.

19
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum
koperasi yang melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai
gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan. Dalam menjalankan
usahanya, koperasi memiliki prinsip, serta fungsi dan perannya sebagai salah satu badan
hukum yang ada di Indonesia. Syarat untuk menjadi anggota koperasi yaitu setiap warga
negara Indonesia yang mampu melakukan tindakan hukum atau Koperasi yang
memenuhi persyaratan sebagaimana ditetapkan dalam Anggaran Dasar. Dalam
pengelolaan organisasinya, terdapat 3 perangkat organisasi Koperasi, yaitu rapat anggota,
pengurus dan pengawas. Modal koperasi dapat bersumber dari modal sendiri, modal
pinjaman, maupun modal penyertaan.
Yayasan adalah badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan
diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu di bidang sosial, keagamaan, dan
kemanusiaan, yang tidak mempunyai anggota. Yayasan sebagai badan hukum berbeda
dengan badan hukum lainnya seperti Perseroan Terbatas ataupun Koperasi, yayasan tidak
memiliki anggota ataupun persero. Yayasan hanya memiliki organ-organ yang berfungsi
sebagai pengelola yayasan, yaitu pembina, pengurus dan pengawas.

3.2. Saran
Kami selaku penyusun sangat menyadari masih jauh dari sempurna dan tentunya
banyak sekali kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Hal ini disebabkan karena
masih terbatasnya kemampuan kami.
Oleh karena itu, kami selaku pembuat makalah ini sangat mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun. Kami juga mengharapkan makalah ini sangat
bermaanfaat untuk kami khususnya dan pembaca pada umumnya.

20
DAFTAR PUSTAKA

Djatnika, Sri. 2003. Ekonomi Koperasi. Jakarta: Salemba Empat.

Ais, Chatamarrasjid. 2006. Badan Hukum Yayasan. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.

Chaniago, Arifinal. 1979. Perkoperasian Indonesia. Bandung: Angkasa.

Widyadhama, Ignatius R. 2001. Badan Hukum Yayasan (Undang-undang nomor 16 Tahun


2001). Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang.

21