Anda di halaman 1dari 14

SKRIPSI

PENGARUH LATIHAN FISIK TERHADAP RESIKO JATUH PADA LANSIA


DI PUSKESMAS SUNGAI AMBAWANG
KEC. AMBAWANG TAHUN 2019

Diusulkan Oleh :

VIVI OKTAVIANI
NIM. 20166523094

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN PONTIANAK
PRODI D-IV KEPERAWATAN PONTIANAK
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2019
HALAMAN PERSETUJUAN

SKRIPSI

PENGARUH LATIHAN FISIK TERHADAP RESIKO JATUH PADA LANSIA


DI PUSKESMAS SUNGAI AMBAWANG
KEC. AMBAWANG TAHUN 2019

Diusulkan Oleh :

VIVI OKTAVIANI
NIM. 20166523094

Telah disetujui di Pontianak


Pada Tanggal, ...........

Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping

Ns. H.Amandus, S.Kep., M.PH Rima Rianti, SST, MMB


NIP. NIP.

Ketua Prodi D-IV Keperawatan Pontianak

Ns. Puspa Wardhani, M.Kep


NIP. 197103061992032011
HALAMAN PENGESAHAN

SKRIPSI

PENGARUH LATIHAN FISIK TERHADAP RESIKO JATUH PADA LANSIA


DI PUSKESMAS SUNGAI AMBAWANG
KEC. AMBAWANG TAHUN 2019

Telah dipersiapkan dan disusun oleh :

VIVI OKTAVIANI
NIM. 20166523094

Telah dipertahankan didepan Tim Penguji


Pada Tanggal, ...........

Susunan Tim Penguji

1. Ketua : Ns. H.Amandus, S.Kep., M.PH ........................


2. Anggota : Rima Rianti, SST, MMB ........................
3. Anggota : Sudarto, S.Kp, M.PH ........................

Pontianak, ...................
Ketua Jurusan Keperawatan

Ns. Nurbani, M.Kep


NIP. 197603282002122001
BIODATA PENULIS

Nama : Vivi Oktaviani


Tempat/ Tgl Lahir : Sintang, 02 Oktober 1997
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat Rumah : Asrama Gatot Subroto II Jalur G No 186
Nomor Hp : 089677698078

RIWAYAT PENDIDIKAN

1. SD : SD Negeri 14 Sungai Raya tahun 2009


2. SLTP : SMP Negeri 1 Sungai Raya tahun 2012
3. SLTA : SMA Negeri 1 Sungai Raya tahun 2015
PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN

Yang bertanda tangan dibawah ini saya :


Nama : Vivi Oktaviani
NIM : 20166523094
Program Studi : Diploma IV Keperawatan Pontianak
Jurusan : Keperawatan Pontianak
Perguruan Tinggi : Poltekkes Kemenkes Pontianak

Menyatakan bahwa saya tidak melakukan kegiatan plagiat dalam penulisan


Skripsi saya yang berjudul :
“Pengaruh Laihan Fisik Terhadap Resiko Jatuh Pada Lansia Di Puskesmas
Ambawang Kec. Ambawang Tahun 2019”
Apabila suatu saat nanti terbukti saya melakukan tindakan plagiat, maka saya
bersedia menerima sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Pontianak,...................
Penulis

Vivi Oktaviani
NIM : 20166523094
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
atas berkat dan rahmat-Nya yang telah dilimpahkan kepada penulis selama
menempuh pendidikan dan dalam penyusunan Skripsi yang berjudul
“Pengaruh Laihan Fisik Terhadap Resiko Jatuh Pada Lansia Di Puskesmas
Ambawang Kec. Ambawang Tahun 2019”.
Dalam penyusunan Skripsi ini, penulis mendapatkan banyak sekali
motivasi, bimbingan, koreksi serta bantuan dari berbagai pihak. Terutama orang
tua dan Dosen. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada
orang tua. Penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-
besarnya kepada :
1. Bapak Didik Hariyadi, S.Gz,M.SI selaku Direktur Politeknik Kesehatan
Kementerian Kesehatan Pontianak
2. Ibu Ns. Nurbani, M.Kep selaku Ketua Jurusan Keperawatan Singkawang
Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Pontianak
3. Ibu Ns. Puspa Wardhani, M.Kep selaku Ketua Prodi D-IV Keperawatan
Pontianak Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Pontianak
4. Bapak Ns. H.Amandus, S.Kep., M.PH selaku Dosen Pembimbing I Skripsi
ini yang telah meluangkan waktu untuk membimbing dalam penyusunan
Proposal dan Skripsi ini.
5. Ibu Rima Rianti, SST, MMB selaku Dosen Pembimbing II Skripsi ini yang
telah meluangkan waktunya untuk membimbing dalam penyusunan
penulisan Proposal dan Skripsi ini.
6. Bapak Sudarto, S.Kp, M.PH selaku Dosen Penguji yang telah menguji dan
memberikan masukan atau saran dalam penyusunan Skripsi ini.
7. Bapak, Ibu dosen dan staf pengajar di Prodi D-IV Keperawatan Pontianak,
yang telah memberikan motivasi dan ilmu pengetahuan selama penulis
mengikuti pendidikan.
8. Teman-teman seangkatan yang telah memberikan masukan dan dukungan
dalam penyelesaian Skripsi ini.
Atas semua bantuan yang telah diberikan, baik kritik dan saran bagi penulis
dari semua pihak, saya ucapkan terima kasih.
Pontianak,................

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Usia adalah suatu rentang yang dapat ditentukan melalui
pengelompokkan umur, sehingga kita dapat membedakan usia balita, anak-
anak, remaja, dewasa, tua dan lansia. Lanjut usia (lansia) adalah suatu
perkembangan hidup manusia secara biologis (Aji, 2015, dalam Fifi, 2017).
Seseorang dengan lanjut usia dapat dikatakan matang secara
keseluruhannya apabila seseorang sudah mencapai hidup dengan tingkatan
aktualisasi diri dengan baik. Selain baik secara aktualisasi masa lansia yaitu
dimana seseorang mengalami kemunduran tidak hanya dari segi usia tetapi
juga dari segi fisik, mental dan sosial. Adanya kemunduran tersebut dapat
berdampak pada masalah kesehatan lansia (Welmer et al, 2016, dalam Fifi,
2017).
Kesehatan lansia merupakan salah satu target pencapaian
produktivitas yang baik di usia lanjut. Tingkat kesehatan di usia lanjut
memiliki harapan yang sangat kecil dikarenakan adanya penurunan fungsi.
Masalah kesehatan dapat mempengaruhi kualitas hidup lansia. Masalah
yang terjadi diantaranya low back pain, osteoporosis, patah tulang,
kelemahan dan lain-lain (Laughton et al, 2013, dalam Fifi, 2017).
Di Indonesia, terdapat sekitar 18 juta jiwa lansia. Jumlah ini
merupakan 7,8% dari total populasi. Berdasarkan jumlah tersebut, terdapat
25% diantaranya menserita penyakit degenaratif dan hidup tergantung pada
orang lain. Sedangkan 75% yang lain lansia hanya menghabiskan hidup
dengan beristirahat, mengkonsumsi obat dan tanpa melakukan aktivitas. Hal
tersebut berdampak pada pola hidup yang tidak aktif yang diketahui banyak
menimbulkan berbagai keluhan (Kemenkes, 2015, dalam Fifi, 2017).
Menurut WHO (World Health Organization), bahwa terdapat 600
juta jiwa lansia di seluruh dunia, terjadi peningkatan persentase kelompok
lansia 60 tahun ke atas cukup pesat. Sama halnya dengan Indonesia yaitu,
menurut data Kemenkes RI pada tahun (2015), diperoleh jumlah lansia di
Indonesia pada tahun 2014 sebanyak 12.740.265 jiwa, dimana jumlah ini
tergolong besar dan membuktikan bahwa angka harapan hidup lansia di
Indonesia semakin tinggi, peningkatan persentase lansia akan terus
meningkat setiap tahunnya dan angka beban tanggungan juga semakin
meningkat seiring meningkatnya jumlah populasi lansia.
Populasi lansia di Asia Tenggara sebesar 8 % atau sekitar 142 juta
jiwa. Estimasi tahun 2050, populasi lansia meningkat tiga kali lipatnya,
dimana jumlah penduduk lansia sekitar 5 juta jiwa atau 7.4 % dari total
seluruh penduduk. Populasi lansia di Indonesia diperkiraan dari tahun
20102035 memasuki periode lansia (ageing) sebnayak 10 % penduduk akan
berusia 60 tahun ke atas (Kemenkes RI, 2016)
Gangguan muskuloskeletal merupakan penyebab gangguan pada
berjalan dan keseimbangan yang dapat mengakibatkan kelambanan gerak,
kaki cenderung mudah goyah, serta penurunan kemampuan mengantisipasi
terpeleset, tersandung, dan respon yang lambat memudahkan terjadinya
jatuh pada lansia. Faktor muskuloskeletal ini sangat berperan terhadap
terjadinya risiko jatuh pada lansia (Sunaryo et al, 2016).
Mayoritas lansia mengeluhkan kelemahan dan rasa nyeri. Hal
tersebut dikarenakan adanya penurunan massa otot, penurunan jumlah
kalsium, penurunan distribusi darah ke otot, penurunan PH dalam sel otot
sehingga otot menjadi kaku dan penurunan kekuatan otot (Uusi et al, 2015).
Dampak adanya perubahan secara biologis yang sering terjadi yaitu
terjadinya jatuh pada lansia. Gangguan keseimbangan merupakan penyebab
utama yang sering mengakibatkan seorang lansia mudah jatuh (Hwang,
2016, dalam Fifi, 2017).
Jatuh merupakan penyebab umum terjadinya cidera. Menurut data
dari US Centres for Disease Control and Prevention tahun 2014, diperoleh
data bahwa lebih dari 1/3 orang dewasa berusia diatas 65 tahun mengalami
jatuh setiap tahun. Lebih dari 500.000 kejadian jatuh di seluruh rumah sakit
di Amerika setiap tahun, 150.000 diantaranya mengalami luka. Pasien akan
mengalami peningkatan dalam risiko jatuh bila mempunyai gangguan 3
memori, mempunyai kelemahan otot, berusia lebih dari 60 tahun dan
berjalan menggunakan tongkat atau walker (Setiowati, 2015).
Jatuh dapat mengancam keselamatan lansia. Jatuh dapat
mengakibatkan berbagai jenis cedera, kerusakan fisik dan psikologis.
Dampak psikologis adalah walaupun cedera fisik tidak terjadi, syok setelah
jatuh dan rasa takut akan jatuh lagi dapat memiliki banyak konsekuensi
termasuk ansietas, hilangnya rasa percaya diri, penbatasan dalam aktivitas
sehari-hari, falafobia atau fobia jatuh (Palvanen et al, 2014).
latihan fisik dapat bermanfaat untuk memperbaiki komposisi tubuh
seperti lemak, massa otot, peningkatan imunitas, meningkatkan kekuatan
otot, menyehatkan jantung, nafas menjadi teratur dan mengurangi
kecemasan atau depresi (Patti et al, 2017).
Menurut Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), untuk pertama kalinya
dalam sejarah, jumlah orang tua berusia 65 tahun ke atas di dunia lebih
banyak daripada jumlah balita pada tahun 2018. Saat ini terdapat sekitar 705
juta penduduk berusia di atas 65 tahun di dunia, sementara yang berumur
antara nol hingga empat tahun berjumlah 680 juta. Perbedaan jumlah kedua
kelompok usia ini makin melebar, dan pada tahun 2050 diperkirakan akan
ada dua manula untuk setiap satu balita.
PBB juga memprediksi bahwa tahun 2030 jumlah lansia akan
melebihi jumlah anak di bawah 10 tahun (1,41 miliar berbanding 1,35
miliar). Bahkan, proyeksi di tahun 2050 mengindikasikan bahwa akan lebih
banyak lansia usia 60 tahun keatas daripada remaja dan pemuda usia 10 s.d.
24 tahun yaitu sekitar 2,1 miliar berbanding 2 miliar di seluruh dunia.
Pertumbuhan lansia yang sangat pesat ini diperkirakan juga akan
terjadi di Indonesia. Berdasarkan data proyeksi yang dikeluarkan BPS,
diperkirakan pada tahun 2045 lansia Indonesia akan meningkat sebesar 2,5
kali lipat dibandingkan lansia tahun 2018. Pada 2045 nanti berdasarkan
prediksi ini dapat dikatakan bahwa hampir seperlima penduduk Indonesia
adalah lansia. Angka ini begitu besar jika disandingkan dengan prediksi
jumlah balita yang hanya sekitar 22 juta jiwa atau 6,88 persen dari total
populasi.
Berdasarkan hasil Susenas tahun 2016, jumlah Lansia di Indonesia
mencapai 22,4 juta jiwa atau 8,69% dari jumlah penduduk. Pada 2045,
Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan angka populasi lansia di
Indonesia diperkirakan mencapai 63,31 juta. Hampir 20 persen dari seluruh
penduduk negeri ini. Pada tahun 2018 jumlah Lansia diperkirakan mencapai
9,3% atau 24,7 juta jiwa. Dengan jumlah Lansia yang semakin besar,
menjadi tantangan bagi kita semua agar dapat mempersiapkan Lansia yang
sehat dan mandiri sehingga nantinya tidak menjadi beban bagi masyarakat
maupun negara, dan justru menjadi asset sumber daya manusia yang
potensial.
Pada pasien usia lanjut, risiko untuk jatuh meningkat. Angka
kejadian pada pasien dengan usia lebih dari 65 tahun sebesar 30 %, dan pada
pasien lebih dari 80 tahun sebesar 50 % setiap tahunnya. Berbagai
komplikasi jatuh yang bisa terjadi pada lansia, antara lain sindroma
kecemasan setelah jatuh, perlukaan baik jaringan lunak atau patah tulang,
perawatan di Rumah Sakit, disabilitas (Penurunan mobilitas), penurunan
status fungsional /penurunan kemandirian, peningkatan penggunaan sarana
pelayanan kesehatan, dan bahkan bisa terjadi pasien meninggal dunia.
Hasil penelitian yang dilakukan Rokhima, (2016) tentang “Faktor-
faktor yang berhubungan dengan risiko jatuh pada kejadian resiko jatuh
pada lansia di unit pelayanan primer Puskesmas Medan Johor”
menunjukkan kejadian risiko jatuh pada lansia diperoleh hasil bahwa 46%
berisiko tinggi, 36% berisiko rendah dan 18% tidak berisiko jatuh.
Pada pasien usia lanjut, risiko untuk jatuh meningkat. Angka
kejadian pada pasien dengan usia lebih dari 65 tahun sebesar 30 %, dan pada
pasien lebih dari 80 tahun sebesar 50 % setiap tahunnya. Berbagai
komplikasi jatuh yang bisa terjadi pada lansia, antara lain sindroma
kecemasan setelah jatuh, perlukaan baik jaringan lunak atau patah tulang,
perawatan di Rumah Sakit, disabilitas (Penurunan mobilitas), penurunan
status fungsional /penurunan kemandirian, peningkatan penggunaan sarana
pelayanan kesehatan, dan bahkan bisa terjadi pasien meninggal dunia.
(kemenkes, 2018)
Nadzam (2009) melaporkan survey yang dilakukan oleh Morse
tentang kejadian pasien jatuh di Amerika Serikat. Hasil survey menunjukan
2,3-7% per 1000 lansia jatuh dari tempat tidur setiap hari. Survey tersebut
menunjukan bahwa 2948% pasien mengalami luka, dan 7,5% dengan luka-
luka serius. Konggres XII PERSI di Jakarta pada tanggal 8 November 2012
melaporkan bahwa kejadian pasien jatuh di Indonesia pada Bulan Januari–
September 2012 sebesar 14%. (dalam Nisa, 2016)
Hasil penelitian yang dilakukan Tuti (2011) di Panti Sosial Tresna
Wredha Unit Abiyoso, Pakem, Sleman, Yogyakarta, lansia yang memenuhi
kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 46 orang dengan proporsi kejadian
jatuh sebanyak 24 orang (52,2%). Faktor risiko terjadinya jatuh adalah
umur, paling banyak terjadi pada kelompok umur 75-90 tahun sebanyak 11
orang (55%), jenis kelamin terjadi pada lansia laki-laki sebanyak 10 orang
(58,8%). Kelainan kognitif, terjadi pada lansia yang menderita kelainan
kogntif sedang sebanyak 7 orang (70%), hipotensi postural sebanyak 5
orang (55,6%), riwayat penyakit sebanyak 20 orang (62,5%) dan riwayat
pengobatan sebanyak 24 orang (57,1%). (dalam Nisa, 2016).
Pemerintah juga ikut andil dalam masalah lansia. Depkes (2013)
mencantumkan kegiatan-kegiatan dalam pembinaan lansia meliputi upaya
promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Namun disisi lain pengetahuan
masyarakat yang kurang mengenai proses menua sebagai hal yang wajar
dan tidak adanya perhatian khusus saat gejala-gejala tersebut muncul
mengakibatkan semakin memburuknya keadaan lansia. Terjadinya jatuh
pada lansia juga dianggap wajar oleh masyarakat. Mereka tidak mengetahui
akibat yang dapat ditimbulkan. (dalam Nisa, 2016).
Salah satu senam yang dapat dilakukan adalah dengan senam
ergonomis. Senam ergonomis merupakan senam yang dapat langsung
membuka, membersihkan, dan mengaktifkan seluruh sistem-sistem tubuh
seperti sistem kardiovaskuler, kemih, persendian dan reproduksi
(Wratsongko, 2008). Hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di
Posyandu Lansia Menur, Palbapang, Bantul tercatat berjumlah 67 lansia.
Lansia perempuan berjumlah 53 dan lansia laki-laki 14. Menurut kader
posyandu, sebagian lansia pernah mengalami jatuh dikarenakan terpeleset
sejumlah 32 lansia. (dalam Nisa, 2016).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, rumusan masalah
penelitian ini adalah “apakah ada pengaruh Laihan Fisik Terhadap Resiko
Jatuh Pada Lansia Di Puskesmas Ambawang Kec. Ambawang Tahun
2019?”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh Laihan Fisik Terhadap Resiko Jatuh Pada Lansia
Di Puskesmas Ambawang Kec. Ambawang Tahun 2019?”
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui pengaruh Laihan Fisik Terhadap Resiko Jatuh Pada
Lansia Di Puskesmas Ambawang Kec. Ambawang Tahun 2019
b.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori
1. Lansia
Lansia (lanjut usia) menurut UU no 4 tahun 1965 adalah seseorang
yang mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah sendiri
untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang
lain (Wahyudi, 2000) sedangkan menuru UU no.12 tahun 1998 tentang
kesejahteraan lansia (lanjut usia) adalah seseorang yang telah mencapai
usia diatas 60 tahun (Depsos, 1999).

Sumber :
https://bali.tribunnews.com/2019/04/07/untuk-pertama-kalinya-
jumlah-lansia-di-dunia-lebih-tinggi-daripada-balita-apa-dampaknya
https://beritagar.id/artikel/berita/potret-lansia-indonesia
http://www.yankes.kemkes.go.id/read-jatuh-pada-lansia-4088.html